Anda di halaman 1dari 53

FORMULASI DAN EFEKTIVITAS SABUN CAIR

PENYANITASI DENGAN EKSTRAK AMPAS KOPI DALAM


MENGHAMBAT PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus

PRADITTA AYU

DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2017
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Formulasi dan Efektivitas
Sabun Cair Penyanitasi dengan Ekstrak Ampas Kopi dalam Menghambat
Pertumbuhan Staphylococcus aureus adalah benar karya saya dengan arahan dari
komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan
tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang
diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks
dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.
Bogor, Oktober 2017

Praditta Ayu
NIM F24130132
ABSTRAK
PRADITTA AYU. Formulasi dan Efektivitas Sabun Cair Penyanitasi dengan
Ekstrak Ampas Kopi dalam Menghambat Pertumbuhan Staphylococcus aureus.
Dibimbing oleh RATIH DEWANTI HARIYADI dan HANIFAH NURYANI
LIOE.

Higiene pekerja memegang peranan penting dalam aspek keamanan pangan dan
area yang menjadi perhatian utama adalah pencucian tangan. Klorin merupakan
sanitaiser yang sering digunakan oleh industri pangan untuk mereduksi mikroba
pada tangan, namun penggunaan secara terus-menerus akan menyebabkan iritasi
pada kulit. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan sabun cair penyanitasi
berbasiskan ekstrak ampas kopi untuk memperbaiki kondisi higiene pekerja industri
pangan sebagai alternatif penggunaan klorin. Ampas kopi yang telah dilaporkan
memiliki komponen bioaktif seperti fenolik, kafein, dan melanoidin, merupakan
senyawa antimikroba yang baik terutama terhadap bakteri Gram positif seperti
Staphylococcus aureus yang banyak terdapat di tangan. Ampas kopi dikeringkan
dengan oven sampai kadar air kurang dari 13% (b.k.), lalu diekstrak dengan metode
microwave-assisted extraction dengan air sebagai pelarut dan perbandingan ampas
kopi kering dan air 1:10. Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) ekstrak terhadap
Staphylococcus aureus ditentukan dengan metode dilusi cair, kemudian ekstrak
ampas kopi ditambahkan pada basis sabun dengan konsentrasi 1 KHM dan 2 KHM
(4% dan 8% v/v). Kemampuan sabun berbasiskan ekstrak ampas kopi dalam
mereduksi Staphylococcus aureus dan total mikroba diuji dengan menggunakan
metode swab. Ekstrak ampas kopi yang didapatkan dari metode Microwave-
Assisted Extraction (MAE) menghasilkan rendemen sebesar 748.48% dan KHM
terhadap Staphylococcus aureus adalah 4%. Penelitian menunjukkan bahwa sabun
berbasis ekstrak ampas kopi dapat mereduksi Staphylococcus aureus dan total
mikroba sebesar 1.26 log CFU/cm2 dan 0.47 log CFU/cm2. Untuk meningkatkan
efektivitas ekstrak ampas kopi sebagai antimikroba, beberapa hal dapat dilakukan,
seperti peningkatan durasi ekstraksi, konsentrasi ekstrak ampas kopi yang
ditambahkan pada sabun dasar, jumlah sabun yang digunakan atau durasi kontak
dengan sabun.

Kata kunci: Ampas kopi, antimikroba, higiene pekerja, sabun cuci tangan,
Staphylococcus aureus
ABSTRACT

PRADITTA AYU. Formulation and Effectivity of Sanitizing Liquid Soap with


Spent Coffee Ground Extract to Inhibit The Growth of Staphylococcus aureus.
Supervised by RATIH DEWANTI HARIYADI and HANIFAH NURYANI LIOE.

Personal hygiene is the main key in food safety and hand-washing is the main
concern. Chlorine is one of the chemicals widely used in food industry for
sanitizing, but repetitive use of chlorin could result in skin irritation. The aim of
this study is to develop an alternative sanitizer to substitute the use of chlorine by
formulating liquid hand soap with spent coffee ground (SCG) extract. SCG has been
reported to contain bioactive compounds such as phenolic, caffeine, and melanoid
which are good antimicrobial agents especially for Gram positive bacteria such as
Staphylococcus aureus commonly found in hands. SCG was dried in an oven until
less than 13% moisture content (dry basis). Microwave-Assisted Extraction (MAE)
method is used to extract the dried SCG with water as the solvent (dried SCG and
water ratio 1:10). Minimum Inhibitory Concentration (MIC) of the extract to inhibit
the growth of Staphylococcus aureus is determined with broth dilution method and
SCG extract was added to liquid soap base at concentrations of 1 MIC and 2 MIC
(4% and 8% v/v). Swab method is used to observe the ability of liquid hand soap
with SCG extract to reduce Staphylococcus aureus and total microbes. Spent coffee
ground extract is obtained with MAE with a yield of 748.48% and MIC of the extract
to inhibit the growth of Staphylococcus aureus is 4%. This study showed that liquid
hand soap with spent coffee ground extract is able to reduce Staphylococcus aureus
and total microbes with log reduction of 1.25 log CFU/cm2 and 0.47 log CFU/cm2.
While spent coffee ground extract in soap is potential to be used as antimicrobes,
there is a need to improve its effectivity.

Keywords: Spent coffee ground, antimicrobes, personal hygiene, liquid hand soap,
Staphylococcus aureus
FORMULASI DAN EFEKTIVITAS SABUN CAIR
PENYANITASI DENGAN EKSTRAK AMPAS KOPI DALAM
MENGHAMBAT PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Teknologi Pertanian
pada
Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan

DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2017
PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas berkat dan
rahmatNya sehingga penelitian serta penulisan karya ilmiah ini dapat diselesaikan.
Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei hingga Agustus 2017 di Laboratorium
Mikrobiologi PAU Fateta IPB, Laboratorium Seafast Center, dan beberapa
laboratorium analisis di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB. Pada
penelitian ini, penulis mencari konsentrasi hambat minimum ekstrak ampas kopi
untuk menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus, kemudian
memformulasikannya menjadi sabun cair penyanitasi dan menguji efektivitasnya.
Penelitian ini berjudul “Formulasi dan Efektivitas Sabun Cair Penyanitasi dengan
Ekstrak Ampas Kopi untuk Menghambat Pertumbuhan Staphylococcus aureus.”
Dalam penyusunan skripsi ini, banyak pihak yang sangat membantu penulis
dalam berbagai hal. Oleh karena itu, penulis sampaikan rasa terima kasih kepada :
1. Orang tua tercinta yang telah memberikan doa dan dukungan kepada penulis
sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.
2. Kakak tercinta serta keluarga dan kerabat yang senantiasa memberikan doa
serta dukungan semangat kepada penulis.
3. Prof Dr Ir Ratih Dewanti Hariyadi, MSc selaku dosen pembimbing I
4. Dr Ir Hanifah Nuryani Lioe, MSi selaku dosen pembimbing II
5. Dr Ir Sukarno, MSc selaku dosen penguji
6. Dr Ir Feri Kusnandar, MSc selaku ketua departemen ITP IPB
7. Seluruh dosen, staf, dan karyawan program studi Teknologi Pangan.
8. Fina Meiriska, selaku partner lab seperjuangan saya yang tidak henti
memberikan motivasi kepada penulis.
9. Sahabat serta rekan-rekan seperjuangan tercinta yang tak henti memberikan
dukungan dan motivasi kepada penulis.
10. Semua pihak yang telah banyak membantu dalam penyusunan skripsi ini.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Oktober 2017

Praditta Ayu
DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL iii


DAFTAR GAMBAR iii
DAFTAR LAMPIRAN iii
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 2
Tujuan Penelitian 2
Manfaat Penelitian 2
TINJAUAN PUSTAKA 3
Higiene, Sanitasi, dan Upayanya 3
Kopi dan Pemanfaatan Ampas Kopi 3
Aktivitas Antimikroba Kopi 5
Staphylococcus aureus 6
METODE 6
Waktu dan Tempat Penelitian 6
Bahan 6
Alat 7
Metode Penelitian 7
Pembuatan Ekstrak Ampas Kopi 8
Perhitungan Densitas Pengeringan Ampas Kopi 9
Perhitungan Rendemen Pengeringan Ampas Kopi 9
Penentuan Lama Waktu Ekstraksi 9
Persiapan Kultur 10
Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum Ekstrak Ampas Kopi 10
Pembuatan Sabun Cair Pencuci Tangan 11
Pengujian Kualitas Sabun Cair Pencuci Tangan 11
Uji Efektivitas Sabun Cair Pencuci Tangan mengandung Esktrak 12
Ampas Kopi untuk Menurunkan Total Mikroba dan Staphylococcus
aureus pada Tangan
HASIL DAN PEMBAHASAN 13
Ekstrak Ampas Kopi 13
Pembuatan Ampas Kopi 13
Pengeringan Ampas Kopi 13
Ekstraksi Ampas Kopi dengan Metode Microwave-Assisted 13
Extraction
Kultur Staphylococcus aureus 15
Konsentrasi Hambat Minimum Ekstrak Ampas Kopi 16
Sabun Cair Penyanitasi dan Kualitas Sabun 19
Sabun Cair Penyanitasi 19
Kualitas Sabun : pH 19
Kualitas Sabun : Bobot Jenis 20
Uji Efektivitas Sabun Cair Pencuci Tangan Mengandung Ekstrak 21
Ampas Kopi untuk Menurunkan Total Mikroba dan Staphylococcus
aureus pada Tangan
SIMPULAN 24
Simpulan 24
Saran 24
DAFTAR PUSTAKA 25
LAMPIRAN 32
RIWAYAT HIDUP 39
DAFTAR TABEL

1 Konsentrasi hambat minimum EAK terhadap Staphylococcus aureus 17


2 Hubungan metode ekstraksi ampas kopi dengan nilai KHM yang 18
ditetapkan dengan metode broth-dilution
3 Formula pembuatan sabun cair penyanitasi yang mengandung EAK 19
4 pH sabun sebelum dan setelah penambahan asam fosfat sebagai 20
pH-adjuster untuk menyesuaikan dengan standar SNI
5 Bobot jenis sabun cair dengan atau tanpa penambahan EAK 21

DAFTAR GAMBAR

1 Metode penelitian 7
2 Metode pembuatan ekstrak ampas kopi 8
3 Absorbansi ekstrak ampas kopi (420 nm) pada beberapa durasi 14
ekstraksi yang menunjukkan tingkat kecoklatan hasil ekstraksi
4 Staphylococcus aureus perbesaran 1000x 16
5 Koloni Staphylococcus aureus pada media BPA + EYT 16
6 Tabung hasil uji KHM yang menunjukkan perbedaan tingkat 17
kekeruhan antara kontrol dan tabung yang diberi ekstrak ampas kopi
(EAK) 4 atau 8% (v/v)
7 Foaming ability sabun berbasis EAK 20
8 Pengaruh ekstrak ampas kopi (EAK) yang diaplikasikan dalam 23
sabun cair penyanitasi terhadap jumlah koloni Staphylococcus
aureus (A) dan total mikroba (B) di tangan sebelum dan setelah
pencucian tangan dengan sabun dasar dan klorin 20 ppm sebagai
pembanding
9 Reduksi Staphylococcus aureus (A) dan total mikroba (B) setelah 24
mencuci tangan dengan ekstrak ampas kopi, dengan sabun dasar
dan klorin 20 ppm sebagai pembanding

