Anda di halaman 1dari 120

IMPLEMENTASI UNDANG- UNDANG NO. 38 TAHUN 1999 DAN NO.

23

TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN ZAKAT

DI KUA KECAMATAN LIMO KOTA DEPOK

Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Syariah dan Hukum untuk Memenuhi Salah Satu
Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Syariah (S.Sy)

Oleh:

NUR AZIZAH
NIM : 1111044100063

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA


(AHWAL SYAKHSIYYAH)
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1437 H/2015 M
IMPLEMENTASI UNDANG- UNDANG NO. 38 TAHUN 1999 DAN NO. 23

TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN ZAKAT

DI KUA KECAMATAN LIMO, KOTA DEPOK

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Syariah dan Hukum untuk Memenuhi Salah Satu

Persyaratan Memperoleh Gelar SaIjana Syariah (S.Sy)

Oleh:

Nur Azizah

NIM: 1111044100063

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA

(AHWAL SY AKHSIYY AH)

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1437 Hl2015 M

ii
PENGESAHAN PANITIA LTJJAN SKRIPSI

Skripsi yang beIjudul "Implementasi Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 dan No.
23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat di KUA Kecamatan Limo Kota Depok"
telah diujikan dalam sidang munaqasah Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta pada tanggal 19 Oktober 2015. Skripsi ini telah diterima
sebagai salah satu syarat memperoleh gelar SaIjana Strata Satu (SI) pada Program
Studi Hukum Keluarga (Ahwal al Syakhshiyah).
Jakarta, 19 Oktober 2015

Mengesahkan,

Dekan Fakultas Syariah dan Hukum

Ketua : Dr. H. Abdul Halim, M.Ag


NIP. 19670608 199403 1 005

Sekertaris : Arip Purkon, MA ............................... )

NIP. 19790427 200312 1 002


(
Pembimbing : Afwan Faizin, MA ...... )
NIP. 19721026200312 1 001

Penguji I : Dr. Hj. Azizah, MA (...... r. .


NIP. 19630409 1989022001
_~I
Penguji II : H. M. Yasir, MH ( ~ )
NIP. 150075010 0065

iii
ABSTRAK

Nur Azizah. NIM 1111044100063. IMPLEMENTASI UNDANG-


UNDANG NO. 38 TAHUN 1999 DAN NO. 23 TAHUN 2011 TENTANG
PENGELOLAAN ZAKAT DI KUA KECAMATAN LIMO KOTA DEPOK.
Konsentrasi Peradilan Agama Program Studi Hukum Keluarga Fakultas Syariah dan
Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, 1436 H / 2015
M. xi + 77 halaman + 36 halaman lampiran.

Skripsi yang berjudul Implementasi Undang-Undang No. 38 Tahun 1999


dan No. 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat Di KUA Kecamatan Limo Kota
Depok ini merupakan hasil penelitian yang menggambarkan tentang bagaimana
penerapan undang-undang pengelolaan zakat di KUA Kecamatan Limo Kota Depok
khususnya tentang kewenangannya. Metode pendekatan yang digunakan oleh penulis
dalam penelitian ini adalah metode Yuridis Empiris. Pendekatan yuridis karena
penelitian ini bertitik tolak dengan menggunakan kaedah hukum dan peraturan yang
berkaitan dengan kewenangan KUA dalam pengelolaan zakat menurut undang-
undang. Empiris karena pendekatan bertujuan memperoleh data mengenai
kewenangan KUA dalam pengelolaan zakat menurut undang-undang.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang kewenangan KUA dalam


pengelolaan zakat menurut undang-undang No. 38 Tahun 1999 dan No. 23 Tahun
2011 dan untuk mengetahui praktek pengelolaan zakatnya di KUA Kecamatan Limo
Kota Depok apakah sudah sesuai dengan undang-undang atau belum.

Berdasarkan hasil penelitian maka diperoleh suatu kesimpulan bahwa


kewenangan KUA dalam pengelolaan zakat di KUA Kecamatan Limo sudah sesuai
dengan undang-undang No. 38 Tahun 1999 yaitu sebagai pengusul saja, tapi
menurut undang-undang No. 23 Tahun 2011 kewenangan KUA sudah dihapuskan
dan hanya menjadi UPZ (unit pengumpul zakat).

Kata Kunci : Kewenangan KUA, Zakat, dan Pengelolaan Zakat.

Pembimbing : Afwan Faizin, MA.


Daftar Pustaka : 1979-2013

v
KATA PENGANTAR

Puji serta syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah

memberikan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini, Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Besar

Muhammad SAW, pembawa Syariahnya yang universal bagi semua umat manusia

dalam setiap waktu dan tempat hingga akhir zaman.

Skripsi ini penulis persembahkan kepada Ayahanda Sholeh dan Ibunda

Mastiah yang selalu memberikan dorongan, bimbingan, kasih sayang, serta doa tanpa

mengenal lelah sedikitpun. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan kasih

sayang-Nya kepada mereka.

Dalam penulisan skripsi ini, tidak sedikit kesulitan dan hambatan yang penulis

temukan, namun syukur Alhamdulillah berkat rahmat dan hidayah-Nya,

kesungguhan, serta dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, baik langsung

maupun tidak langsung segala kesulitan dapat diatasi dengan sebaik-baiknya

sehingga pada akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan. Oleh karena itu, sudah

sepantasnya pada kesempatan kali ini penulis ingin mengucapkan terimakasih yang

sedalam-dalamnya kepada :

1. Bapak Dr. Asep Saepudin Jahar, MA. Dekan Fakultas Syariah dan Hukum

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

vi
2. Bapak Dr. H. Abdul Halim, M.Ag, dan Bapak Arif Furqon, MA, Ketua

Program Studi dan Sekretaris Program StudiAhwal al Syakhshiyah Fakultas

Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Bapak Afwan Faizin, MA dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu,

tenaga, dan pikiran selama membimbing penulis.

4. Segenap Bapak dan Ibu Dosen serta staf pengajar pada lingkungan Program

studi Ahwal Syakhsiyyah Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam

Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu

pengetahuannya kepada penulis selama duduk di bangku perkuliahan.

5. Segenap jajaran staf dan karyawan akademik Perpustakaan Fakultas Syariah

dan Hukum dan Perpustakaan Utama yang telah membantu penulis dalam

pengadaan referensi-referensi sebagai bahan rujukan skripsi.

6. Bapak Asnawi, S.Ag, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Limo

dan seluruh jajarannya yang telah memberikan kesempatan kepada penulis

dalam mencari data-data sebagai bahan rujukan skripsi.

7. Bapak Saiful Millah, Penghulu KUA yang ahli dibidangnya yang telah

senatiasa memberikan wejangan dan bimbingan pada penulis selama penulis

melakukan wawancara.

8. Kepala Kantor Kecamatan Limo beserta staf dan jajarannya.

9. Adinda Fanny Saf Rian dan Rofi’atul Sholikhah yang senantiasa memberikan

do’a dan semangat sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi.

vii
10. Sahabat seperjuangan penulis : Burhanatut Dyana, Arisa Dykawresa, Putri

Rahmawati, Nabila Al- halabi, Muhammad Fatinnudin, Ayu Cyntia Dewi, Nur

Azimah, Robiatul Adawiyah, Nia Oktaviani, Devi dan Novia Nasyomia.

11. Semua teman-teman Peradilan Agama Angkatan 2011 yang tidak dapat penulis

sebutkan satu persatu yang telah memberikan semangat kepada penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini.

Semoga amal baik mereka dibalas oleh Allah SWT dengan balasan yang

berlipat ganda. Sungguh, hanya Allah SWT yang dapat membalas kebaikan mereka

dengan kebaikan yang berlipat ganda pula.

Penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis

khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang

membangun senantiasa penulis harapkan untuk kesempurnaan skripsi ini.

Ciputat, 04 Oktober 2015

Penulis

viii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING .................................................................... ii

PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI ................................................. iii

LEMBAR PERNYATAAN .............................................................................. iv

ABSTRAK .......................................................................................................... v

KATA PENGANTAR ....................................................................................... vi

DAFTAR ISI ...................................................................................................... ix

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ..................................................................... 1

B. Identitas, Pembatasan dan Perumusan Masalah ................................. 5

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian .......................................................... 7

D. Review Studi Terdahulu ..................................................................... 8

E. Metode Penelitian.............................................................................. 10

F. Sistematika Penulisan ....................................................................... 13

BAB II TINJAUAN TEORITIS TENTANG ZAKAT

A. Definisi Zakat .................................................................................... 15

B. Dasar Hukum Zakat .......................................................................... 20

C. Tujuan, Hikmah dan Manfaat Zakat ................................................. 23

D. Objek Zakat ....................................................................................... 25

ix
E. Manajemen Pengelolaan Zakat ......................................................... 29

F. Macam-macam Zakat ........................................................................ 37

BAB III PENGELOLAAN ZAKAT MENURUT UNDANG-UNDANG

A. Sejarah Pengelolaan Zakat ................................................................ 50

1. Pengelolaan Zakat Pada Zaman Rasulullah dan Sahabat ............ 50

2. Pengelolaan Zakat Di Masa Penjajahan ...................................... 51

3. Pengelolaan Zakat Di Awal Kemerdekaan ................................. 51

4. Pengelolaan Zakat Di Masa Orde Baru ...................................... 52

5. Pengelolaan Zakat Di Era Reformasi .......................................... 54

B. Organisasi Pengelolaan Zakat Menurut Undang-Undang No. 38 Tahun

1999 ................................................................................................... 56

C. Alasan Diberlakukannya Undang-Undang No. 23 Tahun 2011 ....... 60

D. Organisasi Pengelolaan Zakat Menurut Undang-Undang No. 23 Tahun

2011 ................................................................................................... 61

E. Posisi KUA dalam Pengelolaan Zakat .............................................. 64

BAB IV IMPLEMENTASI UNDANG-UNDANG NO. 38 TAHUN 1999 DAN


NO. 23 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN ZAKAT DI KUA
KECAMATAN LIMO KOTA DEPOK

A. Sekilas Tentang Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Limo ......... 67

B. Praktek Pengelolaan Zakat Di KUA Kecamatan Limo .......................... 68

C. Analisis Penulis ....................................................................................... 71

x
BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ............................................................................................. 72

B. Saran-saran .............................................................................................. 74

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 75

LAMPIRAN

1. Surat Mohon Kesediaan Pembimbing Skripsi

2. Surat Keterangan Hasil Wawancara

3. Hasil Wawancara Skripsi

4. Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 dan Undang-Undang No. 23 Tahun 2011

5. Dokumentasi Wawancara

xi
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam agama Islam, ada satu ajaran yang penting untuk diketahui

bahwa dalam harta orang kaya terdapat hak orang lain yang harus dikeluarkan

dalam bentuk zakat, infak, shadaqah dn sebagainya. Perintah menafkahkan

harta guna membantu sesama anggota masyarakat yang kurang beruntung

tersebut merupakan pelaksanaan konkrit dari prinsip Islam tentang keadilan

sosial.1

Zakat juga merupakan salah satu ibadah yang wajib bagi kaum

Muslim, bahkan menjadi salah satu pilar atau rukun Islam yang harus

dijalankan oleh orang- orang Muslim. Seperti yang kita ketahui bahwa zakat

sendiri ada yang sifatnya untuk pembersihan jiwa setiap Muslim (zakat

fitrah), dan ada juga yang diwajibkan khusus bagi kalangan tertentu yang

terikat oleh ketentuan jumlah nisab harta dan waktu kepemilikannya (zakat

mal).

Kewajiban zakat dalam Islam memiliki makna yang sangat

fundamental. Selain berkaitan erat dengan aspek- aspek ketuhanan, juga

1
Tulus, Pedoman Zakat, (Jakarta: Direktorat Pemberdayaan Zakat Dirjen Bimbingan
Masyarakat Islam Departemen Agama RI, 2006), h. 3

1
2

ekonomi dan sosial. Diantara aspek- aspek ketuhanan adalah banyaknya ayat-

ayat Al-Qur’an yang menyebut masalah zakat, termasuk diantaranya 27 ayat

yang menyandingkan kewajiban zakat dengan kewajiban shalat secara

bersamaan.2

Bila kita berbicara tentang Zakat, maka kita beranjak dari kesamaan

pengertian bahwa zakat merupakan salah satu sendi pokok ajaran Islam,

disamping syahadat, shalat, puasa dan haji. Banyak ayat Al- Qur’an yang

berisi perintah mengerjakan shalat diiringi dengan perintah membayar zakat. 3

Pada masa awal pemerintahan Islam, zakat menjadi salah satu

instrumen kesejahteraan umat. Di zaman Rasulullah SAW, Khulaffaur

Rasyidin dan pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, zakat memiliki peran

optimal sebagai instrumen kesejahteraan umat.4

Pengelolaan zakat pada zaman Rasulullah SAW. Diurus dan ditangani

langsung oleh beliau sebagai pimpinan dengan dibantu oleh para sahabat.

Dalam pembagian zakat beliau membentuk badan amil yang penggunaannya

sesuai dengan prinsip sebagaimana tersebut dalam Al- Qur’an dengan

disesuaikan situasi dan kondisi masyarakat pada saat itu, selain untuk fakir

miskin juga untuk membiayai tempat ibadah, tentara, menjinakkan hati orang

2
Nuruddin Mhd Ali, Zakat Sebagai Instrumen Dalam Kebijakan Fiskal, (Jakarta: Rajawali
Pers, 2006), h. 1
3
Wiwoho, Usman Yatim, dan Enny, Zakat dan Pajak, (Jakarta: Bina Rena Pariwara, 1991),
h. 32
4
Ahmad husnan, Zakat Menurut Sunnah dan Zakat Model Baru, (Jakarta: Pustaka Al
Kautsar, 1996), h. 22
3

kafir agar masuk Islam, membayar hutang dan memerdekakan budak dan lain

sebagainya.5

Sebagaimana yang telah disyariatkan dalam Islam, zakat adalah

lembaga pertama yang dikenal dalam sejarah yang mampu menjamin

kehidupan bermasyarakat. Bahkan sejak munculnya ajaran Islam zakat sudah

menjadi rukun ketiga dari rukun Islam yang lima, dan menjadi landasan dasar

ajaran Islam.6

Di Indonesia sendiri terjadi perkembangan yang menarik bahwa

pengelolaan zakat kini memasuki era baru, yaitu dikeluarkannya undang-

undang yang berkaitan dengannya sekaligus berkaitan dengan pajak. Undang-

undang tersebut adalah Undang- undang No. 38 tahun 1999 yang telah

direvisi menjadi Undang- undang No. 23 tahun 2011 tentang pengelolaan

zakat, Keputusan Menteri Agama (KMA) No. 581 tahun 1999 dan Keputusan

Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam dan Urusan Haji No D/tahun

2000 tentang pedoman Teknis Pengelolaan Zakat.7

Ditinjau dari tujuan pengelolaan zakat yang bertujuan untuk

meningkatkan pelayanan bagi masyarakat, meningkatkan fungsi dan peranan

5
Tulus, Pedoman Zakat, (Jakarta: Direktorat Pemberdayaan Zakat Dirjen Bimbingan
Masyarakat Islam Departemen Agama RI, 2006), h. 277
6
Yusuf Qardhawi, Spektrum Zakat Dalam Membangun Ekonomi Kerakyatan, (Jakarta: Zikrul
Media Intelektual, 2005), h. 53
7
Didin Hafidhuddin, Zakat Infak & Sedekah, (Jakarta: Baznas, 2005), h. 15
4

pranata kegiatan dalam upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat, serta

meningkatkan hasil guna dan dayaguna zakat.8 Terlihat dari tujuan tersebut

pengelolaan zakat lebih ditujukan agar masyarakat muslim dapat

melaksanakan kewajibannya.

Secara yuridis jelas Undang- undang No. 23 Tahun 2011 tentang

pengelolaan zakat menjelaskan bahwa pemerintah mengamanatkan kepada

BAZNAS untuk mengelola zakat dengan turunannya, namun di sisi lain

terdapat ketimpangan kewenangan, seperti KUA yang menjalankan

kewenangannya tidak sesuai dengan undang-undang.

Kantor Urusan Agama (KUA) adalah salah satu lembaga dari struktur

organisasi Kementrian Agama yang memungkinkan menyediakan pelayanan

sampai tingkat kecamatan, pelayanan administrasi keagamaan bagi Umat

Islam pada Kantor Urusan Agama (KUA) ini meliputi, pelayanan pernikahan,

nasehat perkawinan, bimbingan haji, pengelolaan zakat dan wakaf, pembinaan

keluarga sakinah serta pelayanan pembinaan umat secara umum.

Sejak direvisinya undang- undang No. 38 Tahun 1999 tentang

pengelolaan zakat kewenangan KUA sudah tidak berlaku lagi. Diperkuat

dengan pasal 6 undang- undang No. 23 Tahun 2011 tentang pengelolaan

zakat, yang menyebutkan bahwa Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS)

8
Elsi Kartika Sari, Pengantar Hukum Zakat dan Wakaf, (Jakarta: Cikal Sakti : 2007), h. 45
5

merupakan badan yang berwenang dalam pengelolaan zakat secara nasional.9

Namun pada kenyataannya masih banyak KUA yang sampai sekarang masih

mengelola zakat dan menjalankan kewenangan yang tidak sesuai dengan

undang-undang terbaru yaitu undang-undang No. 23 Tahun 2011. Salah

satunya adalah KUA Kecamatan Limo Kota Depok.

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya hal tersebut adalah

diantaranya kurang tegasnya pengawasan dari pihak BAZNAS pusat sehingga

bisa dengan mudahnya pihak KUA melaksanakan kewenangan yang tidak

seharusnya, kurang adanya sarana dan prasarana yang masih ternbatas, kurang

adanya komunikasi yang baik antara pihak KUA dengan atasannya.

Untuk itulah penulis mejadikan KUA kecamatan Limo sebagai objek

penelitian. Hasil penelitian ini penulis sajikan dalam bentuk skripsi yang

berjudul:

“Implementasi Undang- Undang No. 38 Tahun 1999 Dan No. 23 Tahun

2011 Tentang Pengelolaan Zakat Di KUA Kecamatan Limo, Kota Depok”

B. Identifikasi Pembatasan dan Perumusan Masalah

1. Identifikasi Masalah

9
Undang-undangNomor 1 Tahun 1974 TentangPerkawinan, (Bandung: Citra Umbara, 2012),
h. 210
6

Dalam UU No. No 38 Tahun 1999 tentang pengelolaan zakat,

KUA masih memiliki andil dalam pengelolaan zakat yaitu dalam hal

pembentukan BAZ (Badan Amil Zakat) sampai tingkat kecamatan sesuai

dengan pasal 6 ayat 2 huruf (d), tapi semenjak direvisinya UU No. 38

tersebut menjadi UU No. 23 Tahun 2011 KUA sudah tidak lagi memiliki

andil dalam pengelolaan zakat yaitu dalam pembentukan BAZ.

2. Pembatasan Masalah

Dalam pembahasan skripsi ini penulis memilih KUA Kecamatan

Limo Kota Depok sebagai obyek penelitian. Mengingat banyaknya

kewenangan oleh KUA tersebut, maka penulis melakukan pembatasan

yakni hanya pada kewenangan KUA dalam pengelolaan zakat menurut

undang-undang No. 38 Tahun 1999 dan undang- undang Nomor 23 tahun

2011. Dan penulis juga hanya membatasi pada pasal-pasal yang

berhubungan dengan kewenangan KUA tersebut.

Pembahasan di atas menarik untuk diteliti, namun perlu adanya

pembatasan masalah dalam skripsi ini sehingga nantinya tidak meluas atau

keluar dari pokok bahasan sehubungan dengan banyaknya kewenangan

KUA.

3. Perumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam skripsi ini menilai tentang

kewenangan KUA Kecamatan Limo dalam pengelolaan zakat apakah


7

sesuai dengan peraturan perundang-undangan No. 38 Tahun 1999 dan

Undang- undang Nomor 23 tahun 2011.

Sehubungan dengan permasalahan di atas dan untuk memudahkan

penulis dalam penulisan skripsi ini, maka rincian rumusan masalah skripsi

ini adalah sebagai berikut:

a. Bagaimana kewenangan KUA dalam pengelolaan zakat menurut

Undang- undang No. 38 Tahun 1999 dan Undang- Undang No. 23

Tahun 2011?

b. Bagaimana Praktek Pengelolaan Zakat di KUA Kecamatan Limo

menurut Undang- undang No. 38 Tahun 1999 dan Undang- Undang

No. 23 Tahun 2011?

c. Sudah sesuaikah kewenangan KUA Kecamatan Limo dengan Undang-

undang pengelolaan zakat ?

C. Manfaat dan Tujuan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Dalam melakukan suatu kegiatan pada dasarnya memiliki tujuan

tertentu. Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah

penulis uraikan diatas, maka tujuan diadakannya penelitian ini adalah:


8

a. Untuk mengetahui kewenangan KUA dalam pengelolaan zakat menurut

Undang- undang No. 38 Tahun 1999 dan Undang- Undang No. 23

Tahun 2011.

b. Untuk mengetahui Praktek Pengelolaan Zakat di KUA Kecamatan Limo

menurut Undang- undang No. 38 Tahun 1999 dan Undang- Undang No.

