Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kesehatan adalah pelayanan publik yang bersifat mutlak dan erat kaitannya dengan
kesejahteraan masyarakat. Untuk semua pelayanan yang bersifat mutlak, negara dan
aparaturnya berkewajiban untuk menyediakan layanan yang bermutu dan mudah didapatkan
setiap saat. Salah satu wujud nyata penyediaan layanan publik di bidang kesehatan adalah
adanya Puskesmas. Tujuan utama dari adanya Puskesmas adalah menyediakan layanan
kesehatan yang bermutu namun dengan biaya yang relatif terjangkau untuk masyarakat,
terutama masyarakat dengan kelas ekonomi menengah ke bawah. 1,2
Puskesmas merupakan ujuang tombak pembangunan kesehatan, hal ini ditunjukkan
oleh kontribusi puskesmas dalam mendukung keberhasilan pembangunan kesehatan.
Puskesmas adalah penanggungjawab penyelenggara upaya kesehatan untuk jenjang tingkat
pertama. Sejak diperkenalkannya konsep puskesmas pada tahun 1968, berbagai hasil telah
banyak dicapai. Angka kematian ibu dan kematian bayi telah berhasil diturunkan dan
sementara itu angka harapan hidup rata-rata bangsa Indonesia telah meningkat secara
bermakna.1,3
Sekalipun berbagai hasil telah banyak dicapai, namun dalan dalam pelaksanaannya
puskesmas masih menghadapi berbagai masalah. Menyadari keberhasilan puskesmas adalah
penting dalam rangka mewujudkan visi pembangunan kesehatan di Indonesia, maka berbagai
masalah dan atau kekurangan puskesmas harus segera diatasi. Disusunnya konsep dasar
puskesmas yaitu manajemen kebijakan puskesmas yang baik yang merupakan salah satu cara
dalam rangka mengatasi berbagai masalah tersebut. 2
Agar upaya kesehatan terselenggara secara optimal, maka puskesmas harus
melaksanakan manajemen kebijakan dengan baik. Manajemen kebijakan puskesmas adalah
rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara sistematik untuk menghasilkan puskesmas yang
efektif dan efisien. Sehingga terciptalah masyarakat yang sehat dan produktif, tidak gampang
terjangkit penyakit dan selalu menjaga kesehatannya dengan baik.2,3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Manajemen Kebijakan Puskesmas, terdiri dari 3 kata yang mengandung arti
atau dimensi yang luas, yaitu manajemen, kebijakan, dan puskesmas.
2.1.1.1 Manajemen.4
Adalah kegiatan pengelolaan puskesmas yang meliputi semua rangkaian
kegiatan mulai dari :
A. P1 = Perencanaan, berbentuk perencanaan tingkat puskesmas
B. P2 = Penggerakan Pelaksanaan, berbentuk Minilokakarya puskesmas
C. P3 = Pengawasan, Pengendalian dan Penilaian, berbentuk Penilaian Kinerja
Puskesmas
Penjelasan:
A. Perencanaan Puskesmas ( P1 )
Merupakan suatu proses kegiatan yang sistematis untuk menyusun atau
mempersiapkan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh puskesmas pada tahun
berikutnya untuk meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan kesehatan
kepada masyarakat dalam upaya mengatasi masalah-masalah kesehatan
setempat.
Adapun langkah-langkah/ tahapan yang ditempuh dalam perencanaan
kesehatan adalah:
1. Analisa situasi
Adalah mempelajari atau mengkaji situasi yang ada melalui data-data,
observasi dan pengalaman yang dirumuskan menjadi suatu kesimpulan
tentang keadaan umum, keadaan khusus dan masalah yang ada.
2. Mengidentifikasi masalah dan penetapan prioritas masalah
Setelah masalah yang ada diketahui, maka kita perlu mengkaji lebih dalam
lagi untuk menetapkan priotitas masalah. Penentuan ini sangat penting
karena menentukan masalah yang tepat sangat penting untuk mencapai
tujuan program.
B. Penggerakan, Pelaksanaan, berbentuk Minilokakarya puskesmas (P2)
Merupakan langkah kegiatan pertama untuk menentukan : personil, biaya,
tugas dan wewenang, waktu kegiatan, sasaran, sarana dan prasarana,
pencatatan dan pelaporan. Seluruh hal yang berkaitan dengan
pengorganisasian harus disepakati bersama dan dibuat tertulis serta
disesuaikan dengan perencanaan yang telah dibuat.
Pelaksanaan Pengorganisasian
Merupakan pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan dan dilaksanakan
oleh organisasi atau tim yang telah dibentuk, meliputi :
1. Upaya kesehatan masyarakat
2. Pencatatan dan pelaporan
3. Keterlibatan lintas sektoral dan program
4. Pengelolaan keuangan
5. Pengelolaan obat
6. Pemanfaatan dan pemeliharaan sarana
C. Pengawasan, Pengendalian dan Penilaian, berbentuk Penilaian Kinerja
Puskesmas (P3)
Pemantauan adalah memantau pelaksanaan kegiatan puskesmas, melalui :
1. Melihat langsung
2. Melihat catatan hasil kegiatan
3. Melalui laporan
4. Pertemuan lokakarya mini
Manfaatnya adalah untuk mengetahui :
1. Pelaksanaan sesuai rencana atau tidak
2. Adanya kendala/ hambatan dalam pelaksanaan
3. Keterlibatan staf, lintas sektoral
4. Penggunaan sarana dan anggaran
Pengawasan dilakukan oleh Pimpinan Puskesmas melalui
1. Pengawasan secara berjenjang
2. Pembinaan pegawai
2.1.2. Kebijakan.4,5
Kebijakan merupakan suatu rangkaian alternative yang siap dipilih
berdasarkan prinsip-prinsip tertentu. Kebijakan merupakan suatu hasil analisis
yang mendalam terhadap berbagai alternative yang bermuara kepada keputusan
tentang alternative terbaik.
Kebijakan adalah rangkaian dan asas yang menjadi garis besar dan
dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan kepemimpinan, dan cara
bertindak (tentag organisasi, atau pemerintah); pernyataan cita-cita, tujuan,
prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha
mencapai sasaran tertentu.
Kebijakan berbeda makna dengan Kebijaksanaan. Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia kebijaksanaan adalah kepandaian seseorang
menggunakan akal budinya (berdasar pengalaman dan pangetahuannya); atau
kecakapan bertindak apabila menghadapi kesulitan.
Kebijaksanaan berkenaan dengan suatu keputusan yang
memperbolehkan sesuatu yang sebenarnya dilarang berdasarkan alasan-alasan
tertentu seperti pertimbangan kemanusiaan, keadaan gawat dll. Kebijaksanaan
selalu mengandung makna melanggar segala sesuatu yang pernah ditetapkan
karena alasan tertentu.

