Anda di halaman 1dari 37

MAKALAH BAHASA INDONESIA

HAKIKAT BAHASA

DOSEN PENGAMPU: SEPTIA AL PARABI, S.Pd, M.Pd


SEMESTER / LOKAL : 1 (satu) / C

DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK 1
ADELIA AGUSTIN (
MIFTA KHURAHMAN ( 205180101 )
SRI RIZKI WAHYUNI ( 205180087 )

PROGRAM STUDI TADRIS BAHASA INGGRIS


FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI JAMBI
2018/2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat karunianya-Nya saya dapat
menyelesaikan makalah yang mengulas tentang bahasa dimana ini adalah mata kuliah “ Bahasa
Indonesia ” yang baerjudul “Hakikat Bahasa”. Adapun makalah kami ini yaitu yang jauh dari
kata sempurna baik dari segi teknik penyajian maupun dari segi penyusunan.
Oleh karena itu demi penyempurnaan makalah ini, maka penyusun siap menerima kritik
dan saran dari pembaca yang dapat menunjang perbaikan makalah ini lebih baik kedepannya.
Terima kasih kepada dosen yang telah membimbing kami dalam penyusunan makalah ini
sehingga kami dapat lebih mengerti dengan hakikat bahasa yang di ulas dalam mata kuliah
Bahasa Indonesia, dan tidak lupa terima kasih saya bagi teman-teman kampus dan
keluarga yang memberikan masukan saran terbaik bagi saya, sehingga makalah bahasa ini dapat
terselesaikan dengan baik walau jauh dari kata sempurna.

Jambi, 3 November 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………………………………………… i

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang …………………………………………………………………….. 1


1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………………………... 1
1.3 Tujuan Masalah…………………………………………………………………….. 1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Hakikat Bahasa


1. Sejarah dan Perkembangan Bahasa
2. Landasan Yuridis
3. Kedudukan dan Fungsi bahasa
a. Bahasa Indonesia
b. Bahasa Daerah
c. Bahasa Asing
BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan
3.2 Kritik dan Saran
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………….. 10

ii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Istilah bahasa tentu bukan merupakan hal yang baru bagi kita. Istilah tersebut setiap saat selalu
kita dengar, baca, atau bahkan digunakan untuk berkomunikasi secara lisan maupun tulisan. Bukan
hanya itu, 4amper setiap saat dalam kehidupan sehari-hari, kita menggunakan bahasa atau
berbahasa. Begitu seringnya kita menggunakan istilah bahasa atau menggunakan bahasa maka
terkadang kita lupa untuk memahami apa sesungguhnya hakikat bahasa itu. Agar mahasiswa dapat
mengukur sejauh mana pemahaman terhadap materi ini sebelum memasuki materi berikutnya.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan hakikat bahasa?


2. Bagaimana sejarah dan perkembangan bahasa ?
3. Apakah bahasa termasuk dalam landasan yuridis ?
4. Apa saja kedudukan dan fungsi bahasa ?

1.3 Tujuan Makalah

1. Untuk mengetahui hakikat bahasa


2. Untuk mengetahui sejarah dan perkembangan bahasa
3. Untuk mengetahui landasan yuridis dalam bahasa
4. Untuk mengetahui kedudukan dan fungsi bahasa2

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 HAKIKAT BAHASA

Pengertian Bahasa1 adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer (manasuka) yang
digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan
mengidentifikasikan diri. Fungsi utama dari bahasa adalah sebagai alat komunikasi dan interaksi
antar manusia. Selain itu dapat berfungsi sebagai identitas suatu bangsa dan sebagai alat
pemersatu.

Bentuk bahasa ada dua yaitu bahasa lisan bahasa tulis. Dalam kajian linguistik, bahasa lisan
sangat penting karena dianggap sempurna. Orang yang sedang berbicara dapat menambahkan
unsur-unsur suprasegmental pada ucapannya. Selain itu, seorang pembicara dapat menambah
kejelasan tuturannya dengan bantuan gerakan anggota badan (paralinguistik). Sedangkan pada
bahasa tulis sebagai objek sekunder karena jika kita meneliti suatu bahasa yang penuturnya sudah
tidak kita temukan lagi, kita menggunakan bahasa tulis.

Hakikat bahasa adalah dasar (intisari) atau kenyataan yang sebenarnya (sesungguhnya) dari sistem
lambang bunyi tersebut. Berikut beberapa hakikat bahasa:

 Bahasa itu sebuah sistem bahasa bukanlah sebuah unsur yang terkumpul secara tak
beraturan tetapi diatur oleh pola-pola yang sistematis dan sistemis, yaitu tersusun dari
sistem fonologi, gramatika, dan leksikon
 Bahasa itu berupa bunyi bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia
 Bahasa itu arbitrer tidak ada hubungan wajib antara lambang bahasa dengan yang
dilambangkannya. Andai ada hubungan wajib antara lambang dengan yang
dilambangkannya maka di muka bumi ini tidak akan ada bermacam-macam bahasa.
 Bahasa itu bermakna. Lambang bunyi [kuda] memiliki makna sejenis binatang berkaki
empat yang bisa dikendarai. Lambang bunyi itu ada yang wujudnya kongkret dan ada yang
abstrak contohnya kata agama tidak ada acuan (referent) bendanya.

1
https://lenterakecil.com/pengertian-dan-hakikat-bahasa/
 Bahasa itu konvensional. Pengunaan suatu lambang untuk suatu konsep tertentu bersifat
konvensional, yaitu berdasarkan kesepakatan masyarakat penuturnya.
 Bahasa itu bersifat unik artinya bahasa itu mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak
bisa dimiliki oleh yang lain. Contoh kata nasi dalam bahasa Indonesia memiliki keunikan
dibandingkan dengan bahasa lainnya.
 Bahasa itu universal artinya terdapat ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa.
Contohnya setiap bahasa memiliki satuan-satuan bahasa yang bermakna, yaitu kata, frasa,
klausa, kalimat, dan wacana.
 Bahasa itu produktif artinya dapat dibuat satuan-satuan bahasa yang jumlahnya tidak
terbatas.contohnya dari fonem /a/,/i/,/k/,dan /t/ bisa menghasilkan beberapa kata.
 Bahasa itu bervariasi yaitu idiolek: variasi bahasa yang sifatnya perseorangan; dialek:
variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu tempat
atau suatu waktu; ragam: variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan, atau
keperluan tertentu
 Bahasa itu bersifat dinamis. Bahasa mengalami perubahan seiring dengan perkembangan
zaman. Contohnya pada tataran fonem.
 Bahasa sebagai alat interaksi social, bahasa dijadikan alat untuk bekerja sama antar sesama
manusia
 Bahasa merupakan identitas penuturnya, bahasa merupakan penanda jati diri penuturnya.
 Bahasa itu berwujud lambang.
1. Sejarah dan Perkembangan Bahasa
Bahasa Indonesia adalah bentuk standar bahasa Melayu yang dijadikan sebagai bahasa resmi
Republik Indonesia2 dan bahasa persatuan bangsa Indonesia.3 Bahasa Indonesia diresmikan
penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya,
bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Di Timor Leste, bahasa Indonesia berstatus
sebagai bahasa kerja.

2
Pasal 36 Undang-Undang Dasar RI 1945
3
Butir ketiga Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928
Dari sudut pandang linguistik, bahasa Indonesia adalah salah satu dari banyak ragam bahasa
Melayu.4 Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu Riau (wilayah Kepulauan Riau sekarang)5 dari
abad ke-19. Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaanya sebagai
bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad
ke-20. Penamaan "bahasa Indonesia" diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober
1928, untuk menghindari kesan "imperialisme bahasa" apabila nama bahasa Melayu tetap
digunakan.

Proses ini menyebabkan berbedanya bahasa Indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu yang
digunakan di Riau maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, bahasa Indonesia merupakan
bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun
penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.

Meskipun dipahami dan dituturkan oleh lebih dari 90% warga Indonesia, bahasa Indonesia
bukanlah bahasa ibu bagi kebanyakan penuturnya. Sebagian besar warga Indonesia menggunakan
salah satu dari 748 bahasa yang ada di Indonesia sebagai bahasa ibu.6 Penutur bahasa Indonesia
kerap kali menggunakan versi sehari-hari (kolokial) dan/atau mencampuradukkan dengan dialek
Melayu lainnya atau bahasa ibunya. Meskipun demikian, bahasa Indonesia digunakan sangat luas
di perguruan-perguruan, di media massa, sastra, perangkat lunak, surat-menyurat resmi, dan
berbagai forum publik lainnya,7 sehingga dapatlah dikatakan bahwa bahasa Indonesia digunakan
oleh semua warga Indonesia.

