Anda di halaman 1dari 5

Jurnal Kimia Mulawarman Volume 10 Nomor 2, Mei 2013 ISSN 1693-5616

Kimia FMIPA Unmul

STUDI KOMPUTASI REAKSI ADSORBSI DISOSIASI GAS O2


PADA PERMUKAAN Pt-Fe DENGAN METODE
TEORI FUNGSI KERAPATAN

COMPUTATIONAL STUDY OF O2 ADSORPTION DISSOCIATION


REACTION AT Pt-Fe SURFACE
WITH DENSITY FUNCTIONAL THEORY METHOD

Darmin, Rahmat Gunawan dan Aman Sentosa Panggabean

Program Studi Kimia FMIPA Universitas Mulawarman


Jalan Barong Tongkok No. 4 Kampus Gunung Kelua Samarinda, 75123

ABSTRACT
Platinum purpose as a catalysts on the cathode in a fuel cell hydrogen system gets a role in disconnection
of O2 molecules. Power adsorption and dissociation of O2 molecules determined the effectiveness and
efficiency of the nature of catalyst that is utilized. All this time metal is considered the most effective as a
catalyst in fuel cells hydrogen is Pt. After be done investigation and calculation is known about platinum
and iron alloy (Pt-Fe) can be utilized as a catalyst that has approached the effectiveness and efficiency of
pure Pt metal. One of the way to determine the effectiveness and efficiency of the catalyst Pt-Fe alloys by
calculating the value of the potential energy surface (PES). PES value calculation is done using density
functional theory calculations. Analysis’s result point out the value of the potential energy surface (PES)
O2 molecules in the Pt-Fe metal fusion for -929.8341 Ry with optimal distance of 2.4908 A of Pt-Fe’s metal
surface and distances among O atoms as big as 3.3211 A.
Keywords: Fuel cell hydrogen, Adsorption dissociation O2, PES, Density functional theory (DFT)

A. PENDAHULUAN
Dewasa ini, manusia sangat bergantung dengan membantu proses pembentukan ion-ion oksigen dari
penggunaan bahan bakar fosil sebagai sumber energi. molekul gas O2.
Namun, pemanfaatan sumber energi secara berlebihan Pada umumnya, katalis yang digunakan dalam sel
telah menimbulkan terjadinya krisis energi. Belum lagi bahan bakar terbuat dari logam platina. Pada skripsi ini
permasalahan yang timbul akibat penggunaan bahan akan dilakukan investigasi penggunaan perpaduan logam
bakar fosil secara besar-besaran, misalnya pemanasan besi dan logam platina sebagai katalis dilihat dari nilai
global, kerusakan lingkungan dan perubahan iklim yang permukaan energi potensialnya (Potential energy
cukup ekstrim [7]. surface, PES).
Perlu adanya suatu solusi yaitu pengembangan 1.1. Sel Bahan Bakar (Fuel cell)
sumber energi alternatif yang dapat menunjang 1.1.1. Sejarah
kebutuhan energi di masa yang akan datang. Energi Fuel Cell telah didemonstrasikan oleh Sir William
alternatif yang dimaksudkan haruslah terbarukan, ramah Robert Grove, seorang ahli hukum merangkap sebagai
lingkungan, serta murah. ahli fisika amatir, pada tahun 1839, dengan melakukan
Sudah banyak penelitian-penelitian dan pembalikan elektrolisa air, elektroda yang digunakan
penemuan-penemuan untuk energi alternatif seperti adalah platina [8]. Friedrich Wilhelm Ostwald (1853-
biofuel, biodissel, tenaga surya, baterai kerapatan tinggi, 1932), pendiri bidang kimia fisik eksperimental
konversi tenaga angin, konversi tenaga ombak laut, dan menentukan hubungan antara perbedaan komponen dari
sel bahan bakar. sel bahan bakar, termasuk elektroda, elektrolit,
Sel bahan bakar adalah sebuah perangkat konversi pengoksidasi dan pereduksi, anion dan kation.
energi elektrokimia yang menggunakan hidrogen sebagai Pada tahun 1932, Francis Bacon Thomas (1904-
bahan bakar untuk menghasilkan elektron, proton, panas, 1992) yang seorang insinyur melakukan penelitian terkait
dan air [8]. fuel cell. Sebelumnya, fuel cell menggunakan elektroda
Salah satu komponen penting yang menentukan platina dan asam sulfat sebagai elektrolit dimana platina
kinerja dari fuel cell adalah elektroda tempat terjadinya sangat mahal dan asam sulfat sangat korosif (mudah
reaksi katalitik pengubahan bahan bakar H2 dan oksigen berkarat). Disini Bacon mengembangkan katalis platina
(O2 atau udara) menjadi air dan listrik [3]. Komponen yang sangat mahal itu dengan sel oksigen dan hidrogen
yang dimaksud adalah katalis. Katalis pada prinsipnya yang memakai elektrolit alkali yang tidak korosif serta
sebagai tempat merubah molekul-molekul gas yang elektroda yang tidak mahal. Penelitiannya berlangsung
dialirkan menjadi ion-ion. Dalam fuel cell katalis hingga tahun 1959 [8].
ditempatkan pada permukaan katoda, yang berfungsi