2.1.3 Puskesmas.6
Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang
bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah
kerja.
1. Unit Pelaksana Teknis Sebagai unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota (UPTD), puskesmas berperan menyelenggarakan sebagian
dari tugas teknis operasional Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan
merupakan unit pelaksana tingkat pertama serta ujung tombak pembangunan
kesehatan di Indonesia.
2. Pembangunan Kesehatan Pembangunan kesehatan adalah penyelenggaraan
upaya kesehatan oleh bangsa Indonesia untuk meningkatkan kesadaran,
kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat
kesehatan masyarakat yang optimal.
3. Penanggungjawab Penyelenggaraan Penanggungjawab utama
penyelenggaraan seluruh upaya pembangunan kesehatan di wilayah
kabupaten/kota adalah Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota,sedangkan
puskesmas bertanggungjawab hanya sebagian upaya pembangunan kesehatan
yang dibebankan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota sesuai dengan
kemampuannya.
4. Wilayah Kerja Secara nasional, standar wilayah kerja puskesmas adalah satu
kecamatan, tetapi apabila di satu kecamatan terdapat lebih dari dari satu
puskesmas, maka tanggungjawab wilayah kerja dibagi antar puskesmas,
dengan memperhatikan keutuhan konsep wilayah (desa/kelurahan atau RW).
Masing-masing puskesmas tersebut secara operasional bertanggungjawab
langsung kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

2.2. Perumusan Masalah Kebijakan.5,6


Masalah kebijakan, adalah nilai, kebutuhan atau kesempatan yang belum
terpenuhi, tetapi dapat diindentifikasikan dan dicapai melalui tindakan publik. Tingkat
kepelikan masalah tergantung pada nilai dan kebutuhan apa yang dipandang paling
panting.
Staf puskesmas yang kuat orientasi materialnya (gaji tidak memenuhi
kebutuhan), cenderung memandang aspek imbalan dari puskesmas sebagai masalah
mandasar dari pada orang yang punya komitmen pada kualitas pelayanan kesehatan.
Beberapa karakteristik masalah pokok dari masalah kebijakan, adalah:
1. Interdepensi (saling tergantung)
yaitu kebijakan suatu bidang (energi) seringkali mempengaruhi masalah kebijakan
lainnya (pelayanan kesehatan). Kondisi ini menunjukkan adanya sistem masalah.
Sistem masalah ini membutuhkan pendekatan Holistik, satu masalah dengan yang lain
tidak dapat di piahkan dan diukur sendirian.
2. Subjektif,
yaitu kondisi eksternal yang menimbulkan masalah diindentifikasi, diklasifikasi dan
dievaluasi secara selektif. Contoh: Populasi udara secara objektif dapat diukur (data).
Data ini menimbulkan penafsiran yang beragam (l. gangguan kesehatan, lingkungan,
iklim, dan lain-lain). Muncul situasi problematis, bukan problem itu sendiri.
3. Artifisial,
yaitu pada saat diperlukan perubahan situasi problematis, sehingga dapat
menimbulkan masalah kebijakan.
4. Dinamis
yaitu masalah dan pemecahannya berada pada suasana perubahan yang terus menerus.
Pemecahan masalah justru dapat memunculkan masalah baru, yang membutuhkan
pemecahan masalah lanjutan.
5. Tidak terduga
yaitu masalah yang muncul di luar jangkauan kebijakan dan sistem masalah
kebijakan.

