Anda di halaman 1dari 5

SMK NEGERI 5 PADANG

“TEKNIK AUDIO VIDEO”

MP :Perencanaan Job ke – 1
Instalasi Sistem
Audio Video
Rangkaian Penguat Satu Tingkat
TP 2019/2020 2 x 45 Menit

JOBSHEET

A. TUJUAN
1. Merakit rangkaian penguat dengan benar sesuai gambar
2. Mengukur tegangan pada rangkaian pengamatan menggunakan multimeter dan
CRO
3. Menggambar bentuk gelombang pada rangkaian pengamatan menggunakan
osciloskop.
4. Menghitung penguatan tegangan pada rangkaian pengamatan

B. TEORI SINGKAT
PENGUAT AUDIO
Penguat Amplifier diklasifikasikan ke dalam kelas-kelas sesuai dengan
karakteristik konstruksi dan operasinya masing-masing.
Tidak semua penguat amplifier sama dan ada perbedaan jelas yang dibuat
antara cara tahap output mereka dikonfigurasi dan beroperasi. Karakteristik
operasi utama dari penguat yang ideal adalah linearitas, penguatan sinyal, efisiensi
dan output daya tetapi dalam penguat amplifier kenyataanya selalu ada kerugian
antara karakteristik yang berbeda ini.
Salah satu metode yang digunakan untuk membedakan karakteristik
kelistrikan dari berbagai jenis amplifier adalah dengan “kelas”, dan dengan
demikian penguat amplifier diklasifikasikan berdasarkan konfigurasi rangkaian dan
metode operasinya. Kemudian Kelas Amplifier adalah istilah yang digunakan untuk
membedakan antara berbagai jenis amplifier.

Kelas Penguat Amplifier mewakili jumlah sinyal output yang bervariasi


dalam rangkaian amplifier selama satu siklus operasi ketika bekerja oleh sinyal
input sinusoidal.

Penguat Amplifier Kelas A


Penguat Amplifier Kelas A adalah jenis amplifier yang paling umum karena
desainnya yang sederhana. Kelas A, secara harfiah berarti "kelas terbaik" dari
amplifier terutama karena tingkat distorsi sinyal rendah dan mungkin terdengar
terbaik dari semua kelas amplifier yang disebutkan di sini.
Penguat kelas A memiliki linieritas tertinggi di atas kelas penguat lainnya dan
karena itu beroperasi di bagian linier kurva karakteristik.

Umumnya amplifier kelas A menggunakan transistor tunggal yang sama


(Bipolar, FET, MOSFET, dll) yang terhubung dalam konfigurasi common emitter
untuk kedua bagian gelombang dengan transistor selalu memiliki arus yang
mengalir melalui itu, bahkan jika tidak memiliki sinyal dasar.

Ini berarti bahwa tahap keluaran apakah menggunakan perangkat Bipolar, MOSFET
atau IGBT, tidak pernah didorong sepenuhnya ke daerah cut-off atau saturasi tetapi
sebaliknya memiliki titik-biasing basis titik-Q di tengah garis bebannya. Kemudian
transistor tidak pernah mematikan "OFF" yang merupakan salah satu kelemahan
utamanya.

Rangkaian Penguat Amplifier Kelas A

Untuk mencapai linearitas dan gain yang tinggi, tahap output dari penguat kelas A
bias "ON" (melakukan) sepanjang waktu. Kemudian untuk penguat amplifier yang
diklasifikasikan sebagai "Kelas A", arus idle sinyal nol pada tahap output harus
sama atau lebih besar dari arus beban maksimum (biasanya loudspeaker) yang
diperlukan untuk menghasilkan sinyal output terbesar.

Rangkaian dasar transistor sebagai penguat dapat dibedakan atas 3 jenis :


1. Rangkaian Transistor Common Base (Basis) (CB)
2. Rangkaian Transistor Common Emiter (Emitor) (CE)
3. Rangkaian Transistor Common Colector (Kolektor) (CC)
Common merupakan pemakaian bersama antara jalur input dan output. Biasanya
yang dipakai bersama adalah jalur pentahanan (ground). Pada ketiga jenis rangkaian
diatas terjadi tiga macam penguatan yaitu: penguatan arus, penguatan tegangan, dan
penguatan daya. Penguatan merupakan perbandingan antara input dan output.
Untuk rangkaian penguat daya umumnya digunakan rangkaian common emitor
(CE), karena rangkaian ini penguatan dayanya sangat tinggi.

Gambar Rangkaian Transistor Common Emitor

Gambar Transistor Sebagai Penguat

C. ALAT DAN BAHAN


1. Power Supply ( Catu Daya)
2. AFG (Audio Frekuensi Generator)
3. CRO (Osiloskop)
4. Multimeter
5. Papan Rangkaian/Project Board
6. Transistor BC 140 / BC 141
7. Resistor 100Ω, 470 Ω, 1 KΩ, 10 KΩ
8. Kapasitor 1 µF, 100 µF, 470 µF, 1000 µF
9. Kabel penghubung

D. Langkah Kerja
1. Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
2. Perhatikan gambar rangkaian dibawah ini:
Gambar 2
Rangkaian Penguat Satu Tingkat

3. Rakitlah rangkaian seperti gambar diatas tanpa kapasitor Emitor (CE)


4. Periksa rangkaian sebelum dihubungkan dengan catu daya
5. ON-kan pada tegangan 9 V dan lakukan pengamatan sesuai dengan tabel dibawah
ini dengan mengukur tegangan pada basis-emitor dan colektor-emitor.
6. Isilah tabel pengamatan 1 sesuai dengan hasil pengukuran
7. Lanjutkan pengamatan dengan mengatur AFG pada tegangan 100 mVp-p (Vin).
Frekuensi sesuai dengan tabel pengamatan 2.
8. Lanjutkan pengamatan sesuai tabel 2
9. Lanjutkan pengamatan dengan memasangkan kapasitor feed back (CE) pada emitor
transistor.
10. Set AFG pada tegangan 100 mVp-p, frekuensi 100 Hz.
11. Lakukan pengamatan sesuai dengan tabel 3

E. Hasil Praktikum

Tabel 1. Pengukuran Tegangan

No Titik ukur Tegangan


1 VBE

2 VCE
Table 2. Bentuk Gelombang
Penguatan
Frekuensi AFG Bentuk gelombang Vout
No Teg. (AV)
(Hz)
Input Output (Vp-p) x dB
1 100

2 200

3 400

4 500

5 600

6 1K

7 2K

8 4K

9 5K

10 10 K

Tabel 3. Penguatan

Penguatan tegangan
No CE (µF) Vout (Vp-p)
x dB

1.

2.

F. Buatlah laporan serta kesimpulan dari rangkaian penguat tersebut