Anda di halaman 1dari 24

B71 Other cestode infections

B71.0 Hymenolepiasis
A. Definisi :

Hymenolepiasis adalah parasit cacing cestoda yang umumnya ada di tubuh manusia.
Infeksi lebih sering terjadi pada anak-anak. (Jurnal Biotek Medisiana Indonesia, 2014)

B. Etiologi :

Penyebab hymenolepiasis adalah Hymenolepis nana yang disebut juga cacing pita
kerdil berada dalam saluran pencernaan tikus dan manusia. (Jurnal Biotek Medisiana
Indonesia, 2014)

C. Patofisiologi :

Infeksi terjadi diawali dengan tertelannya telur H. nana yang ada di kotoran manusia
atau hewan (tikus) yang mencemari makanan atau air minum. Penularan secara langsung terjadi
melalui jari yang tercemar telur cacing (auto infeksi atau dari orang ke orang). Dapat juga
terjadi dikarenakan manusia menelan serangga yaitu berbagai jenis kumbang seperti kumbang
beras (Sitophilus oryzae) atau kumbang tepung (Gnatocerus cornutus) yang mengandung
cysticercoid di tubuh kumbang. Telur yang berada di dalam usus berkembang menjadi larva
cysticercoid, menempel pada mukosa usus halus, dan berkembang menjadi cacing dewasa dan
selanjutnya akan bereproduksi menghasilkan telur. Lama hidup cacing dewasa di dalam tubuh
1— 1,5 bulan. Di dalam tubuh pun bisa juga terjadi auto infeksi. Telur melepaskan embrio
hexacanth, menembus villi usus untuk melanjutkan siklus infektif tanpa melalui lingkungan
luar tubuh. Jika terjadi outo infeksi kemungkinan dapat berlangsung sampai bertahun-tahun.
(Jurnal Biotek Medisiana Indonesia, 2014)

D. Penatalaksanaan :

Diagnosis hymenolepiasis ditegakkan dengan pemeriksaan tinja guna mendapatkan


telur cacing. Obat yang diberikan adalah niklosamide atau praziquantel. (Jurnal Biotek
Medisiana Indonesia, 2014)

B71.1 Dipylidiasis
A. Definisi :
Dipylidium caninum ,juga disebut cacing pita atau double-pore dog tapew
organismeorm adalah cestoda yang menginfeksi anjing,kucing, dan pemilik hewan
peliharaan. (Inka Pradina, 2018) (EPIDEMIOLOGI_Pulex_Irritans Pinjal Manusia.pdf)
B. Etiologi :
Penyebab yang paling mungkin dari pola infeksi adalah kedekatan dan durasi bermain
antara anak-anak dan anjing atau hewan peliharaan kucing . Perilaku yang khususnya
menguntungkan dari sudut pandang cacing pita pandang adalah mulut ke mulut kontak antara
manusia dan hewan , karena pinjal baru menggigit masih bisa berada di mulut hewan
peliharaan dan kemudian diteruskan ke manusia . (Inka Pradina, 2018)
(EPIDEMIOLOGI_Pulex_Irritans Pinjal Manusia.pdf)
C. Patofisiologi :

Proglottids gravid dilewatkan utuh dalam tinja atau muncul dari daerah perianal dari
hospes. Selanjutnya mereka menjadi paket telur khas. Setelah menelan telur oleh antara host (
tahap larva dari anjing atau kucing), Sebuah oncosphere dilepaskan ke usus pinjal itu .
Vertebrata inang terinfeksi dengan menelan pinjal dewasa yang mengandung cysticercoid
tersebut .Anjing adalah hospes definitif utama untuk Dipylidium caninum . Host potensial
lainnya termasuk kucing , rubah , dan manusia ( kebanyakan anak-anak ). Manusia
mendapatkan infeksi dengan menelan pinjal yang terkontaminasi cysticercoid. (Inka
Pradina, 2018) (EPIDEMIOLOGI_Pulex_Irritans Pinjal Manusia.pdf)

Penatalaksanaan : Anthelmintik yang dapat digunakan untuk dipylidiasis adalah praziquantel.


(Inka Pradina, 2018) (EPIDEMIOLOGI_Pulex_Irritans Pinjal Manusia.pdf)

B71.8 Other specified cestode infections (Coenurosis)


A. Definisi :
Human coenurosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh coenuri (metacestoda)
dari Taenia multiceps, T. serialis, T. brauni dan T. Glomerat. (Aldi, dkk, 2018)
B. Etiologi :

Coenurosis disebabkan oleh infestasi dari keberadaan coenuri (metacestoda). Taenia


multiceps merupakan satu-satunya spesies yang menginfeksi manusia dan menyebabkan
infeksi sistem saraf pusat. (Aldi, dkk, 2018)

C. Patofisiologi :
Anjing dan domba merupakan hospes definitif parasit ini dan manusia sebagai hospes
intermediet. Terdapatnya parasit ini dalam tubuh manusia merupakan hasil dari telur yang
tidak sengaja tertelan, serta dari air dan makanan yang terkontaminasi. Setelah tertelan,
telur tersebut menetas, masuk ke jaringan subkutan, mata atau otak lalu coenuri akan
berkembang sekitar 90 hari. Manifestasi dari human coenurosis seperti pusing, gangguan
kepribadian, penurunan berat badan, kaku kuduk, dan hipertensi intrakranial. (Aldi, dkk,
2018)
D. Penatalaksanaan : Penatalaksanaan yang paling efektif untuk human coenurosis adalah
pembedahan. Sedangkan secara farmakologi, paraziquantel dan albendazole sangat efektif
untuk terapi namun masih diperdebatkan karena data yang didapatkan masih sedikit. (Aldi,
dkk, 2018)

B71.9 Cestode infection, unspecified


A. DEFINISI

Cacing dalam kelas Cestoidea disebut juga cacing pita karena bentuk tubuhnya yang
panjang dan pipih menyerupai pita. Cacing ini tidak mempunyai saluran pencernaan ataupun
pembuluh darah. Tubuhnya memanjang terbagi atas segmen – segmen yang disebut proglotida
dan segmen ini bila sudah dewasa berisi alat reproduksi jantan dan betina (Sri Agung, 2010).

Dalam penularannya kepada manusia, ada yang memerlukan intermediate host


(perantara), namun ada juga yang dapat menulari manusia tanpa perantara, contoh:
Hymenolepis nana (Sri Agung, 2010).

B. ETIOLOGI

Spesies penting yang dapat menimbulkan kelainan pada manusia umumnya adalah :
Diphyllobotrhium latum, Hymenolepis nana, Echinococcus granulosus, E.multilocularis,
Taenia saginata dan Taenia solium (Srisasi dkk,2000). Manusia merupakan hospes Cestoda ini
dalam bentuk :

1. Cacing dewasa untuk spesies D.latum, T.saginata,H.nana, H.diminuta, Dipylidium


caninum.
2. Larva, untuk spesies Diphyllobotrhium sp, T.solium, H.nana, E. granulosus,
Multiceps(Srisasi dkk, 2000).

