Anda di halaman 1dari 8

Topik: Tonsilitis

Tanggal (kasus): 20 januari 2019 Presenter: dr. Rangga Alam Vaneo


Tanggal presentasi: Pendamping: dr. Avia Atryka
dr. Fujiyanto
Tempat presentasi: RS Bhayangkara Anton Soedjarwo
Obyektif presentasi:
□ Keilmuan □ Keterampilan □ Penyegaran □ Tinjauan pustaka
□ Diagnostik □ Manajemen □ Masalah □ Istimewa
□ Neonatus □ Bayi □ Anak □ Remaja □ Dewasa □ Lansia □ Bumil
□ Deskripsi: Pria 35th , datang dengan keluhan demam sejak 2 hari, disertai nyeri telan
□ Tujuan: Melakukan penegakan diagnosis serta penatalaksanaan awal pada pasien dengan
Tonsilitis
Bahan bahasan: □ Tinjauan pustaka □ Riset □ Kasus □ Audit
Cara membahas: □ Diskusi □ Presentasi dan □ E‐mail □ Pos
diskusi
Data pasien: Nama: Tn H Umur : 35 tahun
Data utama untuk bahan diskusi:
Diagnosis/ Gambaran Klinis: Pria 35th , datang dengan keluhan demam sejak 2 hari, disertai
nyeri telan
2. Riwayat Pengobatan: Paracetamol
3. Riwayat kesehatan/penyakit: -
4. Riwayat keluarga/masyarakat: -
5. Riwayat pekerjaaan: Pelajar
6. Lain‐lain : tidak ada

Daftar Pustaka:

1. Ashae, R. 2005. http://www.kidsource.com/ASHA/otitis.html. What is Tonsilitis?


2. Gates, G.A. 2005. http://www.nidcd.nih.gov/health/hearing/otitism.asp. Journal of Tonsilitis.

3. Ramsey, D.D. 2003. http://www.illionisuniv.com/infection/Midear.html. Tonsilitis

4. Djaafar, Z. 2001. Kelainan Telingan Tengah. Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga, Hidung dan
Tenggorok. Edisi ke-5. Jakarta: 49-62
5. Wikipedia. 2005. http://en.wikipedia.org/wiki/Ear. Wikipedia Ecyclopedia

6. Robertson, J.S. 2004. http://www.emedicine.com/emerg/topic351.htm. Journal of Tonsilitis.


Pernafasan : 20 kali/menit

Subjektif
Pria 35th , datang dengan keluhan demam sejak 2 hari, disertai nyeri telan menjalar ke
telinga, nyeri dirasakan hilang timbul dan dirasakan saat menelan, BAB normal BAK normal
Pemeriksaan fisik
Tanda Vital:
Keadaan umum: Lemah
Kesadaran : Compos Mentis (E4 V5 M6)
Tekanandarah : 120/80 mmHg
Nadi : 80 kali/menit
Suhu : 38,1 oC
RR : 23 kali/menit
Status Generalis
- Mata: Konjungtiva anemis (-/-), Sklera Ikterik (-/-), Refleks Cahaya Langsung dan
Tidak Langsung (+/+), pupil bulat, isokor, perdarahan subkonjungtiva (-/-)
- Hidung : Septum ditengah, sekret (-/-)
- Telinga : Normotia, sekret (-/-)
- Mulut : Lidah kotor (-), mukosa bibir kering (-)
- Leher : KGB tidak teraba membesar Tonsil T3-T3 hiperemis

