Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Alqur’an memiliki kedudukan yang fundamental dalam agama Islam. Alqur’an


merupakan sumber hukum pertama dan yang paling utama bagi umat Islam. Semua hukum
yang berlaku dalam Islam tidak boleh bertentangn dengan Alqur’an untuk menurunkan
hukum yang lainnya. Di samping Alqur’an sumber hukum Islam, Alquran juga merupakan
mukjizat nabi Muhammad saw yang terbesar dibandingkan dengan kemukjizatan nabi
Muhammad yang lainnya atau juga bila dibandinkan dengan kemukjizatan nabi-nabi yang
lain. Kemukjizatan Alqur’an berlaku sepanjan zaman tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Ini
tentu berbeda dengan mukjizat-mukjizat yang lainnya. Ada banyak aspek yang menjadikan
Alqur’an sebagai suatu mukjizat. Aspek tersebut antara lain dari segi bahasa, isyarat-isyarat
ilmu pengetahuan dan teknologi pemberitaan yang gaib. Disamping aspek tersebut, banyak
aspek lain yang menunjukan kemukjizatan Alqur’an antara lain tentang Alqur’an sebagai
petunjuk bagi umat manusia dan juga pengaruh terhadap psikologis dan jiwa manusia baik
yang mendengar, membaca atau memahaminya.

Alqur’an adalah mukjizat abadi nabi Muhammad saw yang dengannya seluruh umat
manusia dan jin ditantang untuk membuat yang serupa Alqur’an, sebuah atau sepuluh surah
yang sama dengan surah yang yang ada didalamnya.1 Banyak orang-orang yang ragu
terhadap kebenaran dan kemukjizatan alquran dari zaman dahulu hingga sekarang. Banyak
diantara mereka yang mengira bahwa Alqur’an hanyalah bikinan nabi Muhammad saw bukan
sebagai wahyu Allah swt. Oleh karenanya itulah Allah swt memberikan tantangan terhadap
orang yang yang meragukan Alqur’an.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah Tinjauan umum tentang I’jaz al-Qur’an?
2. Apa Tujuan dan Peranan I’jaz al-Qur’an?
3. Bagaimanakah Tahapan dan kadar Mukjizat al-Qur’an?
4. Apa sajakah Macam-macam Kemukjizatan al-Qur’an?

1
Abu Zahra An- Najdi, Alquran dan Rahasia Angka-Angka, (Bandung: Pustaka Hidayah,1996). h 17.

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
1. Tinjauan umum tentang I’jaz Alqur’an
Kata mukjizat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai kejadian ajaib
yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia.2 Pengertian ini tidak sama dengan
pengertian dalam istilah agama Islam. I’jaz (kemu’jizatan) dalam bahasa Arab terambil dari
kata ) ‫ ) اعجز‬yang berarti melemahkan atau menjadikan tidak mampu, pelakunya dinamakan
Mu’jiz, apabila kemampuannya pihak lain amat menonjol sehingga mampu membungkam
lawan ia dinamai mu’jizat.3 Al-Qattan menjelaskan bahwa pengertian “kelemahan” secara
umum adalah ketidakmampuan dari mu’jiz. Sementara kata I’jaz dalam konteks ini adalah
menampakkan kebenaran Nabi dalam pengakuannya sebagai seorang Rasul dengan
menampakkan kelemahan orang Arab beserta generasi-generasi setelahnya untuk
menghadapi mu’jizatnya yang abadi (Alqur’an).
Secara terminologisnya, dalam agama Islam didefenisikan sebagai suatu hal atau
peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seorang yang mengaku Nabi, sebagai bukti
kenabiannya yang ditantangkan kepada yang ragu, untuk melakukan atau mendatangkan hal
serupa, namun mereka tidak mampu melayani tantangan itu.4
Unsur-unsur yang menyertai mukjizat:
a. Peristiwa luar biasa yang terjadi di luar kebiasaan, sehingga dianggap luar biasa.
Artinya peristiwa itu diluar jangkauan sebab dan akibat yang diketahui secara umum.
b. Didatangkan oleh seorang yang mengaku Nabi sebagai bukti kenabiannya.
c. Mengandung tantangan bagi orang-orang yang meragukan kenabian, aspek
kemukjizatan Nabi yang sesuai dengan bidang keahliannya.
d. Tantangan Nabi tak tertandingi. Tantangan yang diajukan para kepada yang ragu
disesuaikan dengan aspek yang mereka ketahui, diantara kemukjizatan Al-Qur’an
adalah nilai sastranya karena orang Mekah terkenal sebagai sastrawan yang piawai.
2. Fungsi dan Tujuan Mujizat
Mukjizat berfungsi sebagai bukti kebenaran para Nabi. Mukjizat ditampilkan Allah
melalui hamba-hamba pilihan-Nya yang diutus sebagai Nabi dan Rasul untuk membuktikan
kebenaran ajaran Ilahi yang dibawa oleh masing-masing Nabi. Mukjizat walaupun dari segi

