Anda di halaman 1dari 15

PERBEDAAN ANTARA AGEN PENJUALAN DAN CABANG

Agen Penjualan

1. Tidak beroperasi secara otonom, tetapi bertindak atas nama kantor pusat
2. Tidak menyimpan stok persediaan, tetapi dapat memajang produk, menerima pesanan,
dan mengatur pengiriman
3. Tidak dapat melakukan pemilihan produk, pengiklanan, pemberian kredit, penagihan
utang, dan aspek operasi bisnis lainnya, karena operasi tersebut dilakukan oleh kantor
pusat
4. Sistem pengambilan keputusan manajemen pada agen penjualan adalah bahwa
keputusan-keputusan dibuat di kantor pusat, dan agen penjualan hanya melakukan
operasi rutin

Cabang

1. Memiliki otonomi lebih luas dibandingkan dengan agen penjualan


2. Menyimpan stok persediaan dan memenuhi pesanan pelanggan
3. Terdapat beberapa kantor cabang yang menjalankan fungsi pemberian kredit secara
mandiri, namun beberapa lainnya ditangani oleh kantor pusat
4. Sistem pengambilan keputusan manajemen pada kantor cabang biasanya lebih tinggi
tingkatannya dibandingkan dengan agen penjualan, namun pengambilan keputusan
manajemen pada kantor cabang berbeda-beda tergantung kebijakan antar perusahaan

SISTEM AKUNTANSI DAN ENTITAS AKUNTANSI

Terdapat perbedaan antara agen penjualan dan kantor cabang dalam mengelola sistem
akuntansi keungannya. Pada agen penjualan umumnya tidak mengelola sistem akuntansi
keuangan, melainkan hanya menyimpan catatan-catatan dalam menjalankan usahanya. Sistem
akuntansi keuangan serta pencatatan transaksi-transaksi yang terjadi pada agen dikelola oleh
kantor pusat. Sedangkan pada kantor cabang, sistem akuntansi keuangannya dikelola secara
terpisah dengn kantor pusat. Kantor cabang memiliki pengendalian yang lebih baik terhadap

1
operasi dalam mengelola sistem akuntansi keuangannya, sehingga memungkinkan manajemen
puncak untuk menilai kinerja dari masing-masing cabang.
Namun, antara agen penjualan dan kantor cabang bukanlah entitas akuntansi yang
terpisah. Laporan akuntansi eksternal dibuat tidak terpisah antara kantor pusat dengan agen
penjualan maupun cabang. Pelaporan akuntansi eksternal merupakan pelaporan perusahaan
secara keseluruhan. Jadi ketika kantor cabang melakukan pencatatan akuntansi secara terpisah
dengan kantor pusat, hal ini bertujuan untuk tujuan internalnya. Namun, akun-akun yang
terdapat pada cabang perusahaan nantinya akan digabungkan dalam penyusunan laporan
akuntansi eksternal.

AKUNTANSI UNTUK AGEN PENJUALAN

Sistem akuntansi pada agen penjualan dicatat seluruhnya oleh kantor pusat. Ayat jurnal
yang dicatat oleh kantor pusat didasarkan pada dokumen – dokumen yang dihasilkan oleh agen,
seprti faktur penjualan, catatan penggajian, dan dokumen voucher kas kecil yang disediakan
oleh agen penjualan. Terdapat dokumen – dokumen yang diserahkan oleh pihak eksternal
langsung kepada kantor pusat, seperti tagihan yang diberikan langsung kepada kantor pusat atas
penggunaan jasa gas, listrik, air, dan telekomunikasi oleh agen. Pencatatan asset, pendapatan,
dan beban tiap agen dilakukan terpisah,hal ini bertujuan agar kantor pusat dapat menilai kinerja
masing-masing agen. Berikut adalah contoh pencatatan ayat jurnal pada kantor pusat untuk
transaksi agen penjualan :