4
Kridalaksana H. 1991. Pendekatan tentang Pendekatan Historis dalam Kajian Bahasa Melayu dan Bahasa
Indonesia. Dalam Kridalaksana H. (penyunting). Masa Lampau bahasa Indonesia: Sebuah Bunga Rampai. Penerbit
Kanisius, Yogyakarta.
5
Ki Hajar Dewantara dalam Kongres Bahasa Indonesia I 1939 di Solo: "jang dinamakan 'Bahasa
Indonesia' jaitoe bahasa Melajoe jang soenggoehpoen pokoknja berasal dari 'Melajoe Riaoe' akan tetapi
jang soedah ditambah, dioebah ataoe dikoerangi menoeroet keperloean zaman dan alam baharoe,
hingga bahasa itoe laloe moedah dipakai oleh rakjat diseloeroeh Indonesia itoe haroes dilakoekan oleh
kaoem ahli jang beralam baharoe, ialah alam kebangsaan Indonesia", dikutip di Pendahuluan KBBI
cetakan ketiga.
6
Depdiknas Terbitkan Peta Bahasa Blog BahasaKita 4 Maret 2009, mirror dari berita AntaraOnline edisi
22 Oktober 2008.
7
Why Indonesian is important to learn. Situs web pengajaran bahasa Indonesia di Universitas Negeri
Ohio.
Fonologi dan tata bahasa bahasa Indonesia dianggap relatif mudah.8 Menurut sebagian orang,
dasar-dasar yang penting untuk komunikasi dasar dapat dipelajari hanya dalam kurun waktu
beberapa minggu.9

Sejarah

a. Masa lalu sebagai bahasa Melayu


Bahasa Indonesia adalah varian bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia dari cabang
bahasa-bahasa Sunda-Sulawesi, yang digunakan sebagai lingua franca di Nusantara kemungkinan
sejak abad-abad awal penanggalan modern.

Aksara pertama dalam bahasa Melayu atau Jawi ditemukan di pesisir tenggara Pulau
Sumatera, mengindikasikan bahwa bahasa ini menyebar ke berbagai tempat di Nusantara dari
wilayah ini, berkat penggunaannya oleh Kerajaan Sriwijaya yang menguasai jalur perdagangan.
Istilah Melayu atau sebutan bagi wilayahnya sebagai Malaya sendiri berasal dari Kerajaan Malayu
yang bertempat di Batang Hari, Jambi.

Istilah Melayu atau Malayu berasal dari Kerajaan Malayu, sebuah kerajaan Hindu-Budha
pada abad ke-7 di hulu sungai Batanghari, Jambi di pulau Sumatera, jadi secara geografis semula
hanya mengacu kepada wilayah kerajaan tersebut yang merupakan sebagian dari wilayah pulau
Sumatera.

Dalam perkembangannya pemakaian istilah Melayu mencakup wilayah geografis yang lebih luas
dari wilayah Kerajaan Malayu tersebut, mencakup negeri-negeri di pulau Sumatera sehingga pulau
tersebut disebut juga Bumi Melayu seperti disebutkan dalam Kakawin Nagarakretagama.

Ibukota Kerajaan Melayu semakin mundur ke pedalaman karena serangan Sriwijaya dan
masyarakatnya diaspora keluar Bumi Melayu, belakangan masyarakat pendukungnya yang
mundur ke pedalaman berasimilasi ke dalam masyarakat Minangkabau menjadi klan Malayu (suku

8
Farber, Barry. J. How to learn any language quickly, enjoyably and on your own. Citadel Press. 1991.
9
Eliot, J., Bickersteth, J. Sumatra Handbook. Footprint. 2000.
Melayu Minangkabau) yang merupakan salah satu marga di Sumatera Barat. Sriwijaya
berpengaruh luas hingga ke Filipina membawa penyebaran Bahasa Melayu semakin meluas,
tampak dalam prasasti Keping Tembaga Laguna.

Bahasa Melayu kuno yang berkembang di Bumi Melayu tersebut berlogat "o" seperti
Melayu Jambi, Minangkabau, Kerinci, Palembang dan Bengkulu. Semenanjung Malaka dalam
Nagarakretagama disebut Hujung Medini artinya Semenanjung Medini.

Dalam perkembangannya orang Melayu migrasi ke Semenanjung Malaysia (= Hujung


Medini) dan lebih banyak lagi pada masa perkembangan kerajaan-kerajaan Islam yang pusat
mandalanya adalah Kesultanan Malaka, istilah Melayu bergeser kepada Semenanjung Malaka (=
Semenanjung Malaysia) yang akhirnya disebut Semenanjung Melayu atau Tanah Melayu. Tetapi
nyatalah bahwa istilah Melayu itui berasal dari Indonesia. Bahasa Melayu yang berkembang di
sekitar daerah Semenanjung Malaka berlogat "e".

Kesultanan Malaka dimusnahkan oleh Portugis tahun 1512 sehingga penduduknya


diaspora sampai ke kawasan timur kepulauan Nusantara. Bahasa Melayu Purba sendiri diduga
berasal dari pulau Kalimantan, jadi diduga pemakai bahasa Melayu ini bukan penduduk asli
Sumatera tetapi dari pulau Kalimantan. Suku Dayak yang diduga memiliki hubungan dengan suku
Melayu kuno di Sumatera misalnya Dayak Salako, Dayak Kanayatn (Kendayan), dan Dayak Iban
yang semuanya berlogat "a" seperti bahasa Melayu Baku. Penduduk asli Sumatera sebelumnya
kedatangan pemakai bahasa Melayu tersebut adalah nenek moyang suku Nias dan suku Mentawai.

Dalam perkembangannya istilah Melayu kemudian mengalami perluasan makna, sehingga


muncul istilah Kepulauan Melayu untuk menamakan kepulauan Nusantara.

Secara sudut pandang historis juga dipakai sebagai nama bangsa yang menjadi nenek
moyang penduduk kepulauan Nusantara, yang dikenal sebagai rumpun Indo-Melayu terdiri Proto
Melayu (Melayu Tua/Melayu Polinesia) dan Deutero Melayu (Melayu Muda). Setelah mengalami
kurun masa yang panjang sampai dengan kedatangan dan perkembangannya agama Islam, suku
Melayu sebagai etnik mengalami penyempitan makna menjadi sebuah etnoreligius (Muslim) yang
sebenarnya di dalamnya juga telah mengalami amalgamasi dari beberapa unsur etnis.
M. Muhar Omtatok, seorang Seniman, Budayawan dan Sejarahwan menjelaskan sebagai
berikut: "Melayu secara puak (etnis, suku), bukan dilihat dari faktor genekologi seperti
kebanyakan puak-puak lain. Di Malaysia, tetap mengaku berpuak Melayu walau moyang mereka
berpuak Jawa, Mandailing, Bugis, Keling dan lainnya. Beberapa tempat di Sumatera Utara, ada
beberapa Komunitas keturunan Batak yang mengaku Orang Kampong - Puak Melayu

Kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7 Masehi diketahui memakai bahasa Melayu (sebagai
bahasa Melayu Kuno) sebagai bahasa kenegaraan. Lima prasasti kuno yang ditemukan di Sumatera
bagian selatan peninggalan kerajaan itu menggunakan bahasa Melayu yang bertaburan kata-kata
pinjaman dari bahasa Sanskerta, suatu bahasa Indo-Eropa dari cabang Indo-Iran. Jangkauan
penggunaan bahasa ini diketahui cukup luas, karena ditemukan pula dokumen-dokumen dari abad
berikutnya di Pulau Jawa10 dan Pulau Luzon.11 Kata-kata seperti samudra, istri, raja, putra,
kepala, kawin, dan kaca masuk pada periode hingga abad ke-15 Masehi.

