Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

STRUKTUR KAYU
“PENGERINGAN DAN PENGAWETAN KAYU”

Makalah Ini Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Struktur Kayu

Disusun Oleh :
Rafikri Ramadany A. P. (1506518030)

D3 TEKNIK SIPIL 2018


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan jasmani dan rohani
sehingga kita masih tetap bisa menikmati indahnya alam ciptaan-Nya. Sholawat dan salam
semoga senantiasa tercurahkan kepada teladan kita Muhammad SAW yang telah menunjukkan
kepada kita jalan yang lurus berupa ajaran agama yang sempurna dan menjadi rahmat bagi
seluruh alam.
Penyusun sangat bersyukur karena telah menyelesaikan makalah Struktur Kayu dengan
judul “PENGERINGAN DAN PENGAWETAN KAYU”. Disamping itu, Penyusun
mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga
terselesaikannya makalah ini.
Akhir kata, penyusun memahami jika makalah ini tentu jauh dari kesempurnaan maka
kritik dan saran sangat kami butuhkan guna memperbaiki karya-karya kami di waktu-waktu
mendatang.
Depok, 13 September 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................... i
DAFTAR ISI ....................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1
A. Latar Belakang .......................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan ....................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN PENGAWETAN KAYU ........................................... 3
A. Pengawetan Kayu ...................................................................................... 3
B. Faktor-faktor Perusak Dalam Pengawetan Kayu ...................................... 4
C. Prinsip-prinsip Metode Pengawetan Kayu ............................................... 6
D. Jenis Pengawetan Kayu ............................................................................. 7
E. Metode Pengawetan Sederhana ................................................................ 7
F. Metode Pengawetan Khusus ..................................................................... 10
G. Proses Akhir Pengawetan Kayu ................................................................ 12
H. Keterawetan Kayu ..................................................................................... 13
BAB III PEMBAHASAN PENGERINGAN KAYU ......................................... 15
A. Pengeringan Kayu ..................................................................................... 15
B. Macam-macam Pengeringan Kayu ........................................................... 15
C. Proses Pengeringan Kayu Sceara Buatan ................................................. 19
D. Kerusakan Kayu Akibat Proses Pengeringan ........................................... 19
BAB IV KESIMPULAN ..................................................................................... 21
A. Kesimpulan ............................................................................................... 21
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 22

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kayu merupakan bahan yang sangat sering
dipergunakan untuk tujuan penggunaan tertentu. Terkadang sebagai barang tertentu,
kayu tidak dapat digantikan dengan bahan lain karena sifat khasnya. Kita sebagai
pengguna dari kayu yang setiap jenisnya mempunyai sifat-sifat yang berbeda, perlu
mengenal sifat-sifat kayu tersebut sehingga dalam pemilihan atau penentuan jenis untuk
tujuan penggunaan tertentu harus betul-betul sesuai dengan yang kita inginkan.
Tumbuhan berkayu muncul di alam diperkirakan pertama kali pada 395 hingga
400 juta tahun yang lalu. Manusia telah menggunakan kayu untuk berbagai kebutuhan
sejak ribuan tahun, terutama untuk bahan bakar dan bahan konstruksi untuk membuat
rumah dan senjata serta sebagai bahan baku industri (misal pengemasan dan kertas).
Kayu bisa dijadikan referensi sejarah mengenai kondisi iklim dan cuaca di masa pohon
tersebut tumbuh melalui variasi jarak antar cincin pertumbuhan.

Gambar 1. Kayu

Disisi lain, dari sekitar 4000 jenis kayu Indinesia sebagian besar (80-85%)
berkelas awet rendah (III, IV, dan V) dan hanya sedikit yang berkelas awet tinggi. Kayu
tidak awet memiliki kelemahan antara dapat dirusak atau dilapuk oleh organisme perusak

1
kayu, akibatnya umur kayu menjadi menurun. Padahal nilai jenis suatu kayu untuk
keperluan bagunan kerumahan perangkat interior sangat ditentukan oleh keawetanya.
Karena bagaimanapun kuatnya kayu tersebut penggunaannya tidak akan berarti jika umur
pakainya pendek.
Fenomena inilah yang mendorong upaya untuk melakukan pengawetan kayu,
diantaranya dengan melapisi kayu menggunakan bahan beracun sehingga kayu tidak
terserang oleh organisme perusak tidak menimbulkan masalah secara teknis namun juga
secara ekonomis.Selain itu kerusakan kayu oleh organisme perusak mengakibatkan
komponen bangunan harus diganti.
Demikian pula kayu yang dianggap awet bila dipakai di Indonesia. Serangga
perusak kayu juga berpengaruh besar. Kayu yang mampu menahan serangga rayap tanah,
belum tentu mampu menahan serangan bubuk. Oleh karena itu tiap-tiap jenis kayu
mempunyai keawetan yang berbeda pula. Misalnya keawetan kayu meranti tidak akan
sama dengan keawetan kayu jati. Ada kalanya pada satu jenis kayu terdapat keawetan
yang berbeda, disebabkan oleh perbedaan ekologi tumbuh dari pohon tersebut.
Bila ditinjau dari jenis kayu yang diperdagangkan atau kayu-kayu yang banyak
terdapat di pasaran, terutama kayu-kayu komersial, maka diperoleh gambaran perbedaan
sifat–sifat kayu yang mencakup sifat fisika kayu, sifat kimia kayu, dan sifat pengerjaan
kayu yang sangat berpengaruh dalam pengerjaan kayu sebagai benda higroskopis. Hal
ini dapat diatasi dengan pemberian perlakuan awal kayu, salah satunya dengan proses
pengeringan kayu yang baik, mudah, dan murah.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud Pengawetan Kayu?
2. Bagaimana proses pengawetan kayu?
3. Apakah yang dimaksud Pengeringan Kayu?
4. Bagaimana proses pengeringan kayu?

