Anda di halaman 1dari 12

REFERAT

SKIZOFRENIA AFEKTIF

Disusun Oleh

Ester Marcelia Anastasia P

11-2017-167

Dokter Pembimbing

dr. Evalina Asnawi, Sp.KJ (K)

1
BAB I

PENDAHULUAN

Gangguan skizoafektif adalah kelainan mental yang rancu yang ditandai dengan adanya gejala
kombinasi antara gejala skizofrenia dan gejala gangguan afektif.Penyebab gangguan
skizoafektif tidak diketahui, tetapi empat model konseptual telah dikembangkan.Gangguan
dapat berupa tipe skizofrenia atau tipe gangguan mood.Gangguan skizoafektif mungkin
merupakan tipe psikosis ketiga yang berbeda, yang bukan merupakan gangguan skizofrenia
maupun gangguan mood.Keempat dan yang paling mungkin, bahwa gangguan skizoafektif
adalah kelompok heterogen gangguan yang menetap ketiga kemungkinan pertama.

Pada gangguan Skizoafektif gejala klinis berupa gangguan episodik gejala gangguan mood
maupun gejala skizofreniknya menonjol dalam episode penyakit yang sama, baik secara
simultan atau secara bergantian dalam beberapa hari. Bila gejala skizofrenik dan manik
menonjol pada episode penyakit yang sama, gangguan disebut gangguan skizoafektif tipe
manik. Dan pada gangguan skizoafektif tipe depresif, gejala depresif yang menonjol.Gejala
yang khas pada pasien skizofrenik berupa waham, halusinasi, perubahan dalam berpikir,
perubahan dalam persepsi disertai dengan gejala gangguan suasana perasaan baik itu manik
maupun depresif.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

SKIZOAFEKTIF

2.1 SEJARAH

Di tahun 1913 George H. Kirby dan pada tahun 1921 August Hoch keduanya menggambarkan
pasien dengan ciri campuran skizofrenia dan gangguan afektif (mood).Karena pasiennya tidak
mengalami perjalanan demensia prekoks yang memburuk, Kirby dan Hoch mengklasifikasikan
mereka di dalam kelompok psikosis manic-depresif Emil Kraepelin.
Di tahun 1933 Jacob Kasanin memperkenalkan istilah “gangguan skizoafektif” untuk suatu
gangguan dengan gejala skizofrenik dan gejala gangguan mood yang bermakna.Pasien dengan
gangguan ini juga ditandai oleh onset gejala yang tiba-tiba, seringkali pada masa remajanya.Pasien
cenderung memiliki tingkat fungsi premorbid yang baik, dan seringkali suatu stressor yang spesifik
mendahului onset gejala.Riwayat keluarga pasien sering kali terdapat suatu gangguan
mood.Kasanin percaya bahwa pasien memiliki suatu jenis skizofrenia. Dari 1933 sampai kira-kira
tahun 1970, pasien yang gejalanya mirip dengan gejala pasien-pasien Kasanin secara bervariasi
diklarifikasi menderita gangguan skizoafektif, skizofrenia atipikal, skizofrenia dalam remisi, dan
psikosis sikloid – istilah-istilah yang menekankan suatu hubungan dengan skizofrenia.

2.2 DEFINISI .1
Gangguan Skizoafektif mempunyai gambaran baik skizofrenia maupun gangguan
afektif.Gangguan skizoafektif memiliki gejala khas skizofrenia yang jelas dan pada saat bersamaan
juga memiliki gejala gangguan afektif yang menonjol.Gangguan skizoafektif terbagi dua yaitu,
tipe manik dan tipe depresif.