Infeksi terjadi dengan menelan larva bentuk infektif atau menelan telur. Pada Cestoda
dikenal dua ordo :

1. Pseudophyllidea, dan
2. Cyclopyllidea.
C. PATOFISIOLOGI

Kasus penyakit banyak dilaporkan di daerah yang orangnya suka mengkonsumsi ikan
mentah. Kebanyakan kasus penyakit tidak memperlihatkan gejala yang nyata. Gejala umum
yang sering ditemukan adalah gangguan sakit perut, diare, nausea dan kelemahan. Pada kasus
infeksi yang berat dapat menyebabkan anemia megaloblastic. Gejala ini sering dilaporkan pada
penduduk di Finlandia. Di Negara ini hamper seperempat dari populasi penduduk terinfeksi
oleh Diphyllobotrium latum dan sekitar 1000 orang menderita anemia, tetapi setelah pasien
menderita defisiensi vitamin B12. Seorang peneliti melaporkan bahwa pasien yang diberi
single dosis vit.B12 40% yang dilabel dengan cobalt, ternyata diabsorpsi oleh Diphyllobotrium
latum sekitar 80-100% dari vit. B12 yang diberikan. Gejala yang jelas terlihat adalah terjadiya
pernicosa (anemia yang disebabkan oleh gangguan absorpsi vitamin B12 dalam usus) (Sri
Agung, 2010).

D. DIAGNOSIS DAN PENGOBATAN

Dengan menemukan telur cacing atau progotida didalam feses, diagnosis dinyatakan
positif. Obat yang diberikan ialah (Sri Agung, 2010) :

 Aspidium oleoresin
 Mepacrim
 Diclorophen
 Extract biji labu (Curcubita spp)
 Niclosamide (Yomesan) : pilihan obat yang diberikan dewasa ini, mekanismenya
adalah : menghambat reaksi pertukaran fosfat inorganic – ATP, reaksi ini berhubungan
dengan transport electron secara anaerobic yang dilakukan oleh cacing.

B72 Dracunculiasis
A. DEFINISI

Dracunculiasis, juga dikenal dengan nama penyakit cacing guinea atau guinea worm
disease (GWD), adalah infeksi yang disebabkan oleh cacing guinea.[1] Seseorang dapat
terinfeksi setelah meminum air yang mengandung kutu air yang terinfeksi oleh cacing guinea
larva (WHO, 2014).
https://www.who.int/en/news-room/fact-sheets/detail/dracunculiasis-(guinea-worm-disease)
(diakses tanggal 23 Mei 2019).

B. ETIOLOGI

Manusia adalah satu-satunya hewan yang diketahui terinfeksi oleh cacing guinea. Cacing
ini memiliki lebar sekitar satu hingga dua milimeter dan betina dewasa dapat mencapai panjang
60 hingga 100 sentimeter (jantan jauh lebih pendek). Di luar tubuh manusia, telur cacing dapat
bertahan hingga tiga minggu. Telur harus dimakan oleh kutu air sebelumnya. Larva di dalam
tubuh kutu air dapat bertahan hingga empat bulan. Jika penyakit terjadi pada manusia setiap
tahun, maka penyakit ini akan bertahan di daerah tersebut. Diagnosa penyakit ini umumnya
dibuat berdasarkan pertanda dan gejala penyakit (Greenaway, 2004).

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC332717/ (diakses tanggal 23 Mei 2019)

C. PATOFISIOLOGI

Pada awalnya tidak timbul gejala apa pun. Sekitar satu tahun kemudian, penderita
merasakan rasa terbakar yang menyakitkan saat cacing betina membentuk luka lepuh di bawah
permukaan kulit, biasanya di tubuh bagian bawah. Kemudian cacing keluar dari dalam kulit
setelah beberapa minggu. Saat itu terjadi, penderita mengalami kesulitan untuk berjalan dan
bekerja. Penyakit ini pada umumnya tidak menyebabkan kematian (WHO, 2014).

https://www.who.int/en/news-room/fact-sheets/detail/dracunculiasis-(guinea-worm-disease)
(diakses tanggal 23 Mei 2019).

D. PENATALAKSANAAN/ PENCEGAHAN

Pencegahan dilakukan dengan diagnosa awal dari penyakit dan kemudian mencegah
penderita mencelupkan luka ke dalam sumber air minum (WHO, 2014). Usaha lain termasuk:
meningkatkan akses ke air bersih dan menyaring air jika diketahui air tidak bersih (WHO,
2014). Menyaring air dengan kain pada umumnya sudah cukup(Cairncross, dkk. 2012). Air
minum yang terkontaminasi dapat disterilkan dengan zat kimia yang bernama temefos untuk
membunuh larva. Tidak ada pengobatan atau vaksin untuk melawan penyakit ini (WHO, 2014).
Cacing dapat dikeluarkan perlahan-lahan selama beberapa minggu dengan menggulungnya di
batang kayu. Tukak yang terbentuk oleh keluarnya cacing dapat terinfeksi oleh bakteri. Rasa
sakit biasanya terus terasa hingga berbulan-bulan sejak cacing dikeluarkan (Greenaway, 2004).
B73 Onchocerciasis
A. DEFINISI

Onchocerciasis adalah penyakit mata dan kulit yang disebabkan oleh cacing (filaria) yang
dikenal secara ilmiah sebagai Onchocerca volvulus. Ini ditularkan ke manusia melalui gigitan
lalat hitam (spesies simulium). Lalat-lalat ini berkembang biak di aliran dan sungai yang
mengalir deras, meningkatkan risiko kebutaan bagi individu yang tinggal di dekatnya,
karenanya dikenal sebagai "kebutaan sungai". Di dalam tubuh manusia, cacing betina dewasa
(macrofilaria) menghasilkan ribuan cacing bayi atau larva (mikrofilaria) yang bermigrasi di
kulit dan mata (WHO, 2014).

B. ETIOLOGI

Penyakit ini disebabkan oleh lalat hitam. Lalat hitam membawa cacing Onchocerca
Volvulus. Lalat hitam biasanya berkembangbiak di sungai dan menyebarkan infeksi ke orang-
orang yang tinggal di dekat aliran sungai. Sekali saja cacing ini masuk dalam tubuh manusia,
bisa menghasilkan ribuan larva dan kemudian akan menyebar ke mata dan menyebabkan
infeksi kulit (Halwa, 2018).

Onchorcerciasis adalah suatu infeksi menahun pada jaringan subkutan, kulit dan mata.
Kelainan ini disebabkan oleh filaria dan mikrofilaria. Terdapat benjolan berukuran 5 – 25 mm
yang dapat timbul pada seluruh bagian tubuh, terutama di dekat persendian tulang panjang yang
di dalamnya terdapat cacing dewasa (Halwa, 2018).

C. PATOFISIOLOGI

Onchorcerciasis menyebar melalui gigitan lalat hitam betina yang berkembang biak di
sungai yang beraliran cepat. Siklus infeksi dimulai ketika lalat hitam menggigit manusia yang
sudah terinfeksi. Infeksi yang ditularkan berupa prelarva pada cacing atau disebut Microfilarie,
kemudian berkembang menjadi larva pada tubuh lalat. Larva yang dibawa oleh lalat akan
masuk kedalam kulit dan bergerak dibawah kulit, dalam kurun waktu 12-18 bulan, larva akan
berubah menjadi cacing dewasa (Halwa, 2018).

