Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Karakteristik fisik wilayah tropik seperti Indonesia merupakan surga
bagi kelangsungan hidup cacing parasitik yang ditunjang oleh pola hidup
kesehatan masyarakatnya. Telah dibuktikan bahwa tingkat prevalensi
kecacingan di Indonesia sampai dengan tahun 1984 masih sangat tinggi yaitu
sebesar 50% cacing tambang dan 65% cacing gelang . Sedangkan infeksi oleh
cacing pita kebanyakan disebabkan oleh cacing pita babi dan cacing pita sapi
yang terjadi pada daerah-daerah tertentu dengan kekhasan tipe budaya
masyarakatnya antara lain pulau Samosir, pulau Bali serta daerah migrannya
di Lampung, dan Papua (Irian Jaya). Tidak dapat dipungkiri bahwa keeratan
hubungan antara manusia dan ternak/hewan kesayangan baik dalam bentuk
rantai makanan maupun hubungan social dapat mempertahankan kejadian
penyakit yang bersifat zoonosis. Penyakit zoonosis adalah penyakit yang
dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Taeniasis dan
cysticercosis adalah satu contoh zoonosis berbahaya pada manusia yang
disebabkan oleh infeksi cacing pita dewasa maupun larvanya. Sistiserkosis
yang disebabkan oleh larva atau metasestoda T. solium merupakan salah satu
zoonosis yang dapat memberikan gejala-gejala berat khususnya bila larva
terdapat pada otak atau mata. Larva menyebabkan gejala yang lebih ringan
bilamana ditemukan di jaringan otot atau organ lain.
Di Indonesia, sampai saat ini, diketahui sistiserkosis terutama
ditemukan di tiga propinsi yaitu Bali, Papua (Irian Jaya) dan Sumatera Utara.
Prevalensi taeniasis/ sistiserkosis di beberapa propinsi di Indonesia berada
pada rentang 1,0%-42,7% dan prevalensi tertinggi ditemukan di Propinsi
Papua pada tahun 1997 yaitu 42,7%.
Dari beberapa kasus taeniasis solium yang telah diteliti maka
dilaporkan bahwa kasus kasus tersebut dikarenakan masuknya babi yang
dibawa oleh penduduk yang dibawa pada saat pindah ke daerah tersebut atau
oleh penderita langsung yang bertransmigrasi ke daerah- daerah tersebut.

1
Di Bali kehadiran taeniasis solium pada penduduknya telah dikenal
sejak lama yaitu dengan istilah penyakit beberasan. Berbeda dengan daerah
Indonesia lainnya, hampir seluruh penduduk Bali memeluk agama Hindu
yang dalam upacara adat dan keagamaan atau dalam kehidupan sehari-hari
penduduk mempunyai kebiasaan makan -makanan tradisional yang disebut
lawar, yang terbuat dari daging babi mentah atau setengah matang yang
diduga menyebabkan taeniasis solium.
Selain itu kemungkinan masih adanya penduduk, terutama di desa yang
buang air besar tidak di jamban atau di kakus melainkan di sungai atau di teba
(halaman rumah) sehingga tinja manusia dimakan oleh babi dan dapat
mencemari pakan babi. Semuanya ini dapat memberi kesempatan daur hidup
taenia- sistiserkus berlangsung tanpa hambatan. Keadaan- keadaan inilah
yang mungkin masih ada dan berjalan di Bali sehingga menimbulkan
kejadian- kejadian taeniasis.
Tahun 2016 kemarin di puskesmas Marga II juga ditemukan satu kasus
infeksi cacing pita babi pada salah satu warga di wilayah kerjanya

1.2. Rumusan Masalah


Melihat bahayanya penyakit ini dan kebisaan masyarakat Bali yang
sangat beresiko terkena penyakit ini, penulis tertarik untuk mengetahui lebih
banyak tentang penyakit ini, bagaimana mendiagnosanya, bagaimana
penatalaksaan secara komprehensif tehadap penyakit ini, bagaimana
mengendalikan dan mencegah penyakit ini

1.3. Tujuan
Untuk meningkatkan wawasan tentang penyakit ini, mengetahui cara
menegakkan diagnose ,mampu melakukan penatalaksanaan secara
komprehensif terhadap penyakit ini, mengetahui cara mengendalikan dan
mencegah penyakit ini.

2
1.4. Manfaat
1. Bagi penulis : dapat meningkatkan wawasan tentang penyakit ini,
meningkatkan kemampuan mendiagnosa penyakit ini serta meningkatkan
kemampuan melakukan penatalaksaan secara komprehensif terhadap
penyakit ini yang sesuai dengan standar , serta mampu mengendalikan
dan mencegah penyakit ini.
2. Bagi institusi : karya tulis ini bisa menjadi refrensi perpustakaan dan
sebagai bahan evaluasi untuk kasus sejenis, serta mampu meningkatkan
kwalitas pelayanan.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Taeniasis adalah penyakit zoonosis parasiter yang disebabkan oleh
cacing pita dewasa yang tergolong dalam genus Taenia (Taenia saginata,
Taenia solium, dan Taenia asiatica) pada saluran pencernaan manusia.
Sistiserkosis pada manusia adalah infeksi jaringan oleh bentuk larva
Taenia (sistiserkus) akibat termakan telur cacing Taenia solium ( cacing pita
babi). Cacing pita babi dapat menyebabkan sistiserkosis pada manusia,
sedangkan cacing pita sapi tidak dapat menyebabkan sistiserkosis pada
manusia. Untuk Taenia Asiatica kemampuan nya dalam menyebabkan
sistiserkosis belum diketahui secara pasti. Terdapat dugaan bahwa Taenia
asiatica merupakan penyebab sistiserkosis di Asia.
Penyakit zoonosis adalah penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke
manusia atau sebaliknya. Taeniasis dan cysticercosis adalah satu contoh
zoonosis berbahaya pada manusia. Sistiserkosis merupakan salah satu
zoonosis yang dapat memberikan gejala-gejala berat khususnya bila larva
terdapat pada otak atau mata.

