Anda di halaman 1dari 31

TUGAS PRAKTIKUM KKPMT 5

B59 – B90

oleh :
1. Septina Dwi Indrawati G41161607
2. Mila Imamatul Lutfiah G41161611
3. Ariqpurna Bayu T. G41161829
4. Risma Dwi Ambarwati G41161896
5. Danang iqbal Muhammad G41161891
6. Suhartini Nur Afifah G41161916
7. Amaliya Nikmatul R. G41161933
8. Rizky Farah Dilla G41161969
9. Candra Fahrudin I. G41161982
10. Safira Marahastadarta G41162008
GOLONGAN C

PROGRAM STUDI REKAM MEDIK

JURUSAN KESEHATAN

POLITEKNIK NEGERI JEMBER

2019
B59+ PNEUMOCYSTOSIS (J17.3*)

Include : pneumonia due to:

- Pneumocystis Carinii
- Pneumocystis Jiroveci
A. Definisi
Pneumocystis carinii pneumonia (selanjutnya disebut PCP) merupakan infeksi
pada paru yang disebabkan oleh jamur Pneumocystis carinii, sekarang dikenal dengan
nama Pneumocystis jiroveci, sebagai tanda penghormatan kepada ahli parasitologi
berkebangsaan Cechnya; Otto Jirovec. Sekarang penyakit ini merupakan infeksi
oportunis berbahaya yang paling sering terjadi pada pasien AIDS
B. Etiologi
Pneumocystis carinii pneumonia disebabkan oleh infeksi jamur Pneumocystis
carinii, sekarang dikenal dengan nama Pneumocystis jiroveci. Organisme ini pertama kali
ditemukan oleh Chagas (1909). Pada tahun 1915 Carini dan Maciel menemukan
organisme ini pada paru guinea pig, awalnya diduga sebagai salah satu tahap dalam siklus
hidup Trypanosoma cruzi. Pada tahun 1942, Meer dan Brug pertama kali menyatakan
bahwa organisme ini merupakan salah satu jenis parasit yang patogen pada manusia.
Baru pada tahun 1952 Vanek bekerjasama dengan Otto Jirovec menggambarkan siklus
paru dan patologi dari penyakit yang kemudian dikenal sebagai “parasitic pneumonia”
atau “pneumonia sel plasma interstisial (interstitial plasma cell pneumonia)” ini.
C. Patogenesis Dan Patologi
Pneumocystis jiroveci berada tersebar dimana –mana sehingga hampir semua
orang telah pernah terpapar dengan organisme ini bahkan sejak kanak – kanak sebelum
berusia 4 tahun. Transmisi Pneumocystis jiroveci dari orang ke orang diduga terjadi
melalui “respiratory droplet infection” (tertelan ludah) dan kontak langsung (Brown,
1975), dengan kista sebagai bentuk infektif pada manusia. Kebanyakan peneliti
menganggap transmisi terjadi dari orang ke orang melalui inhalasi. Juga dilaporkan
bahwa transmisi dapat terjadi secara “in utero” dari ibu kepada bayi yang dikandungnya
(Singer et al., 1975), namun dengan trofozoit sebagai bentuk infektifnya. Masa inkubasi
ekstrinsik ( = prepaten period) diperkirakan 20 -30 hari dengan durasi serangan selama 1
– 4 minggu.
Masih ada kontroversi apakah PCP muncul akibat reaktivasi infeksi laten yang
telah pernah didapat penderita sebelumnya atau karena paparan berulang dan reinfeksi
terhadap jamur ini. Namun diduga mekanisme infeksinya karena menjadi aktifnya infeksi
laten (Sheldon, 1959; Frenkel et al., 1966)
Organisme ini merupakan patogen ekstra seluler. Paru merupakan tempat primer
infeksi, biasanya melibatkan kedua bagian paru kiri dan kanan. Tetapi dilaporkan bahwa
infeksi Pneumocystis jiroveci bisa juga terdapat ekstrapulmonal yaitu di hati, limpa,
kelenjar getah bening dan sum – sum tulang (Jarnum et al., 1986; Barnet et al., 1969,
Arean, 1971). Organisme umumnya masuk melalui inhalasi dan melekat pada sel alveolar
tipe I. Di paru, pertumbuhannya terbatas pada permukaan surfaktan di atas epitel
alveolar. Pneumocystis jiroveci berkembang biak di paru dan merangsang pembentukan
eksudat yang eosinofilik dan berbuih yang mengisi ruang alveolar, mengandung histiosit,
limfosit dan sel plasma yang menyebabkan kerusakan ventilasi dalam paru sehingga
menurunkan oksigenasi, interstisium menebal dan kemudian fibrosis. Pada akhirnya hal
ini mengakibatkan kematian karena kegagalan pernafasan akibat asfiksia yang terjadi
karena blokade alveoli dan bronchial oleh massa jamur yang berproliferasi tadi.
Pada autopsi ditemukan paru bertambah berat dan volumenya bertambah besar,
pleura agak menebal. Penampang irisan paru berwarna kelabu dan terlihat konsolidasi
serta septum alveolus yang jelas. Hiperplasia jaringan interstisial dan terinfiltrasi berat
dengan sel mononukleus dan sel plasma juga tampak. Karena itulah penyakitnya disebut
“Pneumonia sel plasma interstisial”. Dinding alveolus menebal dan alveolus berisi
eksudat yang amorf dan eosinofilik – memberi gambaran seperti sarang lebah
(honeycomb appearance)-, yang mengandung histiosit dan limfosit, sel plasma dan
organisme itu sendiri. Tetapi pneumonia pneumosistis pada penderita agamaglobulinemia
atau dengan imunosupresi, eksudat yang khas mungkin tidak ditemukan karena tidak ada
limfosit B (Beaver et al., 1984).
Infeksi Pneumocystis jiroveci ditemukan dalam paru hospes dan biasanya terbatas
di lumen alveolus. Ada beberapa laporan yang menyatakan bahwa Pneumocystis jiroveci
terdapat di dalam kapiler alveolus, septum interalveolus interstisial dan sel epitel
(Matsumoto dan Yoshida, 1986)
D. Gejala Klinis
Gejala klinis PCP meliputi triad klasik demam – yang tidak terlalu tinggi-,
dispnoe – terutama saat beraktivitas-, dan batuk non produktif. Progresivitas gejala
biasanya perlahan, dapat berminggu – minggu bahkan sampai berbulan – bulan. Semakin
lama dispnoe akan bertambah hebat, disertai takipnoe – frekwensi pernafasan meningkat
sampai 90 – 120 x / menit -, sampai terjadi sianosis.
Pada pemeriksaan fisik diagnostik tidak dijumpai tanda yang spesifik. Saat
auskultasi dapat dijumpai ronki kering atau bahkan tidak dijumpai kelainan apapun. Pada
2 – 6 % kasus, PCP dapat muncul dengan pneumothorax spontan. Pada pemeriksaan
radiologi paru terlihat gambaran yang khas berupa infiltrat bilateral simetris, mulai dari
hilus ke perifer, bisa meliputi seluruh lapangan paru. Daerah dengan kolaps, diselingi
dengan daerah yang emfisematosa menimbulkan gambaran seperti sarang tawon (“honey
comb appearance”), kadang – kadang terjadi emfisema mediastinal di pneumothorax
(Juwono, 1987; Beaver et al., 1984). Pada darah dijumpai kadar LDH (Lactate
Dehidrogenase) yang tinggi - > 460 U / L – atau Pa O2 (tekanan oksigen parsial arteri) <
75 mmHg.
Lesi ekstra pulmoner jarang terjadi - < 3 % -, namun dapat melibatkan limpa, hati,
kelenjar getah bening dan sum – sum tulang. Pada penderita anak – anak sehubungan
dengan malnutrisi, onset penyakit berjalan perlahan , dijumpai kegagalan tumbuh
kembang (failure to thrive), yang akhirnya diikuti takipnoe dan sianosis. Sedang pada
penderita yang imunosupresif – anak mau pun dewasa -, onset penyakit berjalan cepat
E. Pengobatan
Obat pilihan utama adalah kombinasi trimetoprim 20 mg/kg BB / hari +
sulfametoksazol 100 mg /kg BB / hari per oral, dibagi dalam 4 dosis dengan interval
pemberian tiap 6 jam selama 12 – 14 hari. Obat alternatif lain (namun lebih toksik)
adalah pentamidin isethionat, dosis 4 mg/ kg BB / hari diberikan 1 x / hari secara IM atau
IV selama 12 – 14 hari. Pentamidin isethionat biasanya diberikan pada pasien yang tidak
respon ataupun tidak dapat bertoleransi terhadap pemberian kombinasi trimetoprim +
sulfametoksazol. Pemberian kemoterapi alternatif lain seperti trimetrexate + dapsone,
trimetoprim + dapsone, leucovorin + dapsone,clindamycin + primaquine dan atovaquone
dapat dipertimbangkan, namun saat ini masih digunakan sebatas untuk tujuan penelitian.

