Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

MORFOLOGI TUMBUHAN
BAGIAN-BAGIAN DAUN (FOLIUM)

Oleh:

Deby Noviyanti (12222020)

Dosen Pembimbing:

Delima Engga Mareta, S.Pd, M.Kes

PROGRAM STUDI TADRIS BIOLOGI

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

INSTIUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN FATAH

PALEMBANG

2013
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Daun merupakan struktur pokok tumbuhan yang tak kalah pentingnya dengan
akar. Setiap tumbuhan pada umumnya memiliki daun. Daun dikenal dengan nama
ilmiah folium. Secara umum, daun memiliki struktur berupa helaian, berbentuk
bulat atau lonjong dan berwarna hijau (Rosanti, 2013).
Daun sesungguhnya adalah cabang atau ranting yang mengalami modifikasi.
Pada tumbuhan tingkat tinggi daun merupakan tempat penting untuk fotosinteis.
Daun merupakan salah satu organ pokok pada tumbuhan (Idarianawaty, 2011).
Daun memilki fungsi antara lain sebagai resorpsi. Dalam hal ini helaian daun
bertugas menyerap zat-zat makanan dan gas. Daun juga berfungsi mengolah
makanan melalui fotosintesis. Selain itu daun juga berfungsi sebagai alat
transportasi atau pengangkutan zat makanan hasil fotosintesis ke seluruh tubuh
tumbuhan. Dan yang tak kalah penting daun berfungsi sebagai alat transpirasi
(penguapan air) dan respirasi (pernapasan dan pertukaran gas) (Rosanti, 2013).
Dengan kemampuan membedakan setiap komponen penyusun struktur daun,
dapat dijadikan sebagai dasar ilmu taksonomi, dengan cara mengelompokkan
tumbuhan berdasarkan karakteristiknya tersebut. Dengan mengenal stuktur daun,
dapat ditelaah komponen-komponen setiap struktur secara lebih terperinci, mulai
dari bangunnya, ujung, pangkal, tepi, daging, sistem pertulangan, warna, dan
permukaannya, dan dapat membedakan struktur daun antara satu jenis tumbuhan
dengan tumbuhan lainnya yang ditemukan di dalam kehidupan sehari-hari
(Rosanti, 2013).

1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah agar praktikan dapat mengenal
dan membedakan bagian-bagian daun dengan bagian-bagian tumbuhannya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Daun