Kimia FMIPA Unmul 63


Darmin dkk Studi Komputasi Reaksi
Kimia FMIPA Unmul

Selama tahun 1960-an sebuah produsen alat hidrogen). Kemudian ion hidrogen ini menyebrang
elektronik terkenal di amerika memproduksi tenaga bertemu dengan oksigen dan elektron di katoda dan
listrik berbasis fuel cell untuk NASA sebagai tenaga menghasilkan air. Elektron yang mengandung muatan
pesawat ruang angkasanya yaitu Gemini dan Apollo. listrik tidak bisa melewati membran, akan mengalisr
Sistem fuel cell yang dipakai dalam alat ini berdasar pada menuju katoda melalui jaringan eksternal. Dengan
sel Bacon. [2]. adanya aliran elektron inilah maka akan menyebabkan
1.1.2. Prinsip kerja adanya arus listrik [10]. Elektron-elektron bebas yang
Fuel cell merupakan suatu instrumen yang terjadi harus dialirkan keluar melalui penghantar
mengkonversi secara langsung energi kimia menjadi menuju ke anoda, agar proses listrik-kimiawi dapat
energi listrik. Prinsip kerja fuel cell yaitu hidrogen di berlangsung. Panas yang timbul dari hasil reaksi kimia
dalam sel dialirkan pada sisi anoda, sedangkan oksigen harus terus menerus dibuang, agar energi listrik dapat
dari udara dialirkan pada sisi katoda. Pada anoda terjadi terbentuk secara kontinyu [12]. Untuk skema reaksi
pemisahan gas hidrogen menjadi elektron dan proton (ion lengkapnya dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 1. Skema reaksi yang terjadi pada komponen fuel cell [8].

Pada anoda, hidrogen dioksdiasi melepaskan dua proton ½ O2 + H2 H2O


dan dua elektron [10]. 1.1.3. Komponen-komponen
H2 2H+ + 2e- Ada beberapa komponen penting yang
Pada katoda, terjadi reduksi oksigen [10]: menentukan unjuk kerja sistem fuel cell diantaranya
½O2 + 2H+ + 2e- H2O adalah katalis dan elektrolit.
Dari persamaan-persamaan di atas diperoleh reaksi total
yang terjadi pada keseluruhan sel dalam fuel cell yaitu
[10].

Gambar 2. Skema komponen fuel cell [1]

1.1.4. Katalis berbasis Nickel, sedangkan untuk solid oxide fuel cell
Katalis adalah suatu substansi yang dapat (SOFC) berbasis perovskites [6].
meningkatkan laju reaksi untuk mencapai kesetimbangan 1.1.5. Elektrolit
tanpa ikut bereaksi secara permanen. Pada umumnya Elektrolit di dalam fuel cell memisahkan katoda
sistem fuel cell menggunakan katalis dari logam platina dari anoda, elektrolit hanya dapat menghantar ion saja,
baik murni maupun perpaduan dengan logam lain, sedangkan elektron tidak dapat melewati elektrolit, jadi
khusunya untuk jenis Solid Polymer Electrolite Fuel Cell elektrolit ini bukan penghantar listrik dan juga
(SPECF), juga dikenal dengan nama sel bahan bakar menghindarkan terjadinya reaksi kimia [12]. Terdapat
membran plomer (polymer electrolite membrane fuel berbagai macam material elektrolit yang digunakan
cell, PEMFC) dan Phosphoric Acid Fuel Cell (PAFC). dalam fuel cell hidrogen dan hal ini menentukan jenis
Untuk jenis alkaline fuel cell (AFC) dan molten fuel cell itu sendiri.
carbonate fuel cell (MCFC) katalis yang digunakan

