Anda di halaman 1dari 77

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Diare akut pada orang dewasa merupakan tanda dan gejala penyakit

yang umum dijumpai dan bila terjadi tanpa komplikasi, secara umum dapat di

obati sendiri oleh penderita. Namun, bila terjadi komplikasi akibat dehidrasi atau

toksik menyebabkan morbiditas dan mortalitas, meskipun penyebab dan

penanganannya telah diketahui dengan baik serta prosedur diagnostiknya juga

semakin baik. Meskipun diketahui bahwa diare merupakan suatu respon tubuh

terhadap keadaan tidak normal, namun anggapan bahwa diare sebagai mekanisme

pertahanan tubuh untuk mengekskresikan mikroorganisme keluar tubuh, tidak

sepenuhnya benar.

Terapi kausal tentunya diperlukan pada diare akibat infeksi, dan

rehidrasi oral maupun parenteral secara simultan dengan kausal memberikan hasil

yang baik terutama pada diare akut yang menimbulkan dehidrasi sedang sampai

berat. Beberapa kali juga diperlukan terapi simtomatik untuk menghentikan diare

atau mengurangi volume feses, karena berulang kali buang air besar merupakan

suatu keadaan/kondisi yang menggganggu akitifitas sehari-hari. Dimana saluran

pencernaan makanan merupakan saluran yang berperan menerima makanan dari

luar dan mempersiapkan nya untuk diserap oleh tubuh dengan jalan proses

pencernaan,mulai dari mulut sampai dengan anus.Setiap organ saluran cerna

memiliki tugas khusus dan saling mempengaruhi antara organ satu dengan organ

yang lain sehingga apabila terjadi gangguan pada salah satu organ akan

1
berdampak pula pada proses pencernaan itu sendiri maupun pada sistem lain,

misalnya gangguan pada lambung dan usus yang disebut gastroentritis.

Gastroentritis merupakan proses peradangan yang terjadi pada daerah lambung

dan usus yang biasanya disertai dengan gejala diare secara terus menerus.

Dampak penyakit diare bila dibiarkan berlarut-larut maka akan menimbulkan

komplikasi seperti ; dehidrasi (kehilangan cairan) ,hipokalemia (kekurangan

kalium) ,hipokalsemia (kekurangan kalsium), dan lain-lain (Suriadi,2001) yang

kemudian berlanjut pada kematian.

Diare kebanyakan disebabkan oleh beberapa infeksi virus tetapi juga

seringkali akibat dari racun bakteria. Dalam kondisi hidup yang bersih dan dengan

makanan mencukupi dan air tersedia, pasien yang sehat biasanya sembuh dari

infeksi virus umum dalam beberapa hari dan paling lama satu minggu.Namun

untuk individu yang sakit atau kurang gizi, diare dapat menyebabkan dehidrasi

yang parah dan dapat mengancam-jiwa bila tanpa perawatan (Wikipedia, 2011).

B. Tujuan

- Mengetahui dan mengidentifikasi gejala-gejala diare

- Mengetahui penanganan dan pencegahan diare

- Mengidentifikasi permasalahan kesehatan anggota keluarga yang

dikunjungi sesuai dengan penyakit

- Menentukan prioritas faktor biologis, psikologis, sosial, dan fisik

yang besar pengaruhnya terhadap kesehatan pasien

C. Manfaat

- Dapat mengidentifikasikan gejala dari diare

2
- Mengetahui faktor lingkungan yang berperan dalam perjalanan

penyakit

3
FORM HASIL KEGIATAN HOME VISITE
LAPORAN HOME VISITE DOKTER KELUARGA
Berkas Pembinaan Keluarga

Puskesmas Tanggulangin No RM : 03/00/006108

Tanggal kunjungan pertama kali 27 Mei 2015,

Nama pembimbing : dr. Widyastuti

Nama pembina keluarga : Hj.Nurhasanah,S.ST

Nama DM pembina : Hesti Kamtikawati , S.Ked

Tabel 1. CATATAN KONSULTASI PEMBIMBING

(diisi setiap kali selesai satu periode pembinaan )

Tanggal Tingkat Paraf Paraf Keterangan

Pemahaman Pembimbing

27 Mei 2015

28 Mei 2015

30 Mei 2015

01 Juni 2015

4
LAPORAN HOME VISIT DOKTER KELUARGA

Berkas Pembinaan Keluarga

Puskesmas Tanggulangin No. RM :03/00/006108

Tanggal kunjungan pertama kali : 27 Mei 2015

KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA

Nama Kepala Keluarga : Sdr. H.K

Alamat lengkap : jl. Raya Putat RT 06/RW 02,

Kec. Tanggulangin - Sidoarjo

Bentuk Keluarga : Nuclear / Extended Family

Tabel 2. Daftar Anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah

Kedudukan Pasien

No Nama dalam L/P Umur Pendidikan Pekerjaan Klinik Ket

keluarga (Y/T)

Tn.H. Kepala L
1 36thn SMA Karyawan Y Diare
K Keluarga

2 Ny. T Ibu P 34 thn SMA Karyawan T -

Anak
3 An. H L 9 thn SD Pelajar T -
Kandung

Anak
4 An. A L 6 thn SD Pelajar T -
Kandung

5
Sumber : Data Primer, 27 Mei 2015

Keterangan Keluarga : Sdr. H.K (Penderita)

6
LAPORAN KASUS KEDOKTERAN KELUARGA

BAB I

STATUS PENDERITA

A. PENDAHULUAN

Laporan kasus ini diambil di daerah yang masuk ke dalam wilayah

kerja Puskesmas Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo, yaitu seorang penderita

baru yang dinyatakan Diare oleh dokter yang berjenis kelamin laki-laki, usia

36 tahun. Mengingat kasus ini masih banyak ditemukan di masyarakat

khususnya di wilayah kerja Puskesmas Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo

beserta permasalahannya seperti masih kurang pengetahuan masyarakat

tentang Diare, terutama masalah tentang cara penularannya . Oleh karena itu,

penting kiranya bagi penulis untuk memperhatikan dan mencermatinya untuk

kemudian bisa menjadikannya sebagai pengalaman di lapangan.

B. IDENTITAS PENDERITA

Nama : Sdr. H.K

Umur : 36 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Pekerjaan : Karyawan swasta

Pendidikan : SMA

Agama : Islam

Suku : Jawa

7
Tanggal periksa pertama ke puskesmas : 27 Mei 2015

Tanggal Home Visit : 28 Mei 2015

C. ANAMNESIS

1. Keluhan Utama : Bab Cair

2. Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien mengeluh bab cair sejak 1 hari yang lalu, bab cair ± 5 kali

dalam 1 hari, sebanyak ± 1/4 gelas aqua, konsistensi cair, tidak

menyemprot, ampas (+), warna kekuningan, lendir (+), darah (-), bau

busuk (-). Keluhan demam atau menggigil disangkal pasien.Perut terasa

mules, mual (-), muntah (-).Pasien mengeluhkan badan terasa lemas.Nafsu

makan pasien menurun sejak mencret. BAK normal , dengan kualitas dan

kuantitas seperti biasa. Sebelumnya pasien sempat makan ikan bandeng

bakar, yang dibawakan saudaranya.

3. Riwayat Penyakit Dahulu:

- Riwayat MRS : tidak ada

- Riwayat asma : tidak ada

- Riwayat alergi obat/makanan : tidak ada

- Riwayat penyakit diabetes : tidak ada

- Riwayat penyakit jantung : tidak ada

- Riwayat darah tinggi : tidak ada

- Riwayat diare sbelumnya : tidak ada

4. Riwayat Penyakit Keluarga

- Riwayat keluarga dengan penyakit serupa : tidak ada

8
- Riwayat keluarga alergi obat/makanan : tidak ada

- Riwayat sakit sesak nafas : tidak ada

- Riwayat sakit jantung : tidak ada

- Riwayat hipertensi : tidak ada

- Riwayat diabetes : tidak ada

5. Riwayat Kebiasaan

- Riwayat merokok : (+)

- Riwayat keluarga merokok : Ayah perokok aktif (+)

- Riwayat olah raga : Jarang

- Riwayat istirahat/tidur : Tidak teratur

6. Riwayat Sosial Ekonomi -Lingkungan

Pasien tinggal di sebuah rumah yang berpenghuni 4 orang,

diantaranya Tn.H (penderita dan Kepala keluarga ), Ny.T ( Ibu ),

An.H ( anak kandung ), An.A ( Anak Kandung ).Penderita dan istri

Penderita adalah karyawan swasta di Kabupaten Sidoarjo. Sumber

pendapatan penderita bekerja sebagai karyawan swasta dengan total

penghasilan rata-rata perbulan Rp. 2.000.000,-

Rumah tinggal pasien terdiri dari 2 kamar tidur, 1 ruang tamu dan

ruang keluarga, 1 dapur, 1 kamar mandi. Luas rumah pasien ± 12 x

9meter, jarak rumah pasien dengan rumah tetangga lumayan dekat.Sinar

matahari dapat masuk ke dalam rumah pasien.Terdapat cukup jendela dan

ventilasi pada ruang tamu, sehingga sinar matahari yang masuk cukup.

Pada kedua kamar pasien jendela sering ditutupi oleh korden dan tidak

9
terdapat ventilasi.Lantai rumah pasien terbuat dari keramik, dinding rumah

berupa tembok, atap rumah terbuat dari genteng.

Sumber air minum berasal dari air sanyo , air minum selalu direbus

ketika mau dipergunakan. Kamar mandi menggunakan bak sebagai

penampung air, jamban jongkok, dan ember di dalamnya.Lantai kamar

mandi terbuat dari keramik, begitu juga dinding bak terbuat

keramik.dinding kamar mandi terbuat dari tembok biasa.Kamar mandi ini

digunakan oleh satu keluarga.

Untuk mencuci piring dan alat dapur biasanya digunakan air

sanyo.Pendapatan keluarga berasal dari pasien dan istri pasien,

masing-masing bekerja sebagai karyawan swasta.

7. Riwayat Gizi.

Penderita makan 2 kali sehari, sarapan pagi dengan makanan

sereal seperti energen dll, makan siang biasanya sering beli bakso / mie

diluar rumah.Sejak sakit nafsu makan penderita menurun.

D. ANAMNESIS SISTEM

1. Kulit : warna kulit sawo matang, kulit gatal (-)

2. Kepala : sakit kepala (-), pusing (-), rambut kepala tidak rontok,

3. Mata : penglihatan normal, mata cowong -/-, ( tidak ada

keluhan )

4. Hidung : tersumbat (-), mimisan (-), deformitas (-)

5. Telinga : pendengaran berkurang (-), berdengung (-),

keluar cairan (-),

10
6. Mulut : sariawan (-), mulut kering (-), stomatitis (-),

mukosa bibir basah (-)

7. Tenggorokan : sakit menelan (-), serak (-)

8. Pernafasan : sesak nafas (-), mengi (-), batuk (-)

9. Kadiovaskuler : berdebar-debar (-), nyeri dada (-)

10. Gastrointestinal : mual (-), muntah (-), lendir (-) , diare (+) 5x dalam

sehari, dengan volume 1/4 gelas, berwarna kuning

konsistensi cair, tidak menyemprot, ampas (+), lendir

(+), darah (-)

nafsu makan menurun (+), nyeri perut (+),

11. Genitourinaria : BAK lancar, 3-4 kali/hari warna dan jumlah seperti

biasa

12. Neuropsikiatri : Neurologik : kejang (-), lumpuh (-)

Psikiatrik : emosi stabil,

13. Muskuloskeletal : kaku sendi (-), nyeri otot (-)

14. Ekstremitas : Atas : bengkak (-), sakit (-)

Bawah : bengkak (-), sakit (-)

E. PEMERIKSAAN FISIK

1. Keadaan Umum

Cukup, kesadaran compos mentis (GCS E4V5M6).

