Anda di halaman 1dari 19

STRATEGI BELAJAR MENGAJAR KIMIA

“ STOKIOMETRI”

DOSEN PENGAMPU : Dr. SIMSON TARIGAN, MPd.,MA

DISUSUN OLEH KELOMPOK 4 :

MARISA Z PASARIBU ( 4181131032 )

RINDI SEPTIANI BR DEPARI ( 4182131007 )

RANDIKA JANAMA GINTING ( 4182131010 )

RISDAYATI SIMORANGKIR ( 4182131011 )

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan
karunia-Nya kami dapat menyelesaikan Tugas Rutin yang berjudul “STOKIOMETRI” ini yang
merupakan tugas dari mata kuliah “STRATEGI BELAJAR MENGAJAR KIMIA” . Serta
terimakasih yang sebesar-besarnya kepada dosen pengampuh mata kuliah ini, bapak Dr.Simson
Tarigan, MPd.,MA yang telah banyak memberikan arahan mengenai tugas ini pada kelas Kimia
dik C 2018 prodi Pendidikan Kimia.

Dalam memenuhi tugas ini, kami menyadari masih terdapat banyak kekurangan yang
mungkin tidak kami sadari secara langsung. Maka dari itu, kritik dan saran yang bersifat
membangun dari pembaca sangat diharapkan sebagai bentuk perubahan yang lebih baik kepada
kami. Semoga tugas rutin ini bermanfaat bagi pembaca umumnya, dan bagi kami khususnya.

Medan, 27 Agustus 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................................i

DAFTAR ISI .......................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................................1

1.1 Latar Belakang .............................................................................................................1


1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................................1
1.3 Tujuan ..........................................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................................2

BAB III PENUTUP ............................................................................................................15

3.1 Kesimpulan ..................................................................................................................15

3.2 Saran ..............................................................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................................16

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Seperti yang kita ketahui bahwa air adalah salah satu senyawa paling sederhana dan
paling dijumpai serta paling penting. Bangsa Yunani kuno menganggap air adalah salath satu
dari empat unsur penysun segala sesuatu (disamping, tanah, udara, dan api). Bagian terkecil
daria air adalah molekul air. Molekul adalah partikel yang sangat kecil, sehingga jumlah
molekul dalam segelas air melebihi jumlah halaman buku yang ada di bumi ini.
Stoikiometri behubungan dengan hubungan kuantitatif antar unsure dalam satu
senyawa dan antar zat dalam suatu reaksi. Istilah itu berasal dari Yanani, yaitu dari kata
stoicheion, yang berarti unsure dan mentron yang artinya mengukur. Dasar dari semua
hitungan stoikiometri adalah pengetahuan tentang massa atom dan massa molekul. Oleh
karena itu, stoikiometri akan dimulai dengan membahasa upaya para ahli dalam penentuan
massa atom dan massa molekul.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa Saja Hukum-hukum Dasar Kimia ?
2. Bagaimana konsep Massa Atom Relative ( Ar) ?
3. Bagaiman konsep Molekul Relative ( Mr) ?
4. Bagaimana Konsep Dan Bilangan Oksidasi ?

1.3 Tujuan
1. Untuk Mengetahi dasar- dasar Kimia
2. Mengetahui lebih mendalam tentang stoikiometri yang kita temukan dalam kehidupan.

1
BAB II

PEMBAHASAN STOKIOMETRI

A. HUKUM-HUKUM DASAR KIMIA


Hukum-hukum kimia dasar antara lain adalah hukum kekekalan massa, hukum perbandingan
tetap, hukum perbandingan volume, dan hukum perbandingan berganda. Hukum-hukum dasar kimia itu
merupakan pijakan kita dalam mempelajari dan mengembangkan ilmu kimia selanjutnya.

a. Hukum Kekekalan Massa ( Hukum Lavoiser)


