Anda di halaman 1dari 6

Kimia dan Fisika Sistem Muskuloskeletal

Kimia Sistem Muskuloskelatal


1. Susunan kimia tulang
Tulang bekerja seperti “bank kimia” yang menyimpan elemen-elemen untuk
penggunaaan selanjutnya oleh tubuh. Tubuh dapat mengambil bahan kimia ini sesuai
kebutuhan. Sebagai contoh, tingkat minimum kalsiumyang dibutuhkan dalam darah; bila
tingkatnya turun terlalu rendah, “sensor kalsium” menyebabkan kelenjer parathyroid
melepaskan sebagian parathormon ke darah, dan hal ini menyebabkan tulang melepaskan
kalsium yang dibutuhkan.
Komposisi Kimia Tulang
Elemen Tulang Keras (%)
H 3,4
C 15,5
N 4,0
O 44,0
Mg 0,2
P 10,2
S 0,3
Ca 22,2
Campuran 0,2
Tulang terdiri atas komponen seluler dan komponen interseluler (matriks).
Komponen seluler terdiri atas (Rosyidi, 2013: 3):
a. Osteoprogenitor
Merupakan sel yang belum mengalami perubahan, serupa dengan fibroblast. Memiliki
kemampuan tinggi untuk membelah.
b. Osteoblas
Terdapat pada permukaan tulang dan berfungsi sebagai penyusun tulang dan
mensintesis komponen matriks tulang (kolagen dan glikoprotein).
c. Osteosit (sel tulang)
Merupakan sel matur (matang) yang ditemukan terbungkus di dalam lapisan matriks
tulang yang telah mengalami mineralisasi.
d. Osteoklas
Sel yang motil (dapat bergerak bebas) dan berinti banyak. Biasanya terdapat pada
permukaan matriks atau pada permukaan tulang.

Sedangkan komponen interseluler (matriks) terdiri atas bahan-bahan anorganik


serta zat dasar yang amorf (tidak mempunyai bentuk atau tidak jelas bentuknya) dan
bahan organik. Berdasarkan beratnya, matriks tulang yang merupakan penyusun
komponen interseluler terdiri dari ±70% senyawa anorganik dan 30% matriks senyawa
organik. 95% komponen organik dibentuk dari kolagen (golongan protein), sisanya terdiri
dari substansi dasar proteoglycan, glikosaminoglikan (G.A.G) dan molekul-molekul non
kolagen yang terlibat dalam pengaturan mineralisasi tulang (Rosyidi, 2013: 3).
Matriks senyawa anorganik merupakan bahan mineral yang sebagian besar terdiri
dari kalsium (Ca) dan fosfat (Po4) dalam bentuk kristal-kristal hydroxyaptite. Kristal-
kristal tersebut tersusun sepanjang serabut kolagen. Bahan mineral lain: ion sitrat,
karbonat, magnesium, natrium dan potassium. Perlu diingat bahwa, kekerasan tulang
tergantung dari kadar bahan anorganik dalam matriks, sedangkan dalam kekuatannya
tergantung dari bahan-bahan organik khususnya serabut kolagen (Rosyidi, 2013: 2).

2. Susunan kimia sendi


Rawan sendi merupakan jaringan avaskuler dan juga tidak memiliki jaringan
syaraf, berfungsi sebagai bantalan terhadap beban yang jatuh ke dalam sendi. Rawan
sendi dibentuk oleh sel rawan sendi (kondrosit) dan matriks rawan. Kondrosit berfungsi
mensintesis dan memelihara matriks rawan sehingga menjaga fungsi bantalan sendi.
Sedangkan matriks rawan sendi terutama terdiri dari air, proteoglikan (molekul yang
kompleks yang tersusun atas inti protein dan glikosaminoglikan) dan kolagen (Rosyidi,
2013: 27).
Membaran sinovial merupakan jaringan avaskular yang melapisi permukaan
dalam kapsul sendi , tetapi tidak melapisi rawan sendi. Kaya akan pembuluh darah dan
limfe (Rosyidi, 2013: 27).
Cairan sinovial diproduksi oleh membrane sinovial yang berfungsi sebagai
pelumas serta sumber nutrisi bagi rawan sendi (Rosyidi, 2013: 27).
3. Komposisi otot rangka
Komposisi otot rangka terdiri atas :
a. Otot merah & putih
Otot merah banyak mengandung pigmen pernapasan yaitu mioglobin, yang berfungsi
membawa oksigen dari kapiler darah (ekstrasel) ke mitokondria (intrasel) ⇒ kapasitas
metabolisme oksidatif yang lebih tinggi degan aktivitas siklus Krebs dan enzim
transport electron yang kuat. Sedangkan otot putih karena kurang mioglobin ⇒
kapasitas glikolisis anaerobic yang tinggi dengan aktivitas enzim glikolisis dan
fosforilase yang kuat.
b. Ekstraktif
Yaitu zat non-protein yang larut dlm air meliputi kreatinin, kreatinin fosfat, ADP,
asam amino, asam laktat, dll. Zat yang memiliki struktur grup fosfat merupakan zat
yang ‘kaya energi’.
c. Protein
Komponen enzim otot yang mengkatalisis berbagai tahapan pd proses glikolisis
merupakan protein sarkoplasmik. Protein lain yang membentuk struktur otot ialah
miosin, aktin, troponin, dan tropomiosin.

