Anda di halaman 1dari 8

Nama : Awayni Husna

Kelas : 2A - TKPB
NIM : 171424006
Tanggal Penugasan : Rabu, 27 Februari 2019
Tanggal Pengumpulan : Rabu, 6 Maret 2019
Tugas ke- :2

1. Nama Produk
Heavenly Blush Yoghurt Strawberry

2. Informasi Nilai Gizi / Nutrition Facts

INFORMASI NILAI GIZI


Takaran Penyajian : 200 ml
Jumlah Sajian per Kemasan : 1
JUMLAH PER SAJIAN
Energi : 100 kkal
Energi dari Lemak : 20 kkal
% AKG % Daily Value *
Lemak Total 2g 3%
Lemak Jenuh 1g 6%
Lemak Trans 0g
Kolestrol 4 mg 1%
Protein 4g 1%
Karbohidrat Total 17 g 6%
Serat Pangan 3g 12%
Gula / Sugar 11 g -
Natrium / Sodium 105 mg 5%
Kalium 0 mg 0%
Kalsium (Ca) 355 mg 45%

3. Standar Nasional Indonesia (SNI) Yogurt


SNI yang digunakan untuk yogurt adalah SNI 2981:2009.

4. Yogurt
a. Pengertian Yogurt
Produk yang diperoleh dari fermentasi susu dan atau susu rekonstitusi
denganmenggunakan bakteri Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus
thermophillus dan atau bakteri asam laktat lain yang sesuai, dengan/atau tanpa
penambahan bahan pangan lain dan bahan tambahan pangan yang diizinkan

b. Baku Mutu Yogurt Menurut SNI 2981:2009.


Tabel Baku Mutu Yogurt
5. Parameter Fisika
Cara uji yogurt seperti di bawah ini: (SNI 2981:2009)

 Uji Keadaan

 Penampakan

o Prinsip

Melakukan analisa terhadap contoh uji secara organoleptik dengan


menggunakan indera penglihatan (mata).

o Cara kerja

a. Ambil contoh uji secukupnya dan letakkan di atas gelas arloji yang bersih dan
kering;

b. lihat contoh uji untuk mengetahui apakah contoh berbentuk cairan kental padat;
dan

c. lakukan pengerjaan minimal oleh 3 orang panelis atau 1 orang tenaga ahli.

o Cara menyatakan hasil

a. Jika contoh berbentuk cairan kental-padat, maka hasil dinyatakan “normal”;

b. Jika contoh tidak berbentuk cairan kental-padat, maka hasil dinyatakan “tidak
normal”.

 Uji Bau

o Prinsip

Melakukan analisa terhadap contoh uji secara organoleptik dengan


menggunakan indera penciuman (hidung).

o Cara kerja

a. Ambil contoh uji sebanyak 5 g dan letakkan diatas gelas arloji yang bersih dan
kering;

b. cium contoh uji pada jarak kira-kira ½ cm dari hidung untuk mengetahui
baunya; dan

c. lakukan pengerjaan minimal oleh 3 orang panelis atau 1 orang tenaga ahli.
o Cara menyatakan hasil

a. Jika tercium bau khas yogurt, maka hasil dinyatakan “normal”; dan

b. jika tercium bau asing selain bau khas yogurt, maka hasil dinyatakan “tidak
normal”.

 Rasa

o Prinsip

Melakukan analisa terhadap contoh uji secara organoleptik dengan


menggunakan indera perasa (lidah).

o Cara kerja

a. Ambil kira-kira 1 sendok contoh uji dan rasakan dengan lidah; dan

b. lakukan pengerjaan minimal oleh 3 orang panelis atau 1 orang tenaga ahli.

o Cara menyatakan hasil

a. Jika terasa khas yogurt, maka hasil dinyatakan “normal”;

b. jika terasa rasa asing selain rasa khas yogurt, maka hasil dinyatakan “tidak
normal”.

 Konsistensi

o Prinsip

Melakukan analisa terhadap contoh uji secara organoleptik dengan


menggunakan indera penglihatan (mata).

o Cara kerja

a. Ambil contoh uji sebanyak 5 g dan letakkan diatas gelas arloji yang bersih dan
kering;

b. lihat contoh apakah contoh uji tersebut komponen padat dan cairan terpisah atau
tidak; dan

c. lakukan pengerjaan minimal oleh 3 orang panelis atau 1 orang tenaga ahli.

o Cara menyatakan hasil

a. Jika komponen padat tidak terpisah dengan cairannya, maka hasil dinyatakan
homogen;dan
b. jika komponen padat terpisah dengan cairannya, maka hasil dinyatakan tidak
homogen

 Kadar lemak

o Prinsip

Lemak dalam contoh dihidrolisa dengan amonia dan alkohol kemudian


diekstraksi dengan eter. Ekstrak eter yang diperoleh kemudian diuapkan
sampai kering dalam pinggan alumunium dan kadar lemak dihitung secara
gravimetri.

o Peralatan

- Neraca analitik terkalibrasi dengan ketelitian 0,1 mg;

- pipet volumetrik 25 ml;

- penangas air;

- labu ekstraksi/ labu lemak Majonnier;

- sentrifuse;