C. Tujuan
1. Mengetahui apa itu pengawetan dan pengeringan kayu
2. Mengetahui metode-metode pengeringan dan pengawetan kayu
3. Mengetahui masing masing kelebihan dan kekurangan dari metode pengeringan
dan pengawetan kayu
4. Mengetahui proses proses pengeringan dan pengawetan kayu

2
BAB II

PEMBAHASAN PENGAWETAN KAYU

A. Pengawetan Kayu
Pengawetan kayu merupakan metode untuk menambah tingkat keawetan dari
kayu, dengan perlakuan fisik maupun kimia. Pengawetan kayu bertujuan untuk
menambah umur pakai kayu lebih lama, terutama kayu yang digunakan untuk material
bagunan atau perabot luar ruangan, karena penggunaan tersebut yang paling rentang
terhadap degradasi kayu, akibat serangga atau organisme maupun faktor abiotis (panas,
hujan, dan lembab).
Dalam SNI 03-5010.1-1999, hanya kayu dengan kelas awet III, IV dan V yang
memerlukan pengawetan, tetapi pada keperluan tertentu, bagian kayu gubal dari kayu
kelas awet I dan II juga perlu diawetkan. Metode pengawetan kayu sangat beragam,
bahan kimia seperti borax menjadi salah satu bahan yang digunakan untuk mengawetkan
dalam metode vakum, pencelupan dingin, pencelupan panas hingga metode pemolesan.
Di dalam pengawetan kayu lebih dahulu harus dikenal kelas-kelas keawetan
alami kayu. Kelas keawetan alami kayu oleh Lembaga Penelitian Hasil Hutan Bogor
dinyatakan sebagai Kelas Awet Kayu, sebanyak 5 kelas yaitu I, II, III, IV, V, sebagai
berikut :

Tabel Kelas Keawetan Kayu


Kelas Awet
Sifat Pemakaian
I II III IV V
Berhubungan dengan 8 5 3 Sangat Sangat
kelembaban (tahun) pendek pendek
Hanya dipengaruhi 20 15 10 Beberapa Sangat
cuaca, tidak direndam tahun pendek
air dan kekurangan
udara (tahun)
Di bawah atap, tidak Tak Tak Sangat Beberapa Pendek
berhubungan dengan terbatas terbatas lama tahun
tanah lembab dan
kekurangan udara

3
Di bawah atap tetapi Tak Tak Tak 20 tahun 20 tahun
dipelihara dengan baik terbatas terbatas terbatas
dan dicat teratur (tahun)
Serangan rayap tanah Tidak Jarang Cepat Sangat Sangat
cepat cepat
Serangan bubuk kayu Tidak Tidak Hampir Tidak Sangat
kering tidak berarti cepat

B. Faktor-faktor Perusak Dalam Pengawetan Kayu


Keawetan kayu dikatakan rendah, bila dalam pemakaian tidak tercapai umur yang
diharapkan sesuai dengan ketentuan kelas awet.
Dalam hal ini perlu diketahui apakah factor penyebabnya. Adapun faktor
penyebab kerusakan digolongkan menjadi:

a. Penyebab non-makhluk hidup terdiri dari:


1. Faktor fisik, ialah keadaan atau sifat alam yang mampu merusak komponen kayu
sehingga umur pakainya menjadi pendek. Yang termasuk factor fisik antara lain:
suhu dan kelembaban udara, panas matahari, api, udara, dan air. Semua yang
termasuk faktor fisik itu mempercepat kerusakan kayu bila terjadi penyimpangan.
Misalnya bila kayu tersebut terus-menerus kena panas maka kayu akan cepat
rusak.

2. Faktor mekanik terdiri atas proses kerja alam atau akibat tindakan manusia. Yang
termasuk faktor mekanik antara lain: pukulan, gesekan, tarikan, tekanan, dan lain
sebagainya. Faktor mekanik berhubungan erat sekali dengan tujuan pemakaian.

3. Faktor kimia juga mempunyai pengaruh besar terhadap umur pakai kayu. Faktor
ini bekerja mempengaruhi unsure kimia yang membentuk komponen seperti
selulosa, lignin dan hemiselulosa. Unsur kimia perusak kayu antara lain:
pengaruh garam, pengaruh asam dan basa.

b. Penyebab makhluk hidup terdiri dari:


1. Jenis jamur (aneka macam) ialah jenis tumbuhan satu sel, yang berkembang biak
dengan spora. Hidupnya sebagai parasit terhadap makhluk lain. Umumnya hidup

4
sangat subur di daerah lembab. Jamur terkenal sebagai perusak kayu kering. Sifat
utama kerusakan oleh jamur ialah pelapukan dan pembusukan kayu, tapi ada juga
kayu yang hanya berubah warnanya menjadi kotor, misalnya jamur biru (blue
stain). Macam-macam jamur antara lain: jamur pelapuk kayu, jamur pelunak kayu
dan jamur pewarna kayu.

2. Jenis serangga (aneka macam) merupakan perusak kayu yang sangat hebat,
terutama di daerah tropis misalnya: Indonesia, Malaysia, Filipina, dan lain-lain.
Serangga tersebut makan dan tinggal di dalam kayu. Macam-macam serangga
perusak kayu antara lain: rayap tanah, rayap kayu kering, dan serangga bubuk
kayu.

