Anda di halaman 1dari 22

Masa Orde Baru: Pengertian, Latar Belakang,

Tujuan, dan Kebijakan Orde Baru

Pengertian Orde Baru adalah sebutan untuk masa pemerintahan presiden Soeharto di
Indonesia selama lebih dari 30 tahun. Masa orde baru (ORBA) dimulai sejak tahun 1966
menggantikan orde lama yang merujuk pada era pemerintahan soekarno

Pengertian orde baru adalah suatu penataan kembali kehidupan masyarakat, bangsa, dan
negara Indonesia berlandaskan dasar negara, yaitu Pancasila dan UUD 1945. Hal
tersebut dilakukan karena adanya ancaman terhadap ideologi Pancasila yaitu peristiwa
pemberontakan Gerakan 30 September (G30S/ PKI).

Menurut sejarahnya, pada masa itu Partai Komunis Indonesia (PKI) menyebarkan paham
komunisme di Indonesia dan telah mengancam keberlangsungan ideologi Pancasila.
Awal lahirnya orde baru adalah ketika presiden Soekarno menyerahkan mandatnya
kepada Jendral Suharto melalui Surat Perintah Sebelas Maret (SUPERSEMAR).
Latar Belakang Orde Baru

Peristiwa yang melatarbelakangi lahirnya Orde Baru adalah terjadinya kudeta yang
dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia terhadap kebijakan pemerintah pada waktu itu. Bahkan
pada 30 September 1965 beberapa Jendral TNI diculik, disiksa, dan dibunuh oleh para
pemberontak tersebut yang sempat mengakibatkan kekacauan di Indonesia.

Peristiwa pembunuhan para Jendral TNI tersebut mengakibatkan munculnya gelombang


kebencian besar terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI). Masyarakat dan TNI kemudian
melakukan penangkapan dan pembantaian terhadap para anggota PKI di berbagai daerah di
Indonesia.

Pada masa itu, kerusuhan juga terjadi di berbagai lokasi sehinga keamanan negara sangat rentan.
Hal tersebut membuat pengaruh dan kekuasaan presiden Soekarno menjadi melemah dan
kehilangan kepercayaan dari sebagian rakyatnya.

Selain kerusuhan, masyarakat juga kerap melakukan demonstrasi di berbagai tempat. Beberapa
tuntutan demonstran kepada pemerintah pada waktu itu adalah:

Membubarkan PKI dan organisasi-organisasi pendukungnya (Gerwani, Lekra, BTI, Pemuda


Rakyat, dan lain-lain).

1. Bersihkan Kabinet Dwikora dari unsur-unsur PKI

2. Menurunkan harga sembako

Untuk menindaklanjuti tuntutan rakyat tersebut, presiden Soekarno kemudia melakukan


reshuffle Kabinet Dwikora. Namun, upaya tersebut dianggap mengecewakan karena masih
terdapat unsur komunis di dalam kabinet baru.

Pada masa genting tersebut akhirnya presiden Soekarno memutuskan untuk mengundurkan diri
sebagai presiden. Tepat pada tanggal 11 Maret 1966 Soekarno menandatangani SUPERSEMAR,
dimana isinya Soekarno menyerahkan mandatnya kepada Soeharto sebagai presiden Republik
Indonesia.
Pada 22 Februari 1967 akhirnya Soeharta diangkat menjadi presiden RI ke-2 secara resmi, yaitu
melalui Ketetapan MPRS No. XV / MPRS / 1966 dan sidang istimewa MPRS (Majelis
Permusyawaratan Rakyat Sementara) pada tanggal 7 – 12 Maret 19

Latar Belakang Orde Baru

Peristiwa yang melatarbelakangi lahirnya Orde Baru adalah terjadinya kudeta yang
dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia terhadap kebijakan pemerintah pada waktu itu.
Bahkan pada 30 September 1965 beberapa Jendral TNI diculik, disiksa, dan dibunuh oleh
para pemberontak tersebut yang sempat mengakibatkan kekacauan di Indonesia.

Peristiwa pembunuhan para Jendral TNI tersebut mengakibatkan munculnya gelombang


kebencian besar terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI). Masyarakat dan TNI
kemudian melakukan penangkapan dan pembantaian terhadap para anggota PKI di
berbagai daerah di Indonesia.

Pada masa itu, kerusuhan juga terjadi di berbagai lokasi sehinga keamanan negara sangat
rentan. Hal tersebut membuat pengaruh dan kekuasaan presiden Soekarno menjadi
melemah dan kehilangan kepercayaan dari sebagian rakyatnya.
Selain kerusuhan, masyarakat juga kerap melakukan demonstrasi di berbagai tempat.
Beberapa tuntutan demonstran kepada pemerintah pada waktu itu adalah:

 Membubarkan PKI dan organisasi-organisasi pendukungnya (Gerwani, Lekra, BTI,


Pemuda Rakyat, dan lain-lain).
 Bersihkan Kabinet Dwikora dari unsur-unsur PKI
 Menurunkan harga sembako
Untuk menindaklanjuti tuntutan rakyat tersebut, presiden Soekarno kemudia melakukan
reshuffle Kabinet Dwikora. Namun, upaya tersebut dianggap mengecewakan karena
masih terdapat unsur komunis di dalam kabinet baru.

Pada masa genting tersebut akhirnya presiden Soekarno memutuskan untuk


mengundurkan diri sebagai presiden. Tepat pada tanggal 11 Maret 1966 Soekarno
menandatangani SUPERSEMAR, dimana isinya Soekarno menyerahkan mandatnya
kepada Soeharto sebagai presiden Republik Indonesia.

Pada 22 Februari 1967 akhirnya Soeharta diangkat menjadi presiden RI ke-2 secara
resmi, yaitu melalui Ketetapan MPRS No. XV / MPRS / 1966 dan sidang istimewa MPRS
(Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) pada tanggal 7 – 12 Maret 1967.

Kebijakan Orde Baru


Pemerintahan di masa orde baru membuat beberapa kebijakan di bidang ekonomi, sosial,
dan politik. Dimana tujuan kebijakan tersebut adalah untuk menciptakan stabilitas
negara di berbaai bidang.

Berikut adalah beberapa kebijakan di masa orde baru:

1. Kebijakan ekonomi
Pada tahun 1969, pemerintah ORBA mencanangkan program Rencana Pembangunan
Lima Tahun (REPELITA) untuk meningkatkan ekonomi nasional. Pada tahun 1984
Indonesia berhasil menjadi negara dengan swasembada besar.

Menciptakan dan mewujudkan program trilogy pembangunan dimana tujuannya adalah


agar ekonomi masyarakat merata di seluruh Indonesia.
2. Kebijakan politik
 Pembubaran Partai Komunis Indonesia beserta organisasi-organisasi pendukungnya,
baik di tengah-tengah masyarakat maupun di dalam kabinet pemerintahan.
 Penyederhanaan partai politik yang awalnya ada 10 partai menjadi hanya 3 partai
politik saja, yaitu Golkar, PDI, dan PPP.
 Militer memiliki peran dalam pemerintahan atau yang disebut dengan dwifungsi
ABRI.
 Pemerintah mewajibkan pendidikan Penataan P4 (Pedoman, Penghayatan, dan
Pengamalan Pancasila) di seluruh lapisan masyarakat.
 Masuknya Irian Barat dan Timor Timur ke wilayah kesatuan Republik Indonesia.
 Indonesia menggagas berdirian ASEAN dan beberapa kebijakan politik luar negeri,
seperti: Pengakuan terhadap negara Singapura, Memperbaiki hubungan dengan
negara Malaysia, Masuk Indonesia kembali menjadi anggota PBB.

