Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN

PRAKTIKUM FORMULASI DAN TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL


“ Infus Ringer Laktat”

Dosen Penngampu:
Dewi Ekowati M.Sc.,Apt

Oleh :
Kelompok 2
Irene Lopa C (21154512A)

Iqnatiya Utami D (21154514A)

Dewi Andini (21154515A)

Dian Apriyani (21154516A)

Selin Diana L. (21154517A)

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2018
I. Tujuan Praktikum
Mengetahui dan menguasai pembuatan infus secara steril

II. Dasar Teori


Teknologi Steril merupakan ilmu yang mempelajari tentang bagaimana
membuat suatu sediaan (Injeksi volume kecil, Injeksi volume besar, Infus, Tetes
Mata dan Salep Mata) yang steril, mutlak bebas dari jasad renik, patogen, atau non
patogen, vegetatif atau non vegetatif (tidak ada jasad renik yang hidup dalam suatu
sediaan). Teknologi steril berhubungan dengan proses sterilisasi yang berarti
proses mematikan jasad renik (kalor, radiasi, zat kimia) agar diperoleh kondisi
steril. Tentunya di setiap fakultas mendapatkan mata kuliah tersebut, karena
teknologi steril berperan penting dan menjadi mata kuliah pokok farmasi.
Dalam teknologi steril, kita dapat mempelajari tentang bagaimana
menghasilkan atau membuat sediaan yang steril, sediaan steril dapat dibuat secara
sterilisasi kalor basah, kalor kering, penyaringan, sterilisasi gas, radiasi ion dan
teknik aseptik. Kemudian sediaan steril tersebut dilakukan uji sterilitas, uji
pirogenitas (ada atau tidaknya pirogen). Pada saat kuliah teknologi steril akan kita
dapatkan sediaan dalam bentuk larutan, emulsi, suspensi dan semi solid yang steril
(bebas dari pirogen). Sediaan injeksi volume besar adalah larutanproduk obat yang
disterilisasi akhir dan dikemas dalam wadah dosis tunggal dengan kapasitas 100ml
atau lebih dan ditunjukan untuk manusia. Parenteral volume besar meliputi infus
intravena, larutan irigrasi, larutan dialisis peritonial & blood collecting units with
antikoagulant.
Ringeris Lactatis adalah larutan steril dari Kalsium Klorida, Kalium klorida,
Natrium klorida dan Natrium Lactat dalam air untuk injeksi. Tiap 100 ml
mengandung tidak kurang dari 285,0 mg dan tidak lebih dari 315,0 mg natrium
(sebagai NaCl dan C3H5NaO3), tidak kurang dari 14,1 mg dan tidak lebih dari 17,3
mg Kalium (K, setara dengan tidak kurang dari 27,0 mg dan tidak lebih dari 33,0
mg KCl), tidak kurang dari 4,90 mg dan tidak lebih dari 6,00 mg kalsium (Ca, setara
dengan tidak kurang dari 18,0 mg dan tidak lebih dari 2,0 mg CaCl2.2H2O), dan
tidak kurang dari 231,0 mg dan tidak lebih dari 261,0 mg laktat (C3H5O3, setara
dengan tidak kurang dari 290,0 mg dan tidak lebih dari 330,0 mg C3H5NaO3).
Injeksi Ringer Laktat tidak boleh mengandung bahan antimikroba.
Untuk membuat Infus harus dapat memenuhi persyaratan infus yang telah
ditentukan dalam buku resmi. Persyaratan infus antara lain:
 Infus harus jelas manfaatnya
 Stabil secara fisika, kimia dan biologi terapi serta toksikologi
 Harus isotonis, larutan konsentrasinya harus sama dengan konsentrasi dalam sel
darah merah
 Menggunakan pembawa air yaitu Aqua Pro Injection
 Bebas pirogen
Kerugian dari sediaan infus antara lain
 Emboli udara
 Inkompatibilitas obat
 Hipersensitivitas
 Sepsis

III. Alat dan bahan


1. Alat
- Timbangan analitik
- Seperangkat alat gelas
- Wadah kaca 1o00 ml
- Inkas
- Kertas pH
- Autoklaf
- Oven
2. Bahan
- NaCl
- KCl
- CaCl2.. 2H2O
- Aqua Pro injection
- Carbo Adsorbens
- Serbuk thioglycolate

IV. Penimbangan Bahan

V. Cara Kerja
1. Pembuatan sediaan infus ringer laktat

Memasukkan KCl
Mensterilkan inkas,
Menyiapkan bahan Menara wadah ad dalam beaker glass
alat dan yang akan
dan alat 100 ml dilarutkan dengan
digunakan
aquadest steril

disaring dengan
memasukkan NaCl
dimasukkan Carbo kertas saring steril
dalam beaker glass ad cek pH
adsorbens 0,1% (saringan pertama
110 ml
disisihkan 0,5 ml)

saringan kedua disterilkan


dimasukkan dalam menggunakan
wadah autoklaf

2. Proses sterilisasi
masukkan masing-
dilarutkan dengan Tabung ditutup
menimbang serbuk masing 5 ml larutan
air mendidih aduk dengan kapas lalu
thioglycolate dalam tabung reaksi
hingga homogen disterilisasi
sebanyak 3 buah

inkubasi dan catat


preparasi uji
hasil uji sterilitasnya
sterilitas dalam
sampai dengan 7
inkas
hari

VI. Data dan Hasil Pengamatan


No Tabung Hari ke-

1 2 3 4 5 6 7
1 Kontrol media

2 Kontrol ruangan

3 Kontrol sampel

VII. Pembahasan
Larutan yang isotonis adalah larutan yang memiliki tekanan osmotik sama dengan tubuh,
dan keadaan isotonis inilah yang diharapkan, karena dalam keadaan ini, larutan yang
diinjeksikan tidak akan menimbulkan rasa sakit. Sedangkan larutan yang hipotonis, akan
menimbulkan sel cairan tubuh akan pecah atau lisis, karena tekanan diluar sel lebih rendah,
maka cairan dalam sel akan menggembung dan pecah, mengingat tekanan osmotik merupakan
tekanan yang berjalan dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi.

