Anda di halaman 1dari 10

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/323885379

Ekstrak Singkong sebagai Substrat pada Produksi Xanthan Gum


Menggunakan Xanthomonas campestris

Conference Paper · October 2010

CITATIONS READS

0 963

2 authors, including:

Ronny Purwadi
Bandung Institute of Technology
32 PUBLICATIONS   209 CITATIONS   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Syngas fermentation for bioethanol production View project

Xanthan-gum production View project

All content following this page was uploaded by Ronny Purwadi on 20 March 2018.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Seminar Teknik Kimia Soehadi Reksowardojo 2010

Ekstrak Singkong sebagai Substrat pada Produksi Xanthan Gum


Menggunakan Xanthomonas campestris
Ronny Purwadi dan Hanny Lim

Program Studi Teknik Kimia – Fakultas Teknologi Industri – Institut Teknologi Bandung,
Jalan Ganesha 10 Bandung 40132, Tel. 022-2500989, Fax. 022-2501438
Email: ronny.purwadi@che.itb.ac.id

Abstrak. Xanthan gum dikenal sebagai bahan aditif di industri pangan, farmasi, kosmetik,
pertanian bahkan di bidang perminyakan. Bahan ini digunakan sebagai pengental dan
penyetabil emulsi. Xanthan gum diproduksi melalui fermentasi menggunakan bakteri
Xanthomonas campestris. Karena kultivasi ini memerlukan nutrisi lengkap, cairan ekstrak
tumbuhan dapat menyediakan nutrisi ini. Penelitian ini melaporkan penggunaa air perasan
singkong sebagai substrat produksi xanthan gum. Produksi xanthan gum dilakukan pada
labu Erlenmeyer 1000 mL pada temperatur kamar selama 120 jam. Selain itu, kultivasi
dilakukan pada bioreaktor 3 liter dengan laju pengadukan 100 dan 150 rpm. Pemisahan
xanthan gum dilakukan menggunakan aseton, etanol dan isopropil alkohol. Hasil percobaan
menunjukkan bahwa air perasan singkong dapat meningkatkan viskositas hingga hampir
600%. Selain itu, produksi xanthan gum dengan laju putar rendah menghasilkan xanthan
gum yang memiliki kualitas dua kali lebih tinggi. Pemisahan menggunakan isopropil
alkohol lebih efektif dan melalui analisis FTIR, xanthan gum yang dihasilkan memiliki
karakteristik yang mirip dengan produk komersial.

Kata kunci: xanthan gum, Xanthomonas campestris, cassava, cultivation.

1 Introduction/Pendahuluan
Xanthan gum merupakan salah satu bahan pengental alternatif yang sering digunakan
dalam industri pangan karena mampu meningkatkan viskositas bahan pangan hanya
dengan sedikit sekali penambahan [1]. Pengental ini sering digunakan dalam makanan
sebagai pengendali tekstur atau pemberi sensasi lembut di lidah konsumen, misalnya pada
sambal/saos, es krim, sirup, gula-gula dan sebagainya. Di samping itu, xanthan gum
sering digunakan sebagai agen pembentuk dan pengemulsi pada aplikasi non-pangan
seperti pada kosmetik dan obat-obatan. Xanthan gum juga digunakan untuk mengikat
minyak dalam proses luapan air pada meningkatkan perolehan minyak (Enhance Oil
Recovery) di pengeboran minyak bumi. Aplikasi xanthan gum di industri-industri tersebut
terkait dengan sifat xanthan gum yaitu: mudah larut dalam air panas maupun air dingin;
larutannya merupakan fluida non-newtonian [1, 2]; sifat pseudoplastisitas yang tinggi;
dan memiliki kemampuan untuk meningkatkan viskositas larutan dengan hanya
penambahan dalam jumlah kecil saja [3].

Xanthan gum diproduksi secara fermentasi dengan menggunakan bakteri Xanthomonas


campestris. Penelitian dalam rangka meningkatkan produksi xanthan gum telah dilakukan
Ronny Purwadi dan Hanny Lim

meliputi penggunaan berbagai jenis medium/substrat alternatif seperti molase dan limbah
gula bit [4, 5], hidrodinamika fermentasi terhadap jenis pengaduk [6, 7], modus produksi
[8], temperatur, pH, dan transfer oksigen [9-12].

