Anda di halaman 1dari 301

Energi Baru dan Terbarukan

Andrew Cahyo Adhi & Heru SS

Penyunting dan Tataletak: Akhmad Guntar

Penerbit: PLN Pusertif

Edisi 2018
Firman Allah SWT

dan pada pergantian malam dan siang dan hujan


yang diturunkan Allah dari langit lalu dengan(air hujan)
itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering); dan pada
perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda
(kebesaran Allah) bagi kaum yang mengerti.
( Al-Jatsiyah 45:5)
Kata Pengantar

Dengan mengucap syukur Alhamdulillah buku Energi Baru


Terbarukan: Teknologi dan Implementasi di Indonesia ini bisa
tersusun, Tak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada
segenap Bapak dan Ibu Direksi PLN & Manajemen serta semua
pihak yang telah membantu atas terbitnya buku ini. Juga kepada
narasumber maupun penulis literatur yang kami ambil untuk
referensi buku ini kami ucapkan terima kasih.

Salah satu Indikator kemakmuran negara di dunia adalah


pemenuhan terhadap energi listrik, di mana negara-negara
tersebut adalah yang paling banyak mengonsumsi energi. Dari
berbagai Jenis energi yang digunakan sebagai bahan bakar untuk
menghasilkan listrik sampai dengan tahun 2015 ternyata energi
primer dan didominasi lebih dari 80% energi fosil (batubara,
minyak dan gas), sisanya adalah energi non fosil / energi baru
terbarukan. Di masa depan negara yang hanya mengandalkan
penggunaan energi fosil suatu saat setidaknya akan menghadapi
kesulitan dalam pemenuhan Energinya karena energi fosilnya
habis atau mahal maupun akan menghadapi masalah lingkungan.

Perkembangan penggunaan EBT di berbagai negara meningkat


tajam seiring dengan perkembangan teknologi, harga energi serta
tren penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan. Pilihan
penggunaan EBT dipengaruhi oleh banyak faktor tidak hanya
faktor alam, lingkungan, teknologi maupun keekonomian tetapi
juga regulasi di suatu negara. Indonesia sebagai negara kepulauan
dan tersebar penduknya sehingga pengembangan EBT sangat
tergantung dari potensi EBT di daerah tersebut.

Di buku ini mencakup berbagai jenis EBT yang mencakup teknologi


konversi, perkembangannya, berikut peluang serta kendala yang
ada. Energi terbarukan yang diulas antara lain: biomassa, sampah,
minyak nabati, angin, laut, matahari, air dan panas bumi. Energi
baru antara lain: gasifikasi batubara, coal liquefaction, fuel cell dan
energi hidrogen, energi coal bed methane (CBM) dan energi nuklir.

iii
Juga akan dipaparkan dari sisi operasi mencakup karakter suplai
energi listrik dari EBT yaitu variasi output PLT EBT, backup power
plant serta kemampuan pembangkit EBT untuk bangkit setelah
sistem kelistrikan trip total. Tahapan pembangunan atau
pengembangan proyek EBT perlu juga diketahui berupa antara
lain: tahap pengembangan proyek, proses pengadaan proyek IPP
di PLN, pembiayaan proyek, konstruksi, dan komisioning.
Pertimbangan yang harus diperhatikan adalah seberapa besar
kebutuhan EBT, di mana GDP per kapita tinggi berdampak pada
peningkatan persentase energi terbarukan serta energi nuklir
untuk menyubsidi energi terbarukan.

Perlu juga diketahui tentang berbagai kebijakan EBT di negara Lain


seperti, Inggris sebagai pemilik pembangkit fosil wajib
membangun EBT, Negara Cina yang agresif mencari dana murah
dan dukungan teknis pemerintah, negara berkembang Filipina di
mana pelanggan menanggung biaya EBT dan Uruguay yang
konsisten menjalankan kebijakan pemerintah serta negara maju
Swedia yang memberlakukan instrumen pajak untuk emisi CO2 dan
insentif untuk EBT.

Sekarang pun sudah terasa energi terbarukan mengubah


paradigma bisnis kelistrikan, beberapa EBT nilai investasi lebih
rendah sehingga menjadi Peluang bisnis baru bagi pemilik modal
kecil. EBT membuka peluang dari importir energi menjadi
eksportir energi di mana suatu saat pelanggan listrik bisa menjual
listrik. Dari sisi distributed generation, pembangkit listrik dibangun
tepat di daerah yang membutuhkan, Demikian juga persaingan
antar energi dalam transportasi, listrik makin lama akan
menggeser energi bahan bakar minyak dalam sarana transportasi
jalanan.

Salam Penyusun
Andrew Cahyo Adhi & Heru SS

iv
Kata Sambutan

Pemerintah terus memacu target pemenuhan elektrifikasi 99%


pada di 2019. Melalui beberapa inovasi dalam bidang
ketenagalistrikan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Republik Indonesia (ESDM) selaku perpanjangan tangan
pemerintah bersama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan
beberapa stake holder terkait berupaya menerangi Nusantara.
Salah satunya melalui pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT),
sebagai sumber energi alternative bagi kebutuhan
ketenagalistrikan di Indonesia.

EBT merupakan salah satu solusi dalam upaya ketersediaan energi


bagi ketenagalistrikan. Pasalnya, saat ini sumber energi bagi
ketersedian ketenagalistrikan sebagian besar masih
menggunakan sumber energi fosil, seperti bahan bakar minyak
(BBM) dan batu bara, yang memiliki keterbatasan sumber daya
alam. Dari berbagai jenis energi yang digunakan sebagai bahan
bakar untuk menghasilkan listrik hingga 2015, ternyata energi
primer sebesar 80% didominasi energi fosil (batubara, minyak dan
gas), dan sisanya 20% memanfaatkan energi non fosil (energi baru
terbarukan).

Pemanfaatan dan penerapan teknologi EBT bagi kelistrikan di


Indonesia masih memerlukan sumber informasi dan literatur
sebagai bahan rujukan dalam menggali potensi EBT dan
implementasi. Dengan hadirnya buku “Energi Baru Terbarukan
Teknologi & Implementasi di Indonesia, yang ditulis oleh Andrew
Cahyo Adhi dan Heru SS, kami atas nama Dewan Energi Nasional
(DEN) menyambut baik dan memberikan apresiasi yang besar.

v
Kebijakan Energi Nasional harus mendorong energi baru dan
terbarukan (EBT) dalam komposisi energi nasional. Memang pada
awalnya EBT itu lebih mahal dari energi fosil karena biaya investasi
awalnya yang sangat besar seperti PLTA yang harus membangun
bendungan atau PLTP yang harus melakukan pengeboran mencari
sumber uap, namun untuk jangka panjang sangat kompetitif.

Isi buku ini cukup lengkap, mulai teknologi berbagai jenis EBT,
yang mencakup teknologi konversi, perkembangannya, operasi,
pembangunan proyeknya dan regulasi dan contoh dari negara lain
yang sukses menerapkan EBT. Kami berharap dengan kehadiran
buku ini dapat melengkapi literatur sejenis dan dapat turut
berkontribusi dalam upaya pemerintah Indonesia mencapai target
pemenuhan energi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan
menuju Indonesia Berswasembada Energi Listrik.

Jakarta, Oktober 2018


Anggota Dewan Energi Nasional (DEN)
Prof. Tumiran

vi
Daftar Isi
KATA PENGANTAR ............................................................................................... III
KATA SAMBUTAN .................................................................................................. V
DAFTAR ISI.......................................................................................................... VII
DAFTAR KOTAK INFORMASI ............................................................................... XI
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................... XII
DAFTAR TABEL ................................................................................................ XVIII
BAB I MENUJU ENERGI TERBARUKAN ...................................................................1
1.1 KONSUMSI ENERGI LISTRIK DUNIA ................................................................ 1
1.2 JENIS ENERGI ............................................................................................. 4
1.3 KONSERVASI ENERGI DAN EFISIENSI ENERGI ................................................... 6
1.4 PERKEMBANGAN ENERGI TERBARUKAN DI BERBAGAI NEGARA .......................... 7
BAB II SIFAT UMUM ENERGI BARU DAN TERBARUKAN ...................................... 11
2.1 KARAKTER EBT ......................................................................................... 11
2.1.1 Site Spesific ........................................................................................ 11
2.1.2 Ketersediaannya Terpengaruh Iklim Cuaca dan Siklus Matahari .......... 11
2.1.3 Dampak Lingkungan Beragam ............................................................ 12
2.1.4 Beberapa Energi Terbarukan Tersedia Gratis Namun
Teknologi yang Dibutuhkan Tidak Murah ............................................ 12
2.1.5 Mayoritas Pembangkit Listrik Energi Terbarukan
Tidak Dapat Beroperasi dengan Ramping Rate Tinggi ......................... 12
2.1.6 Keterbatasan Sumber Daya Manusia dalam
Menguasai Energi Baru dan Terbarukan .............................................. 13
2.2 TAHAP PEMANFAATAN ENERGI EBT ............................................................. 17
2.2.1 Persiapan/eksplorasi Sumber Energi ................................................... 17
2.2.2 Pekerjaan Konstruksi Proyek............................................................... 17
2.2.3 Proses Konversi Energi Potensial ........................................................ 18
2.2.4 Proses Penyaluran Energi Listrik ke Sistem Kelistrikan ....................... 18
2.2.5 Penerimaan Publik Terhadap Pembangkit Listrik EBT..........................19
2.3 KARAKTER SUPLAI ENERGI LISTRIK DARI EBT................................................. 21
2.3.1 Variasi Output PLT EBT ...................................................................... 22
2.3.2 Backup Power plant ........................................................................... 26
2.3.3 Kemampuan Pembangkit EBT untuk Bangkit Setelah
Sistem Kelistrikan Trip Total ............................................................. 30
BAB III REGULASI DAN PERIJINAN PROYEK EBT .................................................. 31
3.1 PERATURAN DAN PERIJINAN DARI PEMERINTAH PUSAT ................................... 31
3.1.1 Jenis Energi yang Dapat Dikategorikan Energi Baru Terbarukan .......... 31
3.1.2 Perijinan Usaha Ketenagalistrikan ....................................................... 31
3.1.3 Tarif Harga Beli Listrik dari EBT dan Prosedur Proses Pengadaan ....... 32

vii
3.1.4 Regulasi tentang Persentase Kepemilikan Saham
oleh Asing di Pembangkit Listrik .........................................................32
3.1.5 Regulasi Insentif Pajak untuk Proyek EBT ........................................... 34
3.2 PERIJINAN DARI PEMERINTAH DAERAH ........................................................ 34
BAB IV RAGAM ENERGI TERBARUKAN ............................................................... 39
4.1 BIOMASSA............................................................................................... 40
4.1.1 Sumber-sumber Biomassa .................................................................. 41
4.1.2 Jenis-jenis Biomassa ........................................................................... 43
4.1.3 Teknologi Konversi Energi Biomassa .................................................. 47
4.1.4 Perkembangan Teknologi Konversi Biomass ...................................... 60
4.1.5 Peluang dan Kendala Energi Biomassa ............................................... 64
4.2 SAMPAH ................................................................................................. 67
4.2.1 Teknologi Konversi Energi sampah..................................................... 68
4.2.2 Perkembangan Teknologi PLTSa ........................................................ 73
4.2.3 Peluang dan Kendala Energi Sampah ................................................. 74
4.3 MINYAK NABATI (BIOFUEL) ....................................................................... 77
4.3.1 Bahan Baku Minyak Nabati .................................................................77
4.3.2 Jenis-jenis Minyak Nabati ................................................................... 80
4.3.3 Penerapan Biodiesel .......................................................................... 85
4.3.4 Peluang dan Kendala Energi Biofuel ................................................... 86
4.4 ANGIN .................................................................................................... 88
4.4.1 Sumber Energi Angin ......................................................................... 88
4.4.2 Karakter Energi Angin ........................................................................ 90
4.4.3 Karakter PLTB.................................................................................... 94
4.4.4 PLTB di Darat (Onshore) dan di Laut (Offshore) ................................. 97
4.4.5 Horizontal dan Vertical Axis Wind turbine ......................................... 98
4.4.6 Komponen Utama Turbin Angin ........................................................ 99
4.4.7 Teknologi PLTBayu yang Berhubungan dengan Koneksi Grid............. 102
4.4.8 Perkembangan Teknologi PLTBayu ................................................... 102
4.4.9 Peluang dan Kendala Energi Angin .................................................... 103
4.5 LAUT ..................................................................................................... 107
4.5.1 Jenis dan Sumber Energi Laut ........................................................... 107
4.5.2 Teknologi Konversi Energi Laut .......................................................... 113
4.5.3 Perkembangan Teknologi Energi Laut ............................................... 118
4.5.4 Peluang dan Kendala Energi Laut ...................................................... 119
4.6 MATAHARI ..............................................................................................121
4.6.1 Pembangkit Concentrated Solar Power atau Solar Thermal .............. 123
4.6.2 Peluang dan Kendala Energi Matahari ................................................ 131
4.6.3 PLTS (Photovoltaic) ........................................................................... 131
4.7 AIR....................................................................................................... 140
4.7.1 Proses Aliran Air ............................................................................... 140
4.7.2 Teknologi Energi Air: PLTA ................................................................ 141
4.7.3 Jenis PLTA Berdasarkan Tipe Aliran Air ............................................. 143
4.7.4 Jenis Turbin PLTA ............................................................................. 146
viii
4.7.5 Perkembangan Teknologi PLTA......................................................... 147
4.7.6 Peluang dan Kendala Energi Air ........................................................ 149
4.8 PANAS BUMI........................................................................................... 152
4.8.1 Sumber Energi Panas Bumi ............................................................... 152
4.8.2 Teknologi PLTP ................................................................................. 155
4.8.3 Perkembangan Teknologi ................................................................. 158
4.8.4 Peluang dan Kendala Energi Panas Bumi ........................................... 158
BAB V ENERGI BARU........................................................................................... 161
5.1 GASIFIKASI BATUBARA ............................................................................. 161
5.1.1 Perkembangan Teknologi Gasifikasi Batubara ................................... 162
5.1.2 Peluang dan Kendala Gasifikasi Batubara .......................................... 163
5.2 COAL LIQUIFACTION................................................................................ 163
5.2.1 Proses Coal Liquifaction .................................................................... 164
5.2.2 Peluang dan Kendala.........................................................................166
5.3 FUEL CELL DAN HIDROGEN .........................................................................167
5.3.1 Pengertian Fuel cell ........................................................................... 167
5.3.2 Kapasitas Fuel cell Berdasarkan Aplikasi............................................ 173
5.3.3 Bahan Bakar Fuel cell ........................................................................ 173
5.3.4 Produksi Hidrogen ............................................................................ 176
5.3.5 Penyimpanan Hidrogen..................................................................... 178
5.3.6 Perkembangan Fuel cell .................................................................... 179
5.3.7 Peluang dan Kendala Fuel cell .......................................................... 180
5.4 ENERGI COAL BED METHANE (CBM).......................................................... 181
5.4.1 Sumber CBM ..................................................................................... 181
5.4.2 Ekstrasi Coal Bed Methane ................................................................184
5.4.3 Perkembangan Eksplorasi CBM ......................................................... 185
5.4.4 Peluang dan Kendala CBM ................................................................. 185
5.5 ENERGI NUKLIR ...................................................................................... 186
5.5.1 Reaktor Nuklir ................................................................................. 188
5.5.2 Berbagai Jenis Reaktor Nuklir ........................................................... 191
5.5.3 Perkembangan Teknologi Nuklir ....................................................... 193
5.5.4 Peluang dan Kendala......................................................................... 193
BAB VI PENGEMBANGAN PROYEK EBT .............................................................. 195
6.1 TAHAP PENGEMBANGAN PROYEK .............................................................. 198
6.2 PERSIAPAN PROSES PENGADAAN PROYEK IPP DI PLN .................................. 212
6.3 PEMBIAYAAN PROYEK .............................................................................. 215
6.4 KONSTRUKSI ........................................................................................... 219
6.5 KOMISIONING ......................................................................................... 221

ix
BAB VII SEBERAPA BESAR KEBUTUHAN EBT.................................................... 225
7.1 GDP PER KAPITA TINGGI BERDAMPAK PADA PENINGKATAN
PERSENTASE ENERGI TERBARUKAN ........................................................... 228
7.2 ENERGI NUKLIR UNTUK MENSUBSIDI ENERGI TERBARUKAN ........................... 231
BAB VIII CONTOH KEBIJAKAN EBT DI NEGARA LAIN .........................................237
8.1 INGGRIS: PEMILIK PEMBANGKIT FOSIL WAJIB MEMBANGUN EBT ...................237
8.2 CINA: AGRESIF MENCARI DANA MURAH DAN DUKUNGAN
TEKNIS PEMERINTAH................................................................................237
8.3 FILIPINA: PELANGGAN MENANGGUNG BIAYA EBT ....................................... 238
8.4 URUGUAY: KONSISTEN MENJALANKAN KEBIJAKAN PEMERINTAH .................. 239
8.5 SWEDIA: INSTRUMEN PAJAK UNTUK EMISI CO2 DAN INSENTIF UNTUK EBT ..... 240
BAB IX EBT MENGUBAH PARADIGMA BISNIS KELISTRIKAN ............................ 243
9.1 NILAI INVESTASI LEBIH RENDAH: PELUANG BISNIS BARU
BAGI PEMILIK MODAL KECIL..................................................................... 243
9.2 DARI IMPORTIR ENERGI MENJADI EKSPORTIR ENERGI .................................. 243
9.3 PELANGGAN LISTRIK BISA MENJUAL LISTRIK .............................................. 244
9.4 DISTRIBUTED GENERATION: PEMBANGKIT LISTRIK DIBANGUN
TEPAT DI DAERAH YANG MEMBUTUHKAN LISTRIK ....................................... 245
9.5 PERSAINGAN ANTAR ENERGI .................................................................... 246
9.6 LISTRIK SEBAGAI ENERGI DI SARANA TRANSPORTASI JALANAN ...................... 246
PENYUSUN......................................................................................................... 249
REFERENSI .......................................................................................................... 251

x
Daftar Kotak Informasi
Kotak Informasi 1 Nama Pembangkit EBT ............................................................ 10
Kotak Informasi 2 Harga energi dan harga mesin ................................................ 16
Kotak Informasi 3 Satuan Kapasitas Pembangkit Listrik ...................................... 19
Kotak Informasi 4 Capacity faktor (CF) ................................................................ 23
Kotak Informasi 5 Konsistensi Regulasi Pemerintah Uruguay di bidang
energi memberikan hasil besar ............................................................................ 36
Kotak Informasi 6 Plastik, material bermasalah namun bahan bakar
berguna untuk PLTSa thermal ............................................................................. 75
Kotak Informasi 7 Annual Energy Production ...................................................... 101
Kotak Informasi 8 Stakeholder proyek pembangkit listrik ................................ 196
Kotak Informasi 9 Kerangka isi studi kelayakan PLTB........................................ 204
Kotak Informasi 10 Kerangka Isi Studi Kelayakan PLTBm/PLTBg
(Biomassa dan biogas) ....................................................................................... 206
Kotak Informasi 11 Performance warranty ........................................................ 207
Kotak Informasi 12 Independent Power Producer .............................................. 211
Kotak Informasi 13 Internal Rate of Return .......................................................... 217
Kotak Informasi 14 Parameter yang mempengaruhi tarif jual listrik ................... 218
Kotak Informasi 15 Pendapatan Perusahaan IPP
dari penjualan listrik energi terbarukan .............................................................. 241

xi
Daftar Gambar
Gambar 1-1 Peta kemakmuran; penggunaan energi listrik
untuk penerangan di dunia (NASA) ........................................................................ 1
Gambar 1-2 Warna merah menunjukkan sumber energi fosil (Sumber: Nasa)....... 2
Gambar 1-3 Peta temperatur NASA; bandingkan beda antara 1980 dengan 2000 3
Gambar 1-4 Variasi Kandungan merkuri di permafrost (Schuster et al, phys.org) 3
Gambar 1-5 Suplai jenis energi dunia 1971 hingga 2015 (Mtoe). IEA 2017. Key
World Energi Statistics........................................................................................... 5
Gambar 1-6 Pertumbuhan investasi global EBT (IRENA Global Landscape RE
Finance, 2018) ........................................................................................................ 9
Gambar 2-1 Tahapan utama pemanfaatan energi EBT menjadi listrik ................... 17
Gambar 2-2 Berbagai variasi output energi terbarukan (California ISO, 2015) ..... 24
Gambar 2-3 Grafik output PLTS Sumber: (Sayeef et al., 2012) .............................. 24
Gambar 2-4 Contoh output PLTB ......................................................................... 25
Gambar 2-5 Contoh output PLT Arus laut dalam suatu tes di Scotland ............... 25
Gambar 2-6 Contoh output PLT Pasang surut ..................................................... 26
Gambar 2-7 Grafik output PLTB dan pembangkit backup .................................... 27
Gambar 2-8 Contoh power system yang mampu menyuplai listrik dari berbagai
sumber energi (www.govtech.com) ................................................................... 28
Gambar 2-9 Grafik kerja LVRT .............................................................................. 30
Gambar 4-1 Produksi energi listrik berdasarkan jenis energi (REN21, 2018) ......... 39
Gambar 4-2 PLTBm Growth Asia 2 x 15 MW, di Medan. Boiler yang digunakan
produksi dalam negeri oleh PT. Super Andalas Steel (Foto oleh Duncan) ........... 40
Gambar 4-3 Komponen-komponen yang berperan dalam photosynthesis
tumbuhan ............................................................................................................. 41
Gambar 4-4 Sumber biomassa yang berasal dari hutan
dan industri pengolahan ...................................................................................... 42
Gambar 4-5 Komponen penyusun biomassa ....................................................... 43
Gambar 4-6 Contoh produk biomassa dari kehutanan, pertanian dan
perkebunan. ........................................................................................................ 43
Gambar 4-7 Contoh biomas lignosellulosic: padi, gandum, pohon ...................... 45
Gambar 4-8 Buah sawit dan jarak ........................................................................ 46
Gambar 4-9 Pengaturan tumpukan sampah di TPA ............................................. 47
Gambar 4-10 Proses konversi energi pada bioenergi ........................................... 48
Gambar 4-11 Produk pyrolysis .............................................................................. 49
Gambar 4-12 Bio-oil dan bio-oil yang telah dimurnikan (Sumber:
Rogerindustrialoils) ............................................................................................. 50
Gambar 4-13 Tahapan proses pembakaran pada biomass .................................... 51
Gambar 4-14 Komponen Utama Pembangkit Biomass, Hurst Grate Boiler........... 51
Gambar 4-15 Proses di furnace boiler reciprocating grate
(Wellons group of companies) ............................................................................ 52
Gambar 4-16 Biomassa gasifier tipe downdraft.................................................... 53
Gambar 4-17 Biomassa gasifier (AHT) .................................................................. 53

xii
Gambar 4-18 Proses gasifikasi .............................................................................. 54
Gambar 4-19 Tahapan utama pada proses anaerobic digestion .......................... 55
Gambar 4-20 Contoh bakteri yang digunakan dalam pembentukan biogas ........ 56
Gambar 4-21 Proses hidrolisis ............................................................................... 57
Gambar 4-22 Proses pengasaman ........................................................................ 58
Gambar 4-23 Biogas sebagai bahan bakar untuk kompor gas dan lampu ........... 59
Gambar 4-24 PLTBiomassa dengan bahan bakar kayu......................................... 60
Gambar 4-25 BTG Pyrolysis plant ......................................................................... 61
Gambar 4-26 Aplikasi gasifikasi tingkat lanjut: Integrated
Gasifikasi Combined Cycle ..................................................................................... 62
Gambar 4-27 Penampang lagoon PLTBiogas, sebagai tempat sumber biogas .... 62
Gambar 4-28 Peralatan utama Pembangkit listrik biogas
(Sumber: fauziyusupandi) .................................................................................... 63
Gambar 4-29 Potensi bionenergi Indonesia, sumber: Presentasi GIZ, 2018 ......... 64
Gambar 4-30 Memastikan agar proses pembakaran dapat berjalan maksimal
merupakan tantangan tersendiri dari boiler biomass, dengan biomassa dari
berbagai kualitas. Teknisi sedang memeriksa kualitas nyala api
di ruang bakar PLTBm ..........................................................................................66
Gambar 4-31 PLTBm produksi dalam negeri, NW Industries, mampu
mengonsumsi biomass, mulai dari biomas kualitas tinggi yaitu kulit pohon
sampai dengan kualitas rendah yaitu alang-alang, rumput. ................................66
Gambar 4-32 Sampah plastik diolah menjadi minyak diesel(solar)
www.wasteoiltodieseloil.com ............................................................................. 67
Gambar 4-33 Penampang Sanitary Landfill (storm water management) .............. 69
Gambar 4-34 Instalasi landfill well (sumur sedot landfill gas) ............................... 70
Gambar 4-35 Instalasi gas cleaning dan upgrading ............................................... 70
Gambar 4-36 Proses landfill gas menjadi listrik ..................................................... 71
Gambar 4-37 Refused derived fuel ....................................................................... 72
Gambar 4-38 Proses utama PLTSa ....................................................................... 73
Gambar 4-39 Di Swedia, Biogas yang telah di-upgrade digunakan pada mobil .... 74
Gambar 4-40 Komposisi plastik yang didaur ulang hanya 8% ............................... 75
Gambar 4-41 PLTSa Sumur Batu Bekasi................................................................ 76
Gambar 4-42 Perbedaan warna minyak solar (diesel), B5 (minyak solar dengan
kandungan biodiesel 5% dan minyak biodiesel sawit (palm biodiesel)
(foto oleh Rashid) ................................................................................................ 77
Gambar 4-43 Variasi bahan baku dan teknologi pembuatan minyak nabati ........ 78
Gambar 4-44 Bahan baku minyak ethanol ........................................................... 78
Gambar 4-45 Bahan baku minyak biodiesel ......................................................... 79
Gambar 4-46 Bahan Baku alternatif lain untuk minyak nabati ............................. 79
Gambar 4-47 Ethanol dari jagung ......................................................................... 80
Gambar 4-48 Biodiesel dari sawit dan bunga matahari........................................ 82
Gambar 4-49 Proses ekstrasi dari benih............................................................... 83
Gambar 4-50 Proses penyulingan minyak ............................................................ 84
Gambar 4-51 Proses Transerifikasi pad pembuatan biodiesel
menggunakan methanol ...................................................................................... 85

xiii
Gambar 4-52 Perbandingan harga HSD Vs Nabati................................................ 86
Gambar 4-53 Produksi Microalgae menjadi minyak nabati,
dari www.our-energy.com/biofuel_production_from_algae.html...................... 87
Gambar 4-54 PLTB Sidrap 75 MW. Tinggi tiap tower 80 m dengan
output 2.5 MW, dibangun di daerah perbukitan di Sidrap,
Sulawesi Selatan (foto oleh Niko). ...................................................................... 88
Gambar 4-55 Pergerakan angin secara global (prokitecabarete.com/en/wind/) . 89
Gambar 4-56 Contoh pergerakan diurnal wind (Rohatgi dan Nelson, 1994) ....... 90
Gambar 4-57 Grafik fluktuasi produksi listrik yang dihasilkan oleh PLTBayu ....... 90
Gambar 4-58 Grafik perbedaan output wind turbine akibat perbedaan
densitas udara (AWS True Power, Brower, 2012) .................................................91
Gambar 4-59 Wind rose, grafik penunjuk arah angin. Tenggara merupakan
arah angin utama di Indonesia............................................................................. 92
Gambar 4-60 Peta Kecepatan angin Indonesia ketinggian 75m
(indonesia.windprospecting.com/)...................................................................... 93
Gambar 4-61 kebutuhan data angin berdasarkan jangka waktu dan
keperluan tertentu .............................................................................................. 94
Gambar 4-62 Grafik power curve ......................................................................... 95
Gambar 4-63 rafik tenaga angin yang dimanfaatkan turbin dan
listrik yang dihasilkan ........................................................................................... 96
Gambar 4-64 Perkembangan Kapasitas wind turbine per satu tower ................. 97
Gambar 4-65 Koneksi wind turbine pada farm..................................................... 97
Gambar 4-66 Offshore windfarm di Denmark ..................................................... 98
Gambar 4-67 Horizontal dan vertical wind turbine .............................................. 99
Gambar 4-68 Komponen pada wind turbine...................................................... 100
Gambar 4-69 Grafik kerja teknologi LVRT ........................................................... 102
Gambar 4-70 Transportasi blade wind turbin...................................................... 105
Gambar 4-71 Pekerjaan kontruksi PLTB Sidrap, memasang blade turbin
di malam hari (foto oleh Niko) ........................................................................... 106
Gambar 4-72 Pembangkit listrik gelombang laut, Sotenas, 10 MW, milik
Fortum, telah mencapai tahap komersial di Swedia (2018).
(tethys.pnnl.gov/annex-iv-sites/soten%C3%A4s-project)..................................... 107
Gambar 4-73 Gambar Proses terbentuknya gelombang laut
(www.seafriends.org.nz/oceano/waves.htm) ................................................... 108
Gambar 4-74 Daerah di dunia yang mempunyai potensi energi gelombang ..... 108
Gambar 4-75 Daerah di dunia yang mempunyai energi pasang surut................ 109
Gambar 4-76 Posisi bulan terhadap pasang surut .............................................. 110
Gambar 4-77 Peta variasi pasang surut di dunia
(www.hurricanescience.org/science/basic/tides/) .............................................. 110
Gambar 4-78 Pergerakan arus laut di dunia ......................................................... 111
Gambar 4-79 Energi thermal laut di dunia (www.iste.co.uk/multon/marine) ......112
Gambar 4-80 Point absorber (www.oceanpowertechnologies.com/) ............... 113
Gambar 4-81 Attenuators: Pelamis (www.emec.org.uk) .................................... 114
Gambar 4-82 Terminators (AIMS Energy, 2014) .................................................. 115

xiv
Gambar 4-83 Teknologi konversi oscillating wave column terminator ................ 115
Gambar 4-84 Teknologi konversi energi arus laut (Alstom) ............................... 116
Gambar 4-85 Siklus kerja Open loop cycle OTEC ................................................. 117
Gambar 4-86 Berbagai kondisi suhu pada tingkat kedalaman
laut yang berbeda ............................................................................................... 117
Gambar 4-87 Siklus kerja closed loop cycle OTEC ............................................... 118
Gambar 4-88 Perkembangan teknologi ocean ................................................... 119
Gambar 4-89 Tidal turbin skala komersial produksi OpenHydro......................... 120
Gambar 4-90 PLTS Semau 450 kwp milik PLN (foto oleh Bellar) ........................ 121
Gambar 4-91 Global irradiance ............................................................................ 121
Gambar 4-92 Tiga jenis radiasi matahari ............................................................. 122
Gambar 4-93 Hambatan yang dilewati sinar matahari ketika
menuju permukaan bumi .................................................................................... 123
Gambar 4-94 Komponen utama Siklus Uap Rankine .......................................... 124
Gambar 4-95 Prinsip kerja sistem solar thermal .................................................. 124
Gambar 4-96 Jenis-jenis teknologi CSP (Richter, 2009) ...................................... 125
Gambar 4-97 Parabolic Trough ........................................................................... 126
Gambar 4-98 Solar tower.................................................................................... 127
Gambar 4-99 Linear Fresnel Reflector ................................................................ 128
Gambar 4-100 Linear fresnel CSP kapasitas 1-1, 4 MW di Murcia, Spanyol. ......... 129
Gambar 4-101 Parabolic Dish ...............................................................................130
Gambar 4-102 Prinsip kerja photovoltaic ............................................................. 132
Gambar 4-103 Komponen penyusun panel photovoltaic .................................... 132
Gambar 4-104 Crytalline silicon ........................................................................... 133
Gambar 4-105 Proses produksi silikon cell .......................................................... 133
Gambar 4-106 Gambaran rumah dengan panel surya ......................................... 137
Gambar 4-107 Tren harga solar PV ..................................................................... 138
Gambar 4-108 PLTS terapung..............................................................................139
Gambar 4-109 PLTA Tonsea lama, kapasitas 40 MW, dibangun
sejak tahun 1912, merupakan pembangkit listrik tertua di Indonesia
(Foto dari PLN Sulutenggo) ............................................................................... 140
Gambar 4-110 Siklus hidrologi.............................................................................. 141
Gambar 4-111 Komponen Dasar Pembangkit Listrik Tenaga Air Konvensional.... 142
Gambar 4-112 Poros yang menghubungkan Turbin dan Generator .....................143
Gambar 4-113 Run-off – river power plant .......................................................... 144
Gambar 4-114 PLTA dengan bendungan (Sumber: Arun Kumar,
types of hydro power plant)................................................................................145
Gambar 4-115 Skema kerja pumped-storage ...................................................... 146
Gambar 4-116 Grafik Jenis turbin PLTA............................................................... 146
Gambar 4-117 Perbandingan efisiensi turbine PLTA jika menggunakan
variable speed dan fixed speed ............................................................................ 147
Gambar 4-118 Low head dan hydrokinetic turbine (Andritz hydro) ................... 148
Gambar 4-119 Perkembangan biaya tunnel Excavation ...................................... 149
Gambar 4-120 PLTM Pico Hidro 10 KW, dengan head 2 meter,
didesain oleh PLN Pusharlis ................................................................................ 151

xv
Gambar 4-121 PLTP Ulumbu, NTT ........................................................................ 151
Gambar 4-122 Sumber energi panas bumi yang dimanfaatkan
untuk pembangkit listrik..................................................................................... 152
Gambar 4-123 Penampang kerak bumi (geo-energy.org/) .................................. 153
Gambar 4-124 Peta jalur gunung berapi di dunia ................................................ 154
Gambar 4-125 Teknologi dry steam ..................................................................... 155
Gambar 4-126 Teknologi Flash ............................................................................ 156
Gambar 4-127 Teknologi double Flash................................................................. 156
Gambar 4-128 Teknologi binary system ............................................................... 157
Gambar 4-129 Ilustrasi Pembangkit Listrik Panas Bumi....................................... 157
Gambar 4-130 Biaya pengembangan energi panas bumi .................................... 159
Gambar 4-131 Teknologi CPG pada PLTP (discovermagazine.com) ................... 160
Gambar 5-1 Proses Gasifikasi batubara ............................................................... 161
Gambar 5-2 Perbandingan volume gasifier dan boiler terhadap variasi
kualitas batubara. (www.mhi.co.jp/technology/review/) ................................... 162
Gambar 5-3 Tahapan utama coal to liquid .......................................................... 164
Gambar 5-4 Reaksi utama teknologi Fischer Tropsch ........................................ 164
Gambar 5-5 Proses konversi Fischer Tropsch (Sasol, 2010) ................................ 165
Gambar 5-6 Perbandingan warna HSD dari minyak bumi dengan proses FT ..... 166
Gambar 5-7 Fuel cell dengan kapasitas 5 KW per unit, dengan ukuran setara
lemari satu pintu. ................................................................................................ 167
Gambar 5-8 Grafik perbandingan efisiensi fuel cell terhadap pembangkit lain
(www1.eere.energy.gov/hidrogenandfuelcells) ................................................ 168
Gambar 5-9 Prinsip kerja fuell cell ...................................................................... 169
Gambar 5-10 Perbedaan proses fuel cell dibandingkan baterai dan mesin ........ 169
Gambar 5-11 Stack fuel cell (College of the The Dessert)..................................... 170
Gambar 5-12 Komponen penyusun stack (Hydrogen Fuel Cell Engines and
Related Technologies, December 2001, College of the The Dessert) ................... 171
Gambar 5-13 Aplikasi fuel cell pada pembangkit ................................................. 172
Gambar 5-14 Variasi aplikasi fuel cell ................................................................... 173
Gambar 5-15 Aplikasi fuel dan jenis bahan bakar yang dapat menghasilkan
hidrogen ............................................................................................................. 173
Gambar 5-16 Perbandingan spesifik energi hidrogen dengan bahan bakar lain . 174
Gambar 5-17 Karakter ledakan pada hidrogen .................................................... 176
Gambar 5-18 Metode produksi hidrogen - University of Central Florida ............. 176
Gambar 5-19 Proses produksi biomassa menjadi hidrogen................................. 177
Gambar 5-20 Prinsip dasar proses electrolysis .................................................... 178
Gambar 5-21 Siemen Electrolyser......................................................................... 178
Gambar 5-22 Penyimpanan hidrogen
(www.energy.gov/eere/fuelcells/hidrogen-storage) .......................................... 179
Gambar 5-23 Aplikasi fuel cell sebagai auxiliary power units.............................. 180
Gambar 5-24 Tren penurunan harga fuel cell. National Fuel
Cell Research Center (NFCRC) ............................................................................. 180
Gambar 5-25 Teknisi fuel cell melakukan pemeliharaan rutin ............................. 181

xvi
Gambar 5-26 Pembentukan CBM pada lapisan batubara .................................... 182
Gambar 5-27 Cleat /retakan pada batubara (Schlumberger, 2009) .................... 183
Gambar 5-28 Proses pelepasan methane pada cleat ......................................... 184
Gambar 5-29 Proses ekstrasi CBM...................................................................... 185
Gambar 5-30 Potensi CBM (coalbedmethane.wordpress.com/tag/potensi/) .... 186
Gambar 5-31 Siklus bahan bakar nuklir ................................................................187
Gambar 5-32 Reaksi fisi nuklir............................................................................. 189
Gambar 5-33 Inti reaktor .................................................................................... 190
Gambar 5-34 Pressurized water reactor ............................................................... 191
Gambar 5-35 Boiling reactor (www.world-nuclear.org) ...................................... 192
Gambar 5-36 Advanced gas cooled rector ............................................................ 192
Gambar 5-37 Perkembangan teknologi PLTN .....................................................193
Gambar 6-1 Proses bisnis SPC.............................................................................. 212
Gambar 6-2 Jadwal tahapan Konstruksi proyek................................................. 220
Gambar 6-3 Progres konstruksi proyek............................................................... 221
Gambar 6-4 Jenis instalasi yang memerlukan SLO ............................................. 222
Gambar 6-5 Komisioning Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) SPLN K6.001: 2014 . 223
Gambar 7-1 Grafik tren kenaikan emisi karbon (Peters, 2017) ............................ 225
Gambar 7-2 Tarif jual listrik secara global dari pembangkit listrik energi
terbarukan dan fosil ........................................................................................... 227
Gambar 7-3 Kuznet Curve .................................................................................. 228
Gambar 7-4 Pertumbuhan GDP di beberapa negara .......................................... 229
Gambar 7-5 Tingkat emisi di beberapa negara ................................................... 229
Gambar 7-6 Emisi karbon dan GDP per kapita.................................................... 230
Gambar 8-1 Pertumbuhan GDP Uruguay ............................................................ 239
Gambar 9-1 PV rooftop ....................................................................................... 245
Gambar 9-2 Perbedaan central generation dan distributed generation .............. 245
Gambar 9-3 Mobil listrik yang sedang dicharge ................................................. 247
Gambar 9-4 Tren penurunan harga PV dan baterai............................................ 248

xvii
Daftar Tabel

Tabel 1-1 Jumlah penyerapan tenaga kerja global menurut


masing-masing jenis energi (Ren21)....................................................................... 9
Tabel 2-1 Tingkat kompleksitas pada proses utama pembangkit listrik EBT .........19
Tabel 2-2 Pola operasi pembangkit listrik EBT ..................................................... 22
Tabel 2-3 Jenis pembangkit listrik yang mampu start mandiri setelah sistem
kelistrikan padam ................................................................................................ 30
Tabel 3-1 Persyaratan Perijinan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik
(Sumber: BKPM) .................................................................................................. 32
Tabel 4-1 Perbedaan produk dari combustion dan gasification............................ 53
Tabel 4-2 Beberapa sifat dari biogas (Deublein, D, Steinhauser, A; 2008) ........... 56
Tabel 4-3 Perbandingan panas hasil pembakaran dari biogas
terhadap bahan bakar lain (Golaszewski, University of Warmia, 2009) ............. 63
Tabel 4-4 Komposisi sampah dari tahun ke tahun ............................................... 68
Tabel 4-5 Perbandingan hasil Minyak nabati dari tanaman ................................. 80
Tabel 4-6 Beberapa sifat ethanol ..........................................................................81
Tabel 4-7 Properties berbagai minyak nabati ...................................................... 82
Tabel 4-8 Wind power class ................................................................................. 92
Tabel 4-9 Potensi angin hasil penelitian WHyPGEN di Indonesia, 2015 .............. 104
Tabel 4-10 Potensi energi laut (statistic EBTKE 2016) ......................................... 119
Tabel 4-11 Intensitas radiasi matahari di berbagai kota di Indonesia .................. 122
Tabel 4-12 Perbandingan teknologi CSP yang ada .............................................. 129
Tabel 4-13 Perbandingan berbagai jenis teknologi PV ........................................ 135
Tabel 4-14 Perkembangan efisiensi cell PV.......................................................... 138
Tabel 4-15 Potensi energi air, berdasarkan studi NIPPON KOEI
(Statistik EBTKE, 2016) ........................................................................................ 150
Tabel 4-16 Potensi panas bumi di Indonesia (Badan Geologi
Kementerian ESDM, 2017) .................................................................................. 159
Tabel 5-1 Perbandingan teknologi PLTU Batubara dengan Gasifikasi
(Fenton, 2006) .................................................................................................... 162
Tabel 5-2 Berbagai produk hydrocarbon yang dihasilkan dari FT ....................... 165
Tabel 5-3 Perbandingan HSD dengan proses FT dan HSD dari minyak bumi ..... 166
Tabel 5-4 Perbedaan fuel cell dan engine ............................................................ 170
Tabel 5-5 Perbandingan sifat hidrogen terhadap bahan bakar lainnya............... 174
Tabel 5-6 Variasi kandungan CBM pada berbagai tingkat kedalaman ............... 184
Tabel 6-1 Biaya investasi berbagai jenis pembangkit listrik (Dirangkum
dari berbagai sumber: IRENA, World energi Council, IFC, IEA dan
pabrikan mesin) ................................................................................................. 209
Tabel 6-2 Perbandingan waktu konstruksi (Bloomberg New energi
Finance, 2017) ..................................................................................................... 219
Tabel 6-3 Persyaratan SLO .................................................................................. 221

xviii
Tabel 6-4 Mata uji dalam komisioning mesin ..................................................... 224
Tabel 7-1 Persentase energi terbarukan, nuklir, GDP, tarif listrik,
di berbagai negara .............................................................................................. 231
Tabel 7-2 Harga jual listrik dari beberapa energy, di Perancis ............................ 232
Tabel 7-3 LCOE nuklir (www.world-nuclear.org)............................................... 232
Tabel 7-4 Cadangan batubara terbukti, di beberapa negara .............................. 233
Tabel 7-5 Negara pengekspor batubara di dunia ............................................... 234
Tabel 8-1 Tarif jual listrik energi terbarukan di Filipina ....................................... 238
Tabel 8-2 Kuota energi terbarukan di Swedia .................................................... 240

xix
1Bab I Menuju Energi Terbarukan

E
bumi.
nergi pada masa sekarang tidak bisa dipisahkan dari kebutuhan
manusia. Konsumsi energi yang digunakan semakin meningkat
seiring pertumbuhan ekonomi serta jumlah populasi manusia di

Manusia mengonsumsi banyak hal dalam hidup; ia menjadi pengonsumsi


segalanya karena kebutuhannya tidak hanya makan dan tidur saja.
Makanan ia olah dan kemas dengan menggunakan energi, demikian juga
untuk seluruh aktivitas dan mobilisasinya. Manusia juga menggunakan
teknologi untuk mengoptimalkan energi, membakarnya untuk
memenuhi segala kebutuhannya. Oleh karenanya, manusia lebih pantas
disebut sebagai burnivora atau makhluk pembakar.

1.1 Konsumsi Energi Listrik Dunia

Semakin tinggi tingkat perekonomian dan kemakmuran suatu negara,


maka akan semakin besar konsumsi listrik. Listrik dikonsumsi baik oleh
pelanggan rumah tangga maupun industri. Pabrik di kawasan industri
akan beroperasi dengan jam kerja yang panjang, yang membutuhkan
listrik dalam jumlah besar. Konsumen listrik rumah tangga di negara
maju, memiliki peralatan listrik yang lebih banyak dibandingkan negara
berkembang.

Gambar 1-1 Peta kemakmuran; penggunaan energi listrik


untuk penerangan di dunia (NASA)
Bab I Menuju Energi Terbarukan

Dari Gambar 1-1 terlihat negara-negara maju seperti Jepang, Amerika,


Eropa yang terang benderang. Dengan hal ini, bisa dimaknai itulah peta
kemakmuran dunia, di mana negara-negara tersebut adalah yang paling
banyak mengonsumsi energi. Sedangkan yang masih agak gelap
mempunyai arti belum terlistriki dengan baik sehingga menjadi peluang
listrik akan bertumbuh di situ.

Jenis energi yang digunakan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan


listrik sampai dengan tahun 2015 ternyata energi primer dan didominasi
lebih dari 80 % energi fosil (batubara, minyak dan gas). Ironisnya,
ternyata negara penghasil energi primer tidak selalu menikmati
kemakmuran, seperti ditunjukkan pada Gambar 1-2.

Gambar 1-2 Warna merah menunjukkan sumber energi fosil (Sumber: Nasa)

Hanya mengandalkan penggunaan energi fosil akan berdampak pada


emisi gas rumah kaca yang semakin banyak. Sehingga berdampak pada
pemanasan global yang semakin cepat. Dari gambar di bawah dapat
dilihat perbedaan suhu permukaan bumi di tahun 1970 dengan tahun
2000. Pada belahan bumi bagian utara terjadi peningkatan suhu sebesar
2C.

Peningkatan suhu ini berdampak pada es di belahan bumi kutub mencair


sehingga mengganggu iklim secara global. Gangguan ini tidak hanya
dalam wujud kenaikan level permukaan air laut, namun juga dapat
memicu pelepasan logam mercury dari lapisan permafrost di kutub
utara. Permafrost adalah tanah yang berada di titik beku pada suhu 0°C.
Umumnya terletak di lintang tinggi (yaitu tanah dekat dengan kutub
utara dan selatan).

2
Bab I Menuju Energi Terbarukan

Gambar 1-3 Peta temperatur NASA; bandingkan beda antara 1980 dengan 2000

Gambar 1-4 Variasi Kandungan merkuri di permafrost


(Schuster et al, phys.org)

Menurut penelitian terbaru tentang dampak global warming, yang


dilakukan oleh Schuster, 2018, jumlah potensi merkuri di lapisan es

3
Bab I Menuju Energi Terbarukan

tersebut sebesar kurang lebih 32 juta galon atau sekitar 121 juta liter.
Mercury yang bersifat racun bagi makhluk hidup ini dapat terlepas jika
suhu bumi terus meningkat dan kemudian menyatu dengan aliran air
laut, yang kemudian masuk ke tubuh ikan, atau terlepas ke udara.

1.2 Jenis Energi

Energi membantu kita melakukan aktivitas keseharian. Energi


menghangatkan tubuh dan rumah kita. Energi membantu kita memasak,
menghidupkan televisi, dan juga mobil. Mobil berjalan dari energi yang
tersimpan di bahan bakar. Banyak juga mainan yang energinya
tersimpan dalam baterai. Manusia juga mulai menggunakan energi dari
beragam sumber. Era baru energi telah dimulai. Energi yang efisien dan
juga ramah lingkungan pada akhirnya akan menjadi tumpuan bagi masa
depan manusia.

Dalam hal pemanfaatan energi untuk bahan bakar mesin pembangkit listrik,
terdapat tiga jenis sumber energi, yaitu:

1. Energi fosil yaitu energi yang berasal dari fosil makhluk yang hidup di
jaman purba, contohnya adalah minyak bumi, gas alam, dan
batubara. Bahan bakar jenis ini menimbulkan berbagai polusi udara.
Meskipun tersedia berbagai teknologi untuk mengurangi dampak
polusi udara, namun karena harga teknologi tersebut tidak murah,
sehingga jumlah emisi gas rumah kaca yang dilepaskan ke udara
terus meningkat.

