Anda di halaman 1dari 13

“Penghimpunan Dana: Akuntansi Mudharabah”

Makalah Ini DisusunUntuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


“Akuntansi Syariah”

Dosen Pengampu:
Dr. Shinta Maharani, S.E, M.AK.

DisusunOleh:
Mega Pratitis Nur Aini (501180011)

FAKULTAS EKONOMI SYARIAH


PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PONOROGO
2019

0
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masyarakat di negara maju dan berkembang sangat membutuhkan bank sebagai
tempat untuk melakukan transaksi keuangannya. Undang-undang Perbankan Indonesia,
yakni Undang-undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah
dengan Undang-undang No. 10 Tahun 1998, membedakan bank berdasarkan kegiatan
usahanya menjadi dua, yaitu bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan
prinsip syariah dan bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional. Bank
merupakan lembaga keuangan yang dibangun atas dasar kepercayaan. Bank pun dalam
pendanaan operasionalnya sebagian besar berasal dari masyarakat. Dana-dana yang
dihimpun dari masyarakat ternyata menjadi sumber dana terbesar yang dijadikan andalan
oleh bank tersebut. Pencapaiannya mencapai 80-90% dari seluruh dana yang dikelola
bank. Setiap lapisan masyarakat yang menyimpan uangnya harus benar-benar yakin akan
keamanan uang yang diamanahkannya kepada bank-bank tertentu dan dalam jangka
waktu tertentu pula.
Demi mendukung perekonomian negara yang halal dan barakah, penggunaan jasa
perbakan berbasis syariah sangat dianjurkan. Dalam Islam, Menghimpun Dana selain
dilakukan oleh masyarakat secara ’urf, juga dapat ditemukan dasar-dasarnya secara
syari’ah sebagaimana ditemukan aktifitas Menghimpun Dana yang direkam dan
dijustifikasi oleh al-Qur’an, al-Hadis, dan juga telah menjadi ijma ulama’. Seiring
perkembangan zaman, Menghimpun Dana pun mengalami perkembangan dan modifikasi
sebagaimana terlihat dalam aktifitas ekonomi modern bersangkut paut dengan
penerapannya dalam masyarakat secara langsung maupun melalui dunia perbankan
dalam rangka memenuhi kebutuhan dengan tetap berada dalam bingkai syari’ah. Dalam
bank syariah penghimpunan dana dari masyarakat dilakukan tidak membedakan nama
produk tetapi melihat pada prinsip yaitu prinsip wadiah dan prinsip mudharabah. Apapun
nama produk yang diperhatikan adalah prinsip yang digunakn atas produk tersebut, hal
ini sangat terkait dengan porsi pembagian hasil usaha yang akan dilakukan antara
pemilik dana/ deposan (shahibul maal) dengan bank syariah sebagai mudharib.1

1
Muhammad, Rifqi.2008.Akuntansi Keuangan Syariah.Yogyakarta:P3EI

1
berdasarkan PSAK 105 mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak di
mana pihak pertama (pemilik dana) menyediakan seluruh dana, sedangkan pihak kedua
(pengelola dana) bertindak selaku pengelola, dan keuntungan dibagi di antara mereka
sesuai kesepakatan sedangkan kerugian finansial hanya ditanggung oleh pemilik dana.
Dalam mudharabah unsur terpenting adalah kepercayaan, yaitu kepercayaan dari
pemilik dana kepada pengelola dana. Kepercayaan itu penting karena dalam akad
mudharabah, pemilik dana tidak boleh ikut campur di dalam manajemen perusahaan atau
proyek yang dibiayai dengan dana pemilik dana tersebut. Kecuali sebatas memberikan
saran dan melakukan pengawasan pada pengelola dana. Sedangkan apabila usaha
tersebut mengalami kerugian yang mengakibatkan sebagian atau mungkin seluruh modal
yang ditanam oleh pemilik dana itu habis maka yang menanggung kerugian adalah
pemilik dana. Namun jika kerugian terjadi karena kelalaian pengelola, maka pengelola
harus menanggung sendiri.2

B. Rumusan Masalah
1. Bagaiman penghimpunan dana berdasarkan prinsip Mudharabah?
2. Bagaiman Akuntansi atas penghimpunan dana berdasarkan prinsip Mudharabah?

