Anda di halaman 1dari 11

Topik: Diare Cair Akut dehidrasi Ringan Sedang

Tanggal (kasus): 22 januari 2019 Presenter: dr. Rangga Alam Vaneo


Tanggal presentasi: Pendamping: dr. Avia Atryka
dr. Fujianto
Tempat presentasi: RS Bhayangkara Anton Soedjarwo
Obyektif presentasi:
□ Keilmuan □ Keterampilan □ Penyegaran □ Tinjauan pustaka
□ Diagnostik □ Manajemen □ Masalah □ Istimewa
□ Neonatus □ Bayi □ Anak □ Remaja □ Dewasa □ Lansia □ Bumil
□ Deskripsi: Wanita 21 tahun , datang dengan keluhan demam sejak 1 minggu,
□ Tujuan: Melakukan penegakan diagnosis serta penatalaksanaan awal pada pasien dengan DCA
dehidrasi Ringan sedang
Bahan bahasan: □ Tinjauan pustaka □ Riset □ Kasus □ Audit
Cara membahas: □ Diskusi □ Presentasi dan □ E‐mail □ Pos
diskusi
Data pasien: Nama: Ny. I Umur : 21 tahun
Data utama untuk bahan diskusi:
Diagnosis/ Gambaran Klinis: Anak 10 tahun datang dengan keluhan Bab cair sebanyak
4x/hari
2. Riwayat Pengobatan: -
3. Riwayat kesehatan/penyakit: -
4. Riwayat keluarga/masyarakat: -
5. Riwayat pekerjaaan: Pelajar
6. Lain‐lain : tidak ada

Daftar Pustaka:
1 Juffire M, Mulyani NS. Modul Pelatihan Diare. UKK GastroHepatologi IDAI.2009.

2 Subagyo B, Santoso NB, 2012, Diare Akut, dalam Buku Ajar Gastroenterologi-
Hepatologi, ed 1. Jilid 1,Badan Penerbit IDAI, Jakarta, hal 87-119.
3 Suraatmaja S. 2007, Diare Akut, dalam Kapita Selekta Gastroenterologi Anak, ed 2,
Sagung Seto, Jakarta, hal1-24.
4 Pudjiadi A.H dkk, 2009, Diare Akut, dalam Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter
Anak Indonesia, Jilid 1. Badan Penerbit IDAI, Jakarta, hal 58-62.

5 Departemen kesehatan RI Profil Kesehatan Indonesia 2001. Jakarta 2002

6 Dwipoerwantoro PG.Pengembangan rehidrasi perenteral pada tatalaksana diare akut


dalam kumpulan makalah Kongres Nasional II BKGAI Juli 2003

7 Sinuhaji AB Peranan obat antidiare pada tatalaksana diare akut dalam kumpulan
makalah Kongres Nasional II BKGAI juli 2003

8 Suharyono.Terapi nutrisi diare kronik Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan ilmu


Kesehatan Anak ke XXXI, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 1994

9 Ditjen PPM&PLP Depkes RI.Tatalaksana Kasus Diare Bermasalah. Depkes RI 1999 ;


31
Status Generalis

Subjektif
Anak 10 tahun dengan berat badan 30 kg datang dengan keluhan Bab Cair sebanyak 4x/hari,
lendir (-) Darah (-), keluhan disertahi demam, mual muntah tidak ada, anak rewel dan minum
seperti kehausan, mata cekung (+) BAK normal
Objektif
Pemeriksaan fisik
Tanda Vital:
Keadaan umum: Baik
Kesadaran : Compos Mentis (E4 V5 M6)
Tekanandarah : 100/60 mmHg
Nadi : 90 kali/menit
Suhu : 37,6 oC
RR : 20 kali/menit
- Mata: Konjungtiva anemis (-/-), Sklera Ikterik (-/-), Refleks Cahaya Langsung dan
Tidak Langsung (+/+), pupil bulat, isokor, perdarahan subkonjungtiva (-/-) mata
Cekung (+/+)
- Hidung : Septum ditengah, sekret (-/-)
- Telinga : Normotia, sekret (-/-)
- Mulut : Lidah kotor (-), mukosa bibir kering (-)
- Leher : KGB tidak teraba membesar
- Paru :
 Inspeksi : simetris kiri dan kanan, retraksi sela iga (-)
 Palpasi : fremitus kiri = kanan
 Perkusi : sonor kedua lapangan paru
 Auskultasi : vesikuler, wheezing -/-, rhonki -/-
- Jantung :
 Inspeksi : Iktus cordis tidak terlihat
 Palpasi : Iktus teraba di LMCS ICS V
 Perkusi : Batas jantung dalam batas normal
 Auskultasi : BJ I-II reguler, murmur (-), pulsus deficit (-)
- Abdomen : Supel, bising usus (+), hepatomegali (-), splenomegali (-)
- Ekstremitas : Akral dingin (-), oedem (-), CRT < 2 detik
Pemeriksaan laboratorium
 Hemoglobin : 12 g/dl
 Leukosit : 13000/mm3
 Trombosit : 250000 /mm3
 Hematokrit : 44%

