Anda di halaman 1dari 42

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT 3

PENGKAJIAN KEPERAWATAN DALAM KEPERAWATAN PSIKIATRIK

DI SUSUN OLEH
KELOMPOK I

1. PUTU CANDRA PRADNYASARI (P07120216041)


2. PUTU RIKA UMI KRISMONITA (P07120216042)
3. I KOMANG SUTHA JAYA (P07120216043)
4. DEWA AYU PUTRI WEDA DEWANTI (P07120216044)
5. KADEK MEISA RUSPITA DEWI (P07120216045)
6. NI LUH GEDE INTEN YULIANA DEWI (P07120216046)
7. LUH EKA DESRIANA PUTRI (P07120216047)
8. INDAH CANTIKA WAHADI (P07120216048)
9. NI PUTU AYU SUCITA DEWI (P07120216049)
10. NI PUTU INDAH PRASTIKA DEWI (P07120216050)
11. NI PUTU NATIYA GIYANTI (P07120216051)
12. FENDY ANUGRAH PRATAMA (P07120216052)
13. I GUSTI AGUNG GDE INDIRA PRASADHA (P07120216053)

TINGKAT 4.B SEMESTER VII D-IV KEPERAWATAN


KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmatNya, penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat waktu. Selain itu
penulis juga mengucapkan banyak terimakasih kepada dosen pembimbing kami yang telah
memberikan tugas dan membimbing kami.
Adapun tujuan penulis membuat makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah
ASKEP GADAR III, dengan topik “PENGKAJIAN KEPERAWATAN DALAM
KEPERAWATAN PSIKIATRIK”
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Maka penulis berharap
kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak. Semoga makalah ini memberikan
informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan
ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Denpasar, September 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ..................................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................................ 2
1.3 Tujuan .................................................................................................................................. 2
1.4 Manfaat ................................................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................................... 3
2.1 Konsep Dasar Kedaruratan Psikiatri .................................................................................... 3
2.2 Pengkajian Keperawatan Psikiatri ..................................................................................... 17
BAB III PENUTUP ..................................................................................................................... 36
3.1 Simpulan ............................................................................................................................ 36
3.2 Saran .................................................................................................................................. 37
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................. 38

ii
iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Psikiatri dipenuhi oleh fenomenologi dan penelitian fenomena mental. Dokter
psikiatri harus belajar untuk menguasai observasi yang teliti dan penjelasan yang
mengungkapkan keterampilan termasuk belajar bahasa baru. Bagian bahasa
didalam psikiatri termasuk pengenalan dan definisi tanda dan gejala perilaku dan
emosional.
Kondisi pada keadaan kegawat daruratan psikiatrik meliputi percobaan bunuh
diri, ketergantungan obat, intoksikasi alkohol, depresi akut, adanya delusi,
kekerasan, serangan panik, dan perubahan tingkah laku yang cepat dan signifikan,
serta beberapa kondisi medis lainnya yang mematikan dan muncul dengan gejala
psikiatriks umum. Kegawatdaruratan psikiatrik ada untuk mengidentifikasi dan
menangani kondisi ini. Kemampuan dokter untuk mengidentifikasi dan menangani
kondisi ini sangatlah penting.
Kegawat daruratan Psikiatrik merupakan aplikasi klinis dari psikiatrik pada
kondisi darurat. Kondisi ini menuntut intervensi psikiatriks seperti percobaan bunuh
diri, penyalahgunaan obat, depresi, penyakit kejiwaan, kekerasan atau perubahan
lainnya pada perilaku. Pelayanan kegawatdaruratan psikiatrik dilakukan oleh para
profesional di bidang kedokteran, ilmu perawatan, psikologi dan pekerja sosial.
Permintaan untuk layanan kegawatdaruratan psikiatrik dengan cepat
meningkat di seluruh dunia sejak tahun 1960-an, terutama di perkotaan.
Penatalaksanaan pada pasien kegawat daruratan psikiatrik sangat kompleks. Para
profesional yang bekerja pada pelayanan kegawatdaruratan psikiatrik umumnya
beresiko tinggi mendapatkan kekerasan akibat keadaan mental pasien mereka.
Pasien biasanya datang atas kemauan pribadi mereka, dianjurkan oleh petugas
1
kesehatan lainnya, atau tanpa disengaja. Penatalaksanaan pasien yang menuntut
intervensi psikiatrik pada umumnya meliputi stabilisasi krisis dari masalah hidup
pasien yang bisa meliputi gejala atau kekacauan mental baik sifatnya kronis
ataupun akut.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana konsep keperawatan psikiatri ?
2. Bagaimana pengkajian keperawatan dalam keperawatan psikiatrik ?

1.3 Tujuan
1. Agar mahasiswa dapat mengetahui konsep keperawatan psikiatri dan
pengkajian keperawatan dalam keperawatan psikiatrik.
2. Agar mahasiswa dapat melakukan pengkajian keperawatan sesuai konsep
pengkajian keperawatan dalam keperawatan psikiatrik.

1.4 Manfaat
Mahasiswa dapat mengkaji pasien dengan masalah psikiatrik sesuai dengan kaidah
keilmuan yang berlaku.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Dasar Kedaruratan Psikiatri


1. Pengertian
Keperawatan Gawat Darurat adalah pelayanan profesional yg didasarkan pada
ilmu keperawatan gawat darurat & tehnik keperawatan gawat darurat berbentuk
pelayanan bio-psiko-sosio- spiritual yang komprehensif ditujukan pada semua
kelompok usia yang sedang mengalami masalah kesehatan yang bersifat urgen , akut
dan kritis akibat trauma, proses kehidupan ataupun bencana.
Kedaruratan psikiatrik adalah suatu gangguan akut pada pikiran, perasaan,
perilaku, atau hubungan sosial yang membutuhkan suatu intervensi segera (Forster,
2002). Menurut Kaplan dan Sadock (1998) kedaruratan psikiatrik adalah gangguan
alam pikiran, perasaan atau perilaku yang membutuhkan intervensi terapeutik
segera. Dari pengertian tersebut, kedaruratan psikiatri adalah gangguan pikiran,
perasaan, perilaku dan atau sosial yang membahayakan diri sendiri atau orang lain
yang membutuhkan tindakan intensif yang segera. Sehingga prinsip dari kedaruratan
psikiatri adalah kondisi darurat dan tindakan intensif yang segera.
Berdasarkan prinsip tindakan intensif segera, maka penanganan kedaruratan
dibagi dalam fase intensif I (24 jam pertama), fase intensif II (24-72 jam
pertama),dan fase intensif III (72 jam-10 hari).
1) Fase intensif I adalah fase 24 jam pertama pasien dirawat dengan observasi,
diagnosa, tritmen dan evaluasi yang ketat. Berdasarkan hasil evaluasi pasien
maka pasien memiliki tiga kemungkinan yaitu dipulangkan,dilanjutkan ke fase
intensif II, atau dirujuk ke rumah sakit jiwa.
2) Fase intensif II perawatan pasien dengan observasi kurang ketat sampai dengan
72 jam. Berdasarkan hasil evaluasi maka pasien pada fase ini memiliki empat

3
kemungkinan yaitu dipulangkan, dipindahkan ke ruang fase intensif III, atau
kembali ke ruang fase intensif I.
3) Fase intensif III pasien di kondisikan sudah mulai stabil, sehingga observasi
menjadi lebih berkurang dan tindakan-tindakan keperawatan lebih diarahkan
kepada tindakan rehabilitasi. Fase ini berlangsung sampai dengan maksimal 10
hari. Merujuk kepada hasil evaluasi maka pasien pada fase ini dapat
dipulangkan, dirujuk ke rumah sakit jiwa atau unit psikiatri di rumah sakit
umum, ataupun kembali ke ruang fase intensif I atau II.
Kondisi pada keadaan kegawatdaruratan psikiatrik meliputi percobaan bunuh
diri, ketergantungan obat, intoksikasi alkohol, depresi akut, adanya delusi,
kekerasan, serangan panik, dan perubahan tingkah laku yang cepat dan signifikan,
serta beberapa kondisi medis lainnya yang mematikan dan muncul dengan gejala
psikiatriks umum. Kegawatdaruratan psikiatrik ada untuk mengidentifikasi dan
menangani kondisi ini. Kemampuan dokter untuk mengidentifikasi dan menangani
kondisi ini sangatlah penting.