3. Kebijakan Sosial
Pemerintah orde baru mengeluarkan beberapa kebijakan yang bertujuan untuk
memperbaiki kesejahteraan masyarakat pada masa itu, diantaranya:

 Pencanangan program Keluarga Berencana (KB)


 Program transmigrasi
 Gerakan wajib belajar
 Gerakan orang tua asuh
Kelebihan dan kekurangan Masa Orde Baru

Seperti yang dijelaskan pada pengertian orde baru di atas, masa orde baru berlangsung
selama Soeharto menjabat sebagai presiden RI, yaitu 32 tahun lamanya. Adapun
beberapa kelebihan dan kekurangan masa orde baru adalah sebagai berikut:

1. Kelebihan Masa Orde Baru


 Pada tahun 1996 terjadi peningkatan Gros Domestic produk perkapita Indonesia dari
$70 menjadi $100.
 Berhasil mencanangkan Program Keluarga Berencana (KB) yang sebelumnya tidak
pernah ada.
 Meningkatnya jumlah masyarakat yang bisa membaca dan menulis.
 Pengangguran mengalami penurunan.
 Kebutuhan rakyat akan pangan, sandang, dan papan cukup terpenuhi dengan baik.
 Meningkatnya stabilitas dan keamanan negara Indonesia.
 Mencanangkan program Wajib Belajar dan gerakan nasional orang tua asuh.
 Mencanangkan dan menyukseskan Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA).
 Bekerjasama dengan pihak asing di bidang ekonomi dan menerima pinjaman dana
dari luar negeri.
2. Kekurangan Masa Orde Baru
 Terjadi korupsi besar-besara di semua lapisan masyarakat.
 Pembangunan hanya terpusat di ibu kota sehingga terjadi kesenjangan yang cukup
besar antara masyarakat kota dengan di desa.
 Kekuasaan yang terus bekelanjutan tanpa adanya tanda-tanda akan mundur.
 Masyarakat di berbagai daerah, misalnya Papua dan Aceh, merasa tidak puas dengan
pemerintah karena tidak tersentuh pembangunan.
 Banyak terjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) karena pemerintah pada
masa itu menganggap bahwa kekerasan dapat menyelesaikan masalah.
 Terjadi pengekangan kebebasan pers dan berpendapat, dimana banyak perusahaan
koran dan majalah yang ditutup paksa karena tidak sepaham dengan pemerintah.
 Tingginya kesenjangan sosial di masyarakat, dimana orang kaya mendapat hak lebih
baik dibanding orang yang tak mampu.

Revormasi
Reformasi adalah suatu perubahan tatanan perikehidupan lama menjadi perikehidupan
baru yang lebih baik. Terjadinya peristiwa reformasi merupakan hal yang sudah menjadi
pengalaman kelam oleh seluruh bangsa indonesia, mengingat banyak penderitaan yang sudah
mereka alami selama berada dibawah keotoriteran Presiden Soeharto. Peristiwa Reformasi ini
diwujudkan dengan mengundurkan dirinya Soeharto dari jabatan sebagai presiden Republik
Indonesia. Untuk mengingat apa saja hal yang terjadi selama Presiden Soearto menjabat
khususnya puncaknya pada tahun 1998 bisa dilihat dibawah ini.

Kronologis Peristiwa Reformasi/Berakhirnya Masa Jabatan Soeharto


Berikut merupakan kronologi peristiwa pada masa jabatan Soeharto.

1. Tanggal 22 Januari 1998, Rupiah tembus 17.00,- per dolar AS, IMF tidak menunjukkan
rencana bantuannya.

2. Tanggal 12 Februari 1998, Sorharto menunjuk Wiranto, menjadi Panglima Angkatan


Bersenjata,
3. Tanggal 5 Maret 1998, 20 Mahasiswa Universitas Indonesia mendatangi gedung
DPR/MPR untuk menyatakan penolakan terhadap pidato pertanggunjawaban Presiden yang
disampaikan pada Sidang Umum MPR dan menyerahkan agenda Reformasi Nasional. Mreka
diterima oleh fraksi ABRI.
4. Tanggal 10 Maret 1998, Soeharto terpilh kembali untuk masa jabatan lima tahun yang
ketujuh kalinya dengan menggandeng B.J Habibie sebagai Wakil Presiden.
5. Tanggal 14 Maret 1998, Soeharto mengumunman kabinet baru yang dinamai dengan
Kabinet Pembangunan VII. Bob Hasan dan anak Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana terpilih
sebagai menteri.
6. Tanggal 1 Mei 1998, Soeharto melalui menteri Dalam Negeri Hartono dan Menteri
Penerangan Alwi Dahlan mengatakan bahwa reformasi baru bisa dimulai tahun 2003.
7. Tanggal 2 Mei 1998, Pernyataan itu diralat dan kemudian dinyatakan bahwa Soeharto
mengatakan reformasi bisa dilakukan sejak sekarang (1998).
8. Tanggal 4 Mei 1998, Harga BBM meroket 71%, disusul 3 hari kerusuhan di Medan
dengan korban sedikitnya 6 meninggal.

9. Tanggal 7 Mei 1998, Peristiwa Cimanggis, bentrokan antar mahasiswa dan aparat
keamanan terjadi di kampus Fakultas Teknik Universitas Jayabaya, Cimanggis yang
mengakibatka sedikitnya 52 mahasiswa dibawa ke RS Tugu Ibu, Cimanggis. Dua di antarana
terkena tembakan di leher dan lengan kanan, sedangkan sisanya cedera akibat pentungan ritan
dan mengalami iritasi mata akibat gas air mata.
10. Tanggal 8 Mei1998, Peristiwa Gejayan. 1 Mahasiswa Trisakti terbunuh.

11. Tanggal 9 Mei 1998, Soeharto berangkat seminggu ke Mesir untuk menghadiri
pertemuan KTT G-15. Ini merupakan lawatan terakhirnya keluar negeri sebagai Presiden RI.
12. Tanggal 12 Mei 1998, Tragedi Trisakti, 4 Mahasiswa Trisakti terbunuh.

13. Tanggal 13 Mei 1998, Kerusuhan Mei 1998 pecah di Jakarta. Kerusuhan juga terjadi di
kota Solo. Soeharto yang sedang menghadiri pertemuan negara-negara berkembang G-15 di
Kairo, Mesir, memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Sebelumnya, dalam pertemuan tatap
muka dengan masyarakat Indonesia ki Kairp, Soeharto menyatakan akan mengundurkan diri
dari jabatannya sebagai Presiden. Etnis Tionghoa mulai eksodus meninggalkan Indonesia.
14. Tanggal 14 Mei 1998, Demonstrasi terus bertambah besar hampir di seluruh kota-kota di
Indonesia, demonstran mengepung dan menduduki gedung-gedung DPRD di daerah.
15. Tanggal 18 Mei 1998, Ketua MPR yang juga ketua Partai Golkar, Harmoko, meminta
Soeharto turun dari jabatannya sebagai Presiden. Jenderal Wiranto mengatakan bahwa
pernyataan Harmoko tidak mempunyai dasar hukum. Wiranto mengusulkan pembentukan
"Dewan Reformasi". Gelombang pertama mahasiswa dari FKSMJ, Forum Kota, UI dan HMIMPO
memasuki halaman dan menginap di Gedung DPR/MPR. Mahasiswa menduduki Gedung
DPR/MPR.
16. Tanggal 19 Mei 1998, Soeharto berbicara di TV, menyatakan bahwa dia akan turun dari
jabatannya, tetapi menjanjikan pemilu baru akan dilaksanakan secepatnya. Beberapa tokoh
muslim, termasuk Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid, bertemu dengan Soeharto .
Ribuan mahasiswa menduduki Gedung DPR/MPR, Jakarta. Dilaporkan bentrokan terjadi dalam
demonstrasi di Universitas Airlangga, Surabaya.
17. Tanggal 20 Mei 1998, Amien Rais membatalkan rencana demonstrasi besar-besaran di
Monas, setelah 80.000 tentara bersiaga di kawasan Monas, 500.000 orang berdemonstrasi di
Yogyakarta, termasuk Sultan Hamengkubuwono X, Demonstrasi besar lainnya juga terjadi di
Surakarta, Medan, Bandung. Harmoko mengatakan Soeharto sebaiknya mengundurkan diri
pada jumat, 22 Mei atau DPR/MPR akan terpaksa memilih Presiden baru. Sebelas menteri
kabinet mengundurkan diri, termasuk Ginandjar Kartasasmita, Milyuner kayu Bob Hasan, dan
Gubernur Bank Indonesia Syahril Sabirin.
18. Tanggal 21 Mei 1998, Soeharto mengumukan pengunduran dirinya pada hari kamis 21
Mei 1998 pukul 09.00 WIB di Istana Merdeka. Wakil Presiden B.J Habibie menjadi Presiden baru
Indonesia. Jenderal Wiranto mengatakan ABRI akan tetap melindungi presiden dan mantan-
mantan presiden.Terjadi perdebatan tentang proses transisi ini. Yusril Ihza Mahendra, salah satu
yang pertama mengatakan bahwa proses pengalihan kekuasaan adalah sah dan konstitusional.

