Anda di halaman 1dari 19

KONFIGURASI ELEKTRODA METODE GEOLISTRIK

(Laporan Praktikum Metode Geolistrik)

Oleh
Regina Febryzha Sawitri
1715051029

LABORATORIUM TEKNIK GEOFISIKA


JURUSAN TEKNIK GEOFISIKA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
2018
Judul Praktikum : Konfigurasi Elektroda Metode Geofisika

Tanggal Percobaan : 28 September 2018

Tempat Percobaan : Laboratorium Teknik Geofisika

Nama : Regina Febryzha Sawitri

NPM : 1715051029

Fakultas : Teknik

Jurusan : Teknik Geofisika

Kelompok : VIII (delapan)

Bandar Lampung, 6 Oktober 2018


Mengetahui,
Asisten

Clara Armiliany
NPM. 1615051046

ii
KONFIGURASI ELEKTRODA METODE GEOLISTRIK
Oleh
Regina Febryzha Sawitri

ABSTRAK

Telah dilakukan praktikum Konfigurasi Elektroda Metode Geolistrik. Praktikum


ini dilakukan pada hari Jumat, 28 September 2018. Praktikum ini bertujuan agar
dapat mengetahui jenis-jenis konfigurasi elektroda, menghitung nilai K sesuai
dengan faktor geometri masing-masing konfigurasi elektroda, dan dapat
mengetahui sensitivitas masing-masing konfigurasi elektroda. Konfigurasi
elektroda adalah aturan-aturan penempatan atau peletakan elektroda arus dan
potensial sehingga mendapatkan suatu pola tertentu sesuai dengan tujuan yang
ingin dicapai. Jenis-jenis konfigurasi elektroda yang digunakan pada eksplorasi
geolistrik tahanan jenis adalah konfigurasi Schlumberger, konfigurasi Wenner,
konfigurasi Wenner-Schlumberger, konfigurasi Dipole-Dipole, konfigurasi Pole-
Pole, konfigurasi Pole-Dipole, dan konfigurasi Square. Setiap konfigurasi
elektroda memiliki faktor geometri yang berbeda-beda. Faktor geometri
merupakan multiplier atau faktor pengkali pada konfigurasi elektroda agar
didapatkan nilai resistivitas yang stabil. Masing-masing konfigurasi elektroda
memiliki sensitivitas yang berbeda-beda. Setiap konfigurasi memiliki kelebihan
dan kekurangan, yang mengharuskan saat survei geolistrik atau resistivity bekerja
dengan menyesuaikan konfigurasi yang digunakan sesuai tujuan dan hasil yang
ingin dicapai.

iii
DAFTAR ISI

Halaman
LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................... ii

ABSTRAK ...... .................................................................................................... iii

DAFTAR ISI ...................................................................................................... iv

DAFTAR GAMBAR.......................................................................................... v

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................................ 1
B. Tujuan Percobaan .................................................................................... 1

II. TEORI DASAR 2

III. PROSEDUR PERCOBAAN


A. Alat dan Bahan ......................................................................................... 4
B. Diagram Alir ............................................................................................ 4

IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


A. Data Pengamatan ..................................................................................... 6
B. Pembahasan ............................................................................................. 6

V. KESIMPULAN 9

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 10

LAMPIRAN ...................................................................................................... 11

ii
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1. Diagram Alir ..................................................................................... 4

iii
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bumi adalah sumber segala jenis kekayaan alam yang sampai sekarang belum
terjamah oleh manusia secara keseluruhan. Kebutuhan manusia terhadap jenis
material dalam tanah sekarang ini tidak bisa dihindari lagi, maka untuk
menyelesaikan masalah-masalah tersebut, perlu dilakukan studi kegeofisikaan.
Geofisika adalah ilmu yang mempelajari bumi dengan menggunakan metode
fisika dan logika geologi untuk mempelajari struktur bawah permukaan bumi.
Dalam pengaplikasiannya metode geofisika dapat menggunakan sumber-
sumber pengukuran yang berbeda. Salah satu sumber yang digunakan dapat
berupa sumber kelistrikan. Metode yang menggunakan sumber kelistrikan ini
salah satunya adalah metode resistivitas.

Metode geolistrik tahanan jenis adalah satu metode geofisika aktif yang
menggunakan sumber buatan dengan menginjeksikan listrik melalui elektroda
ke dalam bumi, untuk mengetahui persebaran resistivitas bawah permukaan
yang akan di interpretasi untuk menentukan informasi geologi bawah
permukaan.

