Anda di halaman 1dari 9

SUMMARY LEADERSHIP

CHAPTER 5 : LEADERSHIP MIND AND EMOTION

Kelompok 2

Benediktus Albi Julian 201650030

Angelica Lidya Y. 201650076

Devina Natalia 201650081

Isabella 201650133

Ira Nichola 201650166

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI TRISAKTI


JAKARTA
2019
LEADING WITH HEAD AND HEART
Untuk berhasil dalam lingkungan membutuhkan pemimpin yang menggunakan otak dan hati
mereka. Pemimpin harus menggunakan otak mereka untuk mengatasi masalah organisasi
seperti tujuan dan strategi, jadwal produksi, struktur, keuangan, masalah operasional, dan
sebagainya. Mereka juga harus menggunakan hati mereka untuk mengurus masalah manusia,
seperti memahami, mendukung, dan mengembangkan orang lain.

Masalah saat ini yang mengharuskan pemimpin untuk menggunakan kepala dan hati meliputi
bagaimana memberi orang rasa makna dan tujuan ketika perubahan besar terjadi hampir
setiap hari; bagaimana membuat karyawan merasa dihargai dan dihormati di zaman PHK
besar-besaran dan ketidakpastian pekerjaan dan bagaimana menjaga moral dan motivasi tetap
tinggi dalam menghadapi kebangkrutan dan pembubaran perusahaan, skandal etika, dan krisis
ekonomi.

MENTAL MODELS
• Teori yang menyangkut orang mengenai berbagai sistem di dunia dan perilaku yang
diharapkan.

• Mental models (model mental) dapat dianggap sebagai gambaran internal yang
mempengaruhi seorang pemimpin baik pikiran, tindakan, maupun hubungannya dengan
orang lain. Jadi model mental adalah teori yang menyangkut orang mengenai berbagai
sistem di dunia dan perilaku yang diharapkan oleh mereka.

• Mental models merupakan gambaran dari tindakan-tindakan pemimpin yang


mempengaruhi hubungannya dengan orang lain.

• Model mental sangat menentukan bagi seseorang dalam bertindak. Jika seseorang
memiliki mental yang baik, maka akan baik pula dirinya. Akan tetapi jika mentalnya
tidak baik (buruk) maka hasil dari perbuatannya juga akan buruk.

• Model mental merupakan gambaran, asumsi, dan kisah yang seseorang bawa dalam
benak masing-masing tentang dirinya sendiri, orang lain, institusi, lingkungan, dan
setiap aspek dari dunia ini.

• Model mental adalah teori tentang orang yang memegang teguh suatu prinsip yang
lebih spesifik di dunia dan perilaku yang diharapkan dari mereka.

• Pemimpin memiliki banyak model mental yang dapat digunakan untuk mengatur
berbagai hal yang menyangkut bagaimana mereka menafsirkan pengalaman dan
bagaimana mereka bertindak dalam menanggapi orang dan situasi.

• Pemimpin dengan model mental seperti ini akan cenderung mendorong pendelegasian
kekuasaan, otoritas, dan pengambilan keputusan ke berbagai tingkat dalam Tim dan
berusaha untuk membangun norma-norma yang dapat menciptakan identitas kelompok
dan membangun kepercayaan diantara mereka.
Asumsi (asumption)
• Asumsi (asumption)—merupakan tindakan pengandaian yang dilakukan oleh setiap
orang untuk memprediksi suatu kejadian yang akan datang. Asumsi para leader
merupakan hal alami dan merupakan bagian dari model mental. Contoh seseorang
berasumsi bahwa orang itu tidak bisa dipercaya karena bisa berubah dalam berbagai
situasi. Sementara orang lain berasumsi bahwa pada dasarnya kita harus percaya sama
orang lain. Pemimpin memiliki asumsi tentang suatu peristiwa, situasi, dan keadaan
serta tentang orang-orang.

• Sementara itu, asumsi bisa menjadi bahaya apabila orang cenderung untuk menerima
asumsi yang salah sebagai kebenaran.

• Persepsi (perception) – merupakan suatu proses yang digunakan oleh orang untuk
memahami tentang hal-hal di luar lingkungan melalui penyeleksian (selecting),
pengorganisasian (organizing), dan intreprestasi informasi dari lingkungannya.