Sumber energi tak-terbarukan terbentuk beberapa juta tahun yang


lalu, ketika dinosaurus masih hidup di muka bumi. Saat itu lautan
yang memenuhi bumi berisi banyak tanaman dan hewan. Ketika
tumbuhan dan hewan itu mati, mereka tenggelam di bawah dan
tertutup oleh pasir dan lumpur. Berlapis-lapis tanaman, hewan, pasir
dan lumpur akan terbentuk dari waktu ke waktu. Lalu panas dan
tekanan akan membentuk lapisan tersebut menjadi bahan bakar
fosil seperti batubara, minyak bumi, dan gas alam. Energi fosil akan
habis dalam suatu kurun waktu tertentu dan butuh jutaan tahun lagi
untuk proses pembentukan.

2. Energi terbarukan adalah energi yang ketersediaannya selalu


kontinu, contoh: biomassa, angin, air, surya, panas bumi. Energi ini
tidak menimbulkan polusi udara namun pemanfaatannya penuh
tantangan. Fokus dari buku ini akan lebih banyak ke energi
terbarukan

4
Bab I Menuju Energi Terbarukan

3. Energi baru adalah Energi yang berasal dari bahan bakar fosil atau
non fosil setelah diproses kimia atau fisik sehingga dihasilkan bahan
bakar baru dengan sifat baru, yang lebih ramah lingkungan dan
mempunyai nilai kalor lebih tinggi. Contoh: sintesis gas, hidrogen,
batubara cair (liquified coal), coal bed methane.

Sumber energi baru senantiasa digunakan setiap harinya. Banyak


tipe energi yang kita gunakan saat ini sebenarnya belum kita
temukan di 30 tahun yang lalu. Meskipun saat ini kita masih
mengandalkan energi fosil, namun kondisi saat ini sudah berbeda
daripada yang dulu. Begitu habis terpakai, energi fosil akan hilang
untuk selamanya. Dengan kata lain, batubara, minyak dan gas alam
adalah sumber daya yang tak bisa terbarukan. Bahkan bakar fosil
juga menghasilkan polusi saat pembakarannya. Polusi ini akan
berbahaya bagi tanaman, hewan, dan juga manusia.

Jenis bahan bakar yang paling banyak dikonsumsi dunia sampai saat ini
adalah minyak, batubara, gas, dan biofuel. Jumlah ketiga energi tersebut
sangat dominan jika dibandingkan dengan jenis energi lainnya seperti
nuklir dan energi terbarukan. Kontribusi energi dunia terhadap
perekonomian secara keseluruhan dapat diketahui dari grafik di Gambar
1-5.

Gambar 1-5 Suplai jenis energi dunia 1971 hingga 2015 (Mtoe).
IEA 2017. Key World Energi Statistics

5
Bab I Menuju Energi Terbarukan

Pada akhirnya, energi fosil jika digunakan terus menerus akan habis.
Menurut perkiraan maka energi fosil tersebut yang berada di Indonesia
akan habis dalam kisaran sebagai berikut:

• Minyak akan habis dalam kisaran 20 tahun


• Gas Bumi akan habis dalam kisaran 60 tahun
• Batubara akan habis dalam kisaran 150 tahun

Jauh sebelum itu terjadi, sumber energi tersebut juga akan


meninggalkan permasalahan polusi yang cukup serius. Perlu dilakukan
upaya untuk mencari pengganti energi fosil tersebut yaitu dengan
menggunakan energi terbarukan yang berkelanjutan, dan juga efisiensi
penggunaan energi.

Indonesia mempunyai potensi besar untuk seluruh energi terbarukan,


sehingga sudah saatnya secara gencar Indonesia beralih ke renewable
energy melalui kebijakan yang kuat dan menyinergikan seluruh
pemangku kepentingan yang bergerak di ranah renewable energy,
antara lain: Pemerintah, BUMN, PLN khususnya serta anak-anak
perusahaan termasuk PT PJB (Pembangkitan Jawa Bali) dan PT
Indonesia Power, lembaga penelitian (LIPI, BPPT, Batan), perguruan
tinggi, pabrikan nasional serta asosiasi dan lembaga swadaya
masyarakat (METI dan lain-lain) serta masyarakat sendiri.

Bila hal tersebut dapat diberdayakan Insya Allah Indonesia Makmur


Energi.

1.3 Konservasi Energi dan Efisiensi Energi

Coba bayangkan jumlah energi yang digunakan oleh mobil keluarga


Anda dalam 156 tahun. Banyak sekali tentunya, bukan? Dan itu adalah
jumlah yang dihabiskan oleh umat manusia setiap detiknya. Dalam setiap
kedipan mata kita, manusia menggunakan energi yang setara dengan 85
ribu galon BBM premium.

Para ilmuwan telah menemukan dan membuktikan bahwa


sesungguhnya seluruh yang kita gunakan dalam keseharian bisa
dioptimalkan. Ketika seseorang menggunakan energi yang lebih hemat
untuk mendapatkan hasil yang sama maka inilah yang disebut sebagai
efisiensi energi. Umat manusia sesungguhnya masih bisa hidup dengan
layak dan nyaman dengan separuh saja dari energi yang saat ini biasa
digunakan.

6
Bab I Menuju Energi Terbarukan

Ada dua istilah yang perlu kita kenal bersama, yakni konservasi energi dan
efisiensi energi. Konservasi energi adalah melakukan aktivitas yang
dimaksudkan untuk menghemat energi. Contohnya semisal mematikan
lampu dan kipas angin ketika meninggalkan ruangan. Bisa juga
berbentuk membuat suhu AC lebih tinggi dan menggunakan kipas
hembus. Konservasi energi artinya Anda tidak menggunakan energi
manakala memang tidak sangat memerlukannya.

Sementara itu efisiensi energi adalah mengganti kegiatan yang tidak


bersifat efisien dengan yang lebih efisien. Contoh konkretnya adalah
mengganti bohlam lampu biasa dengan CFL yang menggunakan energi
lebih sedikit. Dengan hasil cahaya yang sama, lampu bohlam 75-watt bisa
digantikan dengan lampu CFL 18-watt. Secara biaya, lampu CFL juga lebih
murah daripada lampu bohlam biasa.

Baik konservasi energi maupun efisiensi energi, keduanya sangat


penting untuk pemanfaatan energi secara bijak.

Contoh praktis lain efisiensi energi di berbagai bidang:

• Kendaraan listrik (kereta listrik, mobil listrik, sepeda listrik dan lain-
lain)
• Tungku/kompor hemat energi
• Inverter pada pendingin ruangan

Efisiensi juga berarti melakukan sustainability dalam segala bidang,


biasanya dengan konsep Re-use, Reduce & Recycle. Atau sering
diistilahkan dengan Eco-Innovation atau Go-Green.

1.4 Perkembangan Energi Terbarukan di Berbagai Negara

Beberapa negara di dunia mulai menjadikan energi terbarukan sebagai


suatu kebijakan. Pemerintah Irlandia Utara, semisal, telah membuat
aturan bahwa semenjak 2008 dan seterusnya, pembangunan gedung
baru harus menggunakan energi terbarukan. Ini berlaku baik untuk
perumahan, pabrik, dan bangunan publik. Ini artinya setiap gedung
tersebut harus memiliki microgeneration seperti panel surya untuk
pemanas air, panel surya photo voltaic di atap untuk penghasil listrik atau
turbin udara kecil untuk rumah. Program ini dibarengi dengan adanya
bantuan terhadap 4.000 rumah tangga untuk biaya pemasangan sumber
energi terbarukan sebesar 50% biaya.

Tidak hanya negara maju saja yang beranjak kencang ke inisiatif energi
terbarukan, beberapa negara Asia selain Cina juga tampak sedang
menggalakkan gerakan energi terbarukan. Saat ini setidaknya India,

7
Bab I Menuju Energi Terbarukan

Korea Selatan, Malaysia, dan Filipina sedang memosisikan diri agar tak
tertinggal dari negara maju. Mereka bahkan telah melampaui Amerika
dalam hal rekrutmen, pemberian insentif, dan pengembangan dalam
negeri untuk teknologi baterai, daya surya dan angin.

Sementara Cina adalah negara Asia dengan pengembangan paling besar


di antara yang lain. Di tahun 2009 saja Cina telah menginvestasikan 34,6
milyar dolar untuk energi bersih, sementara di tahun yang sama Amerika
“hanya” menginvestasikan 18,6 dolar untuk kepentingan yang sama.

Tidak sekedar itu, pertumbuhan kapasitas energi terbarukan di Cina saat


ini bahkan melebihi pertumbuhan tambang batubara. Hingga akhir
tahun 2009 setidaknya kapasitas daya yang terbangun mencapai 180 GW
dengan pertumbuhan melebihi batubara hingga 16 GW. Secara umum, di
akhir tahun 2010 Cina sudah memiliki sumber energi rendah-karbon
(hidro, nuklir, dan renewable) sebesar 250 GW, atau 26% dari kapasitas
daya di Cina. Sementara itu di Amerika Serikat di tahun 2009, sumber
energi rendah-karbon mengontribusikan sekitar 31% kapasitas daya
Amerika, sementara batubara menyumbangsihkan 45%.

Di tahun 2020, Cina diperkirakan akan menjadi negara penghasil daya


terbesar dari daya angin dengan 150 juta kilowatt yang
mengontribusikan 10 persen kebutuhan negaranya. Ini juga dibarengi
dengan ketegasan pemerintah Cina dalam memaksa perusahaan besar
di sana untuk menggunakan energi terbarukan dalam operasi industri
sebanyak 5 persen kebutuhan di 2010 dan 10 persen di 2020.

Namun Amerika dan Cina tidaklah sedang berperang dalam hal ini.
Amerika dan Cina sesungguhnya sedang mengupayakan kerja sama
sinergis dalam beragam pengembangan energi terbarukan sebagaimana
yang disepakati di Kopenhagen pada 2009. Beberapa bentuk kerja sama
tersebut meliputi pembuatan pusat riset energi bersih, pengembangan
kendaraan elektrik, perumusan rencana tindakan efisiensi energi,
pengembangan batubara yang lebih bersih dan beberapa lagi yang lain.

8
Bab I Menuju Energi Terbarukan

Gambar 1-6 Pertumbuhan investasi global EBT


(IRENA Global Landscape RE Finance, 2018)

Grafik di Gambar 1-6 menunjukkan pertumbuhan kapasitas energi


terbarukan secara global yang secara kontinu meningkat. Dalam sepuluh
tahun terakhir, sejak tahun 2007, kapasitas pembangkit energi bersih
meningkat lebih dari dua kali lipat. Jenis energi yang paling banyak
dimanfaatkan adalah air, angin, matahari, bioenergy, laut dan geotermal.

Tabel 1-1 Jumlah penyerapan tenaga kerja global


menurut masing-masing jenis energi (Ren21)

Pesatnya pertumbuhan pembangkit listrik energi terbarukan turut


memberikan lapangan pekerjaan baru. Dari tabel di atas dapat diketahui
penyerapan tenaga kerja untuk masing-masing jenis energi. Proyek
energi surya, biofuel, air, angin, biomassa dan biogas memberikan
lapangan kerja terbanyak secara global.

9
Bab I Menuju Energi Terbarukan

Kotak Informasi 1 Nama Pembangkit EBT

Nama Pembangkit EBT


Dengan tersedianya berbagai jenis energi, maka masing-masing
pembangkit listrik memiliki nama sendiri yang unik. Tabel berikut memuat
nama pembangkit listrik beserta jenis energi yang digunakan, dan proses
konversi energi yang terjadi.

10
2Bab II Sifat Umum Energi Baru dan Terbarukan

E nergi terbarukan memiliki karakter yang unik dalam penerapannya.


Pemahaman akan karakter tersebut akan berguna membantu
pihak yang berkepentingan untuk menyusun kebijakan sehingga
pemanfaatan EBT lebih optimal. Calon pengembang yang berminat
untuk investasi juga perlu untuk mengetahui sifat umum energi EBT
sebelum memutuskan untuk membangun proyek.

2.1 Karakter EBT

EBT memiliki beberapa karakter umum yang sama dan juga berbeda.
Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Keunikan tersebut
bukan menjadi hambatan dalam pengembangan EBT. Jika kita dapat
mengoptimalkan keunikan masing-masing EBT, maka energi ini akan
dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Karakter umum energi EBT diantaranya:

2.1.1 Site Spesific


Tiap daerah mempunyai potensi tersendiri dan pemanfaatannya tidak
dapat atau tidak ekonomis dipindahkan ke daerah lain. Sumber energi
air di Sumatera utara dan Barat, tidak dapat dipindahkan ke Indonesia
timur, karena tidak mungkin menyediakan transportasi air dalam volume
besar. Contoh lain tentang site specific adalah angin dengan kecepatan
tinggi di Sulawesi Selatan memiliki waktu kedatangan yang berbeda
dengan di Jawa Barat. Sehingga dalam kajian operasional dan
interkoneksi, dapat berbeda. Pada biomassa, karakter site specific ini
dalam pemanfaatan dapat terjadi juga. Di Nusa tenggara, tongkol jagung
dapat dimanfaatkan dengan mudah sebagai bahan bakar. Namun di
daerah lain Indonesia Timur, dapat menimbulkan protes dari pemilik
peternakan dikarenakan tongkol jagung sebagai makanan sapi.

Kontraktor yang sukses membangun proyek EBT di provinsi A, tidak


menjamin bahwa dia akan sukses juga di provinsi B. Kendala yang
mungkin terjadi adalah perbedaan karakter sosial penduduk dalam hal
penerimaan pembangkit EBT yang dapat menyebabkan tambahan biaya
proyek.

2.1.2 Ketersediaannya Terpengaruh Iklim Cuaca dan Siklus Matahari


Semua energi terbarukan dipengaruhi oleh cuaca, baik secara langsung
maupun tidak langsung. Secara langsung seperti misalnya PLTS. Sumber
energi biomassa, air, angin, laut dipengaruhi secara tidak langsung oleh
keberadaan matahari. Daerah dengan ketersediaan matahari yang
Bab II Sifat Umum Energi Terbarukan

mencukupi, akan memiliki tanaman sebagai sumber biomassa yang


memadai. Siklus hidrologi air, dipengaruhi oleh sinar matahari pada
penguapan air di laut dan sungai. Pada saat hari yang cerah, angin
cenderung bertiup dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan
hujan.

2.1.3 Dampak Lingkungan Beragam


PLTA memiliki dampak lingkungan yang paling luas dibandingkan
pembangkit listrik EBT lainnya. Proses kajian pembangkit tersebut tidak
hanya meliputi daerah yang akan dibangun pembangkit, namun juga
lokasi tangkapan air, sehingga seringkali untuk PLTA skala besar
terpaksa dilakukan relokasi penduduk.

Untuk energi biomassa, jika menggunakan sumber yang berasal dari


hutan energi, maka akan memiliki dampak yang cukup besar, mengingat
untuk 1 MW diperlukan luas hutan 300 ha sebagai sumber bahan bakar.
Namun jika biomassa memanfaatkan bahan bakar sisa perkebunan,
maka dampak lingkungan yang ditimbulkan relatif lebih kecil.

Untuk PLTB, kajian dampak lingkungan, tidak hanya terhadap hewan


darat, namun juga yang diudara seperti burung, kelelawar. Blade turbin
skala besar yang panjang mencapai 50-75 m dapat menyebabkan
perubahan lintasan terbang burung. Dampak lingkungan dari PLTS
paling kecil karena selama operasional tidak membutuhkan proses
pengiriman bahan bakar.

2.1.4 Beberapa Energi Terbarukan Tersedia Gratis Namun Teknologi


yang Dibutuhkan Tidak Murah
Energi angin, surya dan laut tersedia gratis. Namun untuk mengubah
energi gratis yang alami tersebut menjadi energi listrik, dibutuhkan biaya
yang tidak murah. Untuk jumlah suplai energi yang sama dibandingkan
mesin berbahan bakar batubara, misal selama operasi 24 jam secara
stabil, energi tersebut membutuhkan biaya investasi lebih tinggi.

2.1.5 Mayoritas Pembangkit Listrik Energi Terbarukan Tidak Dapat


Beroperasi dengan Ramping Rate Tinggi
Ramping rate adalah kemampuan pembangkit listrik untuk mengubah
jumlah output dalam suatu kurun waktu. Hanya PLTA, PLTBg, dan fuel
cell yang secara desain dasar dapat beroperasi cepat menyesuaikan
kebutuhan output. Untuk teknologi lain, perlu penambahan peralatan
tambahan, seperti misal baterai untuk PLTS, unit termal ganda untuk
biomassa.

12
Bab II Sifat Umum Energi Terbarukan

2.1.6 Keterbatasan Sumber Daya Manusia dalam Menguasai Energi


Baru dan Terbarukan
Ilmu EBT memiliki lingkup yang luas, yang mencangkup multi disiplin
ilmu. Masing-masing memiliki pemahaman yang berbeda, seperti
berikut:

▪ Pemahaman akan sumber energi


Energi panas bumi yang berada di bawah permukaan bumi,
memiliki pemahaman berbeda dengan energi angin di langit,
demikian juga dengan energi biomassa di permukaan bumi. Energi
panas bumi membutuhkan ahli geologi dan pengeboran, energi
angin dapat dipahami dengan baik oleh ahli metrologi, sementara
ahli kimia dan mesin dapat memahami proses energi biomassa
secara lengkap.

▪ Mesin/ peralatan konversi energi


Dengan sumber energi yang berbeda, maka cara kerja mesin yang
digunakan untuk mengekstrak energi tersebut pun berbeda.
Masing-masing jenis mesin memiliki karakter operasi yang unik
dengan kelebihan dan kekurangan sendiri. Biaya investasi untuk
membeli tiap-tiap jenis energi terbarukan juga berbeda.

▪ Dampak lingkungan
PLTA tidak memiliki dampak lingkungan terhadap emisi udara,
namun lebih ke dampak kondisi aliran sungai dan penduduk yang
dilewati aliran sungai tersebut. Sedangkan pembangkit listrik
sampah memiliki efek emisi udara yang perlu dikendalikan. PLTB
memiliki dampak terhadap burung yang melintasi turbin.

▪ Dampak terhadap sistem kelistrikan PLN


Stabilitas produksi listrik dari suatu mesin tergantung dari
ketersediaan sumber energi. Jika pembangkit listrik
menggunakan sumber energi yang stabil seperti air, panas bumi
dan biomassa maka relatif tidak banyak terjadi fluktuasi produksi
listrik. Namun jika jumlah energi yang tersedia bervariasi dalam
kurun waktu satu hari, seperti surya dan angin maka output yang
dihasilkan juga bervariasi.

▪ Proses bisnis
Proses bisnis dalam memanfaatkan energi terbarukan, berbeda
untuk masing-masing energi. energi biomassa, seperti kayu, sisa
produk perkebunan, pengembang proyek dapat membeli
langsung tanpa memerlukan ijin dari Pemerintah. Energi angin dan
surya dapat diperoleh gratis. Berbeda halnya dengan

13
Bab II Sifat Umum Energi Terbarukan

pemanfaatan panas bumi, yang membutuhkan ijin eksplorasi dan


produksi.

▪ Regulasi Pemerintah
Masing-masing energi terbarukan memiliki regulasi Pemerintah
yang khusus mengatur jenis energi tertentu, sesuai dengan
kondisi alami energi tersebut dan proses pemanfaatan yang
berbeda.

▪ Tarif jual listrik


Tarif jual listrik dari energi terbarukan di Indonesia sering
mengalami perubahan. Ada suatu waktu di mana masing-masing
listrik energi terbarukan memiliki harga jual berdasarkan
peraturan yang berbeda, dan ada suatu periode di mana tarif
mengikuti peraturan yang sama. Untuk lebih jelas dapat membaca
bab berikutnya tentang regulasi.

▪ Persepsi risiko
Semakin lama suatu jenis pembangkit listrik telah beroperasi
dengan layak, maka persepsi risiko terhadap pembangkit tersebut
semakin kecil. Demikian juga sebaliknya, untuk pembangkit yang
belum pernah beroperasi di Indonesia, walaupun di luar negeri
sudah banyak contoh sukses. PLTA merupakan contoh
pembangkit listrik yang telah memiliki catatan beroperasi dengan
baik selama puluhan tahun, sehingga pihak penyandang dana
menganggap teknologi PLTA memiliki risiko operasi kecil.
Sedangkan pembangkit PLTSa landfill gas, walaupun di luar negeri
sudah banyak beroperasi, namun di Indonesia belum, sehingga
memiliki persepsi risiko yang tinggi. Faktor lain yang
mempengaruhi persepsi risiko adalah karakter ketersediaan
sumber energi, tingkat keandalan mesin, dampak lingkungan dan
proses konstruksi. Semakin tinggi tingkat persepsi risiko, maka
akan semakin sulit pengembang untuk memperoleh dana kredit.
Kalaupun dapat memperoleh kredit, maka bunga yang dikenakan
akan tinggi.

▪ Kajian finansial
Kajian finansial dengan parameter proses eksplorasi energi dan
operasi mesin yang sederhana, maka akan sederhana juga evaluasi
yang dibutuhkan. Untuk pembangkit EBT dengan parameter
operasi banyak, seperti energi panas bumi, sampah atau
pembangkit listrik hybrid dengan storage, maka kajian finansial
yang dilakukan berbeda.

14
Bab II Sifat Umum Energi Terbarukan

▪ Proses konstruksi
Kerumitan proses konstruksi ditentukan oleh jenis energi dan
kapasitas output. PLTA dan PLTP membutuhkan proses konstruksi
yang panjang yaitu minimal 3 tahun. Berbeda halnya dengan PLTS
dan PLTBiomassa yang proses konstruksi lebih sederhana, dapat
diselesaikan dalam waktu kurang dari 2 tahun. Suatu pembangkit
listrik dengan output megawatt besar di atas 50 MW,
membutuhkan pekerjaan sipil yang lebih besar, manajemen
transport komponen mesin lebih kompleks jika dibandingkan
dengan output di bawah 5 MW.

▪ Opini pihak pemberi kredit pinjaman


Pihak pemberi kredit untuk suatu proyek memiliki opini yang
berbeda terhadap kelayakan suatu proyek pembangkit listrik EBT.
Faktor pengalaman dan pengetahuan mereka akan energi dan
teknologi, tingkat kehandalan teknologi dan bagaimana suatu
proyek dapat menghasilkan uang, merupakan hal yang penting.
Sehingga calon Pengembang diharapkan bisa memberikan
penjelasan yang sederhana dan baik kepada calon pemberi kredit
agar mendapatkan opini yang positif.

▪ Stakeholder (pemilik pembangkit, regulator, rakyat)


Semakin suatu stakeholder membutuhkan kehadiran proyek
pembangkit listrik EBT, maka akan semakin mudah proses
penerimaan proyek tersebut di masyarakat. Sosialisasi proyek
yang dilakukan lebih singkat dan tidak memakan banyak biaya.
Tuntutan CSR (Corporate Social Responsibility) yang diminta pun
lebih rendah. Sehingga potensi gangguan sosial yang mungkin
terjadi dapat dihindari. Calon Pengembang perlu berhati-hati
terhadap daerah yang tampaknya membutuhkan kehadiran
proyek energi bersih namun memiliki catatan kurang baik dalam
mengeluarkan Ijin Prinsip, yaitu yang memiliki kecenderungan
mengeluarkan Ijin Prinsip ganda namun dengan lokasi sama
kepada lebih dari satu pengembang.

▪ Dampak terhadap perekonomian nasional


Dampak terhadap perekonomian nasional dimulai dari seberapa
banyak suatu proyek memanfaatkan perusahaan atau produk
lokal. Dimulai dari pengembangan proyek yang memanfaatkan
tenaga kerja lokal, komponen konstruksi bangunan sipil dan
beberapa komponen pendukung mesin.

15
Bab II Sifat Umum Energi Terbarukan

Kotak Informasi 2 Harga energi dan harga mesin

Harga Energi dan Harga Mesin


Berbeda halnya dengan pendapat umum yang sering terjadi, Harga
energi dan harga mesin konversi energi sering kali berada pada posisi
yang berlawanan. Jika harga mesin murah, maka harga energi
penggerak mesin tersebut mahal. Demikian juga sebaliknya, untuk
harga energi terbarukan, beberapa energi gratis seperti angin, surya
dan laut, memiliki harga mesin konversi energi yang lebih mahal.

Harga energi fosil mahal lebih disebabkan oleh faktor ekonomi global
dan politis yang sulit diprediksi. Biaya investasi mesin berbahan bakar
fosil, yang telah diproduksi selama puluhan tahun, relatif stabil dan
sudah mencapai harga dasar stabil. Harga energi terbarukan tidak
terpengaruh oleh kondisi ekonomi global, namun harga mesin bahan
bakar tersebut belum mencapai harga dasar yang stabil.

Tabel di bawah menjelaskan perbandingan harga energi dan harga


mesin, juga harga keduanya jika dikonversikan ke dalam komponen
harga jual listrik.

Harga Harga
Jumlah harga
energi mesin
energi dan mesin
dalam Harga dalam
Harga (belum termasuk
No. Teknologi satuan Mesin satuan
energi operasi dan
listrik USD/KW listrik
maintenance)
(cent (cent
(cent USD/KWh)
USD/KWh) USD/KWh)
PLTD 10000 900
1 24 4, 3 28, 3
(Diesel) Rp/Lt
PLTBm 40
2 4 1800 5, 5 9, 5
(Biomassa) usd/ton
PLTB
3 0 0 1700 10 10
(Bayu)

16
Bab II Sifat Umum Energi Terbarukan

2.2 Tahap Pemanfaatan Energi EBT

Gambar 2-1 Tahapan utama pemanfaatan energi EBT menjadi listrik

Pada dasarnya proses utama dalam pembangkit listrik EBT, terdiri dari
empat bagian utama seperti Gambar 2-1, dengan tingkat kompleksitas
berbeda.

2.2.1 Persiapan/eksplorasi Sumber Energi


Sumber energi air, angin dan panas bumi memiliki tingkat kompleksitas
paling tinggi dalam tahapan ini. Perlu dilakukan survei yang detail untuk
suatu daerah luas dan memakan waktu beberapa bulan, untuk
memastikan ketersediaan energi dan lokasi pembangkit listrik. Untuk
energi angin bahkan perlu dilakukan simulasi dengan software khusus
agar tingkat kepastian energi angin yang tersedia dapat lebih diketahui
dengan lebih akurat. Untuk biomassa, tingkat kesulitan persiapan
sumber energi tidak sesulit PLTA. Meskipun tidak mudah juga, karena
perlu mencari pemilik perkebunan atau limbah biomassa yang bersedia
menjual.

2.2.2 Pekerjaan Konstruksi Proyek


Pembangkit listrik PLTA, PLTP, membutuhkan pekerjaan konstruksi
dengan kompleksitas tinggi dibandingkan lainnya. Kebutuhan lahan
yang luas juga menjadikan tantangan tersendiri bagi pekerjaan

17
Bab II Sifat Umum Energi Terbarukan

konstruksi proyek. Selain itu, tidak tersedia kapasitas kecil modular


seperti halnya pembangkit biomassa, fuel cell, surya dan angin.

2.2.3 Proses Konversi Energi Potensial


Proses konversi energi potensial pada sumber energi menjadi energi
mekanik penggerak generator atau energi listrik langsung berbeda juga.
Energi biomassa dan sampah membutuhkan kerumitan paling tinggi. Hal
ini disebabkan variasi kandungan kimia pada material tersebut dan
sangat spesifik mesin yang tersedia terhadap jenis biomassa tertentu.
Kesalahan pemilihan jenis mesin, dapat mengakibatkan output PLTBm
menurun atau bahkan tidak dapat beroperasi. PLTB memerlukan jenis
turbin yang tepat agar ekstraksi energi kinetik angin lebih maksimal pada
blade turbin.

2.2.4 Proses Penyaluran Energi Listrik ke Sistem Kelistrikan


Untuk pembangkit dengan sumber energi kontinu stabil, generator yang
digunakan mampu memenuhi kebutuhan sistem kelistrikan tanpa
kesulitan berarti. yang perlu diperhatikan adalah kecukupan tegangan,
frekuensi dan arus listrik untuk melakukan sinkron dan koneksi dengan
jaringan listrik terdekat dan peralatan pengaman koneksi jaringan listrik.
Namun untuk pembangkit sumber energi intermiten, banyak hal yang
perlu diperhatikan. Diantaranya adalah apakah sistem kelistrikan
terdekat mempunyai sistem yang mampu mem-backup pembangkit
tersebut. Selain itu kemampuan untuk dapat tetap beroperasi pada
tegangan rendah dan tidak menyerap daya listrik reaktif (VAR)
berlebihan.

Jika proses penyaluran listrik dari pembangkit EBT untuk keperluan


sendiri atau biasa disebut off-grid, maka jauh lebih mudah jika
dibandingkan ke sistem kelistrikan PLN. Karena tidak perlu berinteraksi
dengan berbagai karakter mesin dan fluktuasi tinggi permintaan beban.
Tabel 2-1 memberikan informasi tingkat kesulitan pada masing-masing
tahapan proyek EBT.

18
Bab II Sifat Umum Energi Terbarukan

Tabel 2-1 Tingkat kompleksitas pada proses utama pembangkit listrik EBT

Persiapan/ Proses
konversi energi potensial
eksplorasi Pekerjaan penyaluran
No pada sumber energi
Jenis Pembangkit sumber konstruksi energi listrik ke
. menjadi energi mekanik
energi proyek sistem
penggerak generator
kelistrikan
1 ** **/* *** *
PLTBm (biomassa)
2 PLTA (air) *** *** * *
3 PLTP (panas bumi) *** *** * *
4 PLTS (surya) * * * **
5 PLTB (bayu/angin) *** *** * **
6 PLTBg (biogas) ** * * *
7 PLTAL (arus laut) *** *** ** ***
8 PLT Fuel cell *** * ** *
9 PLTSa (Sampah) *** * *** *
Keterangan: * = mudah, ** = sedang, *** = tinggi

2.2.5 Penerimaan Publik Terhadap Pembangkit Listrik EBT


Masyarakat umum menginginkan kontribusi energi terbarukan lebih
besar dalam energi listrik, namun tidak jarang yang keberatan jika
pembangkit energi terbarukan skala besar dibangun di dekat rumah
mereka. PLTA, PLTP dan PLTSa adalah proyek yang cukup sering
diprotes warga sekitar. Pemahaman masyarakat yang kurang akan
proses konstruksi dan operasi pembangkit listrik EBT menyebabkan
timbulnya penolakan.

Kotak Informasi 3 Satuan Kapasitas Pembangkit Listrik

Satuan Kapasitas Pembangkit listrik


Secara umum, kapasitas daya dari pembangkit listrik adalah jumlah
output keluaran dari mesin, yaitu listrik yang dinyatakan dalam satuan
daya yang disebut MW (Megawatt). Ada peneliti yang menulis dalam
satuan MWe (Megawatt electric). Baik MW maupun MWe memiliki
pengertian dan nilai yang sama. Jika listrik dihasilkan dalam kurun waktu
tertentu dinyatakan dalam satuan energi yang disebut MWh (Megawatt
Hour).

Beberapa negara Eropa Barat terkadang menyatakan satuan kapasitas


output pembangkit listrik dengan energi termal dalam MWth (Megawatt
thermal). MWth merupakan kapasitas konversi suatu energi menjadi

19
Bab II Sifat Umum Energi Terbarukan

energi panas. Jika untuk pembangkit listrik, maka perlu dikali dengan
efisiensi konversi energi panas-mekanik-listrik, sehingga dihasilkan MW.
Angka pada satuan MWth lebih besar jika dibandingkan MW.

Tidak semua pembangkit EBT menulis satuan output kapasitas


pembangkit dengan satuan MW.

Diantaranya adalah:

PLTS (surya)

Menggunakan satuan MWp (Megawatt peak). yang berarti


adalah output pembangkit surya dalam kondisi ideal sama
dengan kondisi pengukuran di lab, yaitu nilai irradiation
1000w/m2, suhu modul 25 C, kecepatan angin 1 m/s dan
spektrum sinar matahari menurut standar IEC 904-3 (1989).
Dalam kondisi nyata di lapangan, jika Anda membeli modul PLTS
kapasitas 1 MWp, maka output yang dihasilkan sangat jarang
mencapai 1 MW.

PLTSa (sampah)

Pabrikan mesin PLTSa menyatakan kapasitas mesin PLTSa tidak


dalam satuan output, namun dalam satuan kapasitas sampah
yang dapat diterima di dalam mesin, yaitu dalam satuan tpd
(ton per day). Keunikan ini dikarenakan mesin pengolah
sampah jaman dahulu tidak didesain untuk menghasilkan listrik,
namun hanya menghancurkan sampah. Dengan
berkembangnya teknologi, maka desainer mesin PLTSa
merancang agar mesin penghancur sampah dapat juga
menghasilkan panas yang dimanfaatkan untuk membangkitkan
energi listrik.

PLTB (bayu, angin)

PLTB menghasilkan angin dari berbagai kecepatan angin


sepanjang hari. Sehingga output yang dihasilkan PLTB
bervariasi. Kapasitas MW yang tertulis pada dokumen kontrak
pembelian turbin angin, hanya dapat tercapai jika kecepatan
angin mencapai nilai tertentu yang disebut rated speed.
Sehingga jika Anda melihat suatu rangkaian PLTB dengan
kapasitas 10 MW, tidak berarti bahwa listrik keluaran dari PLTB
tersebut pada suatu hari tertentu adalah 10 MW.

20
Bab II Sifat Umum Energi Terbarukan

2.3 Karakter Suplai Energi Listrik dari EBT

Konsumen listrik menginginkan suplai listrik yang stabil dan kontinu


untuk peralatan listrik yang digunakan. Kebutuhan tersebut mudah
dipenuhi jika listrik yang digunakan berasal dari pembangkit listrik
berbahan bakar fosil, seperti batubara, minyak dan gas. Ketersediaan
bahan bakar fosil tidak terpengaruhi oleh cuaca dan iklim, dan mudah
untuk disimpan dalam suatu jangka waktu lama. Namun berbeda halnya
dengan energi terbarukan, seperti energi matahari, angin dan laut.
Beberapa energi ini dipengaruhi oleh keberadaan sinar matahari, yang
mengikuti suatu siklus iklim tertentu. Sehingga, menyebabkan output
dari pembangkit tersebut berkurang pada suatu waktu tertentu.
Kelompok energi tersebut biasa disebut energi intermiten, yang selalu
tersedia namun dalam jumlah yang bervariasi.

Ketika sebuah pembangkit listrik terhubung dengan jaringan yang


menyuplai pelanggan, terdapat persyaratan yang harus dipenuhi:

1. Persyaratan pelanggan:
• Voltage (tegangan), arus dan frekuensi listrik yang tersedia
harus sesuai dengan standar yang berlaku
• Listrik harus tersedia pada saat dibutuhkan
• Harga listrik terjangkau

2. Persyaratan pemilik pembangkit listrik:


• Membutuhkan tegangan tertentu pada titik koneksi ke jaringan
• Membutuhkan stabilitas power system
• Dapat menjual listrik ketika energi intermiten EBT tersedia

3. Persyaratan pemilik jaringan transmisi (PLN):


Meningkatkan kontribusi energi terbarukan untuk membangkitkan
listrik dengan tetap menjaga stabilitas jaringan transmisi, demi
keamanan pelanggan (pembeli listrik). Jaringan transmisi dan
distribusi membutuhkan persyaratan tertentu sesuai dengan kondisi
sistem setempat agar dapat menyerap listrik yang dibangkitkan,
yaitu: arus, tegangan dan frekuensi listrik, kemampuan peralatan
proteksi listrik, kemampuan daya listrik yang dapat diterima jaringan
listrik, losses transmisi dan distribusi.

Tantangan utama dalam pembangunan pembangkit listrik intermiten,


adalah bagaimana memenuhi persyaratan pelanggan dan stabilitas
jaringan transmisi dan distribusi, agar listrik yang dihasilkannya sendiri
dapat tersalurkan.

21
Bab II Sifat Umum Energi Terbarukan

2.3.1 Variasi Output PLT EBT


Pada tabel berikut memberikan informasi tentang pola operasi
pembangkit listrik EBT serta estimasi CF (capacity factor) yang dihasilkan
dalam kurun waktu setahun.

Tabel 2-2 Pola operasi pembangkit listrik EBT

22
Bab II Sifat Umum Energi Terbarukan

Kotak Informasi 4 Capacity faktor (CF)

Capacity Factor
Capacity faktor (CF) adalah suatu angka persentase
menyatakan jumlah jam operasi mesin dalam setahun. Dalam
setahun terdapat 8760 jam, maka jika suatu pembangkit
listrik memiliki CF 80%, berarti dalam setahun terdapat 7000
jam operasi. Angka CF sangat berarti dalam perhitungan
finansial. Semakin besar CF, maka pendapatan dari penjualan
listrik semakin besar, sehingga tingkat pengembalian
investasi semakin terjamin. Tiap jenis mesin pembangkit
listrik memiliki batasan minimum CF agar proyek layak untuk
dibangun. Untuk PLTB, CF 20% merupakan nilai minimal
proyek PLTB suatu layak secara finansial. Sedangkan untuk
pembangkit thermal seperti biomassa, nilai CF adalah 70-80%.
Angka CF juga dipengaruhi oleh ketersediaan energi. PLTA
dapat memiliki CF dengan rentang 40-80%, tergantung dari
curah hujan dalam setahun.

Terkadang orang bingung membaca suatu data artikel


tentang kapasitas daya dan energi. Daya adalah satuan
kapasitas pembangkit listrik dalam satuan watt. Sedangkan
energi adalah daya x satuan waktu (jam operasi, CF), dengan
satuan watt hour.

Sehingga membandingkan output suatu pembangkit listrik


perlu juga melihat data CF. Suatu PLTS dengan kapasitas daya
10 MW, akan menghasilkan energi lebih sedikit dibandingkan
PLTBm dengan output daya 10 MW. Hal tersebut dikarenakan
batasan CF PLTS yang hanya maksimal 17% dibandingkan
PLTBm yang mencapai 80%.

Pada Gambar 2-2 ditunjukkan bagaimana pola output berbagai


pembangkit energi terbarukan, dengan contoh kasus di California.
Untuk menyuplai beban dasar, yaitu beban dengan jumlah output tetap
(berupa garis lurus di grafik) dioperasikan pembangkit jenis geotermal,
biomassa, biogas, dan hidro. Jenis pembangkit tersebut mampu
menyuplai energi dalam jumlah stabil dalam hitungan tahunan.
Sedangkan pembangkit energi solar (surya) dan angin, beroperasi sesuai
dengan waktu ketersediaan energi tersebut.

23
Bab II Sifat Umum Energi Terbarukan

Gambar 2-2 Berbagai variasi output energi terbarukan (California ISO, 2015)

Dalam periode waktu per jam, energi intermiten menghasilkan output


yang fluktuatif seperti pada gambar berikut untuk pembangkit listrik
dengan energi surya, angin dan energi laut.

Gambar 2-3 Grafik output PLTS Sumber: (Sayeef et al., 2012)

24
Bab II Sifat Umum Energi Terbarukan

Gambar 2-4 Contoh output PLTB

Gambar 2-5 Contoh output PLT Arus laut dalam suatu tes di Scotland

25
Bab II Sifat Umum Energi Terbarukan

Gambar 2-6 Contoh output PLT Pasang surut

2.3.2 Backup Power plant


Dalam hal di suatu sistem kelistrikan terdapat PLTB EBT yang bersifat
intermiten, maka diperlukan pembangkit berbahan bakar fosil sebagai
pendukung stabilitas sistem, atau biasa disebut backup power plant.
Pembangkit jenis ini memiliki kemampuan ramping rate tinggi
(kemampuan naik turun output dengan cepat, lebih dari 3% per menit)
dan beroperasi bersamaan dengan estimasi jam operasi pembangkit
listrik intermiten. Tanpa backup power plant, maka stabilitas power dari
sistem akan terganggu, yang dapat mengakibatkan semua pembangkit
berhenti beroperasi mendadak.

Beberapa jenis pembangkit listrik, seperti misal PLTU batubara, dan


biomassa, membutuhkan waktu minimal 30 menit untuk dapat
beroperasi kembali dari setelah kondisi trip (berhenti operasi mendadak
karena gangguan). Sehingga pada akhirnya, yang rugi adalah konsumen,
karena tidak dapat menerima suplai listrik. Pemilik pembangkit swasta
pun akan rugi, karena dengan terganggunya power system, maka
pembangkit mereka tidak dapat beroperasi sehingga tidak
menghasilkan penjualan listrik.

Dalam gambar selanjutnya dijelaskan konsep sederhana bagaimana


backup power plant bekerja, dengan contoh PLTB dan PLTG/PLTA. Di
saat suplai energi angin naik, maka pembangkit backup ini akan
menurunkan output, dan sebaliknya, saat ketersediaan angin rendah,
maka akan menaikkan output.

26
Bab II Sifat Umum Energi Terbarukan

Gambar 2-7 Grafik output PLTB dan pembangkit backup

Satu hal yang perlu diingat, bahwa, satu unit backup power plant dengan
bahan bakar fosil tidak dapat beroperasi stabil kurang dari 40% kapasitas
terpasang dalam jangka waktu lama. Sehingga diperlukan pengaturan
jumlah unit dan output yang terperinci, agar stabilitas sistem kelistrikan
tercapai.

Besarnya pembangkit backup untuk mendukung pembangkit intermiten


tergantung dari:

• kapan energi intermiten tersedia

Jika pembangkit energi intermiten tersedia di luar beban puncak


sistem kelistrikan, maka sebagai pembangkit listrik backup
dapat menggunakan mesin untuk mensuplai beban puncak,
sehingga kebutuhan backup lebih sedikit.

• kapasitas energy

Besar kapasitas pembangkit listrik backup menyesuaikan


dengan besar kapasitas pembangkit backup dan jam operasi.

• jenis kontrak pembangkit

Jika yang digunakan sebagai pembangkit backup memiliki


kontrak minimum output tertentu, maka akan memiliki
keterbatasan sesuai dengan kapasitas kontrak.

27
Bab II Sifat Umum Energi Terbarukan

Pada Gambar 2-8 dapat dilihat suatu contoh sistem kelistrikan yang
disuplai dari berbagai jenis pembangkit baik EBT, maupun fosil, yang
memiliki karakter operasi berbeda. Pengatur beban sistem kelistrikan,
akan memberikan perintah nyala terlebih dahulu kepada pembangkit
fosil dengan biaya paling rendah (PLTU skala besar) dan pembangkit
EBT. Selanjutnya, perintah nyala kedua diberikan kepada pembangkit
fosil dengan biaya menengah atas (PLTU skala menengah). Untuk
memenuhi kenaikan beban listrik mendadak, maka diperintahkan untuk
nyala kepada pembangkit fosil dengan ramping rate tinggi (PLTG).
Pembangkit jenis ini memiliki biaya operasi paling tinggi dibandingkan
lainnya.

Gambar 2-8 Contoh power system yang mampu menyuplai listrik


dari berbagai sumber energi (www.govtech.com)

Suatu sistem kelistrikan sulit untuk didesain hanya disuplai dari energi
terbarukan, karena karakter stabilitas output energi EBT yang lebih sulit
dipredikasi. Jika ada power system yang mampu disuplai hanya dari

28
Bab II Sifat Umum Energi Terbarukan

energi EBT, itu disebabkan karena sistem tersebut menggunakan baterai


sebagai sumber energi cadangan. Demikian juga, tidak mungkin
mendesain hanya disuplai dari pembangkit fosil, karena ketersediaan
yang terbatas dan harga mengikuti parameter ekonomi dan politik
global yang sulit dikendalikan. Sehingga dalam mendesain power system,
perlu kombinasi energi EBT dan energi fosil. Selain itu, diperlukan juga
energy management system, untuk mengatur supply dan demand beban
listrik dengan cepat dan optimal.

Energy management system diperlukan untuk mengatur dan


memaksimalkan potensi energi yang ada, agar sistem kelistrikan tetap
stabil dan dengan biaya listrik terjangkau masyarakat. Selain energy
management system, pembangkit listrik intermiten perlu dilengkapi
dengan peralatan untuk menjamin stabilitas koneksi ke jaringan listrik.
Salah satu Unit Operasional PLN yaitu P2B, Unit Pengatur Beban Sistem
Jawa Bali merekomendasikan peralatan koneksi yang perlu digunakan,
diantaranya sebagai berikut:

a. Active Power Regulation

Berfungsi mengatur output daya aktif, sehingga dapat disesuaikan


dengan kondisi power system untuk menjaga kestabilan.

b. Reactive Power Regulation

Berfungsi untuk menjaga tegangan di titik sambungan selama


fluktuasi tegangan dan untuk mengatur keseimbangan daya reaktif
di jaringan. Reactive power regulation harus dilengkapi dengan
kompensasi daya reaktif untuk memastikan daya reaktif pada
rentang faktor daya di antara 0,85 lagging dan 0, 90 leading.

c. Low Voltage Ride Through (LVRT)

Untuk membantu generator agar dapat beroperasi dalam kondisi


tegangan rendah.

29
Bab II Sifat Umum Energi Terbarukan

Gambar 2-9 Grafik kerja LVRT

2.3.3 Kemampuan Pembangkit EBT untuk Bangkit Setelah Sistem


Kelistrikan Trip Total
Jika sistem kelistrikan trip atau mati total, maka semua jenis pembangkit
listrik yang terkoneksi dengannya akan mati total juga. Tiap pembangkit
EBT mempunyai kemampuan tersendiri untuk bangkit beroperasi
normal setelah kejadian gangguan mati total pada sistem kelistrikan.
Memahami jenis pembangkit listrik mana yang mampu start mandiri
penting, agar Anda tidak terkena penalti akibat ketidakmampuan suplai
energi dalam kontrak PPA. Ada jenis yang mampu start secara mandiri,
ada yang membutuhkan bantuan suplai listrik eksternal agar mampu
bangkit beroperasi. Kebutuhan listrik eksternal tersebut untuk
menggerakkan system control dan peralatan penunjang BOP (Balance of
Plant), seperti misal pompa dan kompresor.

Tabel 2-3 Jenis pembangkit listrik yang mampu start mandiri


setelah sistem kelistrikan padam

No Jenis pembangkit EBT Tingkat kemampuan start mandiri


setelah trip
1 PLTA\PLTMH Mampu mandiri, jika mempunyai genset
PLTP\PLTBm\PLTBg\PLTSa\PLTN backup atau baterai. Jika tidak, butuh
suplai listrik eksternal
2 PLTB Mampu mandiri
3 PLTS Mampu mandiri.
4 Fuel cell Mampu mandiri.

30
3Bab III Regulasi dan Perijinan Proyek EBT

P emerintah telah menerbitkan berbagai jenis regulasi atau


peraturan untuk mendukung pengembangan dan pemanfaatan
EBT. Regulasi ini diperlukan agar proses pembangunan proyek
dapat berjalan lancar tanpa adanya hambatan dan agar penggunaan
energi terbarukan sejalan dengan tujuan Pemerintah untuk
meningkatkan kemakmuran rakyat. Dengan mengacu para regulasi
Pemerintah, maka diharapkan semua proses, dari awal sampai akhir
dapat berjalan efektif tanpa adanya timbul perbedaan persepsi hukum,
teknis dan finansial.

Regulasi yang berhubungan dengan tarif jual listrik dari pembangkit


listrik sering mengalami perubahan, untuk jenis energi yang sama.
Sehingga disarankan calon pengembang proyek untuk melakukan cek
ulang terhadap tarif terkini yang berlaku.