Penelitian tentang produksi xanthan gum dari bahan baku lokal telah dilakukan. Paramita
dan Rizki [13] telah melakukan kajian awal produksi xanthan gum dengan fokus pada
penentuan agen pertumbuhan yang dapat merangsang pembentukan xanthan gum.
Penelitian tersebut juga mengisyaratkan bahwa penggunaan bahan alam seperti singkong
dapat meningkatkan perolehan xanthan gum. Sayangnya, hasil penelitian ini tidak disertai
dengan data yang cukup akurat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat
keunggulan singkong sebagai substrat dalam produksi xanthan gum secara kuantitatif.
Selain itu, penelitian ini juga mencari kondisi pengadukan yang baik dalam produksi
xanthan gum dari pati singkong mengingat substrat yang digunakan ini juga memiliki
viskositas yang tinggi. Pengujian kualitas produk yang dihasilkan juga disajikan dalam
penelitian ini.

2 Material dan Metode

2.1 Mikroorganisme
Xanthomonas campestris yang diperoleh dari Laboratorium Bakteriologi - Institut
Pertanian Bogor digunakan dalam penelitian ini. Bakteri tersebut disimpan dalam
medium agar dengan komposisi (g/L): 10 K2HPO4, 2 yeast extract, 0.5 MgSO4.7H2O, 35
sukrosa, dan 15 agar. Inkubasi dilaksanakan selama 2 hari pada temperatur ruang sebelum
digunakan.

2.2 Kultivasi dengan Air Perasan Singkong


Pengujian keunggulan air perasan singkong secara kuantitatif dilaksanakan dengan
membandingkan hasil produksi xanthan gum dari air perasan singkong dan glukosa. Air
perasan singkong disiapkan dengan menggiling campuran singkong (dari pasar lokal) dan
air dalam sebuah blender. Konsentrasi air perasan singkong diatur sedemikian rupa
sehingga memiliki kandungan glukosa ekivalen yang sama dengan larutan glukosa yang
digunakan. Medium disiapkan dengan komposisi (g/L) per 100 g/L glukosa: 1.25
K2HPO4; 1 yeast extract; 0.125 MgSO4·7H2O; 0.5 malt extract, dan 100 ekstrak kol.
Setelah proses sterilisasi, pH medium diatur agar netral. Kultivasi dilaksanakan di dalam
sebuah Erlenmeyer 1000 mL. Sebanyak 300 mL medium dicampurkan dengan 5%-v
inokulum untuk mengawali kultivasi. Erlenmeyer ditempatkan di atas shaker (pada
kecepatan 110 rpm) pada temperatur kamar. Sampel sebanyak 10 mL diambil setiap 24
jam dan disimpan pada 4°C sebelum dianalisis. Selama kultivasi berlangsung, pH
medium tidak dikendalikan agar produksi xanthan gum dapat terus berlanjut hingga tahap
stasioner [14].
Ekstrak Singkong sebagai Substrat pada Produksi Xanthan Gum Menggunakan
Xanthomonas campestris

2.3 Pengaruh Kecepatan Pengadukan terhadap Produktifitas Xanthan Gum


Kultivasi dalam bioreaktor 3 liter dilakukan untuk melihat pengaruh laju pengadukan
terhadap produktivitas xanthan gum. Bioreaktor dilengkapi pengaduk dengan 3 buah
impeler dan baffle sedangkan udara dipasok dari bagian bawah bioreaktor. Kultivasi
dilaksanakan dengan volum kerja 2 liter menggunakan medium dan inokulum seperti
pada percobaan dengan Erlenmeyer. Laju pengadukan diatur pada 100 dan 150 rpm.
Sampel sebanyak 10 mL diambil setiap 24 jam dan disimpan pada 4°C sebelum
dianalisis. Xanthan gum yang terbentuk dipisahkan dengan menggunakan isopropil
alkohol, etanol dan aseton.

2.4 Analisis
Viskositas larutan diukur dengan menggunakan viskometer Cannon-Fenske. Secara
kualitatif, peningkatan viskositas larutan dapat menunjukkan terbentuknya xanthan gum
selama kultivasi berlangsung. Biomassa yang terbentuk diukur secara gravimetri. Pati
yang tersisa dianalisis dengan cara mencampurkan sampel dengan reagen KI/I2 dan
konsentrasi pati ditentukan dengan mengukur absorbansi larutan menggunakan
spektrofotometer. Kualitas xanthan gum kering yang dihasilkan dalam penelitian ini
dianalisis menggunakan FTIR. Spektrum IR xanthan gum yang diperoleh dibandingkan
terhadap spektrum IR dari produk xanthan gum komersial (Keltrol®).