B60 OTHER PROTOZOAL DISEASES, NOT ELSEWHERE CLASSIFIED


(Penyakit protozoal lainnya, yang tidak diklasifikasikan dimanapun)
Excludes:
- cryptosporidiosis ( A07.2 )
Cryptosporidiosis adalah penyakit diare yang disebabkan oleh parasit
mikroskopis, Cryptosporidium, yang dapat hidup di usus manusia dan hewan dan
ditularkan melalui kotoran orang atau hewan yang terinfeksi. Baik penyakit dan parasit
ini umumnya dikenal sebagai “Crypto.”
- intestinal microsporidiosis ( A07.8 )
Merupakan infeksi pada saluran pencernaan akibat microsporidia yaitu kelompok
parasit pembentuk-spora uniseluler. Mereka pernah dianggap protozoa atau protista,
tetapi sekarang dikenal sebagai fungi, atau kelompok saudara fungi
- isosporiasis ( A07.3 )
Isosporiasis adalah penyakit pada usus manusia yang disebabkan oleh parasit
Isospora belli. Penyakit ini dapat ditemui di seluruh dunia, terutama di daerah tropis dan
nontropis. Infeksi sering muncul pada individu dengan sistem imun yang tenggang,
terutama pasien AIDS.

B60.0 BABESIOSIS

A. Definisi
Babesiosis adalah sebuah penyakit infeksi yang disebabkan oleh kutu. Kutu
biasanya membawa organisme mikrosopis bernama Babesia. Karena parasit Babesia
menginfeksi dan menghancurkan sel darah merah, babesiosis bisa menyebabkan jenis
anemia khusus yang disebut anemia hemolitik. Anemia jenis ini bisa menyebabkan
jaundice (menguningnya kulit) dan urin jadi berwarna gelap.
B. Etiologi
Disebabkan oleh parasit Babesia microti. Penyakit ini ditularkan oleh tungau
hewan peliharaan dan binatang liar, dan bisa terjadi di seluruh dunia.
C. Gejala
Mulai dari tanpa keluhan dan gejala, sampai yang berat dan penyakit berlangsung
berhari-hari. Kebanyakan penderita babesiosis:
1. mengeluhkan demam menggigil,
2. nyeri otot seluruh badan,
3. badan terasa lemah,
4. anemi hemolitik,
5. jumlah sel darah putih menurun,
6. kadang-kadang hemoglobonuria,
7. kadar serum alkalin pospatase agak naik, pada setengah penderita,
8. kadar glitamik – oksaloasetic acid transaminase juga sedikit meningkat,
9. parasitemia paling tinggi sekitar 10%,
10. gejala akut, bisa berlangsung dalam beberapa minggu sampai bulanan,
11. penyakit kambuh kembali seperti pada malaria. Jarang terlihat pada penyakit
babesiosis,
12. parasitemia bisa berangsur menurun tanpa menunjukkan keluhan dan gejala
sampai 4 bulan setelah gejala-gejala di atas berlangsung,
13. pengangkatan limpa (splenectomi) kelihatannya lebih memperburuk kondisi
penderita dibanding bila limpa tetap dipertahankan. Meskipun gejala anemi
hemolitik umumnya lebih berat pada penderita dengan splenomegali.2

D. Pengobatan
Obat spesifik untuk babesiosis, gabungan clindamycin dan quinine, terutama bila
pengobatan dengan chloroquine kurang berhasil. Azithromycine boleh diberikan
sendiri atau digabung dengan quinine. Pentamidine bisa diberikan gabungan dengan
trimatokzazole. Pada anemi berat diberikan pengobatan tukar darah (exchange
transfusion). Cuci darah (dialisa) bila penderita mengalami gagal ginjal.
E. Pencegahan
Pencegahan paling efektif, menghindari kemungkinan digigit/kontak dengan
tungau hewan (tick). Misalnya menggunakan obat insektisida gosok (repelant).
Beberapa jam setelah digigit tungau, terjadi penularan babesia hingga seseorang yang
curiga digigit tick, harus segera memeriksa bagian tubuhnya yang digigit, untuk
mengambil/menemukan tick Pencegahan paling efektif, menghindari kemungkinan
digigit/kontak dengan tungau hewan (tick). Misalnya menggunakan obat insektisida
gosok (repelant). Beberapa jam setelah digigit tungau, terjadi penularan babesia
hingga seseorang yang curiga digigit tick, harus segera memeriksa bagian tubuhnya
yang digigit, untuk mengambil/menemukan tick

B60.1 ACANTHAMOEBIASIS
Conjunctivitis due to Acanthamoeba† ( H13.1* )
Keratoconjunctivitis due to Acanthamoeba† ( H19.2* )
A. Definisi
Merupakan peradangan yang diakibatkan oleh acanthamoeba, yang umumnya
terjadi pada bagian mata seperti pada conjungtiva (Conjungtivitis akibat
acanthamoeba) dan keratokonjungtivitis akibat acanthamoeba.
B. Etiologi
Disebabkan oleh Acanthamoeba, merupakan protozoa hidup-bebas yang terdapat
dalam air tercemar, penggunaan lensa kontak, dan mata terpapar air atau tanah yang
tercemar
C. Patofisiologi
D. Pemeriksaan Fisik Dan Penunjang
Tanda klinis yang khas pada keratitis Acanthamoeba adalah ditemukan ulkus
kornea indolen, cincin stroma, dan infiltrate perineural, tetapi hanya sering ditemukan
perubahan-perubahan yang terbatas pada epitel kornea. Pada awalnya terlihat abu-abu
putih pada superfisial dan non supuratif infiltrat. Seiringan dengan perkembangan
penyakit sebagian atau terbentuk infiltrate berbentuk cincin yang sempurna di daerah
parasentral kornea (Graffi, 2013). Infiltrat yang berbentuk cincin (ring infiltrate) atau lesi
satelit merupakan tanda yang dapat membantu menegakkan diagnosis.
PemeriksaanpenunjangDiagnosis ditegakkan dengan biakan di atas media
khusus(agar nonnutrien yang dilapisi E.coli . Pengambilan sampellebih baik dilakukan
dengan biopsi kornea karenakemungkinan diperlukan pemeriksaan histopatologi
untukmenemukan bentuk-bentuk amoeba (trofozoit atau kista).
E. Tatalaksana
- Chlorhexidine 0,02 % sering digunakan dalam kombinasidengan diamines aromatic
seperti propamidine isethionateBrolence 0,1 %, dibromopropamidine 0,15 %, hexamidine
0,1% desomedine dan neomisin
- Debridement epitel (untuk mengangkat organism utama) dan keratoplasty
- Antimikroba topikal ini diberikan perjam secepatnya setelahdebridement kornea atau
untuk beberapa hari pada terapiawal. Kemudian dilanjutkan perjam selama 3 hari
(dianjurkan9 kali perhari) tergantung respon klinis.
- Keratoplasty atau transplantasi kornea merupakan terapipilihan bila gagal pada terapi
topikal