Regulasi Pemerintah tentang energi baru terbarukan meliputi:

3.1 Peraturan dan Perijinan dari Pemerintah Pusat

3.1.1 Jenis Energi yang Dapat Dikategorikan Energi Baru Terbarukan


Yaitu Peraturan Pemerintah No 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi
Nasional. Informasi penting dari peraturan ini jenis-jenis energy, yaitu
energi baru dan energi terbarukan. yang termasuk energi baru adalah
nuklir, hidrogen, coal bed methane, liquified coal, dan gasifikasi
batubara. Sedangkan yang termasuk energi terbarukan adalah
bioenergi, angin, sinar matahari, aliran dan terjunan air, panas bumi,
gerakan dan perbedaan lapisan laut. Calon pengembang proyek yang
berencana mengembangkan suatu jenis energi tertentu yang unik, perlu
memastikan apakah energi tersebut termasuk dalam peraturan
Pemerintah ini. Jika tidak, ada kemungkinan pengembangan proyek
tersebut kurang berjalan lancar.

3.1.2 Perijinan Usaha Ketenagalistrikan


Sebelum tahun 2014, Ijin Usaha Ketenagalistrikan dikeluarkan langsung
oleh Kementerian ESDM. Namun kemudian ijin tersebut dilimpahkan ke
BKPM melalui Permen ESDM No 35 Tahun 2014 tentang Pendelegasian
Wewenang Pemberian Izin Usaha Ketenagalistrikan Dalam Rangka
Pelaksanaan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kepada Kepala Badan
Koordinasi Penanaman Modal yang meliputi ijin usaha penyediaan
tenaga listrik, izin operasi, penetapan wilayah usaha, izin usaha jasa
penunjang tenaga listrik, Izin Jual Beli Tenaga Listrik Lintas Negara,
Penugasan Survei Pendahuluan Panas Bumi, Izin Panas Bumi,
Bab III Regulasi dan Perijinan Proyek EBT

Persetujuan Usaha Penunjang Panas Bumi; dan Izin Penggunaan Gudang


Bahan Peledak Panas Bumi.

Untuk perijinan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik, persyaratan yang


diperlukan beserta jangka waktu yang diperlukan sebagai berikut:

Tabel 3-1 Persyaratan Perijinan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (Sumber: BKPM)

3.1.3 Tarif Harga Beli Listrik dari EBT dan Prosedur Proses Pengadaan
Permen ESDM No 50 tahun 2017 tentang pemanfaatan sumber energi
terbarukan untuk penyediaan tenaga listrik. Permen ini mengatur tarif
jual listrik dari pembangkit listrik energi terbarukan. Tarif yang
digunakan adalah 85% dari Biaya Pokok Pembangkitan listrik setempat.

Selain itu juga ada Permen ESDM no. 49 tahun 2017 tentang Isi utama
dari perjanjian jual beli tenaga listrik. Penjelasan tentang ketentuan
utama dalam perjanjian jual beli listrik.

3.1.4 Regulasi tentang Persentase Kepemilikan Saham oleh Asing di


Pembangkit Listrik
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2016 Tentang
Daftar Bidang Usaha yang Tertutup Dan Bidang Usaha yang Terbuka
Dengan Persyaratan Di Bidang Penanaman Modal. Menjelaskan tentang

32
Bab III Regulasi dan Perijinan Proyek EBT

batasan kepemilikan asing dalam pembangkit listrik. Untuk pembangkit


listrik kapasitas 1-10 MW, maksimal kepemilikan asing adalah 49%, dan
untuk kapasitas di atas 10 MW maksimal 95%.

Perijinan Lingkungan hidup:

• Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2012


Tentang Izin Lingkungan
• Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 16 tahun 2012
tentang Pedoman Penyusunan Dokumen Lingkungan

Untuk proyek sampai dengan 10 MW, cukup diperlukan UKL/UPL (Upaya


Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan),
sedangkan di atas 10 MW membutuhkan Amdal (Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan Hidup).

Tujuan AMDAL adalah sebagai berikut:


▪ Sebagai bahan bagi perencanaan pembangunan wilayah,
▪ Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan
lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan
▪ Memberi masukan untuk penyusunan desain rinci teknis dari
rencana usaha dan/atau kegiatan
▪ Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang
ditimbulkan dari suatu rencana usaha dan atau kegiatan

Dokumen AMDAL terdiri dari:


• Dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup
(KA-ANDAL)
• Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL)
• Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL)
• Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL)

Dalam kajian lingkungan, bahasan yang menjadi kriteria dampak penting


antara lain:
▪ besarnya jumlah penduduk yang akan terkena dampak kegiatan
pembangkit listrik
▪ daerah penyebaran dampak;
▪ intensitas dan lamanya dampak lingkungan berlangsung;
▪ Jumlah komponen lingkungan hidup lain yang akan terkena
dampak;
▪ sifat kumulatif dampak;

33
Bab III Regulasi dan Perijinan Proyek EBT

Kewajiban UKL-UPL diberlakukan bagi kegiatan yang tidak diwajibkan


menyusun AMDAL dan dampak kegiatan mudah dikelola dengan
teknologi yang tersedia.

Contoh dampak lingkungan yang perlu dievaluasi pada deskripsi


Pengelolaan Limbah pembangkit listrik diantaranya: pengelolaan limbah
cair, padat, emisi udara, tingkat kebisingan, kondisi lingkungan bekerja.
Perizinan yang perlu dilengkapi untuk dalam penyusunan UKL dan UPL
adalah sebagai berikut:
▪ KTP Penanggung Jawab (biasanya pemilik usaha)
▪ Surat Keterangan Rencana Kota (SKRK/Advice Planning) *
▪ IMB dan Lampiran Gambar IMB
▪ Bukti Kepemilikan Tanah (SHM, SHGB)
▪ Denah Bangunan Kegiatan Usaha
▪ Akta Pendirian Badan Hukum (PT, CV)
▪ NPWP

3.1.5 Regulasi Insentif Pajak untuk Proyek EBT


Peraturan Menteri Keuangan Nomor 176/PMK.011/2009 tentang
Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Mesin Serta Barang Dan Bahan
Untuk Pembangunan Atau Pengembangan Industri Dalam Rangka
Penanaman Modal

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 35/PMK.010/2018 Tentang


Pemberian Fasilitas Pengurangan Pajak Penghasilan Badan.
Pembebasan PPh Badan selama 5-15 tahun, untuk proyek dengan nilai
investasi minimal 500 miliar rupiah.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2007 tentang


Barang Kena Pajak. yang Dibebaskan Dari Pengenaan Pajak
Pertambahan Nilai adalah impor mesin proyek EBT dibebaskan dari PPn.

3.2 Perijinan dari Pemerintah Daerah

Pemda memiliki perijinan atau surat rekomendasi tambahan yang harus


dipenuhi. Jenis ijin tersebut dapat berbeda antara satu daerah dengan
lainnya. Calon pengembang proyek perlu mengecek ulang jenis perijinan
dan surat rekomendasi yang berlaku di suatu daerah. Selain itu,
disarankan agar calon pengembang mencari informasi ke proyek yang
sudah berjalan, atau asosiasi suatu energy, mengenai tingkat kesulitan
mendapatkan ijin dari Pemda setempat.

34
Bab III Regulasi dan Perijinan Proyek EBT

Contoh ijin yang berasal dari daerah adalah Ijin Prinsip/Ijin Penanaman
Modal.

Ijin Prinsip adalah Ijin utama yang harus didapatkan sebelum memulai
aktivitas lain dari suatu tahap pengembangan proyek. Ijin ini dikeluarkan
oleh BKPM atau oleh Pemda setempat. Jika pengembang proyek
beruntung, maka dapat memperoleh Ijin prinsip dari Pemda dengan
gratis. Namun tidak jarang diperlukan kompensasi tertentu untuk
mendapatkan ijin tersebut, terlebih lagi jika ada lebih dari suatu peminat
proyek untuk suatu lokasi yang sama.

Ijin atau surat lain yang diperlukan dari Pemda setempat diantaranya:

• Surat rekomendasi Gubernur untuk dukungan memulai suatu


proyek
• Keputusan Bupati tentang Pemberian Izin Lokasi Untuk
Pembangunan Pembangkit Listrik
• Risalah Pertimbangan Teknis Pertanahan Dalam Penerbitan Izin
Lokasi
• Surat Izin Persetujuan Prinsip Survei Lokasi
• Surat Rekomendasi Kesesuaian RTRW
• Surat Ijin penggunaan air tanah (untuk volume besar seperti
proyek biomassa, PLTA)
• Ijin Mendirikan Bangunan
• Ijin Gangguan (HO)
• Jika rencana menggunakan kawasan hutan, maka dibutuhkan:
- Rekomendasi Gubernur tentang Izin Pinjam Pakai
Kawasan Hutan Untuk Kegiatan Pembangunan (jika
menggunakan kawasan hutan)
- Rekomendasi Bupati tentang Pembangunan
Pembangkit Listrik (jika menggunakan kawasan hutan)
- Rekomendasi Bupati tentang Izin Pinjam Pakai Kawasan
Hutan

35
Bab III Regulasi dan Perijinan Proyek EBT

Kotak Informasi 5 Konsistensi Regulasi Pemerintah Uruguay


di bidang energi memberikan hasil besar

Konsistensi Regulasi Pemerintah Uruguay


di Bidang Energi Memberikan Hasil Besar
Uruguay bukan negara yang memiliki kemampuan mumpuni dalam
industri berat, seperti Cina, India, Jepang, dan bukan juga negara yang
terkenal dengan hasil penelitian teknologi. Perekonomian Uruguay
ditandai oleh sektor pertanian berorientasi ekspor dan angkatan kerja
terdidik, bersama dengan tingkat konsumsi yang tinggi. Produk ekspor
negara tersebut adalah daging sapi, kedelai, selulosa, beras, gandum,
kayu, produk susu, wol.

Uruguay tidak memiliki sumber bahan bakar fosil yang besar, sehingga
mayoritas diimpor. Menyadari bahwa mereka tidak dapat mengandalkan
energi impor fosil, maka di tahun 2008 disusun kebijakan energi yang
lebih mandiri dan konsisten, untuk kemudian diterapkan mulai tahun
2010.

Dalam hal pemanfaatan energi, Pemerintah Uruguay melakukan langkah


konsisten jangka panjang, yaitu mengurangi konsumsi bahan bakar fosil,
untuk digantikan bahan bakar ramah lingkungan seperti angin, surya,
biomassa, dan biofuel.

Investasi domestik dan asing di sektor energi Uruguay meningkat hampir


70 kali lipat antara 2010 dan 2014 (lihat Gambar di bawah), dengan
proyek-proyek angin dan matahari yang menarik investasi terbanyak.
Investasi total energi bersih Uruguay mencapai sekitar $ 1, 2 miliar pada
tahun 2014, memeringkatnya sebagai salah satu dari lima negara teratas
dengan investasi terbesar dalam energi terbarukan dan bahan bakar per
unit PDB.

Dalam waktu kurang dari 10 tahun, negara itu telah memangkas emisi
karbon dan menurunkan biaya listrik, tanpa subsidi pemerintah.
Kekuatan pendorong di balik diversifikasi sektor energi Uruguay adalah
keinginan untuk keamanan energi dan kemandirian.

36
Bab III Regulasi dan Perijinan Proyek EBT

Gambar 3.1 Pertumbuhan investasi EBT di Uruguay

Agar tercapai pertumbuhan penggunaan energi terbarukan yang


kontinu, dibutuhkan regulasi yang konsisten dan lengkap. Hanya dengan
menaikkan tarif beli listrik dari energi terbarukan tidak akan membuat
pemanfaatannya berkembang pesat. Diperlukan kebijakan pendukung
lain, seperti:

• Regulasi untuk mengatur dan mengembangkan ketersediaan sumber


energi terbarukan, dalam hal jumlah dan harga, dalam jangka waktu
panjang.
• Regulasi agar penjual dan pembeli listrik energi bersih dapat menikmati
keuntungan yang wajar
• Capacity building dari para stakeholder
• Bantuan pendanaan, terutama untuk pengembang proyek dalam negeri
• Perijinan yang mudah diakses

37
4Bab IV Ragam Energi Terbarukan

P emanfaatan energi terbarukan secara global terus mengalami


peningkatan. Pada gambar berikut, dapat diketahui bahwa energi
terbarukan telah mencapai 26.5% dari total konsumsi energi di
dunia. Energi air memiliki persentase terbesar, mengingat pengalaman
penerapan teknologi ini telah mencapai puluhan tahun. Kemudian diikuti
dengan energi angin serta biopower dan energi surya. Beberapa jenis
teknologi yang baru berkembang seperti teknologi energi laut (ocean),
CSP mulai menunjukkan perkembangan di beberapa negara.

Gambar 4-1 Produksi energi listrik berdasarkan jenis energi (REN21, 2018)

Dalam upaya pemanfaatan energi terbarukan, calon pengembang


proyek perlu mengenal tentang jenis energi yang akan digunakan. Setiap
jenis energi bersih ini memiliki tantangan yang unik, yang masing-masing
memiliki kekurangan dan kelebihan. Pemahaman yang baik akan jenis
energi dan potensi yang ada, merupakan langkah awal untuk
memastikan pembangkit listrik yang dibangun beroperasi sesuai dengan
rencana.

Tiap jenis teknologi energi terbarukan, memiliki pengalaman operasional


yang berbeda. Ada yang sudah ratusan tahun, dan ada yang masih dalam
tahap riset namun sudah mulai untuk masuk ke pasar komersial. Pada
penjelasan selanjutnya juga dijelaskan tingkat proven masing-masing
energi.

Selain itu, tantangan yang dihadapi, tidak hanya dalam hal pemilihan
berbagai jenis teknologi, namun juga pada keseluruhan proses bisnis
yang harus dijalani sehingga proyek dapat beroperasi secara komersial
sesuai jadwal yang dalam kontrak jual beli listrik dengan PLN.
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-2 PLTBm Growth Asia 2 x 15 MW, di Medan. Boiler yang digunakan
produksi dalam negeri oleh PT. Super Andalas Steel (Foto oleh Duncan)

4.1 Biomassa

Biomassa adalah semua material organik yang berasal dari makhluk


hidup, termasuk produk utama maupun produk samping dari pertanian,
kehutanan, industri dan limbah rumah tangga. Biomassa hanya meliputi
makhluk hidup dan makhluk hidup yang baru saja mati. Pengertian
biomassa tidak mencakup material organik yang telah mati jutaan tahun
dan telah mengalami proses geologi seperti halnya batubara dan minyak
bumi (Wu et al 2009). PLTBiomassa menggunakan biomassa dalam
bentuk padat sebagai bahan bakar, sedangkan bahan baku biomassa cair
digunakan pada PLTBiogas

Sebagai salah satu sumber energi yang terbarukan dan berkelanjutan,


biomassa tumbuh-tumbuhan secara kontinu terbentuk dari interaksi
antara CO2, udara, air, tanah dan sinar matahari dengan tanaman dan
hewan.

40
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-3 Komponen-komponen yang berperan dalam photosynthesis


tumbuhan

Di dalam proses photosynthesis, tanaman mengubah energi radiasi dari


matahari menjadi energi kimia dalam bentuk glukosa. Adapun proses
reaksi kimia photosynthesis dapat digambarkan sebagai berikut:

Ketika biomassa dibakar dalam proses konversi thermal, kandungan


karbon di dalam biomassa akan beraksi dengan oksigen sehingga
terbentuk CO2 sebagai emisi udara. Kemudian CO2 tersebut akan diserap
oleh tumbuhan-tumbuhan di dalam proses photosynthesis. Jika jumlah
karbon yang diserap tanaman sama dengan karbon yang dilepaskan ke
udara selama proses pembakaran, maka dapat dikatakan bahwa tidak
terjadi penambahan emisi CO2 di udara. Hal ini disebut sebagai zero
carbon emission.

4.1.1 Sumber-sumber Biomassa


Biomassa memiliki berbagi macam sumber yang luas. Secara umum,
sumber tersebut dapat berasal dari:

• Pertanian dan perkebunan: biji-bijian, ampas tebu, tongkol jagung,


jerami, sekam, cangkang sawit dan kotoran hewan
• Kehutanan: batang kayu, ranting, kulit kayu, dan limbah
penggergajian kayu.
• Sampah rumah tangga (Municipal Solid Waste, MSW): sisa makanan,
bungkus makanan, limbah kertas, limbah septic tank.
• Tanaman laut: alga dan ganggang.

41
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-4 Sumber biomassa yang berasal dari hutan dan industri pengolahan

Biomassa sebagai bahan bakar, selain dapat diperoleh dari hutan seperti
gambar di atas, juga dapat dibeli dari pemilik perkebunan. Negara Eropa
barat dan Jepang bahkan mengimpor biomassa dari Asia untuk
menyuplai kebutuhan mereka.

Komposisi komponen penyusun biomassa terdiri dari berbagai variasi


jumlah kandungan utama, yaitu dari cellulose, hemicelluloses, lignin dan
sejumlah kecil lipid, protein, gula, dan karbohidrat. Selain komponen
organik, biomassa juga tersusun atas komponen air dan anorganik
seperti sodium, phosphorous, calcium dan iron.

Komponen yang terpenting dari biomassa adalah yang berhubungan


dengan proses pembakaran, yaitu karbon, hidrogen dan volatile matter
(gas hydrocarbon). Semakin banyak unsur tersebut, maka panas hasil
pembakaran yang dihasilkan semakin besar. Seperti halnya bahan bakar
padat lain, kandungan air dan abu menjadi komponen yang merugikan
dalam pembakaran, karena mengurangi atau menghalangi perpindahan
panas dari biomassa ke reaktor. Woodchip dengan kandungan air di atas
40% cenderung berharga lebih murah.

42
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-5 Komponen penyusun biomassa

4.1.2 Jenis-jenis Biomassa


Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa biomassa berasal dari
berbagai sumber. Namun, berdasarkan struktur fisik dan kimia yang
menyusun badan utama, biomassa dapat dikelompokkan menjadi empat
jenis (Stuart, 2013). Pengelompokan ini nantinya akan berpengaruh
terhadap proses pre-treatment, metode penyimpanan dan proses
konversi thermal menjadi energi.

Gambar 4-6 Contoh produk biomassa dari kehutanan, pertanian dan perkebunan.

Adapun jenis biomassa antara lain:

4.1.2.1 Biomassa Ligno-cellulosic


Mayoritas dari biomassa yang berasal dari tumbuh-tumbuhan adalah
ligno-cellulosic (Tabil, 2011). Material ini memiliki serat (fibre).

43
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Komponen utama penyusun biomassa jenis ini adalah cellulose,


hemicelluloses, dan lignin. Cellulose merupakan komponen terbesar
penyusun lignocellulosic, yang kemudian diikuti oleh hemicelluloses dan
lignin. Tidak seperti biomassa jenis lain yang kaya akan kandungan gula,
ligno-cellulose tidak mudah dicerna oleh manusia. Ligno-cellulosic
biomassa bukan merupakan bagian dari rantai makanan manusia. Tiap
jenis tanaman memiliki komposisi komponen penyusun yang berbeda.

Gambar 4.6 Struktur dinding cell biomassa ligno-cellulosic

Contoh dari biomassa ligno-cellulosic adalah tanaman kayu, merupakan


tanaman berpembuluh, yang tumbuh di atas tanah dan diselimuti oleh
kulit yang tebal. Komponen utama penyusun tanaman kayu adalah
cellulose dan lignin.

44
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-7 Contoh biomas lignosellulosic: padi, gandum, pohon

4.1.2.2 Biomassa Karbohidrat dan gula


Berbeda dengan biomassa ligno-cellulosic, biomassa karbohidrat dan
gula dapat dicerna manusia. Dikarenakan sifatnya yang lebih mudah
larut, biomassa jenis ini lebih mudah untuk menghasilkan bahan bakar
cair melalui proses fermentasi. Contoh dari biomassa ini adalah buah-
buahan, hasil perkebunan seperti jagung, buah sawit, kelapa, singkong.
Jadi pada suatu tanaman perkebunan, batang, ranting, daun, kulit
batang dan akar dikategorikan biomassa ligno-cellulosic, sedangkan
buah pada tanaman tersebut termasuk kategori biomassa karbohidrat
dan gula.

Gambar 4.8 Biomassa Karbohidrat dan gula (ubi dan kentang)

45
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

4.1.2.3 Biomassa penghasil minyak dan lemak


Biomassa jenis ini memiliki kandungan lemak dan minyak di dalam buah
atau bijinya. Komponen utama dari lemak dan minyak adalah asam
lemak tri-ester dan glycerin. Minyak dan lemak merupakan bahan utama
makanan, bahan baku industri dasar, dan minyak nabati. Minyak yang
dihasilkan pada biomassa ini digunakan sebagai pencampur atau
pengganti minyak diesel. Serupa dengan biomassa karbohidrat dan gula,
buah dari biomassa jenis ini digunakan sebagai bahan baku minyak
nabati, sedangkan ampas dari buah tersebut, batang, ranting, daun, kulit
batang dan akar dikategorikan biomassa ligno-cellulosic.

Gambar 4-8 Buah sawit dan jarak

4.1.2.4 Biomassa Sampah (Waste)


Sampah atau limbah merupakan biomassa sekunder, yang berasal dari
biomassa primer (pohon, buah-buahan, daging) setelah melewati
beberapa tahap produksi atau pemakaian. Sampah rumah tangga
merupakan sumber utama biomassa jenis ini, dan merupakan produk
energi terbarukan, seperti kertas, sisa kayu olahan. Sampah non-energi
terbarukan seperti plastik, gelas dan metal tidak dapat digolongkan ke
dalam biomass.

Dalam proses pemanfaatan biomassa limbah menjadi energi listrik,


komponen yang mengandung material organik dapat diolah menjadi
bahan bakar yang lebih padat dan memiliki kandungan air lebih rendah,
yang disebut Refused Derived Fuel (RDF). Sumber limbah yang lainnya
adalah limbah pengolahan kayu, limbah septic tank dan sisa-sisa industri
yang mengandung material organik.

46
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-9 Pengaturan tumpukan sampah di TPA

4.1.3 Teknologi Konversi Energi Biomassa


Proses pemanfaatan energi kimia yang terkandung di dalam biomassa
menjadi energi alternatif lainnya meliputi berbagai tahapan. Di samping
pilihan teknologi yang akan dipakai, penggunaan akhir dari energi dan
kebutuhan infrastruktur penunjang pun perlu diperhatikan. Secara
umum, kriteria utama untuk pemilihan teknologi konversi biomassa
adalah:

• Jenis dan jumlah biomassa feedstock


• Bentuk energi akhir yang diinginkan
• Standar lingkungan
• Pencapaian target finansial proyek
• Tujuan khusus lain dari suatu proyek, seperti untuk mendapatkan
carbon credit

Berbeda dengan jenis energi terbarukan lainnya, yang hanya memiliki


satu jenis penggunaan akhir energi, pemanfaatan energi dari biomassa
dapat beragam, antara lain:

• Bahan bakar untuk pembangkit listrik


• Bahan bakar untuk transportasi
• Bahan baku untuk industri kimia, seperti pembuatan amoniak,
etanol.

47
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-10 Proses konversi energi pada bioenergi

Dari gambar di atas, dapat diketahui bahwa secara umum, proses


konversi biomassa menjadi energi menggunakan tiga proses utama,
yaitu:

• konversi thermochemical. Pada teknologi thermochemical, terdapat


empat jenis teknologi, yaitu combustion, gasifikasi, pyrolysis, dan
liquefaction.
• konversi biochemical. Untuk proses biochemical, terdiri dari dua
teknologi, yaitu digestion dan fermentation
• mechanical extraction (dengan esterification).

Biomassa yang banyak mengandung lignin, cellulose dan hemicelluloses,


lebih mudah dan efektif diproses dengan teknologi thermochemical,
sedangkan teknologi biochemical lebih mudah untuk mengonversi
biomassa yang mengandung gula dan karbohidrat.

48
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

4.1.3.1 Teknologi Konversi Thermochemical


Pyrolysis

Pyrolysis adalah proses penguraian atau dekomposisi thermal tanpa


menggunakan oksigen atau dalam suplai yang sangat sedikit, yang
menghasilkan produk char (karbon dalam bentuk arang), gas dan
minyak. Pada proses ini, molekul kompleks hidrokarbon dipecah menjadi
molekul yang lebih kecil. Proses dekomposisi ini sebagian terjadi pada
reaksi homogen fase gas dan sebagian lagi terjadi pada fase gas solid
heterogen.

Gambar 4-11 Produk pyrolysis

a. Produk Pyrolysis
Produk pyrolysis dapat dikelompokkan sebagai berikut:
• Solid
(komposisi mayoritas 85% char atau karbon, dapat juga
berikatan dengan oksigen dan hidrogen). Nilai kalor yang
dihasilkan mencapai maksimal 7600 Kcal/Kg.
• Liquid
(tar atau bio-oil, hidrokarbon berat, dan 20% air). Bio-oil terdiri
campuran hidrokarbon kompleks yang mempunyai kandungan
besar oksigen dan air. Nilai kalor yang dihasilkan mencapai
maksimal 4300 Kcal/Kg.

49
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-12 Bio-oil dan bio-oil yang telah dimurnikan


(Sumber: Rogerindustrialoils)

• Gas

Gas (yang dihasilkan dapat berupa condensable gas maupun non-


condensable gas). Condensable gas akan terkondensasi setelah
melalui tahapan pendinginan, yang kemudian akan menyatu
dengan produk cair pyrolysis lainnya. Gas non condensable terdiri
dari gas molekul ringan seperti CO2, CO, CH4. Gas ini juga disebut
gas primer dan tidak akan terkondensasi ketika mengalami
pendinginan. Gas non condensable lainnya, yaitu gas sekunder,
berasal dari proses cracking dari uap hydrocarbon. Nilai kalor LHV
yang dihasilkan dapat mencapai 4300 Kcal/m 3 untuk gas primer
dan 4700 Kcal/m3 untuk gas sekunder.

b. Combustion (Pembakaran)

Combustion adalah suatu reaksi kimia oksidasi eksothermis pada


komponen organik karbon, hidrogen, sulfur dengan oksigen yang
menghasilkan panas sebagai produk utama dan ash(abu) sebagai residu.
Proses ini terjadi pada temperatur sekitar 800-1200 ⁰C.

Reaksi kimia yang terjadi di dalam proses combustion:

Pada prinsipnya, di dalam proses combustion terjadi empat tahapan


utama, yaitu: heating and drying, solid particle pyrolysis, dan char
combustion. Gambar 4-13 menunjukkan proses detail yang terjadi.

50
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-13 Tahapan proses pembakaran pada biomass

Selama proses combustion tersebut, terjadi peningkatan temperatur


secara bertahap untuk setiap proses, yang dimulai dari temperatur
terendah pada proses heating dan drying, kemudian mencapai suhu
tertinggi untuk proses combustion.

Gambar 4-14 Komponen Utama Pembangkit Biomass, Hurst Grate Boiler

51
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-15 Proses di furnace boiler reciprocating grate


(Wellons group of companies)

c. Gasifikasi

Gasifikasi adalah konversi bahan bakar padat atau cair dalam suatu
reaksi parsial oksidasi untuk menjadi bahan bakar gas, yang disebut
syngas atau gas producer. Syngas ini kemudian dapat dibakar untuk
menghasilkan energi atau sebagai bahan baku untuk reaksi kimia lebih
lanjut, sehingga mempunyai nilai tambah. Disebut parsial oksidasi karena
reaksi yang ada terjadi dalam kondisi minim oksigen.

Gasifikasi dan combustion adalah dua proses konversi thermal yang


memiliki kemiripan, yaitu dalam hal kebutuhan akan oksidan, seperti
misalnya oksigen. Namun, pada gasifikasi, udara yang dibutuhkan lebih
kecil dibandingkan stoichiometric ratio. Pada proses gasifikasi juga
terjadi reaksi combustion. Perbedaan utama pada produk yang
dihasilkan adalah gasifikasi menyimpan energi di dalam ikatan kimia dari
gas yang dihasilkan, sedangkan combustion memecah ikatan kimia untuk
menghasilkan energi. Sehingga gas yang dihasilkan dari proses gasifikasi
memiliki temperatur lebih rendah dibandingkan gas hasil pembakaran
boiler.

Proses gasifikasi menambahkan hidrogen dan memisahkan karbon dari


bahan bakar yang diolah, sehingga dihasilkan gas dengan rasio hydrogen
to carbon (H/C) lebih tinggi, sementara combustion meng-oksidasi
hidrogen dan karbon menjadi air dan karbondioksida. Perbedaan produk
hasil combustion dan gasification dapat dilihat pada Tabel 4-1.

52
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Tabel 4-1 Perbedaan produk dari combustion dan gasification

Gambar 4-16 Biomassa gasifier tipe downdraft

Gambar 4-17 Biomassa gasifier (AHT)

53
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Secara umum, pada proses gasifikasi sendiri yang terjadi di dalam


gasifier, terjadi tahapan sebagai berikut:

Gambar 4-18 Proses gasifikasi

4.1.3.2 Aplikasi teknologi konversi thermochemical


Proses konversi biomassa menjadi energi dengan teknologi combustion
digunakan pada boiler untuk menghasilkan uap. Uap ini kemudian
dialirkan ke turbin uap untuk memutar turbin yang sudah terkopling
dengan generator, sehingga diperoleh output listrik dari perputaran
generator.

Pada teknologi pyrolysis atau gasifikasi, umumnya syngas yang


dihasilkan dialirkan ke gas engine untuk kemudian dibakar sehingga
menghasilkan energi penggerak piston. Perputaran piston ini digunakan
untuk menggerakkan generator sebagai penghasil listrik. Pada aplikasi
lain, syngas digunakan sebagai bahan bakar pada, turbin gas, boiler atau
fuel cell.

Teknologi Konversi Biochemical Anaerobic Digestion

Proses anaerobic digestion menghasilkan gas sebagai bahan bakar yang


disebut biogas. Prinsip dasar teknologi ini adalah proses penguraian
bahan-bahan organik oleh mikroorganisme dalam kondisi tanpa oksigen
(anaerob) untuk menghasilkan campuran dari beberapa gas, seperti
methane dan CO2. Umumnya biogas diproduksi dengan menggunakan
alat yang disebut digester yang didesain hampa udara, sehingga proses
penguraian mikroorganisme dapat menjadi lebih optimal (Sri wahyuni,
2011).

Komposisi biogas yang dihasilkan dengan proses anaerobic seperti pada


tabel berikut. Selama proses pembentukan biogas, mikroorganisme

54
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

membantu proses fermentasi bahan organik hingga terbentuk biogas


dikenal dengan sebutan bakteri metanogenik. Bakteri ini berfungsi
merombak bahan organik dan menghasilkan gas methane dalam kondisi
anaerobic. Umumnya, bakteri metanogenik terdapat secara alami di
kotoran ternak atau manusia. Selain terkandung di kotoran, bakteri ini
juga dapat berupa bakteri metanogenik cair dan padat yang
ditambahkan ke dalam bahan organik. Penambahan ini bertujuan untuk
mempercepat proses perombakan dan pembentukan biogas. Tahapan
proses yang terjadi untuk menghasilkan biogas dapat dilihat pada
gambar di bawah ini.

Gambar 4-19 Tahapan utama pada proses anaerobic digestion

55
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Tabel 4-2 Beberapa sifat dari biogas (Deublein, D, Steinhauser, A; 2008)

Gambar 4-20 Contoh bakteri yang digunakan dalam pembentukan biogas

56
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Tahapan reaksi pembentukan biogas

1. Tahapan Disintegration (pemisahan)

Senyawa kompleks dipecah menjadi organik polymer seperti


karbohidrat, protein dan lipid (lemak).

2. Tahapan Hidrolisis

Tahapan ini juga diartikan sebagai perubahan struktur bentuk


polymer menjadi monomer. Senyawa-senyawa monomer hasil
penguraian diantaranya senyawa asam organik, glukosa, etanol, CO2
dan hidrokarbon. Biasanya, senyawa tersebut dimanfaatkan oleh
bakteri yang melakukan fermentasi sebagai sumber karbon dan
energi.

Gambar 4-21 Proses hidrolisis

3. Tahapan pengasaman Acidogenesis

Senyawa sederhana (komponen monomer) yang terbentuk dari


tahapan hidrolisis dijadikan sumber energi bagi bakteri pembentuk
asam dan terurai. Bakteri tersebut menghasilkan senyawa asam
rantai pendek, seperti asam asetat, asam propionat, asam butirat
dan asam laktat, serta produk sampingan berupa alkohol, CO2,
hidrogen dan amonia. Tahapan ini juga disebut fermentasi.

57
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-22 Proses pengasaman

4. Tahapan pengasaman acetogenesis

Asam lemak volatile yang terbentuk pada proses sebelumnya: asam


asetat, asam propionat, asam butirat dan asam laktat, diubah
menjadi asam acetic, karbondioksida dan hidrogen oleh bakteri
acetogenesis.

5. Tahapan Metanogenesis

Bakteri metanogen seperti methanococus, methanosarcina, dan


methano bacterium mengubah produk lanjutan dari tahapan
pengasaman menjadi metan, karbodioksida dan air yang merupakan
komponen penyusun biogas.

Aplikasi Biogas

Biogas yang dihasilkan dapat digunakan sebagai bahan bakar pada


mesin piston untuk menghasilkan listrik, baik skala kecil mini genset
ataupun skala besar seperti pada gas engine. Aplikasi lainnya yaitu pada
peralatan rumah tangga, seperti sebagai bahan bakar kompor gas dan
lampu biogas.

58
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-23 Biogas sebagai bahan bakar untuk kompor gas dan lampu

Kelebihan dan kelemahan biomassa

Sebagai sebuah sumber energi terbarukan, biomassa memiliki kelebihan


dan kekurangan. Keterangan di bawah ini menjelaskan beberapa hal
tersebut.

Kelebihan biomassa:

• Memiliki kandungan yang rendah untuk ash (abu), dan sulfur


• Memiliki kandungan volatile matter (gas hidrokarbon) yang tinggi,
sehingga menghasilkan reaktivitas yang baik selama proses konversi
thermal.
• Jika di-blending dengan batubara dapat mengurangi emisi dan
menghemat biaya produksi
• Tersedia berbagai pilihan teknologi konversi biomassa
• Dapat disimpan dalam berbagai bentuk
• Dapat disimpan lama dan dipergunakan ketika dibutuhkan

Kelemahan biomassa:

• Energy density yang rendah yang berakibat biaya transportasi dan


penyimpanan lebih mahal
• Biomassa jenis sampah memiliki masalah bau dan limbah cair dalam
proses pembuangan
• Manajemen suplai yang lebih sulit ketimbang bahan bakar fosil.
• Meskipun jenis biomassa yang dapat dimanfaatkan banyak, namun
masing-masing memiliki variasi unsur kimia yang dapat berbeda,
seperti kandungan air, sodium, potasium, klorin dan abu.

Dengan pendekatan manajemen dan teknis yang baik, kelemahan dalam


memanfaatkan biomassa sebagai bahan bakar dapat diatasi.

59
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

4.1.4 Perkembangan Teknologi Konversi Biomass


a. Combustion (pembakaran)

Teknologi ini sudah lama digunakan dan terbukti handal. Tersedia


berbagai tipe teknologi combustion, dengan variasi efisiensi dan bahan
bakar. Penerapannya, mulai dari yang sederhana, yaitu kompor
biomassa, sampai dengan skala besar untuk keperluan pembangkit
listrik. Kemiripan teknik pengoperasian dengan PLTU batubara
membuatnya mudah dipahami dengan baik. Tren perkembangan
teknologi combustion adalah bagaimana mampu menangani biomassa
yang sulit dibakar dan upaya untuk menghasilkan pengoperasian dengan
efisiensi lebih tinggi.

Gambar 4-24 PLTBiomassa dengan bahan bakar kayu

b. Pyrolysis

Teknologi Pyrolysis, telah lama digunakan secara komersial. Proses


pembuatan arang adalah salah satu contoh yang paling sering digunakan
masyarakat. Hal yang menarik dari teknologi ini adalah kemampuannya
untuk menghasilkan tiga jenis bahan bakar, yaitu padat cair dan gas
dengan sekali proses. Untuk pemanfaatan di pembangkit listrik,
pyrolysis kalah populer dibandingkan dengan teknologi combustion
ataupun gasifikasi. Tren perkembangan riset pyrolysis difokuskan untuk
menghasilkan bahan bakar cair yang aman untuk dapat digunakan pada
kendaraan bermotor.

60
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-25 BTG Pyrolysis plant

c. Gasifikasi

Penelitian dan Pemanfaatan teknologi ini telah dimulai pada awal tahun
1900-an. Namun dengan ditemukannya gas alam di tahun 1940-an, yang
mana biaya produksi dan nilai kalor lebih tinggi dibandingkan syngas
sebagai produk dari gasifikasi, membuat popularitas gasifikasi meredup.
Seiring dengan kenaikan harga minyak di tahun 1980-an, orang mulai lagi
melirik gasifikasi sebagai alternatif teknologi penghasil energi.

Dari Gambar 4-26 dapat dilihat bahwa gasifikasi tidak hanya digunakan
untuk menghasilkan bahan bakar untuk keperluan pembangkit listrik,
namun juga syngas yang dihasilkan digunakan untuk keperluan industri
kimia, seperti untuk membuat bahan bakar cair yang digunakan pada
transportasi seperti metanol, etanol, ataupun amoniak untuk industri
pupuk.

Perkembangan dari teknologi gasifikasi adalah mulai banyak pabrikan


yang mampu memproduksi gasifier dengan kemampuan menghasilkan
syngas yang bersih dari kandungan material residu seperti tar. Tar
berwujud cair, kental, dan hitam, yang mengembun pada daerah
temperatur rendah gasifier, sehingga dapat menimbulkan penyumbatan
pada aliran gas.

61
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-26 Aplikasi gasifikasi tingkat lanjut:


Integrated Gasifikasi Combined Cycle

d. Biochemical

Saat ini teknologi konversi biochemical, yaitu anaerobic digestion banyak


digunakan untuk mengolah sisa-sisa biomassa dari aktivitas pertanian
dan perkebunan yang sudah tidak memiliki nilai lagi. Di perkebunan
sawit, limbah cair dari pabrik kelapa sawit dimanfaatkan untuk
menghasilkan methane dengan teknologi anaerobic digestion.

Gambar 4-27 Penampang lagoon PLTBiogas, sebagai tempat sumber biogas

62
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-28 Peralatan utama Pembangkit listrik biogas


(Sumber: fauziyusupandi)

Selain di bidang perkebunan sawit, bidang peternakan pun mulai gencar


mengolah kotoran ternak yang ada agar dapat dihasilkan biogas.
Umumnya, PLTBiogas yang memanfaatkan kotoran ternak kebanyakan
digunakan sebagai pembangkit listrik dalam program desa mandiri
energi. Jadi secara singkat dapat dikatakan, teknologi anaerobic
digestion, bermanfaat tidak hanya untuk menghasilkan bahan bakar
pada mesin, namun juga untuk membersihkan lingkungan dari kotoran
organik. Tabel di bawah ini menunjukkan perbandingan nilai kalor dari
biogas terhadap bahan bakar lainnya.

Tabel 4-3 Perbandingan panas hasil pembakaran dari biogas terhadap


bahan bakar lain (Golaszewski, University of Warmia, 2009)

63
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

4.1.5 Peluang dan Kendala Energi Biomassa


Peluang

Gambar 4-29 Potensi bionenergi Indonesia, sumber: Presentasi GIZ, 2018

Indonesia mempunyai potensi biomassa yang besar, seperti yang


tersebut pada gambar di atas yaitu dari grafik hasil riset GIZ tentang
potensi biomassa dan biogas di Indonesia. Selain teknologi yang sudah
proven, sudah ada beberapa produsen lokal yang mampu memproduksi
teknologi konversi biomassa untuk menjadi listrik, seperti misalnya
boiler.

Selain potensi yang tersebut di atas, biomassa juga dapat dihasilkan dari
pemanfaatan lahan yang tidak produktif, seperti misalnya lahan kering,
lahan bekas penebangan liar hutan. Lahan tersebut dapat ditanami
dengan pohon energi yang cepat tumbuh, dalam waktu kurang dari tiga
tahun dapat dipanen, seperti kaliandra dan lamtoro gung.

64
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Kendala

Pertama, belum ada harga standar untuk produk biomassa mentah.


Harga yang ada di pasaran cenderung mengikuti isu harga minyak bumi.
Belum ada satu pun produk biomassa yang terdaftar di bursa komoditi
dunia.

Kedua, pemilik perkebunan atau petani tidak ingin dikontrak jangka


panjang untuk menyuplai biomassa yang merupakan sisa dari produk
utama. Penyebabnya adalah, selain limbah tersebut dibutuhkan untuk
mereka sendiri sebagai bahan bakar, godaan jika ada tanaman
perkebunan\pertanian yang harganya melambung tinggi, menyebabkan
petani dapat sewaktu-waktu mengganti tanaman olahannya. Sehingga
dalam operasional PLTBm, biasanya menggunakan bahan bakar lebih
dari satu jenis, untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu
pemasok.

Ketiga, biomassa yang ramah terhadap mesin, dalam arti tidak


menimbulkan masalah banyak selama pengoperasian, harganya
cenderung mahal. Sedangkan biomassa dengan harga murah, seperti
misal rumput-rumputan, tandan kosong sawit, mempunyai tantangan
tersendiri dalam pengolahannya.

65
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-30 Memastikan agar proses pembakaran dapat berjalan maksimal


merupakan tantangan tersendiri dari boiler biomass, dengan biomassa dari
berbagai kualitas. Teknisi sedang memeriksa kualitas nyala api di ruang bakar
PLTBm

Gambar 4-31 PLTBm produksi dalam negeri, NW Industries,


mampu mengonsumsi biomass, mulai dari biomas kualitas tinggi
yaitu kulit pohon sampai dengan kualitas rendah yaitu alang-alang, rumput.

66
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-32 Sampah plastik diolah menjadi minyak diesel(solar)


www.wasteoiltodieseloil.com

4.2 Sampah

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) menggunakan sampah yang


dapat diolah untuk menghasilkan bahan bakar, baik berupa bahan bakar
gas maupun bahan bakar padat. Bahan bakar gas dari sampah dihasilkan
dari proses konversi disebut landfill gas, untuk kemudian dibakar pada
gas engine. Sedangkan jika diolah menjadi bahan bakar padat, disebut
refused derived fuel, dapat digunakan sebagai bahan bakar di boiler
incinerator untuk menghasilkan uap sebagai penggerak turbin.

Yang disebut sampah di sini adalah sampah yang berasal dari tempat
pembuangan sampah terpadu yang telah dikelola dengan baik oleh
Pemda selaku pemilik. Kegiatan pengumpulan dan pengangkutan
sampah dari perkampungan penduduk ada yang dilakukan oleh Pemda
dan ada juga oleh swasta. Pada proses yang modern, sampah setelah
dikumpulkan dari penduduk, kemudian dilakukan proses pemilahan,
yang bertujuan untuk memisahkan komponen sampah organik dan non
organik. Hanya Komponen sampah yang bermanfaat untuk
menghasilkan energi yang dimanfaatkan PLTSa, yaitu terdiri dari
komponen organik dan komponen non organik yang dapat terbakar.
Komponen organik dapat diolah sebagai sumber bahan bakar, baik
dengan teknologi landfill gas maupun konversi thermal. Sedangkan yang
non organik dapat terbakar, hanya dapat diolah dengan proses konversi
thermal.

67
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Tabel 4-4 menunjukkan komposisi sampah di Jakarta. Dapat dilihat


bahwa mulai tahun 1986 sampai dengan 2005 terjadi peningkatan nilai
kalor sampah. Semakin makmur suatu kota, maka sampah yang
dihasilkan akan mempunyai nilai kalor semakin besar. Untuk dapat
memanfaatkan sampah sebagai bahan bakar di Indonesia, calon
pengembang proyek wajib mendapatkan hak pengelolaan sampah di
TPA (Tempat Pembuangan Akhir Sampah) dari pemda setempat.

Tabel 4-4 Komposisi sampah dari tahun ke tahun

Teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik terbagi menjadi


dua, yaitu landfill gas dan konversi thermal.

4.2.1 Teknologi Konversi Energi sampah


4.2.1.1 Teknologi PLTSa Landfill gas
Proses konversi yang terjadi pada teknologi ini adalah anaerobic
digestion. Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, landfill
gas dihasilkan dari proses pembusukan sampah organik, yang sudah
tidak ekonomis jika diproses dengan thermal. Proses pembusukan
memanfaatkan bantuan bakteri pembusuk dalam keadaan bebas
oksigen (anaerob). Gas yang dihasilkan terdiri dari methane 65%,
karbondioksida 35% dan gas lain dalam jumlah kecil. Tabel 4-4
menampilkan detail komposisi landfill gas.

68
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

a. Jenis-jenis landfill gas (Rajaram, 2011)

• Hazardous waste landfill

Unit pembuangan sampah untuk keperluan ini didesain khusus


agar dapat menerima dengan aman sampah beracun dan
berbahaya. yang termasuk jenis limbah ini adalah limbah
radioaktif.

• Sanitary landfill

Sampah organik yang telah tertimbun di lokasi landfill, ditutup


dengan cover agar dapat terbebas dari oksigen. Kondisi bebas
oksigen ini akan mempercepat bakteri pembusuk untuk
melakukan proses dekomposisi yang menghasilkan gas
methane. Gas methane kemudian diekstrak dari landfill dengan
menggunakan serangkaian sumur dan blower system.

Gambar 4-33 Penampang Sanitary Landfill (storm water management)

69
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-34 Instalasi landfill well (sumur sedot landfill gas)

Gambar 4-35 Instalasi gas cleaning dan upgrading

Gas hasil ekstraksi kemudian dikumpulkan pada lokasi pengumpulan


untuk kemudian dilakukan proses pembersihan dari kandungan air dan
H2S.

70
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-36 Proses landfill gas menjadi listrik

Kualitas gas yang dihasilkan dapat bervariasi tergantung dari sejumlah


faktor:

• Komposisi sampah
• Umur timbunan sampah
• Kandungan oksigen
• Kandungan air
• Suhu
• Kondisi pH

4.2.1.2 Teknologi PLTSa Konversi thermal (Zero Waste/Mass Burn)


Prinsip teknologi PLTSa ini sama dengan konversi thermal pada
PLTBiomass, yaitu menggunakan pembangkit yang menerapkan proses
pembakaran, gasifikasi atau pyrolysis. PLTSa dengan teknologi
pembakaran biasa juga disebut dengan incinerator, oleh beberapa
negara. Perbedaan desain boiler yang digunakan sebagai incinerator
adalah memiliki material yang lebih tahan korosi dan peralatan flue gas
(sisa gas hasil pembakaran) cleaning dengan standar lebih tinggi
dibandingkan dengan boiler yang digunakan pada PLTBiomassa atau
PLTU batubara (Klinghoffer, et all 2013).

Pada PLTSa yang lebih modern, sampah yang akan dibakar ditingkatkan
kualitas fisiknya. Upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan
pemadatan dan pemisahan material yang tidak dapat terbakar sehingga
dihasilkan bahan bakar dengan nilai kalor lebih tinggi, biasa disebut
Refused Derived Fuel (RDF).

71
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-37 Refused derived fuel

Gambar 4-38 menjelaskan proses pembakaran sampah di dalam PLTSa


thermal. Proses pertama diawali dengan sampah diturunkan dari truk ke
bungker penampungan. Di penampungan ini sampah diendapkan
selama 2-3 hari untuk mengurangi kadar air. Kemudian crane akan
mengambil bagian yang sudah kering untuk disuplai ke ruang bakar. Di
ruang bakar inilah proses konversi energi terjadi, dari energi di sampah
menjadi energi panas yang kemudian diserap oleh air di pipa boiler untuk
menjadi uap panas bertekanan tinggi. Uap ini kemudian digunakan untuk
menggerakkan turbin uap yang memutar generator penghasil listrik.