Assessment
Setelah dilakukan anamnesis (subjektif), pemeriksaan fisik (objektif) dan pemeriksaan
penunjang pada pasien, ditegakkan diagnosis Diare Cair Akut dengan dehidrasi ringan sedang
Diare
Definisi Diare

Diare adalah buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair, bahkan dapat berupa
air saja dengan frekuensi lebih sering dari biasanya (tiga kali atau lebih) dalam satu hari
(Depkes RI 2011).
Diare dapat disebabkan oleh transportasi air dan elektrolit yang abnormal dalam usus.
Diseluruh dunia terdapat kurang lebih 500 juta anak yang menderita diare setiap tahunnya,
dan 20% dari seluruh kematian pada anak yang hidup di negara berkembang berhubungan
dengan diare serta dehidrasi. Gangguan diare dapat melibatkan lambung dan usus
(Gastroenteritis), usus halus (Enteritis), kolon (Kolitis) atau kolon dan usus (Enterokolitis)
(Wong, 2008).

Klasifikasi Diare

Menurut Simadibrata (2006), diare dapat diklasifikasikan berdasarkan:


1. Lama waktu diare

 Diare akut, yaitu diare yang berlangsung kurang dari 15 hari, sedangkan menurut
World Gastroenterology Organization Global Guidelines (2005) diare akut di
definisikan sebagai passase tinja yang cair dan lembek dengan jumlah lebih banyak
dari normal, berlangsung kurang dari 14 hari, dan akan mereda tanpa terapi yang
spesifik jika dehidrasi tidak terjadi (Wong 2009).

 Diare kronik adalah diare yang berlangsung lebih dari 15 hari.

2. Mekanisme patofisiologi
 Osmolalitas intraluminal yang meninggi, disebut diare sekretorik.
 Sekresi cairan dan elektrolit meninggi.
 Malabsorbsi asam empedu.
 Defek sistem pertukaran anion atau transport elektrolit aktif di enterosit.
 Motilitas dan waktu transport usus abnormal.
 Gangguan permeabilitas usus.
 Inflamasi dinding usus disebut diare inflamatorik.
 Infeksi dinding usus.
3. Penyakit infektif atau noninfektif.

4. Penyakit Organik atau fungsional

Etiologi Diare

Rotavirus merupakan etiologi paling penting yang menyebabkan diare pada anak dan
balita. Infeksi rotavirus biasanya terdapat pada anak umur 6 bulan- 2 tahun
(Suharyono,2008). Infeksi Rotavirus menyebabkan sebagian besar perawatan rumah sakit
karena diare berat pada anak- anak kecil merupakan infeksi nasokomial yang signifikan oleh
mikroorganisme pathogen. Salmonella, Shigella dan Campylobacter merupakan bakteri
pathogen yang paling sering di isolasi. Mikroorganisme Giardia lamblia dan
Cryptosporodium merupakan parasit yang paling sering menimbulkan diare infeksius akut
(Wong,2009). Selain Rotavirus, telah ditemukan juga virus baru yaitu Norwalk virus. Virus
ini lebih banyak pada kasus orang dewasa dibandingkan anak- anak (Suharyono, 2008).
Kebanyakan mikroorganisme penyebab diare disebarluaskan lewat jalur fekal oral melalui
makanan, air yang terkontaminasi atau ditularkan antar manusia dengan kontak yang erat
(Wong, 2009).