2.3 EPIDEMIOLOGI.2

Prevalensi seumur hidup gangguan skizoafektif kurang dari 1%, mungkin berkisar antara
0,5% – 0,8%. Tetapi gambaran tersebut masih merupakan perkiraan.Gangguan skizoafektif tipe
depresif mungkin lebih sering terjadi pada orang tua daripada orang muda, prevalensi gangguan
tersebut dilaporkan lebih rendah pada laki-laki dibanding perempuan, terutama perempuan
menikah.Usia awitan perempuan lebih lanjut daripada laki-laki, seperti pada skizofrenia. Laki-
laki dengan gangguan skizoafektif mungkin memperlihatkan perilaku antisosial dan mempuinyai
afek tumpul yang nyata atau tidak sesuai. National comorbidity study : 66 orang yang di
diagnosa skizofrenia, 81% pernah didiagnosa gangguan afektif yang terdiri dari 59% depresi
dan 22% gangguan bipolar .

3
2.4 ETIOLOGI.3
Sulit untuk menentukan penyebab penyakit yang telah berubah begitu banyak
dari waktu ke waktu.Dugaan saat ini bahwa penyebab gangguan skizoafektif mungkin mirip
dengan etiologi skizofrenia.Oleh karena itu teori etiologi mengenai gangguan skizoafektif juga
mencakup kausa genetik dan lingkungan.
Penyebab gangguan skizoafektif adalah tidak diketahui, tetapi empat model konseptual
telah diajukan :
1. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan suatu tipe skizofrenia atau suatu tipe gangguan
mood
2. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan ekspresi bersama-sama dari skizofrenia dan
gangguan mood
3. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan suatu tipe psikosis ketiga yang berbeda, tipe
yang tidak berhubungan dengan skizofrenia maupun suatu gangguan mood
4. Kemungkinan terbesar adalah bahwa gangguan skizoafektif adalah kelompok gangguan
yang heterogen yang meliputi semua tiga kemungkinan yang pertama.
Penelitian yang dilakukan untuk menggali kemungkinan-kemungkinan tersebut telah
memeriksa riwayat keluarga, petanda biologis, respon pengobatan jangka pendek, dan hasil akhir
jangka panjang.

Walaupun banyak pemeriksaan terhadap keluarga dan genetika yang dilakukan untuk
mempelajari gangguan skizoafektif didasarkan pada anggapan bahwa skizofrenia dan gangguan
mood adalah keadaan yang terpisah sama sekali, namun beberapa data menyatakan bahwa
skizofrenia dan gangguan mood mungkin berhubungan secara genetic. Beberapa kebingungan
yang timbul dalam penelitian keluarga pada pasien dengan gangguan skizoafektif dapat
mencerminkan perbedaan yang tidak absolute antara dua gangguan primer. Dengan demikian tidak
mengejutkan bahwa penelitian terhadap sanak saudara pasien dengan gangguan skizoafektif telah
melaporkan hasil yang tidak konsisten. Peningkatan prevalensi skizofrenia tidak ditemukan
diantara sank saudara pasien yang pasien dengan skizoafektif, tipe bipolar; tetapi, sanak saudara
pasien dengan gangguan skizoafektif, tipe depresif, mungkin berada dalam resiko yang lebih tinggi
menderita skizofrenia daripada suatu gangguan mood.

2.5 MANISFESTASI KLINIS.1,3

Pada gangguan Skizoafektif gejala klinis berupa gangguan episodik gejala gangguan mood
maupun gejala skizofreniknya menonjol dalam episode penyakit yang sama, baik secar simultan
atau secara bergantian dalam beberapa hari. Bila gejala skizofrenik dan manik menonjol pada
episode penyakit yang sama, gangguan disebut gangguan skizoafektif tipe manik. Dan pada
gangguan skizoafektif tipe depresif, gejala depresif yang menonjol.
Gejala yang khas pada pasien skizofrenik berupa waham, halusinasi, perubahan dalam
berpikir, perubahan dalam persepsi disertai dengan gejala gangguan suasana perasaan baik itu
manik maupun depresif.