Jika logam dibakar di udara bebas, maka akan menghasilkan oksida yang lebih berat
dibandingkan dengan logam semula. Para kimiawan mengembangkan metode eksperimen secara
cermat dengan menggunakan neraca kimia dalam mengukur volume atau massa gas, cair dan
padat yang terjadi pada reaksi kimia. Massa reaktan dan hasil reaksi dapat diukur dengan cermat.
Hasil eksperimen tersebut menyajikan fakta kepada pengamat dan menuntut mereka ke
perumusan hukum fundamental (dasar ) yang menguraikan sifat kimia. Hukum dasar yang
diperoleh dikenal dengan hukum kekekalan massa, yaitu sebagai berikut.
’’ Massa tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan dalam perubahan materi apa pun.’’
Secara terpisah pada tahun 1783, seorang kimiawan besar Prancis, Antoine Lavoisier
melakukan hal yang sama dengan menggunakan neraca kimia untuk menunjukkan bahwa jumlah
dari massa hasil reaksi kimia sama dengan jumlah massa reaktannya.
Lavoisier melakukan eksperimen dengan memanaskan mrerkuri dalam labu tertutup yang
berisi udara. Setelah beberapa hari, terbentuk zat yang berwarna merah yaitu merkuri(II) oksida.
Gas dalam tabung massanya berkurang dan tidak dapat lagi menyangga pembakaran (lilin dalam
tabung tidak menyala lagi) dan hewan akan mati jika dimasukkan ke dalamnya. Hal itu
menunjukkan bahwa gas oksigen dalam tabung sudah habis. Sekarang diketahui bahwa gas yang
tersisa adalah nitrogen, sedangkan oksigen dari udara dalam tabung telah habis bereaksi dengan
merkuri. Selanjutnya, Lavoisier mengambil oksida merkuri tersebut dan memanaskannya
sehingga terurai kembali. Kemudian dia menimbang merkuri dan gas yang dihasilkan. Ternyata
massa gabungannya sama dengan massa merkuri(II) oksida yang digunakan semula. Akhirnya

2
setelah beberapa kali dilakukan eksperimen dan hasilnya sama, Lavoisier menyatakan hukum
kekekalan massa yaitu sebagai berikut.
’’ Dalam setiap reaksi kimia, massa zat sebelum dan sesudah reaksi selalu sama.’’
Lavoisier adalah orang pertama yang mengamati bahwa reaksi kimia analog dengan
persamaan aljabar.
Contoh :
S(s) + O2(g) → SO2(g)
1 mol S bereaksi dengan 1 mol O2 membentuk 1 mol SO2. 32 gram S bereaksi dengan 32 gram
O2 membentuk 64 gram SO2. Massa total reaktan sama dengan massa produk yang dihasilkan.
H2(g) + ½ O2(g) → H2O(l)
1 mol H2 bereaksi dengan ½ mol O2 membentuk 1 mol H2O. 2 gram H2 bereaksi dengan 16 gram
O2 membentuk 18 gram H2O. Massa total reaktan sama dengan massa produk yang terbentuk.

b. Hukum Proust (Hukum Perbandingan Tetap)

Pada tahun 1799 kimiawan Prancis, Joseph Proust, melalui berbagai percobaan
menemukan suatu ketetapan yang dikenal dengan hukum Proust, yaitu sebagai berikut.
“perbandingan massa unsur-unsur pembentuk senyawa selalu tetap, sekali pun dibuat dengan
cara yang berbeda” Pada waktu itu Proust menemukan bahwa tembaga karbonat, baik dari
sumber alamimaupun sintetis di laboratorium mempunyai susunan yang tetap.
Untuk menentukan susunan suatu senyawa, kita dapat menguraikan suatu contoh
senyawa yang telah kita timbang, kemudian senyawa-senyawa itu diuraikan menjadi unsure-
unsurnya. Masing-masing unsur pembentuk senyawa itu kita timbang, ternyata diperoleh suatu
perbandingan tertentu. Jika hal tersebut diulang-ulang, maka akan diperoleh perbandingan yang
sama. Metode lain juga dapat dilakukan, yaitu dengan menimbang massa senyawa yang
terbentuk dari persenyawaan unsur-unsur yang masing-masing unsur tersebut massanya
diketahui. Dari sekian banyak eksperimen mengenai susunan unsure dalam senyawa, selalu
menghasilkan pernyataan berikut.
“Suatu senyawa murni selalu tersusun dari unsur-unsur yang tetap dengan perbandingan massa
yang tetap.”
Contoh :