2. Klasifikasi Kegawatdaruratan Psikiatri


1) Tidak berhubungan dengan kelainan organik: Diantaranya gangguan
emosional akut akibat dari antara lain; kematian, perceraian, perpisaan ,
bencana alam, pengasingan dan pemerkosaan.
2) Berhubungan dengan kelainan organik antara lain akibat dari; trauma kapitis,
struk, ketergantungan obat, kelainan metabolik, kondisi sensitivitas karena
obat

3. Faktor Penyebab Gadar Psikiatri


1) Tindak kekerasan
2) Perubahan perilaku
3) Gangguan penggunaan zat

4
Kedaruratan Psikiatri adalah tiap gangguan pada pikiran, perasaan dan tindakan
seseorang yang memerlukan intervensi terapeutik segera diantaranya yang
paling sering adalah:
1) Suicide (bunuh diri)
2) Violence and assaultive behavior (perilaku kekerasan dan menyerang)

4. Macam Tanda dan Gejala Awal pada


a) Bunuh diri
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat
mengakhiri kehidupan. Perilaku bunuh diri yang tampak pada seseorang disebabkan
karena stress yang tinggi dan kegagalan mekanisme koping yang digunakan dalam
mengatasi masalah (Keliat, 2002). Perilaku bunuh diri atau destruktif diri langsung
terjadi terus menerus dan intensif pada diri kehidupan seseorang. Perilaku yang
tampak adalah berlebihan, gejala atau ucapan verbal ingin bunuh diri, luka atau
nyeri (Rawlin dan Heacock, 1993). Bunuh diri adalah setiap aktivitas yang jika tidak
dicegah dapat mengarah pada kematian (Gail W. Stuart,2007). Secara garis besar
bunuh diri dapat dibagi menjadi 3 kategori besar yaitu;
1. Upaya bunuh diri (Suicide attempt) yaitu sengaja melakukan kegiatan
menuju bunuh diri, dan bila kegiatan itu sampai tuntas akan
menyebabkan kematian
2. Isyarat bunuh diri (Suicide gesture) yaitu bunuh diri yang direncanakan
untuk usaha mempengaruhi perilaku orang lain.
3. Ancaman bunuh diri (Suicide threat) yaitu suatu peringatan baik secara
langsung atau tidak langsung, verbal atau nonverbal bahwa seseorang
sedang mengupayakan bunuh diri

5
Dikutip dari situs kesehatan mental epigee.org, berikut ini adalah tanda-tanda
bunuh diri yang mungkin terjadi:
1. Bicara mengenai kematian: Bicara tentang keinginan menghilang, melompat,
menembak diri sendiri atau ungkapan membahayakan diri.
2. Baru saja kehilangan: kematian, perceraian, putus dengan pacar atau
kehilangan pekerjaan, semuanya bisa mengarah pada pemikiran bunuh diri
atau percobaan bunuh diri. Kehilangan lainnya yang bisa menandakan bunuh
diri termasuk hilangnya keyakinan beragama dan hilangnya ketertarikan
pada seseorang atau pada aktivitas yang sebelumnya dinikmati.
3. Perubahan kepribadian: seseorang mungkin memperlihatkan tanda-tanda
kelelahan, keraguan atau kecemasan yang tidak biasa.
4. Perubahan perilaku: kurangnya konsentrasi dalam bekerja, sekolah atau
kegiatan sehari-hari, seperti pekerjaan rumah tangga.
5. Perubahan pola tidur: tidur berlebihan, insomnia dan jenis gangguan tidur
lainnya bisa menjadi tanda-tanda dan gejala bunuh diri.
6. Perubahan kebiasaan makan: kehilangan nafsu makan atau bertambahnya
nafsu makan. Perubahan lain bisa termasuk penambahan atau penurunan
berat badan.
7. Berkurangnya ketertarikan seksual: perubahan seperti ini bisa mencakup
impotensi, keterlambatan atau ketidakteraturan menstruasi.
8. Harga diri rendah: gejala bunuh diri ini bisa diperlihatkan melalui emosi
seperti malu, minder atau membenci diri sendiri.
9. Ketakutan atau kehilangan kendali: seseorang khawatir akan kehilangan
jiwanya dan khawatir membahayakan dirinya atau orang lain.
10. Kurangnya harapan akan masa depan: tanda bunuh diri lainnya adalah
seseorang merasa bahwa tidak ada harapan untuk masa depan dan segala hal
tidak akan pernah bertambah baik.

6
b) Perilaku kekerasan
Umumnya klien dengan Perilaku Kekerasan dibawa dengan paksa ke Rumah
sakit Jiwa. Sering tampak klien diikat secara tidak manusiawi disertai bentakan dan
pengawalan oleh sejumlah anggota keluarga bahkan polisi. Perilaku kekerasan atau
agresif merupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang
secara fisik maupun psikologis (Berkowitz,
1993 dalam Depkes, 2000). Marah merupakan perasaan jengkel yang timbul
sebagai respon terhadap kecemasan, kebutuhan yang tidak terpenuhi yang
dirasakan sebagai ancaman ( Stuart dan Sunden, 1997 ). Pengertian Perilaku
kekerasan merupakan suatu bentuk ekspresi kemarahan yang tidak sesuai dimana
seseorang melakukan tindakan-tindakan yang dapat membahayakan/mencederai diri
sendiri, orang lain bahkan dapat merusak lingkungan.
Pada pengkajian awal dapat diketahui alasan utama klien masuk kerumah sakit
adalah perilaku kekerasan di rumah. Dapat dilakukan pengkajian dengan cara:
1. Observasi:
 Muka merah, pandangan tajam, otot tegang, nada suara yang
tinggi, berdebat.
 Sering pula tampak klien memaksakan kehendak : merampas
makanan, memukul jika tidak senang.
2. Wawancara
Diarahkan pada penyebab marah, perasaan marah, tanda-tanda marah yang
dirasakan klien. Keliat (2002) mengemukakan bahwa tanda -tanda marah
adalah sebagai berikut :
 Emosi : tidak adekuat, tidak aman, rasa terganggu, marah
(dendam), jengkel.
 Fisik : muka merah, pandangan tajam, nafas pendek, keringat,
sakit fisik,penyalahgunaan obat dan tekanan darah.

