Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara
disebutkan bahwa Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disingkat ASN adalah
Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja
(PPPK) yang bekerja pada instansi pemerintah. Selanjutnya yang dimaksud dengan Pegawai
Negeri Sipil (PNS) adalah warga negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu,
diangkat sebagai Pegawai ASN secara tetap oleh Pejabat Pembina Kepegawaian
(PPK) untuk menduduki jabatan pemerintahan. Sebagai Aparatur Sipil Negara,
PNS mempunyai tugas melaksanakan kebijakan publik yang dibuat oleh Pejabat
Pembina Kepegawaian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,
memberikan pelayanan publik yang profesional dan berkualitas, dan mempererat
persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Keberadaan ASN diharapkan dapat mewujudkan cita-cita besar bangsa
Indonesia sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang - undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang diantaranya yaitu membentuk suatu
Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap Bangsa Indonesia, memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa serta ikut melaksanakan
ketertiban dunia.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan
Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil (PNS), ditetapkan bahwa salah satu jenis
diklat yang strategis untuk mewujudkan PNS sebagai bagian dari ASN yang
profesional sebagaimana tersebut di atas adalah Diklat Pelatihan Dasar. Diklat
Pelatihan Dasar pola baru dilaksanakan dengan sistem internalisasi nilai - nilai
dasar profesi ASN yang diakronimkan sebagai ANEKA (Akuntabilitas,
Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi) kemudian
dituangkan dalam suatu dokumen yang disebut laporan aktualisasi nilai dasar
sebagai pedoman dalam melaksanakan kegiatan aktualisasi pada instansi tempat
bekerja. Aktualisasi nilai dasar merupakan suatu proses untuk membuat kelima

1
nilai dasar (ANEKA) menjadi aktual atau nyata terjadi serta sesuai dengan tugas
pokok dan fungsi (tupoksi) di unit kerja, dalam hal ini tugas asisten apoteker di
instalasi farmasi di dinas kesehatan, pengendalian penduduk dan kb sebagai
pelaksana kegiatan, dimana kegiatan yang dilakukan salah satunya melakukan
penaataan obat dan bahan medis habis pakai yang dimana penataan tersebut dapat
mempengaruhi jumlah obat yang expired date, penyaluran obat ke puskesmas dan
dapat berpengaruh kepada Negara. Maka dari itu pentingnya dilakukan penataan
obat yang benar sehingga dapat meminimalisir hal-hal tersebut, oleh karna itu
penulis menyimpulkan permasalahan yang dapat di angkat melalui aktualisasi ini
yaitu “Belum Optimalnya Penataan Obat Dan Bahan Medis Habis Pakai Di
Instalasi Farmasi Di Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk Dan Keluarga
Berencana”.

1.2 Gambaran Singkat Organisasi


Kabupaten Banggai Laut merupakan salah satu dari 13 (tiga belas)
kabupaten/kota yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah terletak 10 06’ 30” Lintang
Selatan sampai dengan 10 35’ 58” Lintang Selatan dan 1220 37’ 6,3” Bujur Timur
sampai dengan 1230 40’ 1,9” Bujur Timur di Jazirah Timur Laut Pulau Sulawesi.
Komposisi ketinggian daratan wilayah Kabupaten Banggai Laut dari permukaan
laut 100% (seratus persen) termasuk kategori elavasi kurang dari 500 meter. Suhu
udara maksimum terjadi di Bulan Februari yaitu sebesar 32,20C sedangkan suhu
udara minimum terjadi di bulan Juni yaitu sebesar 24,0 0C. Begitupun dengan
curah hujan berkisar antara 8 hari (Agustus) dan 21 hari (Maret) serta rata-rata
kecepatan angin berkisar 2,1 knot dan 4,9 knot. Tekanan udara maksimum terjadi
di bulan Juli sedangkan tekanan udara minimum terjadi di bulan November.
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2013
tentang Pembentukan Kabupaten Banggai Laut di Provinsi Sulawesi Tengah
bahwa Kabupaten Banggai Laut merupakan kabupaten bahari dengan luas daratan
sebesar 725,67 km2 dan luas lautan sebesar 12.156,78 km². Kabupaten Banggai
Laut dipimpin oleh Bupati dibantu Wakil Bupati dan Sekretaris Daerah yang
membawahi 3 (tiga) asisten Sekretaris Daerah dengan 13 (tigabelas) Kepala

2
Dinas, 4 (empat) Kepala Badan, 7 (tujuh) Kepala Kantor, 1 inspektorat serta 1
Rumah Sakit Daerah.
Secara administratif Kabupaten Banggai Laut mempunyai batasan wilayah
sebagai berikut :
a. Sebelah utara berbatasan dengan Laut Maluku, Selat Kalumbatan dan Selat
Bangkurung, Kabupaten Banggai Kepulauan;
b. Sebelah timur berbatasan dengan Laut Maluku
c. Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Banda dan
d. Sebelah barat berbatasan dengan Teluk Tolo

Peta Kabupaten Banggai Laut

Wilayah pemerintahan Kabupaten Banggai Laut terbagi atas 7 (tujuh)


kecamatan, 63 (enam puluh tiga) desa dan 3 (tiga) Kelurahan. Tabel tersebut
menunjukkan luas wilayah per kecamatan yang tersebar di Kabupaten Banggai
Laut.

3
Tabel. 1
Luas Wilayah Kecamatan dan Jumlah Desa Per Kecamatan
di Kabupaten Banggai Laut Tahun 2017
Luas Wilayah (km2)
Kecamatan
Darat % Laut % Jumlah
1. Banggai 86.95 11.53 667.34 88.47 754.29
2. Banggai Utara 58.05 11.53 445.54 88.47 503.59
3. Banggai Tengah 68.19 11.53 523.36 88.47 591.55
4. Banggai Selatan 81.20 11.53 623.21 88.47 704.41
5. Labobo 85.65 4.30 1907.33 95.70 1 992.98
6. Bangkurung 116.55 4.30 2595.44 95.70 2 711.99
7. Bokan Kepulauan 229.08 4.07 539456 95.93 5 623.64
Jumlah 725.67 5.63 12 156.78 94.37 12 882.45
Sumber : Badan Pusat Statistik Kab. Banggai Kepulauan, Tahun 2017

Dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan Kabupaten Banggai Laut,


pemerintah daerah khususnya di sektor kesehatan dan Keluarga Berencana
memiliki tantangan yang sangat besar menghadapi keadaan geografis wilayah
yang didominasi oleh perairan. Oleh karena itu diperlukan kerjasama antar
Pemerintah daerah dan masyarakat dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan
masyarakat yang setingi-tingginya.

1.3 Visi Dan Misi Organisasi


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten
Banggai Laut Tahun 2015–2019 telah menetapkan visi Kabupaten yaitu “Banggai
Laut yang Maju, Berkepribadian, Makmur dan Sejahtera”. Ada 4 (empat) Misi
yang ditempuh untuk mencapai Visi dimaksud yaitu:
a. Mewujudkan tata pemerintahan yang berpihak kepada rakyat yang berbasis
etos kerja melayani.
b. Membina dan melestarikan kehidupan sosial dan kemasyarakatan yang
agamis dan berbudaya.