4
2.2. Epidemiologi
1. Penyebaran di Duni
Cacing pita Taenia tersebar secara luas di seluruh dunia. Penyebaran
Taenia dan kasus infeksi akibat Taenia lebih banyak terjadi di daerah tropis
karena daerah tropis memiliki curah hujan yang tinggi dan iklim yang sesuai
untuk perkembangan parasit ini. Taeniasis dan sistiserkosis akibat infeksi
cacing pita babi Taenia solium merupakan salah satu zoonosis di daerah yang
penduduknya banyak mengkonsumsi daging babi dan tingkat sanitasi
lingkungannya masih rendah, seperti di Asia Tenggara, India, Afrika Selatan,
dan Amerika.
Salah satu bukti lebih luasnya penyebaran Taenia di daerah tropis yaitu
ditemukannya spesies ketiga penyebab taeniasis pada manusia di beberapa
negara Asia yang dikenal dengan sebutan Taiwan Taenia atau Asian Taenia.
Asian Taenia dilaporkan telah ditemukan di negara-negara Asia yang
umumnya beriklim tropis seperti Indonesia, Thailand, Malaysia, Filipina,
Korea dan Cina. Kini Asian Taenia disebut Taenia asiatica. Kejadian T.
asiatica yang tinggi terutama ditemukan di Pulau Samosir, Indonesia.
Sistiserkosis merupakan infeksi yang sering ditemukan pada babi dan
manusia terutama di negara berkembang. Penyebaran sistiserkus pada
manusia dipengaruhi oleh kontak antara babi dan feses manusia, tidak adanya
pemeriksaan kesehatan daging saat penyembelihan, dan konsumsi daging
mentah atau setengah matang. Penyebaran penyakit ini luas karena Taenia
dapat memproduksi puluhan bahkan ratusan ribu telur setiap hari yang dapat
disebar oleh air hujan ke lingkungan bahkan pada lokasi yang jauh dari
tempat pelepasan telur.

5
2. Penyebaran di Indonesia
Infeksi cacing pita Taenia tertinggi di Indonesia terjadi di Provinsi
Papua. Di Kabupaten Jayawijaya Papua, Indonesia ditemukan 66,3% (106
orang dari 160 responden) positif menderita taeniasis solium/sistiserkosis
selulosae dari babi. Sementara 28,3% orang adalah penderita sistiserkosis
yang dapat dilihat dan diraba benjolannya di bawah kulit. Sebanyak 18,6%
(30 orang) di antaranya adalah penderita sistiserkosis selulosae yang
menunjukkan gejala epilepsi. Dari 257 pasien yang menderita luka bakar di
Papua, sebanyak 82,8% menderita epilepsi akibat adanya sistiserkosis pada
otak.
Prevalensi sistiserkosis pada manusia berdasarkan pemeriksaan
serologis pada masyarakat Bali sangat tinggi yaitu 5,2% sampai 21%,
sedangkan prevalensi taeniasis di provinsi yang sama berkisar antara 0,4%-
23%. Sebanyak 13,5% (10 dari 74 orang) pasien yang mengalami epilepsi di
Bali didiagnosa menderita sistiserkosis di otak. Prevalensi taeniasis T. asiatica
di Sumatera Utara berkisar 1,9%-20,7%. Kasus T. asiatica di Provinsi ini
umumnya disebabkan oleh konsumsi daging babi hutan setengah matang.

2.3. Etiologi
Penyakit Taeniasis ini seperti telah di sampaikan sebelumnya
disebabkan oleh cacing pita ( Taenia ) dewasa . Banyak jenis cacing pita
yang bisa menginfeksi manusia di dunia seperti Taenia, Echinococcus,
Diphyllobothrium, Hymenolepis, dan Dipylidium . Namun hanya Taenia
saginata, T. solium, dan T. saginata asiatica, yang menjadikan manusia
sebagai inang definitif yang dapat terinfeksi cacing dewasa. Sedangkan
cacing yang lain inang definitif utamanya adalah karnivora. Tentu saja yang
bertindak sebagai inang antara (infeksi larva) adalah hewan ternak
kesayangan, bahkan hewan liar yang erat berhubungan dengan kehidupan
manusia baik dalam rantai makanan maupun kontak dengan lingkungan
mereka.

6
Cacing pita (Taenia ), berbentuk seperti pita dan terdiri dari banyak
segmen yang disebut proglotid. Cacing pita dewasa biasanya terdiri atas
kepala/scolex, leher yang pendek, dan deretan proglotid yang disebut strobila.
Anatomi dari cacing pita ini disesuaikan dengan kebiasaannya sebagai
parasit, dimana dia tidak punya saluran pencernaan sehingga makanannya
akan langsung diserap oleh dinding tubuhnya. Saluran pengeluarannya
membujur, bercabang dan berakhir didalam sel api. Ujung posteriornya
terbuka sehingga zat-zat sisa langsung di eksresikan keluar tubuh.
Kepala biasanya dilengkapi oleh sepasang alat penghisap dan kadang-
kadang punya hooklets. Dengan alat inilah hewan ini melekat pada dinding
usus inangnya , bagian belakag scolex disebut leher dengan ukuran yag
pendek yang diikuti oleh segmen proglotid dimana ukurannya secara
berangsur-angsur bertambah dari anterior dan berakhir pada posterior.
Proglotid tumbuh dari leher posterior dan berakhir setelah sangat tua.
Proglotid bertambah ukurannya karena ada kontraksi dan bermacam-macam
sistem organ pada tubuhnya.
Gambar kepala cacing pita