2. Tanda Vital dan Status Gizi

 Tanda Vital :

Nadi : 60 x/menit

11
RR : 20 x/menit

Suhu : 36,1oC

Tensi : 120/80 mmHg

 Status gizi :

BB : 52 kg

TB : 165 cm

BMI = BB = 52 kg = 31,5

TB2 1,65 m (1,65m)

3. Kulit

Warna : Sawo matang, ikterik (-), sianosis (-)

4. Kepala :

Bentuk bulat lonjong simetris, tidak ada luka, rambut tidak mudah dicabut,

atrofi m. temporalis (-), makula (-), papula (-), nodula (-), kelainan mimik

wajah/bells palsy (-), hematom (-).

Mata :

Konjungtiva anemi (-), ikterik (-), sklera ikterik (-/- pupil isokor (3mm/3mm)),

reflek kornea (+/+), warna kelopak (coklat kehitaman, katarak imatur (-/-),

radang/conjunctivitis/uveitis (-/-), mata cowong (-/-)

Hidung :

Mukosa (N), Deviasi (-),Nafas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-),

deformitas hidung (-).

Mulut :

12
Bibir pucat (-), lidah kotor (-), papil lidah atrofi (-), tepi lidah hiperemis (-

), tremor (-).

Telinga :

Nyeri tekan mastoid (-), sekret (-), pendengaran berkurang (-), cuping

telinga dalam batas normal, deformitas (-)

Tenggorokan :

Tonsil membesar (-), pharing hiperemis (-)

5. Leher :

JVP dalam batas normal, trakea ditengah, pembesaran tiroid (-),

pembesaran kelenjar limfe (-), lesi pada kulit (-).

6. Thoraks

Simetris, retraksi interkostal (-).

- Cor :

I : Iktus Kordis tak tampak

P : iktus kordis tidak teraba di ICS V MCL S

P : batas kiri atas : ICS II parasternal sinistra

Batas kanan atas : ICS II parasternal dextra

Batas kiri bawah : ICS V midklavikular line sinistra

Batas kanan bawah : ICS IV parasternal dextra

Batas jantung kesan : Normal

A : S1-S2 tunggal, mur-mur (-),

- Pulmo:

I : pergerakan paru simetris

13
P : fremitus raba kiri sama dengan kanan

P : sonor/sonor

A : suara dasar vesikuler

suara tambahan rhonki (-/-), whezing (-/-)

7. Abdomen

I : dinding perut sejajar dengan dinding dada

A : Bising Usus (+) meningkat

P : timpani seluruh lapang perut

P : supel, turgor normal, nyeri tekan (-), hepar dan lien tak

teraba

8. Sistem Collumna Vertebralis

I : Deformitas (-), skoliosis (-), kiphosis (-), lordosis (-).

P : Nyeri tekan (-)

P : Nyeri Ketok CV (-)

9. Ektremitas: akral dingin oedem

- - - -

- - - -

10. Sistem Genitalia : dalam batas normal

11. Pemeriksaan neurologik :

Fungsi luhur : dalam batas normal

Fungsi Vegetatif : dalam batas normal

Fungsi Sensorik : dalam batas normal

Fungsi motorik : K = Normal T = Normal

14
RF + + RP - -

+ + - -

12. Pemeriksaan Psikiatrik :

Penampilan : sesuai umur, perawatan diri cukup

Kesadaran : kualitatif tidak berubah; kuantitatif

Afek : normal

Psikomotor : normoaktif

Proses Pikir : bentuk : Realistik

Isi : waham (-), halusinasi (-), Ilusi (-).

Arus : koheren

Insight : baik

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG

( - ) Tidak dilakukan

G. RESUME

Pasien mengeluh bab cair sejak 1 hari yang lalu, bab cair ± 5 kali

dalam 1 hari, sebanyak ± 1/4 gelas aqua, konsistensi cair, tidak

menyemprot, ampas (+), warna kekuningan, lendir (+), darah (-), bau

busuk (-). Keluhan demam atau menggigil disangkal pasien.Perut terasa

mules, mual (-), muntah (-).Pasien mengeluhkan badan terasa lemas.Nafsu

makan pasien menurun sejak mencret. BAK normal , dengan kualitas dan

15
kuantitas seperti biasa. Sebelumnya pasien sempat makan ikan bandeng

bakar, yang dibawakan saudaranya.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum cukup,

composmentis. Tanda vital T:120/80 mmHg, N: 60 x/menit, RR: 20 x/menit,

S:36,10C, BB:52 kg, TB:165cm.

H. PATIENT CENTERED DIAGNOSIS

1. Diagnosis Biologis

- Diare akut tanpa dehidrasi

2. Diagnosis Sosial Ekonomi dan Budaya

- Penyakit mengganggu aktifitas sehari-hari.

- Kondisi lingkungan rumah kurang sehat.

I. PENATALAKSANAAN

Non Medika mentosa

1. Mengatur pola makan

2. Pasien harus patuh dalam meminum obat

3. Menjaga kebersihan makanan, mengurangi kebiasaan makan dan minum

di luar rumah yang kebersihannya diragukan

4. Membiasakan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan menjaga

kebersihan kuku.

5. Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, terutama dalam hal ventilasi,

kelembapan dan kecukupan cahaya yang masuk ke dalam rumah.

6. Bed Rest tidak total

16
Diharapkan agar penderita mengurangi aktivitas berlebihan yang

dapat mengurangi daya tahan tubuh penderita dan dianjurkan banyak

istirahat.

7. Olah raga

Diharapkan penderita dapat menjaga kesehatan tubuhnya dengan

melakukan olah raga ringan seperti jalan pagi hari di lingkungan sekitar.

8. Edukasi kepada keluarga atau orang yang kontak pasien

Dengan diberikan penjelasan mengenai perjalanan awal terjadinya

diare, gejala-gejala, dan cuci tangan yang efektif, terutama sekali setelah

BAB dan BAK, dan sebelum menyiapkan makanan atau makan.

Medikamentosa

Pendekatan terapeutik

- Cotrimoxazole tab 50 mg/kgBB 3x1

- Oralit

J. FOLLOW UP

Tanggal : 28 Mei 2015

S : Pasien mengeluh bab cair (+) , hari ini BAB 5x seharitidak menyemprot,

ampas (+) , warna kekuningan, lendir (+), darah (-), bau busuk (-), mual

(-) muntah (-) nafsu makan kurang baik. BAK tidak ada keluhan dengan

kualitas dan kuantitas seperti biasa.Badan terasa lemas (+).

17
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum cukup,

composmentis. Tanda vital T:120/90 mmHg, N: 60 x/menit, RR: 20

x/menit, S:36,10C, BB:52 kg, TB:165cm.

O : Keadaan Umum : Cukup

Kesadaran : Compos Mentis

Tanda-tanda vital : N : 60 x/menit

RR : 20 x/menit

Suhu : 36,1oC

Tensi : 120/90 mmHg

Status Generalis : DBN

Pemeriksaan penunjang: Tidak dilakukan

A : Diare akut tanpa dehidrasi

P : medikamentosa :

- Cotrimoxazole tab 50 mg/kgBB 3x1

- Oralit

Non medikamentosa berupa kontrol pola makan, rutin meminum obat,mengurangi kebiasa

management: dukungan psikologis dan edukasi tentang penggunaan obat dan

pola makan.

Tanggal : 30 juni 2015

S : Pasien mengeluh bab cair , hari ini 3x dalam sehari dengan volume

1/4 gelas aqua, konsistensi agak padat ,kadang juga masih cair .tidak

18
menyemprot, ampas (+) sedikit , warna kekuningan, lendir (+), darah (-),

bau busuk (-), mual (-) muntah (-) nafsu mulaimembaik.. BAK tidak ada

keluhan dengan kualitas dan kuantitas seperti biasa. Badan terasa lemas (-

),

O : Keadaan Umum : Cukup

Kesadaran : Compos Mentis

Tanda-tanda vital : N : 70 x/menit

RR : 20 x/menit

Suhu : 36,5oC

Tensi : 110/80 mmHg

Status Generalis : DBN

Pemeriksaan penunjang: Tidak dilakukan

A : Diare akut tanpa dehidrasi

P : medikamentosa :

- Cotrimoxazole tab 50 mg/kgBB 3x1

- Oralit

Non medikamentosa berupa kontrol pola makan, rutin meminum

obat,mengurangi kebiasaan makan dan minum di luar rumah yang

kebersihannya diragukan, membiasakan mencuci tangandengan sabun

sebelum makan dan menjaga kebersihan kuku.

management: dukungan psikologis dan edukasi tentang penggunaan

obat dan pola makan.

19
Tanggal : 01 juni 2015

S : Pasien sudah tidak ada keluhan, mual (-) muntah (-) nafsu makan

membaik.. BAK tidak ada keluhan dengan kualitas dan kuantitas seperti

biasa.Badan terasa lemas (-).

O : Keadaan Umum : Cukup

Kesadaran : Compos Mentis

Tanda-tanda vital : N : 80 x/menit

RR : 20 x/menit

Suhu : 36 oC

Tensi : 120/90 mmHg

Status Generalis : DBN

Pemeriksaan penunjang: Tidak dilakukan

A : Diare akut tanpa dehidrasi

P : medikamentosa :

- Cotrimoxazole tab 50 mg/kgBB 3x1

- Oralit

Non medikamentosa berupa kontrol pola makan, rutin

meminum obat,mengurangi kebiasaan makan dan minum di luar rumah

yang kebersihannya diragukan,membiasakan mencuci tangan dengan

sabun sebelum makan dan menjaga kebersihan kuku. management:

dukungan psikologis dan edukasi tentang penggunaan obat dan pola

makan.

20
FLOW SHEET

Nama : Sdr, H.K

Diagnosis : Diare akut tanpa dehidrasi

No. Tanggal Tensi BB TB Status KETERANGAN

( mmHg) (Kg) (Cm) Gizi

1 27 Mei 2015 120/80 52 165 Baik Terapi dilanjutkan,

dan edukasi pengaturan pola


2 28 Mei 2015 120/90 52 165 Baik
makan serta kebersihan diri

3 30 Mei 2015 110/80 52 165 Baik ,dan lingkungan

4 01 Juni 2015 120/90 52 165 Baik

21
BAB II

IDENTIFIKASI FUNGSI- FUNGSI KELUARGA

A. FUNGSI KELUARGA

1. Fungsi Biologis.

Keluarga terdiri ibu, ayah dan duaorang anaknya.

2. Fungsi Psikologis

Pasien tinggal di sebuah rumah yang berpenghuni 4 orang,

diantaranya Tn.H.K( Kepala keluarga, penderita umur 36tahun ), Ny. T

( Ibu ), An.H ( anak kandung ), An.A ( Anak Kandung ). Hubungan

terjalin akrab, jika terjadi masalah diselesaikan secara musyawarah.

3. Fungsi Sosial

Penderita suka bergaul dengan tetangga sekitar rumahnya. Dalam

masyarakat penderita hanya sebagai anggota masyarakat biasa, tidak

mempunyai kedudukan sosial tertentu dalam masyarakat.

4. Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan

Penghasilan keluarga berasal dari penghasilan dari penderita

Tn.H.Kdan istrinyayang sama-sama bekerja sebagai karyawan swasta di

Kabupaten Sidoarjo dengan total penghasilan sebesar Rp 2.000.000,00

perbulannya.

Penghasailan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan 4 orang

anggota rumah tersebut. Untuk biaya hidup sehari-hari seperti makan, minum,

biaya sekolah dankeperluan lainnya. Untuk memasak memakai kompor gas.