2
Debdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1989) h. 596.
3
M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2007), h. 25.
4
Ibid. h.26

2
bahasa berarti melemahkan sebagaimana yang telah dikemukakan, dari segi agama ia sama
sekali tidak dimaksudkan untuk melemahkan atau membuktikan ketidakmampuan yang
ditantang. Jika demikian halnya, ini paling tidak mengandung dua konsekuensi:
Pertama, Bagi yang telah percaya kepada Nabi, maka dia tidak lagi membutuhkan
mukjizat. Dia tidak lagi ditantang untuk melakukan hal yang sama. Mukjizat yang dilihat atau
dialaminya hanya berfungsi untuk memperkuat keimanan dan menambah keimanannya. Serta
menambah keyakinannya akan kekuasaan Allah SWT.
Kedua, para Nabi sejak Adam As, hingga Isa As diutus untuk suatu kurun tertentu
serta masyarakat tertentu.Tantangan yang mereka kemukakan sebagai mukjizat pasti tidak
dapat dilakukan umatnya.Jika tujuan mukjizat hanya untuk meyakinkan umat setiap Nabi,
boleh jadi umat yang lain dapat melakukannya. Kemungkinan ini lebih terbuka bagi mereka
yang berpendapat bahwa mukjizat pada hakikatnya berada dalam jangkauan hukum-hukum
alam.Namun, ketika hal itu terjadi, hukum-hukum tersebut belum lagi diketahui masyarakat
Nabi yang bersangkutan.
Sumber daya manusia sungguh besar dan tidak dapat dibayangkan kapasitasnya.
Potensi kalbu yang merupakan salah satu sumber daya manusia dapat menghasilkan hal-hal
luar biasa yang boleh jadi tidak diakui oleh yang tidak mengenalnya hal ini sama dengan
penolakan generasi terdahulu tentang banyaknya kenyataan masa kini yang lahir dari
pengembangan daya pikir.
3. Macam-Macam Mukjizat

Jika ditinjau dari sifatnya, Mukjizat terbagi kepada dua macam, yaitu mukjizat yang
bersifat material indrawi dan tidak kekal dan mukjizat yang berupa immaterial logis, dan
dapat dibuktikan sepanjang masa. Quraish Shihab menegaskan bahwa mukjizat yang
termasuk pada kategori pertama adalah mukjizat Nabi-Nabi terdahulu seperti perahu Nabi
Nuh, tidak terbakarnyaNabi Ibrahim di dalam kobaran Api, tongkat Nabi Musa yang dapat
berubah menjadi ular, dan penyembuhan yang dilakukan Nabi Isa atas izin Allah yang
kesemuanya bersifat material-indrawi, sekaligus terbatas pada lokasi tempat Nabi tersebut
berada dan berakhir dengan wafatnya masing-masing Nabi. Sedangkan bentuk mukjizat yang
kedua adalah bukan indrawi-material namun dapat dipahami oleh akal, maka ia tidak dibatasi
oleh suatu tempat atau masa tertentu, seperti mukjizat Nabi-Nabi terdahulu.5