- oven/ovem vakum terkalibrasi dengan ketelitian 1 °C;

- desikator yang berisi desikan;

- pinggan aluminium;

- gelas ukur;

- tang/penjepit; dan

- tutup labu.

o Pereaksi

- Air suling;

- amonium hidroksida pekat;

- indikator fenolftalein 0,5 %;

- etil alkohol 95 %;

- etil eter, bebas peroksida; dan

- petrolium eter.
o Cara kerja

a. Timbang 5 g - 10 g contoh yogurt (W) ke dalam labu ekstraksi, tambahkan 10


ml air suling, aduk sehingga membentuk pasta, dan panaskan jika diperlukan;

b. tambahkan 1 ml sampai dengan 1,25 ml ammonium hidroksida pekat, panaskan


dalam penangas air pada suhu 60 °C – 70 °C selama 15 menit, diaduk beberapa
kali dan dinginkan;

c. tambahkan 3 tetes indikator fenolftalein, 10 ml alkohol 95 %, tutup labu


ekstraksi, dan aduk selama 15 detik;

d. untuk ekstraksi pertama; tambahkan 25 ml etil eter, tutup labu ekstraksi, dan
kocok dengan kencang selama 1 menit;

e. longgarkan sesekali tutup labu ekstraksi apabila diperlukan;

f. tambahkan 25 ml petrolium eter, tutup labu ekstraksi, dan kocok dengan


kencang selama 1 menit;

g. longgarkan sesekali tutup labu ekstraksi apabila diperlukan;

h. sentrifuse labu tersebut pada 600 rpm selama 30 detik sehingga terjadi
pemisahan fasa air (bright pink) dan eter dengan jelas;

i. tuangkan lapisan eter dengan hati-hati ke dalam labu lemak atau pinggan
alumunium kosong yang telah diketahui bobotnya (W0);

j. lapisan air digunakan untuk ekstraksi berikutnya;

k. untuk ekstraksi kedua, ulangi cara kerja c sampai dengan j dengan penambahan
5 ml alkohol 95 %, 15 ml etil eter dan 15 ml petrolium eter;

l. untuk ekstraksi ketiga, ulangi cara kerja c sampai dengan j dengan tanpa
penambahan alkohol 95 %, 15 ml etil eter dan 15 ml petrolium eter; (ekstraksi
ke-3 tidak perlu dilakukan untuk yogurt tanpa lemak)

m. uapkan pelarut di atas penangas air dan keringkan labu lemak/pinggan


alumunium yang berisi ekstrak lemak tersebut dalam oven pada suhu (100 ± 1)
°C selama 30 menit atau oven vakum pada suhu 70 °C – 75 °C dengan tekanan
< 50 mm Hg (6,7 kPa); dan

n. dinginkan dalam desikator dan timbang hingga bobot tetap (W1).


o Perhitungan

o Ketelitian

Kisaran hasil dua kali ulangan maksimal 10 % dari nilai rata-rata hasil lemak
atau deviasi (RSD) maksimal 4 %. Jika kisaran lebih besar dari 10 % atau
RSD lebih besar dari 4 %, maka analisa harus diulang kembali.

 Total padatan susu bukan lemak

o Prinsip

Total padatan susu bukan lemak adalah total padatan dikurangi total gula dan
total lemak.

 Penetapan total padatan

o Prinsip

Total padatan dihitung sebagai berat contoh yang tersisa setelah pemanasan
dalam oven pada suhu (100 ± 1) °C selama 4 jam.

o Peralatan

- Pinggan untuk menimbang berdiameter 5 cm;

- neraca analitik terkalibrasi dengan ketelitian 0,1 mg;

- penangas air;

- desikator berisi desikan silika;

- tang/penjepit; dan

- oven terkalibrasi.

o Cara kerja

a. Timbang pinggan/kotak timbang kosong yang sebelumnya telah dipanaskan


didalam oven (100 ± 1) °C selama ≥ 2 jam (W). Timbang juga 1 pinggan kosong
sebagai blangko (B1), kemudian pinggan kosong dipanaskan pada oven suhu
(100 ± 1) °C selama ≥ 2 jam sebagai blangko (B2);
b. timbang 3 g contoh (yang sudah dipanaskan pada (38 ± 1) °C ke dalam pinggan
tadi (W1);

c. masukkan pinggan berisi contoh dan pinggan kosong ke dalam oven dan
keringkan selama 4 jam pada suhu (100 ± 1) °C (selama pengeringan pintu oven
jangan dibuka); dan pindahkan pinggan dalam desikator dan biarkan dingin pada
suhu kamar (30 menit) kemudian timbang (W2).

o Perhitungan

o Ketelitian

Kisaran hasil dua kali ulangan disarankan maksimal 5 % dari nilai rata-rata
hasil total padatan

DAFTAR PUSTAKA

Badan Standarisasi Nasional. 1992. Standar Nasional Indonesia Cara Uji Makanan dan
Minuman. SNI 2981:2009. Badan Standarisasi Nasional. Jakarta

Badan Standarisasi Nasional. 1992. Standar Nasional Indonesia Yogurt. SNI


2981:2009. Badan Standarisasi Nasional. Jakarta

Anda mungkin juga menyukai