4
Gejala klinis berdasarkan pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa (PPDGJ-
III):
Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih
bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
a) - “thought echo” = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya
(tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda ;
atau

- “thought insertion or withdrawal” = isi yang asing dan luar masuk ke dalam pikirannya
(insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal);
dan

- “thought broadcasting”= isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum
mengetahuinya;

b) - “delusion of control” = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu
dari luar; atau

- “delusion of passivitiy” = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu
kekuatan dari luar; (tentang ”dirinya” = secara jelas merujuk kepergerakan tubuh / anggota
gerak atau ke pikiran, tindakan, atau penginderaan khusus)

- “delusional perception” = pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat
khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat;

c) Halusinasi Auditorik:

- Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien, atau

- Mendiskusikan perihal pasien pasein di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara
yang berbicara), atau

- Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.

d) Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak
wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu,
atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan
cuaca, atau berkomunikasi dengan mahluk asing dan dunia lain)

Atau paling sedikit dua gejala di bawah ini yang harus selalu ada secara jelas:

5
e) Halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja, apabila disertai baik oleh waham yang
mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas,
ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila
terjadi setiap hari selama berminggu minggu atau berbulan-bulan terus menerus;
f) Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation), yang
berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme;
g) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu
(posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor;
h) Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan respons
emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri
dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal
tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika;

Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu
bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik (prodromal). Harus ada suatu
perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dan beberapa
aspek perilaku pribadi (personal behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak
bertujuan, tidak berbuat sesuatu sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude) dan
penarikan diri secara sosial.

2.6 DIAGNOSIS.

Karena konsep gangguan skizoafektif melibatkan konsep diagnostik baik skizofrenia maupun
gangguan mood, beberapa evolusi dalam kriteria diagnostik untuk gangguan skizoafektif
mencerminkan perubahan yang telah terjadi di dalam kriteria diagnostik untuk kedua kondisi lain.
Kriteria diagnostik utama untuk gangguan skizoafektif (Tabel 1) adalah bahwa pasien telah
memenuhi kriteria diagnostik untuk episode depresif berat atau episode manik yang bersama-sama
dengan ditemukannya kriteria diagnostik untuk fase aktif dari skizofrenia.Di samping itu, pasien
harus memiliki waham atau halusinasi selama sekurangnya dua minggu tanpa adanya gejala
gangguan mood yang menonjol.Gejala gangguan mood juga harus diteukan untuk sebagian besar
periode psikotik aktif dan residual.Pada intinya, kriteria dituliskan untuk membantu klinisi
menghindari mendiagnosis suatu gangguan mood dengan ciri psikotik sebagai suatu gangguan
skizoafektif.

Tabel 1. Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Skizoafektif (DSM-IV).1

Kriteria Diagnostik Untuk Gangguan Skizoafektif


A. Suatu periode penyakit yang tidak terputus selama mana, pada suatu waktu. Terdapat baik
episode depresif berat, episode manik, atau suatu episode campuran dengan gejala yang
memenuhi kriteria A untuk skizofrenia.
Catatan: Episode depresif berat harus termasuk kriteria A1: mood terdepresi.

6
B. Selama periode penyakit yang sama, terdapat waham atau halusinasi selama sekurangnya
2 minggu tanpa adanya gejala mood yang menonjol.
C. Gejala yang memenuhi kriteria untuk episode mood ditemukan untuk sebagian bermakna
dari lama total periode aktif dan residual dari penyakit.
D. Gangguan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat yang
disalahgunakan, suatu medikasi) atau suatu kondisi medis umum.
Sebutkan tipe:
Tipe bipolar: jika gangguan termasuk suatu episode manik atau campuran (atau suatu manik
suatu episode campuran dan episode depresif berat)
Tipe depresif: jika gangguan hanya termasuk episode depresif berat.
Tabel dari DSM-IV, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders.Ed. 4.Hak cipta
American Psychiatric Association. Washington. 1994.