Pada abad ke-15 berkembang bentuk yang dianggap sebagai bahasa Melayu Klasik
(classical Malay atau medieval Malay). Bentuk ini dipakai oleh Kesultanan Melaka, yang
perkembangannya kelak disebut sebagai bahasa Melayu Tinggi. Penggunaannya terbatas di
kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Jawa, dan Semenanjung Malaya. Laporan
Portugis, misalnya oleh Tome Pires, menyebutkan adanya bahasa yang dipahami oleh semua
pedagang di wilayah Sumatera dan Jawa. Magellan dilaporkan memiliki budak dari Nusantara
yang menjadi juru bahasa di wilayah itu. Ciri paling menonjol dalam ragam sejarah ini adalah
mulai masuknya kata-kata pinjaman dari bahasa Arab dan bahasa Parsi, sebagai akibat dari
penyebaran agama Islam yang mulai masuk sejak abad ke-12. Kata-kata bahasa Arab seperti
masjid, kalbu, kitab, kursi, selamat, dan kertas, serta kata-kata Parsi seperti anggur, cambuk,
dewan, saudagar, tamasya, dan tembakau masuk pada periode ini. Proses penyerapan dari bahasa
Arab terus berlangsung hingga sekarang.

10
Penemuan prasasti berbahasa Melayu Kuno di Jawa Tengah (berangka tahun abad ke-9) dan di dekat
Bogor (Prasasti Bogor) dari abad ke-10 menunjukkan adanya penyebaran penggunaan bahasa ini di
Pulau Jawa
11
Keping Tembaga Laguna (900 M) yang ditemukan di dekat Manila, Pulau Luzon, berbahasa Melayu
Kuno, menunjukkan keterkaitan wilayah itu dengan Sriwijaya.
Kedatangan pedagang Portugis, diikuti oleh Belanda, Spanyol, dan Inggris meningkatkan
informasi dan mengubah kebiasaan masyarakat pengguna bahasa Melayu. Bahasa Portugis banyak
memperkaya kata-kata untuk kebiasaan Eropa dalam kehidupan sehari-hari, seperti gereja, sepatu,
sabun, meja, bola, bolu, dan jendela. Bahasa Belanda terutama banyak memberi pengayaan di
bidang administrasi, kegiatan resmi (misalnya dalam upacara dan kemiliteran), dan teknologi
hingga awal abad ke-20. Kata-kata seperti asbak, polisi, kulkas, knalpot, dan stempel adalah
pinjaman dari bahasa ini.

Bahasa yang dipakai pendatang dari Cina juga lambat laun dipakai oleh penutur bahasa
Melayu, akibat kontak di antara mereka yang mulai intensif di bawah penjajahan Belanda. Sudah
dapat diduga, kata-kata Tionghoa yang masuk biasanya berkaitan dengan perniagaan dan
keperluan sehari-hari, seperti pisau, tauge, tahu, loteng, teko, tauke, dan cukong.

Jan Huyghen van Linschoten pada abad ke-17 dan Alfred Russel Wallace pada abad ke-19
menyatakan bahwa bahasa orang Melayu/Melaka dianggap sebagai bahasa yang paling penting di
"dunia timur".Luasnya penggunaan bahasa Melayu ini melahirkan berbagai varian lokal dan
temporal. Bahasa perdagangan menggunakan bahasa Melayu di berbagai pelabuhan Nusantara
bercampur dengan bahasa Portugis, bahasa Tionghoa, maupun bahasa setempat.

Terjadi proses pidginisasi di beberapa kota pelabuhan di kawasan timur Nusantara,


misalnya di Manado, Ambon, dan Kupang. Orang-orang Tionghoa di Semarang dan Surabaya juga
menggunakan varian bahasa Melayu pidgin. Terdapat pula bahasa Melayu Tionghoa di Batavia.
Varian yang terakhir ini malah dipakai sebagai bahasa pengantar bagi beberapa surat kabar
pertama berbahasa Melayu (sejak akhir abad ke-19).12 Varian-varian lokal ini secara umum
dinamakan bahasa Melayu Pasar oleh para peneliti bahasa.

Terobosan penting terjadi ketika pada pertengahan abad ke-19 Raja Ali Haji dari istana
Riau-Johor (pecahan Kesultanan Melaka) menulis kamus ekabahasa untuk bahasa Melayu. Sejak
saat itu dapat dikatakan bahwa bahasa ini adalah bahasa yang full-fledged, sama tinggi dengan

12
Hal ini tidak mengherankan karena banyak dari pengusaha penerbitan di kala itu berasal dari etnis
Tionghoa.
bahasa-bahasa internasional pada masa itu, karena memiliki kaidah dan dokumentasi kata yang
terdefinisi dengan jelas.

Hingga akhir abad ke-19 dapat dikatakan terdapat paling sedikit dua kelompok bahasa
Melayu yang dikenal masyarakat Nusantara: bahasa Melayu Pasar yang kolokial dan tidak baku
serta bahasa Melayu Tinggi yang terbatas pemakaiannya tetapi memiliki standar. Bahasa ini dapat
dikatakan sebagai lingua franca, tetapi kebanyakan berstatus sebagai bahasa kedua atau ketiga.

b. Bahasa Indonesia
Pemerintah kolonial Hindia Belanda menyadari bahwa bahasa Melayu dapat dipakai untuk
membantu administrasi bagi kalangan pegawai pribumi karena penguasaan bahasa Belanda para
pegawai pribumi dinilai lemah. Dengan menyandarkan diri pada bahasa Melayu Tinggi (karena
telah memiliki kitab-kitab rujukan) sejumlah sarjana Belanda mulai terlibat dalam standardisasi
bahasa. Promosi bahasa Melayu pun dilakukan di sekolah-sekolah dan didukung dengan
penerbitan karya sastra dalam bahasa Melayu. Akibat pilihan ini terbentuklah "embrio" bahasa
Indonesia yang secara perlahan mulai terpisah dari bentuk semula bahasa Melayu Riau-Johor.

Pada awal abad ke-20 perpecahan dalam bentuk baku tulisan bahasa Melayu mulai terlihat.
Pada tahun 1901, Indonesia (sebagai Hindia Belanda) mengadopsi ejaan Van Ophuijsen dan pada
tahun 1904 Persekutuan Tanah Melayu (kelak menjadi bagian dari Malaysia) di bawah Inggris
mengadopsi ejaan Wilkinson. Ejaan Van Ophuysen diawali dari penyusunan Kitab Logat Melayu
(dimulai tahun 1896) van Ophuijsen, dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad
Taib Soetan Ibrahim.

Intervensi pemerintah semakin kuat dengan dibentuknya Commissie voor de Volkslectuur


("Komisi Bacaan Rakyat" - KBR) pada tahun 1908. Kelak lembaga ini menjadi Balai Poestaka.
Pada tahun 1910 komisi ini, di bawah pimpinan D.A. Rinkes, melancarkan program Taman
Poestaka dengan membentuk perpustakaan kecil di berbagai sekolah pribumi dan beberapa instansi
milik pemerintah. Perkembangan program ini sangat pesat, dalam dua tahun telah terbentuk sekitar
700 perpustakaan.13 Bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai "bahasa persatuan bangsa" pada
saat Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa

13
^ Balai Pustaka, Berbenah Setelah Satu Abad. Kompas daring, 25 November 2009.
nasional atas usulan Muhammad Yamin, seorang politikus, sastrawan, dan ahli sejarah. Dalam
pidatonya pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, Yamin mengatakan,

"Jika mengacu pada masa depan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan kesusastraannya,
hanya ada dua bahasa yang bisa diharapkan menjadi bahasa persatuan yaitu bahasa Jawa
dan Melayu. Tapi dari dua bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi
bahasa pergaulan atau bahasa persatuan."14

Selanjutnya perkembangan bahasa dan kesusastraan Indonesia banyak dipengaruhi oleh


sastrawan Minangkabau, seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir
Alisyahbana, Hamka, Roestam Effendi, Idrus, dan Chairil Anwar. Sastrawan tersebut banyak
mengisi dan menambah perbendaharaan kata, sintaksis, maupun morfologi bahasa Indonesia.15

c. Peristiwa-peristiwa penting
 Tahun 1908 pemerintah kolonial mendirikan sebuah badan penerbit buku-buku bacaan
yang diberi nama Commissie voor de Volkslectuur (Taman Bacaan Rakyat), yang
kemudian pada tahun 1917 diubah menjadi Balai Pustaka. Badan penerbit ini menerbitkan
novel-novel, seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan, buku-buku penuntun bercocok
tanam, penuntun memelihara kesehatan, yang tidak sedikit membantu penyebaran bahasa
Melayu di kalangan masyarakat luas.
 Tanggal 16 Juni 1927 Jahja Datoek Kajo menggunakan bahasa Indonesia dalam pidatonya.
Hal ini untuk pertamakalinya dalam sidang Volksraad, seseorang berpidato menggunakan
bahasa Indonesia.16
 Tanggal 28 Oktober 1928 secara resmi Muhammad Yamin mengusulkan agar bahasa
Melayu menjadi bahasa persatuan Indonesia.
 Tahun 1933 berdiri sebuah angkatan sastrawan muda yang menamakan dirinya sebagai
Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisyahbana.
 Tahun 1936 Sutan Takdir Alisyahbana menyusun Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia.