5
Shihab, Mukjizat Al-Qur’an……h. 24

3
4. Syarat-Syarat Mukjizat
Muhammad Aly Ash-Shabuny mengatakan bahwa kesepakatan ulama menyatakan
ada lima syarat penting yang harus terpenuhi agar suatu hal atau peristiwa itu dapat
dikategorikan sebagai mukjizat.6 Kelima unsur tersebut adalah:
a. Mukjizat harus berupa sesuatu yang tidak disanggupi oleh selain Allah tuhan sekalian
alam. Terkait dengan syarat pertama ini, ia menegaskan bahwa sekiranya ada
seseorang yang mengaku membawa risalah dengan menjadikan mukjizatnya sebagai
hal-hal yang biasa seperti bisa berdiri dan duduk, bisa makan dan minum atau bisa
bergerak dari tempat yang satu ke tempat yang lain maka hal itu tidaklah dapat terima
sebagai sebagai mukjizat, sebab semua makhluk pada umumnya dapat melakukan hal
yang sama. Oleh karenanya syarat pertama yang menjadi tolak ukur kebenaran suatu
mukjizat adalah dimana peristiwa tersebut hanyalah Allah SWT saja yang dapat
melakukannya seperti terbelahnya laut (mukjizat Nabi Musa as), dan segala macam
peristiwa yang berada dalam luar jangkauan kemampuan makhluk.
b. Tidak sesuai dengan kebiasaan dan berlawanan dengan hukum alam. Terkait dengan
syarat kedua ini, lebih lanjut ia menjelaskan bahwa jika seandainya ada seseorang
yang mengaku sebagai Nabi lalu ia berkata bahwa barat, dan siang mukjizatnya
adalah matahari terbit dari timur dan terbenam sebelah barat dan siang muncul setelah
malam, maka pengakuannya itu tidak dapat diterima sebagai mukjizat, sebab
meskipun tidak ada yang mampu melakukan hal-hal demikian selain Allah, hal itu
bukanlah perbuatannya dan memang sudah ada sebelumnya. Dengan demikian syarat
kedua ini menyatakan suatu mukjizat merupakan peristiwa yang luar biasa. Quraish
Shihab menegaskan yasesuatu yang dimaksud dengan yang luar biasa adalah sesuatu
yang berada diluar jangkauan sebab dan akibat yang diketahui secara umum dan
hukum-hukumnya. Dengan demikian hipnotisme atau sihir, meskipun sekilas terlihat
ajaib dan luar biasa sebagaimana yang menjadi syarat kebenaran mukjizat.
c. Mukjizat harus berupa hal yang dijadikan saksi oleh seseorang yang mengaku
membawa risalah ilahi sebagai bukti atas kebenaran pengakuan risalahnya, mukjizat
itu dinyatakan oleh seseorang yang mengaku sebagai Nabi dan harus terjadi ketika
dituntutnya sebagai bukti kebenaran pengakuan risalahnya, mukjizat itu dinyatakan
oleh seseorang yang sebagai Nabi dan harus terjadi ketika dituntutnya sebagai bukti
kebenaran pengakuan itu. Oleh karenanya jika suatu peristiwa dilakukan oleh

6
Abu Zahra An- Najdi, Al quran dan Rahasia Angka-Angka, (Bandung: Pustaka Hidayah,1996), h. 17.

4
seseorang yang bukan mengaku Nabi maka ia tidak dapat dikategorikan sebagai
mukjizat.
d. Terjadi bertepatan dengan pengakuan Nabi yang mengajak bertanding menggunakan
mukjizat tersebut. Syarat keempat ini meniscayakan bahwa suatu mukjizat dapat
diterima kebenarannya jika ia muncul sesuai dengan pengakuan yang bersangkutan
bukan sebaliknya bertentangan. Sebab jika mukjizat tidak sesuai dengan
pengakuannya berarti iamendustakan orang yang mengakuinya. Oleh karena itu, bila
ada seseorang mengaku sebagai utusan lalu berkata : “Bukti kebenaran risalahku
adalah hewan ini dapat berbicara, namun bukan membenarkan tapi malah
mendustakannya, maka peristiwa tersebut bukanlah bukti kebenaran (mujizat)
baginya.
e. Tidak akan ada yang seorangpun yang sanggup untuk membuktikan dan
menandinginya dalam pertandingan tersebut. Hal ini berarti bahwa suatu mukjizat
harus tidak dapat ditandingi oleh yang lain. Apabila mukjizat itu bisa ditandingi maka
batallah kedudukannya sebagai mukjizat dan tidak dapat menunjukkan kebenaran
orang yang memilikinya.

5. Beda Mukjizat dengan Sihir, Irhas, dan Ma’unah


Tukang-tukang sihir, dukun, dan manusia semodel mereka seringkali memamerkan
“kehebatan” mereka, kebal api atau kebal bacokan pedang. Sebagian mereka tidur di atas
paku-paku tajam atau dengan bangganya memakan pecahan-pecahan kaca.Aneh
memang.Televisi pun tak ketinggalan menayangkan acara-acara tersebut. Anehnya,
perbuatan syirik tersebut dianggap kesenian, budaya yang mendatangkan devisa, dan lebih
menyedihkan manakala seorang yang menyatakan dirinya muslim berdecak kagum
menyaksikan “kehebatan” mereka.7 Allahul Musta’an. Sepintas, fenomena aneh di hadapan
kita itu mirip dengan mukjizat Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam yang utuh tidak terbakar tatkala
dilempar kaumnya di tengah kobaran api. Karena kemiripan antara mukjizat dan sihir dari sisi
keduanya menyelisihi adat kebiasaan dan hukum alam, maka kita perlu memahami perbedaan
mendasar antara mukjizat dan sihir.
Di antara hal penting yang menjadi kaidah membedakan antara mukjizat dan sihir:
a. Mukjizat berasal dari Allah Subhanahu wata’ala sebagai bentuk pemuliaan
terhadap Nabi dan rasul-Nya. Adapun sihiradalah amalan-amalan setan.