DAFTAR LAMPIRAN

1 Pembuatan emulsi kuning telur sebagai suplemen BPA 32


2 Pembuatan BPA + egg yolk emulsion (EYT) 33
3 Komposisi bahan pada uji KHM 33
4 Cawan pada uji efektivitas sabun cair penyanitasi dengan ekstrak
ampas kopi terhadap koloni Staphylococcus aureus sebelum (kiri)
dan setelah mencuci tangan setelah inkubasi selama 24 jam dengan
media BPA + EYT 33
5 Cawan pada uji efektivitas sabun cair penyanitasi dengan ekstrak 34
ampas kopi terhadap koloni total mikroba sebelum (kiri) dan
setelah mencuci tangan setelah inkubasi selama 24 jam dengan
media NA
6 Koloni Staphylococcus aureus pada media BPA + EYT 35
7 Koloni total mikroba pada media NA 36
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Keracunan pangan merupakan masalah yang selalu menjadi isu utama dalam
kesehatan masyarakat terutama di negara berkembang seperti Indonesia.
Berdasarkan laporan tahunan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik
Indonesia (BPOMRI) tahun 2014, dari total 47 kejadian luar biasa keracunan
pangan, 31 (66%) kasus disebabkan oleh mikroba, dan dari 31 kasus tersebut 12
(39%) disebabkan oleh cemaran Staphylococcus aureus (BPOMRI 2014). Pada
tahun 2015, dari total 61 kasus, 27 (44%) kasus disebabkan oleh mikroba, dan dari
27 kasus tersebut 3 (11%) disebabkan oleh cemaran bakteri patogen yang sama
(BPOMRI 2015). Data tersebut merupakan sedikit gambaran bahwa mikroba
merupakan salah satu penyebab utama kejadian luar biasa keracunan pangan di
Indonesia dan Staphylococcus aureus berkontribusi terhadap permasalahan
tersebut.
Higiene dan sanitasi memegang peranan penting dalam aspek keamanan dan
kesehatan pangan. Berbagai masalah kontaminasi dapat diatasi apabila higiene dan
sanitasi terlaksana dengan baik. Perilaku pekerja di industri pangan berperan besar
dalam mencapai hal tersebut. Centers for Disease and Control Prevention
menyebutkan bahwa masalah higiene pekerja berkontribusi terhadap 19% kasus
keracunan pangan di Amerika Serikat dan menempati posisi kedua setelah suhu
penyimpanan pangan tidak tepat yang berkontribusi sebesar 37% (FDA 2009). Area
yang menjadi perhatian utama jika membicarakan masalah higiene pekerja adalah
pencucian tangan. Mencuci tangan dengan benar dapat secara signifikan
mengurangi transmisi patogen dari tangan ke pangan atau benda-benda lainnya
(Michaels et al 2004).
Peningkatan taraf hidup dan pergeseran gaya hidup masyarakat Indonesia telah
mendorong terjadinya pergeseran dalam pola konsumsi kopi. Pada tahun 2006,
masyarakat Indonesia mengkonsumsi sebanyak 165 juta kg kopi dan pada tahun
2016 meningkat menjadi 270 juta kg kopi (Statista 2017). Hal ini menjadi salah satu
penyebab menjamurnya kedai kopi beberapa tahun belakangan ini sebagai salah
satu upaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dampak dari semakin banyak
kedai kopi adalah semakin banyak pula limbah yang dihasilkan. Ampas kopi, yang
merupakan limbah utama dari proses penyeduhan kopi, biasanya dibuang dan
dibiarkan menjadi pupuk. Namun, proses dekomposisi yang lama akan
menyebabkan permasalahan lingkungan. Memberi nilai tambah dan mengurangi
permasalahan lingkungan merupakan hal yang memotivasi beberapa orang untuk
memanfaatkan kembali ampas kopi. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa
ampas kopi masih mengandung sejumlah komponen bioaktif yang memiliki
aktivitas antioksidan dan antimikrobial (Mussatto et al 2011). Komponen-
komponen seperti fenolik, kafein, dan melanoidin diyakini merupakan agen
antimikrobial yang baik, terutama dalam menghambat pertumbuhan bakteri Gram
positif seperti Staphylococcus aureus (Monente et al 2015).
2

Perumusan Masalah

Sanitasi merupakan pencegahan penyakit dengan cara menghilangkan atau


mengatur faktor-faktor lingkungan yang berkaitan dalam rantai perpindahan
penyakit tersebut. Dalam industri pangan, sanitasi meliputi kegiatan-kegiatan
secara aseptik dalam persiapan, pengolahan, pengemasan produk pangan,
pembersihan dan sanitasi area pabrik, serta kesehatan pekerja. Salah satu senyawa
kimia yang paling umum digunakan untuk kebutuhan sanitasi adalah klorin. Selain
karena harganya murah, klorin dapat mematikan jenis mikroorganisme dengan
spektrum yang luas, meliputi bakteri Gram positif dan negatif (Purnawijayanti
2001) sehingga banyak dipilih oleh industri pangan. Menurut Suryawati (2004),
penggunaan klorin 20 ppm sebagai bahan pencuci tangan sudah mampu
menurunkan jumlah Staphylococcus aureus sebesar 4,4 – 4,7 log10cfu/cm2. Namun,
kekurangan dari penggunaan klorin 20 ppm adalah jika digunakan secara terus-
menerus dapat menyebabkan iritasi pada kulit (Snyder 2004). Oleh karena itu,
alternatif lain sebagai pengganti klorin untuk proses mencuci tangan pekerja di
industri pangan perlu dicari. Beberapa studi menyatakan bahwa penambahan
ekstrak tumbuhan pada sabun cair dapat menghambat pertumbuhan Staphylococcus
aureus. Menurut Dimpudus et al (2017) dan Mutmainnah et al (2014), sabun cair
dengan ekstrak bunga pacar air konsentrasi 5-15% dapat menghambat
Staphylococcus aureus dengan zona hambat sedang yaitu 5-10 mm (metode difusi)
dan sabun dengan ekstrak minyak kemangi 7.5% memiliki zona hambat 9.8 mm.
Namun, penambahan ekstrak ampas kopi pada sabun belum pernah dilakukan.
Ampas kopi, sebagai limbah yang memiliki komponen bioaktif sebagai agen
antimikrobial, dapat menjadi alternatif penggunaan klorin. Pada penelitian ini,
ekstrak ampas kopi akan ditambahkan pada formulasi sabun cuci tangan dan diuji
efektivitasnya dalam menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus.

Tujuan Penelitian

Tujuan umum penelitian ini adalah mengembangkan sabun cair penyanitasi


yang mengandung ekstrak ampas kopi untuk memperbaiki kondisi higiene pekerja
industri pangan. Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mengetahui
Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) ekstrak ampas kopi terhadap
Staphylococcus aureus, membuat sabun cair penyanitasi yang mengandung ekstrak
ampas kopi, dan mengevaluasi kemampuan sabun cair penyanitasi yang
mengandung ekstrak ampas kopi untuk menghambat pertumbuhan Staphylococcus
aureus dan mereduksi total mikroba pada tangan.

Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah sebagai informasi ilmiah konsentrasi efektif


ekstrak ampas kopi yang diformulasikan dalam sabun cair penyanitasi untuk
menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus dan mereduksi total mikroba
3

sehingga dapat diaplikasikan oleh pekerja di industri pangan untuk mengatasi


masalah higiene pekerja.

TINJAUAN PUSTAKA

Higiene, Sanitasi, dan Upayanya


Higiene merupakan upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi
kebersihan subjeknya seperti mencuci tangan dengan air bersih dan sabun untuk
melindungi kebersihan tangan. Sanitasi merupakan upaya kesehatan dengan cara
memelihara kebersihan lingkungan dari subjeknya. Contoh dari kegiatan sanitasi
adalah menyediakan air yang bersih untuk keperluan mencuci dan menyediakan
tempat sampah untuk mewadahi sampah agar sampah tidak dibuang sembarangan
(Depkes RI 2010). Perbedaan mendasar antara higiene dan sanitasi adalah higiene
lebih mengarahkan aktivitasnya pada manusia, sedangkan sanitasi pada faktor-
faktor lingkungan hidup manusia. Namun, higiene dan sanitasi tidak bisa
dipisahkan satu sama lain. Karena pada dasarnya, higiene dan sanitasi memiliki
tujuan yang sama, yaitu untuk mencapai kesehatan prima.
Sabun merupakan salah satu kebutuhan penting dalam kehidupan sehari-hari.
Sabun bekerja sebagai agen pembersih yang memisahkan dan melarutkan minyak
dan zat pengotor lainnya (Brady dan James 1994). Sabun dibuat dengan reaksi
kimia antara basa natrium atau kalium dengan asam lemak dari minyak nabati atau
lemak hewani (SNI 1994). Sabun yang baik harus memiliki daya bersih yang tinggi
dan tetap efektif walaupun dipakai pada temperatur dan tingkat kesadahan air yang
berbeda-beda (Shrivastava 1982). Sabun dapat dibuat dengan dua cara yaitu proses
saponifikasi dan proses netralisasi minyak. Proses saponifikasi terjadi karena reaksi
antara trigliserida dengan alkali, sedangkan proses netralisasi terjadi karena reaksi
antara asam lemak dengan alkali. Proses saponifikasi akan menghasilkan produk
sampingan yaitu gliserol, sedangkan proses netralisasi tidak menghasilkan gliserol
(Kirk et al 1954). Berdasarkan bentuk fisiknya, sabun dapat diklasifikasikan
menjadi sabun padat dan cair. Lemak dan sabun dari asam lemak jenuh dan rantai
jenuh panjang (C16-C18) menghasilkan sabun keras dan minyak dari asam lemak
tak jenuh dengan rantai pendek (C12-C14 ) menghasilkan sabun yang lebih lunak
dan lebih mudah larut (Fessenden 1997). Sabun yang dibuat dari natrium hidroksida
lebih sukar larut dibandingkan dengan sabun yang dibuat dari kalium hidroksida.

Kopi dan Pemanfaatan Ampas Kopi


Kopi merupakan salah satu jenis tanaman perkebunan yang sudah lama
dibudidayakan dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Dua jenis kopi utama yang
dipanen untuk konsumsi masyarakat adalah Arabika (Coffea arabica) dan Robusta
(Coffea robusta). Arabika, yang memiliki kualitas lebih baik dari robusta,
4

berkontribusi terhadap 70% produksi kopi di dunia (Freeman et al 2012). Bagian


dari pohon kopi yang digunakan sebagai produk komersial adalah biji kopi, yang
terdapat di dalam buah kopi. Buah kopi memiliki ukuran sebesar buah cranberry
dan memiliki kulit terluar berwarna merah gelap saat matang. Buah kopi terdiri dari
kulit, pulp, mucilage, parchment, silverskin, dan biji kopi. Setiap buah kopi
umumnya memiliki dua biji kopi. Buah kopi dengan kondisi khusus, yaitu memiliki
hanya satu biji kopi, dinamakan Peaberry (Freeman et al 2012).
Secara umum, langkah-langkah yang diperlukan untuk memproses buah kopi
menjadi minuman kopi adalah adalah pemrosesan buah kopi, penyangraian, dan
penyeduhan.
Ada dua metode pemrosesan buah kopi yang biasanya digunakan dalam
industri kopi, yaitu metode wet atau washed dan metode dry atau natural. Pada
metode wet, biji kopi direndam di dalam air terlebih dahulu untuk menghilangkan
pulp sebelum dilakukan pengeringan, sedangkan pada metode dry, penghilangan
pulp tidak diperlukan karena yang akan dikeringkan adalah buah utuh. Metode wet,
akan menghasilkan kopi dengan tingkat keasaman yang lebih tinggi dan rasa yang
lebih konsisten. Hal ini yang membuat metode wet lebih sering digunakan (Freeman
et al 2012). Pada metode wet, pulp yang menyelimuti biji kopi akan dihilangkan
dengan menggunakan depulper machine. Setelah itu, dilakukan proses fermentasi
yang akan menghilangkan lapisan mucilage dengan durasi fermentasi selama 24-36
jam untuk arabika, dan 72 jam untuk robusta. Setelah proses fermentasi, biji yang
masih diselimuti parchment akan dikeringkan selama 8-10 hari di bawah sinar
matahari untuk menurunkan kadar airnya sampai kurang lebih 12.5% (Murthy et al
2001). Langkah selanjutnya adalah menghilangkan parchment untuk mendapatkan
biji kopi utuh atau yang umum disebut green beans. Pada metode dry, buah yang
telah dipanen langsung dikeringkan selama 12-15 hari, lalu parchment dihilangkan
untuk mendapatkan green beans.
Pada proses penyangraian, green beans dipanaskan pada suhu 180°C – 240°C
selama 8 sampai 15 menit, tergantung derajat penyangraian yang diinginkan (ICO
2012). Ada beberapa reaksi kimia yang terjadi selama proses penyangraian, seperti
konversi pati menjadi gula, penguraian protein, dan perubahan struktur selular dari
biji kopi. Proses ini juga akan menghasilkan rasa dan aroma yang unik pada biji
kopi, serta melepas beberapa komponen volatil seperti caffeol (minyak kopi) yang
berperan dalam pembentukan cita rasa kopi.
Prinsip utama penyeduhan kopi adalah merendam biji kopi yang telah digiling
dalam air panas. Penyeduhan tidak hanya menghasilkan minuman kopi, namun juga
akan menghasilkan ampas kopi sebagai produk samping. Ampas kopi biasanya
langsung dibuang, dan hal ini menyebabkan permasalahan lingkungan.
Ampas kopi merupakan produk samping dari proses penyeduhan kopi. Ampas
kopi biasanya dibuang dalam bentuk limbah padat. Belakangan ini, jumlah ampas
kopi meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah kedai kopi. Ada kurang lebih
enam juta ton ampas kopi yang dihasilkan setiap tahun di dunia (Tokimoto et al
2005). Ampas kopi merupakan bahan yang bisa terurai, namun karena waktu
penguraiannya lama, permasalahan lingkungan dapat terjadi. Hal ini yang menjadi
motivasi sebagian orang untuk memanfaatkan ampas kopi untuk berbagai
kebutuhan. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa ampas kopi masih
memiliki sejumlah komponen bioaktif seperti komponen fenolik, asam klorogenat,
dan flavonoid (Mussatto et al 2011). Jumlah komponen bioaktif yang masih tersisa
5

pada ampas kopi dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti varietas kopi,
penanganan pra dan pasca panen, performa alat penyeduhan (Cruz 2011) dan
metode ekstraksi (Chirinos 2011).