23 Tahun 2011.

c. Untuk mengetahui apakah sudah sesuai kewenangan KUA Kecamatan

Limo dengan Undang- Undang pengelolaan zakat.

2. Manfaat Penelitian

Selain tujuan sebagaimana telah dikemukakan diatas, penelitian

ini juga diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis

maupun praktis, antara lain:

a. Secara Teoritis : untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang

Hukum Islam, baik materiil maupaun formil.

b. Secara Praktis : sebagai referensi bagi akademisi dan memberikan

kejelasan pada masyarakat umumnya tentang kewenangan KUA dalam

pengelolaan zakat beserta undang- undang yang mengaturnya.

D. Review Studi Terdahulu

Sebelum masuk lebih jauh mengenai pembahasan ini. Penulis

menemukan ada beberapa penelitian terdahulu yang mengangkat pembahasan

tentang Pengelolaan Zakat akan tetapi mempunyai sudut pandang yang


9

berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis, adapun penelitian

tersebut dintaranya:

1. Kewenangan KUA Dalam Pengelolaan Zakat Pasca Undang- Undang

Nomor 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat (Studi Kasus di KUA

Kecamatan Pamulang), Lutfyudin, NIM 108044100053 Tahun 2013.

Dalam skripsi ini hanya menganalisis bagaimana pengelolaan zakat di

KUA Pamulang pasca munculnya Undang- Undang Nomor 23 tahun

2011.

Perbedaannya dengan skripsi ini adalah Penulis tidak hanya

menganalisis kewenangan KUA dalam pengelolaan zakat pasca

munculnya Undang- Undang tersebut, tapi juga menganalisis kewenangan

KUA sebelum munculnya Undang- Undang tersebut, membandingkan

kedua undang-undang tersebut, serta menganalisis sudah sesuaikah

praktek di KUA Kecamatan Limo dengan undang-undang.

2. Praktek Pengelolaan Zakat di Negra Muslim (Studi Kasus Negara Brunei

Darussalam), Febrianti NIM 107046102178 tahun 2011. Dalam skripsi ini

menganalisa bagaimana praktek pengelolaan zakat di Negara Muslim

Khususnya di Negara Brunei Darussalam, karena Brunei merupakan salah

satu Negara yang mayoritas penduduknya Muslim.

Perbedaannya dalam skripsi ini adalah Penulis lebih

mengkhususkan kewenangan KUA dalam pengelolaan zakat menurut


10

undang- undang No. 38 Tahun 1999 dan undang-undang No. 23 Tahun

2011. Apakah sudah sesuai antara undang-undang dan prakteknya.

E. Metode Penelitian

Dalam menyusun skripsi ini, penulis menggunakan metode penelitian

sebagai berikut:

1. Metode Pendekatan

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

pendekatan yuridis empiris. Metode pendekatan yuridis empiris

merupakan cara prosedur yang dipergunakan untuk memecahkan masalah

penelitian dengan meneliti data sekunder terlebih dahulu untuk kemudian

dilanjutkan dengan mengadakan penelitian terhadap data primer di

lapangan menyangkut kewenangan KUA dalam Pengelolaan zakat

menurut undang-undang No. 38 Tahun 1999 dan undang- undang No. 23

tahun 2011 di KUA Kecamatan Limo.

2. Jenis Penelitian

Adapun dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode

deskriptif analisis yakni menggambarkan dan memaparkan secara

sistematika tentang apa yang menjadi obyek penelitian dan kemudian

dilakukan analisis. Metode deskriptif analisis yang dilakukan melalui


11

pendekatan kualitatif, yakni menggambarkan berupa kata-kata, ungkapan,

norma atau aturan-aturan dari fenomena yang diteliti.10

Cara tersebut bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis

secara mendalam tentang “kewenangan KUA dalam pengelolaan zakat

menurut Undang- undang Nomor 38 Tahun 1999 dan Undang- undang

Nomor 23 Tahun 2011”.

3. Subjek dan Objek Penelitian

Penelitian ini dilakukan di KUA Kecamatan Limo karena KUA

Kecamatan Limo memiliki permasalahan yang unik. Adapun yang menjadi

bahan penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah Undang- Undang

tentang pengelolaan zakat yaitu undang- undang No. 38 Tahun 1999 dan

No. 23 Tahun 2011. Sehubungan dengan hal tersebut maka yang menjadi

respondennya adalah Kepala KUA Kecamatan Limo.

4. Metode Pengumpulan Data

a. Jenis Data

Jenis data yang digunakan sebagai referensi untuk menunjang

keberhasilan penelitian yakni meliputi data primer dan data sekunder.

1). Data primer adalah data-data yang didapat langsung dari

perpustakaan yakni dengan cara mencari fakta- fakta yang ada di

10
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2004), h.
3
12

lapangan tersebut, melakukan observasi, mengumpulkan data-data

serta melihat langsung objek yang akan dijadikan topik skripsi.

Dalam hal ini adalah undang- undang tentang pengelolaan zakat dan

hasil pengamatan.

2). Data sekunder dalam penelitian ini terdiri dari penelitian hukum

normatif (penelitian hukum kepustakaan) dan penelitian hukum

yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka yaitu bahan

yang dihasilkan dari bahan hukum terhadap Undang-undang No. 38

Tahun 1999 dan No. 23 Tahun 2011 tentang pengelolaan zakat dan

bahan hukum lainnya seperti buku- buku yang mendukung dan

memperjelas bahan hukum tersebut.

b. Sumber Data

Sumber data yang dipakai oleh penulis yaitu:

1. Dokumen, dengan mempelajari berkas yang berbentuk Undang-

undang tentang pengelolaan zakat, yaitu undang-undang No. 38

Tahun 1999 dan No. 23 Tahun 2011 serta dokumen yang diperoleh

dari hasil penelitian.

2. Wawancara yang dilakukan dengan Kepala KUA dan stafnya.

Wawancara ini dilakukan dengan metode wawancara tak terstruktur

(open – ended) yaitu wawancara dengan pertanyaan yang bersifat


13

terbuka dimana responden secara bebas menjawab pertanyaan

tersebut.11

c. Analisis Data

Data yang diperoleh baik dari penelitian kepustakaan maupun dari

penelitian lapangan akan diolah berdasarkan analisis normatif kualitatif.

Normatif karena peneliti bertitik tolak dari peraturan yang ada sebagai

norma hukum positif, sedangkan kualitatif yang dimaksud yaitu analisis

yang bertitik tolak pada usaha penemuan asas dan informasi yang bersifat

monografis atau berwujud kasus-kasus (sehingga tidak dapat disusun ke

dalam suatu struktur klasifikatoris) dari responden. Memahami kebenaran

yang diperoleh dari hasil pengamatan dan pertanyaan kepada sejumlah

responden baik secara lisan maupun secara tertulis selama dalam

melakukan penelitian.12

F. Sistematika Penulisan

Dalam penulisan penelitian skripsi ini berpedoman kepada buku

“Pedoman Penulisan Skripsi” yang diterbitkan oleh Fakultas Syariah dan

Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2012.”Adapun sistematika

penulisannya adalah sebagai berikut :

11
Zainal Arifin, Penelitian Pendidikan, (Bandung: PT Remaja RosdaKarya) h. 233.
12
Koentjaraningrat, Metode- Metode Penelitian Masyarakat, ( Jakarta: 1997), h. 269.
14

Bab Pertama, terdiri dari Pendahuluan yang meliputi Latar Belakang

Masalah, Identifikasi Pembatasan dan Perumusan Masalah, Tujuan dan

Manfaat Penelitian, Studi Review Terdahulu, Metodologi Penelitian dan

Sistematika Penulisan.

Bab Kedua, memuat tentang tinjauan teoritis tentang zakat, yang

didalamnya terdiri dari definisi zakat, dasar hukum zakat, tujuan hikmah dan

manfaat zakat, objek zakat, manajemen zakat, dan macam-macam zakat.

Bab Ketiga, berisi tentang pengelolaan zakat menurut Undang-

Undang No. 38 Tahun 1999 dan Undang- Undang No. 23 Tahun 2011 serta

badan pelaksananya.

Bab Keempat, pada bab ini penulis akan menguraikan tentang

Implementasi Undang- Undang pengelolaan zakat di KUA Kecamatan Limo,

yang berisi tentang sekilas tentang KUA Kecamatan Limo, Praktek

Pengelolaan Zakat di KUA Kecamatan Limo, dan dilanjutkan dengan Analisa

Penulis.

Bab Kelima, adalah Penutup yang berisi Kesimpulan serta Saran-

saran. Dalam bab penutup ini penulis menyimpulkan semua yang telah

dibahas dalam skripsi ini.


BAB II

TINJAUAN TEORITIS TENTANG ZAKAT

A. Definisi Zakat

Asal kata zakat adalah zaka‟ yang artinya tumbuh, suci, dan

berkah.1Kata zakat juga diambil dari lafazh ( ‫ )الزكاة‬yang maknanya adalah

berkembang, suci dan berkah.2

Zakat dalam kamus besar Bahasa Indonesia juga diartikan sebagai

jumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama

Islam dan diberikan kepada golongan yang berhakmenerimanya menurut

ketentuan yang telah ditentukan oleh syara‟, Salah satu rukun Islam yang

mengatur harta yang wajib dikelurkan kepada mustahik.3

Dalam kitab Fiqih, zakat menurut bahasa artinya keberkahan,

kesuburan, kesucian, atau kebaikan. Sedangkan secara istilah zakat adalah

harta atau makanan pokok yang wajib dikeluarkan seseorang untuk orang-

orang yang membutuhkan. Zakat mengandung keberkahan dan kebaikan,

sehingga harta akan menjadi suci dan tumbuh subur. 4zakat juga sebutan

atas segala sesuatu yang dikelurkan oleh seseorang sebagai kewajiban

1
Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah, Terj. Khairul Amru Harahap dan masrukhin,(Jakarta;
Cakrawala Publishing, 2011), h.56
2
Syaikh as-SayyidSabiq, Panduan Zakat Menurut Al- Qur‟an dan As- Sunnah, Terj. Beni
Sarbeni, (Bogor; Pustaka Ibnu Katsir, 2005), cet. 1, h. 1
3
Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, (Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama, 2008), Ed. 4, h.1569
4
Ahsin W Alhafidz, Kamus Fiqh, (Jakarta: Amzah, 2013), cet.1, h.244

15
16

kepada Allah Swt, kemudian diserahkan kepada orang- orang miskin atau

orang- orang yang berhak menerimanya. 5

Di dalam Ensiklopedi Indonesia, zakat juga didefinisikan sebagai

jumlah harta tertentu yang dikeluarkan dan diberikan kepada golongan-

golongan yang berhak menerimanya menurut yang telah ditetapkan

syara‟dalam surat At- Taubah: 60.6

Dalam Ensiklopedi Fiqih Wanita juga dijelskan bahwa zakat

adalah jumlah tertentu dari harta tertentu yang dikeluarkan pada waktu

tertentu kepada sekelompok orang tertentu.7

Senada dengan definisi-definisi di atas, zakat juga diartikan

sebagai satu nama yang diberikan untuk harta yang dikeluarkan oleh

seorang manusia sebagai hak Allah Ta‟ala yang diserahkan kepada orang-

orang fakir. Dinamakan zakat karena didalamnya terdapat harapan akan

adanya keberkahan, kesucian jiwa, dan berkembang di dalam kebaikan.8

Dalam buku yang lain juga dijelaskan bahwa zakat menurut

bahasa mempunyai beberapa arti, yaitu al- barakatu “keberkahan”, al-

namaa “pertumbuhan dan perkembangan”, ath- thaharatu “kesucian”, dan

ash- shalahu “keberesan”.9 Sedangkan secara istilah, zakat itu adalah

bagian dari harta dengan persyaratan tertentu, yang Allah Swt mewajibkan

5
Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah,Terj. Khairul Amru Harahap, (Jakarta: Cakrawala
Publishing, 2011), h. 56
6
Tim Penyusun, Ensiklopedi Indonesia, (Jakarta: PT Ichtiar Baru – Van Hoeve), h. 4023
7
Abu Malik Kamal, Ensiklopedi Fiqih Wanita, (Bogor: Pustaka Ibnu Katsir, 2007), jilid 1,
cet 1, h. 417
8
Syaikh as-SayyidSabiq,Panduan Zakat, (Bogor; Pustaka Ibnu Katsir, 2005), cet. 1, h. 1
9
Didin Hafidhuddin, Zakat Dalam Perekonomian Modern, mengutip dari Majma Lughah
al-„Arabiyyah, (Jakarta: Gema Insani, 2002), h. 7
17

kepadapemiliknya untuk diserahkan kepada yang berhak menerimanya,

dengan persyaratan tertentu pula.10

Sedangkan zakat dari segi istilah fikih berarti “sejumlah harta

tertentu yang diwajibkan Allah diserahkan kepada orang- orang yang

berhak” disamping berarti “ mengeluarkan jumlah itu sendiri”.11

Wahbah al-Zahayly mendefinisikan zakat secara bahasa adalah

berarti tumbuh (numuww) dan bertambah (ziyadah). Jika diucapkan zaka

al-zar‟ artinya adalah tanaman itu tumbuh dan bertambah. Jika diucapkan

zakat al-nafaqah artinya nafkah tumbuh dan bertambah jika diberkati.12

Adapun hubungan antara pengertian zakat menurut bahasa dengan

pengertian zakat menurut istilah adalah, sekalipun secara tekstual zakat

dilihat dari aspek jumlah berkurang, namun hakikat zakat itu bisa

menyebabkan harta itu bertambah, baik secara maknawi maupun secara

kuantitas. Karena terkadang Allah membukakan pintu rezeki bagi

seseorang yang tidak pernah terbetik dalam hati sanubarinya. Allah

berbuat seperti itu tentu karena seorang tadi melaksanakan kewajiban

terhadap harta yang Allah wajibkan atasnya. 13

10
Didin Hafidhuddin,Zakat Dalam Perekonomian, (Jakarta: Gema Insani, 2002), h. 7
11
Yusuf Qardawi, Hukum Zakat, Terj. Salaman Harun,dkk, (Jakarta; Litera Antarnusa
dan Mizan, 1986),h.34
12
Wahbah al-Zuhayly, Zakat Kajian Berbagai Mazhab, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2005) ,cet. 6, h. 82
13
Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Fiqih Zakat Kontemporer, (Surakarta: Alqowam,
2011), cet. 1, h. 11
18

Al- Qur‟an menggunakan beberapa terminologi untuk arti zakat

yaitu:14

a. Al- Zakat (zaka) seperti pada ayat 110 surat al- Baqarah:

Artinya:Dan dirikanlah shalat dan tunaikan zakat.(QS 2: 110)

b. Al- Sadaqah (sedekah) seperti yang ditemukan pada ayat 103 surat

al- Taubah:

Artinya: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka dengan zakat


itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah
untuk mereka. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS
9: 103)

c. Al- Nafaqah (infak) seperti yang ditemukan pada ayat 34 surat al-

Taubah:

Artinya: Dan orang- orang yang menyimpan emas dan perak dan
tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukan kepada
mereka(bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. (QS
9:34)

d. Al- Haq (hak) seperti pada ayat 141 surat al- An‟am :

14
Rahman Ritonga dan Zainuddin, Fiqh Ibadah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002),
cet. 2, h. 172
19

Artinya: ...dan tunaikanlah haknya dihari memetik hasilnya


(dengan mengeluarkan zakatnya), dan janganlah kamu berlebih-
lebihan. Allah tidak menyukai orang yang berlebih- lebihan. (QS 6:
141)

Para pemikir Ekonomi Islam mendefinisikan zakat sebagai harta

yang telah ditetapkan oleh pemerintah atau pejabat berwenang kepada

masyarakat umum atau individual yang bersifat mengikat, final, tanpa

mendapat imbalan tertentu yang dilakukan pemerintah sesuai dengan

kemampuan pemilik harta. Zakat itu dialokasikan untuk memenuhi

kebutuhan delapan golongan yang telah ditentukan oleh Al- Qur‟an, serta

untuk memenuhi tuntutan politik bagi keuangan Islam. 15

Dalam Undang- Undang No. 23 Tahun 2011 pasal 1 ayat (2)

dijelaskan bahwa Zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang

muslim atau badan usaha untuk diberikan kepada yang berhak

menerimanya sesuai dengan syariat Islam.16

Dengan demikian, zakat merupakan kewajiban bagi seorang

mukmin yang memenuhi syarat syariah Islam sebagai muzakki untuk

mengeluarkan sebagian pendapatan atau harta guna diberikan kepada

mustahik yang telah ditetapkan syari‟ah Islam.17

15
Gazi Inayah, Teori Komprehensip Tentang Zakat dan Pajak, (Yogyakarta: PT Tiara
Wacana, 2003), cet. 1, h. 35
16
Tim Penyusun, Undang- Undang R.I Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan &
Kompilasi Hukum Islam, (Bandung: Citra Umbara, 2012), h.211
17
Lili Bariadi, MuhammadZen, dan M Hudri, Zakat dan Wirausaha, (Jakarta: Centre For
Entrepreneurship Development, 2005), cet. 1, h. 6
20

B. Dasar Hukum Zakat

Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dijalankan,

dan dinyatakan dalam Al-Qur‟an secara bersamaan dengan sholat

sebanyak 82 ayat. Pada masa permulaan Islam di Mekah, kewajiban zakat

ini masih bersifat global dan belum ada ketentuan mengenai jenis dan

kadar (ukuran) harta yang wajib dizakati. Hal itu untuk menumbuhkan

kepedulian dan kedermawanan umat Islam. Zakat baru benar- benar

diwajibkan pada tahun 2 Hijriah, namun ada perbedaan pendapat

mengenai bulannya. Pendapat yang masyhur menurut ahli hadits adalah

pada bulan Syawal tahun tersebut.18

Pada tahun kedua Hijriyah, baru Allah SWT memerintahkan

kewajiban zakat dengan menggunakan ungkapan atu al-zakat (tunaikanlah

zakat). Seiring dengan perintah itu Nabi SAW memberikan penjelasan

mengenai ketentuan- ketentuannya, seperti jenis harta yang dikenakan

wajib zakat, kadar nisab, dan presentasinya. 19 Oleh karena itu zakat

hukumnya wajib berdasarkan Al- Qur‟an, Sunnah, dan Ijma‟ atau

kesepakatan ulama.

Berikut ini sebagian ayat- ayat Al- Qur‟an dan As- Sunnah yang

dijadikan dasar hukum kewajiban zakat:

a. Surat An- Nisa‟ ayat 77:

18
Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayyed Hawwas, Fiqh Ibadah
Thaharah Shalat Zakat Puasa dan Haji, (Jakarta: Amzah, 2013), cet. 3, h. 344
19
Rahman Ritonga dan Zainuddin, Fiqh Ibadah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002),
cet. 2, h. 174
21

Artinya: Dirikanlah shalat, dan tunaikanlah zakat. (QS 3: 77)

b. Surat Al- Baqarah ayat 277:

)222/ 2
Artinya: sesungguhnya orang- orang yang beriman mengerjakan
amal shaleh, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka
mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak adakekhawatiran terhadap
mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(QS 2: 277)

c. Surat At- Taubah ayat 11:

Artinya: jika mereka (kaum musyrikin) bertaubat, mendirikan shalat


dan menunaikan zakat, maka mereka adalah saudara- saudaramu
seagama. (QS 9: 11)

d. Hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar:

20
.

Artinya: Islam dibangun atas lima perkara, syahadad tiada Tuhan


Selain Allah, dan Muhammad Utusan Allah, Menegakan
Shalat,membayar zakat, haji, dan puasa Ramadhan.(H.R. Bukhari dan
Muslim)

e. Hadits riwayat Muslim dari Ibnu Abbas RA:

20
Muhammad bin Ismâ‟îl al-Bukhârî, Şahîh al-Bukhârî, (Riyâ Maktabah al-Rusyd,
2006) h. 8 dan Imâm Abî Husain Muslim bin Hajjâj, Şahîh Muslim, (Riyâ Maktabah al-Rusyd,
1991), h. 45
22

Artinya: dari Ibnu Abbas RA, dia berkata, Mu‟adz berkata, Rasulullah
mengutusku dan berpesan”Sesungguhnya kamu akan mendatangi
suatu kaum darigolongan ahli kitab, maka serulah mereka untuk
bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allahdan Aku adalah utusan Allah.
Jika mereka menurutinya, maka sampaikan kepada mereka bahwa
Allah mewajibkan mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika
mereka menaatinya, maka sampaikan kepada mereka bahwaAllah
telah mewajibkan membayarzakat dari (harta) orang kaya diantara
mereka untuk dibagikan kepada fakir miskin dari golongan mereka
juga. Jika mereka patuh atas kewajiban itu padamu, maka hati-
hatilah kamu terhadap harta mereka yang sangat mulia bagi mereka.
Hindarilah doa orang yang terzalimi, karena antara doa orang yang
dizhalimi dan Allah tidak ada penghalang.(Muslim 1/37-38)

f. Dalil Ijma‟

Setelah Nabi SAW wafat, maka pimpinan pemerintahan dipegang

oleh Abu Bakar al- Shiddiq sebagai Khalifah pertama. Pada saat itu

timbul gerakan sekelompok orang yang menolak membayar zakat

(mani‟ al-zakah) kepada Khalifah. Khalifah mengajak para sahabat

lainnya untuk bermufakat memantapkan pelaksanaan dan penerapan

zakat dan mengambil tindakan tegas untukmenumpas orang- orang

21
Imâm Abî Husain Muslim bin Hajjâj, Şahîh Muslim, (Riyâ Maktabah al-Rusyd,
1991) h. 50
23

yang menolak membayar zakat dengan mengkategorikan mereka

sebagai orang murtad.22

Dari uraian nash di atas dapat dipahami mengenai kewajiban

mengeluarkan zakat. Pemahaman ini berdasarkan kepada kejelasan sighat

berupa redaksi dalam bentuk fi‟il amar yang berarti kewajiban/ perintah

dan dilalah berupa petunjuk dalil yang bersifat qothi‟i.

