Anda di halaman 1dari 4

11. Bagaimana dampak yang terjadi jika tidak imunisasi ?

IMUNISASI PENTING UNTUK MENCEGAH PENYAKIT BERBAHAYA


Manfaat imunisasi untuk bayi dan anak
Bayi dan anak yang mendapat imunisasi dasar lengkap akan terlindung dari beberapa penyakit
berbahaya dan akan mencegah penularan ke adik, kakak dan teman-teman disekitarnya. Imunisasi akan
meningkatkan kekebalan tubuh bayi dan anak sehingga mampu melawan penyakit yang dapat dicegah
dengan vaksin tersebut. Anak yang telah diimunisasi bila terinfeksi oleh kuman tersebut maka tidak akan
menularkan ke adik, kakak, atau teman-teman disekitarnya. Jadi, imunisasi selain bermanfaat untuk diri
sendiri juga bermanfaat untuk mencegah penyebaran ke adik, kakak dan anak-anak lain disekitarnya.

Bahaya kalau tidak diimunisasi


Kalau anak tidak diberikan imunisasi dasar lengkap, maka tubuhnya tidak mempunyai kekebalan
yang spesifik terhadap penyakit tersebut. Bila kuman berbahaya yang masuk cukup banyak maka tubuhnya
tidak mampu melawan kuman tersebut sehingga bisa menyebabkan sakit berat, cacat atau meninggal. Anak
yang tidak diimunisasi akan menyebarkan kuman-kuman tersebut ke adik, kakak dan teman lain
disekitarnya sehingga dapat menimbulkan wabah yang menyebar kemana-mana menyebabkan cacat atau
kematian lebih banyak. Oleh karena itu, bila orangtua tidak mau anaknya diimunisasi berarti bisa
membahayakan keselamatan anaknya dan anak-anak lain disekitarnya, karena mudah tertular penyakit
berbahaya yang dapat menimbulkan sakit berat, cacat atau kematian.

Setelah diimunisasi kadang-kadang timbul kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI)


Setelah imunisasi kadang-kadang timbul kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) demam ringan
sampai tinggi, bengkak, kemerahan, agak rewel. Itu adalah reaksi yang umum terjadi setelah imunisasi.
Umumnya akan hilang dalam 3-4 hari, walaupun kadang-kadang ada yang berlangsung lebih lama. Boleh
diberikan obat penurun panas tiap 4 jam, dikompres air hangat, pakaian tipis, jangan diselimuti, sering
minum ASI, jus buah atau susu. Bila tidak ada perbaikan, atau bertambah berat segera kontrol ke dokter.

Berita kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) harus di konfirmasi oleh ahlinya
Adanya berita di media masa tentang kejadian ikutan pasca imunisasi yang berat, perlu
dikonfirmasi kepada ahli-ahli di bidangnya. Contoh kasus Sinta Bela (SB) yang menurut orangtuanya
lumpuh setelah diimunisasi, dilakukan sidang di Polda Metro Jaya. Berdasarkan pemeriksaan oleh dokter-
dokter ahli dibidangnya, dari foto tulang belakang terbukti kelumpuhannya karena tuberkulosis di tulang
belakang yang sudah berlangsung lama, bukan karena imunisasi. Ketika wabah polio di Jawa Barat,
beberapa anak lumpuh setelah mendapat vaksin polio. Dengan pemeriksaan virus (virologi) terbukti bahwa
kelumpuhan tersebut diakibatkan virus polio liar yang sudah menyerang anak tersebut sebelum ia mendapat
imunisasi polio.

Autisme yang dulu diduga akibat merkuri atau vaksinasi MMR, ternyata berbagai lembaga penelitian resmi
di luar negeri menyatakan tidak ada hubungan MMR dengan autisme atau kandungan merkuri di dalam
tubuhnya ternyata tidak tinggi. Beberapa KIPI berat lain, setelah diperiksa oleh ahli-ahli di bidangnya
terbukti bahwa KIPI tersebut akibat penyakit lain yang sudah ada sebelumnya, bukan oleh imunisasi. Oleh
karena itu setiap berita KIPI harus di kaji secara ilmiah oleh ahli-ahlinya, antara lain di Komisariat Daerah
(Komda) KIPI yang ada di Propinsi atau Komisariat Nasional (Komnas) KIPI di Jakarta.