Gambar 2. Rayap

3. Jenis binatang laut (aneka macam) terkenal dengan nama Marine borer. Kayu
yang dipasang di air asin akan mengalami kerusakan yang lebih hebat daripada
kayu yang dipasang di tempat lain. Hampir semua jenis kayu mudah diserang
oleh binatang laut. Akan tetapi, ada pula beberapa jenis kayu yang memiliki factor
ketahanan, karena adanya zat ekstraktif yang merupakan racun bagi binatang laut,
antara lain: kayu lara, kayu ulin, kayu giam, dan lain-lain. Setelah diketahui
bahwa faktor utama perusak kayu ialah makhluk hidup tertentu, jelas bahwa kayu
dapat dilindungi dengan cara mengawetkan. Nilai pakai kayu itu sendiri akan
lebih awet dan tahan terhadap perusak-perusak yang telah dijelaskan di muka.
Caranya ialah dengan memasukkan kayu secara umum berarti: usaha manusia
untuk menaikkan keawetan kayu dan umur pakainya, sehingga keperluan akan
kayu lebih terpenuhi. Umur penggunaan kayu yang pendek dapat diperpanjang

5
sesuai dengan kebutuhan. Oleh karena itu pengawetan kayu selalu ditujukan pada
kayu yang berkeawetan rendah. Jenis-jenis kayu inilah yang perlu ditingkatkan
daya tahannya dalam pemakainnya. Pengawetan kayu dari segi ilmiah teknis juga
merupakan usaha untuk memperbesar sifat keawetan kayu, sehingga penggunaan
kayu dapat lebih lama. Tapi yang terpenting, pengawetan kayu berarti:
memasukkan bahan racun ke dalam kayu, sebagai pelindung terhadap makhluk-
makhluk perusak kayu yang datang dari luar, yaitu jenis-jenis serangga, jamur
dan binatang laut. Prinsip memasukkan bahan pengawet (wood preservative)
sampai saat ini menunjukkan hasil yang terbaik. Semua industri pengawetan kayu
umumnya menggunakan prinsip ini, hanya macam bahan pengawet berikut cara
atau proses memasukkannya yang berbeda.

Gambar 3. Marine Borer

C. Prinsip-prinsip Metode Pengawetan Kayu


Untuk pengawetan yang baik perlu diperhatikan prinsip prinsip di bawah ini:
1. Pengawetan kayu harus merata pada seluruh bidang kayu.
2. Penetrasi dan retensi bahan pengawet diusahakan masuk sedalam dan sebanyak
mungkin di dalam kayu.
3. Dalam pengawetan kayu bahan pengawet harus tahan terhadap pelunturan (faktor
bahan pengawetnya).
4. Faktor waktu yang digunakan.
5. Metode pengawetan yang digunakan.
6. Faktor kayu sebelum diawetkan, meliputi jenis kayu, kadar air kayu, zat ekstraktif
yang dikandung oleh kayu serta sifat-sifat lainnya.
7. Faktor perlatan yang dipakai serta manusia yang melaksanakannya.

6
D. Jenis Pengawetan Kayu
1. Pengawetan remanen atau sementara (prophylactis treatment) bertujuan menghindari
serangan perusak kayu pada kayu basah (baru ditebang) antara lain blue stain, bubuk
kayu basah dan serangga lainnya. Bahan pengawet yang dipakai antara lain NaPCP
(Natrium Penthaclor Phenol), Gammexane, Borax, baik untuk dolok maupun kayu
gergajian basah.

2. Pengawetan permanent bertujuan menahan semua faktor perusak kayu dalam waktu
selama mungkin. Yang perlu diperhatikan dalam pengawetan, kayu tidak boleh
diproses lagi (diketam ataupun digergaji, dibor, dan lain-lain), sehingga terbukanya
permukaan kayu yang sudah diawetkan. Bila terpaksa harus diolah, maka bekas
pemotongan harus diberi bahan pengawet lagi. Adapun bahan pengawet yang dapat
dipakai untuk pengawetan remanen (sementara). Pengawetan remanen umumnya
hanya menggunakan metode pelaburan dan penyemprotan, sedangkan pengawetan
tetap dapat menggunakan semua metode, tergantung bahan pengawet yang dipakai
serta penetrasi dan retensi yang diinginkan. Sehingga pengawetan dapat lebih efektif
dan waktu pemakaiannya dapat selama mungkin.

E. Metode Pengawetan Sederhana

a. Metode Rendaman
Kayu direndam di dalam bak larutan bahan pengawet yang telah ditentukan
konsentrasi (kepekatan) bahan pengawet dan larutannya, selama beberapa jam atau
beberapa hari. Waktu pengawetan (rendaman) kayu harus seluruhnya terendam,
jangan sampai ada yang terapung. Karena itu diberi beban pemberat dan sticker. Ada
beberapa macam pelaksanaan rendaman, antara lain rendaman dingin, rendaman
panas, dan rendaman panas dan rendaman dingin. Cara rendaman dingin dapat
dilakukan dengan bak dari beton, kayu atau logam anti karat. Sedangkan cara
rendaman panas atau rendaman panas dan dingin lazim dilakukan dalam bak dari
logam.
Bila jumlah kayu yang akan diawetkan cukup banyak, perlu disediakan dua bak
rendaman (satu bak untuk merendam dan bak kedua untuk membuat larutan bahan
pengawet, kemudian diberi saluran penghubung). Setelah kayu siap dengan beban
pemberat dan lain-lain, maka bahan pengawet dialirkan ke bak berisi kayu tersebut.