• Atau Persepsi—proses yang digunakan individu mengelola dan menafsirkan kesan


indera mereka dalam rangka memberikan makna kepada lingkungan mereka.

• Namun kenyataannya, apa yang dipersepsikan seseorang kadang dapat berbeda dari
kenyataannya. (contoh : dimungkinkan bahwa semua karyawan dalam perusahaan
tertentu memandang perusahaan sebagai tempat bekerja yang baik, kondisi kerja yang
nyaman, jenis pekerjaan yang menarik, upah yang baik, manajemen yang baik dan
bijaksana, bertanggung jawab. Namun sebagian dari orang lain tidak sependapat
dengan hal tersebut.

Changing or Expanding Mental Models


• Kemampuan manager untuk menghargai dan mempengaruhi individu, kelompok,
organisasi, dan sistim yang mewakili perbedaan sosial, budaya, politik, kelembagaan,
intelektual, atau karakter psikological.

• Seorang manager dengan global mindset dapat merasakan dan merespon banyak
perspektif pribadi atau budaya seseorang yang terbatas.

• Salah satu cara terbaik bagi manajer adalah mengembangkan global mindset dengan
melibatkan orang-orang dari budaya yang berbeda.

• Faktor terbesar yang menentukan keberhasilan pemimpin dan organisasi adalah


kemampuan untuk mengubah atau memperluas mental model seseorang.

DEVELOPING A LEADER’S MIND


Adalah bagaimana seorang pemimpin mengembangkan pemikirannya? pikiran pemimpin
dapat dikembangkan di luar yang nonleader (yang bukan pemimpin) dalam empat bidang
yaitu independent thinking (berfikir bebas), open-mindedness (berpandangan terbuka),
system thinking (berfikir sistim), dan personal mastery (penguasan pribadi).

Independent Thinking (Berfikir Bebas)

Berarti mempertanyakan asumsi dan menafsirkan data dan peristiwa menurut


keyakinan sendiri, ide-ide, dan pemikiran seseorang, daripada aturan yang ditetapkan
sebelumnya atau kategori yang didefinisikan oleh orang lain. Atau merupakan interprestasi
data dan peristiwa menurut keyakinan, ide dan pikiran sendiri, bukan berdasarkan pada
penetapan aturan-aturan, rutinitas, atau hal-hal yang didefenisiskan atau ditafsirkan oleh
orang lain. Orang yang berfikir secara mandiri biasanya berdiri terpisah, mempunyai ide
untuk mengemukakan apa yang mereka pikirkan, dan menentukan suatu tindakan
berdasarkan apa yang mereka percaya secara pribadi bukan pada apa yang dipikirkan orang
lain.

Open-Mindedness (Berpandangan Terbuka)

Pemimpin perlu mengesampingkan pemikiran gagasan, kepercayaan, dan


pendapatnya agar dapat membuka bagi sesuatu yang baru. Keterbukaan berarti
mengemsampingkan berbagai prasangka atau keyakinan serta pendapat awal (beginner
minds), menerima masukan dan menghargai pendapat orang lain.

System Thinking (Berfikir Sistim)

Merupakan suatu kemampuan untuk melihat sinergi secara keseluruhan tidak hanya
sebagian elemen dari sebuah sistim dan belajar untuk memperkuat atau mengubah
keseluruhan pola sistim. Bagaimana memahami bahwa suatu fenomena dipengaruhi oleh
fenomena lainnya. Dapat juga dikatakan bahwa suatu proses untuk memahami suatu
fenomena tidak hanya memandang dari suatu aturan sistim tertentu. Contoh ekosistim terdiri
dari berbagai elemen seperti udara, air, tumbuhan adalah merupakan satu kesatuan.

Personal mastery (Penguasaan Diri)

Merupakan sebuah kedisplinan untuk menguasai diri agar dapat mewujudkan


kejernihan pikiran, kejelasan tujuan, dan pengorganisasian untuk mencapai tujuan. Bisa juga
merupakan suatu pertumbuhan pribadi dan belajar menguasai diri sendiri; mewujudkan visi
pribadi menghadapi realita, kreatif. Secara singkat dapat disebut sebgai kemampuan yang
dimiliki seseorang dalam memecahkan masalah .