22
Makan sehari-hari dengan lauk, tahu, tempe, kadang daging, buah dan

frekuensi makan kadang-kadang 2-3 kali sehari. Penderita mengikuti asuransi

BPJS.

5. Fungsi Penguasaan Masalah dan Kemampuan Beradaptasi

Penderita memiliki pengetahuan yang cukup tentang diare,

sehingga sejak menderita Diare pasien selalu menjaga kebersihan

lingkungan dan pribadi yang nya. Juga mengurangi kebiasaan

makan dan minum di luar rumah yang kebersihannya diragukan,

membiasakan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan menjaga

kebersihan kuku. Pasien juga menjalin komunikasi dengan seluruh

anggota keluarga, sehingga jika ada masalah keluarga selalu dibicarakan

secara baik dengan anggota keluarga.

B. APGAR SCORE

ADAPTATION

Penderita selalu mendapat dukungan dari seluruh anggota keluarganya atas

masalah yang dihadapi penderita, baik dukungan moral, spiritual, dan memberi

motivasi untuk rajin minum obat dan kontrol ke puskesmas agar penderita cepat

sembuh, sekaligus meyakinkan penderita bahwa penyakitnya dapat disembuhkan.

PARTNERSHIP

Penderita sadar bahwa ia merupakan orang yang paling diharapkan dan

bertanggung jawab dalam keluarga tersebut kelak, sehingga ia menjaga dan

23
mengayomi keluarganya. Dimana seluruh anggota keluarga tersebut juga menghargai

penderita. Hubungan komunikasi antar anggota keluarga juga berjalan dengan baik.

GROWTH

Penderita sadar bahwa ia harus bersabar dalam menghadapi penyakitnya,

yaitu dengan ia mau rutin mengkonsumsi oabt, selalu kontrol ke puskesmas, dan juga

mematuhi saran yang diberikan oleh dokter yang merawatnya.

AFFECTION

Penderita merasa hubungan kasih dan interaksi dengan masing-masing

individu yang ada dalam rumah tersebut adalah cukup baik .

RESOLVE

Penderita merasa cukup puas dengan kebersamaan yang ada didalam

keluarga tersebut, walaupun kesibukan masing-masing individu yang padat. Masih

terjalinnya komunikasi yang efektif membuat penderita menjadi nyaman.

APGAR Tn. H.K (penderita) Terhadap Sering/ Kadang- Jarang/tidak

Keluarga selalu kadang

A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke 

keluarga saya bila saya menghadapi masalah

P Saya puas dengan cara keluarga saya 

membahas dan membagi masalah dengan saya

G Saya puas dengan cara keluarga saya 

menerimadan mendukung keinginan saya

untuk melakukan kegiatan baru atau arah

hidup yang baru

A Saya puas dengan cara keluarga saya 

24
mengekspresikan kasih sayangnya dan

merespon emosi saya seperti kemarahan,

perhatian dll

R Saya puas dengan carakeluarga saya dansaya 

membagi waktu bersama-sama

Total poin = 9 fungsi keluarga dalam keadaan baik

Tn, H sebagai kepala keluarga bekerja dari pagi hingga sore , Tn

Hmeskipun sedikit mempunyai waktu luang akan tetapi Tn,Hmasih

merasa puas dengan kebersamaan didalam keluarga tersebut.

APGAR Ny.T Terhadap Keluarga Sering/ Kadang- Jarang/tidak

selalu kadang

A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke 

keluarga saya bila saya menghadapi masalah

P Saya puas dengan cara keluarga saya 

membahas dan membagi masalah dengan saya

G Saya puas dengan cara keluarga saya 

menerimadan mendukung keinginan saya

untuk melakukan kegiatan baru atau arah

hidup yang baru

A Saya puas dengan cara keluarga saya 

mengekspresikan kasih sayangnya dan

merespon emosi saya seperti kemarahan,

perhatian dll

25
R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya 

membagi waktu bersama-sama

Total poin = 9, fungsi keluarga dalam keadaan baik

Ny.T sebagai ibu rumah tangga, sehingga mempunyai waktu luang

yang cukup untuk memperhatikan kesehatan Tn.H serta waktu luang yang

cukup untuk berkomunikasi dengan suami dan anak-anaknya, sehingga

dapat terjalin hubungan keluarga yang baik dan harmonis.

APGAR An. H Sering/ Kadang- Jarang/tidak

Terhadap Keluarga selalu kadang

A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke 

keluarga saya bila saya menghadapi masalah

P Saya puas dengan cara keluarga saya 

membahas dan membagi masalah dengan saya

G Saya puas dengan cara keluarga saya 

menerimadan mendukung keinginan saya

untuk melakukan kegiatan baru atau arah

hidup yang baru

A Saya puas dengan cara keluarga saya 

mengekspresikan kasih sayangnya dan

merespon emosi saya seperti kemarahan,

perhatian dll

R Saya puas dengan carakeluarga saya dansaya 

membagi waktu bersama-sama

Total poin = 9, fungsi keluarga dalam keadaan baik

26
Walaupun An.H bersekolah dari pagi hingga siang , An.H masih

merasa puas dengan kebersamaan didalam keluarga tersebut.

APGAR An.ATerhadap Keluarga Sering/ Kadang- Jarang/tidak

selalu kadang

A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke 

keluarga saya bila saya menghadapi masalah

P Saya puas dengan cara keluarga saya 

membahas dan membagi masalah dengan saya

G Saya puas dengan cara keluarga saya 

menerimadan mendukung keinginan saya

untuk melakukan kegiatan baru atau arah

hidup yang baru

A Saya puas dengan cara keluarga saya 

mengekspresikan kasih sayangnya dan

merespon emosi saya seperti kemarahan,

perhatian dll

R Saya puas dengan carakeluarga saya dansaya 


membagi waktu bersama-sama

Total poin = 9, fungsi keluarga dalam keadaan baik

An.A saat ini sedang duduk di kelas1SD , aktivitasnya sepulang

sekolah adalah belajar, bermain dengan kakaknya sambil menunggu kedua

orang tuanya pulang kerja.

Secara keseluruhan total poin dari APGAR keluarga Tn.H.K.

adalah 36, sehingga rata-rata APGAR dari keluarga adalah 9. Hal ini

27
menunjukkan bahwa fungsi fisiologis yang dimiliki keluarga dalam

keadaan baik. Hubungan antar individu dalam keluarga tersebut terjalin

baik.

C. SCREEM

SUMBER PATHOLOGY KET

Sosial Interaksi sosial yang baik antar anggota _

keluarga juga dengan saudara partisipasi

mereka dalam masyarakat cukup meskipun

banyak keterbatasan.

Cultural Kepuasan terhadap budaya baik, hal ini dapat _

dilihat dari komunikasi sehari-hari dalam

keluarga dan selalu berprilaku saling tolong-

menolong.

Religius Pemahaman agama cukup. Namun _

Agama menawarkan pengalaman penerapan ajaran agama cukup baik, hal ini

spiritual yang baik untuk dapat dilihat dari penderita dan anggota

ketenangan individu yang tidak keluarganya rutin menjalankan sholat.

didapatkan dari yang lain

Ekonomi Ekonomi keluarga ini tergolong menengah +

ke bawah, untuk kebutuhan primer sudah

bisa terpenuhi, meski belum mampu

mencukupi kebutuhan sekunder.

Edukasi Pendidikan anggota keluarga kurang +

28
memadai. Tingkat pendidikan dan

pengetahuan orang tua masih rendah.

Kemampuan untuk memperoleh dan

memiliki fasilitas pendidikan seperti buku-

buku, koran terbatas.

Medical Tidak mampu membiayai pelayanan _

Pelayanan kesehatan puskesmas kesehatan yang lebih baik Dalam mencari

memberikan perhatian khusus pelayanan kesehatan keluarga ini biasanya

terhadap kasus penderita menggunakan Puskesmas dan hal ini mudah

dijangkau karena letaknya dekat.

Keterangan :

 Keluarga Tn. H tidak memiliki masalah dalam hal ini, karena

semua berjalan dengan baik

D. KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA

Alamat Lengkap : jln. Raya Putat RT02RW06

Kec. Tanggulangin - Sidoarjo

Bentuk Keluarga : Nuclear / Extended Family

29
Diagram 1. Genogram Keluarga

Dibuat tanggal 08 juni 2015

Tn,H.K Ny. T
H.K

An.H An.A

Sumber : Data Kartu Keluarga

E. INFORMASI POLA INTERAKSI KELUARGA

Keterangan :
Tn.H Berhubungan baik

Hubungan antara Tn.H dengan anggota keluarga lainnya sangat dekat.Dalam

keluarga ini tidak sampai terjadi konflik atau hubungan buruk antar anggota

keluarga.

30
F. Pertanyaan Sirkuler

1. Ketika Tn.H (penderita) jatuh sakit apa yang dilakukan oleh keluarga?

Jawab : Ny.T mengantarkan Tn.H. (penderita) untuk berobat ke puskesmas

2. Kalau butuh dirawat/operasi ijin siapa yang dibutuhkan?

Jawab : Dibutuhkan ijin Tn.H dan Ny.T karena sebagai istri. Namun

sebelumya melalui musyawarah dengan anggota keluarga lainya atau

mungkin juga melibatkan keluarga besarnya.

3. Siapa anggota keluarga yang terdekat dengan Tn.H (penderita)?

Jawab : Anggota keluarga yang dekat dengan penderita adalah

Ny.T.Karena waktu yang tersedia untuk bertemu lebih banyak dan

penderita selalu menyampaikan keinginannya.

4. Siapa yang secara emosional jauh dari Tn.H (penderita)?

Jawab : Tidak ada

5. Siapa yang selalu tidak setuju dengan Tn.H (penderita)?

Jawab : Tidak ada

6. Siapa yang biasanya tidak setuju dengan anggota keluarga lainnya?

Jawab : Tn.H, karena sebagian besar keputusan di dalam keluarga di ambil

oleh kepala keluarga.

31
BAB III

IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

KESEHATAN

A. IDENTIFIKASI FAKTOR PERILAKU DAN NON PERILAKU

KELUARGA

1. Faktor Perilaku Keluarga

Menurut semua anggota keluarga ini, yang dimaksud dengan sehat

adalah keadaan bebas dari sakit, yaitu keadaan yang menghalangi aktivitas

sehari-hari. Keluarga ini menyadari pentingnya kesehatan karena apabila

mereka sakit, hal itu akan mengganggu pekerjaan dan menjadi beban di

keluarga. Keluarga ini meyakini bahwa sakitnya disebabkan oleh makanan,

dan kebersihan diri serta lingkungan sekitar, bukan dari guna-guna, sihir,

atau supranatural/takhayul. Mereka tidak terlalu mempercayai mitos , apalagi

menyangkut masalah penyakit, lebih mempercayakan pemeriksaan atau

pengobatannya pada mantri, bidan, atau dokter puskesmas yang terletak

dekat dengan rumah.

Lingkungan di dalam rumah pasien kurang begitu tertata dengan rapi ,

tampak perabotan belum tertata rapi di dapur. Namun keluarga ini berusaha

menjaga kebersihan lingkungan rumahnya misalnya dengan menyapu rumah

dan halaman paling tidak sehari dua kali, pagi dan sore. Ruangan-ruangan di

dalam rumah memiliki pencahayaan dan ventilasi yang kurang cukup.

32
Keluarga ini tidak memiliki fasilitas lengkap, akan tetapi memiliki

jamban sendiri di dalam rumahnya dan untuk kegiatan mencuci dan mandi

keluarga ini menggunakan sumber air dari sanyo.