.
Cacing pita merupakan hermaprodit. Masing-masing proglotid memiliki
sepasang organ reproduksi yang lengkap, yaitu ovarium dan testis, sehingga
dapat mengadakan pembuahan sendiri. Jens-jenis Cacing Pita( Taenia) yang
menjadikan manusia sebagai inangnya:
1. Taenia Saginata (cacing pita daging sapi) : Cacing dewasa dapat
ditemukan dalam usus manusia penderita taeniasis, berbentuk pipih
panjang seperti pita dan tubuhnya beruas-ruas (segmen). Panjangnya rata-
rata 5m bahkan bisa mencapai 25m yang terdiri atas lebih dari 1000

7
segmen. Cacing ini memiliki kepala yang disebut scolex, berdiameter
2mm menempel pada permukaan selaput lendir usus manusia. Ketika
mencapai stadium dewasa, lebih dari separuh segmennya telah
mengandung telur, namun hanya beberapa puluh segmen yang
mengandung telur matang disebut segmen gravid. Segmen gravid kurang
lebih mengandung 800.000 telur pada setiap segmen. Berbeda dengan T.
solium, segmen gravid T. saginata spontan keluar dari anus penderita
secara aktif, kadang-kadang keluar bersama tinja ketika defekasi. Apa bila
telur yang bebas dari segmen gravid tersebut mencemari lingkungan
pakan ternaksapi/kerbau, telur yang tertelan ternak menetas dalam
ususnya. Embrio (oncosphere) cacing menembus dinding usus kemudian
bermigrasi ke seluruh bagian tubuh melalui pembuluh darah atau kelenjar
getah bening. Selama migrasi oncosphere mengalami perkembangan
sampai tiba pada habitat yang cocok tumbuh menjadi larva setelah 2-3
bulan. Larva ini juga disebut metacestoda atau lebih dikenal sebagai
cacing gelembung yang berukuran (4-5)mm x (7.5-10)mm. Larva yang
menyerupai balon kecil yang berisi cairan ini disebut Cysticercus bovis
dapat ditemukan dalam jaringan otot/organ tubuh sapi/kerbau. Habitat
utamanya adalah otot lidah, otot pengunyah, diafragma, jantung, namun
dengan infeksi percobaan (T. saginata strain Bali) cysticercus tersebar ke
seluruh otot sapi coba. Di dalam tubuh sapi cysticercus dapat bertahan
hidup selama beberapa tahun. Manusia yang mengonsumsi daging sapi
yang mengandung cysticercus hidup selanjutnya berkembang menjadi T.
saginata dalam ususnya.
2. Taenia Solium (cacing pita daging babi) : Cacing ini disebut juga cacing
pita daging babi karena hewan babi bertindak sebagai inang antaranya
yang mengandung larvanya. Ukuran cacing dewasa relatif lebih pendek
dibandingkan dengan T. saginata yaitu antara 2-8m. Setiap individu
cacing dewasa terdiri atas 800-900 segmen hingga 1000 segmen. Berbeda
dengan scolex T. saginata, selain diameternya lebih kecil yaitu 1mm
dilengkapi dengan 2 baris kait di sekeliling rostellumnya. Mungkin karena
ukurannya lebih kecil, setiap segmen gravidnya mengandung 4000 telur.

8
Segmen gravid T. solium dikeluarkan bersama-sama tinja penderita
taeniasis solium. Siklus hidup T. solium secara umum memiliki pola yang
sama dengan Taenia yang lain, yang membedakan adalah inang antaranya
yaitu babi. Namun menurut beberapa penulis pernah dilaporkan bahwa
mamalia piaraan lainnya dapat juga sebagai inang antaranya. Babi adalah
hewan omnivora termasuk makan tinja manusia, oleh karena itu sering
ditemui beberapa ekor babi menderita cysticercosis berat, sehingga sekali
menyayat sepotong daging tampak ratusan Cysticercus cellulosae. Larva
ini mudah ditemukan dalam jaringan otot melintang tubuh babi.
Celakanya telur T. solium juga menetas dalam usus manusia sehingga
manusia dapat bertindak sebagai inang antara walaupun secara kebetulan.
Pada tubuh manusia penderita cysticercosis, larva cacing (Cysticercus
cellulosae) dapat ditemukan dalam jaringan otak besar maupun kecil,
selaput otak, jantung, mata, dan di bawah kulit. Penularan dapat terjadi
secara langsung karena menelan telur cacing yang mengontaminasi
makanan atau minuman. Tetapi yang sering terjadi adalah autoinfeksi
melalui tangan yang kurang bersih/setelah menggaruk-garuk bagian.
tubuh yang terkontaminasi telur cacing atau secara internal yang
diakibatkan oleh refleks muntah pada penderita taeniasis.
3. Taenia Saginata Asiatica (cacing pita daging babi) : Secara morfologis
cacing ini sangat mirip dengan T. saginata, memiliki nama lain T.
taiwannesis. Keberadaan cacing ini di Indonesia relatif baru
dideskripsikan dari penderita di Sumatra Utara. Pada prinsipnya siklus
hidupnya tidak berbeda dengan taenia manusia yang lain. Namun yang
menjadi perhatian adalah cysticercusnya hanya ditemukan dalam organ
hati babi sebagai inang antara, walaupun secara eksperimental juga
berkembang dalam tubuh sapi. Pada awal studi diketahui bahwa anggota
penduduk setempat menderita taeniasis yang didiagnosis sebagai
Taeniasis saginata, padahal mereka sama sekali tidak mengonsumsi
daging sapi melainkan daging babi.

