Anda di halaman 1dari 7

TUGAS 1

GMP SUPPLIER TELUR AYAM


Tugas ini dibuat untuk memenuhi nilai salah satu mata kuliah Pengendalian Mutu dan
Keamanan Pangan

Dosen : Tri Hariyadi, M.T.

Awayni Husna 171424006


Gamaliel Tanaka 171424012
Isma Nur Azizah 171424015
Neila Zakiah Hanun 171424026
Zachra Fadhila N 171424032

PRODI D4 TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH

JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

2019
1. Bangunan Pabrik
 Lahan dan Lokasi
Lahan dan lokasi budi daya ayam petelur harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a. Upaya Kelestarian Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL/UPL);
b. sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP), Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten/Kota (RTRWK), atau Rencana Detail Tata Ruang Daerah (RDTRD);
b. letak dan ketinggian lokasi dari wilayah sekitarnya memperhatikan topografi dan fungsi lingkungan
serta bebas dari bakteri patogen yang membahayakan ayam petelur; dan
c. mudah diakses atau terjangkau alat transportasi.
 Bangunan
Bangunan untuk usaha budi daya ayam petelur yang baik, meliputi jenis bangunan, konstruksi
bangunan, dan tata letak bangunan.
a. Jenis Bangunan
Jenis bangunan terdiri atas:
1) kandang anak ayam petelur (starter) dan kandang pembesaran;
2) kandang ayam petelur (layer);
3) kandang isolasi ayam sakit;
4) gudang penyimpanan pakan, peralatan, dan tempat penyimpanan obat;
5) gudang penyimpanan telur;
6) saluran air, bak air, bak pengolah limbah (digester);
7) tempat pemusnahan/pembakaran bangkai ayam;
Ukuran kandang, sebagai berikut:

Tabel 1. Ukuran kandang berdasarkan jumlah dan umur ayam


Selain jenis bangunan tersebut di atas hendaknya mempunyai bangunan kantor untuk urusan
administrasi dan mess karyawan.
b. Konstruksi Bangunan
Konstruksi bangunan dilengkapi antara lain dengan:
1) ventilasi yang cukup untuk sirkulasi udara dengan baik;
2) saluran limbah dan pemanfaatannya;
3) gudang penyimpanan pakan, obat dan peralatan yang mampu memenuhi persyaratan mutu,
keamanan, dan higienis; dan
4) kandang yang menjamin ternak terhindar dari kecelakaan dan kerusakan fisik.
c. Tata Letak Bangunan
Penataan letak bangunan kandang memperhatikan drainase, dan mendapat sinar matahari yang
cukup. Penataan letak bangunan kandang dan bangunan lainnya di dalam lokasi budi daya ayam
petelur sebagai berikut:
1) dikelilingi bangunan pagar setinggi 2 (dua) meter dengan pintu masuk tunggal (one way system)
untuk kendaraan dan orang yang selalu tertutup, dan dilengkapi dengan alat desinfeksi;
2) bangunan kantor dan mess karyawan/pengelola budi daya terpisah dari kandang dan dibatasi
dengan pagar rapat;
3) jarak terdekat antara kandang dengan bangunan lain bukan kandang minimal 25 (dua puluh
lima) meter;
4) bangunan kandang, kandang isolasi, dan bangunan lainnya ditata agar aliran air, saluran
pembuangan limbah, udara dan penghantar lain tidak menimbulkan penyakit;
5) posisi kandang membujur dari barat ke timur dan sebaliknya untuk mengurangi sinar matahari
langsung; dan
6) jarak antara lokasi budi daya ayam petelur dengan lokasi budi daya unggas lainnya ditetapkan
berdasarkan hasil analisis risiko.
Peralatan dan Fasilitas Pengolahan
 Peralatan kandang pada ternak ayam petelur diantaranya adalah:
a. Litter (alas lantai).
Litter/alas lantai harus kering. Ini bertujuan untuk mencegah kelembaban pada litter agar tidak
mudah ditumbuhi jamur atau bakteri penyebab penyakit. Tebal litter berkisar antara 10-15 cm.
Bahan pembuatan litter terbuat dari campuran kulit padi/sekam dengan sedikit kapur dan pasir
secukupnya. Jika tidak ada sekam padi, maka bisa diganti dengan hasil serutan kayu berukuran 3-5
cm.
b. Tempat bertelur.
Tempat telur disediakan untuk mempermudah proses pengambilan telur dan agar kulit telur
tidak kotor. Tempat bertelur ini dapat berupa kotak berukuran 30 x 35 x 45 cm, untuk 4-5 ekor
ayam.
c. Tempat pakan ayam petelur, minum dan tempat grit.
Tempat pakan ayam petelur, minum dan tempat grit disesuaikan dengan umur ayamnya.
Material tempat pakan ayam petelur dapat terbuat dari papan, bambu, atau pipa peralon. Tempat
air harus selalu berisi air bersih, segar, dan dingin. Tempat pakan ayam petelur harus tetap terjaga
kebersihannya dengan cara dicuci setiap hari menggunakan sabun. Selain kebersihan, volume air
yang terdapat dalam wadahnya juga harus diperhatikan.
 Peralatan pendistribusian telur ayam diantaranya adalah:
a. Egg tray
Egg tray merupakan tempat menaruh telur yang terbuat dari karton/kertas bekas. Egg tray dapat
menjaga kualitas telur lebih baik daripada peti telur. Egg tray memiliki kekuatan yang lebih lemah
dan juga kapasitas telur yang kurang.
b. Peti telur
Peti telur biasanya terbuat dari kayu, memiliki kapasitas besar dan ketahanan wadah yang kuat.
Namun telur yang ditempatkan pada peti telur memiliki kecenderungan rusak yang lebih besar
karena tidak ada penyangga antar telur yang bisa mengakibatkan telur saling betumbukkan.