14
Teeuw, A (1986). Modern Indonesian Literature I. Foris Publication.
15
Etek, Azizah (2008). Kelah Sang Demang, Jahja Datoek Kajo, Pidato Otokritik di Volksraad 1927 - 1939. LKiS.
16
Kontribusi Kosakata Bahasa Daerah dalam Bahasa Indonesia artikel oleh Adi Budiwidiyanto di situs
Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Diakses 3 November 2012
 Tanggal 25-28 Juni 1938 dilangsungkan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Dari hasil
kongres8 itu dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa
Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia saat
itu.
 Tanggal 18 Agustus 1945 ditandatanganilah Undang-Undang Dasar 1945, yang salah satu
pasalnya (Pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.
 Tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan ejaan Republik sebagai pengganti ejaan
Van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya.
 Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1954 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia II
di Medan. Kongres ini merupakan perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus-
menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan
dan ditetapkan sebagai bahasa negara.
 Tanggal 16 Agustus 1972 H. M. Soeharto, Presiden Republik Indonesia, meresmikan
penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) melalui pidato
kenegaraan di hadapan sidang DPR yang dikuatkan pula dengan Keputusan Presiden No.
57 tahun 1972.
 Tanggal 31 Agustus 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Pedoman
Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan
Istilah resmi berlaku di seluruh wilayah Indonesia (Wawasan Nusantara).
 Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1978 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III
di Jakarta. Kongres yang diadakan dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda yang ke-
50 ini selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa
Indonesia sejak tahun 1928, juga berusaha memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa
Indonesia.
 Tanggal 21-26 November 1983 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta.
Kongres ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-
55. Dalam putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia
harus lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum di dalam Garis-Garis Besar
Haluan Negara, yang mewajibkan kepada semua warga negara Indonesia untuk
menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dapat tercapai semaksimal
mungkin.
 Tanggal 28 Oktober s.d 3 November 1988 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia V
di Jakarta. Kongres ini dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa Indonesia dari
seluruh Indonesia dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Brunei Darussalam,
Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman, dan Australia. Kongres itu ditandatangani dengan
dipersembahkannya karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada
pencinta bahasa di Nusantara, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku
Bahasa Indonesia
 Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1993 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VI
di Jakarta. Pesertanya sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53 peserta tamu dari
mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia,
Jepang, Rusia, Singapura, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Kongres mengusulkan agar
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga
Bahasa Indonesia, serta mengusulkan disusunnya Undang-Undang Bahasa Indonesia.
 Tanggal 26-30 Oktober 1998 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VII di Hotel
Indonesia, Jakarta. Kongres itu mengusulkan dibentuknya Badan Pertimbangan Bahasa.

d. Penyempurnaan ejaan
Ejaan-ejaan untuk bahasa Melayu/Indonesia mengalami beberapa tahapan sebagai berikut:

a. Ejaan van Ophuijsen


Ejaan ini merupakan ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin. Charles Van Ophuijsen
yang dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim menyusun
ejaan baru ini pada tahun 1896. Pedoman tata bahasa yang kemudian dikenal dengan nama
ejaan van Ophuijsen itu resmi diakui pemerintah kolonial pada tahun 1901. Ciri-ciri dari ejaan
ini yaitu:

1. Huruf ï untuk membedakan antara huruf i sebagai akhiran dan karenanya harus disuarakan
tersendiri dengan diftong seperti mulaï dengan ramai. Juga digunakan untuk menulis huruf
y seperti dalam Soerabaïa.
2. Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang, dsb.
3. Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer, dsb.
4. Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma’moer,
’akal, ta’, pa’, dsb.

b. Ejaan Republik
Ejaan ini diresmikan pada tanggal 19 Maret 1947 menggantikan ejaan sebelumnya. Ejaan
ini juga dikenal dengan nama ejaan Soewandi. Ciri-ciri ejaan ini yaitu:

1. Huruf oe diganti dengan u pada kata-kata guru, itu, umur, dsb.


2. Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k pada kata-kata tak, pak, rakjat, dsb.
3. Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2 seperti pada kanak2, ber-jalan2, ke-barat2-an.
4. Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang
mendampinginya.

c. Ejaan Pembaharuan
Ejaan Pembaharuan diracang oleh sebuah panitia yang diketuai oleh Prijono dan E.
Katoppo pada tahun 1957 sebagai hasil keputusan Kongres Bahasa Indonesia II di
Medan, namun sistem ejaan ini tidak pernah dilaksanakan.

d. Ejaan Melindo
Konsep ejaan inidikenal pada akhir tahun 1959. Karena perkembangan politik selama
tahun-tahun berikutnya, diurungkanlah peresmian ejaan ini.

e. Ejaan yang Disempurnakan


Sebelum EYD, Lembaga Bahasa dan Kesusastraan, (sekarang Pusat Bahasa), pada
tahun 1967 mengeluarkan Ejaan Baru (Ejaan LBK) untuk menggantikan ejaan Melindo. Lalu
kemudian diresmikan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Ejaan ini diresmikan pemakaiannya
pada tanggal 16 Agustus 1972 oleh Presiden Republik Indonesia. Peresmian itu berdasarkan
Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Dengan EYD, ejaan dua bahasa serumpun, yakni bahasa
Indonesia dan bahasa Malaysia, dibakukan.

Perubahan:
Indonesia Malaysia Sejak 1972
(pra-1972) (pra-1972)
tj ch c
dj j j
ch kh kh
nj ny ny
sj sh sy
j y y
oe* u u

Catatan: Tahun 1947 "oe" sudah digantikan dengan "u".

f. Ejaan Bahasa Indonesia


Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) adalah ejaan bahasa Indonesia yang berlaku sejak
tahun 2015 berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Ejaan ini
menggantikan Ejaan yang Disempurnakan. Tidak terdapat banyak perbedaan antara EYD dan
EBI. Pada EBI, terdapat penambahan satu huruf Diftong, yaitu huruf ei sehingga huruf diftong
dalam Bahasa Indonesia menjadi epat huruf, yakni ai, ei, au, dan oi. Selain itu terdapat juga
penambahan aturan pada penggunaan huruf tebal dan huruf kapital.

e. Daftar kata serapan dalam bahasa Indonesia


Bahasa Indonesia adalah bahasa yang terbuka. Maksudnya ialah bahwabahasa ini
banyak menyerap kata-kata dari bahasa lain.

Asal bahasa Jumlah kata


Belanda 3.280 kata
Inggris 1.610 kata
Arab 1.495 kata
Sanskerta 677 kata
Tionghoa 290 kata
Portugis 131 kata
Tamil 83 kata
Parsi 63 kata
Hindi 7 kata

Sumber: Buku berjudul "Senarai Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia" (1996) yang disusun
oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (sekarang bernama Pusat Bahasa).

Adapun jumlah kata-kata yang diserap dari bahasa Nusantara dalam KBBI Edisi
Keempat ditunjukkan di dalam daftar berikut:[18]

Asal bahasa Jumlah kata


Jawa 1109 kata
Minangkabau 929 kata
Sunda 223 kata
Madura 221 kata
Bali 153 kata
Aceh 112 kata
Banjar 100ta

f. Penggolongan
Indonesia termasuk dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia Barat, subkelompok dari
bahasa Melayu-Polinesia yang pada gilirannya merupakan cabang dari bahasa Austronesia.
Menurut situs Ethnologue, bahasa Indonesia didasarkan pada bahasa Melayu dialek Riau yang
dituturkan di timur laut Sumatra.
g. Persebaran geografis
Bahasa Indonesia dituturkan di seluruh Indonesia, walaupun lebih banyak digunakan di
area perkotaan (seperti di Jabodetabek dengan dialek Betawi serta logat Betawi).
Penggunaan bahasa di daerah biasanya lebih resmi, dan seringkali terselip dialek dan logat
di daerah bahasa Indonesia itu dituturkan. Untuk berkomunikasi dengan sesama orang
sedaerah, kadang bahasa daerahlah yang digunakan sebagai pengganti untuk bahasa Indonesia.
h. Kedudukan resmi
Bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang sangat penting seperti yang tercantum dalam:
1. Ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928 dengan bunyi, ”Kami putra dan putri Indonesia
menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
2. Undang-Undang Dasar RI 1945 Bab XV (Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta
Lagu Kebangsaan) Pasal 36 menyatakan bahwa ”Bahasa Negara ialah Bahasa
Indonesia”.