9
Tabel 1. Perbedaan antara Taenia Solium, Taenia Saginata dan Taenia
Asiatica

No. Keterangan Taenia Solium Taenia Saginata Taenia


Asiatica
1 Inang definitif Usus halus Usus halus Usus halus
dan habitat manusia manusia manusia
2 Inang antara Babi dan manusia Sapi (utama), Babi (utama),
kambing, domba sapi
3 Nama tahap Cysticercus Cysticercus bovis Cysticercus
larva cellulosae t.s.
taiwanensis
4 Ukuran panjang (3-8)x 0,01 meter (4-15) x 0,01 4-8 meter
x lebar meter
5 Jumlah segmen 700-1000 1000-2000 712
6 Jumlah telur 30.000-50.000 di lebih dari 100.000
setiap segmen di setiap segmen

2.4. Siklus Hidup


Manusia merupakan hospes definitif ketiga spesies Taenia; sedangkan
sapi merupakan hospes perantara untuk spesies Taenia saginata dan babi
merupakan hospes perantara untuk spesies Taenia solium dan Taenia asiatica
Siklus hidup ketiganya secara garis besar sama yang membedakan hanyalah
inang (hospes) perantaranya, dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut:
Cacing pita (Taenia ) dewasa hidup dalam usus manusia yang
merupakan induk semang definitif. Segmen tubuh Taenia yang telah matang
dan mengandung telur keluar secara aktif dari anus manusia atau secara pasif
bersama-sama feses manusia. Bila inang definitif (manusia) maupun inang
antara (sapi dan babi) menelan telur maka telur yang menetas akan
mengeluarkan embrio (onchosphere) yang kemudian menembus dinding usus.
Embrio cacing yang mengikuti sirkulasi darah limfe berangsur-angsur
berkembang menjadi sistiserkosis yang infektif di dalam otot tertentu. Otot
yang paling sering terserang sistiserkus yaitu jantung, diafragma, lidah, otot
pengunyah, daerah esofagus, leher dan otot antar tulang rusuk.
Manusia terkena taeniasis apabila memakan daging sapi atau babi yang
setengah matang yang mengandung sistiserkus sehingga sistiserkus
berkembang menjadi Taenia dewasa dalam usus manusia. Manusia terkena

10
sistiserkosis bila tertelan makanan atau minuman yang mengandung telur
Taenia solium. Hal ini juga dapat terjadi melalui proses infeksi sendiri oleh
individu penderita melalui pengeluaran dan penelanan kembali makanan yang
mengandung telur cacing ini.
Telur dari kedua spesies cacing ini dapat menyebar ke lingkungan
selama cacing tersebut masih ada di dalam saluran pencernaan, kadang-
kadang dapat berlangsung lebih dari 30 tahun; telur cacing tersebut dapat
hidup dan bertahan di lingkungan selama beberapa bulan.

Gambar Siklus hidup taenia solium pada manusia (cacing pita babi)

Gambar Siklus Hidup Taenia Saginata

11
2.5. Penularan pada manusia
Telur saginata yang dikeluarkan lewat tinja orang yang terinfeksi hanya
bisa menular kepada sapi dan didalam otot sapi parasit akan berkembang
menjadi Cysticercus bovis, stadium larva dari T. saginata. Infeksi pada
manusia terjadi karena orang tersebut memakan daging sapi mentah atau yang
dimasak tidak sempurna yang mengandung Cysticercus di dalam usus halus
cacing menjadi dewasa dan melekat dalam mukosa usus. Begitu juga infeksi
T. solium terjadi karena memakan daging babi mentah atau yang dimasak
kurang sempurna (“measly pork”) yang mengandung cysticercus, cacing
menjadi dewasa didalam intestinum.
Namun, cysticercosis oleh taenia solium dapat terjadi secara langsung
karena orang tersebut menelan minuman yang terkontaminasi atau secara
langsung dari tinja orang yang terinfeksi langsung kemulut penderita sendiri
(aoutoinfeksi) atau ke mulut orang lain. Apabila telur T. solinum tertelan oleh
manusia atau babi, maka embrio akan keluar dari telur, kemudian menembus
dinding usus menuju ke saluran limfe dan pembuluh darah selanjutnya
dibawa keberbagai jaringan dan kemudian berkembang menjadi cysticercosis.

Gambar daging yang terinfeksi cacing pita, kalau di Bali dikenal dengan
istilah daging beberasan.

12
2.6. Penegakan Diagnosis.
1. Diagnosis Taeniasis
Taeniasis bisa ditegakkan dengan dilakukan anamnesis serta
dilakukan pemeriksaan tinja secara mikroskopis, maupun makroskopis,
gambaran yang diperoleh sebagai berikut:
a. Anamnesa:
1) Umumnya kasus taeniasis tidak memperlihatkan gejala atau
asimtomatik.
2) Adapun gejala klinis bisa timbul sebagai akibat adanya iritasi mukosa
usus ataupun toksin yang telah dihasilkan oleh cacing. Gejala tersebut
diantaranya yaitu rasa tidak nyaman pada lambung, rasa mual, badan
terasa lemah, berat badan semakin menurun, nafsu untuk makan
menurun, mengalami sakit kepala, timbul konstipasi, kepala terasa
pusing, menderita diare dan juga pruritus ani.
3) Terdapat riwayat mengeluarkan proglotid atau segmen dari cacing pita
baik di saat buang air besar ataupun keluar secara spontan.