4
c. Mengoptimalkan pengelolaan dan pemanfaatan potensi daerah untuk
kemakmuran rakyat.
d. Memperluas jaringan sosial ekonomi secara regional, maupun nasional demi
kesejahteraan rakyat.
Dari ke empat misi RPJMD Kabupaten Banggai Laut diatas, sektor
kesehatan masuk kepada misi ke tiga yaitu mengoptimalkan pengelolaan dan
pemanfaatan potensi daerah untuk kemakmuran rakyat. Berdasarkan RPJMD
Kabupaten Banggai Laut tersebut, maka disusunlah rencana strategik Dinas
Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana tahun 2016-2021
dengan visi “Terwujudnya Kemandirian Sehat dan Kemandirian Keluarga Pada
Masyarakat Banggai Laut Tahun 2021” yang merupakan gambaran masyarakat
Banggai Laut dimasa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan
yang ditandai oleh masyarakat hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku hidup
sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang
bermutu dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Sebagai upaya untuk mencapai visi yang telah ditentukan maka disusunlah
misi Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana tahun
2016-2021 sebagai berikut :
a. Meningkatkan derajat kesehatan perorangan, keluarga dan
masyarakat,dengan lingkungan yang sehat, sejuk dan nyaman.
b. Mendorong kemandirian lokal dalam penyelenggaraan dan peningkatan
pelayanan kesehatan dan keluarga berencana yang bermutu, merata dan
terjangkau.
c. Mendorong pemberdayaan masyarakat untuk hidup sehat dan mewujudkan
keluarga berkualitas.
d. Melaksanakan reformasi bidang kesehatan, pengendalian penduduk dan
keluarga berencana berdasarkan prinsip demokrasi, transparansi dan
akuntabilitas.

1.4 Tugas Dan Fungsi Jabatan

5
Adapun tugas dan fungsi tenaga teknis kefarmasian khususnya di instalasi
farmasi yaitu ikut serta dalam perencanaa pengadaan sediaan farmasi, Memeriksa
sediaan farmasi yang habis, memeriksa dan mengendalikan sediaan farmasi yang
mendekati waktu kadaluarsa, menyimpan sediaan farmasi sesuai dengan
golongannya, dan menerima pesanan sediaan farmasi dari sarana pelayanan
kesehatan.

1.5 Tujuan Aktualisasi


a. Mengidentifikasi nilai-nilai dasar profesi ASN yaitu indikator-indikator
pada ANEKA yang terkandung dalam setiap tugas.
b. Mengaktualisasikan nilai-nilai dasar profesi ASN yaitu indikator-
indikator pada ANEKA di setiap pekerjaan yang dilakukan.
c. Menganalisis dampak jika kegiatan aktualisasi dan nilai dasar ANEKA
tidak ditetapkan.

1.6 Manfaat Aktualisasi


1. Manfaat bagi penulis
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari rancangan aktualisasi ini
diharapkan dapat menjadi perhatian lebih bagi penulis dalam penataan obat
dan BMHP sehingga dapat mengurangi terjadinya expired date pada obat
dan BMHP.

2. Manfaat bagi Organisasi


Organisasi yang berhasil dapat dinilai dari tercapainya visi-misi
organisasi. Dengan adanya laporan rancangan aktualisasi ini, maka penulis
berharap dapat bermanfaat pada terlaksananya tata kelola organisasi yang
baik yang bersumber dari nilai-nilai ANEKA.

BAB II

6
RANCANGAN AKTUALISASI HABITUASI

2.1 Nilai – nilai Dasar Aparatur Sipil Negara ( ASN )


1. Akuntabilitas
a. Pengertian akuntabilitas
Akuntabilitas merujuk pada kewajiban setiap individu,
kelompok atau institusi untuk memenuhi tanggung jawab yang
menjadi amanahnya. Amanah seorang PNS adalah menjamin
terwujudnya nilai-nilai publik.
Nilai-nilai publik tersebut meliputi:
1) Mampu mengambil pilihan yang tepat dan benar ketika terjadi
konflik kepentingan, antara kepentingan publik dengan
kepentingan sektor, kelompok, dan pribadi;
2) Memiliki pemahaman dan kesadaran untuk menghindari dan
mencegah keterlibatan PNS dalam politik praktis;
3) Memperlakukan warga negara secara sama dan adil dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik; dan
4) Menunjukan sikap dan perilaku yang konsisten dan dapat
diandalkan sebagai penyelenggara pemerintahan.
b. Aspek-aspek Akuntabilitas
Aspek-aspek akuntabilitas antara lain:
1) Akuntabilitas adalah sebuah hubungan (Accountability is a
relationship)
Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua pihak
antara individu/kelompok/institusi dengan negara dan
masyarakat.Pemberi kewenangan bertanggung jawab
memberikan arahan yang memadai,bimbingan, dan
mengalokasikan sumber daya sesuai dengan tugas dan
fungsinya.Di sisi lain, individu, kelompok, maupun institusi
bertanggung jawab untuk memenuhi semua kewajibannya.

7
2) Akuntabilitas berorientasi pada hasil (Accountability is results-
oriented)
Hasil yang diharapkan dari akuntabilitas adalah perilaku
aparat pemerintah yang bertanggung jawab, adil dan
inovatif.Dalam hal ini, setiap individu, kelompok, maupun
institusi dituntut untuk bertanggung jawab dalam menjalankan
tugas dan kewajibannya, serta selalu bertindak dan berupaya
untuk memberikan kontribusi untuk mencapai hasil yang
maksimal.
3) Akuntabilitas membutuhkan adanya laporan (Accountability
requiers reporting)
Laporan kinerja adalah perwujudan dari akuntabilitas.
Dengan memberikan laporan kinerja berarti mampu
menjelaskan terhadap tindakan danhasil yang telah dicapai oleh
individu, kelompok, maupun institusi, serta mampu memberikan
bukti nyata dari hasil dan proses yang telah dilakukan. Dalam
dunia birokrasi, bentuk akuntabilitas setiapindividu berwujud
suatu laporan yang didasarkan pada kontrak kerja, sedangkan
untuk institusi adalah LAKIP (Laporan Akuntabilitas Kinerja
Instansi Pemerintah).
4) Akuntabilitas memerlukan konsekuensi (Accountability is
meaningless without consequences)
Akuntabilitas adalah kewajiban.Kewajiban menunjukkan
tanggungjawab, dan tanggungjawab menghasilkan
konsekuensi.Konsekuensi tersebut dapat berupa penghargaan
atau sanksi.
5) Akuntabilitas memperbaiki kinerja (Accountability improves
performance)
Tujuan utama dari akuntabilitas adalah untuk memperbaiki
kinerja PNS dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Dalam pendekatan akuntabilitas yang bersifat proaktif

8
(proactive accountability), akuntabilitas dimaknai sebagai
sebuah hubungan dan proses yang direncanakan untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan sejak awal, penempatan sumber
daya yang tepat, dan evaluasi kinerja.
c. Pentingnya Akuntabilitas
Akuntabilitas publik memiliki tiga fungsi utama (Bovens, 2007),
yaitu:
1) Untuk menyediakan kontrol demokratis (peran demokrasi);
dengan membangun suatu sistem yang melibatkan stakeholders
dan users yang lebih luas (termasuk masyarakat, pihak swasta,
legislatif, yudikatif dan di lingkungan pemerintah itu sendiri
baik di tingkat kementrian, lembaga maupun daerah);
2) Untuk mencegah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan (peran
konstitusional); dan
3) Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas (peran belajar).
d. Tingkatan dalam Akuntabilitas
Tingkatan dalam akuntabilitas digambarkan dalam bagan berikut
ini:

Gambar 1. Tingkat Akuntabilitas


Keterangan:
1) Akuntabilitas Personal (Personal Accountability)
Akuntabilitas personal mengacu pada nilai-nilai yang ada
pada diri seseorang seperti kejujuran, integritas, moral, dan
etika. Pertanyaan yang digunakan untuk mengidentifikasi
apakah seseorang memiliki akuntabilitas personal antara lain
“Apa yang dapat saya lakukan untuk memperbaiki situasi dan