7
 Intelektual : mendominasi, bawel, sarkasme, berdebat,
meremehkan.
 Spiritual : kemahakuasaan, kebajikan/kebenaran diri, keraguan,
tidak
bermoral, kebejatan, kreativitas terhambat.
 Sosial : menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan
dan humor.
Tanda ancaman kekerasan (Kaplan and Sadock, 1997) adalah:
 Tindakan kekerasan belum lama, termasuk kekerasan terhadap
barang milik.
 Ancaman verbal atau fisik.
 Membawa senjata atau benda lain yang dapat digunakan sebagai
senjata
(misalnya : garpu, asbak).
 Agitasi psikomator progresif.
 Intoksikasi alkohol atau zat lain.
 Ciri paranoid pada pasien psikotik.
 Halusinasi dengar dengan perilaku kekerasan tetapi tidak semua
pasien
berada pada resiko tinggi.
 Penyakit otak, global atau dengan temuan lobus fantolis, lebih jarang
pada
temuan lobus temporalis (kontroversial).
 Kegembiraan katatonik.
 Episode manik tertentu.
 Episode depresif teragitasi tertentu.
 Gangguan kepribadian (kekerasan, penyerangan, atau diskontrol
implus).
8
Gambaran klinis menurut Stuart dan Sundeen (1997) adalah sebagai berikut:
 Muka merah
 Pandangan tajam
 Otot tegang
 Nada suara tinggi
 Berdebat
 Kadang memaksakan kehendak
 Stress
 Mengungkapkan secara verbal
 Menentang

Gambaran klinis menurut Direktorat Kesehatan Jiwa, Direktorat Jendral


Pelayanan Kesehatan Departemen Kesehatan RI (2014) adalah sebagai berikut :
a. Pasif agresif
 Sikap suka menghambat
 Bermalas-malasan
 Bermuka masam
 Keras kepala dan pendendam hi to
b. Gejala agresif yang terbuka (tingkah laku agresif)
 Suka membantah
 Menolak sikap penjelasan
 Bicara kasar
 Cenderung menuntut secara terus-menerus
 Hiperaktivitas
 Bertingkah laku kasar disertai kekerasan

9
c) Gaduh/gelisah
Tanda dan gejala pada pasien yang mengalami gaduh gelisah diantaranya:
 Gelisah
 Mondar-mandir
 Berteriak-teriak
 Loncat-loncat
 Marah-marah
 Curiga
 Agresif
 Beringas
 Agitasi
 Gembira
 Bernyanyi
 Bicara kacau
 Mengganggu orang lain
 Tidak tidur beberapa hari
 Sulit berkomunikasi

d) Withdrawal
Tanda dan gejala pada orang yang withdrawal diantaranya:
 Nafsu makan hilang
 Ansietas, gelisah
 Mialgia, arthralgia
 Lesu-lemas
 Tremor, kram perut, kejang
 ‘Craving’

10
5. Dasar Hukum Pelayanan Kedaruratan Psikiatri
Peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pelayanan gawat darurat
adalah UU No 23/1992 tentang Kesehatan, Peraturan Menteri Kesehatan
No.585/1989 tentang Persetujuan Tindakan Medis, dan Peraturan Menteri
Kesehatan No.159b/1988 tentang Rumah Sakit. Dipandang dan segi hukum dan
medikolegal, pelayanan gawat darurat berbeda dengan pelayanan non-gawat darurat
karena memiliki karakteristik khusus. Beberapa isu khusus dalam pelayanan gawat
darurat membutuhkan pengaturan hukum yang khusus dan akan menimbulkan
hubungan hukum yang berbeda dengan keadaan bukan gawat darurat.
Ketentuan tentang pemberian pertolongan dalam keadaan darurat telah tegas
diatur dalam pasal 5l UUNo.29/2004 tentang Praktik Kedokteran, di mana seorang
dokter wajib melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan.
Selanjutnya, walaupun dalam UU No.23/1992 tentang Kesehatan tidak disebutkan
istilah pelayanan gawat darurat namun secara tersirat upaya penyelenggaraan
pelayanan tersebut sebenamya merupakan hak setiap orang untuk memperoleh
derajat kesehatan yang optimal (pasal 4) Selanjutnya pasal 7 mengatur bahwa
“Pemerintah bertugas menyelenggarakan upaya kesehatan yang merata dan
terjangkau oleh masyarakat” termasuk fakir miskin, orang terlantar dan kurang
mampu. Tentunya upaya ini menyangkut pula pelayanan gawat darurat, baik yang
diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat (swasta).
Rumah sakit di Indonesia memiliki kewajiban untuk menyelenggarakan
pelayanan gawat darurat 24 jam sehari sebagai salah satu persyaratan ijin rumah
sakit. Dalam pelayanan gawat darurat tidak diperkenankan untuk meminta uang
muka sebagai persyaratan pemberian pelayanan. Dalam penanggulangan pasien
gawat darurat dikenal pelayanan fase pra-rumah sakit dan fase rumah sakit.
Pengaturan pelayanan gawat darurat untuk fase rumah sakit telah terdapat dalam
Peraturan Menteri Kesehatan No.159b/1988 tentang Rumah Sakit, di mana dalam
pasal 23 telah disebutkan kewajiban rumah sakit untuk menyelenggarakan

11
pelayanan gawat darurat selama 24 jam per hari Untuk fase pra-rumah sakit belum
ada pengaturan yang spesifik. Secara umum ketentuan yang dapat dipakai sebagai
landasan hukum adalah pasal 7 UU No.23/1992 tentang Kesehatan, yang harus
dilanjutkan dengan pengaturan yang spesifik untuk pelayanan gawat darurat fase
pra-rumah sakit Bentuk peraturan tersebut seyogyanya adalah peraturan pemerintah
karena menyangkut berbagai instansi di luar sektor kesehatan.
Pengertian tenaga kesehatan diatur dalam pasal 1 butir 3 UU No.23/1992 tentang
Kesehatan sebagai berikut: tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan
diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan
melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan
kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan”. Melihat ketentuan tersebut
nampak bahwa profesi kesehatan memerlukan kompetensi tertentu dan kewenangan
khusus karena tindakan yang dilakukan mengandung risiko yang tidak kecil.
Pengaturan tindakan medis secara umum dalam UU No.23/1992 tentang
Kesehatan dapat dilihat dalam pasal 32 ayat (4) yang menyatakan bahwa
“pelaksanaan pengobatan dan atau perawatan berdasarkan ilmu kedokteran dan ilmu
keperawatan hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai
keahlian dan kewenangan untuk itu “. Ketentuan tersebut dimaksudkan untuk
melindungi masyarakat dari tindakan seseorang yang tidak mempunyai keahlian dan
kewenangan untuk melakukan pengobatan/perawatan, sehingga akibat yang dapat
merugikan atau membahayakan terhadap kesehatan pasien dapat dihindari,
khususnya tindakan medis yang memelakukanngandung risiko.
Pengaturan kewenangan tenaga kesehatan dalam melakukan tindakan medik
diatur dalam pasal 50 UUNo.23/1992 tentang Kesehatan yang merumuskan bahwa
“tenaga kesehatan bertugas menyelenggarakan atau melakukan kegiatan kesehatan
sesuai dengan bidang keahlian dan atau kewenangan tenaga kesehatan yang
bersangkutan”. Pengaturan di atas menyangkut pelayanan gawat darurat pada fase di
rumah sakit, di mana pada dasarnya setiap dokter memiliki kewenangan untuk

12
melakukan berbagai tindakan medik termasuk tindakan spesifik dalam keadaan
gawat darurat. Dalam hal pertolongan tersebut dilakukan oleh tenaga kesehatan
maka yang bersangkutan harus menemelakukanrapkan standar profesi sesuai dengan
situasi (gawat darurat) saat itu.
Pelayanan gawat darurat fase pra-rumah sakit umumnya tindakan pertolongan
pertama dilakukan oleh masyarakat awam baik yang tidak terlatih maupun yang
teriatih di bidang medis. Dalam hal itu ketentuan perihal kewenangan untuk
melakukan tindakan medis dalam undang-undang kesehatan seperti di atas tidak
akan diterapkan, karena masyarakat melakukan hal itu dengan sukarela dan dengan
itikad yang baik. Selain itu mereka tidak dapat disebut sebagai tenaga kesehatan
karena pekerjaan utamanya bukan di bidang kesehatan.
Jika tindakan fase pra-rumah sakit dilaksanakan oleh tenaga terampil yang telah
mendapat pendidikan khusus di bidang kedokteran gawat darurat dan yang memang
tugasnya di bidang ini (misainya petugas 118), maka tanggungjawab hukumnya
tidak berbeda dengan tenaga kesehatan di rumah sakit. Penentuan ada tidaknya
kelalaian dilakukan dengan membandingkan keterampilan tindakannya dengan
tenaga yang serupa.
Hal-hal yang disoroti hukum dalam pelayanan gawat darurat dapat meliputi
hubungan hukum dalam pelayanan gawat darurat dan pembiayaan pelayanan gawat
darurat Karena secara yuridis keadaan gawat darurat cenderung menimbulkan
privilege tertentu bagi tenaga kesehatan maka perlu ditegaskan pengertian gawat
darurat.
Adakalanya pasien untuk menempatkan dirinya dalam keadaan gawat Dalam hal
pertanggungjawaban hukum, bila pihak pasien menggugat tenaga kesehatan karena
diduga terdapat kekeliruan dalam penegakan diagnosis atau pemberian terapi maka
pihak pasien harus membuktikan bahwa hanya kekeliruan itulah yang menjadi
penyebab kerugiannya/cacat (proximate cause). Bila tuduhan kelalaian tersebut
dilamelakukankukan dalam situasi gawat darurat maka perlu dipertimbangkan faktor