Gambar segmen cacing pita yang menyerupai ampas nangka

b. Ada faktor resiko


1) Mengkonsumsi daging yang dimasak setengah matang/mentah, dan
mengandung larva sistiserkosis.
2) Higiene yang rendah dalam pengolahan makanan bersumber daging.
3) Ternak yang tidak dijaga kebersihan kandang dan makanannya

13
c. Pemeriksaan Fisik
1) Pemeriksaan vital sign.
2) Pemeriksaan generalis: nyeri ulu ati, ileus juga bisa terjadi bila cacing
membuat obstruksi usus.
d. Pemeriksaan penunjang
1) Pemeriksaan laboratorium mikroskopik dengan menemukan telur
dalam specimen tinja segar.
2) Pemeriksaan makroskopis dengan menemukan proglotid pada tinja
3) Pemeriksaan darah tepi : dapat ditemukan eosinofilia, leukositosis,
LED meningkat.
Gambar mikroskopis telur cacing pita

14
2. Diagnosis sistiserkosis
Penegakan diagnosis sistiserkosis dilakukan dengan:
a. Anamnesis :
1) Berasal dari / berdomisili di daerah endemis taeniasis/ sistiserkosis.
2) Gejala Taeniasis.
3) Riwayat mengeluarkan proglotid : Riwayat keluhan pada organ
tertentu akibat infeksi larva cacing pada organ tersebut, beratnya
gejala juga tergantung jumlah sistiserkus yang tinggal di organ
tersebut seperti:
a) Infeksi berat pada otot menyebabakan timbulnya benjolan (nodul)
subkutandan peradanagan otot ( myocitis) yang biasanya
menimbulkan deman
b) Jika menyerang mata (ocular sistiserkosis) menimbulkan gejala
gangguan penglihatan sampai menimbulkan kebutaan.
c) Jika menyerang otak/ selaput otak/ sum-sum tulang belakang,
gejala yang timbul adalah kejang, serangan epilepsy, kelumpuhan.
b. Pemeriksaan fisik :
1) Teraba benjolan / nodul sub kutan atau intra muskular satu atau lebih.
2) Kelainan mata (ocular cysticercosis) dan kelainan lainnya yang
disebabkan oleh sistiserkus.
3) Kelainan neurologi .
4) Peningkatan tekanan intra cranial.
c. Pemeriksaan penunjang :
1) Pemeriksaan biopsi pada nodul subkutan gambaran menunjukkan
patologi anatomi yang khas untuk sistiserkosis.
2) CT Scan untuk neurosistiserkosis, MRI, X-ray.
3) Tes serologi ELISA.

2.7. Penatalaksanaan Komprehensif


1. Terapi Farmakologi
Pengobatan segera terhadap penderita tidak hanya untuk mengurangi
sumber infeksi tapi juga untuk mencegah terjadinya auto infeksi oleh

15
sistiserkus. Tujuan pengobatan taeniasis ialah untuk mengeluarkan semua
cacing beserta scolex-nya dan juga mencegah terjadinya sistiserkosis,
terutama pada kasus taeniasis Taenia solium.
Berdasarkan buku” Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas
Pelayanan Primer” edisi revisi th 2014 yang dikeluarkan oleh Depkes dan IDI
disebutkan terapi pilihan untuk taeniasis saat ini adalah:
a. Albendazol dengan dosis untuk anak diatas 2 tahun dan dewasa 400 mg
sebagai dosis tunggal selama 3 hari berturut- turut, dikonsumsi setelah
makan, dan penggunaannya dengan dikunyah
b. Mebendazol 100 mg, 3 x sehari, selama 2 atau 4 minggu.
1) Follow up terapi: Untuk mengetahui keberhasilan pengobatan,
dilakukan pemeriksaan tinja pada bulan ke tiga dan bulan keenam (
hari ke 90 dan hari ke 180 ) pasca pengobatan, dengan tidak
ditemukannya telur cacing Taenia sp dan prologtidnya (termasuk
anamnesis), pengobatan dinyatakan berhasil. Bila ditemukan telur
cacing taenia sp, dan atau prologtidnya (termasuk anamnesis) pada
hari ke 180 setelah pengobatan, berarti ada infeksi baru (reinfeksi)
pada penderita tersebut. Untuk pasien yang diduga mengalami
sistiserkosis terutama neurosistiserkosis sebaiknya dirujuk ke rumah
sakit untuk penanganan lebih lanjut.
2) Lakukan investigasi terhadap kontak dan sumber infeksi : Lakukan
evaluasi
terhadap kontak yang menunjukkan gejala. Misalnya terhadap
keluarga dan masyarakat sekitar dengan keluhan yang sama agar
dilakukan pemeriksaan feses, untuk mengetahui apakah ada infeksi
cacing pita atau tidak, bila ditemukan, segera diberikan terapi adekuat.
3) Penyuluhan kepada pasien dan keluarga serta masyarakat sekitar
tentang:
a) Penyakit cacing pita dan cara penularannya.
b) Ciri-ciri daging yang mengandung larva cacing pita.
c) Cara pencegahannya yaitu dengan:

16
 menjaga kebersihan diri seperti: menjaga kebersihan tangan
dan kuku, dengan selalu mencuci tangan sebelum makan,
atau sebelum mengolah makanan, dan setiap habis buang air
besar, kuku tangan tidak dibiarkan panjang dan kotor.
 menjaga kebersihan lingkungan dengan membiasakan buang
air besar di wc, kalau memelihara ternak sebaiknya di
kandangkan ( untuk mencegah agar ternak tidak pernah
kontak dengan tinja manusia), kebersihan kandang ternak
dijaga. Limbah ternak jangan dibiarkan mencemari
lingkungan.
 Mengkonsumsi daging babi atau sapi yang telah dimasak
dengan matang. Memasak daging sapi/babi sebaiknya paling
sedikit 30 menit pada suhu 45-50 derajat Celsius. Daging sapi
atau daging babi yang tidak dimasak langsung sebaiknya
dibekukan pada suhu di bawah minus 20 derajat Celcius
selama lebih dari 4 hari karena pada kondisi ini dapat
membunuh sistiserki.
 Membeli daging sapi atau babi sebaiknya di rumah potong
hewan yang mendapat pengawasan oleh dokter hewan,
sehingga daging dijamin bebas kontaminasi.