Residu dari proses ini adalah sisa gas buang (flue gas) dan abu, baik abu
ringan (fly ash) maupun abu berat (bottom ash). Sisa gas buang
kemudian dibersihkan oleh filter system untuk menghilangkan
kandungan berbahaya, seperti gas asam, dioksin, gas sulfur dan logam
berat yang mungkin ada.

72
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-38 Proses utama PLTSa

4.2.2 Perkembangan Teknologi PLTSa


Teknologi landfill sudah mulai banyak dipahami di Indonesia. Sebelum
ada tarif khusus untuk energi listrik yang dimanfaatkan dari sampah, gas
yang dihasilkan dari landfill langsung dibakar pada flare system.
Pendapatan dari membakar biogas produksi landfill berasal dari kontrak
pengendalian gas penyebab global warming, yaitu methane.

Di negara dengan sistem yang lebih maju, upgrading biogas dari landfill
dapat mencapai kandungan methane 98%, setara gas LNG. Biogas
berkadar methane tinggi ini digunakan sebagai bahan bakar
transportasi.

Untuk teknologi zero waste pun, seperti incinerator, dan boiler sejenis
dikarenakan desain dan pengoperasiannya sama dengan boiler PLTU,
maka popularitasnya pun sudah cukup terkenal di dunia. Kecuali untuk
teknologi gasifikasi, yang mana tergolong baru di Indonesia.

Pemanfaatan sampah tidak hanya untuk menghasilkan listrik, namun


juga bisa untuk dimanfaatkan menghasilkan produk berguna lain.
Dengan teknologi pyrolysis, plastik dan ban bekas dimanfaatkan untuk
menghasilkan bahan bakar minyak setara dengan minyak solar.

73
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-39 Di Swedia, Biogas yang telah di-upgrade digunakan pada mobil

4.2.3 Peluang dan Kendala Energi Sampah


Peluang

Di antara semua sumber energi biomass, dapat dikatakan bahwa


sampah adalah sumber yang paling kontinu. Setiap aktivitas kehidupan
sehari-hari, baik itu rumah tangga maupun industri menghasilkan
sampah.

Dengan bertambahnya jumlah penduduk, maka jumlah sampah yang


dihasilkan bertambah juga. Peningkatan kemakmuran suatu penduduk
juga berdampak pada peningkatan nilai kalor sampah. Berbeda halnya
dengan batubara, Menurut data dari Buku Statistik EBTKE 2016, total
kapasitas sampah di TPA yang tersebar di seluruh kota Indonesia,
mencapai 8.000.000 ton sampah per tahun. Dengan jumlah sampah
tersebut mampu menyuplai PLTSa dengan total kapasitas 270 MW.
Pengembang nasional yang memiliki kemampuan mumpuni di PLTSa
pun belum banyak.

Kendala

PLTSa memiliki potensi kendala sosial yang paling besar dibandingkan


dengan sumber energi biomassa lainnya. Selain masalah transportasi
sampah menuju lokasi pembangkit, sisa hasil pengolahannya pun
membutuhkan perhatian serius sehingga tidak merugikan lingkungan. Di
negara dengan standar lingkungan tinggi, PLTSa zero waste dituntut
untuk memiliki perlengkapan gas cleaning yang lengkap, yang mana
harganya cukup mahal.

74
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Kotak Informasi 6 Plastik, material bermasalah namun


bahan bakar berguna untuk PLTSa thermal

Plastik, material bermasalah namun


bahan bakar berguna untuk PLTSa thermal
Plastik merupakan material yang banyak digunakan sebagai
wadah atau bungkus dalam kegiatan sehari-hari. Namun juga
menjadi salah satu masalah pelik bagi lingkungan hidup. Plastik
adalah material anorganik dari sisa pengolahan minyak bumi dan
tidak dapat terurai secara alami oleh alam. Sehingga, jika sudah
tidak terpakai, pakai material ini akan terus menumpuk di tempat
pembuangan akhir sampah. Meskipun akhir-akhir ini sudah ada
produsen pabrik yang mampu memproduksi plastik yang dapat
terurai oleh alam, namun jumlahnya masih sangat sedikit. Di
tumpukan sampah, plastik akan terus menggunung untuk
kemudian sebagian terbuang ke lautan karena kapasitas yang
berlebih. Sampah plastik yang terbuang ke laut ini kemudian ikut
dimakan oleh ikan bersama mikroorganisme lain. Plastik yang
masuk ke perut ikan, tetap tidak dapat terurai. Sampai akhirnya,
ikan tersebut ditangkap nelayan. Ikan hasil tangkapan ini yang
diperutnya mengandung plastik, kemudian dimakan manusia.
Sehingga plastik pada akhirnya akan kembali lagi ke kehidupan
manusia, namun berada di perut dan sangat sulit untuk keluar.

Gambar 4-40 Komposisi plastik yang didaur ulang hanya 8%

Plastik mempunyai nilai panas yang tinggi yaitu 10.000 Kcal/Kg


dengan volatile matter 90% (Zevenhoven, 2011), sehingga
termasuk material mudah terbakar dan melepaskan nilai panas
dua kali lipat dibandingkan batubara kelas menengah yaitu
subbituminuous. Material ini sangat cocok sebagai bahan bakar di
furnace boiler PLTSa. Dengan membangun PLTSa thermal di tiap
kota, maka kendala pencemaran lingkungan oleh plastik dapat
teratasi.

75
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-41 PLTSa Sumur Batu Bekasi

PLTSa NW Industries, yang merupakan produk dalam negeri, memiliki


desain konstruksi simpel, dapat dengan mudah dibangun di lokasi TPA,
tanpa memerlukan lahan luas.

76
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-42 Perbedaan warna minyak solar (diesel), B5 (minyak solar


dengan kandungan biodiesel 5% dan minyak biodiesel sawit (palm biodiesel)
(foto oleh Rashid)

4.3 Minyak Nabati (Biofuel)

Biofuel atau minyak nabati adalah minyak yang digunakan sebagai bahan
bakar, yang berasal dari tumbuh-tumbuhan setelah mengalami proses
fisik dan kimia tertentu. Pengertian biofuel dalam dunia sains mengacu
pada bahan bakar cair dan gas, namun di Indonesia pengertian biofuel
umumnya hanya mencakup bahan bakar cair. Dari gambar selanjutnya
dapat terlihat proses utama untuk jalur konversi tumbuh-tumbuhan
menjadi biofuel.

Singkatnya, proses pembuatan biofuel dapat menggunakan tiga proses


utama konversi energi pada biomass, yaitu thermochemical, biochemical
dan extraction (Rutz, D., Janssen, R, 2008).

4.3.1 Bahan Baku Minyak Nabati


Bahan baku tanaman yang digunakan pada biofuel, umumnya terdiri dari
tiga:

• Tanaman yang khusus menghasilkan minyak, selain untuk bahan


bakar, dapat juga sebagai bahan baku/olahan bahan pangan.
Contohnya adalah singkong, kelapa sawit, tebu.

77
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

• Tanaman yang bukan termasuk rantai makanan, namun berasal dari


sisa atau limbah pertanian, kehutanan dan sampah rumah tangga
• Algae

Gambar 4-43 Variasi bahan baku dan teknologi pembuatan minyak nabati

Gambar 4-44 Bahan baku minyak ethanol

78
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-45 Bahan baku minyak biodiesel

Gambar 4-46 Bahan Baku alternatif lain untuk minyak nabati

79
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Tabel 4-5 Perbandingan hasil Minyak nabati dari tanaman

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa oil palm (minyak sawit) yang
mudah tumbuh di daerah tropis mempunyai produktivitas tinggi, yaitu
5000 kg minyak/ha, dibandingkan minyak kedelai andalan Amerika,
sebesar 375 kg minyak/ha, atau tanaman andalan Eropa seperti
sunflower sebesar 800 kg minyak/ha dan rapeseed 1000 kg minyak/ha.

Penerapan minyak nabati dapat dilakukan pada transportasi, industri


kimia maupun mesin pembangkit listrik. Penerapan pada transportasi
merupakan sasaran utama dari biofuel mengingat konsumsi BBM pada
sektor ini adalah yang paling besar di dunia.

4.3.2 Jenis-jenis Minyak Nabati


Beberapa jenis biofuel yang sudah umum diterapkan diantaranya adalah:

a. Bioethanol

Gambar 4-47 Ethanol dari jagung

80
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Bahan bakar ini berwujud jernih, tidak berwarna, dihasilkan dari tanaman
yang kaya akan kandungan molekul gula atau material yang dapat
diubah menjadi gula. Secara garis besar bahan baku untuk pembuatan
ethanol adalah gula, karbohidrat dan biomassa yang banyak
mengandung cellulose. Contohnya adalah, lobak dan tebu (kaya akan
kandungan gula), kentang jagung, dan gandum (karbohidrat sebagai
komponen utama). Sedangkan contoh biomassa cellulosic yang
digunakan untuk pembuatan ethanol adalah limbah pertanian dan sisa
tanaman hutan. Proses pengolahan cellulosic menjadi ethanol lebih sulit
dibandingkan gula, karena harus diubah terlebih dahulu menjadi molekul
yang lebih sederhana melalui proses hydrolysis.

Tabel 4-6 Beberapa sifat ethanol

Proses pembuatan ethanol

Secara garis besar, proses ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

• Physical pretreatment: dilakukan milling


• Saccarification: konversi karbohidrat dan cellulose menjadi gula
• Chemical treatment: melarutkan gula yang sudah diproduksi dengan
air untuk kemudian ditambahkan ragi (yeast)
• Fermentasi: produksi ethanol yang masih bercampur dengan air dan
produk samping lain
• Destilasi: pemisahan ethanol dengan air
• Dehidrasi: air yang masih tersisa dihilangkan lagi

Pemanfaatan ethanol

Ethanol terutama ditujukan sebagai substitusi atau campuran bahan


bakar pada mesin bensin. Selain itu, ethanol dengan tambahan proses
reforming dapat digunakan sebagai bahan bakar fuel cell tanpa ada

81
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

masalah operasional. Di Brazil, bahan bakar ini diterapkan juga pada


pesawat terbang.

b. Biodiesel

Biodiesel mempunyai warna kecoklatan, seperti warna minyak goreng.


Tingkat kejernihan warna tergantung dari bahan baku dan proses
pembuatan yang dilakukan. Sifat dan karakter dari biodiesel lebih
bervariasi dibandingkan dengan ethanol, hal ini disebabkan karena
perbedaan proses konversi energi dan berbagai macam bahan baku
yang digunakan.

Biodiesel dihasilkan dari material yang mengandung minyak yang


mengandung asam lemak atau alkyl ester rantai panjang, sehingga
biodiesel mempunyai nama kimia FAME (fatty acid methyl ester).

Gambar 4-48 Biodiesel dari sawit dan bunga matahari

Tabel 4-7 Properties berbagai minyak nabati

82
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Proses Pembuatan Biodiesel


• Ekstrasi
Proses ekstrasi adalah proses awal dari pembuatan minyak
nabati, baik untuk minyak nabati jenis pure plant oil (PPO)
ataupun biodiesel.

Gambar 4-49 Proses ekstrasi dari benih

• Oil refining

Proses oil refining bertujuan untuk menyiapkan minyak nabati


agar dapat diproses lebih lanjut menjadi biodiesel. Dalam
tahapan ini, hal penting yang dilakukan adalah menghilangkan
material yang tidak diinginkan seperti phosphatides
(degumming), asam lemak bebas, waxes, tocopherols, dan
warna jenuh. Material ini dapat mempengaruhi masa
penyimpanan minyak dalam tangki dan menghambat proses
selanjutnya.

83
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Tahap pertama dari oil refining atau pemurnian adalah


penghilangan phosphatides (degumming). Material ini dapat
menyebabkan minyak menjadi keruh selama proses
penyimpanan dan memicu penyerapan air dari udara.

Tahap kedua adalah deacidification. Proses ini untuk


menghilangkan free fatty acid (asam lemak bebas), phenol,
senyawa lemak teroksidasi, dan logam berat.

Tahap ketiga adalah bleaching, yaitu penghilangan warna.

Tahap keempat adalah deodorization, yaitu penghilangan bau.


Pada tahap ini material yang menimbulkan bau kurang sedap
seperti ketone dan aldehyde dihilangkan dengan menerapkan
distilasi uap.

Gambar 4-50 Proses penyulingan minyak

• Transesterification

Pada proses ini, minyak nabati yang mempunyai kualitas PPO


siap diubah untuk menjadi kualitas biodiesel dengan proses
transesterification. Biodiesel mempunyai keunggulan
dibandingkan PPO dikarenakan mempunyai viscositas lebih
rendah (lebih cair). Tingkat viscositas yang tinggi akan
menyebabkan proses atomisasi menjadi lebih sulit pada mesin
diesel. Biodiesel mempunyai sifat yang mirip dengan minyak HSD
sehingga dapat digunakan sebagai substitusi dengan tanpa atau
hanya sedikit perubahan mesin. Proses kimia transesterification

84
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

mengubah struktur molekul dari material yang mengandung


lemak, sehingga sifat fisiknya pun berubah.

Transesterification adalah suatu proses yang mana minyak nabati


yang telah dimurnikan dipecah dan glycerin dihilangkan
sehingga hanya tersisa methyl ester/FAME/Biodiesel.

Gambar 4-51 Proses Transerifikasi pad pembuatan biodiesel


menggunakan methanol

4.3.3 Penerapan Biodiesel


Biodiesel digunakan sebagai campuran atau subtitusi minyak HSD, baik
pada mesin pembangkit listrik PLTD/genset atau mesin otomotif. Dalam
proses pemakaiannya, biodiesel mempunyai sifat dapat melarutkan
kerak deposit. Sehingga pada awal jam operasi, deposit yang larut
bersama biodiesel tersebut akan mengumpul di filter.

Terlepas dari perlunya pembersihan filter karena deposit, sifat


melarutkan ini sebenarnya bagus karena membersihkan ruang bakar
mesin. Setelah pemakaian beberapa hari, maka tidak terdapat kerak lagi
pada filter. Peluang Penerapan biodiesel lebih banyak di sektor
transportasi.

Di bidang energi listrik, kualitas biodiesel yang dijual umum dan


digunakan pada kendaraan transportasi, hanya cocok untuk mesin diesel
pembangkit listrik. Untuk bahan bakar turbin gas, diperlukan biodiesel
dengan spesifikasi kemurnian lebih tinggi.

85
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

4.3.4 Peluang dan Kendala Energi Biofuel


Peluang

Tanaman nabati dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis seperti


Indonesia. Seperti pada tabel sebelumnya, dijelaskan bahwa
produktivitas tanaman sawit dalam menghasilkan minyak nabati paling
tinggi dibandingkan tanaman lain yang tumbuh di daratan. Kemampuan
industri biodiesel terus mengalami peningkatan. Di tahun 2014,
kemampuan produksi biodiesel secara nasional mencapai 4.400.000 KL,
kemudian di tahun 2015 mengalami peningkatan menjadi 6.880.000 KL.

Kendala

Produk tanaman sawit terutama minyak sawit termasuk produk


komoditas yang diperdagangkan dibursa internasional. Efek dari ini
adalah harganya yang sangat berfluktuatif dari tahun ke tahun.
Umumnya minyak sawit mengalami siklus 5 tahunan, sehingga dalam
periode lima tahun akan ada harga rendah dan harga puncak. Ketika
berada di puncak, harganya akan melebihi harga minyak solar. Pada
gambar di bawah dapat dilihat fluktuasi harga minyak nabati terhadap
HSD (minyak solar).

Gambar 4-52 Perbandingan harga HSD Vs Nabati

86
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-53 Produksi Microalgae menjadi minyak nabati,


dari www.our-energy.com/biofuel_production_from_algae.html

Kebutuhan lahan yang luas menjadi salah satu kendala energi


terbarukan. Dengan produktivitas yang tinggi, yaitu 40.000 – 120.000 kg
minyak/ha, dibandingkan dari pohon sawit, 5000 kg minyak/ha,
microalgae mempunyai potensi menarik untuk dikembangkan menjadi
biodiesel. Selain itu microalgae tidak termasuk rantai makanan manusia,
sehingga tidak terjadi persaingan dengan bahan pokok makanan.

87
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-54 PLTB Sidrap 75 MW. Tinggi tiap tower 80 m dengan output 2.5 MW,
dibangun di daerah perbukitan di Sidrap, Sulawesi Selatan (foto oleh Niko).

4.4 Angin

Kadang sulit bagi kita untuk membayangkan udara dapat mengalir


layaknya cairan. Karena udara sepertinya tidak terlihat. Tapi sebenarnya
udara dapat mengalir, hanya saja partikel udara berbentuk gas, bukan
berbentuk cair. Dan ketika udara bergerak cepat, dalam bentuk angin,
partikel-partikelnya juga bergerak cepat. Gerak berarti energi kinetik,
yang dapat ditangkap, seperti halnya energi dalam air yang bergerak
dapat ditangkap oleh turbin di sebuah dam hidroelektrik.

Dalam kasus turbin angin listrik, bilah turbin dirancang untuk menangkap
energi kinetik angin. Sisanya hampir identik dengan dam hidroelektrik:
Ketika bilah turbin angin menangkap energi dan mulai bergerak, mereka
memutar poros yang mengarah dari pusat rotor ke generator. Generator
mengubah energi rotasi menjadi listrik.

Pada intinya, menghasilkan listrik dari angin berkaitan dengan


mentransfer energi dari satu medium ke lainnya.

4.4.1 Sumber Energi Angin


Pergerakan angin secara global dipengaruhi oleh perbedaan tekanan
udara pada permukaan bumi. Ketika terjadi perbedaan tekanan, angin
akan mengalir dari daerah tekanan tinggi ke tekanan rendah. Variasi
tekanan udara tersebut disebabkan oleh perbedaan pemanasan dari
radiasi sinar matahari terhadap daratan dan lautan.

88
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Energi matahari yang diserap daratan dan laut akan ditransfer ke


atmosfer, sehingga untuk tiap lokasi yang berbeda di permukaan bumi,
berbeda juga kondisi suhu atmosfernya. Seperti contoh, jumlah panas
yang diterima di daerah khatulistiwa lebih besar dibandingkan panas
yang diterima di daerah bumi belahan utara atau selatan. Sehingga udara
dingin dari sekitar kutub akan mengalir ke daerah panas khatulistiwa.

Faktor lain yang berpengaruh terhadap arah angin adalah efek Coriolis,
yaitu rotasi bumi pada sumbunya. Rotasi ini membelokkan pergerakan
lapisan atmosfer, kecuali untuk daerah khatulistiwa.

Gambar 4-55 Pergerakan angin secara global (prokitecabarete.com/en/wind/)

Dalam lingkup sirkulasi yang lebih kecil, sirkulasi atmosfer dapat dibagi
menjadi sirkulasi sekunder dan sirkulasi tertier. Sirkulasi sekunder terjadi
disebabkan oleh pemanasan atau pendinginan atmosfer. Contoh angin
dari efek ini adalah:

• Angin topan
• Angin akibat sirkulasi menurut pergerakan bulan
• Angin cyclone pada daerah tropis

Untuk sirkulasi tertier, terjadi dalam lingkup yang lebih kecil lagi, yaitu
yang disebabkan oleh angin lokal, seperti misal:

• Angin darat dan angin laut


• Angin gunung dan angin lembah

89
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-56 Contoh pergerakan diurnal wind (Rohatgi dan Nelson, 1994)

4.4.2 Karakter Energi Angin


Beberapa karakter energi angin yang perlu diperhatikan dalam
merencanakan pembangkit PLTB, diantaranya:

a. Intermiten (selalu ada tetapi tidak kontinu)

Karakter energi angin adalah intermiten, tetapi tidak pernah nol. Hal
tersebut mengakibatkan PLTBayu dalam perencanaan instalasinya
membutuhkan pembangkit dengan karakter operasi kontinu untuk
mem-backup penyaluran energi listrik pada saat tidak tersedia cukup
kecepatan angin. Grafik di bawah ini menggambarkan ketersediaan
energi angin dalam suatu bulan.

Gambar 4-57 Grafik fluktuasi produksi listrik yang dihasilkan oleh PLTBayu

90
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

b. Kecepatan angin

Sangat menentukan tingkat keekonomisan suatu proyek PLTBayu.


Kecepatan angin dapat berbeda baik berdasarkan waktu maupun
daerah, seperti yang telah disebutkan di atas. Angin memiliki
kecepatan lebih tinggi pada daerah yang bebas hambatan aliran,
seperti misal pada dataran tinggi, dan pantai.

c. Semakin tinggi lokasi, kecepatan angin semakin besar

Pada lokasi daratan yang lebih tinggi, kecepatan angin akan semakin
besar, karena hambatan geografis semakin kecil. Turbin dengan
kapasitas besar di atas 1 MW memanfaatkan ketinggian minimal 60
m untuk memaksimalkan output energi listrik.

d. Densitas energi angin

Merupakan energi angin yang tersedia pada aliran angin yang


melalui penampang permukaan tegak lurus pada suatu waktu
tertentu. Densitas ini merupakan suatu indeks yang digunakan untuk
mengevaluasi kelayakan sumber energi angin pada suatu lokasi.
Akibat perubahan densitas udara, karena perubahan hujan dan
panas, maka berpengaruh terhadap output turbin. Grafik di bawah
menunjukkan perbedaan output turbin angin akibat perbedaan
densitas dan juga tabel wind power class yang ada sesuai dengan
tingkat densitas.

Gambar 4-58 Grafik perbedaan output wind turbine akibat perbedaan


densitas udara (AWS True Power, Brower, 2012)

91
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Tabel 4-8 Wind power class

Karakter Angin di Indonesia

Pergerakan angin di Indonesia banyak dipengaruhi oleh perbedaan suhu


yang berasal dari daerah kutub selatan. Sehingga untuk daerah yang
memiliki kecepatan angin tinggi, arah angin didominasi dari arah
tenggara.

Wilayah di Indonesia tidak banyak memiliki daerah yang memiliki angin


dengan kecepatan ekonomis untuk dibangun PLTBayu skala besar di
atas 300 KW, yaitu 5 m/s, jika menggunakan teknologi PLTBayu
horizontal axis. Teknologi yang dapat memanfaatkan angin pada
kecepatan di bawah 5 m/s, yaitu vertical axis belum terbukti handal dan
kapasitasnya cendrung kecil, yaitu di bawah 100 KW.

Gambar 4-59 Wind rose, grafik penunjuk arah angin.


Tenggara Merupakan arah angin utama di Indonesia

Keuntungan dari pergerakan angin di Indonesia adalah perubahan yang


tidak terlalu ekstrim, yang disebabkan oleh badai atau angin topan.
Gambar 4-59 menunjukkan tipikal arah angin, dalam grafik yang disebut
wind rose dan peta kecepatan angin pada ketinggian 75 m di Indonesia.

92
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-60 Peta Kecepatan angin Indonesia ketinggian 75m


(indonesia.windprospecting.com/)

e. Faktor yang mempengaruhi estimasi energi

Dalam menentukan seberapa besar energi angin yang dapat


digunakan untuk membangkitkan listrik, dibutuhkan data sumber
angin dan informasi efisiensi wind turbine yang akan digunakan.

Evaluasi yang perlu dilakukan diantaranya:

• Potensi berdasarkan data meteorologi.


• Potensi daerah lokal. Dibuat berdasarkan data meteorologi
tetapi dibatasi pada daerah yang akan dibangun PLTBayu.
• Potensi teknis. Dihitung berdasarkan potensi dari daerah
lokal, dan teknologi yang akan digunakan.
• Potensi ekonomis. Yaitu potensi teknis yang dapat
diimplementasi dalam pembangunan PLTBayu untuk
menghasilkan keuntungan operasional yang ekonomis.

Kecepatan angin di suatu daerah, bervariasi, baik secara waktu (detik


sampai tahunan) maupun luas daerah (1 meter sampai dengan ribuan
kilometer). Hal tersebut dikarenakan kondisi cuaca dan iklim yang selalu
mengalami perubahan.

Untuk setiap tujuan pemanfaatan angin, maka berbeda juga jangka


waktu dan luas daerah cakupan data. Untuk desain turbin, diperlukan
data sampai dengan periode waktu jam dan luas daerah sejauh 100 m.
Kemudian untuk menentukan lokasi, membutuhkan lingkup waktu
sampai dengan tahunan dan luas daerah hingga 100 Km. Seberapa
banyak potensi angin tersedia dalam suatu provinsi, analisa yang
dilakukan sampai dengan 10 tahun data angin.

93
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-61 kebutuhan data angin berdasarkan


jangka waktu dan keperluan tertentu

4.4.3 Karakter PLTB


Power Coefficient

Konversi energi angin menjadi energi listrik terdiri dari dua tahap:

• Energi kinetik dari angin diubah menjadi energi mekanik untuk


menggerakkan rotor wind turbine.

Komponen peralatan yang paling penting dalam tahapan ini


adalah wind blade (bilah turbin). Wind blade perlu didesain
dengan baik, untuk memaksimalkan energi angin yang dapat
dimanfaatkan. Power Coefficient merupakan ukuran efisiensi
turbin angin yang sering digunakan oleh industri tenaga angin.
Cp adalah rasio daya listrik yang sebenarnya dihasilkan oleh
turbin angin dibagi dengan total tenaga angin yang mengalir ke
bilah/blade turbin pada kecepatan angin tertentu.

Ketika didefinisikan dengan cara ini, koefisien daya mewakili


gabungan efisiensi berbagai komponen sistem tenaga angin
yang termasuk blade turbin, bantalan poros dan gear, generator
dan komponen power elektronik.

94
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Nilai Cp berkisar di antara 30-45%. Hal tersebut disebabkan


karena banyak losses yang terjadi pada blade, seperti misalnya:
blade-tip, blade-root, profile dan wake rotation losses.

• Energi rotasi dari rotor diubah menjadi energi listrik oleh


generator

Pada tahap ini efisiensi ditentukan oleh generator efisiensi dan


electricial efisiensi.

Lanchester-Betz limit

Maksimum efisiensi energi yang dapat diekstrak dari angin dapat


dijelaskan dengan teori Lanchester-Betz limit. Tidak ada satu pun
teknologi wind turbine yang dapat menghasilkan energi mekanik dari
energi kinetik angin dengan efisiensi lebih besar dari 16/27 (59, 26%).

Power Curve

Power curve dari wind turbine menunjukkan power output dari wind
turbine berdasarkan ketersediaan kecepatan angin yang ada.

Gambar 4-62 Grafik power curve

95
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-63 rafik tenaga angin yang dimanfaatkan turbin


dan listrik yang dihasilkan

Pada gambar di atas dapat terlihat bahwa turbin mulai memproduksi


listrik pada kecepatan angin rendah tertentu yang disebut cut-in speed.
Dengan bertambah kencangnya kecepatan angin, maka power yang
dihasilkan wind akan semakin membesar juga sehingga mencapai suatu
titik maksimum yang disebut rated speed. Pada garis rated speed,
bertambahnya kecepatan angin tidak akan menambah output power,
karena mulai aktifnya control power.

Pada kecepatan angin yang lebih besar lagi, maka wind turbine akan
melakukan pengereman atau shutdown untuk melindungi blade dari
patah akibat kecepatan angin yang berlebih.

Perhitungan output power dari wind farm tidak dapat dilakukan secara
manual, melainkan membutuhkan software khusus, yang diakibatkan
dari perhitungan non-linear yang terjadi pada distribusi kecepatan angin.

Wind turbine capacity factor

Mayoritas capacity factor (CF) untuk angin di Indonesia berkisar di antara


20-35%. Angka 20% merupakan nilai minimal yang mana sebuah proyek
PTBayu dinilai ekonomis dalam membangkitkan listrik. Di belahan bumi
bagian utara, CF dapat mencapai 40%. Di Indonesia, daerah Sulawesi
Selatan dan beberapa daerah terpencil di NTT, memiliki CF 35%.

Kapasitas PLTBayu

Kapasitas PLTBayu kecil yaitu di bawah 300 KW dapat digunakan di


pedesaan, daerah pertanian peternakan, atau kawasan industri untuk
mengurangi konsumsi energi listrik yang dihasilkan. Pengoperasiannya
dapat juga stand alone atau hybrid dengan pembangkit lain seperti PLTS
atau diesel.

96
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Kapasitas wind turbine terus meningkat dari tahun ke tahun. Dari


gambar di bawah dapat terlihat bahwa kapasitas PLTBayu per satu
tower tunggal mencapai 10 MW.

Gambar 4-64 Perkembangan Kapasitas wind turbine per satu tower

4.4.4 PLTB di Darat (Onshore) dan di Laut (Offshore)


PLTBayu dalam format wind farm biasanya dibangun di daratan dengan
berbagai alasan:

• Mudah proses konstruksi


• Biaya pemeliharaan dan transmisi rendah

Gambar berikut menunjukkan koneksi wind farm yang saling terhubung.

Gambar 4-65 Koneksi wind turbine pada farm

97
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Meskipun begitu, beberapa negara sudah mulai membangun wind farm


yang berlokasi di offshore, dengan pertimbangan bahwa lokasi di
daratan yang memadai dalam hal kecepatan angin, sudah tidak tersedia,
maupun populasi penduduk yang padat yang menuntut standar
lingkungan yang tinggi. Alasan lain berdirinya offshore wind farm adalah
di lautan, angin tersedia dalam jumlah yang stabil dan lebih mudah
diprediksi dibandingkan daratan. Tuntutan standar lingkungan, seperti
misal kebisingan, dan dampak visual, offshore wind farm lebih rendah
dibandingkan dengan di daratan. Namun offshore windfarm memiliki
tantangan karena proses konstruksi dan perawatan yang lebih sulit.

Gambar 4-66 Offshore windfarm di Denmark

4.4.5 Horizontal dan Vertical Axis Wind turbine


Wind turbine dapat digolongkan berdasarkan orientasi sumbu
perputarannya, yaitu sumbu horizontal dan vertical (Jha, 2011). Pada
wind turbine sumbu horisontal, orientasi perputaran sumbu blade paralel
dengan garis datar daratan, sedangkan wind turbine sumbu vertikal,
tegak lurus dengan garis datar daratan.

Pada jenis sumbu horisontal, nacelle, yang merupakan rumah gearbox


dan generator, terletak di atas tower, yang bertujuan untuk memberikan
kemudahan dalam pergerakan mengikuti perubahan arah angin.
Sedangkan pada jenis sumbu vertikal, nacelle terletak di dasar. Wind
turbine dengan sumbu horizontal memiliki keterbatasan dalam jumlah
angin yang dapat diekstrak, karena arah angin yang bervariasi.
Sedangkan turbin sumbu vertikal, dapat memanfaatkan semua arah
angin, tanpa menunggu perubahan arah turbin yang memakan waktu.
Namun belum ada turbin angin vertikal dengan kapasitas output besar

98
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

yang sudah beroperasi komersial. Masalah kehandalan komponen


mekanik menjadi tantangan utama. Semua PLTB kapasitas di atas 1 MW
menggunakan jenis turbin angin sumbu horisontal.

Gambar 4-67 Horizontal dan vertical wind turbine

4.4.6 Komponen Utama Turbin Angin


• Baling-baling - menangkap tenaga angin dan mengubahnya menjadi
tenaga rotasi poros
• Poros – mengubah energi rotasi ke dalam pembangkit energi
• Nacelle - casing yang menampung:
• Gearbox - meningkatkan kecepatan poros antara hub dan generator
rotor
• Generator - menggunakan energi rotasi poros untuk menghasilkan
listrik menggunakan Elektromagnetisme
• Unit Kontrol Elektronik (tidak ditampilkan) - memonitor sistem,
menutup turbin dalam kasus kerusakan dan kontrol mekanisme yaw
• Controler Yaw (tidak ditampilkan) - menggerakkan rotor untuk
menyelaraskan dengan arah angin
• Rem - menghentikan rotasi poros dalam kasus power overload atau
kegagalan sistem
• Menara - mendukung rotor dan nacelle dan mengangkat seluruh
sistem untuk elevasi yang lebih tinggi di mana bilah turbin dengan
aman dapat mencapai ke tanah
• Peralatan listrik - membawa listrik dari generator ke bawah melalui
menara dan mengontrol banyak elemen dari turbin

99
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-68 Komponen pada wind turbine

100
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Kotak Informasi 7 Annual Energy Production

Annual Energi Production


Kecepatan angin yang bervariasi di permukaan bumi menyebabkan produksi
energi listrik yang dihasilkan tiap tahun tidak sama. Dalam melakukan estimasi
produksi energi angin, untuk keperluan analisa finansial, dilakukan pendekatan
probabilitas, untuk menentukan Annual Energy Production (AEP). AEP yang
umum dilakukan menggunakan probabilitas 50%, biasa disebut P50 dalam
laporan teknis.

Dari grafik pada Gambar 4-61 dapat diketahui perbedaan besaran nilai P50 dan
P75 (Klug, 2006). AEP pada P75 lebih kecil, mengingat kepastian yang angka
diperoleh lebih besar, yaitu 75%. Sehingga, klaim nilai nominal tarif listrik akan
lebih tinggi juga. Seorang analis proyek PLTB harus paham dengan baik
mengenai probabilitas ini mengingat akan berdampak terhadap pendapatan
proyek.

Gambar 4.61 Variasi produksi energi angin berdasarkan tingkat probabilitas

101
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

4.4.7 Teknologi PLTBayu yang Berhubungan dengan Koneksi Grid


Low Voltage Ride Through (LVRT)

Dikarenakan karakter angin yang intermiten, maka menyebabkan


fluktuasi yang sangat tinggi pada energi listrik yang dihasilkan yang
berimbas pada stabilitas koneksi ke jaringan listrik. Untuk meminimalkan
dampak ini, diperlukan teknologi yang dapat menjamin koneksi PLTBayu
ke grid dapat berjalan dengan baik tanpa menimbulkan gangguan ke
power sistem maupun ke PLTBayu sendiri.

Gangguan grid seperti tegangan listrik yang jatuh yang disebabkan short
circuit fault dapat menyebabkan PLTBayu terlepas dari koneksi ke grid.
PLTBayu modern disyaratkan untuk tetap terkoneksi ke jaringan jika
terjadi network fault selama tegangan di connection bus tidak lebih
rendah dari tegangan di jaringan. Untuk mengatasi ini, diperlukan
teknologi LVRT yang membuat PLTBayu tetap terkoneksi meski terjadi
gangguan, meski hanya dalam hitungan detik.

Gambar 4-69 Grafik kerja teknologi LVRT

4.4.8 Perkembangan Teknologi PLTBayu


Di negara Eropa utara yang memiliki sumber energi angin tinggi, di atas
7 m/s, wind turbine sudah lama digunakan. Perkembangan yang ada
sekarang ini adalah pihak pabrikan terus berusaha untuk
memaksimalkan desain blade agar efisiensi pemanfaatan angin
meningkat, terutama pada angin kecepatan di bawah 5 m/s.

102
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Selain itu, untuk wind turbine yang mampu mengekstrak energi angin
berkecepatan rendah belum banyak yang komersial dan kapasitasnya di
bawah 100 KW.

4.4.9 Peluang dan Kendala Energi Angin


Peluang

Beberapa daerah seperti Sukabumi, NTT, dan Sulawesi memiliki angin


dengan kecepatan bagus, yaitu minimal 5 m/s yang sudah dilakukan studi
potensi angin. Meskipun di suatu daerah memiliki kecepatan angin yang
layak, namun seberapa besar kapasitas MW PLTB yang dapat dibangun
tergantung juga dengan luas lahan yang dapat diperoleh oleh
pengembang proyek. Lahan tersebut digunakan untuk mengekstrak
angin yang melewati suatu daratan.

Pemilihan wind turbine untuk diterapkan di Indonesia perlu dilakukan


dengan analisis yang tajam, mengingat wilayah Indonesia terkadang
dilewati angin yang berkecepatan sangat tinggi, yang dapat merusak
blade wind turbine.

Kendala

Beberapa daerah di Indonesia yang memiliki potensi angin tinggi, berada


di daerah terpencil, yang mana menyulitkan transportasi blade yang
panjangnya minimal 40 m untuk PLTBayu kapasitas di atas 1 MW.

Di antara semua jenis mesin pembangkit listrik, transportasi komponen


turbin angin memerlukan perencanaan yang lebih terperinci. Tantangan
lain adalah untuk dapat mengatasi fluktuasi produksi energi angin,
dibutuhkan sistem kelistrikan yang baik, yang mempunyai reserve
margin atau pembangkit load follower minimal 20%.

103
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Tabel 4-9 Potensi angin hasil penelitian WHyPGEN di Indonesia, 2015

Kecepatan Angin
No Daerah Potensi MW
m/s
1 Peukan Bada, Aceh Besar 5, 15 90

2 Tanjung Tinggi, Belitung 6, 1 5

3 Muara Binuangeun, Lebak 5, 5 68

4 Ciemas, Sukabumi 6, 6 50

5 Cikelet, Garut 6, 6 68

6 Gunung Selok, Cilacap 5, 47

7 Harjowinangun, Purworejo 5, 32 90

8 Pandansimo, Bantul 5 50

9 Baron, Gunung Kidul 5, 8 15, 3

10 Bitung, Minahasa Utara 5, 97 50

11 Jeneponto, Sulawesi Selatan 7, 96 132

12 Sidrap, Sulawesi Selatan 7 100

13 Kupang, NTT 6, 69 50

14 Oelbubuk, NTT 6, 74 15

15 Palakahembi, Sumba Timur 5, 32 5

104
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-70 Transportasi blade wind turbin

105
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-71 Pekerjaan kontruksi PLTB Sidrap, memasang blade turbin


di malam hari (foto oleh Niko)

106
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-72 Pembangkit listrik gelombang laut, Sotenas, 10 MW,


milik Fortum, telah mencapai tahap komersial di Swedia (2018).
(tethys.pnnl.gov/annex-iv-sites/soten%C3%A4s-project)

4.5 Laut

Teknologi ini memanfaatkan pergerakan atau panas dari laut sebagai


sumber energi. Sumber utama energi ini berasal dari karakter lingkungan
laut seperti ombak (wave), dan arus yang dipengaruhi oleh pergerakan
angin dan perubahan suhu di berbagai tingkat kedalaman laut akibat
pemanasan matahari. Ketersediaan energi laut berfluktuasi sepanjang
waktu mengikuti iklim yang ada di permukaan bumi. Permukaan laut
yang menutupi 70% dari permukaan bumi mempunyai kemampuan
menghasilkan dua jenis energi, yaitu energi mekanik dari gelombang dan
pasang surut, dan energi thermal sebagai akibat pemanasan matahari.

4.5.1 Jenis dan Sumber Energi Laut


4.5.1.1 Gelombang Laut
Energi ini sangat dipengaruhi oleh pergerakan angin. Seperti yang telah
dijelaskan pada bab sebelumnya, bahwa angin timbul sebagai akibat dari
perbedaan pemanasan di permukaan bumi dan atmosfer. Pergerakan
angin di daerah permukaan laut menimbulkan gesekan dengan air yang
kemudian menimbulkan gelombang. Gelombang ini mengandung energi
potensial dalam bentuk massa air yang dipindahkan dari ketinggian rata-
rata laut, dan energi kinetik dalam bentuk pergerakan partikel air.
Gelombang ini pada awalnya kecil, yang kemudian meningkat seiring
dengan bertambah kencangnya kecepatan angin.

107
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Seberapa besar ombak yang terjadi erat hubungannya dengan


kecepatan angin, yang mana ombak akan mempunyai parameter
pergerakan seperti lama angin bertiup (dalam hari), dan luas daerah
yang menerima transfer energi angin tersebut (Multon, 2012).

Gambar 4-73 Gambar Proses terbentuknya gelombang laut


(www.seafriends.org.nz/oceano/waves.htm)

Beberapa faktor yang menentukan seberapa kuat gelombang adalah:

• Kecepatan angin: semakin cepat angin berhembus, maka


gelombang akan semakin besar.
• Lama angin berhembus: semakin lama jangka waktu angin
berhembus maka gelombang akan menjadi lebih besar.
• Jarak angin: semakin jauh perjalanan angin terhadap gelombang
(dikenal sebagai fetch), maka gelombang akan semakin besar.

Gambar 4-74 Daerah di dunia yang mempunyai potensi energi gelombang

Energi gelombang laut akan semakin meningkat, pada daerah garis


lintang yang mengarah semakin ke utara atau selatan. Pada daerah garis

108
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

lintang yang lebih besar dari 40 derajat, akan menghasilkan energi yang
semakin besar.

4.5.1.2 Arus Pasang Surut


Pasang surut laut disebabkan oleh gaya tarik gravitasi bulan dan
matahari pada permukaan laut. Pada sebagian besar daerah di bumi,
terjadi dua jenis pasang surut dalam sehari sehari (yang disebut semi-
diurnal), sementara di daerah lainnya hanya satu jenis. Sepanjang tahun,
ketinggian pasang surut erat hubungannya dengan posisi bumi, bulan
dan matahari. Ketika matahari, bulan dan bumi berada pada posisi
segaris lurus (yaitu bulan penuh dan bulan baru), maka ketinggian
maksimum pasang (spring tides) akan terjadi. Sedangkan jika posisi
bulan seperempat, akan terjadi level surut terendah (neap tides).

Gambar 4-75 Daerah di dunia yang mempunyai energi pasang surut

109
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-76 Posisi bulan terhadap pasang surut

Gambar 4-77 Peta variasi pasang surut di dunia


(www.hurricanescience.org/science/basic/tides/)

110
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Arus pasang surut yang terjadi merupakan efek dari kejadian pasang
surut di garis pantai. Arus ini dihasilkan dari pergerakan horizontal dari
air, yang juga dipengaruhi oleh bentuk dasar lautan, terutama daerah
dekat pantai. Kecepatan arus minimal yang menarik secara ekonomis
adalah lebih besar dari 1, 5 m/s.

4.5.1.3 Arus Laut


Selain arus pasang surut, terdapat lagi jenis arus lainnya di lautan
terbuka. Sirkulasi samudra dalam skala besar terkonsentrasi di berbagai
daerah, yang dipengaruhi oleh pergerakan angin dan pemanasan
matahari pada permukaan laut. Beberapa daerah ini memiliki kecepatan
arus 2 m/s, seperti arus yang mengalir di Afrika selatan, Asia timur
Jepang, Timur Australia dan Utara Amerika.

Gambar 4-78 Pergerakan arus laut di dunia

111
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

4.5.1.4 Energi Thermal Laut


Pada berbagai tingkat kedalaman laut, suhu yang adapun bervariasi,
sebagai akibat dari perbedaan penetrasi sinar matahari. Fenomena ini
dapat digunakan untuk membangkitkan listrik dengan memanfaatkan
variasi suhu ini. Minimal dengan perbedaan suhu 20C, dapat
dimanfaatkan untuk keperluan komersial.

Gambar 4-79 Energi thermal laut di dunia (www.iste.co.uk/multon/marine)

112
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

4.5.2 Teknologi Konversi Energi Laut


4.5.2.1 Teknologi Konversi Energi Gelombang
Ada empat teknologi konversi gelombang laut:

• Point absorber dan attenuators akan mengonversi energi sesaat


setelah ditempatkan pada jalur gelombang. Attenuators
diletakkan pada posisi paralel terhadap arah kedatangan
gelombang dan energi yang dihasilkan berasal dari daerah
permukaan laut, sedangkan point absorber terikat pada dasar
laut atau mengapung pada permukaan laut, yang mampu
menghasilkan energi pada segala arah kedatangan gelombang.

Gambar 4-80 Point absorber (www.oceanpowertechnologies.com/)

113
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-81 Attenuators: Pelamis (www.emec.org.uk)

• Terminators: menahan energi gelombang untuk kemudian


dikeluarkan kembali ke outlet yang di dalamnya terdapat turbin.

114
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-82 Terminators (AIMS Energy, 2014)

• Oscillating Wave Column Terminator (OWC): memanfaatkan air


yang masuk pada bagian platform terbuka menuju bagian
platform yang sebagian berada di bawah permukaan air, untuk
kemudian air laut ini akan bergerak keluar melalui kolom yang
terbuka. Udara di dalam platform mengalami kompresi untuk
kemudian menghasilkan listrik.

Gambar 4-83 Teknologi konversi oscillating wave column terminator

115
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

4.5.2.2 Teknologi Konversi Energi Arus Laut


Turbin arus pasang surut mengekstrak energi kinetik pada air laut yang
mengalir untuk menghasilkan listrik. Teknologi arus pasang surut ini
mirip dengan teknologi wind turbine. Meskipun begitu, terdapat
berbagai perbedaan pada kondisi operasinya. Dalam kondisi normal,
kerapatan air 832 kali lebih besar dibandingkan udara, namun kecepatan
aliran air laut lebih kecil dibandingkan angin. Karena tingkat kerapatan
yang lebih tinggi inilah, maka turbin arus pasang surut mengalami gaya
dan momen yang lebih besar dibandingkan wind turbine. Selain itu, harus
mampu beroperasi dalam dua arah, baik ketika arus pasang maupun arus
surut. Seperti halnya wind turbine, dua jenis teknologi yang umum
adalah horizontal axis dan vertikal axis.

Gambar 4-84 Teknologi konversi energi arus laut (Alstom)

Teknologi Ocean Thermal Energi Conversion (OTEC)

Terdapat dua jenis teknologi ini: open loop cycle dan closed loop cycle.
Keduanya memiliki kemiripan, yaitu memanfaatkan panas yang
terkandung di dalam air laut untuk menghasilkan uap yang digunakan
sebagai pemutar generator.

Open Loop Cycle OTEC

Teknologi ini menggunakan air permukaan laut yang hangat untuk


ditempatkan pada vesel bertekanan, sehingga air tersebut akan
mendidih. Uap dari yang mendidih kemudian digunakan untuk memutar
turbine, yang terhubung dengan generator. Uap, yang merupakan
tawar, kemudian dikondensasikan di kedalaman air laut yang dingin.
Produk samping dari proses ini adalah air tawar.

116
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-85 Siklus kerja Open loop cycle OTEC

Gambar 4-86 Berbagai kondisi suhu pada


tingkat kedalaman laut yang berbeda

Closed Loop Cycle OTEC

Proses yang terjadi serupa dengan open loop, namun menggunakan


fluida kerja lain sebagai pengganti air laut seperti amonia, yang dapat
menguap pada temperatur lebih rendah dibandingkan air.

117
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-87 Siklus kerja closed loop cycle OTEC

4.5.3 Perkembangan Teknologi Energi Laut


Meski teknologi ini masih dalam tahap perkembangan, namun telah
banyak riset dalam pemanfaatan energi laut, dan juga beberapa pihak
yang berusaha mendesain dan mengoperasikan.

Dibandingkan teknologi energi terbarukan lainnya, teknologi energi laut


mempunyai paling banyak variasi. Gambar 4-88 menunjukkan tingkat
maturitas teknologi energi laut, yang telah mencapai tahap komersial
awal adalah teknologi gelombang laut dan pasang surut.

118
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-88 Perkembangan teknologi ocean

4.5.4 Peluang dan Kendala Energi Laut


Tabel 4-10 Potensi energi laut (statistic EBTKE 2016)

Peluang

Indonesia memiliki beberapa daerah dengan potensi baik untuk


diterapkan teknologi arus laut ataupun pasang surut. Selat yang
terdapat di antara pulau di Indonesia timur mempunyai potensi menarik.
Selain itu, di laut wilayah timur juga mengandung perbedaan panas yang
dapat dimanfaatkan oleh teknologi OTEC. Banyak potensi besar energi
laut berada di Indonesia timur dan hanya dekat dengan pulau kecil

119
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

dengan sistem kelistrikan di bawah 10 MW, sehingga tidak dapat


dimanfaatkan optimal.

