Anda di halaman 1dari 5

Pengertian Abortus

Abortus adalah kehamilan yang berhenti prosesnya pada umur kehamilan di bawah 20
minggu, atau berat fetus yang lahir 500 gram atau kurang (Chalik, 1998).

Sedangkan Llewollyn & Jones (2002) mendefenisikan abortus adalah keluarnya janin
sebelum mencapai viabilitas, dimana masa gestasi belum mencapai 22 minggu dan beratnya
kurang dari 500 gram.

WHO merekomendasikan viabilitas apabila masa gestasi telah mencapai 22 minggu atau
lebih dan berat janin 500 gram atau lebih.

Mekanisme Terjadinya Abortus

Mekanisme terjadinya abortus dimulai dengan proses perdarahan dalam desidua basalis
kemudian diikuti oleh nekrosis jaringan sekitarnya. Hal tersebut menyebabkan hasil konsepsi
terlepas sebagian atau seluruhnya, sehingga merupakan benda asing di dalam uterus. Keadaan
ini menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkannya.

Penyebab Abortus
Secara umum abortus dapat disebabkan oleh :

Wanita itu sendiri (maternal) yaitu : abnormalitas traktus genitalis, trauma, infeksi rubella,
infeksi chlamydia, penyakit-penyakit vaskular, kelainan endokrin, penyakit sistemik, faktor
imunologis, dimana jika kondisi ini tidak terkontrol dengan baik dapat meningkatkan resiko
keguguran (Edmonds, 1992 dalam Bennett & Brown, 1999).

Kejadian abortus meningkat pada wanita hamil yang berumur 30 tahun atau 35 tahun,
hal ini disebabkan meningkatnya kelainan genetik seperti mutasi dan kelainan maternal pada
usia tersebut (Chalik, 1998). Menurut Llewellyn-Jones (2002) frekuensi abortus meningkat
bersamaan dengan meningkatnya angka graviditas. Apabila terdapat riwayat abortus, maka
kemungkinan terjadi abortus pada kehamilan yang selanjutnya akan meningkat (Henderson
dan Jones, 2006).

Janin : seperti kelainan kromosom, kelainan ovum, blighted ovum, abnormalitas


pembentukan plasenta.

Sperma : sperma yang mengalami translokasi kromosom apabila berhasil menembus zona
pellusida dari ovum akan menghasilkan zigot yang memiliki material kromosom yang tidak
normal sehingga dapat menyebabkan keguguran.

Penyebab eksternal: radiasi, obat-obatan dan bahan kimia. Penyebab lain yang tidak
diketahui.

Setengah dari kasus abortus disebabkan oleh abnormalitas janin dengan jumlah sisanya
sebagian diakibatkan oleh sebab- sebab yang tidak diketahui dan oleh berbagai penyebab lain
(Bennett & Brown, 1999).

Klasifikasi Abortus
Samapraja (2008 dalam Erlina, 2008) menyatakan bahwa ada 2 jenis keguguran yaitu
keguguran yang dikenali dan keguguran yang tidak dikenali. Keguguran yang dikenali terjadi
pada wanita yang telah mengetahui dan membuktikan dirinya hamil. Sedangkan keguguran
yang tidak dikenali terjadi pada wanita yang belum mengetahui dirinya hamil, hal ini dapat
terjadi pada wanita yang menstruasinya datang terlambat.
Berdasarkan proses terjadinya abortus dapat digolongkan dalam dua golongan yaitu abortus
spontan dan abortus provokatus (buatan).

Abortus provokatus terbagi ke dalam dua jenis yaitu abortus provokatus terapeutik dan
abortus provokatus kriminalis. Selain itu dikenal juga istilah-istilah seperti:

Abortus imminens atau abortus mengancam. terjadi perdarahan dari uterus, hasil konsepsi
masih berada di dalam uterus, tanpa adanya dilatasi serviks. Abortus insipiens terjadi
perdarahan dari uterus dengan disertai dilatasi serviks yang meningkat, rasa mules menjadi
lebih sering dan kuat, perdarahan bertambah tetapi hasil konsepsi masih berada di dalam
uterus.