B60.2 NAEGLERIASIS
Primary amoebic meningoencephalitis† ( G05.2* )
A. Definisi
Naegleriasis, juga dikenal dengan istilah meningoensefalitis amubik primer, ensefalitis
amebik, dan infeksi naegleria adalah infeksi otak oleh protista Naegleria fowleri
B. Etiologi
Infeksi tersebut disebabkan oleh infeksi protista Naegleria fowleri yang umumnya
ditemukan di perairan hangat. Tak hanya di air saja, jenis amoeba ini terkadang ditemukan di
dalam tanah. Amoeba ini dapat memasuki tubuh Anda melalui hidung yang terkena air atau
debu yang telah terkontaminasi. Selanjutnya, amoeba akan berjalan menuju ke otak melalui
saraf yang menghubungkan antara hidung dan otak yang berfungsi untuk mengirimkan rasa
bau.
C. Pemeriksaan Penunjang
1. Tes pencitraan
Dokter mungkin akan melakukan salah satu atau bahkan dua jenis tes pencitraan,
yaituComputerized tomography (CT) Scan dan Magnetic Resonance Imaging (MRI).
Keduanya dapat mengungkapkan pembengkakkan dan pendarahan dalam otak.
a. CT scan
Prosedur ini menggabungkan hasil sinar-X yang dipaparkan dari berbagai arah.
Hal ini akan menampilkan gambar penampang otak secara rinci.

b. MRI
Prosedur ini menggunakan mesin yang telah dilengkapi oleh gelombang radio dan
medan magnet yang dapat menghasilkan gambar rinci dari jaringan lunak dalam
tubuh, seperti otak.
2. Spinal tap (pungsi lumbal)
Jika amuba naegleria telah memasuki tubuh Anda dan telah mencapai bagian
otak, mereka biasanya akan berada dalam cairan yang mengelilingi otak dan sumsum
tulang belakang. Untuk itu, dokter akan melakukan pemeriksaan yaitu dengan mengambil
sampel dari cairan tersebut. Dokter menggunakan jarum di mana ia akan memasukkannya
melalui bagian punggung Anda. Setelah itu, cairan tersebut akan diperiksa di bawah
mikroskop untuk memastikan apakah ada amoeba dalam cairan yang mengelilingi bagian
otak Anda. Jika ada, sudah pasti Anda terinfeksi oleh amoeba naegleria.

B60.8 OTHER SPECIFIED PROTOZOAL DISEASES


Penyakit protozoa tertentu lainnya

B65 SCHISTOSOMIASIS [BILHARZIASIS]

a. Definisi
Schistosomiasis juga dikenal sebagai bilharziasis, merupakan penyakit infeksi kecacingan
yang disebabkan oleh cacing trematoda dari family schistosomatidae, dan genus
Schistosoma (Satrija et al., 2015). Schistosomiasis adalah salah satu penyakit zoonosis yang
terabaikan (negleted disease) yang terdapat di daerah beriklim tropis maupun sub-tropis.
Penyakit Infeksi yang disebabkan oleh cacing Schistosoma ini, dapat menginfeksi manusia
dan hewan mamalia, diantaranya yaitu sapi (Bos sundaicus), kerbau (Bubalus bubalis), kuda
(Equus cabalus), anjing (Canis familiaris), babi (Sus. Sp), musang (Vivera tangalunga), rusa
(Carvus timorensis), dan berbagai jenis tikus (Rattus exulans, R.marmosurus, R norvegicus,
R palallae) (Hadidjaja, 2011). Schistosomiasis juga merupakan penyakit infeksi kecacingan
pada manusia yang mempunyai permasalahan dalam diagnosisnya, karena tidak
menunjukkan gejala yang nyata.
b. Etiologi

Cacing penyebab schistosomiasis hidup di air tawar, seperti:

 Kolam
 Danau
 Sungai
 Waduk
 Kanal
Air untuk mandi yang berasal dari sumber yang tidak disaring langsung dari danau atau
sungai juga dapat menyebarkan infeksi, namun cacing tidak tinggal di air laut, kolam yang
mengandung klorin atau sumber air yang dikelola dengan baik.
c. Patofisiologi

B65.0 SCHISTOMIASIS DUE TO SCHITOSOMA HAEMATOBLUM (URINARY


SCHISTOMIASIS)
a. Definisi
Schistosomiasis kemih adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi orang dengan
cacing parasit Schistosoma haematobium. Cacing ini hidup di pembuluh darah di sekitar
kandung kemih orang yang terinfeksi dan cacing melepaskan telur yang dilepaskan dalam
urin orang tersebut. Jika air seni dialirkan ke kolam atau danau, telur-telur itu bisa menetas
dan menginfeksi orang yang sedang mencuci atau berenang di sana. Infeksi dapat
menyebabkan darah dalam urin dan jika tidak diobati pada akhirnya dapat menyebabkan
anemia, kekurangan gizi, gagal ginjal, atau kanker kandung kemih. Schistosomiasis kemih
didiagnosis dengan mencari telur cacing dalam urin.
B65.1 Schistosomiasis due to Schistosoma mansoni [intestinal schistosomiasis]

Merupakan penyakit Schistosomiasis yang disebabkan oleh cacing genus dengan spesies
mansoni yang berpengaruh pada intestinal (pencernaan) manusia.

B65.2 Schistosomiasis due to Schistosoma japonicum


Asiatic schistosomiasis

Merupakan penyakit Schistosomiasis yang disebabkan oleh cacing genus Schistosoma


dengan spesies japonicum.

B65.3 Cercarial dermatitis


Swimmer’s itch

Merupakan penyakit yang ditularkan melalui air yang tidak menular. Hal ini disebabkan
oleh penetrasi kulit oleh larva (serkaria) dari cacing shistosomatid dan berkembang sebagai
erupsi kulit makulopapular setelah kontak berulang dengan parasit.

B65.8 Other schistosomiasis

Infection due to Schistosoma:

 Intercalatum
 Mattheei
 Mekongi

Merupakan penyakit Schistosomiasis yang disebabkan oleh cacing dengan spesies lain
dan tidak termasuk kedalam kategori B65.0- B65.3.

1. B65.9 Schistosomiasis
a. Definisi
Schistosomiasis adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing pipih genus Schistosoma.
b. Etiologi
Schistosomiasis pada manusia disebabkan oleh S.haematobium (menyebabkan
Schistosomiasis saluran kemih), S.mansoni, S.japonicum, S.mekongi, dan S.intercalatum
(menyebabkan Schistosomiasis saluran cerna).
c. Patofisiologi
Parasit ini berkembang dalam tubuh inang yaitu keong air tawar. Penularannya adalah
melalui air yang terkontaminasi oleh parasit dan dapat menginfeksi saluran pencernaan
dan sistem saluran kemih manusia.
2. B66.0 Opisthorchiasis
a. Definisi
Opisthorchiasis adalah penyakit yang menyebabkan cacing disebut kebetulan kucing dan
merusak hati dan pankreas.
b. Etiologi
Etiologi Penyakit ini disebabkan oleh dua spesies cacing pipih: felineus Opisthorchis dan
Opisthorchis viverrini. Di Rusia, jenis patogen yang paling umum ditemukan. Helminth
memiliki bodi datar dan dimensi kecil: panjang sekitar 10 mm, lebar - 3 mm.
c. Patofisiologi
infeksiadalah orang sakit, domestik( kucing, anjing, babi) dan hewan liar yang memakan
ikan.Seseorang menjadi terinfeksi setelah makan ikan yang belum diolah dan
mengandung metacercaria hidup. Perkembangan dari O. felineus terjadi dengan
perubahan tiga host. Peralihan pertama adalah moluska, perantara kedua - ikan, dan
pemilik terakhir menjadi manusia. Di antara host utama mengalokasikan manusia,
kucing, anjing, babi dan berbagai hewan liar yang makan ikan( rubah, rubah Arktik,
musang, polecats, berang-berang, cerpelai dan sebagainya.).
Paramedisir cacar parasitisasi di usus, melepaskan ke lingkungan telur matang yang bisa
bertahan selama setengah tahun saat mereka memasuki tubuh air. Di dalam air mereka
ditelan oleh kerang dari genus Codiella, di bodi yang ada pelepasan miracidia, lalu
transformasinya menjadi sporokista. Pada kista mengembangkan redias, keluar,
menembus hati moluska, dimana tahap selanjutnya perkembangan cacing cercariae
terbentuk. Keganjilan parasit adalah bahwa transformasi semua tahap larva terjadi oleh
partenogenesis, dan jumlah cacing meningkat pada setiap tahap. Waktu perkembangan
parasit di tubuh moluska adalah dari 2 bulan sampai satu tahun, yang tergantung pada
suhu air.

