Anda di halaman 1dari 15

BAB I

TUJUAN

Tujuan Percobaan
Menentukan Kadar Cu++ dalam sampel air sumur

28 Laporan Praktikum Kimia Dasar Teknik Kimia 1| Universitas 17 Agustus


1945
BAB II
METODE

Metode Tak Langsung

Analisa ini terbagi menjadi 2 metode yaitu metode langsung atau yang
sering disebut iodimetri, yang kedua adalah metode tak langsung atau yang
disebut iodometri. Pada percobaan kali ini yang digunakan adalah iodometri
atau cara tak langsung. Iodine bebas seperti halogen lain dapat menangkap
electron dari zat pereduksi, sehingga iod sebagai oksidator. Ion I- siap
memberikan electron dengan adanya zat penangkap electron, sehingga I-
bertindak sebagai pereduksi(Wikipedia). Metode Iodometri dalam analisis
volumetric didasarkan pada proses oksidasi reduksi yang melibatkan:

I2 + 2e ↔ 2I-

Dengan melihat potensial I2/I- dapat dilihat bahwa potensial standar


yang relatf lemah dibanding KMnO4 dan K2C2O7 artinya I merupakan oksidator
yang lemah namun reduktor yang cukup kuat dibanding dengan Cr3+ dan Mn2+.
Iod bebas bereaksi dengan larutan natrium tiosulfat sbb:

2 Na2S2O3 + I2 ↔ 2 NaI + Na2S4O6

Pada reaksi tersebut terbentuk senyawa natrium tetrationat Na2S4O6


garam dari asam tetrationat. Reaksi Iodometri yang paling penting ini dapat
ditulis dalam bentuk ion sebagai berikut.

2S2O3- + I2 ↔ 2 I- + S4O6-

2S2O3- ↔ S4O6- + 2e

1 grek natrium tiosulfat = 1 mol

1 grek I2 = 1⁄2 grol

29 Laporan Praktikum Kimia Dasar Teknik Kimia 1| Universitas 17 Agustus


1945
Ketika larutan Na2S2O3 dititrasi dengan larutan iod warna coklat gelap
yang karakteristik dari iod menjadi hilang. Ketika semua Na2S2O3 telah
teroksidasi , maka kelebihan larutan iod akan menjadikan cairan berwarna
kuning pucat. karena itu kemungkinan dalam titrasi ini adalah tidak perlu
digunakannya indikator. Namun kelebihan iod pada akhir titrasi menyebabkan
warna yang samar, sehingga penetapan titik akhir titrasi menjadi sukar. Karena
itu lebih disukai menggunakan reagen yang sensitif terhadap iod sebagai
indikator; yaitu larutan kanji, titik TAT ditentukan dari kenampakan warna biru
pada larutan.(didik,2002)

30 Laporan Praktikum Kimia Dasar Teknik Kimia 1| Universitas 17 Agustus


1945
BAB III

TEORI

Teori Umum
Iodometri merupkan salah satu analisa kimia volumetric yang
memanfaatkan reaksi reduksi oksidasi. Penggunaannya sangat banyak
digunakan karena tidak banyak kesalahan dan cukup efisien. Terdapat 2 cara
yaitu.
a. Cara Langsung (Iodimetri)
Metode titrasi iodimetri adalah titrasi redoks yang menggunakan
larutan standar iodium sebagai titran dalam suasana netral atau sedikit
asam. Titrasi ini diebut juga dengan titrasi langsung karena dalam proses
titrasi ini I2 berfungsi sebagai pereaksi. Dalam reaksi redoks harus selalu
ada oksidator dan reduktor, sebab bila suatu unsur bertambah bilangan
oksidasinya (melepaskan electron ), maka harus ada suatu unsur yang
bilangan oksidasinya berkurang atau turun (menangkap electron), jadi
tidak mungkin hanya ada oksidator saja ataupun reduktor saja. Dalam
metoda analisis ini , analat dioksidasikan oleh I2 , sehingga I2 tereduksi
menjadi ion iodida :
A ( Reduktor ) + I2 → A ( Teroksidasi ) + 2 I -
Iod merupakan oksidator yang tidak terlalu kuat (lemah) , sehingga
hanya zat-zat yang merupakan reduktor kuat yang dapat dititrasi. Indikator
yang digunakan adalah amilum yang akan memberikan warna biru pada
titik akhir penitaran .
I2 + 2 e - → 2 I-
Larutan I2 dibuat dengan melarutkan I2 murni selanjutnya
distandarisasi dengan Na-tiosulfat. I2 merupakan oksidator yang bersifat
moderat, maka jumlah zat yang dapat ditentukan secara iodimetri sangat
terbatas, beberapa contoh zat yang sering ditentukan secara iodimetri
adalah H2S, ion sulfite, Sn2+, As3+ atau N2H4. Akan tetapi karena sifatnya