Metode geolistrik resistivitas adalah salah satu metode yang cukup banyak
digunakan dalam dunia eksplorasi khususnya eksplorasi air tanah karena
resistivitas dari batuan sangat sensitif terhadap kandungan airnya. Dasar dari
metode ini yaitu dengan menganggap bumi sebagai suatu resistor.

B. Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut :
1. Dapat mengetahui jenis-jenis konfigurasi elektroda.
2. Dapat menghitung nilai K sesuai dengan faktor geometri masing-masing
konfigurasi elektroda.
3. Dapat mengetahui sensitivitas masing-masing konfigurasi elektroda.
II. TEORI DASAR

Geolistrik merupakan salah satu metode Geofisika untuk mengetahui perubahan


tahanan jenis lapisan batuan di bawah permukaan tanah dengan cara mengalirkan
arus listrik DC yang mempunyai tegangan tinggi ke dalam tanah. Injeksi arus
listrik ini menggunakan 2 buah elektroda arus A dan B yang ditancapkan ke
dalam tanah dengan jarak tertentu. Semakin panjang jarak elektroda AB akan
menyebabkan aliran arus listrik bisa menembus lapisan batuan lebih dalam.
Dengan adanya aliran arus listrik tersebut maka akan menimbulkan tegangan
listrik dalam tanah. Tegangan listrik yang terjadi di permukaan tanah diukur
dengan menggunakan multimeter yang terhubung melalui 2 buah “elektroda
tegangan” M dan N yang jaraknya lebih pendek dari jarak elektroda AB. Bila
posisi jarak elektroda AB diubah menjadi lebih besar maka tegangan listrik yang
terjadi (Broto dan Afifah, 2008).

Prinsip dasar metode geolistrik yaitu mengalirkan/menginjeksikan arus listrik


buatan berfrekuensi rendah ke dalam bumi melalui dua elektroda, yaitu dinamai
elektroda arus, dan distribusi potensial yang dihasilkan, diukur oleh dua elektroda
potensial. Besarnya potensial pada penetrasi yang sama, tergantung pada
pengaturan jarak antara elektroda sesuai dengan keperluan. Pengaturan ini pada
dasarnya dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok berdassarkan pada
kantitas fisik yang diukur, yaitu pengukuran yang bertujuan mencatat gradien
potensial dengan menggunakan pasangan elektroda yang berjarak rapat
(konfigurasi Schlumberger), pengaturran yang bertujuan untuk mencatat
perbedaan potensial antara dua elektroda pengukur dengan jarak lebar
(konfigutrasi Wenner), dan pengaturan yang bertujuan mencatat kelengkuangan
fungsi-fungsi potensial dengan menggunakan pasangan elektroda arus maupun
pengukur yang dipasang rapat (konfigurasi Pole-Dipole) (Todd, 1980).

Ketahanan spesifik listrik dari fluida pengeboran (larutan air garam atau suspensi
lumpur yang mengisi lubang bor) biasanya ditentukan dengan bantuan resistivity
meter yang baik, yang bagian utamanya terdiri dari catatan galian yang kecil.
3

Pengukuran dibuat sesuai dengan prosedur analog menggunakan logging


hambatan listrik. Ketahanan spesifik listrik dari cairan drilling ditentukan sesuai
dengan rumus berikut.

(Rast, 1962)

Resistivitymeter memiliki kapasitas 15 mA dan 400 voltase dengan penyimpanan


yang dilakukan oleh personal (12 volt) dan dua panel surya telah digunakan
sebagai sumber listrik. Untuk perlindugan eloktroda dan kabel terhadap hewan
pengerat, sebagian besar ditutupi dengan pipa fleksibel (Sijing dan Paul, 1997).

Aliran arus dalam medium didasarkan pada prinsip konservasi muatan dan
dinyatakan oleh relasi:

Dimana J adalah kerapatan arus (A/ dan q adalah densitas muatan (C/ ).
Hubungan ini juga dikenal sebagai “persaman kontinuitas”. Untuk arus stationer
dikurangi menjadi:

Jika adalah resistivitas (ohm.meter) dari medium, maka kerapatan arus J


berkaitan dengan intensitas medan listrik (V/m) dengan menggunakan Ohm
hukum, yang diberikan sebagai:

Dimana V adalah potensial listrik (volt). Untuk media isotropik, adalah fungsi
skalar dari titik pengamatan, dan J berada di dalam arah yang sama seperti .
Dalam medium anisotropik, bagaimanapun memiliki properti direktif dan,
secara umum, tidak ke arah . Ini membutuhkan beberapa modifikasi dalam
hukum Ohm (Bhattacharya dan Patra, 1968).