3. B66.1 Chlonorchiasis
a. Definisi
Chlonorchiasis adalah penyakit yang terjadi akibat infeksi Chlonorchis sinensis atau
cacing hati cina. Chlonorchis sinensis termasuk dalam kelompok trematoda berbentuk
pipih memanjang seperti daun. Jenis cacing ini dapat menginfeksi organ hati, kantong
empedu, dan saluran empedu yang tentunya membahayakan tubuh.
b. Etiologi
Beberapa kasus chlonorchiasis banyak ditemukan di Asia. Kasus ini ditemukan pada
orang-orang yang mengonsumsi ikan air tawar yang diimpor, tidak dimasak sampai
matang sempurna, atau sudah terinfeksi kista parasit sebelumnya.
c. Patofisiologi
nfeksi cacing hati diawali dengan tertelannya telur Chlonorchis sinensis oleh siput yang
hidup di air tawar. Telur ini akan menetas di dalam tubuh siput dan mulai mengalami fase
perkembangan cacing, mulai dari fase mirasidia hingga serkaria (larva). Bagian larva
inilah yang kemudian akan dikeluarkan oleh siput lewat feses menuju lingkungan air
tawar. Selanjutnya, larva yang berenang di air tawar memungkinkan untuk bersentuhan
dan menembus tubuh ikan atau bahkan dimakan olehnya.
Manusia bisa terinfeksi cacing parasit ini saat makan ikan air tawar yang tidak dimasak
dengan baik, diasinkan, dibentuk acar, diasap, atau dikeringkan. Kista metaserkaria
dalam ikan air tawar akan masuk ke usus halus dan organ hati. Kista ini secara perlahan
akan merusak organ tubuh dalam waktu tiga bulan hingga menimbulkan gejala. Orang
yang terinfeksi cacing hati dapat menularkannya pada orang lain melalui feses yang
mengandung telur cacing dan mengulang siklusnya dari awal lagi.

B66.2 DICROCOELIASIS

a. Definisi

Dicrocoeliasis adalah infeksi zoonosis pada mamalia herbivora seperti sapi, domba,
kelinci, dan kambing yang disebabkan oleh Dicrocoelium dendriticum (lancet / liver fluke)
atau hospes Dicrocoelium dengan penyebaran luas di Eropa, Asia, Amerika Utara dan Afrika.

b. Etiologi

Dicrocoeliasis oleh Dicrocoelium dendriticum (lancet / liver fluke) atau hospes


Dicrocoelium.

c. Gejala

Dicrocoeliasis pada manusia sering tidak terdiagnosis karena tidak adanya gambaran
klinis spesifik, dan pasien yang terinfeksi biasanya tidak menunjukkan gejala. Namun, gejala-
gejala seperti mual, muntah, sembelit, diare, sakit kepala, pusing, sakit perut dan epigastrik, dan
obstruksi bilier dapat ditemukan pada masing-masing pasien, sehingga mensimulasikan infeksi
seperti hepatitis.

B66.3 FASCIOLIASIS

a. Definisi

Fasciolosis merupakan penyakit parasiter yang disebabkan oleh cacing pipih (trematoda)
dan umumnya menyerang ternak ruminansia, seperti sapi, kerbau dan domba.
b. Etiologi

Etiologi Di daerah tropik, termasuk indonesia, fascioliasis paling sering disebabkan oleh
spesies Fasciola gigantica, yang menyerang ternak sapi, kerbau, kambing dan domba, dan
kadang juga babi. Fascioliasis juga banyak diderita oleh ternak ruminansia di bagian bumi lain,
Australia, Amerika, Eropa dan sebagainya, sering disebabkan oleh cacing trematoda Fasciola
hepatica.

c. Siklus Hidup

Telur fasciola masuk ke dalam duodenum bersama empedu dan keluar bersama tinja
hospes definitif. Di luar tubuh ternak telur berkembang menjadi mirasidium. Mirasidium
kemudian masuk ke tubuh siput muda, yang biasanya genus Lymnaea rubiginosa. Di dalam
tubuh siput mirasidium berkembang menjadi sporokista, redia dan serkaria. Serkaria akan keluar
dari tubuh siput dan bisa berenang. Pada tempat yang cocok, serkaria akan berubah menjadi
metaserkaria yang berbentuk kista. Ternak akan terinfeksi apabila minum air atau makan
tanaman yang mengandung kista.

d. Gejala Klinis

Pada Sapi penderita akan mengalami gangguan pencernaan berupa konstipasi atau sulit
defekasi dengan tinja yang kering. Pada keadaan infeksi yang berat sering kali terjadi mencret,
ternak terhambat pertumbuhannya dan terjadi penurunan produktivitas. Pada Domba dan
kambing, infeksi bersifat akut, menyebabkan kematian mendadak dengan darah keluar dari
hidung dan anus seperti pada penyakit anthrax. Pada infeksi yang bersifat kronis, gejala yang
terlihat antara lain ternak malas, tidak gesit, napsu makan menurun, selaput lendir pucat, terjadi
busung (edema) di antara rahang bawah yang disebut “bottle jaw”, bulu kering dan rontok, perut
membesar dan terasa sakit serta ternak kurus dan lemah.

e. Pengobatan

Pengobatan secara efektif dapat dilakukan dengan pemberian per oral Valbazen yang
mengandung albendazole, dosis pemberian sebesar 10 - 20 mg/kg berat badan, namun perlu
perhatian bahwa obat ini dilarang digunakan pada 1/3 pertama kebuntingan, karena
menyebabkan abortus. Fenbendazole 10 mg/kg berat badanatau lebih aman pada ternak bunting.
Pengobatan dengan Dovenix yang berisi zat aktif Nitroxinil dirasakan cukup efektif juga untuk
trematoda. Dosis pemberian Dovenix adalah 0,4 ml/kg berat badan dan diberikan secara
subkutan.Pengobatan dilakukan tiga kali setahun.

B66.4 PARAGONIMIASIS

a. Definisi
Paragonimiasis atau dikenal juga dengan nama lung fluke disease adalah penyakit dimana
bagian tubuh yang diserang adalah paru-paru. paragonimiasis adalah infeksi parasit makanan
terdapat pada paru-paru yang bisa menyebabkan sub-akut untuk penyakit radang paru-paru
kronis dapat juga melalui udara.

b. Etiologi

Penyakit yang disebabkan oleh cacing Paragonimus westermani ini biasa disebut
paragonimiasis. Paragonimiasis atau lung fluke disease disebabkan oleh parasite makanan
bernama Paragonimus westermani. Paragonimus westermani adalah salah satu trematoda paru-
paru yang bersifat hermaprodit yang dapat menimbulkan penyakit paragonimiasis.

c. Siklus Hidup

Cacing dewasa hidup di jaringan paru-paru → bertelur kemudian telur akan melalui
bronkus dan keluar dengan dua cara → 1. dibatukkan bersama sputum yang haemorrhagia, 2.
jika sputum tertelan maka telur akan masuk ke dalam saluran pencernaan dan akan keluar
bersama tinja → telur yang belum mengalami embrionisasi jika jatuh ke air akan matang (berisi
mirasidium) → dalam 3 – 4 minggu menetas dan keluar mirasidium → mirasidium masuk ke
hospes perantara 1 (Melania sp.) → berkembang menjadi sporokista → redia 1 → redia 2 →
cercaria → cercaria keluar kemudian masuk ke hospes perantara 2 → didalam insang hospes
perantara 2 cercaria membungkuskan diri dalam kista buat dan di sebut metaserkaria →
metaserkaria dalam hospes perantara 2 tertelan manusia → mengalami enkistasi dalam usus
halus → menerobos dinding usus → menembus diafragma dan rongga pleura → menjadi dewasa
dalam paru-paru. Kadang-kadang dapat mengembara ke otak dan menjadi dewasa di situ. Cacing
ini dapat hidup selama 5 – 6 tahun.

