Anda di halaman 1dari 45

Referat

MYELITIS

Oleh:
dr. Huldani

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT


FAKULTAS KEDOKTERAN
BANJARMASIN

NOVEMBER, 2012
medulla spinalis. Istilah mielitis menunjukkan peradangan pada medulla spinalis,

trasversa menunjukkan posisi dari peradangan sepanjang medulla spinalis (1).

Beberapa literature sering menyebutnya sebagai myelitis transverse maupun

myelitis transverse akut. Bahkan bentuk subakut dari myelitis juga disebut sebagai

Menurut Varina (2012), (ATM) adalah sekumpulan

kelainan neurologi yang disebabkan oleh proses inflamasi pada saraf tulang belakang dan

berakibat hilangnya fungsi motorik dan sensorik di bawah tingkat lesi (3).

B. Epidemiologi

Insiden ATM dari seluruh usia anak hingga dewasa dilaporkan sebanyak 1-8 juta

orang di Amerika Serikat, sekitar 1400 kasus baru ATM per tahun yang didiagnosis di

Amerika Serikat. Sebanyak 34000 orang dewasa dan anak-anak menderita gejala sisa

ATM berupa cacat sekunder. Sekitar 20 % dari ATM terjadi pada anak-anak (3).

ATM dapat diderita oleh orang dewasa dan anak anak baik pada semua jenis

kelamin maupun ras. ATM memiliki puncak insidensi yang berbeda yaitu umur : 10-19

dan 30-39 tahun. Ini menunjukkan tidak ada faktor predileksi seperti : ras, familial atau

jenis kelamin pada kasus ATM. Sehingga antara laki-laki dan perempuan mempunyai

probabilty yang sama untuk menderita ATM. Insiden meningkat menjadi 24,6 juta kasus

per tahun jika didapatkan penyebab demielinasi yang berhubungan dengan myelitis,

terutama multiple sclerosis (5,11).

ATM mungkin timbul dari berbagai penyebab, tetapi paling sering terjadi sebagai

fenomena autoimun setelah infeksi atau vaksinasi (jumlah 60% kasus pada anak-anak)

atau karena infeksi langsung, penyakit dasar seperti autoimun sistemik, atau diperoleh

penyakit demielinasi seperti multiple sclerosis atau spektrum dari gangguan yang
berhubungan dengan neuromyelitis optica (penyakit Devic, penyakit demielinasi yang

dikenal sebagai gabungan penyakit myelitis transversa dan neuritis optik) (5).

C. Etiologi
ATM terjadi karena berbagai etiologi seperti infeksi langsung oleh virus, bakteri,

jamur, maupun parasit, ( HIV ),

, dan TBC. Namun juga dapat disebabkan oleh proses non - infeksi atau

melalui jalur inflamasi. ATM sering terjadi setelah infeksi atau setelah vaksinasi. ATM

dapat juga terjadi sebagai komplikasi dari syphilis, campak, penyakit lyme, dan beberapa

vaksinasi seperti chikenpox dan rabies (1).

Faktor etiologi lain yang dikaitkan dengan kejadian ATM adalah penyakit

autoimmune sistemik ( ), sindrom

paraneoplastik, penyakit vaskuler, iskemik sumsum tulang belakang meskipun tidak

jarang tidak ditemukannya faktor penyebab ATM sehingga disebut sebagai "idiopatik"

(4).

D. Patofisiologi
Hingga saat ini, para peneliti tidak dapat menentukan secara pasti penyebab ATM.

Satu teori utama yang menyebabkan ATM adalah imun memediasi inflamasi sebagai

hasil akibat terpapar dengan antigen viral (3).

Pada kasus ATM post infeksi, mekanisme sistem immun baik pada viral atau

infeksi bakteri tampaknya berperan penting dalam menyebabkan kerusakan saraf spinal.

Walaupun peneliti belum mengetahui secara tepat mekanisme kerusakan saraf spinal.

Rangsangan sistem immun sebagai respon terhadap infeksi menunjukkan bahwa suatu

reaksi autoimun yang bertanggung jawab. Molekuler mimikri dari viral dapat

menstimulasi generasi antibodi yang dapat memberikan reaksi silang dengan antigennya

sendiri, menghasilkan formasi imun kompleks dan aktivasi dari complement-mediated


atau cellmediated yang dapat menimbulkan injury terhadap jaringannya sendiri. Infeksi

juga dapat menyebabkan kerusakan langsung jaringan saraf tulang belakang (3,11).