9
membuat perbedaan?”.
2) Akuntabilitas Individu
Akuntabilitas individu mengacu pada hubungan antara
individu dan lingkungan kerjanya, yaitu antara PNS dengan
instansinya sebagai pemberi kewenangan.Pemberi kewenangan
bertanggung jawab untuk memberikan arahan yang memadai,
bimbingan, dan sumber daya serta menghilangkan hambatan
kinerja, sedangkan PNS sebagai aparatur negara bertanggung
jawab untuk memenuhi tanggung jawabnya.Pertanyaan penting
yang digunakan untuk melihat tingkat akuntabilitas individu
seorang PNS adalah apakah individu mampu untuk mengatakan
“Ini adalah tindakan yang telah saya lakukan, dan ini adalah apa
yang akan saya lakukan untuk membuatnya menjadi lebih baik”.
3) Akuntabilitas Kelompok
Kinerja sebuah institusi biasanya dilakukan atas kerjasama
kelompok.Dalam hal ini tidak ada istilah “Saya”, tetapi yang ada
adalah “Kami”.Dalam kaitannya dengan akuntabilitas
kelompok, maka pembagian kewenangan dan semangat
kerjasama yang tinggi antar berbagai kelompok yang ada dalam
sebuah institusi memainkan peranan yang penting dalam
tercapainya kinerja organisasi yang diharapkan.
4) Akuntabilitas Organisasi
Akuntabilitas organisasi mengacu pada hasil pelaporan
kinerja yang telah dicapai, baik pelaporan yang dilakukan oleh
individu terhadap organisasi/institusi maupun kinerja organisasi
kepada stakeholders lainnya.
5) Akuntabilitas Stakeholder
Stakeholder yang dimaksud adalah masyarakat umum,
pengguna layanan dan pembayar pajak yang memberikan
masukan, saran, dan kritik terhadap kinerjanya.Jadi,
akuntabilitas stakeholder adalah tanggung jawab organisasi

10
pemerintah untuk mewujudkan pelayanan dan kinerja yang adil,
responsif dan bermartabat.
e. Menciptakan Lingkungan Kerja yang Akuntabel
Untuk menciptakan lingkungan kerja yang akuntabel, terdapat
beberapa indikator yang harus terpenuhi, yaitu:
1) Kepemimpinan
Lingkungan yang akuntabel tercipta dari atas ke bawah
dimana pimpinan memainkan peranan yang penting dalam
menciptakan lingkungannya. Pimpinan mempromosikan
lingkungan yang akuntabel dapat dilakukan dengan memberikan
contoh pada orang lain (lead by example), adanya komitmen
yang tinggi dalam melakukan pekerjaan sehingga memberikan
efek positif bagi pihak lain untuk berkomitmen pula,
terhindarnya dari aspek-aspek yang dapat menggagalkan kinerja
yang baik yaitu hambatan politis maupun keterbatasan sumber
daya, sehinggadengan adanya saran dan penilaian yang adil dan
bijaksana dapat dijadikan sebagai solusi.
2) Transparansi
Tujuan dari adanya transparansi adalah:
 Mendorong komunikasi yang lebih besar dankerjasama
antara kelompok internal dan eksternal;
 Memberikan perlindungan terhadap pengaruh yang tidak
seharusnya dan korupsi dalam pengambilan keputusan;
 Meningkatkan akuntabilitas dalam keputusan-keputusan;
 Meningkatkan kepercayaan dan keyakinan kepada pimpinan
secara keseluruhan.
3) Integritas
Dengan adanya integritas menjadikan suatu kewajiban untuk
menjunjung tinggi dan mematuhi semua hukum yang berlaku,
Undang-undang, kontrak, kebijakan, dan peraturan yang berlaku.
Dengan adanya integritas institusi, dapat memberikan kepercayaan
dan keyakinan kepada publik dan/atau stakeholders.
4) Tanggungjawab (Responsibilitas)

11
Responsibilitas institusi dan responsibilitas perseorangan
memberikan kewajiban bagi setiap individu dan lembaga, bahwa ada
suatu konsekuensi dari setiap tindakan yang telah dilakukan, karena
adanya tuntutan untuk bertanggungjawab atas keputusan yang telah
dibuat. Responsibilitas terbagi menjadi :
(a) Responsibiltas Perseorangan:
Adanya pengakuan terhadap tindakan yang telah
diputuskan dan tindakan yang telah dilakukan. Adanya
pengakuan terhadap etika dalam pengambilan keputusan.
Adanya keterlibatan konstituen yang tepat dalam keputusan.
(b) Responsibilitas Institusi:
Adanya perlindungan terhadap publik dan sumber daya.
Adanya pertimbangan kebaikan yang lebih besar dalam
pengambilan keputusan. Adanya penempatan PNS dan individu
yang lebih baik sesuai dengan kompetensinya. Adanya kepastian
kebijakan dan prosedur yang ditetapkan dan fungsinya untuk
melindungi sumber daya organisasi.
5) Keadilan
Keadilan adalah landasan utama dari akuntabilitas. Keadilan
harus dipelihara dan dipromosikan oleh pimpinan pada lingkungan
organisasinya. Oleh sebab itu, ketidakadilan harus dihindari karena
dapat menghancurkan kepercayaan dan kredibilitas organisasi yang
mengakibatkan kinerja akan menjadi tidak optimal.

6) Kepercayaan
Rasa keadilan membawa pada sebuah kepercayaan. Kepercayaan
ini akan melahirkan akuntabilitas. Dengan kata lain, lingkungan
akuntabilitas tidak lahir dari hal-hal yang tidak dapat dipercaya.
7) Keseimbangan
Untuk mencapai akuntabilitas dalam lingkungan kerja, maka
diperlukan adanya keseimbangan antara akuntabilitas dan
kewenangan, serta harapan dan kapasitas. Setiap individu yang ada di
lingkungan kerja harus dapat menggunakan kewenangannya untuk
meningkatkan kinerja. Adanya peningkatan kerja juga memerlukan
adanya perubahan kewenangan sesuai kebutuhan yang dibutuhkan.
Selain itu, adanya harapan dalam mewujudkan kinerja yang baik juga
harus disertai dengan keseimbangan kapasitas sumber daya dan
keahlian (skill) yang dimiliki.
8) Kejelasan
Kejelasan juga merupakan salah satu elemen untuk menciptakan
dan mempertahankan akuntabilitas. Agar individu atau kelompok
dalam melaksanakan wewenang dan tanggung jawabnya dikatakan
akuntabel, mereka harus memiliki gambaran yang jelas tentang apa
yang menjadi tujuan dan hasil yang diharapkan. Dengan demikian,
fokus utama untuk kejelasan adalah mengetahui kewenangan, peran