Lebih banyak kecelakaan lalu lintas daripada KIPI berat


Sangat jarang terjadi KIPI berat. Kemungkinan KIPI berat 1 kejadian dalam: 2 juta dosis. Kalau
ada 22 juta balita, kemungkinan terjadinya KIPI berat sekitar 11 anak. Lebih banyak korban kecelakaan
lalu lintas akibat sepeda motor, bus, mobil, pesawat terbang dibanding KIPI berat karena imunisasi. Oleh
karena itu masyarakat harusnya lebih takut pada kecelakaan lalu lintas ketimbang karena imunisasi.

Setelah diimunisasi masih bisa terkena penyakit, tetapi jauh lebih ringan
Perlindungan imunisasi memang tidak 100 %, artinya setelah diimunisasi, bayi dan anak masih bisa
terkena penyakit-penyakit tersebut, tetapi kemungkinannya hanya kecil (5 - 15 %), jauh lebih ringan dan
tidak berbahaya. Bukan berarti imunisasi itu gagal atau tidak berguna, karena perlindungan imunisasi
memang sekitar 80 - 95 %. Penelitian epidemiologi di Indonesia dan negara-negara lain, ketika ada wabah
campak, difteri atau polio, anak yang sudah mendapat imunisasi dasar lengkap sangat jarang yang tertular,
bila tertular umumnya hanya ringan, sebentar dan tidak berbahaya. Tetapi anak yang tidak mendapat
imunisasi, ketika ada wabah, lebih banyak yang sakit berat, meninggal atau cacat. Berarti imunisasi terbukti
effektif mencegah sakit berat, kematian atau cacat akibat penyakit-penyakit tersebut.

Mayoritas Anak yang Sakit Telah Divaksinasi


Pendapat yang salah ini sering dijumpai dalam rumor maupun dalam literatur kelompok anti vaksin.
Memang dalam suatu kejadian luar biasa (KLB) jumlah anak yang sakit dan pernah diimunisasi mungkin
lebih banyak dibandingkan jumlah anak sakit dan belum diimunisasi. Ketimpangan ini dapat diterangkan
dengan faktor pertama yaitu tidak ada vaksin yang efektif 100%. Efektivitas sebagian besar vaksin pada
anak adalah sebesar 85%-95%, tergantung respons individu. Faktor kedua adalah proporsi anak yang
diimunisasi lebih banyak dibanding proporsi anak yang belum diimunisasi di negara yang telah
menjalankan program imunisasi. Bagaimana kedua faktor tersebut berinteraksi diilustrasikan dalam contoh
hipotetis berikut ini.
Suatu sekolah mempunyai 1000 murid. Semua murid pernah diimunisasi campak 2 kali, kecuali 25
yang tidak pernah sama sekali. Ketika semua murid terpapar campak, 25 murid yang belum diimunisasi,
semuanya menderita campak. Dari kelompok yang telah diimunisasi campak 2 kali, sakit 50 orang. Jumlah
seluruh yang sakit 75 orang dan yang tidak sakit 925 orang. Kelompok anti imunisasi akan mengatakan
bahwa persentase murid yang sakit adalah 67% (50/75) dari kelompok yang pernah imunisasi dan 33%
(25/75) dari kelompok yang tidak pernah imunisasi. Padahal bila dihitung efek proteksi, maka imunisasi
memberikan proteksi sebesar (975-25)/975 = 94,8%. Yang tidak diimunisasi, efek proteksi sebesar 0/25 =
0%. Dengan kata lain, 100% murid yang tidak mendapat imunisasi akan sakit campak; dibanding 94,8%
murid yang mendapat imunisasi campak 2 kali akan terlindungi dari penyakit campak. Dengan demikian
jelas bahwa imunisasi berguna untuk melindungi anak.
Vaksin Menimbulkan Efek Samping yang Berbahaya, Kesakitan dan Bahkan Kematian.
Vaksin merupakan produk yang sangat aman. Hampir semua efek simpang vaksin bersifat ringan
dan sementara seperti nyeri pada bekas suntikan atau demam ringan. KIPI secara definitive mencakup
semua kejadian sakit pasca imunisasi. Prevalensi dan jenis sakit yang tercantum dalam KIPI dengan
sendirinya hampir sama dengan prevalensi dan jenis sakit dalam keadaan sehari-hari tanpa adanya program
imunisasi. Hanya sebagian kecil yang memang berkaitan dengan vaksin atau imunisasinya, sebagian besar
bersifat ko-insidens. Kematian yang disebabkan oleh vaksin sangat sedikit. Sebagai ilustrasi semua
kematian yang dilaporkan di Amerika sebagai KIPI pada tahun 1990-1992, hanya satu yang mungkin
berhubungan dengan vaksin. Institute of Medicine tahun 1994 menyatakan bahwa risiko kematian akibat
vaksin adalah amat rendah (extra-ordinarily low).
Besarnya risiko harus dibandingkan dengan besarnya man-faat vaksin. Bila satu efek simpang berat
terjadi dalam sejuta dosis vaksin namun tidak ada manfaat vaksin, maka vaksin tersebut tidak berguna.
Manfaat imunisasi akan lebih jelas bila risiko penyakit dibandingkan dengan risiko vaksin seperti yang
terlihat pada Tabel 11.1.