2.3. Merencanakan Kebijakan Puskesmas.7,8


Perencanaan yang baik, mempunyai beberapa ciri-ciri yang harus diperhatikan.
Ciri-ciri tersebut secara sederhana dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Bagian dari sistem administrasi
Suatu perencanaan yang baik adalah yang berhasil menempatkan pekerjaan
perencanaan sebagai bagian dari sistem administrasi secara keseluruhan.
Sesungguhnya, perencanaan pada dasarnya merupakan salah satu dari fungsi
administrasi yang amat penting. Pekerjaan administrasi yang tidak didukung oleh
perencanaan, bukan merupakan pekerjaan administrasi yang baik.
2. Dilaksanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan
Suatu perencanaan yang baik adalah yang dilakukan secara terus-menerus dan
berkesinambungan. Perencanaan yang dilakukan hanya sekali bukanlah perencanaan
yang dianjurkan. Ada hubungan yang berkelanjutan antara perencanaan dengan
berbagai fungsi administrasi lain yang dikenal. Disebutkan perencanaan penting untuk
pelaksanaan, yang apabila hasilnya telah dinilai, dilanjutkan lagi dengan perencanaan.
Demikian seterusnya sehingga terbentuk suatu spiral yang tidak mengenal titik akhir.
3. Berorientasi pada masa depan
Suatu perencanaan yang baik adalah yang berorientasi pada masa depan. Artinya,
hasil dari pekerjaan perencanaan tersebut, apabila dapat dilaksanakan, akan
mendatangkan berbagai kebaikan tidak hanya pada saat ini, tetapi juga pada masa
yang akan datang.
4. Mampu menyelesaikan masalah
Suatu perencanaan yang baik adalah yamg mampu menyelesaikan berbagai masalah
dan ataupun tantangan yang dihadapi. Penyelesaian masalah dan ataupun tantangan
yang dimaksudkan disini tentu harus disesuaikan dengan kemampuan. Dalam arti
penyelesaian masalah dan ataupun tantangan tersebut dilakukan secara bertahap, yang
harus tercermin pada pentahapan perencanaan yang akan dilakukan.
5. Mempunyai tujuan
Suatu perencanaan yang baik adalah yang mempunyai tujuan yang dicantumkan
secara jelas. Tujuan yang dimaksudkandi sini biasanya dibedakan atas dua macam,
yakni tujuan umum yang berisikan uraian secara garis besar, serta tujuan khusus yang
berisikan uraian lebih spesifik.
6. Bersifat mampu kelola
Suatu perencanaan yang baik adalah yang bersifat mampu kelola, dalam arti bersifat
wajar, logis, obyektif, jelas, runtun, fleksibel serta telah disesuaikan dengan sumber
daya. Perencanaan yang disusun tidak logis serta tidak runtun, apalagi yang tidak
sesuai dengan sumber daya bukanlah perencanaan yang baik.

2.4. Dasar-Dasar Membuat Kebijakan Puskesmas.8,9,10


Memahami dasar-dasar pembangunan kesehatan pada hakekatnya merupakan upaya
mewujudkan nilai kebenaran dan aturan pokok sebagai landasan untuk berpikir dan
bertindak dalam pembangunan kesehatan. Nilai tersebut merupakan landasan dalam
menghayati isu strategis, melaksanakan visi, dan misi sebagai petunjuk pokok
pelaksanaan pembangunan kesehatan secara nasional sebagaimana tercantum dalam
Rencana Pembangunan Kesehatan menuju Indonesia Sehat, yang meliputi:
perikemanusiaan, adil dan merata, pemberdayaan dan kemandirian, pengutamaan dan
manfaat.
1. Isu Strategis Pembangunan Kesehatan
Banyak masalah kesehatan dapat dideteksi dan diatasi secara dini di tingkat paling
bawah. Jumlah dan mutu tenaga kesehatan belum memenuhi kebutuhan. Pemanfaatan
pembiayaan kesehatan belum terfokus dan sinkron. Hasil sarana kesehatan bisa
dijadikan pendapatan daerah. Masyarakat miskin belum sepenuhnya terjangkau dalam
pelayanan kesehatan. Beban ganda penyakit dapat menimbulkan masalah lainnya
secara fisik, mental dan sosial.
2. Visi Strategis Pembangunan Kesehatan
Dengan memperhatikan isu strategis pembangunan kesehatan tersebut dan juga
dengan mempertimbangkan perkembangan, masalah, serta berbagai kecenderungan
pembangunan kesehatan ke depan maka ditetapkan visi pembangunan kesehatan oleh
Departemen Kesehatan yaitu Masyarakat Yang Mandiri Untuk Hidup Sehat.
Masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat adalah suatu kondisi di mana masyarakat
Indonesia menyadari, mau, dan mampu untuk mengenali, mencegah dan mengatasi
permasalahan kesehatan yang dihadapi, sehingga dapat bebas dari gangguan
kesehatan, baik yang disebabkan karena penyakit termasuk gangguan kesehatan akibat
bencana, maupun lingkungan dan perilaku yang tidak mendukung untuk hidup sehat.
3. Misi Strategis Pembangunan Kesehatan
Visi pembangunan kesehatan tersebut kemudian diejawantahkan melalui misi
pembangunan kesehatan, yakni Membuat Rakyat Sehat. Misi kesehatan ini kemudian
dijalankan dengan mengembangkan nilai-nilai dasar dalam pelayanan kesehatan yaitu
berpihak pada rakyat, bertindak cepat dan tepat, kerjasama tim, integritas yang tinggi,
transparansi dan akuntabilitas.

