Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Bekerja di kantor, di pabrik, di pasar, dan di rumah tidak terlepas dari posisi
duduk. Tukang jahit, tukang sayur, kasir, murid sekolah, pegawai bank, pegawai
perusahaan, pekerja di depan komputer, penjaga tol, sopir, dan pedagang juga tidak
terlepas dari bekerja dengan posisi duduk.

Masalah kesehatan apakah yang dapat ditimbulkan karena duduk ini? Ternyata,
sekitar 60 persen orang dewasa mengalami sakit pinggang bawah karena masalah duduk.
Suatu penelitian di sebuah rumah sakit menunjukkan bahwa pekerjaan dengan duduk
lama ( separuh hari kerja ) dapat menyebabkan hernia nukleus pulposus, yaitu saraf
tulang belakang "terjepit" di antara kedua ruas tulang belakang sehingga menyebabkan
selain sakit pinggang juga rasa kesemutan yang menjalar ke tungkai sampai ke kaki.
Bahkan, bila parah, dapat menyebabkan kelumpuhan

Di Indonesia berlaku suatu aksioma bahwa ‘sakit pinggang’ ialah ‘sakit ginjal’.
Baik orang awam maupun dokter banyak yang menganut paham tersebut. Asal usul mitos
bahwasannya ‘sakit pinggang’ adalah sama dengan ‘sakit ginjal’ tidak diketahui. Tetapi
anggapan tersebut tertanam dalam sekali. Sebenarnya banyak kasus ‘sakit pinggang’
disebabkan oleh faktor sikap, baik sikap fisik maupun mental. Hanya sebagian yang dapat
disebabkan oleh ‘sakit ginjal’. Lagi pula ‘sakit pinggang ginjal’ adalah khas, sebagaimana
dilukiskan oleh Brown dkk : “when the kidney is the site of the disease the pain is
ipsilateral, being felt in the flank or lumbar region”.

Ditinjau dari sudut sosial medik, mitos tersebut di atas dapat merugikan
masyarakat, karena : “socially a person is sick when others identify and treat him as
sick”. Sebaliknya mencap semua ‘low back pain’ yang tidak jelas sebabnya sebagai
keluhan psikoneurotik selalu merupakan pernyataan yang gegabah. Setiap orang yang

1
psikoneurotik dapat mengidap suatu penyakit organik. Karena itu janganlah bertindak
seolah-olah seorang psikoneurotik kebal terhadap penyakit organik. (1)

Sakit pinggang adalah rasa nyeri yang terjadi di daerah pinggang bagian bawah
dan dapat menjalar ke kaki terutama bagian sebelah belakang dan samping luar. Keluhan
ini dapat demikian hebatnya sehingga pasien mengalami kesulitan dalam setiap
pergerakan (salah tingkah) dan pasien harus istirahat serta dirawat di rumah sakit.
Keluhan sakit pinggang ini ternyata menempati urutan kedua tersering setelah
nyeri kepala. Dari data mengenai pasien yang berobat ke poliklinik Neurologi
menunjukkan bahwa jumlah pasien diatas usia 40 tahun yang datang dengan keluhan
sakit pinggang ternyata jumlahnya cukup banyak. Di Amerika Serikat lebih dari 80%
penduduk pernah mengeluh sakit pinggang dan di negara kita sendiri diperkirakan
jumlahnya lebih banyak lagi.
Mengingat bahwa sakit pinggang ini sebenarnya hanyalah suatu simptom / gejala,
maka yang terpenting adalah mencari faktor penyebabnya agar dapat diberikan
pengobatan yang tepat.

PERMASALAHAN

Mengapa duduk lama dapat menyebabkan sakit pinggang bawah? Duduk lama
dengan posisi yang salah akan menyebabkan otot-otot pinggang menjadi tegang dan
dapat merusak jaringan lunak sekitarnya. Dan, bila ini berlanjut terus, akan menyebabkan
penekanan pada bantalan saraf tulang belakang yang mengakibatkan hernia nukleus
pulposus. Bila tekanan pada bantalan saraf pada orang yang berdiri dianggap 100 persen,
maka orang yang duduk tegak dapat menyebabkan tekanan pada bantalan saraf tersebut
sebesar 140 persen. Tekanan ini menjadi lebih besar lagi 190 persen bila ia duduk dengan
badan membungkuk ke depan. Namun, orang yang duduk tegak lebih cepat letih karena
otot-otot punggungnya lebih tegang. Sementara orang yang duduk membungkuk kerja
otot lebih ringan, namun tekanan pada bantalan saraf lebih besar.