13
kondisi dan situasi saat peristiwa tersebut terjadi. Jadi, tepat atau tidaknya tindakan
tenaga kesehatan perlu dibandingkan dengan tenaga kesehatan yang
berkuamelakukanlifikasi sama, pada pada situasi dan kondisi yang sama pula.
Setiap tindakan medis harus mendapatkan persetujuan dari pasien (informed
consent). Hal itu telah diatur sebagai hak pasien dalam UU No.23/1992 tentang
Kesehatan pasal 53 ayat 2 dan Peraturan Menteri Kesehatan No.585/1989 tentang
Persetujuan Tindakan Medis. Dalam keadaan gawat darurat di mana harus segera
dilakukan tindakan medis pada pasien yang tidak sadar dan tidak didampingi pasien,
tidak perLu persetujuan dari siapapun (pasal 11 Peraturan Menteri Kesehatan
No.585/1989). Dalam hal persetujuan tersbut dapat diperoleh dalam bentuk tertulis,
maka lembar persetujuan tersebut harus disimpan dalam berkas rekam medis.

6. Data Tentang Psikosis


Skizofrenia adalah suatu gangguan psikosis fungsional berupa gangguan mental
berulang yang ditandai dengan gejala-gejala psikotik yang khas dan oleh
kemunduran fungsi sosial, fungsi kerja, dan perawatan diri.
Data American Psychiatric Association (APA) tahun 1995 menyebutkan 1%
populasi penduduk dunia menderita skizofrenia. 75% Penderita skizofrenia mulai
mengidapnya pada usia 16-25 tahun. Usia remaja dan dewasa muda memang
berisiko tinggi karena tahap kehidupan ini penuh stresor. Kondisi penderita sering
terlambat disadari keluarga dan lingkungannya karena dianggap sebagai bagian dari
tahap penyesuaian diri. Pengenalan dan intervensi dini berupa obat dan psikososial
sangat penting karena semakin lama ia tidak diobati, kemungkinan kambuh semakin
sering dan resistensi terhadap upaya terapi semakin kuat. Seseorang yang
mengalami gejala skizofrenia sebaiknya segera dibawa ke psikiater dan psikolog.
Pasien dengan gejala psikosis sering ditemukan di bagian kegawatdaruratan
psikiatrik. Menentukan sumber psikosis dapat menjadi sulit. Kadang pasien masuk
ke dalam status psikosis setelah sebelumnya putus dari perawatan yang

14
direncanakan. Pelayanan kegawatdaruratan psikiatrik tidak akan mampu
menyediakan penanganan jangka panjang untuk pasien jenis ini, cukup dengan
istirahat ringkas dan mengembalikan pasien kepada orang yang menangani kasus
mereka dan/atau memberikan lagi pengobatan psikiatrik yang diperlukan. Suatu
kunjungan pasien yang menderita suatu gangguan mental yang kronis dapat
menandakan perubahan dalam lifestyle dari individu atau suatu pergeseran kondisi
medis. Pertimbangan ini dapat berperan dalam perencanaan perawatan. Seseorang
dapat juga sedang menderita psikosis akut. Kondisi seperti itu dapat disiapkan untuk
diagnosis dengan memperoleh riwayat psikopatologi pasien, melakukan suatu
pengujian status mental, pelaksanaan pengujian psikologis, perolehan neuroimages,
dan memperoleh pengujian neurofisiologi lain. Berdasarkan ini, tenaga kesehatan
dapat memperoleh suatu diagnosa diferensial dan menyiapkan pasien untuk
perawatan. Seperti pertimbangan penanganan pasien lainnya, asal psikosis akut
dapat sukar ditentukan karena keadaan mental dari pasien.

7. Data Tentang Neurosis


Gangguan neurosis dialami sekitar 10-20% kelompok lanjut usia (lansia). Sering
sukar untuk mengenali gangguan ini pada lanjut usia (lansia) karena disangka
sebagai gejala ketuaan. Hampir separuhnya merupakan gangguan yang ada sejak
masa mudanya, sedangkan separuhnya lagi adalah gangguan yang didapatkannya
pada masa memasuki lanjut usia (lansia). Gangguan neurosis pada lanjut usia
(lansia) berhubungan erat dengan masalah psikososial dalam memasuki tahap lanjut
usia (lansia). Gangguan ini ditandai oleh kecemasan sebagai gejala utama dengan
daya tilikan (insight) serta daya menilai realitasnya yang baik. Kepribadiannya tetap
utuh, secara kualitas perilaku orang neurosis tetap baik, namun secara kuantitas
perilakunya menjadi irrasional. Sebagai contoh : mandi adalah hal yang biasa
dilakukan oleh orang normal sehari 2 kali, namun bagi orang neurosis obsesive

15
untuk mandi, ia akan mandi berkali-kali dalam satu hari dengan alasan tidak puas-
puas untuk mandi.

8. Data Tentang NAPZA


Masalah penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainya
(NAPZA) atau istilah yang populer dikenal masyarakat sebagai NARKOBA
(Narkotika dan Bahan/ Obat berbahanya) merupakan masalah yang sangat
kompleks, yang memerlukan upaya penanggulangan secara komprehensif dengan
melibatkan kerja sama multidispliner, multisektor, dan peran serta masyarakat
secara aktif yang dilaksanakan secara berkesinambungan, konsekuen dan konsisten.
Meskipun dalam Kedokteran, sebagian besar golongan Narkotika, Psikotropika
dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) masih bermanfaat bagi pengobatan, namun bila
disalahgunakan atau digunakan tidak menurut indikasi medis atau standar
pengobatan terlebih lagi bila disertai peredaran dijalur ilegal, akan berakibat sangat
merugikan bagi individu maupun masyarakat luas khususnya generasi muda.
Maraknya penyalahgunaan NAPZA tidak hanya dikota-kota besar saja, tapi sudah
sampai ke kota-kota kecil diseluruh wilayah Republik Indonesia, mulai dari tingkat
sosial ekonomi menengah bawah sampai tingkat sosial ekonomi atas. Dari data yang
ada, penyalahgunaan NAPZA paling banyak berumur antara 15–24 tahun.
Dari hasil identifikasi masalah NAPZA dilapangan melalui diskusi kelompok
terarah yang dilakukan Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat bekerja sama dengan
Direktorat Promosi Kesehatan – Ditjen Kesehatan Masyarakat Depkes-Kesos RI
dengan petugas-petugas puskesmas di beberapa propinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa
Barat, Banten, Jawa Timur, Bali ternyata pengetahuan petugas puskesmas mengenai
masalah NAPZA sangat minim sekali serta masih kurangnya buku yang dapat
dijadikan pedoman.

