Anda di halaman 1dari 3

KONSEP KESETARAAN GENDER DALAM ISLAM

Oleh : Hanan Dimas Prasetya


Kesetaraan gender merupakan Hak Asasi Manusia yang merupakan hak yang didapat
semenjak kita ada di dunia ini. Hak untuk mendapat perlakuan yang sama antara laki-laki dan
perempuan. Di Indonesia kesetaraan gender mulai diperjuangkan sejak sebelum kemerdekaan oleh
berbagai tokoh, salah satunya R.A Kartini. Melalui berbagai perjuangan yang dilakukan akhirnya
sekarang perempuan dapat bebas memilih apa yang mereka inginkan dengan mudah. Perempuan
dapat mengambul peran di dalam bidang apa pun. Di era globalisasi ini kaum perempuan terus
berkembang secara dinamis, tentunya dengan segala kekurangan dan kelebihannya maka
selanjutnya bermunculan berbagai pandangan maupun sikap terhadap otoritas perempuan dan
eksistensi perempuan baik dalam kehidupan keluarga dan masyarakat dari tingkat domestik,
nasional, hingga dalam kancah internasional.
Kata gender berasal dari bahasa Inggris berarti jenis kelamin. Dalam Webster's New World
Dictionary, gender diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan
dilihat dari segi nilai dan tingkah laku. Dapat dipahami bahwa gender adalah suatu konsep yang
digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi pengaruh
sosial budaya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa gender pada hakikatnya lebih menekankan
aspek sosial, budaya, psikologis, dan aspek non biologis lainnya. Hal ini berarti bahwa gender
lebih menekankan aspek maskulinitas atau feminitas seseorang dalam budaya tertentu.
Dalam Islam kesetaraan gender, menempatkan perempuan dalam posisi yang sangat
terhormat. Dari ribuan sahabat Nabi, 1.200 diantaranya adalah perempuan, mereka berhubungan
langsung dengan Nabi. Kesetaraan gender dalam Islam tentunya berbeda dengan konsep
kesetaraan gender dalam barat. Islam tetap berupaya untuk memperjuangkan hak-hak kesetaraan
perempuan dengan laki-laki, yang terabaikan di kalangan tradisional konservatif, yang
menganggap perempuan sebagai sub ordinat laki-laki.
Islam telah memberi penjelasan secara tekstual dan kontekstual yang harus terus dikaji
secara intensif guna memperoleh wacana yang positif dan membangun. Karena perempuan adalah
sebagai tiang negara, yakni perempuan menjadi tumpuan harapan bagi pembangunan bangsa
terutama dalam hal pembentukan akhlak generasi muda. Oleh karena itu, Islam memandang
pentingnya peran perempuan dalam membangun bangsa. Perempuan memiliki potensi sumber
daya manusia yang luar biasa. Karena itulah Islam menempatkan perempuan dalam kemuliaan dan
keadilan.
Allah menciptakan laki-laki dan perempuan dengan perbedaan kelamin dan kemampuan
kodrat yang berbeda, namun saling melengkapi. Al- Quran menerangkan kesetaraan laki-laki dan
perempuan, salah satunya dalam Q.S. Al-Ahzab, 33 Ayat 35 berikut ini.

ِ ‫ص ِد َٰ َق‬
‫ت‬ َّ َٰ ‫ص ِدقِينَ َوٱل‬ َّ َٰ ‫ت َوٱل‬ ِ َ ‫ت َو ۡٱل َٰقَنِتِينَ َو ۡٱل َٰقَنِ َٰت‬ِ َ‫ت َو ۡٱل ُم ۡؤ ِمنِينَ َو ۡٱل ُم ۡؤ ِم َٰن‬ ِ ‫ِإ َّن ۡٱل ُم ۡس ِل ِمينَ َو ۡٱل ُم ۡس ِل َٰ َم‬
َ‫ص ِئ ِمين‬ َّ َٰ ‫ت َوٱل‬ ِ َ‫ص ِد َٰق‬ َ َ ‫ص ِدقِينَ َو ۡٱل ُمت‬ َ َ ‫ت َو ۡٱل ُمت‬ ِ ‫ت َو ۡٱل َٰ َخ ِش ِعينَ َو ۡٱل َٰ َخ ِش َٰ َع‬ ِ ‫ص ِب َٰ َر‬َّ َٰ ‫ص ِب ِرينَ َوٱل‬ َّ َٰ ‫َوٱل‬
‫ٱَّللُ لَ ُهم‬ َّ َّ‫ت أ َ َعد‬ِ ‫ٱَّللَ َكثِ ٗيرا َوٱل َٰذَّ ِك َٰ َر‬ َّ َ‫ت َوٱل َٰذَّ ِك ِرين‬ ِ ‫ظ‬ َ َٰ ‫ت َو ۡٱل َٰ َح ِف ِظينَ فُ ُرو َج ُه ۡم َو ۡٱل َٰ َح ِف‬ ِ ‫صئِ َٰ َم‬ َّ َٰ ‫َوٱل‬
٣٥ ‫َّم ۡغ ِف َر ٗة َوأ َ ۡج ًرا َع ِظ ٗيما‬
Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-
laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki
dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang
bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara
kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah
menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar (Q.S Al-Ahzab, 33:35)
Dalam Alquran dan Terjemahnya diterangkan bahwa asbabunnuzul Q.S. Al-Ahzab, 33: 35 bahwa
telah diriwayatkan Imam At-Tirmidzi, dan menghasankan hadis ini, “Dari ‘Ikrimah dan Ummu
Imarah Al-Anshari bahwasanya ia datang kepada Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah!
Aku melihat segala sesuatu itu selalu berkaitan dengan laki-laki, sedangkan untuk perempuan
tidak pernah disinggung sedikit pun.” Maka dari itu, turunlah ayat ini yang menegaskan bahwa
baik laki-laki maupun perempuan jika melakukan perbuatan baik, sama-sama disediakan
ampunan dan pahala yang berlimpah.”
Dalam surat dan ayat yang lain Allah juga menegaskan persamaan antara perempuan dan
laki-laki yaitu di Q.S Al- Hujurat, 49 ayat 13 sebagai berikut.