- Paru :
 Inspeksi : simetris kiri dan kanan, retraksi sela iga (-)
 Palpasi : fremitus kiri = kanan
 Perkusi : sonor kedua lapangan paru
 Auskultasi : vesikuler, wheezing -/-, rhonki -/-
- Jantung :
 Inspeksi : Iktus cordis tidak terlihat
 Palpasi : Iktus teraba di LMCS ICS V
 Perkusi : Batas jantung dalam batas normal
 Auskultasi : BJ I-II reguler, murmur (-), pulsus deficit (-)
- Abdomen : Supel, bising usus (+), hepatomegali (-), splenomegali (-)
- Ekstremitas : Akral dingin (-), oedem (-), CRT < 2 detik
Pemeriksaan laboratorium
 Hemoglobin : 14 g/dl
 Leukosit : 15000/mm3
 Trombosit : 234000 /mm3
 Hematokrit : 44,8%

Assessment
Setelah dilakukan anamnesis (subjektif), pemeriksaan fisik (objektif) dan pemeriksaan
penunjang pada pasien, ditegakkan diagnosis Tonsilitis

TONSILITIS
Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari cincin
Waldeyer.Cincin Waldeyer terdiri atas susunan kelenjar limfa yang terdapat di dalam rongga
mulutyaitu: tonsil laringeal (adenoid), tonsil palatina (tonsila faucial), tonsila lingual
(tonsilapangkal lidah), tonsil tuba Eustachius (lateral band dinding faring/ Gerlach’s
tonsil).Peradangan pada tonsila palatine biasanya meluas ke adenoid dan tonsil lingual.
Penyebaran infeksi terjadi melalui udara (air borne droplets), tangan dan ciuman. Dapat
terjadi pada semua umur, terutama pada anak

1. Tonsilitis Akut
Tonsilitis adalah peradangan umum dan pembengkakan dari jaringan tonsila yang
biasanya disertai dengan pengumpulan leukosit, sel-sel epitel mati, dan bakteri pathogen dalam
kripta.

Tonsilitis bakterial supurativa akut paling sering disebabkan oleh stretokokus beta
hemolitikus grup A. Meskipun pneumokokus, stafilokokus dan Haemophilus influenzae juga
virus patogen dapat dilibatkan. Kadang-kadang streptokokus non hemolitikus atau
streptokokus viridans, ditemukan pada biakan, biasanya pada kasus-kasus berat.

Infeksi bakteri pada lapisan epitel jaringan tonsil akan menimbulkan reaksi radang
berupa keluarnya lekosit polimorfonuklear sehingga terbentuk detritus. Detritus ini merupakan
kumpulan lekosit, bakteri yang mati, dan epitel yang terlepas. Secara klinis detritus ini mengisi
kripta tonsil dan tampak sebagai bercak kuning.
Bentuk tonsillitis akut dengan detritus yang jelas disebut tonsillitis folikularis, bila
bercak-bercak detritus ini menjadi satu, membentuk alur alur maka akan terjadi tonsillitis
lakunaris. Bercak detritus ini dapat melebar sehingga terbentuk membrane semu
(Pseudomembran) yang menutupi tonsil.
Gejala dan tanda yang sering ditemukan adalah nyeri tenggorokan, nyeri waktu
menelan, demam dengan suhu tubuh yang tinggi, rasa lelu, rasa nyeri pada sendi-sendi, tidak
nafsu makan dan nyeri pada telinga. Rasa nyeri di telinga ini karena nyeri alih melalui n
Glosofaringeus. Seringkali disertai adenopati servikalis disertai nyeri tekan. Pada pemeriksaan
tampak tonsil membengkak, hipe/remis dan terdapat detritus berbentuk folikel, lakuna, atau
tertutup oleh membrane semu. Kelenjar submandibula membengkak dan nyeri tekan.
Pada umumnya penderita dengan tonsillitis akut serta demam sebaiknya tirah
baring, pemberian cairan adekuat serta diet ringan. Analgetik oral efektif untuk mengurangi
nyeri. Terapi antibiotik dikaitkan dengan biakan dan sensitivitas yang tepat. Penisilin masih
merupakan obat pilihan, kecuali jika terdapat resistensi atau penderita sensitive terhadap
penisilin. Pada kasus tersebut eritromisin atau antibiotik spesifik yang efektif melawan
organisme sebaiknya digunakan. Pengobatan sebaiknya diberikan selama lima sampai sepuluh
hari. Jika hasil biakan didapatkan streptokokus beta hemolitikusterapi yang adekuat
dipertahankan selama sepuluh hari untuk menurunkan kemungkinan komplikasi non
supurativa seperti nefritis dan jantung rematik.