Setelah duduk selama 15-20 menit, otot-otot punggung biasanya mulai letih.
Maka, mulai dirasakan sakit pinggang bawah. Penelitian terhadap murid sekolah di
skandinavia menemukan 41,6 persen yang menderita sakit pinggang bawah selama duduk

2
di kelas, terdiri dari 30 persen yang duduk selama satu jam, dan 70 persen yang duduk
lebih dari satu jam.

TUJUAN PENULISAN

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada dasarnya timbulnya rasa sakit adalah karena terjadinya tekanan pada
susunan saraf tepi daerah pinggang (saraf terjepit). Jepitan pada saraf ini dapat terjadi
karena gangguan pada otot dan jaringan sekitarnya, gangguan pada sarafnya sendiri,
kelainan tulang belakang maupun kelainan di tempat lain, misalnya infeksi atau batu
ginjal dan lain-lain.
Spasme otot (ketegangan otot) merupakan penyebab yang terbanyak dari sakit
pinggang. Spasme ini dapat terjadi karena gerakan pinggang yang terlalu mendadak atau
berlebihan melampaui kekuatan otot-otot tersebut. Misalnya waktu sedang olah raga
dengan tidak kita sadari kita bergerak terlalu mendadak dan berlebihan pada waktu
mengejar atau memukul bola (badminton, tennis, golf, dll). Demikian juga kalau kita
mengangkat benda-benda agak berat dengan posisi yang salah, misalnya memindahkan
meja, kursi, mengangkat koper, mendorong mobil, bahkan pada waktu kita dengan sangat
gembira mengangkat anak atau cucu kita akan dapat terjadi sakit pinggang. Pengapuran
tulang belakang disekitar pinggang yang mengakibatkan jepitan pada saraf yang
bersangkutan dapat mengakibatkan nyeri pinggang yang hebat juga.
HNP (Hernia Nukleus Pulposus) yaitu : terdorongnya nucleus pulposus suatu zat
yang berada diantara ruas-ruas tulang belakang, kearah belakang baik lurus maupun
kearah kanan atau kiri akan menekan sumsum tulang belakang atau serabut-serabut
sarafnya dengan mengakibatkan terjadinya rasa sakit yang sangat hebat. Hal ini terjadi
karena ruda paksa (trauma/kecelakaan) dan rasa sakit tersebut dapat menjalar ke kaki
baik kanan maupun kiri (iskhialgia). Adapun sebab lain yang perlu kita perhatikan
adalah: tumor, infeksi, batu ginjal, dan lain-lain. Kesemuanya dapat mengakibatkan
tekanan pada serabut saraf.

4
PATOFISIOLOGI ‘SAKIT PINGGANG’
Pinggang adalah bagian belakang badan yang mengemban bagian tubuh dari
thoraks keatas dan perut. Sokoguru adalah bagian badan tersebut ialah tulang belakang
lumbal khususnya dan seluruh tulang belakang pada umumnya. (1)
Dari berbagai jenis keluhan mengenai pinggang, nyeri adalah paling sering dan
mempunyai arti yang paling penting. Nyeri pinggang dapat dibedakan dalam :
o
Nyeri setempat karena iritasi ujung-ujung saraf penghantar impuls nyeri
o
‘Referred pain’
o
Nyeri radikuler
o
Nyeri akibat kontraksi otot sebagai tindakan protektif (1)
Nyeri Setempat
Nyeri setempat harus dianggap sebagai perangsang jaringan-jaringan yang peka
nyeri, yaitu jaringan yang mengendung ujung-ujung serabut penghantar impuls nyeri.
Nyeri setempat biasanya terus menerus atau hilang timbul. Nyeri bertanbah pada suatu
sikap tertentu atau karena gerakan. Pada penekanan nyeri dapat bertambah hebat atau di
luar masa nyeri yang ditimbulkan nyeri tekan.
‘Referred pain’
‘Referred pain’ yang dirasakan di daerah pinggang dapat bersumber pada proses
patologik di jaringan yang peka nyeri di kawasan abdominal, pelvis, ataupun tulang
belakang lumbalnya sendiri. ‘Referred pain’ yang dirasakan dari tulang belakang lumbal
bagian atas dirasakan di daerah anterior paha dan tungkai bawah. Jika sumber nyerinya
di bagian bawah tulang belakang lumbal, maka ‘Referred pain’ terasa pada daerah
bokong, bagia posterior dari paha dan betis.
Nyeri Radikuler
Sepintas nyeri radikuler menyerupai ‘Referred pain’, tetapi pada pengamatan
yang lebih teliti berbeda. Nyeri radikuler menjalar secara tegas, terbatas pada
dermatomnya dan sifat nyerinya yang lebih keras dan terasa pada permukaan tubuh.
Nyeri radikuler timbul karena perangsangan terhadap radiks, baik yang bersifat
penekanan, sentuhan, peregangan, tarikan atau jepitan. (1)

5
‘Referred pain karena lesi di T12-L1 ‘Referred pain karena lesi di L1-2 (1)

Nyeri Akibat Spasme Otot


Otot dalam keadaan tegang sevara terus menerus menimbulkan perasaan yang
dinyatak orang sebagai ‘pegal’. Dalam bahasa inggris digunakan istilah ’dull ache’. Sikap
duduk, tidur, jalan dan berdiri yang salah dapat menimbulkan sakit pinggang. Keadaan
tegang mental menghibahkan ketegangannya kepada otot-otot lumbal juga.