3
1. S(s) + O2(g) → SO2(g)
Perbandingan massa S terhadap massa O2 untuk membentuk SO2 adalah 32 gram S berbanding
32 gram O2 atau 1 : 1. Hal ini berarti, setiap satu gram S tepat bereaksi dengan satu gram
O2 membentuk 2 gram SO2. Jika disediakan 50 gram S, dibutuhkan 50 graM O2 untuk
membentuk 100 gra- SO2.

2. H2(g) + ½ O2(g) → H2O(l)


Perbandingan massa H2 terhadap massa O2 untuk membentuk H2O adalah 2 gram H2 berbanding
16 gram gram O2 atau 1 2 8. Hal ini berarti, Setiap satu gram H2tepat bereaKsi dengan 8 gram
O2 lembentuk 9 gram H2O. Jika disediakan 24 gram O2, dibutuhkan 1 gram H2 untuk membentuk
27 gram H2O.

c.Hukum Perbandingan Berganda


Ketertarikan John Dalton mempelajari dua unsur yang dapat membentuk lebih dari satu
senyawa ternyata Menghasilkan suatu kesimpulan yang disebut hukum perbandingan berganda:
’’Bila dua unsur dapat membentuk lebih dari satu senyawa, maka perbandingan
massa unsur yang satu, yang bersenyawa dengan unsur lain yang tertentu massanya merupakan
bilangan bulat dan sederhana’’.
Sebagai contoh yaitu tembaga dengan oksigen,karbon dengan oksigen, belerang dengan
oksieen, dan fosfor dengan klor. Perbandingan massa kedua unsur tersebut adalah sebagai
berikut.
1. Tembaga dan oksigen membentuk dua senyawa tembaga oksida.
tembaga oksida tembaga oksigen tembaga : oksigen
I 88,8% 11,2% 1 : 0,126
I 79,9% 20,1% 1 : 0,252
2. Karbon dan oksigen dapat membentuk dua senyawa
Karbon + oksigen → Karbon monoksida (I)
Karbon + oksigen → Karbon diosida (II)
senyawa karbon oksigen karbon : oksigen
I 42,8% 57,2% 1 : 1,33
II 27,3% 72,7% 1 : 2,67

4
3. Sulfur (belerang) dengan oksigan dapat membentuk dua senyawa oksigen, yaitu sulfur
oksida (I) dan sulfur trioksida (II)

senyawa belerang oksigen belerang : oksigen

I 50% 50% 1:1

II 40% 60% 1 : 1,5

Sampai kini hukum ini masih dapat diterima, tetapi perlu dikoreksi mengenai bilangan
sederhana. Jika perbandingan itu bilangan sederhana (1, 2, 3, 4, 5) berarti rumus senyawa juga
sederhana, seperti H2O, CO2, dan H2SO4. Akan tetapi kini ditemukan senyawa dengan bilangan
besar, seperti sukrosa dan asam arakidonat.

d.Hukum perbandingan volume

Hubungan antara volume-volume dari gas-gas dalam reaksi kimia telah diselidiki oleh
Joseph Louis Gay-Lussac dalam tahun 1905. Pada penelitian itu ditemukan bahwa pada suhu dan
tekanan tetap, setiap satu volume gas oksigen akan bereaksi dengan dua volume gas hidrogen
menghasilkan dua volume uap air, dengan demikian perbandingan antara volume hidrogen,
volume oksigen dan volume uap air berurut adalah 2:1:2. Contoh lain : satu volume gas hidrogen
akan bereaksi dengan satu volume gas klor menghasilkan dua volume gas hidrogen klorida;
perbandingan volume hidrogen, volume klor dan volume hidrogen klorida berurut adalah 1:1:2.
Pada reaksi antara gas nitrogen dan gas hidrogen membentuk gas amonik, maka perbandingan
volume dari ketiga gas itu berturut adalah 1:3:2 (N2 : H2 : NH3).