Aktivitas Antimikroba Kopi


Kontaminasi patogen merupakan salah satu masalah yang menjadi isu penting
dalam keamanan pangan. Foodborne pathogen merupakan patogen yang terdapat
pada pangan, yang dapat menyebabkan keracunan pangan jika pangan yang
terkontaminasi patogen atau produk biologis yang dihasilkan patogen tersebut
dikonsumsi oleh manusia (CAC 2011). Beberapa cara untuk mencegah
pertumbuhan foodborne pathogen pada produk pangan adalah dengan food process
controlling, GMP (Good Manufacturing Practices) atau GAP (Good Agricultural
Practices), dan sistem HACCP (Karaca 2011). Namun seringkali cara-cara tersebut
tidak cukup untuk mencegah kontaminasi pada produk pangan, sehingga
penambahan agen antimikrobial diperlukan.
Agen antimikrobial merupakan substansi alami, semi-sintetik, atau sintetik
yang dapat membunuh atau mencegah pertumbuhan mikroba, yang akan
menyebabkan kerusakan minimal atau tidak menyebabkan kerusakan sama sekali
pada inangnya (Prescott et al 2000). Peningkatan permintaan konsumen akan
pangan dengan BTP (Bahan Tambahan Pangan) alami berdampak pada
peningkatan penggunaan agen antimikrobial yang dihasilkan dari tumbuhan
sebagai pengganti pengawet buatan (Roller dan Lusengo 1997). Komponen fenolik
pada tumbuhan diyakini memiliki aktivitas antimikrobial terhadap beberapa bakteri
patogen seperti Staphylococcus aureus, Salmonella, Escherichia coli, dan lainnya
(Cueva et al 2010).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ariesta (2011), ekstrak ampas kopi
dengan konsentrasi 0.25 g/mL dapat menghambat pertumbuhan Staphylococcus
aureus dengan diameter inhibisi >16 mm (Ariesta 2011). Dari penelitian yang sama,
didapatkan bahwa Staphylococcus aureus merupakan organisme yang paling
sensitif terhadap ekstrak ampas kopi dengan KHM 0.5 mg/mL (Ariesta 2011).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Monente et al (2015), ekstrak ampas
kopi dapat menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus dengan diameter
inhibisi 17.3±0.6 mm dan KHM 5 mg/mL (Monente et al 2015).
Komponen fenolik seperti asam klorogenat dan kafein banyak ditemukan
pada kopi. Komponen fenolik lainnya seperti tanin, lignin, dan antosianin juga
ditemukan dalam jumlah yang relatif sedikit (Farah et al 2006). Asam klorogenat,
kafein, dan tanin telah dipelajari memiliki aktivitas antimikrobial.
Derajat penyangraian kopi berkontribusi terhadap total komponen fenolik yang
terkandung dalam kopi. Sehingga aktivitas antimikrobial kopi salah satunya
dipengaruhi oleh derajat penyangraian. Semakin tinggi derajat penyangraian,
jumlah komponen fenolik seperti asam klorogenat akan menurun (Bita et al 2005).
Oleh karena itu light roast (derajat penyangraian rendah) akan memiliki aktivitas
antimikrobial yang lebih baik dari dark roast (derajat penyangraian tinggi).

Staphylococcus aureus
Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif berbentuk bulat
berdiameter 0,7-1,2 µm, fakultatif anaerob, dan tidak membentuk spora. Bakteri ini
tumbuh pada suhu optimum 37°C. Sebagian bakteri Staphylococcus merupakan
6

flora normal pada kulit, saluran pernafasan, dan saluran pencernaan makanan pada
manusia. Bakteri ini juga ditemukan di udara dan lingkungan sekitar. Enterotoksin
dari Staphylococcus aureus dapat menyebabkan keracunan makanan. Waktu onset
dari gejala keracunan biasanya cepat dan akut, tergantung pada daya tahan tubuh
dan banyaknya toksin yang termakan. Jumlah toksin yang dapat menyebabkan
keracunan adalah 1,0 µg/g makanan. Gejala keracunan ditandai oleh rasa mual,
muntah-muntah, dan diare yang hebat tanpa disertai demam (Jawetz et al 1995).
Menurut Syahrurachman et al (2010) klasifikasi Staphylococcus aureus adalah
sebagai berikut:
Ordo : Eubacteriales
Famili : Micrococcaceae
Genus : Staphylococcus
Spesies: Staphylococcus aureus

METODE

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan selama 4 bulan yaitu dari bulan Mei 2017 sampai Agustus
2017 di Laboratorium Mikrobiologi SEAFAST dan Laboratorium Mikrobiologi
PAU Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Institut
Pertanian Bogor.

Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian terbagi menjadi lima, yaitu bahan
untuk pembuatan ekstrak ampas kopi, persiapan kultur, penentuan Konsentrasi
Hambat Minimal (KHM), pembuatan sabun cair penyanitasi, dan uji efektivitas
sabun cair penyanitasi dengan ekstrak ampas kopi untuk menurunkan total mikroba
dan Staphylococcus aureus pada tangan. Bahan untuk pembuatan ekstrak ampas
kopi antara lain, kopi arabika yang telah disangrai dengan derajat penyangraian
light roast (180°C-205°C) yang didapatkan dari Malabar Mountain Coffee Bogor,
kertas saring Hario V60, dan air. Bahan untuk persiapan kultur antara lain, kultur
Staphylococcus aureus dari koleksi SEAFAST Center, Trypticase Soy Broth (TSB)
Oxoid, Trypticase Soy Agar (TSA) Oxoid, Baird-Parker Agar (BPA) Oxoid + egg
yolk tellurite (EYT), akuades, kristal violet, lugol, alkohol, dan safranin. Bahan
untuk penentuan KHM adalah Buffer Phosphate Water (BPW) Oxoid 0.1%, kultur
Staphylococcus aureus, Nutrient Broth (NB) Oxoid, dan ekstrak ampas kopi. Bahan
untuk pembuatan sabun cuci tangan antara lain sabun dasar cair merk Banaransoap
(Indonesia) (komposisi : air, minyak kelapa, KOH, minyak biji bunga matahari,
minyak biji kastor, gliserin, C6H8O7), ekstrak ampas kopi, dan H3PO4. Bahan untuk
uji efektivitas sabun cair penyanitasi dengan ekstrak ampas kopi adalah klorin 20
ppm, swab steril, BPW 0.1%, Nutrient Agar (NA) Oxoid, dan BPA + EYT.
7

Alat

Alat yang digunakan untuk pembuatan ekstrak ampas kopi antara lain,
timbangan, grinder Latina 600N (Yang Chia Machine Works, Taiwan), Hario
Dripper V60 VD-02 (Hario, Jepang), Hario Kettle Buono VKB-70HSV (Hario,
Jepang), termometer, cawan alumunium, oven 105°C seri 9000 (Thermolyne,
USA), desikator, gelas piala, microwave R-222-Y 399 watt (Sharp, Indonesia), alat
sentrifugasi tipe Z383K (Hermle Labortechnik, Jerman), tabung sentrifugasi,
spektrofotometer model UV-2450 (Shimadzu Corporation, Jepang), tabung reaksi,
dan pipet mohr. Alat yang digunakan untuk persiapan kultur antara lain, ose,
bunsen, tabung reaksi, gelas objek, dan mikroskop. Alat yang digunakan untuk
penentuan KHM antara lain, tabung reaksi, mikro pipet, dan inkubator goyang
model Excella E25 (New Brunswick Scientific, USA). Alat yang digunakan untuk
formulasi sabun cair penyanitasi adalah pipet, gelas piala, gelas ukur, gelas
pengaduk, pH meter, dan piknometer. Alat yang digunakan uji efektivitas sabun
cair penyanitasi dengan ekstrak ampas kopi adalah cawan petri dan tabung reaksi.

Metode Penelitian

Penelitian terbagi dalam 5 tahapan, yaitu pembuatan ekstrak ampas kopi


(EAK), persiapan kultur, penentuan KHM EAK, pembuatan sabun cair penyanitasi
serta pengujian kualitas sabun, dan uji efektivitas sabun cair penyanitasi
mengandung EAK untuk menurunkan total mikroba dan Staphylococcus aureus
pada tangan.

Gambar 1 Metode penelitian


8

Pembuatan Ekstrak Ampas Kopi


Pembuatan ekstrak ampas kopi terdiri dari 2 tahap utama, yaitu pembuatan
ampas kopi dan ekstraksi ampas kopi (Gambar 2). Pada pembuatan ampas kopi,
kopi diseduh dengan teknik penyeduhan manual pour over V60. Biji kopi Malabar
arabika didapatkan dari Malabar Mountain Cafe Bogor dengan proses fully wash
dan derajat penyangraian light roast. Biji kopi dengan derajat penyangraian light
roast memiliki warna coklat muda karena durasi penyangraian yang lebih sebentar
dibandingkan dengan medium dan dark roast. Temperatur internal biji kopi light
roast adalah 180°C-205°C. Tanggal penyangraian biji kopi adalah 25 Maret 2017.
Biji kopi ditimbang sebanyak 15 gram, lalu digiling dengan ukuran penggilingan
coarse (kasar) menggunakan grinder Latina 600N dan selanjutnya diseduh dengan
150 mL air suhu 90°C menggunakan Hario Dripper V60 VD-02 sehingga rasio kopi
dan air saat penyeduhan adalah 1:10. Penyeduhan kopi dengan metode ini banyak
digunakan pada kedai-kedai kopi karena cenderung menghasilkan karakter kopi
yang dapat memberikan kepuasan bagi yang meminumnya, seperti aroma lebih kuat,
hasil kopi yang bersih dan menonjolkan karakter-karakter tertentu (Otten 2014).
Durasi penyeduhan adalah 2 menit 30 detik. Ampas kopi, yang merupakan limbah
padat dari proses penyeduhan kopi, kemudian disimpan untuk dilakukan ekstraksi.
Ampas kopi dimasukkan ke dalam cawan dengan diameter alas 4.4 cm
dengan bobot kering cawan 4.6991 gram. Ampas kopi dimasukkan ke dalam cawan
dengan ketebalan ampas 0.7 cm, kemudian dikeringkan dengan oven 105°C selama
30 menit sampai kadar air basis kering (BK) kurang dari 13%. Hal-hal yang perlu
diperhatikan saat pengeringan dengan oven adalah lama pengeringan dan densitas
pengeringan, serta ketebalan bahan yang dikeringkan juga dicatat.

Gambar 2 Metode pembuatan ekstrak ampas kopi


9

Metode Microwave Assisted Extraction (MAE) dengan modifikasi


digunakan untuk mengekstrak ampas kopi (Chotanakoon 2013). Ampas kopi
dengan kadar air 12.17% (17.86 gram) ditempatkan ke dalam 3 buah gelas piala
500 mL masing-masing 5 gram ampas kopi. 50 mL air dimasukkan ke dalam
masing-masing gelas piala, sehingga rasio ampas kopi dan solven adalah 1:10.
Ampas kopi dan air kemudian ditempatkan dalam microwave dengan kekuatan 399
watt selama 7 menit, setelah itu didinginkan sampai suhu ruang tercapai. Larutan
yang diperoleh disentrifugasi dengan kecepatan putaran 4947 g selama 30 menit.
Supernatan ditempatkan pada tabung 15 mL, kemudian disimpan pada suhu 4°C.