2. Pengendalian Bahan Baku, Proses, produk


 Pemilihan Bibit dan Calon Induk
Penyiapan bibit ayam petelur harus berkriteria baik. Kriteria bibit ayam petelur yang baik
dapat adalah:
- Konversi Ransum.
Yang dimaksud dengan konversi ransum yaitu perbandingan antara ransum yang dihabiskan
ayam dengan telur yang bisa dihasilkan oleh ayam. Konversi ransum bisa disebut dengan ransum
per kilogram telur. Ayam yang baik dapat makan sejumlah ransum serta dapat menghasilkan
telur yang lebih banyak/lebih besar dari ransum yang telah dimakannya. Bila konversi ini tidak
sesuai (ayam makan terlalu banyak dan bertelur sedikit), maka hal ini merupakan cermin buruk
bagi ayam itu.
- Produksi Telur.
Produksi telur harus menjadi perhatian utama pada budidaya ayam petelur. Bibit yang dipilih
harus bibit yang dapat memproduksi telur banyak. Produksi ini juga harus mempertimbangkan
konversi ransum. Konversi ransum harus sesuai agar tidak merugikan pelaku usaha ternak ayam
petelur.
- Prestasi Bibit Dilapangan/Dipeternakan.
Prestasi bibit dilapangan/dipeternakan dapat dilihat berdasarkan kemampuan konversi
ransum, produksi telur, dan kemampuan ayam untuk bertelur.
 Bibit Ayam Petelur
Dalam ternak ayam petelur ada dua jenis ayam ras petelur yang cocok dibudidayakan, yaitu
budidaya ayam petelur ras ringan dan budidaya ayam petelur ras medium. Tipe ayam ras petelur
ringan biasa disebut dengan ayam ras petelur putih yang menghasilkan warna cangkang telur putih.
Badannya, ayam ramping, kurus, mungil, kecil dan mata bersinar. Ayam ini berasal dari galur
murni white leghorn. Bulunya berwarna putih bersih dan berjengger merah. Ayam ini mampu
menghasilkan telur lebih dari 260 telur per tahun. Ayam jenis ini sangat sensitif terhadap cuaca
panas dan suasana yang tidak kondusif (keributan). Sehingga jika kondisi lingkungannya tidak
mendukung, produksinya akan menurun drastis.
Jenis ayam petelur medium memiliki berat badan yang lebih berat dibandingkan tipe ayam ras
petelur ringan, namun juga lebih ringan dibandingkan ayam pedaging (broiler). Oleh karena itu,
ayam ini disebut sebagai ayam petelur medium. Warna bulunya coklat dengan warna cangkang
telur coklat. Tipe ini yang banyak dibudidayakan karena jika telah afkir, dagingnya masih laku
dijual sehingga sering disebut ayam dwiguna.