Kendala

Kesulitan dalam pembangunan dan pengawasan operasi memberikan


kendala tersendiri. Bahkan belum banyak kapal yang dapat menyediakan
fasilitas untuk pengangkutan komponen teknologi ini. Korosi dari laut
memberikan tantangan tersendiri. Tidak seperti pembangkit lainnya
yang terletak di atas daratan sehingga mudah dimonitor proses operasi
dan pemeliharaan, teknologi energi laut relatif lebih sulit.

Jika lokasi pembangkit listrik jauh dari daratan, maka biaya transmisi
energi listrik yang dihasilkan menjadi mahal. Harga mesin teknologi
konversi energi laut masih tinggi untuk diterapkan tanpa subsidi khusus.

Gambar 4-89 Tidal turbin skala komersial produksi OpenHydro

Blade berdiameter 16 meter, berat 300 ton, kapasitas output 2 MW.


Blade terbuat dari material Glass Reinforced Plastic (GRP). Dibandingkan
wind turbine, dengan output yang sama, membutuhkan diameter 80
meter. Hal ini disebabkan arus laut memiliki kerapatan partikel 784 kali
lebih tinggi dibandingkan udara.

120
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-90 PLTS Semau 450 kwp milik PLN (foto oleh Bellar)

4.6 Matahari

Gambar 4-91 Global irradiance

Energi matahari relatif lebih mudah diprediksi dibandingkan energi


angin, terlebih lagi untuk daerah khatulistiwa seperti Indonesia.
Meskipun radiasi matahari untuk daerah ekuator bukan yang tertinggi,
seperti yang ditunjukkan gambar di atas, namun memiliki ketersediaan

121
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

yang cukup ekonomis untuk membangkitkan listrik. Tabel di bawah


menunjukkan intensitas radiasi matahari untuk beberapa kota besar di
Indonesia.

Tabel 4-11 Intensitas radiasi matahari di berbagai kota di Indonesia

Gambar 4-92 Tiga jenis radiasi matahari

Cara sinar matahari mencapai permukaan bumi terdiri dari tiga cara,
yaitu: direct radiation, diffuse radiation, dan reflected radiation. Untuk
diffuse radiation, sinar matahari yang menuju ke permukaan bumi akan
melewati hambatan yang berupa lapisan ozon, molekul udara, partikel
polusi udara seperti aerosol, awan dan uap air, seperti Gambar 4-93.

122
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-93 Hambatan yang dilewati sinar matahari


ketika menuju permukaan bumi

Seberapa banyak intensitas radiasi matahari yang dapat diserap oleh


permukaan bumi, selain tergantung dari jarak antar bumi dan matahari,
dan posisi matahari, juga dipengaruhi sifat fisik dari permukaan bumi
seperti tingkat refleksifitas (disebut juga albedo). Daratan mempunyai
nilai albedo yang lebih rendah dibandingkan lautan ataupun daerah
kutub, sehingga permukaan daratan lebih banyak menyerap radiasi
matahari dan menjadi lebih cepat panas.

4.6.1 Pembangkit Concentrated Solar Power atau Solar Thermal


Solar Thermal adalah teknologi pemanfaatan sinar matahari dengan cara
menggunakan cermin atau reflector untuk memantulkan dan
memfokuskan sinar matahari ke arah receiver yang di dalamnya terdapat
cairan/ fluida. Akibat dari pemanasan ini, temperatur fluida naik yang
kemudian dialirkan melewati heat exchanger untuk memanaskan air
sampai terbentuk uap air untuk menggerakkan turbin uap.

Secara prinsip kerja, solar thermal merupakan PLTU berbahan bakar


sinar matahari. Perbedaan terletak pada sumber panas. Pada PLTU,
sumber panas adalah pembakaran di dalam boiler, sedangkan solar
thermal sumber panas adalah sinar matahari yang terkonsentrasi.

123
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-94 Komponen utama Siklus Uap Rankine

Berbeda dengan photovoltaic, solar thermal hanya dapat memanfaatkan


sinar matahari radiasi langsung yang jatuh ke permukaan (direct normal
radiation).

Pada umumnya komponen utama solar thermal terdiri dari tiga bagian:
solar concentrator atau mirror system, Receiver (steam generator
equipment), steam turbin. Gambar di bawah ini menunjukkan prinsip
kerja CSP.

Gambar 4-95 Prinsip kerja sistem solar thermal

124
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Solar thermal technology menggunakan empat pendekatan teknologi.

Gambar 4-96 Jenis-jenis teknologi CSP (Richter, 2009)

4.6.1.1 Parabolic Trough


Parabolic trough merupakan teknologi CSP yang paling banyak
dikembangkan, sekitar 90% dari teknologi CSP yang ada di dunia adalah
jenis ini. Rasio solar flux concentration yang dihasilkan sebesar 30-100
kali. Trough system menggunakan cermin yang berbentuk parabolik
untuk memfokuskan sinar matahari dan mengarahkan ke pipa yang
berisi fluida di dalamnya. Fluida bertemperatur tinggi, mencapai 400C,
kemudian memanaskan air melalui heat exchanger sampai menjadi uap.
Kemudian, uap dipergunakan untuk menggerakkan turbin uap.

Parabolic trough mempunyai kemampuan menyimpan panas sinar


matahari dengan cara menggunakan molten salt yang disimpan di tangki.

Teknologi ini membutuhkan tanah seluas 40.000 m 2/MW dan kebutuhan


air 2.9 -3.5 m3/MWh. Capital cost sebesar $3000-6000/kW dengan
capacity factor 25-50% per tahun. Efisiensi konversi energi matahari ke
listrik sebesar 14-20%. Kapasitas output dari pembangkit yang ada
sebesar 30-150 MW (Meyer, 2009).

125
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-97 Parabolic Trough

126
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

4.6.1.2 Solar Tower

Gambar 4-98 Solar tower

Solar tower, juga disebut central receiver, mempunyai rasio konsentrasi


sinar matahari sebesar 300-1500 x. Teknologi ini menggunakan
heliostats untuk mengikuti pergerakan sinar matahari. Heliostat ini
terletak di sekitar tower dan berfungsi untuk mengumpulkan dan
memfokuskan sinar matahari.

Sinar matahari yang telah terfokus ini kemudian diarahkan ke receiver


yang terletak di atas tower, yang di dalamnya terdapat fluida. Fluida yang
telah bertemperatur tinggi ini, mencapai 500-1500 C, kemudian
mentransfer panasnya ke air melalui heat exchanger untuk kemudian
diubah menjadi uap yang menggerakkan turbin.

Serupa dengan parabolic trough, solar tower mempunyai kemampuan


menyimpan panas sinar matahari dengan cara menggunakan molten salt
yang disimpan di tangki.

Efisiensi konversi energi sebesar 23%. Kapasitas output yang ada sebesar
30-160 MW. Kebutuhan lahan sebesar 12 hektar/MW.

127
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

4.6.1.3 Linear Fresnel Reflector


Teknologi ini merupakan sekumpulan reflector yang hampir datar
permukaannya yang berfungsi untuk mengumpulkan sinar matahari
untuk kemudian dipantulkan ke receiver. Reflector dapat mengikuti
pergerakan sinar matahari dengan pergerakan satu sumbu.

Berbeda dengan teknologi CSP sebelumnya, sebagian besar Linear


Fresnel menghasilkan uap air langsung tanpa ada perantara melalui heat
exchanger, walaupun ada riset yang masih memanfaatkan fluida lain
sebagai penukar panas di heat exchanger.

Gambar 4-99 Linear Fresnel Reflector

Kebutuhan tanah seluas 1800 m2/MW dan air yang dibutuhkan relatif
lebih kecil dibandingkan dengan parabolic trough, 2.8 m3/ MWh. Capital
cost lebih kecil tetapi efisiensi yang dihasilkan lebih juga dibanding
parabolic trough.

128
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar berikut merupakan contoh proyek linear fresnel di Murcia,


Spanyol.

Gambar 4-100 Linear fresnel CSP kapasitas 1-1, 4 MW di Murcia, Spanyol.

4.6.1.4 Parabolic Dish


Parabolic dish system terdiri dari struktur tunggal yang mendukung
sebuah parabolic dish cermin yang memantulkan cahaya pada solar
receiver yang terletak pada pusat dish. Untuk menangkap sinar matahari
secara optimum, rangkaian dish mengikuti pergerakan matahari.

Sinar matahari yang terkonsentrasi ini kemudian digunakan untuk


memanaskan gas helium atau hidrogen yang terdapat pada tabung tipis
mesin 4 silinder stirling engine. Akibat dari pemanasan sinar matahari
yang terkonsentrasi, gas menjadi memuai untuk kemudian
menggerakkan piston silinder.

Tabel 4-12 Perbandingan teknologi CSP yang ada

Parabolic Dish Solar tower Parabolic trough Linear Fresnel


Output range 3-50 kW 30-160 MW 30-150 MW 5 MW
Concentration ratio 80 x 500-1500 x 500-1500 x 80 x
Efficiency plant 30% 23% 14-20% <14%
Kebutuhan lahan 16.000 m2/MW 80.000 m2/MW 40.000 m2/MW 1800 m2/MW

129
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-101 Parabolic Dish

Kelebihan CSP dibandingkan teknologi surya yang lain, yaitu


photovoltaic:

• CSP memiliki efisiensi lebih tinggi dibandingkan photovoltaic, yaitu


20%.
• Dengan menggunakan teknologi storage yaitu molten salt, energi
panas yang didapat dari matahari di waktu siang dapat disimpan
dimalam hari sehingga mampu untuk dioperasikan sebagai beban
puncak. Dari proyek komersial yang ada, molten salt dapat disimpan
selama 7.5 jam. Life cycle Molten salt selama 30 tahun, jauh lebih
lama dibandingkan dengan baterai untuk PV yang hanya berumur
maksimal 5 tahun.
• Produksi cermin dibandingkan sel photovoltaic lebih ramah
lingkungan dan energi yang dibutuhkan lebih sedikit.

130
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Kelemahan CSP

• CSP membutuhkan lahan yang luas untuk lokasi penempatan


peralatan utama
• Harga capital cost yang masih mahal
• Membutuhkan lokasi yang sangat spesifik, yaitu daerah dengan
direct normal radiation

4.6.1.5 Perkembangan Teknologi CSP


Negara yang sudah banyak meneliti dan membangun pembangkit
teknologi CSP adalah Spanyol, Jerman dan Amerika. Selain dioperasikan
di negara tersebut di atas, beberapa negara di Timur Tengah dan Afrika
yang memiliki daerah gurun luas, sudah mulai merencanakan
pembangunan CSP. Tidak banyaknya negara yang membangun CSP lebih
disebabkan karena tidak banyak negara yang memiliki sumber panas
matahari direct radiation.

4.6.2 Peluang dan Kendala Energi Matahari


Peluang

Kupang merupakan wilayah terbaik di Indonesia untuk membangun CSP.


Saat ini, riset untuk memaksimalkan pengumpulan sinar matahari oleh
collector system, sudah banyak memberikan hasil positif, sehingga dalam
beberapa tahun ke depan diharapkan performa CSP dapat lebih tinggi
dan dengan biaya lebih murah. Biaya produksi collector mencapai 40%
dari total nilai produksi CSP.

Kendala

Seperti halnya di belahan dunia lain, di Indonesia pun tidak banyak


daerah yang memiliki sumber panas matahari direct radiation.
Kebutuhan lahan yang luas dan biaya investasi yang masih mahal
merupakan kendala utama dari teknologi ini. Namun, dengan semakin
bertambah pemanfaatan teknologi ini beberapa negara, sehingga
diharapkan dengan bertambah jumlah produksi, maka harga per unitnya
menurun.

4.6.3 PLTS (Photovoltaic)


Teknologi PV mengubah secara langsung sinar matahari menjadi listrik
dalam suatu proses yang disebut “photoltaic effect”. Proses tersebut
terjadi, baik dalam kondisi sinar matahari terang maupun, mendung,
tentu saja dengan kapasitas produksi yang akan bervariasi. Yang
dimasuk dengan PV effect adalah jika dua material semikonduktor yang

131
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

berbeda (seperti misalnya silikon, germanium) saling didekatkan, dapat


menghasilkan arus listrik ketika dihadapkan pada sinar matahari.

Sinar matahari menyediakan energi bagi elektron pada material


semikonduktor agar dapat saling berpindah dengan mudah. Sebagai
akibat elektron yang berpindah dari satu material ke material lainnya,
maka akan menghasilkan arus listrik (direct current) negatif dan
kemudian timbul tegangan.

Gambar 4-102 Prinsip kerja photovoltaic

Gambar 4-103 Komponen penyusun panel photovoltaic

Komponen utama dari sistem PV adalah solar sel yang mengubah energi
matahari menjadi listrik DC. Sel PV dirakit untuk kemudian menjadi
sebuah modul PV. Beberapa modul PV dirakit, baik seri maupun paralel,
untuk menaikkan tegangan atau arus. Sebuah inverter dibutuhkan untuk
mengubah arus DC menjadi AC sehingga listrik yang dihasilkan dapat

132
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

disalurkan ke grid atau peralatan listrik. Suatu sistem PV dapat


digunakan untuk berbagai keperluan, baik untuk pembangkitan listrik,
maupun off grid system, seperti rumah, gedung atau daerah terpencil.
Teknologi PV telah banyak mengalami perkembangan dalam tahun-
tahun terakhir ini, baik dalam hal efisiensi maupun biaya produksi.

4.6.3.1 Jenis–jenis Teknologi Photovoltaic (PV)

Gambar 4-104 Crytalline silicon

Silicon

Mayoritas PV cell, sekitar 85% yang ada di pasaran menggunakan


teknologi silikon. Terdapat dua jenis teknologi ini yaitu mono-crytalline
dan poly-crystalline. Untuk jenis mono, diproduksi dari pemotongan
crystal silicon yang telah dimurnikan, sedangkan poly-crystalline
dihasilkan pemotongan lapisan cetakan silicon. Produksi Mono
crystalline ingot lebih sulit, membutuhkan energi lebih banyak, dan lebih
mahal, namun efisiensi yang dihasilkan lebih tinggi dibandingkan poly-
crystalline, dikarenakan tingkat kemurnian lebih tinggi.

Gambar 4-105 Proses produksi silikon cell

133
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Bagaimana Silikon Membuat Sel Surya

Silikon memiliki beberapa sifat kimia khusus, terutama jika berbentuk


kristal. Sebuah atom silikon memiliki 14 elektron, terbagi dalam tiga kulit
yang berbeda. Dua kulit yang pertama berisi penuh, yaitu dua dan
delapan elektron. Sedangkan pada kulit luar hanya setengah penuh
karena hanya memiliki empat elektron. Sebuah atom silikon akan selalu
mencari cara untuk mengisi kulit yang terakhir, dan untuk melakukan hal
ini, atom tersebut akan berbagi elektron dengan empat atom lain yang
berada di dekatnya. Gambarannya seperti seseorang yang berpegangan
tangan dengan tetangga, namun dalam kasus ini, setiap atom memiliki
empat tangan yang digunakan untuk berpegangan dengan empat
tetangga. Itulah yang membentuk struktur kristal, dan struktur itulah
yang ternyata menjadi penting untuk jenis sel PV.

Satu-satunya masalah adalah bahwa kristal silikon murni adalah


konduktor listrik yang buruk karena tidak ada elektron bebas yang
bergerak, tidak seperti elektron dalam konduktor yang baik, contohnya
tembaga. Untuk mengatasi masalah ini, silikon dalam sel surya harus
ditambahkan dengan campuran – yaitu atom lain yang sengaja dicampur
dengan atom silikon - yang bisa sedikit mengubah cara kerjanya. Kita
biasa berpikir bahwa ketidakmurnian/campuran merupakan sesuatu
yang tidak diinginkan, tetapi dalam kasus ini, silikon tidak akan bekerja
tanpa campuran tersebut. Mari kita lihat silikon dengan tambahan atom
fosfor, mungkin dengan perbandingan satu untuk setiap juta atom
silikon. Fosfor memiliki lima elektron di kulit terluarnya, bukan empat.
Masih berikatan dengan atom silikon tetangganya, fosfor memiliki satu
elektron yang tidak memiliki orang lain untuk berpegangan tangan.
Berarti ada suatu proton positif dalam nukleus fosfor.

Ketika ada energi yang ditambahkan ke silikon murni, energi panas


misalnya, hal ini dapat menyebabkan beberapa elektron membebaskan
diri dari ikatan atom lalu meninggalkan atom tersebut. Hal ini kemudian
meninggalkan bekas berupa sebuah lubang. Elektron ini, disebut carrier
bebas, yang lalu berjalan secara acak di sekitar kisi kristal mencari lubang
lain kemudian jatuh ke dalam dan membawa arus listrik. Namun, dalam
silikon murni jumlahnya begitu sedikit sehingga tidak terlalu berguna.

Pada silikon tidak murni yang telah dicampur dengan atom fosfor
prosesnya menjadi berbeda. Dibutuhkan energi yang jauh lebih sedikit
untuk membuat satu dari elektron ‘ekstra’ dalam fosfor untuk bisa lepas
karena mereka tidak terikat dalam suatu ikatan dengan atom yang lain.
Akibatnya, sebagian besar elektron bisa lepas sehingga kita memiliki
lebih banyak carrier bebas dibandingkan dalam silikon murni. Proses
penambahan campuran dengan tujuan tertentu disebut doping, dan

134
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

ketika di-doping dengan fosfor, silikon yang dihasilkan disebut N-type


("n" berarti negatif) karena prevalensi elektron bebas. Silikon N-type
yang sudah di-doping adalah sebuah konduktor yang jauh lebih baik
daripada silikon murni.

Bagian lain dari sel surya di-doping dengan unsur boron, yang hanya
memiliki tiga elektron di kulit terluarnya, kemudian menjadi P-type
silikon. P-type ("p" berarti positif) tidak memiliki elektron bebas,
melainkan memiliki bukaan bebas dan membawa muatan (positif)
berlawanan.

Pada bagian berikutnya, kita akan melihat lebih dekat apa yang terjadi
ketika dua zat mulai berinteraksi.

Thin Film

Cell thin film PV terdiri dari lapisan semikonduktor dengan ketebalan


beberapa micron, yang mana 100 kali lebih tipis dibandingkan cell silikon.
Material yang umumnya digunakan adalah cadmium telluride (CdTe),
amorphous silicom (a-Si) dan paduan copper indium gallium diselenide
(CIGS). Thin film sangat sensitif terhadap air oleh karena itulah
diperlukan pelapis dari glass. Biaya produksi Thin film lebih murah
dibandingkan silikon, dan juga efisiensi yang dihasilkan.

Tabel di bawah ini menampilkan perbandingan teknologi PV beserta


efisiensi. Semakin tinggi efisiensi, semakin kecil luas lahan yang
dibutuhkan.

Tabel 4-13 Perbandingan berbagai jenis teknologi PV

135
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Rumah dengan Tenaga Surya

Apa yang akan Anda lakukan untuk menggunakan energi surya pada
rumah Anda? Meskipun tidak sesederhana hanya dengan menempatkan
beberapa panel surya di atap Anda, namun ternyata tidak terlalu sulit
untuk dilakukan.

Tidak semua atap memiliki orientasi/sudut kemiringan yang benar untuk


dapat memanfaatkan energi matahari. Sistem PV di belahan bumi utara
idealnya harus mengarah ke selatan, meskipun orientasi yang mengarah
ke arah timur dan barat juga dapat bekerja, namun dengan
mengorbankan berbagai tingkat efisiensi. Panel surya juga harus
memiliki sudut kemiringan yang sesuai dengan lintang daerah ini untuk
menyerap jumlah maksimum energi sepanjang tahun. Jika Anda ingin
memaksimalkan produksi energi untuk pagi atau sore, atau untuk musim
panas atau musim dingin maka Anda bisa mengubah-ubah sudut
kemiringannya. Tentu saja, modul tidak boleh terkena bayangan pohon-
pohon atau bangunan, tanpa terkecuali. Dalam modul PV, bahkan jika
hanya satu sel terkena bayangan, maka produksi listrik dapat berkurang
secara signifikan.

Data meteorologi memberikan jumlah rata-rata sinar matahari bulanan


untuk wilayah geografis yang berbeda. Sehingga kita bisa
memperhitungkan tingkat curah hujan dan hari berawan, serta faktor
ketinggian, kelembaban dan lain-lain. Dengan menggunakan data dan
tagihan permintaan rumah tangga Anda, Anda dapat dengan mudah
mengetahui berapa banyak energi yang Anda butuhkan setiap bulan,
ada metode sederhana yang dapat digunakan untuk menentukan
berapa banyak modul PV Anda butuhkan. Anda juga harus membuat
keputusan tentang tegangan sistem, sehingga Anda dapat mengontrol
dan memutuskan berapa banyak modul yang dibutuhkan.

136
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-106 Gambaran rumah dengan panel surya

4.6.3.2 Perkembangan Teknologi PV


Tren harga teknologi PV masih mengalami penurunan, belum mencapai
harga dasar kesetimbangan. Terdapat beberapa penjelasan mengapa
harga PV belum stabil. Pertama adalah, estimasi peningkatan efisiensi
solar sel dalam menghasilkan listrik. Semakin efisien, maka akan semakin
murah harga cell-nya. Kedua adalah mengenai biaya produksi.

Pada contoh yang terjadi di Cina, pabrik solar sel menikmati fasilitas
khusus yang disediakan pemerintahnya, sehingga mereka mampu
memproduksi dengan harga murah. Dalam grafik di bawah, dari data
IRENA tahun 2018, diketahui bahwa penurunan harga PV lebih cepat
terjadi di Negara maju di Eropa barat dan Jepang. Penurunan harga yang
lebih dari 40% ini didorong oleh laju permintaan yang tinggi di negara
tersebut.

137
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-107 Tren harga solar PV

Tabel 4-14 Perkembangan efisiensi cell PV

4.6.3.3 Peluang dan Kendala Teknologi PV


Peluang

Teknologi PV mempunyai peluang yang baik untuk dikembangkan


mengingat sinar matahari adalah sumber energi yang gratis dan
berkelanjutan. Selain itu, tersedianya variasi kapasitas kecil sampai
dengan menengah membuat PV sangat sesuai untuk dibangun di daerah
terpencil.

138
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Teknologi cell PV terus mengalami peningkatan, sehingga diharapkan


harga akan lebih terjangkau untuk aplikasi rumah tangga.

Kendala

PV dapat dikatakan sebagai teknologi dengan sumber energi intermiten,


sehingga ada saat-saat tertentu ketika matahari tertutup oleh awan atau
hujan, maka akan terjadi penurunan produksi listrik yang drastis. Harga
teknologi yang dapat mengatasi kendala intermiten ini masih tinggi,
yaitu baterai, dan smart grid. Untuk kualitas baterai yang baik, dan lama
suplai 4 jam, biaya investasinya sama dengan PLTS itu sendiri.

Untuk sel PV sendiri, pihak pabrikan menjamin bahwa umurnya dapat


mencapai 25 tahun. Namun angka tersebut hanya berdasarkan hasil tes
di lab.

Gambar 4-108 PLTS terapung

Kebutuhan lahan yang besar untuk PLTS, yaitu seluas 1 ha/MW, dapat
disiasati dengan membangun di atas air. Gambar atas 6.33 MWp Queen
Elizabeth II Reservoir, UK dan bawah, 40 MW, di Huainan Cina.

139
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-109 PLTA Tonsea lama, kapasitas 40 MW, dibangun sejak tahun 1912,
merupakan pembangkit listrik tertua di Indonesia (Foto dari PLN Sulutenggo)

4.7 Air

Di seluruh dunia, pembangkit listrik tenaga air menghasilkan sekitar 24


persen listrik dunia dan memberi pasokan energi bagi lebih dari 1 miliar
orang. Jika seluruh PLTA di dunia digabung maka total akan
menghasilkan 675.000 megawatt, setara dengan energi dari 3, 6 miliar
barel minyak (menurut National Renewable Energi Laboratory).

4.7.1 Proses Aliran Air


Energi air dihasilkan dari aliran air pada siklus hidrologi, yang dipengaruhi
oleh radiasi sinar matahari. Sinar matahari yang datang ke bumi diserap
oleh permukaan daratan atau air, yang kemudian memanaskan
permukaan dan mengakibatkan penguapan di mana air berada. Sekitar
50% dari panas sinar matahari yang sampai ke permukaan bumi
digunakan untuk menguapkan air dan menggerakkan siklus hidrologi.
Potensi energi yang dihasilkan dari siklus ini sangat besar namun hanya
sedikit yang secara teknis dapat dikembangkan. Air yang menguap
bergerak ke atmosfer, dan meningkatkan kandungan air di udara.
Perubahan arah angin yang juga dipengaruhi oleh radiasi matahari, turut
berperan untuk menggerakkan udara dan uap air di sepanjang
permukaan bumi, bahkan sejauh ribuan kilometer dari tempat awal

140
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

terjadinya penguapan. Pada akhirnya uap air ini akan terkondensasi,


mengembun, dan terjadi hujan. Sekitar 78% dari air yang kembali ke bumi
ini jatuh ke lautan dan sisanya ke daratan.

Gambar 4-110 Siklus hidrologi

Proses ini menghasilkan pergerakan air dari lautan ke daratan, dan dalam
jumlah yang sama air dari daratan mengalir kembali ke lautan dalam
bentuk aliran sungai dan air tanah. Aliran air pada sungai inilah yang
dimanfaatkan untuk menghasilkan tenaga air. Dalam pengertian yang
lebih singkat, energi dari aliran air, dari permukaan tinggi ke permukaan
rendah, dalam perjalanannya kembali menuju ke lautan, yang
dipengaruhi oleh gravitasi bumi, memiliki potensi energi yang dapat
digunakan untuk membangkitkan listrik.

Potensi sumber tenaga air dapat dihasilkan dari total aliran yang ada
dikalikan dengan ketinggian aliran air dan faktor konversi. Dikarenakan
sebagian besar pengembunan dan hujan terjadi di daerah pegunungan,
yang mana mempunyai perbedaan ketinggian yang besar dibandingkan
permukaan daratan atau laut, maka potensi terbesar pengembangan
tenaga air berada di daerah pegunungan atau sungai yang mengalir dari
pegunungan.

4.7.2 Teknologi Energi Air: PLTA


PLTA memanfaatkan energi potensial air yang berada pada ketinggian
tertentu untuk menggerakkan turbin air yang terhubung dengan
generator sehingga menghasilkan listrik. Seberapa banyak listrik yang
dapat diproduksi tergantung juga dengan jumlah volume air yang
tersedia. Pada saat musim kemarau, produksi listrik dari PLTA akan
turun. Volume air yang tersedia juga dipengaruhi oleh kualitas
perawatan waduk. Jika terjadi sedimentasi (pendangkalan akibat

141
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

penumpukan material tanah) tinggi pada waduk, maka jumlah air yang
dapat ditampung waduk juga berkurang. Erosi lahan yang tinggi di
daerah hulu waduk, yang merupakan daerah tangkapan air, menjadi
sumber utama penyebab tingginya sedimentasi waduk. Hal ini secara
umum didorong oleh pemanfaatan lahan yang kurang memperhatikan
konservasi aliran air sungai menuju waduk.

Berikut adalah komponen dasar dari sebuah pembangkit listrik tenaga


air konvensional:

Gambar 4-111 Komponen Dasar Pembangkit Listrik Tenaga Air Konvensional

• Dam/bendungan – Kebanyakan pembangkit listrik tenaga air


bergantung pada dam/bendungan untuk menahan air, untuk
menciptakan sebuah tandon besar. Sering kali, dam/bendungan
ini digunakan sebagai tempat rekreasi.
• Intake - Gerbang pada bendungan terbuka dan gravitasi menarik
air melalui penstock, sebuah pipa yang mengarah ke turbin. Air
menciptakan tekanan ketika mengalir melalui pipa ini.
• Turbin - Air mengenai dan memutar bilah besar dari turbin, yang
melekat pada generator di atasnya. Jenis yang paling umum dari
turbin untuk pembangkit listrik tenaga air adalah Turbin Francis,
yang terlihat seperti cakram besar dengan bilah melengkung.
Turbin dapat mencapai berat sekitar 172 ton dan berputar
dengan kecepatan 90 putaran per menit (rpm).
• Generator - Ketika bilah turbin berputar maka serangkaian
magnet dalam generator juga ikut berputar. Sebuah magnet

142
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

besar berputar melewati kumparan tembaga, menghasilkan


arus bolak-balik (AC) dengan cara memindahkan elektron.
• Transformer - Trafo yang berada di dalam pembangkit tenaga
listrik mengambil arus AC tersebut dan mengonversikannya
menjadi tegangan tinggi.
• Garis Daya - Dari setiap pembangkit listrik terdapat empat kabel:
tiga dari fase daya yang dihasilkan secara simultan ditambah
satu untuk kabel netral untuk meng-groundkan ketiganya.
• Outflow – Air yang telah digunakan dibawa melalui jaringan
pipa, yang disebut tailraces, dan dikembalikan ke sungai.

Gambar 4-112 Poros yang menghubungkan Turbin dan Generator

4.7.3 Jenis PLTA Berdasarkan Tipe Aliran Air


Berdasarkan tipe aliran air atau fasilitas yang dimiliki, PLTA terbagi
menjadi beberapa jenis, yaitu

Run of River (ROR)

PLTA yang menerapkan sistem ROR mengambil air dari aliran sungai
sebagai sumber tenaga penggerak turbine. Variasi aliran yang terjadi
dapat selama hitungan jam maupun hari, bergantung pada kondisi aliran
sungai. Sehingga, listrik yang dihasilkan juga dipengaruhi oleh curah
hujan dan iklim setempat.

143
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-113 Run-off – river power plant

Dari gambar di atas terlihat bahwa sebagian dari aliran sungai dialihkan
ke kanal atau biasa disebut penstock, menuju rumah turbin yang
terhubung dengan generator. Tipe PLTA jenis ini membutuhkan biaya
yang relatif murah dan dampak lingkungan yang kecil.

Bendungan

PLTA yang mempunyai media penyimpan, yakni bendungan, dapat


menyimpan sementara air untuk digunakan kemudian saat dibutuhkan.
Penggunaan bendungan dapat menjaga agar produksi listrik tidak terlalu
fluktuatif seperti ROR. Lokasi rumah power house terletak di bawah
bendungan atau aliran air, yang aliran airnya terhubung dengan
bendungan melalui terowongan atau pipa.

144
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-114 PLTA dengan bendungan


(Sumber: Arun Kumar, types of hydro power plant)

Pumped Storage

PLTA dengan pumped storage menggunakan dua bendungan atau


reservoir sebagai media penyimpanan. Pada aliran awal, bendungan
bagian atas diisi dengan air yang berasal dari aliran sungai. Kemudian,
ketika energi listrik dibutuhkan oleh sistem, yaitu pada saat peak load, air
akan dialirkan menuju bendungan bawah, untuk kemudian meng-
gerakkan turbin.

Berbeda dengan tipe bendungan sebelumnya, yang mana setelah


menggerakkan turbin, air langsung meninggalkan power plant, pada
sistem pumped storage, air akan dipompa naik kembali ke bendungan
atas. Pemompaan dilakukan pada saat beban sistem listrik rendah,
sehingga biaya energi listrik yang digunakan untuk mengoperasikan
pompa lebih murah.

145
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Penggunaan PLTA dengan sistem pumped storage untuk memenuhi


kebutuhan suplai listrik pada saat beban puncak lebih murah
dibandingkan dengan gas turbine atau combined cycle.

Gambar 4-115 Skema kerja pumped-storage

4.7.4 Jenis Turbin PLTA

Gambar 4-116 Grafik Jenis turbin PLTA

Pemilihan jenis turbin PLTA yang tepat menentukan seberapa banyak


energi listrik yang akan dihasilkan. Selain itu juga untuk menghindari
terjadi kerusakan dini pada turbin akibat tekanan air yang di luar batas
aman kekuatan material turbin. Variasi pilihan turbine PLTA bergantung
dari jumlah aliran air dan ketinggian jatuh air. Mayoritas turbine PLTA
yang paling banyak digunakan adalah Kaplan, Francis, dan Pelton. Turbin
kaplan dan Francis termasuk golongan turbin reaksi, sedangkan turbin
pelton adalah jenis impulse. Turbin reaksi memfokuskan konversi energi
pada tekanan air yang melewatinya, sedangkan turbin impulse

146
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

memanfaatkan kecepatan air atau energi kinetik sebagai penggerak


utama. Pemilihan jenis turbin yang tepat sangat penting untuk
menghindari kerusakan selama operasi.

Pada PLTA tipe pumped storage, digunakan turbin khusus yang dapat
beroperasi sebagai pompa yang digerakkan oleh generator yang
berfungsi sebagai motor, untuk menaikkan air ke bendungan atas.
Turbin untuk pumped storage adalah jenis Francis.

4.7.5 Perkembangan Teknologi PLTA


Teknologi PLTA merupakan salah satu teknologi energi terbarukan yang
paling proven dan telah terbukti kehandalan operasinya. Bahkan masih
ada beberapa PLTA dengan umur lebih dari 50 tahun yang masih
beroperasi. Salah satu sebabnya adalah teknologi PLTA tidak beroperasi
pada suhu tinggi yang dapat mencapai 1200 C seperti PLTBiomassa dan
tidak terjadi reaksi kimia yang kompleks. Meskipun telah terbukti
kehandalannya, desainer PLTA masih berupaya meningkat kualitas
teknologi ini. Diantaranya adalah meningkatkan efisiensi pembangunan
terowongan air, operasional, dan mengurangi dampak lingkungan
akibat operasional PLTA.

Variable Speed Technology

Umumnya, parameter yang berpengaruh terhadap pengoperasian


turbine PLTA agar dapat menjadi optimal adalah speed, head dan
discharge (flow). Pada turbin dengan kecepatan tetap, jika terjadi
perubahan discharge akan berdampak pada penurunan efisiensi. Namun,
dengan penggunaan variabel speed turbine, maka penurunan efisiensi
dapat diminimalkan.

Gambar 4-117 Perbandingan efisiensi turbine PLTA jika menggunakan


variable speed dan fixed speed

147
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Hydrokinetic Turbine

Potensi air yang memiliki ketinggian head di bawah 35 m dan aliran air di
bawah 100 m3/s umumnya kurang layak untuk dimanfaatkan sebagai
pembangkit jika menggunakan jenis turbine air konvensional, sehingga
membutuhkan turbin khusus. Jenis turbin yang dapat mengonversi head
rendah namun dengan nilai keekonomisan yang layak, disebut
hydrokinetic turbine. Teknologi ini, membutuhkan kecepatan air yang
lebih tinggi sebagai kompensasi atas rendahnya head aliran air.

Gambar 4-118 Low head dan hydrokinetic turbine (Andritz hydro)

Tunneling Technology (teknologi pembuat terowongan air)

Terowongan digunakan untuk mengalirkan air dari intake menuju rumah


turbin (disebut headrace), dan dari rumah turbine untuk kembali ke
sungai (disebut tailrace). Teknologi tunnel yang paling populer sekarang
ini adalah dril and blast, dan penggunaan mesin bor (Tunnel Boring
Machines, TBM). Dari gambar di bawah dapat terlihat bahwa teknologi
pembuatan tunnel semakin lebih murah (Bruland, 2007).

148
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-119 Perkembangan biaya tunnel Excavation

4.7.6 Peluang dan Kendala Energi Air


Peluang

Masih cukup banyak potensi energi air yang dapat dimanfaatkan.


Meskipun sisa lokasi yang tersedia sekarang mempunyai tantangan lebih
berat dalam pengembangan infrastruktur, namun dengan
berkembangnya berbagai teknologi eksplorasi terowongan air dan
efisiensi mesin PLTA yang lebih baik akan membuat proyek PLTA di masa
depan lebih layak.

Kendala

Dampak sosial dan lingkungan hidup merupakan kendala terbesar yang


dihadapi dalam pengembangan PLTA. yang paling utama adalah dampak
akibat penduduk yang berada di daerah bendungan.

Jika terdapat pemukiman penduduk di mana akan direncanakan


pembangunan bendungan, maka perlu dilakukan relokasi, yang mana
membutuhkan biaya yang tidak sedikit. PLTA dapat mempengaruhi
aliran sungai, sehingga perlu diperhatikan dampak terhadap penduduk
dan ikan di sungai.

149
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Jika bendungannya digunakan untuk keperluan lain, seperti misal irigasi,


ada kemungkinan timbul konflik penggunaan air. Hanya di proyek PLTA,
biaya pekerjaan sipil melebihi dari harga mesin yang digunakan.
Pekerjaan sipil merupakan tantangan pembangunan PLTA di Indonesia
ke depan, mengingat potensi air dengan kondisi geografis yang relatif
mudah dan strategis sudah banyak dimanfaatkan.

Tabel 4-15 Potensi energi air, berdasarkan studi NIPPON KOEI


(Statistik EBTKE, 2016)

150
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-120 PLTM Pico Hidro 10 KW, dengan head 2 meter,


didesain oleh PLN Pusharlis

Gambar 4-121 PLTP Ulumbu, NTT

151
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

4.8 Panas Bumi

4.8.1 Sumber Energi Panas Bumi


Energi panas bumi adalah energi yang tersimpan dalam bentuk panas di
bawah permukaan bumi. Energi panas ini kemudian dibawa ke
permukaan bumi melalui sumur oleh fluida, dapat berupa cair atau uap,
yang mempunyai suhu tinggi dan mengandung unsur mineral. Air atau
uap panas bumi diekstrak dari reservoir yang terletak di kedalaman perut
bumi dan terisolasi selama proses produksi. Uap panas bumi ini
kemudian digunakan untuk memutar turbin uap di rumah pembangkit
listrik. Setelah digunakan untuk memutar turbin uap, air dan uap hasil
kondensasi turbin disuntik kembali masuk ke dalam reservoir di perut
bumi (NREL, 2011).

Gambar 4-122 Sumber energi panas bumi yang dimanfaatkan


untuk pembangkit listrik

Seperti yang terlihat pada gambar di atas, sumber utama panas bumi
yang menghasilkan uap panas terdiri atas tiga bagian: sumber panas,
fluida yang mampu membawa panas bumi ke permukaan, dan lapisan
permeable rock (lapisan batuan yang bisa ditembus air).

Sumber utama panas bumi datang dari inti bumi yang memiliki suhu
6000 C, setara dengan panas permukaan matahari. Suhu tinggi pada Inti
bumi disebabkan karena aktivitas saat pembentukan planet, gesekan
lapisan kerak bumi dan peluruhan radioaktif (Anzellini, Dewaele, 2013).

Inti bumi terdiri dari inti bagian dalam berupa besi padat dengan
ketebalan 1200 km dan inti bagian luar berupa besi berbentuk cair
dengan ketebalan 2200 km. lapisan mantel menyelimuti Inti bumi, yang
berupa batuan dalam fase padat dan batuan dalam fase cair atau

152
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

magma. Tebal lapisan mantel ini diperkirakan sekitar 2800 km. Setelah
lapisan mantel terdapat lapisan kerak bumi yang terdiri dari lempengan-
lempengan seperti kulit telur yang saling bertumpuk. Lempengan ini
cenderung bergerak membentuk lapisan permukaan bumi paling luar
seperti benua, palung dan gunung. Pergerakan ini menimbulkan rekahan
di mana magma dari lapisan mantel menyeruak keluar. Magma yang
muncul ke permukaan bertemu dengan air atau material lainnya dan
terjadilah transfer panas. Sumber panas ini yang dieksploitasi sebagai
energi (Risnandar, Jurnal Bumi, 2018).

Struktur Lapisan Bumi Dan Sumber Geothermal

Gambar 4-123 Penampang kerak bumi (geo-energy.org/)

Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa 99% dari suhu planet bumi
lebih dari 1000 ⁰C. Untuk setiap kedalaman 1000 m dihitung dari
permukaan terluar, suhu tanah akan meningkat sebesar 35-40⁰C, kecuali
untuk beberapa daerah tertentu yang berada di sekitar gunung berapi.
Sedangkan pada permukaan bumi, suhu lebih banyak dipengaruhi oleh
sinar matahari dan jangkauan konduktivitas panas hanya sejauh 15-20
mm di bawah permukaan tanah.

Lapisan Bumi merupakan suatu permukaan yang menyediakan panas.


Sumber panas bumi yang paling aktif biasanya terbentang di sepanjang
lapisan di mana gunung berapi dan gempa bumi terpusat. Gambar di
bawah menampilkan lokasi gunung berapi di dunia yang juga merupakan
sumber potensial geotermal.

153
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-124 Peta jalur gunung berapi di dunia

Seperti pembangkit thermal lainnya, PLTP menggunakan sumber panas


untuk menghasilkan uap bertekanan tinggi yang kemudian
dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin. Berbeda dengan
PLTBiomassa yang mana panas dihasilkan dari reaksi kimia, pada PLTP
panas berasal dari sumber alami di perut bumi. Sumber energi panas
bumi terdiri dari: panas bumi uap kering (dry steam), panas bumi uap
basah (wet steam), panas bumi batuan kering panas (hot dry rock), panas
bumi air panas (hot water). Untuk di Indonesia, karakter uap yang keluar
biasanya berupa uap basah dengan kandungan sejumlah air yang harus
dipisahkan terlebih dulu sebelum digunakan untuk menggerakkan
turbin. Uap basah yang keluar dari perut bumi pada mulanya berupa air
panas bertekanan tinggi yang pada saat menjelang permukaan bumi
terpisah menjadi kira-kira 20 % uap hingga 80 % air

Energi panas bumi dapat digunakan dalam dua cara:

• Energi panas bumi langsung.


Di daerah di mana sumber air panas atau reservoir panas bumi
terletak dekat dengan permukaan bumi, air panas dapat
disalurkan langsung untuk memanaskan rumah atau gedung
perkantoran. Air panas bumi dipompa melalui penukar panas,
yang mentransfer panas dari air ke sistem pemanas gedung.
Kemudian air yang telah digunakan tersebut disuntikkan kembali
ke dalam sumur menuju ke dalam reservoir untuk dipanaskan
dan digunakan lagi.

154
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

• Pompa Panas Bumi.


Beberapa meter di bawah tanah, tanah atau air mempunyai suhu
konstan 50 sampai 60 derajat Fahrenheit konstan (10-15 derajat
Celcius) sepanjang tahun. Hanya sedikit kehangatan yang dapat
digunakan untuk memanaskan atau mendinginkan rumah dan
kantor. Cairan bersirkulasi melalui serangkaian pipa (disebut
loop) di bawah tanah atau di bawah air dari sebuah kolam atau
danau dan ke dalam gedung. Sebuah kompresor listrik dan
penukar panas menarik panas dari pipa dan mengirimkannya
melalui sistem saluran di seluruh gedung. Di musim panas proses
ini dibalik. Pipa-pipa menarik panas dari rumah dan
membawanya ke tanah atau air di luar, di mana ia diserap.

4.8.2 Teknologi PLTP


Dry Steam

Uap kering (dry steam) yang dihasilkan dari reservoir langsung


digunakan untuk memutar turbin. Sistem ini relatif sederhana, hanya
membutuhkan sistem injeksi dengan proses pembersihan steam yang
minimal.

Gambar 4-125 Teknologi dry steam

Flash

Sistem PLTP yang paling banyak ditemui adalah flash. Pada sistem ini,
campuran fase uap dan cair dihasilkan dari sumur geotermal. Air dengan
suhu tinggi yang dihasilkan dari kedalaman perut bumi dalam keadaan
bertekanan. Ketika air bergerak menuju level mendekati permukaan
bumi, air tersebut akan kehilangan tekanan, kemudian mendidih, lalu
terjadilah ‘flash’ untuk kemudian berubah menjadi uap. Kemudian, uap
akan dipisahkan dengan air di separator, untuk kemudian digunakan
sebagai penggerak turbin. Sistem ini membutuhkan sumber panas
dengan suhu 177 ⁰C – 260 ⁰C.

155
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-126 Teknologi Flash

Pada sistem flash yang lebih modern digunakan double flash. Double
flash lebih mahal nilai investasinya, namun panas yang dapat
dimanfaatkan lebih tinggi dibandingkan single flash.

Gambar 4-127 Teknologi double Flash

Binary System

Sistem ini memanfaatkan sumber panas bumi yang bertemperatur


rendah yaitu sekitar 74 ⁰C sampai dengan 177 ⁰C. Pada sistem ini, fluida
panas yang berasal dari perut bumi, dimanfaatkan untuk memanaskan
fluida lain, dapat berupa isopentane, isobutane (disebut fluida kerja)
yang dapat menguap pada suhu lebih rendah dibandingkan air. Fluida
kerja inilah yang dimanfaatkan untuk memutar turbin.

156
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-128 Teknologi binary system

Energi panas bumi merupakan energi yang bersih karena bisa dihasilkan
tanpa membakar bahan bakar fosil. Jika dibandingkan dengan
pembangkit bahan bakar fosil maka pembangkit panas bumi
menghasilkan karbon dioksida yang lebih sedikit. Di samping itu juga
menghasilkan nitrogen oksida atau gas belerang yang sangat sedikit. Di
Reykjavík, Islandia, menggunakan energi panas bumi untuk
memanaskan 95 persen dari bangunan, dianggap salah satu kota
terbersih di dunia [sumber: Internasional Kongres Geologi Oslo].

Gambar 4-129 Ilustrasi Pembangkit Listrik Panas Bumi

Energi panas bumi dianggap terbarukan karena panas bumi bisa terus
diganti. Setelah panasnya dipakai, air yang telah digunakan dimasukkan
kembali ke dalam tanah. Dunia menggunakan sekitar 7.000 megawatt

157
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

energi panas bumi, Namun sesungguhnya kita belum menggunakan


panas bumi sebagai energi sesuai dengan jumlah yang tersedia. Hal ini
berhubungan dengan letak geografis energi panas bumi yang susah
dijangkau, serta kesulitan dan biaya pengeboran yang tinggi untuk
mencapai energi itu. Teknik yang lebih maju sedang dikembangkan
sehingga dapat memungkinkan untuk pengeboran lebih dalam,
berpotensi membawa energi panas bumi untuk lebih banyak orang di
lebih banyak tempat.

4.8.3 Perkembangan Teknologi


Teknologi konversi energi PLTP sudah terbukti kehandalannya.
Beberapa riset masih berusaha meningkatkan performa dari teknologi
PLTP, yang diantaranya:

• Turbin yang digunakan saat ini mempunyai efisiensi 10% lebih


tinggi dibandingkan dekade yang lalu, sehingga dapat lebih
memaksimalkan output. Selain itu, pengembangan skala
modular sudah mulai dilakukan, dengan skala kecil di bawah 1
mw.
• Teknologi pemisahan unsur mineral dari uap panas bumi:
Mineral yang terkandung dalam uap umumnya bersifat merusak
turbine. Beberapa aplikasi baru telah berhasil memisahkan
material silika, zinc dari uap sehingga dapat meningkat efisiensi
produksi dari turbine.
• Teknologi drilling seperti CO2 plume geothermal power atau CPG,
yang memanfaatkan CO2 PLTU dapat menghasilkan energi panas
bumi 10 kali lebih besar dari yang ada sekarang. Teknologi CPG
memanfaatkan CO2 yang diserap oleh teknologi carbon capture
dari hasil pembakaran batubara dan kemudian menginjeksi ke
dalam lapisan tanah untuk menyerap panas bumi, yang
kemudian digunakan di pembangkit listrik.

4.8.4 Peluang dan Kendala Energi Panas Bumi


Kendala

Kendala yang dihadapi pengembangan energi ini lebih banyak pada


tahap eksplorasi. Cukup sering terjadi perbedaan data potensi uap
dengan kemampuan produksi listrik. Biaya eksplorasi tinggi menjadi
kendala utama, sehingga masih menjadi perdebatan siapa yang
menanggung biaya tersebut. Sehingga akan lebih baik seandainya
Pemerintah yang menanggung biaya eksplorasi panas bumi, agar tidak
sering terjadi perbedaan pendapat di antara para pelaku bisnis listrik dari
panas bumi.