7
Cara rendaman panas dan dingin lebih baik dari cara rendaman panas atau rendaman
dingin saja. Penetrasi dan retensi bahan pengawet lebih dalam dan banyak masuk ke
dalam kayu. Larutan bahan pengawet berupa garam akan memberikan hasil lebih baik
daripada bahan pengawet larut minyak atau berupa minyak, karena proses difusi.
Kayu yang diawetkan dengan cara ini dapat digunakan untuk bangunan di bawah atap
dengan penyerang perusak kayunya tidak hebat.
a) Kelebihan dan Kekurangan
 Kelebihan
 Penetrasi dan retensi bahan pengawet lebih banyak
 Kayu dalam jumlah banyak dapat diawetkan Bersama
 Larutan dapat digunakan berulang kali (dengan menambah
konsentrasi bila berkurang)

 Kekurangan
 Waktu agak lama, terlebih dengan rendaman dingin
 Peralatan mudah terkena karat
 Pada proses panas, bila tidak hati - hati kayu bisa terbakar
 Kayu basah agak sulit diawetkan

b. Metode Pencelupan
Kayu dimasukkan ke dalam bak berisi larutan bahan pengawet dengan
konsentrasi yang telah ditentukan, dengan waktu hanya beberapa menit bahkan detik.
Kelemahan cara ini: penetrasi dan retensi bahan pengawet tidak memuaskan. Hanya
melapisi permukaan kayu sangat tipis, tidak berbeda dengan cara penyemprotan dan
pelaburan (pemolesan). Cara ini umumnya dilakukan di industri-industri
penggergajian untuk mencegah serangan jamur blue stain. Bahan pengawet yang
dipakai Natrium Penthachlorophenol. Hasil pengawetan ini akan lebih baik bila kayu
yang akan diawetkan dalam keadaan kering dan bahan pengawetnya dipanaskan lebih
dahulu.
a) Kelebihan dan Kekurangan
 Kelebihan
 Proses sangat cepat
 Bahan pengawet dapat dipakai berulang kali
 Peralatan cukup sederhana

8
 Kekurangan
 Penetrasi dan retensi kecil sekali, terlebih pada kayu basah
 Mudah luntur, karena bahan pengawet melapisi permukaan kayu
sangat tipis.

c. Metode Pemulasan
Cara pengawetan ini dapat dilakukan dengan alat yg sederhana. Bahan pengawet
yang masuk dan diam di dalam kayu sangat tipis. Bila dalam kayu terdapat retak-
retak, penembusan bahan pengawet tentu lebih dalam. Cara pengawetan ini hanya
dipakai untuk maksud tertentu,yaitu:
 Pengawetan sementara di daerah ekploatasi atau kayu-kayu gergajian untuk
mencegah serangan jamur atau bubuk kayu basah.
 Untuk membunuh serangga atau perusak kayu yang belum banyak dan belum
merusak kayu (represif).
 Untuk pengawetan kayu yang sudah terpasang.
Cara pengawetan ini hanya dianjurkan bila serangan perusak kayu tempat kayu akan
dipakai tidak hebat (ganas).
a) Kelebihan dan Kekurangan
 Kelebihan
 Alat sederhana, mudah penggunaannya
 Biaya relative murah

 Kekurangan
 Peetrasi dan retensi bahan pengawet kecil
 Mudah luntur

d. Metode Pembalutan
Cara pengawetan ini khusus digunakan untuk mengawetkan tiang-tiang dengan
menggunakan bahan pengawet bentuk cream (cairan) pekat, yang
dilaburkan/diletakkan pada permukaan kayu yang masih basah. Selanjutnya dibalut
sehingga terjadilah proses difusi secara perlahan-lahan ke dalam kayu.
a) Kelebihan dan Kekurangan
 Kelebihan
 Peralatan sederhana

9
 Penetrasi lebih baik, hanya waktu agak lama
 Digunakan untuk tiang-tiang kering ataupun basah

 Kekurangan
 Pemakaian bahan pengawet boros
 Jumlah kayu yang diawetkan terbatas, waktu membalut lama
 Membahayakan mahluk hidup sekitarnya (hewan dan tanaman)

F. Metode Pengawetan Khusus


Proses pengawetan kayu dengan tekanan akan menghasilkan peresapan bahan
pengawet yang lebih dalamdan banyak. Kayu yang diawetkandapat berupa kayu persegi
atau kayu bulat (tanpa kulit) yang nantinyaakan digunakan di luar ruangan atau
berhubungan dengan tanah dan air. Yang termasuk jenis cara pengawetan ini adalah
sebagai berikut :

a. Metode Proses Sel Penuh


Pada proses sel penuh, pengawetan kayu dilakukan dengan usaha untuk
memasukkan bahan pengawet sebanyak munkin ke dalam kayu dengan proses
penekanan. Bahan pengawet ini berusaha disisikan penuh-penuh ke dalam kayu dan
dipertahankan untuk tetap tinggal di dalamnya, sehingga di bagian kayu yang
diawetkan terdapat bahan dalam jumlah maksimum. Setiap sel penyusun kayu akan
diisi penuh dengan bahan pengawet sedalam-dalamnya ke dalam kayu serta retensi
bahan pengawet sebanyak-banyaknya.
Bahan pengawet yang lazim digunakan dalam proses sel penuh adalah bahan
pengawet yang dilarutkan dalam air. Meskipun demikian, bahan pengawet berupa
minyak atau bahan pengawet yang dilarutkan dapat digunakan, jumlah bahan
pengawet yang diharapkan semakin banyak yang tertinggal di dalam kayu dapat
diusahakan dengan membuat bahan pengawet ini lebih pekat. oleh karena itu,
konsentrasi bahan pengawet di buat lebih tinggi.
Dalam metode ini terdapat 2 proses, yaitu :

a) Proses Bethel
Proses pengawetan ini menggunakan bahan pengawet kreosot dengan
urutan proses sebagai berikut :