Hadirnya mikrofilaria didaerah kulit menyebabkan dermatitis yang berat yang


menyebabkan reaksi alergik dan efek toksik disebabkan matinya cacing muda. Gejala pertama
adalah gatal-gatal yang menyebabkan luka dan terinfeksi oleh bakteri (infeksi sekunder).
Kemudian diikuti dispigmentasi kulit lokal atau lebih luas, kemudian diikuti penebalan kulit
dan kulit menjadi pecah-pecah (Halwa, 2018).

Mikrofilaria ini juga dapat memasukkan mata dengan melewati sepanjang selubung
pembuluh ciliary dan saraf dari bawah konjungtiva bulbar langsung ke kornea, melalui
pembuluh nutrisi ke saraf optik, dan melalui posterior perforasi pembuluh ciliary ke
koroid(Halwa, 2018).

D. PENATALAKSANAAN

Belum ada vaksinasi untuk melawan penyakit ini. Pencegahan dilakukan dengan cara
mencegah gigitan lalat, yang bisa dilakukan dengan menggunakan penolak serangga dan
pakaian yang memadai (Content for Disease Control and Prevention, 2013). Upaya lainnya
antara lain berusaha menekan populasi lalat dengan cara menyemprotkan insektisida. Upaya
untuk membasmi penyakit dengan cara mengobati keseluruhan kelompok penderita dua kali
setahun sedang dilakukan secara berkelanjutan di sejumlah wilayah di seluruh dunia (WHO,
2014). Pengobatan bagi mereka yang terinfeksi penyakit ini adalah dengan memberi obat
ivermectin setiap enam atau dua belas bulan sekali (Murray, 2013). Pengobatan ini bisa
membunuh larva namun tidak efektif untuk cacing dewasa. Obat doksisiklin, yang membunuh
bakteri terkait yang disebut sebagai Wolbachia, tampaknya bisa melemahkan cacing dan juga
direkomendasikan oleh beberapa orang (Brunette, 2011). Benjolan di bawah kulit juga bisa
diangkat melalui pembedahan.

B74 Filariasis
B74.0 Filariasis due to Wuchereria bancrofti
A. DEFINISI
Wuchereria bancrofti adalah salah satu nematoda jaringan yang merupakan salah
satu parasit manusia yang menyebabkan penyakit filariasis limfatik (kaki gajah).
Penyebaran cacing ini kosmopolit terutama di daerah tropis dan sub tropis. Insidensi
tinggi terjadi di daerah sekitar pantai dan kota besar, karena hal ini berhubungan dengan
kebiasaan intermediate host / hospes perantara (nyamuk). Wuchereria
bancrofti mempunyai nama lain Filaria bancrofti, Filaria sanguinis hominis, Filaria
sanguinis, Filaria nocturna, dan Filaria pasifica.

B. ETIOLOGI

Filariasis disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang hidup di saluran dan kelenjar getah
bening. Anak cacing yang disebut mikrofilaria, hidup dalam darah. Mikrofilaria
ditemukan dalam darah tepi pada malam hari. Filariasis di Indonesia disebabkan oleh
tiga spesies cacing filaria yaitu:
1. Wuchereria bancrofti
2. Brugia malayi
3. Brugia timori

C. PATOFISIOLOGI
Mikrofilaria masuk ke dalam tubuh manusia dengan melalui gigitan nyamuk (dari
genus Mansonia, Culex, Aedes, dan Anopheles). Mikrofilaria masuk ke dalam saluran
limfa dan menjadi dewasa → cacing jantan dan betina melakukan kopulasi → cacing
gravid mengeluarkan larva mikrofilaria → mikrofilaria hidup di pembuluh darah dan
pembuluh limfa → mikrofilaria masuk ke dalam tubuh nyamuk saat nyamuk
menghisap darah manusia → mikrofilaria berkembang menjadi larva stadium 1 →
larva stadium 2 → larva stadium 3 dan siap ditularkan.

B74.1 Filariasis due to Brugia malayi


A. DEFINISI
Brugia malayi adalah salah satu nematoda jaringan yang merupakan salah satu dari tiga
parasit manusia yang menyebabkan penyakit filariasis limfatik (kaki gajah). Cacing ini
pertama kali ditemukan di Sulawesi oleh Brug sehingga disebut Brugia. Brugia malayi
disebut juga dengan Filaria malayi, dan Wuchereria malayi.
B. ETIOLOGI

Filariasis disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang hidup di saluran dan kelenjar getah
bening. Anak cacing yang disebut mikrofilaria, hidup dalam darah. Mikrofilaria
ditemukan dalam darah tepi pada malam hari. Filariasis di Indonesia disebabkan oleh
tiga spesies cacing filaria yaitu:
1. Wuchereria bancrofti
2. Brugia malayi
3. Brugia timori

C. PATOFISIOLOGI
Siklus hidup parasit ini sama dengan siklus hidup Wuchereria bancrofti. Mikrofilaria
masuk ke dalam tubuh manusia dengan melalui gigitan nyamuk (dari genus Mansonia,
Culex, Aedes, dan Anopheles). Mikrofilaria masuk ke dalam saluran limfa dan menjadi
dewasa → cacing jantan dan betina melakukan kopulasi → cacing gravid
mengeluarkan larva mikrofilaria → mikrofilaria hidup di pembuluh darah dan
pembuluh limfa → mikrofilaria masuk ke dalam tubuh nyamuk saat nyamuk
menghisap darah manusia → mikrofilaria berkembang menjadi larva stadium 1 →
larva stadium 2 → larva stadium 3 dan siap ditularkan.

B74.2 Filariasis due to Brugia timori


A. DEFINISI

Di indonesia B.timori pertama kali dikenalkan oleh Oemiyati dan Tjoen pada tahun 1966,
sampai sekarang hanya ditemukan di daerah NTI dan Timor Timur. B.timori bersifat
periodik noktuma.
B. ETIOLOGI

Filariasis disebabkan oleh infeksi cacing filaria Brugia timori yang hidup di saluran dan
kelenjar getah bening.