EMOTIONAL INTELLIGENCE
Kecerdasan Emosional mengacu pada kemampuan seseorang untuk memahami,
mengidentifikasi, memahami, dan berhasil mengelola emosi dalam diri sendiri dan orang lain.

What Are Emotions?

Emosi utama ini dan beberapa variasinya adalah sebagai berikut:


Anger
(Kem araha
n)
:

beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, bermusuhan, tindak
kekerasan, kebencian.
 Sadness (Kesedihan) : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani
diri, kesepian, ditolak, putus asa.
 Fear (Ketakutan) : ngeri, gugup, takut, cemas, kuatir, was-was, waspada,
tidak tenang, kecut dan panik.
 Enjoyment (Kegembiraan) : senang, gembira, bahagia, ringan, puas, senang,
terhibur, bangga.
 Love (Cinta) : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati,
rasa dekat, hormat, kasmaran, mabuk kepayang.
 Surprise (Kekaguman) : syok, heran, takjub, bertanya-tanya.
 Disgust (Kemuakkan) : penghinaan, meremehkan, cemohan, kebencian,
keengganan, rasa jijik.
 Shame (Malu) : Rasa malu, malu hati, kesal hati, sesak, hina, aib,
hancur.

Why Are Emotions Important?


Salah satu alasannya adalah bahwa pemimpin yang memanfaatkan dan mengarahkan
kekuatan emosi untuk meningkatkan kepuasan, moral, dan motivasi pengikut mendapatkan
hasil yang lebih baik dan meningkatkan efektivitas organisasi secara keseluruhan.

Emotions Are Contagious (Emosi Menular) Penularan emosional ini berarti bahwa para
pemimpin yang mampu menjaga keseimbangan dan menjaga diri mereka termotivasi dan
menginspirasi orang-orang di sekitar mereka. Tingkat energi seluruh organisasi meningkat
ketika para pemimpin optimis dan penuh harap daripada marah atau tertekan.

Emotions Influence Performance (Emosi Mempengaruhi Kinerja) Seperti yang


disarankan oleh tim studi yang baru saja disebutkan, emosi memiliki pengaruh kuat pada
kinerja. Banyak bukti menunjukkan hubungan yang jelas antara suasana hati orang-orang dan
berbagai aspek kinerja mereka, seperti kerja tim, kreativitas, pengambilan keputusan, dan
kinerja tugas. Suasana hati negatif menghabiskan energi dan mencegah orang melakukan
yang terbaik.

The Components of Emotional Intelligence


Penting untuk diingat bahwa kecerdasan emosional dapat dipelajari dan dikembangkan. Siapa
pun dapat memperkuat kemampuannya dalam empat kategori ini.

Self-Awareness (Kesadaran diri sendiri) Kemampuan untuk menyadari dan memahami


emosi diri sendiri dan bagaimana berdampak pada kehidupan dan kerja. Kemampuan
seseorang sangat tergantung kepada kesadaran diri sendiri dan pengendalian emosinya.
Kesadaran akan diri sendiri akan membantu seseorang dalam memahami tentang impian,
tujuan, dan nilai yang melandasi perilaku hidupnya. Seseorang yang menyadari dirinya
sendiri tentang emosinya akan memiliki kepekaan yang tajam akan perasaan yang muncul
seperti senang, bahagia, sedih, marah, benci, dan sebagainya.

Self-Management (Pengelolaan Diri Sendiri) Kemampuan untuk mengendalikan emosi dan


gangguan atau hal yang membahayakan. Hal ini dapat membantu untuk memimpin atau
mengendalikan dirinya sendiri. Kemampuan seseorang untuk mengendalikan dan mengelola
diri sendiri akan membantu mereka dalam mencapai kesuksesannya. Ada beberapa langkah
dalam mengelola emosi diri sendiri seperti : menghargai emosi dan menyadari dukungannya
kepada kita, berusaha mengetahui pesan yang disampaikan emosi, dan yakin bahwa kita
sudah pengalaman menangani emosi sebelumnya dengan baik, Selalu bergembira dalam
mengambil langkah penanganannya.

Social Awareness (Kesadaran Sosial) Kemampuan seseorang untuk memahami dan


berempati kepada orang lain. Sebagai mahluk sosial, seseorang harus selalu berhubungan
dengan orang lain. Jika seseorang telah memiliki kesadaran sosial, maka dalam dirinya akan
muncul empati, kesadaran, dan pelayanan.