Perhitungan densitas pengeringan ampas kopi


Densitas pengeringan (g/cm2) dihitung dengan cara menghitung luasan
nampan yang digunakan saat pengeringan serta bobot ampas kopi sebelum dan
setelah dikeringkan.

Perhitungan rendemen ampas kopi


Rendemen dihitung berdasarkan perbandingan berat akhir dengan berat
awal dikalikan 100%. Rendemen ampas kopi setelah penyeduhan dihitung dengan
membandingkan berat ampas kopi setelah penyeduhan dengan berat biji kopi
sebelum penyeduhan. Rendemen ampas kopi setelah pengeringan dihitung dengan
membandingkan berat ampas kopi setelah pengeringan dengan ampas kopi sebelum
pengeringan.

Penentuan lama waktu ekstrasi


Chotanakoon (2011) menggunakan microwave 800 watt dengan durasi
ekstrak 5 detik untuk mengekstrak ampas kopi pada penelitiannya. Pada penelitian
ini, digunakan microwave dengan kekuatan 399 watt. Waktu ekstraksi mungkin
bervariasi terhadap daya microwave yang berbeda, oleh karena itu penelitian
pendahuluan untuk mencari waktu ekstraksi yang terbaik. Pada penelitian ini dipilih
3 variasi waktu pengekstrakan yaitu 3 menit, 5 menit, dan 7 menit. Untuk
mengetahui waktu terbaik untuk mengekstrak komponen yang terdapat pada ampas
kopi, dilakukan uji dengan menggunakan spektrofotometer 420 nm, yang
digunakan untuk mengukur tingkat warna kecoklatan hasil ekstrak (Ajandouz &
Puigserver 1999). Ekstrak dengan absorbansi tertinggi akan dipilih untuk tahap
ekstraksi selanjutnya. Absorbansi yang tinggi menunjukkan bahwa komponen
dalam ampas kopi terekstrak dengan baik, karena komponen pada kopi yang
memiliki aktivitas antimikrobial merupakan komponen yang larut air. Salah satu
komponen berwarna coklat dan larut air pada kopi yang merupakan hasil dari reaksi
pencoklatan non-enzimatik adalah melanoidin (Moreira et al 2012). Melanoidin
diyakini merupakan senyawa antimikroba yang baik, terutama dalam menghambat
pertumbuhan bakteri Gram positif seperti Staphylococcus aureus (Monente et al
2015). Sehingga tingginya absorbansi menjadi salah satu bukti terekstraknya
komponen antimikroba pada ampas kopi. Selain melanoidin, proses penyangraian
melalui reaksi Maillard juga membentuk senyawa baru yang memiliki aktivitas
antimikroba yaitu glioksal, metilglioksal, diasetil, dan dikarbonil (Daglia et al
2007).
10

Persiapan Kultur Staphylococcus aureus


Persiapan kultur terdiri dari 2 tahap, yaitu konfirmasi kultur dan penyegaran
kultur. Konfirmasi kultur diperlukan untuk memastikan bahwa kultur yang
digunakan merupakan kultur Staphylococcus aureus. Konfirmasi kultur dilakukan
dengan pewarnaan Gram dan penumbuhan koloni pada Baird-Parker Agar (BPA)
+ EYT. Tahapan pembuatan EYT terdapat pada lampiran 1 dan 2. Pewarnaan Gram
dilakukan dengan cara memindahkan 1 ose kultur Staphylococcus aureus dari agar
miring ke gelas obyek dan meneteskannya dengan pewarna kristal violet, lugol,
alkohol, dan safranin satu per satu dengan pembilasan saat pergantian pewarna.
Staphylococcus aureus berbentuk bulat, biasanya bergerombol seperti anggur
dalam bentuk tidak teratur, berpasangan atau tunggal, berdiameter 0.5 sampai 1.0
µm pada perbesaran mikroskop 1000x (Breemer et al 2004). Penumbuhan koloni
pada BPA + EYT dilakukan dengan cara melakukan pengenceran pada TSB yang
mengandung koloni Staphylococcus aureus dengan pengenceran 10-3, 10-4, dan 10-
5
, kemudian mengambil 1 ml dari masing-masing tingkat pengenceran, plating pada
BPA + EYT, dan meratakannya dengan hockey stick. Inkubasi dilakukan selama 24
jam pada suhu 37°C dan jumlah koloni dihitung. Koloni Staphylococcus aureus
pada media BPA + EYT berbentuk bulat, licin, halus, cembung, berwarna abu-abu
hingga hitam pekat, dikelilingi batas berwarna terang, serta dikelilingi zona keruh
dengan batas luar berupa zona jernih (Tatini et al 1984).
Penyegaran kultur diperlukan untuk membangunkan kembali kultur dari
stok agar miring TSA. Penyegaran kultur dilakukan dengan cara mengambil 1 ose
kultur dari stok agar miring dan dipindahkan ke media TSB, kemudian dilakukan
inkubasi selama 24 jam pada suhu 37°C sampai tercapai fase late log yaitu 109
CFU/mL (Dwintasari 2010).

Penentuan KHM Ekstrak Ampas Kopi terhadap Staphylococcus aureus


Metode yang digunakan untuk menentukan KHM ekstrak ampas kopi
terhadap Staphylococcus aureus adalah dilusi cair yang dimodifikasi (Kubo et al
1995). Konsentrasi ekstrak ampas kopi yang digunakan sebesar 0.5%, 1%, 2%, 4%,
dan 8%. Sebanyak 6 buah tabung reaksi disiapkan, 1 buah tabung untuk kontrol dan
5 buah tabung untuk sampel uji. Medium NB, ekstrak ampas kopi, dan kultur
bakteri ditambahkan secara berurutan ke dalam tabung reaksi. Kultur bakteri (105
CFU/ml) ditambahkan ke semua tabung sebanyak 0.05 mL. Ekstrak ampas kopi
ditambahkan pada semua tabung kecuali tabung kontrol sedemikian sehingga
mencapai konsentrasi yang diinginkan dengan volume akhir larutan 5 mL. NB
ditambahkan agar volume total larutan pada tabung mencapai 5 mL. Perhitungan
volume ekstrak ampas kopi yang diperlukan menggunakan rumus sebagai berikut.

M1 x V1 = M2 x V2
11

Keterangan:
M1 = konsentrasi ekstrak ampas kopi (100%)
M2 = konsentrasi ekstrak ampas kopi yang diinginkan (%)
V1 = volume ekstrak ampas kopi yang diperlukan (mL)
V2 = volume total campuran NB, ekstrak ampas kopi, kultur bakteri = 5 mL

Dan perhitungan volume NB yang diperlukan sebagai berikut.

volume NB = V2 - V1 - volume kultur

Keterangan:
Volume kultur = 50 μl kultur dari kultur 107 CFU/mL

Jumlah awal kultur bakteri yang digunakan adalah sekitar 105 CFU/mL (CLSI
2012). Tabung kontrol hanya berisi campuran medium NB dan kultur bakteri.
Tabung yang telah berisi ketiga bahan tersebut kemudian divortex dan diinkubasi
dalam inkubator bergoyang pada suhu 37°C, kecepatan 130 rpm selama 24 jam.
Komposisi bahan pada setiap tabung terdapat pada lampiran 3. Nilai KHM
dinyatakan sebagai konsentrasi pertama atau terendah dari ekstrak ampas kopi yang
terlihat tidak terdapat pertumbuhan bakteri (tidak terdapat kekeruhan) setelah masa
inkubasi selama 24 jam. Penentuan nilai KHM ini dilakukan dengan
membandingkan tabung uji terhadap tabung kontrol.

Pembuatan Sabun Cair Penyanitasi


Ekstrak ampas kopi ditambahkan ke dalam gelas piala yang telah berisi sabun
dasar dengan volum sedemikian sehingga konsentrasi ekstrak ampas kopi pada
gelas piala 1 KHM dan 2 KHM. Penambahan asam atau basa fosfat dapat dilakukan
jika pH tidak memenuhi standar. Pencampuran dilakukan dengan pengadukan
menggunakan gelas pengaduk sampai homogen.

Pengujian Kualitas Sabun Cair Penyanitasi


Pengukuran pH pada sabun cair (SNI 06-4085-1996) dilakukan dengan
menggunakan pH meter. Alat pH meter yang digunakan sebelumnya dikalibrasi
terlebih dahulu menggunakan larutan buffer pH 4 dan pH 7. Pengukuran pH
dilakukan dengan pengulangan sebanyak dua kali. Menurut SNI tentang sabun
mandi cair, standar pH normal sabun cair sebesar 6-8 (SNI 1994).
Pengukuran viskositas sabun (SNI 06-4085-1996) diukur dengan menggunakan
viskometer Brookfield. Viskositas sabun cair yang dipersyaratkan SNI, yaitu 500-
20000 cP. Sampel uji ditempatkan dalam wadah dengan nomor yang disesuaikan
pada nomor di rotor. Rotor yang digunakan disesuaikan dengan batas viskositas
yang dapat diukur. Viskositas sabun akan terlihat langsung pada alat.
Bobot jenis sabun cair menurut SNI 06-4085-1996 didefinisikan sebagai
perbandingan antara bobot sabun cair dengan bobot air pada volume dan suhu yang
sama. Standar bobot jenis sabun cair yang dipersyaratkan oleh SNI, yaitu 1,01-1,1
(SNI 1994). Bobot jenis sabun cair diukur pada suhu 25°C dengan menggunakan
piknometer. Piknometer yang sudah bersih dan kering ditimbang. Selanjutnya
sampel dimasukkan ke dalam piknometer tersebut dan tutup rapat, lalu ditimbang
12

kembali. Sebagai pembanding, lakukan pemerikasaan terhadap akuades.


Perhitungan bobot jenis sebagai berikut.

ρ = WS / WA

Keterangan:
ρ = bobot jenis sampel
WS = massa jenis sampel (g/mL)
WA = massa jenis akuades (g/mL)

Uji Efektivitas Sabun Cair Penyanitasi Mengandung Ekstrak Ampas Kopi


untuk Menurunkan Total Mikroba dan Staphylococcus aureus pada Tangan

Uji efektivitas sabun cair pencuci tangan dalam menurunkan total mikroba dan
jumlah Staphylococcus aureus pada tangan dilakukan menggunakan metode swab
yang dijelaskan oleh Okareh dan Erhahon (2015) dengan sedikit modifikasi.
Pengujian dilakukan dengan membandingkan total mikroba dan jumlah
Staphylococcus aureus yang terdapat pada tangan sebelum dicuci dan setelah
dicuci. Untuk itu dibuat beberapa sampel tangan : tangan yang dicuci dengan
larutan klorin 20 ppm, tangan yang dicuci dengan sabun tanpa ekstrak ampas kopi,
dan sampel tangan yang dicuci dengan sabun cair ekstrak ampas kopi 1 KHM dan
2 KHM. Pencucian tangan dilakukan dengan cara mengusapkan 1.5 mL sampel (1
pump) pada telapak tangan dengan luasan yang telah ditentukan sebanyak 10 kali
usap selama kurang lebih 10 detik kemudian membilasnya dengan air mengalir
selama 20 detik kemudian dikering anginkan. Sampel tangan yang dicuci dengan
larutan klorin 20 ppm bertujuan membandingkan efektivitas kerja sabun dengan
kerja klorin 20 ppm pada tangan. Penghitungan jumlah bakteri menggunakan
metode hitungan cawan (plate count method) dengan cara tuang (pour plate
method). Pengujian dilakukan dengan 1 kali ulangan dan plating dilakukan duplo.
Pengujian dimulai dengan memasukkan kepala tangkai swab steril ke dalam
tabung reaksi berisi 10 ml Buffered Peptone Water (BPW) 0.1% dan kelebihan
cairan dibuang dengan menekan kepala swab pada dinding dalam tabung.
Selanjutnya, dibuat pola luasan permukaan pada telapak tangan dengan luasan 2 x
2 cm2. Kepala swab ditempelkan pada permukaan yang akan diuji dengan sudut
30°, kemudian kepala swab diusapkan dengan memutar perlahan ke seluruh
permukaan uji. Pengusapan pada area yang sama dilakukan sebanyak 5 kali. Kepala
swab kemudian dimasukkan kembali ke dalam tabung reaksi berisi larutan BPW
dan divorteks selama 2 menit. Selanjutnya kepala swab diperas kembali di dinding
dalam tabung dan sebagian ujung tangkai lidi dari swab dipatahkan untuk dibuang.
Kepala swab tersebut direndam dalam tabung BPW dan mulut tabung reaksi
ditutup. Selanjutnya dilakukan pengenceran sedemikian sehingga jumlah koloni
yang tumbuh pada cawan NA dan BPA + EYT berada pada kisaran 25-250 koloni.
Pengkulturan dalam medium NA berfungsi untuk menghitung total mikroba yang
tumbuh, sedangkan dalam medium BPA + EYT untuk menghitung jumlah
13

Staphylococcus aureus yang tumbuh. Setelah semua agar dalam cawan petri
memadat, cawan-cawan petri tersebut diinkubasikan dalam inkubator pada suhu 37
°
C selama 24 jam dengan posisi cawan terbalik. Terakhir, jumlah koloni yang
tumbuh dihitung dan hasilnya dilaporkan dalam jumlah mikroorganisme
(CFU/cm2).
Beberapa sampel antara sebelum mencuci tangan dan sesudah mencuci tangan
kemudian dibandingkan untuk menghitung jumlah mikroba dan jumlah
Staphylococcus aureus yang tumbuh pada cawan petri. Koloni Staphylococcus
aureus pada media BPA + EYT dicirikan berbentuk bulat, licin, halus, cembung,
lembab, berdiameter 2-3 mm, berwarna abu-abu hingga hitam pekat, dikelilingi
batas berwarna terang, serta dikelilingi zona keruh dengan batas luar berupa zona
bening (Ash 2000).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Ekstrak Ampas Kopi

Pembuatan ekstrak ampas kopi terdiri dari pembuatan ampas kopi arabika
dengan derajat penyangraian light roast, pengeringan ampas kopi, dan ekstraksi
ampas kopi dengan metode Microwave Assisted Extraction (MAE). Pembuatan
ekstrak ampas kopi dilakukan di ACDT Coffeeshop Bogor, laboratorium
mikrobiologi PAU IPB dan laboratorium mikrobiologi dan kimia SEAFAST.