10
1. Kayu dimasukkan ke dalam tangki silinder kemudian dilakukan
pemvakumar, 15-60 menit
2. Selanjutnya bahan pengawet panas (suhu 85 – 100 derajat celcius)
dimasukkan ke dalam silinder sambil di berikan tekana 125 – 200 psi.
Tekanan dipertahankan beberapa saat agar absorbsi bahan pengawet
ke dalam kayu tercapai.
3. Setelah itu tekanan dalam tangki silinder secara perlahan-lahan
dikurangi hingga mencapau tekanan dengan udara luar (atmosfir)
4. Selanjutnya sisa minyak dikeluarkan dari tangki silinder sambil
diadakan pemvakuman lagi beberapa saat. Pemvakuman
dimaksudkan untuk mengeringkan kayu
5. Setelah itu pemvakuman tangki silinder pengawet dilepas ( diakhiri),
sehingga udara bisa masuk dan tekanan dalam tangki silinder kembali
menjadi normal sama dengan udara sekitarnya.

b) Proses Burnet
Proses pengawetan ini menggunakan bahan pengawet larut dalam aur
berupa ZnCl2 (seng klorida). Secara umum urutan prosesnya sama dengan
proses Bethel, hanya seng khlorida panas suhunya 55 – 65 C dan
konsentrasinya 2 -4 %.

b. Metode Proses Sel Kosong


Pada proses sel kosong, meskipun pengawetan yang dilakukan juga dengan
menekan bahan pengawet agar masuk ke dalam kayu, penekanan ini tidak bertujuan
untuk mengisi setiap sel kayu secara penuh dengan bahan peengawetan, melainkan
hanya melapisi sel-sel penyusun kayu dengan bahan pengawet tersebut. Karena sel
kayu hanya di lapisi bahan pengawet, bagian dalam sel kayu (rongga sel kayu) ini
masih tetap kosong.Dengan demikian, proses sel kosong berusaha untuk meresapkan
bahan pengawet sedalam-dalamnya di dalam kayu, namun retensi bahan pengawet
tersebut tidak begitu banyak.
Bahan pengawet yang digunakan dalam proses sel kosong adalah bahan pengawet
berupa minyak atau bahan pengawet yang dilarutkan dalam minyak. Mekipun
demikian, proses sel kosong dapat juga menggunakan bahan pengawetan yang
dilarutkan dalam air.Bila bahan pengawet larut air yang digunakan, pengawetan harus

11
segera diikuti dengan pemasukan bahan pengawet minyak atau bahan pengawet yang
larut minyak ke dalam kayu.Penggunaan bahan pengawet larut air di sini terutama
bertujuan untuk mengurangi tambahan berat kayu setelah setelah diawetkan.
Dalem metode ini terdapat 2 proses, yaitu :
a) Proses Rueping
Proses ini diawali dengan pemberian tekanan udara pada tangki silinder
pada awal proses. Kayu yang diawetkan dapat berupa kayu yang telah kering,
masih basah atau telah dilakukan pengukusan.

b) Proses Lowry
Proses ini prinsipnya sama dengan proses Rueping, hanya bedanya tidak
diawali dengan pemberian tekanan udara ke dalam tangki pengawet.

c. Metode Proses Tekanan Ringan


Proses pengawetan ini tidak dilakukan dalam tangki tertutup tapi ditempat
terbuka. Biasanya proses Boucherie digunakan untuk mengawetkan kayu bulat
(dengan kulit). Tekanan ringan proses pengawetan terjadi karena selisih tinggi antara
bak penyimpanan bahan pengawet dan kayu yang akan diawetkan.

G. Proses Akhir Pengawetan Kayu


Ada 3 hal yang perlu diperhatikan pada akhir proses pengawetan kayu :
1. Pembongkaran kayu dari tumpukan dalam bak celup (rendaman) harus dilakukan
dengan hati-hati, jangan sampai terjadi kerusakan kayu yang mengakibatkan
tergoresnya permukaan yang telah terlapiskan bahan pengawet.
2. Untuk pengeringan kayu setelah diawetkan, dapat digunakan pengeringan secara
alami atau buatan. Hanya perlu diperhatikan, tidak semua bahan pengawet dapat
dikeringkan secara pengeringan buatan (dry kiln). Sebab dengan pengeringan
yang mendadak, bahan pengawet akan menguap dari dalam kayu, yang berarti
pelunturan bahan pengawet. Biasanya bahan pengawet larut minyak dan berupa
minyak mengijinkan pengeringan akhir dengan kiln. Setelah kayu benar-benar
kering, penggunaan dapat dilakukan.
3. Penyimpanan sementara sebelum kayu dipakai harus dilakukan di tempat
terlindung dan terbuka bagi sirkulasi udara. caranya seperti penyusunan kayu
gergajian dengan menggunakan sticker