HERNIA NUCLEUS PULPOSUS


Pada mulanya sindroma hernia nucleus pulposus (HNP) mulai dengan ’sakit
pinggang’. (1) Hernia nucleus pulposus adalah suatu keadaan dimana terjadi penonjolan
nukleus pulposus ke dalam kanalis vertebralis akibat degenerasi anulus fibrosus kurpus
intervertebralis yang dapat menimbulkan penekanan atau penyempitan saraf-saraf,
penekanan medula spinalis dengan berakibat timbulnya gejala-gejala neurologi. (5,6)
Diskus intervertebralis merupakan jaringan yang terletak diantara kedua tulang
vertebrae, terdiri dari anulus fibrosus dan nukleus pulposus. Anulus fibrosus terdiri dari
beberapa anyaman serabut fibro elastis yang tersusun sedemikian rupa sehingga tahan
untuk mengikuti gerakan vertebrae atau tubuh. Tepi atas dan tepi bawahnya melekat pada
korpus vertebrae. Nucleus pulposus terdiri dari jaringan kolagen yang hiperhidrasi
dengan protein polisakarida yang tidak mempunyai saraf sensoris. Nucleus pulposus juga
mengalami perubahan, yaitu kadar airnya berkurang. Dengan demikian terjadi
penyusutan nukleus dan bertambahnya ruangan dalam anulus sehingga terjadi penurunan
tekanan intradiskus. Hal ini dapat menyebabkan :

6
o Jarak antar vertebrae akan mengecil atau memendek, dengan akibat terlepasnya
ligamentum longitudinalis posterior dan anterior, sehingga terbentuk rongga antar
vertebrae dengan ligamentum yang kemudian diisi jaringan fibrosis dan kemudian
mengalami pengapuran. Hal terakhir ini dikenal dengan osteofit, yang apabila
terlalu besar atau menonjol dapat menekan medula spinalis atau memeprsempit
kanalis spinalis.
o Mendekatnya kapsul sendi posterior sehingga timbul rangsangan sinovial.
o Materi nucleus pulposus yang masuk ke dalam rongga-rongga di anulus makin
banyak dan makin mendekati lapisan terluar sehingga apabila secara mendadak
tekanan interdiskus naik maka isi nucleus akan menonjil dan terjadilah hernia
nucleus pulposus (HNP).
Herniasi bisa terjadi pada daerah kostolatral yang menyebabkan ligamentum
longitudinalis posterior tergeser dan menekan akar saraf yang keluar sehingga
menimbulkan gejala skiatika. Herniasi juga dapat ke arah posterior yang hanya
menyebabkan gejala nyri punggung bagian bawah. (1,2,3)

Nukleus pulposus yang menonjol dalam kanalis vertebralis(5)

KLASIFIKASI
Menurut Gradasinya, hernia ini dibagi atas :
o Protruted intervertebral disc
Nukleus terlihat menonjol ke satu arah tanpa kerusakan anulus fibrosus
o Prolapsed intervertebral disc
Nukleus berpindah tetapi masih dalam lingkaran anulus fibrosus
o Extruded intervertebral disc

7
Nukleus keluar dari anulus fibrosus dan berada di bawah ligamentum
longitudinalis posterior
o Sequestrated intervertebral disc
Nukleus telah menembus ligamentum lingatudinalis posterior (6)

(6)

GAMBARAN KLINIS
Pada umunya HNP didahului oleh aktivitas yang berlebihan, misalnya
mengangkat beban terlalu berat (terutama secara mendadak), mendorong barang berat
msalnya almari, mobil mogok, dll. Laki-laki lebih banyak mengalami HNP dibandingkan
dengan wanita. Gejala pertama yang timbul adalah rasa nyeri di punggung bawah disertai
nyeri di otot-otot sekitar lesi dan nyeri tekan di tempat tadi. Nyeri punggung bawah
dengan atau tanpa disertai skiatika atau mungkin hanya berupa nyeri punggung bawah
yang bersifat kronis dengan skiatika dimana nyeri menjalar mulai dari punggung bagian
bawah ke bokong sampai dengan tungkai bawah. Hal ini disebabkan oleh spasme otot-
otot tersebut dan spasme ini menyebabkan berkurangnya lordosis lumbal dan terjadi
skoliosis. Kompresi lama pada radiks di medula spinalis menyebabkan reaksi radang
traumatis dengan nyeri di daerah dermatom yang terkena. Nyeri ini dicetuskan dan
diperhebat oleh peninggian tekanan intra abdomen seperti batuk, mengedan, bersin dan
tertawa. Umumnya bila nyeri pada penekanan tonjolan anulus, nyeri berkurang sewaktu
istirahat.