3 Hasil dan Pembahasan

3.1 Produksi Xanthan Gum dengan Air Perasan Singkong


Penggunaan substrat alternatif merupakan salah satu tantangan dalam produksi xanthan
gum. Beberapa penelitian telah dilakukan dalam rangka mencoba substrat lain selain
glukosa di antaranya: sukrosa dan maltosa [15]; molase [4]; dan pati [16]. Pada penelitian
sebelumnya [13], telah dilaporkan secara kualitatif bahwa air perasan singkong
menghasilkan yield xanthan gum yang lebih baik dibandingkan yield dari glukosa.
Walaupun demikian, konsentrasi substrat yang digunakan dalam kultivasi tersebut tidak
dibandingkan secara akurat. Dalam penelitian ini konsentrasi air perasan singkong diatur
sedemikian rupa sehingga jumlah pati yang terkandung di dalam air perasan singkong
sama dengan jumlah glukosa yang digunakan dalam larutan glukosa referensi.

Tabel 1 Viskositas relatif larutan kultivasi xanthan gum setelah 6 hari.


Jenis Substrat μ/ μ0
Air perasan singkong 7.8 ± 4.6
Glukosa 1.3 ± 0.3

Kenaikan viskositas dapat mewakili jumlah xanthan gum yang dihasilkan karena
viskositas merupakan sifat fisik xanthan gum yang penting dan mudah diukur secara
Ronny Purwadi dan Hanny Lim

langsung. Viskositas yang tinggi menunjukkan kualitas xanthan gum yang baik [16].
Hasil kultivasi setelah 6 hari menunjukkan bahwa viskositas larutan kultivasi dengan air
perasan singkong kira-kira 6 kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang dihasilkan dari
glukosa (Tabel 1). Berbeda dari glukosa, air perasan singkong masih mengandung
berbagai senyawa ikutan yang berasal dari sel umbi singkong yang pecah akibat
penggilingan. Senyawa-senyawa ini diperkirakan mempengaruhi pertumbuhan dan
pembentukan xanthan gum. Namun, kandungan senyawa-senyawa tersebut sangat
dipengaruhi oleh kondisi singkong yang digunakan. Hal ini ditunjukkan dengan deviasi
viskositas yang cukup besar antara satu tempuhan dengan tempuhan lainnya. Walaupun
demikian, hasil percobaan ini menunjukkan secara signifikan bahwa air perasan singkong
merupakan salah satu bahan baku alternatif yang baik untuk produksi xanthan gum.

6
1.0

5
0.8
4
0.6

C/C0
µ/µ0

0.4
2

1 0.2

0 0.0
0 2 4 6 8 10
Waktu (hari)

Gambar 1 Profil kultivasi X. campestris dalam bioreaktor menggunakan air perasan


singkong sebagai substrat: peningkatan viskositas larutan pada laju putaran pengaduk (p)
100 rpm dan (r) 150 rpm dan konsentrasi pati (C/C0) pada (˜) 100 rpm dan (™) 150 rpm.

3.2 Produksi Xanthan Gum dalam Bioreaktor


Produksi xanthan gum dengan substrat air perasan singkong dalam bioreaktor bertujuan
untuk mengetahui pengaruh pengadukan terhadap produktivitas xanthan gum. Laju
putaran pengaduk sebesar 100 dan 150 rpm digunakan untuk melihat pengaruh laju
pengadukan ini. Percobaan ini sangat penting dilaksanakan karena proses produksi di
dalam Erlenmeyer sangat berbeda dengan proses produksi di dalam bioreaktor, terutama
berkaitan dengan hidrodinamika. Larutan baik sebelum kultivasi maupun setelah xanthan
gum terbentuk memiliki viskositas yang relatif tinggi dibandingkan dengan larutan encer
biasa. Di sini, pengadukan yang biasanya digunakan untuk menjaga larutan kultivasi agar
tetap homogen serta membantu melarutkan oksigen menjadi sangat berpengaruh.
Ekstrak Singkong sebagai Substrat pada Produksi Xanthan Gum Menggunakan
Xanthomonas campestris

