Anda di halaman 1dari 14

PROLOG

Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak manusia dalam menemukan sebuah obat ajaib
yang dikatakan akan menyembuhkan dirinya..

Pagi itu aku terbangun dari mimpi yang membawaku ke alam yang menurutku jauh lebih indah
daripada dunia yang saat ini aku injak-injak ini, saat aku mulai membuka mata dan di ujung sudut
mataku terlihat seorang wanita cantik sedang membereskan pakaian didalam koper yang tepat
berada di ujung kamarku, rambutnya yang hitam mirip sekali dengan rambutku.

‘Sudah bangun” tanyanya

“He’em” Jawabku

“Bibi sudah menyiapkan sarapan buat kamu”

Tanpa menanggapi perbincangan satu arah ini, aku pun langsung bergegas membasuh wajahku
dan segera menuju ke tempat dimana bibi yaitu asisten rumah tangga yang selalu setia menemani
keluarga kecil kami telah menyiapkan makanan untuk kami

“Mas ini makanan kesukaanmu”

“Makasih bi” Jawabku

“Mas balik hari ini ya” tanyanya seolah ingin menegaskan

“Iya bi, titip mama sama papa ya”

“Iya mas” sambil tersenyum melihat ke arahku

“Kenapa bi?” tanyaku karena heran dengan tingkah bibi

“Gapapa mas, hanya seneng lihat mas perhatian sama ibu dan bapak”

Sejak kecil aku sering ditemani oleh bibi jadi seolah dia jauh lebih mengenal aku daripada ibu
kandungku sendiri dan dia tau bahwa aku sayang sekali kepada keluarga kecilku walaupun tak
pernah aku ungkapkan.
Lambaian tangan mama, bibi dan papa mengantarkan aku untuk kembali ke tanggungjawabku
sebagai seorang manusia, saat itu aku melihat kearah mereka namun aku tak bisa membalas
lambaian tangan mereka.

Burung raksasa ini pun membawaku ke negeri yang akan menjadi awal langkahku menemukan
“DIA” sang penyembuh.

Ini adalah kisahku


EPISODE 1

Suasana ramai disekitar ruangan tempat dimana aku akan belajar banyak hal mulai mengganggu
lamunanku yang jauh dari tanah kelahiranku…

“Morning” seorang kakek tua dengan kacamata besarnya mulai memasuki ruangan kami

“Morning professor” sahut seluruh mahasiswa didalam kelas tersebut

“Hari ini kita akan menggali potensi dan harapan kalian semua, kenapa kalian ingin menjadi
dokter”

Mulai lah acara basa-basi ini gerutuku, tapi professor hans merupakan dosen favorit bagi semua
mahasiswa karena pembawaanya yang santai dan sangat ramah bagi semua orang, maklum
menjadi dokter mewajibkan beliau untuk selalu bersikap ramah bagi siapapun yang dia temui.

“Dimulai dari Cassie, Kenapa kamu ingin jadi dokter dan apa harapan kamu ketika kamu lulus?
Tanyanya pada salah satu temanku

“Saya menjadi dokter karena ingin menyembuhkan banyak orang, harapan saya ingin menjadi
dokter terbaik di kota ini” jawab Cassie dengan penuh semangat

Hampir semua jawaban teman-temanku memiliki kesamaan dalam arti ingin berguna dan
membantu banyak orang

“Adrian Octaleza, Kenapa kamu ingin menjadi dokter dan apa harapanmu?” Tanya professor Hans
dan di ikuti oleh rasa penasaran bagi semua teman-temanku, yaa karena aku memang jarang
berbicara dengan mereka

“Karena aku ingin mengerti manusia, harapanku tidak ada” Jawabku diikuti sorakan teman-teman
sekelasku “emang kamu bukan manusia ya” sorakan itu seolah menertawakan alasanku, begitulah
manusia. Mereka akan mengatakn suatu hal itu aneh jika berbeda dengan kebanyakan orang.