8
HNP sentral akan menimbulkan paraparesis flaksid, parastesis dan retensi urin.
HNP lateral kebanyakan terjadi di L5-S1 dan L4-L5. Pada HNP lateral L5-S1 rasa nyeri
terdapat di punggung bagian bawah, di tengah-tegah antara kedua pantat da betis,
belakang tumit dan telapak kaki. Di tempat-tempat tersebut juga akan terasa nyeri bila
ditekan. Kekuatan ekstensi jari ke V kaki berkurang dan refleks achiles negatif. Pada
HNP lateral L4-L5 rasa nyeri dan nyeri tekan didapatkan di punggung bagian bawah,
bagian lateral pantat, tungkai bwah bagian lateral, dan di dorsum pedis. Kekuatan
ekstensi ibu jari kaki berkurang dan refleks patela negatif. Sensibilitas pada dermatom
yang sesuai dengan radiks yang terkena, menurun. Pada percobaan Lasague atau tes
mengangkat tungkai yang lurus (Straight leg raising), yaitu mengangkat tungkai secara
lurus dengan fleksi di sendi panggul, akan dirasakan nyeri sepanjang bagian belakang
(tanda Lasague positif). Tes ini akan menunjukkan derajat terbatasnya dan besarnya
tekanan pada akar syaraf. Percobaan lain ialah Valsava dan Naffziger akan memberikan
hasil positif. Selain itu dapat terjadi gejala neurologis pada tungkai berupa kelemahan
otot, perubahan refleks dan perubahan sensoris yang mengenai akar syaraf. (2,3,4)

Uji Straight leg raising (2)

INSIDENS
Herniasi sering ditemukan pada daerah antara L5-S1 dan L4-L5. Kelainan ini
umumnya terjadi pada penderita usia 20-45 tahun. (2)

DIAGNOSIS

9
Pemeriksaan pada penderita dengan kecurigaan adanya herniasi diskus berupa :
o Pemeriksaan Klinik
Pada punggung, tungkai dan abdomen. Pemeriksaan rektal dan vagina untuk
menyingkirkan kelainan pada pelvis.
o Pemeriksaan Radiologis
 Foto Polos
Foto polos posisi AP dan Lateral dari vertebrae lumbal dan panggul (sendi
sako iliaka). Menurut penyelidikan diskus intervertebralis antara ruas lumbal
terbawah dan S1 selalu menyempit pada orang-orang yang berusia 50 tahun
ke atas, sehingga nyeri yang tidak berlokalisasi di tempat tersebut tidak boleh
dihubungkan dengan lesi diskogen antara ruas lumbal terbawah dan S1.
Pada foto proyeksi lateral dapat ditinjau perbandingan antara jarak korpus
vertebralis lumbal dan jarak kanalis vertebralis lumbal. Jarak antero-posterior
korpus vertebralis lumbal ialah 42 sampai 45 mm. Sebagai patokan dapat
diambil separuh jarak tersebut sebagai jarak antero-posterior kanalis
vertebralis lumbal yang normal. Bila jarak itu kurang dari 19 mm, maka
stenos kanalis vertebralis lumbal harus dipikirkan. (2,3)

(6) (6)

Selain itu, foto polos dapat juga untuk melihat keadaan-keadaan seperti
penyakit degeneratif, kelainan bawaan dan vertebrae yang tidak stabil
(spondilolistesis). (2)

10
(1)

spondilolistesis

 Pemakaian Kontras
Foto rontgen dengan memakai zat kontras terutama pada pemeriksaan
mielografi khususnya radikulografi, diskografi serta kadang-kadang
diperlukan venografi spinal.
 MRI
Merupakan pemeriksaan non-invasif, dapat memberikan gambaran secara
seksional pada lapisan melintang dan longitudinal. Pada saat ini MRI
merupakan pemeriksaan pilihan.
 Scanning Tulang
Scanning tulang dilakukan dengan menggunakan bahan radioisotop (SR
dan F). Pemeriksaan ini terutama untuk menyingkirkan kelainan seperti
penyakit Paget
o Pemeriksaan Laboratorium
 Pemeriksaan urin untuk menyingkirkan kelainan-kelainan pada saluran
kencing
 Pemeriksaan darah yaitu Laju Endap Darah dan hitung deferensial untuk
menyingkirkan adanya tumor ganas, infeksi dan penyakit reumatik.

