Anda di halaman 1dari 7

Kusta Tipe Multibasiler pada Anak

Arridha Hutami Putri1*, Mila Darmi2, Ramona Dumasari Lubis1


1
Departmen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Jln.
Dr. Mansur No. 66, Medan, Sumatera Utara
2
Departmen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik, Jln. Bunga
Lau No. 17, Medan, Sumatera Utara
*085270000616, utyputri_dr@yahoo.com

Abstrak
Insiden kusta yang terjadi pada anak-anak menunjukkan transmisi aktif dalam komunitas dan
dapat dijadikan sebagai indikator epidemiologi. Kami melaporkan sebuah kasus kusta tipe
multibasiler pada seorang anak laki-laki yang berusia 14 tahun. Ia datang dengan keluhan utama
jari kelingking tangan kiri membengkak dan disertai mati rasa sejak 1 bulan yang lalu. Awalnya
2 tahun yang lalu, timbul bercak kehitaman yang disertai mati rasa pada tangan kiri. Satu tahun
kemudian, pasien mengeluhkan kulit menebal pada kedua cuping telinga dan kedua alis mata
rontok. Lalu selama 1 bulan ini, pasien mengeluhkan jari kelingking tangan kiri mulai
membengkak. Ayah pasien terdiagnosis kusta tipe multibasiler (MB) 8 tahun yang lalu dan sudah
menyelesaikan pengobatan kombinasi MDT-MB. Riwayat imunisasi BCG tidak dijumpai. Pada
pemeriksaan fisik, tampak madarosis pada kedua alis mata. Pada pemeriksaan dermatologis,
terdapat makula hiperpigmentasi berbatas tidak tegas, berukuran plakat disertai anestesi pada
regio manus sinistra, papul dan infiltrat pada regio aurikularis sinistra et dekstra. Pada
pemeriksaan sensibilitas pada kulit, terdapat kelainan pada fungsi sensorik anestesi pada area
tangan yang dipersarafi ulnaris dan medianus sinistra, terdapat kelainan fungsi motorik pada
saraf ulnaris sinistra kekuatan otot sedang (derajat 3). Kemudian pada pasien dilakukan
pemeriksaan bakteriologis bakteri tahan asam dengan slit skin smear pada kedua cuping telinga
dan diperoleh hasil indeks bakteriologis 4(+). Pasien didiagnosa dengan kusta tipe multibasiler
dan diresepkan obat MDT MB anak serta diedukasi mengenai perawatan harian rutin. Prognosis
pasien ini baik karena tidak terdapat kecacatan. Diagnosis dan penatalaksanaan yang dini
merupakan strategi dasar untukmencegah transmisi kusta.