7
Abdul Majid. Mukjizat Ilmiah dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam Mukjizat Ilmiah dalam Al-
Qur’an dan As-Sunnah dalam IPTEK, (Jakarta: Gema Insani press, 1997), h. 19.

5
Bagaimana sihir terwujud? Tukang sihir dan dukun tidak mungkin melakukan
perkara-perkara aneh tersebut melainkan jika mau memberikan persembahan kepada
setan-setan, seperti menyembelih untuk jin, memberikan sesaji, atau yang semisalnya.
Oleh karena itu, sihir adalah bentuk kekufuran kepada Allah Subhanahu wata’ala dan
pelakunya kafir sebagaimana firman-Nya,
َ‫اطينَ َكفَ ُروا يُعَ ِل ُمون‬ َّ ‫ان َو ٰلَ ِك َّن ال‬
ِ َ‫شي‬ ُ ‫سلَ ْي َم‬ ُ ‫علَ ٰى ُم ْل ِك‬
ُ ‫سلَ ْي َمانَ ۖ َو َما َكفَ َر‬ ُ ‫اط‬
َ ‫ين‬ َّ ‫َواتَّبَعُوا َما تَتْلُو ال‬
ِ َ‫شي‬
َ َّ‫الن‬
.‫اس السِحْ َر‬
“Mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan
mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir
(tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir).Mereka
mengajarkan sihir kepada manusia.” (al-Baqarah: 102)
b. Di antara perbedaan mendasar antara mukjizat dan sihir, mukjizat mengandung
tantangan yang bersifat umum bagi penentang dakwah rasul untuk menghadapi
mukjizat itu, kalau memang mereka mampu.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentang mukjizat al-Qur’an,
ُ ‫آن ََل يَأْتُونَ ِب ِمثْ ِل ِه َولَ ْو َكانَ بَ ْع‬
‫ض ُه ْم‬ ِ ‫علَ ٰى أَن يَأْتُوا ِب ِمثْ ِل ٰ َهذَا ْالقُ ْر‬
َ ‫نس َو ْال ِج ُّن‬
ُ ‫اْل‬ ِ ‫قُل لَّئِ ِن اجْ ت َ َم َع‬
ِْ ‫ت‬
‫يرا‬ َ ‫ض‬
ً ‫ظ ِه‬ ٍ ‫ِلبَ ْع‬
“Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang
serupa al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya,
sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (al-Isra’: 88)
Berbeda halnya dengan sihir, tidak ada seorang penyihir pun berani membuka
tantangan secara umum.Sebab, mereka tahu, banyak pula manusia yang seprofesi yang
mungkin mendatangkan sihir yang lebih kuat, dan ini merugikan mereka sendiri. Apalagi saat
sihir dihadapkan dengan ayat-ayat al-Qur’an dan zikir, niscaya mereka akan menuai
kekalahan dan kebinasaan.
c. Mukjizat diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada Nabi dan rasul-Nya
tanpa laku/latihan tertentu, belajar, ataukaidah-kaidah yang harus
senantiasa diterapkan.
Tidak pernah Nabi Musa ‘Alaihissalam mempelajari bagaimana tongkatnya berubah
menjadi ular atau membelah lautan.Demikian pula semua mukjizat Nabi dan rasul.Adapun
sihir, ilmu ini memiliki kaidah-kaidah yang bisa dipelajari setiap orang, dengan syarat dia
mau menjual agamanya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