11
PENATALAKSANAAN
Tindakan pengobatan yang dapat diberikan tergantung dari keadaan, yaitu :
1. Pengobatan Konservatif pada lesi diskus akut

Istirahat sempurna di tempat tidur, 1-2 minggu dengan pemberian
analgetik yang cukup.

Kadang-kadang diperlukan obat-obatan untuk mencegah spasme,
pemanasan lokal atau anestesia lokal para vertebrae.

Penderita tidur di alas yang keras.

Pada saat ini tidak diperbolehkan latihan sama sekali, bila penderita
dirawat dapat dianjurkan untuk menggunakan traksi.

Pada fase akut dapat diberikan jaket plester dari politen selama 2-3
minggu.

Injeksi Epidural dengan 0.5 % prokain dalam 50 cc NaCl fisiologis.

Dapat dimulai latihan lumbal secara hati-hati apabila fase akut berakhir
setelah 2-3 minggu
2. Pengobatan Konservatif pada fase subakut dan kronis

Latihan fleksi dan ekstensi tulang belakang yang mungkin didahului
dengan diatermi gelombang pendek.

Mobilisasi penderita dapat dilakukan dengan manipulasi yang hati-hati
tanpa anestesia.

Instruksi untuk mempergunakan posisi yang benar dan disiplin terhadap
gerakan punggung yaitu membungkuk dan mengangkat barang.

Pemakaian alat bantu lumbo-sakral berupa korset dan penyangga.

Traksi lumbal yang bersifat intermiten.
3. Tindakan operatif dilakukan pada keadaan-keadaan berikut :

Kelainan pada kauda ekuina disertai dengan kelemahan yang hebat,
bersifat bilateral, gangguan dan kelemahan pada sfingter usus dan
kandung kemih.

Adanya analgesia pelana pada bokong dan daerah perineal

Kelemahan otot yang progresif oleh karena tekanan pada akar saraf atau
adanya tanda-tanda atrofi pada otot yang dipersarafi.

12

Adanya skiatika yang menetap dengan gejala neurologis, tidak
menghilang dengan terapi konservatif dan waktu patokan biasanya 6
minggu.

Adanya lesi yang hebat disertai kelainan bawaan atau spondilolistesis
yang hebat. Cara operasi dapat dilakukan secara terbuka tetapi akhir-akhir
ini operasi pada herniasi diskus dilakukan secara tertutup dengan
mempergunakan alat dan teropong. (2)

PENCEGAHAN

Agar kita tetap sehat, khususnya agar tidak terkena sakit pinggang walaupun usia
sudah lanjut, perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut :
1. Olah raga yang teratur dimana frekuensi / jumlah dan intensitasnya
harus cukup, jangan berlebihan. Bagi yang berbakat sakit pinggang,
dianjurkan untuk berenang, dan sebaiknya jangan meloncat-loncat.
2. Mengatur makanan dengan menghindari makanan-makanan yang
mengandung banyak lemak, asam urat, dll, agar memperlambat terjadinya
pengapuran tulang belakang. Disamping itu usahakan jangan sampai terjadi
kelebihan berat badan.
3. Hidup dalam lingkungan yang sehat dengan udara yang bersih dan
menghindari polusi yang berlebihan.
4. Hidup yang teratur, mengatasi stress, serta menjalani hidup dan
beragama dengan sungguh-sungguh.

13
BAB III
PEMBAHASAN

Sistem kerja yang tidak ergonomik dalam suatu perusahaan seringkali kurang
mendapat perhatian atau dianggap sepele oleh para pihak manajemen atau pengelola
sumber daya manusia di perusahaan tersebut. Sebagai contoh antara lain adalah pada
cara, sikap dan posisi kerja yang tidak benar, fasilitas kerja yang tidak sesuai, dan faktor
lingkungan kerja yang kurang mendukung. Hal ini secara sadar ataupun tidak akan
berpengaruh terhadap produktivitas, efisiensi dan efektiviitas pekerja dalam
menyelesaikan pekerjaannya.
Penataan dalam satu sistem kerja menuntut faktor manusia sebagai pelaku /
pengguna menjadi titik sentralnya. Pada bidang rancang bangun dikenal istilah Human
Centered Design ( HCD ) atau Perancangan berpusat pada manusia. Menurut Sutalaksana
( 1999 ), perancangan demikian merupakan perancangan produk ergonomic atau
memiliki beberapa sifat keergonomisan ketika produk itu telah selesai dirancang segala-
galanya. Perancangan dengan prinsip HCD, berdasarkan pada karakter-karakter manusia
yang akan berinteraksi dengan produknya. Sebagai titik sentral maka unsur keterbatasan
manusia haruslah menjadi patokan dalam penataan suatu produk yang ergonomis. Ada
beberapa faktor yang berlaku sebagai faktor pembatas yang tidak boleh dilampaui agar
dapat bekerja dengan aman, nyaman, sehat, yaitu :
1. Faktor dari dalam ( internal factors )
Tergolong dalam faktor ini adalah yang berasal dari dalam diri manusia,
seperti : umur, jenis kelamin, kekuatan otot, bentuk dan ukuran tubuh dan
lainnya..
2. Faktor dari luar ( external factors )
Banyak faktor dari luar yang dapat mempengaruhi kerja atau berasal dari luar
manusia, seperti : penyakit, gizi, lingkungan kerja, sosial ekonomi, adat
istiadat dan lain sebagainya.