Kata kunci: Kusta, Anak. Multibasiler, M Leprae


Pendahuluan
Kusta telah menjadi masalah kesehatan umum di banyak negara berkembang di dunia. Anak-
anak dipercaya merupakan kelompok yang paling mudah terserang infeksi kuman
Mycobacterium leprae disebabkan daya tahan tubuh sejak lahir dan adanya kemungkinan kontak
keluarga.1 Kasus kusta pada anak merupakan sesuatu yang unik karena berpotensi menyebabkan
deformitas fisik dan dampak psikososial yang serius terhadap anak dan keluarganya.2 Pada
zaman setelah eliminasi kusta berjalan, insiden kusta yang terjadi pada anak-anak muda
menunjukkan transmisi aktif dalam komunitas dan dapat dijadikan sebagai indikator
epidemiologi secara kasar untuk melihat progres program pengendalian kusta.1 Pada anak-anak,
penyakit ini paling sering terjadi pada usia 5-14 tahun dan hanya 5.8-6% kasus pada anak usia di
bawah 5 tahun. Hal ini disebabkan karena periode inkubasi yang relatif lama dan tertundanya
diagnosis pada lesi yang indeterminate. Lebih sering terjadi pada anak laki-laki, kemungkinan
karena mobilitasnya yang lebih besar dan meningkatkan kesempatan untuk kontak diantara
sesama anak laki-laki.4 Kontak keluarga diketahui berperan penting dalam perkembangan kusta
pada anak. Risiko menderita kusta pada seseorang meningkat empat kali lipat jika tetangganya
menderita kusta dan sembilan kali lipat jika kontaknya antar keluarga. Lebih jauh lagi, risiko
bertambah besar jika kontak dengan pasien multibasiler. Angka kejadian semakin meningkat
jika sumber kontak adalah ibunya.1,5
Jalur transmisi kuman kusta masih belum diketahui pasti, namun dapat terjadi melalui
kontak langsung antar kulit yang lama dan erat. Anggapan lain yaitu melalui inhalasi droplet
sebab basil M.leprae masih dapat hidup beberapa hari dalam sekret hidung.1,6 Terdapat bukti
epidemiologi yang menunjukkan bahwa kuman kusta dapat ditransmisikan melalui plasenta.
Laporan kasus seorang anak berusia 3 minggu merupakan contoh dimana infeksi dapat terjadi
secara intrauterin. Kuman kusta juga telah diketahui terdapat di dalam air susu ibu yang
menderita kusta, akan tetapi belum tentu dapat menularkan melalui saluran gastrointestinal.1
Kusta pada anak sangat sulit ditegakkan karena kesulitan menilai fungsi saraf perifer. Semakin
muda usianya semakin sulit untuk dinilai. Meskipun tidak ada pemeriksaan laboratorium pasti
yang dapat langsung mendeteksi kusta, pewarnaan basil tahan asam (BTA) yang terdeteksi dari
hapusan jaringan kulit membantu menegakkan diagnosis.1,6 Mengingat salah satu target strategi
global kusta adalah disabilitas diantara pasien anak (dibawah usia 15tahun) mencapai 0 pada
tahun 2020, laporan kasus ini bermaksud untuk meninjau kembali perkembangan terbaru
mengenai diagnosis,penatalaksannan dan pencegahan kusta pada anak.

Kasus
Seorang anak laki-laki berusia 14 tahun datang berobat ke poliklinik ilmu kesehatan kulit dan
kelamin RSUP HAM dengan keluhan utama jari kelingking tangan kiri membengkak dan disertai
mati rasa sejak 1 bulan yang lalu. Awalnya 2 tahun yang lalu, timbul bercak kehitaman yang
disertai mati rasa pada tangan kiri. Satu tahun kemudian, pasien mengeluhkan kulit menebal
pada kedua cuping telinga dan kedua alis mata rontok. Lalu selama 1 bulan ini, pasien
mengeluhkan jari kelingking tangan kiri mulai membengkak. Pasien mengaku belum pernah
berobat dan menderita penyakit seperti ini sebelumnya. Riwayat demam dan nyeri sendi
disangkal oleh pasien dan orang tuanya. Riwayat ayah pasien menderita kusta tipe multibasiler, 8
tahun yang lalu dan sudah menyelesaikan pengobatan MDT kusta selama 12 bulan. Riwayat
imunisasi BCG tidak pernah dilakukan pada pasien dan riwayat imunisasi tidak lengkap. Dari
pemeriksaan fisik umum tanda vital dalam batas normal, status gizi dalam batas normal, tetapi
dijumpai madarosis pada wajah (gambar 1a). Pada pemeriksaan dermatologis, terdapat makula
hiperpigmentasi berbatas tidak tegas, berukuran plakat disertai anestesi pada regio manus sinistra
(Gambar 1b dan 1c), pembengkakan dijumpai pada regio digiti V manus sinistra (Gambar 1b dan
1c) dan tampak adanya infiltrat pada regio aurikularis sinistra et dekstra (Gambar 1d). Pada
pemeriksaan sensibilitas fungsi sensorik dijumpai hilangnya rasa raba dan nyeri (anestesi) pada
regio manus sinistra yang dipersarafi ulnaris dan medianus sinistra. Pada perabaan saraf tepi,
dijumpai penebalan dan nyeri tekan pada saraf ulnaris sinistra. Pada pemeriksaan fungsi motorik
dijumpai kelemahan otot sedang (derajat 3) pada abduksi jari V yang dipersarafi oleh ulnar.
Kami juga melihat penurunan produksi keringat pada daerah dengan lesi selama aktivitas.