Daun sebenarnya adalah batang yang telah mengalami modifikasi yang
kemudian berbentuk pipih dan juga terdiri dari sel-sel dan jaringan seperti yang
terdapat pada batang. Perbedaannya, batang mempunyai pertumbuhan yang tidak
terbatas, sedangkan daun mempunyai pertumbuhan terbatas, yang segera berhenti
tumbuh, berfungsi untuk beberapa musim lalu gugur (Tjitrosomo, 1983).
Daun umumnya berbentuk pipih melebar dan berwarna hijau, tetapi beberapa
daun ada yang berbentuk jarum seperti pada pinus dan berbentuk sisik atau duri
seperti pada kaktus (Idarianawaty, 2011).
Organ pembuat makanan ini berbentuk pipih lebar, agar dapat melaksanakan
tugas utamanya, yaitu fotosintesis, seefektif-efektifnya. Bagian daun yang
menempel pada batang disebut pangkal daun. Daun dapat mempunyai tangkai
daun (petiolus) atau tidak. Daun tanpa tangkai ini disebut daun duduk (sessilis).
Bagian yang pipih lebar disebut helaian daun (lamina). Pada tanaman monokotil
pangkal daun pipih lebar dan membungkus batangnya. Bagian ini disebut pelepah
daun. Contohnya terdapat pada pisang, rumput, tebu. Pada tumbuhan dikotil
pangkal daun sering membengkak dan diapit oleh dua helai daun kecil yang
biasanya lekas tanggal sehingga hanya tinggal bekasnya pada batang. Daun kecil
ini disebut daun penumpu (stipula). Pada ercis daun penumpu lebar dan
membantu dalam fotosintesis (Tjitrosomo, 1983).
Bentuk daun pada dasarnya dinyatakan berdasarkan bentuk dari helaiannya
tanpa dipengaruhi oleh ada tidaknya torehan pada tepi daun. Istilah untuk
menyatakan bentuk daun tersebut biasanya dugunakan kata-kata yang umum
untuk menyatakan bentuk suatu benda. Selain bentuk helaian daun, apeks dan
pangkal daun juga memperlihatkan bentuk yang beraneka ragam (Kusdianti,
2013).
Helaian daun ditopang oleh rangka daun yang disusun oleh tulang daun.
Tulang daun mengandung jaringan pembuluh (xilem dan floem) yang
menyalurkan air ke daun dan hasil-hasil fotosintesis dari daun. Sistem pertulangan
daun ada tiga tipe: pertulangan sejajar pada tumbuhan monokotil, pertulangan
bersisip pada tumbuhan dikotil, dan pertulangan dikotom pada paku-pakuan
(Tjitrosomo, 1983).
Berdasarkan susunan daunnya, daun dibedakan menjadi daun tunggal dan
daun majemuk. Daun tunggal adalah daun yang memiliki satu daun pada setiap
tangkainya, sedangkan daun majemuk adalah daun yang memiliki beberapa (lebih
dari satu) daun pada satu tangkainya (Idarianawaty, 2011).
Oleh karena setiap anak daun dari daun majemuk memiliki karakteristik yang
sama denagn daun tunggal, kadang-kadang sulit dibedakan antara daun tunggal
dengan anak daun dari daun majemuk, khususnya bila anak daun tersebut
berukuran besar. Di bawah ini adalah dua hal yang dapat dijadikan dasar
perbedaan antara daun tunggal dengan anak daun dari daun majemuk, yaitu:
(Kusdianti, 2013)
1. Pada ketiak daun tunggal terdapat tunas aksilar, sedangkan pada ketiak
anak daun dari daun majemuk tidak ada tunas aksilar.
2. Daun tunggal menempati bidang tiga dimensi pada batang atau dahan,
sedangkan anak daun dari daun majemuk menempati satu bidang.

2.2. Daun Tunggal


2.2.1. Pangkal Daun (Basis Folii)
Pangkal daun merupakan bagian helaian daun yang berhubungan
langsung dengan tangkai daun. Pangkal yang terdapat di kiri-kanan tangkai
daun, baik berlekatan atau tidak, dapat dibedakan menjadi sedikitnya enam
macam yaitu: (Rosanti, 2013)
a. Runcing (acutus), biasanya terdapat pada bangun memanjang,
lanset dan belah ketupat.
b. Meruncing (acuminatus), biasanya terdapat pada bangun bulat
telur.
c. Tumpul (obtusus), biasanya terdapat pada bangun bulat telur.
d. Membulat (rotundatus), terdapat pada bangun bulat telur dan
jorong.
e. Rompang/rata (truncatus), terdapat pada bangun segitiga, delta
dan tombak.
f. Berlekuk (emarginatus), terdapat pada bangun jantung, ginjal dan
anak panah.

2.2.2. Ujung Daun (Apex Folii)


Ujung daun merupakan puncak daun, dimana letaknya paling jauh dari
tangkai daun. Ujung daun memiliki bentuk yang beraneka ragam, antara lain:
(Rosanti, 2013).
a. Runcing (acutus). Ujung daun mengecil dan menyempit di kiri
dan kanan secara bertahap dan membentuk sudut kurang dari 90°.
b. Meruncing (acuminatus). Hampir mirip dengan ujung runcing,
namun titik pertemuan tidak menyempit secara bertahap, tetapi
memilki jarak yang cukup tinggi pada akhir bagian ujung
tersebut.
c. Tumpul (obtusus). Bila tulang daun yang berjarak jauh tiba-tiba
menyempit lalu membentuk sudut lebih besar dari 90°, maka
ujung daun tersebut dikatakan tumpul.
d. Membulat (rotundatus). Ujung daun tidak membentuk sudut sama
sekali.
e. Rompang (truncatus) ujung daun seperti garis.
f. Terbelah (retusus). Ujung daun memperlihatkan suatu lekukan.
g. Berduri (mucronatus), ujung daun ditutup oleh duri.