2.5. Pelaksanaan dan Pengendalian.5,9,10


Pelaksanaan dan pengendalian adalah proses penyelenggaraan, pemantauan serta
penilaian terhadap penyelenggaraan rencana tahunan puskesmas, baik rencana tahunan
upaya kesehatan wajib maupun rencana tahunan upaya kesehatan pengembangan, dalam
mengatasi masalah kesehatan di wilayah kerja puskesmas. Langkah-langkah pelaksanaan
dan pengendalian adalah sebagai berikut:
1. Pengorganisasian
Untuk dapat terlaksananya rencana kegiatan puskesmas, perlu dilakukan
pengorganisasian. Ada dua macam pengorganisasian yang harus dilakukan. Pertama,
pengorganisasian berupa penentuan para penanggungjawab dan para pelaksana untuk
setiap kegiatan serta untuk setiap satuan wilayah kerja. Dengan perkataan lain,
dilakukan pembagian habis seluruh program kerja dan seluruh wilayah kerja kepada
seluruh petugas puskesmas dengan mempertimbangkan kemampuan yang
dimilikinya. Penentuan para penanggungjawab ini dilakukan melalui pertemuan
penggalangan tim pada awal tahun kegiatan. Kedua, pengorganisasian berupa
penggalangan kerjasama tim secara lintas sektoral. Ada dua bentuk penggalangan
kerjasama yang dapat dilakukan:
a) Penggalangan kerjasama dalam bentuk dua pihak, yakni antara dua sektor terkait,
misalnya antara puskesmas dengan sektor tenaga kerja pada waktu
menyelenggarakan upaya kesehatan kerja.
b) Penggalangan kerjasama dalam bentuk banyak pihak, yakni antar berbagai sektor
terkait, misalnya antara puskesmas dengan sektor pendidikan, sektor agama,
sektor kecamatan pada waktu menyelenggarakan upaya kesehatan sekolah.
Penggalangan kerjasama lintas sektor ini dapat dilakukan:
 Secara langsung yakni antar sektor-sektor terkait
 Secara tidak lan
 gsung yakni dengan memanfaatkan pertemuan koordinasi kecamatan
2. Penyelenggaraan
Setelah pengorganisasian selesai dilakukan, kegiatan selanjutnya adalah
menyelenggarakan rencana kegiatan puskesmas, dalam arti para penanggungjawab
dan para pelaksana yang telah ditetapkan pada pengorganisasian, ditugaskan
menyelenggarakan kegiatan puskesmas sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Untuk dapat terselenggaranya rencana tersebut perlu dilakukan kegiatan sebagai
berikut:
a) Mengkaji ulang rencana pelaksanaan yang telah disusun, terutama yang
menyangkut jadwal pelaksanaan, target pencapaian, lokasi wilayah kerja dan
rincian tugas para penanggungjawab dan pelaksana.
b) Menyusun jadwal kegiatan bulanan untuk setiap petugas sesuai dengan rencana
pelaksanaan yang telah disusun. Beban kegiatan puskesmas harus terbagi habis
dan merata kepada seluruh petugas.
c) Menyelenggarakan kegiatan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Pada
waktu menyelenggarakan kegiatan puskesmas harus diperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
1. Azas penyelenggaraan puskesmas
Penyelenggaraan kegiatan puskesmas harus menerapkan keempat azas
penyelenggaraan puskesmas yakni azas pertanggungjawaban wilayah, azas
pemberdayaan masyarakat, azas keterpaduan dan azas rujukan
2. Berbagai standar dan pedoman pelayanan puskesmas
Pada saat ini telah berhasil dikembangkan berbagai standar dan pedoman
pelayanan puskesmas sebagai acuan penyelenggaraan kegiatan puskesmas yang
harus diperhatikan pada waktu menyelenggarakan kegiatan puskesmas. Standar
dan pedoman tersebut adalah:
 Standar dan pedoman bangunan puskesmas
 Standar dan pedoman peralatan puskesmas
 Standar manajemen peralatan puskesmas
 Standar dan pedoman ketenagaan puskesmas
 Pedoman pengobatan rasional puskesmas
 Standar manajemen obat puskesmas
 Standar dan pedoman teknis pelayanan berbagai upaya kesehatan perorangan
dan upaya kesehatan masyarakat yang diselenggarakan oleh puskesmas
 Pedoman Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS)
 Pedoman perhitungan satuan biaya pelayanan puskesmas
3. Kendali mutu
Penyelenggaraan kegiatan puskesmas harus menerapkan program kendali mutu.
Prinsip program kendali mutu adalah kepatuhan terhadap berbagai standar dan
pedoman pelayanan serta etika profesi, yang memuaskan pemakai jasa pelayanan.
4. Kendali biaya
Penyelenggaraan kegiatan puskesmas harus menerapkan program kendali biaya.
Prinsip program kendali biaya adalah kepatuhan terhadap berbagai standar dan
pedoman pelayanan serta etika profesi, yang terjangkau oleh pemakai jasa
pelayanan.
3. Pemantauan
Penyelenggaraan kegiatan harus diikuti dengan kegiatan pemantauan yang dilakukan
secara berkala. Kegiatan pemantauan mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Melakukan telaahan penyelenggaraan kegiatan dan hasil yang dicapai, yang
dibedakan atas dua hal:
1. Telaahan internal, yakni telaahan bulanan terhadap penyelenggaraan kegiatan dan
hasil yang dicapai puskesmas, dibandingkan dengan rencana dan standar
pelayanan. Data yang dipergunakan diambil dari Sistem Informasi Manajemen
Puskesmas (SIMPUS) yang berlaku. Kesimpulan dirumuskan dalam dua bentuk.
Pertama, kinerja puskesmas yang terdiri dari cakupan ( coverage), mutu (quality
) dan biaya ( cost ). Kedua, masalah dan hambatan yang ditemukan pada waktu
penyelenggaraan kegiatan puskesmas. Telaahan bulanan ini dilakukan dalam
Lokakarya Mini Bulanan puskesmas.
2. Telaahan eksternal yakni telaahan triwulan terhadap hasil yang dicapai oleh
sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama lainnya serta sektor lain terkait yang
ada di wilayah kerja puskesmas. Telaahan triwulan ini dilakukan dalam
Lokakarya Mini Triwulan puskesmas secara lintas sektor.
b. Menyusun saran peningkatan penyelenggaraan kegiatan sesuai dengan pencapain
kinerja puskesmas serta masalah dan hambatan yang ditemukan dari hasil
telaahan bulanan dan triwulanan.
4. Penilaian
Kegiatan penilaian dilakukan pada akhir tahun anggaran. Kegiatan yang dilakukan
mencakup hal-hal sebagai berikut:
a Melakukan penilaian terhadap penyelenggaraan kegiatan dan hasil yang dicapai,
dibandingkan dengan rencana tahunan dan standar pelayanan. Sumber data yang
dipergunakan pada penilaian dibedakan atas dua. Pertama, sumber data primer
yakni yang berasal dari SIMPUS dan berbagai sumber data lain yang terkait, yang
dikumpulkan secara khusus pada akhir tahun. Kedua, sumber data sekunder yakni
data dari hasil pemantauan bulanan dan triwulanan.
b Menyusun saran peningkatan penyelenggaraan kegiatan sesuai dengan pencapaian
serta masalah dan hambatan yang ditemukan untuk rencana tahun berikutnya.