Pembuatan Ampas Kopi


Biji kopi 15 gram setelah diseduh menghasilkan ampas dengan berat 36 gram
sehingga rendemennya adalah 240%. Peningkatan rendemen terjadi karena kopi
yang telah digiling akan menyerap sebagian air yang digunakan untuk penyeduhan
sehingga bobotnya bertambah. Besarnya rendemen akan dipengaruhi oleh berbagai
faktor seperti volum air yang digunakan saat penyeduhan dan teknik penyeduhan.

Pengeringan Ampas Kopi


Waktu yang dibutuhkan untuk mengeringkan 20.03 g ampas kopi dengan
densitas pengeringan 1.32 g/cm2 sampai mencapai kadar air 12.17% bk (17.86 g)
adalah 30 menit dengan suhu oven 105°C. Rendemen yang dihasilkan setelah
pengeringan adalah 89.17%.

Ekstraksi Ampas Kopi dengan metode Microwave Assisted Extraction (MAE)


Air merupakan solven yang digunakan untuk mengekstrak ampas kopi.
Pemilihan solven merupakan hal mendasar dalam mendapatkan proses ekstraksi
optimal. Air dipilih sebagai solven karena konstanta dielektrik yang tinggi, yang
akan menyebabkan difusivitas ke dalam matriks akan lebih tinggi (Jain et al 2009).
Metode Microwave Assisted Extraction (MAE) dengan modifikasi
digunakan untuk mengekstrak ampas kopi (Chotanakoon 2013). MAE merupakan
14

ekstraksi yang memanfaatkan radiasi gelombang mikro untuk mempercepat


ekstraksi selektif melalui pemanasan pelarut secara cepat dan efisien (Jain et al
2009). Menurut beberapa penelitian, MAE dapat meningkatkan efisiensi dan
efektivitas ekstraksi bahan aktif berbagai jenis rempah-rempah, tanaman herbal,
dan buah-buahan (Calinescu et al 2001). Pada penelitian ini digunakan microwave
rumah tangga 399 watt untuk mengekstrak ampas kopi. Microwave rumah tangga
tidak dapat mengontrol suhu ekstraksi, sehingga waktu ekstraksi dan daya
microwave merupakan faktor yang krusial untuk mengontrol degradasi komponen
bioaktif dan mendapatkan rendemen ekstrak yang maksimal.
Pemilihan daya yang tepat akan menghindari suhu degradatif senyawa
target dan kelebihan tekanan dalam proses ekstraksi. Daya gelombang mikro
dipengaruhi oleh waktu ekstraksi. Kombinasi dari daya rendah-sedang dan waktu
ekstraksi yang panjang merupakan pendekatan kondisi ekstraksi terbaik.
Umumnya, semakin lama waktu esktraksi menyebabkan waktu radiasi dalam
microwave semakin lama sehingga pelarut akan menyerap energi microwave lebih
banyak dan berkorelasi positif terhadap jumlah senyawa target. Namun, waktu
radiasi yang terlalu lama akan menyebabkan analit terdegradasi oleh panas yang
dihasilkan oleh energi microwave (Mandal et al 2007). Penelitian pendahuluan
dengan menggunakan spektrofotometer 420 nm dilakukan untuk mencari waktu
ekstraksi yang terbaik karena waktu ekstraksi mungkin bervariasi terhadap bahan
yang berbeda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa absorbansi pada 420 nm
(AOAC 2012) dapat digunakan untuk mengobservasi tingkat kecoklatan pada hasil
ekstraksi. Berdasarkan uji dengan menggunakan spektrofotometer, ekstrak dengan
durasi microwave 7 menit memiliki nilai absorbansi tertinggi yaitu 5.00000 sehinga
digunakan untuk tahap ekstraksi selanjutnya. Gambar 3 menunjukkan bahwa
semakin lama waktu ekstraksi semakin tinggi absorbansi, sehingga tidak menutup
kemungkinan jika durasi microwave lebih dari 7 menit absorbansinya akan semakin
meningkat. Namun berdasarkan literatur yang diperoleh, tidak lazim memilih durasi
microwave lebih dari 7 menit karena ekstraksi yang terlalu lama akan menyebabkan
degradasi komponen bioaktif pada bahan. Ekstraksi ampas kopi dengan metode ini
menghasilkan ekstrak dengan rendemen 748.48%.
6.00000
5.00000
5.00000

4.00000 3.32288
Absorbansi

3.00000
2.12814
2.00000

1.00000

0.00000
3 M E3 N I T 5
5 MENIT 7 M E7N
IT
Durasi microwave (menit)

Gambar 3 Absorbansi ekstrak ampas kopi (420 nm) pada beberapa durasi
ekstraksi yang menunjukkan tingkat kecoklatan hasil ekstraksi
15

Microwave-assisted extraction dapat mengekstrak komponen-komponen


antimikroba yang terdapat pada ampas kopi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan
oleh Aprilia (2013), EAK yang diekstrak dengan menggunakan metode microwave-
assisted extraction (daya 800 watt) mengandung total komponen fenolik sebanyak
255-751 mg Gallic Acid Equivalent (GAE)/100 g pada durasi ekstraksi 3 menit.
Total komponen fenolik pada EAK jumlahnya lebih rendah jika dibandingkan
dengan total komponen fenolik pada biji kopi yaitu 1200-2400 mg GAE/100 g
(Upadhyay 2011). EAK juga mengandung asam klorogenat sebanyak 123-216
mg/100 g pada durasi ekstraksi 4 menit. Asam klorogenat akan lebih banyak
terekstrak dengan solven air karena komponen ini lebih larut dalam solven dengan
polaritas yang tinggi jika dibandingkan dengan metanol dan etanol (Mussato et al
2011). Asam klorogenat pada EAK jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan
asam klorogenat pada biji kopi. Reduksi asam klorogenat disebabkan oleh
temperatur saat penyangraian biji kopi (Moon et al 2009) yang menyebabkan
terjadinya transformasi kimia dimana asam klorogenat akan membuat building
block dengan caffeic dan quinic acid dan membentuk melanoidin (Farah et al 2006).
EAK mengandung kafein sebanyak 22-173 mg/ 100 g pada durasi ekstraksi 4 menit.
Kafein merupakan molekul polar organik yang lebih mudah larut pada solven polar
daripada solven non polar. Jumlah kafein yang terdapat pada EAK lebih rendah jika
dibandingkan dengan kafein pada biji kopi yaitu 1000 mg/ 100 g (Ramalkshmi et
al 2008).
Proses penyeduhan kopi akan mengekstrak beberapa komponen bioaktif
yang terdapat pada kopi seperti kafein, asam klorogenat, dan flavonoid
(Minanisawa et al 2004). Komponen bioaktif yang terdapat secara alami pada kopi
seperti asam klorogenat, komponen fenolik, dan kafein berkontribusi terhadap
aktivitas antimikroba yang ditimbulkan oleh kopi (Higdon & Frei 2006). Namun,
proses penyangraian dan penyeduhan kopi akan mendegradasi jumlah komponen
bioaktif tersebut (Esquivel et al 2011).

Kultur Staphylococcus aureus

Pengamatan mikroskopi (Gambar 4) menunjukkan Staphylococcus aureus


berbentuk bulat, berwarna ungu, biasanya bergerombol seperti anggur dalam
bentuk tidak teratur, berpasangan atau tunggal, berdiameter 0.5 sampai 1.0 µm pada
perbesaran mikroskop 1000x sesuai dengan literatur yang dikemukakan oleh
Breemer et al (2004).
Berdasarkan pengamatan pada media BPA + EYT (Gambar 5), koloni
Staphylococcus aureus berbentuk bulat, licin, halus, cembung, berwarna abu-abu
hingga hitam pekat, dikelilingi batas berwarna terang, serta dikelilingi zona keruh
dengan batas luar berupa zona jernih. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan,
dapat dikonfirmasi bahwa koloni yang tumbuh merupakan koloni Staphylococcus
aureus dengan ciri-ciri yang telah disebutkan pada literatur acuan oleh Tatini et al
(1984).
16

Gambar 4 Staphylococcus aureus perbesaran 1000x

Gambar 5 Koloni Staphylococcus aureus pada media BPA + telurit

KHM Ekstrak Ampas Kopi terhadap Staphylococcus aureus

Penentuan KHM dilakukan dengan cara melihat tingkat kekeruhan pada


tabung. Tabel 1 menunjukkan hasil uji KHM ekstrak ampas kopi terhadap
Staphylococcus aureus setelah 24 jam. Berdasarkan pengamatan, tabung kontrol
dan tabung 0.5% terlihat sangat keruh, tabung 1.0% keruh, tabung 2.0% sedikit
keruh, tabung 4.0% dan 8.0% tidak keruh. KHM ekstrak ampas kopi terhadap
Staphylococcus aureus adalah 4.0% karena pada konsentrasi tersebut sudah tidak
terlihat kekeruhan.
17

Tabel 1 Konsentrasi hambat minimum EAK terhadap


Staphylococcus aureus

Konsentrasi EAK Tingkat Kekeruhan


0% (kontrol) +++

0.5% +++

1.0% ++

2.0% +

4.0% -

8.0% -

Keterangan tingkat kekeruhan :


+++ = sangat keruh
++ = keruh
+ = sedikit keruh
- = tidak keruh

4% Kontrol 4% 4% 2% 8% Kontrol 8%

Gambar 6 Tabung hasil uji KHM yang menunjukkan perbedaan tingkat


kekeruhan antara kontrol dan tabung yang diberi ekstrak ampas
kopi (EAK) 4 atau 8% (v/v)

Beberapa literatur melaporkan hasil KHM ekstrak ampas kopi terhadap


Staphylococcus aureus yang berbeda-beda (Tabel 2). Perbedaan dapat disebabkan
oleh berbagai faktor, yaitu jenis biji kopi yang digunakan, metode penyeduhan kopi,
metode pengekstrakan ampas kopi, penyimpanan ekstrak, atau metode penentuan
KHM yang digunakan. Perbedaan tersebut mempengaruhi banyaknya komponen
antimikroba dari ampas kopi yang terekstrak. Beberapa literatur melaporkan hasil
KHM ekstrak ampas kopi terhadap Staphylococcus aureus yang berbeda-beda
(Tabel 2). Perbedaan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, yaitu jenis biji kopi
yang digunakan, metode penyeduhan kopi, metode pengekstrakan ampas kopi,
penyimpanan ekstrak, atau metode penentuan KHM yang digunakan. Perbedaan
tersebut mempengaruhi banyaknya komponen antimikroba dari ampas kopi yang
18

terekstrak. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Monente (2015), KHM dari
ekstrak ampas kopi adalah 0.5% (v/v). Sedangkan menurut Sousa et al (2015) KHM
dari ekstrak ampas kopi adalah 0.1 % dan menurut Aprilia (2015), KHM dari
ekstrak ampas kopi adalah 12.5%. Monente menggunakan metode soxhlet untuk
mengekstrak ampas kopi dan hasil soxhlet diekstrak menggunakan filter coffee
maker kemudian dilakukan liofilisasi (penyimpanan beku) sampai sampel akan
digunakan. Metode penentuan KHM yang digunakan oleh Monente adalah broth-
dilution method. Sousa et al (2015) menggunakan metode aqueous extraction untuk
mengekstrak ampas kopi dan penyimpanan dengan liofilisasi. Metode penentuan
KHM yang digunakan adalah broth-dilution method. Aprilia (2013) menggunakan
metode microwave-assisted extraction untuk mengekstrak ampas kopi (daya
microwave 800 watt; 4 menit) dan penyimpanan dengan refrigerasi (4°C). Metode
broth-dilution digunakan untuk penentuan KHM.