Kultivasi di dalam bioreaktor dilaksanakan secara partaian (batch). Dalam tiga hari
pertama, substrat terkonsumsi dengan cepat, namun viskositas larutan hanya meningkat
dua kali lipat dibandingkan viskositas awal (Gambar 1). Setelah substrat habis
terasimilasi, viskositas larutan meningkat secara signifikan, hingga 500% pada
pengadukan dengan laju 100 rpm. Pada hari ke-6 dan ke-7, peningkatan viskositas mulai
melambat dan setelah itu viskositas relatif konstan. Dari fakta ini, dapat disimpulkan
bahwa xanthan gum merupakan produk yang tidak berasosiasi dengan pertumbuhan (non-
growth associated product). Selama tiga hari pertama, substrat digunakan oleh sel untuk
tumbuh tetapi tidak terarah kepada pembentukan xanthan gum sehingga pembentukan
xanthan gum relatif lambat. Setelah substrat habis, sel mulai memproduksi xanthan gum
dan viskositas larutan meningkat drastis dibandingkan dengan sebelumnya. Hal ini cocok
dengan pemahaman bahwa xanthan gum diproduksi oleh sel sebagai sarana untuk
menempel pada sumber makanan. Xanthomonas campestris terdapat di alam sebagai
hama/penyakit pada kubis. Bakteri ini menghasilkan xanthan gum sebagai media untuk
menempel pada kubis sebagai sumber makanannya. Karena itu, dalam keadaan tertekan
seperti kekurangan substrat untuk tumbuh, sel akan aktif untuk membentuk xanthan gum.

Laju pengadukan yang lebih rendah akan menghasilkan peningkatan viskositas yang lebih
tinggi. Dengan laju pengadukan 100 rpm diperoleh peningkatan viskositas dua kali lebih
besar dibandingkan dengan laju pengadukan 150 rpm. Hal ini mungkin disebabkan oleh
turunnya jumlah oksigen yang terlarut di dalam larutan kultivasi. Penurunan oksigen akan
berakibat pada tingkat stress yang lebih tinggi bagi sel, dan ini mungkin saja dapat
memicu sel untuk membentuk xanthan gum.

Tabel 2 Konsentrasi sel dan yield xanthan gum pada kultivasi dengan laju putaran
pengaduk 100 dan 150 rpm.
Laju putaran pengaduk (rpm)
100 150
Konsentrasi sel (g/L) 0.017±0.002 0.018±0.009
Yield xanthan gum (g/g) 0.025±0.002 0.023±0.002

Laju pengadukan tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konsentrasi sel
dan perolehan (yield) xanthan gum (Tabel 2), padahal viskositas larutan kultivasi di
kedua laju pengadukan tersebut jauh berbeda. Hal ini mungkin disebabkan oleh
perbedaan struktur polimer xanthan gum yang terbentuk. Pada laju pengadukan rendah,
polimer xanthan gum yang terbentuk memiliki berat molekul yang lebih tinggi sehingga
menghasilkan efek pengentalan yang lebih tinggi pula. Dengan meningkatnya
pengadukan, walaupun hanya 50% saja, pembentukan polimer xanthan gum mengarah
kepada pembentukan polimer xanthan gum yang memiliki berat molekul lebih rendah
sehingga memberikan efek pengentalan yang juga lebih rendah. Tentunya, kepastian dari
hipotesis ini perlu dibuktikan dengan analisis polimer xanthan gum yang lebih seksama.
Namun, secara praktis dapat disimpulkan bahwa produksi xanthan gum pada laju
Ronny Purwadi dan Hanny Lim

pengadukan yang lebih rendah akan memberikan kualitas xanthan gum yang lebih baik,
yaitu xanthan gum yang memberikan efek pengentalan yang lebih tinggi.

Gambar 2 Pemisahan xanthan gum dari supernatant menggunakan (A) aseton, (B) etanol
dan (C) isopropil alkohol (IPA). Berbagai perlakuan dilakukan pada pemisahan dengan
IPA: (D) langsung, (E) didinginkan dulu, dan (F) dipanaskan dulu.