“Sudah-sudah, apapun alasan kalian nantinya kalian akan menjadi dokter”

Tidak terasa waktu cepat berlalu, lonceng berdering menandakan pelajaran Prof Hans sudah
selesai, saat semua seisi kelas mulai meninggalkan ruang belajar kami Prof Hans menghampiriku
“Aku ada tempat dimana kamu bisa belajar tentang manusia” sambil berdiri didepanku

“Bisakah kau menunjukkannya Profesor” Tanyaku penasaran

“Datanglah ke ruang konseling di rumah sakit ini” Porf Hans menyodorkan kartu nama serta
alamat tempat yang harus aku datangi

“Terimakasih Prof saya akan datang besok malam” jawabku


EPISODE 2

Malam itu terasa lebih dingin karena sudah mulai memasuki musim dingin, yuup Australia adalah
negara yang unik dan sangat indah. Dengan daerah geografis yang luas Australia memiliki banyak
keunikan misalnya mengenai cuaca di negeri kangguru ini, Australia bagian utara memiliki dua
musim yaitu musim hujan dan musim kemarau layaknya Indonesia namun Australia bagian selatan
memiliki 4 musim yaitu musim panas, musim gugur, musim dingin dan musim semi.

Malam itu aku mengenakan mantel yang cukup tebal demi melindungi tubuhku agar tidak
kedinginan, aku berjalan menyusuri kota Melbourne sambil melihat begitu indahnya kota ini
dibandingkan kota dimana aku dibesarkan.

Tok- Tok “Halo Professor, saya Adrian bolehkah saya masuk”

“Silahkan masuk” Cewek cantik berambut hitam membukakan pintu walaupun tubuhnya tidak
tinggi untuk seukuran ras kaukasian tapi dia terlihat sangat manis

“Terimakasih, bisakah saya bertemu dengan Prof hans” Kataku berusaha sopan

Aku dipersilahkan duduk disebuah kursi panjang berwarna coklat, aku mulai memutar kepalaku
melihat segala hal tentang ruangan ini. Ruangan ini terlihat sangat bersih dengan banyak ornament-
ornamen berhias anatomi tubuh manusia dan hal lainnya yang berkaitan dengan ilmu kedokteran.

“Adrian kamu datang, perkenalkan ini asistenku Chloe” prof hans memperkenalkan asistennya

“Halo saya Chloe, senang bertemu dengan anda” menundukkan kepalanya

“Hai, saya Adrian” sapaku

“Adrian, kamu ingin belajar tentang manusia kan, disini kamu bisa menemukan apa yang kamu
cari” Prof Hans berusaha membujukku

Aku tau ini adalah simbiosis mutualisme, Prof Hans akan mendapatkan tenaga baru yaitu aku.
sehingga pekerjaan dia menangani pasien akan lebih ringan, di satu sisi aku juga bisa mendapatkan
keuntungan bekerja dibawah bimbingan profesorku ini.
EPISODE 3

“Ny Alidra, silahkan masuk” teriak chloe menandakan pasien selanjutnya siap menerima
penanganan

Ini adalah pasien pertamaku yang harus aku tangani dengan tanganku sendiri, aku melihat Prof
Hans memperhatikanku sambil tersenyum ke arahku

“Silahkan duduk, ada yang bisa saya bantu ny.Alidra” sapaku

“Suami saya diketahui telah terdiagnosis KGB (Kanker getah bening stadium 4 dok, Dokter Steve
menyarankan agar suami saya dilakukan kemoterapi karena tidak memungkinkan untuk dilakukan
operasi pengangkatan kanker tersebut, tolong bantu saya dokter” Tanya nya dengan intonasi yang
lirih dan terlihat mulai berkaca-kaca seolah menahan tangis air mata.