2.2.3. Tepi Daun (Margo Folii)


Tepi daun hanya dibedakan dalam dua macam yaitu tepi yang rata
(integer) dan yang tidak rata. Tepi daun yang tidak rata disebut juga tepi daun
yang bertoreh (divisus) atau berlekuk (Rosanti, 2013).
2.2.4. Daging Daun (Intervenium)
Daging daun berbeda-beda, ada yang berdaging tebal dan ada yang
berdaging tipis. Karena itulah daging daun dapat dibedakan menjadi:
(Rosanti, 2013).
a. Tipis seperti selaput (membranaceus). Daging daun jenis ini
mudah sekali robek, karena berbentuk seperti sayap capung.
b. Tipis seperti kertas (papyraceus). Meskipun berdaging tipis,
strukturnya tegar dengan helaian daun yang tidak mudah robek.
Bila diremas, helaian daun akan kembali ke bentuk semula.
c. Tipis lunak (herbaceous). Daun yang memiliki daging tipis lunak
biasanya helaian daun banyak mengandung air.
d. Kaku (perkamenteus). Daging daun yang kaku. Meskipun kaku,
daging daun hampir sama tipis dengan daun berdaging seperti
kertas.
e. Seperti kulit (coriaceus). Daging daun seperti kulit cukup tebal,
kaku dan keras tapi tidak berair.
f. Berdaging (carnosus). Struktur daging daun ini sangat tebal dan
mengandung air.

2.2.5. Pertulangan Daun (Nervatio)


Berdasarkan posisi tulang-tulang cabang terhadap ibu tulang daunnya,
sistem pertulangan daun dibedakan menjadi: (Rosanti, 2013)
a. Bertulang menyirip (penninervis). Pada sistem tulang daun
menyirip, posisi tulang-tulang cabang tersusun di sebelah kanan
dan kiri ibu tulang daun.
b. Bertulang menjari (palminervis). Pada sistem pertulangan ini,
tulang-tulang cabang berpencar pada satu titik di pangkal ibu
tulang daun.
c. Bertulang melengkung (cervinervis). Letak tulang cabang
perpaduan antara tulang daun menyirip dan menjari, yaitu terletak
di kiri kanan ibu tulang daun, hampir terpencar dari satu titik di
pangkal daun, namun tulang cabang tumbuh mengikuti arah
tumbuh tepi daun menuju satu titik di ujung daun.
d. Bertulang lurus/sejajar (rectinervis). Posisi tulang cabang terletak
di kiri-kanan ibu tulang daun. Arah tumbuh tulang cabang sejajar
dengan arah tumbuh ibu tulang daun.
Daun bertulang menyirip dan menjari umumnya terdapat pada
tumbuhan dikotil, sedangkan daun bertulang melengkung dan sejajar
umumnya ditemukan pada tumbuhan monokotil (Idarianawaty, 2011).

2.2.6. Permukaan Daun


Permukaan daun dapat ditentukan dengan alat peraba (tangan). Ada
beberapa jenis permukaan daun, yaitu: (Rosanti, 2013)
a. Licin (laevis), dimana permukaan daun terlihat mengkilat atau
berlapis lilin.
b. Gundul (glaber), bila tidak ditemukan stuktur apapun pada
permukaan daun.
c. Berkerut (rugosus), terdapat kerutan pada permukaan daun.
d. Berbulu (pilosus), terdapat struktur bulu pada permukaan daun.
e. Bersisik (lepidus), terdapat struktur sisik mengkilat di permukaan
daun.