158
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Gambar 4-130 menunjukkan informasi contoh total biaya proyek


geothermal.

Gambar 4-130 Biaya pengembangan energi panas bumi

Peluang

Potensi panas bumi terbukti di Indonesia mencapai 2967 MW. Namun


biaya eksplorasi yang mahal menjadi kendala utama. Dengan terus
berkembangnya kemampuan teknologi, diharapkan pemanfaatan panas
bumi dapat lebih meningkat.

Tabel 4-16 menunjukkan potensi panas bumi di Indonesia.

Tabel 4-16 Potensi panas bumi di Indonesia


(Badan Geologi Kementerian ESDM, 2017)

159
Bab IV Ragam Energi Terbarukan

Untuk mempercepat investasi di bidang panas bumi, Pemerintah


menyiapkan informasi mengenai Wilayah Kerja Pertambangan (WKP)
panas bumi. WKP akan ditawarkan oleh pemerintah atau pemerintah
daerah sesuai dengan kewenangannya melalui mekanisme lelang.

Gambar 4-131 Teknologi CPG pada PLTP (discovermagazine.com)

Gas CO2 yang dihasilkan PLTU, dapat digunakan untuk hal yang
bermanfaat, seperti pada PLTP sebagai media untuk mengekstrak panas
dari perut bumi. Selain itu juga mengurangi ketergantungan air pada
pembangkit listrik.

160
5Bab V Energi Baru

5.1 Gasifikasi Batubara

Tahapan dan proses gasifikasi dengan bahan bakar batubara sama


dengan jika biomassa yang digunakan sebagai input bahan bakar.
Gasifier yang telah didesain dengan batubara tidak dapat digantikan
bahan bakarnya 100% dengan biomass, demikian juga sebaliknya. Hal
tersebut disebabkan karena perbedaan komposisi kimia bahan bakar
tersebut dan parameter operasi di reaktor gasifier yang berpengaruh
pada reaksi kimia yang terjadi.

Gambar 5-1 Proses Gasifikasi batubara

Pada aplikasi gasifikasi batubara skala kecil, yaitu di bawah 5 MW, untuk
pembangkitan listrik, gasifikasi mampu memberikan efisiensi yang lebih
baik dibanding boiler, yaitu di atas 20%. Selain itu, teknologi ini juga
diterapkan untuk mengatasi kelemahan pada boiler, akibat slagging dan
fouling. Dimensi ukuran gasifier tidak mengalami perubahan jika
menggunakan batubara dengan nilai kalor rendah. Syngas sebagai
produk gasifikasi juga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk
kimia lain seperti dimethyl ether, ethanol, dan methanol.
Bab V Energi Baru

Gambar 5-2 Perbandingan volume gasifier dan boiler terhadap variasi kualitas
batubara. (www.mhi.co.jp/technology/review/)

Perbandingan pemanfaatan batubara, dengan teknologi pembakaran


dibandingkan gasifikasi, memiliki fakta yang unik. Jika menggunakan
teknologi IGCC (Integrated Gasifikasi Combined Cycle), memiliki
keunggulan dalam hal emisi gas buang yang lebih rendah dibandingkan
dengan PLTU batubara. Namun, IGCC membutuhkan biaya investasi
yang lebih tinggi. Tabel berikut menampilkan perbandingan teknologi
PLTU batubara dengan IGCC.

Tabel 5-1 Perbandingan teknologi PLTU Batubara dengan Gasifikasi


(Fenton, 2006)

5.1.1 Perkembangan Teknologi Gasifikasi Batubara


Gasifikasi batubara jenis konvensial seperti downdraft, dan fluidized bed
telah banyak digunakan di negara maju. Bahkan tren riset sekarang ini
adalah penerapan gasifikasi dengan efisiensi tinggi, seperti IGCC,
pemanfaatan gasifikasi batubara untuk menghasilkan bahan bakar cair,
dan hybrid gasifikasi dengan fuel cell. Untuk pemanfaatan gasifikasi
batubara yang lain, salah satu perusahaan tambang nasional berencana
untuk memanfaatkan batubara lignite untuk menghasilkan gas DME

162
Bab V Energi Baru

(Dimethyl Ether), yang dapat digunakan sebagai bahan bakar, urea


sebagai pupuk dan polypropylene sebagai bahan baku plastik.

5.1.2 Peluang dan Kendala Gasifikasi Batubara


Peluang

PLTGB sesungguhnya mempunyai potensi yang besar untuk diterapkan


di Indonesia, terutama jika batubara lignite (batubara kalori rendah)
yang digunakan sebagai bahan bakar. Karena jenis batubara yang laris
diekspor adalah jenis kalori tinggi. Kegagalan proyek PLTGB yang pernah
direncanakan terdahulu lebih disebabkan karena kesalahan dalam
memilih produk gasifier kualitas rendah yang tidak mampu
mengonsumsi batubara lignite.

Kendala

Dikarenakan batubara yang mudah diperoleh di pasar domestik adalah


jenis lignite, maka untuk saat ini di Indonesia, Gasifikasi batubara sebagai
pembangkit listrik hanya menarik jika dibangun untuk skala kecil, yang
memiliki efisiensi tinggi. Untuk kapasitas besar, gasifier akan mendapat
saingan dari PLTU boiler, karena biaya investasi lebih murah.

5.2 Coal Liquifaction

Teknologi ini mengubah batubara menjadi bahan bakar cair yang


mempunyai sifat baru dan berbeda dari batubara, yang mendekati
bensin atau HSD.

Terdapat dua teknologi utama coal liquifaction:

• Direct Liquefaction

Batubara dicampurkan pada larutan dengan suhu dan tekanan


tinggi, yang kemudian dialirkan gas hidrogen. Proses ini
menggunakan katalis.

• Indirect Liquifaction

Dalam proses awalnya, menerapkan teknologi gasifikasi terlebih


dahulu, untuk kemudian syngas yang dihasilkan diubah menjadi
bahan bakar cair dengan teknologi Fischer Tropsch. Bahan bakar
cair ini kemudian di-upgrade kualitasnya sehingga dapat
mendekati kualitas bensin atau HSD (High Speed Diesel, minyak
solar).

163
Bab V Energi Baru

Perbedaan perkembangan kedua proses tersebut adalah, Indirect


Liquifaction menghasilkan bahan bakar cair murni siap pakai dan telah
lama dioperasikan secara komersial, sedangkan Direct Liquefaction
masih dalam tahap penelitian.

5.2.1 Proses Coal Liquifaction


Indirect coal Liquifaction

Gambar 5-3 Tahapan utama coal to liquid

Proses Indirect Coal Liquifaction memanfaatkan gas CO dan H2 yang


dihasilkan dari proses konversi gasifikasi. Sebagai bahan baku gasifikasi,
tidak hanya batubara yang digunakan, tetapi juga biomass, natural gas.
Pada proses pengubahan fase gas menjadi cair, digunakan katalis
sehingga dihasilkanlah berbagai bahan bakar cair hidrokarbon. Katalis
yang digunakan, umumnya iron atau cobalt, adalah senyawa kimia yang
mempercepat laju reaksi tanpa mengubah kesetimbangan reaksi kimia.
Produk dari FT dapat berupa HSD, bensin, pelumas, dan steam.

Kunci dari teknologi Indirect Coal Liquifaction adalah teknologi Fischer


Tropsch (FT). Ditemukan di Jerman pada tahun 1920-an untuk mengatasi
kelangkaan akan minyak bumi. Proses reaksi Fischer Tropsch, terdiri dari
tiga reaksi utama, yaitu alkanes, alkenes, water-gas shift.

Gambar 5-4 Reaksi utama teknologi Fischer Tropsch

164
Bab V Energi Baru

Dalam proses konversi Fischer Tropsch, bahan bakar cair yang dihasilkan
dapat dikondisikan mendekati kualitas bensin atau minyak diesel/solar.
Proses dengan temperatur tinggi yaitu 330-350 C, dihasilkan produk
yang mendekati bensin, sedangkan pada temperatur rendah, yaitu 220-
250 C, dihasilkan bahan bakar cair yang mendekati kualitas diesel.

Gambar 5-5 Proses konversi Fischer Tropsch (Sasol, 2010)

Tabel 5-2 Berbagai produk hydrocarbon yang dihasilkan dari FT

Dari tabel berikut dapat diketahui perbandingan sifat minyak yang


dihasilkan dengan teknologi FT.

165
Bab V Energi Baru

Tabel 5-3 Perbandingan HSD dengan proses FT dan HSD dari minyak bumi

Gambar 5-6 Perbandingan warna HSD dari minyak bumi dengan proses FT

5.2.2 Peluang dan Kendala


Peluang

Teknologi coal liquifaction mempunyai potensi besar untuk diterapkan


mengingat banyak tersedia batubara yang dihasilkan di Indonesia.
Bahan bakar dalam bentuk cair lebih mudah untuk proses penyimpanan
dan transportasi dibandingkan dengan bahan bakar padat dan dengan
nilai kalor lebih tinggi.

166
Bab V Energi Baru

Kendala

Kunci dari teknologi ini adalah Fischer Tropsch, yang mana masih mahal,
harga capital cost-nya mendekati harga gasifier. Sehingga bahan bakar
cair yang dihasilkan dari coal liquifaction mempunyai harga yang tidak
berbeda dari minyak bumi. HSD dari proses FT mempunyai kemampuan
pelumasan yang lebih rendah, sehingga membutuhkan bahan aditif.

5.3 Fuel cell dan Hidrogen

5.3.1 Pengertian Fuel cell


Fuel cell adalah sebuah peralatan electrochemical, yang secara kontinu
mengubah energi kimia menjadi energi listrik (dan sedikit panas) selama
mendapat suplai bahan bakar (hidrogen atau bahan bakar lain yang kaya
hidrogen) dan oksigen. Seperti halnya baterai, fuel cell menghasilkan
listrik yang merupakan produk reaksi elektrokimia.

Perbedaan dengan baterai adalah baterai menyimpan energi di


dalamnya, dan ketika habis, maka baterai harus dibuang atau di-charge
ulang, dengan menggunakan suplai listrik eksternal untuk
menggerakkan reaksi kimia pada arah yang berlawanan.

Gambar 5-7 Fuel cell dengan kapasitas 5 KW per unit,


dengan ukuran setara lemari satu pintu.

167
Bab V Energi Baru

Ketika menggunakan bahan bakar hidrogen, fuel cell dapat beroperasi


dengan tanpa menghasilkan polusi, hanya meninggalkan air dan panas
sebagai produk samping reaksi elektrokimia. Selain itu, efisiensi operasi
yang dihasilkan lebih tinggi dibandingkan engine, karena tidak terjadi
proses kimia yang melepas panas tinggi. Pada kondisi pengoperasian
part load, fuel cell tidak mengalami penurunan efisiensi yang berarti
seperti halnya engine.

Gambar 5-8 Grafik perbandingan efisiensi fuel cell terhadap pembangkit lain
(www1.eere.energy.gov/hidrogenandfuelcells)

Fuel cell dapat dioperasikan sebagai load follower. Seperti halnya baterai,
fuel cell merupakan suatu bentuk konstruksi yang sangat kompak, yang
dapat bereaksi secara instan secara kimia, untuk mengikuti perubahan
beban.

Bahan bakar dan udara yang mengandung oksigen akan bereaksi ketika
mereka bertemu melalui membran yang berpori, yang berfungsi sebagai
elektrolit. Reaksi ini mengakibatkan berpindahnya elektron dan ion
melalui elektrolit dari anoda ke katoda. Jika terdapat beban luar yang
membutuhkan listrik, maka sebuah sirkuit listrik yang lengkap akan
terjadi, dan tegangan akan dihasilkan dari aliran arus listrik. Tegangan
yang dihasilkan dari cell tunggal bisanya kurang dari 1 volt, oleh karena
itulah dibutuhkan banyak cell yang disusun seri untuk menghasilkan
tegangan dalam jumlah besar. Sebagai produk samping dari reaksi
elektrokimia ini, dihasilkan air dan panas dalam jumlah kecil.

168
Bab V Energi Baru

Prinsip Dasar Kerja Fuel Cell

Gambar 5-9 Prinsip kerja fuell cell

Perbandingan Fuel Cell dengan Baterai dan Engine

Gambar 5-10 Perbedaan proses fuel cell dibandingkan baterai dan mesin

169
Bab V Energi Baru

Persamaan antara fuel cell dan engine:

• Keduanya menggunakan bahan bakar kaya hidrogen


• Menggunakan udara yang terkompres sebagai oksidan
• Membutuhkan sistem pendinginan

Tabel 5-4 Perbedaan fuel cell dan engine

Fuel cell engine


Output elektrik mekanik
Reaksi fuel dan oksidan electrochemical thermochemical
Polusi Tidak ada atau sedikit CO2

Contoh Komponen Utama Fuel cell: Stack, untuk Fuel cell jenis PEM

Gambar 5-11 Stack fuel cell (College of the The Dessert)

Sebuah stack terdiri dari

a. Membrane Electrode Assembly (MEA)

Merupakan jantung dari fuel cell, terdiri dari solid polymer elektrolite
membrane, yang disusun di antara dua elektroda karbon berpori.
Sebuah katalis platinum juga disusun di antara membran dan
elektroda.

b. Elektroda

Carbon fiber biasanya digunakan sebagai material utama, merupakan


pembatas antara elektrolit dan gas hasil reaksi. Material elektroda
sangat tipis untuk memaksimalkan aliran gas. Katalis ditambahkan

170
Bab V Energi Baru

pada masing-masing elektroda untuk meningkatkan laju reaksi


kimia. Platinum biasanya digunakan karena tingkat kestabilan reaksi
dan konduktivitas listrik.

c. Electrolite

Merupakan sebuah membran tipis seperti lapisan tipis film, yang


terdiri dari perfluorosulfonic acids, yang terbuat dari material seperti
teflon fluorocarbon polymers.

d. Flow field plates

Merupakan saluran bahan bakar dan oksidan dari setiap MEA.

Gambar 5-12 Komponen penyusun stack (Hydrogen Fuel Cell Engines and Related
Technologies, December 2001, College of the The Dessert)

171
Bab V Energi Baru

Gambar 5-13 Aplikasi fuel cell pada pembangkit

172
Bab V Energi Baru

5.3.2 Kapasitas Fuel cell Berdasarkan Aplikasi


Kapasitas fuel cell dapat bervariasi mulai dari beberapa watt untuk
peralatan elektronik portabel sampai dengan mega Watt untuk
keperluan pembangkit listrik.

Gambar 5-14 Variasi aplikasi fuel cell

Gambar 5-15 Aplikasi fuel dan jenis bahan bakar


yang dapat menghasilkan hidrogen

Pada gambar di atas, dapat diketahui variasi berbagai jenis bahan bakar
yang dapat menghasilkan hidrogen dan aplikasi, baik untuk keperluan
pembangkit listrik (stationary), kendaraan transport, maupun aplikasi
ringan portabel.

5.3.3 Bahan Bakar Fuel cell


Hidrogen atau bahan bakar lain yang kaya hidrogen (contoh natural gas)
merupakan bahan bakar terbaik untuk fuel cell, disebabkan karena
tingkat reaktivitas yang tinggi pada reaksi elektrokimia di anoda. Selain
itu, produk samping dari reaksi oksigen adalah air, yang ramah
lingkungan. Namun satu sisi kelemahan dari hidrogen adalah gas jenis ini

173
Bab V Energi Baru

tidak tersedia secara alamiah dilingkungan, melainkan harus diproduksi


terlebih dahulu dari bahan bakar lain. Tabel 5-5 menunjukkan
perbandingan sifat dari hidrogen dibandingkan dengan bahan bakar
lainnya.

Tabel 5-5 Perbandingan sifat hidrogen terhadap bahan bakar lainnya

Gambar 5-16 Perbandingan spesifik energi hidrogen dengan bahan bakar lain

Sifat Hidrogen

Hidrogen mempunyai sifat yang unik, dibandingkan gas bahan bakar lain
seperti methane dan amonia, diantaranya:

174
Bab V Energi Baru

• Mempunyai energi tinggi per molekul yaitu -13, 6 eV dan


reaktivitas yang baik dalam reaksi elektrokimia
• Tidak seperti gas lainnya, yaitu butana atau LPG, hidrogen sulit
untuk diubah menjadi fase cair.
• Hidrogen dapat terbakar, baik dalam konsentrasi campuran
dengan udara yang kecil maupun besar. Mempunyai batas
kandungan yang dapat terbakar mulai dari 4%-67%.
• Dibandingkan jenis gas lainnya, Hidrogen mempunyai berat
molekul paling ringan, 2.016 g/mol, namun spesifik energi paling
tinggi 142 MJ/kg. Dibandingkan dengan methane, 55 MJ/kg atau
baterai lithium, 0.6 MJ/kg. Selain itu juga mempunyai nilai
tertinggi akan sifat thermal konduktivitas dan kecepatan
pergerakan molekul.
• Sifat tersebut di atas menyebabkan hidrogen ketika mengalami
kebocoran dalam sebuah penyimpanan, akan keluar 2, 8 kali
lebih cepat dibandingkan methane dan 3, 3 kali lebih cepat
dibandingkan udara normal.
• Dikarenakan ukuran molekul hidrogen yang sangat kecil yang
dapat dengan mudah masuk ke pori-pori baja, dapat
mengakibatkan storage yang terbuat dari baja menjadi bersifat
mudah retak.
• Hidrogen hanya membutuhkan energi yang sangat kecil
dibanding gas lain untuk terjadi penyalaan (ignition), yang
berarti bahwa api dapat dengan mudah dapat menyala. Di
samping itu juga, lidah api yang timbul akibat pembakaran
hidrogen tidak dapat terlihat dengan mata tanpa bantuan
peralatan khusus.
• Namun begitu, ada keunggulan dalam safety dibandingkan gas
lainnya, ketika hidrogen mengalami kebocoran. Meskipun
mempunyai pergerakan molekul yang paling cepat, hidrogen,
selama batas volume dan tekanan udara untuk ignition dan
detonation belum terpenuhi, akan cepat meninggalkan lokasi
penyimpanan sebelum terbakar. Grafik di bawah ini menjelaskan
batas-batas tekanan dan suhu di mana hidrogen dapat meledak.

175
Bab V Energi Baru

Gambar 5-17 Karakter ledakan pada hidrogen

Hal ini berbeda dengan methane dan propane. Ketika bocor, gas
methane cenderung akan bercampur dengan udara yang
membuatnya lebih cepat mencapai batas ignition dan
detonation limits di udara tempat lokasi storage berada. Propane
mempunyai densitas lebih rendah dibandingkan udara, yang
membuatnya mengumpul pada titik terendah suatu tempat.
Suatu hal yang seakan-akan tidak memberikan indikasi
mengalami kebocoran dan kemudian dapat terbakar mendadak
ketika volume campuran udara terpenuhi.

5.3.4 Produksi Hidrogen

Gambar 5-18 Metode produksi hidrogen - University of Central Florida

Hidrogen dapat dihasilkan, baik dari bahan bakar fosil maupun bahan
bakar energi terbarukan. Adapun proses yang ditempuh dapat secara

176
Bab V Energi Baru

langsung maupun tidak langsung sebagai hidrogen carrier, disebut juga


proses reforming (pemurnian) dan juga electrolysis.

Bahan bakar yang mengandung hidrogen dapat dimurnikan atau


ditingkatkan kandungan hidrogennya disebut hidrogen carrier, seperti
misal biogas, methanol, amonia, ethanol. Untuk hidrogen carrier, dapat
bersumber dari bahan bakar fosil, maupun energi terbarukan.

Untuk hidrogen yang berasal dari energi terbarukan, proses langsung


yang dapat di tempuh yaitu melalui gasifikasi atau pyrolysis. Gambar 5-19
menggambarkan proses konversi biomassa menjadi hidrogen secara
langsung.

Gambar 5-19 Proses produksi biomassa menjadi hidrogen

Proses Electrolysis
Electrolyser menggunakan listrik untuk memecah air menjadi hidrogen
dan oksigen. Proses ini kebalikan dari proses yang terjadi fuel cell.
Sebuah electrolyser air terdiri atas serangkaian cell elektrokimia, dengan
dua komponen utama yaitu dua elektroda dan elektrolite. Semua reaksi
yang terjadi pada elektroda electrolyser, sama prinsipnya dengan yang
terjadi pada elektroda fuel cell, selain bahwa reaksi terjadi pada arah
yang berlawanan. Elektrolit dibutuhkan karena pada prinsipnya air murni
tidak dapat menghantarkan listrik.

177
Bab V Energi Baru

Gambar 5-20 Prinsip dasar proses electrolysis

Ketika listrik dialirkan ke elektroda, maka hidrogen akan terbentuk pada


katoda dan oksigen pada anoda. Sehingga jumlah hidrogen yang
terbentuk setara dengan jumlah aliran listrik. Fuel cell yang dapat
menerapkan electrolyser adalah jenis PEM dan alkaline.

Gambar 5-21 Siemen Electrolyser

5.3.5 Penyimpanan Hidrogen


Hidrogen dapat disimpan dengan dua cara, yaitu disimpan dalam kondisi
fisik hidrogen murni dan disimpan sebagai hidrogen carrier. Menyimpan
hidrogen secara fisik memerlukan perhatian lebih dibandingkan dengan
menyimpan sebagai hidrogen carrier. Untuk aplikasi mobile kecuali
mobil, lebih banyak desainer peralatan yang memilih menyimpan dalam
bentuk hidrogen carrier. Gambar 5-22 menjelaskan variasi menyimpan
hidrogen dalam kondisi fisik murni.

178
Bab V Energi Baru

Gambar 5-22 Penyimpanan hidrogen


(www.energy.gov/eere/fuelcells/hidrogen-storage)

Hidrogen dapat disimpan secara fisik baik sebagai gas atau cairan.
Penyimpanan hidrogen sebagai gas biasanya membutuhkan tangki
bertekanan tinggi (tekanan tangki 350–700 bar). Penyimpanan hidrogen
sebagai cairan membutuhkan suhu cryogenic karena titik didih hidrogen
pada satu tekanan atmosfer adalah −252, 8 ° C. Hidrogen juga dapat
disimpan pada permukaan zat padat (melalui adsorpsi) atau dalam
padatan (oleh absorpsi).

5.3.6 Perkembangan Fuel cell


Aplikasi fuel cell lebih banyak digunakan pada transportasi seperti
misalnya bis, pesawat ruang angkasa; alat bantu seperti forklift dan
peralatan portabel seperti misalnya auxiliary power units untuk militer,
untuk BTS tower.

179
Bab V Energi Baru

Gambar 5-23 Aplikasi fuel cell sebagai auxiliary power units

5.3.7 Peluang dan Kendala Fuel cell


Peluang

Dikarenakan fuel cell memproduksi energi langsung dari energi kimia


bahan bakar, maka efisiensinya jauh lebih tinggi dibandingkan engine.
Efisiensi fuel cell dapat mencapai 60%. Fuel cell mampu menurunkan
output sampai dengan 10% dan beroperasi stabil. Aplikasi pada daerah
offgrid memberikan keuntungan tersendiri, selama suplai hidrogen
terjamin. Selain itu fuel cell sudah banyak digunakan sebagai power
backup pada tower BTS telekomunikasi. Kelebihan dari segi operasional
dibandingkan baterai dan photovoltaic adalah fuel cell tidak terpengaruh
efek perubahan cuaca.

Gambar 5-24 Tren penurunan harga fuel cell.


National Fuel Cell Research Center (NFCRC)

180
Bab V Energi Baru

Tren harga fuel cell terus menurun seperti dilihat pada grafik di Gambar
5-24, yang memberikan potensi pemanfaatan lebih besar di masa
mendatang.

Kendala

Biaya investasi merupakan kendala utama yang membuat fuel cell belum
kompetitif jika dibandingkan PLTU. Manajemen suplai hidrogen yang
tidak mudah memberikan tantangan tersendiri.

Gambar 5-25 Teknisi fuel cell melakukan pemeliharaan rutin

5.4 Energi Coal Bed Methane (CBM)

5.4.1 Sumber CBM


CBM adalah gas yang dihasilkan selama proses pembentukan lapisan
batubara. Sumber gas ini digolongkan inkonvensional karena methane
terkandung di dalam batubara dan tidak bisa bergerak ke lapisan batuan
lainnya. Lapisan batubara terbentuk dari tumpukan material organik
dalam keadaan sangat minim oksigen. Selama tertimbun material
organik yang tersebut juga mendapatkan tekanan dan suhu lingkungan
yang tinggi 120-150 ⁰C selama jutaan tahun dan secara bertahap terurai
menjadi batubara. Proses ini disebut coalification. Mayoritas cadangan
batubara sekarang berasal dari hutan yang kaya akan kandungan

181
Bab V Energi Baru

karbon, yang terendam banjir dan tertimbun selama kurang lebih 300
juta tahun lalu.

Gambar 5-26 Pembentukan CBM pada lapisan batubara

Selama proses coalification, dihasilkan gas methane pada lapisan


batubara. Gas methane terjebak di lapisan batubara karena tekanan
yang meningkat selama proses coalification. Dan kemudian terserap
pada pori-pori dan retakan batubara permukaan batubara, yang disebut
cleat. Tekanan yang berasal dari bebatuan dan air yang disebut
hydrostatic pressure menahan methane untuk tetap berasa di dalam
batubara. Besarnya rasio luas permukaan dibandingkan volume,
menyebabkan lapisan batubara dapat menyimpan gas methane tujuh
kali lebih banyak dibandingkan gas alam yang tersimpan di bebatuan
pada reservoir.

182
Bab V Energi Baru

Gambar 5-27 Cleat /retakan pada batubara (Schlumberger, 2009)

Kandungan methane pada lapisan batubara akan meningkat dengan


bertambah dalamnya lapisan batubara dan umurnya. Dengan semakin
dalamnya lapisan, maka pressure yang terjadi pun semakin besar
sehingga membuat methane semakin terikat di dalam batubara.
Sehingga tambang batubara bawah tanah lebih banyak menghasilkan
methane dibandingkan tambang permukaan.

183
Bab V Energi Baru

Tabel 5-6 Variasi kandungan CBM pada berbagai tingkat kedalaman

Selain dapat digunakan sebagai bahan bakar, alasan lain pentingnya


ekstrasi methane adalah keamanan. Ketika batubara dieksplorasi, baik
bawah tanah maupun permukaan, methane yang terkandung di
dalamnya akan terlepas juga. Methane dapat menjadi sangat berbahaya,
karena dapat mudah meledak jika tercampur dengan udara dengan
komposisi 5-15%.

5.4.2 Ekstrasi Coal Bed Methane


Methane yang berasal dari tambang yang belum dieksplorasi, diekstrak
melalui proses mengurangi tekanan pada reservoirnya, dalam hal ini
lapisan batubara. Teknik yang umum dilakukan yaitu ‘dewatering’
(membuang air pada reservoir). Proses ekstrasi dilakukan dengan
membuat sumur ke arah vertikal atau horizontal pada lapisan batubara.
Air pada lapisan batubara harus di buang terlebih dahulu untuk
menghilangkan tekanan pada lapisan batubara. Kemudian, setelah
tekanan berkurang, methane akan terlepas dengan sendirinya dari
batubara melalui sumur yang telah dibuat. Proses ekstrasi methane
dengan teknik ini mampu menghasilkan gas dengan kandungan
methane mencapai 95%. Kualitas ini setara dengan natural gas, sehingga
dapat digunakan sebagai bahan bakar gas turbin.

Gambar 5-28 Proses pelepasan methane pada cleat

184
Bab V Energi Baru

Gambar 5-29 Proses ekstrasi CBM

5.4.3 Perkembangan Eksplorasi CBM


Gas CBM dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pada gas turbine atau
gas engine. Namun kendala terdapat pada perkembangan eksplorasi.
Hanya sedikit CBM yang telah dieksplorasi dari seluruh potensi yang ada
di dunia, baru sekitar 1%. Hal ini disebabkan karena harganya kurang
kompetitif jika dibandingkan dengan gas alam. Selain itu, Produksi CBM
mencapai puncaknya pada tahun ke 2 sampai dengan 7. Sedangkan
periode produksi maksimal mencapai 20 tahun.

Di Indonesia, kegiatan eksplorasi CBM telah dimulai pada tahun 2004.


Namun kendala masalah teknis penyaluran dan kepastian volume,
menyebabkan belum terealisasi proyek CBM komersial.

5.4.4 Peluang dan Kendala CBM


Peluang

Indonesia memiliki potensi CBM kurang lebih 400 TCF, yang mana
tersebar di beberapa lokasi seperti pada gambar di bawah ini.

185
Bab V Energi Baru

Gambar 5-30 Potensi CBM (coalbedmethane.wordpress.com/tag/potensi/)

Kendala

Memastikan seberapa banyak volume gas CBM yang dapat diekstrak


merupakan kendala utama dari jenis energi ini. Teknologi eksplorasi yang
digunakan pun belum banyak tersedia. Pengalaman Cina yang
menggunakan teknologi dari Amerika untuk mengekstrak CBM di Cina,
banyak mengalami kendala. Perbedaan kondisi geologi di tiap negara
memberikan tantangan tersendiri.

5.5 Energi Nuklir

Fungsi utama dari PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) adalah untuk
membangkitkan listrik, dan bukan untuk menghasilkan persenjataan
nuklir, sehingga memiliki banyak kemiripan dengan pembangkit listrik
lainnya. PLTN mempunyai banyak kemiripan dengan PLTU, kecuali
bahwa boiler pada PLTU digantikan dengan Nuclear Steam Supply System
(NSSS). NSSS terdiri dari reaktor nuklir dan semua komponen yang
diperlukan untuk menghasilkan uap bertekanan tinggi yang kemudian
digunakan untuk memutar turbin uap. Energi panas pada PLTN
dihasilkan dari reaksi nuklir bahan bakar atom.

Bahan bakar yang umum digunakan adalah uranium, dalam wujud yang
masih berbentuk batuan disebut ore, yang mempunyai persentase
sangat rendah akan kandungan uranium U-235, jenis uranium yang
mudah untuk dibelah dibandingkan U-238 yang tersedia lebih banyak.
Sehingga diperlukan terlebih dahulu proses pengayaan U-238 untuk

186
Bab V Energi Baru

menjadi U-235. Satu kg uranium-235 dalam reaksi nuklir akan


menghasilkan energi tiga juta lebih banyak dibandingkan dengan satu kg
batubara.

Gambar 5.26 Uranium

Gambar 5-31 Siklus bahan bakar nuklir

Pengolahan uranium menjadi pellet, meliputi serangkaian proses seperti


pada gambar di atas. Kadar uranium dalam bijih uranium berada pada
kisaran 0, 026% sampai dengan 12, 7% U. Pada proses penggilingan tidak
semua uranium yang terkandung dalam bijih uranium dapat terambil,
ada bagian yang hilang (Bastori, Birmano, 2017).

187
Bab V Energi Baru

5.5.1 Reaktor Nuklir


Reaktor nuklir berfungsi untuk mengubah energi yang dilepaskan oleh
reaksi nuklir untuk kemudian menjadi energi panas. Energi panas inilah
yang digunakan sebagai sumber panas pada boiler, mirip seperti boiler
pada PLTU batubara.

Jenis reaktor nuklir yang sudah beroperasi beraneka ragam, yang


dibedakan berdasarkan

a. Jenis reaksi
1. Rektor nuklir dengan reaksi fisi (nuclear fission)

Pada reaksi ini, nucleus berat dipecah menjadi dua atau lebih nuclei.

Semua PLTN yang telah komersial memanfaatkan reaksi fisi nuklir


dalam menghasilkan panas. Pada reaktor jenis ini menggunakan
uranium, plutonium atau thorium.

2. Reaktor nuklir dengan reaksi fusi (nuclear fussion)

Reaksi fussion menggabungkan dua atau lebih nuclei ringan menjadi


nucleus berat. Teknologi ini masih alam tahap pengembangan,
menggunakan hidrogen sebagai bahan bakar.

b. Proses Reaksi fisi

Ketika sebuah nucleus atom seperti uranium-235 atau plutonium-239


menyerap sebuah neutron, proses tersebut kemudian akan berlanjut
menjadi reaksi fisi nuklir. Uranium-235 tersebut kemudian berubah
menjadi nucleus uranium-236 yang mempunyai tambahan energi
eksitasi akibat energi kinetik tumbukan Uranium-235 dengan neutron.
Uranium-236 kemudian terbelah menjadi elemen yang lebih ringan yang
bergerak cepat (yang juga disebut produk fisi). Produk lain yang
dihasilkan dalam proses pembelahan ini adalah energi kinetik, radiasi
gamma dan neutron bebas. Proses ini dapat dijelaskan seperti pada
gambar di bawah. Sebagian dari neutron ini kemudian akan diserap
kembali oleh atom nucleus yang lain, sehingga pada akhirnya dihasilkan
lebih banyak lagi neutron. Proses ini disebut juga reaksi berantai nuklir.

188
Bab V Energi Baru

Gambar 5-32 Reaksi fisi nuklir

Untuk mengendalikan reaksi berantai tersebut, digunakan neutron


moderator yang dapat mengatur jumlah neutron yang menyebabkan
reaksi fisi. Sebuah reaktor nuklir umumnya mempunyai sistem manual
dan otomatis yang dapat menghentikan reaksi fisi jika dinilai proses yang
terjadi tidak aman.

Panas yang Dihasilkan pada Reaksi Nuklir

Inti reaktor menghasilkan panas dari berbagai sumber:

• Energi panas sebagai hasil dari tumbukan neutron dengan


nucleus
• Panas yang dihasilkan sinar gamma diserap oleh reaktor
• Panas yang dihasilkan dari proses peluruhan radioaktif dari
produk reaksi fisi. Meskipun reaktor telah dihentikan
operasinya, sumber panas dari proses peluruhan ini masih tetap
tersedia

189
Bab V Energi Baru

Gambar 5-33 Inti reaktor

Kontrol Reaktivitas Reaksi Fisi

Energi yang dihasilkan dari reaktor diatur dengan cara mengendalikan


jumlah neutron yang dapat bereaksi lebih lanjut menjadi reaksi fisi.
Control rods yang terbuat dari bahan pengotor neutron, yaitu boron,
silver, indium dan cadmium, digunakan untuk menyerap neutron.
Menyerap neutron pada control rod berarti bahwa akan tersedia
neutron yang lebih sedikit yang dapat menyebabkan fisi, sehingga
menekan control rod lebih dalam ke reaktor akan mengurangi energi
output dan demikian juga sebaliknya.

Pendingin Rektor Nuklir

Cairan pendingin reaktor berfungsi untuk menyerap panas yang


dihasilkan selama proses reaksi nuklir, yang mengalir melewati inti

190
Bab V Energi Baru

reaktor untuk kemudian dibawa ke unit heat exchanger (penukar panas).


Panas dari pendingin reaktor kemudian ditransfer ke air sehingga
menjadi uap yang digunakan pada pembangkit listrik sebagai penggerak
turbin uap.

5.5.2 Berbagai Jenis Reaktor Nuklir


Pressurized Water Reactor

Reaktor ini mempunyai dua aliran fluida pendingin yang tidak pernah
bercampur. Aliran pendingin pertama berisi air bertekanan yang
mengalir melalui inti reaktor dan membawa panas menuju steam
generator. di dalam steam generator terjadi penukaran panas dengan
aliran pendingin yang lain yang berisi air dengan tekanan yang lebih
rendah. Kemudian, akibat panas yang ditransferkan tersebut, terjadilah
uap yang selanjutnya mengalir ke turbin uap.

Gambar 5-34 Pressurized water reactor

Boiling Reactor

Reaktor jenis ini hanya menggunakan satu aliran pendingin. Air yang
akan diubah menjadi uap dialirkan menuju reaktor yang mempunyai
panas yang dihasilkan dari inti reaktor. Akibat pemanasan tersebut air
berubah menjadi uap untuk kemudian digunakan sebagai pemutar
turbin uap.

191
Bab V Energi Baru

Gambar 5-35 Boiling reactor (www.world-nuclear.org)

Advanced Gas Cooled Reactor

Menggunakan CO2 sebagai pendingin inti reaktor. Panas yang dibawa


dari inti reaktor tersebut kemudian ditransfer ke steam generator untuk
menghasilkan uap.

Gambar 5-36 Advanced gas cooled rector

192
Bab V Energi Baru

5.5.3 Perkembangan Teknologi Nuklir


Teknologi nuklir telah banyak mengalami perkembangan, yang mana
sekarang telah mencapai generasi IV. Fokus utama pengembangan
teknologi nuklir terutama pada konstruksi yang lebih sederhana namun
tetap menjaga kualitas dan peningkatan safety dalam pengoperasian.
Jika PLN berencana membangun PLTN di tahun 2020-an, maka teknologi
PLTN generasi IV telah tersedia secara komersial. Gambar berikut
menjelaskan perkembangan teknologi nuklir.

Gambar 5-37 Perkembangan teknologi PLTN

5.5.4 Peluang dan Kendala


Peluang

Teknologi nuklir sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. BATAN (Badan


Tenaga Atom Nasional) telah berdiri sejak tahun 1958. Bahkan beberapa
ahli nuklir Indonesia ada yang bekerja di Amerika. Menurut riset dari
Batan (Bastori, Birmano, 2017), Indonesia memiliki potensi Uranium
sebesar 70.000 ton U3O8 (yellow cake). Untuk menyuplai PLTN dengan
output 1000 MW per tahun, diperlukan uranium alam U3O8 (yellow
cake) sebanyak 244, 68 ton. Sehingga potensi uranium Indonesia dapat
menyediakan pasokan uranium untuk 7 pembangkit PLTN dengan daya
masing-masing 1.000 MWe yang beroperasi selama 40 tahun umur PLTN.
Sebagian besar cadangan uranium berada di Kalimantan Barat, di Papua,
Bangka Belitung dan Sulawesi Barat.

193
Bab V Energi Baru

Kendala

Masih tinggi persepsi di masyarakat akan bahaya nuklir menyebabkan


penerapan PLTN mengalami hambatan. Persepsi tersebut sebenarnya
muncul dari kurangnya informasi tentang teknologi keselamatan PLTN
yang diterima masyarakat.

194
6Bab VI Pengembangan Proyek EBT

P enulis seringkali menemui calon investor yang mencari informasi


tentang bagaimana memulai untuk membangun proyek energi
terbarukan. Seperti halnya proyek infrastruktur lain, dibutuhkan
perencanaan yang matang dengan dukungan data akurat. Hanya
memiliki dana investasi yang besar tidak menjamin bahwa investor dapat
membangun pembangkit listrik yang menguntungkan.

Perlu diingat bahwa jenis energi EBT yang dapat dikembangkan dan
ditransaksikan komersial adalah energi yang tersebut dalam Peraturan
Pemerintah No 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional. yang
termasuk energi baru adalah nuklir, hidrogen, coal bed methane,
liquified coal, dan gasifikasi batubara. Sedangkan yang termasuk energi
terbarukan adalah bioenergi, angin, sinar matahari, aliran dan terjunan
air, panas bumi, laut. Mengembangkan sampai dengan tahap komersial,
jenis energi di luar dari yang disebut di atas, maka akan berpotensi tidak
mendapat insentif finansial yang disediakan pemerintah. Bahkan dapat
berdampak pada kesulitan untuk melakukan transaksi produk dari
proyek energi yang dibangun.

Beberapa pelaku teknologi atau industri berusaha atau mempunyai ide


untuk mengeksplorasi jenis energi baru, seperti halnya energi petir,
energi hampa, energi biru dan masih banyak nama aneh lain. Jika energi
yang baru ditemukan tidak diakui resmi atau tidak mendapat insentif
finansial, Anda mungkin masih dapat menjualnya ke pihak swasta lain.
Namun perlu diingat tentang kehandalan dan ketersediaan energy.
Pastikan bahwa energi tersebut tersedia dalam periode minimal 6 bulan
dalam setahun dan mesin yang mengonversi energi tersebut mampu
menghasilkan output yang konsisten dalam waktu 7000 jam operasi
dalam setahun. Banyak energi yang tersedia di alam, belum dieksplorasi
dan dimanfaatkan komersial, karena hanya tersedia secara musiman
jangka pendek dan belum tersedia mesin konversi yang sesuai. Untuk
produk energi yang dapat diperdagangkan resmi, dan terdaftar di bursa
komoditas, baik bursa nasional maupun internasional, harus memiliki SNI
dan ijin perdagangan dari Pemerintah

Tahap pengembangan proyek EBT dimulai dari perekrutan tim. Dimulai


dari proyek dimulai sampai dengan beroperasi, Pengembang perlu
mempersiapkan tiga tim, yaitu tim pengembangan proyek, tim
konstruksi proyek dan tim operasional.
Bab VI Pengembangan Proyek EBT

Kotak Informasi 8 Stakeholder proyek pembangkit listrik

Stakeholder Proyek Pembangkit Listrik

Gambar 7.1 Stakeholder dalam pembangkit listrik

Memahami stakeholder yang terkait dari suatu proyek penting untuk


meminimalkan potensi masalah. Gambar di atas adalah contoh
stakeholder untuk proyek PLTBm (IFC, 2017). Anda dapat mengetahui,
bahwa suatu proyek biomassa minimal akan melibatkan 9 stakeholder,
yang kemungkinan masing-masing memiliki cara pandang yang berbeda
mengenai pemanfaatan biomassa menjadi energi listrik. Dengan tim
project development yang handal diharapkan dapat menjalin kerjasama
yang baik di antara semua pihak terkait. Regulasi pemerintah yang tepat
sasaran juga dapat membantu semua stakeholder tersebut
mempercepat pencapaian akhir proyek.

Beberapa hambatan umum yang sering terjadi di antara stakeholder


adalah:

• stakeholder kurang memahami regulasi dan urutan proses yang


berlaku. Hal ini bisa terjadi karena terlalu sering perubahan regulasi
dan proses pengadaan kontrak.
• pemahaman yang kurang akan teknologi, sehingga terkesan berisiko
tinggi. Pengembang proyek perlu melakukan edukasi terhadap

196
Bab VI Pengembangan Proyek EBT

stakeholder terkait agar memiliki pemahaman yang sama terhadap


teknologi yang akan digunakan.
• metode perhitungan sumber energi yang berbeda.
• persepsi umum dampak lingkungan yang berbeda di antara
stakeholder yang berakibat penolakan proyek tanpa penjelasan yang
logis.
• harapan yang terlalu tinggi dari penduduk lokal bagi suatu proyek,
yang dapat menimbulkan tuntutan CSR (Corporate Social
Responsibility) berlebihan.

Jika suatu proyek mengalami penolakan dari stakeholder tertentu, bisa


jadi alasan penolakan yang disampaikan oleh pihak tersebut bukan
merupakan alasan sebenarnya. Pengembang perlu mengakses orang
tertentu untuk mengetahui alasan sebenarnya dari penolakan rencana
proyek.

Berikut contoh penolakan proyek dengan alasan mengambang:

• Proyek PLTSa di suatu kota pernah ditolak dengan alasan teknologi


yang akan digunakan mencemari lingkungan. Padahal teknologi
tersebut telah banyak digunakan di kota besar di Eropa dan Jepang.
Setelah menggali informasi lebih dalam, ternyata yang menjadi
masalah sebenarnya adalah Walikota eksisting tidak bersedia
membayar tipping fee yang telah ditetapkan oleh Walikota periode
sebelumnya.

• Proyek PLTB di suatu kota ditolak Pemda setempat untuk


melanjutkan ke tahap perjanjian sewa tanah, dengan alasan akan
dibangun pelabuhan di daerah tersebut. Padahal 2 tahun sebelumnya
telah dicapai kesepakatan untuk mengizinkan sewa tanah guna
keperluan proyek PLTB. Beberapa diskusi dan rapat lanjutan yang
diadakan dengan semua stakeholder menginformasikan bahwa tidak
mungkin untuk membangun pelabuhan di daerah tersebut,
mengingat kontur tanah pantai dan dasar laut bukan termasuk jenis
yang sesuai untuk persyaratan pembangunan pelabuhan kapal.

197
Bab VI Pengembangan Proyek EBT

6.1 Tahap Pengembangan proyek

1. Memahami jumlah listrik yang dapat dihasilkan dari suatu angka


potensi energi terbarukan

Kesalahan dalam hal memperhitungkan MW output yang dihasilkan


cukup sering terjadi pada semua jenis pembangkit listrik EBT.
Dampak dari kesalahan ini tentu saja output mesin yang dihasilkan
lebih kecil sehingga investor merugi. Umumnya, calon pengembang
tergiur oleh data yang diperoleh dari publikasi umum tanpa
melakukan investigasi khusus, baik pada sumber energi maupun
kemampuan mesin dalam mengonversi energi tersebut menjadi
listrik. Anda dapat menyewa konsultan yang ahli, yang pernah
menangani proyek energi terbarukan, untuk dapat menghitung
potensi energi.

Pada umumnya, terdapat tiga jenis data potensi energi, yaitu:

• Data Potensi Teoritis

Data ini didapat dari publikasi suatu lembaga, baik pemerintah


maupun swasta, dengan hanya memperhatikan satu sumber.
Biasanya dari laporan tahunan, atau laporan ketersediaan suatu
produk yang mengandung energi, seperti ketersediaan sampah
di tiap kota, potensi angin dari pengukuran secara nasional oleh
suatu institusi. Data tersebut merupakan hasil sampling
sederhana tanpa memperhatikan variasi jumlah pada suatu
kondisi khusus tertentu yang masih mempunyai banyak
kemungkinan perubahan.

Data ini dapat digunakan sebagai indikasi awal, namun tidak


cukup digunakan sebagai basis data utama untuk menentukan
kapasitas pembangkit listrik EBT. Mengandalkan data teoritis
untuk merencanakan suatu proyek dapat mengakibatkan
potensi pendapatan berkurang banyak.

• Data Potensi Teknis

Jenis data ini memiliki kualitas lebih baik dari data sebelumnya.
Tim survei diperlukan untuk melakukan pengukuran terhadap
potensi energi yang dituju. Setelah itu, data yang dapat
diserahkan ke seorang analis ahli untuk menghitung jumlah
energi riil. Pengukuran yang dilakukan telah menerapkan suatu
metode teknis khusus, dengan memperhatikan aspek teknis lain

198
Bab VI Pengembangan Proyek EBT

yang mungkin berpengaruh terhadap output mesin. Untuk


PLTSa, aspek teknis lain dapat berupa jumlah material yang tidak
dapat terbakar, dan ketersediaan dalam suatu periode tertentu.
Untuk energi air, memperhitungkan kontur geografi daerah
tangkapan air dan kondisi geologi. Untuk energi angin, telah
memperhitungkan waktu dan lama angin datang, yang dapat
menyebabkan over Supply pada sistem kelistrikan sehingga
tidak dapat dijual. Data potensi teknis nilainya lebih kecil
dibandingkan data potensi teoritis.

• Data Potensi Ekonomis

Adalah data yang menunjukkan jumlah energi yang dapat


dimanfaatkan dan layak secara teknis dan ekonomis. Angka data
ekonomis akan lebih kecil dibandingkan data potensi teknis.
Mengingat proyek EBT identik dengan profit oriented, maka nilai
ekonomis menjadi penting. Ada proyek yang mana secara teknis
layak dikelola, namun secara ekonomis membutuhkan biaya
eksplorasi dan atau pengembangan proyek tinggi.

Data potensi ekonomis memperhitungkan angka yang potensi


yang telah dievaluasi dengan detail dengan metode tersendiri.
Masing-masing energi terbarukan memiliki cara unik untuk
menghitung potensi ekonomis. Jika proyek biomassa, maka
potensi ekonomis adalah berapa jumlah yang siap dijual dengan
kualitas tertentu dalam suatu periode kontrak. Jika panas bumi,
maka potensi ekonomis adalah berapa uap panas yang dapat
dihasilkan dari suatu sumur selama jangka waktu kontrak. Untuk
proyek energi angin, potensi ekonomis ditentukan berdasarkan
lokasi tersedia yang dapat dibangun turbin angin, tanpa adanya
halangan, dan memiliki kecepatan angin sesuai dengan jenis
turbin yang dibangun.