19. Tanggal 22 Mei 1998, Habibie mengumumkan susunan "Kabinet Reformasi". Letjen
Prabowo Subiyanto dicopot dari jabatan Panglima Kostrad. Di Gedung DPR/MPR, bentrokan
hampir terjadi antara pendukung Habibie yang memakai simbol-simbol dan antribut keagamaan
dengan mahasiswa yang masih bertahan di Gedung DPR/MPR, mahasiswa menggangap bahwa
Habibie masih tetap bagian dari Rezim Orde Baru. Tentara mengevakuasi mahasiswa dari
Gedung DPR/MPR ke Universitas Atma Jaya.

Peran Pelajar di Reformasi


Pada era Orde Baru saat itu pula yang berperan adalah para mahasiswa dan pemuda
kesayangan bangsa ini, kemudian pergolakan mahasiswa terjadi pada tahun 1998 dengan
tuntutan mundurnya Soeharto dari jabatan presiden. Pada masa itu mahasiswa semua bergerak
dan bersatu untuk menumbangkan rezim Orde Baru dan akhirnya berhasil membawa
perubahan yang diharapkan yakni bergantinya Orde baru menjadi Reformasi hingga hari ini.

Mahasiswa menurut Knopfemacher (dalam Suwono, 1978) adalah merupakan insan-insan


calon sarjana yang dalam keterlibatannya dengan perguruan tinggi (yang makin menyatu
dengan masyarakat), dididik dan di harapkan menjadi calon-calon intelektual. Mahasiswa
memiliki berbagai peran yang luar biasa, antara lain sebagai Iron Stock -- mahasiswa itu harus
bisa menjadi pengganti orang-orang yang memimpin di pemerintahan nantinya, yang berarti
mahasiswa akan menjadi generasi penerus untuk memimpin bangsa ini nantinya.

Yang kedua sebagai Agent Of Change -- dituntut untuk menjadi agen perubahan. Disini
maksudnya, jika ada sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitar dan itu ternyata salah,
mahasiswa dituntut untuk merubahnya sesuai dengan harapan yang sesungguhnya.
Selanjutnya, mahasiswa sebagai Social Control -- harus mampu mengontrol sosial yang ada di
lingkungan sekitar (lingkungan masyarakat). Jadi, selain pintar di bidang akademis, mahasiswa
harus pintar juga dalam bersosialisasi dengan lingkungan.mahasiswa pun sebagai Moral Force -
- diwajibkan untuk menjaga moral-moral yang sudah ada. Jika di lingkungan sekitarnya terjadi
hal-hal yang tak bermoral, maka mahasiswa dituntut untuk merubah serta meluruskan kembali
sesuai dengan apa yang diharapkan.

ORGANISASI GLOBAL DAN INTERNASIONAL


Organisasi Global atau Internasional adalah organisasi yang tidak terbatas pada kawasan tertentu,
akan tetapi meliputi seluruh wilayah. Kerjasama bisa dalam sektor politik, ekonomi maupun social
dan budaya. Sedangkan organisasi regional adalah organisasi yang luas wilayahnya meliputi
beberapa negara tertentu saja. Organisasi regional mempunyai wilayah kegiatannya bersifat
regional, dan keanggotaan hanya diberikan bagi negara-negara pada kawasan tertentu saja.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)

Perserikatan Bangsa-Bangsa atau biasa disingkat PBB (bahasa Inggris:


United Nations atau disingkat UN) adalah sebuah organisasi internasional yang anggotanya
hampir seluruh negara di dunia. Lembaga ini dibentuk untuk memfasilitasi dalam hukum
internasional, pengamanan internasional, lembaga ekonomi, dan perlindungan sosial.
Perserikatan Bangsa-bangsa didirikan di San Francisco pada 24 Oktober 1945 setelah Konferensi
Dumbarton Oaks di Washington, DC, namun Sidang Umum yang pertama – dihadiri wakil dari 51
negara – baru berlangsung pada 10 Januari 1946 (di Church House, London). Dari 1919 hingga
1946, terdapat sebuah organisasi yang mirip, bernama Liga Bangsa-Bangsa, yang bisa dianggap
sebagai pendahulu PBB.
Sejak didirikan pada tahun 1945 hingga 2011, sudah ada 193 negara yang bergabung menjadi
anggota PBB, termasuk semua negara yang menyatakan kemerdekaannya masing-masing dan
diakui kedaulatannya secara internasional, kecuali Vatikan.

Fungsi dan Tujuan PBB adalah:

1. Memelihara perdamaian dan keamanan internasional


2. Mengembangkan hubungan persaudaraan antarbangsa
3. Menciptakan kerjasama dalam memecahkan masalah- masalah internasional dalam bidang
ekonomi,sosial budaya dan hak asasi
4. Menjadikan PBB sebagai pusat usaha dalam mewujudkan tujuan bersama cita-cita diatas
PBB memiliki enam organ utama sebagai berikut:

1) Sidang Umum PBB.

2) Dewan Keamanan PBB.

3) Dewan Ekonomi dan Sosial PBB.

4) Dewan Perwalian PBB.

5) Sekretariat PBB.

6) Mahkamah Internasional.

Daftar Sekretaris Jenderal PBB

Sekretaris Jenderal PBB atau lebih sering disingkat dengan Sekjen PBB adalah Ketua Sekretariat
PBB yaitu salah satu badan utama Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang bertugas dalam
mempublikasikan berbagai perjanjian Internasional yang dibuat oleh PBB dan menjaga kontak
dengan media di seluruh dunia untuk mempromosikan kinerja PBB serta menyediakan penelitian,
informasi dan fasilitas yang dibutuhkan oleh PBB untuk rapat-rapatnya. Sekretaris Jenderal
(Sekjen) PBB ini diangkat berdasarkan rekomendasi Dewan Keamanan dalam Sidang Umum PBB
untuk 5 tahun masa Jabatannya. Secara de facto, Sekretaris Jenderal juga bertindak sebagai Juru
Bicara dan Pemimpin PBB.