17
BAB III
LAPORAN KASUS

3.1 . Identitas
Nama : AA Manik
Umur : 52 th
Jenis kelamin : Perempuan
Kewarganegaraan : Indonesia
Suku : Bali
Agama : Hindu
Alamat : Br Padang Aling, Desa Cau Belayu, Kecamatan
Marga, Kabupaten Tabanan, Bali
Pendidikan : -
Tanggal Pemeriksaan : 29 Oktober 2016

3.2 Anamnesa ( auto Anamnesa dari pasien sendiri ):


1. Keluhan Utama : mengeluarkan benda putih pipih memanjang saat buang
air besar.
2. Riwayat Sakit Sekarang :
Pasien mengatakan bahwa 3 hari yang lalu(26 Oktober 2016) lalu
saat buang air besar bersama fesesnya keluar benda berwarna putih bening
berbentuk pipih dan terlihat seperti bisa bergerak, sepanjang batang korek
api, sekitar 2 potong, sebelumnya pasien berobat ke bidan karena
mengeluh cepat merasa lapar, perut sering terasa nek dan perih, oleh bidan
tersebut diberikan obat beberapa jenis ( pasien lupa nama obatnya), sehari
setelah minum obat tersebut saat buang air besar pasien melihat ada benda
putih pipih bening bergerak-gerak dalam fesesnya. Karena takut pasien
akhirnya datang ke Puskesmas.
Dokter Puskesmas Marga II mensuspect pasien terinfeksi cacing
pita, karena fasilitas lab untuk pemeriksaan feses di puskesmas Marga II
tidak ada, pasien dirujuk ke Rumah Sakit Tabanan untuk penegakan
diagnosis

18
3. Riwayat Penyakit Dahulu ( beserta pengobatan) :
Menurut pasien rasa tidak enak di ulu hati, dan merasa cepat lapar
ini sudah cukup lama dirasakan tetapi baru kali ini mengeluarkan benda
putih pipih. Untuk rasa tidak nyaman di perutnya sudah sering
diperiksakan ke bidan dan ke dokter praktek swasta, dan biasanya di
diagnose sebagai gangguan lambung dan di beri obat maag, namun rasa
tidak enak di perutnya ini tidak kunjung membaik. Riwayat alergi obat
disangkal, alergi makanan disangkal.
Penderita mengatakan sejak dulu biasa mencicipi daging babi
mentah, atau setengah matang karena sebelumnya dia bekerja di tempat
dagang nasi yang menjual berbagai olahan daging babi, dimana saat
mengolah masakan berbahan daging babi tersebut dia dipercaya untuk
mencicipinya terlebih dahulu untuk mengetahui apakah garam dan
bumbunya sudah cukup apa tidak ini dilakukan saat olahan tersebut masih
mentah, setelah dicicipi dan bumbu dianggap cukup baru kemudian olahan
tersebut di masak. Selain di tempat kerja, pada saat di lingkungan banjar
maupun keluarganya mengadakan acara yang disertai dengan membuat
olahan daging babi, kebiasaan mencicipi olahan daging babi yang masih
mentah ini juga selalu dipercayakan kepadanya.

4. Riwayat Penyakit Keluarga :


Riwayat keluhan yang sama pada anggota keluarga disangkal

5. Riwayat Sosial Ekonomi :


Pasien adalah ibu rumah tangga dan memiliki 2 orang anak laki-
laki dan satu perempuan ketiganya sudah bekerja, kedua anak laki-lakinya
sudah menikah tapi anak perempuannya belum, saat ini satu anak lakinya
bekerja di Jimbaran, tinggal disana tapi tiap hari Sabtu dan hari libur
pulang, anak laki-lakinya yang lain dan anak perempuannya tinggal
bersama dengan penderita. Suami pasien bekerja sebagai tukang
bangunan, dan petani. Pasien dan keluarganya tinggal satu pekarangan
dengan satu keluarga lain yang masih ada hubungan kekerabatan
dengannya, keluarga ini masing-masing memiliki dapur terpisah.

19
Sebelumnya pasien bekerja di tempat dagang nasi yang ada di wilayah
Sembung, Mengwi, sekitar 5 km dari rumahnya. Dia bekerja disana
sudah sejak 6 tahun yang lalu, tapi semenjak sebulan yang lalu dia
berhenti bekerja disana. Saat ini pasien hanya tinggal di rumah saja,
mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan sesekali di mintai bantuan oleh
tetangganya untuk membuat jajan khas Bali.

6. Riwayat PHBS
Sumber air bersih yang digunakan pasien dalam memasak dan mck
adalah dari PAM desa, pasien dan keluarganya sudah terbiasa memasak
terlebih dahulu air minum yang akan di konsumsi, selalu mencuci tangan
sebelum makan dan setelah buang air besar. Kebiasaan pasien dan
keluarganya dalam buang air besar adalah selalu di wc, pasien juga telah
memiliki satu kamar mandi yang dilengkapi dengan jamban yang sudah
memiliki septik tank untuk penampungan tinjanya, namun untuk limbah
kamar mandi dan dapurnya dibuang langsung di halaman yang ada di
belakang kamar mandi dan dapur tersebut, hanya dibuatkan semacam
parit kecil tanpa semen, dan dibiarkan terbuka sehingga limbah cair
kamar mandi dan dapur tersebut meresap langsung ke tanah, kamar
mandi beserta jambannya ini digunakan bersama dengan keluarga
kerabatnya yang tinggal sepekarangan dengan keluarga pasien, kondisi
kamar mandi dan jambannya ini sudah cukup bersih. Kondisi dapur
pasien juga sudah cukup bersih, beralaskan semen kasar, mereka selalu
menutup makanan dan minuman yang mereka sediakan.
Lingkungan rumah pasien cukup bersih, sampah ditampung dalam
tempat sampah untuk selanjutnya di buang atau di bakar di halaman
belakang rumah (tebe).
Halaman belakang rumahnya (tebe) ini cukup luas ditanami
berbagai tanaman besar sehingga sangat rimbun. Di tebenya ini
disamping dijadikan tempat penimbunan dan pembakaran sampah juga
ada tempat untuk kandang sapi. Suami pasien memang sering
memelihara sapi, sebagai pekerjaan sampingan selain bekerja sebagai

20
tukang bangunan, dan bertani tapi saat ini kandang itu sudah kosong
karena sapinya baru saja dijual. Kandang sapi ini jaraknya cukup jauh
dari rumah utama, mereka juga memelihara beberapa ekor ayam yang
tidak dikandangkan, dibiarkan berkeliaran sampai dihalaman rumah.