Berdasarkan uraian di atas,dapat disimpulkan bahwa:


“Pada suhu dan tekanan yang sama, perbandingan volume gas pereaksi dengan volume gas hasil
reaksi merupakan bilangan bulat dan sederhana (sama dengan perbandingan koefisien
reaksinya)”
Contoh :
 N2(g) + 3 H2(g) → 2 NH3(g)

5
Perbandingan volume gas sama dengan perbandingan koefisien reaksinya. Hal ini berarti, setiap
1 mL gas N2 tepat bereaksi dengan 3 mL gas H2 membentuk 2 mL gas NH3. Dengan demikian,
untuk memperoleh 50 L gas NH3, dibutuhkan 25 L gas N2dan 75 L gas H2.
 CO(g) + H2O(g) → CO2(g) + H2(g)
Perbandingan volume gas sama dengan perbandingan koefisien reaksinya. Hal ini berarti, setiap
1 mL gas CO tepat bereaksi dengan 1 mL gas H2O membentuk 1 mL gas CO2 dan 1 mL gas H2.
Dengan demikian, sebanyak 4 L gas CO membutuhkan 4 L gas H2O untuk membentuk 4 L gas
CO2 dan 4 L gas H2.

B. TEORI ATOM DALTON

Mempelajari tentang teori atom sangatlah penting sebab atom merupakan penyusun
materi yang ada di alam semesta. Dengan memahami atom kita dapat mempelajari bagaimana
satu atom dengan yang lain berinteraksi, mengetahui sifat-sifat atom, dan sebagainya sehigga
kita dapat memanfaatkan aam semesta untuk kepentingan umat manusia.
Nama “atom” berasal dari bahasa Yunani yaitu “atomos” diperkenalkan oleh Democritus
yang artinya tidak dapat dibagi lagi atau bagain terkecil dari materi yang tidak dapat dibagi lagi.
Konsep atom yang merupakan penyusun materi yang tidak dapat dibagi lagi pertama kali
diperkenalkan oleh ahli filsafat Yunani dan India.
Konsep atom yang lebih modern muncul pada abab ke 17 dan 18 dimana saat itu ilmu
kimia mulai berkembang. Para ilmuwan mulai menggunakan teknik menimbang untuk
mendapatkan pengukuran yang lebih tepat dan menggunakan ilmu fisika untuk mendukung
perkembangan teori atom.
John Dalton seorang guru berkebangsaan Ingris menggunakan konsep atom untuk
menjelaskan mengapa unsur selalu bereaksi dengan perbandingan angka bulat sederhana
(selanjutnya lebih dikenal dengan hokum perbandingan berganda) dan mengapa gas lebih mudah
larut dalam air dibandingkan yang lain. Dalton menyusun teori atomnya berdasarkan hukum
kekekalan massa dan hokum perbandingan tetap. Dimana konsep atomnya adalah sebagai
berikut:

 Setiap unsur tersusun dari partikel kecil yang disebut sebagai atom.

6
 Atom dari unsur yang sama adalah identik dan atom dari unsur yang tidak berbeda dalam
beberapa hal dasar.
 Senyawa kimia dibentuk dari kombinasi atom. Suatu senyawa selalu memiliki
perbandingan jumlah atom dan jenis atom yang sama.
 Reaksi kimia melibatkan reorganisasi atom yaitu berubah bagaimana cara mereka
berikatan akan tetapi atom-atom yang terlibat tidak berubah selama reaksi kimia berjala

Model atom Dalton ini biasanya disebut sebagai model atom bola billiard dimana warna bola
billiard yang berbeda-beda merupakan symbol atom unsur yang berbeda-beda.