Penyakit yang dapat dicegah oleh imunisasi telah tidak ada di negara kita, sehingga anak tidak perlu
imunisasi
Angka kejadian penyakit yang dapat dicegah oleh imunisasi memang telah menurun drastis, namun
kejadian penyakit tersebut ada yang masih cukup tinggi di negara lain. Kuman penyakit tersebut dapat
dibawa masuk secara tidak sengaja dan dapat menimbulkan wabah.
Hal tersebut serupa dengan KLB polio di Indonesia pada tahun 2005 yang lalu. Sejak tahun 1995,
tidak ada kasus polio yang disebabkan oleh virus polio liar. Pada bulan April 2005, Laboratorium Biofarma
di Bandung mengkonfirmasi adanya virus polio liar tipe 1 pada anak berusia 18 bulan yang menderita
lumpuh layuh akut pada bulan Maret 2005. Anak itu tidak pernah mendapat imunisasi polio sebelumnya.
Virus polio liar tersebut selanjutnya menyebar dan menyebabkan wabah yang merebak ke 10 propinsi dan
48 kabupaten. Sampai bulan April 2006 tercatat 349 kasus polio, termasuk 46 kasus VDPV (vaccine derived
polio virus) di Madura. Dari analisis genetik virus, diketahui bahwa virus berasal dari Afrika Barat. Analisis
lebih lanjut menunjukkan bahwa virus sampai ke Indonesia melalui Nigeria Sudan dan sama seperti virus
yang diisolasi di Arab Saudi dan Yaman.
Dari pengalaman tersebut, terbukti bahwa anak tetap harus mendapat imunisasi karena dua alasan.
Alasan pertama adalah anak harus dilindungi dari penyakit. Walaupun risiko terkena penyakit adalah kecil,
bila penyakit masih ada, anak yang tidak terproteksi tetap masih dapat terinfeksi. Alasan kedua adalah
imunisasi anak penting untuk melindungi anak lain di sekitarnya. Terdapat sejumlah anak yang tidak dapat
diimunisasi (misalnya karena alergi berat terhadap komponen vaksin) dan sebagian kecil anak yang tidak
memberi respon terhadap imunisasi. Anak-anak tersebut rentan terhadap penyakit. Namun anak tersebut
dapat perlindungan dari orang-orang di sekitarnya yang tidak sakit dan tidak menularkan penyakit
kepadanya.

http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/imunisasi-penting-untuk-mencegah-penyakit-berbahaya
http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/menyoroti-kontroversi-seputar-imunisasi
http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/persepsi-yang-salah-tentang-imunisasi-bagian-2