16
2.2 Pengkajian Keperawatan Psikiatri
A. PENGKAJIAN
1. IDENTITAS PASIEN :
Nama :… Nomor RM :… Jenis Kelamin :… Umur :…
Diagnosa Medis :

2. ALASAN MASUK :
...........................................................................

3. KEGAWATDARURATAN FISIK
Air Ways :  Paten  Tidak paten: Pangkal lidah jatuh  Sputum
 Darah  Spasme  Benda Asing
Suara nafas: Normal Stridor Tidak ada suara napas Lain-lain………
Breathing : Pola nafas:  Apneu  Dyspneu  Bradipneu  Takhipneu
 Orthopneu
Bunyi Nafas:  Vesikuler Whezing  Stridor  Ronchi
Irama Nafas : Teratur  Tidak teratur
Penggunaan otot Bantu nafas :  Retraksi dada  Cuping hidung
Jenis pernafasan:  Pernafasan dada:  Peranafasan perut Lain-lain……
Circulation : Akral:  Hangat  Dingin;
Pucat :  Ya  Tidak; Cianosis: Ya  Tidak
Pengisian Kapiler  < 2 detik  > 2 detik
Nadi: Teraba  Tidak teraba ; Tekanan darah ..... mmHg
Perdarahan :  Ya Tidak Jika Ya ………. Cc ; Lokasi pendarahan...........
Kelembaban kulit : Lembab  Kering
Turgor:  Normal  Kurang  Lain-lain
Disability : Tingkat kesadaran :…. Nilai GCS dewasa : E: M: V:

17
4. KEGAWATDARURATAN JIWA
STATUS MENTAL
a) Penampilan :
Data ini didapat melalui observasi perawat/keluarga:
a. Penampilan tidak rapi jika dari ujung rambut sampai ujung kaki ada yang
tidak rapi. Misalnya : Rambut acak-acakan, kancing tidak tepat, restleting
tidak dikunci, baju terbalik, baju tidak diganti-ganti.
b. Penggunaan pakaian tidak sesuai. Misalnya : pakai dalam dipakai di luar
baju.
c. Cara berpakaian tidak seperti biasanya jika penggunaan pakaian tidak tepat
(waktu, tempat, identitas, situasi/kondisi).
d. Jelaskan hal-hal yang ditampilkan klien dan kondisi lain yang tidak
tercantum
e. Malasah keperawatan ditulis sesuai dengan data.
b) Orientasi : Orientasi waktu tempat, tempat dan orang jelas. Jelaskan data
obyektif dan subyektif terkai hal- hal di atas. Masalah Keperawatan sesuai
dengan data.
c) Pembicaraan : Nada bicara tinggi/keras/ lemah/ biasa, menantang,
mengancam, mengulang-ulang pembicaraan.
d) Psikomotor : Data ini didapat melalui hasil observasi perawat/keluarga.
Kelambatan.
a. Hipokinesia, hipoaktifitas : gerakan atau aktifitas yang berkurang.
b. Sub stupor katatonik : reaksi terhadap lingkungan sangat berkurang,
gerakan dan aktivitas menjadi lambat.
c. Katalepsi : Mempertahankan secara kaku posisi badan tertentu juga bila
hendak diubah orang lain.
d. Flexibilitas serea : Mempertahankan posisi yang dibuat orang lain.

18
Peningkatan.
a. Hiperkinesia, hiperaktifitas : gerakan atau aktivitas yang berlebihan
b. Gaduh gelisah katatonik : aktifitas motorik yang tidak bertujuan yang
berkali-kali seakan tidak dipengaruhi rangsang luar.
c. Tik : gerakan ivolunter sekejap dan berkali-kali mengenai sekelompok
otot yang relative kecil.
d. Grimase : gerakan otot muka yang berubah-ubah yang tidak dapat
dikontrol.
e. Tremor : Jari-jari yang tampak gemetar ketika klien menjujurkan tangan
f. Kompulsif : Kegiatan yang dilakukan berulang-ulang, seperti
berulangkali mencuci tangan, mencuci muka, mandi, mengeringkan
tangan.
e) Afek/ emosi : Data ini didapatkan melalui hasil observasi perawat/keluarga.
a. Adekuat : Afek emosi yang sesuai dengan stimulus yang ada.
b. Inadekuat : Emosi yang tidak sesuai atau bertentangan dengan stimus yang
ada.
c. Datar/ dangkal : Tidak ada perubahan roman muka pada saat ada stimulus
yang menyenangkan atau menyedihkan.
d. Tumpul : Hanya bereaksi bila ada stiomulus emosi yang kuat.
e. Labil : emosi yang cepat berubah-ubah.
f. Anhedonia : Ketidakmampuan merasakan kesenangan.
g. Kesepian : Merasa dirinya ditinggalkan
h. Eforia : Rasa gembira yang berlebihan.
i. Ambivalensi : Afek emosi yang berlawanan timbul bersama-sama terhadap
seseorang, obyek atau sesuai hal.
j. Apatis : Berkurangnya afek emosi terhadap sesuatu atau semua hal disertai
rasa terpencil dan tidak peduli.
k. Marah : sudah jelas.

19
l. Depresif/sedih : seperti perasaan susah, tidak berguna, gagal, putus asa
dsb.
f) Persepsi :
a. Apakah ada halusinasi? Kalau ada termasuk jenis apa?
b. Apakah ada ilusi? Kalau ada deskripsikan?
 Jenis-jenis halusinasi sedah jelas
 Jelaskan isi halusinasi, waktu, frekwensi, situasi saat mengalami
halusinasi, perasaan saat mengalami halusinasi, gejala yang tampak pada
saat klien berhalusinasi.
 Masalah keperawatan sesuai dengan data.
g) Arus Pikir :
a. Koheren : Kalimat/pembicaraan dapat dipahami dengan baik.
b. Inkoheren : Kalimat tidak terbentuk, pembicaraan sulit dipahami.
c. Sirkumtansial : Pembicaraan yang berbelit-belit tapi sampai pada tujuan
pembicaraan.
d. Tangensial : Pembicaraan yang berbelit-belit tapi tidak sampai pada
tujuan.
e. Asosiasi longgar : pembicaraan tidak ada hubungan antara satu kalimat
dengan kalimat lainnya, dank lien tidak menyadari.
f. Flight of Ideas : Pembicaraan yang melompat dari satu topic ke topic yang
lainnya masih ada hubungan yang tidak logis dan tidak sampai pada
tujuan.
g. Bloking : pembicaraan yang berhenti tiba-tiba tanpa gangguan eksternal
kemudian dilanjutkan kembali.
h. Perseverasi : berulang-ulang menceritakan sesuatu ide, tema secara
berlebihan.
i. Logorea : Pembicaraan cepat tidak terkontrol
j. Neologisme : Membentuk kata-kata baru yang tidak dipahami oleh umum.

20
k. Irelevansi : ucapan yang tidak ada hubungannya dengan pertanyaan atau
dengan hal yang sedang dibicarakan.
h) Isi Pikir : Data didapat melaui wawancara.
a. Obsesi : pikiran yang selalu muncul meski klien berusaha
menghilangkannya
b. Phobia : ketakutan yang patalhogis/ tidak logis terhadap obyek/ situasi
tertentu.
c. Ekstasi : kegembiraan yang luar biasa
d. Fantasi : isi pikir tentang sesuatu keadaan atau kejadian yang diinginkan
e. Bunuh diri : ide bunuh diri
f. Ideas of reference : pembicaraan orang lain, benda-benda atau sesuatu
kejadian yang dihubungkan dengan dirinya
g. Pikiran magis : keyakinan klien tentang kemampuannya melakukan hal-hal
yang mustahil/ di luar kemampuannya
h. Preokupasi : pikiran yang terpaku pada satu ide
i. Alienasi : perasaan bahwa dirinya sudah menjadi lain, berbeda, asing
j. Rendah diri : merendahkan atau menghina diri sendiri, menyalahkan diri
sendiri tentang suatu hal yang pernah atau tidak pernah dilakukan
k. Pesimisme : Mempunyai pandangan yang suram mengenai banyak hal
dalam hidupnya
l. Waham:
 Agama : Keyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan dan
diucapkan secara berulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan
 Somatik/hipolondrik : Klien mempunyai keyakinan tentang tubuhnya dan
dikatakan secara berulang yang tidak sesuai dengan kenyataan
 Kebesaran : Klien mempunyai keyakinan yang berlebihan terhadap
kemampuannya yang disampaikan secara berulang yang tidak sesuai
dengan kenyataan