C. Tujuan, Hikmah Dan Manfaat Zakat

1. Tujuan Zakat

Zakat merupakan ibadah yang mengandung dua dimensi, ialah

dimensi hablum minallah dan hablum minannas. Ada beberapa tujuan

yang ingin dicapai oleh Islam dibalik kewajiban zakat adalah sebagai

berikut:23

a. Mengangkat derajat fakir miskin dan membantunya keluar dari

kesulitan hidup dan penderitaan.

b. Membantu pemecahan permasalahan yang dihadapi oleh gharim,

ibnusabil san mustahiq dan lain- lainnya.

c. Membentangkan dan membina tali persaudaraan sesama umat Islam

dan manusia pada umumnya.

d. Menghilangkan sifat kikir pemilik harta kekayaan.

22
Abdurrachman Qadir, Zakat Dalam Dimensi Mahdhah, mengutip dari al- Zakah wa
Tathbigatuha al- Mu‟ashirah Daral- Wathan(Jakarta: Srigunting, 2001), Cet. 2, h.49

23
ElsiKartika Sari, PengantarHukum Zakat, (Jakarta: CikalSakti : 2007), h. 12
24

e. Membersihkan sifat dengki dan iri (kecemburuan sosial) dari hati

orang- orang miskin.

f. Menjembatani jurang pemisah antara yang kaya dengan yang miskin

dalam suatu masyarakat.

g. Mengembangkan rasa tanggungjawab sosial pada diri seseorang,

terutama pada mereka yang mempunyai harta.

Berdasarkan uraian di atas maka secara umumzakat bertujuan

untuk menutupi kebutuhan pihak- pihak yang memerlukan dari harta

kekayaan sebagai perwujudan dari rasa tolong- menolong antara sesama

manusia beriman.

Dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 2011 pasal 3 juga

dijelaskan tujuan pengelolaan zakat sebagai berikut:

a. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan dalam pengelolaan


zakat; dan
b. Meningkatkan manfaat zakat untuk mewujudkan kesejahteraan
masyarakat dan penanggulangan kemiskinan.

2. Hikmah Dan Manfaat Zakat

Dalam ajaran Islam tiap- tiap perintah untuk melakukan ibadah

mengandung hikmah dan rahasia yang sangat berguna bagi pelaku ibadah

tersebut, termasuk ibadah zakat. Hikmah dan manfaat tersebut antara lain

disimpulkan sebagai berikut:


25

a. Sebagai perwujudan keimanan kepada Allah SWT, mensyukuri

nikmat-NYA, menumbuhkan akhlak mulia dengan rasa

kemanusiaan yang tinggi. 24

b. Menolong, membantu dan membangun orang yang lemah dan

susah, sekedar memenuhi kebutuhan pokoknya, sehingga mereka

dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan melaksanakan

kewajibannya terhadap Allah.25

c. Mendidik dan membiasakan orang menjadi pemurah dan

menjauhkan dari sifat bakhil.26

d. Bagi orang miskin, dengan dana zakat akan mendorong dan

memberi kesempatan untuk berusaha dan bekerja keras sehingga

pada gilirannya berubah dari golongan penerima zakat menjadi

golongan pembayar zakat.

e. Bagi orang kaya, memperoleh kesempatan untuk menikmati hasil

usahanya, yaitu terlaksananya berbagai kewajiban agama dan

ibadah kepada Allah.

D. Objek Zakat

Pada awal sejarah pertumbuhan Islam di Mekah, orang- orang yang

berhak menerima zakat (infaq) itu adalah orang miskin saja. Setelah

24
Didin Hafidhuddin, Zakat Dalam Perekonomian, (Jakarta: Gema Insani, 2002), h. 10

25
Zurinal Z dan Aminuddin, Fiqih Ibadah, (Jakarta: Lembaga Peneltian UIN
SyarifHidayatullah, 2008), cet. 1, h. 184
26
Abdurrachman Qadir, Zakat Dalam Dimensi Mahdhah Dan Sosial, (Jakarta: Srigunting,
2001), Cet. 2, h.83
26

tahunke -9 Hijriyah Allah SWT menurunkan ayat 60 surat al-Taubah di

Madinah.27 Ayat tersebut menjelaskan secara rinci mengenai orang- orang

yang berhak menerima zakat. Ayat dimaksud ialah:

Artinya: sesungguhnya zakat- zakat ituhanyalahuntuk orang- orang


fakirorang- orang miskin, pengurus- pengurus zakat, muallaf yang
dibujukhatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang- orang yang
berhutang, untukjalan Allah dan orang- orang yang
sedangdalamperjalanan, sebagaisesuatuketetapan. (QS 9: 60)yang
diwajibkan Allah; dan Allah MahaMengetahuilagiMahaBijaksana

Ayat di atas menunjukkan bahwa orang yang berhak menerima zakat

terdiri dari delapan golongan yaitu sebagai berikut:

1. Orang Fakir

Para ulama tidak sependapat dalam memberi definisi terhadap

terminologi fakir. Ulama Mazhab Syafi‟I dan Maliki

mendefinisikannya sebagai orang yang tidak mempunyai harta dan

tidak pula memiliki pekerjaan yang dapat memenuhi kebutuhan

pokoknya. Dia juga tidak mempunyai suami atau anak atau saudara

yang menanggung nafkahnya.28

2. Orang Miskin
27
Rahman Ritonga dan Zainuddin, Fiqh Ibadah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002),
cet. 2, h. 180
28
Wahbah Zuhayli, Al-Fiqh al-Islam waAdillatuh, (Beirut: Dar al-Fikri, 1987), hal. 869
27

Para Ulama Fiqh yang berpendapat bahwa fakir dan miskin adalah dua

kata yang mempunyai arti satu yaitu orang yang serba berkekurangan

atau yang benar- benar membutuhkan. Ada yang mengatakan bahwa

dua kata itu memiliki arti yang berbeda. Mazhab Syafi‟I dan Hanbali

misalnya mengatakan makna kedua istilah itu jelas berbeda. Orang

fakir menurut mereka lebih parah keadaan ekonominya dari orang

miskin. Orang yang fakir adalah orang yang sama sekali tidak

memiliki harta dan pekerjaan. Sedangkan orang miskin adalah orang

yang memiliki harta atau pekerjaan, tetapi hanya dapat menutupi

sekitar limapuluh persen atau lebih dari kebutuhannya dan kebutuhan

keluarga yang wajib dinafkahinya, namun tetap juga tidak

mencukupi.29

3. Amil Zakat

Yang dimaksud Amil zakat adalah orang yang diberi tugas untuk

pemimpin, kepala pemerintahan, atau wakilnya untuk mengambil

zakat dari orang kaya, meliputi pemungut zakat, penanggung jawab,

petugas penyimpanan, penggembala ternak dan pengurus

administrasinya. Mereka harus terdiri dari kalangan kaum Muslimin

dan bukan dari golongan yang tidak diperkenankan menerima zakat,

seperti keluarga Rasulullah SAW, yaitu Bani Hasyim dan Bani Abdul

Muthalib.30

29
Wahbah Zuhayli, Al-Fiqh al-Islam, (Beirut: Dar al-Fikri, 1987), hal. 879
30
Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah, Terj. Khairul Amru Harahap dan masrukhin,(Jakarta;
Cakrawala Publishing, 2011), jilid. 2, h.142
28

4. Muallaf

Secara etimologis, muallaf berarti orang yang dilunakkan hatinya.

Tentu orang yang seperti ini adalah orang yang belum kuat imannya

dalam memeluk agama Islam, untuk menguatkan hatinya terhadap

agama Islam diberikan kepadanya zakat.31

5. Riqab

Yang dimaksud dengan riqab adalah usaha memerdekakan hamba

sahaya dengan cara membelinya dengan uang zakat kemudian

memerdekakannya. Jadi zakat digunakan sebagai dana untuk

membebaskan dirinya agar ia merdeka.

6. Gharimin

Gharim adalah orang- orang yang berhutang dan menghadapi

kesulitan untuk melunasinya. Yusuf Qardhawi mendefinisikannya

sebagai orang yang berhutang yang sulit dilunasinya. Hutang itu

timbul melalui kegiatan- kegiatan sosial, bukan kemaksiatan.32

7. Fi Sabilillah

Pada awalnya sesuai dengan konteks sosial, fi sabilillah diartikan

dengan sekelompok orang yang berjuang, berperang menegakkan

agama Allah SWT. Zakat digunakan sebagai dana atau biaya angkatan

perangnya. Pengertian ini wajar, karena penggunaan kata sabilillah

31
Rahman Ritonga dan Zainuddin, Fiqh Ibadah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002),
cet. 2, h. 183
32
Yusuf Qardhawi, Al- „ibadah Fi al-Islam, (Mesir, Muassasah al-Risalah, 1979), h.250
29

mutlak digunakan untuk peperangan, sebab Allah SWT sering

mengaitkannya dengan kata al-qatl dan al-jahd yang berarti berperang.

Misalnya dalam ayat berikut:

Artinya: dan perangilah di jalan Allah orang- orang yang


memerangikamu..(QS 2: 190)

8. IbnuSabil

Ibnu sabil adalah orang yang sedang dan akan melaksanakan

perjalanan dengan tujuan kebaikan. Tetapi dia kekurangan biaya untuk

mencapai tujuan dari perjalanan itu. Dengan zakat diharapkan dia

sampai ke tujuan.

E. Manajemen Pengelolaan Zakat

Manajemen merupakan kata serapan dari bahasa Inggris,

“managemen” yang berakar kata “manage” yang berarti “control” control

dan “succed” sukses.33

Sedangkan secara istilah dikemukakan oleh James Stoner bahwa

manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan

dan pengawasan usaha para anggota organisasi dengan menggunakan

symber daya yang ada agar mencapai tujuan organisasi yang sudah

ditetapkan.34

33
Sudirman, Zakat Dalam Pusaran Arus Modern, (Malang: UIN Malang Press, 2007), h.
71
34
Eri Sudewo, Manajemen Zakat, (Jakarta: Institut Manajemen Zakat, 2004), cet. 1, h. 63
30

Mary Parker Follet memiliki definisi yang berbeda dengan

Stoner, dia mengartikan manajemen adalah seni dalam menyelesaikan

tugas pekerjaan melalui orang lain. Sedangkan menurut Hani Handoko

manajemen adalah bekerja dengan orang- orang untuk menentukan,

menginterpretasikan dan mencapai tujuan- tujuan organisasi dengan

pelaksanaan fungsi- fungsi perencanaan, pengorganisasian, penyusunan

personalia atau kepegawaian, pengarahan dan kepemimpinan serta

pengawasan.35

Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa manajemen pengelolaan

zakat adalah sistem atau cara yang dilakukan oleh organisasi pengelola

zakat untuk mengelola zakat itu sendiri sehingga bisa tersalurkan kepada

orang- orang yang memang berhak untuk menerimanya. Seperti

pengumpulan, pengambilan, pendayagunaan dan pendistribusian.

Dasar hukum pengelolaan zakat itu sendiri adalah QS At-Taubah

103:

Artinya : Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu
kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk
mereka, sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi
mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Penyayang.

35
Eri Sudewo, Manajemen Zakat, (Jakarta: Institut Manajemen Zakat, 2004), cet. 1, h. 64
31

Berangkat dari perintah yang tersurat dan tersirat dari ayat di atas,

yang diawali dengan “kata perintah” : Ambillah, seharusnya mekanisme

pengumpulan dan penyaluran zakat adalah sebagai berikut:

Muzakki Amil/petugas Mustahiq

Dengan demikian dalam pengelolaan zakat, Allah memerintahkan

ada muzakki yang merupakan pembayar zakat, ada Amil sebagai

pengumpul dan penyalur, dan ada mustahiq sebagai penerima zakat.

MANAJEMEN ZAKAT

1. Lembaga Pengelola Zakat

a. Eksistensi Lembaga Pengelola Zakat

Pengelolaan zakat di Indonesia saat ini ada dua bentuk yaitu

pengelolaan zakat oleh pemerintah yaitu Badan Amil Zakat (BAZ)

dan Lembaga pengelola zakat non pemerintah yaitu Lembaga Amil

Zakat (LAZ). Lembaga Amil Zakat (LAZ) dibentuk oleh masyarakat

dan mendapatkan pengukuhan dari pemerintah setelah memenuhi

kriteria dan persyaratan yang telah ditetapkan. 36

b. Pendayagunaan dan Pengelolaan zakat

Pengelolaan zakat sebagaimana disebut dalam UU RI No. 38

Tahun 1999 merupakan kegiatan perencanaan, pengorganisasian,

pelaksanaan dan pengawasan terhadap pengumpulan dan

36
Oneng Nurul Bariyah, Total Quality Managemen Zakat, (Jakarta: Wahana Kardofa,
2012), cet. 1, h. 38
32

pendistribusian serta pendayagunaan zakat. Pengelolaan dan

pendayagunaan zakat sebagai bentuk dari manajemen zakat.

c. Distribusi zakat kepada mustahiq

Sebagaimana diketahui bahwa orang yang berhak menerima

zakat ada delapan kelompok, yaitu: fakir, miskin, amil, muallaf, riqab,

orang yang berutang (gharim), orang yang berjuan di jalan Allah

(sabilillah), dan orang yang dalam perjalanan (ibnu sabil). Dalam

masalah penyaluran harta zakat ulama berbeda pendapat tentang

distribusi zakat. Imam Syafi‟I dann pengikutnya berpendapat bahwa

zakat harus diberikan kepada delapan kelompok secara merata.

Sedangkan Abu Hanifah dan Imam Ahmad boleh memberikan zakat

hanya kepada sebagian tidak semua asnaf yang delapan. Sementara

Imam Malik berpendapat bahwa pemberian zakat didahulukan

berdasarkan tingkat kebutuhan. Para ulama Mazhab juga berpendapat

tentang larangan pemindahan zakat dari suatu Negara ke Negara yang

lain. Demikian pendapat Imam Malik dan Imam Syafi‟I. Sedangkan

Abu Hanifah dan Imam Ahmad menyatakan boleh memindahkan

zakat dari suatu Negara ke Negara lain jika penduduk Negara itu

berkecukupan.37

2. Deskripsi Manajemen Mutu Kinerja Lembaga Pengelola Zakat

a. Kepemimpinan

37
Oneng Nurul Bariyah, Total Quality Managemen Zakat, (Jakarta: Wahana Kardofa,
2012), cet. 1, h. 44
33

Pengetahuan tentang misi dan visi lembaga merupakan hal

penting bagi setiap pegawai (amil). Untuk itu visi dan misi

disampaikan kepada para pegawai saat mulai bekerja dalam bentuk

pelatihan serta pada kegiatan rutin bagi keseluruhan pegawai.

Intensitas pertemuan ditentukan secara berkala, ada yang mingguan,

bulanan, serta akhir tahun.

b. Perencanaan Strategis

Perencanaan strategis sebagai bagian dari manajemen yang

membuat rencana kerja jangka panjang, menengah, dan tahunan.

Setiap lembaga pengelola zakat memiliki RENSTRA lembaga.

Demikian pula strategi pencapaian, rencana tindakan dan indicator

kunci.

c. Fokus pada pengelolaan Mustahiq dan muzakki

Data mustahik dan muzakki terhimpun dalam data base. Dengan

adanya data tersebut dapat diketahui jumlah muzakki dan mustahik

yang ada pada lembaga. Data mustahik dan muzakki pada lembaga

pengelola zakat harus dapat dilihat dalam media website masing-

masing.

d. Pengukuran dan Analisis Manajemen

Pengukuran kinerja lembaga tertuang dalam bentuk laporan

rutin tertulis kinerja unit setiap lembaga.

e. Sumber daya Amil


34

Sumber daya manusia dalam hal ini amil (pegawai) merupakan

faktor yang sangat penting dalam kegiatan operasional lembaga

pengelola zakat. Semua lembaga pengelola zakat memberikan

gaji/insentif bagi para amil. Begitu pula penghargaan atas prestasi

yang dicapai.

f. Pencapaian Hasil

Hasil yang dicapai oleh lembaga pengelola zakat berupa dana

ZIS yang terkumpul, pengelolaan dan penyalurannya. Dalam hal ini

terdapat pula daftar mustahik dan muzakki dalam periode tertentu.

Setiap lembaga memiliki daftar capaian hasil serta penyalurannya.

Penjelasan secara rinci dari deskripsi kinerja lembaga pengelola

zakat disajikan dalam uraian yang meliputi: manajemen

penghimpunan zakat (Fundrising Managemen), manajemen

pengelolaan dan pendayagunaan zakat (Empowering Managemen),

manajemen keuangan dan akuntasi (Finance anda Accounting

managemen), dan Manajemen amil (amil Managemen).

3. Manajemen Penghimpunan Zakat (Fundrising Managemen)

Fundrising merupakan kegiatan dalam rangka penghimpunan

dana dan sumber dana lainnya dari masyarakat baik individu,

kelompok, organisasi, perusahaan atau pemerintah yang akan

digunakan untuk membiayai program dan kegiatan operasional


35

lembaga dalam rangka mencapai tujuan. Dengan demikian kegiatan

Fundrising berujuan untuk menghimpun dana dan donatur.

Fundrising juga merupakan sarana untuk menghimpun

simpatisan juga pendukung. Kegiatan fundrising dapat pula menjadi

sarana dalam upaya membangun citra lembaga dan menjadi tujuan

utamanya memberikan kepuasan bagi para donatur. Bagi lembaga

yang didirikan untuk melaksanakan syari‟at agama seperti lembaga

pengelola zakat, kegiatan fundrising ditujukan untuk melaksanakan

tujuan dari pemberlakuan syari‟ah itu sendiri yaitu mewujudkan

kemaslahatan, membangun kemandirian umat, dan terwujudnya

keadilan distributive sehingga dapat merubah kehidupan para

mustahik idealnya mereka menjadi muzakki.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa strategi

penggalangan dana yang dilakukan lembaga pengelolaan zakat baik

Badan Amil Zakat (BAZ) maupun Lembaga Amil Zakat (LAZ) adalah

sebagai berikut:

a. Sumber dana: individual, perusahaan (corporate fund), lembaga

pemerintah, dan pendapatan usaha (earned income): unit usaha

yang dikelola dari berbagai sumbangan yang diberikan oleh

perusahaan

b. Media yang digunakan: cetak, elektronik, internet, dan media

komunikasi
36

4. Manajemen Pengelolaan dan Pendayagunaan Zakat

(Empowering Managemen)

Bagian ini akan memaparkan praktek pengelolaan dan

pendayagunaan zakat oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).

Pada bagian ini dibahas pula mengenai pola pendayagunaan yang

dilakukan masing- masing lembaga beserta program

pendayagunaannya. Bagian ini merupakan bagian dari indicator sitem

manajemen mutu terkait mustahik dan muzakki.38

Untuk penyaluran dana BAZNAS memiliki beberapa program.

Program tersebut secara garis besar terdiri atas: program kemanusiaan,

program kesehatan, program pendidikan, program ekonomi, dan

program dakwah. Adapun alokasi dana untuk program kemanusiaan

sebanyak 10%, program kesehatan sebanyak 20%, program

pendidikan 25%, program ekonomi sebanyak 35%, dan program

dakwah sebanyak 10%. Program yang dilakukan yaitu Indonesia

Cerdas, Indonesia Makmur, Indonesia Peduli, Indonesia Talwa, dan

Indonesia Sehat. Seluruh program tersebut dilaksanakan diberbagai

daerah yang berada diseluruh Indonesia melalui unit salur zakat yang

tersebar di berbagai daerah.

38
Oneng Nurul Bariyah, Total Quality Managemen Zakat, (Jakarta: Wahana Kardofa,
2012), cet. 1, h. 79
37

F. Macam- Macam Zakat

Secara umum zakat terbagi menjadi dua :pertama, zakat yang

berhubungan dengan badan atau disebut zakat fitrah. Kedua, zakat yang

berhubungan dengan harta atau zakat mal.

a. Zakat Fitrah

Zakat fitrah dilihat dari segi kebahasaan bermakna membersikan jiwa

atau diri dengan cara mengeluarkan harta dan diberikan kepada mereka

yang sangat memerlukan harta tersebut.