2.2.7. Warna Daun


Walaupun umum telah maklum, bahwa daun itu biasanya berwarna
hijau, tetapi tak jarang pula kita jumpai daun yang warnanya tidak hijau,
lagipula warna hijau pun dapat memperlihatkan banyak variasi atau nuansa.
Sebagai contoh antara lain: (Tjitrosoepomo, 2011).
a. Merah, misalnya daun bunga buntut bajing (Acalypha wilkesiana).
b. Hijau bercampur atau tertutup warna merah, misalnya bermacam-
macam daun puring (Codiaeum variegatum).
c. Hijau tua, misalnya daun nyamplung (Colophyllum inophyllum).
d. Hijau kekuningan, misalnya daun tanaman guni (Corchorus cap-
sularis).
2.3. Daun Majemuk
Pada suatu daun majemuk dapat kita bedakan bagian-bagian berikut:
(Tjitrosoepomo, 2011)
a. Ibu tangkai daun (petiolus communis), yaitu bagian daun majemuk yang
menjadi tempat duduknya helaian-helaian daunnya, yang disini
dinamakan masing-masing anak daun.
b. Tangkai anak daun (petiololus), yaitu cabang-cabang ibu tangkai yang
mendukung anak daun.
c. Anak daun (foliolum), bagian ini sesungguhnya adalah bagian-bagian
helaian daun yang karena dalam dan besarnya toreh menjadi terpisah-
pisah.
d. Upih daun (vagina), yaitu bagian di bawah ibu tangkai yang lebar dan
biasanya memeluk batang, seperti dapat kita lihat pada daun pinang
(Areca catechu).
Menurut susunan anak daun pada ibu tangkainya, daun majemuk dapat di
bedakan dalam dua golongan, yaitu: (Tjitrosoepomo, 2011)
1. Daun majemuk menyirip (pinnatus), jika anak daun tersusun seperti
sirip pada kanan kiri ibu tangkainya.
2. Daun majemuk menjari (palmatus).
3. Daun majemuk bangun kaki (pedatus).
4. Daun majemuk campuran (digitato pinnatus).
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1.Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 19 November 2013,
mulai pukul 15.00-16.40 WIB. Praktikum ini bertempat di laboratorium Biologi
Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Fatah Palembang.

3.2. Alat dan Bahan


3.2.1. Alat
Adapun alat-alat yang digunakan yaitu mikroskop binokuler, lup, pensil
warna, mistar, dan kertas A4.
3.2.2. Bahan
Adapun bahan-bahan yang digunakan yaitu daun jambu, daun jagung,
daun cemara kipas, daun bawang, daun kelapa, daun talas pelangi, daun
tomat, daun bunga sepatu, daun telor kodok, dan daun eforbia.

3.3. Cara Kerja


1. Mengamati daun jambu, daun jagung, daun cemara kipas, daun bawang,
daun kelapa, daun talas pelangi, daun Solanum lycopersicum (tomat),
daun Hibiscus rosa-sinensis (bunga sepatu), daun telor kodok, dan daun
eforbia.
2. Menggambar daun tersebut dan menunjukkan bagian vagina, petiolus,
dan laminanya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Perbandingan Panjang dan Lebar setiap daun:
a. Rosa sinensis 8:3,5 cm
b. Daun bambu 36:6 cm
c. Daun Talas 16:10 cm
d. Daun Cemara Kipas 7:4,5 cm
e. Daun Bawang 59:2 cm
f. Daun Terong 12:10,5 cm
g. Daun Eforbia 9,5:3 cm
h. Daun Kelapa 110:3,5 cm
i. Daun Jagung 45:5 cm
Gambar Pengamatan Keterangan
1. Daun Talas Pelangi