B66.5 FASCIOLOPSIASIS

a. Definisi

Fasiolopsiasis adalah penyakit kecacingan yang disebabkan oleh Trematoda (Fasciolopsis


buski = F. Buski).

b. Etiologi

Fasciolopsiasis disebabkan oleh Fasciolopsis buski.

c. Gejala Klinis

Gejala klinis yang ditimbulkan oleh penyakit ini adalah rasa sakit di daerah hati, sakit
perut, diare, demam dan anemia.
B66.8 OTHER SPECIFIED FLUKE INFECTIONS

Echinostomiasis

a. Definisi

Echinostomiasis adalah penyakit parasit bawaan makanan yang disebabkan oleh


trematoda usus milik keluarga Echinostomatidae. Echinostomiasis menginfeksi saluran
pencernaan manusia.

b. Etiologi

Echinostomiasis disebabkan oleh trematoda usus milik keluarga Echinostomatidae.

c. Gejala

Echinostomiasis tidak menunjukkan gejala. Namun, dengan infeksi berat, cacing dapat
menghasilkan peradangan catarrhal dengan ulserasi ringan dan pasien mungkin mengalami sakit
perut, anoreksia, mual, muntah, diare, dan penurunan berat badan.

d. Siklus hidup

Trematoda usus ini memiliki siklus hidup tiga inang dengan siput air sebagai inang antara
pertama di mana sporokista, dua generasi rediae dan serkaria berkembang. Serkaria muncul
berenang bebas dan menginfeksi inang perantara kedua, yang mungkin beberapa spesies
organisme air seperti siput, katak, kerang dan ikan. Akhirnya, inang yang pasti (manusia dan
hewan lainnya) menjadi terinfeksi setelah menelan inang perantara kedua yang menyimpan
metacercaria yang tersandi di mana orang dewasa cacing matang dan menghasilkan telur yang
dilepaskan dengan kotoran inang.
B66.9 FLUKE INFECTION, UNSPECIFIED

a. Definisi
Infeksi yang disebabkan oleh cacing
b. Etiologi
Penyakit kecacingan yang terjadi di Indonesia sering disebabkan oleh cacing yang
tergolong ke dalam soil transmitted helminth. Yang termasuk ke dalam soil transmitted
helminth adalah Ascaris lumbricoides (cacing gelang), Ancylostoma duodenale dan Necator
americanus (cacing tambang), Trichuris trichiura (cacing cambuk).

B67 ECHINOCOCCOSIS
Includes: hydatidosis
a. Definisi
Echinococcosis (Ekinokokus) adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing pita parasit.
Penyakit ini sering juga disebut hydatidosis, penyakit hidatid, hidatidosis.
b. Etiologi
Penyakit ini disebarkan saat makanan atau air yang mengandung telur parasit
terkonsumsi, atau melalui kontak langsung dengan binatang yang terinfeksi.
c. Penatalaksanaan
Rontgen, USG, CT-Scan, pemeriksaan Laboratorium

B67.0 ECHINOCOCCUS GRANULOSUS INFECTION OF LIVER


a. Definisi
Cacing pita pada anjing yang menyebabkan infeksi pada hati
b. Etiologi
Penyebabnya adalah manusia yang memakan daging anjing yang masih terdapat larva
cacing pita, atau bersentuhan dengan anjing yang terinfestasi cacing pita

B67.1 Echinococcus granulosus infection of lung


a. Definisi: Cacing pita pada anjing yang menyebabkan infeksi pada paru-paru
b. Etiologi: Penyebabnya adalah manusia yang memakan daging anjing yang masih terdapat
larva cacing pita, atau bersentuhan dengan anjing yang terinfestasi cacing pita
B67.2 Echinococcus granulosus infection of bone
a. Definisi: Cacing pita pada anjing yang menyebabkan infeksi pada tulang
b. Etiologi: Penyebabnya adalah manusia yang memakan daging anjing yang masih terdapat
larva cacing pita, atau bersentuhan dengan anjing yang terinfestasi cacing pita

B67.3 Echinococcus granulosus infection, other and multiple sites

(B 67.3 Infeksi Echinococcus granulosus, lainnya dan banyak tempat)

B67.4 Echinococcus granulosus infection, unspecified

(Dog tapeworm)

a. Definisi
Echinococcus granulosus, juga disebut cacing hidatid, cacing pita-cacing atau cacing pita
anjing, adalah cestode siklofil yang berdiam di usus kecil kanula saat dewasa. Nama
umum, cacing pita pada anjing adalah Echinococcus granulosus. Terdapat di seluruh
dunia terutama didaerah – daerah peternakan sapi dan domba sehingga terdapat hubungan
yang erat antara manusia-herbivora-anjing. Parasit ini lebih banyak di jumpai didaerah
beriklim sedang dari pada daerah beriklim tropik (Soedarto,1991).
b. Morfologi
Cacing ini kecil ukurannya. Panjangnya antara 3 dan 6 milimeter dan hanya terdiri dari
skoleks, leher dan strobila yang hanya terdiri dari 3 segmen. Kadang – kadang terdapat 4
buah segmen. Segmen yang pertama adalah segmen yang imatur, segmen kedua segmen
matur dan segmen yang terakhir adalah segmen gravid. Segmen yang terakhir ini adalah
segmen yang terbesar ukurannya dengan panjang dua sampai tiga milimeter dan lebar 0,6
milimeter. Skoleks memiliki 4 alat isap dengan rostelum yang mempunyai 2 deret kait
yang melingkar, lehernya pendek dan lebar.
Telur berbentuk ovoid mirip dengan telur Taenia lainnya, mempunyai ukuran panjang 32-
36 mikron dan lebar 25-32 mikron. Telur ini juga mengandung embrio heksakan dengan
tiga pasang kait. Telur cacing ini infektif dengan manusia, biri- biri, sapi dan herbivora
lainnya. Bentuk larva didapatkan di dalam kista hidatid yang terbentuk di dalam tubuh
hospes perantara. Siklus hidup Echinococcus granulosus berlangsung di dalam dua jenis
tubuh tuan rumah. Sebagai hospes defenitif adalah anjing, serigala dan sejenisnya
sedangkan manusia, biri- biri, sapi , kuda dan kambing merupakan hospes perantara. Biri
– biri merupakan hospes perantara yang terbaik. Di dalam tubuh hospes perantara ini ,
larva cacing akan tumbuh dan membentuk kista hidatid.
Telur –telur keluar bersama tinja hospes defenitif misalnya anjing, telur termakan oleh
hospes perantara (biri-biri dan mamalia pemakan rumput) melalui rumput yang mereka
makan sedangkan pada manusia oleh karena kontak yang erat dengan anjing yang
dipelihara. Di dalam duodenum , embrio heksakan akan menetas, kemudian menembus
dinding usus dan bersama aliran darah akan terbawa ke hati, matang termakan oleh
anjing, maka dalam waktu enam minggu di dalam usus anjing tersebut akan tumbuh
menjadi cacing dewasa. Dengan demikian siklus hidup cacing akan berulang kembali.
Pada anjing cacing dewasa Echinococcus granulosus tidak menimbulkan banyak
gangguan meskipun didapatkan dalam jumlah besar di dalam usus. Sedangkan pada
manusia larva cacing akan menimbulkan unilocular hydatid disease (Soedarto,1991).