C. PATOFISIOLOGI

Siklus hidup dan morfologi Siklus hidup B. timori hampir sama dengan B. malayi,
yang membedakan hanya morfologinya. Panjang cacing betina mencapai 21-39 mm
diameter 0,1 mm dengan ekor lurus, semenatra cacing jantan panjang 22-23 mm diameter
0,09 mm dengan ekor melingkar. Cacing betina akan mengeluarkan mikrofilaria yang
ukurannya mencapai 280-310 mikron dengan diameter 7 mikron. Mikrofilaria B. timori
mempunyai sarung yanq berwama pucat, lekuk badan kaku, panjang ruang kepala tiga
kali lebamya, badannya mempunyai inti yang letaknya tidak beraturan dengan ekor ada 2
inti tambahan seperti yang terlihat pad a B.malay

Kemudian, larva ini bertukar kulit, tumbuh menjadi lebih gemuk dan panjang, disebut
larva stadium II. Larva ini akan bertukar kulit sekali lagi, tumbuh semakin panjang dan
lebih kurus, disebut larva stadium III. Gerak larva stadium III sangat aktif. Larva ini akan
bermigrasi dari rongga abdomen ke kepala dan alat tusuk nyamuk. Bila nyamuk yang
mengandung larva stadium III menggigit manusia, maka larva secara aktif masuk melalui
luka tusuk ke dalam tubuh hospes dan bersarang di saluran limfe setempat. Di dalam tubuh
manusia, B. timori mengalami pertumbuhan selama kurang lebih 3 bulan. Di dalam tubuh
hospes, larva mengalami dua kali pergantian kulit, tumbuh menjadi larva stadium IV,
stadium V atau cacing dewasa yang menyebabkan terjadinya limfedema

Peradangan pada saluran limfe ini dapat menjalar ke daerah sekitarnya dan
menimbulkan infiltrasi pada seluruh paha atas. Pada stadium ini tungkai bawah biasanya
ikut membengkak dan menimbulkan gejala limfedema. Limfadenitis dapat pula
berkembang menjadi bisul, pecah menjadi ulkus. Ulkus pada pangkal paha ini, bila sembuh
meninggalkan bekas sebagai jaringan parut dan tanda ini merupakan salah satu gejala
obyektif filariasis limfatik. Selain itu pembesaran kelenjar limfe ini dapat juga dilihat
sebagai tali yang memanjang yang merupakan salah satu tanda lain yang penting untuk
filariasis timori.

Limfedema biasanya hilang lagi setelah gejala peradangan menyembuh, tetapi dengan
serangan berulang kali, lambat laun pembengkakan tungkai tidak menghilang pada saat
gejala peradangan sudah sembuh. Pada infeksi ini, tungkai yang mengalami pembengkakan
kronik tersebut akan menderita fibrosis subkutaneus yang keras dan epithelial
hyperkeratosis yang disebut elefantiasis.

B74.3 Loiasis
A. DEFINISI
Loiasis adalah penyakit infeksi parasit pada kulit dan mata yang disebabkan oleh cacing
Loa loa yang ditransmisikan oleh vektor lalat dari genus Chrysops, yang dikenal juga
sebagai lalat mangga (Chrysops dimidiata) dan lalat rusa (Chrysops silacea). Loa loa
juga dikenal sebagai cacing mata Afrika karena manifestasi klinis spesifik infeksinya
adalah migrasi cacing dewasa ini di bawah konjungtiva mata dari individu yang terkena.
Lalat vektor parasit menggigit di siang hari dan gigitannya dikenal sangat menyakitkan
karena lalat ini harus merobek kulit untuk meminum darah. Panjang lalat ini berkisar
antara 5 – 20 milimeter
B. ETIOLOGI
Loiasis adalah penyakit infeksi parasit pada kulit dan mata yang disebabkan
oleh cacing Loa loa yang ditransmisikan oleh vektor lalat dari genus Chrysops, yang
dikenal juga sebagai lalat mangga (Chrysops dimidiata) dan lalat rusa (Chrysops
silacea)
C. PATOFISIOLOGI
Daur hidup cacing ini terbagi dua yaitu pada vektor lalat dan pada hospes
definitif berupa manusia. Mikrofilaria L. Loa diingesti Chrysop betina saat menghisap
darah dari manusia yang terinfeksi. Mikrofilaria ini kemudian menembus membran
peritrofik dan dinding saluran cerna untuk mencapai hemokel lalat tersebut, terutama
pada jaringan lemak di perut. Fagositosis mikrofilaria oleh sel lemak kemudian terjadi
dan berujung pada terbentuknya sinsitia filarial dimana terjadi metamorfosis dari
mikrofilaria menjadi larva yang infektif. Setelah 10 hari, larva itu kemudian
meninggalkan sel lemak dan bermigrasi ke dada dan kemudian ke kepala lalat tersebut.
Saat lalat itu menggigit lagi, larva kemudian ikut terlepas dan masuk ke jaringan
subkutan lewat laserasi epidermis dan dermis yang dibuat lalat vektor. Larva ini
kemudian berganti kulit dua kali dalam jangka waktu 2 sampai 3 bulan untuk kemudian
mencapai bentuk dewasa.
Cacing dewasa ini kemudian berjalan di bawah kulit ke arah jaringan ikat yang
lebih dalam atau ke arah konjungtiva mata. Cacing betina kemudian mengeluarkan
mikrofilaria yang akan beredar dalam darah pada siang hari (diurna). Pada malam hari
mikrofilaria tersebut berada dalam pembuluh darah paru. Jika lalat lain menggigit pada
siang hari, maka mikrofilaria yang beredar di darah akan kembali terhisap oleh lalat
dan siklusnya pun berlanjut. Cacing dewasa dapat ditemukan di seluruh tubuh dan
seringkali menimbulkan gangguan bila melewati konjungtiva mata berupa iritasi pada
mata, mata sembab, sakit mata, dan pelupuk mata menjadi bengkak sehingga
mengganggu penglihatan

B74.4 Mansonelliasis
A. DEFINISI

Mansonelliasis disebabkan oleh salah satu dari tiga spesies parasit filaria dari genus
Mansonella: Mansonella ozzardi, M. perstans, atau M. streptocerca. Mansonelliasis yang
disebabkan oleh M. streptocerca diperkirakan terbatas pada daerah hutan hujan
khatulistiwa di Afrika Barat dan Tengah. Parasit Mansonella perstans yang tersebar luas
diperkirakan menginfeksi sekitar 114 juta orang di benua Afrika saja dan juga terjadi di
bagian-bagian tertentu di Amerika Selatan. Mansonella ozzardi, bagaimanapun, adalah
penyebab utama mansonelliasis di Dunia Baru dan satu-satunya penyebab yang diketahui
di Amerika Tengah dan Karibia. Infeksi Mansonelliasis biasanya didiagnosis dengan
identifikasi mikrofilaria, yang dapat ditemukan dalam darah (setiap saat sepanjang hari)
dari mereka yang terinfeksi M. perstans dan M. ozzardi dan pada kulit mereka yang
terinfeksi M. streptocerca. Tiga parasit dapat dibedakan dari satu sama lain dan mikrofilaria
dari parasit filaria lainnya dengan fitur morfologis atau dengan PCR. Saat ini, tidak ada set
gejala yang disepakati secara universal untuk diagnosis klinis mansonelliasis atau pedoman
untuk pengobatannya. Infeksi sering dianggap sebagai sebagian besar atau sepenuhnya
tanpa gejala dan dengan demikian ada beberapa penelitian yang menyelidiki
pengobatannya.
B. ETIOLOGI

Mansonelliasis disebabkan oleh salah satu dari tiga spesies parasit filaria dari genus
Mansonella: Mansonella ozzardi, M. perstans, atau M. streptocerca.
C. PATOFISIOLOGI