Menyewa tanah untuk fasilitas penjualan Sewa dibayar dimuka – Agen x 50.000
Kas 50.000
Membangun dan melengkapi gedung untuk Perbaikan prasarana – Agen x 80.000
fasilitas penjualan Perabotan dan perlengkapan 21.000
kantor – Agen x
Peralatan – Agen x 16.000
Kas 117.000
Transfer kas ke agen untuk dana kas kecil Kas kecil – Agen x 2.500
Kas 2.500

2
Transfer persediaan yang akan digunakan Persediaan peragaan – Agen x 135.000
untuk peragaan pada agen penjualan Persediaan 135.000
Membayar tagihan yang diterima kantor Beban utilitas – Agen x 1.100
pusat atas beban-beban agen penjualan Beban kantor – Agen x 800
Beban asuransi – Agen x 2.000
Beban perjalanan – Agen x 1.400
Beban iklan – Agen x 2.700
Kas 8.000
Membayar gaji karyawan agen penjualan Beban gaji – Agen x 31.000
Kas 31.000
Memenuhi pesanan dari agen penjualan Piutang dagang 88.000
Penjualan – Agen x 88.000
Beban pokok penjualan – Agen x 56.000
Persediaan 56.000
Mengisi kembali dana kas kecil agen Beban kantor – Agen x 420
penjualan Beban perjalanan – Agen x 1.200
Beban tenaga kerja lepas – Agen x 750
Kas 2.370
Mencatat ayat jurnal penyesuaian akhir Beban sewa – Agen x 25.000
periode Beban penyusutan – Agen x 14.500
Beban gaji – Agen x 1.900
Sewa dibayar dimuka – Agen x 25.000
Akumulasi penyusutan – Agen x 14.500
Utang gaji 1.900

AKUNTANSI UNTUK OPERASI CABANG

Pencatatan pada sistem akuntansi untuk operasi cabang adalah dengan cara mencatat
masing-masing baik itu di kantor pusat maupun cabangnya untuk setiap transaksi-transaksi yang
terjadi di antara mereka. Namun, pada akhirnya akun-akun yang terdapat pada kantor pusat
maupun cabang akan digabungkan untuk membuat laporan keuangan eksternal meskipun pada

3
awalnya masing-masing melakukan pembukuan. Sehingga laporan keuangan eksternal
menyajikan perusahaan sebagai entitas tunggal. Penyusunan laporan keuangan eksternal ini
mirip dengan penyusunan laporan keuangan konsolidasian, dan dibutuhkan juga beberapa
eliminasi.

Akun antarperusahaan

Transaksi antara kantor pusat dan kantor cabang dicatat dengan menggunakan akun
resiprokal antara kantor pusat dan kantor cabang. Ketika pembukuan di kantor pusat dan di
kantor cabang selesai dimutakhirkan, saldo akun antarperusahaan di pembukuan kantor pusat
akan sama jumlahnya dengan saldo akun antarperusahaan pada kantor cabang, namun letak
akunnya berlawanan, yaitu di debit dan kredit. Misalnya, jika akun antarperusahaan pada
pembukuan kantor pusat memiliki saldo debit sebesar Rp 10.000.000, maka akun
antarperusahaan terkait pada pembukuan kantor cabang harus memiliki saldo kredit dalam
jumlah yang sama.

Akun antarperusahaan pada pembukuan kantor pusat disebut Investasi di Cabang,


sedangkan akun resiprokal pada pembukuan kantor cabang disebut Kantor Pusat. Apabila
perusahaan memiliki lebih dari satu cabang, maka akun Investasi nya juga terpisah untuk setiap
cabangnya.

Saldo akun Investasi di Cabang pada pembukuan kantor pusat menunjukkan besarnya
jumlah investasi kantor pusat pada cabang tersebut melalui kontribusi kas dan transfer asset ke
cabang. Akun resiprokal Kantor Pusat pada pembukuan cabang menunjukkan ekuitas (modal)
kantor pusat di cabang, dan saldo tersebut disajikan dibagian ekuitas pemilik pada laporan
keuangan cabang terpisah yang akan ditunjukkan kepada pihak internal.