Dari kedua hal tersebut, maka kedudukan bahasa Indonesia sebagai:

1. Bahasa kebangsaan, kedudukannya berada di atas bahasa-bahasa daerah.


2. Bahasa negara (bahasa resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia)

i. Fonologi
Bahasa Indonesia mempunyai 24 fonem (atau 28 fonem jika /f, z, S, x/ sudah
dianggap bahasa Indonesia).

Vokal
Depan Madya Belakang
Tertutup iː uː
Tengah e ə o
Hampir Terbuka (ɛ) (ɔ)
Terbuka a

Bahasa Indonesia juga mempunyai diftong /ai/, /au/, dan /oi/. Namun, di dalam suku
kata tertutup seperti air kedua vokal tidak diucapkan sebagai diftong.
Selain itu, bahasa Indonesia juga mempunyai bentuk semivokal [y] dan [w].

Konsonan
Bibir Gigi Langit2 Langit2 Celah
keras lunak suara
Sengau m n ɲ ŋ
Letup pb td cɟ kg ʔ
Desis (f) s (z) (ç) (x) h
Getar/Sisi lr
Hampiran w j

Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu awalnya tidak mengenal adanya
gugus konsonan, tetapi karena pengaruh dari bahasa asing dan daerah ke dalam bahasa
Indonesia ditemukan cukup banyak gugus konsonan. Gugus konsonan dalam bahasa
Indonesia adalah /pl/, /bl/, /kl/, /fl/, /sl/, /pr/, /br/, /tr/, /dr/, /kr/, /gr/, /fr/, /sr/, /ps/, /sw/, /sp/,
/sk/, /st/, /str/, /spr/, /skr/, dan /skl/.

 Vokal di dalam tanda kurung adalah alofon sedangkan konsonan di dalam tanda kurung
adalah fonem pinjaman dan hanya muncul di dalam kata serapan.
 /k/, /p/, dan /t/ tidak diaspirasikan
 /t/ dan /d/ adalah konsonan gigi bukan konsonan rongga gigi seperti di dalam bahasa
Inggris.
 /k/ pada akhir suku kata menjadi konsonan letup celah suara
 Penekanan ditempatkan pada suku kata kedua dari terakhir dari kata akar. Namun
apabila suku kata ini mengandung pepet maka penekanan pindah ke suku kata terakhir.

j. Sistem penulisan
Huruf besar Huruf kecil IPA Huruf besar Huruf kecil IPA
A A /ɑː/ N n /n/
B B /b/ O o /ɔ, o/
C C /tʃ/ P p /p/
D D /d/ Q q /q/
E E /e, ɛ, ə/ R r /r/
F F /f/ S s /s/
G G /ɡ/ T t /t/
H H /h/ U u /u/
I I /i/ V v /v, ʋ/
J J /dʒ/ W w /w/
K K /k/ X x /ks/
L L /l/ Y y /j/
M M /m/ Z z /z/
k. Tata bahasa
Dibandingkan dengan bahasa-bahasa Eropa, bahasa Indonesia tidak menggunakan
kata bergender. Sebagai contoh kata ganti seperti "dia" tidak secara spesifik menunjukkan
apakah orang yang disebut itu lelaki atau perempuan. Hal yang sama juga ditemukan pada
kata seperti "adik" dan "pacar" sebagai contohnya. Untuk memerinci sebuah jenis kelamin,
sebuah kata sifat harus ditambahkan, "adik laki-laki" sebagai contohnya.

Ada juga kata yang berjenis kelamin, seperti contohnya "putri" dan "putra". Kata-
kata seperti ini biasanya diserap dari bahasa lain. Pada kasus di atas, kedua kata itu diserap
dari bahasa Sanskerta melalui bahasa Jawa Kuno.

Untuk mengubah sebuah kata benda menjadi bentuk jamak, digunakanlah


reduplikasi (perulangan kata), tapi hanya jika jumlahnya tidak terlibat dalam konteks.
Sebagai contoh "seribu orang" dipakai, bukan "seribu orang-orang". Perulangan kata juga
mempunyai banyak kegunaan lain, tidak terbatas pada kata benda.

Bahasa Indonesia menggunakan dua jenis kata ganti orang pertama jamak, yaitu
"kami" dan "kita". "Kami" adalah kata ganti eksklusif yang berarti tidak termasuk sang
lawan bicara, sedangkan "kita" adalah kata ganti inklusif yang berarti kelompok orang yang
disebut termasuk lawan bicaranya.

Susunan kata dasar yaitu Subjek - Predikat - Objek (SPO), walaupun susunan kata
lain juga mungkin. Kata kerja tidak di bahasa berinfleksikan kepada orang atau jumlah
subjek dan objek. Bahasa Indonesia juga tidak mengenal kala (tense). Waktu dinyatakan
dengan menambahkan kata keterangan waktu (seperti, "kemarin" atau "esok"), atau
petunjuk lain seperti "sudah" atau "belum".

Dengan tata bahasa yang cukup sederhana bahasa Indonesia mempunyai


kerumitannya sendiri, yaitu pada penggunaan imbuhan yang mungkin akan cukup
membingungkan bagi orang yang pertama kali belajar bahasa Indonesia.

l. Awalan, akhiran, dan sisipan


Bahasa Indonesia mempunyai banyak awalan, akhiran, maupun sisipan, baik yang
asli dari bahasa-bahasa Nusantara maupun dipinjam dari bahasa-bahasa asing.
Awalan Fungsi (pembentuk) Perubahan bentuk Kaitan
ber- verba be-; bel- per-
ter- verba; adjektiva te-; tel- ke-
meng- verba (aktif) me-; men-; mem-; di-; pe-; ku-;
meny- kau;
di- verba (pasif) meng-
ke- nomina; numeralia; verba ter-
(percakapan)
per- verba; nomina pe-; pel- ber-
peng- nomina pe-; pen-; pem-; meng-
peny-
se- klitika; adverbia
ku-, verba (aktif) me-
kau-
m. Dialek dan ragam bahasa
Pada keadaannya bahasa Indonesia menumbuhkan banyak varian yaitu varian
menurut pemakai yang disebut sebagai dialek dan varian menurut pemakaian yang disebut
sebagai ragam bahasa.

Dialek dibedakan atas hal ihwal berikut:

1. Dialek regional, yaitu rupa-rupa bahasa yang digunakan di daerah tertentu sehingga ia
membedakan bahasa yang digunakan di suatu daerah dengan bahasa yang digunakan
di daerah yang lain meski mereka berasal dari eka bahasa. Oleh karena itu, dikenallah
bahasa Melayu dialek Ambon, dialek Jakarta (Betawi), atau bahasa Melayu dialek
Medan.
2. Dialek sosial, yaitu dialek yang digunakan oleh kelompok masyarakat tertentu atau
yang menandai tingkat masyarakat tertentu. Contohnya dialek wanita dan dialek
remaja.
3. Dialek temporal, yaitu dialek yang digunakan pada kurun waktu tertentu. Contohnya
dialek Melayu zaman Sriwijaya dan dialek Melayu zaman Abdullah.
4. Idiolek, yaitu keseluruhan ciri bahasa seseorang. Sekalipun hampir seluruh warga
Indonesia menggunakan bahasa Indonesia, mereka masing-masing memiliki ciri-ciri
khas pribadi dalam pelafalan, tata bahasa, atau pilihan dan kekayaan kata.

Ragam bahasa dalam bahasa Indonesia berjumlah sangat banyak dan tidak terhad.
Maka itu, ia dibagi atas dasar pokok pembicaraan, perantara pembicaraan, dan hubungan
antarpembicara.