2.6. Pengawasan dan Pertanggungjawaban.5,11,12


Pengawasan danpertanggungjawaban adalah proses memperoleh kepastian atas
kesesuaian penyelenggaraan dan pencapaian tujuan puskesmas terhadap rencana dan
peraturan perundangan-undangan serta kewajiban yang berlaku. Untuk terselenggaranya
pengawasan dan pertanggungjawaban dilakukan kegiatan sebagai berikut:
1. Pengawasan
Pengawasan dibedakan atas dua macam yakni pengawasan internal dan eksternal.
Pengawasan internal dilakukan secara melekat oleh atasan langsung. Pengawasan
eksternal dilakukan oleh masyarakat, dinas kesehatan kabupaten/kota serta berbagai
institusi pemerintah terkait. Pengawasan me ncakup aspek administratif, keuangan
dan teknis pelayanan. Apabila pada pengawasan ditemukan adanya penyimpangan,
baik terhadap rencana, standar, peraturan perundangan-undangan maupun berbagai
kewajiban yang berlaku, perlu dilakukan pembinaan sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
2. Pertanggungjawaban
Pada setiap akhir tahun anggaran, kepala puskesmas harus membuat laporan
pertanggungjawaban tahunan yang mencakup pelaksanaan kegiatan, serta perolehan
dan penggunaan berbagai sumberdaya termasuk keuangan. Laporan tersebut
disampaikan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota serta pihak-pihak terkait
lainnya, termasuk masyarakat melalui Badan Penyantun Puskesmas. Apabila terjadi
penggantian kepala puskesmas, maka kepala puskesmas yang lama diwajibkan
membuat laporan pertanggungjawaban masa jabatannya.

2.7. Model Manajemen Puskesmas.5,13


Untuk dapat mewujudkan visi, misi, dan tujuan Puskesmas, diperlukan model
manajemen yang cocok dan efektif untuk Puskesmas yang bersangkutan. Beberapa
model manajemen telah diperkenalkan pada Puskesmas, yaitu :
Model Manajemen P1 – P2 – P3
Manajemen Puskesmas terdiri dari P1 (Perencanaan), P2 (Penggerakan Pelaksanaan),
dan P3 (Pengawasan, Pengendalian, dan Penilaian)
A. P1 (Perencanaan) Puskesmas : Microplanning Puskesmas.
Microplanning adalah penyusunan rencana 5 (lima) tahunan dengan tahapan tiap-tiap
tahun di tingkat Puskesmas untuk mengembangkan dan membina Pos Pelayanan
Terpadu (Posyandu) Keluarga Berencana- Kesehatan diwilayah kerjanya, berdasarkan
masalah yang dihadapi dan kemampuan yang dimiliki dalam rangka meningkatkan
fungsi Puskesmas (Departemen Kesehatan, 1989).
Tujuan umum microplanning adalah meningkatkan cakupan pelayanan program
prioritas yang mempunyai daya ungkit terbesar terhadap penurunan angka kematian
bayi, anak balita dan fertilitas dalam wilayah kerjanya yang pada gilirannya dapat
meningkatkan fungsi Puskesmas. Sedangkan tujuan khususnya adalah :
1) mengembangkan dan membina pos-pos pelayanan terpadu KB-Kesehatan di desa-
desa wilayah kerja Puskesmas, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki dan masalah
yang dihadapi sehingga dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien,
2) meningkatkan peran serta masyarakat dalam pelayanan kesehatan, dan
3) meningkatkan kemampuan staf Puskesmas dalamberfikir secara analitik dan
mendorong untuk berinisiatif, kreatif, dan inovatif.
Ruang Lingkup microplanning adalah kegiatan pokok Puskesmas, meliputi 18
kegiatan pokok. Namun demikian, mengingat dalam Pelita IV prioritas diberikan pada
penurunan angka kematian bayi dan anak balita serta angka fertilitas, maka
perencanaan yang dimaksud baru diarahkan pada 5 (lima) program terpadu KB-
Kesehatan, yaitu program Kesehatan Ibu dan Anak, Keluarga Berencana, Gizi,
Imunisasi, dan Penanggulangan Diare. Kelima program tersebut mempunyai daya
ungkit terbesar terhadap upaya penurunan angka kematian bayi, anak balita, dan
angka fertilitas.