31 Laporan Praktikum Kimia Dasar Teknik Kimia 1| Universitas 17 Agustus


1945
yang moderat ini maka titrasi dengan I2 bersifat lebih selektif
dibandingkan dengan titrasi yang menggunakan titrant oksidator kuat.
Pada umumnya larutan I2 distandarisasi dengan menggunakan
standar primer As2O3, As2O3 dilarutkan dalam natrium hidroksida dan
kemudian dinetralkan dengan penambahan asam. Disebabkan kelarutan
iodine dalam air nilainya kecil maka larutan I2 dibuat dengan melarutkan I2
dalam larutan KI, dengan demikian dalam keadaan sebenarnya yang
dipakai untuk titrasi adalah larutan I3-.
Titrasi iodimetri dilakukan dalam keadaan netral atau dalam
kisaran asam lemah sampai basa lemah. Pada pH tinggi (basa kuat) maka
iodine dapat mengalami reaksi disproporsionasi menjadi hipoiodat.
b. Cara Tak Langsung (Iodometri)
Iodometri merupakan titrasi tidak langsung dan digunakan untuk
menetapkan senyawa-senyawa yang mempunyai potensial oksidasi lebih
besar dari sistem iodium-iodida atau senyawa-senyawa yang bersifat
oksidator seperti CuSO4.5H2O. Pada iodometri, sampel bersifat oksidator
direduksi dengan kalium iodida berlebih dan akan menghasilkan iodium
yang selanjutnya dititrasi dengan larutan baku tiosulfat. Banyaknya
volume tiosulfat yang digunakan sebagai titran setara dengan iod yang
dihasilkan dan setara dengan banyaknya sampel.
Melalui titrasi tak langsung ini, semua oksidator yang akan
ditetapkan kadarnya direaksikan terlebih dahulu dengan ion iodide
berlebih (I–) sehingga I2 dapat dibebaskan. Selanjutnya I2 yang dibebaskan
ini dititrasi dengan larutan baku sekunder Na2S2O3 dengan indikator
amilum.
Pada metode iodimetri dan iodometri larutan harus dijaga supaya
pH < 8, karena dalam larutan alkali iodium bereaksi dengan hidroksida
(OH–) menghasilkan ion hipoiodit yang akhirnya menghasilkan ion iodat
menurut, reaksi :

I2 + OH– → HI + IO–

32 Laporan Praktikum Kimia Dasar Teknik Kimia 1| Universitas 17 Agustus


1945
3IO– → IO3– + 2I–

Sehingga apabila ini terjadi maka potensial oksidasinya lebih besar


daripada iodium akibatnya akan mengoksidasi tiosulfat (S2O32-) yang tidak
hanya menghasilkan ion tetrationat (S4O62-) tapi juga menghasilkan sulfat
(SO42-) sehingga menyulitkan perhitungan stokiometri. Oleh karena itu,
pada metode iodometri tidak pernah dilakukan dalam larutan basa kuat.