14
Hubungan tenaga kerja dalam sikap dantoleransinya terhadap sarana kerja akan
menentukan efisiensi, efektivitas danproduktivitas kerja, selain SOP ( Standard
Operating Prosedures ) yang terdapat pada setiap jenis pekerjaan. Semua sikap tubuh
yang tidak alamiah dalam bekerja, misalnya sikap menjangkau barang yang melebihi
jangkauan tangannya harus dihindarkan. Apabila hal ini tidak memungkinkan maka harus
diupayakan agar beban statiknya diperkecil. Penggunaan meja dan kursi kerja ukuran
baku oleh orang yang mempunyai ukuran tubuh yang lebih tinggi atau sikap duduk yang
terlalu tinggi sedikit banyak akan berpengaruh terhadap hasil kerjanya. Tanpa disadari
tenaga kerja tersebut akan sedikit membungkuk saat melakukan pekerjaannya. Hal ini
akan menyebabkan terjadinya kelelahan lokal di daerah pinggang dan bahu, yang pada
akhirnya akan menimbulkan nyeri pinggang dan nyeri bahu. Namun karena penderitanya
tidak mencolok maka biasanya keluhan tersebut dianggap ” bukan masalah ”, tetapi
kerugian yang ditimbulkannya bisa berujud hilangnya jam kerja, terhambatnya produksi
dan lainnya. Pada waktu bekerja diusahakan agar bersikap secara alamiah dan bergerak
optimal.
Dalam sistem kerja angkat dan angkut, sring dijumpai nyeri pinggang sebagai
akibat kesalahan dalam mangangkat maupun mengangkut, baik itu mengenai teknik
maupun berat / ukuran beban. Nyeri pinggang dapat pula terjadi sebagai sikap paksa yang
disebabkan karena penggunaan sarana kerja yang tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya.
Kondisi demikian menggambarkan tidak adanya keserasian antara ukuran tubuh pekerja
dengan bentuk dan ukuran sarana kerja, sehingga terjadi pembebanan setempat yang
berlebihan di daerah pinggang dan inilah yang menyebabkan nyeri pinggang akibat kerja.
Untuk jenis pekerjaan angkat dan angkut, maka beban maksimum yang
diperkenankan, agar tidak menimbulkan kecelakaan kerja, sesuai dengan Peraturan
Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi No.Per.01/MEN?1978 tentang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Penebangan dan Pengangkutan Kayu.

JENIS DEWASA TENAGA KERJA MUDA


Pria (Kg) Wanita (Kg) Pria (Kg) Wanita (Kg)
Sekali-sekali 40 15 15 10-12
Terus Menerus15-18 10 10-15 6-9