Pendirian Cabang

Apabila sebuah perusahaan mendirikan cabang, transfer asset ke cabang dicatat oleh
kantor pusat pada akun Investasi di Cabang, begitu juga cabang mencatat transfer tersebut di
akun Kantor Pusat. Untuk lebih memahaminya, terdapat ilustrasi diasumsikan PT. Jaya
berlokasi di Jakarta akan mendirikan sebuah cabang di Medan, Sumatra Utara. Kantor pusat
mentransfer ke cabang berupa kas Rp 20.000.000, peralatan kantor baru senilai Rp 5.000.000,
dan peralatan toko baru senilai Rp 30.000.000.

4
Maka, pencatatan transfer tersebut sebagai berikut

Pembukuan di kantor pusat Pembukuan di cabang


Investasi di Cabang Medan 55.000.000 Kas 20.000.000
Kas 20.000.000 Peralatan kantor 5.000.000
Peralatan kantor 5.000.000 Peralatan toko 30.000.000
Peralatan toko 30.000.000 Kantor Pusat 55.000.000
Transfer asset ke cabang Medan Transfer asset dari kantor pusat

Setelah melihat pencatatan tersebut, akun Investasi di Cabang Medan pada pembukuan
kantor pusat dengan akun Kantor Pusat pada pembukuan cabang memiliki akun resiprokal Rp
55.000.000. Sehingga laporan posisi keuangan pada cabang Medan setelah di transfer adalah
sebagai berikut

Cabang Medan PT. Jaya

Laporan Posisi Keuangan

Aset : Liabilitas :

Kas Rp 20.000.000

Peralatan kantor Rp 5.000.000

Peralatan toko Rp 30.000000 Kantor Pusat Rp 55.000.000

Total Rp 55.000.000 Total Rp 55.000.000

Jika laporan keuangan cabang disusun untuk tujuan pelaporan internal, maka laporan
keuangan eksternal merefleksikan aktivitas dan posisi perusahaan secara keseluruhan dengan
menggabungkan akun pada kantor pusat dan cabang, sehingga menjadi entitas tunggal.

5
Pengakuan Laba Cabang

Penghitungan laba dilakukan secara periodik dengan cara yang normal. Di kantor
cabang biasanya jarang menghitung beban pajak penghasilan pada pembukuannya, sehingga
beban pajak penghasilan biasanya dihitung secara keseluruhan untuk perusahaan.

Akun pendapatan dan beban pada cabang ditutup ke ikhtisar laba rugi. Saldo ikhtisar
laba rugi tersebut menunjukkan laba cabang pada suatu periode dan ditutup ke akun Kantor
Pusat. Kemudian, ketika laba cabang dilaporkan ke kantor pusat, maka kantor pusat mengakui
laba cabang dan meningkatkan jumlah investasi kantor pusat di cabang tersebut. Berikut adalah
sebagai ilustrasi pencatatannya. Missal, akun ikhtisar laba rugi cabang A memiliki saldo kredit
sebesar Rp 63.000.000 pada akhir periode. Akun ikhtisar laba rugi ditutup pada ayat jurnal
cabang A sebagai berikut

Pembukuan di cabang Pembukuan di kantor pusat


Ikhtisar laba rugi 63.000.000 Investasi di Cabang A 63.000.000
Kantor Pusat 63.000.000 Laba Cabang A 63.000.000
Menutup ikhtisar laba rugi Mencatat laba cabang A