Pada penyakit autoimun, sistem imun yang secara normal melindungi tubuh

terhadap organisme, melakukan kesalahan dengan menyerang jaringan tubuh sendiri

yang menyebabkan inflamsi dan pada beberapa kasus merusak mielin medulla spinalis.

ATM juga terdapat pada beberapa penyakit autoimun seperti systemic lupus

erythematosus, Sindrom Sjogren's, dan sarcoidosis (11).

Beberapa kasus ATM disebabkan oleh malformai arteri-vena spinalis (kelainan

yang merubah aliran darah) atau penyakit vaskuler seperti atherosklerosis yang

menyebabkan iskemik. Sehingga menurunkan kadar oksigen pada jaringan medulla

spinalis. Iskemik dapat disebabkan perdarahan (hemorragik) dalam medulla spinalis,

pembuluh darah yang menyumbat atau sempit, atau faktor lainnya. Pembuluh darah

membawa oksigen dan nutrisi ke jaringan medulla spinalis dan membuang hasil

metabolisme. Saat pembuluh darah tersumbat atau menyempit dan tidak dapat membawa

sejumlah oksigen ke jaringan medulla spinalis. Saat area medulla spinalis menjadi

kekurangan oksigen atau iskemik. Sel dan serabut saraf mulai mengalami perburukan

secara cepat. Kerusakan ini menyebabkan inflamasi yang luas kadang - kadang

menyebabkan ATM (11).

Ketika TM timbul tanpa penyakit penyerta yang tampak, hal ini diasumsikan untuk

menjadi idiopatik. TM idiopatik diasumsikan untuk sebagai hasil dari aktivasi abnormal

sistem imun melawan medulla spinalis (11).

Makroskopis pada medulla spinalis yang mengalami peradangan akan tampak

edema, hiperemi dan pada kasus berat terjadi perlunakan (mielomalasia) (3).

Mikroskopis akan tampak pada leptomening tampak edema, pembuluh pembuluh

darah yang melebar dengan infiltrasi perivaskuler dan pada medulla spinalis tampak

pembuluh darah yang melebar dengan infiltrasi perivaskuler (limfosit/leukosit) di


substansia grisea dan alba. Tampak pula kelainan degeneratif pada sel - sel ganglia, pada

akson akson dan pada selubung mielin, disamping itu tampak adanya hiperplasia dari

mikroglia. Traktus traktus panjang disebelah atas atau bawah daripada segemen yang

sakit dapat memperlihatkan kelainan kelainan degeneratif (3).

E. Tanda dan gejala klinis ATM


Medula spinalis adalah struktur yang relatif sempit di mana traktus motorik,

sensorik , dan otonom berada saling berdekatan. Oleh karena itu, lesi di medulla spinalis

dapat memiliki efek dalam semua modalitas ini. Namun, efek tersebut tidak selalu

seragam dimana tingkat keparahan atau simetris di seluruh modalitas berbeda.

Pemeriksaan klinis dengan fokus pada penyelidikan untuk sensorik tulang belakang dan

tingkat motorik, akan membantu dalam lokalisasi lesi (3).

ATM terjadi secara akut (terjadi dalam beberapa jam sampai beberapa hari) atau

subakut (terjadi dalam satu atau dua minggu). Gejala umum yang muncul melibatkan

gejala motorik, sensorik dan otonom. Beberapa penderita juga melaporkan mengalami

spasme otot, gelisah, sakit kepala, demam, dan hilangnya selera (1).

Dari beberapa gejala, muncul empat gejala klasik ATM yaitu kelemahan otot atau

paralisis kedua lengan atau kaki, nyeri, kehilangan rasa pada kaki dan jari jari kaki,

disfungsi kandung kemih dan buang air besar (1).

Gejala sensorik pada ATM (3,5) :

1) Nyeri adalah gejala utama pada kira- kira sepertiga hingga setengah dari semua

penderita ATM. Nyeri terlokalisir di pinggang atau perasaan yang menetap seperti

tertusuk atau tertembak yang menyebar ke kaki, lengan atau badan .

2) Gejala lainnya berupa parastesia yang mendadak (perasaan yang abnormal seperti

terbakar, gatal, tertusuk, atau perasaan geli) di kaki, hilangnya sensorik. Penderita juga

mengalami gangguan sensorik seperti kebas, perasaan geli, kedinginan atau perasaan

terbakar. Hampir 80 % penderita ATM mengalami kepekaan yang tinggi terhadap


sentuhan misalnya pada saat perpakaian atau sentuhan ringan dengan jari menyebabkan

ketidaknyamanan atau nyeri ( disebut allodinia ). Beberapa penderita juga mengalami

pekaan yang tinggi terhadap perubahan temperatur atau suhu panas atau dingin.