2
Nurhayati, Sri dan Wasilah. 2008. Akuntansi Syariah di Indonesia. Jakarta: Salemba Empat

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Penghimpunan dana berdasarkan prinsip Mudharabah


penghimpunan dana berdasarkan prinsip Mudharabah
1. Pengertian Mudharabah
Istilah “mudharabah” merupakan istilah yang paling banyak digunakan oleh
bank-Bank Islam. Prinsip ini juga dikenal sebagai “qiradh” atau “muqaradah”.
Mudharabah adalah perjanjian atas suatu jenis perkongsian, dimana pihak pertama
(shahib al’mal) menyediakan dana, dan pihak kedua (mudharib) bertanggung jawab atas
pengelolaan usaha. Hasil Usaha dibagikan sesuai dengan nisbah (porsi bagi hasil) yang
telah disepakati bersama secara awal.3
Secara teknis mudharabah adalah akad kerja sama usaha an
2. Prinsip Muamalah Dalam Islam
Peran muamalah dalam aktivitas sehari-hari sangat krusial, sebab meliputi aspek
pemenuhan kebutuhan hidup manusia.Sehingga praktek muamalah dilakukan sesuai
dengan nilai kebenaran yang menjadi pokok dasar dalam berpikir dan bertindak saat
melakukan macam-macam transaksi muamalah.
Berikut ini adalah beberapa prinsip muamalah yang perlu diperhatikan agar
tujuan muamalah dapat tercapai.
a. Hukum muamalah mubah – pada dasarnya segala bentuk muamalah hukumnya
adalah boleh. Kecuuali aktivitas atau perbuatan muamalah yang dilarang dalam
Al-quran dan Al-hadist. Hal ini memberikan kesempatan dan peluang untuk
terciptanya aneka muamalah baru sesuai perkembangan zaman.
b. Atas dasar sukarela – pengertian muamalah dalam islam bermakna saling berbuat,
dengan ketentuan tidak ada paksaan diantara pihak yang saling melakukan
perbuatan muamalah tersebut. Hal ini menjamin kebebasan para pihak dalam
memilih meneruskan atau menghentikan transaksi, salah satu contohnya adalah
praktekmacam-macam khiyar dalam jual beli.

3
Sofyan S. Harahap, Dkk., Akuntansi Perbankan Syariah (Jakarta: LPE Usakti, 2005), 90.

3
c. Mendatangkan manfaat, menghindari mudharat – hal ini mengarahkan para pihak
yang bermuamalah unutk menghindari perbuatan yang sia-sia dan mubazir. Serta
mewaspadai potensi risiko yang akan terjadi.
d. Memelihara nilai keadilan – muamalah yang dilakukan adalah perbuatan yang
menghindari unsur-unsur penganiayaan dan penindasan. Dan juga mengambil
kesempatan dalam kesulitan orang lain
Ke-empat pokok prinsip muamalah tersebut sejalan dengan karakteristik ekonomi
syariah. Sekaligus menjadi landasan bagi prinsip ekonomi islam, seperti yang
dipraktekkan pada lembaga-lembaga keuangan syariah.4
3. Larangan Bermuamalah
Sesuai dengan prinsip muamalah dalam islam, maka pada dasarnya setiap
aktivitas sosial masyarakat, khususnya dalam aktivitas ekonomi boleh dilakukan.
Dengan ketentuan tidak ada larangan agama atas akivitas tersebut.Oleh karena itu,
dalil muamalah merupakan larangan-larangan yang terdapat dalam sumber hukum
muamalah yang utama, yaitu Al-quran dan Al-hadist.Setidaknya ada 5 transaksi yang
terlarang dilakukan dalam muamalah. Kelima jenis transaksi tersebut adalah:5
a. Maisyir Menurut bahasa maisir berarti gampang/mudah. Menurut istilah maisir
berarti memperoleh keuntungan tanpa harus bekerja keras. Maisir sering dikenal
dengan perjudian karena dalam praktik perjudian seseorang dapat memperoleh
keuntungan dengan cara mudah. Dalam perjudian, seseorang dalam kondisi bisa
untung atau bisa rugi. Padahal islam mengajarkan tentang usaha dan kerja keras.
Larangan terhadap maisir / judi sendiri sudah jelas ada dalam AlQur’an (2:219
dan 5:90). Contoh transaksi maysir dalam kehidupan sehari-hari adalah perjudian
atau perlombaan memancing yang hadiahnya berasal dari uang pendaftaran
peserta.
b. Gharar adalah muamalah yang memiliki ketidakjelasan obyek transaksinya.
Seperti barang yang dijual tidak dapat diserah-terimakan, tidak jelas jumlah,
harga dan waktu pembayarannya.
c. Haram tidak diperbolehkan melakukan transaksi atas benda atau hal-hal yang
diharamkan. Sehingga tidak sah transaksi jual beli jika obyek jual belinya adalah
khamar atau narkoba.