21
 Curiga : Klien mempunyai keyakinan bahwa ada seseorang atau kelompok
yang berusaha merugikan atau mencederaidirinya yang disampaikan secara
berulang dan tidak sesuai dengan kenyataan
 Nihilistik : Klien yakin bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia / meningal
yang dinyatakan secara berulang yang tidak sesuai dengan kenyataan
 Kejaran : Yakin bahwa ada orang / kelompok yang mengganggu , dimata-
matai atau kejelekan sedang dibicarakan orang banyak
 Dosa : Keyakinan bahwa ia telah berbuat dosa atau kesalahan yang besar
yang tidak bisa diampuni
Waham Bisar
 Sisip pikir : Klien yakin ada ide pikiran orang lain yang disisipkan di
dalam pikiran yang disampaikan secara berulang dan tidak sesuai dengan
kenyataan
 Siar pikir : Klien yakin ada orang lain mengetahui apa yang dia pikirkan
walaupun dia tidak menyatakan kepada orang tersebut yang dinyatakan
secara berulang dan tidak sesuai dengan kenyataan
 Kontrol pikir : Klien yakin pikirannya dikontrol oleh kekuatan dari luar.
i) Bentuk Pikir :
a. Realistik : Cara berfikir sesuai kenyataan/ realita yang ada
b. Nonrealistik : Cara berfikir yang tidak sesuai dengan kenyataan
c. Autistik : cara berfikir berdasarkan lamunan/ fantasi/ halusinasi /
wahamnya sendiri
d. Dereistim : cara berfikir dimana proses mentalnya tidak ada sangkut
pautnya
j) Interaksi : Data ini didapatkan melalui wawancara dan observasi
perawat/keluarga
a. Bermusuhan, tidak kooperatif, mudah tersinggung sudah jelas
b. Kontak mata kurang : tidak mau menatap lawan bicara
22
c. Defensif : selalu berusaha mempertahankan pendapat dan kebenaran
dirinya
d. Curiga : menunjukan sikap/perasaan tidak percaya pada orang lain

5. PEMERIKSAAN FISIK
Tanda-tanda vital : T :…………, S :………… N :……… .., R :……………

PENGKAJIAN RUFA PADA KASUS PSIKIATRI :


RUFA PERILAKU KEKERASAN

Domain Intensif I Intensif II Intensif III


1 - 10 11 - 20 21 – 30

Pikiran Orang lain / makhluk lain Orang lain / makhluk Orang lain / makhluk
mengancam lain mengancam lain mengancam

Perasaan Marah dan jengkel terus- Marah dan jengkel Kadang marah dan
menerus (seringkali) jengkel, sering tenang

Tindakan Terus-menerus mengancam Hanya mengancam Kadang-kadang masing


orang lain (verbal) secara verbal mengancam secara
Terus-menerus berusaha Tidak ada tindakan verbal.
mencederai orang lain (fisik) kekerasan fisik Komunikasi cukup
Komunikasi sangat kacau Komunikasi kacau koheren

RUFA WAHAM

Domain Intensif I Intensif II Intensif III


1 - 10 11 - 20 21 – 30

Pikiran Terus menerus terfiksasi Pikiran didominasi oleh Pikiran kadang-kadang


dengan wahamnya isi waham, kadang dikendalikan wahamnya

23
masih memiliki pikiran
yang rasional

Perasaan Sangat dipengaruhi oleh Lebih dipengaruhi Kadang masih


wahamnya wahamnya dipengaruhi wahamnya

Tindakan Komunikasi sangat kacau, Komunikasi masih Komunikasi sering


selalu dipengaruhi oleh kacau. terganggu waham
waham. Tidak mencederai orang
Mungkin mengancam orang lain
lain
Mencederai orang lain

RUFA RISIKO BUNUH DIRI


(Skor: 1-10 Skala RUFA) (Skor: 11-20 Skala RUFA (Skor: 21-30 Skala RUFA
Percobaan Bunuh Diri Ancaman Bunuh Diri Isyarat Bunuh Diri
 Aktif mencoba bunuh diri  Aktif memikirkan rencana  Mungkin sudah memiliki
dengan cara: bunuh diri, namun tidak ide untuk mengakhiri
 gantung diri disertai dengan percobaan hidupnya, namun tidak
 minum racun bunuh diri disertai dengan ancaman
 memotong urat nadi  Mengatakan ingin bunuh dan percobaan bunuh diri
 menjatuhkan diri dari diri namun tanpa rencana  Mengungkapkan perasaan
tempat yang tinggi yang spesifik seperti rasa bersalah /
 Mengalami depresi  Menarik diri dari sedih / marah / putus asa /
 Mempunyai rencana bunuh pergaulan sosial tidak berdaya
diri yang spesifik  Mengungkapkan hal-hal
 Menyiapkan alat untuk negatif tentang diri sendiri
bunuh diri (pistol, pisau, yang menggambarkan
silet, dll) harga diri rendah

24
 Mengatakan: “Tolong
jaga anak-anak karena
saya akan pergi jauh!”
atau “Segala sesuatu akan
lebih baik tanpa saya.”

RUFA HALISINASI

Domain Intensif I Intensif II Intensif III


1 - 10 11 – 20 21 – 30

Penilaian  Penilaian realitas  Mulai dapat  Pasien sudah


realitas terganggu, pasien tidak membedakan yang mengenal
bisa membedakan yang nyata dan yang halusinasinya
nyata dan yang tidak tidak nyata.  Berfikir logis
nyata.  Kadang-kadang  Persepsi adekuat
 Halusinasi dianggap mengalami
nyata gangguan pikiran

Perasaan  Panik  Cemas berat  Cemas sedang


 Reaksi emosinal  Emosi sesuai dengan
berlebihan atau kenyataan
berkurang, mudah
tersinggung

Prilaku  Pasien kehilangan control  PK secara verbal  Prilaku sesuai


diri, melukai diri sendiri,  Bicara, senyum dan  Ekspresi tenang
orang lain dan tertawa sendiri  Frekwensi
lingkungan akibat  Mengatakan munculnya
mengikuti isi mendengar suara, halusinasi jarang

25
halusinasinya melihat, mengecap,
 PK secara verbal mencium dan atau
 Kegiatan fisik yang merasa sesuatu
merefleksikan isi yang tidak nyata.
halusinasi seperti  Sikap curiga dan
amuk,agitasi,memukul permusuhan
atau melukai orang secara  Frekwensi
fisik, serta pengerusakan munculnya
secara lingkungan halusinasi sering
 Gejala di atas ditemukan
secara terus-menerus
pada pasien

RUFA PANIK

Domain Intensif I Intensif II Intensif III


1 - 10 11 – 20 21 – 30

Respon Napas pendek,rasa tercekik Napas pendek, Napas pendek, mulut


fisik dan palpitasi, nyeri dada, berkeringat, tekanan kering, anoreksia,
sakit kepala, pucat dan darah naik, diare/konstipasi
gemetar

Persepsi Persepsi sangat kacau, takut Persepsi sangat sempit, Hanya berfokus pada
menjadi gila, takut merasa tidak mampu masalahnya
kehilangan kendali menyelesaikan masalah

Perilaku Agitasi, mengamuk, marah Marah Sering merasa


gelisah,gerakan
tersentak-sentak

26
(meremas tangan)