Gejala motorik pada ATM : Beberapa penderita mengalami tingkatan kelemahan

yang bervariasi pada kaki dan lengan. Pada awalnya penderita dengan ATM terlihat

bahwa mereka terasa berat atau menyerat salah satu kakinya atau lengan mereka karena

terasa lebih berat dari normal. Kekuatan otot dapat mengalami penurunan. Beberapa

minggu penyakit tersebut secara progresif berkembang menjadi kelemahan kaki secara

menyeluruh, akhirnya menuntut penderita untuk menggunakan suatu kursi roda. Terjadi

paraparesis (kelemahan pada sebagian kaki). Paraparesis sering menjadi paraplegia (

kelemahan pada kedua kaki dan pungung bagian bawah) (1,5).

Gejala otonom pada ATM berupa gangguan fungsi kandung kemih seperti retensi

urin dan buang air besar hingga gangguan pasase usus dan disfungsi seksual sering

terjadi. Tergantung pada segmen medulla spinalis yang terlibat, beberapa penderita

mengalami masalah dengan sistem respiratori (1,5).

Pemulihan dapat tidak terjadi, sebagiangian ka Paraparesis sering menjadi paraplegia (


Tabel 1. Pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis penyebab ATM (5)

G. Penatalaksanaan ATM
Ada beberapa literature merujuk pada penatalaksanaan ATM :
Penyakit poliomyelitis tersebar di seluruh dunia. Manusia merupakan satu-

satunya reservoir penyakit ini. Di negara mempunyai 4 musim, penyakit ini lebih sering

terjadi di musim panas, sedangkan di negara tropis musim tidak berpengaruh. Sebelum

tahun 1880 penyakit ini sering terjadi secara sporadis, di mana epidemi yang pertama

sekali dilaporkan dari Scandinavia dan Eropa Barat lalu Amerika Serikat (14).

Pada akhir tahun 1940-an dan awal tahun 1950-an epidemi poliomyelitis secara

teratur ditemukan di AS dengan 15.000-21.000 kasus kelumpuhan setiap tahunnya. Pada

tahun 1920, 90 % kasus polio terjadi pada anak < 5 tahun, sedangkan di awal tahun

1950an, kejadian tertinggi adalah pada usia 5-9 tahun, bahkan belakangan ini lebih dari

sepertiga kasus terjadi pada usia > 15 tahun (14).

Hingga saat ini kasus poliomyelitis jarang di negara barat, polio masih endemik di

Asia selatan dan Afrika, terutama Pakistan, dan Nigeria. WHO memperkirakan ada 10-20

miliar penderita di seluruh dunia. Pada tahun 1997 ada 254000 orang yang tinggal di

Amerika Serikat yang menderita paralisis akibat polio. Amerika mendeklarasikan bebas

polio tahun 1994 dan Eropa bebas polio pada tahun 2002 (16).

Mortalitas tinggi terutama pada poliomyelitis tipe paralitik,disebabkan oleh

komplikasi berupa kegagalan nafas, sedangkan untuk tipe ringan tidak dilaporkan adanya

kematian. Walaupun kebanyakan poliomyelitis tidak jelas /inapparent (90-95%), hanya 5-

10% yang memberikan gejala poliomyelitis (14,15).

C. Klasifikasi Poliomielitis
Poliomielitis terbagi menjadi 4 bagian, yaitu: (14,15,17)

1. Poliomielitis asimtomatis : setelah masa inkubasi 6-20 hari, tidak terdapat gejala

karena daya tahan tubuh cukup baik, maka tidak terdapat gejala klinik sama sekali.

2. Poliomielitis abortif : timbul mendadak langsung beberapa jam sampai beberapa hari.

Gejala berupa infeksi virus seperti malaise, anoreksia, nausea, muntah, nyeri kepala,

nyeri tenggorokan, konstipasi dan nyeri abdomen.


3. Poliomielitis non paralitik : gejala klinik hampir sama dengan poliomyelitis abortif ,

hanya nyeri kepala, nausea dan muntah lebih hebat. Gejala ini timbul 1-2 hari

kadang-kadang diikuti penyembuhan sementara untuk kemudian remisi demam atau

masuk kedalam fase ke-2 dengan nyeri otot. Khas untuk penyakit ini dengan

hipertonia, mungkin disebabkan oleh lesi pada batang otak, ganglion spinal dan

kolumna posterior.