33 Laporan Praktikum Kimia Dasar Teknik Kimia 1| Universitas 17 Agustus


1945
BAB IV

ALAT DAN BAHAN

1. Alat
 Gelas arloji
 Labu takar
 Gelas ukur
 Erlenmeyer
 iodine flask
 Corong gelas
 Beakerglass
 Pengaduk
 Pipet volume
 Buret, statif, klem
2. Bahan
 Larutan KI
 Larutan Na2S2O3
 Indikator K2Cr2O7
 Amilum
 Aquadest
 Sampel ( air sumur )

34 Laporan Praktikum Kimia Dasar Teknik Kimia 1| Universitas 17 Agustus


1945
BAB V

CARA KERJA

1. Membuat Larutan Na2S2O3 0,1 N 200 ml


Perhitungan : Berat Na2S2O3 yang akan ditimbang
Volume
N x BM Na2S2O3 x x valensi
1000

Cara : memanaskan aquadest dalam beaker secukupnya, kemudian


didinginkan. lalu timbang tiosulfat yamg dibutuhkan, masukan dalam beaker
glass lalu larutkan dengan aquadest yang telah dipanaskan tadi secukupnya ,
aduk hingga homogen. Masukan dalam labu takar 100 ml dan tambahkan
aquadest hingga tanda gojog, gojog hingga homogen. lakukan 2 kali sehingga
jumlah akhir tiosulfat adalah 200 ml, masukan dalam beaker glass sehingga
keduanya bercampur
𝑔𝑟𝑎𝑚
Catatan : 1 grek ~ 1 grol; BM Na2S2O3 = 248,18 𝑚𝑜𝑙

2. Membuat Larutan K2Cr2O7 0,1N 100 ml


Perhitungan : Berat K2Cr2O7 yang akan ditimbang
Volume
N x BM K2Cr2O7 x x valensi
1000

Cara : menimbang K2Cr2O7 menggunakan gelas arloji dan melarutkannya


dengan aquadest dalam beaker glass. Lalu memasukkannya dalam labu takar
100 ml dan menambahkan aquadest hingga tanda batas, gojog hingga
homogen.
𝑔𝑟𝑎𝑚
Catatan : 1 grek ~ 1 grol; BM K2Cr2O7 = 294,18
𝑚𝑜𝑙

3. Membuat larutan KI 0,1 N 100 ml


Perhitungan : Berat KI yang akan ditimbang
Volume
N x BM KI x x valensi
1000

Cara : menimbang KI menggunakan gelas arloji dan melarutkannya dengan


aquadest dalam beaker glass. Lalu memasukkannya dalam labu takar 100 ml
dan menambahkan aquadest hingga tanda batas, gojog hingga homogen.
𝑔𝑟𝑎𝑚
Catatan : 1 grek ~ 1 grol; BM KI = 166,01 𝑚𝑜𝑙

35 Laporan Praktikum Kimia Dasar Teknik Kimia 1| Universitas 17 Agustus


1945
4. Membuat larutan Amilum 1% 250 ml
Perhitungan : Berat Amilum yang akan dibutuhkan
kadar x volume yang diinginkan x BJ air (1gr/ml)

Cara : menimbang Amilum yang dibutuhkan sesuai perhitungan lalu


melarutkannya dalam beaker glss dengan air yang mendidih dan aduk hingga
homogen. masukan dalam labu takar 500 ml dan tambahkan air yang
mendidih dalam labu takar sampai tanda batas. Gojog hingga homogen.
Panaskan hingga larutan Amilum menjadi jernih

Catatan : Larutan ini harus dibuat selalu segar karena tidak tahan lama

5. Standarisasi Larutan Na2S2O7 dengan larutan K2Cr2O7


Cara : mengambil larutan K2Cr2O7 10 ml masukkan dalam iodine flask,
kemudian tambahkan 2 ml HCl pekat dan 10 ml larutan KI 0,1N. Titrasi
dengan . Na2S2O7 sampai TAT (Merah coklat → Kuning cerah). Tambahkna
indikator Amilum sampai warna biru tua. Titrasi dilanjutkan dengan Na2S2O7
sampai jernih. Catat kebutuhan Na2S2O7 yang dibutuhkan. Lakukan titrasi ini
3 kali.
Perhitungan : V1 . N1 = V2 . N2
6. Penghitungan Kadar Cu++ dalam sampel
Cara : Mengambil sampel 10 ml ditambah masukan dalam iodine flask.
Tambahkan 10 ml K2Cr2O7 dan 12 ml KI serta 2 ml HCl pekat. Kemudian
titrasi menggunakan Na2S2O7 sampai TAT (warna merah coklat → kuning
cerah). Lalu ditetesi dengan inikator Amilum yang telah dibuat hingga
berwarna biru tua lalu lanjutkan titrasi menggunakan larutan Na2S2O7 sampai
larutan menjad jernih. Catat Na2S2O7 yang diperlukan. Lakukan titrasi 3 kali
Perhitungan :

𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒
kadar Cu++ (ppm) = x V Na2S2O7 x N Na2S2O7 x BM Cu++
1000

36 Laporan Praktikum Kimia Dasar Teknik Kimia 1| Universitas 17 Agustus


1945
BAB VI

DATA PENGAMATAN

1. Tabel Pengamatan standarisasi larutan Na2S2O7 dengan larutan K2Cr2O7


NO Volume K2Cr2O7 Volume titran Na2S2O7
1 10 ml 42,0 ml
2 10 ml 43,5 ml
3 10 ml 42,5 ml
Rata-rata 10 ml 42,6 ml

2. Tabel Pengamatan titrasi sampel


Sampel Titrasi ke Volume sampel Voume Titran
1 10 ml 41 ml
Air Sumur 2 10 ml 40 ml
3 10 ml 42 ml
Rata-rata 10 ml 41 ml

37 Laporan Praktikum Kimia Dasar Teknik Kimia 1| Universitas 17 Agustus


1945
BAB VII

DATA PERHITUNGAN

1. Perhitungan berat Na2S2O3 (0,1 N 200 ml)

𝑔𝑟𝑎𝑚
Diketahui : BM Na2S2O3 = 245,15 𝑚𝑜𝑙

1 grek ~ 1 grol
Rumus :
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒
= N x BM AgNO3x valensi x 1000
𝑔𝑟𝑒𝑘 𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑔𝑟𝑜𝑙 200 𝑚𝑙
= 0,1 𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟 x 245,15 x 1𝑔𝑟𝑒𝑘 x
𝑚𝑜𝑙 1000𝑚𝑙⁄𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟

= 4,96 gr
2. Perhitungan berat K2Cr2O7 (0,1N 100 ml)
𝑔𝑟𝑎𝑚
Diketahui : BM K2Cr2O7 = 249,18 𝑚𝑜𝑙

1 grek ~ 1 grol
Rumus :
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒
= N x BM K2Cr2O7 x valensi x 1000
𝑔𝑟𝑒𝑘 𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑔𝑟𝑜𝑙 100 𝑚𝑙
= 0,1 𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟 x 249,18 x 1𝑔𝑟𝑒𝑘 x
𝑚𝑜𝑙 1000𝑚𝑙⁄𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟

= 2,49 gr
3. Perhitungan berat KI (0,1N 100 ml)
𝑔𝑟𝑎𝑚
Diketahui : BM KI = 166,01 𝑚𝑜𝑙

1 grek ~ 1 grol
Rumus :
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒
= N x BM KI x valensi x 1000
𝑔𝑟𝑒𝑘 𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑔𝑟𝑜𝑙 100 𝑚𝑙
= 0,1 𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟 x 166,01 x 1𝑔𝑟𝑒𝑘 x
𝑚𝑜𝑙 1000𝑚𝑙⁄𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟

= 1,660 gr

38 Laporan Praktikum Kimia Dasar Teknik Kimia 1| Universitas 17 Agustus


1945
4. Perhitungan berat Amilum (1% 250 ml)
𝑔𝑟𝑎𝑚
Diketahui : BJ air = 1 𝑚𝑙

Rumus :
𝑔𝑟𝑎𝑚
Kadar x volume x BJ Air = 1% x 250 ml x 1 𝑚𝑙

= 2,5 gr
5. Standarisasi Na2S2O3 dengan K2Cr2O7
Diketahui : Volume rata-rata titran (Na2S2O3) = 42,67 ml
Konsentrasi analit (K2Cr2O7) = 0,1N
Volume K2Cr2O7 = 10 ml
Perhitungan :
V1N1 = V2N2
10ml x 0,1 N = 42,67 ml x N2
N2 = 0,02 grek/liter
6. Menentuan kadar Cu++ dalam sampel
Diketahui : N Na2S2O3= 0,02 grek/liter
V Na2S2O3= 41 ml
𝑔𝑟𝑎𝑚
BA Cu++ = 63,54 𝑚𝑜𝑙
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒
Rumus : V Na2S2O3x N Na2S2O3x x BA Cu++
1000
𝑔𝑟𝑒𝑘 10 𝑚𝑙 𝑔𝑟𝑎𝑚
= 41 ml x 0,02 𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟 x x 63,54
1000𝑚𝑙⁄𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟 𝑚𝑜𝑙

= 0,52 ppm

39 Laporan Praktikum Kimia Dasar Teknik Kimia 1| Universitas 17 Agustus


1945
BAB VIII

KESIMPULAN

1. Kesimpulan
 Kadar Cu++ yang terkandung dalam sampel air sumur adalah 0,52 ppm
 Kadar Cu++ dalam sampel air sumur masih dalam keadaan tidak layak
untuk diminum (Permenkes)

40 Laporan Praktikum Kimia Dasar Teknik Kimia 1| Universitas 17 Agustus


1945
BAB IX

PEMBAHASAN

Titrasi iodometri yaitu titrasi tidak langsung dimana oksidator yang


dianalisis kemudian direaksikan dengan ion iodide berlebih dalam keadaan
yang sesuai,yang selanjutnya iodium dibebaskan secara kuantitatif dan
dititrasi dengan larutan standar.
Pada percobaan ini menggunakan larutan standar primer kalium
bikromat untuk menstandarisasikan larutan Na2S2O3.Standarisasi ini
dilakukan karena konsentrasi natrium tiosulfat belum diketahui.Dalam
pembuatan larutan Na2S2O3 tidak stabil untuk waktu yang lama.
Indikator yang digunkan adalah indicator kanji.Pemilihan indicator
kanji ini karna kanji dapat membentuk senyawa absorbs dengan iodium
yang dititrasi dengan natrium tiosulfat. Sedangkan fungsi dari penambahan
KI adalah garam pengoksida iodide secara kuantitatif menjadi iodium dalam
larutan berasam.Setelah KI bereaksi dengan larutan asam ,larutan tidak
dibiarkan untuk waktu yang cukup lama untuk berhubungan dengan
udara,KI ini harus bebas dari iodat karena zat ini akan bereaksi dengan
larutan berasam untuk membebaskan iodium.Untuk itu larutan tersebut
harus di diamkan di tempat yang gelap.
Kemudian larutan tersebut dititrasi dengan larutan baku natrium
tiosulfat. Setelah dititrasi sampai larutan berwarna kuning mudah,kemudian
larutan ditambahkan indicator kanji hingga perubahan warna dari jernih ke
biru, setelah berwara biru titrasi dengan natrium tiosulfat hingga perubahan
warna dari biru menjadi jernih dalam hal percobaan ini dibutuhkan 41 ml
natrium tiosulfat sehingga jika diubah menjadi bentuk ppm didapati angka
0,52. Yang artinya terdapat 0,52 gram Cu++ dalam 1000 ml larutan

41 Laporan Praktikum Kimia Dasar Teknik Kimia 1| Universitas 17 Agustus


1945
BAB X

DAFTAR PUSTAKA

 Deta Elisabeth.Metode Iodometri.Jakarta: 2012.


 Wikipedia ensiklopedia bebas (Iodometri)
 Didik.2010.Kimia Analisis Kuantitatif.Graha Ilmu.Yogyakarta
 http://lathiefmahmudy.blogspot.co.id/2013/01/titrasi-iodometri.html
(Iodometri)
 Laporan Resmi Praktikum Dasar Teknik Kimia 1 Tahun 2015
 Laporan Resmi Praktikum Dasar Teknik Kimia 1 Tahun 2016
 Permenkes tentang standar air minum 492 tahun 2010

42 Laporan Praktikum Kimia Dasar Teknik Kimia 1| Universitas 17 Agustus


1945