Kimia Sistem Muskuloskelatal


1. Otot dan tulang sebagai komponen gerak
Sistem muskuloskeletal adalah sistem yang melaksanakan 2 fungsi yang
berhubungan erat satu sama lain yaitu gerak (lokomosi) dan penunjang/pendukung
(Sadikin, 2011: 2).
Untuk melaksanakan gerak diperlukan (Sadikin, 2011: 2)
a. Perintah untuk gerak
b. Energi untuk gerak
c. Kendali/pengaturan gerak
Dalam melakukan gerakan, tubuh harus memiliki organ pendukung yaitu tulang
(alat gerak pasif) dan otot (alat gerak aktif). Fungsi tulang sebagai alat gerak pasif yaitu:
a. Mendukung beban tubuh
b. Menahan berbagai gaya:
1) Tekanan: vertikal (searah sumbu tulang) dan horizontal (tegak lurus sumbu tulang).
2) Tarikan
3) Puntiran (Torsi)
Sedangkan fungsi otot sebagai alat gerak aktif yaitu mampu menggerakkan tulang.
Hal ini dikarenakan otot mampu berkontraksi (mengkerut) dan relaksasi (mengendor).
Otot yang mampu menggerakkan tulang adalah otot yang melekat pada tulang atau
rangka yang disebut otot lurik, sedangkan otot polos dan otot jantung tidak
menggerakkan tulang, karena tidak melekat pada tulang atau rangka. Otot lurik dapat
berkontraksi karena mempunyai energi yang tersimpan dalam otot yang disebut ATP
(Adensin Tri Phosphat). ATP tersedia dari hasil pembakaran atau oksidasi makanan (baik
karbohidrat maupun lemak). Jika otot terus-menerus berkontraksi, maka energi akan
habis sehingga harus membentuk ATP lagi.

2. Hukum dasar dalam gerak (Hukum Newton)


Hukum dasar gerak menurut newton adalah sebagai berikut (Gabriel, 2013: 7):
a. Hukum newton I (Hukum kelembaman)
1) Benda/objek bersifat mempertahankan keadaan
2) Semua benda/objek akan bergerak bila ada gaya (force) yang mengakibatkan
pergerakan.
b. Hukum newton II
“Apabila ada gaya yang bekerja pada suatu benda maka benda akan mengalami suatu
percepatan yang arahnya sama dengan arah gaya”
c. Hukum newton III
“Untuk setiap aksi selalu ada, selalu ada reaksi yang arahnya berlawanan”

3. Gaya pada tubuh manusia


Dalam tubuh manusia terdapat 3 jenis gaya yaitu sebagai berikut (Latar, 2012: 27):
a. Gaya gravitasi, yaitu gaya yang melalui pusat massa dari tiap segmen tubuh
manusia dengan arah kebawah. Besar gayanya adalah massa dikali percepatan
gravitasi ( F = m g ).
b. Gaya reaksi, yaitu gaya yang terjadi akibat beban pada segmen tubuh atau berat
segmen tubuh itu sendiri.
c. Gaya otot, gaya yang terjadi pada bagian sendi, baik akibat gesekan sendi atau
akibat gaya pada otot yang melekat pada sendi. Gaya ini menggambarkan
besarnya momen otot.

Pada sistem muskuloskeletal fokus kerjanya adalah sebagai


pengumpil/pengungkit. Ada 3 kelas sistem pengumpil pada sistem muskoloskeletal
yaitu (Latar, 2012: 28):
a. Kelas pertama
Titik tumpuan terletak diantara gaya berat dan otot. Contoh Posisi normal
wajah dan leher.

b. Kelas kedua
Gaya berat diantara titik tumpu dan dan gaya otot. Contoh posisi jinjit.
c. Kelas ketiga
Gaya otot terletak diantara titik tumpuan dan gaya berat. Contoh posisi tangan
menekuk memegang bola

Latar, Muh Arif. 2012. Biomekanika. Tersedia pada www.digilib.esaunggul.ac.id . Diakses pada
tanggal 14 September 2019

Rosyidi, Kholid. 2013. Muskuloskeletal. Jakarta: Trans Info Media Jakarta


Gabriel. 2013. Fisika Kedokteran. Jakarta: EGC
Sadikin, Mohamad. 2011. Biokimia Muskuloskeletal. Tersedia pada www.staff.ui.ac.id. Diakses
pada tanggal 14 September 2019