Data potensi ekonomis tergantung dari beberapa faktor berikut,


diantaranya:

Harga Energi

Harga energi sering menjadi penentu utama dalam menentukan


keekonomisan proyek. Harga energi dapat berupa biaya energi
langsung seperti misal biomassa, ataupun tidak langsung, yaitu
biaya yang diperlukan untuk mengeksplorasi atau mendapatkan
energi tersebut. Contohnya adalah biaya eksplorasi panas bumi,
biaya konstruksi bendungan air, biaya investasi peralatan

199
Bab VI Pengembangan Proyek EBT

pengubah air menjadi hidrogen, biaya mengukur energi angin


atau surya.

Biaya energi tidak langsung lainnya berupa faktor nonteknis.


Seperti pajak air pada pembangkit energi air, atau tuntutan CSR
dari penduduk setempat terhadap proyek energi panas bumi
dan energi angin, surya dan sampah ataupun pajak retribusi yang
tidak seragam.

Harga Mesin

Tiap jenis energi EBT membutuhkan mesin yang spesifik. Potensi


tandan buah kosong yang banyak di daerah perkebunan sawit
belum banyak diolah menjadi listrik, dikarenakan lebih mahal
biaya yang dibutuhkan untuk membeli mesin yang sesuai.
Banyak potensi angin Indonesia yang kecepatan 4-5 m/s yang
tergolong rendah belum dimanfaatkan, mengingat dibutuhkan
mesin turbin angin dengan spesifikasi khusus yang lebih mahal.
Harga mesin tergantung juga efisiensi output dan kemudahan,
kehandalan dalam mengoperasikan

Kondisi Lokasi Proyek

Kondisi lokasi proyek sering menjadi faktor utama dalam


menentukan nilai keekonomisan. yang mempengaruhi antara
lain adalah:

• biaya transportasi

semakin jauh dari pelabuhan utama dan pelabuhan


tempat pengiriman barang, maka akan meningkatkan
biaya transportasi sehingga total biaya proyek
meningkat juga. Jika muatan kapal pengangkut barang
menuju pelabuhan yang sepi, maka biaya kirim kapal
akan lebih mahal.

Transportasi untuk komponen blade turbin angin


memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Karena yang
memiliki komponen berdimensi besar dan tidak terbuat
dari logam (sehingga lebih mudah rusak), sampai
dengan panjang 60 meter, sehingga dibutuhkan ahli
transportasi khusus, agar dalam perjalanan tidak rusak.

200
Bab VI Pengembangan Proyek EBT

• kondisi geografis lokasi yang memiliki potensi energi


EBT
Nilai biaya konstruksi akan lebih murah jika lokasi proyek
terdapat jalan yang mampu dilewati truk trailer besar.
Perlu diperhatikan daya mampu jembatan, jika ada, yang
akan dilewati truk. Kontur permukaan lokasi proyek,
apakah daerah berbukit atau dataran rendah. Tingkat
kekerasan tanah juga berpengaruh. Tanah yang lunak,
membutuhkan timbunan tanah keras, agar fondasi
mesin dan bangunan dapat stabil. Selain itu, perlu
diperhatikan apakah lokasi proyek dekat dengan
pemukiman penduduk, untuk menghindari dampak
sosial yang dapat menghentikan operasional proyek.
Jika pembangkit listrik membutuhkan air dalam jumlah
banyak, perlu dipertimbangkan kualitas air yang
tersedia. Jika berdekatan dengan pantai, yaitu dalam
jarak kurang dari 10 km, ada kecenderungan air tanah
tercampur dengan intrusi air laut, sehingga
membutuhkan peralatan water treatment yang lebih
mahal.

• lahan
Ketersediaan lahan berpengaruh terhadap output
ekonomis listrik yang dibangkitkan. Tidak semua lahan
yang akan digunakan, dapat disewa atau beli dengan
harga wajar. Jika sebagian lahan berada di daerah
perusahaan lain atau pemukiman padat, maka biaya
akan lebih mahal. Perlu diperiksa, apakah rencana lahan
tidak masuk dalam kawasan hutan lindung. Pengurusan
ijin pemanfaatan kawasan hutan lindung membutuhkan
usaha khusus tersendiri.

• tingkat stabilitas sosial masyarakat


Membangun suatu proyek, di suatu provinsi yang sering
mengalami kerusuhan, akan menyebabkan biaya
konstruksi tinggi. Kontraktor akan meminta premi risiko
yang lebih tinggi untuk menggarap proyek di daerah
rawan konflik sosial.

201
Bab VI Pengembangan Proyek EBT

Persepsi risiko pemberi pinjaman

Meskipun semua faktor tersebut di atas sudah dievaluasi dengan


baik dan mempunyai prospek menarik, namun tidak menjamin nilai
keekonomisan suatu proyek. Pihak pemberi pinjaman terkadang
memiliki persepsi risiko yang berbeda dengan pengembang proyek.
Jika penyandangan dana menyatakan bahwa energi yang digunakan
berisiko tinggi, maka mereka akan meminta bunga pinjaman yang
lebih tinggi sehingga mengakibatkan nilai proyek meningkat. Adalah
penting bagi semua stakeholder, untuk memberikan pengetahuan
yang memadai kepada pihak keuangan, terutama kepada lembaga
keuangan pemerintah, agar tidak terjadi salah persepsi risiko
terhadap suatu jenis proyek EBT.

Tarif jual listrik

Memastikan agar dengan jumlah energi yang tersedia dan biaya


yang akan dikeluarkan, mendapatkan tarif jual listrik yang
menguntungkan. Peraturan pemerintah tentang tarif jual listrik dari
pembangkit listrik energi terbarukan, sering mengalami perubahan,
sejak tahun 2009 sampai dengan tahun 2017.

2. Memilih lokasi proyek


Pertimbangan dalam menentukan lokasi proyek yaitu luas dan harga
tanah, jenis penguasaan lahan, apakah sewa atau beli, jarak lokasi
pembangkit ke titik koneksi jaringan PLN dan jarak sumber energi ke
lokasi pembangkit listrik. Masalah transportasi dapat menjadi
kendala, jika proyek membutuhkan mesin dengan berat yang
melebihi kemampuan jalan atau jembatan. Pertimbangan kedekatan
sumber energi sering kali menjadi hal terpenting mengingat biaya
transportasi akan semakin mahal jika lokasi proyek semakin jauh.
Jika jarak titik koneksi pembangkit listrik semakin jauh, maka
berpengaruh terhadap biaya investasi jaringan listrik semakin besar.
Selain itu, ada batasan maksimal jarak interkoneksi ke jaringan listrik
PLN, yang tergantung dari tegangan listrik yang mengalir pada
kabel. Semakin tinggi tegangan listrik dialirkan dan semakin dekat
titik koneksi, maka losses (rugi) energi yang dialirkan akan semakin
kecil. Namun dengan semakin tinggi tegangan listrik, dibutuhkan
biaya investasi semakin besar juga.

202
Bab VI Pengembangan Proyek EBT

3. Memastikan ketersediaan slot kapasitas daya untuk pembangkit EBT


Setelah mengetahui potensi energi untuk dapat dibangun
pembangkit listrik, langkah berikutnya adalah mencari informasi ke
PLN Kantor Wilayah (kapasitas sampai dengan 10 MW) atau PLN
Pusat (kapasitas di atas 10 MW) tentang ketersediaan slot koneksi ke
sistem kelistrikan. Info yang diperlukan adalah kapan pembangkit
listrik dapat beroperasi dan kapasitas MW yang dihasilkan untuk
dijual serta di mana titik koneksi dengan jaringan listrik PLN.

4. Menyiapkan semua perijinan


Ijin Prinsip, IUPTL (Ijin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik), IMB, Ijin
lingkungan, dan Perijinan daerah lain. Penjelasan tentang perijinan
telah dijelaskan pada bab 2.

5. Menyiapkan dokumen untuk menjual listrik ke PLN.


Ada empat dokumen utama yang diajukan ke PLN agar dapat
menjual listrik dari pembangkit energi terbarukan, yaitu:

1. Studi kelayakan
2. Kajian lingkungan
3. Company profile
4. Studi interkoneksi

Penyusunan dokumen studi kelayakan, kajian lingkungan dan studi


interkoneksi membutuhkan konsultan ahli khusus. Semakin baik
kualitas dokumen tersebut, berdampak pada semakin mudah
memproses di PLN dan upaya untuk mendapatkan kredit pinjaman.

Studi kelayakan

Studi kelayakan pembangkit listrik adalah dokumen yang


menjelaskan bagaimana suatu pembangkit listrik dapat
dibangun, dan beroperasi sesuai dengan kriteria teknis dan
ekonomi tertentu sehingga menghasilkan keuntungan bagi
pengembang. Dokumen ini diperlukan baik oleh PLN maupun
oleh pihak pemberi kredit. Kualitas yang baik dari studi
kelayakan dapat mempercepat proses persetujuan proyek
dengan PLN dan pengajuan pinjaman kredit. yang paling sering
terjadi adalah kualitas studi kelayakan yang kurang baik dan
berdampak pada kesulitan pengembang untuk mendapatkan
pendanaan proyek, karena pihak penyandang dana tidak yakin
proyek tersebut berhasil. Meskipun kredit proyek telah didapat,
namun cukup sering terjadi proyek mangkrak disebabkan oleh
penyusunan studi kelayakan yang tidak memadai.

203
Bab VI Pengembangan Proyek EBT

Masing-masing proyek EBT mempunyai isi penjelasan yang


berbeda mengenai pembangkit listrik yang akan dibangun.
Namun juga secara garis besar, memiliki kesamaan bahasan
utama penjelasan, antara lain:

1. Kondisi lokasi proyek


2. Penjelasan tentang jumlah dan kualitas energi yang
dapat dimanfaatkan
3. Penjelasan tentang jenis mesin atau teknologi yang
digunakan
4. Proses konstruksi pembangkit listrik
5. Pembiayaan proyek
6. Perijinan
7. Jaminan kualitas mesin dari pabrikan mesin
8. Analisa risiko
9. Informasi tim penyusun studi kelayakan

Pada kotak informasi berikut, dapat dilihat kerangka isi studi


kelayakan dari Pembangkit listrik biomassa dan angin.

Kotak Informasi 9 Kerangka isi studi kelayakan PLTB

Kerangka isi studi kelayakan PLTB


(Feasibility Study Wind Farm)
1. Condition of Wind farm project site
• Access to project site, including maps and photos
• land use and proposed land permit/agreement
• Location, including coordinate, Maps and photos of:
Layout Wind farm
• Regional development plan
• Physical site condition
o Topography
o Geology
o Climate and hydrology

2. Wind resources assessment


• MET tower height (minimum 80% of the height of wind
tower) and location
• Resume monthly wind data from anemometer (min 1
year data of MET Tower)
• Rated speed (annual average)
• Diurnal and seasonal pattern of wind speed

204
Bab VI Pengembangan Proyek EBT

• 10 years wind speed distribution of MERRA (Modern-Era


Retrospective Analysis for Research and Applications)
long-term (LT) wind data
• Diurnal wind shear pattern
• Measured data with Weibull Parameters
• Wind direction analysis (wind rose for direction and
energi distribution)
• Frequency of Wind Distribution
• Proposed site layout
• Annual electricity production by software calculation
and one tower energi production calculated manually
• Uncertainty in wind to electricity production (the
affected factors, net energi output in GWh, net energi
output in percentage, losses incurred)
3. Local power system condition
4. Wind Farm equipments and supporting facilities
• Turbine generators
• Foundations and pad mounted transformers
• Electrical system and collection system infrastructure
5. Construction and civil work
6. Environment
7. Project Finance
8. Business Risk

205
Bab VI Pengembangan Proyek EBT

Kotak Informasi 10 Kerangka Isi Studi Kelayakan PLTBm/PLTBg


(Biomassa dan biogas)

Kerangka Isi Studi Kelayakan PLTBm/PLTBg (Biomassa


dan Biogas)
1. Executive summary
2. Nama pembangkit di FS dan proposal = nama proyek = nama
pembangkit ketika beroperasi
3. Detail lokasi, beserta foto dan beserta koordinat.
4. Kondisi power system/ kelistrikan setempat dan titik interkoneksi ke
jaringan PLN
• Profil Beban harian sistem kelistrikan dilokasi calon
pembangkit
5. Uji lab bahan baku
• Untuk Biomassa (PLTBm): Proximate, ultimate analysis, Nilai
kalor dan ash composition
• Untuk limbah cair (PLTBg): Volatile solid atau COD
6. Suplai bahan baku
• Suplai biomassa (PLTBm)
a. Kebutuhan biomassa pertahun, termasuk cadangan
5% dari kebutuhan pertahun
b. Sumber biomass: apakah beli atau dari hutan energi,
jika hutan energi, jelaskan rencana hutan energi
c. Perjanjian Kerjasama dengan biomassa supplier
(jangka waktu dan harga)
d. Mekanisme transportasi biomassa (bagaimana
mengangkut biomass, menuju pembangkit)
• Cara penyimpanan biomassa dan proses pretreatment
biomassa (jika diperlukan)
• Suplai limbah cair (PLTBg)
a. Kebutuhan limbah cair
b. Perjanjian Kerjasama dengan pemilik limbah cair
(jangka waktu dan harga)
7. Teknologi yang digunakan
• Jelaskan teknologi yang digunakan (hanya satu pilihan
teknologi)
• Spesifikasi umum teknologi, termasuk efisiensi atau heat rate,
suhu di furnace/ reactor
• Penanganan emisi/limbah cair akibat operasional Pembangkit
• Jika high risk teknologi digunakan, perlu penjelasan lebih detail
tentang performance dan operasional
• Cara kerja teknologi tersebut, mulai dari bahan baku bioenergi
masuk sampai menghasilkan listrik
• Detail perhitungan manual, dari bahan baku sampai menjadi
energi listrik; Formula yang dipergunakan
• Waktu maintenance per tahun
• Air yang digunakan: sumber air, kualitas 206dan kebutuhan air
Bab VI Pengembangan Proyek EBT

8. Pekerjaan civil work:


• Persiapan pondasi,
• Layout, Luas, dan kualitas bangunan untuk power house dan
biogas\biomassa storage
9. Project cost dan Financial plan
• Berapa total biaya investasi, persentase loan
• Jelaskan alokasi biaya investasi
• Jelaskan biaya pengeluaran tahunan
10. Project schedule
• Terhitung mulai dari penandatanganan PPA sd COD (tanggal
operasi pertama pembangkit)
• Detail aktivitas konstruksi dan Kurva S
11. Ijin prinsip dari BKPM
12. Ijin/status penggunaan tanah
13. Performance warranty dari pabrikan mesin utama (boiler + turbin
uap/gasifier+ gas engine)
14. Analisa risiko
15. Info tentang Ketua tim\Penanggung Jawab Penyusun FS dan Project
developer: CV, no telp, email dan tanda tangan

Kotak Informasi 11 Performance warranty

Performance Warranty
Performance warranty adalah pernyataan jaminan kualitas mesin pada
periode waktu tertentu yang diberikan oleh pihak pabrik pembuat
mesin. Periode yang diberikan umumnya setahun. Cukup banyak
pengembang proyek yang lupa meminta jenis jaminan ini. Jaminan ini
diperlukan agar kualitas output dari mesin yang dibeli sesuai dengan
yang telah disepakati. Jika output mesin lebih rendah, maka pihak
pabrikan perlu melakukan setting penyesuaian, atau beberapa
pekerjaan modifikasi tanpa dikenai biaya tambahan, pada mesin.

Pengembang proyek perlu memahami dengan baik warranty ini. Jika


selama operasional yang dicover warranty, terdapat kesalahan
prosedur operasi atau kualitas bahan bakar yang digunakan, maka
performance warranty menjadi hangus.

207
Bab VI Pengembangan Proyek EBT

Menentukan teknologi

Menentukan teknologi pembangkit listrik yang handal, efisiensi tinggi,


mudah dioperasikan dan berharga wajar merupakan suatu tantangan
tersendiri. Cukup sering investor proyek yang telah mengeluarkan biaya
besar untuk membangun pembangkit listrik, ternyata mesin sering
bermasalah bahkan gagal beroperasi. Masalah tersebut tidak hanya
terjadi di Indonesia, namun juga di Eropa. Cara sederhana untuk memilih
jenis teknologi adalah dengan melihat di mana teknologi tersebut
pernah digunakan. Namun cara tersebut memiliki kelemahan, yaitu
kondisi lingkungan, operasi dan energi yang akan digunakan belum
tentu sama, yang dapat berdampak pada output mesin. Selain itu, tidak
semua pemilik mesin bersedia untuk dilihat mesin yang digunakan, dan
untuk diminta data finansial dan operasional.

Suatu mesin yang handal, didesain untuk mampu beroperasi minimal


7000 jam setahun, dengan biaya operasi dan maintenance tidak lebih dari
5% dari nilai total pembelian mesin, rata-rata selama setahun. Perhatikan
juga lifetime mesin dan emisi yang dihasilkan. Apakah sparepart yang
dijual dapat dibeli dengan mudah dan apakah dukungan teknisi pabrikan
tersedia, merupakan hal penting lainnya. Hanya dengan mengandalkan
suatu laporan dari lembaga riset tidak cukup, seorang Investor
membutuhkan seorang yang ahli di teknologi tersebut.

Tiap jenis energi EBT mempunyai trik tersendiri dalam menentukan


mesin yang berkualitas. Sebagai contoh, Untuk energi biomassa, yang
mana mempunyai variasi teknologi paling banyak dibandingkan
teknologi EBT lain, diperlukan analisa yang tajam untuk menentukan
kesesuaian biomassa dan mesin yang akan digunakan. Tantangan
teknologi turbin angin terletak pada bagaimana memilih turbin yang
dapat mengekstrak energi kinetik angin sebesar mungkin dan mengatur
layout posisi turbin angin.

Variasi harga teknologi EBT ditentukan berdasarkan kualitas dan


kuantitas output listrik. Pada umumnya produk teknologi yang tersedia
dipasar terbagi tiga kelas yaitu:

1. Desain Eropa, pabrikasi Eropa


2. Desain Eropa, pabrikasi Asia
3. Desain Asia, pabrikasi Asia

Harga produk Eropa cenderung mahal namun memiliki kualitas output


yang tinggi dan yang terjamin. Adalah mudah bagi mesin Eropa untuk
mampu beroperasi lebih dari 8000 jam setahun (terdapat 8760 jam
dalam setahun). Bahkan mampu menghasilkan output lebih dari 100%

208
Bab VI Pengembangan Proyek EBT

dari spesifikasi mesin tertulis dalam kontrak. Dengan kualitas output


yang telah terbukti tinggi, belum tentu menggunakan teknologi Eropa
dapat memberikan keuntungan finansial yang baik, mengingat terdapat
batasan maksimal dalam tarif listrik yang dijual.

Sebaliknya juga, produk Asia yang murah, belum tentu juga


mendatangkan keuntungan maksimal. Barang murah namun sering
rusak, sehingga walau biaya investasi awal murah, tetapi membutuhkan
biaya pergantian sparepart yang lebih tinggi. Beberapa pabrikan mesin
di Asia, mampu memproduksi mesin dengan harga kompetitif dan
kualitas cukup baik. Biasanya pabrikan ini pernah menjalin kerjasama
dengan pabrikan Eropa untuk pengembangan suatu tipe teknologi, dan
mempunyai ijin untuk memproduksi sendiri secara mandiri. Sehingga
seorang investor membutuhkan analis teknologi yang handal untuk
menentukan jenis mesin yang disesuaikan dengan target finansial dan
kehandalan. Biaya tenaga kerja di Eropa lebih tinggi dibanding Asia,
sehingga berpengaruh terhadap mahalnya harga mesin Eropa.
Sebaliknya, di Asia, dengan upah kerja yang lebih murah, maka memilih
mesin dengan harga lebih murah tapi lebih sering membutuhkan
perawatan, dapat menjadi pertimbangan penting.

Tabel berikut memberikan informasi biaya investasi pembangkit listrik


energi terbarukan dan PLTU Batubara untuk skala 3 MW ke atas. Secara
umum biaya tergantung variabel yaitu kapasitas output, kemampuan
jam operasi mesin, kondisi geografi, kondisi geologi, tingkat efisiensi,
tingkat kemudahan operasi dan jenis energi yang diolah.

Tabel 6-1 Biaya investasi berbagai jenis pembangkit listrik (Dirangkum dari
berbagai sumber: IRENA, World energi Council, IFC, IEA dan pabrikan mesin)

Jenis Estimasi Biaya


pembangkit investasi Keterangan
listrik per MW
(USD)
1 PLTBm 1.8 -3 juta Biomassa dengan kandungan tinggi akan air,
(Biomassa) sodium, potassium, dan chlorin membutuhkan
mesin berharga lebih tinggi. Tingkat efisiensi juga
mempengaruhi harga.
2 PLTBg (Biogas) 2.5 - 4 juta Nilai investasi lebih tinggi untuk PLTBg dengan
tangki digester, jika dibandingkan dengan covered
lagoon.
3 PLTSa 3 – 8 juta Harga mesin PLTSa tergantung dari sistem gas
(sampah) cleaning yang digunakan. Selain itu kualitas sampah
turut menentukan jenis dan proses pretreatment
untuk sampah dan desain ruang bakar.
4 PLTB 2 – 2.5 juta Harga tergantung dari kualitas power elektronik,
(Bayu/angin) gearbox, desain blade dan tower. Angin kecepatan

209
Bab VI Pengembangan Proyek EBT

rendah membutuhkan mesin turbin PLTB berharga


lebih mahal.
5 PLTA (Air) 1 – 7 juta Tergantung dari kondisi geografis dan pekerjaan
konstruksi sipil
6 PLTMH (mini 1.3 – 8 juta Tergantung dari kondisi geografis dan pekerjaan
hidro) konstruksi sipil
7 PLTP (panas 2.4 – 4.8 juta Tergantung dari kondisi geologi dan tingkat
bumi) kesulitan eksplorasi
8 PLTS (Surya) 1-1, 3 juta Tergantung kapasitas output, efisiensi dan energi
management
9 Solar Thermal 3 – 7 juta Tergantung kapasitas output, jenis storage dan
(CSP) efisiensi
10 Energi laut 6 – 9 juta Tergantung kapasitas output, dan lokasi
(tidal, wave)
11 PLTU Batubara 1.5 – 2.5 juta Tergantung kapasitas output, efisiensi dan jenis
batubara

6. Menyiapkan pembentukan SPC untuk IPP (Independent Power


Producer)

SPC (Specific Purpose Company) merupakan perusahaan khusus yang


dibentuk sebagai pihak yang akan menandatangani kontrak jual beli
dengan PLN. SPC hendaknya merupakan perusahaan bentukan baru,
agar pencatatan perolehan pendapatan tidak tercampur dengan
perusahaan induk. Bagi pengembang proyek, dengan dibentuk SPC
maka tanggung jawab hukum hanya sebatas pada SPC, yang berarti
bahwa potensi risiko dapat diminimalkan terhadap perusahaan
induk. Kendala SPC di Indonesia dalam hal mencari pendanaan
proyek adalah, meskipun SPC telah memiliki modal 30% dari nilai
investasi proyek, tidak menjamin dapat memperoleh kredit dengan
mudah. Pihak pemberi kredit masih mempertanyakan kualitas
finansial perusahaan induk atau perusahaan sponsor. Hal lain yang
perlu diperhatikan dari SPC adalah nama dari SPC sulit untuk diubah
setelah penandatanganan kontrak. Permintaan perubahan nama
SPC biasanya dimohon pengembang jika mendapatkan partner
konsorsium baru secara mendadak di luar jadwal resmi.

Jika pemilik proyek ingin menjual sebagian saham di SPC, perlu


diperhatikan bahwa kepemilikan saham dalam SPC tidak dapat
diubah dalam kurun waktu minimal 5 tahun setelah COD (Commercial
Operation Date, hari pertama operasi komersial).

210
Bab VI Pengembangan Proyek EBT

Pengurusan pembentukan SPC dapat dimulai dari mengurus:

• Izin Prinsip dari BKPM;


• Akta Pendirian PT PMA yang dari Notaris;
• Keputusan Menteri tentang pengesahan status badan hukum PT
PMA dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia;
• Domisili dari pemerintah daerah setempat;
• NPWP dan keterangan Pengusaha Kena Pajak (PKP) dari kantor
pajak;
• Izin Usaha dari BKPM;
• Tanda Daftar Perusahaan dari instansi untuk pelayanan
perizinan terpadu (BPPT); dan
• Wajib lapor ketenagakerjaan dan laporan kesejahteraan dari sub
departemen di Kementerian Ketenagakerjaan.

Kotak Informasi 12 Independent Power Producer

Independent Power Producer


Independent Power Producer (IPP) merupakan istilah untuk
perusahaan pembangkit listrik swasta di Indonesia dan dunia.
Perusahaan yang membangun, mengoperasikan dan
memelihara unit pembangkit listrik dan menjual listrik ke
perusahaan utilitas listrik seperti misal PLN Sebagai IPP, hanya
dapat menjual listrik ke satu pihak, yaitu PLN. Sebagian kecil
listrik yang dihasilkan IPP dapat digunakan untuk keperluan
dalam lingkungan operasional pembangkit listrik tersebut.

Tanggung jawab dan ruang lingkup kerja IPP:

• melakukan pengembangan proyek


• membuat proses desain
• mencari pembiayaan
• Melakukan proses procurement dan konstruksi secara
mandiri
• melakukan komissioning
• mengajukan permohonan SLO (Sertifikat Laik
Operasi)

211
Bab VI Pengembangan Proyek EBT

Skema Bisnis IPP di Indonesia dapat dijelaskan dalam gambar


berikut (IPP Procurement PLN Pusat).

Gambar 6-1 Proses bisnis SPC

6.2 Persiapan Proses Pengadaan Proyek IPP di PLN

Jika semua kelengkapan dokumen proyek EBT telah tersedia, maka


tahap berikutnya adalah proses pengadaan proyek IPP di PLN. Calon
pengembang disarankan berkonsultasi ke PLN Pusat mengenai detail
proses pengadaan proyek IPP terkini sesuai dengan regulasi Pemerintah
terbaru yang ada. Kelengkapan awal yang perlu dipersiapkan terdiri dari:

1. Dokumen administrasi
a. Identitas pemohon
b. Akta pendirian perusahaan dan akta perubahan
perusahaan (jika ada)
c. Surat pengesahan dari kementerian Hukum dan HAM
atas Akta Pendirian Perusahaan dan Akta Perubahan
Perusahaan
d. Profil Perusahaan
e. Surat keterangan terdaftar pada Dirjen Pajak dan NPWP
f. Semua Perijinan
g. Data pendukung lain, jika pengembang menjalin
kerjasama dengan pihak ketiga selama masa operasional
pembangkit listrik

212
Bab VI Pengembangan Proyek EBT

2. Dokumen teknis
a. Studi kelayakan
b. Kajian Lingkungan. Untuk AMDAL dapat menyusul
kemudian, dengan catatan Pengembang harus
menunjukkan Surat telah menunjuk pihak ketiga yang
melakukan penyusunan AMDAL.
c. Gambar lokasi
d. Desain rinci
e. Rencana operasi
f. Data pendukung lain (spesifikasi teknis, single line
diagram, dan process flow diagram)

Sambil mengikuti proses pengadaan IPP di PLN, pengembang


disarankan juga mulai penjajakan dengan calon vendor mesin yang akan
digunakan untuk mengetahui ketersediaan mesin sesuai dengan
spesifikasi yang dibutuhkan dan harga. Setelah didapatkan vendor mesin
yang memenuhi syarat, selanjutnya mencari informasi tentang
kontraktor konstruksi proyek. Biasanya vendor mesin memiliki partner
kontraktor untuk membangun proyek pembangkit listrik tersebut.
Membeli mesin dalam suatu paket utuh yang disebut “turn key project”,
memiliki tingkat kerumitan lebih rendah, namun biaya lebih tinggi.
Kegiatan lain yang perlu dilakukan adalah melakukan sosialisasi ke
masyarakat di sekitar proyek, agar keberadaan proyek dapat diterima
masyarakat sekitar dan selama proses konstruksi dan operasional tidak
menimbulkan gangguan sosial.

Perjanjian/kontrak Jual beli Listrik (PJBL) atau Power Purchase


Agreement (PPA)

Terdapat dua jenis kontrak jual listrik antara swasta dan PLN, yaitu
kontrak excess power dan Kontrak IPP. Perbedaan dapat dijelaskan
sebagai berikut.

Kontrak Excess Power

Proses pengadaan dilakukan melalui penunjukan langsung di PLN Kantor


Wilayah. Parameter utama dalam kontrak excess power adalah jumlah
daya dan kualitas daya, dan harga wajar dengan jangka waktu hingga 1
(satu) tahun atau lebih dan dapat diperpanjang. Jadi kontrak penjualan
listrik ditentukan dalam jangka waktu terbatas. Tidak ada peraturan
yang membatasi jumlah persentase daya listrik yang dapat dijual dari
yang dihasilkan pembangkit listrik. Umumnya harga listrik excess power
mengacu pada biaya pokok pembangkitan setempat. Opsi kontrak IPP
diambil dengan pertimbangan PLN tidak membutuhkan untuk jangka
panjang, atau pemilik pembangkit listrik memanfaatkan sisa bahan

213
Bab VI Pengembangan Proyek EBT

bakar atau keperluan pabrik industri mereka. Tidak ada jaminan hukum
yang kuat dalam kontrak IPP, mengingat konsep dasar yang diterapkan
adalah usaha terbaik yang mampu dilakukan masing-masing pihak.
Sehingga tidak ada penalti dalam kontrak excess power.

Kontrak IPP

Kontrak PPA jenis ini mengacu pada kontrak penjualan listrik swasta
jangka panjang, selama 20-30 tahun. Hal penting dari proses pengadaan
adalah penyusunan kontrak Perjanjian Jual beli Listrik (PJBL) atau Power
Purchase Agreement (PPA) dan kemampuan finansial. Pengembang
harus mampu menunjukkan mempunyai dana pribadi sebesar minimal
20% dari nilai proyek.

PJBL adalah perjanjian antara dua pihak, yaitu penjual listrik dan pembeli
listrik. di dalam PJBL terdapat penjelasan aspek operasional, komersial,
legal dan teknis selama masa transaksi listrik tersebut. Jenis kontrak ini
juga digunakan sebagai landasan utama kreditur dalam memberikan
pinjaman ke bank. Seberapa banyak potensi pendapatan suatu
pembangkit listrik, juga dipengaruhi oleh kualitas perjanjian jual beli
yang disusun. Kegagalan dalam memahami perjanjian ini berakibat pada
kerugian finansial proyek. Sangat disarankan, dalam diskusi penyusunan
PJBL, tim investor didukung oleh orang-orang dengan keahlian teknis,
keuangan, hukum dan operasional.

Suatu PJBL dapat berdurasi sampai dengan 20-30 tahun, dengan jumlah
listrik yang ditransaksikan dalam batasan maksimal dan minimal tertentu
yang telah disepakati. Selama masa itu juga, baik pihak pembeli maupun
penjual listrik mempunyai hak dan kewajiban yang sama sesuai dengan
isi kontrak. Pada dasarnya suatu kontrak PJBL semua jenis pembangkit
listrik terdiri dari bahasan utama sebagai berikut:

• Semua kewajiban pembeli (PLN) dan penjual (pengembang


pembangkit listrik)
• Hal-hal yang tidak diperbolehkan
• Harga jual listrik dan transaksi
• Denda wanprestasi untuk kedua belah pihak
• Aspek legal Pengoperasian pembangkit

214
Bab VI Pengembangan Proyek EBT

Untuk pembangkit listrik energi terbarukan, lebih detail tentang pokok-


pokok PJBL tercantum pada permen ESDM no. 10 tahun 2017, yang
menjelaskan tentang:

a) jangka waktu PJBL;


b) hak dan kewajiban penjual dan pembeli;
c) alokasi risiko;
d) jaminan pelaksanaan proyek;
e) komisioning dan COD;
f) pasokan bahan bakar;
g) transaksi;
h) pengendalian operasi sistem;
i) penalti terhadap kinerja pembangkit;
j) pengakhiran PJBL;
k) pengalihan hak;
l) persyaratan penyesuaian harga;
m) penyelesaian perselisihan; dan
n) keadaan kahar (force majeur).

Tiap jenis pembangkit listrik dapat berbeda detail dari isi utama PJBL di
atas.

6.3 Pembiayaan Proyek

Setelah Pengembang menandatangani kontrak PJBL dengan PLN, maka


berlanjut ke upaya untuk mendapatkan pinjaman. Terdapat beberapa
cara untuk mendanai proyek pembangkit listrik, cara yang paling umum
adalah (IFC, 2017):

• Dana sendiri (ekuitas)


• Pinjaman bank (dari bank komersial internasional, lokal bank, dan
bank pembangunan atau pembiayaan multilateral institusi)
• Investasi oleh pemasok teknologi
• Investasi oleh pemilik sumber energi
• Build – Operate – Transfer (pihak ketiga mengambil tanggung jawab
pembiayaan, perancangan, pembangunan infrastruktur, dan
mengoperasikan pabrik untuk jangka waktu tertentu)
• Dana ekuitas swasta.

Kredit dapat diajukan ke bank komersial, atau lembaga non–perbankan


seperti PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau institusi asing yang
memiliki kerjasama dengan Indonesia. Bunga kredit untuk mata uang
Rupiah dan asing berbeda, tergantung dari kebijakan suku bunga bank
central masing-masing negara. Setiap bank atau lembaga pemberi

215
Bab VI Pengembangan Proyek EBT

pinjaman memiliki kriteria risiko berbeda terhadap suatu sumber energy,


sehingga nilai bunga pinjaman atas kredit dapat berbeda.

Bank kelas internasional, cenderung hanya tertarik dengan Proyek yang


bernilai minimal 50 juta USD. Kelebihan bank ini adalah mereka dapat
memberikan pinjaman mata uang asing dengan bunga lebih rendah
dibandingkan dengan bank dalam negeri. Pinjaman dalam mata uang
asing seperti yen atau dolar, memiliki bunga pinjaman lebih rendah
dibandingkan rupiah, sehingga IRR yang ditargetkan pun lebih rendah.
Meskipun persyaratan administrasi telah lengkap, tidak menjamin
bahwa proses financing berjalan dengan mudah dibandingkan upaya
mencari kredit dari bank lokal. Bank atau lembaga internasional biasanya
mensyaratkan standar lingkungan yang lebih tinggi dalam rencana
proyek, dibandingkan bank dalam negeri.

Dalam evaluasi terhadap proyek, akan lebih banyak pertanyaan yang


diajukan tentang dampak terhadap lingkungan sekitar dan akuisisi lahan.
Mereka juga akan menyewa seorang ahli khusus di bidang proyek energi
yang akan dibangun, untuk mengevaluasi kelayakan proyek, yang mana
biayanya dibebankan kepada calon peminjam kredit. Sehingga, sangat
jarang pengusaha dalam negeri yang bisa mendapatkan dana pinjaman
murah dari lembaga atau bank internasional. Pengalaman pengembang
besar yang ada, meskipun telah mendapatkan komitmen dan
penandatanganan persetujuan kredit, namun mengingat waktu
pencairan dana tersebut terkadang lebih lama dari yang direncanakan,
masih harus menyiapkan dana pribadi atau dari sponsor lain untuk
pembiayaan proyek. Hal tersebut dilakukan agar target tanggal
pembiayaan, yang telah ditanda tangani dengan PLN, tidak terlewati.
Calon pengembang proyek memiliki waktu 12 bulan untuk mendapatkan
kredit. Jika terlewati, maka akan ada denda menanti. Berbagai faktor x
di lapangan dapat terjadi yang menyebabkan kucuran kredit terlambat.

216
Bab VI Pengembangan Proyek EBT

Kotak Informasi 13 Internal Rate of Return

Internal Rate of Return,


Tingkat Persentase Keuntungan di Proyek
Internal Rate of Return (IRR) merupakan suatu angka yang menyatakan tingkat
persentase keuntungan di suatu proyek, termasuk proyek pembangkit listrik.
Dalam proses pinjaman kredit proyek, angka paling penting yang akan dilihat
adalah IRR. Ada dua cara pendekatan yang biasa dipakai untuk menentukan IRR,
yaitu:

• Dengan menghitung NPV

IRR adalah tingkat diskonto yang membuat nilai bersih saat ini (NPV)
dari semua arus kas dari proyek tertentu sama dengan nol. Perhitungan
IRR bergantung pada rumus yang sama seperti NPV.

Ct = net cash inflow during the period t,


Co = total initial investment costs
R = discount rate
t = number of time periods
Perhitungan IRR dengan metode ini memiliki kelemahan yaitu tingkat
risiko investasi tidak dimasukkan dalam analisa.

• CAPM formula

Adalah model untuk menentukan tingkat pengembalian aset.

Gagasan umum di balik CAPM adalah bahwa investor perlu


dikompensasi dengan dua cara: nilai waktu uang dan risiko. Nilai waktu
uang diwakili oleh tingkat bebas-risiko (rf) dalam formula dan
mengompensasi para investor untuk menempatkan uang dalam
investasi apa pun selama periode waktu tertentu. Tingkat bebas risiko
biasanya menghasilkan obligasi pemerintah jangka panjang.

Rumus CAPM mewakili risiko dan menghitung jumlah kompensasi yang


dibutuhkan investor untuk mengambil risiko tambahan. Ini dihitung
dengan mengambil ukuran risiko (beta) yang membandingkan
pengembalian aset ke pasar selama periode waktu dan dengan premi
pasar (Rm-rf).

217
Bab VI Pengembangan Proyek EBT

Beta mencerminkan seberapa berisiko aset dibandingkan dengan risiko


pasar secara keseluruhan dan merupakan fungsi dari volatilitas aset dan
pasar serta korelasi antara keduanya.

Berapa IRR yang wajar untuk Indonesia?


Risk free rate, diambil Indonesia 10 Year Government Bond akhir Mei
2018: 6.9%
Beta of the security: 1. Beta 1 menunjukkan bahwa harga sekuritas
bergerak linier dengan pasar.
Expected market return diambil dari data Valuasi Pasar Saham Global
dan harapan Pengembalian investasi untuk kondisi capital market
Indonesia di tahun 2018 sebesar 14%.
Sehingga
IRR = 6.9% + 1(14-6.9)% = 14%

Kotak Informasi 14 Parameter yang mempengaruhi tarif jual listrik

Parameter yang Mempengaruhi Tarif Jual Listrik


Faktor yang mempengaruhi perhitungan tarif jual listrik adalah

1. Biaya pengembangan proyek, dimulai dari penyusunan studi kelayakan,


perijinan, akuisisi lahan, gaji pegawai dan biaya pengujian mesin sampai
COD (Commercial On Date)
2. Harga mesin pembangkit listrik. Jika paket pembelian mesin bukan turn
key project, maka ada biaya tambahan untuk instalasi. Untuk jenis mesin
yang sama, bisa berbeda harga. Tergantung kualitas desain dan
pabrikasi.
3. Pendanaan proyek umumnya campuran antara pinjaman bank dan
modal sendiri, dengan komposisi 70/30 atau 60/40. Sehingga pengaruh
tingkat suku bunga di suatu negara sangat berpengaruh menentukan
tarif jual listrik. Untuk pendanaan pinjaman, ada tambahan dana
financing cost untuk loan arranger
4. Jam operasi komersial tahunan dan jangka waktu kontrak
5. Harga bahan bakar
6. Harga sparepart.
7. Tingkat IRR suatu negara, yang dipengaruhi oleh profil risiko investasi di
negara tersebut
8. Kebijakan pajak. Baik income tax, maupun pajak impor
9. Subsidi langsung dari program Pemerintah

218
Bab VI Pengembangan Proyek EBT

Jika pembaca mendapati informasi tarif jual listrik suatu jenis energi di negara
tertentu lebih murah, maka pastikan untuk memeriksa kesesuaian parameter di
atas. Bisa jadi tarif tersebut lebih murah dibandingkan di Indonesia, dikarenakan
ada beberapa parameter finansial yang nilainya lebih rendah.

6.4 Konstruksi

Setelah dana didapat, maka tahap selanjutnya adalah konstruksi proyek


pembangkit listrik EBT. Mayoritas pengembang memilih opsi turn key
project, yang berarti bahwa proses konstruksi 100% diserahkan kepada
kontraktor. Bagi mereka yang berpengalaman, ada yang memilih
konstruksi dikerjakan sendiri. Pengerjaan konstruksi yang dikerjakan
oleh perusahaan sendiri, dapat menghemat biaya, namun memiliki risiko
dalam kualitas. Selain itu, beberapa vendor mesin terkenal, enggan
memberikan jaminan produk apabila yang merakit mesin mereka bukan
dari kontraktor yang mereka percayai berkualitas.

Tabel berikut memberikan informasi waktu konstruksi untuk tiap jenis


teknologi. Proyek Solar PV dan angin mencatat waktu konstruksi yang
paling cepat, yaitu kurang dari satu tahun. Sedangkan pembangkit listrik
energi laut dan hidro membutuhkan waktu konstruksi paling lama, lebih
dari 2 tahun.

Tabel 6-2 Perbandingan waktu konstruksi (Bloomberg New energi Finance, 2017)

Suatu pekerjaan konstruksi membutuhkan jadwal detail, agar tiap


tahapan pekerjaan dapat dicapai tepat waktu. Grafik pada Gambar 6-2
berikut memberikan informasi contoh jadwal kegiatan konstruksi
proyek.

219
Bab VI Pengembangan Proyek EBT

Gambar 6-2 Jadwal tahapan Konstruksi proyek

Tingkat kemajuan pada laporan status proyek konstruksi diklasifikasikan


berdasarkan area yang dikelola oleh kontraktor, yang memiliki
persentase tertentu. Contoh yaitu bobot 20% untuk rekayasa, 30% untuk
pengadaan peralatan, 45% untuk konstruksi dan 5% untuk start-up (Lee,
2002). Kriteria perhitungan nilai berdasarkan area yang dikelola adalah
sebagai berikut:

a. Teknik dan jam kerja awal


b. Biaya pengadaan peralatan
c. Harga kontrak, kendala pemasangan dan sumber daya yang
dimuat untuk konstruksi.

Sebagai contoh, penilaian untuk area konstruksi terdiri dari 32% untuk
paket pekerjaan sipil, 19% untuk arsitektur, 38% untuk mekanik dan listrik,
dan 11% untuk I & C yang berjumlah 100% seperti yang ditunjukkan pada
gambar berikut.

220
Bab VI Pengembangan Proyek EBT

Gambar 6-3 Progres konstruksi proyek

6.5 Komisioning

Setelah Pembangkit listrik selesai dibangun, maka tahap berikutnya


adalah menjalani uji laik operasi sesuai dengan standar yang berlaku.
Pelaksanaan uji ini untuk memastikan bahwa semua peralatan yang
terpasang memenuhi standar keselamatan dan standar teknis yang
berlaku. UU No 30 tahun 2009 mewajibkan proses pengujian
pembangkit listrik sebelum masuk masa operasi komersial. Pemeriksaan
dan pengujian dilakukan oleh lembaga teknik yang telah terakreditasi,
bisa PLN atau swasta.

Berdasarkan ketentuan dari BKPM, persyaratan yang diperlukan untuk


mendapatkan Sertifikat Laik Operasi (SLO) sebagai berikut:

Tabel 6-3 Persyaratan SLO

Jenis Dasar Hukum SOP Persyaratan SLA(hari)


perijinan

221
Bab VI Pengembangan Proyek EBT

Adapun jenis instalasi yang memerlukan SLO, berdasarkan penjelasan


pada PP no. 14 tahun 2012, pasal 45, Instalasi tenaga listrik terdiri dari:

a. instalasi penyediaan tenaga listrik


i. instalasi pembangkit tenaga listrik
ii. instalasi transmisi tenaga listrik
iii. instalasi distribusi tenaga listrik
b. instalasi pemanfaatan tenaga listrik.
i. Instalasi konsumen tegangan tinggi
ii. Instalasi konsumen tegangan menegah
iii. Instalasi konsumen tegangan rendah

Gambar 6-4 Jenis instalasi yang memerlukan SLO

Pelaksanaan uji laik operasi, dilakukan setelah kontraktor menyelesaikan


komisioning individu. Detail teknis komisioning mengacu pada standar
PLN yang ada. Proses lengkap pekerjaan setelah konstruksi dapat dilihat
pada gambar berikut.

222
Bab VI Pengembangan Proyek EBT

Gambar 6-5 Komisioning Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) SPLN K6.001: 2014

Menurut standar komisioning PLN, Pelaksanaan komisioning dilakukan


dengan tahapan sebagai berikut:

• Persiapan komisioning: pembentukan tim komisioning, review &


approval test procedure, pengumpulan dokumen teknik;
• Pemeriksaan pendahuluan, meliputi:
o Pemeriksaan dokumen antara lain: gambar, BAPPK, dll.
o Pemeriksaan visual peralatan dan kelengkapannya.
• Supervisi uji Individu termasuk uji sequencial interlock, proteksi
injeksi primer, kontrol electric/pneumatic;
• Supervisi uji sistem antara lain meliputi: BOP, boiler, turbin,
generator, transformator, chemical cleaning, BTG interlock, first
firing, steam blow, safety valve test, uji jalan tanpa beban;
• Supervisi uji unit antara lain meliputi: uji sinkronisasi, uji
pembebanan, uji lepas beban, uji keandalan, uji unjuk kerja, uji
dampak lingkungan;
• Laporan teknik komisioning.

Hal-hal yang harus disepakati bersama antara tim penguji dan pemilik
mesin sekurang-kurangnya meliputi:

- Angka garansi;
Semua pihak yang terlibat memiliki pemahaman yang sama
untuk angka garansi
- Prosedur uji unjuk kerja;
Ketelitian alat ukur, metode penelitian, dan waktu pengukuran
- Kondisi peralatan yang diuji;
Memastikan bahwa peralatan yang akan diuji telah siap dan tim
dapat bekerja dengan aman di lingkungan peralatan tersebut
- Kalibrasi peralatan uji;

223
Bab VI Pengembangan Proyek EBT

Peralatan yang akan digunakan harus dikalibrasi sesuai dengan


standar
- Koordinasi pelaksanaan pengujian;
Semua pihak harus sepakat, mengenai pembagian tanggung
jawab dari pihak-pihak yang terlibat dalam pengujian, serta
mengenai jumlah dan penempatan personel pengujian
• Evaluasi hasil uji;
• Kriteria hasil uji.

Setelah pembangkit listrik melewati hari pertama COD, maka tugas Tim
Pengembangan Proyek selesai, dan tahap berikutnya yang melanjutkan
adalah tim operasi dan pemeliharaan. Beberapa anggota dari tim
pengembangan proyek mungkin masih diperlukan untuk memastikan
kinerja pembangkit sesuai dari yang didesain, atau untuk merencanakan
pengembangan kapasitas proyek.

Pada Tabel 6-4 dipaparkan contoh mata uji dalam pengujian laik operasi,
untuk pembangkit lama dan baru.

Tabel 6-4 Mata uji dalam komisioning mesin

224
7Bab VII Seberapa Besar Kebutuhan EBT

S emakin meningkatnya emisi gas rumah kaca mengakibatkan


kebutuhan mencari pengganti energi fosil sudah mendesak di
banyak negara. Emisi karbon mengalami tren peningkatan dalam
rentang 1-3% per tahun, seperti terlihat pada Gambar 7-1. Sehingga perlu
solusi untuk mengatasi emisi yang disebabkan oleh mesin pembangkit
listrik berbahan bakar fosil.