6
ۖ َ‫اروت‬ ُ ‫َاروتَ َو َم‬ ُ ‫علَى ْال َملَ َكي ِْن بِبَابِ َل ه‬ ِ ُ ‫اس السِحْ َر َو َما أ‬
َ ‫نز َل‬ َ َّ‫اطينَ َك َف ُروا يُعَ ِل ُمونَ الن‬ َّ ‫َو ٰلَ ِكن ال‬
ِ َ‫شي‬
‫وَل إِنَّ َما نَحْ ُن فِتْنَةٌ فَ ََل ت َ ْكفُ ْر ۖ فَيَتَعَلَّ ُمونَ ِم ْن ُه َما َما يُفَ ِرقُونَ بِ ِه بَيْنَ ْال َم ْر ِء َوزَ ْو ِج ِه‬
َ ُ‫ان ِم ْن أ َ َح ٍد َحت َّ ٰى يَق‬
ِ ‫َو َما يُعَ ِل َم‬
ُ َ‫َّللاِ ۖ َويَتَعَلَّ ُمونَ َما ي‬
ۖ ‫ض ُّر ُه ْم َو ََل يَنفَعُ ُه ْم‬ َّ ‫ارينَ بِ ِه ِم ْن أ َ َح ٍد إِ ََّل بِإ ِ ْذ ِن‬
ِ ‫ض‬َ ِ‫ۖ َو َما ُهم ب‬
“Hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan
sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil,
yaitu Harut dan Marut, sedangkan keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang
pun sebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah
kamu kafir.” Mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka
dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Mereka itu (ahli sihir) tidak
memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin
Allah.Merekamempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak
memberi manfaat”. (al-Baqarah: 102)
d. Sihir selalu bisa dikalahkan, baik dengan sihir yang lebih kuat maupun dengan zikir
dan bacaan al-Qur’an. Berbeda halnya dengan mukjizat, tidak mungkin dikalahkan.
Allah Subhanahu wata’ala mengisahkan kekalahan sihir-sihir terhebat di zaman
Musa ‘Alaihissalam.Sihir tidak mampu berhadapan dengan mukjizat Nabi Musa
‘Alaihissalam.
َ ‫ف َما َيأْفِ ُكونَ () فَ َوقَ َع ْال َح ُّق َو َب‬
‫ط َل َما َكانُوا‬ ُ َ‫ِي ت َْلق‬
َ ‫صاكَ ۖ فَإِذَا ه‬
َ ‫ع‬َ ‫ق‬ ِ ‫س ٰى أ َ ْن أ َ ْل‬
َ ‫َوأ َ ْو َح ْينَا ِإلَ ٰى ُمو‬
َ‫صا ِغ ِرين‬َ ‫َي ْع َملُونَ () فَغُ ِلبُوا ُهنَالِكَ َوانقَلَبُوا‬
“Dan kami wahyukan kepada Musa, “Lemparkanlah tongkatmu!”
Sekonyongkonyong tongkat itu menelan apa yang mereka sihirkan. Karena itu, nyatalah
yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan.Mereka kalah di tempat itu dan jadilah
mereka orang-orang yang hina”. (al-A’raf: 117—119)
Demikian empat hal di antara pokok-pokok perbedaan antara sihir dan mukjizat.
Lantas bagaimana halnya dengan karamah dan irhas, yaitu kejadian menakjubkan di luar
kebiasaan yang mungkin terjadi pada wali-wali Allah Subhanahu wata’ala sebagai karamah
(pemuliaan) bagi mereka, apakah sama dengan mukjizat? Karamah diberikan oleh
Allah Subhanahu wata’ala kepada wali-wali-Nya, seperti apa yang Allah Subhanahu
wata’ala berikan kepada Ashabul Kahfi berupa penjagaan dari kejelekan kaumnya dengan
cara yang luar biasa. Mereka tidur selama 309 tahun dalam goa, seperti dikisahkan oleh al-
Qur’an,
َ ‫ لَبِثُوا فِي َك ْه ِف ِه ْم ث َ ََل‬.6
ْ ‫ث ِمائَ ٍة ِسنِينَ َو‬
‫ازدَاد ُوا تِ ْسعًا‬