Infeksi Mansonelliasis telah dianggap sebagai filariasis minor, asimptomatik pada


sebagian besar subyek yang terinfeksi. Larva berkembang dalam subjek dan bermigrasi ke
daerah masing-masing di rongga kulit atau tubuh. Sangat mungkin bahwa selain
disebabkan oleh cacing itu sendiri, beberapa perubahan patologis yang diamati disebabkan
oleh respon imun terhadap infeksi yang mengarah ke beberapa gejala yang disebutkan di
atas. Namun, Mansonelliasis sedikit dipelajari dibandingkan dengan bentuk lain dari
filariasis sehingga tidak banyak informasi yang diketahui mengenai patogenesis
spesifiknya.
B74.8 Other filariases
Dirofilariasis
A. DEFINISI
Dirofilaria immitis (D. immitis) yang dikenal sebagai cacing jantung, adalah penyebab
penyakit parasit yang serius pada anjing, hidup pada ventrikel kanan dan arteri
pulmonalis (Aranda et al., 1998; Cringoli et al., 2001; Atkins, 2005). Spesies hewan
yang dapat terinfeksi D. immitis selain anjing adalah kucing, serigala, rubah, coyote,
ferret, tikus air, singa laut, coatimundi (Atkins, 2005), dan orangutan (Duran-Struuck
et al., 2005).
Dirofilaria immitis sebagai agen penyebab penyakit cacing jantung tidak hanya
menimbulkan masalah pada hewan tetapi juga bersifat zoonosis (Cruz-Chan, et al.,
2009; Genchi, et al., 2009; Alia et al., 2013). Kasus pertama pada manusia dilaporkan
pada tahun 1887 (Labarthe dan Guerrero, 2005).

B. ETIOLOGI
Ini adalah penyakit parasit zoonosis terutama terletak di daerah beriklim sedang, tropis,
dan subtropis di dunia (Leidy, 1856). Parasit ini biasanya menginfeksi anjing, namun
dilaporkan juga pernah menyerang kucing, hewan liar, dan manusia. Pada manusia,
infeksi ditandai dengan adanya nodul paru (yang disebut "lesi koin") dan tidak ada
gejala yang jelas (Maiw & Ramos, 2013).
Penularan terjadi melalui vektor nyamuk, yang merupakan vektor paling
penting yang termasuk dalam genera Culex, Aedes dan Anopheles. Secara singkat,
tahap pertama larva (L1) dihisap oleh nyamuk betina penghisap darah dan berkembang
sampai ke larva akhir infektif (L3) dalam waktu sekitar 14 hari. Cuaca merupakan
faktor penting karena persyaratan iklim (kelembaban relatif tinggi, dan suhu rata-rata
15 C yang lebih tinggi) dari host perantara. (A.L Vieira, 2014).
Infeksi cacing jantung adalah penyakit yang parah dan mengancam jiwa.
Respon patofisiologis terhadap infeksi cacing terutama disebabkan oleh adanya cacing
dewasa Dirofilaria di arteri pulmonalis dan ventrikel kanan jantung. Jumlah cacing,
respon imun inang, durasi infeksi, dan tingkat latihan host menentukan tingkat
keparahan patologi kardiopulmoner. Selanjutnya, hubungan simbiosis dengan bakteri
dari genus Wolbachia (Rickett-siaceae) merangsang respons inflamasi dari sistem
kekebalan tubuh inang, memperkuat tingkat keparahan penyakit (A.L Vieira, 2014).

C. PATOFISIOLOGI
Infeksi D. immitis ditandai oleh beberapa gambaran klinis yang disebabkan oleh cacing
dewasa dan mikrofilaria (L1). Mikrofilaria mimiliki peran yang relatif kecil dalam
patogenik, tetapi dapat menyebabkan pneumonitis dan glomerulonefritis yang
signifikan secara klinik (Grandi, et al., 2007). Cacing jantung dewasa hidup pada arteri
pulmonalis, dan pada jumlah yang lebih sedikit pada infeksi berat juga hidup pada
atrium kanan.
Aspek klinis utama yang ditimbulkan merupakan manifestasi kerusakan pada
arteri pulmonalis (Atkins, 2005; Grandi, et al., 2007). Kebanyakan anjing yang
terinfeksi tidak memperlihatkan gejala penyakit untuk jangka waktu lama, bulan atau
tahun, tergantung pada jumlah cacing, interaksi inang-parasit, dan latihan yang diterima
oleh anjing (Atkins, 2005; Venco, 2007). Efek utama pada arteri pulmonalis berupa
inflamasi, hipertensi pulmoner, gangguan keutuhan pembuluh arteri, dan fibrosis. Hal
tersebut dapat diperparah oleh obstruksi arteri dan vasokonstriksi yang disebabkan oleh
tromboemboli karena cacing yang telah mati dan produknya. Pembuluh darah pada
lobus paru-paru bagian kaudal juga terkena imbasnya. Substansi vasoaktif yang
dihasilkan oleh cacing jantung mengakibatkan vasokontriksi pulmoner. Ventrikel
kanan mendapat tekanan yang berlebihan karena adanya beban tambahan berupa
cacing. Hipertrofi merupakan kompensasi pertama yang terjadi, dan pada infeksi yang
parah akhirnya akan terjadi dekompensasi (gagal jantung kanan) (Atkins, 2005).
Cacing jantung juga dapat menimbulkan penyakit karena penyimpangan
migrasi. Penyimpangan migrasi tersebut mengakibatkan timbulnya manifestasi klinis
yang tidak normal karena cacing dapat ditemukan di otak, sumsum tulang belakang,
ruang epidural, ruang mata bagian anterior, dan rongga peritoneal (Oh, et al., 2008),
aorta, hati (Goggin, et al., 1997), cairan sinovial (Hodges dan Rishniw, 2008), dan
kadang-kadang ditemukan pada vena cava (Yildiz, et al., 2008).
B74.9 Filariasis, unspecified

B75 Trichinellosis
1. DEFINISI
Trichinella spiralis merupakan salah satu jenis usus menjadi dewasa. nematoda/cacing
gilig. Cacing ini tersebar di seluruh cacing dunia (kosmopolit), terutama daerah
beriklim sedang. Trichinella spiralis menyebabkan penyakit yang disebut trichinosis,
trikinelosis, dan trikiniasis(2).

2. ETIOLOGI
Trichinella spiralis
3. PATOFISIOLOGI
Infeksi pada manusia dimulai dengan memakan daging babi, beruang, singa laut
(walrus) atau daging mamalia lainnya (karnivora dan omnivora), baik yang mentah atau
dimasak secara tidak sempurna. Daging tersebut mengandung kista berisi larva infektif
yang masih hidup Setelah kista masuk ke dalam lambung, terjadi ekskistasi dan larva
yang keluar kemudian masuk kedalam mukosa usus menjadi dewasa. Pada hari keenam
setelah infeksi, cacing betina mulai mengeluarkan larva motil. Pengeluaran larva
ini berlangsung terus hingga sekitar 4 minggu(3). Jumlah larva yang dihasilkan dapat
mencapai 1350 - 1500 ekor. Larva-larva ini kemudian bergerak ke pembuluh darah,
mengikuti aliran darah dan limfe menuju jantung dan paru-paru, akhirnya
menembus otot(1). Otot-otot yang sangat aktif akan terinvasi, termasuk diafragma,
otot laring, rahang, leher dan tulang termasuk diafragma, otot laring, rahang, leher dan
tulang rusuk, biceps, gastronemius, dan lain-lain(3).