Tiga teknik geolistrik diterapkan: listrik horizontal profiling (HEP) dan suara
listrik vertikal (VES), dalam tomografi resistivitas listrik (ERT). Sebuah angka 16
HEP dilakukan menggunakan Terrameter SAS1000. Sebuah array pemenang
dilakukan dan ditata dalam orientasi NE-SW. Plot grafis dari resistivitas yang
jelas (ρa) versus AB / 2 untuk masing-masing terdengar diplot secara bersamaan.
Data geolistrik dibandingkan dengan data VLF-R secara kualitatif dan secara
kuantitatif. Lebih dari 23 VES dilakukan menggunakan Terrameter SAS1000.
4

Array shlumberger dilakukan dan ditata terutama dalam arah NW-SE sepanjang
menonjol fraktur fraktur ekstensional. Sebuah plot log-log dari ρa versus AB/2
untuk masing-masing terdengar diplot secara bersamaan dan terbalik. Perangkat
lunak IPI2Win untuk menghitung nilai resistivitas sebenarnya dan ketebalan
relatif mereka. Data HEP dibatasi oleh yang terdekat lokasi VES terbalik
(Mohamed, Brasse, Abdelgalil, dan Kheiralla, 2012).
III. METODOLOGI PERCOBAAN

A. Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah sebagai
berikut :
1. Kertas HVS
2. Alat tulis

B. Diagram Alir
Adapun diagram alir dari praktikum ini adalah sebagai berikut :

Mulai

Mencari jenis-jenis konfigurasi elektroda

Menggambarkan jenis-jenis konfigurasi

Menghitung nilai K konfigurasi

Menuliskan sensitivitas konfigurasi

Menganalisis konfigurasi untuk eksplorasi


air tanah dan bahan tambang (bijih besi)

Selesai

Gambar 1. Diagram Alir


IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Data Pengamatan
Adapun data hasil pengamatan dari praktikum kali ini terdapat pada lampiran.

B. Pembahasan
Konfigurasi elektroda adalah aturan-aturan penempatan atau peletakan
elektroda arus dan potensial sehingga mendapatkan suatu pola tertentu sesuai
dengan tujuan yang ingin dicapai. Dalam eksplorasi metode geolistrik terdapat
berbagai jenis konfigurasi elektroda, seperti konfigurasi Schlumberger,
konfigurasi Wenner, konfigurasi Wenner-Schlumberger, konfigurasi Dipole-
Dipole, konfigurasi Pole-Pole, konfigurasi Pole-Dipole, dan konfigurasi
Square. Dari berbagai jenis konfigurasi ini menentukan faktor geometri (K)
dan dari konfigurasi inilah yang menentukan hasil untuk interpretasi penentuan
nilai resistivitas bawah permukaan. Faktor geometri adalah besaran koreksi
letak kedua elektroda potensial terhadap letak kedua elektroda arus yang mana
letak elektroda tersebut mempengaruhi besarnya beda potensial diantara kedua
elektroda potensial tersebut. Konfigurasi Schlumberger pada Gambar 1. yang
terdapat di lampiran merupakan pengukuran yang dilakukan dengan cara jarak
elektroda arus dapat diubah tidak sama dengan jarak elektroda potensial.
Konfigurasi Schlumberger biasanya digunakan untuk sounding, yaitu
pengambilan data yang difokuskan secara vertikal. Konfigurasi Wenner,
pengukuran ini dilakukan dengan cara meletakkan titik-titik elektroda dengan
beda jarak satu sama lain yang sama. Elektroda yang bersebelahan akan
berjarak sama (AM=MN=NB=a) seperti pada Gambar 2. yang terdapat pada
lampiran. Konfigurasi Wenner-Schlumberger adalah konfigurasi dengan aturan
jarak spasi yang tetap dengan faktor n untuk konfigurasi Wenner-Schlumberger
dengan perbandingan jarak antara elektroda C1-P2 dengan spasi antara P1-P2.
Sehingga jika jarak antar elektroda potensial P1 dan P2 adalah a maka jarak
antar elektroda arus (C1 dan C2) adalah 2na+a seperti pada Gambar 3. yang
terdapat pada lampiran. Konfigurasi Dipole-Dipole yaitu konfigurasi dimana
sepasang elektroda antara arus dan potensial terpisah, jarak spasi antar
elektroda C1-C2 dan P1-P2 adalah a, sedangkan untuk jarak C1 dan P1 adalah
7