Patogenesis

Mekanisme yang menyebabkan timbulnya diare adalah gangguan osmotik, gangguan


sekresi, dan gangguan motilitas usus (Suraatmaja, 2007).
Pada diare akut, mikroorganisme masuk ke dalam saluran cerna, kemudian
mikroorganisme tersebut berkembang biak setelah berhasil melewati asam lambung,
mikroorganisme membentuk toksin (endotoksin), lalu terjadi rangsangan pada mukosa usus
yang menyebabkan terjadinya hiperperistaltik dan sekresi cairan tubuh yang mengakibatkan
terjadinya diare (Suraatmaja, 2007).

Patofisiologi
Dasar dari semua diare adalah gangguan transportasi larutan usus, perpindahan air
melalui membran usus berlangsung secara pasif dan hal ini ditentukan oleh aliran larutan
secara aktif maupun pasif, terutama natrium, klorida, dan glukosa (Ulscen, 2000).

Faktor Risiko

Faktor risiko yang menyebabkan diare seperti faktor lingkungan, faktor prilaku
masyarakat rendahnya pengetahuan masyarakat tentang diare serta malnutrisi. Contoh dari
faktor lingkungan berupa sanitasi yang buruk serta sarana air bersih yang kurang. Faktor
prilaku masyarakat seperti tidak mencuci tangan sesudah buang air besar serta tidak
membuang tinja dengan benar. Tidak memberi ASI secara penuh 4-6 bulan pertama
kehidupan bayi mempunyai risiko untuk menderita diare lebih besar, ini akibat kurangnya
pengetahuan masyarakat khususnya ibu tentang diare (Adisasmito, 2007).
Diare merupakan penyebab utama malnutrisi. Setiap episode diare dapat menyebabkan
kehilangan berat badan (Tanchoro, 2006). Semakin buruk keadaan gizi anak, semakin sering
dan semakin berat diare yang dideritanya (Suharyono,2008). Ada 2 masalah yang berbahaya
dari diare yaitu kematian dan malnutrisi. Diare dapat menyebabkan malnutrisi dan membuat
lebih buruk lagi karena pada diare tubuh akan kehilangan nutrisi, anak- anak dengan diare
mungkin merasa tidak lapar serta ibu tidak memberi makan pada anak ketika mengalami
diare (WHO, 2005).

Penatalaksanaan Diare

Pengobatan adalah suatu proses yang menggambarkan suatu proses normal atau
fisiologi, dimana diperlukan pengetahuan, keahlian sekaligus berbagai pertimbangan
profesional dalam setiap tahan sebelum membuat suatu keputusan
Tujuan :

1. Mencegah dehidrasi.

2. Mengobati dehidrasi.

3. Mencegah ganngguan nutrisi dengan memberikan makan selama dan sesudah diare.

4. Memperpendek lamanya sakit dan mencegah diare menjadi berat.

Prinsip dari penatalaksanaan diare


Prinsip dari tatalaksana diare pada balita adalah LINTAS DIARE, yang didukung oleh
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dengan rekomendasi WHO. Rehidrasi bukan satu-
satunya cara untuk mengatasi diare tetapi memperbaiki kondisi usus serta mempercepat
penyembuhan menghentikan diare dan mencegah anak kekurangan gizi akibat diare juga
menjadi cara untuk mengobati diare untuk itu Kementrian Kesehatan telah menyusun Lima
Langkah Tuntaskan Diare (LINTAS DIARE) yaitu:

1. Rehidrasi menggunakan oralit osmolaritas rendah

2. Zinc selama 10 hari berturut-turut

3. Pemberian ASI dan makanan

4. Pemberian antibiotik sesuai indikasi

5. Nasihat pada ibu/ pengasuh anak

Tabel Penilaian Tanda Dehidrasi


Penentuan rencana terapi
Rencana pengobatan diare dibagi menjadi 3 bagian berdasarkan derajat dehidrasi yang dialami
penderita.
 Rencana Terapi A, jika penderita diare tidak mengalami dehidrasi yaitu diare yang jika
terjadi dan melibatkan dua atau lebih tanda berikut yaitu: Keadaan umum baik, sadar,
mata tidak cekung, minum biasa,tidak haus dan cubitan kulit perut/turgor kembali segera.

 Rencana Terapi B, jika penderita mengalami dehidrasi ringan – sedang yaitu diare yang
terjadi dan melibatkan dua atau lebih tanda di bawah ini yaitu: Gelisah dan rewel, mata
cekung, ingin minum terus, ada rasa haus dan cubitan kulit perut/turgor kembali lambat.