1. Sir Gladwyn Jebb dari Britania Raya (24 Oktober 1945 – 2 Februari 1946) – (pejabat
sementara)
2. Trygve Halvdan Lie dari Norwegia (2 Februari 1946 – 10 November 1952)
3. Dag Hammarskjöld dari Swedia (10 April 1953 – 18 September 1961)
4. U Thant (30 November 1961 – 31 Desember 1971)
5. Kurt Waldheim dari Austria (1 Jan 1972 – 31 Des 1981)
6. Javier Pérez de Cuéllar dari Peru (1 Jan 1982 – 31 Des 1991)
7. Boutros Boutros-Ghali dari Mesir (1 Jan 1992 – 31 Des 1996)
8. Kofi Annan dari Ghana (1 Jan 1997 – 31 Des 2006)
9. Ban Ki-moon dari Korea Selatan (1 Jan 2007 – 31 Des 2016)
10. António Guterres dari Portugal (1 Jan 2017 – sekarang)
Peran Indonesia dalam PBB

Indonesia memiliki peran besar dalam PBB. Indonesia terdaftar dalam beberapa lembaga di
bawah naungan PBB. Misalnya, ECOSOC (Dewan Ekonomi dan Sosial), ILO (Organisasi Buruh
Internasional), maupun FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian). Indonesia juga terlibat langsung
dalam pasukan perdamaian PBB. Dalam hal ini Indonesia mengirimkan Pasukan Garuda untuk
mengemban misi perdamaian PBB di berbagai negara yang mengalami konflik. Indonesia terpilih
sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB untuk masa bakti 2007–2009. Proses
pemilihan dilakukan Majelis Umum PBB melalui pemungutan suara. Pada proses pemungutan
suara, Indonesia memperoleh 158 suara dukungan dari keseluruhan 192 negara anggota yang
memiliki hak pilih. Pemilihan ini merupakan kali ketiga Indonesia menjadi anggota Dewan
Keamanan PBB setelah periode 1974–1975 dan 1995–1996.

Gerakan Nonblok (GNB)

Berakhirnya Perang Dunia II telah melahirkan dua blok kekuatan dunia,


yaitu blok Barat dan blok Timur à Blok Barat yang beraliran Liberal dipimpin Amerika Serikat (USA),
sedangkan blok Timur yang berideologi komunis dipimpin Uni Soviet (USSR). Kelahiran dua
blok merupakan ancaman serius bagi perdamaian. Oleh karena itu, lahirlah Gerakan Nonblok
(GNB) yang dianggap sebagai solusi bagi negara2 yang ingin tetap netral dan bebas dari pengaruh
salah satu blok. Dalam hal ini, Konferensi Asia Afrika (KAA) dianggap sebagai pendahulu bagi
berdirinya GNB karena KAA telah melahirkan prinsip2 perdamaian, kerja sama internasional,
kebebasan, kemerdekaan, dan hubungan antarbangsa. Pada tahun 1956, Presiden Gamal Abdul
Nasser (Mesir), Presiden Joseph Broz Tito (Yugoslavia), dan PM Jawaharlal Nehru (India)
mengadakan pertemuan di Brioni.
Pada September 1960, ketiga tokoh tersebut mengadakan pertemuan dengan Ir. Soekarno dan
Nkrumah dari Ghana. Pertemuan ini lalu diikuti dengan Pertemuan Persiapan Konferensi GNB di
Kairo pada Juni 1961 yang merumuskan kriteria negara yang akan diundang dalam KTT GNB I
dan prinsip2 GNB.

Lima (5) Tokoh Pelopor Berdirinya GNB:

1. Presiden Ir. Soekarno (Indonesia)


2. Presiden Joseph Broz Tito (Yugoslavia)
3. Presiden Gamal Abdul Nasser (Mesir)
4. Perdana Menteri Jawaharlal Nehru (India)
5. Perdana Menteri Kwame Nkrumah (Ghana)
Tujuan pembentukan Gerakan Nonblok (GNB) adalah untuk mempertahankan diri dengan jalan
mempersatukan diri di antara negara2 netral guna menghadapi intervensi negara adikuasa (Blok
Barat yang dipimpin USA dan Blok Timur di bawah pimpinan USSR). Konsep Nonblok adalah tidak
berpihak pada salah satu blok, baik itu blok Barat maupun blok Timur.

Faktor pendorong berdirinya GNB:

1. Persamaan nasib bangsa bangsa yang pernah dijajah telah menimbulkan penggalangan
solidaritas untuk mengenyahkan kolonialisme.
2. Terjadinya Perang Dingin dan ketegangan dunia akibat persaingan antara blok barat dan blok
Timur.
3. Terjadinya Krisis Kuba yang mengancam perdamaian dunia.
Struktur GNB adalah ketua yang merupakan kepala pemerintahan dari tuan rumah Konferensi
Tingkat Tinggi (KTT) GNB.

Tujuan dari didirikannya GNB antara lain:

1. Mendukung perjuangan dekolonisasi.


2. Memegang teguh perlawanan terhadap imperialisme, neokolonialisme, dan rasialisme.
3. Sebagai wadah perjuangan bagi negara2 berkembang dalam mencapai tujuannya.
4. Mengurangi ketegangan antara blok Barat dan blok Timur.
5. Mengadakan penyelesaian sengketa tanpa menggunakan kekerasan.
(baca materi tentang Gerekan Non Blok secara lengkap DI SINI)

Organisasi Konferensi Islam (OKI)

OKI merupakan organisasi Negara-negara Islam dan negara-negara yang


mayoritas penduduknya beragama Islam yang dibentuk sebagai reaksi terhadap pembakaran
mesjid Al Aqsa oleh Israel pada tanggal 21 Agustus 1969 yang merupakan salah satu tempat suci
umat Islam, selain Mekkah dan Madinah serta bentuk penolakan terhadap pendudukan wilayah-
wilayah arab oleh Israel termasuk pula penguasaan atas Yerussalem semenjak tahun 1967.
Pembakaran mesjid Al Aqsa tersebut menimbulkan reaksi dari pemimpin negara arab khususnya
Raja Hasan II dari Maroko, menyerukan para pemimpin negara-negara arab dan umat Islam agar
bersama-sama menuntut Israel bertanggungjawab atas pembakaran mesjid Al Aqsa tersebut
Seruan Raja Hasan II dari Maroko mendapat sambutan dari Raja Faisal dari Arab Saudi dan Liga
Arab, yang langsung ditindaklanjuti dengan pertemuan para duta besar dan menteri luar negeri
liga arab pada tanggal 22-26 Agustus 1969 yang berhasil memutuskan :

1. Tindakan Pembakaran mesjid Al Aqsa oleh Israel merupakan suatu kejahatan yang tidak
dapat diterima
2. Tindakan Israel tesebut merongrong kesucian umat Islam dan Nasrani serta mengancam
keamanan Arab.
3. Mendesak agar segera dilakukan Konfrensi Tingkat Tinggi negara-negara Islam.
Tujuan pembentukan OKI
1. Memelihara dan meningkatkan solidaritas diantara negara-negara anggota dalam bidang
ekonomi, sosial, budaya, ilmu pengetahuan politik dan pertahanan keamanan.
2. Mengkoordinasikan usaha-usaha untuk melindungi tempat-tempat suci.
3. Membantu dan bekerjasama dalam memperjuangkan kemerdekaan rakyat Palestina.
4. Berupaya melenyapkan perbedaan rasial, diskriminasi, kolonialisme dalam segala bentuk.
5. Memperkuat perjuangan umat Islam dalam melindungi martabat umat, dan hak masing-
masing negara Islam.
6. Menciptakan hubungan kerjasama yang harmonis, saling pengertian antar negara OKI dan
Negara-negara lain.
Negara-negara Anggota OKI
Organisasi Konfrensi Islam (OKI) pada saat pembentukannya memiliki anggota 28 Negara dan
terus mengalami pertambahan, hingga dewasa ini anggota OKI berjumlah 46 negara yang berasal
dari kawasan Asia Barat, Asia Tengah, Asia Tenggara, Afrika. Negara-negara anggota OKI adalah
: Arab Saudi, Maroko, Aljazair, Bahrain, Libya, Mauritania, Djiboti, Mesir, Suriah, Tunisia, Yaman,
Yordania, Oman, Qatar, Somalia, Irak, Lebanon, Kuwait, Uni Emirat Arab, Palestin, Afganistan,
Bangladesh, Iran, Pakistan, Maladewa, Turki,Azerbaijan, Indonesia, Malaysia, Brunai
Darussalam, Nigeria, Mali, Niger, Senegal, Uganda, Siera Leone, Guinea issau, Gabon, Gambia,
Chad, Comoros, Camerun, Burkina Faso, Benin.