Pengiriman Barang Dagangan ke Cabang

Suatu cabang yang membeli dan menjual barang dagangan mendapatkan barang dagangan
tersebut dari kantor pusat, atau dapat juga diizinkan untuk mendapatkan sebagian barang
dagangan dari pihak eksternal. Pencatatn ayat jurnal ketika cabang membeli persediaan dari
pihak eksternal sebesar Rp5.000.000, berikut menggunakan metode perpetual adalah sebagai
berikut

Persediaan 5.000.000

Kas/utang dagang 5.000.000

Tidak ada pencatatan ayat jurnal tersebut pada pembukuan kantor pusat. Namun, ketika
persediaan ditransfer dari kantor pusat ke cabang, maka baik kantor pusat dan cabang harus
mencatat transaksi tersebut. Barang dagangan yang di transfer tersebut dapat sebesar biaya
perolehan di kantor pusat atau melebihi biaya perolehannya.

6
a. Barang dagangan yang di tagih sebesar biaya perolehannya
Diasumsikan kantor pusat PT. ABC mentransfer persediaan dengan harga Rp 8.000.000
ke cabang A. transfer tersebut dicatat pada pembukuan kantor pusat dengan ayat jurnal
sebagai beerikut
Metode perpetual
Pembukuan di kantor pusat Pembukuan di cabang
Investasi di Cabang A 8.000.000 Persediaan 8.000.000
Persediaan 8.000.000 Kantor Pusat 8.000.000
Transfer persediaan ke cabang A Transfer persediaan dari kantor pusat

Tidak ada keuntungan yang diakui karena barang yang di transfer ke cabang sebesar
harga perolehannya di kantor pusat

b. Biaya Pengiriman Barang Dagang


Biaya pengiriman barang dagang dari kantor pusat ke cabang menjadi bagian
dari biaya perolehan persediaan cabang. Misalnya diasumsikan kantor pusat PT. ABC
membayar Rp 100.000 untuk mengirim barang dagang senilai Rp 8.000.000 ke cabang
A. maka pencatatannya adalah sebagai berikut

Pembukuan di kantor pusat Pembukuan di cabang


Investasi di Cabang A 8.100.000 Persediaan 8.100.000
Persediaan 8.000.000 Kantor Pusat 8.100.000
Kas 100.000
Transfer persediaan ke cabang A dan Transfer persediaan dari kantor pusat
membayar ongkos kirim

c. Barang Dagang yang Ditagih Melebihi Biaya Perolehan


Hal ini dilakukan dengan menagihkan ke cabang atas persediaan yang di transfer
dengan harga yang lebih besar dari harga perolehan di kantor pusat. selisih antara biaya
perolehan dengan biaya transfer tersebut disebut laba antarperusahaan. Kemudian

7
ketika cabang menjual barang hasil transfer tersebut pada pihak eksternal, maka disebut
laba cabang. sebagai contoh, diasumsikan PT. ABC membeli barang dagang sebesar
Rp 12.000.000, kemudian dikirim ke cabang A dengan menagihkan ke cabang A sebesar
Rp 15.000.000. berikut adalah pencatatan ayat jurnalnya
Pembukuan di kantor pusat Pembukuan di cabang
Investasi di Cabang A 15.000.000 Persediaan 15.000.000
Persediaan 12.000.000 Kantor Pusat 15.000.000
Laba antarperusahaan 3.000.000
Yang belum terealisasi
Transfer persediaan dengan harga lebih Transfer persediaan dari kantor pusat
tinggi dari harga perolehan

Laba antarperusahaan Rp 3.000.000 belum terealisasi karena persediaan belum dijual


kembali ke pihak eksternal, sehingga pengakuan laba ditangguhkan sampai cabang
dapat menjual barang dagangan tersebut.