12
H. Keterawetan Kayu
Keterawetan kayu adalah ukuran yang mengambarkan mudah-sukarnya kayu
diresapi dan dimasuki bahan pengawet.Kayu yang makin mudah dimasuki bahan
pengawet, dikatakan bahwa kayu itu mempunyai keterawetan tinggi.Sebaliknya, kayu
yang makin sukar dimasuki bahan pengawet, disebut sebagai kayu yang mempunyai
keterawetan rendah.Dengan demikian, keterawetan kayu menyangkut masalah ketahanan
kayu terhadap arus masuknya bahan pengawet kedalam kayu.
Kayu yang mempunyai derajat keterawetan tinggi berarti kayu itu mudah
diawetkan sehingga kayu ini dapat diawetkan dengan hasil memuaskan, meskipun
dengan metode pengawetan sederhana atau keterawetan rendah, maka kayu tersebut
sangat sukar untuk diawetkan dengan proses pengawetan sederhana. Oleh karena itu,
kayu demikian harus diawetkan dengan metode pengawetan yang menerapkan proses
penenkanan.
Dalam keterawetan kayu adapun cara-cara yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan keterawetan kayu tersebut meliputi pengupasan kulit kayu, pengeringan,
insisi, pengerjaan awal, perebusan, atau penguapan.
Kayu sebelum diawetkan perlu dikupas kulitnya karena kulit kayu sangat sulit
diresapi bahan pengawet. Disamping itu menghambat proses mengeringnya kayu, kulit
kayu juga merugikan karena serangga-serangga sering menggunakan sebagai tempat
berlingung.
Adapun beberapa cara dalam menjaga keterawetan kayu sebagai berikut :

1. Pengeringan
Pengeringan adalah usaha untuk mengurangi jumlah kandungan air dalam
kayu.Pengeringan ini dapat dilakukan dengan pengeringan alami (air drying),
pengeringan dengan radiasi sinar matahari (solar drying), atau pengeringan
buatan dengan tanur pengering (klin drying).Pengeringan alami dilakuakan
dengan menumpuk kayu dengan meletakkan ganjal-ganjal (stickers) diantara
specimen-spesimen kayu tersebut.

2. Insisi
Insisi kayu adalah suatu perlakuan terhadap kayu yang bertujuan untuk
membuat tusukan-tusukan yang dangkat pada permukaan kayu.Semakin rapat
jarak antara tusukan ini, keterawetan kayu semakin ditingkatkan dan diperbaiki.

13
Insisi kayu akan memperbaiki dan mempermudah proses peresapan bahan
pengawet dalam arah tegak lurus serat. Peresapan bahan pengawet dalam arah
tegak lurus, arah serat ini jauh lebih sulit berlangsung daripada peresapan dalam
arah sejajat arah serat.

3. Proses pengerjaan awal


Proses pengerjaan awal adalah seluruh pengerjaan yang perlu dilakukan
sebelum kayu dirangkai dalam penggunaannya. Dengan demikian, proses
pengerjaan awal ini meliputi proses pengeboran, pembuatan takik calon
sambungan, penatahan, penyerutan, dan pengukiran.

4. Perebusan
Perebusan atau penguapan adalah suatu perlakuan merebus kayu di dalam
air bersuhu tinggi.

14
BAB III

PEMBAHASAN PENGERINGAN KAYU

A. Pengeringan Kayu
Pengeringan kayu adalah proses untuk mengeluarkan air yang terdapat di dalam
kayu. Telah diutarakan di muka, bahwa kadar air kayu memberikan pengaruh yang sangat
besar dalam pemakaian kayu. Untuk berbagai macam kegunaan dengan kondisi udara
tertentu kayu memerlukan batas kandungan kadar air. Oleh karena itu masalah
pengeringan merupakan factor yang penting pada kayu. Dengan adanya pengeringan
akan diperoleh keuntungan-keuntungan sebagai berikut:
 Menjamin kestabilan dimensi kayu. Sebab di bawah titik jenuh serat, perubahan
kadar air dapat mengakibatkan kembang susut pada kayu. Sebaliknya bila kayu
dikeringkan sampai mendekati kadar air lingkungan, maka sifat kembang susut ini
akan dapat teratasi, bahkan dapat diabaikan
 Menambah kekuatan kayu. Makin rendah kadar air kayu yang dikandung, akan
semakin kuat kayu tersebut.
 Membuat kayu menjadi ringan. Dengan demikian ongkos angkutan berkurang.
 Mencegah serangan jamur dan bubuk kayu. Sebab umumnya jasad renik perusak
kayu atau jamur tak dapat hidup di bawah persentase kadar air + 20%.
 Memudahkan pengerjaan selanjutnya, antara lain: pengetaman, perekatan, finishing,
pengawetan serta proses-proses kelanjutan lainnya.

B. Macam-macam Pengeringan Kayu


Kita mengenal dua acara pengeringan yang umum dipergunakan, yaitu:
 Pengeringan alami-udara
 Pengeringan buatan

1. Pengeringan Alami
Pengeringan Kayu dengan Alam atau Udara ialah pengeringan kayu dengan
mengunakan alam dan kerusakan atau cacat kayu tidak bisa dikendalikan.

15
a) Kelebihan dan Kekurangan
 Keleihan
 Biaya relative murah, tanpa peralatan yang mahal.
 Pelaksanaannya lebih mudah, tanpa memerlukan tenaga ahli.
 Pengeringan dengan tenaga alam / udara (matahari).
 Kapasitas dan sortimen kayu tidak terbatas.

