Anda di halaman 1dari 2

Sang Pejuang Islam Dari Banjar

Pangeran Antasari lahir di Kayu Tangi, Banjar, Kabupaten Banjar, Provinsi


Kalimantan Selatan tahun 1797. Semasa kecil nama beliau adalah Gusti Inu Kartapati.
Ayah Pangeran Antasari adalah Pangeran Masohut (Mas'ud) bin Pangeran Amir bin
Sultan Muhammad Aminullah. Ibunya Gusti Hadijah binti Sultan Sulaiman. Pangeran
Antasari mempunyai adik perempuan yang bernama Ratu Antasari. Setelah Sultan
Hidayatullah ditipu belanda dengan menyandera Ratu Siti (Ibunda Pangeran
Hidayatullah) dan kemudian diasingkan ke Cianjur, maka perjuangan rakyat Banjar
dilanjutkan oleh Pangeran Antasari. Sebagai pemimpin rakyat yang penuh dedikasi.
Untuk mengokohkan kedudukannya sebagai pemimpin perjuangan umat Islam tertinggi
di Banjar bagian utara (Muara Teweh dan sekitarnya), maka pada tanggal 14 Maret
1862, bertepatan dengan 13 Ramadhan 1278 Hijriah, dimulai dengan seruan:
“Hidup untuk Allah dan Mati untuk Allah!”
Sehingga seluruh rakyat mengikuti seruan Pangeran Antasari, membuat seluruh
rakyat menjadi satu kesatuan yang kokoh dan ingin berjuang bersama melawan
belanda.
Pada tanggal 25 April 1859 Pangeran Antasari memimpin perjuangan melawan
belanda dengan menyerang tambang batu bara milik belanda di Pangaron dengan 300
prajurit. Perang ini dikenal dengan nama perang Banjar. Pangeran Antasari menyerang
pos-pos Belanda di Martapura, Hulu Sungai, Riam Kanan, Tanah Laut, Tabalong,
sepanjang sungai Barito sampai ke Puruk Cahu. Namun Belanda mendapat bantuan
dari Batavia yang memiliki persenjataan canggih, akhirnya pasukan Pangeran Antasari
terdesak sehingga memindahkan benteng pertahanannya ke Muara Taweh.
Perjuangannya yang pantang menyerah membuat Belanda terus membujuknya agar
berhenti melawan, tetapi Pengeran Antasari teguh dengan pendiriannya yang membuat
Belanda geram sehingga mengadakan sayembara bagi siapa saja yang berhasil
membunuh Pangeran Antasari akan mendapat imbalan sebesar 10.000 gulden. Beliau
meninggal di Bayan Begok, Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah, 11
Oktober 1862 pada umur 53 tahun.
Gelar kehormatan diberikan kepada pangeran antasari pada tanggal 23 Maret 1968,
berdasarkan SK No. 06/TK/1968 oleh pemerintah Republik Indonesia, Pangeran
Antasari diberi gelar Pahlawan Nasional dan Kemerdekaan.
Yang dapat diteladani dari sosok Pangeran Antasari ialah sikap pantang menyerah
yang beliau tunjukkan ketika menyerukan “Hidup untuk Allah dan Mati untuk Allah!”
untuk mengokohkan semangat rakyat dan ketika perang Banjar beliau pantang
menyerah untuk melawan Belanda walaupun gagal karena Belanda yang begitu kuat,
tetapi semangatnya itu yang membuat akhirnya Belanda ingin menghentikan perjuangan
Pangeran Antasari.