2. Faktor Non Perilaku

Dipandang dari segi perekonomian, keluarga ini termasuk keluarga

menengah ke bawah. Rumah yang dihuni keluarga ini kurang memadai

karena belum memenuhi standar kesehatan. Pencahayaan dan ventilasi di

kamar kurang cukup, namun ada beberapa ruangan yang masih belum

terawat, perabotan berserakan,. Fasilitas kesehatan yang sering dikunjungi

oleh keluarga ini jika sakit adalah Puskesmas Tanggulangin, karena jaraknya

yang sangat dekat dengan rumah.

B. IDENTIFIKASI LINGKUNGAN RUMAH

Gambaran Lingkungan

Keluarga ini tinggal di sebuah rumah berukuran 12 x 9 m2 yang

berdempetan dengan rumah tetangganya dan menghadap ke utara. Memiliki

terasdi depan rumahnya. Terdiri dari ruang tamu, 2 kamar tidur, 1 kamar

mandi yang dilengkapi dengan fasilitas jamban , 1kamar gudang, 1 kamar

sholat,1 ruang dapur. Terdiri dari 3 pintu keluar, yaitu 1 pintu depan,1 pintu

belakang dan 1 pintu samping. Lantai rumah terbuat dari keramik.Ventilasi

dan penerangan rumah masih kurang.Atap rumah tersusun dari

genteng.Dinding rumah dicat dengna warna yang cukup cerah.Perabotan

rumah tangga minim.Sumber air untuk kebutuhan sehari-harinya keluarga ini

33
menggunakan sanyo.Secara keseluruhan kebersihan rumah masih kurang.

Sehari-hari keluarga memasak menggunakan kompor gas .

Denah Rumah :

Keterangan :

Pintu :

Jendela/ventilasi :

34
BAB IV

DAFTAR MASALAH

1. Masalah aktif :

a. Diare akut tanpa dehidrasi

b. Resiko penularan pada anggota keluarga yang lain

2. Faktor resiko :

a. Lingkungan dan tempat tinggal yang tidak sehat

b. Pasien terkadang lupa mencuci tangan sebelum makan

c. Lebih suka makan diluar dari pada dirumah

DIAGRAMPERMASALAHAN PASIEN

(Menggambarkan hubungan antara timbulnya masalah kesehatan yang ada

dengan faktor-faktor resiko yang ada dalam kehidupan pasien)

Perilaku Tn. H Lingkungan

Diare

Pelayanan Kesehatan

35
BAB V

PATIENT MANAGEMENT

A. PATIENT CENTERED MANAGEMENT

1. Suport Psikologis

Pasien memerlukan dukungan psikologis terutama dari semua

anggota keluarga dan dokter yang merawatnya, mengenai faktor-faktor yang

dapat menimbulkan kepercayaan baik pada diri sendiri maupun kepada

dokternya. Antara lain dengan cara :

a. Memberikan perhatian pada berbagai aspek masalah yang dihadapi.

b. Memberikan perhatian pada pemecahan masalah yang ada.

c. Memantau kondidi fisik dengan teliti dan berkesinambungan

d. Timbulnya kepercayaan dari pasien, sehingga timbul pula kesadaran

dan kesungguhan untuk mematuhi nasihat-nasihat dari dokter.

Pendekatan Spiritual, diarahkan untuk lebih mendekatkan diri

kepada Tuhan YME, misalnya dengan rajin ibadah, berdoa dan memohon

hanya kepada Tuhan YME

Dukungan psikososial dari keluarga dan lingkungan merupakan hal

yang harus dilakukan.Bila ada masalah, evaluasi psikologis dan evaluasi

kondisi sosial, dapat dijadikan titik tolak program terapi psikososial.

2. Penetraman Hati

Menentramkan hati diperlukan untuk keluarga pasien dengan

problem psikologis antara lain yang disebabkan oleh persepsi yang salah

36
tentang penyakitnya, kecemasan, kekecewaan dan keterasingan yang di

alami akibat penyakitnya. Menetramkan hati penderita dengan

memberikan edukasi tentang penyakitnya bahwa penyakitnya tersebut

dapat disembuhkan.Faktor yang paling penting untuk kesembuhannya

adalah ketekunan dalam menjalani pengobatan sesuai petunjuk dokter.

Selain itu juga di dukung dengan makan makanan yang bergizi tinggi yang

sesuai dengan anjuran dokter, istirahat yang cukup.Diharapkan pasien bisa

berpikir positif, tidak berprasangka buruk terhadap penyakitnya, dan

membangun semangat hidupnya sehingga bisa mendukung penyembuhan

dan meningkatkan kualitas hidupnya.

3. Penjelasan, Basik Konseling dan Pendidikan Pasien.

Memberikan informasi atau penjelasan kepada pasien dan anggota

keluarganya tentang penyakit yang diderita Sdr, A secara menyeluruh, dari

pencegahan, penularan, hingga pengobatannya.

Pasien harus diberi pengertian tentang pentingnya pengobatan

secara rutin untuk mengupayakan kesembuhannya, sehingga pasien dapat

sembuh sesuai dengan harapan.

4. Menimbulkan rasa percaya diri dan tanggung jawab pada diri sendiri.

Dokter perlu menimbulkan rasa percaya dan keyakinan pada

diri pasien bahwa ia bisa melewati berbagai kesulitan dan penderitaannya.

Selain itu juga ditanamkan rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri

mengenai kepatuhan dalam jadwal kontrol, keteraturan minum obat, diet

37
yang dianjurkan dan hal-hal yang perlu dihindari serta yang perlu

dilakukan.

5. Pengobatan

Medikamentosa dan non medikamentosa seperti yang tertera

dalam penatalaksanaan.

6. Pencegahan dan Promosi Kesehatan

Pencegahan dan promosi kesehatan sangatlah berperan dalam

kesembuhan pasien. Dapat berupa perubahan tingkah laku , lingkungan

(tempat tinggal yang tidak boleh lembab dengan penggunaan ventilasi

yang cukup, pemakaian genteng kaca sehingga pencahayaan cukup dan

kebersihan lingkungan rumah dan luar rumah yang bersih dengan disapu

3x/hari), meningkatkan daya tahan tubuh dengan cara diet makanan

bergizi dan olah raga yang teratur.

Penyuluhan oleh program diare dan lintas sector di lingkungan

masyarakat, khususnya masyarakat disekitar pasar tentang penyakit diare

agar masyarakat lebih memahami tentang penyakit diare antara lain:

tanda-tanda awal penyakit, cara penularan penyakit, pengobatan penyakit,

dan cara pencegahannya. Dengan demikian paradigma yang salah tentang

penyakit diare di masyarakat dapat diluruskan.

Juga disertai penyuluhan oleh lintas program dan lintas sector

mengenai PHBS di dalam rumah tangga dan tempat-tempat umum, agar

masyarakat memahami pentingnya PHBS di dalam rumah tangga dan

38
tempat-tempat umum untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan

sehat, sehingga dapat mengurangi resiko terjadinya suatu penyakit.

B. PREVENSI BEBAS DIARE UNTUK ANGGOTA KELUARGA

Pada prinsipnya secara umum prevensi untuk bebas diare adalah

sama dengan prevensi bebas diare untuk penderita, namun dalam hal ini

diutamakan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Misalnya dengan cara

sebagai berikut :

1. Bagi keluarga diharapkan menjaga pola makan sehari-hari dengan

mengkonsumsi makanan bersih

2. Membiasakan diri untuk selalu cuci tangan sebelum makan dan sesudah

makan

3. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitarnya (rumah).

4. Istirahat yang cukup 6-8 jam sehari semalam.

5. Olah raga teratur dan makan-makanan yang bergizi.

Kesemuanya ini merupakan langkah-langkah untuk meningkatkan

daya tahan tubuh bagi anggota keluarga yang serumah dengan penderita agar

tidak tertular infeksi oleh bakteri diare dari penderita.

C. PREVENSI BEBAS DIARE UNTUK ANGGOTA MASYARAKAT

Dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat terutama pada

masyarakat yang berisiko terkena diare, dengan memberi pengetahuan

tentang:

39
 Penyebab diare

 Gejala diare

 Penatalaksanaan preventif

Dengan ini dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang

penyakit diare, dan diharapkan berkurangnya jumlah penderita

diare.Penyuluhan oleh program diare dan lintas sector di lingkungan

masyarakat, khususnya masyarakat disekitar pasar tentang penyakit diare

agar masyarakat lebih memahami tentang penyakit diare antara lain:

tanda-tanda awal penyakit, cara penularan penyakit, pengobatan penyakit,

dan cara pencegahannya. Dengan demikian paradigma yang salah tentang

penyakit diare di masyarakat dapat diluruskan.

Pencegahan dan promosi kesehatan sangatlah berperan dalam

kesembuhan pasien. Dapat berupa perubahan tingkah laku , lingkungan

(tempat tinggal yang tidak boleh lembab dengan penggunaan ventilasi

yang cukup, pemakaian genteng kaca sehingga pencahayaan cukup dan

kebersihan lingkungan rumah dan luar rumah yang bersih

Diadakan posbindu, yaitu kegiatan monitoring dan deteksi dini

faktor resiko diare.

 Peran masyarakat : membentuk ketenagaan untuk koordinasi dan

kader.

 Peran kader :kader komunikatif bertugas menggerakkan masyarakat,

sekaligus melakukan wawancara dalam penggalian informasi tentang

40
Diare. Seperti masalah kebersihan lingkungan terutama kamar mandi,

masalah kebersihan makanan, dan juga pola hidup sehat dan bersih.

 Peran kepala desa : membantu untuk mengkoordinasi masyarakat

dalam hal pelaksanan dan memastikan semua masyarakat dapat

berpartisipasi dalam posbindu tersebut.

41
BAB VI

TINJAUAN PUSTAKA

DIARE AKUT

A. LATAR BELAKANG

Diare saat ini masih menjadi salah satu masalah kesehatan, jutaan

kasus dilaporkan setiap tahun dan diperkirakan sekitar 4-5 juta orang

meninggal karena diare akut.Epidimologi penyakit diare dapat ditemukan

pada seluruh daerah geografis baik negara yang telah maju ataupun di negara

berkembang seperti di Indonesia.Di negara maju walaupun sudah terjadi

perbaikan kesehatan dan sosial ekonomi yang tinggi tetapi insiden penyakit

diare tetap tinggi dan masih menjadi masalah kesehatan.Tingginya insidensi

(angka kesakitan) diare di negara maju disebabkan karena foodborne infection

dan waterborn infection yang disebabkan karena bakteri Shigella sp,

Campylobacter jejuni, Staphylococcus aureus, Basillus cereus, Clostridium

prefingens, Enterohemorrhagic Eschersia colli (EHEC). Diperkirakan

insidensi diare 0,5-2/episode/orang/tahun ada di negara maju sedangkan di

negara berkembang lebih dari itu. Di USA dengan penduduk sekitar 200 juta

diperkirakan 99 juta penderita diare setiap tahunnya. Berdasarkan laporan

organisasi kesehatan dunia(WHO,2000), di Bangladesh selama kurun waktu

10 tahun (1974-1984) angka kejadian diare berkisar1,93%-4,2% (Setiawan,

2006; Suzanna, 1993).

42
Di Indonesia diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat,

besarnya masalah tersebut terlihat dari tingginya insidensi, angka kematian

serta masih sering terjadinya kejadian luar biasa (KLB) (Loehoeri,

1998).Angka kesakitan diare (insidensi) diare di Indonesia pada tahun 2000

(survei P2 diare) 301 per 1000 penduduk (Depkes RI 2005). Insidensi di Jawa

Tengah pada tahun 2004 11,1 per 1000 penduduk (P2M Dinkes Jateng 2004).