(baca materi tentang Organisasi Konferensi Islam (OKI) secara lengkap DI SINI)
Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC)
OPEC adalah Organisasi Negara – Negara Pengekspor Minyak. OPEC
Dibentuk Sebagai Akibat Jatuhnya Harga Minyak Pada Perusahaan Raksasa Seperti Shell, British
Petroleum, Texaco, Exxon Mobil, Socal, Dan Gulf. Mereka Melakukan Penurunan Harga Minyak
Secara Drastis Sehingga Mereka Mampu Memenuhi Kebutuhan Negara – Negara Industri Besar.
Untuk Mengatasi Hal Tersebut, Negara – Negara Timur Tengah Berusaha Merebut Pasaran Harga
Minyak Internasional Dengan Cara Mengadakan Perundingan Pada Tanggal 11 – 14 September
1960 Di Baghdad ( Irak ).

5 negara sepakat mendirikan OPEC yaitu;

1. Saudi Arabia,
2. Iran,
3. Irak,
4. Kuwait
5. Venezuela
Anggota OPEC yaitu (1) Aljazair, (2) Angola, (3) Libya, (4) Negeria, (5) Saudi Arabia, (6) Irak, (7)
Iran, (8) Kuwait, (9) Qatar, (10) Uni Emirat Arab (11) Ekuador, (12) Gabon, (13) Venezuela, (14)
Indonesia, dan (15) Suriah. Pada tahun 2008, Indonesia keluar dari OPEC. Adapun dasar
keluarnya Indonesia adalah sejak 2003 Indonesia tidak mampu melakukan ekspor minyak.

Tujuan Organisasi OPEC

1. Tujuan Ekonomi, Yaitu Mempertahankan Harga Minyak Dan Menentukan Harga Sehingga
Menguntungkan Negara – Negara Produsen.
2. Tujuan Politik, Yaitu Mengatur Hubungan Dengan Perusahaan – Perusahaan Minyak Asing
Atau Pemerintah Negara – Negara Konsumen.
Organisasi OPEC Terdiri Dari : Konferensi, Dewan Gubernur dan Sekretariat

Peranan Indonesia Sebagai Anggota OPEC

Sejak Menjadi Anggota OPEC Tahun 1962, Indonesia Ikut Berperan Aktif Dalam Penentuan Arah
Dan Kebijakan OPEC Khususnya Dalam Rangka Menstabilisasi Jumlah Produksi Dan Harga
Minyak Di Pasar Internasional. Di OPEC Telah Membawa Indonesia Pernah Ditunjuk Sebagai
Sekjen OPEC Dan Presiden Konferensi OPEC. Pada Tahun 2004, Menteri Energi Dan Sumber
Daya Mineral ( MESDM ) Indonesia Terpilih Menjadi Presiden Dan Sekjen Sementara OPEC.

Organisasi Regional
Organisasi Regional adalah organisasi yang luas wilayahnya meliputi beberapa negara tertentu
saja. Organisasi regional mempunyai wilayah kegiatannya bersifat regional, dan keanggotaan
hanya diberikan bagi negara-negara pada kawasan tertentu saja. Organisasi Regional adalah
organisasi yang terletak pada satu kawasan yang sama seperti kawasan Asia Tenggara
membentuk ASEAN, kawasan Eropa membentuk Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE), kawasan
Asia Pasifik membentuk kerjasama APEC.

Konferensi Asia Afrika (KAA)


Konferensi Asia–Afrika (KAA) adalah sebuah konferensi antara negara-
negara Asia dan Afrika, yang kebanyakan baru saja memperoleh kemerdekaan. KAA
diselenggarakan oleh Indonesia, Myanmar (dahulu Burma), Sri Lanka (dahulu Ceylon), India dan
Pakistan dan dikoordinasi oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Sunario. Pertemuan ini berlangsung
antara 18 April-24 April 1955, di Gedung Merdeka, Bandung, Indonesia dengan tujuan
mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika dan melawan kolonialisme atau
neokolonialisme Amerika Serikat, Uni Soviet, atau negara imperialis lainnya.
Negara pelopor KAA:

1. Ali Sastroamidjojo dari Indonesia


2. Mohammad Ali Jinnah dari Pakistan
3. Jawaharlal Nehru dai India
4. John Kotelawala dari Sri Lanka
5. U Nu dari Myanmar
Sebanyak 29 negara yang mewakili lebih dari setengah total penduduk dunia pada saat itu
mengirimkan wakilnya. Konferensi ini merefleksikan apa yang mereka pandang sebagai
ketidakinginan kekuatan-kekuatan Barat untuk mengkonsultasikan dengan mereka tentang
keputusan-keputusan yang memengaruhi Asia pada masa Perang Dingin; kekhawatiran mereka
mengenai ketegangan antara Republik Rakyat Tiongkok dan Amerika Serikat; keinginan mereka
untuk membentangkan fondasi bagi hubungan yang damai antara Tiongkok dengan mereka dan
pihak Barat; penentangan mereka terhadap kolonialisme, khususnya pengaruh Perancis di Afrika
Utara dan kekuasaan kolonial perancis di Aljazair; dan keinginan Indonesia untuk mempromosikan
hak mereka dalam pertentangan dengan Belanda mengenai Irian Barat.

Tujuan KAA
Tujuan utama adalah menciptakan perdamaian dan ketenteramkan hidup bangsa bangsa-
bangsa yang ada di kawasan asia afrika. Tujuan lainnya:

 Memajukan kerja sama antar bangsa Asia Afrika untuk mengembangkan kepentingan
bersama,persahabatan,dan hubungan bertetangga yang baik.
 Mempertimbangkan masalah-masalah sosial ,ekonomi,dan kebudayaan negara-negara
anggota.
 Mempertimbangkan masalah-masalah khusus bangsa-bangsa di Asia Afrika,seperti
kedaulatan nasional,rasialisme dan kolonialisme.
 Meninjau kedudukan Asia Afrika serta rakyatnya di dunia ini ,serta sumbangan bagi
perdamaian dan kerja sama di dunia.
Sepuluh poin hasil pertemuan ini kemudian tertuang dalam apa yang disebut Dasasila Bandung,
yang berisi tentang “pernyataan mengenai dukungan bagi kerusuhan dan kerjasama dunia”.
Konferensi ini akhirnya membawa kepada terbentuknya Gerakan Non-Blok pada 1961

Association of Southeast Asia Nations (ASEAN)


Association of Southeast Asia Nations (ASEAN) merupakan sebuah
organisasi geopolitik dan ekonomi dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Organisasi ini
bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan pengembangan
kebudayaan negara-negara anggotanya, serta memajukan perdamaian di tingkat regionalnya.
Negara-negara anggota ASEAN mengadakan rapat umum pada setiap bulan November.
Berdirinya ASEAN ditandai dengan penandatanganan Deklarasi Bangkok pada tanggal 8 Agustus
1967. Tokoh tokoh yang menandatangani Deklarasi Bangkok adalah:

1. Adam Malik (Menteri Luar Negeri Indonesia),


2. Rajaratnam (Menteri Luar Negeri Singapura),
3. Tun Abdul Razak (Pejabat Perdana Menteri Malaysia),
4. Thanat Khoman (Menteri Luar Negeri Thailand), dan
5. Narcisco Ramos (Menteri Luar Negeri Filipina).
Negara-negara lain yang berada di kawasan Asia Tenggara kemudian satu persatu bergabung

1. Brunei Darussalam (8 Januari 1984)


2. Vietnam (28 Juli 1995)
3. Laos (23 Juli 1997)
4. Myanmar (23 Juli 1997)
5. Kamboja (30 April 1999)
Negara baru, Timor Leste, yang dahulu merupakan sebuah provinsi di Indonesia hanya
mendapatkan status pemerhati (observer) dalam ASEAN.