 Rencana Terapi C, jika penderita diare mengalami dehidrasi berat yaitu diare yang terjadi
dan melibatkan dua atau lebih tanda di bawah ini yaitu: Lesu dan lunglai/tidak sadar,
mata cekung, malas minum dan cubitan kulit perut/turgor kembali sangat lambat > 2
detik. (Panduan Sosialisasi Tatalaksanan Diare pada Balita Kemenkes RI 2011)

RENCANA TERAPI A
UNTUK MENGOBATI DIARE DI RUMAH
(Pencegahan Dehidrasi)
GUNAKAN CARA INI UNTUK MENGAJARI IBU :
- Teruskan mengobati anak diare di rumah.
- Berikan terapi awal bila terkena diare.
MENERANGKAN EMPAT CARA TERAPI DIARE DI RUMAH
1. BERIKAN ANAK LEBIH BANYAK CAIRAN DARIPADA BIASANYA UNTUK
MENCEGAH DEHIDRASI
- Gunakan cairan rumah tangga yang dianjurkan, seperti oralit, makanan yang cair
(seperti sup, air tajin) dan kalau tidak ada air matang gunakan larutan oralit untuk
anak, seperti dijelaskan di bawah ( Catatan : jika anak berusia kurang dari 6 bulan
dan belum makan makanan padat, lebih baik diberi oralit dan air matang daripada
makanan cair.
- Berikan larutan ini sebanyak anak mau, berikan jumlah larutan oralit seperti di
bawah.
- Teruskan pemberian larutan ini hingga diare berhenti.

2. BERI TABLET ZINC


- Dosis zinc untuk anak-anak :
Anak di bawah umur 6 bulan : 10 mg (1/2 tablet) per hari.
Anak di atas umur 6 bulan : 20 mg (1 tablet) per hari.
- Zinc diberikan selama 10-14 hari berturut-turut, meskipun anak telah sembuh dari
diare.
- Cara pemberian tablet zinc :
Untuk bayi, tablet zinc dapat dilarutkan dengan air matang, ASI atau oralit. Untuk
anak-anak yang lebih besar, zinc dapat dikunyah atau dilarutkan di dalam air
matang atau oralit.

3. BERI ANAK MAKANAN UNTUK MENCEGAH KURANG GIZI


- Teruskan ASI.
- Bila anak tidak mendapatkan ASI, berikan susu yang biasa diberikan. Untuk anak
kurang dari 6 bulan atau belum mendapat makanan padat, dapat diberikan susu.
- Bila anak 6 bulan atau lebih atau telah mendapat makanan padat :
 Berikan bubur, bila mungkin campur dengan kacang-kacangan, sayur,
daging atau ikan. Tambahkan 1 atau 2 sendok teh minyak sayur setiap porsi.
 Berikan sari buah atau pisang halus untuk menambahkan kalium.
 Berikan makanan yang segar. Masak dan haluskan atau tumbuk makanan
dengan baik.
 Bujuklah anak untuk makan, berikan makanan sedikitnya 6 kali sehari.
 Berikan makanan yang sama setelah diare berhenti, dan berikan porsi
makanan tambahan setiap hari selama 2 minggu.

4. BAWA ANAK KEPADA PETUGAS KESEHATAN BILA ANAK TIDAK MEMBAIK


DALAM 3 HARI ATAU MENDERITA SEBAGAI BERIKUT :
- Buang air besar lebih sering.
- Muntah terus-menerus.
- Rasa haus yang nyata.
- Makan atau minum sedikit.
- Demam.
- Tinja berdarah.
5. ANAK HARUS DIBERI ORALIT DI RUMAH APABILA :
- Setelah mendapat Rencana Terapi B atau C.
- Tidak dapat kembali ke petugas kesehatan bila diare memburuk.
- Memberikan oralit kepada semua anak dengan diare yang datang ke petugas
kesehatan merupakan kebijakan pemerintah.

RENCANA TERAPI B
UNTUK MENGOBATI DIARE DI RUMAH
( Pengobatan dehidrasi ringan-sedang)
Pada dehidrasi rinngan-sedang, Cairan Rehidrasi Oral diberikan dengan pemantauan yang
dilakukan di Pojok Upaya Rehidrasi Oral selama 4-6 jam. Ukur jumlah rehidrasi oral yang
akan diberikan selama 4 jam pertama.
umur Lebih dari 4 4-12 bulan 12 bulan-2 2-5 tahun
bulan tahun
Berat badan < 6 Kg 6 - < 10 Kg 10 - < 12 Kg 12-19 Kg
Dalam ml 200-400 400-700 700-900 900-1400

Jika anak minta minum lagi, berikan.