B76 Hookworm diseases


Penyakit Cacing tambang adalah peyakit yang disebabkan karena infeksi cacing tambang, hal
ini dijelaskan pada bagian kode karakter ke 4.

B76.0 Ancylostomiasis
A. Definisi
Ancylostomiasis merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing
tambang. (Sehatman, 2006)
B. Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh cacing Ancylostoma Duodenale. Penyakit ini termasuk
kelas Nematoda dan tergolong dalam filum Nemathelmintesa.(Loukas A dan Prociv P,
2001)
C. Gejala
Perut seperti kembung dan diare.
D. Cara Penularan
Pria lebih banyak terinfeksidaripada perempuan. Infeksi cacing tersebut diidentifikasi
yakni Cacing tambang(86,36%), Strongyloides stercoralis
(6,29%), Ascaris lumbricoides (2,79%), Trichuris trichiura , (1,04%), Enterobius
(1,04%) dan Hymenolepis (2.44%).
Infeksi akibat cacing tambang di daerah ini menyoroti fasilitas sanitasi yang buruk dan
faktor lingkungan seperti buang air besar diudara terbuka yang menghasilkan
kontaminasi tanah dengan cacing telur. Telur ini akan matang dalam tanah yang lembab
dan menjadi infektif bagi manusia. Tidak menggunakan alas kaki selama kegiatan
sehari-hari memungkinkan hal tersebut menjadi faktor penyebab terinfeksi cacing
tambang. (Sehatman, 2006)

Beberapa spesies cacing tambang diantaranya : (Jannati, T U N. 2013)


 Necator americanus
 Ancylostoma duodenale
 Ancylostoma braziliense
 Ancylostoma ceylanicum
 Ancylostoma caninum

E. Pemeriksaan
Pemeriksaan laboratorium (mikroskopis dan makroskopis pada tinja)
Pemeriksaan sediaan langsung (menggunakan larutan garam)
Teknik pengapungan dengan NaCl jenuh
Pemeriksaan tinja tebal menurut Kato (untuk pemeriksaan telur cacing)
Teknik biakan dengan arang
Teknik menghitung telur cara stool (menaksir jumlah cacing dan jumlah telur), dll

B76.1 Nectoriasis
A. Definisi
Necatoriasis akibat cacing tambang (Necator americanus) yang termasuk cacing yang
ditularkan melalui tanah atau soil transmited desease (Depkes. 2004). Pertumbuhan
larva ini ialah pada tanah gembur (pasir, humus) dengan suhu optimum.
B. Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh cacing Necator americanus. Penyakit ini termasuk kelas
Nematoda dan tergolong dalam filum Nemathelmintesa. (Loukas A dan Prociv P, 2001)
C. Patofisiologi
Cacing tambang hidup dalam rongga usus halus dan melekat dengan giginya pada
dinding usus dan menghisap darah. Kecacingan tambang menyebabkan kehilangan
darah secara perlahan-lahan sehingga penderita mengalami kekurangan darah (anemia)
sehingga dapat menurunkan gairah kerja serta menurunkan produktifitas. Akan tetapi
kekurangan darah (anemia) ini biasanya tidak dianggap sebagai cacingan karena
kekurangan darah bisa terjadi oleh banyak sebab (Irianto, 2009).

B76.8 Other hookworm diseases


A. Definisi : Penyakit cacing tambang.
Infeksi Hookworm terjadi akibat kontak langsung dengan tanah sehingga para
penambang intan khususnya penambang intan tradisional memiliki resiko yang tinggi
untuk terserang. Hookworm menyerang mukosa usus dan menghisap darah sehingga
dapat menyebabkan anemia yang dapat menurunkan produktifitas kerja.
B. Etiologi : Infeksi cacing tambang adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit
cacing tambang di dalam usus kecil. Ada dua jenis cacing tambang yang sering
menyerang manusia, yaitu Ancylostoma duodenale dan Necator americanus.
C. Patofisiologi : Cacing dewasa hidup di dalam intestinum tenue (usus halus). Cacing
betina dewasa mengeluarkan telur dan telur akan keluar bersama dengan tinja.
Apabila kondisi tanah menguntungkan (lembab, basah, kaya oksigen, dan suhu
optimal 26°C – 27°C) telur akan menetas dalam waktu 24 jam menjadi larva
rhabditiform. Setelah 5 – 8 hari larva rhabditiform akan mengalami metamorfosa
menjadi larva filariform yang merupakan stadium infektif dari cacing tambang. Jika
menemui hospes baru larva filariform akan menembus bagian kulit yang lunak,
kemudian masuk ke pembuluh darah dan ikut aliran darah ke jantung, kemudian
terjadi siklus paru-paru (bronchus → trachea → esopagus), kemudian menjadi dewasa
di usus halus. Seluruh siklus mulai dari penetrasi larva filariform ke dalam kulit
sampai menjadi cacaing tambang dewasa yang siap bertelur memakan waktu sekitar 5
– 6 minggu.
B76.9 Hookworm disease, unspecified
Yaitu penyakit cacing tambang yang tidak diketahui.

B77 Ascariasis
1. Definisi
Askariasis adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh Ascaris lumbricoides atau yang
secara umum dikenal sebagai cacing gelang. Ascaris lumbricoides adalah salah satu spesies
cacing yang termasuk ke dalam Filum Nemathelminthes, Kelas Nematoda, Ordo Rhabditia,
Famili Ascarididae dan Genus Ascaris. Cacing gelang ini tergolong Nematoda intestinal
berukuran terbesar pada manusia. Distribusi penyebaran cacing ini paling luas dibanding
infeksi cacing lain karena kemampuan cacing betina dewasa menghasilkan telur dalam jumlah
banyak dan relatif tahan terhadap kekeringan atau temperatur yang panas (Ideham dan
Pusarawati, 2007).
2. Etiologi

Askariasis disebabkan oleh cacing Ascaris lumbricoides. Cacing ini bulat, besar, hidup
di usus halus manusia dengan panjang cacing dewasa sekitar 20-40 cm. Askariasis biasanya
terjadi pada daerah panas, lembab, dengan sanitasi buruk
3. Patofisiologi

Tarigan (2011) menyebutkan bahwa gejala yang timbul pada penderita dapat disebabkan
oleh cacing dewasa dan larva. Gangguan karena larva biasanya terjadi saat berada di paru. Pada
orang yang rentan terjadi perdarahan kecil di dinding alveolus dan timbul gangguan pada paru
disertai batuk, demam dan eosinofilia. Pada foto thoraks tampak infiltrat yang menghilang
dalam waktu 3 minggu. Keadaan ini disebut Sindroma Loeffler. Akumulasi sel darah putih
Universitas Sumatera Utara dan epitel yang mati membuat sumbatan menyebabkan Ascaris
pneumonitis. Menurut Tarigan (2011) gangguan dapat disebabkan oleh larva yang masuk ke
paru-paru sehingga dapat menyebabkan perdarahan pada dinding alveolus yang disebut
Sindroma loeffler. Gangguan yang disebabkan oleh cacing dewasa biasanya ringan. Kadang-
kadang penderita mengalami gangguan usus ringan seperti mual, nafsu makan berkurang, diare
dan konstipasi. Pada infeksi berat, terutama pada anak-anak dapat terjadi gangguan penyerapan
makanan (Malabsorbtion). Keadaan yang serius, bila cacing menggumpal dalam usus sehingga
terjadi penyumbatan pada usus (Ileus obstructive).
4. Pengobatan