Sedangkan menurut istilah dalam syari‟ah Islam, zakat fitrah adalah

mengeluarkan beras atau bahan makanan pokok sebesar kuranglebih 2,5

kg (kurang lebih 3,5 liter), atau nilainya yang sepadan dengan jumlah

tersebut, dan didistribusikan kepada mereka yang memerlukannya, untuk

membersihkan diri atau jiwa yang mengeluarkannya. 39

Dalam pengertian lain zakat fitrah menurut istilah adalah zakat yang

dikeluarkan oleh seorang muslim dari sebagian hartanya kepada orang-

orang yang membutuhkan untuk mensucikan jiwanya serta menambal

kekurangan- kekurangan yang terdapat pada puasanya seperti perkataan

yang kotor dan perbuatan yang tidak ada gunanya.40

Hadits yang berkaitan tentang kewajiban zakat fitrah adalah sebagai

berikut:

39
Tim Penyusun, MengenalHukum Zakat danInfak/ sedekah, (Jakarta: BAZIS, 1999), h.
15
40
Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayyed Hawwas, Fiqh Ibadah,
(Jakarta: Amzah, 2013), cet. 3, h. 395
38

Telah menceritakan kepada kami „Abdullah bin Yusuf telah


mengabarkan kepada kami Malik dari Nafi‟ dari Ibnu „Umar radliallahu
„anhuma bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam mewajibkan
zakat fitrah satu sha‟ dari kurma atau sha‟ dari gandum bagi setiap orang
yang merdeka maupun hamba sahaya (budak), laki-laki maupun
perempuan dari kaum muslimin.

Zakat fitrah boleh dikeluarkan di awal malam bulan Ramadhan, namun

penundaannya hingga akhir bulan Ramadhan lebih utama. Dalam hal ini,

ada 5 waktu untuk mengeluarkan zakat fitrah, yiatu:

1. Waktu boleh, yaitu pada permulaan Ramadhan, mengingat sudah

terpenuhinya sebab perrtama diantara dua sebab diwajibkannya zakat

yaitu Ramadhan dan Idul fitri.

2. Waktu wajib, yaitu akhir Ramadhan dan awal syawal.

3. Waktu utama, yaitu setelah shalat shubuh dan sebelum shalat idul fitri.

4. Waktu makruh, setelah shalat idul fitri, meskipun memang

disunnahkan mengakhirkannya untuk menunggu orang yang dekat

seperti tetangga selama belum terbenam matahari.

5. Waktu haram, yaitu waktu yang dilarang untuk menunda- nunda

pembayaran zakat fitrah, yaitu akhir hari raya Idul Fitri ketika

matahari telah terbenam.

b. Zakat mal
39

Zakat mal (harta) adalah zakat yang dikeluarkan untuk menyucikan

harta, apabila harta itu telah memenuhi syarat- syarat wajib zakat.41

Zakat mal itu sendiri terbagi menjadi beberapa macam berdasarkan jenis

harta yang dimiliki. Antara lain sebagai berikut:

1. Zakat Binatang Ternak

Hewan ternak dinamakan al-an‟am karena banyaknya nikmat Allah

yang dianugerahkan kepada hambanya melaui hewan tersebut. hewan

ternak itu mencangkup unta, sapi dan kambing. 42 Syarat- syarat zakat

ternak:

a) Sampai nishab, yaitu mencapai kuantitas tertentu yang ditetapkan

hukum syara‟, jumlah minimal (nishab).

b) Telah dimiliki satu tahun, menghitung masa satu tahun anak-anak

ternak berdasarkan masa satu tahuninduknya.

c) Digembalakan, maksudnya adalah sengaja diurung sepanjang

tahun dengan dimaksudkan untuk memperoleh susu,daging dan

hasil perkembang biakannya.

d) Tidak dipekerjakan demi kepentingan pemiliknya, seperti untuk

membajak,mengairi tanaman, alat transportasi, dan sebagainya. 43

Nishab atas zakat binatang ternak:

41
Gustiana Djuanda, dkk, Pelaporan Zakat Pengurang Pajak Penghasilan, (Jakarta:
PTRaja Grafindo Persada, 2006), h. 18
42
Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayyed Hawwas, Fiqh Ibadah,
(Jakarta: Amzah, 2013), cet. 3, h. 350
43
Yusuf Qardawi, Hukum Zakat, (Jakarta: Pustaka Litera AntarNusa dan Mizan, 1986), h.
170-172
40

1) Unta

Nishab unta adalah 5 ekor, artinya bila seseorang telah memiliki 5

ekor unta, ia terkena kewajiban zakat. Selanjutnya zakat itu

bertambah, jika jumlah unta yang dimilikinya juga bertambah.

Sesuai dengan hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam

Bukhari Muslim:

44
.

Artinya: “Tidak ada kewajiban zakat pada unta yang kurang dari
lima ekor”.

maka dapat dibuat table sebagai berikut:45

Jumlah (ekor) Zakat

5-9 1 ekor kambing

10-14 2 ekor kambing

15-19 3 ekor kambing

20-24 4 ekor kambing

25-35 1 ekor anak unta betina umur 1 tahun

lebih

36-45 1 ekor anak unta betina umur 2 tahun

lebih

45-60 1 ekor anak unta betina umur 3 tahun

44
Imâm Abî Husain Muslim bin Hajjâj, Şahîh Muslim, (Riyâ Maktabah al-Rusyd,
1991) h. 675
45
Yusuf Qardawi, Hukum Zakat, (Jakarta: Pustaka Litera AntarNusa dan Mizan, 1999), h.
176
41

lebih

61-75 1 ekor anak unta betina umur 4 tahun

lebih

76-90 2 ekor anak unta betina umur 2 tahun

lebih

91-120 2 ekor anak unta betina umur 3 tahun

lebih

2) Ternak Unggas

Nishab pada ternak unggas dan perikanan tidak diterapkan

berdasarkan jumlah (ekor), sebagaimana halnya sapi, dan

kambing. Akan tetapi dihitung berdasarkan skala usaha.

Nishab ternak unggas dan perikanan adalah setara dengan

20 dinar (1 dinar =4,25 gram emas murni) atau sama dengan 85

gram emas. Artinya bila seorang berternak unggas atau

perikanan,, dan pada akhir tahun (tutup buku) ia memiliki

kekayaan yang berupa modal kerja dan keuntungan lebih besar

atau setara dengan 85 gram emas murni, maka ia terkena

kewajiban zakat sebesar 2,5 %.46

3) Sapi

46
Gustiana Djuanda, dkk, Pelaporan Zakat, (Jakarta: PTRaja Grafindo Persada, 2006), h.
25
42

Sapi adalah binatang ternak yang wajib dizakatkan apabila

telah mencukupi satu nisab. Termasuk kedalam jenis sapi

adalah kerbau, dan zakat kedua binatang itu juga sama.

Berdasarkan kesepakatan ulama sapi atau kerbau yang kurang

dari tiga puluh ekor tidak wajib dizakatkan. Sehingga sapi dan

kerbau baru dikeluarkan zakatnya setelah mencapai tiga puluh

ekor, seperti tabel berikut:

Jumlah (ekor) Zakat

30-39 1 ekor anak sapi jantan atau

betina/seekor anak kerbau umur 1 tahun

40-59 1 ekor anak sapi betina/seekor anak

kerbau umr 2 tahun

60-69 2 ekor anak sapi jantan

70- 79 Seekor anak sapi betina (umur 2 tahun)

ditambah anak sapi jantan (umur 1

tahun)

80- 89 2 ekor anak sapi betina umur 2 tahun

90- 99 3 ekor anak sapi jantan umur 1 tahun

4) Zakat kambing Domba


43

Yang dimaksud kambing disini adalah kambing domba dan

kambing kacangan, karena keduanya adalah satu jenis.47

Kewajiban zakat atas ternak kambing apabila telah mencapai

empat puluh ekor dan seterusnya, sebagaimana rincian dalam

table berikut:

Jumlah (ekor) Zakat

40-120 1 ekor kambing

121-200 2 ekor kambing

201-399 3 ekor kambing

400- 499 4 ekor kambing

500-599 5 ekor kambing48

2. Zakat Emas dan Perak

Termasuk dalam kategori emas dan perak, adalah mata uang

yang berlaku pada waktu itu di masing-masing negara. Oleh karena

itu segala bentuk penyimpanan uang seperti tabungan, deposito,

cek, saham atau surat berharga lainnya, termasuk ke dalam

kategori emas dan perak, sehingga penentuan nishab dan besarnya

zakat disetarakan dengan emas dan perak.

47
Zurinal dan Aminuddin, Fiqih Ibadah, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif
Hidayatullah, 2008), h. 165
48
Yusuf Qardawi, Hukum Zakat, (Jakarta: Pustaka Litera AntarNusa dan Mizan, 1986), h.
205
44

Demikian juga pada harta kekayaan lainnya, seperti rumah,

villa, kendaraan, tanah, dan lain- lain. Yang melebihi keperluan

menurut syara‟ atau dibeli/ dibangun dengan tujuan menyimpan

uang dan sewaktu- waktu dapat diuangkan. Pada emas dan perak

lainnya yang berbentuk perhiasan, asal tidak berlebihan, maka

tidak diwajibkan zakat atas barang- barang tersebut.

Nishab atas zakat emas dan perak:

Sesungguhnya kewajiban mengeluarkan zakat emas dan perak

terikat dengan dua syarat:

1. Mencapai Nishab

2. Memilikinya genap satu tahun dengan hitungan hijriyah

semenjak memilikinya , dan nisab harus sempurna dalam

setahun penuh.

Nishab emas adalah 20 dinar (85gram emas murni) dan perak

adalah 200 dirham (setara 672 gram perak). Artinya bila seseorang

telah memiliki emas sebesar 20 dinar atau perak 200 dirham dan

sudah setahun, makaia terkena wajib zakat sebesar 2,5 %.49

Sesuai dengan Hadits Nabi berikut:

49
Gustiana Djuanda, dkk, Pelaporan Zakat, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), h.
25
50
Abu Daud Sulaimân bin Ats‟asy, Sunan Abî Daud, (Riyâ Maktabah al-Ma‟ârif, 2002,
h. 272
45

Artinya: Dari Ali, ia berkata : Rasulullah Saw, bersabda: “aku


telah membebaskan kalian dari zakatnya kuda dan hamba, karena
itu keluarkanlah zakatnya perak, yaitu untuk setiap 40 dirham,
(zakatnya) satu dirham, dan tidak ada kewajiban zakat pada 190
(dirham), tetapi apabila sudah mencapai 200 (dirham), maka
(zakatnya) 5 dirham.” (HR Ahmad, Abu daud, dan Tirmidzi).

3. Zakat Harta Perniagaan

Harta perniagaan adalah semua yang diperuntukkan untuk

diperjual belikan dalam berbagai jenisnya, baik berupa barang

seperti alat- alat,pakaian,makanan, perhiasan, dan lain- lain.

Perniagaan tersebut diusahakan secara perorangan, atau

perserikatan sepertiCV, PT, Koperasi, dan sebagainya.

Zakat atas harta perniagaan:

Harta perniagaan nishabnya adalah 20 dinar (setara dengan

85 gram emas murni). Artinya jika suatu badan usaha padaakhir

tahun (tutup buku) memiliki kekayaan (modal kerja dan laba) lebih

besar atau setara dengan 85 gram emas (jika pergram Rp 25.000,00

= Rp 2.125.000,00) maka ia wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5

%.

Usaha yang bergerak di bidang jasa, sperti perhotelan,

penyewaan apartemen, taksi, rental mobil, bus/truk, kapal laut,

pesawat udara,danlain- lain, kemudian dikeluarkan zakatnya dapat

dipilih diantara 2 cara :

a. Pada perhitungan akhir tahun (tutupbuku) seluruh harta

kekayaan perusahaan dihitung termasuk barang (harta)


46

penghasiljasa, sperti hotel, taksi, kapal, dan lain-lain, kemudian

dikeluarkan zakatnya 2,5 %.

b. Pada perhitungan akhir tahun (tutup buku), hanya hanya

dihitung dari hasil bersih yang diperoleh usaha tersebut selama

satu tahun, kemudian zakatnya dikeluarkan 10%.

4. Zakat Hasil Pertanian

Hasil pertanian adalah hasil tumbuh-tumbuhan atau

tanaman yang bernilai ekonomis, seperti biji- bijian, umbi- umbian,

sayur- mayur, buah-buahan, tanaman hias, rumput- rumputan, dan

lain- lain.

Nisab dan kadar zakat hasil pertanian:

Adapaun nishab hasilpertanian adalah 5 wasaq atau setara

dengan 653 kg (gabah kering). Hal tersebut berdasarkan riwayat

dari Jabir, dari Rasulullah SAW., “…tidak wajib bayar zakat

padakurma yang kurang dari 5 ausuq” (HR Muslim).

Ausuq adalah bentuk jamak (plural) dari wasaq,dimana 1

wasaq = 60 sha‟, sedangkan 1sha‟= 2,176 kg, maka 5 wasaq adalah

5x60x2,176= 652,8 kg, dibulatkan menjadi 653 kg.

Apabila hasil pertanian tersebut termasuk makanan pokok,

seperti beras, jagung, gandum, kurma, dan lain- lain, maka

nishabnya adalah 653 kg. akan tetapi, jika hasil pertanian itu bukan

makanan pokok, seperti buah- buahan, sayur- sayuran,daun, bunga,


47

dan lain- lain, maka nishabnya disetarakan dengan harga nishab

dari makanan pokok yang paling umum di daerah negeri tersebut.

Kadar zakat untuk hasil pertanian, yang apabila diairi

dengan air hujan, atau sungai atau mata air adalah 10%, sedangkan

apabila diairi dengan disirami atau irigasi maka zakatnya 5%.

Dalam Nabijuga dijelaskan sebagai berikut:

Artinya: Dari Jabir, dari Nabi Saw, Ia bersabda: “ Pada


(tanaman)yang mendapat air dari sungai dan hujan, (zakatnya)
sepersepuluh (10%), dan pada(tanaman) yang disiram dengan
tenaga binatang, (zakatnya) seperduapuluh (5%). (HR Ahmad,
Muslim, Nasai,dan Abu Daud).51

Hasil pertanian yang bukan merupakan makanan pokok,

seperti buah- buahan, sayur- sayuran,bunga, daun, dammar, kayu

dan lain- lain, yang memiliki musimpanen tertentu, zakatnya

dihitung setiap kali musim panen. Sedang hasil pertanian yang

tidak memiliki musim panen tertentu atau panen secaraterus

menerus, zakatnya dihitung pada setiap akhir tahun. Nishabnya

dihitung berdasarkan harga yang senilai dengan harga nishab

makanan pokok yang berlaku di negeri yang bersangkutan.

5. Rikaz

51
Mu‟ammal Hamidy dan Imron AM dan Umar Fanany, Terjemah Nailul Authar,
(Surabaya: PT Bina Ilmu), jilid. 3, h. 1184
48

Rikaz adalah harta terpendam dari zaman dahulu atau bisa

disebut dengan harta karun. Termasuk didalamnya harta yang

ditemukan dan tidak ada yang mengaku sebagai pemiliknya.

Termasuk dalam rikaz yaitu harta yang diperoleh dari hasil undian

atau kuis berhadiah. Oleh sebab itu jika hasil tersebut memenuhi

criteria zakat wajib dizakati sebesar 20 % (1/5).

6. Zakat Profesi dan Zakat Wiraswasta

Wiraswasta yang dimaksud disini ialah pekerjaan yang

tidak terikat dengan Negara, seperti pekerjaan dokter, insyinyur,

sarjana hukum, penjahit, tukang batu, dan lain- lain. Adapun

pekerjaan yang terkait dan terikat dengan pemerintah atau yayasan

dan badan usaha umum atau khusus ialah yang para pegawainya

menerima upah bulanan. Penghasilan yang diperoleh

wiraswastawan atau pegawai negeri itu dikenal dalam fiqih dengan

istilah al-mal almustafad.52

Pengertian Profesi menurut Yusuf Qardhawi adalah kegiatan

atau pekerjaan yang penghasilan atau pendapatannya diusahakan

melalui keahliannya seperti dokter, arsitek, dan lain-lain .

Sedangkan menurut Wahbah Zuhaily Profesi adalah kegiatan

penghasilan atau pendapatan yang diterima seseorang melalui

usaha sendiri, seperti dokter, insinyur, dan lain-lain.

52
Yusuf al- Qardhawi, Fiqh al-Zakat, h. 487
49

Landasan zakat profesi itu sendiri adalah QS. Adz-

Dzariyat: 19

Artinya: Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang


miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat
bahagian.

Adapun nisab, waktu dan kadar zakat profesi tergantung

pada qiyas (analogi) yang dilakukan. Pertama, Jika dianalogikan

pada zakat perdagangan maka kadar, nisab dan waktunya sama

dengannya, sama pula dengan zakat emas dan perak. Nisabnya 85

gram emas, kadarnya 2,5 % dan waktunya setahun sekali setelah

dikurangi kebutuhan pokok. Kedua, jika dianalogikan pada zakat

pertanian, nisabnya 653 kg padi, kadarnya 5 % dan waktunya

dikeluarkan pada setiap mendapatkan gaji. Ketiga, jika

dianalogikan pada zakat rikaz, maka zakatnya sebesar 20 % tanpa

ada nisab, dan dikeluarkan pada saat menerimanya. 53

Dari penjelasan di atas penulis dapat memberikan

kesimpulan bahwasanya zakat itu wajib bagi seluruh umat muslim

di dunia, karena perintah zakat itu sendiri sudah dijelaskan di

dalam Al-Qur‟an dan Hadits. Oleh karena itu wajib bagi setiap

muslim untuk bersyukur kepada Allah atas nikmat harta yang telah

dianugerahkan. Salah satu caranya adalah dengan menunaikan

zakat dari harta tersebut.

53
Didin Hafidhuddin, Zakat Dalam Perekonomian Modern, (Jakarta: Gema Insani, 2002), h. 96
BAB III

Pengelolaan Zakat Menurut Undang- Undang

A. Sejarah Pengelolaan Zakat

1. Pengelolaan Zakat Pada Zaman Rasulullah dan Sahabat

Sebelum penulis membahas tentang pengelolaan zakat menurut

Undang- undang alangkah lebih baiknya kita mengetahui terlebih dahulu

sejarah pengelolaan zakat pada zaman dahulu. Pada masa Rasulullah zakat

dikelola oleh pemerintah. Nabi turun tangan sendiri dan memberi petunjuk

operasionalnya. Sahabat Muadz ibn Jabal ditunjuk sebagai pengumpul dari

dan untuk penduduk di kota Yaman, (desentralisasi) dalam penyaluran, tapi

sentralisasi dalam kebijakan. Begitu juga pada masa sahabat Abu Bakar ra,

zakat dikelola langsung oleh pemerintah, bahkan pada masa Abu Bakar yang

tidak berzakat diperangi. Abu bakar turun sendiri untuk mengawasi dan

zakat profesi pada masa itu belum diwajibkan. Pada masa Sahabat Umar bin

Khatab ra, karena baitul maal pada masa itu dananya makin banyak berasal

dari wilayah yang ditaklukan, jadi ada bagian zakat yang dibagikan di

wilayah namun ada juga yang disetor ke pusat. Pada masa sahabat Usman

bin Affan agak sedikit berbeda, zakat tetap dikelola oleh pemerintah namun

karena baitul maal penuh maka muzakki atas nama Khlaifah boleh langsung

50
51

membagikan ke asnaf. Zaid ibn Tsabit diangkat khusus untuk bagian

keuangan Negara (baitul maal). Sedangkan pada masa sahabat Ali biin Abi

Thalib sama dengan masa Usman, Ali turun mengawasi sendiri.1

2. Pengelolan Zakat di Masa Penjajahan

Zakat sebagai bagian dari ajaran Islam wajib ditunaikan oleh umat

Islam terutama yang mampu (aghniya’), tentunya sudah diterapkan dan

ditunaikan oleh umat Islam Indonesia berbarengan dengan masuknya Islam

ke Nusantara. Kemudian ketika Indonesia dikuasai oleh para penjajah, ara

tokoh agama Islam tetap melakukan mobilisasi pengumpulan zakat . Pada

masa penjajahan Belanda, pelaksanaan ajaran Islam (termasuk zakat) diatur

dalam Ordonantie Pemerintah Hindia Belanda Nomor 6200 tanggal 28

Pebruari 1905. Dalam pengaturan ini pemerintah tidak mencampuri masalah

pengelolaan zakat dan menyerahkan sepenuhnya kepada umat Islam dan

bentuk pelaksanaannya sesuai dengan syari’at Islam.2

3. Pengelolan Zakat di Awal Kemerdekaan

Pada awal kemerdekaan Indonesia, pengelolaan zakat juga diatur

pemerintah dan masih menjadi urusan masyarakat. Kemudian pada tahun

1951 barulah Kementerian Agama mengeluarkan Surat Edaran Nomor :

1
Hidayat Nur Wahid, Zakat & Peran Negara, (Jakarta: Forum Zakat, 2006), cet. 1, h. 87
2
Aliboron, “ Pengelolaan Zakat Di Indonesia Persepektif Peran Negara”. Artikel diakses pada
Tanggal 03 Oktober 2015 dari https://aliboron.wordpress.com,
52

A/VII/17367, tanggal 8 Desember 1951 tentang Pelaksanaan Zakat Fithrah.