3.3 Pemeriksaan Fisik :


1. Keadaan Umum : Baik
2. Kesadaran : Compos Mentis
3. Tanda vital :
Tekanan darah : 130/80
Nadi : 96 x/menit
Respirasi : 45 x/menit
Suhu : 37,5 0 C ( telah diberi paracetamol syrup)
4. Antropometri :
Berat badan : 65 kg
Tinggi : 150 cm
Status gizi : Obesitas
5. Pemeriksaan Umum :
Kulit : Dalam Batas Normal (DBN), rash(-), petekie(-)
Kelenjar limfe : Pembesaran KGB (-)
Otot : Kekuatan otot DBN
Tulang : DBN
Sendi : DBN, nyeri sendi (-)
6. Pemeriksaan Khusus :
Kepala : Normal
Mata : Anemia -/-, ikterik -/-
Hidung : Normal,cuping hidung(-), rhinorrhea(-)
Telinga : DBN
Mulut dan Gigi : cukup bersih, karies (-)
Kuku jari tangan : panjang dan kotor
Tenggorokan : DBN
Leher : JVP normal, pembesaran KGB(-)
Thoraks : Paru –Paru

21
- Inspeksi : Gerakan dada kiri dan kanan simetris,
retraksi dinding dada (-)
- Palpasi : Palpasi simetris, vocal premitus normal
- Perkusi : Sonor/sonor
- Auskultasi : Bronves (+/+) , Rhonki (-/-)
Wheezing ( -/- )
Jantung
- Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat
- Palpasi : Ictus Cordis teraba pada linea midclavicularis
sinistra ICS V
- Perkusi : batas jantung kanan dan kiri DBN
- Auskultasi : bunyi jantung I dan II intensitas normal, regular,
murmur (-)

Abdomen
- Inspeksi : datar, scar (-)
- Palpasi : nyeri tekan (-), hepatomegaly (-) splenomegaly (-)
- Perkusi : timpani
- Auskultasi : Bising usus DBN
- Urogenital : Vagina DBN, sekret (-), darah(-), edema(-)
- Ekstremitas : Hangat, CRT < 2 detik, edema tungkai (-/-)
- Gerakan : Normal
- Tonus : DBN
- Trofi : -/-
- Reflek fisiologis : DBN
- Reflek patologis : -/-
- Sensibilitas : DBN
- Meningeal Sign : -/-

3.4 . Pemeriksaan Penunjang


1. Laboratorium : pemeriksaan feses di lab. Rs Tabanan menunjukkan hasil
positif terinfeksi cacing pita
2. Radiologi :-

3.5 . Diagnosa Klinis


1. Differential Diagnosis : -
2. Diagnosis Kerja : Taeniasis

22
3.6 . Penata Laksanaan
1. Terapi Farmakologi
Albendazol 400mg 2 kali sehari selama 3 hari berturut- turut
2. Terapi Non farmakologi
1. KIE pada pasien: menjaga kebersihan diri dan lingkungan ( PHBS)
2. KIE cara memasak dan mengolah daging dengan benar
3. Melaporkan Kasus Ke dinas Kesehatan Tabanan
Rencana Monitoring
a. Pada pasien: Follow up terapi setelah 3 bulan dan setelah 6 bulan
dengan memeriksa feses
b. Pada keluarga dan masyarakat sekitar yang memiliki keluhan yang
sama dilakukan pemeriksaan feses untuk mengetahui apakah ada
penderita lain
Rencana Edukasi
a. KIE keluarga tentang penyakit infeksi cacing pita, PHBS, KIE tentang
cara pemilihan dan pengolahan daging babi dan sapi , tata cara
memelihara babi dan sapi agar bebas dari infeksi cacing pita.
b. Pada masyarakat Cau Belayu dilakukan penyuluhan tentang penyakit
cacing pita, cara penularan dan cara pencegahannya, penyluhan
tentang cara pemilihan dan pengolahan daging sapi dan babi agar
terhindar dari infeksi cacing pita, dan penyuluhan tentang tata cara
memelihara sapi dan babi yang baik agar bebas infeksi cacing pita

3.7 Catatan Tambahan Tindak Lanjut Terhadap Kasus


Hal Tanggal Hasil
Kunjungan 3 November Pasien mengatakan keluhan nyeri di ulu
Rumah 2016 ati serta mual-mualnya sudah hilang, dan tidak
pernah mengeluarkan benda seperti ampas nangka
lagi.
Obat cacing yang diberikan sudah di
minum sesuai aturan.
Tindak Lanjut:

23
 KIE kepada anggota keluarga yang lain
tentang PHBS, Infeksi cacing pita, dan
pencegahan agar tidak tertular.
 Menyarankan agar semua anggota keluarga
yang lain memeriksakan fesesnya.
 Menyarankan kandang sapi agar dijaga
kebersihannya, pembuangan limbah kandang
dibuatkan lubang khusus agar kotoran sapi
tidak mencemari lingkungan
 Menyarankan Ternak ayam agar
dikandangkan agar tidak kontak dengan
kotoran ternak lain
 Menyarankan Limbah dapur dan kamar
mandi agar dibuatkan bak penampungan agar
tidak mencemari lingkungan.

