Anda di halaman 1dari 14

Critical book review

TATA RIAS PENGANTIN MELAYU


DAN UPACARA ADAT MELAYU
DOSEN PENGAMPU: DESY AFYANTY S.Pd, M.Pd

DISUSUN OLEH:

ANASTASIA SINAGA

(5182144011)

PENDIDIKAN TATA RIAS

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatnya
sehingga saya dapat menyelesaikan tugas mata kuliah sejarah yakni CRITICAL BOOK REVIEW
yang berjudul “TATA RIAS PENGANTIN MELAYU DAN UPACARA ADAT PENGANTIN
MELAYU”.

Saya juga berterimakasih kepada ibu DESY AFYANTY S.Pd, M.Pd. sebagai dosen
pengampu yang telah membimbing saya dalam penyelesaian tugas ini. Saya menyadari bahwa
tugas ini masih jauh dari kata sempurna dan tentunya memiliki banyak kekurangan, seperti dalam
bahasa maupun dalam penulisan.

Semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan bermanfaat bagi para pembaca.
Saya berharap kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca guna penyempurnaan
tugas ini. Akhir kata saya ucapkan terimakasih.

Medan, oktober 2018

Penulis

Anastasia sinaga
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................i

DAFTAR ISI.............................................................................................................ii

BAB I. PENDAHULUAN........................................................................................1

LATAR BELAKANG..................................................................................

RUMUSAN MASALAH..................................................................................

TUJUAN......................................................................................................

BAB II. PEMBAHASAN.............................................................................

IDENTITAS BUKU 1

IDENTITAS BUKU 2

BAB III. KSEIMPULAN


BAB I

Pendahuluan

Latar belakang

Sumatera utara secara geografis terletak diantara provinsi aerah istimewa Aceh, sumatera
barat dan riau. Masing-masing etnis memiliki kebudayaan yang memikat dan berbeda satu sama
lain. Ini dapat dilihat dari adat istiadat, tradisi, fungsi, busana dan tata rias.

Tata Rias pengantin Melayu Sumatera Utara merupakan hasil penggabungan dari beberapa
melayu yang ada di sumatera utara yaitu melayu deli, melayu binjai, melayu langkat, melayu
serdang, melayu tanjung balai, melayu asahan, melayu batubara, dan melayu labuhan batu.
Penggabungan ini merupakan hasil dari pembakuan tata rias pengantin Melayu Sumatera Utara
yang dilaksanakan pada tahun 1993. Setelah pembakuan tata rias pengantin melayu sumatera utara
terus disosialisasikan dan terjadi perubahan.

Rumusan Masalah

1. Bagaimana Adat istiadat dan Tata Rias Penganti Melayu Sumatera Utara
2. Bagaimana pertumbuhan dan perkembangan Adat istiadat dan Tata Rias Penganti Melayu
Sumatera Utara.
3. Bagaimana asumi dan dimensi Adat istiadat dan Tata Rias Penganti Melayu Sumatera Utara
4. Bagaiman perkembangan Adat istiadat dan Tata Rias Penganti Melayu Sumatera Utara dari
dulu hingga sekarang
5. bagaimana kelengkapan dalam Tata Rias Adat istiadat dan Tata Rias Penganti Melayu
Sumatera Utara
6. bagaimana peraturan atau tahapan dalam pelaksanaan ada istiadat dalam Adat istiadat dan Tata
Rias Penganti Melayu Sumatera Utara

1
Tujuan

a) Mengetahui bagaimanakah Adat istiadat dan Tata Rias Penganti Melayu Sumatera Utara
b) Memahami peran Adat istiadat dan Tata Rias Penganti Melayu Sumatera Utara
c) Memahami peran serta kerabat-kerabat atau pihak yang bersangkutan dalam pelaksanaan Adat
istiadat dan Tata Rias Penganti Melayu Sumatera Utara
d) Memahami bagaimana upaya-upaya yang dilakukan dalam pewujutan Adat istiadat dan Tata
Rias Penganti Melayu Sumatera Utara
e) Untuk dapat menbandingkan antara 2 buku yang membahas materi yang sama

2
BAB II 3

PEMBAHASAN

Identitas Buku

 Buku I
 Judul buku : Tata Rias Pengantin Melayu Sumatera Utara
 Pengarang : Desy Afiyanty Lubis, M.Pd
Nurhayati Lubis, S.Pd
 Penerbit : Unimed Press
 Editor : Drs. Fuad Erdansyah, M.Sn
 Tahun terbit : 2015
 Tebal halaman : 170 halaman
 No ISBN : 9-786020-888248

 Buku II
 Judul buku : Upacara Adat Melayu di Sumatera Utara
 Pengarang : Frizal Nasution
 Penerbit : Mitra
 Tahun terbit : 2012
 Editor : Tim Editor MITRA Medan
 No ISBN : 978-602-245-002-1CC
 Tebal halaman : 84 halaman
Ringkasan Buku

Upacara adat Perkawinan Melayu Sumatera Utara

A. Perkawinan

Upacara perkawinan keturunan para bangsawan berbeda dengan perkawinan orang biasa.
Untuk keturunan bangsawan melayu harus menikah denga sesama golongan bangsawan. Jika
wanita golongan bangsawan menikah dengan laki-laki keturunan yang dibawahnya merupakan
suatu pelanggaran adat istiadat perkawinan, dan mereka akan diceraikan oleh mahkamah kerajaan
dan laki-laki diberi hukuman badan (kurungan/penjara). Tetapi perkawinan ini akan mejadi legal
jika memperoleh izin dari raja, dengan cara menaikkan status laki-laki itu menjadi bangsawan
dengan mempertibangkan dan memperhatikan pengabdiannya terhadap kerajaan/raja.