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama hanya menggembirakan dan

menggiatkan masyarakat untuk menunaikan kewajibannya melakukan

pengawasan supaya pemakaian dan pembagiannya dari pungutan tadi dapat

berlangsung menurut hukum agama.3

4. Pengelolaan Zakat di Masa Orde Baru

Pada masa orde baru, Menteri Agama menyusun Rancangan Undang-

Undang tentang Zakat dan disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat

Gotong Royong (DPRGR) dengan surat Nomor : MA/095/1967 tanggal 5

Juli 1967. Dalam surat Menteri Agama tersebut disebutkan antara lain :

“Mengenai rancangan undang-undang zakat pada prinsipnya, oleh karena


materinya mengenai hukum Islam yang berlaku bagi agama Islam, maka
diatur atau tidak diatur dengan undang-undang, ketentuan hukum Islam
tersebut harus berlaku bagi umat Islam, dalam hal mana pemerintah wajib
membantunya. Namun demikian, pemerintah berkewajiban moril untuk
meningkatkan manfaat dari pada penduduk Indonesia, maka inilah perlunya
diatur dalam undang-undang”.

Rancangan Undang-Undang (RUU) tersebut disampaikan juga kepada

Menteri Sosial selaku penanggungjawab masalah-masalah sosial dan

Menteri Keuangan selaku pihak yang mempunyai kewenangan dan

wewenang dalam bidang pemungutan. Menteri Keuangan dalam

3
Depag RI, Pedoman Zakat, 2002, hlm. 284
53

jawabannya menyarankan agar masalah zakat ditetapkan denga peraturan

Menteri Agama. Kemudian pada tahun 1968 dikeluarkan Peraturan Menteri

Agama Nomor 5 tahun 1968 tentang pembentukan Bait al-Mal. Kedua PMA

(Peraturan Menteri Agama) ini mempunyai kaitan sangat erat, karena bait al-

mal berfungsi sebagai penerima dan penampung zakat, dan kemudian disetor

kepada Badan Amil Zakat (BAZ) untuk disalurkan kepada yang berhak.

Pada tahun 1968 dikeluarkan Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor

4 tahun 1968 tentang Pembentukan Badan Amil Zakat (BAZ). Pada tahun

yang sama dikeluarkan juga PMA Nomor 5 tahun 1968 tentang

Pembentukan Bait al-Mal. Bait al-Mal yang dimaksud dalam PMA tersebut

berstatus Yayasan dan bersifat semi resmi. PMA Nmor 4 tahun 1968 dan

PMA Nomor 5 tahun 1968 mempunyai kaitan yang sangat erat. Bait al-Mal

itulah yang menampung dan menerima zakat yang disetorkan oleh Badan

Amil Zakat seperti dimaksud dalam PMA Nomor 4 Tahun 1968.4

Pada tahun 1984 dikeluarkan Instruksi Menteri Agama Nomor 2 tahun

1984 tanggal 3 Maret 1984 tentang Infaq Seribu Rupiah selama bulan

Ramadhan yang pelaksanaannya diatur dalam Keputusan Direktur Jenderal

Bimas Islam dan Urusan Haji Nomor 19/1984 tanggal 30 April 1984. Pada

tanggal 12 Desember 1989 dikeluarkan Instruksi Menteri Agama Nomor

4
Aliboron, “ Pengelolaan Zakat Di Indonesia Persepektif Peran Negara”. Artikel diakses pada
Tanggal 03 Oktober 2015 dari https://aliboron.wordpress.com
54

16/1989 tentang Pembinaan Zaat, Infaq, dan Shadaqah yang menugaskan

semua jajaran Departemen Agama untuk membantu lembaga-lembaga

keagamaan yang mengadakan pengelolaan zakat, infaq, dan shadaqah agar

menggunakan dana zakat untuk kegiatan pendidikan Islam dan lain-lain.

Pada tahun 1991 dikeluarkan Keputusan Bersama Menteri Agama dan

Menteri dalam Negeri Nomor 29 dan 47 tahun 1991 tentang Pembinaan

Badan Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah yang kemudian ditindaklanjuti

dengan instruksi Menteri Agama Nomor 5 tahun1991 tentang Pedoman

Pembinaan Teknis Badan Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah dan Instruksi

Menteri Dalam Negeri Nomor 7 tahun 1988 tentang Pembinaan Umum

Badan Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah.

5. Pengelolaan Zakat di Era Reformasi

Pada era reformasi tahun 1998, setelah menyusul runtuhnya

kepemimpinan nasional Orde Baru, terjadi kemajuan signifikan di bidang

politik dan sosial kemasyarakatan. Setahun setelah reformasi tersebut, yakni

1999 terbitlah Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan

Zakat. Di era reformasi, pemerintah berupaya untuk menyerpurnakan sistem

pengelolaan zakat di tanah air agar potensi zakat dapat dimanfaatkan untuk

memperbaiki kondisi sosial ekonomi bangsa yang terpuruk akibat resesi

ekonomi dunia dan krisis multi dimensi yang melanda Indonesia. Untuk
55

itulah pada tahun 1999, pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat

(DPR) telah menerbitkan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang

pengelolaan Zakat, yang kemudian diikuti dengan dikeleluarkannya

Keputusan Menteri Agama Nomor 581 tahun 1999 tentang Pelaksanaan

Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 dan Keputusan Direktur Jenderal

Bimas Islam dan Urusan Haji Nomor D-291 tahun 2000 tentang Pedoman

Teknis Pengelolaan Zakat. Berdasarkan Undang-undang Nomor 38 tahun

1999 ini, pengelolaan zakat dilakukan oleh Badan Amil Zakat (BAZ) yang

dibentuk oleh Pemerintah yang terdiri dari masyarakat dan unsur pemerintah

untuk tingkat kewilayahan dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang dibentuk

dan dikelola oleh masyarakat yang terhimpun dalam berbagai ormas

(organisasi masyarakat) Islam, yayasan dan institusi lainnya.

Dalam Undang-undang Nomor 38 tahun 1999 dijelaskan prinsip

pengelolaan zakat secara profesional dan bertanggungjawab yang dilakukan

oleh masyarakat bersama pemerintah. Pemerintah dalam hal ini

berkewajiban memberikan perlindungan, pembinaan, dan pelayanan kepada

muzakki, mustahiq, dn pengelola zakat.5

Dari segi kelembagaan tidak ada perubahan yang fundamental

dibanding kondisi sebelum tahun 1970-an. Pegelolaan zakat dilakukan oleh

5
Aliboron, “ Pengelolaan Zakat Di Indonesia Persepektif Peran Negara”. Artikel diakses pada
Tanggal 03 Oktober 2015 dari https://aliboron.wordpress.com
56

Badan Amil Zakat yang dibentuk oleh pemerintah, tetapi kedudukan formal

badan itu sendiri tidak terlalu jauh berbeda dibanding masa lalu. Amil zakat

tidak memiliki power untuk menyuruh orang membayar zakat. Mereka tidak

diregistrasi dan diatur oleh pemerintah seperti halnya petugas pajak guna

mewujudkan masyarakat yang peduli bahwa zakat adalah kewajiban.

B. Organisasi Pengelolaan Zakat Menurut Undang- Undang No. 38 Tahun

1999

Keberadaan organisasi pengelola zakat di Indonesia diatur oleh

beberapa peraturan perundang- undangan diantaranya yaitu UU No.38 Tahun

1999 tentang pengelolaan zakat, Keputusan Menteri Agama No. 581 Tahun

1999 tentang pelaksanaan UU No. 38 Tahun 1999, dan Keputusan Direktur

Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Urusan Haji No. D/291 Tahun

2000 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Zakat.6

Undang- undang Republik Indonesia No 38 Tahun 1999 tentang

pengelolaan zakat Bab III pasal 6 dan pasal 7 menyatakan bahwa lembaga

pengelolaan zakat di Indonesia terdiri dari 2 macam, yaitu Badan Amil Zakat

(BAZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ). Badan amil zakat yang didirikan

oleh pemerintah, sedangkan Lembaga Amil Zakat yang dibentuk oleh

masyarakat. Dalam buku petunjuk teknis pengelola zakat yang dikeluarkan

6
Gustiana Djuanda, dkk, Pelaporan Zakat, (Jakarta: PTRaja Grafindo Persada, 2006), h. 3.
57

oleh Institut Managemen Zakat pada tahun 2001 dikemukakan susunan

organisasi lembaga pengelola zakat sebagai berikut:7

1. Susunan Organisasi Badan Amil Zakat

a. Badan Amil Zakat terdiri atas Dewan Pertimbangan, Komisi

Pengawas dan Badan pelaksana.

b. Dewan Pertimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi

unsur ketua, sekretaris dan anggota.

c. Komisi pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi unsur

ketua, sekretaris dan anggota.

d. Badan pelaksana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi unsur

ketua, sekretaris, bagian kauangan ,bagian pengumpulan, bagian

pendistribusian dan pendayagunaan.

e. Anggota pengurus Badan Amil Zakat terdiri atas unsur masyarakat

dan unsur pemerintah. Unsur masyarakat terdiri atas unsur ulama,

kaum cendekia, tokoh masyarakat, tenaga professional dan lembaga

pendidikan yang terkait.

2. Fungsi dan Tugas Pokok Pengurus Badan Amil Zakat (BAZ)

a. Dewan Pertimbangan

1). Fungsi

7
Didin Hafidhuddin, Zakat Dalam Perekonomian Modern. (Jakarta: Gema Insani, 2002), h.
130
58

Memberikan pertimbangan, fatwa, saran, dan rekomendasi

kepada Badan Pelaksana dan Komisi Pengawas dalam Pengelolaan

Badan Amil Zakat, meliputi aspek syariah dan aspek managerial.8

2). Tugas Pokok

(1) memberikan garis- garis kebijakan umum Badan Amil Zakat.

(2) mengesahkan rencana kerja dari Badan Pelaksana dan Komisi

Pengawas.

(3) mengeluarkan fatwa syari’ah baik diminta maupun tidak berkaitan

dengan hukum zakat yang wajib diikuti oleh pengurus Badan

Amil Zakat.

(4) memberikan pertimbangan, saran dan rekomendasi kepada Badan

Pelaksana dan Komisi Pengawas baik diminta maupun tidak.

(5) memberikan persetujuan atas laporan tahunan hasil kerja Badan

pelaksana dan Komisi pengawas.

(6) menunjuk Akuntan Publik.

b. Komisi Pengawas

1). Fungsi

Sebagai pengawas internal lembaga atas operasional kegiatan yang

dilaksanakan Badan Pelaksana.

2). Tugas Pokok

8
www.academia.edu/9624600/manajemen_lembaga_zakat_di_indonesia diakses pada
tanggal 30 Agustus 2015 (13.00)
59

(1) Mengawasi pelaksanaan rencana kerja yang telah disahkan

(2) Mengawasi pelaksanaan kebijakan- kebijakan yang telah ditetapkan

Dewan pertimbangan.

(3) Mengawasi Operasional kegiatan yang dilaksankan Badan Pelaksana,

yang mencangkup pengumpulan, pendistribusian dan

pendayagunaan.

(4) melakukan pemeriksaan oprasional dan pemeriksaan syariah.

c. Badan Pelaksana

1) Fungsi

Sebagi pelaksana Pengelola Zakat.

2) Tugas Pokok

(1) Membantu Rencana Kerja

(2) Melaksanakan oprasional pengelolaan zakat sesuai rencana kerja

yang telah disahkan dan sesuai dengan kebijakan yang telah

ditetapkan.

(3) Menyusun laporan Tahunan

(4) Menyampaikan Laporan pertanggungjawaban kepada pemerintah.

(5) Bertindak dan bertanggungjawab untuk dan atas nama Badan Amil

Zakat ke dalam maupun keluar.


60

C. Alasan diberlakukannya Undang- Undang No. 23 tahun 2011

Alasan diberlakukannya Undang- Undang No. 23 Tahun 2011 yang

merupakan hasil amandemen Undang- undang No. 38 Tahun 1999 tentang

pengelolaan zakat, merupakan salah satu kemajuan dalam penerapan prinsip-

prinsip syariah ke dalam hukum positif. Namun demikian pelaksanaan

Undang- undang No. 38 Tahun 1999 tentang pengelolaan zakat dirasakan

masih belum optimal untuk mengakomodir penyelenggaraan kewaiban zakat

dalam sistem yang professional. Karenanya, undang- undang tersebut sudah

tidak sesuai dengan perkembangan kebutuhan hukum dalam masyarakat

sehingga perlu diganti.

Berdasarkan alasan tersebut Komisi VIII DPR melakukan usul inisiatif

perubahan terhadap Undang- undang tentang pengelolaan zakat agar

kebijakan pengelolaan zakat dapat dilakukan secara terarah, terpadu, dan

terkoordinasi dengan baik serta disesuaikan dengan kebutuhan saat ini,

adapaun terkait dengan permasalahan ini agar Undang- undang No. 23 Tahun

2011 ini dapat berlaku efektif sesuai dengan apa yang diharapkan masyarakat

tersebut.

Adapun menurut Ahmad Juwaini Undang- undang No. 38 Tahun 1999

tentang pengelolaan zakat telah berlaku selama 12 tahun. Undang- undang

No. 38 Tahun 1999 tentang pengelolaan zakat ini dinilai memiliki banyak

kekurangan dan amat ringkas. Undang- undang No. 38 tahun 1999 tentang

pengelolaan zakat juga tidak memiliki peraturan pemerintah. Karena undang-


61

undang tersebut hanya menyebutkan bahwa aturan turunannya diatur dalam

peraturan menteri. Sudah lama dirasakan dan diusulkan agar undang- undang

No. 38 Tahun 1999 tentang pengelolaan zakat direvisi atau diamandemen.9

D. Organisasi Pengelolaan Zakat Menurut Undang- Undang No. 23 Tahun

2011

Organisasi pengelola zakat adalah institusi yang bergerak di bidang

pengelolaan dana zakat, infaq, dan shadaqah. Pada zaman Rasulullah SAW,

dikenal sebuah lembaga yang disebut baitul maal. Baitul maal ini memiliki

tugas dan fungsi mengelola keuangan Negara. Sumber pemasukannya berasal

dari dana zakat, infaq, ghanimah, dan lain- lain. Sedangkan penggunaannya

untuk asnaf mustahiq yang telah ditentukan, untuk kepentingan dakwah,

pendidikan, pertahanan, kesejahteraan sosial, pembuatan infrastruktur, dan

lain- lain.10

Di Indonesia sesuai yang diatur oleh pemerintah menurut Undang-

undang No. 23 Tahun 2011 tentang pengelolaan zakat. Badan Amil Zakat

Nasional (BAZNAS) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) merupakan organisasi

pengelola zakat. BAZNAS adalah badan pengelola zakat yang dibentuk oleh

pemerintah, hal ini sesuai dengan makna yang terkandung pada pasal 1 poin 7

9
Ahmad Juwaini, catatan kritis Undang- undang pengelolaan zakat. (Jakarta: Info zakat,
2012), ed. VII, h. 30
10
www.academia.edu/9624600/manajemen_lembaga_zakat_di_indonesia diakses pada
tanggal 30 Agustus 2015 (13.00)
62

Undang- undang No. 23 Tahun 2011 tentang pengelolaan zakat, yang

berbunyi “ Badan Amil Zakat Nasional yang selanjutnya disebut BAZNAS

adalah lembaga yang melakukan pengelolaan zakat secara nasional”.

Sedangkan Lembaga Amil Zakat (LAZ) adalah lembaga yang

mengelola zakat yang dibentuk oleh masyarakat sebagaimana juga terdapat

pada pasal 1 point 8 Undang- undang No. 23 Tahun 2011 tentang pengelolaan

zakat yang berbunyi “ Lembaga Amil Zakat yang selanjutnya disebut LAZ

adalah Lembaga yang dibentuk masyarakat yang memiliki tugas membantu

pengumpulan, pendistribusian dan pendayagunaan zakat”.

Dalam pasal 7 Undang- undang No. 23 Tahun 2011 juga dijelaskan

bahwa dalam melaksanakan tugas sebagai lembaga pengelola zakat, BAZNAS

menyelenggarakan fungsi perencanaan pengumpulan, pendistribusian, dan

pendayagunaan zakat, pelaksanaan pengumpulan, pendistribusian, dan

pendayagunaan zakat, pengendalian pengumpulan, pendistribusian, dan

pendayagunaan zakat, dan pelaporan dan pertanggungjawaban pelaksanaan

pengelolaan zakat.

Dalam pasal 7 ayat (3) Undang- undang No. 23 Tahun 2011 juga

dijelaskan bahwa dalam melaksanakan tugasnya BAZNAS wajib melaporkan

hasil pelaksanaan tugasnya secara tertulis kepada Presiden melalui Menteri

dan kepada Dewan Prwakilan Rakyat Republik Indonesia paling sedikit 1

(satu) kali dalam (1) Tahun.


63

Keanggotaan BAZNAS juga telah dijelaskan dalam pasal 8 Undang-

undang No. 23 Tahun 2011 bahwa BAZNAS dipimpin oleh ketua dan seorang

wakil ketua, yang terdiri dari 11 (sebelas) orang anggota terdiri atas 8

(delapan) orang dari unsur masyarakat dan 3 (tiga) orang dari unsur

pemerintah.

1. Fungsi dan Tugas Pokok organisasi pengelola zakat

LAZ dan BAZNAS yang dulunya sejajar dan sama dalam tugas dan fungsi

kini berbeda. Secara tegas dalam pasal 6 Undang- Undang zakat (Undang-

Undang Nomor 23 Tahun 2011) mengatur tentang tugas BAZNAS yakni

BAZNAS merupakan lembaga yang berwenang melakukan tugas

pengelola zakat secara nasional. Sementara pada pasal 7 Undang- undang

zakat tersebut mengatur fungsi BAZNAS dalam pengelolaan zakat secara

nasional, yakni menyelenggarakan fungsi:

a. Perencanaan pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat

b. Pelaksanaan pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat

c. Pengendalian pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat

d. Pelaporan dan pertanggungjawaban pelaksanaan pengelolaan zakat.

Sedangkan LAZ memiliki peran yang tidak jauh berbeda dengan tugas

pokok sebelumnya, yaitu mengumpulkan, mendistribusikan dan


64

mendayagunakan zakat sesuai dengan ketentuan agama namun

cenderung bersifat membantu BAZNAS.11

E. Posisi KUA Dalam Pengelolaan Zakat

KUA ssebagai lembaga Negara yang bergerak dibidang keagamaan

pada tingkat Kecamatan, selain menjalankan fungsinya sebagai lembaga

pencatat nikah juga memiliki fungsi lain yaitu salah satunya dalam

pengelolaan zakat. Adapun posisi KUA Kecamatan dalam hal pengelolaan

zakat menurut Undang- undang Nomor 38 Tahun 1999 dan Keputusan

Menteri Agama RI Nomor 373 Tahun 2003 tentang pelaksanaan Undang-

undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang pengelolaan zakat, KUA kecamatan

sebagai badan amil zakat menurut yang dibentuk oleh pemerintah mulai dari

tingkat Kabupaten sampai tingkat kecamatan, yang selanjutnya disingkat

dengan BAZDA dan BAZCAM.

Adapun yang melatar belakangi pembentukan Badan Amil Zakat

(BAZ) yaitu:12

a. Daerah Kabupaten oleh Bupati atas usul Kepala Kantor Urusan

Departemen Agama Kabupaten/kota.

b. Kecamatan oleh Camat atas usul Kantor Urusan Agama tingkat

Kecamatan. Pengurusan BAZ terdiri dari unsur masyarakat muslim dan

unsur pemerintah.

11
Pasal 17 Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang pengelolaan zakat.
12
Pasal 2 Keputusan Menteri Agama Nomor 373 Tahun 2003 Tentang Pelaksanaan Undang-
Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang pengelolaan zakat.
65

Sebagai pengelola zakat KUA yang ditugaskan sebagai lembaga unit

pelaksana zakat (UPZ) yang sering disebut BAZCAM dan BAZDA

memiliki tugas pokok dan fungsinya sebagai badan pengelola zakat, yaitu:

1. Tugas Pokok

Sebagai pengelola zakat, tugas poko BAZDA adalah:

a. Menggali Potensi zakat

b. Mengumpulkan harta/zakat

c. Mengelola harta/zakat yang telah terkumpul

d. Mendistribusikan zakat kepada mustahiq secara professional

e. Mendayagunakan dana zakat

f. Mengupayakan pengembangan zakat baik dari segi sumber maupun

pemanfaatannya

g. Menyusun pedoman zakat yang sederhana dan mudah dipahami oleh

muzakki.

2. Fungsi

Sebagai pengelola zakat, BAZDA akan memfungsikan diri sebagai

lembaga pelayanan masyarakat yang akan berzakat (muzakki) dan bagi

orang- orang yang membutuhkan bantuan dana zakat (mustahiq).

Lembaga zakat yang ada saat ini di dunia Islam ada dua bentuk,

yaitu lembaga zakat yang berada di bawah pemerintah serta lembaga

pengelola zakat yang berada di bawah pengelola masyarakat, begitu juga


66

KUA yang menepatkan posisinya sebagai pengelola zakat ditingkat

Kecamatan seperti yang kita ketahui menurut Undang- undang Nomor 38

Tahun 1999 tentang Pengelolaan zakat sebagai salah satu lembaga yang

mengatur pengelola zakat.