c. Gejala Klinik
Echinococcus granulosus menginfeksi selama bertahun-tahun sebelum kista membesar
dan menyebabkan gejala saat tersebar ke organ-organ vital. Bila menginfeksi hati maka
terjadi rasa sakit dan nyeri di bagian abdominal, benjolan di daerah hati, dan obsruksi
saluran empedu. Pada saat kista menginfeksi paru-paru menyebabkan dada sakit dan
batuk hemoptysis. Kista yang menyebar ke seluruh organ dapat menyebabkan demam,
urtikaria, eosinofilia, dan syok anafilaktik. Kista dapat menyebar hingga ke otak, tulang,
dan jantung.
d. Pencegahan
Dengan mempelajari siklus hidup dan penularan cacing Echinococcus granulosus maka
infeksi cacing ini dapat dicegah dengan cara :
1. Mengobati penderita
2. Pengawasan atas daging anjing (B1) yang diolah
3. Memasak dengan baik daging anjing (B1) yang akan dimakan
4. Menjaga kebersihan lingkungan
Pengobatan penderita Echinococcus granulosus selain akan mengurangi sumber infeksi,
juga akan mencegah kemungkinan terjadinya penularan oleh larva kista hidatid.
Pengawasan atas daging anjing yang akan dijual akan banyak mengurangi kasus
hydatidosis terutama di daerah yang penduduknya mempunyai kebiasaan memakana
daging anjing setengah matang.
e. Pengobatan
Di masa lalu, operasi adalah satu-satunya pengobatan untuk kista echinococcal kistik.
Kemoterapi, tusukan kista, dan PAIR (Percutaneous Aspiration, Injection of chemicals
and Reaspiration) telah digunakan untuk menggantikan operasi sebagai perawatan yang
efektif untuk echinococcosis kistik. Namun, pembedahan tetap merupakan pengobatan
yang paling efektif untuk menghilangkan kista dan dapat menyebabkan penyembuhan
total. Beberapa kista tidak menyebabkan gejala apa pun dan tidak aktif; kista-kista itu
seringkali hilang tanpa pengobatan.

B67.5 Echinococcus multilocularis infection of liver

(B67.5 Infeksi Echinococcus multilocularis pada hati)


B67.6 Echinococcus multilocularis infection, other and multiple sites

(B67.6 Infeksi Echinococcus multilocularis, lainnya dan banyak tempat)

B67.7 Echinococcus multilocularis infection, unspecified

a. Definisi
Echinococcus multilocularis adalah cacing pita cyclophyllid kecil yang ditemukan secara
luas di belahan bumi utara. E. multilocularis, bersama dengan anggota lain dari genus
Echinococcus (terutama E. granulosus), menghasilkan penyakit yang dikenal sebagai
echinococcosis. Tidak seperti E. granulosus, E. multilocularis menghasilkan banyak kista
kecil (juga disebut sebagai locules) yang menyebar ke seluruh organ internal hewan yang
terinfeksi. Penyakit yang dihasilkan disebut Alveolar echinococcosis, dan disebabkan
oleh menelan telur E. Multilocularis
b. Morfologi
 Cacing dewasa sangat mirip dengan E. granulosus, tetapi ukurannya lebih kecil,
panjangnya hanya 1,2-3,7 mm.
 Sedikit menghasilkan protoscolex.
 Kista berupa Hydatid alveolaris dengan ciri-ciri: Membran berlapis tipis
 Berlubang seperti bunga karang
 Terdapat zat seperti agar
c. Tanda dan Gejala
Echinococcosis alveolar manusia ditandai oleh periode inkubasi yang panjang 5 sampai
15 tahun pada individu yang imunokompeten. Perkembangan penyakit berpotensi pada
pasien immunocompromised. Setelah menelan telur E. multilocularis, tahap metacestode
(larva) dari parasit biasanya tertanam di hati. Ketika penyakit ini berkembang, tahap larva
berkembang biak secara eksogen di dalam jaringan, berperilaku mirip dengan neoplasia
hati. Pasien dengan echinococcosis alveolar manusia biasanya datang dengan sakit
kepala, mual, muntah, sakit perut. Penyakit kuning jarang terjadi tetapi hepatomegali
adalah temuan fisik yang umum
d. Diagnosis
Tes serologis dan pencitraan umumnya digunakan untuk mendiagnosis penyakit ini.
Karena tes serologis untuk echinococcosis alveolar hanya menunjukkan pajanan terhadap
parasit dan bukan infeksi yang sedang berlangsung, visualisasi massa parasit diperlukan
untuk mengkonfirmasi diagnosis. Tes serologis yang sering digunakan termasuk tes
antibodi, ELISA dan hemaglutinasi tidak langsung (IHA). Juga, tes reaksi alergi
intradermal (tes Casoni) juga telah digunakan untuk mendiagnosis pasien. Tes pencitraan
meliputi: sinar-X, CT scan, MRI, dan USG.
e. Pengobatan
Saat ini, benzimidazol (seperti albendazole) digunakan untuk mengobati AE: hanya
menghentikan proliferasi mereka dan tidak benar-benar membunuh parasit, efek samping
seperti kerusakan hati 2-ME2, metabolit alami estradiol, diuji dengan beberapa hasil in
vitro: penurunan transkripsi 14-3-3-pro-tumorogenik-isoform, menyebabkan kerusakan
pada lapisan germinal tetapi tidak membunuh parasit in vivo. Pengobatan dengan
kombinasi albendazole / 2-ME2 menunjukkan hasil terbaik dalam mengurangi beban
parasit. Meskipun perbaikan dalam kemoterapi echinococcosis dengan turunan
benzimidazole, eliminasi total massa parasit tidak dapat dicapai pada sebagian besar
pasien yang terinfeksi, meskipun penelitian menunjukkan bahwa pengobatan jangka
panjang dengan mebendazole dapat menyebabkan kematian parasit

B67.8 ECHINOCOCCOSIS, UNSPESIFIED, OF LIVER

Definisi : Echinococcosis yang tidak spesifik dari hati

B67.9 ECHINOCOCCOSIS, OTHER AND UNSPESIFIED, OF LIVER

Echinococcosis

Definisi : Echinococcosis, hati lainnya dan tidak spesifik

B68 TAENIASIS
Excl: cysticercosis (B69,-)
a. Definisi
Taeniasis adalah penyakit parasiter yang disebabkan oleh cacing pita dari genus Taenia
dan infeksi oleh larvanya disebut Sistiserkosis.
b. Etiologi
1. Mengonsumsi daging babi, sapi, atau ikan air tawar yang tidak dimasak hingga
matang seluruhnya.
2. Mengonsumsi air kotor yang mengandung larva cacing, akibat terkontaminasi
kotoran manusia atau hewan yang terinfeksi.
3. Melakukan kontak yang dekat dengan penderita infeksi cacing pita, misalnya melalui
pakaian yang terkontaminasi kotoran yang mengandung telur cacing.
c. Patofisiologi
Taeniasis hidup hanya menimbulkan sedikit peradangan jaringan sekitar dan hanya
sedikit mononuklear serta jumlah eosinofil yang bervariasi. Untuk melengkapi siklus
hidupnya, sistiserkus harus mampu hidup dalam otot hospes selama berminggu-minggu
sampai bulanan. Oleh karena itu, kista akan mengembangkan mekanisme untuk mengatasi
respon imun penjamu. Pada hewan yang telah terinfeksi sebelumnya dengan stadium kista
kebal terhadap reinfeksi onkosfer. Imunitas ini dimediasi oleh antibodi dan komplemen.
Meskipun begitu dalam infeksi alami, respons antibodi dibangun hanya setelah parasit
berubah menjadi bentuk metacestoda yang lebih resisten.
d. Penatalaksanaan
Penderita taeniasis diobati secara massal dengan prazikuantel dosis tunggal 100 mg/kg
berat badan (BB). Satu hari sebelum pemberian obat cacing penderita dianjurkan untuk
memakan makanan yang lunak tanpa minyak dan serat. Pada malam harinya setelah makan
malam penderita harus menjalani puasa. Pemberian obat diberikan keesokan harinya dalam
keadaan perut pasien masih kosong. Dua jam setelah pemberian obat, penderita diberi garam
Inggris (MgSO4) yang telah dilarutkan dalam sirup. Dosisnya 30 gram untuk dewasa dan 15
gram atau 7,5 gram untuk anak-anak. Selama itu penderita tidak boleh makan sampai buang
air besar yang pertama. Setelah buang air besar penderita diberi makan bubur.
Sebagian kecil tinja dari buang air besar pertama dikumpulkan dalam botol yang berisi
formalin 5-10% untuk menemukan telur taenia. Tinja dari buang air besar pertama dan tinja
selama 24 jam ditampung dalam baskom plastik. Kemudian tinja disiram dengan air panas
supaya cacing menjadi rileks. Setelah itu tinja diayak dan disaring untuk mendapatkan
proglotid dan skoleks Taenia sp. Pengobatan dinyatakan berhasil bila skoleks Taenia sp
dapat ditemukan utuh bersama proglotid.