3.3 Pemisahan Xanthan Gum


Xanthan gum larut dalam larutan kultivasi sehingga langkah pertama pemisahan xanthan
gum adalah memisahkan padatan yang terkandung dalam larutan kultivasi. Hal ini
dilakukan dengan sentrifugasi dimana serat singkong dan sel terpisah dari supernatant
yang mengandung xanthan gum. Xanthan gum di dalam supernatant dapat dipisahkan
lebih lanjut dengan menggunakan pelarut isopropil alkohol (IPA), aseton dan etanol [14].
Supernatant dicampurkan dengan masing-masing pelarut dengan perbandingan 1:2.
Pelarut IPA dapat menggumpalkan xanthan gum dengan lebih baik dibandingkan dengan
dua pelarut yang lain (Gambar 2A-C). Penggunaan aseton sangat tidak efektif karena
menghasilkan gumpalan-gumpalan xanthan gum yang tipis sehingga menyulitkan
pengambilannya. Berbeda dengan aseton, penggunaan IPA dapat menggumpalkan
xanthan gum lebih rapat sehingga proses pengambilannya menjadi lebih mudah.
Walaupun demikian, pada penggumpalan menggunakan IPA masih tersisa gumpalan-
gumpalan kecil yang sulit untuk diambil dengan tangan. Penyaringan diperlukan untuk
memisahkan gumpalan kecil ini agar tidak terbuang bersama pelarut atau menyulitkan
pada proses daur ulang pelarut. Perlakuan awal sebelum penggumpalan dapat
meningkatkan keefektifan penggumpalan. Dengan mendinginkan atau memanaskan
supernatant terlebih dahulu, penggumpalan dapat menjadi lebih efektif (Gambar 2D-F).
Perlakuan awal dengan pemanasan supernatant menghasilkan gumpalan yang sempurna
dimana tidak terdapat lagi gumpalan-gumpalan kecil yang dapat menyulitkan
pengambilan xanthan gum.
Ekstrak Singkong sebagai Substrat pada Produksi Xanthan Gum Menggunakan
Xanthomonas campestris

3.4 Kemurnian Xanthan Gum yang Dihasilkan


Polimer xanthan gum terdiri dari komponen-komponen glukan-, mannan-, glukoronat,
piruvat dan asetat yang masing-masing mengandung gugus-gugus fungsi –OH, - CH2, -
CO, -COO- [17]. Gugus-gugus fungsi ini dapat dideteksi keberadaannya menggunakan
Fourier Transform Infra Red Spectrophotometry (FTIR). Untuk menguji kualitas xanthan
gum yang dihasilkan dalam penelitian ini, produk padat yang telah dihasilkan dianalisis
menggunakan FTIR. Hasil pengujian ini dibandingkan terhadap xanthan gum komersial
yang dijadikan sebagai standar. Hasil pengujian menunjukkan bahwa spektrum dari
sampel mirip dengan spektrum yang dihasilkan oleh standar (Gambar 3). Demikian
halnya dengan identifikasi puncak-puncak gugus fungsi, keberadaan puncak sampel dan
standar tidak memberikan perbedaan yang signifikan (Tabel 3).

Gambar 3 Perbandingan kurva puncak-puncak IR standar dan sampel xanthan gum


Perbedaan tinggi puncak sampel dan puncak standar diakibatkan oleh kandungan air yang
lebih banyak di dalam standar. Kandungan air ini menyebabkan spektrum FTIR yang
terbentuk menjadi lebih landai.

Tabel 3 Spektra FTIR standar dan sampel xanthan gum


Puncak
Gugus
Standar Sampel
-OH 3429.43 3425.28
-CH2 2920.23 2926.01
-CO 1625.99 1659.85
-COO 1409.96 1408.04
C-O-C- 1276.88 1280.73
Ronny Purwadi dan Hanny Lim

4 Kesimpulan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa xanthan gum dapat diproduksi dari air perasan
singkong, bahan yang keberadaannya melimpah di Indonesia. Bahan ini telah terbukti
dapat menghasilkan xanthan gum dengan kualitas yang mirip dengan produk xanthan
gum komersial. Selain itu, dalam penelitian ini juga telah diketahui bahwa xanthan gum
bukan merupakan produk yang dihasilkan saat sel tumbuh (non-growth associated
product) sehingga perlu strategi kultivasi khusus untuk mengoptimumkan produksinya.
Laju pengadukan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas produk. Telah
ditunjukkan bahwa laju pengadukan yang rendah menghasilkan produk yang lebih
berkualitas.