7
“Mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun
(lagi).” (al-Kahfi: 25)
Karamah hampir sama dengan mukjizat. Hal tersebut dari Allah Subhanahu
wata’ala, hanya saja karamah tidak diiringi dengan pengakuan keNabian.Sedangkan Irhas
adalah sesuatu hal yang luar biasa yang diberikan Allah kepada seseorang yang dipersiapkan
membawa risalah.Seperti melindunginya awan atas Nabi Muhammad SAW sebelum
pengutusan beliau.Dapat dikatakan irhas adalah sesuatu yang diberikan kepada calon Nabi
berupa keluarbiasaan.
B. Mukjizat Alqur’an
Kemukjizatan Al-Qur’an merupakan arti dari kata I’jazul qur’an dalam bahasa Arab.
Kata I’jaz dalam susunan kata ini merupakan derivasi dari kata ‘ajaza yang berarti
melemahkan. Dengan demikian, susunan kata-kata I’jaz Al-qur’an merupakan bentuk idhafah
masdhar kepada fa’ilnya, yang diterjemahkan secara literlik berarti keberadaan Al-qur’an
yang dapat melemahkan.Adapun objek yang dilemahkan Al-qur’an itu adalah manusia.
Aly Ash-Shabuny menjelaskan bahwa kemukjizatan Al-quran berarti menetapkan
kelemahan manusia baik secara berpisah-pisah maupun berkelompok untuk mendatangkan
hal yang sama dengan Al-Qur’an. Namun melemahkan manusia dalam hal ini bukan
melemahkan dalam pengertian yang sebenarnya, sebab kelemahan manusia manusia dalam
hal mendatangkan hal yang sama dengan Al-qur’an itu memang sudah dapat dimaklumi.
Sehingga melemahkan dalam penegrtian ini hanya bertujuan untuk menegaskan bahwa Al-
qur’an itu adalah benar dan rasul yang membawanya adalah juga rasul yang benar.8
Seperti disebutkan oleh Quraish Shihab bahwa Mukjizat Al-qur’an berupa bukti
kebenaran yang dimiliki atau yang terdapat di dalam Al-qur’an. Lebih lanjut ia menegaskan
bahwa yang dimaksud dengan Al-qur’an dalam konteks kemukjizatan Al-qur’an adalah
minimal satu surah walau pendek, atau tiga ayat, atau satu ayat yang panjang semisal ayat
kursi.9Pembatasan ayat/surat sebagaimana yang ditegaskan oleh Quraish ini merujuk kepada
tahapan tantangan yang ditawarkan Allah kepada mereka yang meragukannya. Tahapan itu
terbagi kepada tiga, yaitu:
Mereka ditantang untuk membuat semisal Al-qur’an secara keseluruhannya.
Sebagaimana dalam ayat berikut:
ٍ ‫أ َ ْم يَقُولُونَ تَقَ َّولَهُ بَ ْل ََل يُؤْ ِمنُونَ () فَ ْليَأْتُوا بِ َحدِي‬
َ ‫ث ِمثْ ِل ِه ِإ ْن َكانُوا‬
)( َ‫صا ِدقِين‬

8
Aly Ash-shabuny, Al-Tibyan fi Ulum Al-quran, op. cit,h. 103.
9
Quraish, Mukjizat, op.cit, h. 45

8
“Ataukah mereka mengatakan: "Dia (Muhammad) membuat-buatnya". Sebenarnya
mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al
Qur'an itu jika mereka orang-orang yang benar.”(QS.52/Ath-Thur: 33-34)
1. Mereka ditantang membuat sepuluh surat yang sama. Sebagaimana dalam firman
Allah berikut:
‫َّللاِ إِ ْن ُك ْنت ُ ْم‬ َ َ ‫عوا َم ِن ا ْست‬
ِ ‫ط ْعت ُ ْم ِم ْن د‬
َّ ‫ُون‬ ُ ‫ت َوا ْد‬ ُ ‫أ َ ْم يَقُولُونَ ا ْفت ََراهُ قُ ْل فَأْتُوا بِعَ ْش ِر‬
ٍ ‫س َو ٍر ِمثْ ِل ِه ُم ْفت ََريَا‬
.‫صا ِدقِين‬
َ
“Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Al Qur'an itu",
Katakanlah: "(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surah-surah yang dibuat-buat
yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain
Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar". (QS 11/Al-Hud : 13)
2. Membuat satu surah yang sama dengan Al-qur’an.

َ ‫َّللاِ إِ ْن ُك ْنت ُ ْم‬


. َ‫صا ِدقِين‬ ِ ‫ط ْعت ُ ْم ِم ْن د‬
َّ ‫ُون‬ ُ ْ‫ورةٍ ِمثْ ِل ِه َواد‬
َ َ ‫عوا َم ِن ا ْست‬ َ ‫س‬ُ ِ‫أ َ ْم يَقُولُونَ ا ْفت ََراهُ قُ ْل فَأْت ُوا ب‬
“Atau (patutkah) mereka mengatakan: "Muhammad membuat-buatnya."
Katakanlah: "(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat
seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya)
selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar." (QS 10/Yunus : 38)
C. Macam-macam Kemukjizatan Alqur’an
I’jaz Alqur’an terdiri dari beberapa macam. Diantara I’jaz Alqur’an adalah I’jaz
balaghi, I’jaz mengenai berita gaib, I’jaz tasyri’i (perundang-undangan) dan I’jaz ilmi dengan
berbagai macamnya seperti I’jaz al-thibbi (kedokteran), I’jaz al-falaki (astronomi), I’jaz al-
jughrafi (geografi), I’jaz at-thabi’i (fisika), I’jaz ‘adadi (jumlah), I’jaz I’lami (informasi) dan
I’jaz lain-lainnya.10
1. Di tinjau dari segi Balaghi (kebahasaan)
Kalimat-kalimat dalam Alqur’an adalah kalimat-kalimat yang menakjubkan, yang
berbeda sekali dengan kalimat yang dliuar Alqur’an. Ia mampu mengeluarkan sesuatu yang
abstrak kepada fenomena yang dapat dirasakan sehingga di dalamnya dapat dirasakan ruh
dinamika. Al-Jahidh memandang bahwa rahasia I’jaz Alqur’an pada susunan bahasanya
yang indah dan pada komposisinya yang menakjubkan. Mengenai hal ini mengatakan bahwa
Alqur’an adalah kalam yang berbeda dengan seluruh kalam yang lain, baik puisi maupun
prosa. Alqur’an merupakan kalam yang tidak bersajak yang berbeda dengan syair dan sajak.