na, atau lebih singkat dinyatakan jarak antar dipole harus lebih besar seperta
pada Gambar 4. yang terdapat pada lampiran. Konfigurasi Pole-Pole adalah
konfigurasi dengan salah satu elektroda potensial dan elektroda arusnya
dibentangkan dengan jarak tak hingga, atau C1 dan P2 tak hingga, dimana
jarak antara B-M atau C2-P1 adalah a seperti pada Gambar 5. yang terdapat
pada lampiran. Konfigurasi Pole-Dipole adalah konfigurasi elektrodanya salah
satu dari elektroda potensial atau P2 dibentangkan pada jarak tak hingga,
sedangkan untuk jarak spasi C1-C2 yaitu a dan jarak spasi C2 dan P1 adalah na
seperti pada Gambar 6. yang terdapat pada lampiran. Konfigurasi Square
adalah konfigurasi yang menggunakan bentuk kotak dimana jarak spasi C1-C2,
C1-P1, dan P1-P2 adalah a seperti pada Gambar 7. Yang terdapat pada
lampiran. Kesensitifan konfigurasi ini yaitu dalam sounding dan mapping,
sangat sensitif untuk medan anisotropis di bawah permukaan, seperti dip atau
strike.

Setiap konfigurasi memiliki kelebihan dan kekurangan, yang mengharuskan


geophysicist menyesuaikan konfigurasi yang digunakan sesuai tujuan dan hasil
yang ingin dicapai. Kelebihan dari konfigurasi Schlumberger adalah dapat
mendeteksi adanya non-homogenitas lapisan batuan pada permukaan dengan
biaya survei yang relatif murah. Sedangkan kelemahannya adalah pembacaan
pada elektroda MN kecil ketika AB berada sangat jauh, hampir melewati batas
eksentrisitasnya. Konfigurasi Wenner memiliki kelebihan dalam ketelitian
pembacaan karena memiliki nilai eksentrisitas yang tidak terlalu besar atau
bernilai sebesar 1/3. Konfigurasi ini juga salah satu metode dengan sinyal yang
bagus. Kelemahan dari konfigurasi ini adalah tidak bisa mendeteksi
homogenitas batuan di dekat permukaan yang bisa berpengaruh terhadap hasil
perhitungan. Selain itu, konfigurasi ini membutuhkan biaya yang lebih mahal
jika dibandingkan dengan konfigurasi yang lain karena setiap berpindah, maka
kabel harus diganti dengan yang lebih panjang. Konfigurasi Wenner-
Schlumberger memiliki kelebihan cakupan secara horizontal, penetrasi
kedalaman yang baik. Sangat sensitif terhadap perubahan horizontal oleh sebab
itu baik untuk survei kedalaman. Kelemahannya membutuhkan waktu eksekusi
sangat lama saat melakukan pengukuran. Keunggulan dari konfigurasi Dipole-
Dipole sangat baik untuk penetrasi kedalaman, dan CST. Untuk kesensitifan
yang tinggi untuk arah horizontal dan sedang untuk arah vertikal, untuk
memperoleh data maksimal maka harus lebih banyak elektroda namun ini juga
menyebabkan sinyal yang ditangkap rendah, sehingga konfigurasi ini sangat
baik untuk survei mapping horizontal. Kelemahannya pengukuran medan
listrik menjadi sulit pada jarak pengukuran yang cukup jauh. Hasil akhir
pengukuran konfigurasi Pole-Pole didapatkan distribusi potensial daerah
penelitian yang merupakan respon distribusi muatan di bawah permukaan.
Kelebihan dari konfigurasi Pole-Dipole yang memiliki penetrasi yang lebih
8

dalam, kelemahan dari konfigurasi Pole-Dipole adaah tingkat akurasi dari


posisi benda atau objek yang kurang akurat, hal ini disebabkan oleh konfigurasi
elektroda yang tidak simetris. Keuntungan konfigurasi Square yaitu lebih
sensistif dalam perlakuan medan anisotropik di bawah permukaan seperti
strike.