B68.0 TAENIA SOLIUM TAENIASIS

Pork tapeworm (infection)


a. Definisi
Taenia solium merupakan cacing pita (cestoda) yang hidup dalam usus manusia. Cacing
ini dikenal dengan istilah “human pork tapeworm”.
b. Etiologi
Disebabkan oleh cacing taenia solium
c. Patofisiologi
T. solium yang terdapat pada daging babi menyebabkan penyakit Taeniasis, dimana
cacing tersebut dapat menyebabkan infeksi saluran pencernaan oleh cacing dewasa, dan
bentuk larvanya dapat menyebabkan penyakit sistiserkosis. Cacing T. saginata pada
daging sapi hanya menyebabkan infeksi pada pencernaan manusia oleh cacing dewasa.
Penyakit Taeniasis tersebar di seluruh dunia dan sering dijumpai dimana orang-orang
mempunyai kebiasaan mengkonsumsi daging sapi atau daging babi mentah atau yang
dimasak kurang sempurna. Selain itu, pada kondisi kebersihan lingkungan yang jelek,
makanan sapi dan babi bisa tercemar feses manusia yang bisa menyebabkan terjadinya
penyakit tersebut.

B68.1 TAENIA SAGINATA TAENIASIS

Beef tapeworm (infection)


Infection due to adult tapeworm Taenia saginata
a. Definisi
T. saginata adalah cacing pita pada sapi dan T. solium adalah cacing pita pada babi,
merupakan penyebab taeniasis pada manusia.
b. Etiologi
Manusia adalah induk semang definitif dari T. solium dan T. saginata, dan juga
sebagai induk semang definitif dari T. asiatica (OIE, 2005). Sedangkan, hewan seperti
anjing dan kucing merupakan induk semang definitif dari T. ovis, T. taeniaeformis,
T. hydatigena, T. multiceps, T. serialis dan T. brauni. Pada T. solium dan T.
asiatica, manusia juga bisa berperan sebagai induk semang perantara. Selain
manusia, induk semang perantara untuk T. solium adalah babi, sedangkan induk
semang perantara T. saginata adalah sapi.
c. Patofisiologi
Gejala klinis yang ringan, spt: sakit ulu hati, perut merasa tdk enak, mual,muntah,
mencret, pusing/gugup.
Gejala klinis yang berat bisa menyebabkan proglotid menyasar masuk appendiks,
atau illeus (obstruksi oleh strobila cacing).
Gejala berkaitan dengan ditemukan cacing yang bergerak-gerak dalam tinja atau
cacing keluar dari anus.
d. Penatalaksanaan
Obat tradisional : biji labu merah, biji pinang.
Obat lama : kuinakrin, amodiakuin, niklosamid.
Obat baru : prazikuante.

B68.9 Taeniasis, tidak spesifik


Definisi
Taeniasis adalah penyakit akibat parasit berupa cacing pita yang tergolong dalam genus Taenia
yang dapat menular dari hewan ke manusia, maupun sebaliknya. Taeniasis pada manusia
disebabkan oleh spesies Taenia solium atau dikenal dengan cacing pita babi, sementara Taenia
saginata dikenal juga sebagai cacing pita sapi. Manusia terkena taeniasis apabila memakan
daging sapi atau babi yang setengah matang yang mengandung sistiserkus sehingga sistiserkus
berkembang menjadi Taenia dewasa dalam usus manusia.
Etiologi

Taeniasis terjadi saat telur atau larva cacing pita berada pada usus manusia. Masuknya telur atau
larva caing pita ini dapat melalui:

 Mengonsumsi daging babi, sapi, atau ikan air tawar yang tidak dimasak hingga matang
seluruhnya.
 Mengonsumsi air kotor yang mengandung larva cacing, akibat terkontaminasi kotoran
manusia atau hewan yang terinfeksi.
 Melakukan kontak yang dekat dengan penderita infeksi cacing pita, misalnya melalui
pakaian yang terkontaminasi kotoran yang mengandung telur cacing.

Patofisiologi
Manusia terinfeksi dengan cara makan daging babi mentah atau kurang masak, yang
mengandung larva sistiserkus. Di dalam usus manusia, skoleks akan mengadakan eksvaginasi
dan melekatkan diri dengan alat isapnya pada dinding usus, lalu tumbuh menjadi cacing dewasa
dan kemudian membentuk strobila. Dalam waktu 5-12 minggu atau 3 bulan, cacing Taenia
solium menjadi dewasa dan mampu memproduksi telur. Seekor cacing Taenia solium dapat
memproduksi 50.000 sampai 60.000 telur setiap hari.

B69 Sistiserkosis
Incl : infeksi cysticersiasis karena bentuk larva dari taenia solium

B69.0 Sistiserkosis Sistem Saraf Pusat


Definisi
Sistiserkosis sistem saraf pusat adalah infeksi jaringan otak yang disebabkan oleh bentuk larva
(cysticercus) Taenia, yang disebut sistiserkus akibat termakan telur cacing pita Taenia, dari
cacing pita babi (Taeniasolium). Cacing pita babi dapat menyebabkan sistiserkosis pada
manusia, sedangkan cacing pita sapi tidak dapat menyebabkan sistiserkosis pada manusia.
Etiologi
Biasanya didapat akibat makan makanan atau minum air yang mengandung telur cacing pita.
Sayuran mentah merupakan sumber utama. Telur cacing pita berasal dari feces orang yang
terinfeksi cacing dewasa, kondisi ini dinamakan taeniasis. Taeniasis adalah penyakit yang
berbeda dan disebabkan karena memakan sista dari daging babi yang tidak dimasak sampai
matang. Orang yang hidup bersama dengan orang yang memiliki cacing pita punya risiko lebih
besar untuk tertular cysticercosis

Patofisiologi
Cacing dewasa hidup di dalam tubuh manusia pada usus halus. Cacing dewasa melepaskan
segmen gravidpaling ujung yang akan pecah di dalam usus sehingga telur cacing dapat dijumpai
pada feses penderita. Apabila telur cacing yang matur mengkontaminasi tanaman rumput atau
pun peternakan dan termakan oleh ternak seperti babi, telur akan pecah di dalam usus hospes
perantara dan mengakibatkan lepasnya onkosfer. Dengan bantuan kait, onkosfer menembus
dinding usus, masuk ke dalam aliran darah, lalu menyebar ke organ-organ tubuh babi, terutama
otot lidah, leher, otot jantung, dan otot gerak. Dalam waktu 60-70 hari pasca infeksi, onkosfer
berubah menjadi larva sistiserkus yang infeksius. Manusia terinfeksi dengan cara makan daging
babi mentah atau kurang masak, yang mengandung larva sistiserkus.

B69.1 Sistiserkosis Mata


Definisi
Sistiserkosis mata adalah infeksi organ mata yang disebabkan oleh bentuk larva (cysticercus)
Taenia, yang disebut sistiserkus akibat termakan telur cacing pita Taenia, dari cacing pita babi
(Taeniasolium). Cacing pita babi dapat menyebabkan sistiserkosis pada manusia, sedangkan
cacing pita sapi tidak dapat menyebabkan sistiserkosis pada manusia.