Sebagai lembaga pengelola zakat KUA memiliki tugas

menampung, mengelola dan menyalurkan pendayagunaan zakat.

Pendayagunaan zakat yaitu penyaluran zakat kepada mustahiq yang

memberi manfaat bagi mustahiq dalam memenuhi kebutuhan hidup baik

jangka pendek maupun jangka panjang.

Namun hal itu merubah posisi KUA, dengan direvisinya Undang-

undang Nomor 38 Tahun 1999 menjadi Undang- undang Nomor 23

Tahun 20111 tentang pengelolaan zakat KUA sudah tidak mempunyai

kewenangannya sebagai pengelola zakat, karena dalam undang- undang

Nomor 23 Tahun 2011 dijelaskan bahwa BAZNAS yang merupakan

lembaga yang berwenang melakukan tugas pengelolaan zakat secara

nasional.13

13
Pasal 6 Undang- undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang pengelolaan zakat.
BAB IV

IMPLEMENTASI UNDANG- UNDANG NO. 38 TAHUN 1999 DAN NO. 23

TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN ZAKAT DI KUA KECAMATAN

LIMO KOTA DEPOK

A. Sekilas Tentang KUA (kantor Urusan Agama) Kecamatan Limo

1. Sejarah Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Limo

Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Limo berdiri pada

Tahun 1994, dulunya KUA Kecamatan Limo masih KUA Kemantren,

tapi kemudian dipisah menjadi KUA Kecamatan Limo, Kepala KUA

Kecamatan Limo yang pertama adalah Bapak H. Rohidi, kemudian beliau

pensiun pada tahun 1998, kemudian digantikan oleh bapak Drs.

Ngadiono. KUA Kecamatan Limo sudah mengalami 6 kali pergantian

kepala KUA hingga sekarang yang dijabat oleh bapak Asnawi.1

2. Fungsi dan Tugas Kantor Urusan Agama (KUA)

a. Tugas KUA

Kantor Urusan Agama adalah unit pelaksana teknis direktorat

jenderal bimbingan masyarakat Islam yang bertugas melaksanakan

1
Wawancara langsung dengan Kepala KUA Kecamatan Limo, Kota Depok Bapak Asnawi,
S.Ag

67
68

sebagian tugas Kantor Kementrian Agama Kabupaten/ Kota di bidang

urusan agama islam.

b. Fungsi KUA

1) Pelaksanaan pelayanan, pengawasan, pencatatan, dan pelaporan

nikah dan rujuk

2) Penyususnan statistik, dokumentasi dan pengelolaan sistem

informasi manajemen KUA

3) Pelaksanaan tata usaha dan rumah tangga KUA

4) Pelayanan bimbingan keluarga sakinah

5) Pelayanan bimbingan kemasjidan

6) Pelayanan bimbingan pembinaan syariah serta

7) Penyelenggaraan fungsi lain di bidang agama islam yang

ditugaskan oleh Kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten/

Kota

B. Praktek Pengelolaan Zakat Di KUA Kecamatan Limo

Sesuai dengan hasil wawancara penulis dengan Kepala KUA

Kecamatan Limo dan pihak KUA yang lain dapat diambil kesimpulan

bahwasanya Implementasi Undang- undang tentang pengelolaan zakat

(Undang- undang No. 38 Tahun 1999 dan Undang- undang No. 23 Tahun

2011) di KUA Kecamatan Limo belum sesuai dengan kenyataannya.

Kepala KUA Kecamatan Limo Bapak Asnawi S.Ag menjelaskan

bahwasanya Dulu pengelolaan Badan amil zakat nya sampek ke kecamatan


69

tetapi kalau sekarang cukup sampek ditingkat kabupaten kota. Dulu juga

namanya BAZDA sekarang BAZNAS. Kalau tingkat kecamatan, kelurahan

atau yang ada di sekitar masyarakat itu namanya UPZ (unit Pengumpul

Zakat). Menurut UU No. 38 tahun 1999 lembaga pengelola zakat di tingkat

kecamatan namanya BAZ ,kepengurusannya dibentuk oleh panitia atas usul

dari Kantor Urusan Agama (KUA). Jadi KUA hanya memiliki kewenangan

mengusulkan kepada camat untuk dibentuk tim oleh camat, dan tim itulah

yang akan bekerja menerima laporan untuk menjadi pengurus zakat. Sekarang

juga masih begitu. Cuma namanya Unit Pengumpul Zakat (UPZ), tetapi kalau

UPZ tidak boleh menyalurkan hanya pengumpul. Jadi kalau dulu BAZ

sekarang UPZ, tapi kalau BAZ selain mengumpulkan juga menyalurkan

kepada fakir miskin. Kalau UPZ Cuma mengumpulkan tetapi pada

kenyataannya tidak begitu, mereka tetap menyalurkan.2

Selain dengan Kepala KUA, Penulis juga mewawancarai Bapak Saiful

Millah salah satu pegawai KUA Kecamatan Limo yang Ahli dibidangnya,

beliau menjelaskan kalau Menurut Undang- Undang No. 38 Tahun 1999

Pembentukan BAZ Provinsi oleh Gubernur, kalau BAZ tingkat kota oleh

Bupati/ walikota, tingkat kecamatan itu oleh pihak kecamatan dengan usulan

dari pihak KUA, hanya sebatas itulah membentuk BAZ tingkat kecamatan.

Saat itu pihak KUA didudukkan pada sekertaris umumnya dalam

2
Wawancara langsung dengan Kepala KUA Kecamatan Limo, Kota Depok Bapak Asnawi,
S.Ag
70

kepengurusan BAZ, pengelolanya adalah staf- staf kecamatan sampai

kelurahan, jadi secara otomatis siapapun yang jadi Kepala KUA akan menadi

sekertaris umum dalam BAZ Kecamatan. Jadi sebatas itu aja. Mengenai

pelaporannya itupun dilaporkan kepada BAZ tingkat kota.

Sedangkan menurut undang- undang No. 23 Tahun 2011 peran itu

dihilangkan, jadi BAZ terakhir hanya sampai tingkat Kota saja. adi tingkat

kecamatan sudah tidak ada, tapi pihak BAZ tingkat kota berhak membentuk

UPZ (unit pengumpul zakat) di wilayah kota itu. Jadi KUA pun menjadi

semacam UPZ (unit pengumpul zakat), dan pelaporannya pun masuk ke

tingkat kota. Dan zakat yang dikelolla oleh kita itu biasanya memang zakat

fitrah, dan kita juga menggunakan perpanjangan tangan dari P3N (amil), nah

itu biasanya mitra kerja kita, kita minta bantuan mereka untuk semacam

memberikan laporan saja, laporan tertulis tentang kumpulan zakat fitrah.

Sementara zakat mal biasanya langsung di laporkan ke BAZ tingkat Kota. 3

Menurut beliau yang menjadi alasan kenapa UPZ masih mengelola

atau menyalurkan zakat adalah kurang adanya pemahaman tentang tugas UPZ

itu sendiri. Karna sesuai dengan pasal 1 ayat (9) Undang-Undang No. 23

Tahun 2011 bahwasanya Unit Pengumpul Zakat yang selanjutnya disingkat

UPZ adalah satuan organisasi yang dibentuk oleh BAZNAS untuk membantu

pengumpulan zakat. Jadi hanya mengumpulkan.

3
Wawancara langsung dengan Bapak Saiful Millah pegawai KUA Kecamatan Limo (Senin,
14 September 2015)
71

C. Analisis Penulis

Pada pasal 6 ayat (2) Undang- undang No. 38 Tahun 1999 Tentang

pengelolaan zakat dijelaskan bahwa pembentukan badan amil zakat di tingkat

Kecamatan dibentuk oleh camat atas usul Kantor Urusan Agama (KUA). Jadi

untuk implementasi undang-undang No. 38 Tahun 1999 tentang pengelolaan

zakat di KUA Kecamatan Limo ada yang sudah sesuai yaitu peran KUA

hanya mengusulkan kepada camat dalam pembentukan badan amil zakat

tingkat kecamatan, dan ada juga yang kurang sesuai yaitu dalam undang-

undang tersebut tidak mencantumkan bahwa KUA memiliki peran sebagai

pengawas tapi narasumber menjelaskan bahwa KUA juga sebagai pengawas.

Untuk implementasi undang-undang No. 23 Tahun 2011 tentang

pengelolaan zakat di KUA Kecamatan Limo ada yang sudah sesuai dengan

undang-undang dan ada juga yang belum sesuai, untuk yang sudah sesuai

yaitu kewenangan KUA yang sebelumnya dihapuskan, yaitu bukan lagi

megusulkan kepada camat untuk pembentukan badan amil zakat tingkat

kecamatan tetapi sudah berubah menjadi UPZ (unit pengumpul zakat).

Sedangkan untuk yang tidak sesuai dengan undang-undang adalah

kewenangan UPZ itu sendiri. di dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 2011

pasal 1 ayat (9) dijelaskan bahwasanya unit pengumpul zakat yang disingkat

UPZ adalah satuan organisasi yang dibentuk oleh BAZNAS untuk membantu

pengumpulan zakat, jadi tugasnya hanya mengumpulkan zakat saja, tapi pada

kenyataannya sesuai dengan penjelasan para narasumber ternyata mereka


72

tidak hanya mengumpulkan zakat saja, tetapi juga menyalurkan zakat dan

mengelola zakat. Selain itu kekurangan yang dimiliki oleh KUA Kecamatan

Limo adalah tidak mempunyai laporan data tentang zakat yang seharusnya

dibuat untuk dilaporkan kepada pihak kota. Jadi secara administrasi KUA

Kecamatan Limo masih sangat kurang.


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan skripsi penulis yang berjudul Implementasi

Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 dan Undang-Undang No. 23 Tahun 2011

Tentang Pengelolaan Zakat Di KUA Kecamatan Limo Kota Depok, Penulis

dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Jadi kewenangan KUA menurut undang- undang No. 38 Tahun 1999

Tentang pengelolaan zakat dijelaskan pada pasal 6 ayat (2) yaitu

pembentukan badan amil zakat di tingkat Kecamatan dibentuk oleh camat

atas usul Kantor Urusan Agama (KUA), jadi KUA hanya memiliki

kewenangan mengusulkan kepada camat untuk membentuk badan amil

zakat (BAZ), hanya sekedar itu saja. Sedangkan menurut Undang-Undang

No. 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat kewenangan KUA yang

ada pada Undang-Undang sebelumnya dihapuskan, tetapi KUA bisa

menjadi Unit Pengumpul Zakat (UPZ) yang dibentuk oleh BAZNAS

kabupaten/kota sesuai yang dijelaskan dalam pasal 16 Undang-Undang

No. 23 Tahun 2011 yang berbunyi Dalam melaksanakan tugas dan

fungsinya, BAZNAS, BAZNAS provinsi, dan BAZNAS kabupaten/kota

72
73

dapat membentuk UPZ pada instansi pemerintah, badan usaha milik

negara, badan usaha milik daerah, perusahaan swasta, dan perwakilan

Republik Indonesia di luar negeri serta dapat membentuk UPZ pada

tingkat kecamatan, kelurahan atau nama lainnya, dan tempat lainnya.

2. Praktek pengelolaan zakat di KUA Kecamatan Limo Kota Depok

menurut undang- undang No. 38 Tahun 1999 Tentang pengelolaan zakat

dijelaskan oleh narasumber bahwasanya KUA hanya memiliki

kewenangan mengusulkan kepada camat untuk membentuk badan amil

zakat tingkat kecamatan, dan secara otomatis siapapun yang jadi Kepala

KUA akan menadi sekertaris umum dalam badan amil zakat tingkat

Kecamatan, Mengenai pelaporannya itupun dilaporkan kepada badan amil

zakat tingkat kota. Sedangkan menurut Undang-Undang No. 23 Tahun

2011 Tentang Pengelolaan Zakat kewenangan KUA sudah di hapuskan,

dan berubah menjadi unit pengumpul zakat (UPZ), unit pengumpul zakat

itu sendiri hanya memiliki kewenangan mengumpulkan saja bukan

menyalurkan, tetapi pada kenyataannya tidak demikian, mereka justru

menyalurkan juga, jadi sudah tidak sesuai dengan kewenangannya.

3. Kewenangan KUA Kecamata Limo menurut undang-undang No. 38

Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat sudah sesuai dengan undang-

undang tersebut, yaitu hanya mengusulkan. Sedangkan menurut undang-

undang No. 23 Tahun 2011 sudah sesuai yaitu sebagai Unit Pengumpul

Zakat (UPZ) tetapi kewenangannya belum sesuai, karena UPZ hanya


74

berwenang mengumpulkan saja bukan menyalurkan. Tapi kenyataannya

mereka juga menyalurkan.

B. Saran-saran

Adapun bagian akhir dari skripsi ini, penulis memberikan saran-saran

yang ditujukan kepada pihak-pihak yang terkait adalah sebagai berikut :

1. Kepada Pemerintah, khususnya BAZNAS untuk lebih tegas lagi dalam

melaksanakan tugasnya sebagai badan yang bertugas mengelola zakat,

baik pengumpulan, pendistribusian, pendayagunaan, maupun

pertanggungjawaban pelaksanaan. Harus mengawasi pelaporan juga.

Karna pada kenyataannya masih ada KUA yang tidak memiliki catatan

laporan pengelolaan zakat, salah satunya KUA Kecamatan Limo.

2. Kepada KUA, supaya lebih bertanggung jawab sesuai dengan

kewenangannya, tidak menyalahi aturan, supaya pelaksanaan pengelolaan

zakat di Indonesia bisa terlaksana dengan baik, selain itu juga lebih

bertanggungjawab terhadap laporan-laporan yang harus dibuat.

3. Kepada masyarakat, supaya lebih sadar lagi akan kewajiban membayar

zakat, tidak hanya zakat fitrah tetapi juga zakat harta (zakat mal).
DAFTAR PUSTAKA

Al-Bukhârî, Muhammad bin Ismâ‟îl, Şahîh al-Bukhârî. Riyâ Maktabah al-Rusyd,


2006.

Alhafidz, Ahsin W , Kamus Fiqh. Jakarta: Amzah, 2013.

Ali, Nuruddin Mhd. Zakat Sebagai Instrumen Dalam Kebijakan Fiskal. Jakarta:
Rajawali Pers, 2006.

Azzam, Abdul Aziz Muhammad dan Abdul Wahhab Sayyed Hawwas, Fiqh Ibadah
Thaharah Shalat Zakat Puasa dan Haji. Jakarta: Amzah, 2013.

Bariadi, Lili dan Muhammad Zen, dkk, Zakat dan Wirausaha. Jakarta: Centre For
Entrepreneurship Development, 2005.

Bariyah, Oneng Nurul, Total Quality Managemen Zakat. Jakarta: Wahana Kardofa, 2012.

Depag RI, Pedoman Zakat, 2002.

Djuanda, Gustiana, dkk, Pelaporan Zakat Pengurang Pajak Penghasilan. Jakarta:


PT Raja Grafindo Persada, 2006.

Hafidhuddin, Didin. Zakat Infak & Sedekah. Jakarta: Baznas, 2005.

__________, Zakat Dalam Perekonomian Modern, mengutip dari Majma Lughah


al-„Arabiyyah. Jakarta: Gema Insani, 2002.

Hamidy, Mu‟ammal dan Imron AM, dkk, Terjemah Nailul Authar. Surabaya: PT
Bina Ilmu.

Husnan, Ahmad.Zakat Menurut Sunnah dan Zakat Model Baru. Jakarta: Pustaka Al
Kautsar, 1996.

Inayah, Gazi, Teori Komprehensip Tentang Zakat dan Pajak. Yogyakarta: PT Tiara
Wacana, 2003.

Juwaini, Ahmad, catatan kritis Undang- undang pengelolaan zakat. Jakarta: Info
zakat, 2012.

75
76

Kamal, Abu Malik, Ensiklopedi Fiqih Wanita. Bogor: Pustaka Ibnu Katsir, 2007.

Moleong, Lexy J. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja Rosdakarya,


2004.

Mufraini, Arifin, AkutansidanManajemen Zakat. Jakarta: Kencana, 2006.

Muslim, Imâm Abî Husain bin Hajjâj, Şahîh Muslim. Riyâ Maktabah al-Rusyd,
1991.
Qardhawi, Yusuf, Spektrum Zakat Dalam Membangun Ekonomi Kerakyatan.
Jakarta: Zikrul Media Intelektual, 2005.

__________, Hukum Zakat, Terj. Salaman Harun, dkk. akarta; Litera Antarnusa dan
Mizan, 1986.

__________, Al- ‘ibadah Fi al-Islam. Mesir, Muassasah al-Risalah, 1979.

Qadir, Abdurrachman, Zakat Dalam Dimensi Mahdhah, mengutip dari al- Zakah wa
Tathbigatuha al- Mu’ashirah Daral- Wathan. Jakarta: Srigunting, 2001.

Ritonga, Rahman dan Zainuddin, Fiqh Ibadah. Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002.

Sabiq, Sayyid, Fikih Sunnah, Terj. Khairul Amru Harahap dan masrukhin. Jakarta;
Cakrawala Publishing, 2011.

__________, Panduan Zakat Menurut Al- Qur’an dan As- Sunnah, Terj. Beni
Sarbeni. Bogor; Pustaka Ibnu Katsir, 2005.

Sari, Elsi Kartika.Pengantar Hukum Zakat dan Wakaf.Jakarta: CikalSakti : 2007.

Sudewo, Eri, Manajemen Zakat. Jakarta: Institut Manajemen Zakat, 2004.

Sudirman, Zakat Dalam Pusaran Arus Modernitas. Malang: UIN malang Pers,
2007.

Sulaimân, Abu Daud bin Ats‟asy, Sunan Abî Daud. Riyâ Maktabah al-Ma‟ârif,
2002.

Tulus. Pedoman Zakat. Jakarta: Direktorat Pemberdayaan Zakat Dirjen Bimbingan


Masyarakat Islam Departemen Agama RI, 2006.
77

Tim Penyusun, Undang- Undang R.I Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan &
Kompilasi Hukum Islam. Bandung: Citra Umbara, 2012.

Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Jakarta: PT


Gramedia Pustaka Utama, 2008.

Tim Penyusun, Ensiklopedi Indonesia. Jakarta: PT Ichtiar Baru – Van Hoeve.

Wahid, Hidayat Nur, Zakat & Peran Negara. Jakarta: Forum Zakat, 2006.

Wawancara Langsung dengan Bapak H. Asnawi, S.Ag Kepala KUA Kecamatan


Limo Kota Depok

Wawancara Langsung dengan Bapak Saiful Millah, S.Ag, Penghulu KUA


Kecamatan Limo Kota Depok

Wiwoho, dkk. Zakat dan Pajak. Jakarta: Bina Rena Pariwara, 1991.

Zuhayli, Wahbah, Al-Fiqh al-Islam wa Adillatuh. Beirut: Dar al-Fikri, 1987.

Zurinal dan Aminuddin, Fiqih Ibadah. Jakarta: Lembaga Peneltian UIN Syarif
Hidayatullah, 2008.

www.academia.edu/9624600/manajemen_lembaga_zakat_di_indonesia

Aliboron, “ Pengelolaan Zakat Di Indonesia Persepektif Peran Negara”. Artikel


diakses pada Tanggal 03 Oktober 2015 dari https://aliboron.wordpress.com
KEMENTERIAN AGAMA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)

SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

Telp. (62-21) 74711537. 7401925 Fax. (62-21) 7491821


. Jln. Ir. H. Juanda No. 95 Cipulat Jakarta 15412. Indonesia Website: www.uinjkt.ac.id E-mail: syar_hukuin@yahoo.com

Nomor :Un.01/F4/PP.00.9/ ((3e/2015 Jakarta, 26 Mei 2015


Lampiran
Perihal : Mohon Kesediaan Menjadi
Pembimbing Skripsi

Kepada Yang Terhormat,


Afwan Faizin, MA
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta)
·Di-
JAKARTA

Assa/amu'a/aikum Wr. Wb.

Pimpinan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


mengharapkan kesediaan Saudara untuk menjadi pembirnbing skripsi mahasiswa :
Nama : Nur Azizah
NIM : 1111044100063
Prodi/Konsentrasi : Peradilan Agama
Judul Skripsi : /mp/ementasi Undang-Undang No. 23 Tahun 2011 Tentang
Penge/o/aan Zakat di KUA Kecamatan D%po Madiun Jawa
Timur

Beberapa hal yang dapat dipertimbangkan adalah sebagai berikut :


1. Topik bahasan dan outline bila dianggap perlu dapat dilakukan perubahan dan
penyempu rn aan.
2. Tehnik penulisan agar merujuk kepada buku "Pedoman Karya IImiah di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta"

Demikian atas kesediaan saudara kami ucapkan terima kasih

Wassa/amu'a/aikum W. W.