Emosi Ketakutan Tegang Adanya perasaan tidak


aman

Verbal Blocking atau berteriak Bicara cepat terkadang Banyak bicara dan cepat
blocking

RUFA ISOLASI SOSIAL

Domain Intensif I Intensif II Intensif III


1 - 10 11 – 20 21 – 30

Respon terhadap Apatis Apatis Ada tapi jarang


lingkungan

Respon motorik Stupor Mulai ada pergerakan Pergerakan tubuh


Kataton tubuh lambat

Komunikasi dengan orang Tidak ada Ada respon non Respon verbal
lain verbal seperlunya

Kemampuan perawatan Total care Pertial care Minimal care


diri :
 Makan dan minum Tidak mampu Dibantu Dimotivasi
 Berhias Tidak mampu Dibantu Dimotivasi
 Toileting Tidak mampu Dibantu Dimotivasi

 Kebersihan diri Tidak mampu Dibantu Dimotivasi

Afek Datar Tumpul Sesuai

Kontak mata Tidak ada Ada tapi jarang ada

27
RUFA OVERDOSIS OPIOID

Domain Intensif I Intensif II Intensif III


1 - 10 11 – 20 21 – 30

Tingkat kesadaran koma Somnolen Compos mentis

Komunikasi Tidak ada Non verbal dan bicara Koheren baik verbal
kacau maupun non verbal
serta gelisah

TTV Respirasi Respirasi normal, Respirasi normal,


hipoventilasi heart rate bradikardi, takikardia, suhu
kurang dari 12 suhu badan fluktuatif, tubuh
kali permenit, hipotensi fluktuatif,tekanan
Heart rate darah meningkat dari
bradikardi, normal
hipotermi,
hipotensi

Respon fisik Pupil miosis Pupil dilatasi Pupil dilatasi,


(pinpoint pupil), gooseflesh, yawning,
bibir dan tubuh lakrimasi,
membiru berkeringat, rhinore,
emosi labil, nyeri
abdomen, diare,
mual dan atau
muntah dan tremor

28
RUFA PUTUS ZAT GOLONGAN OPIOID

Domain Intensif I Intensif II Intensif III


1 - 10 11 – 20 21 – 30

Mual dan muntah Mual menetap Mual ringan tanpa Tidak mual dan tidak
kadang muntah muntah muntah atau mual
yang hilang timbul

Berdirinya bulu-bulu Goose flesh jelas Goose flesh jelas dan Kadang-kadang
badan / merinding / goose pada tubuh dan dapat diraba Goose flesh jelas
flesh tangan pada tubuh dan
tangan

TTV Respirasi Respirasi normal, Respirasi normal,


hipoventilasi heart rate bradikardi, takikardia, suhu
kurang dari 12 suhu badan fluktuatif, tubuh
kali permenit, hipotensi fluktuatif,tekanan
Heart rate darah meningkat dari
bradikardi, normal
hipotermi,
hipotensi

Respon fisik Pupil miosis Pupil dilatasi Pupil dilatasi,


(pinpoint pupil), gooseflesh, yawning,
bibir dan tubuh lakrimasi,
membiru berkeringat, rhinore,
emosi labil, nyeri
abdomen, diare,
mual dan atau
muntah dan tremor

29
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Berikut adalah beberapa diagnose keperawatan yang mungkin muncul pada kasus
keperawatan psikiatri adalah ;
1. Perilaku Kekerasan Cenderung berisiko
2. Waham
3. Halusinasi
4. Risiko Bunuh Diri

C. INTERVENSI
I. DIAGNOSA KEPERAWATAN : WAHAM
RUFA : SKOR 1 – 10
SKOR 11 – 20
SKOR 21 – 30
II. TUJUAN :

III. INTERVENSI :
A. INTENSIF I :
a. Dengarkan ungkapan klien walaupun terkait wahamnya tanpa membantah
atau mendukung
b. Berkomunikasi sesuai kondisi obyektif
c. Psikofarmaka: anti psikotik parenteral, anti ansietas
B. INTENSIF II :
a. Dengarkan keluhan pasien tanpa menghakimi
b. Komunikasi sesuai kondisi obyektif pasien
c. Beri psikofarmaka: antipsikotik oral
C. INTENSIF III :
a. Dengarkan keluhan pasien

30
b. Bantu identifikasi stimulus waham dan usahakan menghindari stimulus
tersebut
c. Pertahankan pemberian psikofarmaka oral: anti psikotik

I. DIAGNOSA KEPERAWATAN : PRILAKU KEKERASAN


RUFA : SKOR 1 – 10
SKOR 11 – 20
SKOR 21 – 30
II. TUJUAN :

III. INTERVENSI :
A. INTENSIF I :
a. Kendalikan secara verbal
b. Pengikatan ATAU Isolasi
c. Psikofarmaka: anti psikotik parenteral, anti ansietas
B. INTENSIF II :
a. Dengarkan keluhan pasien tanpa menghakimi
b. Latih cara fisik mengendalikan marah: nafas dalam
c. Beri psikofarmaka: antipsikotik
C. INTENSIF III :
a. Dengarkan keluhan pasien
b. Latih cara mengendalikan marah dengan cara verbal, spiritual.
c. Pertahankan pemberian psikofarmaka oral: anti psikotik

I. DIAGNOSA KEPERAWATAN : HALUSINASI


RUFA : SKOR 1 – 10
SKOR 11 – 20
SKOR 21 – 30

31
II. TUJUAN :

III. INTERVENSI
A. INTENSIF I :
a. Komunikasi terapeutik
b. Siapkan lingkungan yang aman
c. Psikofarmaka: anti psikotik parenteral, anti ansietas
d. Observasi prilaku pasien tiap 15 menit terkait halusinasi
e. Kalau perlu lakukan Pengikatan
f. Bantu mengenal halusinasi
B. INTENSIF II :
a. Komunikasi terapeutik
b. Siapkan lingkungan yang aman
c. Psikofarmaka: anti psikotik parenteral, anti ansietas
d. Observasi prilaku pasien tiap 30 - 60 menit terkait halusinasi
e. Bantu mengenal halusinasi
f. Bantu mengontrol halusiansi dengan menghardik.
C. INTENSIF III :
a. Komunikasi terapeutik
b. Siapkan lingkungan yang aman
c. Psikofarmaka: anti psikotik parenteral, anti ansietas
d. Observasi prilaku pasien dalam 24 jam terkait halusinasi
e. Melatih mengontrol halusiansi dengan melakukan kegiatan terjadwal dan
memanfaatkan obat.

32
I. DIAGNOSA KEPERAWATAN : PERCOBAAN BUNUH DIRI
RUFA : SKOR 1 – 10
SKOR 11 – 20
SKOR 21 – 30
II. TUJUAN :

III. INTERVENSI :
A. INTENSIF I :
a. Bina hubungan saling percaya dengan pasien
b. Atasi masalah fisik akibat percobaan bunuh diri (rawat luka atau kondisi
akibat tindakan percobaan bunuh diri)
c. Identifikasi alasan, cara, dan waktu klien melakukan tindakan bunuh diri
d. Identifikasi alternatif penyelesaian masalah selain tindakan bunuh diri:
1. ekspresi perasaan kepada orang yang dapat dipercayai (teman atau
keluarga)
2. berpikir positif
3. melakukan aktivitas positif yang disenangi
4. aktivitas spiritual: baca doa, sholat
5. Observasi pasien setiap 10 menit sekali, sampai ia dipindahkan ke
ruang intensif II
6. Jauhkan semua benda yang berbahaya (misalnya pisau, silet, gelas, ikat
pinggang)
7. Kolaborasi dengan medis untuk program pengobatan pasien dengan
menggunakan prinsip lima (5) benar
8. Dengan lembut jelaskan pada pasien bahwa saudara akan melindungi
pasien sampai tidak ada keinginan bunuh diri