Pada praktikum kali ini membuat larutan infus dengan bahan dasar KCl, NaCl dan CaCl.
Dariill yang diperoleh dari perhitungan larutan natrium klorida yang akan dibuat sesuai
formula yang direkomendasikan, larutan tersebut memiliki sifat hipertonis, karena hasil yang
diperoleh < 0,52. Karena keadaan ini, maka ditambahkan bahan seperti NaCl 0,9% menurut
perhitungan penambahan agar menjadi larutan yang isotonis.

Infus sebagai sediaan parenteral harus memenuhi persyaratan antara lain steril, dan bebas dari
partikel asing, bebas pirogen, stabil, tonisitas, jernih dan mempunyai pH yang sesuai. Formula yang
digunakan dalam membuat infus ringer laktat adalah natrium laktat, NaCl, KCl, CaCl2. 2H2O dan aqua
p.i. Setiap komponen mempunyai kelebihan masing-masing untuk menghasilkan larutan elektrolit.
Pada formula ini natrium laktat berfungsi sebagai menyumbangkan ion natrium, untuk terapi asidosis
yaitu kelebihan asam dalam darah dimana akan mengakibatkan nekrosis jaringan. Kalium klorida
berfungsi sebagai pompa untuk ion Na dan K, dan dapat meningkatkan kontraksi otot jantung. Natrium
Klorida berfungsi sebagai elektrolit yang dapat membuat larutan menjai isotonis. Calsium Klorida
berfungsi sebagai defisiensi ion kalsium.

Tonisitas larutan perlu dihitung dahulu sebelum pembuatan sediaan. Tonisitas perlu dihitung
dengan tujuan agar dapat diketahui apakah larutan tersebut sudah isotonis atau belun atau hipertonis,
karena ini berhubungan dengan tekanan osmose larutan terhadap cairan tubuh yang akan diberi
larutan infus. Larutan yang isotonis adalah larutan yang memiliki tekanan osmose sama dengan tubuh,
dan keadaan isotonis inilah yang diharapkan, karena dalam keadaan ini, larutan yang diinjeksikan tidak
akan menimbulkan rasa sakit. Sedangkan larutan yang hipotonis,akan menimbulkan sel cairan tubuh
akan pecah atau lisis, karena tekanan diluar sel lebih rendah, maka cairan dalam sel akan
menggembung dan pecah, mengingat tekanan osmose merupakan tekanan yang berjalan dari
konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi. Sebaliknya pada larutan hipertonis akan mengakibatkan
keadaan di luar sel lebih tinggi dibanding didalam sel, sehingga keadaan sel mengkerut. Keadaan
hipotonis lebih berbahaya dibanding keadaan hipertonis, karena sifat larutan hipotonis irreversibel
(sel sudah pecah ),sedangkan sifat hipertonis reversibel ( sel dapat kembali normal ).

Hal pertama yang dilakukan sebelum proses pembuatan sediaan adalah sterilisasi alat.
Dimana kami melakukan sterilisasi alat pada autoklaf pada suhu 121˚C selama 15 menit.
Selanjutnya dilakukan persiapan bahan – bahan yang akan digunakan. Kemudian melakukan
penimbangan bahan – bahan, dimana seluruh bahan yang akan digunakan harus dilebihkan
sebanyak 20%. Hal tersebut bertujuan untuk mencegah terjadinya hilangnya volume bahan
pada saat pembuatan sediaan tersebut. Uji sterilitas dilakukan dengan cara memasukkan
sediaan injeksi dalam 4 tabung yang sudah berisi media thioglycolate. Tabung pertama sebagai
kontrol sterilitas media, tabung kedua sebagai kontrol sterilitas enkas, tabung ketiga sebagai
kontrol sterilitas sampel infus. Pengujian dilakukan setiap hari dengan hasil yang didapatkan
bahwa sediaan injeksi tidak steril ( terdapat kontaminan). Hasil dari pengujian kebocoran
adalah wadah ampul tetap berisi atau volumenya tetap.

VIII. Kesimpulan dan saran


Praktikum pembuatan larutan infus glukosa dibuat dengan menggunakan natrium
klorida (NaCl) dan KCl sebagai zat aktif dan norit sebagai zat tambahan. Berdasarkan hasil
percobaan yang telah dilakukan, pada evaluasi sediaan uji kejernihan dan warna diperoleh
larutan infus glukosa yang keruh dan terdapat partikulat. Ini berarti bahwa larutan yang
dibuat belum memenuhi syarat yang berlaku untuk pembuatan sediaan parenteral.
IX. Daftar Pustaka
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia Edisi
Empat. Jakarta.
Anief, Prof.Drs. Moh.Apt. 1997. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : UGM-Press.
Ansel, C Howard. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta : UI-Press.
Lukas Stefanus. 2006. Formulasi Steril. Yogyakarta.
XI. Lampiran