Gambar 7-1 Grafik tren kenaikan emisi karbon (Peters, 2017)

Namun, seberapa besar energi fosil yang akan digantikan masih sering
menjadi topik pembahasan yang hangat. Faktor pertama adalah
ketersediaan energi terbarukan di suatu daerah. Jika tidak cukup banyak
potensi energi bersih di suatu negara, maka sulit bagi daerah tersebut
untuk memiliki pembangkit listrik dengan suplai energi terbarukan.
Faktor berikutnya adalah tidak mudah untuk menggantikan semua
mesin pembangkit listrik berbahan bakar fosil yang sudah beroperasi
dengan mesin yang ramah lingkungan dalam waktu singkat. Kendala
yang paling sering terjadi adalah kemampuan finansial dalam
menerapkan energi bersih tersebut.

Negara dengan daya beli atau GDP per kapita tinggi, akan mudah
membangun pembangkit listrik dari energi terbarukan. Penduduk di
negara tersebut bisa membeli teknologi tinggi dengan mudah. Bahkan,
jika di negara mereka tidak tersedia sumber energi terbarukan, mereka
dapat mengimpor untuk memenuhi target kebutuhan domestik. Seperti
yang sering dilakukan negara Eropa Barat, Korea dan Jepang dalam
mengimpor biomassa dari negara berkembang. Hambatan lain adalah
kemampuan industri dan sumber daya manusia dalam menguasai
teknologi EBT. Negara yang memiliki kemampuan industri berat, mampu
menghasilkan mesin untuk menyuplai proyek energi terbarukan dan
Bab VII Seberapa Besar Kebutuhan EBT

dengan harga terjangkau untuk keperluan domestik. Contohnya adalah


Cina dan India. Sehingga biaya teknologi energi bersih di negara tersebut
lebih murah.

Kualitas sumber daya manusia di suatu negara turut menentukan


kemajuan pembangunan pembangkit listrik EBT. Sumber daya manusia
yang handal, diperlukan untuk melakukan analisa potensi energi dan
penerapan pemanfaatan energi tersebut. Suatu daerah dengan potensi
energi bersih tinggi, belum tentu dapat memiliki pembangkit energi
bersih dalam jumlah banyak. Kualitas sumber daya manusia, baik
penduduk lokal, maupun pihak yang menangani proyek dan transaksi
jual beli, jika tidak memahami dengan baik proses eksplorasi energi
sampai dengan proses komersial, maka potensi energi tersebut hanya
menjadi sia-sia.

Faktor lain yang mempengaruhi tingkat pertumbuhan pembangkit listrik


EBT adalah tingkat ketertarikan investor. Semakin tinggi tingkat
pengembalian dan keuntungan proyek, maka tingkat ketertarikan
investor lebih tinggi. Selain faktor kemudahan memulai usaha,
kemudahan dalam melakukan transaksi bisnis listrik dan faktor risiko di
Negara tersebut.

Tingkat kompetitif tarif listrik EBT dengan PLTU Batubara

Dalam laporan IRENA di tahun 2017, pada grafik di Gambar 7-2, dapat
diketahui bahwa sebagian besar tarif listrik rata-rata yang diproduksi dari
energi terbarukan dapat bersaing dengan tarif dari energi fosil seperti
PLTU batubara. Dari data cleantechnica 2016, variasi tarif PLTU Batubara
adalah 6-14 cent usd/KWh. PLTU memiliki keunggulan dalam hal variasi
kapasitas output MW mulai dari 3 MW sampai dengan 1000 MW per unit,
sehingga harga mesin dapat lebih murah untuk per MW output. Dengan
kapasitas PLTU 1000 MW, biaya investasi dapat turun mencapai 1 juta
USD per MW.

Secara umum variasi kapasitas daya output energi terbarukan masih sulit
menyaingi PLTU, yang menyebabkan harga mesin kurang kompetitif jika
dibandingkan langsung dengan PLTU. Berbagai kondisi yang
menyebabkan kapasitas EBT kurang fleksibel dibandingkan PLTU. Untuk
biomassa, kapasitas 30 MW adalah yang ekonomis. Jika kapasitas lebih
besar, maka akan semakin sulit untuk mendapatkan suplai biomassa,
dan harga semakin mahal. Kendala lain adalah kebutuhan tanah. Luas
tanah untuk beberapa jenis pembangkit listrik EBT, seperti PLTS dan
PLTB, akan semakin besar, yang jumlah kebutuhannya meningkat linear
dengan semakin besar kapasitas MW output.

226
Bab VII Seberapa Besar Kebutuhan EBT

Berbeda halnya dengan kebutuhan lahan untuk PLTU batubara, yang


lebih hemat dikarenakan dimensi mesin turbin uap dan boiler lebih
kompak. Faktor lain adalah batubara tidak bersifat site specific (yaitu
batubara dapat dikirim ke lokasi tertentu), berbeda hal dengan energi
terbarukan yang tidak dapat dipindahkan (kecuali biomassa). Sifat ini
menyebabkan PLTU batubara memiliki kelebihan dalam fleksibilitas
suplai bahan bakar.

Gambar 7-2 Tarif jual listrik secara global dari pembangkit


listrik energi terbarukan dan fosil

Harga bahan bakar PLTU yaitu batubara bernilai kurang lebih sama
dengan harga wood chip sebagai bahan bakar PLTBm, sehingga tidak
berpengaruh banyak terhadap fleksibilitas output.

Jika basis perhitungan tarif pembangkit listrik memasukkan ketentuan


tentang batas emisi karbon, sehingga PLTU batubara harus
menggunakan teknologi carbon capture and storage (CCS), untuk
menangkap emisi karbon hasil proses pembakaran, maka tarif listrik
yang dihasilkan akan berbeda. Menurut hasil analisa EIA tahun 2018, tarif
levelized cost PLTU batubara yang dilengkapi CCS paling murah menjadi
11.9 cent usd/KWh.

227
Bab VII Seberapa Besar Kebutuhan EBT

7.1 GDP Per Kapita Tinggi Berdampak pada Peningkatan Persentase Energi
Terbarukan

Ada korelasi yang menarik antara tingkat emisi lingkungan (yang terkait
dengan penggunaan energi bersih), dan kemampuan finansial yang
biasa diukur dengan GDP (Gross Domestic Product) per kapita, seperti
terlihat pada grafik di Gambar 7-3.

Gambar 7-3 Kuznet Curve

Pada tahun 1950, Simon Kuznet, peraih hadiah nobel ekonomi tahun
1971, menyampaikan hipotesis tentang hubungan antara kualitas
lingkungan dan tingkat pendapatan penduduk suatu negara. Hipotesis
tersebut menyatakan bahwa peningkatan kemakmuran suatu negara
akan berdampak pada tingkat kerusakan lingkungan yang lebih tinggi,
sampai pada suatu titik balik, di mana tingkat pendapatan penduduk
terus melaju sementara kerusakan lingkungan berkurang.

Dari tiga grafik berikut, dapat diketahui apa yang terjadi di dunia
sehubungan dengan peningkatan kemakmuran dan emisi lingkungan
mendukung hipotesis Kuznet tersebut. Grafik historikal GDP per kapita
menunjukkan negara seperti Inggris, dan Amerika yang memiliki
kenaikan GDP paling tinggi dimulai tahun 1950. Kedua negara tersebut,
seperti terlihat pada grafik emission intensity through time, pernah
memiliki tren kenaikan emisi, sebelum akhirnya mencapai titik puncak
yang kemudian berlanjut penurunan tren emisi.

228
Bab VII Seberapa Besar Kebutuhan EBT

Gambar 7-4 Pertumbuhan GDP di beberapa negara

Gambar 7-5 Tingkat emisi di beberapa negara

Pada grafik berikutnya, yaitu hubungan antara carbon emission intensity


vs GDP, dapat diketahui juga bahwa negara yang memiliki emisi rendah
adalah negara dengan GDP per kapita rendah dan tinggi. Hal tersebut
sesuai dengan hipotesis Kuznet.

229
Bab VII Seberapa Besar Kebutuhan EBT

Gambar 7-6 Emisi karbon dan GDP per kapita

Kemudian kita tinjau lebih lanjut negara dengan penggunaan energi


bersih terbesar di dunia seperti pada tabel di Gambar 7-6. Terdapat fakta
yang juga mendukung hipotesis Kuznet, bahwa negara dengan
persentase energi terbarukan tinggi, cenderung rakyatnya memiliki GDP
tinggi. Berdasarkan data yang ada, salah satu faktor penting suatu
negara dapat mengonsumsi energi bersih dalam jumlah dominan adalah
tingkat kemakmuran rakyat yang dinyatakan dalam GDP per kapita.

Dengan daya beli yang tinggi, rakyat di negara tersebut dapat membayar
tarif listrik tinggi yang digunakan untuk membayar listrik berbahan bakar
ramah lingkungan. Jika dibandingkan dengan Indonesia, dengan EBT 12%
dan GDP per kapita 3858 usd, 12 negara lain dengan GDP lebih tinggi
mampu memanfaatkan energi terbarukan lebih banyak.

230
Bab VII Seberapa Besar Kebutuhan EBT

Tabel 7-1 Persentase energi terbarukan, nuklir,


GDP, tarif listrik, di berbagai negara

No Nama Negara % Renewable % nuklir GDP Per kapita Tarif listrik


energy ($) (cent usd/kwh)
1 Iceland 100 73, 092 16
2 Swedia 52 40 53, 248 22
5 UK 30 18 38, 847 24
6 Germany 33 13.1 44, 184 33
7 Uruguay 95 20, 000 17.07-26.48
8 Denmark 50 56, 335 33
9 Cina 26 3.6 8, 583 5-14
10 India 18 3.4 1, 852 8
11 Brazil 76 2.9 10, 019 12-25
12 Indonesia 12 3, 858 11
13 France 20 72.3 39, 673 19.23
14 Filipina 34 3, 022 30.46

7.2 Energi Nuklir untuk Mensubsidi Energi Terbarukan

Perhatikan lagi data dari Tabel 7-1. Dari negara Eropa dalam tabel, dapat
dikelompokkan negara dengan persentase energi nuklir rendah
dibandingkan dengan negara dengan penggunaan bahan bakar nuklir
tinggi. Negara yang memiliki nuklir tinggi, seperti misal Swedia, UK, dan
Perancis, mampu menjaga tarif listrik di bawah 30 cent usd. Sedangkan
negara dengan nuklir rendah, seperti Jerman dan Denmark,
mengharuskan konsumen membayar listrik dengan tarif mahal, di atas
30 cent usd.

Cina secara intensif membangun PLTN, dengan total kapasitas tahun


2017 sebesar 31.384 MW, lebih besar dibandingkan Rusia 26.528 MW.
Sehingga tarif listrik di Cina dapat dijaga di harga 9 cent usd/KWh. Negara
seperti Cina dan Perancis, memanfaatkan harga listrik dari nuklir yang
murah, seperti terlihat pada tabel di atas, untuk menekan kenaikan tarif
listrik akibat energi terbarukan.

231
Bab VII Seberapa Besar Kebutuhan EBT

Tabel 7-2 Harga jual listrik dari beberapa energy, di Perancis

Tabel 7-3 LCOE nuklir


(www.world-nuclear.org)

Pada tabel di atas, disajikan LCOE dari energi nuklir untuk berbagai
tingkat discount rate. Korea Selatan dan Cina memiliki PLTN dengan tarif
listrik lebih rendah dari tarif rata-rata energi fosil pada laporan IRENA,
yaitu di bawah 7 cent usd.

Harga listrik Energi terbarukan masih menghadapi persaingan yang


ketat dengan energi fosil, jadi apakah yang terbaik sekarang adalah
terus menggunakan energi fosil?

Indonesia bukanlah seperti Rusia, yang memiliki cadangan batubara


untuk menyuplai kebutuhan energi dalam negeri sampai 390 tahun.
Menurut data BP Statical review 2018, cadangan batubara Indonesia
sebanyak 22 miliar ton ditahun 2017, dengan rasio cadangan terhadap
produksi sebesar 49. Di tahun 2017, produksi batubara Indonesia sebesar
490 juta ton. Sedangkan ekspor sebanyak 390 juta ton, dan konsumsi

232
Bab VII Seberapa Besar Kebutuhan EBT

domestik sekitar 100 juta ton. Ekspor batubara Indonesia, menempati


urutan pertama dari negara pengekspor batubara terbanyak di dunia.
Jumlah ekspor batubara Indonesia hampir menyamai Australia. Namun,
negeri Kanguru tersebut memiliki cadangan batubara tujuh kali lebih
banyak dibandingkan negara kita. Kondisi ekstrem akan lebih terlihat jika
membandingkan dengan ekspor batubara Rusia. Rusia mengekspor
hanya separo dari jumlah ekspor batubara Indonesia, meski memiliki
cadangan 7 kali lebih besar.

Dengan proyek 35000 MW, diestimasikan, konsumsi batubara di PLTU


akan bertambah 90%. Sehingga perkiraan batubara Indonesia akan habis
dalam waktu 49 tahun. Energi fosil lain seperti minyak dan gas, tidak
banyak diharapkan, mengingat cadangan yang jauh lebih tipis dari
batubara.

Tabel 7-4 Cadangan batubara terbukti, di beberapa negara

Rasio Cadangan
Jumlah Cadangan
No Negara terhadap
(dalam juta ton)
produksi

1 Amerika 250.000 357

2 Russia 160.000 391

3 China 138.000 39

4 Australia 144.000 301

5 India 97.000 136

6 Germany 36.000 206

7 Indonesia 22.598 49

233
Bab VII Seberapa Besar Kebutuhan EBT

Tabel 7-5 Negara pengekspor batubara di dunia

Jika cadangan batubara Indonesia dapat menyuplai selama 49 tahun,


maka masih dapat mengandalkan batubara selama 40 tahun ke depan
sebagai sumber utama energy, untuk menjaga tarif listrik rendah.
Sehingga pemanfaatan energi bersih dapat ditunda.

Proyek energi terbarukan di suatu negara, umumnya dibangun oleh


Pemerintah, investor lokal dan investor internasional. Jika dibangun oleh
Pemerintah atau investor lokal, maka mereka akan mengacu kepada
valuasi keuntungan investasi yang tetap. Namun jika pihak investor
internasional yang membangun, ada kemungkinan bahwa mereka
menuntut tingkat market premium risk, dalam perhitungan return
investasi, yang lebih tinggi. Jika suatu negara hanya memiliki cadangan
energi selama 10 tahun, maka dapat dikategorikan memiliki risiko lebih
tinggi dalam menjalankan bisnis di negara tersebut. Sehingga
mengakibatkan market premium risk meningkat, yang berdampak pada
harga jual listrik swasta semakin tinggi. Pada akhirnya, konsumen akan
membayar tarif listrik yang lebih tinggi.

Seperti halnya proyek infrastruktur yang lain, pembangunan proyek


energi terbarukan tidak lepas dari kebutuhan lahan yang besar. Jika
pembangunan baru dilakukan setelah 40 tahun lagi, maka dikhawatirkan
tidak tersedia cukup lahan. Proyek PLTA dan PLTB membutuhkan lahan
dengan karakter kontur khusus. Jika pengembangan energi ini kurang
cepat, maka lahan yang memiliki potensi energi bersih tinggi tersebut,
bisa jadi sudah digunakan sebagai pemukiman atau keperluan industri
lain yang sulit untuk dipindahkan. Upaya relokasi penduduk dari suatu
lokasi untuk keperluan proyek, akan memakan biaya tinggi, bahkan
dapat menimbulkan konflik sosial. Sifat site specific energi terbarukan

234
Bab VII Seberapa Besar Kebutuhan EBT

menyebabkan proyek energi terbarukan tidak dapat dipindahkan ke


daerah lain yang memiliki lahan lebih luas dan murah.

Tiap daerah pun sudah memiliki tata guna lahan yang dirancang oleh
Pemerintah setempat. Tidak jarang, proyek EBT yang dievaluasi oleh
Penulis, memiliki rencana lokasi yang disusun, berbenturan dengan
rencana jangka panjang Pemda setempat.

Beberapa teknologi EBT membutuhkan sumber air dalam jumlah besar.


Persaingan akan kebutuhan air dengan penduduk menjadi tak
terelakkan. Sehingga lebih sulit membangun proyek pembangkit di
daerah yang berdekat dengan pemukiman padat penduduk.

Negara yang sudah sadar dengan energi bersih semakin gencar untuk
membeli biomassa dari Indonesia dengan sistem kontrak.
Dikhawatirkan, jika PLTBm pengembangannya kurang maksimal atau
ditunda, maka tidak banyak biomassa yang dapat dimanfaatkan,
mengingat mereka sudah terikat kontrak jual ekspor.

235
8Bab VIII Contoh Kebijakan EBT di Negara Lain

P engembangan EBT perlu didukung oleh suatu kebijakan


Pemerintah, agar target yang dicanangkan dapat tercapai dengan
lebih cepat. Terdapat beberapa kebijakan unik yang diterapkan
beberapa negara di dunia yang dapat dijadikan sebagai contoh bagi
Negara kita untuk mempercepat pembangunan proyek energi bersih.

8.1 Inggris: Pemilik Pembangkit Fosil Wajib Membangun EBT

Melalui kebijakan Renewable Energi Obligation (RO), pemilik pembangkit


fosil diwajibkan untuk membangun pembangkit listrik EBT dengan
persentase tertentu, mulai dari 3 sd 11%. Jika tidak mampu mencapai
angka tersebut, maka dikenakan denda sebesar 30-45 £/MWH.
Keberhasilan kebijakan tersebut terlihat dari meningkatnya persentase
energi terbarukan di Inggris. Sampai dengan tahun kuartal 1 2018,
persentase penggunaan energi terbarukan di Inggris mencapai 30% dari
total jenis energi yang digunakan.

8.2 Cina: Agresif Mencari Dana Murah dan Dukungan Teknis Pemerintah

Clean Development Mechanism (CDM) merupakan salah satu skema


pembiayaan energi terbarukan di dunia, yang bermula dari Protokol
Kyoto, di tahun 2007 untuk mengurangi tingkat emisi karbon dunia. CDM
memungkinkan negara yang akan membangun proyek energi
terbarukan untuk mendapatkan sertifikat pengurangan emisi, yang
kemudian dapat diperdagangkan dengan negara lain. Cina merupakan
negara yang paling agresif memanfaatkan dana CDM tersebut. Menurut
data UNFCCC, Cina sampai dengan tahun 2011 berhasil mendapatkan
sebanyak 46% dari total dana CDM yang tersedia. Proyek Cina yang paling
banyak dibiayai dengan dana CDM adalah PLTA dan PLTB.

Untuk pemanfaatan energi angin, pada tahun 2010, pemerintah Cina


melakukan studi intensif identifikasi daerah dengan kecepatan angin
tinggi, yang kemudian berlanjut dengan memberikan lokasi potensial
untuk PLTB. Mereka melakukan analisa kemampuan tiap daerah
potensial tersebut untuk membangkitkan listrik dari angin sesuai dengan
beban yang dibutuhkan dan struktur power system. Berdasarkan studi
ini, Pemerintah Cina melakukan upgrade transmisi pada daerah potensial
tersebut dan sumber beban listrik. Juga membangun kompensasi
reactive power dan kontrol voltage. Mewajibkan PLTBayu memiliki Low
Voltage Ride Through (LVRT) dan Dynamic Reactive Current Injection
(DRCI), active power control, Dispatch Optimization untuk memperkuat
stabilitas sistem. Selanjutnya, untuk memastikan agar operasional PLTB
Bab VIII Contoh Kebijakan EBT di Negara Lain

berjalan tanpa kendala, dibentuk Satuan Wind Power Prediction, Unit


Optimization dan menyusun Grid Code.

Dari hasil dana CDM dan dukungan penuh pemerintah, Cina menduduki
rangking pertama dalam jumlah instalasi pembangkit surya dan angin.
PLTB mencapai 168 GW di tahun 2016 dan PLTS sebesar 78 GW di tahun
2016.

Hal lain yang menunjang pertumbuhan cepat pemakaian energi


terbarukan di Cina adalah kemampuan industri berat untuk
memproduksi mesin-mesin. Hampir semua mesin atau perangkat yang
berhubungan dengan energi terbarukan dapat diproduksi di Cina,
dengan pilihan harga dan kualitas yang bervariasi.

Hasil dari usaha yang agresif tersebut, kapasitas instalasi pembangkit


energi terbarukan Cina mencapai 26% di tahun 2017.

8.3 Filipina: Pelanggan Menanggung Biaya EBT

Persentase penggunaan energi terbarukan di Filipina mencapai 34%.


Filipina adalah contoh di mana pelanggan menanggung beban tarif listrik
yang tinggi sebagai akibat dari tingkat penetrasi energi terbarukan yang
tinggi. Tarif listrik di Filipina sangat mahal untuk ukuran negara
berkembang, mencapai 30 cent usd/KWh, lebih dari dua kali lipat
dibandingkan Indonesia. Sedangkan GDP per kapita Filipina hanya 3000
USD, sedikit lebih rendah dari Indonesia. Dari tabel berikut dapat
diketahui tarif jual listrik energi terbarukan di Filipina, yang lebih tinggi
dibandingkan di Indonesia.

Tabel 8-1 Tarif jual listrik energi terbarukan di Filipina

Dalam hal pemerintah suatu negara: kurang berhasil dalam


mendapatkan dana green fund yang murah, belum ada keputusan
tentang pembangunan pembangkit energi baru dengan biaya lebih
murah, seperti halnya PLTN, kurang memiliki kapasitas industri mesin

238
Bab VIII Contoh Kebijakan EBT di Negara Lain

EBT yang mumpuni, maka solusi yang ditempuh oleh Pemerintah Filipina
dapat menjadi pilihan lain.

8.4 Uruguay: Konsisten Menjalankan Kebijakan Pemerintah

Uruguay memiliki bauran energi terbarukan sebesar 95%. Per tahun 2016,
Uruguay memiliki GDP cukup tinggi, sebesar 20.000 USD. Kemakmuran
negara tersebut diraih berkat konsistensi dalam menjalankan kebijakan
pemerintah untuk kepentingan jangka panjang. GDP Uruguay
mengalami peningkatan dua kali lipat, sejak tahun 1990, sampai dengan
2015. Konsistensi kebijakan energi Uruguay dalam mengurangi bahan
bakar fosil mampu meningkatkan pertumbuhan konsumsi energi
terbarukan.

Gambar 8-1 Pertumbuhan GDP Uruguay

Dalam 10 tahun terakhir, Uruguay telah berubah drastis menjadi listrik


dari sumber terbarukan. Saat ini 97 hingga 100% listrik berasal dari
sumber terbarukan dibandingkan hanya 40 % pada tahun 2012. Negara ini
juga sudah mulai mengekspor kelebihan listrik ke Argentina dan Brasil.
Uruguay telah menjadi salah satu negara terkemuka dalam generasi
energi terbarukan, terutama dari hidro (60%), dengan sisanya dari angin,
matahari, dan biofuel.

Dengan perjanjian jual beli listrik yang agresif (PPA) untuk


mempromosikan energi terbarukan, negara ini telah berubah dari
importir listrik menjadi eksportir listrik hanya dalam beberapa tahun.

239
Bab VIII Contoh Kebijakan EBT di Negara Lain

8.5 Swedia: Instrumen Pajak untuk Emisi CO2 dan Insentif untuk EBT

Persentase energi terbarukan Swedia yang sebesar 52% dicapai melalui


berbagai kebijakan. Tidak hanya memberikan insentif harga untuk energi
terbarukan, tapi juga menerbitkan pajak untuk pembangkit fosil.

Insentif utama untuk penggunaan sumber energi terbarukan adalah


sistem kuota dalam hal kewajiban kuota dan sistem perdagangan
sertifikat. Undang-undang Sertifikat Listrik mewajibkan pemasok energi
untuk membuktikan bahwa kuota tertentu dari listrik yang dipasok oleh
mereka dihasilkan dari sumber energi terbarukan. Pemasok energi harus
menyediakan bukti ini dengan menghadirkan sertifikat yang dapat
diperdagangkan yang dialokasikan untuk produsen listrik dari sumber
terbarukan. Berdasarkan undang-undang yang berlaku, pemasok listrik,
konsumen listrik tertentu, dan perusahaan padat energi setiap tahun
memperoleh sertifikat energi terbarukan dengan proporsi yang
sebanding dengan penjualan listrik dan konsumsi mereka dengan
tanggal tertentu. Tabel berikut menunjukkan jumlah kuota yang
dipenuhi.

Tabel 8-2 Kuota energi terbarukan di Swedia

Dalam hal listrik yang dihasilkan dari angin, gelombang dan matahari,
marjin kapasitas ini lebih tinggi sebagaimana diizinkan oleh pajak energi.
Selain itu juga Pemerintah Swedia menyediakan subsidi untuk
pembangunan PLTS.

Pajak CO2 pada tahun 1991 diperkenalkan pada bahan bakar fosil pada
tingkat setara dengan 27 €1 per ton fosil CO2. Penentuan harga emisi
karbon adalah cara menerapkan prinsip 'pencemar lingkungan wajib
membayar, di mana biaya pencemaran ditanggung oleh pihak yang
menyebabkannya. Ini memastikan bahwa emisi dikurangi dengan cara
yang paling hemat biaya, sambil menstimulasi pengembangan dan
penyebaran teknologi baru yang bersih.

240
Bab VIII Contoh Kebijakan EBT di Negara Lain

Kotak Informasi 15 Pendapatan Perusahaan IPP


dari penjualan listrik energi terbarukan

Pendapatan Perusahaan IPP dari Penjualan Listrik EBT


Di negara Uni Eropa dan Norwegia menganut sistem kelistrikan
Deregulated atau tarif dilepas berdasarkan penawaran dan permintaan di
pasar. Perusahaan IPP energi terbarukan di negara tersebut menerima
pendapatan lebih dari satu sumber pembayaran. Mereka
mendapatkannya dari penjualan listrik melalui tarif yang diatur
Pemerintah dengan skema feed in tariff atau feed in tariff premium,
kemudian tambahan dari berbagai skema green certificates atau subsidi
lainnya. Sehingga memungkinkan mereka lebih agresif dalam
memanfaatkan energi terbarukan untuk pembangkit listrik. Pada gambar
di bawah dapat dilihat variasi sumber pendapatan dari penjualan listrik
energi bersih di negara Eropa Barat tersebut.

Gambar 9.2 Skema insentif tarif energi terbarukan

Kondisi Perusahaan IPP EBT di Eropa Barat ini berbeda dengan di


Indonesia, yang masih menganut konsep regulated market, yaitu tarif
pembelian listrik dari swasta bernilai tetap dan diatur Pemerintah. IPP di
Indonesia hanya menerima pendapatan dari satu sumber yaitu PT. PLN
(Persero). Pembayaran yang dilakukan PLN terhadap pembelian energi

241
Bab VIII Contoh Kebijakan EBT di Negara Lain

terbarukan menggunakan tarif yang telah ditentukan pemerintah melalui


Kementerian ESDM. Tarif tersebut bernilai tetap sepanjang masa kontrak
jual beli listrik. Sehingga pengembang pembangkit listrik kesulitan untuk
menjual listrik dari energi bersih, jika tarif jual mereka lebih tinggi dari tarif
listrik yang PLN dapatkan dari konsumen.

242
9Bab IX EBT Mengubah Paradigma Bisnis kelistrikan

D ulu orang berpikir dunia kelistrikan itu cenderung stabil, tidak


banyak perubahan. Hanya inovasi kecil yang bersifat
meningkatkan keandalan dan efisiensi. Tapi sekarang tidak lagi.
Perubahan itu radikal dan mengubah cara listrik dioperasikan & bisnis
kelistrikan dijalankan. Memang, revolusi ini baru terjadi di negara maju,
tetapi di Indonesia sudah di depan pintu. Tidak bisa mengelak. Kita mau
tak mau harus berubah. Change or Die, istilahnya. Revolusi itu didorong
oleh dua tren yang tidak bisa dibendung, yaitu teknologi ramah
lingkungan (green technology), dan digitalisasi. Keduanya bergerak
cepat tak bisa dicegah. Revolusi ini, mau tidak mau, akan menggusur
teknologi lama yang berbasis fosil. Berikut adalah beberapa perubahan
paradigma bisnis kelistrikan akibat energi terbarukan.

9.1 Nilai Investasi Lebih Rendah: Peluang Bisnis Baru bagi Pemilik Modal Kecil

Investasi yang dibutuhkan untuk membangun pembangkit fosil yaitu


PLTU batubara kapasitas paling kecil 3 MW sekitar 8 Juta USD atau
hampir 110 miliar Rupiah. Nilai tersebut hanya terjangkau untuk
pengusaha kelas menengah ke atas. Kebutuhan investasi untuk
pembangkit energi terbarukan dapat lebih rendah mengingat variasi
kapasitas yang beragam mulai dari 100 KW, dengan nilai investasi di
bawah 10 miliar rupiah. Pengusaha pemula dapat mencoba membangun
pembangkit EBT seperti misal PLTS, dan PLTMH yang memiliki skala
kecil. Aliran air di daerah pedesaan bisa dimanfaatkan untuk
menggerakkan turbin sehingga menghasilkan listrik. PLTS
memungkinkan untuk dibangun sebagai stand alone atau offgrid di
pedesaan ataupun di atap rumah (rooftop). Untuk daerah yang tidak
memiliki sumber energi fosil atau terlalu jauh untuk mengangkut bahan
bakar minyak sehingga harga mahal,

9.2 Dari Importir Energi Menjadi Eksportir Energi

Sejak awal tahun 2000, Negara Uruguay tergantung impor minyak dari
Argentina sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Namun mulai tahun
2016, negara tersebut telah berubah drastis, dari importir energi menjadi
eksportir energi berkat pengembangan energi bersih yang masif. Tahun
2016 adalah awal di mana Uruguay mulai mengekspor listrik ke Argentina
dan Brazil yang dihasilkan dari PLTB dan PLTA.
Bab IX EBT Mengubah Paradigma Bisnis Kelistrikan

Daerah Indonesia timur yang masih tergantung bahan bakar fosil bisa
mulai mempertimbangkan untuk memanfaatkan energi bersih. Sumber
energi biomassa bisa dihasilkan dari pemanfaatan hutan tanaman
industri atau lahan yang kurang produktif. Terdapat banyak potensi
puluhan ribu hektar lahan jenis tersebut di Indonesia timur. Lahan
tersebut akan menarik jika ditanami tumbuhan yang memiliki batang
bernilai kalor tinggi dan cepat tumbuh, seperti lamtoro, bambu atau
akasia. Kayu dari tanaman tersebut digunakan untuk menyuplai bahan
bakar ke pembangkit listrik biomassa, yang kapasitasnya tersedia mulai
dari 1 MW sampai dengan skala puluhan MW. Bahkan jika produksi
biomassa melebihi kebutuhan lokal, dapat dikirim ke pulau lain yang
membutuhkan.

9.3 Pelanggan Listrik Bisa Menjual Listrik

Tren baru di bisnis kelistrikan, adalah pelanggan listrik dapat juga


menjual listrik ke perusahaan utilitas listrik. Listrik yang dijual ini adalah
listrik yang dihasilkan dari energi terbarukan, seperti misal energi surya.
Jadi, pada saat siang hari di mana matahari bersinar terik dan produksi
listrik dari PLTS tinggi, sebagian listrik yang dihasilkan dijual ke
perusahaan utilitas. Sedangkan pada saat tidak terdapat sinar matahari,
pelanggan tersebut menggunakan listrik dari perusahaan utilitas listrik.
Biasanya yang digunakan adalah PLTS yang dipasang di atap rumah atau
biasa disebut PV rooftop.

Secara teknologi PV rooftop ini sama dengan PLTS pada tulisan


sebelumnya. Perbedaan hanya pada pengguna dan skalanya. Jika PLTS
sebelumnya relatif besar, hingga orde MW, bahkan ada yang ratusan
MW. Sehingga lahan yang diperlukan cukup luas, berhektar-hektar.
Sedang PV rooftop ini hanya memanfaatkan atap rumah/gedung, jadi
ordenya kW saja, ribuan watt.

Perbedaan yang mencolok lainnya adalah: jika PLTS dimiliki oleh badan
usaha kelistrikan, yang menjual ke masyarakat. Sedang PV rooftop ini
dimiliki oleh rumah tangga, atau perkantoran. Tujuannya untuk
menghemat pemakaian listrik (ekonomis) dan mendukung energi bersih
(green energy).

244
Bab IX EBT Mengubah Paradigma Bisnis Kelistrikan

Gambar 9-1 PV rooftop

9.4 Distributed generation: Pembangkit Listrik Dibangun Tepat di Daerah yang


Membutuhkan Listrik

Kebutuhan listrik di daerah pedesaan atau yang jauh dari PLTU kapasitas
besar dapat disuplai dengan energi terbarukan yang tersedia di daerah
tersebut tanpa perlu tergantung dari PLTU tersebut. Konsep ini biasa
disebut distributed generation, di mana pembangkit listrik kecil dibangun
tersebar di banyak daerah. Dengan adanya distributed generation, maka
kebutuhan akan jaringan transmisi dan pembebasan lahan untuk tiang
listrik dapat dikurangi. Selain itu juga efek pencemaran udara yang
berasal dari aktivitas transportasi batubara dari daerah tambang
batubara ke pembangkit listrik juga dapat ditekan.

Gambar 9-2 Perbedaan central generation dan distributed generation

245
Bab IX EBT Mengubah Paradigma Bisnis Kelistrikan

Pada gambar di atas dapat dilihat perbedaan central generation dengan


distributed generation. Pada central generation, kebutuhan listrik
disuplai dari suatu lokasi PLTU besar. Listrik dialirkan dengan
membangun jaringan transmisi panjang menuju pelanggan. Konsep ini
sangat popular di tahun 90-an. Pada konsep baru, beberapa pembangkit
kecil mendukung keberadaan pembangkit besar. Kebutuhan listrik
konsumen tidak tergantung dari PLTU namun dapat disuplai dari
pembangkit kecil energi terbarukan.

9.5 Persaingan Antar Energi

Tren terkini persaingan jenis energi untuk kebutuhan pembangkit listrik,


tidak hanya antara fosil dan energi terbarukan, namun untuk sesama
energi terbarukan. Di negara dengan sistem bisnis kelistrikan kompetisi
terbuka, seperti layaknya bursa saham, terjadi persaingan yang tajam
antara sesama energi terbarukan. Masing-masing energi terbarukan
memiliki karakter keunggulan tersendiri, baik dalam hal ketersediaan
jumlah energi, karakter operasi, maupun harga dan kemampuan
teknologi.

Tidak ada jenis energi bersih yang mampu unggul secara dominan untuk
menyuplai sistem kelistrikan. Di Indonesia, yang pasar kelistrikan masih
regulated market, telah mulai menunjukkan tren terjadi persaingan
untuk energi terbarukan, seperti di provinsi yang banyak sumber energi
terbarukan, yaitu di daerah Sumatera dan Sulawesi.

9.6 Listrik sebagai Energi di Sarana Transportasi Jalanan

Melimpahnya sumber energi terbarukan di dunia membuat beberapa


pabrikan mobil ternama mulai mengembangkan mobil yang
menggunakan listrik sebagai sumber energi. Keseriusan mereka tidak
hanya fokus mengembangkan mobil tenaga listrik, bahkan berencana
menghentikan produksi mobil diesel atau bensin. Produsen mobil Cina
mulai menghentikan rencana produksi mobil bensin di tahun 2025.
Pabrik mobil Volvo menghentikan pengembangan mesin diesel untuk
kemudian beralih ke investasi mobil listrik di tahun 2019. Perancis akan
menghentikan produksi mobil bensin dan diesel di tahun 2040.

Kendaraan listrik dapat menggunakan baterai sebagai penyimpan listrik


atau menggunakan fuel cell berbahan bakar hidrogen, yang mampu
memproduksi listrik untuk menggerakkan mesin. Hidrogen dapat
dihasilkan dari proses elektrolisa yang membutuhkan aliran listrik.
Kendaraan listrik ini bentuknya cukup beragam, namun yang paling
banyak adalah mobil listrik dan motor listrik. Selain kereta listrik, sepeda

246
Bab IX EBT Mengubah Paradigma Bisnis Kelistrikan

listrik, trem listrik. Dengan kendaraan listrik, maka orang tidak perlu
repot mengantri di SPBU lagi, karena mesin listrik dapat discharge di
rumah. Polusi udara maupun suara dapat berkurang drastis berkat
kendaraan listrik. Kendaraan listrik dengan bahan bakar hidrogen
bahkan hanya mengeluarkan uap air dalam jumlah kecil sebagai produk
akhir reaksi elektrokimia yang menghasilkan listrik.

Gambar 9-3 Mobil listrik yang sedang dicharge

Mobil listrik membutuhkan perawatan yang lebih sedikit dibanding


mobil bensin atau diesel. Salah satu pabrik mobil listrik, Tesla, mengklaim
bahwa hanya ada enam bagian pada Tesla model terbaru mereka yang
membutuhkan penggantian reguler. Mereka adalah empat ban dan dua
bilah wiper. Baterai dan pendingin mungkin perlu diperiksa sesekali.
Ketika mobil harus berhenti, hal itu dilakukan dengan pengereman
regeneratif; dengan demikian tidak mematikan bantalan rem. Tanpa
katup, camshafts, batang penghubung, poros engkol, roda gigi, kopling,
atau salah satu kerumitan lain dari mobil dengan mesin dan transmisi,
mobil listrik baterai jauh lebih praktis.

Perkembangan kendaraan listrik turut didukung oleh tren menurun


harga baterai yang digunakan. Menurut riset Liebreich 2015, harga
baterai kendaraan listrik menurun sejak tahun 2010, seperti pada
Gambar 9-4. Diharapkan dengan bertambah banyak jumlah kendaraan
listrik, dapat terus membuat harga baterai yang digunakan lebih murah.

247
Bab IX EBT Mengubah Paradigma Bisnis Kelistrikan

Gambar 9-4 Tren penurunan harga PV dan baterai

248
Penyusun
Andrew Cahyo Adhi
Lahir di Palembang 22 April 1977, sejak SD sampai dengan SMA di
Solo. Menyelesaikan pendidikan S1 Teknik Mesin di UNDIP dan
Master Renewable Energy di Newcastle University, UK. Berkarier
di PT. PLN (Persero), antara lain di operasional PLTU batubara,
Divisi EBT PLN Pusat dan sekarang di PLN Puslitbang. Bertugas
juga sebagai pengajar di Udiklat PLN untuk materi diklat energi
biomassa dan teknologi EBT. Pengalaman sejak tahun 2010 untuk
assessment proyek pembangkit listrik energi terbarukan biomass,
sampah, laut, angin dan energy baru . Selain itu juga aktif sebagai
anggota SNI Bioenergi Kementerian ESDM.

Email: andrew.cahyo@pln.co.id, andre.ganteng@gmail.com

Heru SS
Pria kelahiran Solo, 23 Okt 1964, bernama lengkap Heru Sriwidodo
Sari biasa dipanggil Heru SS, Bersekolah SD s/d SMA di solo,
Lulusan Teknik Nuklir UGM dan S2 Manajemen ITB, sejak tahun
1992 sampai sekarang berkarir dan bekerja di PLN. Pernah bekerja
di Unit Pembangkit PLTA Brantas dan PLTA Cirata, Di Divisi EBT
PLN Pusat, GM Pembangunan Pembangkit dan sd saat ini sebagai
GM PLN Pusat Sertifikasi.

Memiliki Hoby kuliner, traveling dan berbagi pengetahuan; telah


menulis beberapa buku Manajemen Aset Pembangkit Listrik,
Energi Terbarukan, Manajemen SDM. Juga menulis dan membuat presentasi
motivasi Inspirasi Al Qur’an (MAPPING, Total Manajemen berbasis Al Fatihah,
Perjalanan Kemenangan Inspirasi Urutan 114 surat Al Quran, Like/ Lingkaran
Kebaikan.

Hingga sekarang di waktu luang masih suka menulis. Insya Allah di Purna tugas
PLN nanti tetap ingin berkontribusi dalam pelatihan dan consulting serta
kegiatan sosial sesuai minat di atas.

Status berkeluarga dengan Istri dan dikarunia lima orang anak. Tinggal
berpindah sesuai tugas.

email: heru.sriwidodo@gmail.com

249
Referensi

Basu, P. (2010). Biomassa Gasification and Pyrolysis. Burlington,


Academic Press.

Tabil, L., et al (2011). Biofuel Process Engineering Technology, INTECH.

Stuart, P., El-Halwagi (2013). Integrated Biorefineries: Design, Analysis,


and Optimization. Boca Raton, CRC Press.

Biomassa for Renewable Energy, Fuels, and Chemicals", D.L.Klass,


Academic Press (1998)

Reed, T. B. and A.Das (1988). Handbook of Biomassa Downdraft Gasifiers


System. Colorado, U.S. Government Printing Service.

Stultz, S. C. and J. B. Kitto (1992). Steam: Its Generation and Use. Ohio,
The Babcock and Wilcox Company.

Deublein, D, Steinhauser, A (2008) Biogas from Waste and Renewable


Resources. Morlenbach, Wiley.

Wahyuni, S(2011) Menghasilkan Biogas dari Aneka Limbah. Penebar


Swadaya.

www.rogerindustrialoils.in/waste-plastik-pyrolysis-oil.htm

Rajaram, V., Siddiqui, F (2011). From Landfill Gas to Energy: Technologies


and Challenges. Boca Raton, CRC Press.

Klinghoffer, N., Castaldi, M (2013). Waste to energi Conversion


Technology, . Cambridge, Woodhead.

Rutz, D., Janssen, R (2008). Biofuel Technology Handbook. WIP


Renewable Energies

Brower, M.(2012). Wind Resource Asessment. New Jersey, John Wiley


and Sons.

Hau, E. (2006). Wind turbines: Fundamentals, Technologies, Application


and Economics. Berlin, Springer.

Jha, A.R.(2011). Wind turbine Technology. Boca Raton, CRC Press.

251
Multon, B (2012). Marine Renewable energi Handbook. Surrey, Wiley.

Onar, O., Khaligh, A (2010). energi Harvesting. Boca Raton, CRC Press.

Richter, C.(2009). Concentrating Solar Power Outlook 2009. Solar Paces


and Estela.

www.hydropower.org/types-of-hydropower

Bruland, Z. (2007). “progress of drill and Blast Tunneling efficiency with


relation to excavation time and cost.”

NREL (2011). Guidebook to Geothermal Power Finance

che.utexas.edu/course/che359&384/lecture_notes/topic.../coal_gas_ec
on.ppt

www1.eere.energy.gov/hidrogenandfuelcells/tech_validation

Hoogers, G. (2003). Fuel cell Technology Handbook. Boca Raton, CRC


Press.

Johnston, S. et al (2009). Coalbed Methane: Clean energi for the World.


Schlumberger

data.allenai.org/tqa/photosynthesis_L_0424/

www.res-legal.eu/search-by-country/sweden/

www.government.se/government-policy/taxes-and-tariffs/swedens-
carbon-tax/

en.wikipedia.org/wiki/Renewable_energy_in_the_Philippines

energypedia.info/wiki/Hydro_Power_Basics

en.wikipedia.org/wiki/Generation_IV_reactor

Glassman, I(1987). Combustion. Orlando, Academic Press.

Rijen, S (2015). Benchmark and technical Background verification report.


DNV-GL

www.energy.gov/eere/fuelcells/hidrogen-storage

252
Rosyadi, H (2010). Potensi Coalbed Methane untuk Mensukseskan
Program Diversifikasi Energi Nasional.

www.export.gov/article?id=Uruguay-Renewable-Energy-Equipment

environment-indonesia.com/portfolio/pengurusan-dokumen-
lingkungan-amdal-ukl-upl/

IRENA (2018). Global Landscape Renewable energi Finance.

Klug, H (2006) What does Exceedance Probabilities P90-P75-P50 Mean?.

Salmon, P. et al (2011). Guidebook to Geothermal Power Finance. NREL

World energi Resources Geothermal (2016). World energi Council.

abpadvocates.com/point-penting-aturan-hukum-prosedur-persyaratan-
pendirian-pt-pma-di-indonesia/

www.gurufocus.com/global-market-valuation.php

Lee, Y. C. & Kim, J. H. (2002). Project management for power plant


construction in Korea. Paper presented at Project Management Institute
Annual Seminars & Symposium, San Antonio, TX. Newtown Square, PA:
Project Management Institute.

Thumann, A., Woodroof, E. (2008). energi project financing: resources


and strategies for success. London, Taylor and Francis.

Brealey, R., Marcus, A. (2001). Fundamentals Of Corporate Finance.


Boton, McGraw Hill.

cleantechnica.com/2016/02/04/how-11-countries-are-leading-the-shift-to-
renewable-energy/

cleantechnica.com/2016/12/25/cost-of-solar-power-vs-cost-of-wind-
power-coal-nuclear-natural-gas/

Levelized Cost and Levelized Avoided Cost of New Generation


Resources in the Annual energi Outlook 2018. US energi Information
Administration.

ourworldindata.org/co2-and-other-greenhouse-gas-emissions

c1cleantechnicacom-wpengine.netdna-ssl.com/files/2017/12/German-
electricity-by-source-2017.png

253
en.wikipedia.org/wiki/Renewable_energy_in_the_United_Kingdom

www.renewable-ei.org/en/activities/statistics/20180215.html

www.renewableenergyworld.com/articles/2016/03/how-Uruguay-
became-a-wind-power-powerhouse.html

www.world-nuclear.org/information-library/economic-
aspects/economics-of-nuclear-power.aspx

en.wikipedia.org/wiki/Cost_of_electricity_by_source

en.wikipedia.org/wiki/Nuclear_power_by_country

assets.publishing.service.gov.uk/government/uploads/system/uploads/
attachment_data/file/695797/Electricity.pdf

www.chemistryviews.org/details/ezine/4817371/Fuel_Cell_Capacity_and
_Cost_Trends.html

www.bloomberg.com/features/2016-ev-oil-crisis/

Zevenhoven, R., Karlsson, M. (2011). Combustion and Gasification


Properties of Plastics Particles. Journal of the Air & Waste Management
Association.

www.plastik2oil.com/site/problem

Jian, Y. et all.(2012). New progress and future prospects of CBM


exploration and development in Cina. International Journal of Mining
Science and Technology.

Bastori, I., Birmano, M.(2017). Analisis Ketersediaan Uranium di


Indonesia untuk Kebutuhan PLTN Tipe PWR 1000 MWe. Jurnal
Pengembangan Energi Nuklir.

Doing Business in Geothermal, (20018). Direktorat Panas Bumi, ESDM.

Statistik EBTKE 2016. Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan


Konservasi Energi

Zervos, A. (2018). Renewables 2018 Global Status Report. REN21

Schuster, P., Antweiler, R(2018). Permafrost Stores a Globally Significant


Amount of Mercury. Geophysical Research Letters.

254
IEA 2017. Key World energi Statistics

Anzellini, S., Dewaele, A., et all, 2013. Melting of Iron at Earth’s Inner Core
Boundary Based on Fast X-ray Diffraction. Science magazine. Vol 340,
Issue 6131.

Knight, C., McGarry, S.(2014). A review of ocean energi converters, with


an Australian focus. AIMS Energy

Gupta, N., Vashistha, M.(2016). Carbon Dioxide Plume Geothermal (CPG)


System-A New Approach for Enhancing Geothermal energi Production
and Deployment of CCUS on Large Scale in India. energi Procedia.
Volume 90, December 2016.

Kumar, A., Jones, D.(1996). Thermochemical Biomassa Gasification: A


Review of the Current Status of the Technology. Energies 2009, 2, 556-
581.

Hashimoto, T., Ota, K.(2010). Development of Coal Gasification System


for

Producing Chemical Synthesis Source Gas. Mitsubishi Heavy Industries


Technical Review Vol. 47 No. 4

255

Anda mungkin juga menyukai