C. HUKUM AVOGADRO

Hukum Avogadro (Hipotes Avogadro, atau Prinsip Avogadro) adalah hukum gas yang
diberi nama sesuai dengan ilmuwan Italia Amedeo Avogadro, yang pada 1811 mengajukan
hipotesis bahwa:
Gas-gas yang memiliki volum yang sama, pada temperatur dan tekanan yang sama, memiliki
jumlah partikel yang sama pula. Artinya, jumlah molekul atau atom dalam suatu volum gas tidak
tergantung kepada ukuran atau massa dari molekul gas. Sebagai contoh, 1 liter
gas hidrogen dannitrogen akan mengandung jumlah molekul yang sama, selama suhu dan
tekanannya sama. Aspek ini dapat dinyatakan secara matematis,
dimana: V adalah volum gas, n adalah jumlah mol dalam gas tersebut, k adalah tetapan
kesebandingan.
Akibat paling penting dari hukum Avogadro adalah bahwa Konstanta gas ideal memiliki nilai
yang sama bagi semua gas. Artinya, konstanta
dimana: p adalah tekanan gas dan T adalah temperatur yang memiliki nilai yang sama untuk
semua gas, tidak tergantung pada ukuran atau massa molekul gas. Hipotesis Avogadro
dibuktikan melalui teori kinetika gas. Satu mol gas ideal memiliki volum 22.4 liter pada kondisi
standar (STP), dan angka ini sering disebut volum molar gas ideal. Gas-gas nyata (non-ideal)
memiliki nilai yang berbeda.
 Contoh :Pada pembentukan molekul H2O
2L H2(g) + 1L O2(g) ® 2L H2O(g)

7
2 molekul H2 1 molekul O2 2 molekul H2O
Catatan :
Jika volume dan jumlah molekul salah 1 zat diketahui, maka volume dan jumlah molekul zat lain
dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan :

Keterangan :
V = volume molekul ( L )
X = jumlah partikel ( molekul )

D. MASSA ATOM DAN MASSA MOLEKUL RELATIF

Atom adalah partikel yang sangat kecil sehingga massa atom juga terlalu kecil bila
dinyatakan dengan satuan gram. Karena itu, para ahli kimia menciptakan cara untuk mengukur
massa suatu atom, yaitu dengan massa atom relatif. Massa atom relatif (Ar) adalah perbandingan
massa rata-rata suatu atom dengan satu per dua belas kali massa satu atom karbon-12.
Unit terkecil suatu zat dapat juga berupa molekul. Molekul disusun oleh dua atau lebih
atom-atom yang disatukan oleh ikatan kimia. Massa molekul relatif (Mr) adalah perbandingan
massa rata-rata suatu molekul dengan satu per dua belas kali massa satu atom karbon-12.
Ar Y = massa rata-rata 1 molekul Y / (1/12 x massa 1 atom C-12)
Dalam rumus di atas digunakan massa atom dan massa molekul rata-rata. Kenapa
menggunakan massa atom rata-rata? Karena unsur di alam mempunyai beberapa isotop. Sebagai
contoh, karbon di alam mempunyai 2 buah isotop yang stabil yaitu C-12 (98,93%) dan C-13
(1,07%). Jika kelimpahan dan massa masing-masing isotop diketahui, massa atom relatif suatu
unsur dapat dihitung dengan rumus:
Ar X = {(% isotop 1 x massa isotop 1) + (% isotop 2 x massa isotop 2) + …}/100
Jika diketahui massa atom relatif masing-masing unsur penyusun suatu molekul, massa
molekul relatifnya sama dengan jumlah massa atom relatif dari seluruh atom penyusun molekul
tersebut. Molekul yang mempunyai rumus AmBnberarti dalam 1 molekul tersbut terdapat m atom
A dan n atom B. Dengan demikian massa molekul relatif AmBn dapat dihitung seperti berikut.
Mr AmBn = m x Ar A + n x Ar B