DSM-IV juga membantu klinisi untuk menentukan apakah pasien menderita gangguan
skizoafektif, tipe bipolar, atau gangguan skizoafektif, tipe depresif.Seorang pasien diklasifikasikan
menderita tipe bipolar jika episode yang ada adalah dari tipe manik atau suatu episode campuran
dan episode depresif berat.Selain itu, pasien diklasifikasikan menderita tipe depresif.
Pada PPDGJ-III, gangguan skizoafektif diberikan kategori yang terpisah karena cukup
sering dijumpai sehingga tidak dapat diabaikan begitu saja. Kondisi-kondisi lain dengan gejala-
gejala afektif saling bertumpang tindih dengan atau membentuk sebagian penyakit skizofrenik
yang sudah ada, atau di mana gejala-gejala itu berada bersama-sama atau secara bergantian dengan
gangguan-gangguan waham menetap jenis lain, diklasifikasikan dalam kategori yang sesuai dalam
F20-F29.Waham atau halusinasi yang tak serasi dengan suasana perasaan (mood) pada gangguan
afektif tidak dengan sendirinya menyokong diagnosis gangguan skizoafektif.

Tabel 2. Pedoman Diagnostik Gangguan Skizoafektif berdasarkan PPDGJ-III.1


 Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala definitif adanya
skizofrenia dan gangguan skizofrenia dan gangguan afektif sama-sama menonjol pada
saat yang bersamaan (simultaneously), atau dalam beberapa hari yang satu sesudah yang
lain, dalam satu episode penyakit yang sama, dan bilamana, sebagai konsekuensi dari ini,
episode penyakit tidak memenuhi kriteria baik skizofrenia maupun episode manik atau
depresif.
 Tidak dapat digunakan untuk pasien yang menampilkan gejala skizofrenia dan gangguan
afektif tetapi dalam episode penyaki yang berbeda.
 Bila seorang pasien skizofrenik menunjukkan gejala depresif setelah mengalami suatu
episode psikotik, diberi kode diagnosis F20.4 (Depresi Pasca-skizofrenia)
Beberapa pasien dapat mengalami episode skizoafektif berulang, baik berjenis manik
(F25.0) maupun depresif (F25.1) atau campuran dari keduanya (F25.2). Pasien lain
mengalami satu atau dua episode manik atau depresif (F30-F33)

7
Menurut PPDGJ-III :

F25.0 Gangguan skizoafektif tipe manic

Pedoman Diagnostik.1

 Kategori ini digunakan baik untuk episode skizoafektif tipe manic yang tunggal maupun
untuk gangguan berulang dengan sebagian besar episode skizoafektif tipe manic.
 Afek harus meningkat secara menonjol atau ada peningkatan afek yang tak begitu
menonjol dikombinasi dengan iritabilitas atau kegelisahan yang memuncak.
 Dalam episode yang sama harus jelas ada sedikitnya satu, atau lebih baik lagi dua, gejala
skizofrenia yang khas (sebagaimana ditetapkan untuk skizofrenia, F20.-pedoman
diagnostic (a) sampai (d).
F 25.1 Skizoafektif tipe depresif

Pedoman diagnostic.1

 Kategori ini harus dipakai baik untuk episode skizoafektif tipe depresif yang tunggal, dan
untuk gangguan berulang dimana sebagian besar di dominasi oleh skizoafektif tipe
depresif.

 Afek depresif harus menonjol, disertai oleh sedikitnya 2 gejala khas, baik depresif maupun
kelainan prilaku terkait seperti tercantum dalam uraian untuk episode depresif (F 32)

 Dalam episode yang sama harus jelas ada sedikitnya satu, atau lebih baik lagi dua, gejala
skizofrenia yang khas (sebagaimana ditetapkan untuk skizofrenia, F20.-pedoman
diagnostic (a) sampai (d).

F25.2 Gangguan Skizoafektif Tipe Campuran

 Gangguan dengan gejala-gejala skizofrenia (F20.-) berada secara bersama-sama dengan


gejala-gejala afektif bipolar campuran (F31.6)
F25.8 Gangguan Skizoafektif Lainnya

F25.9 Gangguan Skizoafektif YTT

2.7 DIAGNOSIS BANDING

Pada setiap diagnosis banding gangguan psikotik, pemeriksaan medis lengkap harus
dilakukan untuk menyingkirkan penyebab organik.semua kondisi yang dituliskan di dalam
diagnosis banding skizofrenia dan gangguan mood perlu dipertimbangkan. Pasien yang diobati