Masih tingginya angka kesakitan diare akut saat ini, maka pemerintah melalui

program pemberantasan penyakit diare (program PD) pada pelita VI menekan

angka kesakitan, angka kematian serta penanggulangan KLB (kejadian luar

biasa) diare. Adanya kebijakan tersebut, diharapkan angka kematian saat KLB

di lapangan tidak lebih dari 1,5 % dan angka kematian di rumah sakit dibawah

1 %. (Loehoeri S 1998) Pengelolaan diare yang benar dapat mengurangi

angka kematian sampai 95% (Widodo, 2000).

Diare dapat disebabkan oleh berbagai hal diantaranya infeksi (bakteri,

parasit dan virus), keracunan makanan, efek obat-obatan dan lain-lain.

Menurut world gastroenterology organisation global guidelines 2005, etiologi

diare akut dibagi dalam 4 penyebab: bakteri, virus, parasit dan noninfeksi

(Setiawan. 2006).

Beberapa kelompok yang mempunyai faktor risiko tinggi untuk terkena

diare yaitu orang yang baru saja berpergian ke negara berkembang, daerah

tropis, kelompok perdamaian dan pekerja sukarela, orang yang sering

berkemah (dasar berair), makanan dalam keadaan yang tidak biasa: makanan

laut dan shell fish, terutama yang mentah, restoran dan rumah makan cepat

43
saji, homoseksual, dan pada penggunaan anti mikroba jangka lama di rumah

sakit Institusi kejiwaan atau mental (Setiawan, 2006).

Gambaran klinis diare adalah tinja yang encer dengan frekuensi empat

kali atau lebih dalam sehari, yang sering disertai dengan muntah, badan lesu

atau lemah, panas, tidak nafsu makan, darah dan lendir dalam kotoranrasa

mual dan muntah-muntah dapat mendahului diare yang disebabkan oleh virus

(Vila J et all, 2000).

B. DEFINISI

Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair

atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari

biasanya lebih dari 200 gram atau 200 ml/24 jam. Definisi lain memakai

kriteria frekuensi, yaitu buang air besar encer lebih dari tiga kali perhari.

Buang air besar encer tersebut dapat/tanpa disertai lendir dan darah.

Diare akut yaitu diare yang berlangsung kurang dari 15

hari.Sedangkan menurut World Gastroenterology Organisation global

guideline 2005, diare akut didefinisikan sebagai pasase tinja yang

cair/lembek dengan jumlah lebih banyak dari normal, berlangsung kurang

dari 14 hari.Diare kronik adalah diare yang berlangsung lebih dari 15 hari.

Diare infektif adalah bila penyebabnya infeksi.Sedangkan diare non

infeksi bila tidak ditemukan infeksi sebagai penyebab pada kasus

tersebut.Diare organik adalah bila ditemukan penyebab anatomik,

bakteriologik, hormonal atau toksikologik. Diare fungsional bila tidak dapat

ditemukan penyebab organik (Sudoyo,2009)

44
C. KLASIFIKASI

Diare dapat diklasifikasikan berdasarkan: 1. Lama waktu diare: akut

atau kronik, 2. Mekanisme patofisiologi: osmotik atau sekretorik dll, 3. Berat

ringan diare: kecil atau besar, 4. Penyebab infeksi atau tidak: infeksi atau

non-infeksi dan 5. Penyebab organik atau tidak: organik atau fungsional.

(Sudoyo,2009)

D. ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO

Diare akut disebabkan oleh banyak penyebab antara lain infeksi

(bakteri, parasit, virus), keracunan makanan, efek obat-obatan dan lain-lain.

(Sudoyo,2009)

Faktor-faktor penyebab diare :

1. Faktor Infeksi

Infeksi merupakan penyebab utama diare akut, baik oleh bakteri,

virus maupun parasit. Penyebab lain timbulnya diare akut adalah

toksin dan obat, nutrisi enteral yang diikuti puasa yang lama,

kemoterapi,impaksi fekal (overflow diarrhea) atau berbagai kondisi

lain. Dari penelitian pada tahun1993-1994 terhadap 123 pasien

dewasa yang menderita diare akut, penyebab terbanyak hasil infeksi

bakteri E.coli (38.29%), V.cholerae Ogawa (18.29%), Aeromonas. Sp

(14.29%) (Mansjoer,2001).

45
Diare oleh sebab infeksi Diare oleh sebab non-infeksi

1. Bakteri 1.Defek Anatomi

Shigela, Salmonella, E.colli,  Short Bowel Syndrome

Vibrio cholera, Staphylococcus  Penyakit Hirchsprung

aureus, Campilobacter 2. Malabsorbsi

aeromonas  Defisiensi disakaridase

2. Virus  Cholestasis

Rotavirus, Norwalk, Norwalk 3.Alergi

like agent, Adenovirus  Alergi susu sapi

3. Parasit 4.Keracunan makanan

Protozoa : Entamoeba  Logam berat

histolytica, Giardia lamblia,  Mushroom

Balantidium coli, Cacing : 5.Vitamin C terlalu tinggi

Ascaris, Trichiuris trichiura 6. fruktosa berlebih

Jamur : Candida

2. Faktor Umur

3. Faktor Status Gizi

4. Faktor Lingkungan  sanitasi dasar, sarana air bersih, limbah dan

sampah, serta jamban keluarga

5. Faktor Susunan Makan  yang mempengaruhi angka kejadian diare

adalah adanya antigen, osmolaritas terhadap cairan, malabsorpsi, dan

mekanik.

46
Cara penularan diare melalui cara faecal-oral yaitu melalui

makanan atau minuman yang tercemar kuman atau kontak langsung

tangan penderita atau tidak langsung melalui lalat ( melalui 5F = faeces,

flies, food, fluid, finger).

Faktor risiko terjadinya diare adalah:

1. Faktor perilaku

2. Faktor lingkungan

Faktor perilaku antara lain:

a. Tidak memberikan Air Susu Ibu/ASI (ASI eksklusif),

memberikan Makanan Pendamping/MP ASI terlalu dini akan

mempercepat bayi kontak terhadap kuman

b. Menggunakan botol susu terbukti meningkatkan risiko terkena

penyakit diare karena sangat sulit untuk membersihkan botol

susu

c. Tidak menerapkan Kebiasaaan Cuci Tangan pakai sabun

sebelum memberi ASI/makan, setelah Buang Air Besar (BAB),

dan setelah membersihkan BAB anak

d. Penyimpanan makanan yang tidak higienis

Faktor lingkungan antara lain:

a. Ketersediaan air bersih yang tidak memadai, kurangnya

ketersediaan Mandi Cuci Kakus (MCK)

b. Kebersihan lingkungan dan pribadi yang buruk

47
Disamping faktor risiko tersebut diatas ada beberapa faktor dari

penderita yang dapat meningkatkan kecenderungan untuk diare antara lain:

kurang gizi/malnutrisi terutama anak gizi buruk, penyakit

imunodefisiensi/imunosupresi dan penderita campak (Depkes RI, 2011).

Gambar 2.1 Peta konsep etiologi diare

Menurut Mansjoer (2001), diare akibat infeksi ditularkan secara fekal

oral. Hal ini disebabkan makanan atau minuman yang masuk terkontaminasi

tinja ditambah ekskresi yang buruk, makanan yang tidak matang bahkan

disajikan tanpa dimasak.Penularannya adalah melalui transmisi orang ke

orang melalui aerosolisasi, tangan yang terkontaminasi (Clostridium difficile),

atau melalui aktifitas seksual.

48
Faktor penyebab yang mempengaruhi patogenesis antara lain

penetrasi yang merusak sel mukosa, kemampuan memproduksi toksin yang

mempengaruhi sekresi cairan di usus serta daya lekat kuman. Kuman tersebut

membentuk koloni yang dapat menginduksi diare. Patogenesis diare yang

disebabkan karena infeksi bakteri terbagi dua, yaitu :

1. Bakteri noninvasif (enterotoksigenik)

Toksin yang diproduksi bakteri akanterikat pada usus

halus namun tidak merusak mukosa. Bakteri yang termasuk

golongan ini adalah V. cholera, Enterotoksigenik E.coli,

C.perfingers, S.aureus, dan vibrio-nonaglutinabel.Secara klinis,

diare berupa cairan dan meninggalkan dubur seara deras dan

banyak.Keadaan seperti ini disebut diare sekretorik isotonik

voluminal.

2. Bakteri enteroinvasif

Diare yang menyebabkan kerusakan dinding usus berupa

nekrosis dan ulserasi dan bersifat sekretorik eksudatif.Cairan diare

dapat bercampur lender dan darah. Bakteri yang termasuk golongan

ini adalah enteroinvasive E.coli, S.paratyphi B,S. typhimurium,

S.enteriditis, S. choleraesuis, Shigela, Yersinia dan C.perfingers Tipe

C (Sudoyo,2009).

49
Penyakit diare sebagian besar (75%) disebabkan oleh kuman seperti

virus dan bakteri. Penularan penyakit diare melalui orofekal terjadi dengan

mekanisme berikut ini:

1. Melalui air yang merupakan media penularan utama.

Diare dapat terjadi bila seseorang menggunakan air minum

yang sudah tercemar, baik tercemar dari sumbernya, tercemar

selama perjalanan sampai ke rumah-rumah, atau tercemar pada

saat disimpan di rumah.Pencemaran di rumah terjadi bila tempat

penyimpanan tidak tertutup atau apabila tangan yang tercemar

menyentuh air pada saat mengambil air dari tempat

penyimpanan.

2. Melalui tinja terinfeksi.

Tinja yang sudah terinfeksi mengandung virus atau bakteri

dalam jumlah besar.Bila tinja tersebut dihinggapi oleh binatang

dan kemudian binatang tersebut hinggap di makanan, maka

makanan itu dapat menularkan diare ke orang yang yang

memakannya.

3. Faktor-faktor yang meningkatkan risiko diare adalah:

a. Pada usia 4 bulan bayi sudah tidak diberi ASI ekslusif lagi.

(ASI ekslusif adalah pemberian ASI saja sewaktu bayi

berusia 0-4 bulan). Hal ini akan meningkatkan risiko

50
kesakitan dan kematian karena diare, karena ASI banyak

mengandung zat-zat kekebalan terhadap infeksi.

b. Memberikan susu formula dalam botol kepada bayi.

Pemakaian botol akan meningkatkan risiko pencemaran

kuman, dan susu akan terkontaminasi oleh kuman dari

botol. Kuman akan cepat berkembang bila susu tidak segera

diminum.

c. Menyimpan makanan pada suhu kamar. Kondisi tersebut

akan menyebabkan permukaan makanan mengalami kontak

dengan peralatan makanan yang merupakan media yang

sangat baik bagi perkembangan mikroba.

d. Tidak mencuci tangan pada saat memasak, makan, atau

sesudah buang air besar (BAB) akan memungkinkan

kontaminasi langsung (Widoyono, 2008).

E. EPIDEMIOLOGI

Diare merupakan masalah umum ditemukan diseluruh dunia.Di

Amerika Serikat keluhan diare menempati peringkat ketiga dari daftar keluhan

pasien pada ruang praktek dokter, sementara di beberapa rumah sakit di

Indonesia data menunjukkan diare akut karena infeksi terdapat peringkat

pertama sampai ke empat pasien dewasa yang datang berobat ke rumah

sakit.Di negara maju diperkirakan insiden sekitar 0,5-2 episode/orang/tahun

sedangkan di negara berkembang lebih dari itu. Di USA dengan penduduk

51
sekitar 200 juta diperkirakan 99 juta episode diare akut pada dewasa terjadi

setiap tahunnya.WHO memperkirakan ada sekitar 4 miliar kasus diare akut

setiap tahun dengan mortalitas 3-4 juta pertahun (P Tjaniadi, 2003).