4. Poliomielitis paralitik : dibagi menjadi 2 yaitu paralisis spinal dan paralisis bulbar.

Polio paralisis spinal


Strain poliovirus ini menyerang saraf tulang belakang, menghancurkan sel tanduk

anterior yang mengontrol pergerakan pada batang tubuh dan otot tungkai. Meskipun

strain ini dapat menyebabkan kelumpuhan permanen, kurang dari satu penderita dari

200 penderita akan mengalami kelumpuhan. Kelumpuhan paling sering ditemukan

terjadi pada kaki. Setelah virus polio menyerang usus, virus ini akan diserap oleh

pembulu darah kapiler pada dinding usus dan diangkut seluruh tubuh. Virus Polio

menyerang saraf tulang belakang dan syaraf motorik -- yang mengontrol gerakan

fisik. Pada periode inilah muncul gejala seperti flu. Namun, pada penderita yang

tidak memiliki kekebalan atau belum divaksinasi, virus ini biasanya akan menyerang

seluruh bagian batang saraf tulang belakang dan batang otak. Infeksi ini akan

memengaruhi sistem saraf pusat -- menyebar sepanjang serabut saraf. Seiring dengan

berkembang biaknya virus dalam sistem saraf pusat, virus akan menghancurkan

syaraf motorik. Syaraf motorik tidak memiliki kemampuan regenerasi dan otot yang

berhubungan dengannya tidak akan bereaksi terhadap perintah dari sistem saraf

pusat. Kelumpuhan pada kaki menyebabkan tungkai menjadi lemas, kondisi ini

disebut (AFP). Infeksi parah pada sistem saraf pusat dapat

menyebabkan kelumpuhan pada batang tubuh dan otot pada toraks (dada) dan

abdomen (perut), disebut quadriplegia.

Polio bulbar
Polio jenis ini disebabkan oleh tidak adanya kekebalan alami sehingga batang otak

ikut terserang. Batang otak mengandung syaraf motorik yang mengatur pernapasan

dan saraf kranial, yang mengirim sinyal ke berbagai syaraf yang mengontrol

pergerakan bola mata; saraf trigeminal dan saraf muka yang berhubungan dengan

pipi, kelenjar air mata, gusi, dan otot muka; saraf auditori yang mengatur

pendengaran; saraf glossofaringeal yang membantu proses menelan dan berbagai

fungsi di kerongkongan; pergerakan lidah dan rasa; dan saraf yang mengirim sinyal

ke jantung, usus, paru-paru, dan saraf tambahan yang mengatur pergerakan leher.

Tanpa alat bantu pernapasan, polio bulbar dapat menyebabkan kematian. Lima

hingga sepuluh persen penderita yang menderita polio bulbar akan meninggal ketika

otot pernapasan mereka tidak dapat bekerja. Kematian biasanya terjadi setelah terjadi

kerusakan pada saraf kranial yang bertugas mengirim 'perintah bernapas' ke paru-

paru. Yang terkena bagian atas nervus cranial (N.III N.VII) dan biasanya dapat

sembuh. Lalu bagian bawah (N.IX N.XIII ) sehingga terjadi pasase ludah di faring

terganggu sehingga terjadi pengumpulan air liur,mucus dan dapat menyebabkan

penyumbatan saluran nafas sehingga penderita memerlukan ventilator.

Tingkat kematian karena polio bulbar berkisar 2-5% pada anak dan 15-30 %

pada dewasa (tergantung usia penderita).

D. Etiologi Poliomielitis

Penyebab polio adalah virus polio. Virus polio merupakan RNA virus dan

termasuk famili Picornavirus dari genus Enterovirus. Virus polio tahan terhadap Ph asam

tetapi mati terhadap bahan panas, formalin, klorin dan sinar ultraviolet. Selain itu,

penyakit ini mudah berjangkit di lingkungan dengan sanitasi yang buruk, melalui

peralatan makan, bahkan melalui ludah (15,17).

Secara serologi virus polio dibagi menjadi 3 tipe, yaitu:


Tipe I yang paling sering menimbulkan epidemi yang luas dan ganas (14).

Penularan virus terjadi melalui (17) :

1. Secara langsung dari orang ke orang

2. Melalui tinja penderita

3. Melalui percikan ludah penderita

Resiko terjadinya Polio (15) :

a) Belum mendapatkan imunisasi

b) Berpergian ke daerah yang masih sering ditemukan polio

c) Malnutrisi

d) Stres atau kelelahan fisik yang luar biasa (karena stress emosi dan fisik dapat

melemahkan sistem kekebalan tubuh).

e) Defisiensi imun

E. Patofisiologi Poliomielitis

Virus polio masuk melalui mulut dan hidung, berkembang biak di dalam

tenggorokkan dan saluran pencernaan, diserap dan disebarkan melalui sistem pembuluh

darah dan getah bening. Virus ini dapat memasuki aliran darah dan dan mengalir ke

sistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralisis)

(15).