Konfigurasi elektroda metode geolistrik banyak digunakan untuk aplikasi


eksplorasi. Seperti metode geolistrik konfigurasi Schlumberger merupakan
metode yang banyak digunakan untuk mengetahui karakteristik lapisan batuan
bawah permukaan, untuk analisis kandungan air, resistivity mapping dan
sounding. Konfigurasi Wenner digunakan untuk mengetahui variasi resistivitas
lapisan bawah permukaan secara horizontal dan untuk menentukan struktur
tanah. Konfigurasi Wenner-Schlumberger digunakan untuk mengukur nilai
resistivitas material bawah tanah seperti kedalaman, ketebalan suatu material,
dan penyebaran material serta dapat melihat retakan dan patahan juga
digunakan untuk survei bidang gelincir, sungai bawah tanah, dan geoteknik.
Konfigurasi Dipole-Dipole digunakan untuk mendapatkan gambaran bawah
permukaan pada objek yang penetrasinya relatif lebih dalam, untuk survei
mapping horizontal seperty dyke ataupun rongga yang dangkal. Konfigurasi
Pole-Pole dapat digunakan untuk menentukan sebaran dan kedalaman batuan
sedimen dan digunakan untuk survei geolistrik 3D. Konfigurasi Square
digunakan untuk mapping dan estimasi arah strike.

Sensitivitas konfigurasi elektroda berbeda antara satu sama lain. Seperti


konfigurasi Dipole-Dipole memiliki nilai sensitivitas terbesar berada di antara
elektroda C1-C2 dan P1-P2. Sehingga konfigurasi ini memiliki sensitivitas
tinggi ke arah horizontal sedangkan nilai sensitiftas ke arah vertikal sedang.
Konfigurasi Wenner-Schlumberger, nilai sensitivitas positif yang tinggi berada
di bawah P1-P2 menjadi menyebar mendekati C1-C2. Metode ini tidak terlalu
sensitif terhadap perubahan horizontal. Konfigurasi Schlumberger ini sensitif
terhadap arah vertikal (sounding). Konfigurasi Wenner dibagi menjadi Wenner
alpha,Wenner beta, dan Wenner gamma yang memilliki sensitivitas yang
berbeda-beda.Wenner alpha memiliki nilai sensitivitas paling besar di bawah
pusat konfigurasi. Oleh sebab itu konfigurasi ini sensitif terhadap perubahan
vertikal dan kurang sensitif terhadap perubahan horizontal. Wenner beta lebih
sensitif terhadap perubahan horizon dibandingkan Wenner alpha. Wenner
gamma jarang digunakan karena tidak sensitif terhadap perubahan vertikal
maupun horizontal. Untuk konfigurasi Pole-Pole dan Pole-Dipole sensitif
terhadap arah vertikal dan horizontal (sounding dan mapping). Konfigurasi
Square lebih sensitif dalam perlakuan medan anisotropik di bawah permukaan
seperti strike.
V. KESIMPULAN

Dari hasil percobaan yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut :
1. Konfigurasi elektroda adalah aturan-aturan penempatan atau peletakan
elektroda arus dan potensial sehingga mendapatkan suatu pola tertentu sesuai
dengan tujuan yang ingin dicapai.
2. Jenis-jenis konfigurasi elektroda yang digunakan pada eksplorasi geolistrik
tahanan jenis adalah konfigurasi Schlumberger, konfigurasi Wenner,
konfigurasi Wenner-Schlumberger, konfigurasi Dipole-Dipole, konfigurasi
Pole-Pole, konfigurasi Pole-Dipole, dan konfigurasi Square.
3. Setiap konfigurasi elektroda memiliki faktor geometri yang berbeda-beda.
Faktor geometri merupakan multiplier atau faktor pengkali pada konfigurasi
elektroda agar didapatkan nilai resistivitas yang stabil.
4. Masing-masing konfigurasi elektroda memiliki sensitivitas yang berbeda-beda.
Konfigurasi Dipole-Dipole memiliki sensitivitas tinggi ke arah horizontal,
konfigurasi Wenner-Schlumberger sensitif terhadap fungsi mapping,
konfigurasi Wenner memeliki sensitivitas paling baik dalam fungsi mapping,
konfigurasi Pole-Pole dan Pole-Dipole sensitif terhadap arah vertikal dan
horizontal (sounding dan mapping), konfigurasi Square lebih sensitif dalam
perlakuan medan anisotropik di bawah permukaan.
5. Setiap konfigurasi memiliki kelebihan dan kekurangan, yang mengharuskan
saat survei geolistrik atau resistivity bekerja dengan menyesuaikan konfigurasi
yang digunakan sesuai tujuan dan hasil yang ingin dicapai.
LAMPIRAN
Gambar 1. Konfigurasi Schlumberger

Gambar 2. Konfigurasi Wenner

Gambar 3. Konfigurasi Wenner-Schlumberger


Gambar 4. Konfigurasi Dipole-Dipole

Gambar 5. Konfigurasi Pole-Pole

Gambar 6. Konfigurasi Pole-Dipole


Gambar 6. Konfigurasi Square

Gambar 7. Hasil pengecekan plagiarisme