10
Abu Zahra An- Najdi, Al quran dan Rahasia Angka-Angka, op.cit, h. 23.

9
Menurut M. Quraish Shibab dalam bukunya Mukjizat Al-Qur’an, ada banyak aspek
kebahasaan yang menjadikan Alqur’an sebagai mikjizat. Aspek kindahan bahasa Alqur’an
bisa dilhat dari beberapa hal antara lain nada dan langgamnya, isinya singkat dan padat,
memuaskan para pemikir dan orang kebanyakan, memuaskan akal dan jiwadan yang terakhir
keindahan dan ketepatan maknanya.11
2. Isyarat-Isyarat Ilmiah Alqur’an
Ada banyak isyarat-isyarat ilmiah di dalam Alqur’an yang telah dibuktikan melalui
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Isyarat-isyarat ilmiah tersebut antara lain dalam
bidang astronomi, reproduksi, biologi, fisika, geografi dan lain sebagainya sebagaimana yang
diterangkan oleh Dr. Nadiah Thayyarah dalam bukunya “Buku Pintar Sains dalam Al-Qur’an,
Mengerti Mukjizat Ilmiah Firman Tuhan”. Dalam buku tersebut, Dr. Nadiah Thayyarah
diterangkan secara mendetail fakta-fakta ilmiah yang terdapat dalam Alqur’an.
3. Rotasi Bumi
“dan kamu Lihat gunung-gunung itu, kamu sangka Dia tetap di tempatnya, Padahal
ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan
kokoh tiap-tiap sesuatu; Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Sejak semula manusia beranggapan bahwa bumi tempat mereka berpijak adalah pusat alam
semesta dan tidak bergerak. Gugusan bintang-bintang di langitlah yang bergerak mengelilingi
bumi. Teori ini dikenal dengan nama heliosentris yang bertahan lebih kurang 1.300 tahun
lamanya.12. Baru akhirnya sekita abad ke 17, Keppler, seorang ilmuwan menemukan bukti
ilmiah bahwa segala sesuatu yang ada di mayapada, seperti bintang dan planet-planet,
berotasi dan berevolusi di lintasannya sendiri.
4. Sidik jari dan kepribadian manusia
”Aku bersumpah demi hari kiamat, Aku aku bersumpah dengan jiwa yang Amat
menyesali (dirinya sendiri). Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan
mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?. Bukan demikian, sebenarnya Kami Kuasa
menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna”. (al-Qiyamah:1-4)
Kemajuan ilmepengetahuan dan teknologi berhasil mengungkaprahasia di balik sidik
jari pada abad ke-19. Terungkap bahwa garis-garis halus yang ada di ujung jari (banan)
seseorang berbeda dengan yang dimilki oleh orang lain. Di sana ad tiga jenis garis , garis

11
M. Qurais Shihab. Mukjizat Al-Qur’an di tinjau dari Aspek kebahasaan, Isyarat Ilmiah dan
Pemberitaan Gai, h. 123-126.
12
Nadiah Thayyarah. Buku Pintar Sains dalam Al-Qur’an,Mengerti Mukjizat Ilmiah Firman Allah, terj.
M. Zainal Arifin dkk, (Jakarta: Zaman, 2014), h. 449.