ASEAN memiliki beberapa tujuan antara lain:

1. mempercepat pertumbuhan ekonomi, sosial, dan kebudayaan bangsa Asia Tenggara;


2. meningkatkan stabilitas dan keamanan regional dan mematuhi prinsip-prinsip Piagam PBB;
serta
3. memelihara kerja sama bidang organisasi regional maupun internasional.
Peran Serta Indonesia dalam ASEAN

Indonesia menunjukkan peran aktif dalam ASEAN sejak masa pembentukannya. Indonesia
berkeyakinan bahwa Asia Tenggara bisa berkembang menjadi kekuatan regional yang mandiri
dan kuat. Peran Indonesia dalam ASEAN sebagai berikut:

1. Sebagai negara pemrakarsa berdirinya ASEAN.


2. Sebagai penyelenggara KTT I dan IX yaitu di Bali.
3. Sebagai tempat kedudukan sekretariat tetap, yaitu di Jakarta
4. Turut menyelesaikan pertikaian antarbangsa atau negara
5. Mendukung kesepakatan bahwa Asia sebagai kawasan yang bebas, damai, netral, atau Zone
of Peace, Freedom and Neutrality (ZOPFAN).
6. Menyelenggarakan Jakarta Informal Meeting (JIM) untuk meredakan konflik di wilayah
Kamboja.
Asia Pasific Economic Cooperation (APEC)
Latar belakang APEC
1. Negara-negara di Eropa Barat memulainya dengan membentuk wadah kerja sama regional.
Dengan organisasi itu, ekonomi di setiap negara saling berhubungan dan menghasilkan
ekonomi Eropa
2. Adanya saling ketergantungan antar negara dalam memperoleh sumber daya alam dan
pemasaran hasil industry
3. Adanya perubahan besar di kawasan Eropa Timur dalam bidang ekonomi dan politik
menjelang kehacuran komunisme

Terbentuknya APEC dimulai dari adanya Pacific Basin Economic Council


(PBEC) tahun 1969. Organisasi ini beranggotakan pebisnis dari semua negara Asia Pasifik,
kecuali Korea Utara dan Kampuchea. Organisasi PBEC aktif mendorong perdagangan dan
investasi di wilayah Asia Pasifik, tetapi hanya melibatkan sektor swasta. Pada tahun 1980 muncul
Pacific Economic Cooperation Council (PECC). Organisasi yang lahir di Canberra, Australia ini
menciptakan kelompok kerja untuk mengidentifikasi kepentingan ekonomi regional, terutama
perdagangan, sumber daya manusia, alih teknologi, energi, dan telekomunikasi.
Walaupun masih bersifat informal, PECC melibatkan para pejabat pemerintah, pelaku bisnis, dan
akademis. Salah satu hasil kegiatan PECC adalah terbentuknya Asia Pasific Economic
Cooperation (APEC) sebagai wadah kerja sama bangsa-bangsa di kawasan Asia Pasifik di bidang
ekonomi yang secara resmi terbentuk bulan November 1989 di Canberra, Australia. Pembentukan
APEC atas usulan Perdana Menteri Australia, Bob Hawke

Tujuan APEC

1. bekerja untuk mengurangi tarif dan hambatan perdagangan lainnya di seluruh kawasan Asia-
Pasifik,
2. menciptakan ekonomi domestik yang efisien dan secara dramatis meningkatkan ekspor.
3. terwujudnya perdagangan dan investasi yang bebas dan terbuka di Asia-Pasifik pada 2010
untuk negara-negara industri dan pada 2020 untuk negara-negara berkembang.
4. Tujuan ini diadopsi oleh pemimpin pada pertemuan 1994 di Bogor, Indonesia.
Peran serta Indonesia di APEC

Indonesia menjadi anggota APEC sejak pembentukannya pada 1989 dan telah memberi berbagai
kontribusi positif bagi perkembangan APEC. Peran Indonesia pada dekade awal pembentukan
APEC sejalan dengan kondisi internasional dan kepentingan Indonesia pada saat itu. Perang
Dingin baru saja berakhir dan sistem ekonomi berdasarkan ideologi pasar bebas dan persaingan
bebas menjadi dominan. Kontribusi utama Indonesia pada awal pembentukan APEC adalah
merumuskan Bogor Declaration pada saat Keketuaan APEC Indonesia tahun 1994, termasuk di
dalamnya adalah Bogor Goals. Bogor Goals menjadi fokus utama APEC untuk membentuk suatu
kawasan Asia Pasifik yang lebih bebas dan terbuka bagi perdagangan dan investasi. Target
pencapaian Bogor Goals bagi negara maju adalah pada 2010, sementara bagi negara
berkembang adalah pada 2020.

Perkembangan APEC

APEC berdiri pada bulan November 1989 di Canberra,& Australia diprakarsai Perdana Menteri
Australia, Bob Hawke. Ada dua belas negara pendiri APEC, yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia,
Thailand, Filipina, Brunei Darussalam, Jepang, Republik Korea, Australia, Selandia Baru, Kanada,
dan Amerika Serikat. Pada tahun 1991 APEC menerima anggota baru, yaitu Cina dan Hong Kong.
Pada tahun 1993 APEC menerima Meksiko dan Papua New Guenia. Pada tahun 1994 APEC
menerima Cile dan pada tahun 1998 menerima Peru, Rusia, serta Vietnam sebagai anggota baru.

Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE)

Sejak berakhirnya Perang Dunia II, Eropa mengalami kemiskinan dan


perpecahan. Usaha untuk mempersatukan Eropa sudah dilakukan. Namun, keberhasilannya
bergantung pada dua negara besar, yaitu Prancis dan Jerman Barat. Pada tahun 1950 Menteri
Luar Negeri Prancis, Maurice Schuman berkeinginan menyatukan produksi baja dan batu bara
Prancis dan Jerman dalam wadah kerja sama yang terbuka untuk negara-negara Eropa lainnya,
sekaligus mengurangi kemungkinan terjadinya perang. Keinginan itu terwujud dengan
ditandatanganinya perjanjian pendirian Pasaran Bersama Batu Bara dan Baja Eropa atau
European Coal and Steel Community (ECSC) oleh enam negara, yaitu Prancis, Jerman Barat
(Republik Federal Jerman-RFJ), Belanda, Belgia, Luksemburg, dan Italia. Keenam negara
tersebut selanjutnya disebut The Six State.
Keberhasilan ECSC mendorong negara-negara The Six State membentuk pasar bersama yang
mencakup sektor ekonomi. Hasil pertemuan di Messina, pada tanggal 1 Juni 1955 menunjuk Paul
Henry Spaak (Menlu Belgia) sebagai ketua komite yang harus menyusun laporan tentang
kemungkinan kerja sama ke semua bidang ekonomi. Laporan Komite Spaak berisi dua rancangan
yang lebih mengintegrasikan Eropa, yaitu:

1. Membentuk European Economic Community (EEC) atau Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE)
2. membentuk European Atomic Energy Community (Euratom) atau Badan Tenaga Atom
Eropa.
Rancangan Spaak itu disetujui pada tanggal 25 Maret 1957 di Roma dan kedua perjanjian itu mulai
berlaku tanggal 1 Januari 1958. Dengan demikian, terdapat tiga organisasi di Eropa, yaitu ECSC,
EEC (MEE), dan Euratom (EAEC). Pada konferensi di Brussel tanggal 22 Januari 1972, Inggris,
Irlandia, dan Denmark bergabung dalam MEE. Pada tahun 1981 Yunani masuk menjadi anggota
MEE yang kemudian disusul Spanyol dan Portugal. Dengan demikian keanggotaan MEE
sebanyak 12 negara.