4
https://beritalangitan.com/muammalah/prinsip-dasar-muamalah-dalam-islam/, Diakses Senin, 11 Maret 2019
Pukul 20.00 WIB.
5
Ibid.

4
d. Riba – pengertian riba dalam islam adalah tambahan dalam aktivitas hutang
piutang dan jual beli. Terdapat macam-macam riba dalam kehidupan sehari-
hari yang perlu ditinggalkan, seperti riba jahiliyah dan riba nasiah dalam transaksi
perbankan konvensional.
e. Bathil – transaksi bathil dalam muamalah terlarang untuk dilakukan. Karena telah
ditegaskan dalam Al-Quran surat An-nissa ayat 29-30.
Oleh karena itu, sebaiknya sebelum memulai melakukan aktivitas muamalah,
setiap individu telah mengetahui macam-macam muamalah yang diperbolehkan dalam
islam.6
B. Pengertian Maqashid Syari’ah
Maqashid syari’ah terdiri dari dua kata, maqashid dan syari'ah.Maqashid Syari’ah
ditinjau dari sudut lughawi (bahasa) merupakan kata majemuk yang terdiri dari dua kata,
yakni al-maqashid dan asy-syariah.Akar kata maqashid adalah qashada-yaqshidu yang
bermakna menyengaja, bermaksud kepada, maqashid merupakan bentuk jamak (plural)
dari maqṣid/maqṣad yang berarti maksud, kesengajaan atau tujuan.7
Sedangkan kata syari’ah secara etimologi berasal dari kata syara’a yasyra’u-syar’an
yang berarti membuat shari’at atau undang-undang, menerangkan serta menyatakan.
Dikatakan syara’a lahum syar’an berarti ia telah menunjukkan jalan kepada mereka atau
bermakna sanna yang berarti menunjukkan jalan atau peraturan.8Dengan mengetahui
pengertian maqashiddan syari’ah secara etimologi, maka dapat membantu kita
menjelaskan pengertian maqashid syari’ahsecara terminologi, yaitu maksud atau tujuan-
tujuan dishari’atkanya hukum dalam Islam, hal ini mengindikasikan bahwa Maqhasid
syari’aherat kaitanya dengan hikmah dan ‘illat.
Sementara apabila kita berbicara maqhasid syari’ah sebagai salah satu disiplin ilmu
tertentu yang independen, maka tidak akan kita jumpai definisi yang konkrit dan
komprehensif yang diberikan oleh ulama-ulama klasik, sehingga akan kita dapati
beragam versi definisi yang berbeda satu sama lain, meskipun kesemuanya berangkat
dari titik tolak yang hampir sama. Oleh karena itulah, kebanyakan definisi Maqhasid
syari’ah yang kita dapati sekarang ini, lebih banyak dikemukakan oleh ulama-ulama
kontemporer, seperti:

6
Ibid.
7
Mahmud Yunus, Qamus Arabiy-Indunisiy (Jakarta: Hida Karya Agung, cet.8 1990), 343- 344.
8
Hasbi Umar, Nalar Fiqih Kontemporer (Jakarta: Gaung Persada Press, 2007), 36.