Gambar 1(a) Madarosis pada kedua alis mata. (b)(c) makula hiperpigmentasi berbatas tidak tegas,
berukuran plakat disertai anestesi pada regio manus sinistra. (d) Infiltrat pada regio aurikularis sinistra et
dekstra.
Diagnosis banding pada pasien ini adalah kusta tipe multibasiler (MB), tinea manus dan
hiperpigmentasi pasca inflamasi. Kemudian pada pasien dilakukan pemeriksaan bakteriologis
bakteri tahan asam dengan slit skin smear pada kedua cuping telinga dan dilakukan pemeriksaan
KOH, diperoleh hasil indeks bakteriologis cuping telinga kiri 4(+),cuping telinga kanan 4(+)
(Gambar 2). Pasien didiagnosis kusta tipe MB berdasarkan klasifikasi WHO. Pada pasien diberi
terapi MDT MB anak, yang terdiri atas rifampisin 450 mg setiap bulan, klofazimin 150 mg pada
awal bulan dan 50 mg per hari, serta dapson 50 mg per hari. Prognosis pasien quo ad vitam bonam,
quo ad functionam dubia ad malam, and quo ad sanationam malam.

Gambar 2. Hasil pemeriksaan slit skin smear pada pasien menunjukkan BTA 4(+)