Apabila cabang sudah berhasil menjual barang tersebut, misalnya 80% dari persediaan
yang ditransfer, maka laba yang diakui oleh kantor pusat adalah dengan ayat jurnal
sebagai berikut

Laba antarperusahaan yang belum teralisasi 2.400.000


Laba Cabang A 2.400.000
3.000.000 x 80%

Apabila diakui sebagai jasa yang telah diberikan dan seharusnya dialokasikan ke kantor
pusat, maka ayat jurnal pada pembukuan kantor pusat adalah sebagai berikut

Laba antarperusahaan yang belum terealisas 2.400.000


Laba terealisasi atas pengiriman ke cabang 2.400.000
3.000.000 x 80%

8
d. Akuntansi untuk Aset Tetap Cabang
Tidak ada pencatatan khusus untuk pembelian asset tetap cabang maupun
penyusutannya. Apabila asset dibeli oleh kantor pusat untuk cabang, dan cabang
mencatat di pembukuannya, maka ayat jurnal harus dicatat di kantor pusat maupun di
cabang.

Contohnya, pembelian peralatan toko senilai Rp 20.000.000 oleh kantor pusat

Pembukuan di kantor pusat Pembukuan di cabang


Investasi di Cabang A 20.000.000 Peralatan toko 20.000.000
Kas 20.000.000 Kantor Pusat 20.000.000
Membeli asset untuk cabang Mencatat pembelian asset oleh kantor
pusat

Apabila pembelian asset dilakukan oleh cabang, maka harus dicatat di kantor
pusat maupun cabang

Pembukuan di kantor pusat Pembukuan di cabang


Peralatan toko - cabang A 20.000.000 Kantor Pusat 20.000.000
Investasi di Cabang A 20.000.000 Kas 20.000.000
Mencatat pembelian asset oleh cabang Membeli asset

Pembagian Beban secara Proporsional

Penetapan beban dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu :

a. Beban yang dikeluarkan oleh cabang tetapi dibayar oleh kantor pusat. Misalnya,
persediaan yang dibeli oleh cabang dari pihak eksternal dan ditagihkan ke kantor pusat
b. Beban yang dikeluarkan oleh kantor pusat atas nama cabang. Misalnya penyusutan atas
peralatan cabang yang dicatat di pembukuan kantor pusat, atau biaya kampanye iklan
untuk cabang yang diminta oleh kantor pusat

9
c. Alokasi biaya yang dikeluarkan oleh kantor pusat. Misalnya, sebagian dari biaya
kampanye iklan umum, atau sebagian dari biaya overhead umum kantor pusat

Berikut adalah contoh pencatatan ayat jurnal untuk mengakui beban

Kantor pusat PT. ABC mengeluarkan biaya yang ditetapkan ke cabang A adalah sebagai
berikut beban utilitas (biaya yang dikeluarkan oleh cabang A
dan ditagih ke akun utama kantor pusat) Rp 14.000.000

beban penyusutan (asset cabang A yang


dicatatpembukuan kantor pusat) 3.000.000

Overhead umum (dialokasikan ke cabang


berdasarkan bruto) 8.000.000

TOTAL Rp 35.000.000

Pembukuan di kantor pusat Pembukuan di cabang


Investasi di Cabang A 35.000.000 Beban utilitas 14.000.000
Beban utilitas 14.000.000 Beban penyusutan 3.000.000
Beban penyusutan 3.000.000 Beban overhead umum 8.000.000
Beban overhead umum 8.000.000 Kantor Pusat 35.000.000
Membagi beban ke cabang A Mencatat beban yang dibagi dati kantor
pusat

Laporan Keuangan secara Keseluruhan


Penyusunan laporan keuangan perusahaan secara keseluruhan umumnya menggunakan
kertas kerja untuk mempermudah penggabungan akun-akun kantor pusat dan cabang serta
mengeliminasi akun-akun antarperusahaan. Jika yang disusun adalah laporan keuangan
lengkap,maka kertas kerja tiga bagian dapat digunakan untuk menggabungkan akun-akun
kantor pusat dan cabang.