5
1. Tahir bin Asyur, yang membagi maqhasid syari’ah menjadi dua bagian. Yaitu
maqhasid syari’ahal-‘ammah dan maqhasid syari’ahal-khashah. Bagian pertama ia
maksudkan sebagai hikmah, dan rahasia serta tujuan diturunkannya syarî’ah secara
umum yang meliputi seluruh aspek syarî’at dengan tanpa mengkhususkan diri pada
satu bidang tertentu. Sementara bagian kedua ia maksudkan sebagai seperangkat
metode tertentu yang dikehendaki oleh al-syâri’ dalam rangka merealisasikan
kemaslahatan manusia dengan mengkhususkannya pada satu bidang dari bidang-
bidang syari’at yang ada, seperti pada bidang ekonomi, hukum keluarga.
2. ‘Allal al-Fasi mengungkapkan bahwa maqashid syari’ah merupakan metode untuk
mengetahui tujuan pensyari’atan sebuah hukum untuk menjamin kemaslahatan dan
mencegah kemafsadatan yang mengandung kemaslahatan untuk manusia.9
3. Wahbah al-Zuhaili mengatakan bahwa maqasid syari’ah adalah nilai-nilai dan
sasaran syara' yang tersirat dalam segenap atau bagian terbesar dari hukum-
hukumnya. Nilai-nilai dan sasaran-sasaran itu dipandang sebagai tujuan dan rahasia
syari’ah, yang ditetapkan oleh al-Syari' (pembuat syari’at yaitu Allah dan Nabi
Muhammad) dalam setiap ketentuan hukum.10
4. Sementara al-Syathibi menyatakan bahwa beban-beban syari’ah kembali pada
penjagaan tujuan-tujuanya pada makhluk. Tujuan-tujuan ini tidak lepas dari tiga
macam: dlaruriyyat, hajiyyat dan tahsiniyyat. Al-Syari’ memiliki tujuan yang
terkandung dalam setiap penentuan hukum untuk mewujudkan kemaslahatan
manusia di dunia dan di akhirat.
Maqashid Syari’ah mengandung pengertian umum dan pengertian khusus.
Pengertian yang bersifat umum mengacu pada apa yang dimaksud oleh ayat-ayat hukum
atau hadits-hadits hukum, baik yang ditunjukkan oleh pengertian kebahasaannya atau
tujuan yang terkandung di dalamnya. Pengertian yang bersifat umum itu identik dengan
pengertian istilah maqashid al-syari' (maksud Allah dalam menurunkan ayat hukum,
atau maksud Rasulullah dalam mengeluarkan hadits hukum).Sedangkan pengertian yang
bersifat khusus adalah substansi atau tujuan yang hendak dicapai oleh suatu rumusan
hukum.11

9
Ali Mutakin, “Teori Maqashid Al-Syari’ah Dan Hubungannya Dengan Metode Istinbath Hukum”, Kanun
Jurnal Ilmu Hukum, Vol. 19, No. 3 (Agustus, 2017), 550-551.
10
Wahbah al-Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, cet. Ke-II (Damaskus: Dar al-Fikr, 1986), 225.
11
Ghofar Shidiq, “Teori Maqaṣid Asy-Syari’ah Dalam Hukum Islam”, Jurnal Sultan Agung, Vol XlIV No. 118
(Juni – Agustus 2009), 119.

6
Terlepas dari perbedaan pendapat dalam mendefinisikan maqasid syari’ah tersebut,
para ulama ushul al-fiqh sepakat bahwa maqasid syari’ah adalah tujuan-tujuan akhir
yang harus terealisasi dengan diaplikasikanya syari’at.Pengaplikasian syari’at dalam
kehidupan nyata (dunia), adalah untuk menciptakan kemaslahatan atau kebaikan para
makhluk di muka bumi, yang kemudian berimbas pada kemaslahatan atau kebaikan di
akhirat.12
C. Maqashid Syariah Kaitannya Dengan Maslahah
Mengkaji teori maqashid syari’ah tidak dapat dipisahkan dari pembahasan
maslahah. Maqashid syari’ah bermakna tujuan dan rahasia Allah meletakkan sebuah
syariah, tujuan tersebut adalah maslahah bagi seluruh umat. Maslahah merupakan
manifestasi dari maqashid syari’ah (tujuan syariah) yaitu untuk mendatangkan maslahah
bagi hamba-Nya. Jadi dua istilah ini mempunyai hubungan dan keterkaitan yang sangat
erat. Kata maslahah berasal dari bahasa Arab yang berarti sesuatu yang mendatangkan
kebaikan dan manfaat. Kebalikannya atau lawannya adalah mafsadah yang berarti
kerusakan dan keburukan.
Secara etimologi, maslahah sama dengan manfaat, baik dari segi lafal maupun
makna. Maslahah juga berarti manfaat atau suatu pekerjaan yang mengandung manfaat.
Apabila dikatakan bahwa perdagangan itu suatu kemaslahatan dan menuntut ilmu itu
suatu kemaslahatan, maka hal tersebut berarti bahwa perdagangan dan menuntut ilmu itu
penyebab di perolehnya manfaat lahir dan batin. Dalam perjalanan sejarah, lafal
maslahah sudah digunakan dalam penalaran sejak zaman Sahabat, sebagai suatu prinsip
bahkan istilah teknis namun belum dijelaskan secara tepat makna. Bahkan maknanya
terus berkembang sampai zaman sekarang.13
Secara terminologi, Para Ulama mendefinisikan maslahah sebagai manfaat dan
kebaikan yang dimaksudkan oleh Syari‘ bagi hamba-Nya untuk menjaga agama, jiwa,
akal, keturunan dan harta mereka.14Maqashid syari’ah akan menjadi payung yang selalu
memproteksi maslahah. Maqashid syari’ahjuga akan mengarahkan jalan untuk menuju
maslahah yang benar.
Dalam memproteksi maslahah, maqashid syari’ahmenaungi lima unsur penting.
Kelima unsur ini merupakan hal yang sangat fundamental dan mencakup secara