B. P2 (Penggarakan dan Pelaksanaan) Puskesmas.5,14


Tujuan Penggerakan dan Pelaksanaan (P2) Puskesmas adalah meningkatkan fungsi
Puskesmas melalui peningkatan kemampuan tenaga Puskesmas untuk bekerja sama
dalam Tim dan membina kerja sama lintas program dan lintas sektoral. Komponen
Penggerakan Pelaksanaan (P2) Puskesmas dilakukan melalui Lokakarya Mini
Puskesmas yang terdiri dari 4 (empat) komponen meliputi:
(1) penggalangan kerjasama Tim yaitu lokakarya yang dilaksanakan setahun sekali di
Puskesmas, dalam rangka meningkatkan kerja sama antar petugas Puskesmas untuk
meningkatkan fungsi Puskesmas, melalui suatu proses dinamika kelompok yang
diikuti dengan analisis beban kerja masing-masing tenaga yang dikaitkan dengan
berbagai kelemahan penampilan kerja Puskesmas menurut hasil stratifikasi
Puskesmas,
(2) penggalangan Kerjasama Lintas Sektoral yaitu dalam rangka meningkatkan peran
serta masyarakat dan dukungan sektor-sektor terkait melalui suatu pertemuan lintas
sektoral setahun sekali. Sebagai hasil pertemuan adalah kesepakatan rencana kerja
sama lintas sektoral dalam membina peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan
termasuk keterpaduan KB-Kesehatan,
(3) rapat kerja Tribulanan Lintas Sektoral,sebagai tindak lanjut pertemuan
penggalangan kerja sama lintas sektoral,dilakukan pertemuan lintas sektoral setiap 3
(tiga) bulan sekali untukmengkaji hasil kegiatan kerja sama lintas sektoral selama 3
(tiga) bulan yang lalu dan memecahkan masalah yang dihadapi, kemudian disusun
rencana kerja sama lintas sektoral bulan selanjutnya, dan
(4) Lokakarya Bulanan Puskesmas, yaitu pertemuan antar tenaga Puskesmas pada
setiap akhir bulan untuk mengevaluasi pelaksanaan rencana kerja bulan yang lalu dan
membuat rencana bulan yang akan datang. Adapun tujuan Lokakarya Bulanan
Puskesmas adalah
a) disampaikan hasil rapat dari tingkat kabupaten, kecamatan dan lain sebagainya,
b) diketahuinya hasil dan evaluasi kegiatan Puskesmas bulan lalu,
c) diketahuinya hambatan dan masalah dalam pelaksanaan kegiatan bulan lalu,
d) dirumuskannya cara pemecahan masalah,
e) disusunnya rencana kerja harian petugas selama satu bulan yang akan datang,
f) diberikannya tambahan pengetahuan baru,
g) disusunnya POA Puskesmas, baik POA tahunan maupun bulanan, dan
h) diketahuinya masalah di Puskesmas berdasarkan hasil Stratifikasi Puskesmas
(Departemen Kesehatan, 1988).

C. P3 (Pengawasan, Pengendalian, dan Penilaian): Stratifikasi Puskesmas.5, 15


Stratifikasi Puskesmas adalah upaya untuk melakukan penilaian prestasi kerja
Puskesmas dengan mengelompokkan Puskesmas dalam 3 strata yaitu Strata
Puskesmas dengan prestasi kerja baik (Strata I), Strata Puskesmas dengan prestasi
kerja cukup (Strata II) dan Strata Puskesmas dengan prestasi kerja kurang (Strata III).
Pengelompokkan ketiga strata tersebut digunakan dalam rangka pemantauan
terhadap tingkat perkembangan fungsi Puskesmas, sehingga pembinaan dalam rangka
peningkatan fungsi Puskesmas dapat dilaksanakan lebih terarah. Hal ini diharapkan
agar dapat menimbulkan gairah kerja, rasa tanggung jawab dan kreatifitas kerja yang
dinamis melalui pengembangan falsafah mawas diri. Adapun tujuan umum
Stratifikasi Puskesmas adalah mendapatkan gambaran tentang tingkat perkembangan
fungsi Puskesmas secara berkala dalam rangka pembinaan dan pengembangannya.
Sedangkan tujuan khususnya adalah :
a. mendapatkan gambaran secara menyeluruh
b. perkembangan Puskesmas dalam rangka mawas diri,
c. mendapatkan masukan untuk perencanaan Puskesmas di masa mendatang, dan
d. mendapatkan informasi tentang masalah dan hambatan pelaksanaan
Puskesmas sebagai masukan untuk pembinaannya. Aspek yang dinilai dalam
Stratifikasi Puskesmas meliputi hasil kegiatan pokok Puskesmas, proses manajemen,
termasuk berbagai komponen penunjang baik fisik maupun non fisik dan keadaan
lingkungan wilayah kerja Puskesmas yang dapat berpengaruh terhadap penampilan
kerja Puskesmas. Dengan Stratifikasi Puskesmas ada 3 (tiga) area yang perlu dibina
yaitu :
a) Puskesmas sebagai wadah pemberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
b) Pelaksanaan program-program sektor kesehatan maupun program lintas sektoral
yang secara langsung maupun tidak langsung menjadi tanggung jawab
c) Puskesmas dalam pelaksanaannya maupun sarana penunjangnya peran serta
masyarakat dalam rangka meningkatkan kemampuan untuk hidup sehat dan
produktif
BAB III
KESIMPULAN