Abortus servikalis, keluarnya hasil konsepsi dari uterus dihalangi oleh ostium uteri
eksternum yang tidak membuka, sehingga hasil konsepsi terkumpul di dalam kanalis
servikalis dan serviks uteri menjadi lebih besar dengan dinding yang menipis.

Abortus Incompletus, terjadi pengeluaran sebagian hasil konsepsi. Pada pemeriksaan


vaginal, kanalis servikalis terbuka dan jaringan dapat diraba dalam kavum uteri atau kadang-
kadang sudah menonjol dari ostium uteri eksternum, dapat menyebabkan perdarahan yang
banyak sehingga menyebabkan syok. Perdarahan tidak akan berhenti sebelum sisa hasil
konsepsi dikeluarkan. Abortus kompletus, seluruh hasil konsepsi sudah dikeluarkan, ostium
uteri menutup dan uterus mengecil.

Missed Abortion, keadaan dimana janin sudah meninggal, tetapi tetap berada dalatn rahim
dan tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih.

Abortus Habitualis, abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut- turut.

Abortus infeksiosus, abortus yang disertai infeksi pada genetalia

Abortus Septik, abortus infeksiosus berat disertai penyebaran kuman atau toksin
ke dalam peredaran darah atau peritoneum.

SUMBER :
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24757/4/Chapter%20II.pdf

Abortus dapat dibagi atas dua golongan:

a. Abortus Spontan
Adalah abortus yang terjadi dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis atau
pun medisinalis, semata-mata disebabkan oieh faktor-faktor alamiah.

b. Abortus Provakatus (induced abortion)


Adalah abortus yang disengaja, baik dengan memakai obat-obatan maupun
alat-alat. Abortus ini terbagi menjadi:

 Abortus Medisinalis (abortus therapeutica)


Abortus karena tindakan kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan
dilanjutkan, dapat membahayakan jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis).
Biasanya perlu mendapat persetujuan 2 sampai 3 tim dokter ahli.
 Abortus Kriminalis
Abortus yang terjadi oleh karena tindakan-tindakan yang tidak legal atau
tidak berdasarkan indikasi medis.

Klinis Abortus Spontan

Dapat dibagi atas:

o Abortus Kompletus (Keguguran lengkap): Artinya seluruh hasil konsepsi


dikeluarkan (desidua dan fetus), sehingga rongga rahim kosong. Perdarahan
den nyeri minimal, Seluruh hasil konsepsi telah dikeluarkan , Ukuran uterus
dalam bates normal,Servik tertutup
Terapi: hanya dengan uterotonika.

abortus inkompletus
a. Abortus Inkompletus (Keguguran bersisa): Hanya sebagian dari hasil
konsepsi yang dikeluarkan, yang tertinggal adalah desidua atau plasenta.
 Gejala: didapati antara lain adalah
Manfes: amenorea, sakit perut, dan mulas-mulas; perdarahan yang bisa sedikit
atau banyak, dan biasanya berupa stolsel (darah beku); sudah ada keluar fetus
atau jaringan; pada abortus yang sudah lama terjadi atau pada abortus
provakatus yang dilakukan oleh orang yang tidak ahli, sering teijadi infeksi.
Pada pemeriksaan dalam (V.T.) untuk abortus yang baru terjadi didapati
serviks terbuka, kadang-kadang dapat diraba sisa-sisa jaringan dalam kanalis
servikalis atau kavum uteri, serta uterus yang berukuran lebih kecil dari
seharusnya. Perdarahan hebat sering menyebabkan syok ,Perdarahan disease
gumpalan darah den jaringan konsepsi , Servile terbuka , Sebagian basil
konsepsi masih tertinggal dalam kavum uteri
Terapi: Bila ada tanda-tanda syok maka atasi dulu dengan pemberian cairan
dan transfusi darah. Kemudian keluarkan jaringan secepat mungkin dengan
metode digital dan kuretase. Setelah itu beri obat-obat uterotonika dan
antibiotika.