Virus hanya menyerang sel-sel dan daerah susunan syaraf tertentu. Tidak semua

neuron yang terkena mengalami kerusakan yang sama dan bila ringan sekali dapat terjadi

penyembuhan fungsi neuron dalam 3-4 minggu sesudah timbul gejala. Daerah yang

biasanya terkena poliomyelitis ialah medula spinalis terutama kornu anterior, batang otak

pada nucleus vestibularis dan inti-inti saraf kranial serta formasio retikularis yang
mengandung pusat vital, serebelum terutama inti-inti vermis,

terutama gray matter substansi nigra dan kadang-kadang nukleus rubra (15).

Gambar 2. Patogenesis poliomielitis

F. Manifestasi Klinis
Gejala klinis poliomielitis terdiri dari : (14)

a) Poliomyelitis asimtomatis

Gejala klinis : setelah masa inkubasi 9-12 hari, tidak terdapat gejala. Kejadian ini

sulit untuk dideteksi tapi biasanya cukup tinggi terutama di daerah-daerah yang

standar higienenya jelek. Penyakit ini hanya diketahui dengan menemukan virus di

tinja atau meningginya titer antibodi.

b) Poliomyelitis abortif

Kejadiannya diperkirakan 4-8 % dari jumlah penduduk pada suatu epidemi. Timbul

mendadak dan berlangsung 1-3 hari dan gejala klinisnya berupa panas dan jarang

melebihi 39,5 oC, sakit tenggorokkan, sakit kepala, mual, muntah, malaise, dan nyeri

perut. Diagnosis pasti hanya dengan menemukan virus pada biakan jaringan.

c) Poliomyelitis non paralitik


Istirahat sampai beberapa hari setelah temperatur normal. Kalau perlu dapat diberikan

analgetik, sedatif. Jangan melakukan aktifitas selama 2 minggu. 2 bulan kemudian

dilakukan pemeriksaan neuro-muskulosketal untuk mengetahui adanya kelainan.

- Non paralitik

Sama dengan tipe abortif. Pemberian analgetik 15-30 menit setiap 2-4 jam. Fisioterapi

dilakukan 3-4 hari setelah demam hilang. Fisioterapi bukan mencegah atrofi otot yang

timbul tapi dapat mengurangi deformitas yang ada.

- Paralitik

Harus dirawat di rumah sakit karena sewaktu-waktu dapat terjadi paralisis pernapasan,

dan untuk ini harus diberikan pernapasan mekanis. Bila rasa sakit telah hilang dapat

dilakukan fisioterapi pasif dengan menggerakkan kaki/tangan.

Prognosis
Prognosis tergantung kepada jenis polio (subklinis, non-paralitik atau paralitik) dan

bagian tubuh yang terkena. Prognosis jelek pada bentuk bulbar, kematian biasanya

karena kegagalan fungsi pusat pernapasan atau infeksi sekunder pada jalan napas (14).

BAB III
ALGORITMA
Elliot M. Frohman and Dean M. Wingerchuk. Transverse Myelitis. . 2010: 363;6.
ATM terjadi secara akut ( terjadi dalam beberapa jam sampai

beberapa hari ) atau subakut ( terjadi dalam satu atau dua minggu ). Gejala

umum yang muncul melibatkan gejala motorik, sensorik dan otonom.

Beberapa penderita juga melaporkan mengalami spasme otot, gelisah, sakit

kepala, demam, dan hilangnya selera.

Dari beberapa gejala, muncul empat gejala klasik ATM yaitu

kelemahan otot atau paralisis kedua lengan atau kaki, nyeri, kehilangan

rasa pada kaki dan jari jari kaki, disfungsi kandung kemih dan buang air

besar.

Gejala sensorik pada ATM adalah 1) Nyeri adalah gejala utama

pada kira- kira sepertiga hingga setengah dari semua penderita ATM.

Nyeri terlokalisir di pinggang atau perasaan yang menetap seperti tertusuk

atau tertembak yang menyebar ke kaki, lengan atau badan, 2) Gejala

lainnya berupa parastesia yang mendadak, hampir 80 % penderita ATM

mengalami kepekaan yang tinggi terhadap sentuhan misalnya pada saat

perpakaian atau sentuhan ringan dengan jari menyebabkan

ketidaknyamanan atau nyeri (disebut allodinia)

Gejala motorik pada ATM : beberapa penderita mengalami tingkatan

kelemahan yang bervariasi pada kaki dan lengan. Terjadi paraparesis

(kelemahan pada sebagian kaki). Paraparesis sering menjadi paraplegia

( kelemahan pada kedua kaki dan pungung bagian bawah)

Gejala otonom pada ATM berupa gangguan fungsi kandung kemih

seperti retensi urin dan buang air besar hingga gangguan pasase usus dan

disfungsi seksual sering terjadi.