Tabel 2 Hubungan metode ekstraksi ampas kopi dengan nilai KHM yang ditetapkan
dengan metode broth-dilution
Metode ekstraksi Metode KHM KHM Referensi
ampas kopi & (%v/v)
penyimpanan ekstrak
Soxhlet, ekstraksi Broth-dilution 0.5 Monente (2015)
dengan filter coffee
maker, liofilisasi

Aqueous extraction, Broth-dilution 0.1 Sousa et al (2015)


liofilisasi

Microwave-assisted Broth-dilution 12.5 Aprilia (2013)


extraction, refrigerasi

Microwave-assisted Broth-dilution 4.0 Penelitian ini


extraction

Perbedaan hasil KHM ekstrak ampas kopi terhadap Staphylococcus aureus


kemungkinan disebabkan oleh perbedaan metode ekstraksi ampas kopi dan
penyimpanan ekstrak. Monente (2015) dan Sousa et al (2015) menggunakan teknik
liofilisasi untuk menyimpan ekstrak, sedangkan Aprilia (2013) menggunakan
teknik refrigerasi. Liofilisasi (penyimpanan beku) adalah proses pengawetan
dengan menghilangkan kelembapan melalui sublimasi, yaitu penguapan molekul
air sehingga kualitas bahan akan lebih stabil. Refrigerasi adalah usaha untuk
memelihara tingkat suhu dari suatu produk agar suhunya lebih rendah dari suhu
lingkungan sekitarnya dengan cara penyerapan panas dari bahan tersebut. Bahan
dimasukkan ke dalam refrigerator dengan suhu 4°C agar mempertahankan kualitas
bahan sehingga umur bahan lebih panjang. Suhu liofilisasi lebih rendah dibanding
suhu refrigerasi sehingga bahan yang disimpan dengan teknik liofilisasi akan lebih
stabil dibandingkan dengan teknik refrigerasi sehingga umurnya akan lebih
panjang. KHM ekstrak ampas kopi yang ekstraknya disimpan dengan teknik
refrigerasi lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak yang disimpan dengan teknik
19

liofilisasi. Hal ini disebabkan oleh komponen bioaktif yang terkandung pada
ekstrak yang disimpan dengan teknik liofilisasi tidak terdegradasi karena lamanya
penyimpanan sehingga lebih stabil.
Komponen fenolik seperti asam klorogenat dan kafein banyak ditemukan pada
kopi. Komponen fenolik lainnya seperti tanin, lignin, dan antosianin juga
ditemukan dalam jumlah yang relatif sedikit (Farah et al 2006). Asam klorogenat,
kafein, dan tanin telah dipelajari memiliki aktivitas antimikrobial. Derajat
penyangraian kopi turut berkontribusi terhadap total komponen fenolik yang
terkandung dalam kopi. Sehingga aktivitas antimikrobial kopi salah satunya
dipengaruhi oleh derajat penyangraian. Semakin tinggi derajat penyangraian,
jumlah komponen fenolik seperti asam klorogenat akan menurun (Bita et al 2005).
Derajat penyangraian light roast akan memiliki aktivitas antimikrobial yang lebih
baik dari dark roast. Oleh karena itu, biji kopi dengan derajat penyangraian light
roast dipilih dalam penelitian ini.
Pada umumnya terdapat empat mekanisme agen antimikrobial dalam
menghadapi infeksi bakteri, (1) mengganggu sintesis dinding sel, (2) mencegah
sintesis protein, (3) interferensi sintesis asam nukleat, (4) mencegah metabolism
bakteri (Neu 1992). Mekanisme antimikrobial komponen fenolik terkait dengan
inaktivasi enzim selular mikroorganisme dan perubahan permeabilitas
membrannya (Moreno et al 2006). Oleh karena itu, efektivitas aktivitas
antimikrobial dari komponen fenolik dipengaruhi oleh struktur permukaan sel
mikroba. Umumnya, bakteri Gram positif seperti Staphylococcus aureus lebih
rentan terhadap aktivitas komponen fenolik dibanding Gram negatif (Karaca 2011).
Hal ini dikarenakan kompleksitas struktur permukaan sel dari bakteri Gram negatif
dibandingkan dengan Gram positif. Staphylococcus aureus memiliki dinding sel
yang sangat tipis jika dibandingkan dengan bakteri Gram positif lainnya (Hugo
1999) sehingga lebih sensitif terhadap agen antimikrobial.

Sabun Cair Penyanitasi dan Kualitas Sabun

Sabun Cair Penyanitasi


Perhitungan volume ekstrak ampas kopi yang ditambahkan pada sabun dasar
disajikan pada Tabel 3 berikut.

Tabel 3 Formula pembuatan sabun cair penyanitasi yang mengandung


ekstrak ampas kopi
Sabun Dasar Ekstrak Ampas Kopi
Formula
(mL) (mL)

Sabun + EAK 4% 96 4

Sabun + EAK 8% 92 8
20

Viskositas dari sabun dasar adalah 79 cP, tidak memenuhi standar yang
ditetapkan oleh SNI yaitu 500-20000 cP. Namun, sabun dapat diaplikasikan sebagai
sabun foam karena memiliki foaming ability (Gambar 7).

Gambar 7 Foaming ability sabun berbasis EAK

Kualitas Sabun: pH
Uji pH (derajat keasaman) merupakan salah satu syarat mutu sabun cair. Hal
tersebut karena sabun cair kontak langsung dengan kulit dan dapat menimbulkan
masalah apabila pH-nya tidak sesuai dengan pH kulit. Secara umum produk sabun
cair memiliki pH yang cenderung basa (Kasenda et al 2016). Pengukuran pH
dilakukan 2 kali karena hasil pengukuran pertama tidak memenuhi standar sabun
cair yang ditetapkan oleh SNI yaitu memiliki pH 6-8, sehingga harus ditambahkan
asam fosfat dan pH nya diukur ulang. Hasil pengukuran pH tertera pada Tabel 4.

Tabel 4 pH sabun cair sebelum dan setelah penambahan asam


fosfat sebagai pH-adjuster untuk menyesuaikan dengan
standar SNI
Sabun pH awal pH akhir
Sabun dasar 9.10±0.03 7.93±0.13

Sabun + EAK 4% 9.06±0.03 7.72±0.13

Sabun + EAK 8% 9.05±0.03 7.97±0.13

Keterangan:
pH awal = sebelum penambahan asam fosfat
pH akhir = setelah penambahan asam fosfat

Asam fosfat merupakan asam anorganik, yaitu asam yang tidak berasal dari
makhluk hidup. Asam fosfat tidak beracun dalam bentuk encer dan sering
digunakan sebagai pH-adjuster. Asam fosfat dipilih sebagai pH-adjuster dalam
penelitian ini karena tidak menghambat pertumbuhan mikroba, lain halnya dengan
asam organik seperti asam sitrat, asam laktat, atau asam asetat, yang merupakan
substansi antimikrobial. Digunakan asam yang tidak memiliki kemampuan
antimikrobial agar penghambatan mikroba disebabkan oleh ekstrak, dan bukan
21

karena asam yang ditambahkan. Penambahan asam fosfat tidak mengubah profil
dan foaming ability dari sabun.

Kualitas Sabun: Bobot Jenis


Bobot jenis sabun cair menurut SNI 06-4085-1996 didefinisikan sebagai
perbandingan antara bobot sabun cair dengan bobot air pada volum dan suhu yang
sama. Pengujian bobot jenis dilakukan untuk mengetahui pengaruh bahan-bahan
yang digunakan dalam formulasi sabun cair yaitu bahan yang terdapat dalam
formula terhadap bobot jenis sabun yang dihasilkan (Kasenda et al 2016). Standar
bobot jenis sabun cair yang dipersyaratkan oleh SNI, yaitu 1,01-1,1. Hasil dari
pengukuran bobot jenis sabun memenuhi standar SNI (Tabel 5).

Tabel 5 Bobot jenis sabun cair dengan atau tanpa penambahan


ekstrak ampas kopi (EAK)
Sabun Bobot Jenis
Sabun dasar 1.0286±0.0009

Sabun + EAK 4% 1.0274±0.0009

Sabun + EAK 8% 1.0269±0.0009

Bobot jenis semakin kecil dengan adanya penambahan EAK pada


konsentrasi yang lebih tinggi. Salah satu faktor yang mempengaruhi bobot jenis
suatu zat adalah massa zat. Semakin besar massa suatu zat, bobot jenisnya juga akan
semakin besar dan sebaliknya. Jika dilihat pada Tabel 5, dapat disimpulkan bahwa
sabun + EAK 8% memiliki massa zat yang paling kecil diantara kedua sampel
lainnya.

Efektivitas Sabun Cair Penyanitasi Mengandung Ekstrak Ampas Kopi untuk


Menurunkan Total Mikroba dan Staphylococcus aureus pada Tangan

Sanitasi merupakan pencegahan penyakit dengan cara menghiangkan atau


mengatur faktor-faktor lingkungan yang berkaitan dalam rantai perpindahan
penyakit tersebut. Sanitasi pangan merupakan merupakan hal terpenting dari semua
ilmu sanitasi karena sedemikian banyak lingkungan kita yang berhubungan dengan
suplai makanan manusia. Program sanitasi dijalankan bukan untuk mengatasi
masalah kotornya lingkungan atau kotornya pemrosesan bahan, tetapi untuk
menghilangkan kontaminan dari makanan dan mesin pengolahan makanan serta
mencegah terjadinya kontaminasi kembali. Sanitaiser merupakan senyawa yang
digunakan untuk tujuan sanitasi. Gambar 8 (A) menunjukkan bahwa semua sampel
dapat mereduksi Staphylococcus aureus pada tangan. Kemampuan klorin untuk
mereduksi Staphylococcus aureus paling tinggi diantara ke-3 sampel lainnya.
Klorin dapat mereduksi Staphylococcus aureus dari 3.07 log CFU/cm2 menjadi
1.40 log CFU/cm2 atau lebih dari 1 log reduksi. Sabun dasar memiliki tingkat
22