Diskusi
Kusta pada anak-anak dibawah usia 15 tahun merupakan indikator epidemiologi yang sangat
penting. Hal ini berhubungan dengan transmisi aktif penyakit di dalam komunitas tersebut,
mengingat kembali bahwa program pengendalian kusta yang dilakukan belum efisien.3,7 Pada
anak-anak, penyakit ini paling sering terjadi pada usia 5-14 tahun dan hanya 5.8-6% kasus pada
anak usia di bawah 5 tahun. Hal ini disebabkan karena periode inkubasi yang relatif lama dan
tertundanya diagnosis pada lesi yang indeterminate. Lebih sering terjadi pada anak laki-laki,
kemungkinan karena mobilitasnya yang lebih besar dan meningkatkan kesempatan untuk
kontak.4 Kontak keluarga diketahui berperan penting dalam perkembangan kusta pada anak.
Risiko menderita kusta pada seseorang meningkat sembilan kali lipat jika kontaknya antar
keluarga. Lebih jauh lagi, risiko bertambah besar jika kontak dengan pasien multibasiler dan
angka kejadian semakin meningkat jika sumber kontak adalah ibunya.1,5 Pada pasien ini, sumber
kontak adalah ayahnya yang terdiagnosis dengan kusta tipe multibasiler sejak 8 tahun yang lalu.
Sehingga pasien sudah dalam keadaan beresiko kusta sejak lahir karena masa inkubasi kusta
yang lama dengan rata-rata 2-5 tahun akan tetapi dapat juga sampai 40 tahun.8 Resiko semakin
meningkat karena pasien kontak dengan penderita kusta tipe multibasiler dan tanpa riwayat
imunisasi BCG. Pada penelitian Richardus dan Oskam, seseorang yang telah mendapatkan
vaksin BCG pada masa kecilnya mendapatkan perlindungan sebesar 57%.9
Kusta pada anak-anak sangat sulit terdeteksi, biasanya karena kesalahan dalam memeriksa fungsi
saraf perifer. Pada anak yang jauh lebih muda, akan lebih sulit memeriksa perubahan
sensibilitas.10,11 Diagnosis pada pasien ini ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik
dan dermatologis serta pemeriksaan penunjang. Berdasarkan WHO-Expert Committee on Leprosy,
penegakan diagnosis kusta pada anak-anak sama dengan pasien dewasa yaitu jika ditemukan 1
atau lebih dari 3 tanda kardinal, yaitu: (1) lesi kulit hipopigmentasi atau eritematosa dengan
hilangnya atau gangguan sensasi; (2) keterlibatan saraf perifer yang ditandai dengan penebalan
saraf dengan gangguan saraf; (3) positif BTA pada slit skin smear.12 Pada kasus, awalnya 2 tahun
yang lalu, timbul bercak kehitaman yang disertai mati rasa pada tangan kiri. Satu tahun
kemudian, pasien mengeluhkan kulit menebal pada kedua cuping telinga dan kedua alis mata
rontok. Lalu selama 1 bulan ini, pasien mengeluhkan jari kelingking tangan kiri mulai
membengkak. Pada pemeriksaan fisik, tampak madarosis pada kedua alis mata. Pada
pemeriksaan dermatologis, terdapat makula hiperpigmentasi berbatas tidak tegas, berukuran
plakat disertai anestesi pada regio manus sinistra, papul dan infiltrat pada regio aurikularis
sinistra et dekstra. Pada pemeriksaan sensibilitas pada kulit, terdapat kelainan pada fungsi
sensorik anestesi pada area tangan kiri yang dipersarafi ulnaris dan medianus sinistra, terdapat
kelainan fungsi motorik pada saraf ulnaris sinistra kekuatan otot sedang (tingkat 3). Pada
pewarnaan BTA dari kerokan kulit didapatkan indeks bakteriologis +4. Kami juga melihat
penurunan produksi keringat pada daerah dengan lesi selama aktivitas. Hasil yang positif pada
hapusan kulit telah dilaporkan pada kurang dari 10% kasus. Dimana nilai positif hapusan ini
telah terbukti semakin meningkat sesuai usia anak penderita kusta.
Klasifikasi Ridley-Jopling dibagi menjadi 5 kelompok berdasarkan klinis, bakteriologi,
histopatologi dan respon imun masih diterima secara luas.10 Pada kebanyakan anak-anak,
spektrum kusta yang paling banyak dijumpai adalah tipe borderline tuberculoid (BT) dengan
prevalensi 42-78%. Bagaimanapun, sejumlah besar proporsi kusta pada anak dengan BTA (-)
karena kebanyakan dari mereka merupakan tipe TT, BT atau indeterminate.1 Sebuah klasifikasi
yang lebih sederhana berdasarkan jumlah lesi dan saraf yang terlibat dibuat oleh WHO pada
tahun 1998 yaitu: pausibasiler (PB)Mdan multibasiler (MB).6,7,8 Lesi pada anak-anak sekolah
mempunyai sifat yang terlalu dini untuk dinilai, dan menjadi tantangan untuk mendiagnosis
mereka dengan gejala yang masih ringan, tanpa ada reaksi ataupun disabilitas, dan biasanya
masih dalam bentuk PB.10 Kusta multibasiler tampak dengan lebih dari 5 lesi kulit dengan
hipoestesi atau anastesi, penebalan dan gangguan fungsi saraf perifer simetris, madarosis, facies
leonina dan deformitas pada tahap lanjut.13 Pasien didiagnosis kusta MB karena keterlibatan 2
saraf perifer dan tampak madarosis pada wajah dengan hasil pemeriksaan slit skin smear BTA
4(+). Diagnosa banding berupa tinea manus dapat disingkirkan sebab lesi pada tinea biasanya
berbatas tegas dengan tepi meninggi atau lebih aktif walaupun sama-sama disertai kulit kering
dan mengenai satu bagian tubuh saja. Akan tetapi pada pemeriksaan KOH tidak tampak apa-apa.
Hiperpigmentasi pasca inflamasi dapat disingkirkan karena tidak ada riwayat luka ataupun
infeksi yang terjadi pada tangan kiri pasien sebelumnya.
Pasien kemudian diresepkan obat MDT kusta MB untuk anak-anak serta diedukasi mengenai
perawatan harian rutin. Di Indonesia sendiri, MDT MB, dibagi menjadi kelompok usia <5 tahun,
5-9 tahun, 10-15 tahun dan >15 tahun.8 Pada pasien diberi terapi MDT MB anak, yang terdiri
atas rifampisin 450 mg setiap bulan, klofazimin 150 mg pada awal bulan dan 50 mg per hari,
serta dapson 50 mg per hari. Prognosis pasien ini baik karena tidak terdapat disabilitas dan
deformitas.