8
E. KONSEP MOL

Dalam mereaksikan zat, banyak hal yang perlu kita perhatikan misalnya wujud zat berupa
gas, cair dan padat. Cukup sulit bagi kita untuk mereaksikan zat dalam ketiga wujud zat tersebut,
dalam bentuk padat dipergunakan ukuran dalam massa (gram), dalam bentuk cair dipergunakan
volume zat cair dimana didalamnya ada pelarut dan ada zat yang terlarut. Demikian pula yang
berwujud gas memiliki ukuran volume gas.
Kondisi ini menuntut para ahli kimia untuk memberikan satuan yang baru yang dapat
mencerminkan jumlah zat dalam berbagai wujud zat. Avogadro mencoba memperkenalkan
satuan baru yang disebut dengan mol. Definisi untuk 1 (satu) mol adalah banyaknya zat yang
mengandung partikel sebanyak 6.023 x 1023. Bilangan ini dikenal dengan Bilangan Avogadro
yang dilambangkan dengan huruf N.
Dengan mempertimbangkan aspek massa zat, 1 mol zat didefinisikan sebagai massa zat
tersebut yang sesuai dengan massa molekul relatifnya (Mr) atau massa atomnya (Ar).
Untuk 1 mol zat Karbon maka memiliki massa sesuai dengan massa atom Karbon,
diketahui dari tabel periodik bahwa massa atom karbon adalah 12 sma, sehingga massa zat
tersebut juga 12 gram. Untuk itu 1 mol zat dapat kita ubah kedalam bentuk persamaan :
Jumlah Mol ( n )
Massa ( m )
Volum Gas ( V )
Jumlah Partikel ( X )
Kemolaran ( M )

F. Persen komposisi, rumus empiris dan rumus molekul

Rumus kimia suatu zat dapat menjelaskan atau menyatakan jumlah relatif atom yang ada
dalam zat itu. Rumus kimia dibedakan menjadi rumus molekul dan rumus empiris. Rumus
empiris adalah rumus yang paling sederhana dari suatu senyawa.Rumus ini hanya menyatakan
perbandingan jumlah atom-atom yang terdapat dalam molekul.

9
Rumus empiris adalah rumus kimia yang sederhana sehingga perbandingan atom-atom
penyusunnya paling kecil . Rumus molekul adalah rumus kimia keseluruhan pembentuk molekul
tersebut . Rumus empiris glukosa adalah CH2O sedangkan rumus molekul glukosa adalah
C6H12O6 yaitu 6 kali rumus emirisnya.
Rumus empiris maupun rumus molekul diperoleh dari analisis unsur yang dilakukan
dengan pembakaran suatu zat. Zat yang hanya mengandung C,H dan O , ketika dibakar akan
menghasilkan gas CO2 dan H2O . massa C diperoleh dari massa CO2 sedangkan massa H
diperoleh dari massa H2O dan massa O diperoleh dari selisih massa sampel dikurangi jumlah
massa ( C+H) dengan asumsi zat tersebut murni .

Rumus empiris suatu senyawa dapat ditentukan apabila diketahui salah satu:
- massa dan Ar masing-masing unsurnya
- % massa dan Ar masing-masing unsurnya
- perbandingan massa dan Ar masing-masing unsurnya

Rumus molekul suatu zat menjelaskan jumlah atom setiap unsure dalam satu molekul zat
itu.Bila rumus empirisnya sudah diketahui dan Mr juga diketahui maka rumus molekulnya dapat
ditentukan.

KEMOLARAN

Kemolaran Larutan (M)


 Kemolaran adalah suatu cara untuk menyatakan konsentrasi (kepekatan) larutan.
 Menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam tiap liter larutan, atau jumlah mmol zat
terlarut dalam tiap mL larutan.
Dirumuskan :
Misalnya : larutan NaCl 0,2 M artinya, dalam tiap liter larutan terdapat 0,2 mol (= 11,7
gram) NaCl atau dalam tiap mL larutan terdapat 0,2 mmol (= 11,7 mg) NaCl.