reduksi yang paling rendah yaitu tidak mencapai 1 log reduksi. Sabun dengan
ekstrak ampas kopi 8% memiliki tingkat reduksi yang lebih tinggi dibandingkan
dengan sabun dengan ekstrak ampas kopi 4% yang reduksinya tidak mencapai 1
log. Hal ini disebabkan oleh konsentrasi ekstrak ampas kopi yang terkandung dalam
sabun. Ekstrak ampas kopi mengandung komponen antimikrobial seperti kafein,
asam klorogenat dan komponen fenolik lain yang telah terbukti dapat menghambat
pertumbuhan Staphylococcus aureus berdasarkan hasil uji KHM yang telah
dilakukan sebelumnya. Sehingga sabun dengan ekstrak ampas kopi yang lebih
banyak akan memiliki tingkat reduksi Staphylococcus aures lebih tinggi. Urutan
tingkat reduksi Staphylococcus aureus dari yang tertinggi sampai yang terendah
adalah klorin, sabun dengan ekstrak ampas kopi 8%, sabun dengan ekstrak ampas
kopi 4%, dan sabun dasar.
Gambar 8 (B) menunjukkan bahwa semua sampel mampu mereduksi total
mikroba pada tangan. Sabun dasar memiliki tingkat reduksi yang paling rendah
yaitu mereduksi total mikroba dari 5.89 menjadi 5.75 log CFU/cm2. Klorin
memiliki tingkat reduksi yang paling tinggi yaitu mereduksi total mikroba lebih dari
4 log. Sabun dengan ekstrak ampas kopi 8% memiliki tingkat reduksi yang lebih
tinggi dibandingkan dengan sabun dengan ekstrak ampas kopi 4%, walaupun
tingkat reduksinya tidak mencapai 1 log. Urutan tingkat reduksi total mikroba dari
yang tertinggi sampai yang terendah adalah klorin, sabun dengan ekstrak ampas
kopi 8%, sabun dengan ekstrak ampas kopi 4%, dan sabun dasar.
Dari Gambar 8 terlihat bahwa klorin mereduksi Staphylococcus aureus dan
total mikroba dengan tingkat reduksi yang paling tinggi. Terlihat pula bahwa
tingkat reduksi semua sampel (kecuali klorin) pada uji total mikroba lebih rendah
dibandingkan pada uji Staphylococcus aureus. Salah satu penyebabnya adalah
ekstrak ampas kopi efektif untuk menghambat Staphylococcus aureus dan bakteri
Gram positif lainnya, namun tidak efektif untuk menghambat bakteri Gram negatif.
Mekanisme antimikrobial komponen fenolik pada ampas kopi terkait dengan
inaktivasi enzim selular mikroorganisme dan perubahan permeabilitas
membrannya (Moreno et al 2006) sehingga berhubungan dengan struktur bakteri.
Bakteri Gram positif memiliki dinding sel yang lebih sederhana dengan jumlah
peptidoglikan yang relatif banyak. Dinding sel bakteri Gram negatif memiliki
peptidoglikan yang lebih sedikit dan secara struktural lebih kompleks, membran
bagian luar pada dinding sel Gram negatif mengandung lipopolisakarida (Campbell
et al 2002). Dinding sel bakteri Gram negatif mempunyai membran luar yang kaya
akan lipid sebagai pencegah keluarnya enzim dan mencegah masuknya bahan kimia
dari luar dan enzim yang merusak sel (Suharni et al 2008). Dari Gambar 8 dapat
dilihat juga bahwa basis sabun kurang efektif dalam menghambat total mikroba
ataupun Staphylococcus aureus, sehingga perlu ditambahkan komponen
antimikroba lain agar lebih efektif.
23

Gambar 8 Pengaruh ekstrak ampas kopi (EAK) yang diaplikasikan dalam


sabun cair penyanitasi terhadap jumlah koloni Staphylococcus
aureus (A) dan total mikroba (B) di tangan sebelum dan
setelah pencucian tangan dengan sabun dasar dan klorin 20
ppm sebagai pembanding

Tingkat reduksi mikroba dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya


adalah durasi kontak dengan sanitaiser, jenis sanitaiser yang digunakan, atau
banyaknya sanitaiser yang digunakan. Tingkat reduksi mikroba akan lebih tinggi
saat durasi kontak dengan sanitaiser lebih lama. Berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh Fuls et al (2008), Staphylococcus aureus dapat direduksi sebesar
5.90 log saat durasi kontak dengan 60% isopropanol selama 15 detik dan 6.36
dengan durasi kontak 30 detik. Escherichia coli dapat direduksi sebesar 1.96 log
saat durasi kontak dengan 70-80% etanol 10 detik dan 3.8-4.5 log dengan durasi
kontak 60 detik. Banyaknya sanitaiser yang digunakan juga berpengaruh terhadap
tingkat reduksi. Berdasarkan penelitian yang sama, Serattia marcescens tereduksi
24

3.15 log dengan perlakuan 1 pump sabun antimikroba “Gardnier Kiss My Self
Foaming Hand Wash” dan tereduksi 3.83 log saat perlakuan 2 pump sanitaiser yang
sama. Jenis agen desinfektan yang digunakan juga berpengaruh terhadap tingkat
reduksi. Serattia marcescens akan mengalami reduksi sebesar 3.15 log dengan
sabun antimikroba “Dial Complete Foaming Antimicrobial Hand Soap with 0.46%
Triclosan” dan reduksi sebesar 0.88 log dengan sabun non-antimikroba “Gardnier
Kiss My Self Foaming Hand Wash”.

Gambar 9 Reduksi Staphylococcus aureus (A) dan total mikroba (B) setelah
mencuci tangan dengan sabun cair penyanitasi mengandung
ekstrak ampas kopi, dengan sabun dasar dan klorin 20 ppm
sebagai pembanding
25

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Microwave-assisted extraction (MAE) merupakan metode ekstraksi


alternatif yang potensial untuk mengekstrak komponen bioaktif pada ampas kopi.
Peningkatan durasi ekstraksi akan menyebabkan komponen antimikroba pada
ampas kopi yang terekstrak lebih banyak sehingga durasi 7 menit dipilih sebagai
waktu ekstraksi terbaik pada penelitian ini. Ektrak ampas kopi (EAK) dengan
metode ekstraksi MAE mengandung komponen antimikroba sehingga dapat
menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus dengan konsentrasi hambat
minimum 4% (v/v).
Sabun cair penyanitasi berbasiskan ekstrak ampas kopi dapat menjadi
alternatif penggunaan klorin 20 ppm untuk memperbaiki kondisi higiene pekerja
industri pangan karena kemampuannya mereduksi Staphylococcus aureus dan total
mikroba. Sabun cair penyanitasi berbasiskan ekstrak ampas kopi lebih efektif dalam
mereduksi Staphylococcus aureus dibandingkan dengan total mikroba. Hal ini
dikarenakan ekstrak ampas kopi lebih efektif dalam menghambat pertumbuhan
bakteri Gram positif dibandingkan dengan bakteri Gram negatif. Sabun dengan
EAK 8% mampu mereduksi Staphylococcus aureus sebesar 1.26 log CFU/cm2 dan
mereduksi total mikroba sebesar 0.46 log CFU/cm2. Walaupun dapat mereduksi
Staphylococcus aureus dan total mikroba, namun penggunaan klorin lebih efektif
karena log reduksi yang lebih tinggi. Klorin dapat mereduksi Staphylococcus
aureus sebesar 1.67 log CFU/cm2 dan total mikroba 4.34 log CFU/cm2.

Saran

Peningkatan durasi ekstraksi dengan microwave dapat dilakukan pada


penelitian lanjutan untuk melihat apakah komponen antimikroba yang terekstrak
akan semakin banyak seiring dengan meningkatnya durasi ekstraksi. Peningkatan
konsentrasi ekstrak ampas kopi yang ditambahkan pada sabun juga dapat dilakukan
pada penelitian lanjutan untuk melihat peningkatan kemampuan reduksi terhadap
Staphylococcus aureus dan total mikroba. Meningkatkan durasi kontak dengan
sabun dan menambah jumlah sabun yang digunakan (2 pump atau lebih) juga dapat
dilakukan untuk melihat peningkatan kemampuan reduksi.
26

DAFTAR PUSTAKA

Ahadi MR. 2003. Kandungan Tanin terkondensasi dan Laju Dekomposisi pada
Serasah Daun Rhizospora mucronata pada Ekosistem Tambak
Tumpangsari, Purwakarta. Skripsi. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Ajandouz EH, Puigserver A. 1999. Nonenzymatic browning reaction of essential
amino acids : effect of pH on caramelization and maillard reaction
kinetics. Journal of Agricultural and Food Chemistry. 47: 1786-1793.
AOAC. Official methods of analysis. Washington: Association of Official
Analytical Chemists; 2012.
Aprilia AA. 2013. Aktivitas antimikroba dan antioksidan hasil ekstraksi gelombang
mikro ampas kopi dari provinsi Chiang Rai, Thailand [Skripsi]. Bogor
(ID): IPB.
Ash. 2000. Efektifitas Daya Hambat Staphylococcus. Surakarta (ID): Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
Bernard M, Kraehenbuehl K, Rytz A, Roberts D. 2005. Interactions between
volatile and nonvolatile coffee components. Journal of Agricultural
and Food Chemistry. 53(11): 4417-4425.
Bita MG, Preda M. 2005. The effect of temperature and roasting degree on the total
phenolic content of coffee brews. Scientific Study and Research. 6(2):
239-242.
Borrelli RC, Visconti A, Mennella C, Anese M, Fogliano V. Chemical
characterization and antioxidant properties of coffee melanoidins.
Journal of Agricultural and Food Chemistry. 50(22): 6527-6533.
[BPOMRI]. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2014.
Laporan Tahunan BPOMRI 2014. [terhubung berkala].
www.pom.go.id/new/index.php/browse/laporan_tahunan/21-02-
2007/21-02-2017/1 [15 Februari 2017].
[BPOMRI]. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2015.
Laporan Tahunan BPOMRI 2015. [terhubung berkala].
www.pom.go.id/new/index.php/browse/laporan_tahunan/21-02-
2007/21-02-2017/1 [15 Februari 2017].
27

Bradbury AGW, Balzer HH. 2002. Acid precurors in roast coffee extract. In
Proceedings of Cost Action 919 – Melanoidins in food and health
Napoli, Italy and Dresden, Germany. Pp 15-23.
Brady, James E. 1994. Chemistry : Matter and Its Changes. New York (US) : John
Wiley & Sons Inc.
Bremer PJ, Fletcher GC, Osborne C. 2004. Staphylococcus aureus. New Zealand
Institute for Crop & Food Research Limited, New Zealend.
[CAC]. Codex Alimentarius Commissions. 2011. Guidelines for Risk Analysis of
Foodborne Antimicrobial Resistance CAC/GL 77. [terhubung
berkala]. www.fao.org/input/download/standards/.../CXG_077e.pdf
[20 Februari 2017].
Calinescu I, Ciuculescu C, Popescu M, Bajenaru S, Epure G. 2001. Microwave
assisted extraction of active principles from vegetal material.
Romanian International Conference on Chemistry and Chemical
Engineering. 12: 1-6.
Campbell EA, Muzzin O, Chlenov M, Sun JL, Olson CA, Weinman O, Trester-
Zedlitz ML, Darst SA. Structure of the bacterial RNA polymerase
promoter specificity sigma subunit. Molecular Cell. 9: 527-539.
Chirinos R, Rogez H, Campos D, Pedreschi R, Larondelle Y. 2007. Optimization
of extraction conditions of antioxidant phenolic compounds from
mashua (Tropaeolum tuberosum) tubers. Separation and Purification
Technology. 55: 217-225.
Chotanakoon K. 2013 Antioxidant and Antimicrobial Activities of Spent Coffee
Residues. Technology of Management of Agricultural Produces and
Packaging, School of Agro-Industry, Mae Fah Luang University.
[CLSI]. Clinical and Laboratory Standards Institute. 2012. Methods for dilution
antimicrobial susceptibility tests for bacteria that grow aerobically.
Approved Standard-Ninth Edition. 32(2): 52.
Cruz JM, Mource A, Franco D, Dominguez JM, Sineiro J, Dominguez H, Nunez
MJ, Parajo JC. 2011. Natural antioxidants from residual sources. Food
Chemistry. 72: 145-171.
28

Cueva C, Victoria MM, Martin AP, Bills G, Fransisca VM, Basilio A, Lopez RC,
Requena T, Rodriguez J, Bartolome B. 2010. Antimicrobial activity
of phenolic acids against commensal, probiotic and pathogenic
bacteria. Research in Microbiology. 161(5): 372-382.
Cynthia. 2014. Efektivitas sanitaiser komersial untuk menginaktivasi bakteri
patogen dan biofilm [Skripsi]. Bogor (ID): IPB.
Daglia M, Papetti A, Aceti C, Sordelli B, Spini V, Gazzani G. 2007. Isolation and
determination of alpha-dicarbonyl compounds by RP-HPLC-DAD in
green and roasted coffee. Journal of Agricultural and Food Chemistry.
55(22): 8877-8882.
Depkes RI. 2010. Modul Kursus Higiene dan Sanitasi Makanan dan Minuman.
Jakarta (ID) : Departemen Kesehatan Republik Indonesia Ditjen PPM
& PLP.
Dimpudus SA, Yamlean PV, Yudistira A. 2017. Formulasi sediaan sabun cair
antiseptik ekstrak etanol bunga pacar air (Impatiens balsamina L.) dan
uji efektivitasnya terhadap bakteri Staphylococcus aureus secara in
vitro. Jurnal Ilmiah Farmasi. 6(3): 208-215.
Dwintasari V. 2010. Pertumbuhan Staphylococcus aureus pada ayam suwir serta
korelasinya dengan status kebersihan tangan pekerja dan praktik
penanganan di warung bubur ayam [Skripsi]. Bogor (ID): IPB.
Farah A, Paulis T, Moreira DP, Trugo LC, Martin PR. 2006. Chlorogenic acids and
lactones in regular and water-decaffeinated Arabica coffees. Journal
of Agricultural and Food Chemistry. 54: 374-381.
FDA Retail National Food Team. 2009. FDA Report on the Occurrence of
Foodborne Illness Risk Factors in Selected Institutional Foodservice,
Restaurant, and Retail Food Store Facility Types. [terhubung berkala]
https://www.fda.gov/Food/GuidanceRegulation/RetailFoodProtectio
n/FoodborneIllnessRiskFactorReduction/ucm224321.htm[15Februari
2017].
Fessenden RJ, Fesssenden JS. 1997. Kimia Organik. Jakarta (ID) : Erlangga.
29