2. Tonsilitis Kronis
Tonsilitis kronis merupakan penyakit yang paling sering terjadi dari semua penyakit
tenggorokan yang berulang. Faktor predisposisi timbulnya tonsilitis kronik adalah rangsangan
yang menahun dari rokok, beberapa jenis makanan, hygiene mulut yang buruk, pengaruh
cuaca, kelelahan fisk dan pengobatan tonslitis akut yang tidak adekuat. Radang pada tonsil
dapat disebabkan kuman Grup A Streptococcus beta hemolitikus, Pneumococcus,
Streptococcus viridans dan Streptococcus piogenes. Gambaran klinis bervariasi dan diagnosa
sebagian besar tergantung pada infeksi.

3.1 Patogenesa
Pada umumnya tonsilitis kronis memiliki dua gambaran, yaitu terjadi pembesaran tonsil
dan pembentukan jaringan parut. Terlihat gambaran pembesaran kripta pada beberapa kasus
tonsilitis kronis. Infiltrasi bakteri pada lapisan epitel jaringan tonsil dalam waktu lama akan
menimbulkan reaksi radang berupa keluarnya sel limfosit dan basofil sehingga timbul detritus.
Detritus merupakan kumpulan leukosit, bakteri yang mati dan epitel yang terlepas. Secara
klinis, detritus ini mengisi kriptus tonsil dan tampak sebagai bercak kuning. Bercak detritus
ini, dapat melebar sehingga terbentuk membran semu (pseudomembran) yang menutupi tonsil.
Proses berjalan terus sehingga menembus kapsul tonsil dan akhirnya menimbulkan perlekatan
dengan jaringan disekitar fossa tonsilaris. Dari hasil biakan tonsil, pada tonsilitis kronis
didapatkan bakteri dengan virulensi rendah dan jarang ditemukan Streptococcus beta
hemolitikus.

3.2 Gejala dan Tanda


Gejala dan tanda yang sering ditemukan adalah nyeri tenggorok, rasa mengganjal pada
tenggorokan, tenggorokan terasa kering, nyeri pada waktu menelan, bau mulut , demam dengan
suhu tubuh yang tinggi, rasa lesu, rasa nyeri di sendi-sendi, tidak nafsu makan dan rasa nyeri
di telinga (otalgia). Rasa nyeri di telinga ini dikarenakan nyeri alih (referred pain) melalui n.
Glossopharingeus (n.IX). Pada pemeriksaan tampak tonsil membengkak, hiperemis dan
terdapat detritus berbentuk folikel, lakuna atau tertutup oleh membran semu. Kelenjar
submandibula membengak dan nyeri tekan.

3.3 Terapi
Antibotika spektrum luas, antipiretik dan obat kumur yang mengandung desinfektan.
Pada keadaan dimana tonsilitis sangat sering timbul dan pasien merasa sangat terganggu, maka
terapi pilihan adalah pengangkatan tonsil (tonsilektomi).
Indikasi Absolut Tonsilektomi :
1.Timbulnya kor pulmonale karena obstruksi jalan nafas yang kronis
2. Hipertrofi tonsil atau adenoid dengan sindroma apneu waktu tidur
3. Hipertofi berlebihan yang menyebabkan disfagia dengan penuruna berat badan penyerta.
4. Biopsi eksisi yang dicurigai keganasan atau limfoma
5. Abses perotinsiler yang berulang atau abses yang meluas pada ruang jaringan sekitarnya.