َ‫ارفُو ْۚا ِإ َّن أ َ ۡك َر َم ُك ۡم ِعند‬ ُ ‫اس ِإنَّا َخلَ ۡق َٰنَ ُكم ِمن ذَ َك ٖر َوأُنث َ َٰى َو َج َع ۡل َٰنَ ُك ۡم‬
َ ‫شعُوبٗ ا َوقَ َبا ِئ َل ِلت َ َع‬ ُ َّ‫َٰ َيأَيُّ َها ٱلن‬
١٣ ‫ير‬ٞ ِ‫ٱَّللَ َع ِلي ٌم َخب‬ َّ ‫ٱَّللِ أ َ ۡتقَ َٰى ُك ْۡۚم إِ َّن‬
َّ
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-
mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang
paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Q.S
Al-Hujurat, 49:13)
Ayat tersebut memberikan gambaran kepada kita tentang persamaan antara laki-laki dan
perempuan baik dalam hal ibadah (dimensi spiritual) maupun dalam aktivitas sosial (urusan karier
profesional). Ayat tersebut juga sekaligus mengikis tuntas pandangan yang menyatakan bahwa
antara keduanya terdapat perbedaan yang memarginalkan salah satu diantara keduanya. persamaan
tersebut meliputi berbagai hal misalnya dalam bidang ibadah
Laki-laki dan perempuan memiliki potensi dan peluang yang sama untuk menjadi hamba
Allah yang ideal yakni sebagai orang yang bertakwa (muttaqun). Allah Swt. memerintahkan
kepada manusia baik laki-laki maupun perempuan untuk beribadah tanpa kecuali dan Allah Swt.
hanya memandang perbedaan di antara mereka dari tingkat kemuliaan mereka dari sisi
ketakwaannya.
Dalam Q.S. Al-Baqarah, 2: 30 dijelaskan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki fungsi
yang sama yaitu sebagai khalifah di bumi dan akan mempertanggungjawabkan apa yang telah
mereka lakukan. Dari Q.S. Ali ‘Imran ayat 195, Q.S. An-Nisaa’ ayat 124, dan Q.S. An-Nahl ayat
97, dapat dipahami tentang konsep kesetaraan gender yang ideal dan pemberian ketegasan prestasi
individual dalam bidang spiritual maupun karier profesional yang tidak didominasi satu jenis
kelamin saja.
Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai keadilan dan persamaan mengandung
prinsip-prinsip kesetaraan seperti laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai hamba ( QS. Al-
Zariyat ayat 56),laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai khalifah di bumi.(QS.Al-
Baqarah:30), laki-laki dan perempuan sama-sama menerima perjanjian primordial (QS. Al-
A’raf:172, Adam dan hawa sama-sama aktif dalam drama kosmis bukan Hawa yang
mempengaruhi Adam untuk makan buah Huldi melainkan sama-sama tergoda dan sama-sama pula
bertobat kepada Allah (QS.Al-‘A’raf: 20 sampai 23), laki-laki dan perempuan berpotensi untuk
meraih prestasi optimal (QS.Al-Nahl:97).
Kesetaraan gender dalam Islam menekankan pada konsep yang digunakan untuk
mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi pengaruh sosial budaya.
Kesetaraan gender dalam Islam merupakan kesetaraan yang dibangun untuk menjaga hak dari
setiap laki-laki dan perempuan dan menjunjung serta memuliakan status mereka. Laki-laki dan
perempuan memiliki peran yang harus dilakukan masing-masing yang sesuai dengan kapasitas
mereka.

Daftar Pustaka

Suhra, S. (2013). Kesetaraan Gender dalam Perspektif Al-Qur’ an dan Implikasinya


terhadap Hukum Islam. Al-Ulum, 13(2), 373-394.
Muqoyyidin, A. W. (2013). Wacana Kesetaraan Gender: Pemikiran Islam Kontemporer
tentang Gerakan Feminisme Islam. Al-Ulum, 13(2), 490-511.
Suryorini, A. (2012). Menelaah Feminisme Dalam Islam. Sawwa: Jurnal Studi
Gender, 7(2), 21-36.
Hasyim, Z. (2013). Perempuan dan Feminisme dalam Perspektif Islam. MUWAZAH, 4(1).