- Tunjukkan kepada orang tua bagaimana cara memberikan rehidrasi oral
 Berikan minum sedikit demi sedikit.
 Jika anak muntah, tunggu 10 menit lalu lanjutkan kembali rehidrasi oral pelan-
pelan.
 Lanjutkan ASI kapanpun anak meminta.
- Setelah 4 jam :
 Nilai ulang derajat dehidrasi anak.
 Tentukan tatalaksana yang tepat untuk melanjutkan terapi.
 Mulai beri makan anak di klinik.
- Bila ibu harus pulang sebelum selesai rencana terapi B
 Tunjukkan jumlah oralit yang harus dihabiskan dalam terapi 3 jam di rumah.
 Berikan oralit untuk rehidrasi selama 2 hari lagi seperti dijelaskan dalam
Rencana Terapi A.
 Jelaskan 4 cara dalam Rencana Terapi A untuk mengobati anak di rumah.

RENCANA TERAPI C
UNTUK MENGOBATI DIARE DI RUMAH
(Penderita dengan dehidrasi berat)
Ikuti arah anak panah. Bila jawaban dari pertanyaan adalah YA, teruskan ke kanan. Bila
TIDAK, teruskan ke bawah.

- Beri cairan IV segera. Bila penderita bisa


Apakah saudara minum, beri oralit ketika cairan IV dimulai.
dapat Beri 100ml/KgBB cairan RL (NaCl atau
menggunakan Ringer Asetat jika tidak tersedia RL) sebagai
cairan IV berikut :
secepatnya YA
Bayi < 1 tahun : pemberian pertama 30
ml/Kg dalam 1 jam. Kemudian 70ml/Kg
dalam 5 jam.
T Anak 1-5 tahun : : pemberian pertama 30
I ml/Kg dalam 30 menit. Kemudian 70ml/Kg
D
A dalam 2 1/2jam.
K - Ulang jika denyut nadi masih lemah atau
tidak teraba.
- Nilali kembali dalam 1-2 jam -> rehidrasi
belum tercapai -> percepat tetesan.
- Berikan oralit (5 mg/KgBB/jam) bila
penderita bisa minum.
- Setelah 6 jam (bayi) atau 3 jam (anak), nilai
TIDAK kembali. Pilih rencana terapi.
Apakah terdapat terapi Kirim penderita untuk terapi IV.
IV terdekat (dalam 30 Y Bila penderita dapat minum, sediakan oralit dan
menit)? A tunjukkan cara memberikan nya selama perjalanan.

TIDAK

Apakah saudara dapat


menggunakan pipa
nasogastrik untuk YA
dehidrasi?
Mulai rehidrasi mulu dengan oralit
melalui pipa nasogatrik atas mulut.
Berikan 20ml/Kg/jam selama 6 jam.
(total 120ml/Kg).
TIDAK Nilai tiap 1-2 jam :
Bila muntah atau perut kembung,,
berikan cairan pelan-pelan.
Bila rehidrasi tak tercapai setelah 3 jam,
rujuk untuk mendapat terapi IV.
Setelah 6 jam, nilai kembali dan pilih
rencana terapi
Segera rujuk anak untuk rehidrasi
melalui nasogatrik atau IV

Catatan :
Bila mungkin, amati penderita sedikitnya 6 jam setelah rehidrasi untuk memastikan bahwa
ibu dapat menhaga pengembalian cairan yang hilang dengan memberi oralit.
Bila umur anak di atas 2 tahun dan kolera baru saja berjangkit di daerah saudara, pikirkan
kemungkinan kolera dan berikan antibiotik yang tepat secara oral setelah anak sadar.
Plan

Diagnosis : Diare cair akut dengan Dehidrasi Ringan Sedang

Pengobatan :

 Ivfd Rl 75cc/kgbb/6jam = 375/jam selama 6 jam


 Ore zink 1x20mg
 L bio 2x1
 Licurmin 1x1 cth
 Inf Pct 3x300mg jika demam

Edukasi

 Dianjurkan banyak minum air putih


 Penggunaan zink selama 10 hari
 Pantau keadaan anak dengan memberi pengetahuan tentang tanda tanda dehidrasi