15
Sikap tubuh dalam bekerja yang dikatakan secara ergonomik adalah yang
memberikan rasa nyaman, aman, sehat dan selamat dalam bekerja, yang dapat dilakukan
antara lain dengan cara :
a. Menghindarkan sikap yang tidak alamiah dalam bekerja
b. Diusahakan beban statis menjadi sekecil-kecilnya
c. Perlu dibuat dan ditentukan kriteria dan ukuran baku tentang peralatan kerja yang
sesuai dengan ukuran anthropometri tenaga kerja penggunanya
d. Agar diupayakan bekerja dengan sikap duduk dan berdiri secara bergantian
Penyebab kelelahan akibat tidak ergonomisnya kondisi sarana, prasarana dan
lingkungan kerja merupakan faktor dominan bagi menurunnya atau rendahnya
produktivitas kerja seorang tenaga kerja. Suasana kerja yang tidak ditunjang oleh kondisi
lingkungan kerja yang sehat antara lain adalah sebagai penyebab timbulnya kelelahan
kerja. Banyak dijumpai kasus kelelahan kerja sebagai akibat pembebanan kerja yang
berlebihan, antara lain irama kerja yang tidak serasi, pekerjaan yang monoton dan kondisi
tempat kerja yang tidak menggairahkan.
Kelelahan ( fatique ) merupakan suatu kondisi yang telah dikenali dalam
kehidupan sehari-hari. Istilah kelelahan pada umumnya mengarah pada kondisi
melemahnya tenaga untuk melakukan suatu kegiatan, walaupun ini bukan merupakan
satu-satunya gejala. Kelelahan dapat dibagi menjadi 2 ( dua ) macam, yaitu :
1. Kelelahan otot ( muscular fatique )
2. Kelelahan umum ( general fatique )
Kedua bentuk kelelahan ini muncul dari proses fisiologik yang berbeda sama
sekali. Kelelahan otot ditunjukkan dari gejala sakit nyeri, seperti ketegangan otot dan
sakit disekitar sendi, sedangkan kelelahan umum dapat terlihat pada munculnya sejumlah
keluhan yang berupa perasaan lamban dan keengganan beraktivitas.
Menurut para ahli, terdapat keterkaitan antara kelelahan dengan tingkat stress. Hal
ini dapat ditunjukkan melalui reaksi tubuh terhadap jenis stress yang berbeda-beda.
Untuk itu diperlukan pengukuran untuk mendapatkan solusi bagi kecenderungan
implikasi kelelahan yang diderita oleh tenaga kerja terhadap kinerja perusahaan.

16
Kesulitan terbesar dalam pengukuran kelelahan adalah karena tidak adanya cara yang
langsung dapat mengukur sumber penyebab kelelahan itu sendiri. Belum ada satupun
ukuran yang mutlak dalam pengukuran kelelahan. Pengukuran kelelahan hanya mampu
mengukur ” indikator ” kelelahan saja.

17
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN

Sekitar 60 persen orang dewasa mengalami sakit pinggang bawah karena masalah
duduk. Suatu penelitian di sebuah rumah sakit menunjukkan bahwa pekerjaan dengan
duduk lama ( separuh hari kerja ) dapat menyebabkan hernia nukleus pulposus, yaitu
saraf tulang belakang "terjepit" di antara kedua ruas tulang belakang sehingga
menyebabkan selain sakit pinggang juga rasa kesemutan yang menjalar ke tungkai
sampai ke kaki.

Duduk lama dengan posisi yang salah akan menyebabkan otot-otot pinggang
menjadi tegang dan dapat merusak jaringan lunak sekitarnya. Dan, bila ini berlanjut terus,
akan menyebabkan penekanan pada bantalan saraf tulang belakang yang mengakibatkan
hernia nukleus pulposus. Setelah duduk selama 15-20 menit, otot-otot punggung biasanya
mulai letih.

Hernia nucleus pulposus adalah suatu keadaan dimana terjadi penonjolan nukleus
pulposus ke dalam kanalis vertebralis akibat degenerasi anulus fibrosus kurpus
intervertebralis yang dapat menimbulkan penekanan atau penyempitan saraf-saraf,
penekanan medula spinalis dengan berakibat timbulnya gejala-gejala neurologi.
Pada umumnya HNP didahului oleh aktivitas yang berlebihan, misalnya
mengangkat beban terlalu berat (terutama secara mendadak), mendorong barang berat
msalnya almari, mobil mogok, dll. Laki-laki lebih banyak mengalami HNP dibandingkan
dengan wanita. Gejala pertama yang timbul adalah rasa nyeri di punggung bawah disertai
nyeri di otot-otot sekitar lesi dan nyeri tekan di tempat tadi. Nyeri punggung bawah
dengan atau tanpa disertai skiatika atau mungkin hanya berupa nyeri punggung bawah
yang bersifat kronis dengan skiatika dimana nyeri menjalar mulai dari punggung bagian
bawah ke bokong sampai dengan tungkai bawah. Hal ini disebabkan oleh spasme otot-
otot tersebut dan spasme ini menyebabkan berkurangnya lordosis lumbal dan terjadi