“Suami nyonya memang harus dilakukan kemoterapi, untuk saat ini itulah hal paling logis yang
bisa kami lakukan untuk menolong suami ibu, kemoterapi juga memiliki sisi positif dan negative.

Ibu tersebut mendengarkan dengan penuh perhatian seolah dia menaruh semua harapannya
kepadaku. Aku melihat Prof Hans memberikan kode untukku untuk sedikit tersenyum dengan
menarik bibirnya kearah berlawanan namun beliau juga memberikan kode agar senyumanku tidak
terlalu memperlihatkan bentuk gigiku.

Aku melihat Chloe tertawa cekikikan melihat kelakukan prof Hans dan tersenyum ke arahku
memberiku semangat

“Ny. Alidra, pemberian kemoterapi mempunyai dua sisi yang berlawanan. Satu sisi bersifat positif
karena dapat memperlambat kanker tersebut untuk tumbuh namun sisi negatifnya pemberian
kemoterapi dapat menurunkan system kekebalan tubuh suami anda dan secara logika suami anda
tidak akan mengalami perubahan membaik secara signifikan dilihat dari stadium kanker yang dia
derita, artinya dilakukan kemoterapi atau tidak. Tidak akan terlalu banyak berpengaruh terhadap
kesehatan suami anda” ucapku menegaskan kondisi yang diderita oleh keluarga ini

Aku melihat prof Hans memegang kepalanya dan memberikan kode untuk sedikit merasakan
simpati kepada Ny. Alidra
Aku melihat Ny.Alidra meneteskan air mata mendengar penjelasanku, dia lalu berterimakasih dan
berpamitan meninggalkan ruangan konseling.

Prof Hans dan Chloe tergesa-gesa menghampiriku

“Adrian penjelasanmu itu benar sekali tapi menyampaikannya harus sedikit basa-basi dan ada rasa
simpati” Chloe berusaha menjelaskan

“Adrian boleh saya menanyakan sesuatu, apakah kamu pernah merasa sedih” Prof Hans
memberikan pertanyaan yang menohok

“Pernah” Jawabku

“Kesedihan itu masih membekas sampai sekarang?” Tanya Prof Hans

“Iya” jawabku singkat

“Adrian, Sebelum kamu menyembuhkan orang lain, kamu harus menyembuhkan hatimu dulu”
Prof Hans tersenyum ke arahku dan di ikuti Chloe.
EPISODE 4

Pagi hari di musim dingin memang selalu berhasil membuatku malas untuk beraktivitas, tapi
menjadi sebuah keharusan bagi mahasiswa untuk selalu siap siaga dalam keadaan apapun.

Aku sampai di kampus dengan menunjukkan wajah tidak bersemangat karena tidak ada hal
menarik di kampus maupun di hidupku selain membaca buku dan menulis banyak hal yang tidak
bisa aku ungkapkan. Aku melihat seisi kelas sedikit ramai dan berkumpul disebuah meja besar
sambil tertawa terbahak-bahak.

“Adrian, kamu tau gak ada video lucu dan viral loh” sapaan temanku menjelaskan hal yang tidak
penting

“Apa” jawabku

“tuh di IG ada video lucu” timpalnya menjelaskan sambil menunjukkan video tersebut

Aku bereaksi tanpa respon, dan membuat temanku sedikit mulai merasa jengkel.

“Coba kamu main IG disana banyak video lucu biar kamu belajar ketawa” Katanya dengan nada
ketus

“Aku mulai berpikir, iya kah dengan bermain IG aku bisa tertawa seperti mereka, apa aku coba
membuat akun IG ya”

Mulailah sejak saat itu aku memiliki akun IG yang niat awalnya adalah mendapatkan video-video
lucu dan gambar-gambar lucu untuk melatih mendapatkan ekspresiku lagi

Saat aku bermain social media yang cukup terkenal tersebut, ada salah satu akun yang menarik
perhatianku karena dia mengikuti akunku yang sangat sulit untuk dijelaskan. Ya akun IGku tidak
ada satupun gambar atau penjelasan apapun tentang aku. Sangat sulit rasanya menemukan seorang
wanita mau mengikuti akunku