Walaupun demikian, masih terdapat banyak hal yang masih harus dikerjakan untuk
mendapatkan suatu rumusan produksi xanthan gum yang baik dan optimal. Peran
pengadukan dan aerasi yang dapat membatasi reaksi katabolisma sel dapat dijadikan
pedoman untuk menghasilkan xanthan gum yang lebih tinggi. Demikian halnya dengan
pembatasan nutrisi non-karbon untuk menghentikan pertumbuhan namun tidak
menghalangi pasokan sumber karbon sebagai bahan baku xanthan gum sendiri. Terakhir,
masalah pemisahan produk yang masih harus dioptimalkan.

Ucapan Terima Kasih

Penelitian ini didanai oleh Direktorat Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan


Nasional melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2009.

Daftar Simbol

Co : Konsentrasi awal pati


C : konsentrasi pati tiap saat
µ : viskositas cairan

Daftar Pustaka

1. Katzhauer, B., Properties and applications of Xanthan gum. Polymer and


Degradation Stability, 1997. 59: p. 81-84.
2. Smolka, L.B. and A. Belmonte, Charge screening effects on filament dynamics in
xanthan gum solutions. Journal of Non-Newtonian Fluid Mechanics, 2006. 137:
p. 103-109.
3. Rosalam, S. and R. England, Review of Xanthan Gum Production from
Unmodified Starches by Xanthomonas campestris sp. Enzyme and Microbial
Technology, 2006. 39: p. 197-2-7.
4. Kalogiannis, S., et al., Optimization of xanthan gum production ny Xanthomonas
campestris grown in molasses. Process Biochemistry, 2003. 39: p. 249-256.
Ekstrak Singkong sebagai Substrat pada Produksi Xanthan Gum Menggunakan
Xanthomonas campestris

5. Yoo, S.D. and S.W. Harcum, Xanthan gum production from waste sugar beet
pulp. Bioresource Technology, 1999. 70: p. 105-109.
6. Funahashi, H., et al., Mechanistic analysis of Xanthan Gum production in a
stirred tank. Journal of Fermentation Technology, 1988. 66: p. 355-364.
7. Nakajima, S., H. Funahashi, and T. Yoshida, Xanthan gum production in a
fermentor with twin impellers. Journal of Fermentation and Bioengineering,
1990. 70(6): p. 392-397.
8. Cacik, F., R.G. Dondo, and D. Marque's, Optimal control of a batch bioreactor
for the production of Xanthan gum. Computer and Chemical Engineering, 2001.
25: p. 409-418.
9. Flores, F., L.G. Torres, and E. Galindo, Effect of the dissolved oxygen tension
during cultivation of X. campestris on the production and quality of Xanthan
Gum. Journal of Biotechnology, 1994. 34: p. 165-173.
10. Garci'a-Ochoa, F., G.m. Castro, and V.E. Santos, Oxygen transfer and uptake
rates during xanthan gum production. Enzyme and Microbioal Technology,
2000. 27: p. 680-690.
11. Garcia-Ochoa, F., V.E. Santos, and A. Alcon, Xanthan gum production: an
unstructured kinetic model. Journal of Enzyme and Microbial Technology, 1995.
17: p. 206-217.
12. Psomas, M.S.K., Liakopoulou-Kyriakidesa, and D.A. Kyriakidis, Optimization
study of xanthan gum production using response surface methodology. Journal of
Biochemical Engineering 2007. 35: p. 273-280.
13. Paramita, F. and Z. Rizki, Studi awal pembuatan xanthan gum sebagai bahan
aditif pangan, in Chemical Engineering. 2008, Institut Teknologi Bandung:
Bandung.
14. Garci'a-Ochoa, F., et al., Xanthan gum: production, recovery, and properties.
Biotechnology Advances, 2000. 18: p. 549-579.
15. Rosalam, S. and R. England, Review of xanthan gum production from unmodified
starches by Xanthomonas campestris sp. . Enzyme and Microbioal Technology,
2006. 39: p. 197-207.
16. Sikora, M., et al., Rheological and sensory properties of dessert sauces thickened
by starch-xanthan gum combinations. Journal of Food Engineering, 2007. 79: p.
1144-1151.
17. Baig, S., Biosynthesis of xanthan gum by locally isolated Xanthomonas species.
1984, University of The Punjab.

View publication stats