12
dan tanggungjawab, misi organisasi, kinerja yang diharapkan
organisasi, dan sistem pelaporan kinerja baik individu maupun
organisasi.
9) Konsistensi
Konsistensi menjamin stabilitas. Penerapan yang tidak konsisten
dari sebuah kebijakan, prosedur, sumber daya akan memiliki
konsekuensi terhadap tercapainya lingkungan kerja yang tidak
akuntabel, akibat melemahnya komitmen dan kredibilitas anggota
organisasi.
2. Nasionalisme
Makna nasionalisme secara politis merupakan manifestasi kesadaran
nasional yang mengandung cita-cita dan pendorong bagi suatu bangsa,
baik untuk merebut kemerdekaan atau mengenyahkan penjajahan
maupun sebagai pendorong untuk membangun dirinya maupun
lingkungan masyarakat, bangsa dan negaranya. Di Indonesia diterapkan
nasionalisme pancasila, yaitu pandangan atau paham kecintaan manusia
Indonesia terhadap bangsa dan tanah airnya yang didasarkan pada nilai-
nilai Pancasila.
Nilai Nasionalisme yang harus dimiliki seorang ASN harus sesuai
dengan butir-butir dalam Pancasila, hal ini untuk mendasari tugas ASN
sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan publik serta sebagai perekat
dan pemersatu bangsa.
a. ASN sebagai pelaksana kebijakan publik
Berdasarkan pasal 10 Undang-Undang No. 5 Tahun 2014
tentang Aparatur Sipil Negara, salah satu fungsi ASN adalah sebagai
pelaksana kebijakan publik, dengan kata lain ASN adalah aparat
pelaksana (eksekutor) yang melaksanakan segala peraturan
perundang-undangan yang menjadi landasan kebijakan publik di
berbagai bidang dan sektor pemerintahan.
ASN juga harus memperhatikan prinsip penting sebagai
pelaksana kebijakan publik, antara lain:
1) ASN harus mengutamakan kepentingan publik dan masyarakat
luas dalam mengimplementasikan kebijakan publik.
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, tanpa ada implementasi

13
maka suatu kebijakan publik hanya menjadi angan-angan
belaka, sehingga karena itu harus dioperasionalisasikan.
2) ASN harus mengutamakan pelayanan yang berorientasi pada
kepentingan publik. Setiap pegawai ASN harus menyadari
sebagai aparatur profesional yang kompeten, berorientasi
pelayanan publik, dan loyal kepada negara dan aturan
perundang-undangan.
3) ASN harus berintegritas tinggi dalam menjalankan tugasnya,
yaitu yang memiliki potensi dan kemampuan yang
memancarkan kewibawaan dan kejujuran sebagai wujud
keutuhan prinsip moral dan etika bangsa dalam kehidupan
bernegara.
b. ASN sebagai Pelayan Publik
ASN yang melayani publik Menurut Sianipar (1998) dalam
bukunya yang berjudul Manajemen Pelayanan Masyarakat
pelayanan didefinisikan sebagai cara melayani, membantu,
menyiapkan, mengurus, menyelesaikan keperluan, kebutuhan
seseorang atau sekolompok orang, artinya objek yang dilayani dapat
meliputi individu, pribadi-pribadi, dan kelompok-kelompok
organisasi.
American society for Public Administration (Perhimpunan
Amerika untuk Administrasi Negara), menyebutkan prinsip-prinsip
etika pelayanan sebagai berikut (Sudana, 2009).
1) Pelayanan terhadap publik harus diutamakan;
2) Rakyat adalah berdaulat dan mereka yang bekerja di dalam
pelayanan publik secara mutlak bertanggung jawab kepadanya;
3) Hukum yang mengatur semua kegiatan pelayanan publik. Apabila
hukum atau peraturan yang ada bersifat jelas, maka kita harus
mencari cara terbaik untuk memberi pelayanan publik;

14
4) Manajemen yang efesien dan efektif merupakan dasar bagi
administrator publik. Penyalahgunaan, pemborosan, dan berbagai
aspek yang merugikan tidak dapat ditolerir;
5) Sistem merit dan kesempatan kerja yang sama harus didukung,
dimplementasikan dan dipromosikan;
6) Mengorbankan kepentingan publik demi kepentingan pribadi
tidak dapat dibenarkan;
7) Keadilan, kejujuran, keberanian, kesamaan, kepandaian, dan
empatimerupakan nilai-nilai yang dijunjung tinggi dan secara
aktif harus dipromosikan;
8) Kesadaran moral memegang peranan penting dalam memilih
alternatif keputusan;
9) Administrator publik tidak semata-mata berusaha menghindari
kesalahan, tetapi juga berusaha mengejar atau mencari kebenaran.
c. Aparatur Sipil Negara sebagai Perekat dan Pemersatu Bangsa
Dalam UU No 5 tahun 2014 pasal 66 ayat 1-2 terkait sumpah
dan janji ketika diangkat menjadi PNS. Dinyatakan bahwa PNS akan
senantiasa setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, UUD 1945,
negara, dan pemerintah. PNS juga senantiasa menjunjung tinggi
martabat PNS serta senantiasa mengutamakan kepentingan Negara
dari pada kepentingan diri sendiri, seseorang dan golongan.
Bagi seorang PNS, Pancasila, UUD 1945 dan NKRI adalah
sesuatu yang final dan harga mati. Dia siap mengorbankan jiwa dan
raganya untuk mempertahankan keutuhan persatuan dan kesatuan
Negara Indonesia. Untuk itu PNS/ASN harus menciptakan kondisi
damai dimanapun dia ditempatkan, peran tersebut dapat
diimplementasikan sebagai berikut :
1). Seperti telah dijelaskan didepan, bahwa posisi PNS sebagai
aparatur Negara, dia harus bersikap netral dan adil. Netral dalam
artian tidak memihak kepada salah satu kelompok atau golongan
yang ada. Adil, berarti PNS dalam melaksanakan tugasnya tidak

15
boleh berlaku diskriminatif dan harus obyektif, jujur, transparan.
Dengan bersikap netral dan adil dalam melaksanakan tugasanya,
PNS akan mampu menciptakan kondisi yang aman, damai, dan
tentram dilingkungan kerjanya dan di masyarakatnya.
2). Sikap netral dan adil juga harus diperlihatkan oleh PNS dalam
event politik lima tahunan yaitu pemilu dan pilkada. Dalam
pemilu, seorang PNS yang aktif dalam partai politik, atau
mencalonkan diri sebagai anggota legislatif (DPR, DPRD dan
DPD), atau mencalonkan diri sebagai kepala daerah, maka dia
harus mundur atau berhenti sementara dari statusnya sebagai
PNS. Tuntutan mundur diperlukan agar yang bersangkutan tidak
menyalahgunakan wewenang yang dimilikinya untuk kepentingan
dirinya dan partai politiknya. Kalau PNS sudah terlibat dalam
kepentingan dan tarikan politik praktis, maka dia sudah tidak bisa
netral dan obyektif dalam melaksanakn tugas-tugasnya. Situasi ini
akan menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap PNS
dan kelembagaan/institusi yang dipimpinnya.
3). PNS juga harus bisa mengayomi kepentingan kelompok
kelompok minoritas, dengan tidak membuat kebijakan, peraturan
yang mendiskriminasi keberadaan kelompok tersebut. Termasuk
didalamnya ketika melakukan rekrutmen pegawai, penyusunan
program tidak berdasarkan kepada kepentingan golongannya.
4). PNS menjadi figur dan teladan di lingkungan masyarakatnya.
PNS juga harus menjadi tokoh dan panutan masyarakat. Dia
senantiasa menjadi bagian dari problem solver (pemberi solusi)
bukan bagian dari sumber masalah (trouble maker). Oleh sebab
itu, setiap ucapan dan tindakannya senantiasa menjadi ikutan dan
teladan warganya. Dia tidak boleh melakukan tindakan, ucapan,
perilaku yang bertentangan dengan norma norma sosial dan
susila, bertentangan dengan agama dan nilai lokal yang
berkembang di masyarakat.