MEE merupakan organisasi yang terpenting dari ketiga organisasi tersebut. Bukan saja karena
meliputi sektor ekonomi, melainkan juga karena pelaksanaannya memerlukan pengaturan
bersama yang meliputi industri, keuangan, dan perekonomian.

Tujuan Pembentukan Organisasi MEE

1. Integrasi Eropa dengan cara menjalin kerja sama ekonomi, memperbaiki taraf hidup, dan
memperluas lapangan kerja;
2. Memajukan perdagangan dan menjamin adanya persaingan bebas serta keseimbangan
perdagangan antarnegara anggota;
3. Menghapuskan semua rintangan yang menghambat lajunya perdagangan internasional;
4. Meluaskan hubungan dengan negara-negara selain anggota MEE. Untuk mewujudkan
tujuannya, MEE membentuk Pasar Bersama Eropa (Comman Market), keseragaman tarif,
dan kebebasan bergerak dalam hal buruh, barang, serta modal.
Organisasi MEE memiliki struktur organisasi meliputi Majelis Umum (General Assembly) atau
Dewan Eropa (European Parliament), Dewan Menteri (The Council), Badan Pengurus Harian atau
Komisi (Commision), Mahkamah Peradilan (The Court of Justice)
General Agreement on Tariffs and Trade (GATT)

GATT dibentuk sebagai wadah yang sifatnya sementara setelah Perang


Dunia II. Pada masa itu timbul kesadaran masyarakat internasional akan perlunya suatu lembaga
multilateral disamping Bank Dunia dan IMF. Kebutuhan akan adanya suatu lembaga multilateral
yang khusus ini pada waktu masyarakat internasional menemui kesulitan untuk mencapai kata
sepakat mengenai pengurangan dan penghapusan berbagai pembatasan kuantitatif serta
diskriminasi perdagangan. Hal ini dilakukan untuk mencegah terulangnya praktek
proteksionalisme yang berlangsung pada tahun 1930 – an yang sangat memukul perekonomian
dunia.
Negara-negara yang pertama kali bergabung menjadi anggota adalah 23 (dua puluh tiga) negara.
Negara-negara ini membuat dan merancang piagam organisasi perdagangan internasional
(International Trade Organization) yang pada waktu direncanakan sebagai suatu badan khusus
PBB. Dimana, isi piagam tersebut memuat aturan-aturan dalam perdagangan dunia,
ketenagakerjaan, praktek–praktek restriktif (pembatasan perdagangan), penanaman modal
internasional dan jasa.

Pertemuan penting diselenggarakan di Jenewa, Swiss dari bulan April sampai November 1947.
membuat rancangan piagam ITO. Perundingan–perundingan bilateral berlangsung antara
negara–negara komisi antara lain: Brazil, Ceylon, Pakistan dan Rhodesia Selatan. Kemudian
pertemuan penting di Havana pada tanggal 21 November 1947 – 24 Maret 1948) bertambah
menjadi 66 (enam puluh enam) negara bergabung untuk membahas piagam ITO. Pertemuan
berhasil mengesahkan piagam Havana. Namun, pertengahan tahun 1950, negara–negara peserta
menemui kesulitan dalam meratifikasinya. Hal ini disebabkan karena Amerika Serikat, pelaku
utama dalam perdagangan dunia, pada tahun 1958, menyatakan bahwa negaranya tidak akan
meratifikasi piagam tersebut. Sejak itu pulalah ITO secara efektif tidak berfungsi sama sekali.
Sehingga GATT juga tidak berlaku.

Keanggotaan GATT.

Negara anggota GATT adalah anggota WTO. Perlu dikemukan disini bahwa istilah anggota pada
GATT bukan “member”, tetapi “Contracting Party”. Hal ini merupakan konsekuensi dari status
GATT yang sifatnya, dengan meninjau sejarah berdirinya, “organisasi”.

Cara menjadi anggota GATT diatur dalam Pasal XXXIII GATT.

1. Cara pertama proses pengujian dan perundingan yang panjang oleh Dewan GATT pada saat
menerima permohonan aksesi. Badan ini membuat putusan suatu kelompok kerja (working
party) yang bertugas menganalisa kebijakan perdagangan dan kemungkinan kebijakan
perdagangan negara pemohon di masa datang. Hasil dari perundingan tersebut dilaporkan
oleh kelompok kerja kepada Dewan. Persyaratan-persyaratan yang disahkan Dewan
kemudian menjadi bahan pemungutan suara yang mana 2/3 dari semua anggota harus
menyetujuinya. Pada tahap ini negara baru tersebut dapat menanda tangani protokolnya dan
untuk diratifikasi oleh perundang-undangan nasionalnya.
2. Cara kedua lebih sederhana menjadi anggota GATT diatur dalam Pasal XXVI, yaitu terhadap
negara–negara yang menjadi negara merdeka dari penjajahan dan yang telah menunjukkan
kemandiriannya dalam melaksanakan hubungan–hubungan komersial eksternalnya (luar
negerinya).
GATT selalu megupayakan terciptanya perdagangan bebas dunia yang didasarkan pada
ketentuan–ketentuan yang disepakati bersama. Latar belakangnya dari suatu konsep keunggulan
komparatif. Maksudnya, bahwa negara menjadi makmur melalui konsentrasi terhadap produk apa
yang bsia diproduksi oleh negara tersebut dengan sebaik-baiknya. Untuk mendapatkan hasil yang
sebaik-baiknya itu, maka produk tersebut harus dapat menembus bukan saja pasar dalam negeri
tetapi juga pasar dunia.

Kebijakan perdagangan seperti proteksi impor atau subsidi dari pemerintah hanya akan membuat
suatu perusahaan menjadi tidak efektif, dan produk-produknya menjadi tidak menarik. Hal ini, pada
akhirnya, akan berakibat pada ditutupnya perusahaan tersebut, meskipun ada proteksi dan subsidi
yang diberikan kepada perusahaan itu. Secara keseluruhan, apabila pemerintah terkait
melaksanakan kebijakan perdagangan demikian maka pasar luar negeri dan ekonomi dunia akan
menyusut.

World Trade Organization (WTO)


Tujuan Organisasi Perdagangan Sedunia (World Trade Organization/WTO) yang didirikan pada
tahun 1995 ini adalah:

1. Mengatur pelaksanaan perjanjian mengenai perdagangan internasional yang ada.


2. Menjadi forum bagi perundingan mengenai liberalisasi perdagangan global.
3. Dalam perundingan mengenai liberalisasi perdagangan global, Jerman menjadi pendukung
kuat peningkatan integrasi negara2 berkembang ke dalam perdagangan sedunia.