12
Ali Mutakin, “Teori Maqashid Al-Syari’ah Dan Hubungannya Dengan Metode Istinbath Hukum”, 552.
13
Al Yasa’ Abubakar, Metode Istislshiah, Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dalam Ushul Fiqh (Jakarta:
Kencana, 2016), 36.
14
Muhammad Said Ramadhan Al Buti, Dawabit al-Maslahah fī asy-Syarī‘ah al-Islamiyyah (Beirut: Muassasah
ar-Risalah, cet 6, 2001), 27.

7
menyeluruh kehidupan manusia sehingga sering disebut dengan al-kulliyah al-khamsah
(5 aspek menyeluruh), sehingga kerusakan pada salah satu aspek saja akan menimbulkan
implikasi negatif yang luar biasa. Sehingga maqashid syari’ah memberi perhatian,
perlindungan dan proteksi (hifz) lebih terhadap lima unsur tersebut, yaitu menjaga agama
atau keyakinan (hifzud-din), menjaga jiwa (hifzun-nafs), menjaga keturunan (hifzun-
nasl), menjaga akal atau intelektual (hifzul-azl) dan menjaga harta atau pproperti (hifzul-
mal).
Melihat pertimbangan beberapa penelitian dan pendapat Ulama kontemporer
termasuk Imam Yusuf al-Qardawi, Al Yasa’ Abubakar menambahkan proteksi dan
perlindungan kebutuhan keberlanjutan umat dan masyarakat (hifz al-ummah) dan
pelestarian lingkungan hidup (hifz al-biah) ke dalam al-kulliyah al-khamsah sehingga
menjadi ad-daruriyah as-sab‘ah (tujuh unsur penting).
Inilah yang menjadi patokan penting dalam menentukan maslahah. Maslahah yang
akan diorganisir harus mendukung lima atau tujuh unsur ini dan tidak boleh
berseberangan sedikitpun. Tujuh unsur apabila disetujui yang diproteksi oleh maqasid
syari’ah, tingkat kepentingannya dibagi menjadi tiga tingkatan yang berurutan secara
hierarkis, yaitu daruriyat (necessities/primer), hajiyyat (requirements/sekunder), dan
tahsiniyat (beautification/tersier). Keperluan dan perlindungan menjadi tiga tingkatan ini,
oleh asy-Syāṭibi dilakukan berdasarkan pengkajian dan penelitian atas ayat-ayat Alquran
secara induktif dan komprehensif. Sehingga beliau beranggapan bahwa keberadaannya
sudah mencapai tingkat qath’iy, maka memasukkannya kedalam penalaran dalam
istinbathhukum adalah hal yang sangat penting dan utama.15
Pertama; Maslahah daruriyat adalah sesuatu yang harus ada/dilaksanakan untuk
mewujudkan kemaslahatan yang terkait dengan dimensi duniawi dan ukhrawi sekaligus.
Apabila hal ini tidak ada, maka akan menyebabkan hilangnya hidup dan kehidupan
seperti makan, minum, shalat, puasa, dan ibadah-ibadah wajib lainnya. Contohnya dalam
muamalah adalah kewajiban melakukan akad dalam transaksi apapun.
Kedua; Maslahah hajiyyat adalah sesuatu yang sebaiknya ada sehingga dalam
melaksanakannya leluasa dan terhindar dari kesulitan. Kalau sesuatu ini tidak ada, maka
ia tidak akan menimbulkan kerusakan atau kematian namun akan berimplikasi adanya
kesulitan dan kesempitan yang besar. Contoh yang diberikan oleh Imam Syatibi dalam