Pemulihan dapat tidak terjadi, sebagian atau komplit dan secara

umum dimulai dalam satu sampai tiga bulan. Dan pemulihan tampaknya
tidak akan terjadi, jika tidak ada perkembangan dalam tiga bulan. ATM

biasanya adalah penyakit monofasik dan jarang rekuren.

ATM memiliki diagnosis diferensial yang luas. Anamnesis berupa

keluhan, riwayat medis, tinjauan sistem medis, sosial serta riwayat

perjalanan, dan pemeriksaan fisik secara umum dapat memberikan

petunjuk kasus ATM terhadap kemungkinan infeksi atau penyebab

paraneoplastik, serta penyebab terkait dengan inflamasi sistemik atau

penyakit autoimun.

Pemeriksaan penunjang untuk diagnosis ATM berupa MRI dan

pungsi lumbal. MRI direkomendasikan untuk menyingkirkan adanya lesi

struktural dan lumbal pungsi untuk mengetahui penyebab inflamasi. Tes

laboratorium seperti : indeks IgG, vPCR virus, antibodi lyme dan

mikoplasma, dan VDRL, terjadinya myelitis setelah infeksi atau vaksinasi

tidak menghalangi kebutuhan untuk evaluasi lebih lanjut, karena infeksi

atau imunisasi juga dapat memicu serangan myelitis.

Penatalaksanaan pada kasus ATM pada prinsipnya sama yaitu

mencegah progesifitas ATM sehingga lini pertama diberikan

kortikosteroid berupa dexamethason atau prednisolon. Terapi Plasma

exchange diberikan bagi pasien yang tidak berespon pada pemberian

kortikosteroid.

Poliomielitis merupakan penyakit menular akut yang disebabkan

oleh virus dengan predileksinya merusak sel anterior masa kelabu sumsum

tulang belakang (anterior horn cells of the spinal cord) dan batang otak

(brain stem); dengan akibat kelumpuhan otot-otot dengan distribusi dan

tingkat yang bervariasi serta bersifat permanen.

Penyakit poliomyelitis tersebar di seluruh dunia. Manusia

merupakan satu-satunya reservoir penyakit ini. Pada akhir tahun 1940-an


dan awal tahun 1950-an epidemi poliomyelitis secara teratur ditemukan di

AS dengan 15.000-21.000 kasus kelumpuhan setiap tahunnya. Hingga saat

ini kasus poliomyelitis jarang di negara barat, polio masih endemik di Asia

selatan dan Afrika, terutama Pakistan, dan Nigeria. Amerika

mendeklarasikan bebas polio tahun 1994 dan Eropa bebas polio pada tahun

2002. Mortalitas tinggi terutama pada poliomyelitis tipe

paralitik,disebabkan oleh komplikasi berupa kegagalan nafas.

Poliomielitis terbagi menjadi 4 bagian, yaitu:

1. Poliomielitis asimtomatis

2. Poliomielitis abortif

3. Poliomielitis non paralitik

4. Poliomielitis paralitik : dibagi menjadi 2 yaitu paralisis spinal dan

paralisis bulbar.

Penyebab polio adalah virus polio. Virus polio merupakan RNA

virus dan termasuk famili Picornavirus dari genus Enterovirus. Virus polio

tahan terhadap Ph asam tetapi mati terhadap bahan panas, formalin, klorin

dan sinar ultraviolet.

Penularan virus terjadi melalui secara langsung dari orang ke

orang, tinja penderita, percikan ludah penderita.

Virus polio masuk melalui mulut dan hidung, berkembang biak di

dalam tenggorokkan dan saluran pencernaan, diserap dan disebarkan

melalui sistem pembuluh darah dan getah bening. Virus ini dapat

memasuki aliran darah dan dan mengalir ke sistem saraf pusat

menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralisis).