Di negara maju walaupun sudah terjadi perbaikan kesehatan dan

ekonomi masyarakat, tetapi insiden diare infeksi tetap tinggi dan masih

menjadi masalah kesehatan. Di Inggris 1 dari 5 orang menderita diare infeksi

setiap tahunnya dan 1 dari 6 orang pasien yang berobat ke praktek umum

menderita diare infeksi. Tingginya kejadian diare di negara Barat ini oleh

karena foodborne infections dan waterborne infections yang disebabkan

bakteri Salmonella spp, Campylobacter jejuni, Stafilococcus aureus, Bacillus

cereus, Clostridium perfringens dan Enterohemorrhagic Escherichia coli

(EHEC) (ACC Jones,2004)sedangkan di negara berkembang, diare infeksi

menyebabkan kematian sekitar 3 juta penduduk setiap tahun. Di Afrika

penduduknya terserang diare infeksi 7 kali setiap tahunnya, di banding di

negara berkembang lainnya yang hanya mengalami serangan diare 3 kali

setiap tahunnya.(ACC Jones,2004).

Di indonesia sendiri Penyakit diare masih merupakan masalah

kesehatan masyarakat di negara berkembang karena morbiditas dan

mortalitas-nya yang masih tinggi. Survei morbiditas yang dilakukan oleh

Subdit Diare, Departemen Kesehatan dari tahun 2000 s/d 2010 terlihat

kecenderungan insidens naik. Pada tahun 2000 IR penyakit Diare 301/ 1000

penduduk, tahun 2003 naik menjadi 374 /1000 penduduk, tahun 2006 naik

menjadi 423 /1000 penduduk dan tahun 2010 menjadi 411/1000 penduduk.

52
Kejadian Luar Biasa (KLB) diare juga masih sering terjadi, dengan CFR yang

masih tinggi. Pada tahun 2008 terjadi KLB di 69 Kecamatan dengan jumlah

kasus 8133 orang, kematian 239 orang (CFR 2,94%). Tahun 2009 terjadi KLB

di 24 Kecamatan dengan jumlah kasus 5.756 orang, dengan kematian 100

orang (CFR 1,74%), sedangkan tahun 2010 terjadi KLB diare di 33 kecamatan

dengan jumlah penderita 4204 dengan kematian 73 orang (CFR 1,74 %.).

Penyakit diare termasuk dalam 10 penyakit yang sering menimbulkan kejadian

luar biasa. Berdasarkan laporan Surveilans Terpadu Penyakit bersumber data

KLB (STP KLB) tahun 2010, diare menempati urutan ke 6 frekuensi KLB

terbanyak setelah DBD, Chikungunya, Keracunan makanan, Difteri dan

Campak.

F. PATOFISIOLOGI DAN PATOGENESIS

Diare dapat disebabkan oleh satu atau lebih

patofisiologi/patomekanisme sebagai berikut: 1). Osmolaritas intraluminal

yang meninggi, disebut diare osmotik; 2). Sekresi cairan dan elektrolit

meninggi, disebut diare sekretorik; 3). Malabsorbsi asam empedu, malabsorbsi

lemak; 4). Defek system pertukaran anion/transport elektrolit aktif di enterosit;

5). Motilitas dan waktu transit usus abnormal; 6). Gangguan permeabilitas

usus; 7). Inflamasi dinding usus, disebut diare imflamatorik; 8). Infeksi

dinding usus, disebut diare infeksi (World Gastroenterology Organization,

2005).

53
Diare sekretorik: diare tipe ini disebabkan oleh meningkatnya sekresi

air dan elektrolit dari usus, menurunnya basorbsi. Yang khas pada diare ini

yaitu secara klinis ditemukan diare dengan volume tinja yang banyak sekali.

Diare tipe ini akan tetap berlangsung walaupun dilakukan puasa

makan/minum. Penyebab dari diare tipe ini antara lain karena efek

enterotoksin pada infeksi Vibrio cholera, atau Escherichia coli, penyakit yang

menghasilkan hormone (VIPoma), reseksi ileum (gangguan absorbs garam

empedu), dan efek obat laksatif (dioctyl sodium sulfosuksinat dll) (World

Gastroenterology Organization, 2005).

Defek sistem pertukaran anion/transport elektrolit aktif di enterosit:

diare tipe ini disebabkan adanya hambatan mekanisme transport aktif

Na+K+ATP ase di enterosit dan absorpsi Na+ dan air yang abnormal (Zein

U,2003).

Motilitas dan waktu transit usus abnormal: diare tipe ini disebabkan

hipermotilitas dan iregularitas motilitas usus sehingga menyebabkan absorbsi

yang abnormal di usus halus. Penyebab gangguan motilitas antara lain:

diabetes mellitus, pasca vagotomi, hipertiroid.

Gangguan permeabilitas usus: diare tipe ini disebabkan permeabilitas usus

yang abnormal disebabkan adanya kelainan morfologi membrane epitel

spesifik pada usus halus (Procop GW,2003).

54
Inflamasi dinding usus (diare inflamatorik): diare tipe ini disebabkan adanya

kerusakan usus karena proses inflamasi, sehingga terjadi produksi mucus yang

berlebihan dan eksudasi air dan elektrolit kedalam lumen, gangguan absorpsi

air-elektrolit. Inflamasi mukosa usus halus dapat disebabkan infeksi (disentri

Shigella) atau non infeksi (colitis ulseratif dan penyakit crohn) (Procop

GW,2003)

Diare infeksi: infeksi oleh bakteri merupakan penyebab tersering dari

diare. Dari sudut kelaianan usus, diare oleh bakteri dibagi atas non-invasif

(tidak merusak mukosa) dan invasive (merusak mukosa).Bakteri noninvasive

menyebabkan diare karena toksin yang disekresi oleh bakteri tersebut, yang

disebut diare toksigenik.Contoh diare toksigenik a.l. kolera. Enterotoksin yang

dihasilkan kuman Vibrio cholare/eltor merupakan protein yang dapat

menempel pada epitel usus, lalu membentuk adenosisn monofosfat siklik

(AMF siklik) di dinding usus dan menyebabkan sekresi aktif anion klorida

yang diikuti air, ion bikarbonat dan kation natrium dan kalium. Mekanisme

55
absorpsi ion natrium melalui mekanisme pompa natrium tidak terganggu

karena itu keluarnya ion klorida (diikuti ion bikarbonat, air, natrium, ion

kalium) dapat dikompensasi oleh mneingginya absorsi ion natrium (diiringi

oleh air, ion kalium dan ion bikarbonat, klorida). Kompensasi ini dapat dicapai

dengan pemberian larutan glukosa yang diabsorpsi secara aktif oleh dinding

sel usus (Thielman NM,2004).

Pada dasarnya mekanisme terjadinya diare akibat kuman

enteropatogen meliputi penempelan bakteri pada sel epitel dengan atau tanpa

kerusakan mukosa, invasi mukosa, dan produksi enterotoksin atau

sitotoksin.Satu bakteri dapat menggunakan satu atau lebih mekanisme tersebut

untuk dapat mengatasi pertahanan mukosa usus (Goldfinger SE, 1987).

Mekanisme adhesi yang pertama terjadi dengan ikatan antara struktur polimer

fimbria atau pili dengan reseptor atau ligan spesifik pada permukaan sel epitel.

Fimbria terdiri atas lebih dari 7 jenis, disebut juga sebagai colonization factor

antigen (CFA) yang lebih sering ditemukan pada enteropatogen seperti

Enterotoxic E. Coli (ETEC) (Procop GW,2003). Mekanisme adhesi yang

kedua terlihat pada infeksi Enteropatogenic E.coli (EPEC), yang melibatkan

gen EPEC adherence factor (EAF), menyebabkan perubahan konsentrasi

kalsium intraselluler dan arsitektur sitoskleton di bawah membran mikrovilus.

Invasi intraselluler yang ekstensif tidak terlihat pada infeksi EPEC ini dan

diare terjadi akibat shiga like toksin. Mekanisme adhesi yang ketiga adalah

dengan pola agregasi yang terlihat pada jenis kuman enteropatogenik yang

berbeda dari ETEC atau EHEC(Procop GW,2003).

56
Kuman Shigella melakukan invasi melalui membran basolateral sel

epitel usus.Di dalam sel terjadi multiplikasi di dalam fagosom dan menyebar

ke sel epitel sekitarnya.Invasi dan multiplikasi intraselluler menimbulkan

reaksi inflamasi serta kematian sel epitel. Reaksi inflamasi terjadi akibat

dilepaskannya mediator seperti leukotrien, interleukin, kinin, dan zat vasoaktif

lain. Kuman Shigella juga memproduksi toksin shiga yang menimbulkan

kerusakan sel. Proses patologis ini akan menimbulkan gejala sistemik seperti

demam, nyeri perut, rasa lemah, dan gejala disentri. Bakteri lain bersifat

invasif misalnya Salmonella(Procop GW,2003).

Prototipe kelompok toksin ini adalah toksin shiga yang dihasilkan oleh

Shigella dysentrie yang bersifat sitotoksik. Kuman lain yang menghasilkan

sitotoksin adalah Enterohemorrhagic E. Coli (EHEC) serogroup 0157 yang

dapat menyebabkan kolitis hemoragik dan sindroma uremik hemolitik, kuman

EPEC serta V. Parahemolyticus(Procop GW,2003).

Prototipe klasik enterotoksin adalah toksin kolera atau Cholera toxin (CT)

yang secara biologis sangat aktif meningkatkan sekresi epitel usus halus.

Toksin kolera terdiri dari satu subunit A dan 5 subunit B. Subunit A1 akan

merangsang aktivitas adenil siklase, meningkatkan konsentrasi cAMP

intraseluler sehingga terjadi inhibisi absorbsi Na dan klorida pada sel vilus

serta peningkatan sekresi klorida dan HCO3 pada sel kripta mukosa usus.

ETEC menghasilkan heat labile toxin (LT) yang mekanisme kearjanya sama

dengan CT serta heat Stabile toxin (ST).ST akan meningkatkan kadar cGMP

57
selular, mengaktifkan protein kinase, fosforilasi protein membran mikrovili,

membuka kanal dan mengaktifkan sekresi klorida (Procop GW,2003).

G. FAKTOR -FAKTOR LINGKUNGAN YANG MEMPENGARUHI

TERJADINYA DIARE

Sumber air minum

Air sangat penting bagi kehidupan manusia.Di dalam tubuh manusia

sebagian besar terdiri dari air.Tubuh orang dewasa sekitar 55-60% berat

badan terdiri dari air, untuk anak-anak sekitar 65% dan untuk bayi sekitar

80%. Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain untuk minum,

masak, mandi, mencuci dan sebagainya. Di Negara-negara berkembang,

termasuk Indonesia tiap orang memerlukan air antara 30-60 liter per hari.Di

antara kegunaan-kegunaan air tersebut, yang sangat penting adalah

kebutuhan untuk minum.Oleh karena itu, untuk keperluan minum dan masak

air harus mempunyai persyaratan khusus agar air tersebut tidak menimbulkan

penyakit bagi manusia (Notoatmodjo, 2003).