Rumus Pengenceran

10
V1.M1=V2.M2

V1=Volumesebelum pengenceran(liter)
M1=Molaritas sebelum pengenceran(M)
V2=Volume sesudah pengenceran(liter)
M2=Molaritas sesudah pengenceran(M)

G. MOLALITAS

Molalitas menyatakan perbandingan mol zat terlarut dalam kilogram pelarut. Molalitas
dinyatakan antara jumlah mol zat terlarut dengan massa dalam kg pelarut. Bagaimana simbol
dari molalitas zat? Molalitas disimbolkan dengan m
dengan
n = jumlah mol zat terlarut ......................... (mol)
p = massa pelarut ..................................... (kg)
m = molalitas ............................................. (mol kg-1)

H. FRAKSI MOL

Fraksi mol merupakan satuan konsentrasi yang menyatakan perbandingan antara jumlah
mol salah satu komponen larutan (jumlah mol zat pelarut atau jumlah mol zat terlarut) dengan
jumlah mol total larutan. Fraksi mol disimbolkan dengan X . Misal dalam larutan hanya
mengandung 2 komponen, yaitu zat B sebagai zat terlarut dan A sebagai pelarut, maka fraksi mol
A disimbolkan XA dan XB untuk fraksi mol zat terlarut.
atau
dengan XA = fraksi mol pelarut
XB = fraksi mol zat terlarut
nA = jumlah mol pelarut
nB = jumlah mol zat terlarut
Jumlah fraksi mol pelarut dengan zat terlarut sama dengan 1.
XA + XB

11
I. BILANGAN OKSIDASI

1. PENGERTIAN BILANGAN OKSIDASI

Bilangan oksidasi adalah muatan formal atom dalam suatu molekul atau dalam ion yang
dialokasikan sedemikian sehingga atom yang ke-elektronegativannya lebih rendah mempunyai
muatan positif. Karena muatan listrik tidak berbeda dalam hal molekul yang terdiri atas atom
yang sama, bilangan oksidasi atom adalah kuosien muatan listrik netto dibagi jumlah atom.
Dalam kasus ion atau molekul mengandung atom yang berbeda, atom dengan ke-
elektronegativan lebih besar dapat dianggap anion dan yang lebih kecil dianggap kation.
Misalnya, nitrogen berbilangan oksidasi 0 dalam N2; oksigen berbilangan oksidasi -1 dalam O22-;
dalam NO2 nitrogen +4 dan oxygen -2; tetapi dalam NH3 nitrogen -3 dan hidrogen +1. Jadi,
bilangan oksidasi dapat berbeda untuk atom yang sama yang digabungkan dengan pasangan yang
berbeda dan atom dikatakan memiliki muatan formal yang sama nilainya dengan bilangan
oksidasinya. Walaupun harga nilai muatan formal ini tidak mengungkapkan muatan sebenarnya,
namun nilai ini sangat memudahkan untuk untuk menghitung elektron valensi dan dalam
menangani reaksi redoks.

2. KONSEP REAKSI OKSIDASI DAN REDUKSI


Dalam kehidupan sehari-hari sering ditemui reaksi kimia yang dapat digolongkan dalam
reaksi oksidasi, reaksi reduksi maupun reaksi oksidasi-reduksi (redoks), misalnya pembakaran,
perkaratan, pengolahan logam dari bijinya.
Berdasar perkembangannya, konsep oksidasi-reduksi dijelaskan dari beberapa hal berikut :

a. Penggabungan dan Pengeluaran Oksigen

Jika sepotong besi diletakkan di udara terbuka, lama kelamaan logam itu berkarat. Reaksi
perkaratan besi
berlangsung sebagai berikut :
12
4Fe(s) + 3O2(g) ------> 2Fe2O3

Pada peristiwa perkaratan, besi bereaksi dengan oksigen. Kita katakan besi mengalami
oksidasi. Kata “oksidasi” secara karafiah berarti “ Pengoksigenan ”. karat besi adalah oksida
dengan rumus Fe2O3, sebagaimana bijih besi pada kulit bumi, pada industri logam bijih besi
diolah menjadi besi murni menurut reaksi berikut ini :