16
3. Etika Publik
a. Definisi Etika Publik
Weihrich dan Koontz (2005:46) mendefinisikan etika sebagai
“the dicipline dealing with what is good and bad and with moral
duty and obligation”. Secara lebih spesifik Collins Cobuild
(1990:480) mendefinisikan etika sebagai “an idea or moral belief
that influences the behaviour, attitudes and philosophy of life of a
group of people”. Oleh karena itu, konsep etika sering digunakan
sinonim dengan moral. Ricocur (1990) mendefinisikan etika sebagai
tujuan hidup yang baik bersamadan untuk orang lain di dalam
institusi yang adil.
Dengan demikian etika lebih dipahami sebagai refleksi atas
baik/buruk, benar/salah yang harus dilakukan atau bagaimana
melakukan yang baik atau benar, sedangkan moral mengacu pada
kewajiban untuk melakukan yang baik atau apa yang seharusnya
dilakukan.
Dalam kaitannya dengan pelayanan publik, etika publik adalah
refleksi tentang standar/norma yang menentukan baik/buruk,
benar/salah perilaku, tindakan dan keputusan untuk mengarahkan
kebijakan publik dalam rangka menjalankan tanggung jawab
pelayanan publik.
a. Kode etik Aparatur Sipil Negara
Kode Etik adalah aturan-aturan yang mengatur tingkah
laku dalam suatu kelompok khusus, sudut pandangnya hanya
ditujukan pada hal-hal prinsip dalam bentuk ketentuan-
ketentuan tertulis.Berdasarkan Undang-Undang ASN, kode etik
dan kode perilaku Aparatur Sipil Negara yakni sebagai berikut:
1). Melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggung jawab,
dan berintegritas tinggi.
2). Melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin.
3). Melayani dengan sikap hormat, sopan, dan tanpa tekanan.

17
4). Melaksanakan tugasnya sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku.
5). Melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan atau
Pejabat yang berwenang sejauh tidak bertentangan dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan dan etika
pemerintahan.
6). Menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan negara.
7). Menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara
bertanggung jawab, efektif dan efisien.
8). Menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam
melaksanakan tugasnya.
9). Memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan
kepada pihak lain yang memerlukan informasi terkait
kepentingan kedinasan.
10). Tidak menyalahgunakan informasi intern negara, tugas,
status, kekuasaan, dan jabatannya untuk mendapat atau
mencari keuntungan atau manfaat bagi diri sendiri atau
untuk orang lain.
11). Memegang teguh nilai dasar ASN dan selalu menjaga
reputasi dan integritas ASN.
12). Melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan
mengenai disiplin pegawai ASN.
b. Nilai-nilai Dasar Etika Publik
Nilai-nilai dasar etika publik sebagaimana tercantum dalam
Undang-Undang ASN, yakni sebagai berikut:
1). Memegang teguh nilai-nilai dalam ideologi Negara Pancasila.
2). Setia dan mempertahankan Undang-Undang Dasar Negara
Kesatuan Republik Indonesia 1945
3). Menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak.
4). Membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian.
5). Menciptakan lingkungan kerja yang non diskriminatif.

18
6). Memelihara dan menjunjung tinggi standar etika luhur.
7). Mempertanggung jawabkan tindakan dan kinerjanya kepada
publik.
8). Memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan
program pemerintah.
9). Memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap,
cepat, tepat, akurat, berdaya guna, berhasil guna, dan santun.
10). Mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi.
11). Menghargai komunikasi, konsultasi, dan kerjasama.
12). Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja
pegawai.
13). Mendorong kesetaraan dalam pekerjaan.
14). Meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang
demokratis sebagai perangkat sistem karir.
c. Dimensi Etika Publik
Ada tiga fokus utama dalam pelayanan publik, yakni:
1). Pelayanan publik yang berkualitas dan relevan.
2). Sisi dimensi reflektif, Etika Publik berfungsi sebagai bantuan
dalam menimbang pilihan sarana kebijakan publik dan alat
evaluasi.
3). Modalitas Etika, menjembatani antara norma moral dan
tindakan faktual.
Padaprinsipnya, ada 3 (tiga) dimensi etika publik:
1). Dimensi Kualitas Pelayanan Publik
Etika publik menekankan pada aspek nilai dan norma, serta
prinsip moral, sehingga etika publik membentuk integritas
pelayanan publik. Moral dalam etika publik menuntut lebih
dari kompetensi teknis karena harus mampu mengidentifikasi
masalah-masalah dan konsep etika yang khas dalam pelayanan
publik.
2). Dimensi Modalitas

19
Pemerintah bersih adalah syarat kemajuan suatu bangsa.
Pemerintahan korup menyebabkan kemiskinan, sumber
diskriminasi, rentan konflik dan penyalahgunaan kekuasaan.
Korupsi disebabkan lemahnya integritas pejabat publik,
kurangnya partisipasi dan lemahnya pengawasan.
Membangun integritas publik pejabat dan politisi harus disertai
perbaikan sistem akuntabilitas dan transparansi yang didukung
modalitas etika publik, yaitu bagaimana bisa bertindak baik atau
berperilaku sesuai standar etika? Cara bagaimana etika bisa
berfungsi atau bekerja? Struktur seperti apa yang mampu
mengorganisir tindakan agar sesuai dengan etika? Infrastruktur
semacam apa yang dibutuhkan agar etika publik berfungsi?
Unsur-unsur modalitas dalam etika publik yakni akuntabilitas,
transparansi dan netralitas.

4. Komitmen Mutu
a. Definisi Mutu
Menurut Goetsch and Davis (2006: 5) berpendapat bahwa belum
ada definisi mutu yang dapat diterima secara universal, namun
mereka telah merumuskan pengertian mutu sebagai berikut:
“Quality is a dynamic state associated with products, services,
people, processes, and environments that meets or exceeds
expectation.” Menurut definisi yang dirumuskan Goetsch dan Davis,
mutu merupakan suatu kondisi dinamis berkaitan dengan produk,
jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang sesuai atau bahkan
melebihi harapan konsumen atau pengguna.
Dapat disimpulkan bahwa mutu mencerminkan nilai keunggulan
produk/jasa yang diberikan kepada pelanggan(customer) sesuai
dengan kebutuhan dan keinginannya, dan bahkan melampaui
harapannya. Mutu merupakan salah satu standar yang menjadi dasar
untuk mengukur pencapaian hasil kerja. Mutu juga dapat dijadikan

20
sebagai alat pembeda atau pembanding dengan produk/jasa sejenis
lainnya, yang dihasilkan oleh lembaga lain sebagai pesaing
(competitors).
b. Aspek Komitmen Mutu
Ada 3 (tiga) aspek yang terdapat dalam komitmen mutu, yaitu:
1) Efektivitas
Menurut Richard L. Daft (Tita Maria Kanita 2010: 8)
mendefinisikan efektivitas organisasi berarti sejauh mana
organisasi dapat mencapai tujuan yang ditetapkan, atau berhasil
mencapai apapun yang coba dikerjakannya. Efektivitas
organisasi berarti memberikan barang atau jasa yang dihargai
oleh pelanggan.
Karakteristik utama yang dapat dijadikan dasar untuk
mengukur tingkat efektivitas adalah ketercapaian target yang
telah direncanakan, baik dilihat dari capaian jumlah maupun
mutu hasil kerja, sehingga dapat memberi kepuasan.
2) Efisien
Richard L. Daft dalam Tita Maria Kanita (2010:8)
mendefinisikan efisiensi adalah jumlah sumber daya yang
digunakan untuk mencapai tujuan organisasional. Efisiensi
organisasi ditentukan oleh berapa banyak bahan baku, uang, dan
manusia yang dibutuhkan untuk menghasilkan jumlah keluaran
tertentu. Efisiensi dapat dihitung sebagai jumlah sumber daya
yang digunakan untuk menghasilkan barang atau jasa.
Dapat disimpulkan bahwa tingkat efisiensi diukur dari
penghematan biaya, waktu, tenaga, dan pikiran dalam
menyelesaikan kegiatan. Dalam melaksanakan suatu kegiatan
efektif dan efisien harus diperhatikan, jika tidak diperhatikan
maka akan berdampak pada ketidaktercapaian target kerja,
menurunkan kredibilitas institusi tempat bekerja, dan bahkan
akan menimbulkan kerugian.