Etiologi
Biasanya didapat akibat makan makanan atau minum air yang mengandung telur cacing pita.
Sayuran mentah merupakan sumber utama. Telur cacing pita berasal dari feces orang yang
terinfeksi cacing dewasa, kondisi ini dinamakan taeniasis. Taeniasis adalah penyakit yang
berbeda dan disebabkan karena memakan sista dari daging babi yang tidak dimasak sampai
matang. Orang yang hidup bersama dengan orang yang memiliki cacing pita punya risiko lebih
besar untuk tertular cysticercosis

Patofisiologi
Cacing dewasa hidup di dalam tubuh manusia pada usus halus. Cacing dewasa melepaskan
segmen gravidpaling ujung yang akan pecah di dalam usus sehingga telur cacing dapat dijumpai
pada feses penderita. Apabila telur cacing yang matur mengkontaminasi tanaman rumput atau
pun peternakan dan termakan oleh ternak seperti babi, telur akan pecah di dalam usus hospes
perantara dan mengakibatkan lepasnya onkosfer. Dengan bantuan kait, onkosfer menembus
dinding usus, masuk ke dalam aliran darah, lalu menyebar ke organ-organ tubuh babi, terutama
otot lidah, leher, otot jantung, dan otot gerak. Dalam waktu 60-70 hari pasca infeksi, onkosfer
berubah menjadi larva sistiserkus yang infeksius. Manusia terinfeksi dengan cara makan daging
babi mentah atau kurang masak, yang mengandung larva sistiserkus.

B69.8 Sistiserkosis Pada Situs Lain


Sistiserkosis menimbulkan gejala dan efek yang beragam sesuai dengan lokasi parasit
dalam tubuh. Manusia dapat terjangkit satu sampai ratusan sistiserkus di jaringan tubuh yang
berbeda-beda. Sistiserkus pada manusia paling sering ditemukan di otak (disebut
neurosistiserkosis), mata, otot dan lapisan bawah kulit.

B69.9 Sistiserkosis,tidak spesifik


Infeksi jaringan yang disebabkan oleh bentuk larva (cysticercus) Taenia, yang disebut
sistiserkus akibat termakan telur cacing pita Taenia, dari cacing pita babi (Taeniasolium)yang
tidak spesifik.

B70.0 DIPHYLLOBOTHRIASIS

a. Pengertian
Diphyllobothriasis adalah parasitosis usus diperoleh dengan makan ikan mentah
atau setengah matang yang mengandung Diphyllobothrium spp. plerocercoids.
Kebanyakan orang yang asimtomatik , namun diare , sakit perut , atau ketidaknyamanan
terjadi pada < 22 % dari infeksi.
b. Gejala Klinis Diphyllobothriasis
Diphyllobothriasis dapat menjadi infeksi yang berlangsung lama (beberapa
dekade). Sebagian besar infeksi tidak menunjukkan gejala. Manifestasi dapat meliputi
ketidaknyamanan perut, diare, muntah, dan penurunan berat badan. Kekurangan vitamin
B12 dengan anemia pernisiosa dapat terjadi. Infeksi masif dapat menyebabkan obstruksi
usus. Migrasi proglotid dapat menyebabkan kolesistitis/kolangitis (peradangan kantong
empedu).

c. Pencegahan Diphyllobothriasis
Menjaga sanitasi dengan tidak buang air besar sembarangan Tidak memakan ikan
mentah atau setengah matang
d. Pengobatan Diphyllobothriasis
Praziquantel, dengan dosis untuk dewasa 5-10 mg/kg secara oral dalam terapi
dosis tunggal, dosis untuk anak-anak sama dengan dosis dewasa. (Catatan: praziquantel
harus diminum dengan cairan selama makan.) Alternatif bisa menggunakan obat
niclosamide dengan dosis dewasa 2 gram sekali oral, anak-anak 50 mg/kg (maksimal 2
gram) secara oral. (Catatan: niclosamide harus dikunyah secara menyeluruh atau
dihancurkan dan ditelan dengan sedikit air.)

B70.1 SPARGANOSIS
a. Pengertian
Sparganosis merupakan parasit zoonosis yang disebabkan oleh larva plerocercoid
dari cacing pita Pseudophyllidea terutama yang berasal dari genus Spirometra seperti
Spirometra mansoni, S. ranarum, S. mansonoides, S. Erinacei
b. Etiologi
Penyebab sparganosis adalah larva tahap kedua cacing pita spirometra sp.
Morfologi Spirometra sp. Sulit dibedakan dengan Diphillobothrium sp., yakni cacing pita
yang menyerang anjingdan kucing. Beberapa jenis spirometra sp. Yang berkaitan dengan
bidang medik adalah S. mansoni, S. mansonoides, S. erinacei-eurapaei, S. theileri, dan S.
proliferum (Soeharsono 2005).
c. Gejala Klinis
Gejala klinis sparganosis bervariasi sesuai dengan jaringan dan organ tempat
migrasi parasit. Peradangan dan nyeri dapat berkurang setelah kematian sparganum.
Sparganum yang menyerang jaringan subkutan, benjolan yang terbentuk di bawah kulit
dan lesi tersebut biasanya disebut sebagai "creeping tumor" karena parasit bermigrasi ke
jaringan (Dorny et al. 2009). Menurut Soeharsono (2005), gejala klinis yang mencolok
adalah kegatalan (pruritis) kadang-kadang disertai urticaria. Temuan klinis sparganosis
adalah munculnya nodul migrasi subkutaneus pada dinding abdominal, skrotum, alat
gerak bagian bawah, dinding rongga dada, payudara dan otak dimana parasit
menyebabkan hilang kesadaran, sakit kepala dan paraplegia. Cerebral dan breast
sparganosis telah dilaporkan sebelumnya, tetapi hanya beberapa kasus kejadian
sparganosis subkutan dan intramuskular yang dilaporkan (Park et al. 2009).
Neurosparganosis (NSP) memiliki manifestasi klinis yang tergantung pada daerah
yang terinfeksi. Hilangnya kesadaran, hemiparesis dan sakit kepala merupakan gejala
yang umum. Sekitar 84% dari seluruh pasien dengan NSP mengalami sejarah panjang
hilang kesadaran. Durasi gejala bervariasi, berkisar antara 2 minggu hingga 24 tahun
dengan rata-rata 36 bulan. Kebanyakan pasien menunjukkan konvulsi umum, diikuti
kelemahan motorik alat gerak. Manifestasi klinis jangka panjang cenderung berkaitan
dengan disfungsi kognitif umum dan perubahan degeneratif umum pada substansi alba,
menunjukkan penyakit inflamatorik progresif kronis. Neurospraganosis dan kebengkakan
subkutaneus jarang muncul secara simultan, yang kemungkinan berhubungan dengan
pengamatan bahwa manusia biasanya terinfeksi hanya oleh satu atau sedikit spargana.
Gejala bergantung pada lokasi lesi; gambaran klinis khas adalah nyeri punggung diikuti
dengan kelemahan progresif anggota tubuh bagian bawah. Pada stadium awal, pasien
dapat mengalami demam ringan berulang selama beberapa bulan. Inkontinensia biasa
terjadi pada sparganosis spinal. Pada stadium berikutnya, pasien menderita degenerasi
atau kehilangan sensasi seperti nyeri dan suhu pada daerah yang terkena (Lv et al. 2010).

DAFTAR PUSTAKA

Sarwitri, E.E. 2009.” Taeniasis Dan Sistiserkosis Merupakan Penyakit Zoonosis


Parasiter”. Dalam Jurnal Kesehatan. 22 Mei 2009. Bogor. Hal 4.

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3027985/

medpub.litbang.pertanian.go.id/index.php/wartazoa/article/download/808/817
http://directory.umm.ac.id/Data%20Elmu/pdf/minggu_15_PENYAKIT_PARASIT_PADA_RU
MINANSIA_baru.pdf

https://www.scribd.com/document/397309804/Paragonimiasis

Sumber : https://medlab.id/paragonimus-westermani/

http://wiki.isikhnas.com/images/a/a4/Penyakit_FASCIOLOSIS.pdf

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5765697/

https://medlab.id/diphyllobothrium-latum/ Craig, C.F., et al. 1970. Craig and Faust’s Clinical


Parasitology. Michigan : Lea & Febiger

DAPUS

ynne S, Garcia, dkk. 1996. Diagnostik Parasitologi Kedokteran. Jakarta: EGC

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/63039/Chapter%20II.pdf;sequence
=4

Zheng, Yadong. 2012. The definition of Echinococcus multilocularis differentially expressed


molecules using deep sequencing [Thesis]. China: University of Nottingham