3.4 Komplikasi
Radang kronis tonsil dapat menimbulkan komplikasi ke daerah sekitarnya berupa
Rhinitis kronis, Sinusitis atau Otitis media secara perkontinuitatum. Komplikasi jauh terjadi
secara hematogen atau limfogen dan dapat timbul endokarditis, arthritis, miositis, nefritis,
uveitis, irdosiklitis, dermatitis, pruritus, urtikaria dan furunkulosis.
3. Tonsilitis difteri
Frekuensi penyakit ini sudah menurun berkat keberhasilan imunisasi pada bayi dan
anak. Penyebab tonsillitis difteri adalah Coryne bacterium diphteriae, kuman yang termasuk
gram positif dan hidup di saluran nafas bagian atas yaitu hidung faring dan laring.
Tonsillitis difteri sering ditemukan pada anak berusia kurang dari 10 tahun dan
frekuensi tertinggi pada usia2-5 tahun walaupun pada orang dewasa masih mungkin menderita
penyakit ini.
Gambaran klinik dibagi dalam 3 golongan yaitu gejala umum, gejala lokal, dan
gejala akibat eksotoksin.
Gejala umum seperti juga gejala infeksi lainnya: kenaikan suhu tubuh biasanya
subfebris, nyeri kepala, tidak nafsu makan, badan lemah, nadi lambat, serta keluhan nyeri
menelan.
Gejala lokal yang tampak berupa tonsil membengkak ditutupi bercak putih kotor
yang makin lama makin meluas dan bersatu membentuk membrane semu. Membrane ini dapat
meluas ke palatum mole, uvula, nasofaring,laring, trakea, dan bronkus yang dat menyumbat
saluran nafas. Membrane semu ini melekat erat pada dasarnya, sehingga bila diangkat akan
mudah berdarah. Pada perkembangan penyakit ini bila infeksinya berjalan terus, kelenjar limfe
leher akan membengkak sedemikian besarnya sehingga leher menyerupai leher sapi (bull neck)
atau disebut juga BurgemeesterS hals.
Gejala akibat eksotoksin yang dikeluarkan oleh kuman difteri ini akan
menimbulkan kerusakan jaringan tubuh yaitu pada jantung dapat terjadi miokarditis samapi
decompensasio cordis, mengenai saraf cranial menyebabkan kelumpuhan otot palatum dan
otot-otot pernafasan dan pada ginjal menimbulkan albuminoria.
Diagnosa tonsillitis difteri ditegakakan berdasarkan gambaran klinik dan
pemeriksaan preparat langsung kuman yang diambil dari permukaan bawah membrane semu
dan didapatkan kuman coryne bacterium diphteriae.

IV. TONSILEKTOMI
Tonsilektomi dilakukan jika terjadi infeksi yang berulang atau kronik, gejala
sumbatan serta curiga adanya keganasan.
Indikasi tonsilektomi;
1. sumbatan
 hyperplasia tonsil dengan sumbatan jalan nafas
 sleep apnea
 gangguan menalan
 gangguan bicara
2. infeksi
 infeksi telinga tengah berulang
 rhinitis dan sinusitis yang kronis
 peritonsiler abses
 abses kelenjar limfe leher berulang.
 Tonsillitis kronis dengan nsafas bau
 Tonsil sebagai fokal infeksi dari organ lain
 Tonsillitis kronis dengan gejala nyeri tenggorok berulang.
3. kecurigaan adanya tumor jinak atau ganas.

Plan

Diagnosis : Thypoid

Pengobatan :

 Ivfd Rl 20 tpm
 Inj Ceftriaxone 2x1gr
 Inj Pantoprazol 1x40mg
 Inj Ondansentron 3x4mg
 Inf Pct 3x1gr
Edukasi

 Mencegah penularan melalui


o Tidak bergantian alat makan
o Menutup mulut saat batuk dan bersin
 Istirahat yang cukup
 Makan makanan yang bergizi