18
skoliosis. Kompresi lama pada radiks di medula spinalis menyebabkan reaksi radang
traumatis dengan nyeri di daerah dermatom yang terkena. Nyeri ini dicetuskan dan
diperhebat oleh peninggian tekanan intra abdomen seperti batuk, mengedan, bersin dan
tertawa. Umumnya bila nyeri pada penekanan tonjolan anulus, nyeri berkurang sewaktu
istirahat.
SARAN
Sistem kerja yang tidak ergonomik dalam suatu perusahaan seringkali kurang
mendapat perhatian atau dianggap sepele oleh para pihak manajemen atau pengelola
sumber daya manusia di perusahaan tersebut. Sebagai contoh antara lain adalah pada
cara, sikap dan posisi kerja yang tidak benar, fasilitas kerja yang tidak sesuai, dan faktor
lingkungan kerja yang kurang mendukung. Hal ini secara sadar ataupun tidak akan
berpengaruh terhadap produktivitas, efisiensi dan efektiviitas pekerja dalam
menyelesaikan pekerjaannya.
Hubungan tenaga kerja dalam sikap dantoleransinya terhadap sarana kerja akan
menentukan efisiensi, efektivitas danproduktivitas kerja, selain SOP ( Standard
Operating Prosedures ) yang terdapat pada setiap jenis pekerjaan. Semua sikap tubuh
yang tidak alamiah dalam bekerja, misalnya sikap menjangkau barang yang melebihi
jangkauan tangannya harus dihindarkan. Apabila hal ini tidak memungkinkan maka harus
diupayakan agar beban statiknya diperkecil. Penggunaan meja dan kursi kerja ukuran
baku oleh orang yang mempunyai ukuran tubuh yang lebih tinggi atau sikap duduk yang
terlalu tinggi sedikit banyak akan berpengaruh terhadap hasil kerjanya. Tanpa disadari
tenaga kerja tersebut akan sedikit membungkuk saat melakukan pekerjaannya. Hal ini
akan menyebabkan terjadinya kelelahan lokal di daerah pinggang dan bahu, yang pada
akhirnya akan menimbulkan nyeri pinggang dan nyeri bahu. Namun karena penderitanya
tidak mencolok maka biasanya keluhan tersebut dianggap ” bukan masalah ”, tetapi
kerugian yang ditimbulkannya bisa berujud hilangnya jam kerja, terhambatnya produksi
dan lainnya. Pada waktu bekerja diusahakan agar bersikap secara alamiah dan bergerak
optimal.
Sikap tubuh dalam bekerja yang dikatakan secara ergonomik adalah yang
memberikan rasa nyaman, aman, sehat dan selamat dalam bekerja, yang dapat dilakukan
antara lain dengan cara :

19
a. Menghindarkan sikap yang tidak alamiah dalam bekerja
b. Diusahakan beban statis menjadi sekecil-kecilnya
c. Perlu dibuat dan ditentukan kriteria dan ukuran baku tentang peralatan kerja yang
sesuai dengan ukuran anthropometri tenaga kerja penggunanya
d. Agar diupayakan bekerja dengan sikap duduk dan berdiri secara bergantian
Agar kita tetap sehat, khususnya agar tidak terkena sakit pinggang walaupun usia
sudah lanjut, perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut :
1. Olah raga yang teratur dimana frekuensi / jumlah dan intensitasnya harus
cukup, jangan berlebihan. Bagi yang berbakat sakit pinggang, dianjurkan
untuk berenang, dan sebaiknya jangan meloncat-loncat.
2. Mengatur makanan dengan menghindari makanan-makanan yang
mengandung banyak lemak, asam urat, dll, agar memperlambat terjadinya
pengapuran tulang belakang. Disamping itu usahakan jangan sampai terjadi
kelebihan berat badan.
3. Hidup dalam lingkungan yang sehat dengan udara yang bersih dan
menghindari polusi yang berlebihan.
4. Hidup yang teratur, mengatasi stress, serta menjalani hidup dan beragama
dengan sungguh-sungguh.

20
DAFTAR PUSTAKA

 Duduk Lama Dapat Sebabkan Nyeri Pinggang Lama. Diana Samara. Copyright ©
2002 Harian Kompas. Ditelusuri tanggal 30 Oktober 2006.
 Harsono, Kapita Selekta Neurologi; edisi kedua; Gadjah Mada University Press;
Yogyakarta, 2003. hal 265-270
 Herniated Nucleus Pulposus ( Slipped Disk ).Kevin B. Freedman, MD, MSCE,
Sports Medicine, Orthopaedic Specialists, Bryn Mawr, PA. Review provided by
VeriMed Healthcare Network.Ditelusuri tanggal 30 Oktober 2006.
 Mardjono M, Sidharta P, Neurologi Klinis Dasar; Dian Rakyat, Jakarta, 2004;
hal. 93-99
 Rasad S, Kartoleksono S, Ekayuda I, Radiologi Diagnostik; Subbagian
Radiodiagnostik, Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;
Jakarta, 1998, hal. 326-329
 Rasjad Chairuddin, Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi; cetakan ketiga; Bintang
Lamumpate; Makasar, 2003. hal. 267-268
 Sidharta P, Neurologi Klinis Dalam Praktek Umum; cetakan kelima; Dian Rakyat;
Jakarta, 2004. hal. 202-232
 Sjamsuhidajat R, Wim de Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah; EGC; Jakarta, 1997. hal
1249-1250

21
22