3. Pengendalian Pes (hewan pengganggu)


Hewan yang berpotensi sebagai hewan pengganggu dalam peternakan ayam petelur adalah
burung/unggas liar, tikus dan insekta. Lokasi peternakan yang bagus harus tidak mudah dimasuki
binatang-binatang pengganggu tersebut sehingga peternak harus melakukan desinfeksi kandang
dan peralatan, penyemprotan terhadap serangga dan lalat, secara teratur pembasmian dilakukan
terhadap hama-hama lainnya dengan menggunakan desinfektan yang aman bagi lingkungan
(Kepmentan, 2001).
Peternakan pada kedua kelompok melakukan penanganan terhadap insekta, sedangkan
penanganan terhadap burung dan tikus jarang dilakukan. Penanganan insekta pada umumnya
dilakukan dengan pemberian insektisida seperti Snip, Betasit, Larvadex, Agita dan Ratoli pada
periode tertentu saja terutama pada saat musim hujan. Tikus sering ditemui di gudang pakan, jika
tikus tersebut memasuki karung pakan kemudian pakan diberikan kepada ayam maka akan
berbahaya. Hal tersebut mampu menimbulkan penyakit zoonosis karena tikus merupakan reservoir
Salmonella sp. terutama Salmonella pullorium yang dapat menyebabkan penyakit sehingga
dilakukan penanganan terhadap tikus.
Pengendalian tikus (pest control) merupakan salah satu program keamanan biologi untuk
mengurangi terjadi penyebaran burung-burung liar, serangga, binatang melata dan hewan-hewan
lain ke dalam kandang yang berpotensi mempengaruhi status kesehatan ternak. Meskipun secara
teoritis sudah dimengerti namun penerapan di lapangan sering kali tidak konsisten. Kondisi inilah
yang sering menimbulkan masalah dalam peternakan meskipun sudah ada upaya melaksanakannya
(Vallincourt dan Carver, 1999).
Pengawasan dan pengendalian tikus ini harus dilakukan secara berkelanjutan. Sistem
pemeliharaan ayam dengan cara all in all out tidak berlaku bagi tikus penghuni kandang yang
merupakan agen penular yang sangat potensial pada ayam periode pemeliharaan berikutnya
(Vielitz, 1994)..

4. Fasilitas Penggudangan
Menjaga kebersihan perkandangan terutama di sekitar area kandang dan gudang penyimpanan
telur sangat penting dilakukan dalam pelaksanaan biosekuriti. Kotoran ayam sebaiknya tidak
ditampung di dalam area peternakan terlalu lama. Hal ini penting dan baik untuk meminimalisir
adanya hewan mengerat dan serangga (lalat) dan memaksimalkan sinar matahari sebagai
desinfektan masuk ke dalam lingkungan perkandangan.
Syarat untuk gudang penyimpanan telur antara lain:
o Memiliki struktur bangunan yang menunjang higien dan sanitasi telur
o Terdapat fasilitas cuci tangan yang dilengkapi dengan air bersih, sabun cair, tisu/hand
dryer, tempat sampah tertutup
o Kelembapan gudang penyimpanan telur tidak boleh lebih dari 80%
o Suhu gudang penyimpanan telur antara 12-15 oC

5. Pembuangan Limbah
Limbah pada budi daya telur ayam biasanya berupa cangkang telur. Cangkang telur yang
sudah menjadi serbuk banyak manfaatnya. Tetapi yang perlu diperhatikan, cangkang telur tersebut
harus dicuci bersih dan benar-benar kering. Kemudian dihaluskan sampai menyerupai tepung.
Jangan lupa, simpan ke dalam wadah bersih dan tertutup jika ingin menggunakannya
lagi. Cangkang telur mengandung mineral, kalsium, strontium, fluorida, magnesium, selenium,
hingga protein. Nah, untuk mengurangi jumlah limbah ada beberapa ide kreatif mengolah
cangkang telur ini dapat diterapkan antara lain:
o Mengatasi saluran air yang mampet
o Membersihkan alat memasak
o Pembasmi hama tikus
o Menjadi pupuk kompos alami
o Campuran makanan hewan peliharaan

6. Pekerja
Sumber daya manusia yang terlibat dalam budi daya ayam petelur harus memenuhi
persyaratan antara lain sebagai berikut:
1. Berbadan sehat;
2. Mempunyai keterampilan sesuai dengan bidangnya dan memahami risiko pekerjaan; dan
3. Menerapkan keselamatan dan keamanan kerja sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan di bidang ketenagakerjaan.
DAFTAR PUSTAKA
Fani, Mutia. 2010 https://repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/63251/1/D10mfa.pdf
[diakses pada 14 September 2018]