Gejala klinis poliomyelitis

a) Poliomyelitis asimtomatis

Gejala klinis : setelah masa inkubasi 9-12 hari, tidak terdapat gejala.

b) Poliomyelitis abortif

Timbul mendadak dan berlangsung 1-3 hari dan gejala klinisnya

berupa panas dan jarang melebihi 39,5 oC, sakit tenggorokkan, sakit

kepala, mual, muntah, malaise, dan nyeri perut.

c) Poliomyelitis non paralitik

Gejala klinis hampir sama dengan poliomyelitis abortif yang

berlangsung 1-2 hari. Setelah itu suhu menjadi normal, tetapi lalu naik

kembali (dromedary chart) disertai dengan gejala nyeri kepala, mual

dan muntah lebih berat, dan ditemukan kekakuan pada otot belakang

leher, punggung dan tungkai, dengan tand Kernig dan Brudzinsky

yang positif. Tanda-tanda lain adalah Tripod yaitu bila anak berusaha

duduk dari sikap tidur, maka ia akan menekuk kedua lututnya ke atas,

sedangkan kedua lengan menunjang ke belakang pada tempat tidur.

d) Poliomyelitis paralitik

Gejala klinisnya sama seperti poliomyelitis non paralitik

disertai dengan kelemahan satu atau beberapa kelumpuhan otot skelet

atau kranial. Gejala ini dapat menghilang selama beberapa hari dan

kemudian timbul kembali disertai dengan kelumpuhan (paralitik) yaitu

berupa paralisis flaksid yang biasanya unilateral dan simetris.

Penatalaksanaan Poliomielitis dimana tidak ada pengobatan

spesifik terhadap poliomyelitis. Penatalalaksaan bersifat simptomatis dan

suportif.

Prognosis tergantung kepada jenis polio (subklinis, non-paralitik

atau paralitik) dan bagian tubuh yang terkena. Prognosis jelek pada bentuk
bulbar, kematian biasanya karena kegagalan fungsi pusat pernapasan atau

infeksi sekunder pada jalan napas.

Kesimpulan

Myelitis adalah kelainan neurologi pada medulla spinalis (myelopati) yang

disebabkan proses inflamasi.

Insiden myelitis dari seluruh usia anak hingga dewasa dilaporkan sebanyak

1-8 juta orang di Amerika Serikat, sekitar 1400 kasus baru per tahun yang

didiagnosis di Amerika Serikat.

Myelitis dapat disebabkan berbagai etiologi seperti infeksi bakteri dan virus,

penyakit autoimun sistemik, beberapa sclerosis, SLE, Sjogren sindrome,

pasca trauma, neoplasma, iskemik atau perdarahan saraf tulang belakang

dan jarang penyebab iatrogenik. Pada kasus dimana penyebab dari myelitis

tidak dapat diidentifikasi maka disebut sebagai idiopatik.

Adapun beberapa jenis dari myelitis : 1. Poliomyelitis : penyakit yang

disebabkan oleh infeksi virus ke medulla spinalis dengan gejala

kelemahan atau kelumpuhan otot, 2. Transverse myelitis : proses inflamasi

di medulla spinalis disebabkan oleh demyelinasi aksonal meliputi kedua sisi

tulang belakang.

(ATM) adalah kelainan neurologi yang

disebabkan oleh peradangan sepanjang medulla spinalis baik melibatkan

satu tingkat atau segmen dari medulla spinalis.

ATM dapat diderita oleh orang dewasa dan anak anak. ATM memiliki

puncak insidensi yang berbeda yaitu umur : 10-19 dan 30-39 tahun. Ini

menunjukkan tidak ada faktor predileksi seperti : ras, familial atau jenis

kelamin pada kasus ATM.


ATM terjadi karena berbagai etiologi seperti infeksi langsung oleh virus ,

bakteri, jamur, maupun parasit, penyakit autoimmune sistemik (SLE,

vaskuler, iskemik sumsum tulang belakang meskipun tidak jarang tidak

ditemukannya faktor penyebab ATM sehingga disebut sebagai "idiopatik".

Hingga saat ini, para peneliti tidak dapat menentukan secara pasti penyebab

ATM. Satu teori utama yang menyebabkan ATM adalah imun memediasi

inflamasi sebagai hasil akibat terpapar dengan antigen viral.

ATM terjadi secara akut (terjadi dalam beberapa jam sampai beberapa hari)

atau subakut (terjadi dalam satu atau dua minggu). Gejala umum yang

muncul melibatkan gejala motorik, sensorik dan otonom.

ATM memiliki diagnosis diferensial yang luas. Anamnesis berupa keluhan,

riwayat medis, tinjauan sistem medis, sosial serta riwayat perjalanan, dan

pemeriksaan fisik secara umum dapat memberikan petunjuk kasus ATM

terhadap kemungkinan infeksi atau penyebab paraneoplastik, serta penyebab

terkait dengan inflamasi sistemik atau penyakit autoimun. Pemeriksaan

penunjang untuk diagnosis ATM berupa MRI dan pungsi lumbal.