8
dengan steroid, penyalahgunaan amfetamin dan phencyclidine (PCP), dan beberapa pasien
dengan epilepsi lobus temporalis secara khusus kemungkinan datang dengan gejala
skizofrenik dan gangguan mood yang bersama-sama. Setiap kecurigaan terhadap kelainan
neurologis perlu didukung dengan pemeriksaan pemindaian (CT Scan) otak untuk
menyingkirkan kelainan anatomis dan elektroensefalogram untuk memastikan setiap gangguan
yang mungkin.4

Diagnosis banding psikiatrik juga termasuk semua kemungkinan yang dipertimbangkan


untuk skizofrenia dan gangguan mood. Di dalam praktik klinis, psikosis padasaat datang
mungkin mengganggu deteksi gejala gangguan mood pada masa tersebut atau masalalu.Dengan
demikian, klinisi boleh menunda diagnosis psikiatrik akhir sampai gejala psikosis yang paling
akut telah terkendali.4

2.8 PROGNOSIS

Sebagai suatu kelompok, pasien dengan gangguan skizoafektif mempunyai prognosis di


pertengahan antara prognosis pasien dengan skizofrenia dan pasien dengan gangguan mood.
Sebagai suatu kelompok, pasien dengan gangguan skizoafektif mempunyai prognosis yang jauh
lebih buruk dibandingkan pasien dengan gangguan depresif, memiliki prognosis yang lebih buruk
dari pasien dengan gangguan bipolar, dan memiliki prognosis yang lebih baik daripada pasien
dengan skizofrenia. Generalitas tersebut telah didukung oleh beberapa penelitian yang mngikuti
pasien selama dua sampai lima tahun setelah episode yang ditunjuk dan yang menilai fungsi sosial
dan pekerjaan, dan juga perjalanan gangguan itu sendiri.5

Data menunjukkan bahwa pasien dengan gangguan skizoafektif, tipe bipolar, mempunyai
prognosis yang mirip dengan pasien dengan gangguan bipolar I dan bahwa pasien dengan
gangguan pramorbid yang buruk; onset yang perlahan-perlahan; tidak ada factor pencetus;
menonjolnya gejala psikotik, khususnya gejala deficit atau gejala negative; onset yang awal;
perjalanan yang tidak mengalami remisi; dan riwayat keluarga adanya skizofrenia. Lawan dari
masing-masing karakteristik tersebut mengarah pada hasil akhir yang baik. Adanya atau tidak
adanya gejala urutan pertama dari Scheneider tampaknya tidak meramalkan perjalanan penyakit.5

2.9 PENATALAKSANAAN

Modalitas terapi yang utama untuk gangguan skizoafektif adalah perawatan di rumah sakit,
medikasi, dan intervensi psikososial.

• Terapi kognitif (Cognitive Behavioral Therapy) dengan megembangkan cara berpikir


alternatid, fleksibel, dan positif serta melatih kembalirespon kognitif dan pikiran yang baru.
• Psikoedukasi terhadap pasien jika kondisi sudah membaik:
- Pengenalan terhadap penyakit, manfaat pengobatan, cara pengobotan, efek samping
pengobatan.1

9
- Memotivasi pasien agar minum obat secara teratur dan rajin kontrol setelah pulang dari
perawatan.
- Menggali kemampuan pasien yang bisa dikembangkan.

A. Pengobatan Psikososial
Pasien dapat terbantu dengan kombinasi terapi keluarga, latihan keterampilan sosial, dan
rehabilitasi kognitif.Oleh karena bidang psikiatri sulit memutuskan diagnosis dan prognosis
gangguan skizoafektif yang sebenarnya, ketidak pastian tersebut harus dijelaskan kepada
pasien.Kisaran gejala mungkin sangat luas, karena pasien mengalamaikeadaan psikosis dan
variasi kondisi mood yang terus berlangsung. Anggota keluarga dapat mengalami kesulitan
untuk menghadapi perubahan sifat dan kebutuhan pasien tersebut.1