B. Proses Perkawinan
1. Merisik dan Menghulu Telangkai

Merisik merupakan suatu kegiatan memilih jodoh yang dilakukan oleh orangtua atau untuk
mencari calon istri bagi anak laki-lakinya

2. Jamu Sukut

Setelah penghulu telangkai melaksanakan tugasnya dengan baik sebagai rasa terimakasih
maka orangtua pihak laki-laki akan memberi imbalan atas usaha yang telah dilakukannya.
Orangtua sigadis setelah menerima pinanagan kemudian mengundang puang-puang, kerabat
dekat, anak beru untuk melakukan jamuan makan. Pada jamuan makan ini orangtua sigadis akan
mengumumkan bahwa anak gadisnya telah menerima pinangan, dan menceritakan asal-usul
keluarga pihak laki-laki

3. Meminang

Meminang ialah upacara yang dilakukan untuk meminta persetujuan setelah proses melamar gadis
yang akan dinikahi. Pihak pria akan menbawa tepak bersama tepak sirih yang tediri dari :

a) 1 sirih perisik
b) 1 sirih peminang 4
c) 1 sirih ikat janji
d) 4 sirih pengiring

Dari pihap calon perempuan juga akan mempersiapkan tepak sirih berupa :

a) 1 tepak sirih menanti


b) 1 tepak sirih ikat janji
c) 1 tepak sirih tukar tanda

4. Ikat Janji

Dibuat ikat janji yang isinya

a) Beberapa besarnya (uang antaran)


b) Besarnya “wang hangus”
c) Ikat tanda
d) Hari nikah yang berlangsung, jumlah balai, pakaian pengantin laki-laki yang dikenakan
ketika datang, uang buka kipas, dan lain-lain

5. Mengantar Bunga Sirih

Tepak sirih dibuat dalam berbagai bentuk, seperti buah-buahan, rumah-rumahan binatang,
dan lain-lain yang indah dan beraneka warna.

6. Upacara Berinai

Kegiatan ini dilakukan sebanya tiga kali, yaitu:

a) Berinai curi
b) Berinai tengahan (berinai kecil)
c) Berinai besar

.5
Upacara adat berinai ini merupakan pengaruh dari ajaran hindu yang memiliki makna
dan tujuan untuk menjauhkan diri dari bencana, membersihkan diri dari hal-hal kotor, mengusir
setan, menambah tenaga dan menjaga diri gegala hal yang tidak baik. Selain itu, juga bertujuan
untuk memperindah calon pengantin agar terlihat tampak cantik, bercahaya, menarik, dan cerah.

7. Berandam dan Mandi Berhias

Berandam merupakan suatu kegiatan mencukur atau membersihkan rambut-rambut halus


yang ada disekitar wajah, leher, dan tengkuk. Kegiatan berandam ini bertujuan untuk memperindah
dahi, membuat wajah tampak bersih, cerah dan bercahaya. Berandam dilakukan untuk kedua calon
pengantin.

8. Malam Bersanding

Malam bersanding ialah malam dimana pengantin laki-laki dan perempuan duduk
dipelaminan secara berhadapan untuk mencium tangan kedua orang tuanya meminta doa restu
didepan para rombongan dan para penatua.

9. Akad Nikah

Pada hari an jam yang sudah di ditentukan maka pengantin laki-laki mengenakan pakaian
yang telah disepakati diantar oleh rombongan dikepalai oleh anak beru untuk melakukan akad
nikah. Akad nikah dilakukan menurut ajaran agama islam.

10. Makan Nasi Hadap-hadapan (Astakona atau Setakona)

Pengantin yang telah memakai baju pengantin melayu di iringi oleh kedua anak beru kedua
pengantin didudukkan ditempat akan berlangsungnya acara makan nasi hadap-hadapan. Setelah
habis makan nasi berhadap-hadapan maka kedua pengantin masuk kamar. Pengantin perempuan
menyembah dan mencium tangan laki-laki. Pada saat itu pengantin pria memasukkan cincin kejari
tangan pengantin perempuan.

6
11.Lepas Halangan 7

Keesokan harinya atau beberapa hari kemudian dilakukan acara dinamakan “halangan”
telah lepas. Setelah lepas dari halangan dengan selamat itu maka puang-puang dan ibu bapak

kedua mempelai menepung tawari kedua pengantin tersebut, acara ini cukup dilakukan didalam
kamar saja.