Akan tetapi, ketidakseimbangan kedudukan negara berkembang dan


negara maju dalam suatu OI juga tampak nyata dalam WTO. Dalam organisasi ekonomi global
pendukung perdagangan bebas dan adil ini terjadi perbedaan sikap yang ditunjukkan oleh negara2
maju-kapitalis terhadap negara berkembang.
Contohnya terjadi dalam proses perundingan untuk menentukan keputusan selama Konferensi
Tingkat Menteri (KTM) berlangsung. KTM sebagai badan pembuat keputusan tertinggi di WTO
ternyata tak mampu menghasilkan keputusan yang menguntungkan bagi semua pihak, baik
negara maju maupun negara berkembang akibat ketidakterbukaan informasi dalam
penyelenggaraan KTM.

North America Free Trade Aggreemnet (NAFTA)

NAFTA (North America Free Trade Aggreemnet) merupakan suatu


bentuk organisasi kerjasama perdagangan bebas negara-negara Amerika Utara yang terdiri
dari Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko. NAFTA didirikan pada tanggal 12 Agustus 1992 di
Washington DC oleh wakil-wakil dari pemerintahan Kanada serta pemerintahan tuan rumah yaitu
Amerika Serikat. Dan diresmikan pada tanggal 1 Januari 1994. Pada dasarnya NAFTA merupakan
organisasi yang menjanjikan kemudahan bagi negara-negara persertanya di bidang ekonomi,
mulai dari diberikannya pembebasan tarif bea masuk bagi komoditi-komoditi tertentu hingga
adanya perlakuan adil terhadap penanam modal asing yang akan menanamkan modalnya di
masing-masing negara peserta.
NAFTA menghilangkan semua batas-batas nontarif bagi perdagangan sektor pertanian antara
Amerika dan Meksiko. Ketentuan-ketentuan agrikultural Amerika-Kanada digabungkan dengan
NAFTA dengan bergabungnya Meksiko. Dengan ketentuan tersebut semua tarif pada
perdagangan sektor pertanian antara Kanada dan Amerika dicakup oleh tariff-rate quotas (TRQ’s)
dihapus sejak 1 Januari 1998. Tujuan pembentukan NAFTA adalah untuk meningkatkan
pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja melalui usaha menghilangkan berbagai hambatan
perdagangan, menciptakan iklim untuk mendorong persaingan yang adil, meningkatkan peluang
investasi, memberikan perlindungan terhadap hak milik intelektual, dan menciptakan prosedur
yang efektif dalam penyelesaian perselisihan perdagangan antara ketiga negara anggotanya.

China-ASEAN Free Trade Agreement (CAFTA)

CAFTA (China-ASEAN Free Trade Agreement) adalah sebuah perjanjian


perdagangan bebas antara Cina dan negara-negara ASEAN. Sebelum dideklarasikannya CAFTA,
pada tahun 2002 negara-negara di ASEAN telah membuat sebuah perjanjian perdagangan yang
disebut AFTA (ASEAN Free Trade Agreement) yang beranggotakan 10 negara-negara di Asean.
Pada tahun 2006 China bersama negara-negara ASEAN menandatangani perjanjian yang disebut
CAFTA. CAFTA berlaku mulai tahun 2010 untuk 6 negara (Indonesia, Malaysia, Brunei
Darussalam, Singapura, Thailand dan Filipina) dan tahun 2015 untuk Kamboja, Myanmar, Laos
dan Vietnam. Perjanjian ini dimaksudkan untuk mendongkrak perekonomian di negara-negara
ASEAN dan China dengan meluasnya perdangangan ke seluruh ASEAN dan China dengan tarif
pajak yang sangat kecil.

Central America Free Trade Agreement-Dominique Republic (CAFTA DR)

Central America Free Trade Agreement atau yang lebih dikenal dengan
nama CAFTA adalah perjanjian regional antara Amerika Serikat dengan 5 negara Amerika
Tengah, yaitu Kosta Rika, Honduras, Nikaragua, El Savador, Guatemala dan Republik Dominika.
CAFTA bermula ketika selama lebih dari sepuluh tahun, Amerika Utara hidup dalam dampak
negatif dari NAFTA. Meskipun dampak negatif dari NAFTA sudah terbukti namun Presiden Bush
tetap mendorong perluasan NAFTA melalui perjanjian perdagangan bilateral lainnya yaitu CAFTA
yang kemudian mengadopsi model NAFTA.
Perjanjian ini meliputi investor dengan ketentuan negara memberikan hak bagi perusahaan asing
untuk menuntut hasil dari negara bagian, lokal. Sederhananya adalah perusahaan asing yang
menjadi investor mendapatkan 80 persen dari hasil yang dikelola oleh perusahaan lokal dan
melipatgandakan keuntungan perusahaan. Sistem ini dapat diadopsi apabila perusahaan asing
tersebut dapat menembus undang-undang yang telah dibuat Pemerintah Federal tentang
investasi.
Karena mengadopsi model yang sama dengan NAFTA maka CAFTA (perjanjian dagang bilateral)
ini mengancam keluarga petani dan peternak. Sistem ini dapat dilihat dari segi agrobisnis dari
perusahaan asing yang menjaga harga komoditas rendah dan membanjiri pasar lokal dengan
impor yang murah. Sehingga memungkinkan perusahaan-perusahaan ini untuk membeli produk
mereka dengan harga serendah mungkin, proses produk mereka dengan biaya dan tenaga kerja
yang rendah dibandingkan dengan produk impor yang masuk ke AS dengan harga tinggi dan jelas
menguntungkan sebelah pihak.

CAFTA bertujuan untuk membangun pasar bebas yang mencakup Amerika Serikat, Kanada dan
Meksiko. Di sisi lain, CAFTA dipandang sebagai batu loncatan menuju FTAA yaitu sebuah
perjanjian dagang bebas yang mencakup negara-negara di kawasan Amerika Selatan dan Karibia
kecuali Kuba. Dalam perjanjian CAFTA terdapat pengurangan tarif sekitar 80% dari ekspor
Amerika Serikat ke negara-negara anggota CAFTA yang menyebabkan pengurangan substansial
dalam bea masuk Amerika Serikat.

Dengan adanya penambahan Republik Dominika pada tahun 2005 sebagai ekonomi buruh
terbesar sekitar 32 miliyar dollar per tahun maka CAFTA membuka kesempatan bagi pasar ekspor
terbesar kedua di Amerika Latin bagi produsen Amerika Serikat. Pada tahun 1960, organisasi
regional ini diberhentikan dan dibekukan karena dinilai merugikan banyak petani dan beberapa
wilayah di Amerika Tengah.

Anggota CAFTA DR

1. Amerika Serikat
2. Kosta Rika
3. Honduras
4. Nikaragua
5. El Savador
6. Guatemala
7. Republik Dominika
Dialog Utara-Selatan

Istilah Utara dan Selatan sebenarnya lebih bermakna ekonomis daripada geografis. Utara
diidentifikasikan sebagai kelompok negara-negara maju, sedangkan Selatan cenderung
dialamatkan kepada negara-negara berkembang atau negara Dunia Ketiga. Negara-negara Utara
mencakup negara-negara maju yang terletak di Eropa Barat, Amerika, dan Kanada. Negara-
negara Selatan mencangkup negara-negara yang terletak di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika
Latin.

Perbedaan kondisi sosial, ekonomi, budaya antara pihak Utara-Selatan menggiring mereka
kepada keadaan saling ketergantungan (interdependensi). Di satu sisi, negara-negara Utara
memiliki keunggulan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, namun kurang didukung
oleh sumber kekayaan alam yang melimpah. Sebaliknya, negara-negara Selatan memiliki sumber
kekayaan yang relatif melimpah, namun tanpa didukung oleh penguasaan teknologi. Dengan
kondisi ini, kedua pihak menganggap penting adanya kerja sama