Ragam bahasa menurut pokok pembicaraan meliputi:

1. Ragam Undang - Undang


2. Ragam jurnalistik
3. Ragam ilmiah
4. Ragam sastra
Ragam bahasa menurut hubungan antarpembicara dibagi atas:

1. Ragam lisan, terdiri dari:


a) Ragam percakapan
b) Ragam pidato
c) Ragam kuliah
d) Ragam panggung
2. Ragam tulis, terdiri dari:
a) Ragam teknis
b) Ragam undang-undang
c) Ragam catatan
d) Ragam surat-menyurat

Dalam kenyataannya, bahasa baku tidak dapat digunakan untuk segala keperluan,
tetapi hanya untuk:

1. Komunikasi resmi
2. Wacana teknis
3. Pembicaraan di depan khalayak ramai
4. Pembicaraan dengan orang yang dihormati

Selain keempat penggunaan tersebut, dipakailah ragam bukan baku.

2. Landasan yuridis bahasa

Landasan yuridis bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara ialah Undang-undang Dasar
1945. Bab XV Pasal 36, yang berbunyi “ Bahasa Negara ialah bahasa Indonesia” pencapaian
hal itu melalui usaha serius yang berlangsung lama. Di antara usaha-usaha tersebut dapat
dicatat, yaitu:
1. Usaha Pujangga Baru Pujangga Baru sebagai organisasi sastrawan yang didirikan pada
tahun 1933 dalam membina dan mengembangkan bahasa Indonesia.
2. Kongres Bahasa Indonesia Pertama di Solo ( 1938) Pencinta bahasa Indonesia kembali
berhasil menunjukkan kemampuannya untuk menyelenggarakan suatu kongres yang
khusus menangani masalah kebahasan.
3. Usaha pada Zaman Jepang Sejak Jepang menginjakkan kakinya di Indonesia pada
tahun 1942 bahasa Indonesia semakin mantap kedudukannya. Pada masa ini, oleh
pemerintah Jepang berhasil didirikan sebuah badan Khusus yang dapat menglola usaha
pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia yaitu Komisi Bahasa Indonesia. Pada
tahun 1945 Jepang meyerah dan bangsa Indonesia memproklamasikan
kemerdekaannya. Sehari sesudah proklamsi, yakni pada tanggal 18 Agustus 1945.
Undang-undang Dasar RI diresmikan berlakunya, yang kemudian disebut UUD 1945.
Sejak itulah pula bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa Negara di samping
kedudukannya sebagai bahasa Nasional sejak tahun 1924.

Landasan Hukum Bahasa Indonesia landasan dasar hukum Bahasa Indonesia


ditetapkan berdasarkan UU Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009, yaitu :
1. Bahasa Indonesia yang dinyatakan sebagai bahasa resmi negara dalam pasal 36
Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 bersumpah
dari bahasa yang di ikrarkan dalam sumpah pemuda tanggal 28 Oktober 1928 sebagai
bahasa persatuan yang dikembangkan sesuai dengan dinamika peradaban bangsa.
2. Bahasa Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi sebagai jati diri
bangsa, kebanggan nasional, sarana pemersatu berbagai suku bangsa, serta sarana
komunikasi antardaerah dan antarbudaya daerah.
3. Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
berfungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan, pengantar pendidikan, komunikasi tingkat
nasional, pengembangan kebudayaan nasional, transaksi dan dokumentasi niaga, serta
sarana pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan bahasa
media massa
3. Fungsi dan kedudukan bahasa
I. Fungsi dan kedudukan bahasa Indonesia
Fungsi bahasa dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu fungsi bahasa secara umum dan secara
khusus.Dalam literatur bahasa, dirumuskannya fungsi bahasa secara umum bagi setiap orang adalah
:
1. Sebagai alat untuk mengungkapkan perasaan atau mengekspresikan diri.
Mampu mengungkapkan gambaran,maksud ,gagasan, dan perasaan. Melalui bahasa kita
dapat menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam hati dan pikiran kita. Ada
2 unsur yang mendorong kita untuk mengekspresikan diri, yaitu:
* Agar menarik perhatian orang lain terhadap diri kita.
* Keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan emosi.
2. Sebagai alat komunikasi.
Bahasa merupakan saluran maksud seseorang, yang melahirkan perasaan dan
memungkinkan masyarakat untuk bekerja sama. Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh
dari ekspresi diri. Pada saat menggunakan bahasa sebagai komunikasi,berarti memiliki tujuan
agar para pembaca atau pendengar menjadi sasaran utama perhatian seseorang. Bahasa yang
dikatakan komunikatif karena bersifat umum. Selaku makhluk sosial yang memerlukan orang
lain sebagai mitra berkomunikasi, manusia memakai dua cara berkomunikasi, yaitu verbal dan
non verbal. Berkomunikasi secara verbal dilakukan menggunakan alat/media bahsa (lisan dan
tulis), sedangkan berkomunikasi cesara non verbal dilakukan menggunakan media berupa aneka
symbol, isyarat, kode, dan bunyi seperti tanda lalu lintas,sirene setelah itu diterjemahkan
kedalam bahasa manusia.
3. Sebagai alat berintegrasi dan beradaptasi sosial.
Pada saat beradaptasi dilingkungan sosial, seseorang akan memilih bahasa yang digunakan
tergantung situasi dan kondisi yang dihadapi. Seseorang akan menggunakan bahasa yang non
standar pada saat berbicara dengan teman- teman dan menggunakan bahasa standar pada saat
berbicara dengan orang tua atau yang dihormati. Dengan menguasai bahasa suatu bangsa
memudahkan seseorang untuk berbaur dan menyesuaikan diri dengan bangsa.
4. Sebagai alat kontrol Sosial.
Yang mempengaruhi sikap, tingkah laku, serta tutur kata seseorang. Kontrol sosial dapat
diterapkan pada diri sendiri dan masyarakat, contohnya buku- buku pelajaran, ceramah agama,
orasi ilmiah, mengikuti diskusi serta iklan layanan masyarakat. Contoh lain yang
menggambarkan fungsi bahasa sebagai alat kontrol sosial yang sangat mudah kita terapkan
adalah sebagai alat peredam rasa marah. Menulis merupakan salah satu cara yang sangat efektif
untuk meredakan rasa marah kita.
Fungsi bahasa secara khusus :
2. Mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari- hari.
Manusia adalah makhluk sosial yang tak terlepas dari hubungan komunikasi dengan
makhluk sosialnya. Komunikasi yang berlangsung dapat menggunakan bahasa formal dan non
formal.
3. Mewujudkan Seni (Sastra).
Bahasa yang dapat dipakai untuk mengungkapkan perasaan melalui media seni, seperti
syair, puisi, prosa dll. Terkadang bahasa yang digunakan yang memiliki makna denotasi atau
makna yang tersirat. Dalam hal ini, diperlukan pemahaman yang mendalam agar bisa
mengetahui makna yang ingin disampaikan.
4. Mempelajari bahasa- bahasa kuno.
Dengan mempelajari bahasa kuno, akan dapat mengetahui peristiwa atau kejadian dimasa
lampau. Untuk mengantisipasi kejadian yang mungkin atau dapat terjadi kembali dimasa yang
akan datang, atau hanya sekedar memenuhi rasa keingintahuan tentang latar belakang dari suatu
hal. Misalnya untuk mengetahui asal dari suatu budaya yang dapat ditelusuri melalui naskah
kuno atau penemuan prasasti-prasasti.
5. Mengeksploitasi IPTEK.
Dengan jiwa dan sifat keingintahuan yang dimiliki manusia, serta akal dan pikiran yang
sudah diberikan Tuhan kepada manusia, maka manusia akan selalu mengembangkan berbagai
hal untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Pengetahuan yang dimiliki oleh manusia akan
selalu didokumentasikan supaya manusia lainnya juga dapat mempergunakannya dan
melestarikannya demi kebaikan manusia itu sendiri.
Bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang sangat penting yang tercantum didalam :

a) Ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928 dengan bunyi, “ Kami putra dan putri Indonesia
menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”.
b) Undang- Undang Dasar RI 1945 Bab XV (Bendera, Bahasa, dan lambing Negara, serta
Lagu Kebangsaan) Pasal 36 menyatakan bahwa “Bahasa Negara ialah Bahasa
Indonesia”.

Maka kedudukan bahasa Indonesia sebagai :

1. Bahasa Nasional
Kedudukannya berada diatas bahasa- bahasa daerah. Hasil Perumusan Seminar Politik
Bahasa Nasional yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 25-28 Februari 1975
menegaskan bahwa dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia
berfungsi sebagai :

a) Lambang kebanggaan Nasional.

