Anda di halaman 1dari 4

REFLEKSI TINDAKAN

PEMASANGAN KATETER URINE

Nama Mahasiswa : Sumitarianti Bahris

NIM :R014182046

1. Tindakan Keperawatan yang dilakukan: Pemasangan Kateter Urine


 Nama Klien : Tn. F
 Diagnosa Medis : CKD
 Tanggal Dilakukan : 19 Februari 2019
2. Diagnosa Keperawatan : Penurunan fungsi jaringan serebral
3. Tujuan Tindakan
a. Mengosongkan kandung kemih atau memasukkan cairan ke kandung kemih (irigasi
kandung kemih).
b. Membantu klien dalam memenuhi kebutuhan eliminasi
c. Mencegah timbulnya gangguan pada sistem urinarius
4. Prinsip dan Rasional Tindakan :

a. Prinsip tindakan :
1) Perhatikan sterilitas
2) Pastikan balon fiksasi sudah berada didalam kandung kemih sebelum di isi air
3) Jangan memaksakan masuknya kateter jika ada tahanan saat memasukkannya, karena
dapat menyebabkan trauma/kerusakan uretra

b. Rasional tindakan :
1) Mencegah terjadinya nosokomial
2) Mencegah atau menghindari kemungkinan terjadinya ruptur uretra
3) Menghindari terjadinya trauma atau kerusakan pada uretra
c. Prosedur dan rasional tindakan

Tindakan Rasional

Mengecek program terapi medic Memastikan prosedur yang akan dilakukan


sesuia dengan instruksi kepada klien tersebut.dan
membantu mengidentifikasi alas an oemasangan
kateter urine (Jacob, Rekha, & Tarachnand,
2014)
Mengucapkan salam terapeutik Membangun BHSP
Melakukan Evaluasi/Validasi Mamastikan klien yang benar
Melakukan kontrak (waktu, tempat, dan topik) Memberikan persetujuan yang sah/valid sebelum
melakuka tindakan
Menjelaskan langkah-langkah tindakan Memastikan bahwa klien mengerti prosedur
tindakan yang akan dilakukan kepadanya,
mengurangi kecemasan kien dan mendapatkan
kerjasama dalam pemasukan kateter urine
dengan baik (Jacob, Rekha, & Tarachnand, 2014)
Mencuci tangan Mengurangi resiko infeksi
Mempersiapkan alat Memastikan alat lengkap utuk digunakan
Meletakkan alas tahan air dibawah bokong klien Mengurangi resiko infeksi dan memberikan
kenyamanan pada klien karena tempat tidur
tidak basah setelah prosedur tindakan.
Memposisikan klien : posisi supine dengan kaki Memungkinkan akses yang aman pada daerah
abduksi genitalia paien selama prosedur
Menutup area pinggang kecuali area perineal Menjaga privasi klien dan memberikan
dengan kain. kenyamanan
Menggunakan sarung tangan disposibble. Mengurangi resiko infeksi silang
Melakukan perineal hygiene dengan sublimate
dan mengeringkannya dengan kassa kering
Membuka set kateter urine ditempatkan dialas Menjaga prinsip steril untuk mencegah resiko
streril infeksi
Menggunakan sarung tangan steril untuk Untuk memastikan apakah balon dapat
membuka bungkusan set kateter steril. Mencek mengembang dengan baik sebelum dimasukkan
apakah balon berkembang sempurna dengan kedalam uterra.
memasukkan cairan dan menarik semua caiaran
kembali kedalam spuit
Mengambil kateter dan berikan jelly diujung Membantu untuk melicinkan dan mencegah
kateter dengan tetap mempertahankan teknik trauma uretra, infeksi, dan memberikan
steril kenyamanan klien
Memasukkan kateter kedalam uretra sampai urin Memasukkan seuai dengan struktur anatomi
mengalir dengan memposisikan posisikan penis tubuh untuk mencegah trauma
tegak lurus 90 derajat dengan tubuh saat
memasukkan kateter. Memasukkan kateter
sepanjang 5 – 7,5 cm
Memindahkan tangan non dominan dari penis Memfiksasi agar selang tidak tertarik keluar
jika urin mengalir ke selang kateter. Memegang
selang kateter 2 c m dari muara meatus uretra
agar kateter tidak terdorong keluar.
Menghubungkan kateter ke urin bag Mencegah urine merembes ketempat tidur atau
ke lantai
Masukkan kateter kurang lebih 5 cm setelah Mencegah agar balon tidak terjebak dalam uretra
urine keluar. Mengisi balon dengan aqua steril 20 sehingga membuat inflasi.
-30cc (sesuai petunjuk pada kemasan kateter)
kemudian tarik kateter perlahan untuk
memastikan balon kateter sudah terfiksasi
dengan baik didalam kandung kemih
Melepas sarung tangan, melakukan fiksasi luar Memberikan tahanan untuk memberikan
kateter urin dengan plester kenyamanan pada klien
Merapikan klien dan membantu mengatur posisi Memberikan kenyamanan kembali setelah
klien agar nyaman melakukan tindakan.
Membersihkan dan merapikan alat
Mengevaluasi respon klien Mengetuhui kenyamanan setelah tindakan