B. Pengobatan Farmakoterapi.1
Prinsip dasar yang mendasari farmakoterapi untuk gangguan skizoafektif adalah dengan
pemberian antipsikotik disertai dengan pemberian antimanik atau antidepresan.Pemberian obat
antipsikotik diberikan jika perlu dan untuk pengendalian jangka pendek.
Pasien dengan gangguan skizoafektif tipe manik dapat diberikan farmakoterapi berupa
lithium carbonate, carbamazepine (tegretol), valproate (Depakene), ataupun kombinasi dari obat
anti mania jika satu obat saja tidak efektif. Sedangkan pasien dengan gannguan skizoafektif tipe
depresif dapat diberikan antidepresan.Pemilihan obat antidepresan memperhatikan kegagalan
atau keberhasilan antidepresan sebelumnya.Inhibitor reuptake serotonin selektif (SSRI) sering
digunakan sebagai agen lini pertama, namun pasien teragitasi atau insomnia dapat disembuhkan
dengan antidepresan trisiklik.Apabila pengobatan dengan antidepresan tidak efektif dapat dicoba
dengan terapi elektrokonvulsif.
Pemantauan laboratorium terhadap konsentrasi obat dalam plasma dan tes fungsi ginjal,
tiroid, dan fungsi hematologik harus dilakukan secara berkala.

BAB III
KESIMPULAN

Gangguan skizoafektif merupakan suatu gangguan jiwa yang memiliki gejala skizofrenia
dan gejala afektif yang terjadi bersamaan dan sama-sama menonjol.Prevalensi gangguan telah
dilaporkan lebih rendah pada laki-laki dibandingkan para wanita, khususnya wanita yang
menikah.Usiaonset untuk wanita adalah lebih lanjut daripada usia untuk laki-laki seperti juga pada
skizofrenia. Teori etiologi mengenai gangguan skizoafektif mencakup kausa genetik dan
lingkungan. Tanda dan gejala klinis gangguan skizoafektif adalah termasuk semua tanda dan gejala
skizofrenia,episode manik, dan gangguan depresif. Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat
apabila gejala-gejala definitif adanya skizofrenia dan gangguan afektif bersama-sama menonjol

10
pada saat yang bersamaan, atau dalam beberapa hari sesudah yang lain , dalam episode yang sama.
Sebagian diantara pasien gangguan skizoafektif mengalami episode skizoafektif berulang, baik
yang tipe manik, depresif atau campuran keduanya.Terapi dilakukan dengan melibatkan keluarga,
pengembangan skill sosial dan berfokus pada rehabilitasi kognitif.

Pada farmakoterapi,digunakan kombinasi anti psikotik dengan anti depresan bila


memenuhi kriteria diagnostik gangguan skizoafektif tipe depresif. Sedangkan apabila gangguan
skizoafektif tipe manik terapi kombinasi yang diberikan adalah antara anti psokotik dengan mood
stabilizer. Prognosis bisa diperkirakan dengan melihat seberapa jauh menonjolnya gejala
skizofrenianya , atau gejala gangguan afektifnya. Semakin menonjol dan persisten gejala
skizofrenianya maka pronosis nya buruk. Dan sebaliknya semakin persisten gejala gangguan
afektifnya, prognosis diperkirakan akan lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

1. Maslim, R. 2001. Diagnosis Gangguan Jiwa : Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III.


Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya : Jakarta
2. Sadock BJ, Kaplan HI, Grebb JA. Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatri. 9th
ed. Philadelpia: Lippincott William & Wilkins. 2003
3. Bora E., Yucel M., and Pantelis C. Cognitive functioning in schizophrenia,
schizoaffective disorder and affective psychoses: meta-analytic study. British Journal
of Psychiatry, 2009.
4. Maramis, W. F. (2009). Ilmu Kedokteran Jiwa edisi 2. Surabaya: Pusat penerbitan
dan percetakan.
5. Nevid, Jeffrey S., Rathus, Spencer A., & Greene, Beverly. (2005). Psikologi
Abnormal. Edisi Kelima. Jilid Pertama. Jakarta : Penerbit Erlangga

11
12