Puskesmas adalah unit pelaksana teknis (UPT) dinas kesehatan kabupaten/kota yang
bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja. Untuk
terselenggaranya berbagai upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat yang
sesuai dengan azas penyelenggaraan Puskesmas perlu ditunjang oleh manajeman kebijakan
Puskesmas yang baik. Manajemen kebijakan Puskesmas adalah rangkaian pengambilan
kebijakan secara sistematik untuk menghasilkan Puskesmas yang efektif dan efisien.
Beberapa model manajemen dan fungsi penjabarannya :
1. Model PIE (planning, implementation, evaluation)
2. Model POAC (planning, organizing, actuating, controling)
3. Model P1 – P2 – P3 (perencanaan, pergerakan-pelaksanaan, pengawasan-pengendalian-
penilaian)
4. Model ARRIF (analisis, rumusan, rencana, implementasi dan forum komunikasi)
5. Model ARRIME (analisis, rumusan, rencana, implementasi, monitoring, evaluasi)
Berdasarkan uraian makalah diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam perencanaan dan
pengambilan keputusan di Puskesmas khususnya pada tahap manajemen kebijakan di
Puskesmas perlu dilakukan perumusan masalah kebijakan itu sendiri, kemudian
merencanakan kebijakan Puskesmas dan menganalisis dasar-dasar dalam membuat kebijakan
Puskesmas demi terwujudnya perencanaan Puskesmas yang maksimal.
DAFTAR PUSTAKA

1. Keputusan Menteri Kesehatan RI No 128/Menkes/SK II/2004 tentang Kebijakan


Dasar Puskesmas, 2004.
2. Tjiptoherijanto, prijono, Said Z. Abidin, Reformasi Administrasi dan Pembangunan
Nasional. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia: Jakarta, 2013.
3. Dunn, William N. Analisis Kebijakan. Diterjemahkan Drs. Samodra Wibawa, MA
dkk. Edisi ke 2. Jakarta, 2018.
4. Departemen Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. 2011.
Penyelenggara Puskesmas di Era Desentralisasi. Jakarata: Departemen Kesehatan.
5. A.A Gde Muninjaya. Manajemen Kesehatan.EGC : Jakarta, 2017.
6. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Sistem Informasi Manajemen Puskesmas.
Jakarta: Departemen Kesehatan RI, 2007.
7. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan RI. Pedoman
Lokakarya Mini Puskesmas. Jakarta, 2006.
8. Abdurrahman. Kebijakan Pemerintah Daerah Dalam Pelayanan Kesehatan
Masyarakat Di Kecamatan Bacan Tengah Kabupaten Halmahera Selatan.Universitas
Hasanuddin Makassar:tidak diterbitkan, 2012.
9. Novijan.BPJS Kesehatan, Supply, dan Demand Terhadap Layanan Kesehatan.
Kepala Subbidang Analisis Risiko Ekonomi, Keuangan, dan Sosial:tidak diterbitkan,
2014.
10. Hatmoko. Sistem Pelayanan Kesehatan Dasar Puskesmas. Universitas Mulawarman
: Samarinda, 2016.
11. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 128/MenKes/SK/II/2004
Tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat, 2004.
12. Simanjuntak, Maruli dan Matulessy PF. Sejarah dan Perkembangan Puskesmas.
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia : Jakarta, 2013.
13. Sulastomo. Manajemen Kesehatan. PT. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta, 2010.
14. Trihono. ARRIME : Pedoman Manajemen Puskesmas. Departemen Kesehatan :
Jakarta, 2017.
15. Wijono, Djoko. Manajemen Puskesmas : Kebijakan dan Strategi. CV. Duta Prima
Airlangga : Surabaya, 2018.
REFERAT
“MANAJEMEN KEBIJAKAN PUSKESMAS”

Pembimbing :
dr. DIAN MUTIASARI, M.Kes

Disusun oleh :
Nugraha Iwan Setiawan

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
PALANGKA RAYA
2019
Pendahuluan
Latar Belakang
Negara dan aparaturnya berkewajiban untuk
menyediakan layanan yang bermutu dan mudah
didapatkan setiap saat.

Salah satu wujud nyata penyediaan layanan publik di


bidang kesehatan adalah adanya Puskesmas.

Agar upaya kesehatan terselenggara secara optimal,


maka puskesmas harus melaksanakan manajemen
kebijakan dengan baik.
Tinjauan Pustaka
Definisi
Manajeman → Pengelolaan puskesmas
yang meliputi semua rangkaian kegiatan
mulai dari perencanaan, pelaksanaan
dan dan pengawasan

Kebijakan → Suatu rangkaian


alternative yang siap dipilih berdasarkan
prinsip-prinsip tertentu

Puskesmas → Unit pelaksana


teknis dinas kesehatan
kabupaten / kota yang
bertanggungjawab
menyelenggarakan
pembangunan kesehatan di
suatu wilayah kerja.
Perumusan Masalah
Kebijakan

Masalah kebijakan,
adalah nilai, kebutuhan
atau kesempatan yang
belum terpenuhi, tetapi
dapat diindentifikasikan Tingkat kepelikan masalah
dan dicapai melalui tergantung pada nilai dan
tindakan publik.. kebutuhan apa yang
dipandang paling panting
Perumusan Masalah
Kebijakan
Interdepensi → Kebijakan suatu
bidang yang mempengaruhi masalah
kebijakan lainnya

Subjektif → Kondisi eksternal yang


menimbulkan masalah diindentifikasi,
diklasifikasi dan dievaluasi selektif.

Artifisial → Saat diperlukan perubahan


situasi problematis, sehingga dapat
menimbulkan masalah kebijakan.

Dinamis → Masalah dan


pemecahannya berada pada suasana
perubahan yang terus menerus.