10
Asumsikan data berikut terkait dengan tahun fiskal PT Jaya yang berakhir pada 31 Desember
20X1.

1. PT Jaya mendirikan cabang di Medan dan segera mentransfer kas,peralatan kantor dan
peralatan toko dengan nilai total sebesar Rp 55.000.000 ke cabang,seperti yang dicatat
dalam ayat jurnal. Kemudian pada tahun tersebut kantor pusat PT Jaya mentransfer
persediaan senilai Rp 12.000.000 ke cabang dan menagihnya Rp 15.000.000,seperti
yang dicatat dalam ayat jurnal. PT Jaya melaporkan saldo Investasi di Cabang Medan
sebesar Rp 70.000.000 pada tanggal 31 Desember 20X1, sebelum jurnal penutup dicatat.
2. Cabang Medan melaporkan laba sebesar Rp 63.000.000 untuk tahun 20X1.
3. Saldo akun Investasi di Cabang Medan dan akun Kantor Pusat meningkat sebesar Rp
133.000.000 pada tanggal 31 Desember 20X1.
Saldo prapenutupan,31 Desember 20X1 Rp 70.000.000
Laba cabang Medan 20X1 Rp 63.000.000
Saldo pascapenutupan,31 Desember 20X1 Rp 133.000.000
4. Pada tanggal 31 Desember 20X1,cabang Medan memiliki persediaan senilai Rp
8.000.000 yang diperoleh dari kantor pusat; persediaan dicatat dalam akun terpisah dari
persediaan yang dibeli secara eksternal.
5. Bagian yang dikreditkan sebesar Rp 3.000.000 dari akun Laba Antarperusahaan Belum
yang Terealisasi PT Jaya atas pengiriman persediaan ke cabang Medan selama tahun
20X1 diakui sebagai berikut.
Laba antarperusahaan telah terealisasi pada akhir tahun Rp 1.400.000
Laba antarperusahaan yang belum terealisasi pada akhir tahun Rp 1.600.000
Total laba antarperusahaan 20X1 Rp 3.000.000

Laba antar perusahaan terealisai pada akhir tahun dibagi secara proporsional kekantor
pusa dan cabang pada pembukuan pusat dengan akun yang bernama Laba Terealisasi atas
Pengiriman ke Cabang. Akun Laba Antarperusahaan yang belum Terealisai dikurangi dengan
nilai, sehingga meninggalkan saldo akhir sebesar Rp 1.600.000.

Ayat jurnal yang diperlukan PT Jaya pada tanggal 31 Desember 20X1.

11
Laba Cabang Medan 63.000.000
Kantor Pusat,saldo prapenutupan 70.000.000
Investasi di Cabang Medan 133.000.000
Mengeliminasi akun antarperusahaan

Laba yang Terealisasi atas Pengiriman ke Cabang 1.400.000


Beban Pokok Penjualan 1.400.000
Mengeliminasi laba kantor pusat dari beban pokok penjualan

Laba Antarperusahaan yang Belum Terealisasi 1.600.000


Persediaan-dari Kantor Pusat 1.600.000
Mengeliminasi laba belum terealisasi dari nilai persediaan

Persediaan 6.400.000
Persediaan-dari Kantor Pusat 6.400.000
Mereklasifikasi persediaan dari kantor pusat
Rp 8.000.000-Rp 1.600.000

LATIHAN SOAL

Pembentukan Cabang
PT Diversifikasi beroperasi terutama di Indonesia bagian barat. Untuk memperluas penjualan
dan operasi di bagian timur, PT Diversifikasi membentuk cabang terpisah di Maluku pada tahun
20X2. Cabang Maluku mengelola sendiri pencatatanya. Berikut transaksi yang terjadi selama
tahun 20X2.
1. Kas sebesar Rp80.000.000 dan persediaan senilai Rp150.000.000 ditransfer ke cabang
yang baru dibentuk.
2. Peralatan dibeli dengan harga Rp120.000.000 oleh PT Diversifikasi dan diserahkan ke
cabang. Peralatan dicatat di pembukuan cabang.
3. Cabang membeli persediaan tambahan Rp35.000.000 secara kredit.
4. Biaya untuk mengirim persediaan dan peralatan ke cabang masing masing Rp300.000
dan Rp1.000.000. biaya pengiriman dibayar oleh kantor pusat.