Tembusa n :
1. Kasubag Akademik &kemahasiswaan Fakultas Syariah dan Hukum
2. Sekretaris Program Studi Ahwal al Syakhshiyah
3. Arsip
KEMENTERIAN AGAMA

KANTOR URUSAN AGAMA KECAMATAN LIMO


KOTADEPOK
Jl. Limo Tengah No. 71 Telp. (021) 7536182 Kode Pos 16531

SURAT KETERANGAN
Nomor: Kk.l0.22.06/HM.02/538/2015

Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Limo, Kota Depok Provinsi Jawa Barat, dengan ini
menerangkan bahwa:

NO NAMA NIM FAKULTAS / JURUSAN

1 NURAZIZAH 1111044100063 SYARI'AH / AHWAL SYAKHSIAH

Telah melakukan observasi dan wawancara ke Kantor Urusan Agama Kecamatan Limo KOla
Depok - Jawa Barat pada tanggal 14 September 2015.

Demikian surat keterangan llll kami buat dengan sebenarnya agar dapat dipergunakan
sebagaimana mestinya.
HASIL WAWANCARA

DENGAN KEPALA KUA KECAMATAN LIMO

Narasumber : Bapak H. Asnawi, S.Ag

Haril Tanggal : Kamis, 3 September 2015

Waktu : 14.00 sid selesai

Tempat : KUA Kecamatan Limo

1. Bagaimana sejarah berdirinya KUA Kecamatan Limo?

Jawab : Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Limo berrl:ri pada Tahun 1994,

dulunya KUA Kecamatan Limo masih KUA Kemantren, tapi kemudian dipisah

menjadi KUA Kecamatan Limo, Kepala KUA Kecamatan Limo yang pertama

adalah Bapak H. Rohidi, kemudian beliau pensiun pada tahun 1998, kemudian

digantikan oleh bapak Drs. Ngadiono. KUA Kecamatan Limo sudah

mengalami 6 kali pergantian kepala KUA hingga sekarang yang dijabat oleh

bapak Asnawi.

2. Setahu bapak bagaimana kewenangan KUA dalam pengelolaan zakat menurut Undang­

undang No. 38 Tahun 1999 dan Undang- Undang No. 23 Tahun 2011?

Jawab : Dulu pengelolaan Badan amil zakat nya sampek ke kecamatan tapi kalau

sekarang cukup sampek ditingkat kabupaten kota. Dulu juga namanya BAZDA

sekarang BAZNAS. Kalau tingkat kecamatan, ke1urahan atau yang ada di

sekitar masyarakat itu namanya UPZ (unit Pengumpul Zakat). Menurut UU


No. 38 tahun 1999 lembaga pengelola zakat di tingkat kecamatan namanya

BAZ ,kepengurusannya dibentuk oleh panitia atas usul dari Kantor Urusan

Agama (KUA). Jadi KUA hanya memiliki kewenangan mengusulkan kepada

camat untuk dibentuk tim oleh camat, dan tim itulah yang akan bekeIja

menenma laporan untuk menjadi pengurus zakat. Sekarang juga masih begitu.

Cuma namanya Unit Pengumpul Zakat (UPZ), Cuma kalau UPZ tidak boleh

menyalurkan hanya pengumpul. Jadi kalau dulu BAZ sekarang UPZ, tapi kalau

BAZ selain mengumpulkan juga menyalurkan kepada fakir miskin. Kalau UPZ

Cuma mengumpulkan tapi pada kenyataannya tidak begitu, mereka tetap

menyalurkan.

3. Apakah ada perbedaan yang mendasar diantara kedua Undang- Undang tersebut

khususnya tentang kewenangan KUA?

Jawab : ya tentu ada, ya itu tadi tentang kewenangan KUA yang sudah dihapuskan, tidak
seperti dulu lagi.

4. Sudah sesuaikan peran KUA Kecamatan Limo dengan Undang- undang pengelolaan

zakat di Indonesia ini?

Jawab : Va, sudah.

5. Bagaimanakah pendayagunaan dana zakat di KUA Kecamatan Limo ini?

Jawab: untuk orang-orang sekitar saja di Kecamatan Limo ini


HASIL WAWANCARA

DENGAN PEGAWAI KUA KECAMATAN LIMO

Narasumber : Bapak Saiful Millah, S.Ag

Haril Tanggal : Senin, 14 September 2015

Waktu : 12. 00 sid se1esai

Tempat : KUA Kecamatan Limo

I. Bagaimana sejarah berdirinya KUA Kecamatan Limo?

Jawab : Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Limo berdiri pada Tahun

1994, dulunya KUA Kecamatan Limo masih KUA Kemantren, tapi

kemudian dipisah menjadi KUA Kecamatan Limo, Kepala KUA

Kecamatan Limo yang pertama adalah Bapak H. Rohidi, kemudian

beliau pensiun pada tahun 1998, kemudian digantikan oleh bapak

Drs. Ngadiono. KUA Kecamatan Limo sudah mengalami 6 kali

pergantian kepala KUA hingga sekarang yang dijabat oleh bapak

Asnawi.

2. Setahu bapak bagaimana kewenangan KUA dalam pengelolaan zakat menurut

Undang- undang No. 38 Tahun 1999 dan Undang- Undang No. 23 Tahun

2011 ?
Jawab: Menurut Undang- Undang NO. 38 Tahun 1999 Pembentukan BAZ

Provinsi oleh Gubemur, kalau BAZ tingkat kota oleh Bupati/

walikota, nah tingkat kecamatan itu oleh pihak kecamatan dengan

usulan dari pihak KUA, hanya sebatas itulah membentuk BAZ

tingkat kecamatan. Nah saat itu kita pihak KUA didudukkan pada

sekertaris umumnya dalam kepengurusan BAZ, pengelolanya

adalah staf- staf kecamatan sampai kelurahan, jadi secara otomatis

siapapun yang jadi Kepala KUA akan menadi sekertaris umum

dalam BAZ Kecamatan. Jadi sebatas itu aJa. Mengenai

pelaporannya itupun dilaporkan kepada BAZ tingkat kota.

Sedangkan menurut undang- undang No. 23 Tahun 2011 peran itu

dihilangkan, jadi BAZ terakhir hanya sampai tingkat Kota saja. adi

tingkat kecamatan sudah tidak ada, tapi pihak BAZ tingkat kota

berhak membentuk UPZ (unit pengumpul zakat) di wilayah kota

itu. Jadi KUA pun menjadi semacam UPZ (unit pengumpul zakat),

dan pelaporannya pun masuk ke tingkat kota. Dan zakat yang

dikelolla oleh kita itu biasanya memang zakat fitrah, dan kita juga

menggunakan perpanjangan tangan dari P3N (ami I), nah itu

biasanya mitra keIja kita, kita minta bantuan mereka untuk

semacam memberikan laporan saja, laporan tertulis tentang

kumpulan zakat fitrah. Sementara zakat mal biasanya langsung di

laporkan ke BAZ tingkat Kota.


3. Apakah ada perbedaan yang mendasar diantara kedua Undang- Undang

tersebut khususnya tentang kewenangan KUA?

Jawab: wewenang KUA yang tadinya berada di posisi Badan Amil Zakat

yang mengumpulkan dana dari UPZ- UPZ , tapi sekarang kita atau

KUA berada dalam UPZ nya. Yang langsung melaporkan ke BAZ

tingkat kota.

4. Sudah sesuaikan peran KUA Kecamatan Limo dengan Undang- undang

pengelolaan zakat di Indonesia ini?

Jawab : Ya, sudah.

5. Bagaimanakah pendayagunaan dana zakat di KUA Kecamatan Limo ini?

Jawab: Pendayagunaannya memang zakat itu habis dibagi di UPZ

setempat, jadi di masing- masing kelurahan itu ada UPZ masing­

masing, nah itu habis dibagi disitu. Nah kita hanya sebatas

tembusan dalam bentuk angka- angka saja, untuk memberikan

laporan kepada pimpinan kita ke Kemenag Kota Depok, kemudian

sampek provinsi, memang sebatas itu saja memang.


DOKUMENTASI HASIL WAWANCARA DENGAN KUA KECAMATAN LIMO
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 38 TAHUN 1999

TENTANG

PENGELOLAANZAKAT

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MARA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang:
a. bahwa negara Republik Indonesia menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk
beribadat menUIUt agamanya masing-masing;
b. bahwa penunaian zakat merupakan kewajiban umat Islam Indoneia yang mampu dan basil
pengumpulan zakat merupakan sumber dana yang potensial bagi upaya mewujudkan
kesejahteraan masyarakat;
c. bahwa zakat merupakan pranata keagamaan untuk mewujudkan keadilan bagi seluruh
rakyat Indonesia dengan memperhatikan masyarakat yang kurang mampu;
d. bahwa upaya penyempwnaan sistem pengelolaan zakat perlu terus ditingkatkan agar
pelaksanaan zakat lebih berbasil guna dan berdaya guna serta dapat
dipertanggungjawabkan;
e. bahwa berdasarkan hal-hal tersebut pada butir a, b, c, dan d perlu dibentuk Undang­
undang Penge10laan Zakat

Mengingat:
I. Pasal 5 ayat (1), Pasal20 ayat (1), Pasal 29, dan Pasal 34 Undang-undang Dasar 1945;
2. Ketetapan Maje1is Permusyawaratan Rakyat Nomor X/MPR/1998 tentang Pokok-pokok
Reformasi Pembangunan dalam rangka Penyelamatan dan Normalisasi Kehidupan Nasional
sebagai Haluan Negara;
3. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1989 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3400);
4. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Derah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839.

Dengan persetujuan

DEWAN PERWAKILAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN :
Menetapkan :
UNDANG-UNDANG TENTANG PENGELOLAAN ZAKAT

BABI

KETENfUAN UMUM

Pasal1
Dalam Undang-w1dang ini yang dimkasud dengan :
I . Pengelolaan zakat adalah kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan terhadap
pengwnpulan dan pendistribusian serta pendayagw1aan zakat.
2.. Zakat adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang musli atau badan yang dimiliki oleh
orang muslin1 sesuai dengan ketentuan agama untuk diberikan kepada yang berhak
menerm1anya.
3. Muzakki adalah orang atau badan yang dimiliki oleh orang muslim yang berkewajiban
menunaikan zakat.
4. Mustahiq adalah orang atau badan yang berhak menerima zakat.
5. Agama adalah agama Islam.
6. Menteri adalah Menteri yang ruang lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi bidang
agama.

Pasa! 2
Setiap warga negara Indonesia yang beragama Islam dan mampu atau badan yang d.imiliki oleh
orang muslim berkewajiban menunaikan zakat.

Pasal3
PemeJintah berkewajiban memberikan perlindungan, pembinaan dan pelayanan kepada
muzakki, mustahiq dan amil zakat.

BABII

ASAS DAN TUJUAN

Pasal4
Pengelolaan zakat berasaskan iman dan takwa, keterbukaan dan kepastian hukum sesuai denga
Pancasila dan Undang-undang Dasaar 1945.

Pasal5
Pengelolaan zakat bertujuan :
1. meningkatnya pelayanan bagi masyarakat dalam menunaikan zakat sesuai dengan tuntunan
agama;
2. meningkatnya ftmgsi dan peranan pranata keagamaan dalam upaya mewujudkan
kesejahteraan masyaralcat dan keadilan sosial.
3. meningkatnya hasil guna dan daya guna zakat.

BABIII

ORGANISASI PENGELOLAAN ZAKAT

(1) Pengelolaan zakat dilakukan olehb~ang dibentuk oleh pemerintah.


(2) Pembentukan badan amil zakat:
a. nasional oleh Presiden atas usu1 Menteri;
b. daerah propinsi oleh gubemur atas usul kepala kantor wilayah departemen agarna
propins~
c. daerah kabupaten atau daerah kota oleh bupati atau wali kota atas usul kepala kantor
departemen agama kabupaten atau kota;
d. ~atan oleh carnat atas usu1 kepala kantor urusan agama kecarnatan. )
(3) Badan amil zakat di semua tingkatan memiliki hubungan keIja yang bersifat koordinatit:
konsultatif dan informatif.
(4) Pengurus badan amil zakat terdiri atas unsur masyarakat dan pemerintah yang memenuhi
persyaratan tertentu.
(5) Organisasi badan amil zakat terdiri atas unsur pertimbangan, unsur pengawas dan unsur
pelaksana.

Pasal7
(1) Lembaga amil zakat dikukuhkan, dibina, dan dilindungi oleh pemerintah.
(2) Lembaga amil zakat sebagaimana dirnaksud pada ayat (1) hams memenuhi persyaratan
yang diatur lebih lanjut oleh Menteri.
PasaI8
Badan amil zakat sebagaimana dimaksud pada Pasal 6 dan Iembaga amil &lkat sebagaimana
dimaksud pada Pasal 7 memplll1yai tugas pokok mengumpulkan, mendistribusikan dan
mendayagunakan zakat sesuai dengan ketentuan agama.

PasaI9
Dalarn melaksanakan tugasnya, badan amil zakat dan Iembaga amil zakat bertanggoog jawab
kepada pemerintah sesuai dengan tingkatannya.

PasailO
Ketentuan lebih Ianjut mengenai susunan organisasi dan tata ketja badan amil zakat ditetapkan
dengan keputusan menteri.

BABIV

PENGUMPULAN ZAKAT

PasaIII

(l) Zakat terdiri atas zakat mal dan zakat fitrah.


(2) Barta yang dikenai zakat adalah :
a. emas, perak dan uang;
b. perdagangan dan perusahaan;
c. Basil pertanian, perkeblll1an dan perikanan;
d. Basil pertambangan;
e. Basil petemakan;

f Basil pendapatan dan jasa;

g. tikaz
(3) Penghitllllgan zakat mal menurut nishab, kadar clan waktllllya ditetapkan berdasarkan
hukum agarna.

PasaIl2
(l) Pengumpulan zakat dilakukan oleh badan amil zakat dengan earn menerima atau mengarnbil
dari muzakki atas dasar pemberitahuan muzakki.
(2) Badan amil zakat dapat beketja sarna dengan bank dalarn pengumpulan zakat harta
muzakki yang berada di bank atas pennintaan muzakki.

PasaIl3
Badan amil zakat dapat menerima harta selain zakat seperti infaq, shadaqah, wasiat waris dan
kafarat.

PasaIl4
(l) Muzakki melakukan penghitllllgan sendiri hartanya dan kewajiban zakatnya berdasarkan
hukum agama.
(2) Dalam hal tidak dapat menghitllllg sendiri hartaya dan kewajiban zakatnya sebagaimana
dimaksud pada ayat (l), muzakki dapat meminta bantuan kepada badan amil zakat atau
badan ami1 zakat memberikan bantuan kepada muzakki lll1tuk menghitllllgnya.
(3) Zakat yang telah dibayarkan kepada badan amil zakat atau Iembaga amil zakat dikurangkan
dari Iaba/pendapatan sisa kena pajak dari wajib pajak yang bersangkutan sesuai dengan
peraturan pefllllclang- undangan yang beriaku.
Pasal15
Lingkup kewenangan pengumpulan zakat oleh badan amil zakat elitetapkan dengan keputusan
menteri.

BABV

PENDAYAGUNAA.t""J ZAKAT

Pasal16
(1) Hasil pengumpulan zakat elidayagunakan untuk mustahiq sesuai dengan ketentuan agama.
(2) Pendayagunaan basil pengumpulan zakat berdasarkan skala prioritas kebutuhan mustahiq
dan dapat dimanfaatkan untuk usaha yang produkti£
(3) Persyaratan dan prosedur pendayagunaan basil pengumpulan zakat sebagaimana dimaksud
dalam ayat (2) eliatur dengan keputusan menteri.

Pasal17
Hasil penerimaan infaq, shadaqah, wasiat, waris dan ktfarat sebagaimana dimaksud dalam
Pasal13 elidayagunakan terutama untuk usaha yang produktif.

BABVI

PENGAWASAN

Pasal18

(1) Pengawasan terhadap pelaksanaan tugas badan amil zakat dilakukan oleh unsur pengawas
sebagain1ana dimaksud dalam Pasal6 ayat (5).
(2) Pimpinan unsur pengawas elipilili langsung oleh anggota.
(3) Unsur pengawas berkedudukan eli semua tingkatan badan amil zakat.
(4) Dalam melakukan pemeriksaan keuangan badan amil zakat, unsur pengawas dapat meminta
bantuan akuntan publik.

Pasal19
Badan amil zakat memberikan laporan tahunan pelaksanaan tugasnya kepada Dewan
Perwakilan Rakyat Republik Indonesia atau kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sesuai
dengan tingkatannya.

Pasal20
Masyarakat dapat belperan serta dalam pengawasan badan amil zakat dan lembaga amil zakat.

BAB VII
SANKSI

Pasal21
(1) Setiap pengelola zakat yang karena kelalaiannya tidak mencatat atau mencatat dengan tidak
benar harta zakat, infaq, shadaqah, wasiat, hibah, waris dan kafarat sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 8, Pasal 12, Pasal 13 dalam U1dang- undang ini eliancam dengan hukun1an
kurungan selama-lamanya tiga bulan dan atau denda sebanyak-banyaknya Rp.
3.000.000,00 (tiga juta rupiah).
(2) Tindak pidana yang dimaksud pada ayat (1) eli atas merupakan pelanggaran.
(3) Setiap petugas badan amil zakat dan J=etugas lembaga amil zakat yang melakukan tindak
pidana kejahatan dikenai sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
BAB VIII

KETENTUAN-KETENTUAN LAIN

Pasal22
Dalam hal muzakki berada atau menetap di luar negeri, pengmnpulan zakatnya dilakukan oleh
unit pengumpul zakat pada peJWakilan Republik Indonesia, yang selanjutnya diteruskan kepada
badan amil zakat nasional.

Pasal23
Dalam menunjang pelaksanaan tugas badan amil zakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8,
pemerintah wajib membantu operasional badan amil zakat.

BABIX

KETENTUAN PERALIHAN

Pasal24

(l) Semua peraturan perundang-undangan yang mengatur pengelolaan zakat masih tetap
berlaku sepanjang tidak bertentangan danlatau belum diganti dengan peraturan yang bam
berdasarkan Undang-tmdang ini.
(2) Selambat-Iambatnya dua tahun sejak diundangkannya Undang-undang ini, setiap organisasi
pengelolaan zakat yang telah ada wajib menyesuaikan menurut ketentuan Undang-undang
mL

BABX

KETENTUAN PENUTUP

Pasal25
Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan


penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Disahkan di Jakarta

pada tanggal 23 Desember 1999

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

BACHARUDDIN JUSUF RABIBIE


Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 23 September 1999
MEN1ERI NEGARA SEKREfARIS
NEGARA REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
MOLADI

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1999 NOMOR 164


UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 23 TAHUN 2011

TENTANG

PENGELOLAAN ZAKAT

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk


agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan
kepercayaannya itu;
b. bahwa menunaikan zakat merupakan kewajiban bagi umat Islam yang
mampu sesuai dengan syariat Islam;
c. bahwa zakat merupakan pranata keagamaan yang bertujuan untuk
meningkatkan keadilan dan kesejahteraan masyarakat;
d. bahwa dalam rangka meningkatkan daya guna dan hasil guna, zakat
harus dikelola secara melembaga sesuai dengan syariat Islam;
e. bahwa Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan
Zakat sudah tidak sesuai dengan perkembangan kebutuhan hukum dalam
masyarakat sehingga perlu diganti;
f. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a,
huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e perlu membentuk Undang-Undang
tentang Pengelolaan Zakat;

Mengingat Pasal 20, Pasal 21, Pasal 29, dan Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

Dan

PRESIDEN

MEMUTUSKAN:

Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENGELOLAAN ZAKAT.

BABI

KETENTUAN UMUM

Pasal1

Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:


1. Pengelolaan zakat adalah kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan pengoordinasian
dalam pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat.
2. Zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim atau badan usaha untuk
diberikan kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan syariat Islam.
3. Infak adalah harta yang dikeluarkan oleh seseorang atau badan usaha di luar zakat
untuk kemaslahatan umum.
4. Sedekah adalah harta atau nonharta yang dikeluarkan oleh seseorang atau badan
usaha di luar zakat untuk kemaslahatan umum.
5. Muzaki adalah seorang muslim atau badan usaha yang berkewajiban menunaikan zakat.
6. Mustahik adalah orang yang berhak menerima zakat.
7. Badan Amil Zakat Nasional yang selanjutnya disebut BAZNAS adalah lembaga yang
melakukan pengelolaan zakat secara nasional.
8. Lembaga Ami! Zakat yang selanjutnya disingkat LAZ adalah lembaga yang dibentuk
masyarakat yang memiliki tugas membantu pengumpulan, pendistribusian, dan
pendayagunaan zakat.
9. Unit Pengumpul Zakat yang selanjutnya disingkat UPZ adalah satuan organisasi yang
dibentuk oleh BAZNAS untuk membantu pengumpulan zakat.
10. Setiap orang adalah orang perseorangan atau badan hukum.
11. Hak Amil adalah bagian tertentu dari zakat yang dapat dimanfaatkan untuk biaya
operasional dalam pengelolaan zakat sesuai syariat Islam.
12. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang agama.

Pasal2
Pengelolaan zakat berasaskan:
a. syariat Islam;
b. amanah;
c. kemanfaatan;
d. keadilan;
e. kepastian hukum;
f. terintegrasi; dan
g. akuntabilitas.