10
melengkung, garis melingkar dan garis meliuk-liukatau garis kompleks karena tersusun dari
beragam bentuk garis.
5. Pemberitaan Gaib Alqur’an
Berita tenggelam dan selamatanya badan Fir’aun
“Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh
Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak Menganiaya dan menindas (mereka); hingga
bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada
Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya Termasuk orang-orang
yang berserah diri (kepada Allah)". Apakah sekarang (baru kamu percaya), Padahal
Sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu Termasuk orang-orang yang
berbuat kerusakan.Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat
menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan Sesungguhnya kebanyakan
dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami”.
Yang perlu digaisbawahi dalam konteks pembicaraan ini adalah “Maka pada hari ini
Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang
datang sesudahmu”.
Memang orang mengetahui bahwa Fir’aun tenggelam dilaut merahketika mengejar
nabi Musa, tetapi menyangkut keselamatan badannya dan menjadi pelajaran bagi
generasisesudahnya merupakan satu hal yang tidak diketahui siapa pun pada masa nabi
Muhammad saw, bahkan tidak disinggung oleh Kitab Perjanjian Lama atau Perjanjian baru.
6. Kemenangan Romawai setelah kekalahannya
“Alif laam Miim (1).telah dikalahkan bangsa Rumawi (2). Di negeri yang
terdekat[1162] dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang (3). Dalam beberapa tahun
lagi[1164]. bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). dan di hari
(kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, (4) Karena
pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendakiNya.dan Dialah Maha Perkasa lagi
Penyayang (5).
Pada abad kelima dan keenam masehi terdapat dua kerajaan adikuasa, Romawi yang
beragama Kristen dan Persia yang beragama menyembah api. Persaingan antara keduanya
dalam perebutan kekuasan dan pengaruh amat keras.Bahkan peperangan sering tak
terhindarkan.13

13
Hisham Thalbah ,et al, Ensiklopedia Mukjizat Al-Quran dan Hadis Jilid 10 terj, Al I’Jaz Al-ilmi fi Al
quran wa Al sunnah oleh Syarif Hade Masyah, et al, (Bekasi: Sapta Sentosa, 2008) h. 40

11
Pada tahun 614 M terjadi peperangan antara kedua kerajaan tersebut dengan
kekalahan Romawi. Ketika itu kaum muslimin di ejek kaum musyrik Mekkah karena
mengharapakan kemenangan Romawi. Kemudian Allah menghibur mereka dan turunlah syat
tersebut.dan sejarah menginformasikan bahwa setelah tujuh tahun kekalahannya, tepatnya
pada tahun 622 M, terjadi lagi peperangan keduanya dan kemudian dimenangkan oleh
Romawi.
7. I’jaz ‘Adadi
Adanya I’jaz ‘Adadi dalam Alqur’an telah terbukti dan telah diketahui secara luas
oleh umat islam khususnya dan oleh dunia ilmu pengetahuan pada umumnya. Dr. Rasyifa
menemukan angka kunci 19 dalam sistem hitung Alqur’an. Penemuan ini diawali dengan
perhitungan huruf-huruf penyusun lafadz basmalah. Sementara Rosman Lubis menemukan
angka kunci yang lain sebagai pasangan dari 19 yaitu angka 11.14 Sedangkan Abu Zahra
menemukan kesesuaian antar makan yang terkandung dalam suatu kata dengan banyak
pengulangan kata tersebut dalam Alqur’an.
Ada kata-kata yang jumlah kata tersebut dalam Alqur’an sama dengan makna yang
terkandung dalam kata tersebut15. contoh kata sa’ah disebutkan sebanyak 24 kali karena
jumlah jam dalam sehari adalah 24 jam. Kata samawi yang berarti langit yang berkaitan
dengan kata sab’u, diulang sebanyak tujuh kali. Kata sujud dalam Alqur’an diulang sebanyak
34 kali. Ini sesuai dengan jumlah sujud dalam sehari, karena setiap hari melakukan 17 rakaat.

14
Rosman Lubis, Keajaiban Angka 11 dalam Al-Qur’an, (Jakarta: Pustaka Al-kautsar, 2001), h. 1-2.
15
Abu Zahra An- Najdi, Al quran dan Rahasia Angka-Angka, op. cit, h.72.

12
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan:

1. I’jaz al-Qur’an adalah ilmu yang membahas tentang segi-segi kemu’jizatan al-
Qur’an agar menjadi pelajaran bagi umat manusia.
2. Tujuan I’jaz al-Qur’an adalah:
 Untuk membuktikan kerasulan Nabi Muhammad saw.
 Untuk membuktikan bahwa kitab suci al-Qur’an benar-benar merupakan wahyu
dari Allah SWT.
 Untuk menunjukkan kelemahan mutu sastra dan balaghah bahasa manusia.
 Untuk menujukkan kelemahan daya upaya dan rekayasa manusia.
3. Secara garis besar, mukjizat dapat dibagi dalam dua bagian pokok, yaitu mukjizat
yang bersifat material indrawi yang tidak kekal dan mukjizat imaterial, logis dan dapat
dibuktikan sepanjang masa.
4. Segi-segi I’jazul Qur’an ialah hal-hal yang ada pada al-Qur’an yang menunjukkan
bahwa kitab itu adalah benar-benar wahyu Allah SWT, dan ketidakmampuan jin dan
manusia untuk membikin hal-hal yang sama seperti yang ada pada al-Qur’an.

13