12
5. Cabang menggunkan kas sebesar Rp50.000.000 untuk membeli gudang kecil guna
menyimpan persediaan yang diperoleh dari kantor pusat.

Diminta
Buatlah ayat jurnal yang dicatat oleh kantor pusat PT Diversifikasi dan cabang Maluku untuk
setiap transaksi di atas!

No Kantor Pusat Kantor Cabang


.
1 Investasi di Cabang Maluku 230.000.000 Kas 80.000.000
Kas 80.000.000 Persediaan 150.000.000
Persediaan 150.000.000 Investasi di Cabang Maluku 230.000.000
2 Investasi di Cabang Maluku 120.000.000 Peralatan 120.000.000
Kas 120.000.000 Transfer dari Kantor Pusat 120.000.000
3 No entry Persediaan 35.000.000
Utang 35.000.000
4 Investasi di Cabang Maluku 1.300.000 Pengiriman dari pusat 1.300.000
Kas 1.300.000 Kantor Pusat 1.300.000
5 No Entry Gudang 50.000.000
Kas 50.000.000

Transfer Persediaan

PT. Salam, sebuah produsen peralatan elektronik, mendirikan cabang terpisah di kota lain pada
tahun 20X6. Selama tahun 20X6, PT Salam memproduksi persediaan senilai Rp200.000.000
dan menjualnya ke cabang dengan harga Rp280.000.000. Cabang menjual 25% persediaan
tersebut pada tahun 20X6 dengan harga Rp105.000.000. PT Salam maupun cabangnya
menggunakan metode persediaan perpetual.

Diminta

Buatlah ayat jurnal terkait transfer persediaan selama tahun 20X6 yang dicatat pada pembukuan
kantor pusat PT.Salam dan cabang!

13
Transfer persediaan dari kantor pusat ke cabang

Di Kantor Pusat Di Cabang


Investasi di Cabang 280.000.000 Persediaan – dari kantor pusat 280.000.000
Persediaan 200.000.000 Kantor Pusat 280.000.000
Laba antarperusahaan 80.000.000
yang belum terealisasi

Cabang menjual 25% persediaan sebesar Rp 105.000.000 20X6

Di Kantor Pusat Di Cabang


Laba antarperusahaan 20.000.000 Kas Rp105.000.000
yang belum terealisasi Penjualan Rp105.000.000
Laba cabang 20.000.000 HPP Rp70.000.000
25% x 80.000.000 Persediaan Rp70.000.000

14
Kesimpulan

Pembukuan kantor cabang terdiri atas akun-akun yang saling menyeimbangkan,


serupa dengan pembukuan perusahaan terpisah. Namun, akun Kantor Pusat menggantikan akun
ekuitas pemilik yang terdapat pada pembukuan perusahaan terpisah. Akun Kantor Pusat
menunjukkan ekuitas kantor pusat di cabang.

Akun Kantor Pusat pada pembukuan cabang merupakan timbal balik dengan akun
Investasi di Cabang pada pembukuan kantor pusat. Kedua akun meningkat melalui transfer aset
dari kantor pusat ke cabang dan melalui laba cabang. Kedua akun menurun melalui transfer aset
dari cabang ke kantor pusat dan melalui rugi cabang.

Daftar Pustaka

Beker, Richard E., dkk. 2016. Akuntansi Keuangan Lanjutan. Jakarta : Salemba Empat.
Halifah, Firiyah. 2017. Akuntansi untuk Operasi Cabang.
https://www.academia.edu/33180127/Akuntansi_untuk_operasi_cabang (10 September 2019)

15