Pasal3
Pengelolaan zakat bertujuan:
a. meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan dalam pengelolaan zakat; dan
b. meningkatkan manfaat zakat untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan
penanggulangan kemiskinan.

Pasal4
(1) Zakat meliputi zakat mal dan zakat fitrah.
(2) Zakat mal sebagaimana dimaksud pada ayat (1 ) meliputi:
a. emas, perak, dan logam mulia lainnya;
b. uang dan surat berharga lainnya;
c. perniagaan;
d. pertanian, perkebunan, dan kehutanan;
e. peternakan dan perikanan:
f. pertambangan;
g. perindustrian;
h. pendapatan dan jasa; dan
i. rikaz.
(3) Zakat mal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan harta yang dimiliki oleh
muzaki perseorangan atau badan usaha.
(4) Syarat dan tata cara penghitungan zakat mal dan zakat fitrah dilaksanakan sesuai
dengan syariat Islam.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara penghitungan zakat mal dan zakat
fitrah sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri.
BAB II

BADAN AMIL ZAKAT NASIONAL

Bagian Kesatu
Umum

Pasal5
(1) Untuk melaksanakan pengelolaan zakat, Pemerintah membentuk BAZNAS.
(2) BAZNAS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berkedudukan di ibu kota negara.
(3) BAZNAS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan lembaga pemerintah
nonstruktural yang bersifat mandiri dan bertanggung jawab kepada Presiden melalui
Menteri.

Pasal6
BAZNAS merupakan lembaga yang berwenang melakukan tugas pengelolaan zakat secara
nasional.

Pasal7
(1) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, BAZNAS
menyelenggarakan fungsi:
a. perencanaan pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat;
b. pelaksanaan pengumpulan, pendistribusian, dan pendayaglJnaan zakat;
c. pengendalian pengurnpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat; dan
d. pelaporan dan pertanggungjawaban pelaksanaan pengelolaan zakat.
(2) Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. BAZNAS dapat bekerja sama dengan pihak
terkait sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) BAZNAS melaporkan hasil pelaksanaan tugasnya secara tertulis kepada Presiden
melalui Menteri dan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia paling sedikit
1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun.

Bagian Kedua

Keanggotaan

Pasal8

(1) BAZNAS terdiri atas 11 (sebelas) orang anggota.


(2) Keanggotaan BAZNAS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas 8 (delapan)
orang dari unsur masyarakat dan 3 (tiga) orang dari unsur pemerintah.
(3) Unsur masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas unsur ulama,
tenaga profesional, dan tokoh masyarakat Islam.
(4) Un sur pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditunjuk dar; kementerian/
instansi yang berkaitan dengan pengelolaan zakat.
(5) BAZNAS dipimpin oleh seorang ketua dan seorang wakil ketua.

Pasal9
Masa kerja anggota BAZNAS dijabat selama 5 (lima) tahun dan dapat dipilih kembali untuk 1
(satu) kali masa jabatan.

Pasal 10
(1) Anggota BAZNAS diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Menteri.
(2) Anggota BAZNAS dari unsur masyarakat diangkat oleh Presiden atas usul Menteri
setelah mendapat pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
(3) Ketua dan wakil ketua BAZNAS dipilih oleh anggota.

Pasal11
Persyaratan untuk dapat diangkat sebagai anggota BAZNAS sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 10 paling sedikit harus:
a. warga negara Indonesia;
b. beragama Islam;
c. bertakwa kepada Allah SWT;
d. berakhlak mulia;
e. berusia minimal 40 (empat puluh) tahun;
f. sehat jasmani dan rohani;
g. tidak menjadi anggota partai politik;
h. memiliki kompetensi di bidang pengelolaan zakat; dan
i. tidak pernah dihukum karena melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan
pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun.

Pasal 12
Anggota BAZNAS diberhentikan apabila:
a. menil1ggal dunia;
b. habis masa jabatan;
c. mengundurkan diri;
d. tidak dapat melaksanakan tugas selama 3 (tiga) bulan secara terus menerus; atau
e. tidak memenuhi syarat lagi sebagai anggota.

Pasal 13
Ketentuan lebih lanjut mengenai, tata cara pengangkatan dan pemberhentian anggota
BAZNAS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Pasal 14
(1) Dalam melaksanakan tugasnya, BAZNAS dibantu oleh sekretariat.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai organisasi dan tata kerja sekretariat BAZNAS
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Bagian Ketiga

BAZNAS Provinsi dan BAZNAS Kabupaten/Kota

Pasal 15

(1) Dalam rangka pelaksanaan pengelolaan zakat pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota
dibentuk BAZNAS provinsi dan BAZNAS kabupaten/kota.
(2) BAZNAS provinsi dibentuk oleh Menteri atas usul gubernur setelah mendapat
pertimbangan BAZNAS.
(3) BAZNAS kabupaten/kota dibentuk oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk atas usul
bupati/walikota setelah mendapat pertimbangan BAZNAS.
(4) Dalam hal gubernur atau bupati/walikota tidak mengusulkan pembentukan BAZNAS
provinsi atau BAZNAS kabupaten/kota, Menteri atau pejabat yang ditunjuk dapat
membentuk BAZNAS provinsi atau BAZNAS kabupaten/kota setelah mendapat
pertimbangan BAZNAS.
(5) BAZNAS provinsi dan BAZNAS kabupaten/kota melaksanakan tugas dan fungsi
BAZNAS di provinsi atau kabupaten/kota masing-masing.
( p~Sal;)

(1) Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, BAZNAS, BAZNAS provinsi, dan BAZNAS
kabupaten/kota dapat membentuk UPZ pada instansi pemerintah, badan usaha milik
negara, badan usaha milik daerah, perusahaan swasta, dan perwakilan Republik
Indonesia di luar negeri serta dapat membentuk UPZ pada tingkat kecamatan, kelurahan
atau nama lainnya, dan tempat lainnya.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai organisasi dan tata kerja BAZNAS provinsi dan
BAZNAS kabupaten/kota diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Bagian Keempat

Lembaga Amil Zakat

Pasal 17

Untuk membantu BAZNAS dalam pelaksanaan pengumpulan, pendistribusian, dan


pendayagunaan zakat, masyarakat dapat membentuk LAZ.

Pasal 18
(1) Pembentukan LAZ wajib mendapat izin Menteri atau pejabat yang ditunjuk oleh Menteri.
(2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya diberikan apabila memenuhi
persyaratan paling sedikit:
a. terdaftar sebagai organisasi kemasyarakatan Islam yang mengelola bidang
pendidikan, dakwah, dan sosial;
b. berbentuk lembaga berbadan hukum;
c. mendapat rekomendasi dari BAZNAS;
d. memiliki pengawas syariat;
e. memiliki kemampuan teknis, administratif, dan keuangan untuk melaksanakan
kegiatannya;
f. bersifat nirlaba;
g. memiliki program untuk mendayagunakan zakat bagi kesejahteraan umat; dan
h. bersedia diaudit syariat dan keuangan secara berkala.

Pasal19
LAZ wajib melaporkan pelaksanaan pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan
zakat yang telah diaudit kepada BAZNAS secara berkala.

Pasal20
Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan organisasi, mekanisme penzlnan,
pembentukan perwakilan, pelaporan, dan pertanggungjawaban LAZ diatur dalam Peraturan
Pemerintah.

BAB III

PENGUMPULAN, PENDISTRIBUSIAN,

PENDAYAGUNAAN,DANPELAPORAN

Bagian Kesatu

Pengumpulan

Pasal21

(1) Dalam rangka pengumpulan zakat, muzaki melakukan penghitungan sendiri atas
kewajiban zakatnya.
(2) Dalam hal tidak dapat menghitung sendiri kewajiban zakatnya, muzaki dapat meminta
bantuan BAZNAS.

Pasal22
Zakat yang dibayarkan oleh muzaki kepada BAZNAS atau LAZ dikurangkan dari
penghasilan kena pajak.

Pasal23
(1) BAZNAS atau LAZ wajib memberikan bukti setoran zakat kepada setiap muzaki.
(2) Bukti setoran zakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan sebagai pengurang
penghasilan kena pajak.

Pasal24
Lingkup kewenangan pengumpulan zakat oleh BAZNAS, BAZNAS provinsi, dan BAZNAS
kabupaten/kota diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Bagian Kedua

Pendistribusian

Pasal25

Zakat wajib didistribusikan kepada mustahik sesuai dengan syariat Islam.

Pasal26
Pendistribusian zakat, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dilakukan berdasarkan skala
prioritas dengan memperhatikan prinsip pemerataan, keadilan, dan kewilayahan.

Bagian Ketiga

Pendayagunaan

Pasal27

(1) Zakat dapat didayagunakan untuk usaha produktif dalam rangka penanganan fakir
miskin dan peningkatan kualitas umat.
(2) Pendayagunaan zakat untuk usaha produktif sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan apabila kebutuhan dasar mustahik telah terpenuhi.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendayagunaan zakat untuk usaha produktif
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.

Bagian Keempat

Pengelolaan Infak, Sedekah,

dan Dana Sosial Keagamaan Lainnya

Pasal28

(1) Selain menerima zakat, BAZNAS atau LAZ juga dapat menerima infak, sedekah, dan
dana sosial keagamaan lainnya.
(2) Pendistribusian dan pendayagunaan infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan
lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan syariat Islam dan
dilakukan sesuai dengan peruntukkan yang diikrarkan oleh pemberi.
(3) Pengelolaan infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya harus dicatat dalam
pembukuan tersendiri.
Bagian Kelima

Pelaporan

Pasal29

(1) BAZNAS kabupaten/kota wajib menyampaikan laporan pelaksanaan pengelolaan zakat,


infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya kepada BAZNAS provinsi dan
pemerintah daerah secara berkala.
(2) BAZNAS provinsi wajib menyampaikan laporan pelaksanaan pengelolaan zakat, infak,
sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya kepada BAZNAS dan pemerintah daerah
secara berkala.
(3) LAZ wajib menyampaikan laporan pelaksanaan pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan
dana sosial keagamaan lainnya kepada BAZNAS dan pemerintah daerah secara
berkala.
(4) BAZNAS wajib menyampaikan laporan pelaksanaan pengelolaan zakat, infak, sedekah,
dan dana sosial keagamaan lainnya kepada Menteri secara berkala.
(5) Laporan neraca tahunan BAZNAS diumumkan melalui media cetak atau media
elektronik.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaporan BAZNAS kabupaten/kota, BAZNAS provinsi,
LAZ, dan BAZNAS diatur dalam Peraturan Pemerintah.

BAB IV

PEMBIAYAAN

Pasal30
Untuk melaksanakan tugasnya, BAZNAS dibiayai dengan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara dan Hak Ami/.

Pasal31
(1) Dalam melaksanakan tugasnya, BAZNAS provinsi dan BAZNAS kabupaten/kota
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) dibiayai dengan Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah dan Hak Ami!.
(2) Selain pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) BAZNAS provinsi dan
BAZNAS kabupaten/kota dapat dibiayai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara.

Pasal32
LAZ dapat menggunakan Hak Amil untuk membiayai kegiatan operasiona/.

Pasal33
(1) Pembiayaan BAZNAS dan penggunaan Hak Ami! sebagaimana dimaksud dalam Pasal
30, Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 32 diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah.
(2) Pelaporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dan pembiayaan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 dan Pasal 31 dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

BABV

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Pasal 34
(1) Menteri melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap BAZNAS, BAZNAS
provinsi, BAZNAS kabupaten/kota, dan LAZ.
(2) Gubernur dan bupati/walikota melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap
BAZNAS provinsi, BAZNAS kabupaten/kota, dan LAZ sesuai dengan kewenangannya.
(3) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) meliputi fasilitasi,
sosialisasi, dan edukasi.

BABVI

PERAN SERTA MASYARAKAT

Pasal35
(1) Masyarakat dapat berperan serta dalam pembinaan dan pengawasan terhadap BAZNAS
dan LAZ.
(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam rangka:
a. meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menunaikan zakat melalui BAZNAS dan
LAZ; dan
b. memberikan saran untuk peningkatan kinerja BAZNAS dan LAZ.
(3) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam bentuk:
a. akses terhadap informasi tentang pengelolaan zakat yang dilakukan oleh BAZNAS
dan LAZ; dan
b. penyampaian informasi apabila terjadi penyimpangan dalam pengelolaan zakat yang
dilakukan oleh BAZNAS dan LAZ.

BAB VII

SANKSI ADMINISTRATIF

Pasal36
(1) Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19, Pasal 23 ayat
(1), Pasal 28 ayat (2) dan ayat (3), serta Pasal 29 ayat (3) dikenai sanksi administratif
berupa:
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara dari kegiatan; dan/atau
c. pencabutan izin.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.

BAB VIII

LARANGAN

Pasal37
Setiap orang dilarang melakukan tindakan memiliki, menjaminkan, menghibahkan, menjual,
dan/atau mengalihkan zakat, infak, sedekah, dan/atau dana sosial keagamaan lainnya yang
ada dalam pengelolaannya.

Pasal38
Setiap orang dilarang dengan sengaja bertindak selaku amil zakat melakukan pengumpulan,
pendistribusian, atau pendayagunaan zakat tanpa izin pejabat yang berwenang.
BABIX

KETENTUAN PIDANA

Pasal39
Setiap orang yang dengan sengaja melawan hukum tidak melakukan pendistribusian zakat
sesuai dengan ketentuan Pasal 25 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima)
tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,OO (lima ratus juta rupiah).

Pasal40
Setiap orang yang dengan sengaja dan melawan hukum melanggar ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 37 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun
dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Pasal41
Setiap orang yang dengan sengaja dan melawan hukum melanggar ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 38 dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun
dan/atau pidana denda paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

Pasal42
(1) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 dan Pasal 40 merupakan
kejahatan.
(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 merupakan pelanggaran.

BABX

KETENTUAN PERALIHAN

Pasal43
(1) Badan Amil Zakat Nasional yang telah ada sebelum Undang-Undang ini berlaku tetap
menjalankan tugas dan fungsi sebagai BAZNAS berdasarkan Undang-Undang ini
sampai terbentuknya BAZNAS yang baru sesuai dengan Undang-Undang ini.
(2) Badan Ami! Zakat Daerah Provinsi dan Badan Amil Zakat Daerah kabupaten/kota yang
telah ada sebelum Undang-Undang ini berlaku tetap menjalankan tugas dan fungsi
sebagai BAZNAS provinsi dan BAZNAS kabupaten/kota sampai terbentuknya
kepengurusan baru berdasarkan Undang-Undang ini.
(3) LAZ yang telah dikukuhkan oleh Menteri sebelum Undang-Undang ini berlaku
dinyatakan sebagai LAZ berdasarkan Undang-Undang ini.
(4) LAZ sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib menyesuaikan diri paling lambat 5
(lima) tahun terhitung sejak Undang-Undang ini diundangkan.

BABXI

KETENTUAN PENUTUP

Pasal44
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, semua Peraturan Perundang-undangan
tentang Pengelolaan Zakat dan peraturan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 38 Tahun
1999 tentang Pengelolaan Zakat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor
164; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3885) dinyatakan masih tetap
berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini.

Pasal45
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999
tentang Pengelolaan Zakat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 164;
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3885) dicabut dan dinyatakan tidak
berlaku.

Pasal46
Peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang ini harus ditetapkan paling lama 1 (satu) tahun
terhitung sejak Undang-Undang ini diundangkan.

Pasal47
Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini
dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Disahkan di Jakarta
pada tanggal 25 November 2011
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 25 November 2011
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

AMIR SYAMSUDIN

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2011 NOMOR 115


LAPORAN HASIL PENGUMPULAN ZAKAT FITRAH, ZAKAT MAAL, INFAQ DAN SHODAQOH

TAHUN 1436 H /2015 M

KECAMATAN LIMO

HASIL PENGUMPULAN PENDISTRIBUSIAN


JUMLAH
KELURAHA JUMLAH
NO MUZAKK ZAKAT FITRAH ZAKAT ZAKAT FITRAH ZAKAT MAAL & INFAQ KET
N INFAQ JUMLAH MUSTAHIK
I BERAS UANG MAAL BERAS UANG UPZ Kel. UPZ Ket. UPZ Kota JUMLAH
Liter Rp. Rp. Rp. Rp. Uter Rp. 10"" 30% 20% Rp.

1 LIMO 11,800 15,755 200,849,000.00 57,540,000.00 127,526,000.00 385,915,000.00 1,168 15,755 200,849,000.00 500,000.00 1,500,000.00 1,000,000.00 3,000,000.00

2 GROGOl 14,944 26,141.50 218,444,000.00 0.00 57,564,000.00 276,008,000.00 1,666 26,141.50 218,444,000.00 500,000.00 1,500,000.00 1,000,000.00 3,000,000.00

3 KRUKUT 10,568 10,829 264,225,000.00 25,625,000.00 4,600,000.00 294,450,000.00 1,888 10,829 264,225,000.00 500,000.00 1,500,000.00 1,000,000.00 3,000,000.00

4 MERUYUNG 11,106 146,525 136,855,000.00 0.00 0.00 136,855,000.00 6,491 146,525 136,855,000.00 500,000.00 1,500,000.00 1,000,000.00 3,000,000.00

JUMLAH 48,418 199,251 544,208,463.75 83,165,000.00 189,690,000.00 1,093,228,000.00 11,213 199,251 820,373,000.00 2,000,000.00 6,000,000.00 4,000,000.00 12,000,000.00

Mengetahui,

Ketua SAZ Kec. Limo Sekretaris

Nita Ita Hernita, SH, M.Si H. NGATONO, S.Sos


NIP: 19741011199803 2 005 Nip. 19680509199003 1005
LAPORAN HASIL PENGUMPULAN lAKAT FITRAH, lAKAT MAAL, INFAQ DAN SHODAQOH

TAHUN 1434 H /2013 M

KECAMATAN LIMO

HASIL PENGUMPULAN
JUMLAH
NO KELURAHAN ZAICAT FITRAH ZAICAT ZAKAT MAAL & INFAQ KEY
MUZAKKI INFAQ JUMLAH
BERAS UANG MAAL BERAS UANG MSTHK BAZ Ket. BAZ Kota JUMLAH
Liter Rp. Rp. Rp. Rp. Liter Rp.

1 LIMO 12,063 15,423 191,436,000.00 38,184,000.00 55,197,700.00 284,817,700.00 15,423 191,436,000.00 6,031 450,000.00 150,000.00 600,000.00

2 GROGOL 11,127 21.724,50 108,426,775.00 0.00 2,900,000.00 111,326,775.00 21.724,50 108,426,775.00 1,525 450,000.00 150,000.00 600,000.00

3 KRUKUT 8,156 13,155 140,391)000.00 6,150,000.00 11,385,000.00 157,926,000.00 13,155 140,391,000.00 1,731 450,000.00 150,000.00 600,000.00

4 MERUYUNG 9,866 23,951 78,040,000.00 0.00 0.00 78,040,000.00 23,951 78,040,000.00 4,379 450,000.00 150,000.00 600,000.00

JUMLAH 41,212 52,529 518,293,175.00 44,334,000.00 69,482,700.00 632,110,475.00 52,529 518,293,775.00 13,666.00 1,800,000.00 600,000.00 2,400,000.00

Mengetahui,

Ketua BAZ Kec. Sekretaris

( )
LAPORAN HASll PENGUMPULAN ZAKAT FITRAH, ZAKAT MAAl, INFAQ DAN SHODAQOH

TAHUN 1433 H /2012 M

KECAMATAN LIMO

HASIL PENGUMPULAN PENDISTRIBUSIAN


JUMLAH
NO KELURAHAN ZAKAT FITRAH ZAKAT ZAKAT FITRAH ZAKAT MAAL & INFAQ KET
MUZAKKI INFAQ JUMLAH
BERAS UANG MAAL JIWA BERAS UANG MSTHK BAl Kec. BAZ Kota JUMLAH
Liter Rp. Rp. Rp. Rp. JUMLAH Liter Rp.

1 LIMO 12,063 15,423 191,436,000.00 38,184,000.00 55,197,700.00 284,817,700.00 6,031 15,423 191,436,000.00 6,031 450,000.00 150,000.00 600,000.00

2 GROGOL 11,127 21.724,50 108,426,775.00 0.00 2,900,000.00 111,326,775.00 1,525 21.724,50 108,426,775.00 1,525 450,000.00 150,000.00 600,000.00

3 KRUKUT 8.156 13,155 140,391,000.00 6,150,000.00 11,385,000.00 157,926,000.00 1,731 13,155 140,391,000.00 1,731 450,000.00 150,000.00 GOO,OOO.OO

4 MERUYUNG 9,866 23,951 78,040,000.00 0.00 0.00 78,040,000;00 4,379 23,951 78,040,000.00 4,379 450,000.00 150,000.00 600,000.00

JUMLAH 41,212 52,529 518,293,175.00 44,334,000.00 69,482,700.00 632,110,475.00 13,666 52,529 518,293,775.00 13,666.00 1,800,000.00 600,000.00 2,400,000.00

Mengetahui,

Ketua BAZ Kec. Sekretaris

( ) ( )

'"