33
B. INTENSIF II :
a. Kolaborasi dengan medis untuk program pengobatan pasien dengan
menggunakan prinsip lima (5) benar
b. Observasi pasien setiap 30 menit sekali, sampai ia dipindahkan ke ruang
intensif III
c. Jauhkan semua benda yang berbahaya (misalnya pisau, silet, gelas, ikat
pinggang)
d. Lanjutkan perawatan luka atau kondisi akibat tindakan percobaan bunuh
diri (apabila pasien merupakan pasien pindahan dari ruang intensif I)
e. Berikan terapi musik untuk pasien
C. INTENSIF III :
a. Membantu pasien meningkatkan harga dirinya
b. Memberi kesempatan pasien mengungkapkan perasaannya.
c. Berikan pujian bila pasien dapat mengatakan perasaan yang positif.
d. Meyakinkan pasien bahwa dirinya penting
e. Membicarakan tentang keadaan yang sepatutnya disyukuri oleh pasien
f. Membantu pasien menerapkan pola koping yang konstruktif:
1. Identifikasi pola koping maladaptif dan adaptif
2. Identifikasi dampak koping yang dilakukan
3. Pilih pola koping adaptif
4. Anjurkan menggunakan pola koping konstruktif

I. DIAGNOSA KEPERAWATAN : ISOLASI SOSIAL


RUFA : SKOR 1 – 10
SKOR 11 – 20
SKOR 21 – 30
II. TUJUAN :

34
III. INTERVENSI
A. INTENSIF I :
a. Membina hubungan saling percaya
b. Bantu mengenal menyebab isolasi sosialnya
c. Melatih pasien menggunakan obat secara teratur
B. INTENSIF II :
a. Mengajarkan pasien berkenalan dengan orang lain
b. Mengajarkan pasien berkenalan dan bercakap-cakap dengan orang lain
C. INTENSIF III :
a. Memberikan terapi modalitas.

D. IMPLEMENTASI
Menurut Keliat (2006), implementasi keperawatan disesuaikan dengan rencana
tindakan keperawatan dengan memperhatikan dan mengutamakan masalah utama
yang aktual dan mengancam integritas pasien beserta lingkungannya. Sebelum
melaksanakan tindakan keperawatan yang sudah di rencanakan, perawat perlu
memvalidasi apakah rencana tindakan keperawatan masih di butuhkan dan sesuai
dengan kondisi pasien pada saat ini (here and now). Hubungan saling percaya antara
perawat dengan pasien merupakan dasar utama dalam pelaksanaan tindakan
keperawatan.

E. EVALUASI
Evaluasi menurut Keliat (2006) adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek
dari tindakan keperawatan yang dilaksanakan. Evaluasi dapat dibagi menjadi dua
jenis yaitu evaluasi proses atau formatif dan evaluasi hasil atau sumatif yang
dilakukan dengan membandingkan respon pasien dengan tujuan yang telah
ditentukan.

35
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Kedaruratan psikiatrik adalah suatu gangguan akut pada pikiran, perasaan,
perilaku, atau hubungan sosial yang membutuhkan suatu intervensi segera (Forster,
2002). Klasifikasi Kegawatdaruratan Psikiatri yaitu tidak berhubungan dengan
kelainan organik diantaranya gangguan emosional akut akibat dari antara lain;
kematian, perceraian, perpisaan , bencana alam, pengasingan dan pemerkosaan,
keduan berhubungan dengan kelainan organik antara lain akibat dari; trauma kapitis,
struk, ketergantungan obat, kelainan metabolik, kondisi sensitivitas karena obat.
Faktor penyebab gadar psikiatri yaitu tindak kekerasan, perubahan perilaku,
gangguan penggunaan zat. Macam tanda dan gejala awal pada kegawatdaruratan
psikiatri yaitu bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan
dapat mengakhiri kehidupan, Perilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu
bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun
psikologis, Gaduh/gelisah dan Withdrawal. Adapaun pengkajian keperawatan
psikiatri yaitu diawali dengan melakukan pengkajian , adapun strategi umum
pemeriksaan pasien kegawatdaruratan psikiatri yaitu Perlindungan diri pemeriksa,
Mencegah bahaya (Melukai diri sendiri dan bunuh diri, Kekerasan terhadap orang),
Adakah disebabkan kondisi medik?, Adakah kemungkinan psikosis fungsional? .
Meskipun pemeriksaan gawat darurat tidak harus lengkap, namun ada beberapa hal
yang harus dilakukan sesegera mungkin untuk keakuratan data , misalnya penapisan
toksikologi ( tes urin untuk opioid, amfetamin), pemeriksaan radiologi, EKG dan tes
laboratorium. Data penunjang seperti catatan medik sebelumnya, informasi dari
sumber luar juga dikumpulkan sebelum memulai tindakan. Pemberian terapi obat
atau pengekangan harus mengikuti prinsip terapi Maximum tranquilization with
minimum sedation. Tujuannya adalah untuk: Membantu pasien untuk dapat
mengendalikan dirinya kembali, Mengurangi/menghilangkan penderitaannya, dan

36
Agar evaluasi dapat dilanjutkan sampai didapat suatu kesimpulan akhir . Obat-
obatan yang sering digunakan adalah: Low-doseHigh-potency antipsychotics
seperti haloperidol, trifluoperazine, perphenazine dsb, Atypical antipsychotics,
seperti risperidone, quetiapine, olanzapine, Injeksi benzodiazepine. Kombinasi
benzodiazepine dan antipsikotik kadang sangat efektif. Intervensi keperawatan pada
klien kegawatdaruratan psikiatri difokuskan pada beberapa hal sesuai dengan tujuan
dan diagnosa yang sudah ditetapkan. Pada dasarnya intervensi difokuskan pada
lingkungan, hubungan perawat-klien, afektif, kognitif, perilaku, sosial, fisiologis.
Implementasi dilakukan sesuai dengan intervensi yang telah ditetapkan sebelumnya.
3.2 Saran

Dalam penulisan makalah ini kami sadari sepenuhnya masih banyak terdapat
kekeliruan dan kesalahan yang terdapat didalamnya. Oleh karen itu, saran dari
berbagai pihak yang sifatnya membangun sangat diharapkan dalam perbaikan
makalah ini.

37
DAFTAR PUSTAKA

Berkowitz, L. 1993. Emotional Behavior. Jakarta : CV. Taruna Grafica.


Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2014. www.depkes.go.id. Diakses pada tanggal 1
September 2019 Pukul. 08.08 Wita.
Elvira, Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto ed. 2010. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Badan
Penerbit FKUI.
Foster L. S. 2002. Practitioner' S Guide To Empirically Based Measures Ofdepression. New
York : Kluwer Academic Publishers
Https://id.scribd.com/document/357887728/ASKEP-Gadar-Jiwa-Pasien-Pisikiatrik-PDF 7.32
Diakses pada tanggal 1 September 2019 Pukul 07.47 Wita.
Kaplan, H.I., Sadock, B.J., Grebb, J.A. 1998. Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat. Jakarta:
Widya Medika. p 145-146.
Kaplan H.I, Sadock B.J, Grebb J.A. 1997. Sinopsis Psikiatri Jilid 1. Edisi ke-7. Terjemahan
Widjaja Kusuma. Jakarta: Binarupa Aksara. p. 86-108.
Keliat, B.A. 2002. Gangguan Konsep Diri. Cetakan I. Jakarta: ECG.
Rawlin, R.P. and Heacock, P.E. 1993. Clinical Manual of Psychiatic Nursing. First Edition.
ST. Louis : Mosby Year Book.
Stuart, Gail W. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa (Cetakan 1). Jakarta :EGC
Stuart & Sundeen. 1997. Buku Saku Keperawatan Jiwa.Jakarta: EGC.

38