2. Daun Cemara Kipas


3. Daun Bambu

4. Daun Bawang

5. Daun Rosa sinensis

6. Daun Kelapa
7. Daun Terong

8. Daun Jagung

9. Daun Eforbia
4.2. Pembahasan
4.2.1. Daun Talas Pelangi
Daun talas pelangi merupakan daun lengkap, karena memiliki pelepah
daun (vagina), tangkai daun (petiolus) dan helaian daun (lamina). memiliki
bangun daun perisai, pangkal daunnya (apeks) meruncing. Kemudian daging
daunnya terasa tipis lunak dan basis-nya berlekuk. Pada daun ini memiliki
tepi daun yang rata, pertulangan daunnya menjari, permukaan daun licin
berwarna hijau, memiliki bercak putih dan ibu tulang daun berwarna
merah/merah muda. Dan yang terakhir adalah jumlah daun merupakan daun
tunggal.
4.2.2. Daun Cemara Kipas
Pada daun ini merupakan daun tidak lengkap atau sering disebut
dengan daun bertangkai, karena hanya memiliki helaian daun (lamina) dan
tangkai daun (petiolus) saja. Daunnya bersisik. Ujung dari daun ini adalah
rompang, daging daunnya seperti kulit, terasa kasar. Tepi daunnya bertoreh
dan daunnya berwarna hijau muda. Dan yang terakhir yaitu jumlah daun
merupakan daun majemuk, karena terdiri dari lebih dari satu daun.
4.2.3. Daun Bambu
Daun bambu merupakan daun lengkap yang mempunyai pelepah daun
(vagina), tangkai daun (petiolus) dan helaian daun (lamina). Daunnya
berbentuk lanset, ujung daunnya (apeks) runcing, basis-nya membulat.
Daging daun seperti perkamen, memiliki tepi daun yang rata. Pertulangan
daunnya sejajar dan permukaan atas berbulu kasar dan bawah daun terasa
kasap seperti kertas, sedangkan warna daun untuk permukaan atasnya hijau
lebih tua dibandingkan dengan permukaan bawahnya yang berwarna hijau
muda. Yang terakhir yaitu jumlah daunnya merupakan daun tunggal.
4.2.4. Daun Bawang
Daun bawang merupakan daun yang tidak lengkap, karena hanya
memiliki pelepah daun dan helaian daun saja atau termasuk juga daun
berupih. Memiliki bangun daun yang lanset. Daun bawang memiliki ujung
daun yang runcing, daging daunnya tipis lunak, pertulangan daunnya sejajar,
daun berwarna hijau pada pelepahnya daun berwarna putih dan helaiannya
berwarna hijau muda hingga hijau tua, permukaan daun licin dan termasuk
daun tunggal.
4.2.5. Daun Bunga Sepatu
Daun Rosa sinensis adalah daun yang tidak lengkap, hanya memiliki
tangkai daun (petiolus) dan helaian daun (lamina) saja atau di sebut juga daun
bertangkai. Daun Rosa sinensis memiliki ujung daun yang meruncing, daging
daun nya seperti kertas, pertulangan pada daun nya menyirip, tepi daun nya
bertoreh, warna daun hijau, permukaan daun licin dan termasuk daun tunggal.
4.2.6. Daun Kelapa
Daun kelapa adalah daun yang lengkap, karena memiliki pelepah daun
(vagina), tangkai daun (petiolus) dan helaian daun (lamina). Bangun daunnya
lanset, daun kelapa memiliki ujung daun yang runcing, daging daunnya
perkamen, pertulangan pada daun sejajar, tepi daunnya rata,berwana hijau,
permukaan daun halus dan berwarna hijau, termasuk daun majemuk.
4.2.7. Daun Terong
Daun ini termasuk daun tidak lengkap atau daun bertangkai dan
bangun daun termasuk jorong, apeks-nya meruncing dan basis-nya membulat.
Daging daun nya seperti kertas dan memiliki ibu tulang daun. Pada setiap tepi
daun bertoreh ganjil (romboid). Pertulangan dari daun ini yaitu menyirip,
permukaannya berbulu dan permukaan atas berwarna hijau. Jumlah daun nya
merupakan daun tunggal.
4.2.8. Daun Jagung
Daun ini merupakan daun tidak lengkap karena hanya memiliki
pelepah daun (vagina) dan helaian daun (lamina) saja. Daun ini memiliki
bangun pita, tulang daunnya sejajar. Apeks-nya runcing dan daging daunnya
seperti kertas, tepi daunnya rata, permukaan daun kasar, berwarna hijau dan
jumlah daun merupakan daun tunggal.
4.2.9. Daun Eforbia
Daun eforbia termasuk daun tidak lengkap atau daun bertangkai,
karena memiliki tangkai daun (petiolus) dan helaian daun (lamina). Bangun
daun memanjang,basisnya tumpul, apeksnya runcing. Daging dari daun ini
seperti kulit dan tepi daun nya rata . Pertulangan daun menyirip, daun nya
berwarna hijau permukaan daun halus dan termasuk daun tunggal.