 Abortus Insipiens (Keguguran sedang berlangsung): Adalah abortus yang


sedang berlangsung, dengan ostium sudah terbuka dan ketuban yang teraba.
Kehamilan tidak dapat dipertahankan lagi. Perdarahan dengan gumpalan darah
, Nyeri lebih kuat ,Servik terbuka den teraba ketuban ,Hasil konsepsi masih
berada dalam kavum uteri .
Manfes: nyeri abdomen ( kram suprapubik intermitten, progresif =kontraksi
uterus yg menimbulkan dilatasi serviks), perdarahn pervagina, abortus timbul
sblm 12 minggu stlh siklus haid terakhir, kebocoran amnion

Terapi: seperti abortus inkompletus.


 Abortus Iminens (Keguguran membakat): Keguguran membakat dan akan
terjadi. Dalam hal ini keluarnya fetus masih dapat dicegah dengan
memberikan obat-obat hormonal dan antispasmodika serta istirahat. Kalau
perdarahan setelah beberapa minggu masih ada, maka perlu ditentukan apakah
kehamilan masih baik atau tidak. Kalau reaksi kehamilan 2 kali berturut-turut
negatif, maka sebaiknya uterus dikosongkan (kuret). Perdarahan minimal
dengan nyeri/tidak ,Uterus sesuai dengan umur kehamilan ,Servile belum
membuka, Test hamil : positif , USG : Produk kehamilan dalam betas normal
Manfes: perdarahan per vagina, nyeri abdomen, gejala hamil, satu siklus haid
terlewatkan
Diagnosis: px pelvis: pd px spekulum ada darah kecoklatan dlm vagina,
ostium uteri tertutup, pd px bimanual: uterus membesar, lunak dan tidak nyeri
tekan, px urinalisis: urin normal
Tatalaksana:
- tirah baring/batasi aktivitas, jika ada alat kontrasepsi dlm rahim haus
diangkat,

d. Missed Abortion: keadaan dimana janin sudah mati, tetapi tetap berada dalam
rahim dan tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih. Fetus yang meninggal
ini:
(a) bisa keluar dengan sendirinya dalam 2-3 bulan sesudah fetus mati
(b) bisa diresorbsi kembali sehingga hilang
(c) bisa terjadi mengering dan menipis yang disebut: fetus papyraceus
(d) bisa jadi mola karnosa, dimana fetus yang sudah mati 1 minggu akan
mengalami degenerasi dan air ketubannya diresorbsi.
o Gejala: Dijumpai amenorea; perdarahan sedikdt-sedikit yang berulang pada
permulaannya, serta selama observasi fundus tidak bertambah tinggi, malahan
tambah rendah, Kalau tadinya ada gejala-gejala kehamilan, belakangan
menghilang, diiringi dengan reaksi kehamilan yang menjadi negatif pada 2-3
minggu sesudah fetus mati. Pada pemeriksaan dalam, serviks tertutup dan ada
darah sedikit. Sekali-sekali pasien merasa perutnya dingin atau kosong. -
Perdarahan minimal ,Sering didahului oleh tanda abortus iminen yang
kemudian menghilang spontan/setelah tempi ,Tanda den gejala laumil
menghilang ,USG : Hasil konsepsi masih dalam uterus namun tak ada tanda
ke` langsungan hidupnya

Terapi: Berikan obat dengan maksud agar terjadi his sehingga fetus dan desi-
dua dapat dikeluarkan, kalau tidak berhasil lakukan dilatasi dan kuretase.
Dapat juga dilakukan histerotomia anterior. Hendaknya pada penderita juga
diberikan tonika dan antibiotika.

Komplikasi: Bisa timbul hipo atau afibrinogenemia. Fetus yang sudah mati
begitu melekatnya pada rahim sehingga sulit sekali untuk dilakukan kuretase

f. Abortus Habitualis (Keguguran berulang): keadaan dimana penderita


mengalami keguguran berturut-turut 3 kali atau lebih.
Menurut HERTIG abortus spontan terjadi dalam 10% dari kehamilan dan
abortus habitualis 3,6 - 9,8% dari abortus spontan. Kalau seorang penderita
telah mengalami 2 kali abortus berturut-turut maka optimisme untuk
kehamilan berikutnya berjalan normal adalah sekitar 63%. Kalau abortus 3 kali
berturut-turut, maka kemungkinan kehamilan ke 4 berjalan normal hanya
sekitar 16%.