64 Kimia FMIPA Unmul


Jurnal Kimia Mulawarman Volume 10 Nomor 2, Mei 2013 ISSN 1693-5616
Kimia FMIPA Unmul

Alkaline fuel cells (AFC) menggunakan alkaline Dengan Ĥ sebagai operator energi Hamiltonian
potassium, hydroxide sebagai elektrolit, dapat yang terkait dengan energi total sistem, 𝛹𝑖 (r)sebagai
mengahasilkan efisiensi sampai 70%. Proton exchange fungsi orbital pada keadaan energi ke- i, 𝐸𝑖 sebagai
membrane (PEM) memiliki membran yang terbuat dari energi orbital pada keadaan energi ke- i, dan r sebagai
plastik tipis yang pasa kedua sisinya dilapisi dengn vektor jarak antar elektron. Energi yang dapat
platina. Phosphoric acid fuel cell (PAFC) menggunakan direpresentasikan oleh Hamiltonian pada skala atomik
membran asam fosfat yang beroperasi pada suhu 150 oC adalah enegi kinetik elektron, energi interaksi elektron
sampai 200 oC [9]. Molten carbonate (MCFC) beroperasi dengan inti atom, dan energi interaksi elektron dengan
pada temperatur yang tinggi sehingga hanya dapat elektron [11].
digunakan untuk keperluan industri. Solid oxide (SOFC) 1.2.2. Persamaan Kohn-Sham
ini menggunakan material keramik keras, Salah satu komponen penting dalam density
memungkinkan untuk operasi temperatur tinggi, banyak functional theory (DFT) untuk menyederhanakan
dicoba untuk keperluan stasiun pembangkit tenega persamaan schrodinger yaitu persamaan Kohn-Sham.
listrik. Cell ini berbentuk tabung. Direct methanol fuel Pada perhitungan, persamaan Kohn-Sham hanya
cell (DMFC) mirip dengan proton exchange electrolyte meninjau satu buah elektron sebagai referensi
(PEM), yaiut sama-sama menggunakan plastik polymer terhadap elektron lainnya yang dinotasikan dalam
sebagai membran. [4]. kerapatan elektron [13]. Secara matematis persamaan
1.2. Dasar-dasar Teori fungsi kerapatan (DFT) Kohn-Sham dapat ditulis:
1.2.1. Persamaan Schrodiger
Kimia kuantum didasarkan pada postulat
mekanika kuantum. Dalam kimia kuantum, sistem
digambarkan sebagai fungsi gelombang yang dapat
diperoleh dengan menyelesaikan persamaan
Schrödinger. Secara umum persamaan Schrödinger di dengan 𝛻 2 sebagai operator energi kinetik Kohn-Sham,
ungkapkan dalam persamaan: 𝑉𝑥𝑐 (r) sebagai operator energi interaksi elektron-
elektron, 𝑉𝑒𝑥𝑡 (r) sebagai energi potensial eksternal
sebagai fungsi jarak [5].

B. METODOLOGI PENELITIAN
2.1. Optimisasi Sistem Pt-Fe-O 2 untuk setiap 1 lapis Pt berikatan dengan 4 lapis Fe.
Semua perhitungan yang dilakukan pada Parameter kisi yang digunakan yaitu a = b = 3.2501 Å,
penelitian ini dikerjakan dengan menggunakan c = 5.2071 Å, u = 0.3817. perhitungan SCF konvergen
perangkat lunak Quantum ESPRESSO dengan dengan kriteria 5x10-4 Hatree pada potensial efektifnya.
menggunakan metode BLYP dalam kerangka DFT, Optimasi dilakukan dengan mesh k-point
dengan pendekatan perhitungan pertukaran energi (4×4×2), (6×6×3), (8×8×4), (10×10×5), (12×12×6).
korelasi GGA-PBE. Hasil dari optimasi digunakan untuk melangsungkan
Perhitungan dilakukan pada sistem Pt, Fe, dan perhitungan pada sistem interaksi dengan gas oksigen.
Pt-Fe dengan super sel (2×2×1) bervolume tetap,

C. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1. Perhitungan Energi Potensial mengandung 1 lapis Pt dengan 4 lapis Fe. Setelah
3.1.1. Logam Fe, Pt 1 leyer dan 4 layer dan dilakukan perhitungan didapatkan untuk logam
perpaduan logam Pt-Fe platina 1 lapis energi potensialnya sebesar -69,4915
Dilakukan perhitungan energi potensial untuk Ry dan logam besi sebesar -55,6997 Ry, logam platina
logam platina, logam besi, dan perpaduan logam 4 lapis -277,9435 Ry dan logam besi -221,8410 Ry,
platina-besi, dengan tinjauan masing-masing logam 1 sedangkan untuk logam perpaduan energi
lapis dan 4 lapis sedang untuk logam perpaduan potensialnya sebesar -292,5063 Ry.

Gambar 3. Logam platina, besi dan perpaduan logam platina-besi (1 lapis dan 4 lapis) dengan energinya masing-masing.

Kimia FMIPA Unmul 65


Darmin dkk Studi Komputasi Reaksi
Kimia FMIPA Unmul

3.1.2. Permukaan Energi Potensial (PES) dan geometri molekul. Pada investigasi kali ini, hasil
Permukaan energi potensial (PES, Potential pemindaian (scanning) menggunakan PES adalah sebuah
Energy Surface) menggambarkan kontur energi potensial grafik yang memperlihatkan kecenderungan perilaku
pada permukaan. PES merupakan salah satu cara untuk molekul oksigen di atas permukaan logam Pt yang dipadu
melakukan visualisasi hubungan antara energi potensial dengan logam Fe.

Gambar 4. Kontur permukaan energi potensial perpaduan logam Pt-4Fe tehadap atom O.

Pada grafik, kontur yang menjurus ke bawah dan Fungsi katalis pada fuel cell hidrogen adalah
diberi warna merah merupakan kondisi paling stabil untuk memecah molekul oksigen (katoda) menjadi
(paling rendah) pada sistem ini dengan energi potensial atom/ion oksigen yang akan bereaksi dengan atom/ion
sebesar -929.8341 Ry. Pada keadaan ini, ikatan antar hidrogen dari anoda. Dari perhitungan permukaan energi
atom pada molekul oksigen terputus sejauh 3.3211 A dan potensial (PES) diketahui posisi paling stabil molekul O2
jarak antara atom oksigen terdekat dengan permukaan yang berada di atas permukaan sistem Pt-4Fe. Tinjauan
molekul logam Pt sebesar 2.4908 A. Pada kondisi yang selanjutnya, untuk mengetahui energi potensial
sama, pada saat jarak antara atom O dengan permukaan konformasi sistem Pt-4Fe berdasarkan posisi
molekul Pt (dari pt-4Fe) sebesar 3.3211 A dan jarak antar molekul/atom Oksigen yang mengikat satu atau lebih
atom O sebesar 2.4908 A, energi potensial berada pada atom H. Analisis ini dilakukan pada lebar mesh k-point
posisi tertinggi -83.5848 Ry. 4x4x2. Gambar 5. akan menjelaskan hal ini, di atas
3.1.3. Energi Potensial konformasi Pt-4Fe permukaan sistem Pt-4Fe terdapat dua buah atom
berdasarkan posisi atom O2 dan H2 oksigen, yang terpisah sejaun R satu sama lain dan atom
O terdekat berjarak Z dengan atom permukaan Pt.

Gambar 5. Energi Potensial Konformasi permukaan perpaduan logam Pt-4Fe dengan molekul O2 yang mengikat atom
hidrogen.

Dari hasil analisis dan perhitungan yang hidrogen berada ditengah-tengah kedua atom oksigen
dilakukan kondisi yang paling stabil yaitu ketika jarak yang kondisi ikatannya baru terputus dari atom Oksigen
antara molekul permukaan Pt dengan atom O terdekat yang jauh dari permukaan dan sedang menuju atom
sejauh 2.1839 A, atom oksigen ini mengikat satu atom H oksigen yang lain yang berada dekat permukaan. Hal ini
dengan ikatan kovalen. Dan jarak antar atom O sejauh akibat pengaruh perbedaan keelektronegatian atom O dan
5.9149 A satu sama lain. Atom oksigen yang lain atom H. Molekul H2O (atom O yang mengikat 2 atom H)
mengikat dua buah atom H membentuk molekul air, stabil, sedangkan molekul O yang lain lebih
ikatan yang terbentuk pada molekul ini ikatan kovalen elektronegatif dari atom H yang terlepas, sehingga
yaitu ikatan yang terbentuk dari tumpang tindih orbital gerakan dari atom H bebas ini menuju atom O tersebut.
pada masing-masing elektron valensi. Satu atom Energi potensial pada kondisi ini sebesar -1180.1004 Ry.