21
3) Inovasi
Menurut Richard L. Daft dalam Tita Maria Kanita (2011:
56) inovasi barang dan jasa adalah cara utama di mana suatu
organisasi beradaptasi terhadap perubahan-perubahan di pasar,
teknologi, dan persaingan.
Inovasi dapat terjadi pada banyak aspek, misalnya
perubahan produk barang/jasa yang dihasilkan, proses produksi,
nilai-nilai kelembagaan, perubahan cara kerja, teknologi yang
digunakan, layanan sistem manajemen, serta mindset orang-
orang yang ada di dalam organisasi.
Inovasi muncul karena adanya dorongan kebutuhan
organisasi/perusahaan untuk beradaptasi dengan tuntutan
perubahan yang terjadi di sekitarnya. Perubahan bisa dipicu
antara lain oleh pergeseran selera pasar, peningkatan harapan dan
daya beli masyarakat, pergeseran gaya hidup, peningkatan
kesejahteraan, perkembangan ekonomi, pengaruh globalisasi,
serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Inovasi bisa muncul karena ada dorongan dari dalam
(internal) untuk melakukan perubahan, atau bisa juga inovasi
muncul karena ada desakan kebutuhan dari pihak eksternal,
misalnya permintaan pasar. Inovasi lahir dari imajinasi pemikiran
orang-orang kreatif, dan lahirnya kreativitas didorong oleh
munculnya ide/gagasan baru untuk keluar dari rutinitas yang
membosankan. Munculnya ide/gagasan baru, kreativitas, dan
inovasi dilatarbelakangi oleh semangat belajar yang tidak pernah
pudar, yang dijalani dalam proses pembelajaran secara
berkelanjutan.
Demikian juga halnya inovasi dalam layanan publik
mestinya mencerminkan hasil pemikiran baru yang konstruktif,
sehingga akan memotivasi setiap individu untuk membangun
karakter dan mind-set baru sebagai aparatur penyelenggara

22
pemerintahan, yang diwujudkan dalam bentuk profesionalisme
layanan publik yang berbeda dari sebelumnya, bukan sekedar
menjalankan atau menggugurkan tugas rutin.
c. Nilai-Nilai Dasar Orientasi Mutu
Sejalan dengan pandangan Zulian Yamit (2010: 74) dapat
disimpulkan bahwa sasaran strategis institusi penyelenggara
pemerintahan adalah kepuasan masyarakat. Masyarakat yang merasa
puas atas layanan aparatur termotivasi untuk berpartisipasi aktif
menyukseskan berbagai program pemerintah. Partisipasi aktif
masyarakat akan membuka peluang terciptanya langkah kreatif
dalam menghadapi perubahan yang mungkin terjadi di tengah
ketatnya persaingan yang semakin ketat, dengan melahirkan karya-
karya inovatif untuk menyongsong kemajuan masa depan yang lebih
baik.
Zeithmalh, dkk (1990: 23) menyatakan bahwa terdapat sepuluh
ukuran dalam menilai mutu pelayanan, yaitu :
1). Tangible (nyata/berwujud),
2). Reliability (kehandalan),
3). Responsiveness (Cepat tanggap),
4). Competence (kompetensi),
5). Access (kemudahan),
6). Courtesy (keramahan),
7). Communication (komunikasi),
8). Credibility (kepercayaan),
9). Security (keamanan),
10). Understanding the Customer (Pemahaman pelanggan).
Sejalan dengan pendapat di atas, Berry dan Pasuraman dalam Zulian Yamit
(2010: 11) mengemukakan lima dimensi karakteristik mutu pelayanan
sebagai berikut:
1). Tangibles (bukti langsung)
Yaitu meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai, dan sarana
komunikasi;

2). Reliability (kehandalan)


Yaitu kemampuan dalam memberikan pelayanan dengan segera dan
memuaskan serta sesuai dengan yang telah dijanjukan
3). Responsiveness (daya tangkap)
Keinginan para staf untuk membantu para pelanggan dan

23
memberikan pelayanan dengan tanggap
4). Assurance (jaminan)
Yaitu mencakup kemampuan, kesopanan dan sifat dapat dipercaya
yang dimiliki para staf, bebas dari bahaya, resiko ataupun keragu-
raguan
5). Empaty
Yaitu meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi
yang baik, dan perhatian dengan tulus terhadap kebutuhan
pelanggan.
5. Anti Korupsi
a. Definisi korupsi
Kata korupsi berasal dari bahasa latin yaitu Corruptio
yangartinya kerusakan, kebobrokan dan kebusukan. Selarasdengan
kata asalnya, korupsi sering dikatakan sebagaikejahatan luar biasa,
salah satu alasannya adalah karenadampaknya yang luar biasa
menyebabkan kerusakan baikdalam ruang lingkup, pribadi, keluarga,
masyarakat dankehidupan yang lebih luas. Kerusakan tersebut tidak
hanyaterjadi dalam kurun waktu yang pendek, namun
dapatberdampak secara jangka panjang.
Dalam UU No.31 Tahun 1999, peSetiap orang yang dengan
sengaja secara melawan hukum untuk melakukan perbuatan dengan
tujuan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi
yang mengakibatkan kerugian keuangan negara atau perekonomian
negara.
b. Jenis Korupsi
Menurut Syed Husein Alatas korupsi terbagi menjadi 7 jenis, yaitu :
1). Korupsi Transaktif
Korupsi yang menunjukkan adanya kesepakatan timbal balik
antara pemberi dan penerima demi keuntungan bersama. Kedua
pihak sama-sama aktif menjalankan perbuatan tersebut.
2). Korupsi Ekstroaktif
Korupsi yang menyertakan bentuk-bentuk koersi (tekanan)
tertentu dimana pihak pemberi dipaksa untuk menyuap guna

24
mencegah kerugian yang mengancam diri, kepentingan, orang-
orangnya, atau hal-hal yang dihargai.
3). Korupsi Investif
Korupsi yang melibatkan suatu penawaran barang atau jasa
tanpa adanya pertalian langsung dengan keuntungan bagi
pemberi. Keuntungan diharapkan akan diperoleh dimasa yang
akan datang.
3). Korupsi Nepotistik
Korupsi berupa pemberian perlakuan khusus kepada teman atau
yang mempunyai kedekatan hubungan dalam rangka menduduki
jabatan publik.
4). Korupsi Autogenik
Korupsi yang dilakukan individu karena mempunyai
kesempatan untuk mendapat keuntungan dari pengetahuan dan
pemahamannya atas sesuatu yang diketahui sendiri.
5). Korupsi Suportif
Korupsi yang mengacu pada penciptaan suasana yang kondusif
untuk melindungi atau mempertahankan keberadaan tindak
korupsi yang lain
6). Korupsi Defensif
Korupsi yang terpaksa dilakukan dalam rangka
mempertahankan diri dari pemerasan.
Setiap negara mempunyai undang-undang yangberbeda terkait
dengan tindak pidanakorupsi. Menurut UU No. 31/1999 jo No.
UU20/2001, terdapat 7 kelompok tindak pidana korupsiyang terdiri
dari :
1). Kerugian keuangan negara,
2). Suap-menyuap,
3). Pemerasan,
4). Perbuatan Curang,
5). Penggelapan dalam Jabatan,
6). Benturan Kepentingandalam Pengadaan, dan
7). Gratifikasi.