Hari demi hari aku mulai lah bermain social media tersebut mencari banyak sekali video-video
lucu yang bisa melatihku untuk tertawa sampai akhirnya “DIA” membuat story yang menarik
perhatianku sehingga aku memberanikan diri untuk menyapanya
EPISODE 5

“Cantiknya” ucapku membalas story dia di akun IG miliknya

“Terimakasih, Hah kamu bisa Bahasa Indonesia” jawabnya penuh penasaran

“Iya aku bisa, kan aku orang Indonesia” Jawabku berusaha menjelaskan

Terjadilah obrolan mengenai apapun yang bisa kita diskusikan saat itu, mulai dari tentang hobi,
kesukaan, minat dan harapan. Dan yang membuat aku mulai menaruh perhatian padanya adalah
terlalu banyak kesamaan di antara kita yang membuatku berpikir “jangan-jangan dia adalah
kembaranku dalam wujud wanita”

Semakin larut percakapan itu membuat kita lupa bahwa jam sudah menunjukkan melewati garis
tengahnya namun hal terpenting yang bisa aku dapatkan adalah kini aku bisa tau namanya”
NAJWA” atau biasa aku panggil “NANA”

Bagiku Nana adalah teman yang bisa mengerti banyak hal tentangku bahkan walaupun aku tidak
menjelaskan tentang diriku seutuhnya. Seiring berjalannya waktu kita saling bertukar pikiran
tentang keresahan yang kita alami saat itu. Namun uniknya adalah kita tetap berteman walaupun
Nana tidak pernah tahu wajahku, dia hanya mengenali suaraku lewat Voice note yang aku kirimkan
begitupun sebaliknya, aku tahu wajah Nana namun disatu sisi aku belum pernah mendengar
suaranya. Hubungan yang unik bukan.

Dengan kesibukan yang aku hadapi setiap harinya, seringkali aku mengecek akun IGku apakah
ada pesan dari Nana atau tidak, sampai suatu hari ada sebuah pesan masuk.

“Adrian, Hpku mau dijual buat aku beli sepatu”

Saat itu perasaan kecewa mulai datang menghampiriku, aku kecewa karena mungkin aku akan
kehilangan seseorang yang bisa mengerti tentangku.

“kamu ada social media lain gak, biar nanti aku hubungi kamu” timpalnya

Mendengar ucapan itu seolah menjadi angin segar buatku

“Gak ada Na, Aku bisa download WA” jawabku dengan menyembunyikan semangat
“Akun WA yang aku tutup rapat karena disanalah aku kehilangan segalanya, mencoba membuka
kembali kenangan lama yang tak seharusnya aku membukanya kembali, tapi aku harus
mencobanya pikirku”

EPISODE 6

Sore itu terlihat lebih indah dari biasanya, karena matahari bersinar dari ujung barat menandakan
cuaca saat itu terlihat cerah walaupun berada di musim dingin. Aku melangkahkan kakiku dengan
perasaan yang kosong karena begitulah Adrian yang dikenal banyak orang karena kehampaan dan
kekosangan darinya.

“Selamat sore” ucapku saat memasuki ruang konseling

“Sore, hai kamu sudah datang.. sini sini cobain teh buatanku” Timpal Chloe tanpa memberiku
waktu untuk bernafas

“gimana-gimana rasanya” Chloe menanyakanku dengan penuh harapan

“Seperti teh pada umumnya” jawabku datar saat itu…(asalkan kau tahu chloe, tehmu adalah teh
paling hangat yang membuatku sedikit merasa nyaman, maaf aku tidak pintar mengungkapkannya)

Aku melihat ekspresi Chloe yang mengernyitkan dahi tanda tidak puas dengan jawabanku.