Tidak terduga → Masalah yang


muncul di luar jangkauan kebijakan
dan sistem masalah kebijakan.
Merencakan Kebijakan
Puskesmas

Bagian dari sistem administrasi

Dilaksanakan secara terus-menerus dan


berkesinambungan

Mampu menyelesaikan masalah

Mempunyai Tujuan

Berorientasi pada masa depan

Bersifat mampu kelola


Dasar-Dasar Membuat
Kebijakan Puskesmas
• Isu Strategis Pembangunan Kesehatan → Banyak masalah
kesehatan dapat dideteksi dan diatasi secara dini di tingkat
paling bawah

• Visi Strategis Pembangunan Kesehatan → Dengan


memperhatikan isu strategis pembangunan kesehatan dan juga
dengan mempertimbangkan perkembangan, masalah, serta
berbagai kecenderungan pembangunan kesehatan ke depan

• Misi Strategis Pembangunan Kesehatan → Visi pembangunan


kesehatan tersebut kemudian diejawantahkan melalui misi
pembangunan kesehatan
Pelaksanaan
RIWAYAT &
PERJALANAN PENYAKIT
Pengendalian
Pengorganisasian Penyelenggaraan Pemantauan Penilaian

Berupa Penanggung Melakukan Melakukan


penentuan para jawab dan para telaahan penilaian
penanggungjaw pelaksana yang penyelenggaran terhadap
ab dan para telah ditetapkan kegiatan dan penyelenggaran
pelaksana untuk pada hasil yang kegiatan dan
setiap kegiatan pengorganisasian dicapai dan hasil yang
serta untuk ditugaskan dicapai
setiap satuan menyelenggara
wilayah kerja kan kegiatan
puskesmas sesuai
dengan rencana
yang telah
ditetapkan

10
Pengawasan &
RIWAYAT PERJALANAN
Pertanggungjawaban PENYAKIT
Pengawasan Pertanggungjawaban

Pengawasan mencakup Pada setiap akhir tahun anggaran, kepala


aspek administratif, puskesmas harus membuat laporan
keuangan dan teknis pertanggungjawaban tahunan yang mencakup
pelayanan. Apabila pada pelaksanaan kegiatan, serta perolehan dan
pengawasan ditemukan penggunaan berbagai sumberdaya termasuk
adanya penyimpangan, baik keuangan. Laporan tersebut disampaikan kepada
terhadap rencana, standar, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota serta pihak-
peraturan perundangan- pihak terkait lainnya, termasuk masyarakat
undangan maupun berbagai melalui Badan Penyantun Puskesmas. Apabila
kewajiban yang berlaku, terjadi penggantian kepala puskesmas, maka
perlu dilakukan pembinaan kepala puskesmas yang lama diwajibkan
sesuai dengan ketentuan membuat laporan pertanggungjawaban masa
yang berlaku. jabatannya.

11
Penutup
Kesimpulan
Puskesmas adalah unit pelaksana teknis (UPT) dinas
kesehatan kabupaten/kota yang bertanggungjawab
menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu
wilayah kerja.

Untuk terselenggaranya berbagai upaya kesehatan


perorangan dan upaya kesehatan masyarakat yang
sesuai dengan azas penyelenggaraan Puskesmas
perlu ditunjang oleh manajeman kebijakan
Puskesmas yang baik.

Dalam perencanaan & pengambilan keputusan di


Puskesmas khususnya pada tahap manajemen
kebijakan di Puskesmas perlu dilakukan perumusan
masalah kebijakan, kemudian merencanakan
kebijakan Puskesmas dan menganalisis dasar-dasar
demi terwujudnya pengambilan kebijakan
Puskesmas yang baik
Daftar Pustaka
1. Keputusan Menteri Kesehatan RI No 128/Menkes/SK II/2004 tentang Kebijakan Dasar Puskesmas, 2004.
2. Tjiptoherijanto, prijono, Said Z. Abidin, Reformasi Administrasi dan Pembangunan Nasional. Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia: Jakarta, 2013.
3. Dunn, William N. Analisis Kebijakan. Diterjemahkan Drs. Samodra Wibawa, MA dkk. Edisi ke 2. Jakarta, 2018.
4. Departemen Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. 2011. Penyelenggara Puskesmas di Era
Desentralisasi. Jakarata: Departemen Kesehatan.
5. A.A Gde Muninjaya. Manajemen Kesehatan.EGC : Jakarta, 2017.
6. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Sistem Informasi Manajemen Puskesmas. Jakarta: Departemen Kesehatan
RI, 2007.
7. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan RI. Pedoman Lokakarya Mini Puskesmas.
Jakarta, 2006.
8. Abdurrahman. Kebijakan Pemerintah Daerah Dalam Pelayanan Kesehatan Masyarakat Di Kecamatan Bacan
Tengah Kabupaten Halmahera Selatan.Universitas Hasanuddin Makassar:tidak diterbitkan, 2012.
9. Novijan.BPJS Kesehatan, Supply, dan Demand Terhadap Layanan Kesehatan. Kepala Subbidang Analisis Risiko
Ekonomi, Keuangan, dan Sosial:tidak diterbitkan, 2014.
10. Hatmoko. Sistem Pelayanan Kesehatan Dasar Puskesmas. Universitas Mulawarman : Samarinda, 2016.
11. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 128/MenKes/SK/II/2004 Tentang Kebijakan Dasar Pusat
Kesehatan Masyarakat, 2004.
12. Simanjuntak, Maruli dan Matulessy PF. Sejarah dan Perkembangan Puskesmas. Fakultas Kedokteran Universitas
Kristen Indonesia : Jakarta, 2013.
13. Sulastomo. Manajemen Kesehatan. PT. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta, 2010.
14. Trihono. ARRIME : Pedoman Manajemen Puskesmas. Departemen Kesehatan : Jakarta, 2017.
15. Wijono, Djoko. Manajemen Puskesmas : Kebijakan dan Strategi. CV. Duta Prima Airlangga : Surabaya, 2018.
TERIMAKASIH

15