66 Kimia FMIPA Unmul


Jurnal Kimia Mulawarman Volume 10 Nomor 2, Mei 2013 ISSN 1693-5616
Kimia FMIPA Unmul

D. KESIMPULAN
Molekul oksigen di atas permukaan logam terputus ikatannya saat permukaan energi potensial
perpaduan Pt-4Fe, mengalami adsorbsi dan dissosiasi. (PES) sistem sebesar -929,8341 Ry.
Molekul oksigen yang berada diatas permukaan Pt-4Fe

DAFTAR PUSTAKA
1. Caretto, L. 2002. Fuel Cell. Mechanical Engineering 694C Seminar in Energy and Policy. California State
University Nerthridge. November 13, 2002.
2. Cook, B. 2001. An Introduction to Fuel Cells and Hydrogen Tehonology. Heliocentris 3652 West 5th Avenue,
Vancouver, BC V6R-1S2, Canada.
3. EG&G Services Parson,Inc., 2000, Fuel Cell Handbook, Fifth Edition, U.S. Departmen of Energy Office of
Fossil Energy National Energy Technology laboratory.
4. EG&G Tehical Services, Inc. 2004. Fuel Cell Handbook (Seventh Edition). Under Contract No. DE-Am26-
99FT40575. U.S. Department of Energy, Office of Fossil Energy, National Energy Technology Laboratory P.O.Box
880, Morgantown, West Virginia 26507-0880.
5. Giannozzi, P., Baroni, S., Bonini, N., Calandra, M., Car, R., Cavazzoni, C., Ceresoli, D., Chiarotti, G. L.,
Cococcioni, M., Dabo, I., DalCorso, A., Fabris, S., Fratesi, G., de Gironcoli, S., Gebauer, R., Gerstmann, U.,
Gougoussis, C., Kokalj, A., Lazzeri, M., Samos, L. M., Marzari, N., Mauri, F., Mazzarello, R., Paolini, S.,
Pasquarello, A., Paulatto, L., Sbraccia, C., Scandolo, S., Sclauzero, G., Seitsonen, A. P., Smogunov, A., Umari,
P., dan Wentzcovitch, R. M., (2009): Quantum Espresso: a modular and open-source software project for
quantum simulations of materials, Cond. Mat. Mtrl. Sci., 2, 1–36.
6. Haile, Sissiana, M. 2003. Fuel cell material and component. Department of Material Science and of Chemical
Engineering, California Institute of Technology, 138-78, Pasadena.
7. Ja’far, M. 2009. “Energynomics” ideologi baru dunia”. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. ISBN: 978-979-22-
5028-2.
8. Rayment, C dan Sherwin, S. 2003. Introduction to Fuel Cell Technology. Department of Aerospace and Mechanical
Engineering University of Notre Dame, IN 46556, U.S.A.
9. Remick, Robert. 2010. Molten Carbonate and phosphoric Acid Stationary Fuel Cells: Overview and Gap analysis.
Technical Report NREL/TP-560-49072, for the periode september, 2010, Prepared under Task No. H278.7210.
10. Setiawan, I; Handayani, M; Dwiantoro, I; Irawan, D; Siswayanti, B. 2007. Pemanfaatan teknologi fuel cell sebagai
alternative penyediaan energi bersih di Indonesia. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Pusat Penelitian
Metalurgi. Volume 22, No. 2.
11. Shevlin, S. A., dan Guo, Z. X., (2009): Density functional theory simulations of complex hydride and carbon-
based hydrogen storage materials, Chem. Soc. Rev., 38, 211–225.
12. Suhada, H. 2001. Fuel Cell Sebagai Penghasil Energi Abad 21. Jurnal Teknik Mesin, Vol. 3, No. 2, Oktober 2001:
92-100.
13. Vondele, J. V., Iannuzzi, M., dan Hutter, J., (2006): Large Scale Condensed Matter Calculations using the
Gaussian and Augmented Plane Waves Method, Lect. Notes Phys., 703, 287–314.

Kimia FMIPA Unmul 67