Sumber air minum utama merupakan salah satu sarana sanitasi yang

tidak kalah pentingnya berkaitan dengan kejadian diare.Sebagian kuman

infeksius penyebab diare ditularkan melalui jalur fekal oral.Mereka dapat

ditularkan dengan memasukkan ke dalam mulut, cairan atau benda yang

tercemar dengan tinja, misalnya air minum, jari-jari tangan, dan makanan

yang disiapkan dalam panci yang dicuci dengan air tercemar (Depkes RI,

2000). Abdullah (1987) menyimpulkan bahwa penduduk disuatu daerah

58
yang tidak menggunakan air bersih, akan memiliki kecenderungan menderita

penyakit diare. Hal ini sejalan dengan penelitian Munir (1983) yang

menyatakan bahwa penyediaan air bersih dapat menurunkan risiko

diare.Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga yang memanfaatkan air

bersih dari sumber yang memenuhi syarat kesehatan angka kejadian diarenya

lebih sedikit bila dibandingkan dengan keluarga yang memanfaatkan air dari

sumber yang tidak memenuhi syarat kesehatan (Kusnindar, 1994).

Menurut Depkes RI (2000), hal - hal yang perlu diperhatikan dalam

penyediaan air bersih adalah:

1. Mengambil air dari sumber air yang bersih.

2. Mengambil dan menyimpan air dalam tempat yang bersih dan

tertutup serta menggunakan gayung khusus untuk mengambil air.

3. Memelihara atau menjaga sumber air dari pencemaran oleh

binatang, anak-anak, dan sumber pengotoran. Jarak antara sumber

air minum dengan sumber pengotoran seperti septiktank, tempat

pembuangan sampah dan air limbah harus lebih dari 10 meter.

4. Mengunakan air yang direbus.

5. Mencuci semua peralatan masak dan makan dengan air yang bersih

dan cukup.

Jenis tempat pembuangan tinja

Pembuangan tinja merupakan bagian yang penting dari kesehatan

lingkungan. Pembuangan tinja yang tidak menurut aturan memudahkan

terjadinya penyebaran penyakit tertentu yang penulurannya melalui tinja

59
antara lain penyakit diare. Menurut Notoatmodjo (2003), syarat pembuangan

kotoran yang memenuhi aturan kesehatan adalah :

1. Tidak mengotori permukaan tanah di sekitarnya,

2. Tidak mengotori air permukaan di sekitarnya,

3. Tidak mengotori air dalam tanah di sekitarnya,

4. Kotoran tidak boleh terbuka sehingga dapat dipakai sebagai tempat

lalat bertelur atau perkembangbiakan vektor penyakit lainnya,

5. Tidak menimbulkan bau,

6. Pembuatannya murah, dan

7. Mudah digunakan dan dipelihara.

Pembuangan sampah

Sampah adalah semua zat atau benda yang sudah tidak terpakai baik

yang berasal dari rumah tangga atau hasil proses industri. Jenis-jenis sampah

antara lain, yakni sampah anorganik, adalah sampah yang umumnya tidak

dapat membusuk, misalnya: logam/besi, pecahan gelas, plastik. Sampah

organik, adalah sampah yang pada umumnya dapat membusuk, misalnya :

sisa makanan, daun-daunan, buah-buahan. Cara pengolahan sampah antara

lain sebagai berikut: (Notoatmodjo, 2003).

1. Pengumpulan dan pengangkutan sampah.

Pengumpulan sampah diperlukan tempat sampah yang terbuat

dari bahan yang mudah dibersihkan, tidak mudah rusak, harus

tertutup rapat, ditempatkan di luar rumah. Pengangkutan dilakukan

oleh dinas pengelola sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA)

60
2. Pemusnahan dan pengelolaan sampah

Dilakukan dengan berbagai cara yakni, ditanam (Landfill),

dibakar (Inceneration), dijadikan pupuk (Composting)

Perumahan

Keadaan perumahan adalah salah satu faktor yang menentukan

keadaan higiene dan sanitasi lingkungan. Adapun syarat-syarat rumah

yang sehat ditinjau dari ventilasi, cahaya, luas bangunan rumah, Fasilitas-

fasilitas di dalam rumah sehat sebagai berikut : (Notoatmodjo, 2003).

1. Ventilasi

Fungsi ventilasi adalah untuk menjaga agar aliran udara di

dalam rumah tersebut tetap segar dan untuk membebaskan udara

ruangan dari bakteri-bakteri, terutama bakteri patogen.. Luas

ventilasi kurang lebih 15-20 % dari luas lantai rumah

2. Cahaya

Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup,

kurangnya cahaya yang masuk ke dalam ruangan rumah, terutama

cahaya matahari disamping kurang nyaman, juga merupakan media

atau tempat baik untuk hidup dan berkembangnya bibit penyakit.

Penerangan yang cukup baik siang maupun malam 100-200 lux.

3. Luas bangunan rumah

Luas bangunan yang optimum adalah apabila dapat

menyediakan 2,5-3 m2 untuk tiap orang. Jika luas bangunan tidak

sebanding dengan jumlah penghuni maka menyebabkan kurangnya

61
konsumsi O2, sehingga jika salah satu penghuni menderita

penyakit infeksi maka akan mempermudah penularan kepada

anggota keluarga lain.

4. Fasilitas-fasilitas di dalam rumah sehat

Rumah yang sehat harus memiliki fasilitas seperti penyediaan

air bersih yang cukup, pembuangan tinja, pembuangan sampah,

pembuangan air limbah, fasilitas dapur, ruang berkumpul keluarga,

gudang, kandang ternak

Air Limbah

Air limbah adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah

tangga, industri dan pada umumnya mengandung bahan atau zat yang

membahayakan. Sesuai dengan zat yang terkandung di dalam air limbah,

maka limbah yang tidak diolah terlebih dahulu akan menyebabkan gangguan

kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup antara lain limbah sebagai

media penyebaran berbagai penyakit terutama kolera, diare, typus, media

berkembangbiaknya mikroorganisme patogen, tempat berkembangbiaknya

nyamuk, menimbulkan bau yang tidak enak serta pemandangan yang tidak

sedap, sebagai sumber pencemaran air permukaan tanah dan lingkungan

hidup lainnya, mengurangi produktivitas manusia, karena bekerja tidak

nyaman (Notoatmodjo, 2003).

Usaha untuk mencegah atau mengurangi akibat buruk tersebut

diperlukan kondisi, persyaratan dan upaya sehingga air limbah tersebut tidak

mengkontaminasi sumber air minum, tidak mencemari permukaan tanah,

62
tidak mencemari air mandi, air sungai, tidak dihinggapi serangga, tikus dan

tidak menjadi tempat berkembangbiaknya bibit penyakit dan vektor, tidak

terbuka kena udara luar sehingga baunya tidak mengganggu (Notoatmodjo,

2003).

Sanitasi Lingkungan

Sejak pertengahan abad ke-15 para ahli kedokteran telah menyebutkan

bahwa tingkat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh beberapa

faktor.Menurut model segitiga epidemiologi, suatu penyakit timbul akibat

beroperasinya faktor agen, hostdan lingkungan.Menurut model roda

timbulnya penyakit sangat tergantung dari lingkungan (Mukono,

1995).Faktor lingkungan merupakan faktor yang sangat penting terhadap

timbulnya berbagai penyakit tertentu, sehingga untuk memberantas penyakit

menular diperlukan upaya perbaikan lingkungan (Trisnanta, 1995).

Melalui faktor lingkungan, seseorang yang keadaan fisik atau daya

tahannya terhadap penyakit kurang, akan mudah terserang penyakit (Slamet,

1994). Penyakit-penyakit tersebut seperti diare, ,demam berdarah dengue,

difteri, tifus dan lain-lain yang dapat ditelusuri determinan-determinan

lingkungannya (Noerolandra, 1999). Masalah kesehatan lingkungan utama di

negara-negara yang sedang berkembang adalah penyediaan air minum,

tempat pembuangan kotoran, perumahan, dan pembuangan air limbah

(Notoatmodjo, 2003).

63
Sanitasi Makanan

Makanan adalah kebutuhan pokok manusia yang dibutuhkan setiap saat

dan memerlukan pengolahan yang baik dan benar agar bermanfaat bagi

tubuh. Sanitasi makanan adalah salah satu usaha pencegahan yang menitik

beratkan kegiatan dan tindakan yang perlu untuk membebaskan makanan dan

minuman dari segala bahaya yang dapat menganggu kesehatan mulai dari

sebelum makanan di prosuksi selama dalam proses pengolahan, penyimpanan

pengangkutan sampai pada saat dimana makanan dan minuman tersebut siap

untuk dikonsumsi.

Sanitasi makanan yang dikonsumsi hendaknya memenuhi kriteria

bahwa makanan tersebut layak untuk dimakan dan tidak menimbulkan

penyakit, diantaranya:

a. Berada dalam derajat kematangan yang dikehendaki

b. Bebas dari pencemaran di setiap tahap produksi dan penanganan

selanjutnya.

c. Bebas dari perubahan fisik, kimia yang tidak dikehendaki, sebagai

akibat dari pengaruh enzim, aktifitas mikroba, hewan pengerat,

serangga, parasit dan kerusakan-kerusakan karena tekanan,

pemasakan dan pengeringan.

d.Bebas dari mikroorganisme dan parasit yang menimbulkan penyakit

yang dihantarkan oleh makanan.

64
kebersihan hendaklah sentiasa terjaga mulai dari pemilihan, penyediaan,

penyimpanan dan makanan. Prinsip kebersihan yang harus dilakukan oleh

setiap individu antara lain

a. Peralatan yang dipakai harus dicuci sebelum dan sesudah proses

pengolahan makanan.

b. Mencuci tangan sebelum dan sesudah mengolah bahan makanan

c. Makanan yang dihidangkan harus ditutup

d. Gunakan sendok atau garpu untuk mengambil makanan

e. Simpan makanan dalam tempat yang bersih, kedap udara, dan kering

f. Bersihkan semua bahan makanan segar seperti ikan, sayur, dan buah

sebelum disimpan

H. GEJALA KLINIS

Anamnesis

Keluhan diare biasanya berlangsung kurang dari 15 hari.Pasien dengan

diare akut infektif datang dengan keluhan khas yaitu nausea, muntah, nyeri

abdomen, demam dan tinja yang sering, bisa air, malabsortif, atau berdarah

tergantung bakteri patogen yang spesifik.Pasien yang memakan toksin atau

pasien yang mengalami infeksi toksigenik secara khas mengalami nausea dan

muntah sebagai gejala prominen bersamaan dengan diare air tetapi jarang

mengalami demam. Muntah yang mulai beberapa jam dari masuknya

makanan mengarahkan kita pada keracunan makanan karena toksin yang

dihasilkan.

65
Pemeriksaan Fisik

Kelainan-kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan fisik sangat

berguna dalam menentukan beratnya diare dari pada menentukan penyebab

diare.Status volume dinilai dengan memperhatikan perubahan ortostatik pada

tekanan darah dan nadi, temperatur tubuh dan tanda toksisitas.Pemeriksaan

abdomen yang seksama merupakan hal yang penting. Adanya kualitas bunyi

usus dan adanya atau tidak adanya distensi abdomen dan nyeri tekan

merupakan ”clue” bagi penentuan etiologi.

Pemeriksaan Penunjang

Pada pasien yang mengalami dehidrasi atau toksisitas berat atau diare

berlangsung lebih dari beberapa hari, diperlukan beberapa pemeriksaan

penunjang. Pemeriksaan tersebut antara lain pemeriksaan darah tepi lengkap

(hemoglobin, hematokrit, leukosit, hitung jenis leukosit), kadar elektrolit

serum, ureum, dan kreatinin, pemeriksaan tinja dan pemeriksaan Enzym-

linked immunosorbent assay (ELISA) mendeteksi giardiasis dan test

serologic amebiasis dan foto x-ray abdomen. (Sudoyo,2009)

I. MEDIKAMENTOSA

Rehidrasi

Aspek paling penting dari terapi diare adalah untuk menjaga hidrasi

yang adekuat dan keseimbangan elektrolit selama episode akut.Ini dilakukan

dengan rehidrasi oral, dimana harus dilakukan pada semua pasien kecuali

yang tidak dapat minum atau yang terkena diare hebat yang memerlukan

66
hidrasi intavena yang membahayakan jiwa.Idealnya, cairan rehidrasi oral

harus terdiri dari 3,5 g Natrium klorida, dan 2,5 g Natrium bikarbonat, 1,5 g

kalium klorida, dan 20 g glukosa per liter air.Cairan seperti itu tersedia

secara komersial dalam paket-paket yang mudah disiapkan dengan

mencampurkan dengan air. Jika sediaan secara komersial tidak ada, cairan

rehidrasi oral pengganti dapat dibuat dengan menambahkan ½ sendok teh

garam, ½ sendok teh baking soda, dan 2 – 4 sendok makan gula per liter air.