Penatalaksanaan pada kasus ATM pada prinsipnya sama yaitu mencegah

progesifitas ATM sehingga lini pertama diberikan kortikosteroid. Terapi

Plasma exchange diberikan bagi pasien yang tidak berespon pada pemberian

kortikosteroid.

Poliomielitis merupakan penyakit menular akut yang disebabkan oleh virus

dengan predileksinya merusak sel anterior masa kelabu sumsum tulang

belakang (anterior horn cells of the spinal cord) dan batang otak (brain

stem); dengan akibat kelumpuhan otot-otot dengan distribusi dan tingkat

yang bervariasi serta bersifat permanen.


Poliomielitis terbagi menjadi 4 bagian, yaitu: 1. Poliomielitis asimtomatis,

2. Poliomielitis abortif, 3. Poliomielitis non paralitik, 4. Poliomielitis

paralitik : dibagi menjadi 2 yaitu paralisis spinal dan paralisis bulbar.

Penyebab polio adalah virus polio. Penularan virus terjadi melalui secara

langsung dari orang ke orang, tinja penderita, percikan ludah penderita.

Penatalaksanaan Poliomielitis dimana tidak ada pengobatan spesifik

terhadap poliomyelitis. Penatalalaksaan bersifat simptomatis dan

suportif.Prognosis tergantung kepada jenis polio (subklinis, non-paralitik

atau paralitik) dan bagian tubuh yang terkena.


BAB VI

PENUTUP

Saran

Myelitis merupakan masalah kesehatan penting, dimana salah satunya

poliomyelitis masih terjadi Indonesia walaupn bukan endemi di Indonesia. Oleh

karena itu, diperlukan pemahaman yang lebih mendalam dari praktisi kesehatan

terutama yang berada di lini terdepan untuk mengenali, menyaring, dan

mendiagnosis secara tetap kasus yang ditemukan di masyarakat agar penanganan

tepat dan cepat dapat segera dilaksanakan. Masih diperlukan pembahasan lebih

lanjut dan mendalam mengenai berbagai penyakit lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Transverse Myelitis fact sheet. National Institute of Neurological Disorders


and Stroke. 2012.

2. Timothy W West. Transverse Myelitis- A Review Of The Presentation,


Diagnosis And Initial Management. 2013.

3. Varina L. Wolf, Pamela J. Lupo and Timothy E. Lotze. Pediatric Acute


Transverse Myelitis Overview and Differential Diagnosis.
2012; 27: 1426.
4. Muzaffer Keklik, Leylagul Kaynar, Afra Yildirim, et al. An Acute
Transverse Myelitis Attack after Total Body Irradiation: A Rare Case.
. 2013.

5. Elliot M. Frohman and Dean M. Wingerchuk. Transverse Myelitis.


. 2010: 363;6.

6. Anonymous. Diakses dari Wikipedia pada tanggal 22 Oktober 2013.

7. Poser C.M. Notes on the Epidemiology of Transverse Myelitis.


Neuroepidemiolgy. 1983; 2:266-69.

8. Douglas Kerr. The history of TM : The Origins Of The Name And The
Identification Of The Disease. The transverse myelitis association. 2013.

9. Kamus Kedokteran Dorland. 2007.

10. Sema Y et al. Transverse Myelitis caused by varicella zoster : case


report.Braz J Infect Dis. 2007 ; 11 : 1.

11. Amer Awad and olaf Stuve. Idiopathic transverse myelitis and
neuromyelitis optica : clinical profiles, pathofisiology ang therapeutic
choices. 2001:9; 417-428.

12. Transverse Myelitis Consortium Working Group. Proposed diagnostic


criteria and nosology of acute transverse myelitis. Neurology 2002; 59:
499 505.

13. T.F. Scott, E.M. Frohman, J. De Seze, et al. Evidence-based guideline:


Clinical evaluation and treatment of transverse myelitis: Report of the
Therapeutics and Technology Assessment Subcommittee of the American
Academy of Neurology . 2011;77;2128-2134.

14. Syahril Pasaribu. Aspek Diagnostik Poliomielitis. USU 2005.

15. The late effects of Polio. Information for general practitioners. 2001.

16. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Our Progress Against
Polio. 2013.

17. Atkinson W, Hamborsky J, McIntyre L, Wolfe S. 2009. "Poliomyelitis"


Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases (The Pink
Book) (11th ed.). Washington DC: Public Health Foundation. pp. 231 44.