Fe2O3(s) + 3CO(g) ------> 2Fe(s) + 3CO2 (g)

Pada pembuatan besi murni, terjadi pengeluaran atau pengurangan oksigen dari bijih besi
(Fe2O3). Kita katakan, Fe2O3 mengalami reduksi. Kata reduksi secara harafiah berarti
“pengurangan”. Jadi : Oksidasi adalah peristiwa penggabungan pada persamaan reaksi berikut :

2Cu + O2 ----> 2CuO


2Fe + O2 ----> 2FeO
4Fe + 3O2 ----> 2Fe2O3

Reduksi adalah proses pengambilan atau pengeluaran oksigen dari suatu zat.

2FeO+C---->2Fe+CO2
CuO + H2 ----> Cu + H2O

b. Pelepasan dan Penangkapan Elektron


Pada peristiwa oksidasi Fe menjadi Fe2O3, atom Fe melepaskan elektron menjadi ion
Fe3+. Jadi pengertian oksidasi dapat diperluas menjadi pelepasan elektron. Sebaliknya pada
peristiwa reduksi Fe2O3 menjadi Fe, ion Fe3+ menangkap elektron menjadi atom Fe. Maka
pengertian reduksi juga dapat diperluas menjadi peristiwa penangkapan elektron.
Dengan pengertian yang lebih luas ini, konsep oksidasi dan reduksi tidaklah terbatas pada
reaksi-reaksi yang melibatkan oksigen saja.

13
Oksidasi adalah reaksi pelepasan elektron.

Contoh reaksi oksidasi:


Na---->Na+ +e
Zn---->Zn2+ +2e
Fe2+ ---->Fe3+e
S2- ---- >S + 2e

Reduksi adalah reaksi penerimaan atau penangkapan elektron.

Contoh reaksi reduksi :


K+ +e---->K
Cu2+ +2e---->Cu
Co3+ +e---->Co2+
Cl2 + 2e ---->2Cl-

14
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari bab pembahasan di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa dalam
penamaan senyawa anorganik dan organik ada aturan-aturan tertentu yang harus
dipenuhi. Dalam persamaan reaksi, ada langkah-langkah tertentu untuk
menyelesaikannya, yaitu mulai dengan menuliskan persamaan reaksinya diikuti dengan
penyetaraan koefisien tiap senyawa. Adapun hukum-hukum dasar kimia yang meliputi
stoikiometri yaitu hukum kekekalan massa (hukum Lavoisier), hukum perbandingan tetap
(Proust), hukum kelipatan perbandingan (Dalton), dan hukum perbandingan Volume
(Gay-Lussac). Sedangkan dalam perhitungan kimia, dikenal adanya penentuan volume
gas dan hasil reaksi, massa atom relatif dan massa molekul relatif, konsep mol dan
tetapan Avogadro, rumus molekul serta kadar unsur dalam senyawa.

3.2 Saran
Adapun saran yang dapat penulis berikan dalam penulisan karya ilmiah ini yaitu :
Sebaiknya pihak universitas membatasi mahasiswa dalam pengambilan materi penulisan
karya ilmiah melalui internet agar mahasiswa lebih termotivasi dalam menemukan bahan
atau materi lewat beberapa buku di perpustakaan dan agar mahasiswa lebih termotivasi
untuk membaca buku. Sebaiknya mahasiswa lebih mendalami pemahaman materi
stoikiometri karena materi ini merupakan materi dari salah satu mata kuliah umum yang
perlu diluluskan untuk pengambilan SKS berikutnya.

15
DAFTAR PUSTAKA

Harnanto, Ari dan Ruminten. 2009. Kimia untuk SMA/MA kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional.

http://andellaforester.blogspot.com/2014/04/makalah-stoikiometri.html

http://rafhaulfa.blogspot.com/2014/12/makalah-stoikiometri.html

Onggo Djulia, 2013. Intisari Konsep Kimia Dasar. Yogyakarta:Graha Ilmu

16