12.Mandi selamat (Mandi Berdimbar II)

Tahapan acara sama seperti acara mandi berdimbar I dan dihadiri juga oleh keluarga kedua
belah pihak. Setelah itu pengantin laki-laki memberikan lagi “cemetuk” II kepada pengantin
perempuan. Setelah 7 hari kawin maka pengantin perempuan “meninggalkan subangnya” (kerabu
yang juga tanda kegadisan)

13.Meminjam Pengantin

Pada hari yang telah ditentukan oleh orangtua pengantin laki-laki dipinjamkan lah kedua
mempelai untuk diadakan upacara dirumahnya. Kedua pengantin dijemput oleh anak-anak beru
(baik pria maupun wanita).

C. Perlengkapan alat perkawinan Melayu


1. Ramuan Sirih
2. Tepung Tawar

Tepung tawar terdapat ramuan berupa :

a) Ramuan penabur
b) Ramuan perincis
c) Pedupaan
3. Balai
D. Bentuk-bentuk Perkawinan
1. Lari Kawin
Ada juga kejadian dimana kedua orang remaja telah saling mengenal dan mengikat janji sehidup
semati tetapi perkawinan mereka dirasa kemungkinan besar akan ditolak ataupun telah ditolak
pinangannya oleh orangtua sigadis, maka direncanakan beberapa cara yaitu :

a) Si gadis lari kerumah tuan kadi dan tidak mau turun jika tidak dinikahi oleh sang pemuda
pujaan hatinya.
b) Putus wali karena mereka berdua melakukan pernikahan didepan tuan kadi ditempat yang
jaraknya dua Marhalla (100 km) dari rumah sigadis.

Jika orangtua sigadis berkeras tidak setuju, maka terjadilah “putus wali” atau “dienggankan”

2. Perkawinan janda

Seseorang perempuan dikatakan “janda” jika terjadi atas dirinya salah satu sebab yaitu :

a) Karena telah diceraikan oleh suaminya


b) Karena suaminya telah meninggal dunia (janda balu)
c) Karena lamanya minta pasha dari suaminya sebab ditinggalkan demikian lamanya tanpa
memberi nafkah 100 hari atau lebih

Sejak janda ia boleh kawin kembali dengan laki-lain atau rujuk kembali dengan mantan
suaminya.

a) Meminang janda
b) Perkawinan janda berhias

8
Tata Rias Busana dan Kelengkapan Pengantin melayu Sumatera Utara

A. Tahap persiapan
 Persiapan area kerja
 Persiapan alat dan bahan serta perlengkapannya
 Persiapan kosmetik
 Persiapan busana dan perhiasan
 Persiapan model/ calon pengantin
 Persiapan pribadi
B. Tata rias wajah, sanggul, busana, serta perhiasan pengantin

Dalam merias pengantin umsur budaya dari suatu bangsa memiliki peran penting
dalam menunjukkan identitas diri dan keluarga pengantin.

1. Tahapan merias wajah


a. Pembersihan
b. Merias wajah
2. Tahapan merias rambut atau membntuk sanggul

Sanggul berfungsi etika karena dwngan menjunjung sanggul ini pengantin menjaga
keseimbangan,pengantin harus tertib dan berikat tegguh. Menurut kusuma sanggul sebagai
menggulung rambut perempuan diatas atau kebelakang kepala. Sanggul ini juga disebut sebagai
kudai atau konde. Adapun penhiasan sanggul terdiri atas :

 7 tangki gerak gempa kupu-kupu tunggal


 5 tangkai gerak gempa kupu-kupu cabang tiga
 5 tangkai gerak gempa tekwa
 5-7 tangkai geraj gempa dahlia
 1 buah mahkota melayu
 14 tangkai jurai

9
BAB III
KELEMAHAN DAN KEUNGGULAN

BUKU I

Kekurangan buku ini adalah kurangnya penjelasan tentang sejarah semua yang digunakan oleh
pengantin.

Kelebihannya bahasa yg mudah sederhana sehingga orang awam mudah mengerti

BUKU II

Kekurangan, pembahasan yang kurang menarik, tidak berkesinambungan.

Kelebihan, memiliki banyak contoh-contoh sehingga cepat mengerti, adanya penjelasan tahap
pertahap atau cara-caranya.

10
BAB IV
KESIMPULAN
11. Upacara perkawinan keturunan para bangsawan berbeda dengan perkawinan orang
biasa. Untuk keturunan bangsawan melayu harus menikah denga sesama golongan
bangsawan. Ada banyak kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi syarat pernikahan.
Salah satunya adalah Upacara Berinai

Kegiatan ini dilakukan sebanya tiga kali, yaitu:

Berinai curi
Berinai tengahan (berinai kecil)
Berinai besar

Upacara adat berinai ini merupakan pengaruh dari ajaran hindu yang memiliki makna dan
tujuan untuk menjauhkan diri dari bencana, membersihkan diri dari hal-hal kotor, mengusir setan,
menambah tenaga dan menjaga diri gegala hal yang tidak baik. Selain itu, juga bertujuan untuk
memperindah calon pengantin agar terlihat tampak cantik, bercahaya, menarik, dan cerah.

11