Relationship Management (Manajemen Hubungan) Kemampuan untuk berhubungan


dengan orang lain dengan mengembangkan hubungan positif. Jika seseorang dapat mengelola
hubungan (emosi) orang lain, maka akan muncul interaksi yang positif yang dapat
meningkatkan hasil yang optimal. Dengan demikian pergaulan seseorang semakin luas.

LEADING WITH LOVE VERSUS LEADING WITH FEAR


Leading with love saling memperhatikan dengan yang lain, tukar menukar ilmu
pengetahuan, saling memahami, saling mengasihi agar dapat bertumbuh dan sukses secara
bersama-sama.

Leading with fear merupakan suatu pola kepemimpinan yang menyebabkan hilangnya rasa
kepercayaan orang dan pada gilirannya akan mencari organisasi atau tempat kerja lain. Suatu
organisasi jika berbasiskan rasa takut, maka organisasi tersebut merasa takut kehilangan
orang yang terbaik, dan pengalaman dan pengetahuannya akan dimanfaatkan oleh untuk
perusahaan lain.

Fear in Organizations yaitu ketakutan akan kegagalan, takut akan perubahan, takut akan
kerugian pribadi, takut terhadap atasan. Semua bentuk ketakutan ini dapat mencegah orang2
utk melakukan hal-hal yang baik, takut mengambil risiko, takut memutuskan, takut
menentang, dan takut merubah status kuo yg ada.

Bringing Love to Work

Apa yang Anda lakukan saat Apa rasanya ingin diperhatikan?


memperhatikan seseorang?
1. Berharga
1. Menjangkau 2. Hidup
2. Merangkul, Memeluk 3. Tanggap
3. Berada di sana 4. Pandangan positif
4. Bersama mereka 5. Gembira
5. Belas kasihan 6. Respek
6. Menerima 7. Bebas
7. Berbagi impian 8. Penting
8. Mengakui prestasi 9. Baik
9. Percaya 10. Aman
10. Mendukung 11. Lebih terbuka untuk
11. Mendorong mengekspresikan diri
12. Beritahu kamu perhatikan 12. Meningkatkan harga diri
13. Hormati mereka 13. Meningkatkan moralitas
14. Menjadi positif 14. Bangga
15. Berikan mereka senyum 15. Sayang
16. Beri mereka waktu 16. Layak
17. Beri mereka pengakuan 17. Berkati
18. Lindungi 18. Anda buat perbedaan
19. Yakinkan 19. Terpenuhi
20. Rayakan bersama 20. Bahagia
Why Followers Respond to Love
Pada umumnya orang mendambahkan lebih dari apa yang mereka terima (gaji) sebagai
bagian dari pekerjaannya. Para pemimpin yang memimpin dengan rasa sayang memiliki
pengaruh yang luar biasa, karena mereka memenuhi 5 keinginan staf yang tidak terucapkan :
1. Mendengar dan memahami saya
2. Walaupun Anda tidak setuju dengan saya, tolong jangan membuat saya salah
3. Mengakui kebesaran dalam diri saya
4. Ingat untuk mencari perhatian dengan penuh rasa sayang
5. Katakan yang sebenarnya dengan penuh perasaan
 Fear-based motivation : Motivasi yang didasarkan pada rasa takut akan kehilangan
pekerjaan. Misalnya saya butuh pekerjaan itu untuk memenuhi kebutuhan dasar saya. Pada
umumnya mereka mengatakan saya butuh pekerjaan untuk membayar semua kebutuhan
dasar saya (memenuhi kebutuhan yang lebih rendah dari kebutuhan tubuh). Anda
memberikan pekerjaan dan saya akan memberikan Anda hanya cukup untuk
menjaga/menjamin pekerjaan saya.
 Love-based motivation : Motivasi yang didasarkan pada nilai penghargaan dalam
pekerjaan. Jika pekerjaan dan pemimpin membuat saya dapat dihargai sebagai pribadi dan
memberikan rasa makna dan kontribusi untuk masyarakat luas (memenuhi kebutuhan yang
lebih tinggi dari hati, pikiran, dan tubuh) maka saya akan memberikan semua yang saya
tawarkan.