Aminah, Maqāṣid Asy-Syarī‘Ah Pengertian Dan Penerapan Dalam Ekonomi Islam, 172-
15

174.
8
hal muamalat pada bagian ini adalah dilegalkan beberapa transaksi bisnis dalam fikih
muamalah, antara lain qirād atau mudarabah, musaqah dan salam.
Ketiga; Maslahah tahsiniyat adalah sesuatu yang tidak mencapai taraf dua kategori
di atas. Hal-hal yang masuk dalam kategori tahsiniyat jika dilakukan akan mendatangkan
kesempurnaan dalam suatu aktivitas yang dilakukan, dan bila ditinggalkan maka tidak
akan menimbulkan kesulitan.
Ketiga pembagian tersebut harus dipahami secara berurutan, apabila berseberangan
maka maslahah daruriyat (necessities/primer) harus didahului daripada maslahah
hajiyyat (requirements/sekunder), setelah maslahah daruriyat dan maslahah hajiyyat
terpenuhi baru memenuhi maslahah tahsiniyat (beautification/tersier).
C. Prinsip Bermu’amalah Dalam Maqashid Syariah
Ekonomi Islam adalah bagian dari fikih muamalah yang mengkaji interaksi manusia
yang berhubungan dengan kegiatan keuangan. Dalam perjalanannya tentu mengalami
banyak perkembangan dan kemajuan. Hal-hal yang tidak terpikir pada zaman dahulu
kala, menjadi kenyataan zaman sekarang. Maqashid syari’ah yang melahirkan maslahah
menjadi salah satu model pendekatan dalam ijtihad dan berkedudukan sangat vital dalam
fikih muamalah. Maka para ahli teori hukum Islam menjadikan pengetahuan maslahah
sebagai salah satu kriteria bagi mujtahid yang melakukan ijtihad.16
Ali Yasa’ mengungkap bahwa pertimbangan maqhasid syari’ah dalam metode
penalaran perlu dilakukan, menurut asy-Syatibi karena Allah menurunkan syariat
tidaklah secara sia-sia. Allah menurunkan hukum untuk kemaslahatan manusia didunia
dan akhirat. Karena itu berupaya menemukan tujuan dan maslahat yang dikandung
hukum agar tidak terjebak pada mementingkan formal semata, yang mungkin sekali akan
kehilangan roh, yaitu kemaslahatan dan tujuan.17
Maslahah merupakan esensi dari kebijakan-kebijakan syariah (siyasah syar’iyah)
termasuk juga kebijakan dalam perekonomian. Maslahah `ammah (kemaslahatan umum)
merupakan landasan muamalah, yaitu kemaslahatan yang dibingkai secara syar‘iy, bukan
semata-mata profit motive dan material rentability.
Kemunculan lembaga dan transaksi modern mendorong fikih muamalah untuk
memandang interaksi ini dari sudut pandang yang baru juga. Kebutuhan akan fatwa dan
ijtihad jama‘i semakin meningkat. Nash yang ada, secara langsung belum cukup untuk

16
Waryani fajar Riyanto‚ “Pertingkatan Kebutuhan Dalam Maqasid Asy-Syari’ah”, Jurnal Hukum Islam (JHI),
Volume 8, Nomor 1 (Juni 2010),
17
Al Yasa’ Abubakar, Metode Istislahiah, Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dalam Ushul Fiqh (Jakarta: Kencana,
2016), 11.