Sebagai lambang kebanggaan Nasional bahasa Indonesia memancarkan


nilai- nilai sosial budaya luhur bangsa Indonesia. Dengan keluhuran nilai yang
dicerminkan bangsa Indonesia, kita harus bangga, menjunjung dan
mempertahankannya. Sebagai realisasi kebanggaan terhadap bahasa Indonesia,
harus memakainya tanpa ada rasa rendah diri, malu, dan acuh tak acuh. Kita harus
bangga memakainya dengan memelihara dan mengembangkannya.

b) Lambang Identitas Nasional.

Sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia merupakan lambang


bangsa Indonesia. Berarti bahasa Indonesia akan dapat mengetahui identitas
seseorang, yaitu sifat, tingkah laku, dan watak sebagai bangsa Indonesia. Kita
harus menjaganya jangan sampai ciri kepribadian kita tidak tercermin di
dalamnya. Jangan sampai bahasa Indonesia tidak menunjukkan gambaran bangsa
Indonesia yang sebenarnya.

c) Alat pemersatu berbagai masyarakat yang berbeda-beda latar belakang sosial


budaya dan bahasanya.

Dengan fungsi ini memungkinkan masyarakat Indonesia yang beragam latar


belakang sosial budaya dan berbeda-beda bahasanya dapat menyatu dan bersatu
dalam kebangsaan, cita-cita, dan rasa nasib yang sama. Dengan bahasa Indonesia,
bangsa Indonesia merasa aman dan serasi hidupnya, karena mereka tidak merasa
bersaing dan tidak merasa lagi ‘dijajah’ oleh masyarakat suku lain. Karena dengan
adanya kenyataan bahwa dengan menggunakan bahasa Indonesia, identitas suku
dan nilai-nilai sosial budaya daerah masih tercermin dalam bahasa daerah masing-
masing. Kedudukan dan fungsi bahasa daerah masih tegar dan tidak bergoyah
sedikit pun. Bahkan, bahasa daerah diharapkan dapat memperkaya khazanah
bahasa Indonesia.

d) Alat penghubung antarbudaya antardaerah.

Manfaat bahasa Indonesia dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.


Dengan bahasa Indonesia seseorang dapat saling berhubungan untuk segala aspek
kehidupan. Bagi pemerintah, segala kebijakan dan strategi yang berhubungan
dengan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan kemanan
mudah diinformasikan kepada warga. Apabila arus informasi antarmanusia
meningkat berarti akan mempercepat peningkatan pengetahuan seseorang.
Apabila pengetahuan seseorang meningkat berarti tujuan pembangunan akan cepat
tercapai.

2. Bahasa Negara (Bahasa resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia)

Dalam Hasil Perumusan Seminar Politik Bahasa Nasional yang diselenggarakan di


Jakarta pada tanggal 25 s.d. 28 Februari 1975 dikemukakan bahwa di dalam
kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia befungsi sebagai :

a. Bahasa resmi kenegaraan.

Bukti bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kenegaraan adalah digunakannya
bahasa Indonesia dalam naskah proklamasi kemerdekaan RI 1945. Mulai saat itu bahasa
Indonesia digunakan dalam segala upacara, peristiwa serta kegiatan kenegaraan.

b. Bahasa pengantar resmi dilembaga-lembaga pendidikan.

Bahasa Indonesia dipakai sebagai bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan


mulai dari taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi. Untuk memperlancar
kegiatan belajar mengajar, materi pelajaran ynag berbentuk media cetak hendaknya juga
berbahasa Indonesia. Hal ini dapat dilakukan dengan menerjemahkan buku-buku yang
berbahasa asing. Apabila hal ini dilakukan, sangat membantu peningkatan perkembangan
bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan teknolologi (iptek).

c. Bahasa resmi di dalam perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan


perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintah.

Bahasa Indonesia dipakai dalam hubungan antarbadan pemerintah dan


penyebarluasan informasi kepada masyarakat. Sehubungan dengan itu hendaknya
diadakan penyeragaman sistem administrasi dan mutu media komunikasi massa. Tujuan
penyeragaman dan peningkatan mutu tersebut agar isi atau pesan yang disampaikan dapat
dengan cepat dan tepat diterima oleh masyarakat.

d. Bahasa resmi di dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu


pengetahuan serta teknologi modern.

Kebudayaan nasional yang beragam yang berasal dari masyarakat Indonesia yang
beragam pula. Dalam penyebarluasan ilmu dan teknologi modern agar jangkauan
pemakaiannya lebih luas, penyebaran ilmu dan teknologi, baik melalui buku-buku
pelajaran, buku-buku populer, majalah-majalah ilmiah maupun media cetak lain,
hendaknya menggunakan bahasa Indonesia. Pelaksanaan ini mempunyai hubungan timbal-
balik dengan fungsinya sebagai bahasa ilmu yang dirintis lewat lembaga-lembaga
pendidikan, khususnya di perguruan tinggi.

II. Fungsi dan kedudukan bahasa daerah


Bahasa daerah adalah suatu bahasa yang dituturkan di suatu wilayah dalam
sebuah negara kebangsaan; apakah itu pada suatu daerah kecil, negara bagian federal
atau provinsi, atau daerah yang lebih luas. Sedangkan defenisi Bahasa Daerah dalam
hukum Internasional yang termuat dalam rumusan Piagam Eropa untuk Bahasa-Bahasa
Regional atau Minoritas diartkan bahwa "bahasa-bahasa daerah atau minoritas" adalah
bahasa-bahasa yang secara tradisional digunakan dalam wilayah suatu negara, oleh
warga negara dari negara tersebut, yang secara numerik membentuk kelompok yang
lebih kecil dari populasi lainnya di negara tersebu; dan berbeda dari bahasa resmi (atau
bahasa-bahasa resmi) dari negara tersebut.
Bangsa Indonesia terdiri atas bermacam-macam suku atau kelompok etnis di tanah
air. Tiap kelompok etnis mempunyai bahasa masing-masing yang dipergunakan dalam
komunikasi antaretnis atau sesama suku. Perencanaan bahasa nasional tidak bisa
dipisahkan dari pengolahan bahasa daerah, demikian pula sebaliknya. Itulah sebabnya
di samping mengolah bahasa nasional, Politik Bahasa Nasional pun berfungsi sebagai
sumber dasar dan pengarah bagi pengolahan bahasa daerah yang jumlahnya ratusan
dan tersebar di seluruh pelosok nusantara. Hal itu sejalan dengan UUD 1945, Bab XV,
Pasal 36 di dalam penjelasannya, dikatakan: “Bahasa daerah itu adalah merupakan
bagian dari kebudayaan Indonesia yang hidup; bahasa daerah itu adalah salah satu
unsur kebudayaan nasional yang dilindungi oleh negara”, yang fungsinya sebagaimana
disimpulkan oleh peserta Seminar Politik Bahasa Nasional tahun 1975 di Jakarta,
yakni:

“Di dalam kedudukannya sebagai bahasa daerah, bahasa-bahasa seperti Sunda,


Jawa, Bali, Madura, Bugis, Makassar, dan Batak berfungsi sebagai (1) lambang
kebanggaan daerah, (2) lambang identitas daerah, dan (3) alat perhubungan di dalam
keluarga dan masyarakat daerah.

“Di dalam hubungannya dengan fungsi bahasa Indonesia, bahasa daerah berfungsi
sebagai (1) pendukung bahasa nasional, (2) bahasa pengantar di sekolah dasar di daerah
tertentu pada tingkat permulaan untuk memperlancar pengajaran bahasa Indonesia dan
mata pelajaran lain, dan (3) alat pengembangan serta pendukung kebudayaan daerah”
(Halim (Ed.), 1976:145—46).

Dalam kedudukannya sebagai Bahasa Daerah sendiri, maka Bahasa Daerah sendiri
berfungsi sebagai:

c) Sebagai lambang kebanggan daerah


d) Lambang identitas daerah
e) Alat penghubung di dalam keluarga dan masyarakat daerah
Adapun fungsi bahasa daerah dalam hubungannya dengan Bahasa Indonesia adalah:

1. Bahasa Daerah sebagai pendukung Bahasa Nasional


Bahasa daerah merupakan bahasa pendukung bahasa Indonesia yang
keberadaannya diakui oleh Negara. UUD 1945 pada pasal 32 ayat (2) menegaskan
bahwa “Negara menghormati dan memilihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya
nasional.” dan juga sesuai dengan perumusan Kongres Bahasa Indonesia II tahun 1954
di Medan, bahwa bahasa daerah sebagai pendukung bahasa nasional merupakan
sumber pembinaan bahasa Indonesia. Sumbangan bahasa daerah kepada bahasa
Indonesia, antara lain, bidang fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan kosa kata.
Demikian juga sebaliknya, bahasa Indonesia mempengaruhi perkembangan bahasa
daerah. Hubungan timbal balik antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah saling
melengkapi dalam perkembangannya.