Kesimpulan
Diagnosis dan penatalaksanaan awal merupakan strategi dasar dalam pencegahan transmisi
kusta. Kusta pada anak dibawahusia 15 tahun merupakan suatu indicator kasar adanya sumber
penularan aktif di komunitas tempat mereka tinggal. Infeksi subklinis diantara anak-anak
merupakan suatu pertimbangan adanya prevalensi tersembunyi di populasi umum. Diagnosis dini
pada anak pasti sulit, bahkan jika dilakukan oleh orang yang sudah berpengalaman dengan
penyakit ini, karena rentang aspek klinis yang luas dari lesi kulit dan terutama karena kesulitan
dalam mengevaluasi fungsi saraf perifer. Semakin muda usia anak, semakin sulit pula menilai
perubahan sensibilitas saraf.14 Penelitian yang masih terus berjalan dilakukan untuk
mengembangkan uji diagnostik yang lebih baik dan mengarah pada kemoprofilaksis dan
imunoprofilaksis yang maju. Akan tetapi untuk saat ini, kita harus tetap ahli dalam hal kusta dan
tetap mengikuti pelatihan professional dalam menegakkan diagnosis kusta.
Daftar Pustaka
1. Singal A, Chhabra N, Childhood Leprosy. In: Kar HK, Kumar B, editor. IAL Textbook of Leprosy.
New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers (P) Ltd.; 2010. P. 360-369.
2. Kaur I, Kaur S, Sharma VK, Kumar B. Childhood leprosy in northern India. Pediatr Dermatol,
1991;8:21-4.
3. World Health Organization. 2016. Global Leprosy Update, 2015: Time for Action, Accountability and
Inclusion. Geneva: Weekly Epidemiological Record. 19: 405-420.
4. Shetty VP, Ghate SD, Wakade AV et al. Clinical, bacteriological, and histopathological
characteristics of newly detected children with leprosy: a population based study in a defined rural
and urban area of Maharashtra, Western India. Indian J Dermatol Venereol Leprol. 2013;79:512-7.
5. Jain S, Reddy RG, Osmani SN, et al. Childhood leprosy in an urban clinic, Hyderabad, India: clinical
presentation and the role of household contacts. Lepr Rev. 2002;73:248-53.
6. Wisnu IM, Sjamsoe-Daili E, dan Menaldi SL. Kusta. In: Menaldi SLSW, Bramono K, dan Indriatmi
W. (eds.) Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 7. Jakarta: Badan Penerbit FK UI; 2016. p. 87-102.
7. WHO. Global Leprosy Strategy 2016–2020: Accelerating towards a leprosy-free world. New Delhi
(India): World Health Organization, Regional Office for South-East Asia; 2016. This document gives
a special focus on early case detection on children before visible disabilities occur. One of the main
targets is zero disabilities among new pediatric patients by 2020.
8. Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.
Pedoman Program Pengendalian Penyakit Kusta. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit
dan Penyehatan Lingkungan; 2014.
9. Richardus JH, Oskam L. Protecting people against leprosy : Chemoprophylaxis and
immunoprophylaxis. Clin Dermatol. 2019;33(1):19-25. doi:10.1016/j.clindermatol.2014.07.009
10. Barreto JG, Andrey M, Frade C, Filho FB. Leprosy in Children. Pediatr Infect Dis. 2017;(June):23-
28. doi:10.1007/s11908-017-0577-6
11. Romero-Montoya IM, Beltrán-Alzate JC, Ortiz-Marín DC, DiazDiaz A, Cardona-Castro N. Leprosy
in Colombian children and adolescents. Pediatr Infect Dis J. 2014;33:321–2.
12. Lee D.J., Rea T.H., Modlin R.L. Leprosy. In: Goldsmith L.A., Katz S.I., Gilchrest B.A., Paller A.S.,
Leffell D.J., Wolff K. (Eds.): Fitzpatrick’s Dermatology In General Medicine. 8th edition. New York:
McGraw-Hill Companies. 2012. p.2253-63.
13. Bryceson A, Pfaltzgraff RE. Leprosy, 3rd ed. New York: Churchill Livingstone, 1990.
14. Abeje T, Negera E, Kebede E, Hailu T, Hassen I, Lema T, et al. Performance of general health
workers in leprosy control activities at public health facilities in Amhara and Oromia states. Ethiopia
BMC Health Serv Res. 2016;16:122.