 Kekurangan
 Waktu yang dipergunakan cukup lama (tergantung cuaca)
 Memerlukan areal / lapangan yang cukup luas.
 Memerlukan persediaan kayu lebih banyak.
 Cacat-cacat yang timbul sulit diperbaiki kembali.
 Kadar air akhir umumnya masih cukup tinggi.

 Cepat atau lambat kayu mengering tergantung dari beberapa factor, yaitu:
 Iklim: yaitu besar/kecilnya curah huja, intensitas penyinaran matahari,
ada/tidaknya kabut
 Suhu: Didalam keadaan udara yang tetap, makin tinggi suhu, makin cepat
kayu mengering.
 Kelembaban udara: Dalam keadaan suhu yang tetap, makin rendah
kelembaban udara, makin cepat proses pengeringan.
 Peredaran udara: Berfungsi mengganti udara yang basah dengan udara
yang kering sehingga pengeringan dipercepat.
 Kadar air awal: Makin basah kayu itu pada awalnya, makin lama pula
proses pengeringannya.
 Jenis kayu: Beberapa jenis kayu akan lebih cepat mengering, umumnya
kayu lunak akan lebih cepat mongering daripada kayu yang lebih keras.
 Letak kayu: Umumnya kayu gubal lebih cepat mengering daripada kayu
teras.
 Ukuran kayu: Tebal tipisnya kayu yang akan dikeringkan.
 Cara penyusunannya dengan menggunakan ganjal/sticker

16
b) Teknik Pengeringan Kayu Alami
 Kayu yang akan dikeringkan sebaiknya disusun secara horizontal
menggunakan ganjal atau sticker, serta permukaan tumpukan yang paling atas
diberi beban pemberat. Sticker atau ganjal sebaiknya dibuat dari kayu sejenis
dengan kayu yang akan dikeringkan.
 Sebaiknya kayu dikelompokkan menurut ketebalan yang sama, kemudian
apabila memungkinkan sesuaikan lebar dan panjang kayu. Kayu paling tebal
sebaiknya diletakkan di bawah dan kayu yang lebih tipis di atasnya.
 Ujung kayu sebaiknya dikuas dengan lem untuk menghindari pecah pada
ujung kayu, lem bisa menggunkan lem kayu pvac atau lem putih.
 Kayu sebaiknya diberikan peneduh diatasnya agar tidak terkena hujan atau
tersengat matahari yang terlalu panas yang berakibat retak ujung atau
melengkung.
 Untuk memaksimalkan pengeringan bisa diberikan kipas atau blower agar
pengeringan bisa lebih merata dan cepat
 Selain direbahkan pengeringan kayu secara alami juga bisa dilakukan dengan
menyandarkan kayu pada dinding yang secara vertikal sehingga kadar air
kayu cepat turun.

2. Pengeringan Buatan (Kiln Drying)


Pengeringan ini merupakan lanjutan hasil perkembangan pengeringan udara. Dengan
kemajuan dan perkembangan teknologi modern, meningkatkan permintaan akan
kayu berkualitas tinggi, maka timbul usaha pengeringan buatan yang lebih efektif dan
lebih efisien daripada pengeringan buatan yang lebih efektif dan lebih efisien
daripada pengeringan udara.

Gambar 4. Kiln Drying


17
a) Kelebihan dan Kekurangan
 Kelebihan
 Waktu pengeringan sangat singkat
 Kadar air akhir dapat diatur sesuai dengan keinginan, disesuaikan dengan
tujuan penggunaan
 Kelembaban udara (RH), temperature dan sirkulasi udara dapat diatur
sesuai dengan jadwal pengeringan
 Terjadinya cacat kayu dapat dihindari dan beberapa jenis kayu dapat
diperbaiki
 Kontinuitas produksi tidak terganggu dan tidak diperlukan persediaan
kayu yang banyak
 Tidak membutuhkan tempat yang luas
 Kualitas hasil jauh lebih baik

 Kekurangan
 Memerlukan investasi/modal yang besar
 Memerlukan tenaga ahli pengalaman
 Sortimen kayu yang akan dikeringkan tertentu

b) Jenis-jenis Dry Kiln


1. Compartmen Kiln
 Tingkat kekeringan kayu sama
 Pintu masuk lori sama dengan pintu keluar
 Arah pergerakan udara melintang kiln
 Tidak membutuhkan ruang yang besar

2. Progessive Kiln
Gambar 1. Kayu
 Tingkat kekeringan kayu berbeda
 Pintu masuk dan keluar tidak sama
 Arah pergerakan udara berlawanan dengan arah lori
 Merupakan bentuk terowongan

18
c) Teknik Pengeringan Kayu Dry Kiln
 Kayu yang akan dikeringkan sebaiknya disusun secara horizontal
menggunakan ganjal atau sticker, serta permukaan tumpukan yang paling atas
diberi beban pemberat. Sticker atau ganjal sebaiknya dibuat dari kayu sejenis
dengan kayu yang akan dikeringkan.
 Sebaiknya kayu dikelompokkan menurut ketebalan yang sama, kemudian
apabila memungkinkan sesuaikan lebar dan panjang kayu. Kayu paling tebal
sebaiknya diletakkan di bawah dan kayu yang lebih tipis di atasnya.