5. Analisa tindakan yang dilakukan :


Pemasangan kateter urine membawa resiko tinggi terhadapa kejadian infeksi
saluran kemih (ISK) dan diangga sebagai salah satu penyebab infeksi nosokomial.
Kejadian infeksi biasanya pada bagian saluran kencing melalui lumen utretra, sehingga
perlu teknik perawatan kateter drainese tertutup yang baik (Perdana, Haryani, & Aulawi,
2017). Indikasi dilakukan pemasangan kateter urin pada pasien Tn F karena keluhan pasein
yang tidak berkemih selama 3 hari. Tingginya resiko infeksi setelah pemasangan kateter
urine, mengharuskan kita melaksanakan prosedur pemasangan dan perawatan sesuai
prosedur dengan baik dan benar. Berdasarkan dari pembelajaran klinik, pemasangan
kateter urine dilakukan oleh dua orang. satu orang sebagai bagian steril dan yang lainnya
membantu memberikan alat (bersih). Pada prosedur yang kami amati ada 2 prosedur yang
tidak dilakukan yakni pemberian alas penahan air pada bokong pasien dan Mencek apakah
balon berkembang sempurna dengan memasukkan cairan dan menarik semua caiaran kembali
kedalam spuit. Pemberian alas pada bokong tidak diberikan karna pasien memakai popok dan bisa
digunakan sebagai pengalas dalam prosedur pemasangan. namun, jika tidak mengunakan popok
maka pemasangan pengalas air pada alas bokong harus dilakukan kerena prosedur tersebut
merupakan salah satu upaya untuk mengurangi kejadian resiko infeksi. Adapun untuk pengecekan
balon tidak dilakukan karena kualitas selang kateter urin di RS ini secara keseluruhan sudah baik
sehingga sangat jarang dilakukan. Namun, pengecekan balon juga merupakan prosedur yang
penting untuk dilakukan untuk menghindari adanya kebocoran pada balon fiksasi saat berada dalam
kandung kemih sehingga dapat merugikan pasien dan keluarga.
Sumber :

Jacob, A., Rekha, R., & Tarachnand, J. (2014). Buku ajar: Clinical nursing prosedures.
Tanggerang selatan: Binarupa Aksara.
Perdana, M., Haryani, & Aulawi, K. (2017). Hubungan pelaksanaan perawatan indwelling kateter
dengan kejadian infeksi saluran kemih. Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas, I(1),
17-27. Retrieved Maret 4, 2019, from https://Jurnal.ugm.ac.id/jkkk/article/view/29012
Tim Keperawatan Dasar. (2019). Buku praktik profesi keperawatan dasar. Makassar: FKEP
UNHAS.