9
menjawab problematika yang ada. Jika terabaikan maka kehidupan akan rusak. Disinilah
butuh istinbat hukum dengan menilik maqashid syari’ah dan maslahah secara tepat dan
profesional. Jadi, untuk mengembangkan ekonomi Islam, para ekonom Muslim harus
berpegang kepada maslahah. Karena maslahah adalah saripati dari syari’ah. Para ulama
menyatakan‚ di mana ada maslahah, maka di situ ada syariah Allah”.18
Menurut Ali Yasa’ Abu Bakar, penetapan hukum dengan metode istislahiyah
(maslahah) dapat digunakan dalam menyelesaikan dalam empat jenis masalah, yaitu:
1. Mencari dan menemukan hukum atas suatu persoalan yang tidak mempunyai nash
khusus (langsung) sebagai dalil. Ini adalah tujuan utama dari konsep maslahah..
2. Sebagian dari penalaran ini, paling kurang dalam keadaan tertentu dapat juga
digunakan untuk mennentukan hukum terhadap masalah baru yang sebetulnya telah
mempunyai nash khusus, tetapi tidak secara sempurna.
3. Sampai batas tertentu, pola dan metode istislahiyah ini tidak diperlukan untuk
menyelesaikan kasus-kasus baru, tetapi dapat juga digunakan untuk meneliti ulang,
mengubah memperbaiki satau menyempurnakan peraturan lama.
4. Suatu masalah yang dahulu dianggap mempunyai nash khusus, tetapi ketika diteliti
ulang terbukti penggunaannya tidak tepat, sehingga butuh metode istislahiyah.
Dari empat bentuk masalah diatas, sangat jelas bahwasanya masalah dalam
bermuamalah sangat butuh kepada metode penalaran ini. Kesimpulannya maqashid
syari’ah dan maslahah dengan metode istislahiyah mempunyai kedudukan yang sangat
penting dalam fikih Muamalah terutama dalam mu‘amalah maliyah (interaksi ekonomi).
Dengan maslahah, syariah Islam memiliki relevansi dengan konteks zamannya dan
menjadi syariah selalu up date menyapa segenap persoalan kehidupan manusia dengan
cahaya ajarannya yang mencerahkan. Melalui maslahah akan terealisasi kemakmuran
dan kesejahteraan dan kemurnian pengabdian kepada Tuhan. Pengabaian maslahah akan
mendorong pada pengabaian kebutuhan manusia untuk melanjutkan hidup di dunia dan
bahkan untuk mencapai kebahagian di akhirat.

18
Aminah, “Maqashid Syari’ah Pengertian Dan Penerapan Dalam Ekonomi Islam, 171.

10
DAFTAR PUSTAKA

Al Yasa’ Abubakar, Metode Istislshiah, Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dalam


Ushul Fiqh (Jakarta: Kencana, 2016).

Ali Mutakin, “Teori Maqashid Al-Syari’ah Dan Hubungannya Dengan Metode


Istinbath Hukum”, Kanun Jurnal Ilmu Hukum, Vol. 19, No. 3 (Agustus, 2017).

Aminah, “Maqashid Syari’ah Pengertian Dan Penerapan Dalam Ekonomi Islam”,


FitrahJurnal Kajian Ilmu-ilmu Keislaman, Vol. 03 No. 1 (Juli, 2017), 167-168.

Ghofar Shidiq, “Teori Maqaṣid Asy-Syari’ah Dalam Hukum Islam”, Jurnal Sultan
Agung, Vol XlIV No. 118 (Juni – Agustus 2009).

Hasbi Umar, Nalar Fiqih Kontemporer (Jakarta: Gaung Persada Press, 2007).

Mahmud Yunus, Qamus Arabiy-Indunisiy (Jakarta: Hida Karya Agung, cet.8 1990).

Muhammad Said Ramadhan Al Buti, Dawabit al-Maslahah fī asy-Syarī‘ah al-


Islamiyyah (Beirut: Muassasah ar-Risalah, cet 6, 2001).

Waryani fajar Riyanto‚ “Pertingkatan Kebutuhan Dalam Maqasid Asy-Syari’ah”,


Jurnal Hukum Islam (JHI), Volume 8, Nomor 1 (Juni 2010),

Wahbah al-Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, cet. Ke-II (Damaskus: Dar al-Fikr,
1986).

https://dosenekonomi.com/ilmu-ekonomi/ekonomi-syariah/macam-macam-
muamalah, Diakses Senin, 11 Maret 2019 Pukul 20.00 WIB.

https://beritalangitan.com/muammalah/prinsip-dasar-muamalah-dalam-islam/,
Diakses Senin, 11 Maret 2019 Pukul 20.00 WIB.

11
12