C. Proses Pengeringan Kayu Secara Buatan


1. Pemanasan awal (Preheating)
2. Pengeringan sampai titik jenuh serat (Drying down to fiber saturation point)
3. Pengeringan dari titik jenuh serat sampai kadar air akhir (Drying down from fiber
saturation point to final moisture content)
4. Pengkondisian pada kadar air akhir (Conditioning at final moisture content)
5. Pemerataan atau penyamaan kadar air kayu (Equalizing)
6. Pendinginan dan pembongkaran kayu (Cooling down and discharge of timber stack)

D. Kerusakan Kayu Akibap Proses Pengeringan


1. Kerusakan Akibat Penyusutan Kayu
Terjadi pada saat kayu mengering. Umumnya pada pengeringan dengan kiln atau
secara alami dapat timbul kerusakan akibat penyusutan ini, disebabkan kurang hati-
hati dalam pelaksanaan. Di antara ketiga golongan kerusakan kayu, kerusakan oleh
penyusutan adalah yang paling banyak terjadi. Hal ini perlu mendapat perhatian, agar
kerusakan tersebut dapat dicegah dengan jalan menurunkan suhu atau menaikkan
kelembaban udara. Kerusakanny biasanya bisa berupa retak pecah atau yang lainnya.
Cacat-cacat serupa yang diakibatkan penyusutan antara lain adalah :
 Pecah ujung (end checks) dan pecah permukaan (surface checks)
 Pecah dimulai pada bagian ujung kayu dan menjalar sepanjang papan
 Retak di bagian dalam kayu (honeycombing)
 Casehardening
 Bentuk mangkok (cupping) : perubahan bentuk melengkung pada arah lebar kayu
 Bentuk busur (bowing) : perubahan bentuk melengkung pada arah memanjang
kayu

19
 Menggelinjang (twist)
 Perubahan bentuk penampang kayu (diamonding)
Cacat-cacat bentuk ini sukar dihindari, tetapi dapat dikurangi dengan cara
penumpukan yang baik dan meletakkan beban pemberat pada bagian atas tumpukan
serta tidak memberikan suhu yang terlalu tinggi selama proses pengeringan.

2. Kerusakan Akibat Serangan Jamur Pembusuk


Kerusakan ini terjadi pada permulaan pengeringan. Jamur itu sendiri sebenarnya
telah melekat sebelum kayu tersebut dikeringkan dalam kiln. Yang banyak diserang
umumnya adalah bagian kayu gubal. Karena jamur dapat tumbuh subur pada suhu
yang rendah dan kelembaban yang tinggi, maka untuk mengendalikan kerusakan ini
ialah dengan mempercepat pengeringan pada suhu lebih tinggi. Umumnya kerusakan
ini hanya mengubah warna kayu, tidak menurunkan sifat mekanik kayu.

3. Kerusakan Akibat Bahan Kimia Di Dalam Kayu


Kayu memiliki kandungan beberapa zat, diantaranya adalah zat ekstraktif.
Melalui reaksi kimia zat ini dapat mengakibatkan perubahan warna atau noda kimia
pada kayu. Perubahan ini tidak mempengaruhi kekuatan kayu itu sendiri, hanya
pengruh yang tidak baik terhadap penglihatan mata saja. Hal itu terjadi karena
bereaksinya zat ekstraktif dengan panas yang ada pada kiln.

20
BAB IV

KESIMPULAN

A. Kesimpulan
Pengawetan kayu sudah sejak lama mendapat perhatian dari pemerintah terbukti
dengan keluarnya berbagai peraturan, namun kesadaran masyarakat dalam hal ini masih
rendah, dimana salah satu penyebabnya adalah kurangnya minat konsumen untuk
memakai kayu awetan. Upaya pengawetan kayu memeberikan keuntungan secara
ekonomi. Disadari atau tidak munculnya ilmu pengawetan kayu merupakan suatu
terobosan penting untuk menyelamatkan hutan dari eksploitasi tanpa henti dan menjadi
solusi menipisnya hutan.
Pengeringan kayu itu ada dua macam alam dan buatan,dengan alam itu relatif
lama cacat kayu tidak dapat dikendalikan sepenuhnya tergantung pada alam sedangkan
buatan cepat, cacat kayu dapat dikendalikan karena suhu panas yang diterima kayu
sepenuhnya diatur oleh manusia.
Kerusakan kayu akibat proses pengeringan secara garis besar kerusakan yang
timbul disebabkan oleh 3 hal : Akibat penyusutan kayu, Serangan jamur pembusuk,
Bahan kimia di dalam kayu (zat ekstraktif).

21
DAFTAR PUSTAKA

http://www.vedcmalang.com/pppptkboemlg/index.php/departemen-bangunan-30/819-metode-
pengawetan-kayu, diunduh tgl 11 September 2019

https://www.builder.id/sistem-dan-metode-pengeringan-kayu-secara-alami-dan-oven/, diunduh
tgl 12 September 2019

https://dedako.blogspot.com/2011/03/pengeringn-kayu.html, diunduh tgl 12 September 2019

http://uli-adriani.blogspot.com/2010/04/pengeringan-kayu.html, diunduh tgl 12 September 2019

http://www.tentangkayu.com/2008/02/proses-pengeringan-kayu.html, diunduh tgl 13


September 2019

http://fauziahforester.blogspot.com/2014/01/makalah-pengawetan-kayu.html, diunduh tgl 13


September 2019

Dry Kiln Operator’s Manual, Edited by William T. Simpson, Research Forest Products
Technologist, United States Department of Agriculture, Forest Service, Forest Products
Laboratory, Madison, Wisconsin, Revised August 1991, Agriculture Handbook 188.

Ariyanti dan Erniwati. 2000. Dasar-dasar Teknologi Hutan. Fakultas Pertanian, Universitas
Tadulako.

Kasmudjo. 2010. Teknologi Hasil Hutan. Cakrawala Media. Yogyakarta.

22