Beberapa obat yang efektif terhadap ascariasis adalah sebagai berikut :


a. Pirantel pamoat: dosis 10 mg/kg BB (maksimum 1 g) dapat diberikan dosis tunggal.
Efek samping : gangguan gastrointestinal, sakit kepala, pusing, kemerahan pada kulit
dan demam.
b. Mebendazol : dosis 100 mg dua kali per hari selama lebih dari 3 hari. Efek samping
: diare rasa sakit pada abdomen, kadang-kadang leukopenia. Mebendazol tidak di
anjurkan pada wanita hamil karena dapat membahayakan janin.
c. Piperasin sitrat : dosis 75 mg/kg BB (maksimum 3,5 g/hari), pemeberian selama dua
hari. Efek samping : kadang – kadang menyebabkan urtikaria, gangguan
gastrointestinal dan pusing.
d. Albendazol : dosis tunggal 400 mg, dengan angka kesembuhan 100% pada infeksi
cacing Ascaris (Ideham dan Pusarawati, 2007).

5. Gejala Askariasis
a. Batuk atau tersedak
b. Muntah yang mengeluarkan cacing dewasa
c. Napas yang berbunyi mengi atau napas yang pendek-pendek.
d. Cacing gelang di usus dapat menyebabkan mual, muntah
e. Bentuk tinja yang tidak biasa
f. Tinja yang bercacing
g. Nyeri perut atau lambung
h. Kehilangan berat badan.

B77.0 Ascariasis with intestinal complications


Askariasis dengan komplikasi usus

Kebanyakan kasus askariasis memiliki gejala ringan dan tidak menyebabkan masalah
besar. Namun, penumpukan yang banyak dari cacing dewasa dapat menyebabkan komplikasi.
Komplikasi berbahaya terjadi ketika cacing berkumpul di area tertentu di tubuh, seperti
sumbatan di usus terjadi ketika sekumpulan cacing dewasa memblok usus dan menyebabkan
nyeri hebat dan muntah. Sumbatan di usus dianggap sebagai kegawatan medis dan
membutuhkan terapi segera.

B77.8 Ascariasis with other complications


Askariasis dengan komplikasi lainnya
Kebanyakan kasus askariasis memiliki gejala ringan dan tidak menyebabkan masalah
besar. Namun, penumpukan yang banyak dari cacing dewasa dapat menyebabkan komplikasi.
Komplikasi berbahaya terjadi ketika cacing berkumpul di area tertentu di tubuh, seperti
a. Sumbatan di usus terjadi ketika sekumpulan cacing dewasa memblok usus dan
menyebabkan nyeri hebat dan muntah. Sumbatan di usus dianggap sebagai kegawatan
medis dan membutuhkan terapi segera
b. Sumbatan di duktus terjadi ketika cacing memblok aliran di hepar atau pancreas

B77.9 Ascariasis, unspecified


Penyakit cacing ascariasis / cacing gelang yang tidak di ketahui

B78 Strongyloidiasis
Strongyloidiasis adalah penyakit parasit yang disebabkan oleh cacing gelang
Strongyloides stercoralis. Strongyloides stercoralis merupakan nematoda yang hidup parasit
di dalam usus manusia. Strongyloides ditemukan di daerah beriklim tropik dan subtropik pada
daerah yang memiliki kelembaban tinggi.

B78.0 Intestinal strongylidiasis


Strongyloides stercoralis (S. stercoralis) adalah salah satu jenis parasit dari kelompok
nematoda usus yang termasuk dalam Soil-Transmitted Helminth (STH). Penyebarannya luas di
seluruh dunia, terutama di daerah beriklim tropis dan subtropis, dapat pula ditemukan di daerah
yang beriklim sedang.

Gejala Intestinal strongyloidiasis :

a. Kembung, rasa penuh di perut


b. Nyeri perut
c. Diare
d. Muntah
e. Berat Badan menurun

B78.1 Cutaneous strongylidiasis

Penyakit strongyloidiasis akibat adanaya Infestasi cacing pada manusia yang masuk
melalui kulit. Hal ini dapat terjadi ketika larva filariform dari tanah yang terkontaminasi
menembus kulit. Larva ini kemudian menembus saluran limfatik atau kapiler yang akan
terbawa ke jantung dan kapiler pulmonal.

Gejala Cutaneous strongyloidiasis :


a. Gatal di kulit
b. Rash urtikaria yang alurnya berkelok-kelok akibat larva yang berjalan menembus kulit
c. Granuloma pada kulit

B78.7 Disseminated strongylidiasis


a. Definisi

Strolyloidiasis merupakan penyakit parasit yang disebabkan oleh cacing gelang


Strongyloides stercoralis yang menyebar pada area lain, contohnya pada penderita
gastrointestinal dan penderita limfatik.

b. Etiologi
Strongyloidiasis pada manusia disebabkan oleh parasit nematoda Strongyloides
stercoralis, cacing nematoda yang termasuk Soil Transmitted Helminth (STH).

c. Patofisiologi

Infeksi terjadi melalui kontak kulit dengan tanah yang mengandung


Strongyloides stercoralis (infektif). Setelah menembus kulit, larva melakukan
perjalanan ke paru-paru di mana ia dapat berkembang. Kemudian ia naik ke trakea. Di
sini, ia masuk dan kemudian menyerang mukosa usus kecil bagian atas, tempat mereka
berkembang dan bertelur. Telur-telur menetas di dalam mukosa dan kemudian
Strongyloides stercoralis (tidak infektif) berjalan ke lumen usus dan kemudian
diekskresikan dalam tinja. Ketika terdapat penderita gastrointestinal maka
Strongyloides stercoralis dapat mengenai area lambung yang kemudian menyebabkan
diare atau sakit pada perut.

d. Penatalaksanaan

Penderita strongyloidiasis diisolasi terlebih dahulu untuk menghindari adanya


kontak dengan orang lain karena kemungkinan penularan dapat melalui ludah, feses,
cairan tubuh dan muntahan. Kemudian diberikan beberapa obat, seperti antelmintik
(benzimidazole, ivermectin, cylosporine) dan antibiotik.