Dua pisang atau 1 cangkir jus jeruk diberikan untuk mengganti

kalium.Pasien harus minum cairan tersebut sebanyak mungkin sejak mereka

merasa haus pertama kalinya.Jika terapi intra vena diperlukan, cairan

normotonik seperti cairan saline normal atau laktat Ringer harus diberikan

dengan suplementasi kalium sebagaimana panduan kimia darah.Status

hidrasi harus dimonitor dengan baik dengan memperhatikan tanda-tanda

vital, pernapasan, dan urin, dan penyesuaian infus jika diperlukan.Pemberian

harus diubah ke cairan rehidrasi oral sesegera mungkin. (Khalid, 2004)

Jumlah cairan yang hendak diberikan sesuai dengan jumlah cairan

yang keluar dari badan. Kehilangan cairan dari badan dapat dihitung dengan

memakai cara :

 BJ plasma, dengan memakai rumus :

Kebutuhan cairan = BJ Plasma – 1,025 X Berat badan (Kg) X 4 ml

0,001

 Metode Pierce berdasarkan keadaan klinis :

- Dehidrasi ringan, kebutuhan cairan 5% X KgBB

67
- Dehidrasi sedang, kebutuhan cairan 8% X KgBB

- Dehidrasi berat, kebutuhan cairan 10% X KgBB

 Metode Daldiyono berdasarkan keadaan klinis yang diberi

penilaian/skor (tabel 1)

Tabel 1. Skor Daldiyono

- rasa haus/muntah (1)

- Tekanan darah sistolik 60-90 mmHg (1)

- Tekanan darah sistolik < 60 mmHg (2)

- Frekwensi Nadi> 120 x/menit (1)

- kesadaran apatis (1)

- Kesadaran somnolen, sopor atau koma (2)

- Frekwensi nafas > 30 x/menit (1)

- Facies cholerica (2)

-Voxcholerica (2)

- Turgor kulit menurun (1)

- Washer’s woman’s hand (1)

- Ekstremitas dingin (1)

-Sianosis (2)

- Umur 50-60 tahun (-1)

- Umur> 60 tahun (-2)

Kebutuhan cairan = Skor X 10% X KgBB X 1 liter

15

68
Bila skor kurang dari 3 dan tidak ada syok, maka hanya diberikan

cairan peroral (sebanyak mungkin sedikit demi sedikit). Bila skor lebih atau

sama 3 disertai syok diberikan cairan per intravena. (Sudoyo,2009)

Antibiotik

Pemberian antibotik secara empiris jarang diindikasikan pada diare

akut infeksi, karena 40% kasus diare infeksi sembuh kurang dari 3 hari tanpa

pemberian anti biotik. Pemberian antibiotik di indikasikan pada : Pasien

dengan gejala dan tanda diare infeksi seperti demam, feses berdarah,,

leukosit pada feses, mengurangi ekskresi dan kontaminasi lingkungan,

persisten atau penyelamatan jiwa pada diare infeksi, diare pada pelancong,

dan pasien immunocompromised. Obat pilihan yaitu kuinolon (missal

siprofloksasin 500 mg 2 x/hari selama 5-7 hari).Obat ini baik terhadap

bakteri pathogen invasif termasuk Campylobacter, Shigella, Salmonella,

Yersinia, dan Aeromonas species.Sebagai alternatif yaitu

kotrimoksazol.Metronidazol 250 mg 3 x/hari selama 7 hari diberikan bagi

yang dicurigai giardiasis. (Sudoyo,2009)

Obat Antidiare

Obat-obat ini dapat mengurangi gejala-gejala:

a. Yang paling efektif yaitu derivat opioid misal loperamide,

difenoksilat-atropin dan tinktur opium.

b. Obat yang mengeraskan tinja: atapulgite 4x2 tab/hari, smectite 3x1

saset diberikan tiap diare/BAB encer sampai diare berhenti.

69
c. Obat anti sekretorik atau anti enkephalinase: Hidrasec 3x1 tab/hari

(Sudoyo,2009)

Diet

Pasien diare tidak dianjurkan puasa, kecuali bila muntah-muntah

hebat.Pasien dianjurkan justru minum minuman sari buah, teh, minuman

tidak bergas, makanan mudah dicerna seperti pisang, nasi, kripik dan

sup.Susu sapi harus dihindarkan karena adanya defisiensi laktase transien

yang disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri.Minuman berkafein dan

alkohol harus dihindari karena dapat meningkatkan motilitas dan sekresi

usus.(Sudoyo,2009)

J. TRANSMISI DAN PENCEGAHAN

Karena penularan diare menyebar melalui jalur fekal-oral,

penularannya dapat dicegah dengan menjaga higiene pribadi yang baik.Ini

termasuk sering mencuci tangan setelah keluar dari toilet dan khususnya

selama mengolah makanan.Kotoran manusia harus diasingkan dari daerah

pemukiman, dan hewan ternak harus terjaga dari kotoran manusia.

(Khalid,2004)

Karena makanan dan air merupakan penularan yang utama, ini harus

diberikan perhatian khusus.Air minum, air yang digunakan untuk

membersihkan makanan, atau air yang digunakan untuk memasak harus

disaring dan diklorinasi.Jika ada kecurigaan tentang keamanan air atau air

yang tidak dimurnikan yang diambil dari danau atau air, harus direbus dahulu

70
beberapa menit sebelum dikonsumsi.Ketika berenang di danau atau sungai,

harus diperingatkan untuk tidak menelan air. (Khalid,2004)

Semua buah dan sayuran harus dibersihkan menyeluruh dengan air

yang bersih (air rebusan, saringan, atau olahan) sebelum dikonsumsi.Limbah

manusia atau hewan yang tidak diolah tidak dapat digunakan sebagai pupuk

pada buah-buahan dan sayuran.Semua daging dan makanan laut harus

dimasak. Hanya produk susu yang dipasteurisasi dan jus yang boleh

dikonsumsi. Wabah EHEC terakhir berhubungan dengan meminum jus apel

yang tidak dipasteurisasi yang dibuat dari apel terkontaminasi, setelah jatuh

dan terkena kotoran ternak. (Khalid,2004)

71
BAB VII

PENUTUP

A. KESIMPULAN

1. Segi Biologis :

 Tn, H 36 tahun, menderita penyakit diare

 Rumah dan lingkungan sekitar keluarga Tn,H kurang sehat.

2. Segi Psikologis :

 Hubungan antara anggota keluarga tergolong cukup baik.

 Pengetahuan akan diare yang masih kurang.

 Tingkat kepatuhan dalam mengkonsumsi obat yang baik,

mendukung untuk penyembuhan penyakit tersebut

3. Segi Sosial :

 Tidak ada masalah dari segi sosial

4. Segi fisik :

 Rumah dan lingkungan sekitar tampak kurang bersih.

B. SARAN

1. Untuk masalah medis (Diare) dilakukan langkah-langkah :

 Preventif :

 Penderita diminta untuk mencuci tangan serta makanan dengan

air mengalir dan dengan sabun secara benar agar kotoran yang

menempel ikut terbuang bersama air.

72
 Makan makanan yang bergizi, tidak berlebihan dan buah-buahan

bersih agar terhindar dari diare.

 Menganjurkan agar tidak terlalu banyak makan buah-buahan

yang terlalu asam karena terlalu iritatif terhadap lambung

 Tidak memakan makanan yang masih diragukan kebersihannya.

 Olahraga rutin, motivasi yang adekuat dari keluraga serta

pendekatan spiritual.

 Promotif : Edukasi mengenai penyakit diare dan program lintas

sector PHBS lainnyaa, dengan mengoptimalkan penyuluhan.

Menyediakan fasilitas konseling. Terutama dalam kerja sama lintas

sektoral (untuk penemuan kasus diare)

 Kuratif: Medikamentosadan non Medikamentosa (kerja sama lintas

program dengan bagian gizi untuk pengaturan diet)

 Rehabilitatif : meyakinkan Sdr, A bahwa diare dapat sembuh,

sehingga Sdr, A. mampu kembali menjalani kehidupannya dengan

sehat seperti semula.

2. Untuk masalah lingkungan tempat tinggal dan rumah yang tidak sehat

dilakukan langkah-langkah :

 Promotif : edukasi penderita dan anggota keluarga untuk membuka

jendela tiap pagi, penggunaan genteng kaca, dan menjaga kebersihan

rumah dan lingkungan rumah. Mendorong keluarga untuk

mengoptimalkan fasilitas jamban keluarga dan mengupayakan selalu

tersedianya air masak di dalam keluarganya.

73
3. Untuk masalah problem ekonomi, dilakukan langkah-langkah :

 Rehabilitatif :Pemerintah hendaknya berupaya pemberian

kesempatan memperoleh pendapatan yang layak, sehingga

diharapkan pada masa yang akan datang dapat terlepas dari

kemiskinan. Karena dengan peningkatan pendapatan memungkinkan

untuk dapat membeli makanan yang lebih baik, kondisi pemukiman

yang lebih sehat, dan pemeliharaan kesehatan yang lebih baik.

4. Untuk masalah persepsi mengenai penyakit diare, dilakukan langkah-

langkah :

 Promotif : Memberikan pengertian kepada penderita dan anggota

keluarga mengenai penyakit diare.

74
DAFTAR PUSTAKA

Depkes, R. I., 2000. Buku Pedoman Pelaksanaan Program P2

Diare.Jakarta : Ditjen PPM dan PL.

Depkes, R.I., 2001. Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare. Jakarta :

Ditjen PPM dan PL.

Depkes, R.I., 2005. Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare. Jakarta :

Ditjen PPM dan PL.

Hendarwanto. 1996. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Edisi ketiga.

Jakarta: Pusat Informasi dan Penerbit Bagian Ilmu Penyakit Dalam

FKUI

Khalid, Zein dkk. 2004. Diare Akut Disebabkan Bakteri. Fakultas

Kedokteran Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi Bagian Ilmu Penyakit

Dalam Universitas Sumatera Utara

Mansjoer, Arif dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media

Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Notoatmodjo, S., 2003.Ilmu Kesehatan Masyarakat.Jakarta : Rineka

Cipta.

Soewondo ES.2002. Seri Penyakit Tropik Infeksi Perkembangan Terkini

Dalam Pengelolaan Beberapa penyakit Tropik Infeksi.Surabaya :

Airlangga University Press.

Sosroamidjojo, 1981, Diare dan Profil Lingkungan, Jakarta : Dian

Rakyat.

75
Sudoyo, Aru W. dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi

V. Jakarta : Interna Publishing.

Tim Penyusun, 2012, Profil Kesehatan Puskesmas Narmada Tahun

2012. Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat

Tim Penyusun, 2012, Laporan Tahunan Puskesmas Narmada Tahun

2012. Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat.

Widoyono.2008. Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan

&Pemberantasannya.Jakarta : Erlangga

76
Lampiran Foto

Ruang Tamu Kamar

Penderita

Dapur Kamar Mandi

Teras Rumah dan foto bersama pasien serta bidan desa

77