Freeman J, Freeman C, Duggan T. 2012. The Blue Bottle Craft of Coffee : Growing,
Roasting, and Drinking, with Recipes. Berkeley (USA) : Ten Speed
Press.
Fuls JL, Rodgers ND, Fischler GE, Howard J, Patel M, Weidner PL, Duran MH.
2008. Alternative hand contamination technique to compare the
activities of antimicrobial and nonantimicrobial soaps under different
test conditions. Applied and Environmental Microbiology. 74(12):
3739-3744.
Higdon JV, Frei B. 2006. Coffee and health : a review of recent human research.
Critical Reviews in Food Science and Nutrition. 46: 101-123.
Hugo WB. 1999. Disinfection mechanisms : In Principles and Practice of
Disinfection, Preservation and Sterilization, 3rd edn, pp. 258-283.
Oxford (UK) : Blackwell Science.
International Coffee Organization. 2012. Total Production and Domestic
Consumption of Coffee in The World.
http://www.ico.org/new_historical.asp/section=Statistics [10 Februari
2017].
Jain T, Jain V, Pandey W, Vyas A, Shukla S. 2009. Microwave assisted extraction
for phytoconstituents- An overview. Asian Journal of Research in
Chemistry. 2(1): 19-25.
Jawetz E, Melnick JL, Adelberg EA et al. 1995 Mikrobiologi Kedokteran Edisi ke-
20. Jakarta (ID) : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Karaca C. “Evaluation of Natural Antimicrobial Phenolic Compounds Against
Foodborne Pathogens: (2011). University of Kentucky Master’s
Thesis. Paper 652.
Kasenda J, YamLean P, Astuty W. 2016. Formulasi dan pengujian aktivitas
antibakteri sabun cair ekstrak etanol daun ekor kucing (Acalypha
hispida Burm.F) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus
aureus. Jurnal Ilmiah Farmasi. 5(3): 40-47.
Kubo A, Lunde CS, Kubo I. 1995. Antibacterial activity of the olive oil flavor
compounds. Journal of Agricultural and Food Chemistry. 40(6): 999-
1003.
30

Mandal V, Mohan Y, Hemalatha S. 2007. Microwave assisted extraction- an


innovative and promisisng extraction tool for medicinal plant
research. Pharmacognosy Revies. 1(1): 7-18
Michaels B, Keller C, Blevins M, Paoli G. 2004. Prevention of food worker
transmission of foodborne pathogens: risk assessment and evaluation
of effective hygiene intervention strategies. Food Service Technology.
4: 31–49.
Minamisawa M, Yoshida S, Takai N. 2004. Determination of biologically active
substances in roasted coffees using a diode-array HPLC system.
Analytical Science. 20:325-328.
Monente C, Bravo J, Vitas AI, Arbillaga L et al. 2015. Coffee and spent coffee
extracts protect against cell mutagens and inhibit growth of food-
borne pathogen microorganisms. Journal of Functional Foods. 1(2) :
365-374.
Moon, Joon-Kwan, Hyui Sun Y, Takayuki S. 2009. Role of Roasting Condition in
the Level of Chlorogenic Acid Content in Coffee Beans : Correlation
with Coffee Acidity. Journal of Agricultural and Food Chemistry.
57(12) : 5365-5369.
Moreira AS, Nunes FM, Domingues MR, Coimbra MA. 2012. Coffee melanoidins
: structures, mechanisms of formation and potential health impacts.
Food & Function. 3(9): 903-915.
Mussatto S, Ballesteros LF, Martins S, Teixeira JA. 2010. Extraction of antioxidant
phenolic compounds from spent coffee grounds. Separation and
Purification Technology 8(3) : 173-179.
Mutmainnah R, Rubiyanto D, Julianto TS. 2014. Formulasi sabun cair berbahan
aktif minyak kemangi sebagai antibakteri dan pengujian terhadap
Staphylococcus aureus. Indonesian Journal of Chemical Research.
2(1):44-50
Okareh OT dan Erhahon OO. 2015. Microbiological assessment of food and hand-
swabs samples of school food vendors in Benin City, Nigeria. Food
and Public Health. 5(1): 23-28.
31

Otten. 2014. V60 Hario – Alat Seduh Kopi Pour Over untuk Seduhan Kopi Terbaik.
[terhubung berkala]. https://majalah.ottencoffee.co.id/v60-hario-alat-
seduh-kopi-pour-over-untuk-seduhan-kopi-terbaik/. [31 Januari 2017]
Prescott ML, Harley J, Donald P, Klein A. 1999. Microbiology 2nd Edition. New
York (US) : C. Brown Publishers.
Purnawijayanti HA. 2001. Sanitasi, Higiene, dan Keselamatan Kerja dalam
Pengolahan Makanan. Jakarta (ID) : Kanisius.
Puro I. 2012. Kajian aktivitas antibakteri daun gatel (Laportea Decumana (Roxb.
Wedd.) dan daun benalu cengkeh [Skripsi]. Bogor (ID): IPB.
Ramalakshmi K, George S, Rao L. 2008. A Perception of Health Benefits on
Coffee. Food Science and Nutrition. 45(5).
Roller S, Lusengo J. 1997. Developments in natural food preservatives. Agro Food
Industry Hi Tech 7: 22-25.
Shrivastava SB. 1982. Soap, Detergent and Parfume Industry. New Delhi (IN) :
Small Industry Research Institute.
[SNI]. Badan Standarisasi Nasional. 1994. Sabun Mandi. [terhubung berkala].
http://www.scribd.com/doc/42403029/SNI-06-3532-1994-Sabun-
mandi [16 Februari 2017].
Snyder OP. 2004. A “Safe Hands” hand wash program for retail food operation.
Hospitality Institute of Technology and Management, Minnesota.
[terhubung berkala] http://www.hi-tm.com/Documents/Safehands.pdf
[31 Januari 2017].
Sousa C, Gabriel C, Cerqueira F, Manso MC, Vinha AF. 2015. Coffee industrial
waste as a natural source of bioactive compounds with antibacterial
and antifungal activities. The Battle Against Microbial Pathogens :
Basic Science, Technological Advances and Educational Programs
(A. mendez-Vilas, Ed.).
[Statista]. Statista The Statistics Portal. 2017. Total Coffee Consumption in
Indonesia from 1990 to 2016. [terhubung berkala].
https://www.statista.com/statistics/314982/indonesia-total-coffee-
consumption/ [16 Februari 2017].
32

Suharni TT, Nastiti SJ, Soetarto A. 2008. Mikrobiologi Umum. Yogyakarta (ID) :
Universitas Atma Jaya Yogyakarta press.
Suryawati RW. 2004. Penggunaan Klorin 20 ppm dan Alkohol 70% sebagai
Sanitaiser dalam Proses Cuci Tangan Untuk Pengendalian Jumlah
Staphylococcus aureus dan Koliform pada Tangan. [Tesis]. Sekolah
Pascasarjana, IPB.
Syahrurachman A, Chatim A et al. 2010. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran Edisi
Revisi. Jakarta (ID): Binarupa Aksara Publisher.
Tatini SR, Hoover DG, Lachica V. 1984. Methods for The Microbiological
Examination of Food. Speck, M. L. (Ed). American Public Health
Assoc. Washington DC.
Tokimoto T, Kawasaki N, Nakamura T, Akutagawa J, Tanada S. 2005. Removal of
lead ions in drinking water by coffee grounds as vegetable biomass.
Journal of Colloid and Interface Science. 281: 56-61.
Upadhyay R, Ramalakshmi K, Jagan L. 2012. Microwave assisted extraction of
chlorogenic acids from green coffee beans. Food Chemistry. 130: 184-
188.
Wen X, Takenaka M, Murata M, Homma S. 2004. Antioxidative activity of a zinc-
chelating substance in coffee. Bioscience, Biochemistry, and
Biotechnology. 68(11): 2313-2318.
33

LAMPIRAN

Lampiran 1 Pembuatan emulsi kuning telur sebagai Suplemen BPA


34

Lampiran 2 Pembuatan BPA + Egg Yolk Tellurite (EYT)

Lampiran 3 Komposisi bahan pada uji KHM


35

Lampiran 4 Cawan pada Uji Efektivitas Sabun Cair Penyanitasi dengan Ekstrak Ampas
Kopi terhadap Koloni Staphylococcus aureus Sebelum (kiri) dan Setelah
Mencuci Tangan Setelah Inkubasi Selama 24 Jam dengan Media BPA +
EYT

Sabun +
Sabun dasar EAK 4%

Sabun + Klorin
EAK 8%
36

Lampiran 5 Cawan pada Uji Efektivitas Sabun Cair Penyanitasi dengan


Ekstrak Ampas Kopi terhadap Koloni Total Mikroba Sebelum
(kiri) dan Setelah Mencuci Tangan Setelah Inkubasi Selama 24
Jam dengan Media NA

Sabun +
Sabun dasar EAK 4%

Sabun +
EAK 8% Klorin
37

Lampiran 6 Koloni Staphylococcus aureus pada media BPA + EYT


pada uji efektivitas
Perlakuan Pengenceran Sebelum Setelah
-2
Basis Sabun 10 36 21
34 20
10-3 3 2
3 1
10-4 0 0
0 0
Sabun + EAK 4% 10-2 45 25
40 19
10-3 6 3
5 2
10-4 0 0
0 0
Sabun + EAK 8% 10-2 37 2
36 2
10-3 4 0
3 0
10-4 0 0
0 0
Klorin 10-2 45 1
50 1
10-3 5 0
5 0
10-4 0 0
0 0
38

Lampiran 7 Koloni total mikroba pada media NA pada uji efektivitas

Perlakuan Pengenceran Sebelum Setelah


-5
Basis Sabun 10 30 21
32 24
10-6 5 3
3 2
10-7 0 0
0 0
Sabun + EAK 4% 10-5 33 20
26 15
10-6 3 2
3 1
10-7 0 0
0 0
Sabun + EAK 8% 10-5 29 10
27 9
10-6 4 1
3 0
10-7 0 0
0 0
Klorin 10-5 45 4
43 4
10-6 5 2
4 1
10-7 0 0
0 0
39

RIWAYAT HIDUP

Praditta Ayu lahir di Jakarta, 16 Februari 1995.


Anak kedua dari dua bersaudara pasangan Bambang
Soelaksono dan Sita Rosalina. Ayu menyelesaikan
pendidikan sekolah dasar sampai sekolah menengah
atas di Al-Izhar Pondok Labu Jakarta, kemudian
melanjutkan studinya di Institut Pertanian Bogor
jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan pada tahun
2013. Semasa sekolah, Ayu mengikuti beberapa
kegiatan ekstrakurikuler seperti sekolah tari
tradisional Gema Suara Muda, English First, kursus
piano di Citra Nuansa Musik, kursus bahasa
Perancis di IFI, kursus tari jazz-ballet di Namarina,
dan kursus kopi di ABCD. Ayu juga memiliki beberapa pengalaman magang di
beberapa tempat seperti stasiun radio Prambors, Bursa Efek Indonesia, dan Gordi
Coffee Subscription Company. Ayu memiliki beberapa sertifikasi seperti DELF
(Diplome d’etude en Langue Francaise) tingkat A2 dari IFI, dan manual brewing
& definitive espresso certificate dari ABCD school of coffee. Semasa kuliah, Ayu
tergabung dalam anggota BEM divisi KOMINFO, Ksatria Peduli Pangan sebagai
anggota Sahabat Pedagang, dan komunitas film pendek Cinematorium. Ayu juga
pernah menjadi asisten praktikum mata kuliah Evaluasi Sensori. Saat ini Ayu
tergabung dalam organisasi sosial Sinergi Muda menjadi staf kreatif.