2. Bahasa Daerah sebagai bahasa pengantar pada tingkat permulaan sekolah dasar
Di daerah tertentu , bahasa daerah boleh dipakai sebagai bahasa pengantar di dunia
pendidikan tingkat sekolah dasar sampai dengan tahun ketiga (kelas tiga). Setelah itu,
harus menggunakan bahasa Indonesia , kecuali daerah-daerah yang mayoritas masih
menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa ibu.

3. Bahasa Daerah sebagai sumber kebahasaan untuk memperkaya Bahasa Indonesia


Seringkali istilah yang ada di dalam bahasa daerah belum muncul di bahasa
indonesia sehingga bahasa indonesia memasukkannya istilah tersebut , contohnya “
gethuk “ { penganan dibuat dari ubi dan sejenisnya yang direbus, kemudian dicampur
gula dan kelapa (ditumbuk bersama) } karena di bahasa indonesia istilah tersebut belum
ada , maka istilah “ gethuk “ juga di resmikan di bahasa indonesia sebagai istilah dari
“ penganan dibuat dari ubi dan sejenisnya yang direbus, kemudian dicampur gula dan
kelapa (ditumbuk bersama) “.

4. Bahasa Daerah sebagai pelengkap bahasa Indonesia di dalam penyelenggaraan


pemerintah pada tingkat daerah
Dalam tatanan pemerintah pada tingkat daerah , bahasa daerah menjadi penting
dalam komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat yang kebanyakan masih
menggunakan bahasa ibu sehingga dari pemerintah harus menguasai bahasa daerah
tersebut yang kemudian bisa di jadikan pelengkap di dalam penyelenggaraan
pemerintah pada tingkat daerah tersebut.
Bahasa daerah dan Bahasa Indonesia yang digunakan secara bergantian menjadikan
masyarakat Indonesia menjadi dwibahasawan. Menurut Mackey dan Fishman (Chaer,
2004: 84) kedwibahasaan diartikan sebagai “...penggunaan dua bahasa oleh penutur
dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian”.

Bahasa daerah sebagai pendukung bahasa nasional sesuai dengan perumusan


Kongres Bahasa Indonesia II tahun 1954 di Medan, merupakan sumber pembinaan
bahasa Indonesia. Sumbangan bahasa daerah kepada bahasa Indonesia, antara lain,
bidang fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan kosa kata. Demikian juga
sebaliknya, bahasa Indonesia mempengaruhi perkembangan bahasa daerah. Hubungan
timbal balik antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah saling melengkapi dalam
perkembangannya.

Namun dewasa ini, Bahasa daerah terancam punah. Prof Dr Arief Rahman dalam
pidato pengukuhan sebagai guru besar dalam bidang pendidikan bahasa di Universitas
Negeri Jakarta, Selasa (22/5) mengungkapkan bahwa “Kondisi ini menjadi
keprihatinan saya. Dalam penelitian yang saya lakukan di beberapa SMA di Jakarta,
bahasa daerah tidak lagi digunakan dalam komunikasi di rumah. Orang tua tidak
menganggap penting untuk menggunakan di rumah. Para pelajar lebih suka pakai
bahasa gaul meski bertemu teman yang berbahasa daerah semua”

Kepunahan bahasa daerah di Indonesia dipetakan sebagai berikut : di Kalimanatan


50 bahasa daerah terancam punah dan satu sudah punah. Dari 13 bahasa di Sumatra,
dua terancam punah dan satu sudah punah.Sulawesi yang memiliki 110 bahasa, 36
terancam punah dan satu sudah punah. Dari 80 bahasa daerah di Maluku, 22 terancam
punah dan 11 sudah punah. Di daerah Timor, Flores, Bima, dan Sumba dari 50 bahasa
yang ada sebanyak delapan terancam punah. Di daerah Papua dan Halmahera dari 271
bahasa sebanyak 56 bahasa terancam punah. Di Jawa tidak ada bahasa daerah terancam
punah.

Berdasarkan berbagai kondisi di atas, perlu adanya suatu sistem yang mampu
mensinergikan antara bahasa daearah sebagai bahasa ibu, bahasa Indonesia sebagai
bahasa persatuan, serta bahasa Inggris sebagai bahasa internasonal.
III. Fungsi dan kedudukan bahasa asing
Bahasa asing merupakan bahasa negara lain yang tidak digunakan secara umum
dalam interaksi social. bahasa asing ini tidak digunakan oleh orang yang tinggal di
sebuah tempat yang tertentu: misalnya bahasa Indonesia dianggap sebagai sebuah
bahasa yang asing di Australia. Bahasa asing juga merupakan sebuah bahasa yang tidak
digunakan di tanah air atau negara asal seseorang, misalnya; seorang penutur bahasa
Indonesia yang tinggal di Australia boleh mengatakan bahwa bahasa Inggris adalah
bahasa yang asing untuk dirinya sendiri.

Kedudukan bahasa asing berbeda dengan bahasa kedua. Mustafa dalam hal ini
menyatakan bahwa bahasa kedua adalah bahasa yang dipelajari anak setelah bahasa
ibunya dengan ciri bahasa tersebut digunakan dalam lingkungan masyarakat sekitar.
Sedangkan bahasa asing adalah bahasa negara lain yang tidak digunakan secara umum
dalam interaksi sosial.Kedudukan Bahasa Inggris di Indonesia tersebut mengakibatkan
jarang digunakannya Bahasa Inggris dalam interaksi sosial di lingkungan anak. Hal
tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi lembaga Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD) yang menggunakan bahasa pengantar Bahasa Inggris karena pemerolehan
bahasa asing bagi anak berbanding lurus dengan volume, frekuensi dan penggunaannya
dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kedudukanya sebagai bahasa asing, bahasa-bahasa seperti bahasa Inggris,


perancis, mandarin, belanda, jerman tidak memiliki kemampuan untuk bersaing
dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional maupun bahasa Negara atau dengan
kata lain bahasa asing tidak akan pernah menjadi bahasa nasional ataupun bahasa
Negara Indonesia. Walaupun pada kenyataanya sebagian bahasa asing tersebut
diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan tingkat tertentu.

Seperti bahasa-bahasa lainnya di dunia, bahasa Arab yang merupakan salah satu
bahasa asing mempunyai fungsi sebagai alat komunikasi dan juga berfungsi sebagai
sarana untuk memperkenalkan kebudayaan dan peradabannya. Adapun fungsi bahasa
asing yang lainnya ialah:

1. Alat penghubung antar bangsa


2. Alat pembantu pengembangan bahasa Indonesia menjadi bahasa modern
3. Alat pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi modern untuk pembangunan
nasional

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pada hakikatnya bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional Indonesia dan sarana untuk
berkomunikasi antar sesama manusia. Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan yang hanya
dimiliki oleh manusia. Namun kemampuan itu tidak dibawa sejak lahir dan dikuasai dengan
sendirinya, melainkan harus dipelajari. Tanpa bahasa tidak akan mungkin manusia dapat berpikir
lanjut serta mencapai kemajuan dan teknologi seperti sekarang ini. Untuk itu sangatlah penting
mempelajari hakikat dan fungsi bahasa.

3.2 Kritik dan Saran

Kami menyadari, dalam pembuatan makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu,
kami sebagai penyusun berharap agar ada kritik dan saran dari semua pihak terutama dosen. Kami
hanyalah manusia biasa. Jika ada kesalahan, itu datangnya dari kami sendiri. Dan jika ada
kebenaran, itu datangnya dari Allah swt.
DAFTAR PUSTAKA

https://lenterakecil.com/pengertian-dan-hakikat-bahasa/

https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia

https://the-friendkerz.blogspot.com/2013/05/bahasa-indonesia-menjadi-bahasa-negara.html

https://edoc.site/landasan-hukum-dan-kedudkan-bahasa-indonesia-pdf-free.html

https://azenismail.wordpress.com/2011/09/29/fungsi-dan-kedudukan-bahasa-indonesia/

http://pendidikanmatematika2011.blogspot.com/2012/04/khusnul-khatimah.html

https://arsyadaryana.blogspot.com/2012/06/kedudukan-dan-fungsi-bahasa-indonesia.html