B78.9 Strongylidiasis, unspecified


a. Definisi

Strolyloidiasis merupakan penyakit parasit yang disebabkan oleh cacing gelang


Strongyloides stercoralis yang tidak diketahui secara spesifik letaknya.

b. Etiologi

Strongyloidiasis pada manusia disebabkan oleh parasit nematoda Strongyloides


stercoralis, cacing nematoda yang termasuk Soil Transmitted Helminth (STH).

c. Patofisiologi

Infeksi terjadi melalui kontak kulit dengan tanah yang mengandung


Strongyloides stercoralis (infektif). Setelah menembus kulit, larva melakukan
perjalanan kedalam tubuh dan mencari letak inang yang memungkinkan ia dapat
berkembang dan hidup bebas didalam tubuh manusia.
d. Penatalaksanaan

Penderita strongyloidiasis diisolasi terlebih dahulu untuk menghindari adanya


kontak dengan orang lain karena kemungkinan penularan dapat melalui ludah, feses,
cairan tubuh dan muntahan. Kemudian diberikan beberapa obat, seperti antelmintik
(benzimidazole, ivermectin, cylosporine) dan antibiotik.

B79 Trichuriasis
a. Definisi

Trichuriasis atau infeksi cacing cambuk, dapat terjadi karena kontak dengan tanah yang
tercemar oleh tinja anak dimana terdapat telur yang mengandung larva Trichuris
trichiura.

b. Etiologi

Trichuris trichiura.atau lebih dikenal dengan nama cacing cambuk, Trichusis


spp yang dapat mengenai manusia adalah jenis trichuris trichuriura dan trichuris vulpis.
Memiliki ukuran panjang 4-5 cm.

c. Patofisiologi

Pada umumnya infeksi Trichuris trichiura terjadi dalam usus, larva memasuki
area mukosa intestinum tenue dan berkembang atau menetap pada sekum. Infeksi
ringan tidak menyebabkan gejala klinis. Pada infeksi berat dan menahun menyebabkan
disentri, prolapsus rekti, apendesitis, anemia berat, mual dan muntah. Proses yang
berperan dalam menimbulkan gejala yaitu trauma oleh cacing dan dampak toksik..
trauma pada dinding usus terjadi karena Trichuris trichiura membenamkan kepalanya
pada dinding usus.

d. Penatalaksanaan

Diberikan obat berupa mebendazole, albendazole, dan gabungan pyrantel-pamoate


dengan mebendazole.
DAFTAR PUSTAKA

1) http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/jbmi/article/view/4201
2) https://www.researchgate.net/publication/327688766_Manifestasi_Klinis_Coenurosis
_dalam_Sistem_Saraf_Pusat
3) https://www.who.int/en/news-room/fact-sheets/detail/dracunculiasis-(guinea-worm-
disease)
4) https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC332717/
5) https://www.who.int/blindness/partnerships/onchocerciasis_disease_information/en/
6) https://medlab.id/wuchereria-bancrofti/
7) https://medlab.id/brugia-malayi/
8) http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/123050-S09077fk-Prevalensi%20IgG4-Literatur.pdf
9) https://id.scribd.com/document/333961453/Loiasis
10) https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18516413
11) Anonim.https://id.scribd.com/doc/74667014/Patologi-Jantung-Pada-Anjing-Yang-
Terinfeksi-Dirofillaria-Immitis. Diakses tanggal 25 november 2017.
12) Boudreaux, M. K, A.R. Dillon, W.R. Ravis, E.A. Sartin, and J.S. Spano. 1991. Effects
of treatment with aspirin/dipyridamole combination in heartworm-infected,
heartworm- infected, and embolized heartworm infected dogs. Am.J. Vet.
Res.Busch, D. G. dan J. O. Noxon. 1992. Pneumothorax in dog infected wit Dirofilaria
immitis. JAVMA.

13) De Carvalho. G.A. et All. 2013. Evaluation of Larval Development of Dirofilaria


immitis in Different Populations of Aedes aegypti and Aedes albopictus. Open Journal
of Veterinary Medicine, 2013, 3, 277-281.
14) Erawan. IGMK. Et All. 2015. Antigen Ekskretori-Sekretori Caeing Jantung
(Dirofilaria immitis) Jantan dan Betina yang Berpotensi Sebagai Marka Diagnosis.
Jurnal veteriner vol. 16 no. 4 : 463-467.
15) James H. Diaz, MD, Dr. 2014. Increasing Risks of Human Dirofilariasis in Travelers.
Environmental and Occupational Health Sciences, School of Public Health; School of
Medicine, Louisiana State University Health Sciences Center (LSUHSC), New
Orleans, LA, USA DOI: 10.1111/jtm.12174
16) Morchon, R. dkk.2012. Heartworm Disease (Dirofilarial Immitis) And Their Vectors
In Europe – New Distribution Trends. PMC. US National Library of Medicine.
17) R Singh,dkk.2010.Dirofilariasis: A Rare Case Report. Indian journal of
microbiology. New delhi, india. (28) 75-77.

18) Vieira. A.L, et All. 2014. Prevalence of canine heartworm (Dirofilaria immitis) disease
in dogs of central Portugal. EDP Sciences. DOI: 10.1051/parasite/2014003.
19) Sandjaja, Bernadus. Helmintologi Kedokteran, Jakarta : Prestasi Pustaka, 2007.
20) Onggowaluyo, Jangkung samidjo. Parasitologi Medik I, Jakarta : EGC, 2001.
21) M a k i m i a n , R o b b y. D i a g n o s t i k P a r a s i t o l o g I Kedokteran, Jakarta : EGC,
1996.
22) L Oivanen, T Mikkonen. L Haltia, H Karhula, H Saloniemi, A sukura. Persistence of
Trichinella spiralis in Rat Carcasses Experimentally Mixed in D i f f e r e n t
F e e d , http://www.actavetscand.com/content/43/4/203,2002
23) Soedarto. Zoonosis Kedokteran, Surabaya : Airlangga University Press, 2003.
24) Jannati, T U N. 2013. Ancylostomiasis. Scribd
https://www.scribd.com/doc/157622733/ancylostomiasis
25) Trilusiani, S. BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pdf
http://digilib.unila.ac.id/9946/14/11.%20BAB%20II%20SHINTA%20TRILUSIANI.p
df
26) Sehatman. 2006. Diagnosa Infeksi Cacing Tambang.Vol 16,No 4 : Media Penelitian
dan Pengembangan Kesehatan.
http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/MPK/article/view/1132/491
27) Skripsi BAB II Tinjauan Pustaka . repository.unimus.ac.id
http://repository.unimus.ac.id/1403/2/BAB%20II.pdf
28) https://ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.php/jhecds/article/view/313
29) Utami A M, dkk. 2018. Strongyloidiasis Berkaitan dengan Kejadian Arthritis Reaktif
di https://www.researchgate.net
30) Natadisastra D, Agoes R. (2005). Parasitologi Kedokteran Ditinjau dari Organ Tubuh
yang Diserang. Jakarta. Buku Kedokteran EGC. https://books.google.co.id/
31) Sunna Vyatra Hutagalung. 2008. Strongyloidiasis Stercoralis Suatu Infeksi Nematoda
Beserta Aspek Hiperinfeksinya. Skripsi. Medan: Universitas Sumatera Utara.
32) https://www.cdc.gov/parasites/strongyloides/health_professionals/index.html
33) http://library.usu.ac.id/download/fk/132317264(1).pdf
34) http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/57116/Chapter%20II.pdf?seq
uence=4&isAllowed=y
35) https://media.neliti.com/media/publications/57458-ID-none.pdf