Pada setiap daun yang telah diamati, ada yang memiliki bentuk apeks yang
sama ada juga yang berbeda. Seperti pada daun bambu, daun kelapa, daun jagung,
daun talas pelangi, dan daun terong, memiliki bentuk apeks yang runcing, bunga
daun sepatu berbentuk meruncing, daun cemara dan daun bawang berbentuk
tumpul. Ada tiga macam bentuk apeks dari berbagai macam daun yang telah
diamati. Selain itu, ada bentuk lain dari apeks seperti membulat, rompang,
terbelah, dan berbulu.
Dari praktikum ini kita dapat mengetahui dan bisa mengelompokkan daun
mana saja yang termasuk daun lengkap dan daun yang tidak lengkap. Daun yang
termasuk daun lengkap yaitu daun talas pelangi, daun bambu, dan daun kelapa.
Daun yang termasuk daun berpelepah yaitu daun bawang, dan daun jagung. Daun
yang termasuk daun bertangkai yaitu daun bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis),
daun cemara kipas, daun terong, serta daun eforbia.
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum dapat diketahui daun mana saja yang termasuk
daun lengkap dan daun yang tidak lengkap. Daun yang termasuk daun lengkap
yaitu daun talas pelangi, daun bambu, dan daun kelapa. Daun yang termasuk daun
berpelepah yaitu daun bawang, dan daun jagung. Daun yang termasuk daun
bertangkai yaitu daun bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis), daun cemara kipas,
daun terong, serta daun eforbia.

5.2. Saran
Disarankan kepada selruh praktikan agar membawa seluruh bahan yang
digunakan sebagai bahan praktikum dengan lengkap agar praktikum tidak
terhambat karena kurangnya bahan yang ingin diamati.
DAFTAR PUSTAKA

Rosanti, Dewi. 2013. Morfologi Tumbuhan. Jakarta: Erlangga.


Tjitrosoepomo, G. 1985. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.

Tjitrosomo, Siti Sutarmi. 1983. Botani Umum I. Bandung: Penerbit Angkasa.


Idarianawaty. 2011. Struktur dan Fungsi Tubuh Tumbuhan. Website:
http://idarianawaty.files.wordpress.com/2011/07/struktur-fungsi-organ-
tumbuhan-pdf.pdf. Diakses pada hari Kamis, tanggal 2 Januari 2014 pada
pukul 10.26 WIB.

Kusdianti, R. 2013. Handout Mortum. Website: http://file.upi.edu/Direktori/


FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/196402261989032/R.KUSDIANTI/Han
dout_mortum_1.pdf. Diakses pada hari Kamis, tanggal 2 Januari 2014 pada
pukul 10.30 WIB.