25
Semua jenis tersebut merupakan delik-delik yangdiadopsi dari
KUHP(pasal1ayat 1 sub c UU no.3/71).
c. Nilai Dasar Anti Korupsi
KPK bersama dengan para pakar telah melakukan identifikasinilai-nilai
dasar anti korupsi, dan dihasilkan sebanyak 9 nilaianti korupsi
sebagai berikut :
1). jujur,
2). peduli,
3). mandiri,
4). disiplin,
5). tanggung jawab,
6). kerja keras,
7). sederhana,
8). berani,
9). adil.
2.2 Peran dan Kedudukan Aparatur Sipil Negara dalam NKRI
2.2.1 Pelayanan Publik
Pelayanan publik adalah sebagai segala bentuk kegiatan pelayanan umum
yang dilaksanakan oleh Instansi Pemerintah di Pusat dan Daerah, dan di
lingkungan BUMN/BUMD dalam bentuk barang atau jasa, baik dalam
pemenuhan kebutuhan masyarakat. (Lembaga Administrasi Negara: 1998)
Dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik,
dijelaskan bahwa pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam
rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-
undagan bagi setiap warga Negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau
pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik.
Berbagai literatur administrasi publik menyebut bahwa prinsip pelayanan
publik yang baik untuk mewujudkan pelayanan prima adalah:
1. Partisipatif; dalam penyelenggaraan pelayanan publik yang dibutuhkan
masyarakat pemerintah perlu melibatkan masyarakat dalam merencanakan,
melaksanakan, dan mengavaluasi hasilnya.
2. Transparan; dalam penyelenggaraan pelayanan publik, pemerintah sebagai
penyelenggara harus menyediakan akses bagi warga Negara untuk
mengetahui segala hal yang terkait dengan pelayanan public.

26
3. Responsif; dalam penyelenggaraan pelayanan publik pemerintah wajib
mendengar dan memenuhi tuntutan kebutuhan warga negaranya.
4. Tidak dikriminatif; pelayanan publik yang diselenggarakan tidak boleh
dibedakan antara satu warga Negara dengan warga Negara yang lain atas
dasar perbedaan identitas warga.
5. Mudah dan murah; penyelenggaraan pelayanan publik dimana masyarakat
harus memenuhi berbagai persyaratan dan membayar fee untuk memperoleh
layanan yang mereka butuhkan.
6. Efektif dan efisien; penyelenggaraan pelayanan publik harus mampu
mewujudkan tujuan-tujuan yang hendak dicapai dan cara mewujudkan tujuan
tersebut dilakukan dengan prosedur yang sederhana, tenaga kerja yang sedikit
dan biaya yang murah
7. Aksesibel; pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah harus
dapat dijangkau oleh warga Negara yang membutuhkan
8. Akuntabel; pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah
dilakukan dengan menggunakan fasilitas dan sumber daya manusia yang
dibiayai oleh warga Negara melalui pajak yang mereka bayar.
9. Berkeadilan; pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah
memiliki berbagai tujuan, salah satu tujuan yang penting adalah melindungi
warga Negara dari praktik buruk yang dilakukan oleh warga Negara lain.
2.2.2 Manajemen Aparatur Sipil Negara (ASN)
Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disingkat ASN adalah profesi bagi
pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang
bekerja pada instansi pemerintah, sedangkan yang dimaksud Manajemen Pegawai
Negeri Sipil adalah pengelolaan pegawai negeri sipil untuk menghasilkan pegawai
negeri sipil yang profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari
intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Dalam
Konsep Manajemen ASN ini dikenal apa yang disebut dengan sistem merit.
Sistem Merit adalah kebijakan dan manajemen ASN yang berdasarkan pada
kualifikasi, kompetensi, dan kinerja secara adil dan wajar dengan tanpa

27
membedakan latar belakang politik, ras, warna kulit, agama, asal usul, jenis
kelamin, status pernikahan, umur, atau kondisi kecacatan.
Pegawai Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disebut Pegawai ASN adalah
pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang diangkat oleh
pejabat pembina kepegawaian dan diserahi tugas dalam suatu jabatan pemerintahan
atau diserahi tugas negara lainnya dan digaji berdasarkan peraturan perundangundangan
sedangkan Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disingkat PNS adalah warga negara
Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, diangkat sebagai Pegawai ASN secara tetap
oleh pejabat pembina kepegawaian untuk menduduki jabatan pemerintahan.
Manajemen PNS meliputi: penyusunan dan penetapan kebutuhan, pengadaan, pangkat
dan Jabatan, pengembangan karier, pola karier, promosi, mutasi, penilaian kinerja,
penggajian dan tunjangan, penghargaan, disiplin, pemberhentian, jaminan pensiun dan
jaminan hari tua, dan perlindungan.
2.2.3 Whole of Government (WoG)
WoG (Whole of Government) didefinisikan sebagai “Suatu model
pendekatan integratif fungsional satu atap” yang digunakan untuk mengatasi
wicked problems yang sulit dipecahkan dan diatasi karena berbagai karakteristik
atau keadaan yang melekat antara lain: tidak jelas sebabnya, multi dimensi,
menyangkut perubahan perilaku.
Salah satu bentuk penerapan WoG pada pelayanan publik adalah e-
Government. E-government adalah tata kelola pemerintahan (governance) yang
diselenggarakan secara terintegrasi dan interaktif berbasis teknologi IT, agar
hubungan-hubungan antara pemerintah, pelaku bisnis dan masyarakat dapat
berlangsung lebih efisien, efektif, produktif dan responsif. Hasil atau manfaat
yang diperoleh melalui e-government antara lain adalah:
a. Terselenggaranya tata kelola pemerintahan yang baik (good governance),
efisien dan efektif
b. Hemat anggaran dan tepat waktu
c. Transparan sehingga peluang terjadinya kecurangan (fraud), suap dan korupsi
akan banyak berkurang.
d. Tingkat akurasi (ketepatan) dan kualitas pelayanan meningkat dan tingkat
kesalahan berkurang
e. Kemudahan akses dan kenyamanan pelayanan meningkat sehingga kepuasan
publik juga meningkat.
2.3 Rencana Kegiatan aktualisasi

28
2.3.1 Identifikasi isu
Isu adalah masalah yang belum ditemukan solusi penyelesaiannya. Isu
lebih menggambarkan tentang adanya kesenjangan antara praktik nyata dengan
apa yang diharapkan stakeholder. Berdasarkan definisi tersebut, isu adalah suatu
hal yang terjadi baik di dalam maupun di luar organisasi yang apabila tidak
ditangani secara baik akan memberikan efek negatif terhadap organisasi dan
berlanjut pada tahap krisis.
Deskripsi isu bertujuan untuk menjelaskan masalah-masalah yang terjadi,
sehingga masalah-masalah tersebut dapat diuji melalui media yang telah tersedia
untuk menentukan isu utama atau core issue, sehingga mampu menentukan
kegiatan-kegiatan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan isu tersebut. Isu tersebut
juga telah direlevansi dengan nilai-nilai dasar PNS dan juga Pelayanan Publik,
Manajemen ASN dan Whole of Government, sehingga isu-isu tersebut layak
untuk dijadikan isu utama.
Berdasarkan hasil pengamatan di instalasi farmasi di dinas kesehatan,
pengendalian penduduk dan kb, ditemukan beberapa isu yang mempengaruhi
kualitas pelayanan tenaga teknis kefarmasian di wilayah kerja di instalasi farmasi
di dinas kesehatan, pengendalian penduduk dan kb, Isu tersebut perlu dianalisis
penyebab dan solusi penyelesaiannya melalui aktualisasi nilai-nilai dasar ASN.
Hasil isu yang teridentifikasi adalah sebagai berikut:

Tabel 1.1 Identifikasi Isu-Isu di instalasi farmasi di dinas kesehatan,


pengendalian penduduk dan kb
No. Identifikasi Isu Sumber Isu Keadaan Saat Ini Kondisi yang Diharapkan
1 Belum optimalnya Manajemen Belum tertatanya obat dan Dapat tertatanya obat dan
penataan obat dan ASN bahan medis habis pakai di bahan medis habis pakai di
bahan medis habis instalasi farmasi di dinas instalasi farmasi di dinas
pakai di instalasi kesehatan, pengendalian kesehatan, pengendalian
farmasi di dinas penduduk dan kb penduduk dan kb
kesehatan,
pengendalian
penduduk dan kb

29
2 Kurang optimalnya Manajemen Belum optimalnya Dapat optimalnya
pembuatan dan ASN pembuatan dan penulisan pembuatan dan penulisan
penulisan kartu stok kartu stok sehingga kartu stok sehingga
sehingga menyebabkan selisih obat menghindari selisih obat
menyebabkan selisih antara kartu stok dengan antara kartu stok dengan stok
obat antara kartu stok fisik fisik
stok dengan stok
fisik

3 Kurang optimalnya Manajemen Belum optimalnya Dapat dioptimalkannya


pengadaan obat yang ASN, pengadaan obat yang sesuai pengadaan obat sehingga
sesuai dengan pelayanan dengan kebutuhan UPTD dapat memenuhi kebutuhan
kebutuhan UPTD public, dan sehingga menyebabkan UPTD
sehingga Wog kurang dan berlebihnya
menyebabkan obat yang dibutuhkan
kurang dan UPTD
berlebihnya obat
yang dibutuhkan
UPTD

2.3.2 Penetapan Isu

Setelah didiskripsikan pada bagian sebelumnya, maka isu perlu dipilah


sesuai dengan tugas dan jabatan. Diperlukan analisis lanjutan dari isu terpilih
untuk menentukan isu utama. Analisis ini dilakukan untuk mendapatkan kualitas
isu tertinggi. Disamping itu semua isu tidak bisa digolongkan menjadi isu aktual,
oleh karena itu perlu dilakukan analisis kriteria isu. Alat analisis kriteria isu
dengan menggunakan alat analisis APKL (Aktual, Problematika, Kekhalayakan,
Layak), sedangkan menentukan kualitas isu dengan menggunakan alat analisis
USG (Urgency, Seriousness, Growth)

2.3.3 Penetapan Kualitas isu Menggunakan Metode APKL


Analisis APKL (Aktual, Problematik, Kekhalayakan, dan Layak) digunakan
untuk menentukan kelayakan suatu isu dengan indikator sebagai berikut:

Tabel 1.2 Indikator APKL


No Indikator Keterangan
1 2 3
1 Aktual (A) Isu yang sedang terjadi atau dalam proses kejadian, sedang

30
No Indikator Keterangan
1 2 3
hangat dibicarakan di kalangan masyarakat, atau isu yang
diperkirakan bakal terjadi dalam waktu dekat. Jadi bukan isu
yang sudah lepas dari perhatian masyarakat atau isu yang
sudah basi.
2 Problematik (P) Isu yang menyimpang dari harapan standar dan
menimbulkan kegelisahan yang perlu segera dicari penyebab
dan pemecahannya.
3 Kekhalayakan (K) Isu yang secara langsung menyangkut hajat hidup orang
banyak, masyarakat pelanggan pada umumnya, dan bukan
hanya untuk kepentingan seseorang atau sekelompok kecil
orang tertentu saja.
4 Layak (L) Isu yang masuk akal (logis), pantas, realistis, dan dapat
dibahas sesuai dengan tugas, hak, wewenang, dan tanggung
jawab.

Berikut beberapa isu yang ada di instalasi farmasi di dinas kesehatan,


pengendalian penduduk dan kb yang akan ditentukan kelayakannya menggunakan
metode APL, untuk lebih jelasnya lihat tabel dibawah ini :

Tabel 1.3 Analisis APKL


Kriteria Keterangan
No Identifikasi Isu
A P K L
.1 Belum optimalnya penataan obat dan 5 5 5 5 Memenuhi
bahan medis habis pakai di instalasi
farmasi di dinas kesehatan,
pengendalian penduduk dan kb
2. Kurang optimalnya pembuatan dan 5 4 3 3 Tidak
penulisan kartu stok sehingga Memenuhi
menyebabkan selisih obat antara kartu
stok dengan stok fisik
3. Kurang optimalnya pengadaan obat 5 4 4 3 Tidak
yang sesuai dengan kebutuhan UPTD Memenuhi
sehingga menyebabkan kurang dan
berlebihnya obat yang dibutuhkan
UPTD

2.3.4 Penetapan Kualitas isu Menggunakan Analisis USG

31
Analisis USG (Urgency, Seriousness, Growth) adalah analisis yang
digunakan untuk memprioritaskan isu yang akan ditindak lanjuti. Adapun
indikator analisis USG adalah sebagai berikut:
Tabel 1.4 Indikator Metode USG
No Komponen Keterangan
1 2 3
1 Urgency Seberapa mendesak isu tersebut dibahas dikaitkan dengan
waktu yang tersedia serta seberapa keras tekanan waktu
tersebut untuk memecahkan masalah yang menyebabkan isu
2 Seriousness Seberapa serius isu tersebut perlu dibahas dikaitkan dengan
akibat yang timbul dengan penundaan pemecahan masalah
yang menimbulkan isu tersebut atau akibat yang ditimbulkan
masalah-masalah lain kalau masalah penyebab isu tidak
dipecahkan (bisa mengakibatkan masalah lain)
3 Growth Seberapa kemungkinan isu tersebut menjadi berkembang
dikaitkan kemungkinan masalah penyebab isu akan semakin
memburuk jika dibiarkan.

Analisis menggunakan metode USG berbeda dengan metode APKL.


Analisis metode USG memuat rentang 1-5 berdasarkan parameter berikut:
Tabel 1.5 Tabel Parameter USG
PARAMETER
Skor
Urgency Seriousness Growth
1 2 3 4
1 Isu mendesak untuk Isu serius untuk segera Isu cepat berkembang
segera diselesaikan dibahas karena akan untuk segera dicegah
berdampak ke hal yang
lain
2 Isu kurang mendesak Isu kurang serius untuk Isu kurang cepat
untuk segera segera dibahas karena berkembang
diselesaikan kurang berdampak ke
hal yang lain
3 Isu cukup mendesak Isu cukup serius untuk Isu cukup cepat
untuk segera segera karena akan berkembang, segera
diselesaikan berdampak ke hal yang dicegah
lain

Isu yang telah memenuhi syarat pada metode APKL kemudian dianalisis
kembali menggunakan metode USG. Isu-isu tersebut diberikan skor berdasarkan

32
parameter USG, kemudian diurutkan berdasarkan skor yang tertinggi. Analisis
isu-isu menggunakan metode USG dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1.6 Analisis Kualitas Isu Menggunakan Metode USG
Parameter (1-5) Total
No Issu Peringkat
U S G Skor
1 Belum optimalnya penataan 5 5 5 15 I
obat dan bahan medis habis
pakai di instalasi farmasi di
dinas kesehatan, pengendalian
penduduk dan kb
2 Kurang optimalnya 3 3 3 9 III
pembuatan dan penulisan
kartu stok sehingga
menyebabkan selisih obat
antara kartu stok dengan stok
fisik
3 Kurang optimalnya pengadaan 4 4 4 12 II
obat yang sesuai dengan
kebutuhan UPTD sehingga
menyebabkan kurang dan
berlebihnya obat yang
dibutuhkan UPTD

Issu yang terpilihnya:


“Belum Optimalnya Penataan obat dan bahan medis habis pakai di
instalasi farmasi di dinas kesehatan, pengendalian penduduk dan kb”

33