24
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Karakteristik Pasien


Pasien adalah seorang wanita berusia , seorang ibu rumah tangga
berusia 52 tahun dengan status gizi obese.

4.2 Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik


Anamnesis pada pasien ini didapatkan keluhan utama berupa keluarnya
benda putih pipih pada tinja saat pasien buang air besar, sebelumnya pasien
sering meraskan rasa tidak nyaman di ulu ati seperti nek, perih dan cepet
merasa lapar.
Dari anamnesa juga diketahui adanya faktor resiko pada pasien untuk
terinfeksi cacing pita yaitu kebiasaan pasien mencicipi olahan daging babi
mentah baik ditempat kerja maupun saat ada acara memasak pada upacara
adat di desanya.
Dari pemeriksaa fisik, pasien terlihat sehat, dengan status gizi obese,
vital sign dalam batas normal, cuma ada sedikit nyeri tekan di ulu ati, namun
dari segi kebersihan diri terutama kebersihan kuku kurang, terlihat pasien
memiliki kuku jari tangan yang panjang dan terlihat kotor.

4.3. Penatalaksanaan
Setelah didapatkan hasil pemeriksaan feses dari laboratorium Rumah
Sakit Tabanan yang menyatakan pasien positif terinfeksi cacing pita maka
pasien diberikan obat albendazol 400 mg dengan dosis 1 X 400mg selama 3
hari.
Pasien juga di berikan penyuluhan tentang infeksi cacing pita, cara
penularannya, cara pencegahannya, dan tentang pentingnya PHBS dan
kebersihan lingkungan.
Petugas puskesmas melaporkan kasus ke Dinas Kesehatan Tabanan ke
bagian P2M.

25
Dilakukan kunjungan rumah bersama terdiri dari 1 orang dokter umum,
1 orang perawat yang merupakan petugas yang memegang program
kecacingn, 1 orang tenaga promosi kesehatan dan 1 orang sanitarian.
Kunjungan rumah ini dilakukan pada tanggal 3 November, 5 hari setelah
pemberian obat cacing kepada pasien. Adapun hasil kunjungan rumah
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Obat cacing yang diberikan sudah diminum oleh pasien, pasien tidak
pernah lagi mengeluarkan benda pipih dari fesesnya .Dokter menyarankan
pasien untuk periksa feses ulang 3 bulan dan 6 bulan lagi untuk
mengetahui hasil terapi sudah tuntas apa tidak.
2. Tidak ada anggota keluarga yang lain yang mengalami keluhan yang sama
dengan pasien. Dokter dan perawat menyarankan anggota keluarg yang
lain untuk memerikskan fesesnya untuk mengetahui ada tidaknya infeksi
cacing pita.
3. Petugas Promkes menilai pasien dan keluarga sudah baik dalam
menerapkan PHBS. Petugas Promkes memberikan penyuluhan kepada
pasien dan anggota keluarga yang lain tentang bahaya infeksi cacing pita,
cara penularan dan cara pencegahannya, menyarankan untuk membiasakan
PHBS sebagai salah satucara untuk mencegah penularan, penyuluhan
tentang tata cara pengolahan makanan terutama olahan daging babi agar
terhindar dari infeksi caccing pita.
4. Petugas Kesling menemukan beberapa hal di lingkungan lingkungan
rumah pasien yang kurang sehat yaitu:
a. Kandang sapi yang ada di belakang rumah pasien kondisinya tidak
sehat dimana kotoran sapi dibiarkan berserakan tanpa penampungan
sehingga mencemari lingkungan dan rawan menjadi sumber penyakit
apalagi dekat dengan tempat tinggal.
Saran: dibuat lobang di dekat kandang sapi, seluruh limbah sapi
ditampung di dalam lobang tersebut, sehingga tidak mencemari,
lingkungan dan limbah bisa di olah menjadi pupuk orgaik.
b. Ternak ayam di biarkan berkeliaran sehingga sering kontak dengan
kotoran sapi dan kotoran ayam juga mencemari lingkungan.

26
Saran: sebaiknya tenak ayam di kandangkan pada lokasi yang jauh
dari tempat tinggal, sehingga tidak mengganggu kesehatan
lingkungan.
c. Limbah kamar mandi dan dapur pasien tidak memiliki
penampungankhusus di buang langsung di tanah di belakang dapur
dan kamar mandi hanya dibuatkan parit kecil tanpa disemen dan
dibiarka terbuka sehingga limbah akan meresap langsung ke tanah,
kondisi ini tentu kurang sehat juga karena akan bisa membentuk
genangan air kotor yang bisa menjadi sumber penyakit.
Saran : Limbah kamar mandi dan dapur di buatkan tempat
penampungan khusus dan tertutup sehingga limabh tidak menjadi
sarang penyakit.

27
BAB V
PENUTUP

1.1 Simpulan
1. Penanganan kasus taeniasis ini harus dilakukan secara menyeluruh tidak
hanya pada pasien tapi juga pada keluarga dan lingkungan sekitar.
2. Karena ini adalah salah satu penyakit yang menjadikan hewan sebagai
perantara maka kebersihan lingkungan sangat besar perannya untuk
mencegah penyebaran penyakit ini.
3. Penyakit ini juga sangat erat kaitannya dengan budaya dan kebiasaan
masyarakat bali,yang tidak bisa lepas dari penggunaan daging babi
sehingga penyebaran informasi tentang tata cara pengolah daging babi
yang baik yang memenuhi syarat-syarat kesehatan sangat penting
dilakukan
4. Upaya promotif dan preventif terhadap kasus taeniasis sangat besar
perannya dalam menurunkan angka kejadian dan upaya pencegahan
komplikasi dapat ditingkatkan.

1.2 Saran
1. Program penanganan kasus secara holistik dan komprehensif ini perlu
dilakukan secara berkesinambungan sehingga pelayanan kesehatan
semakin baik.

28