Aku kembali ke meja kerjaku dimana disanalah biasanya aku menyelesaikan kasus-kasus masalah
yang terjadi pada beberapa manusia yang menemuiku

“Tau gak Adrian kalau meja itu menggambarkan sifat seseorang” Chloe mendekatiku dan
mengajakku berbincang

“Meja kamu kosong tidak ada apapun diatas meja kamu, menandakan kalau kamu itu kosong”
Chloe menjelaskan dengan penuh antusias

Saat Chloe menjelaskan teorinya, aku disibukkan bermain dengan handphoneku

“Siapa tuh” Tanya Chloe


Aku kaget saat mengetahui dia sudah berada di belakangku, kepalanya sejajar dengan kepalaku
sehingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya..

“kamu ngapain” tanyaku

“Pacarmu ya” Tanya chloe penuh keheranan

“Bukan, dia temenku” jawabku seolah ingin menegaskan dan menghentikan keingintahuan chloe

“Kamu biasanya jarang sekali pegang hp, karena dia ya kamu sering melihat handphonemu” Chloe
menegaskan dan kembali mengeluarkan teori konyolnya

Tok Tok Tok, seseorang memasuki ruangan kami dan ternyata adalah Prof Hans, syukurlah dia
sudah datang sehingga aku bisa selamat dari wanita super kepo ini

“Wah Wah kalian mesra sekali dengan posisi seperti itu” Canda Prof hans melihat keadaan kami
yang begitu dekat

“Selamat sore prof” dengan spontan aku berdiri agar posisiku tidak membuat orang lain salah
paham

“Ha ha ha, Wajah kalian memerah” Prof Hans seolah antusias mengolok olok kita saat itu

“Dia menghancurkan hati saya prof” Timpal Chloe sambil tersenyum ke arahku

“Apa maksudmu” Tanyaku dengan heran

“Dia sedang jatuh cinta prof” Canda Chloe yang di ikuti oleh senyuman prof hans

“hmmm, jatuh cinta ya, kamu mau menemui dia? Tanya prof hans

“Mungkin dia bisa membantu permasalahanmu” Prof Hans menjelaskan

“Maksud anda” Tanyaku berusaha menegaskan apa yang Prof Hans maksudkan

“Kau boleh ambil cuti dan menemui dia” tegasnya dengan antusias

“Anda bercanda” Timpalku

“Aku serius, Chloe pun sama, Urusan disini serahkan pada kami” Mereka tersenyum ke arahku

“dapatkan dia pria dinginku” Ucap Chloe sambil cekikikan


EPISODE 7

Pagi itu aku terbangun dan langsung melihat jam di samping tempat tidurku, ternyata sinar
matahari sudah melewati jendela-jendala kecil dikamarku..

Dengan perasaan takut dan tidak percaya diri, aku memberanikan diri mengirimkan pesan

“Assalamualaikum, selamat pagi” tulisku dengan menunjukkan kesopanan

“Waalaikumsalam, Selamat pagi juga” Jawabnya seolah mengulang sapaanku

Hari itu aku lewati bercengkrama dengan Nana menceritakan banyak hal termasuk membuat
panggilan untukknya yaitu “Sang Butterflies Catcher” karena Nana suka sekali dengan kupu-kupu

Namun tahukah dia bahwa kupu-kupu banyak mengajarkan banyak hal pada manusia dengan
kehidupan yang harus kupu-kupu jalani. Awalnya kupu-kupu hanyalah seekor ulat yang
menjijikkan bagi hampir semua orang bahkan ulat dianggap sebagai hama yang mengganggu
kehidupan orang lain terutama para pekebun atau petani namun dengan sisa hidupnya ulat
mengubah dirinya menjadi seekor kupu-kupu yang indah dan membantu proses vegetasi atau
perkembangbiakan tanaman.

“hari ini aku bosan sekali” Jawab nana menjelaskan perasaannya

“Aku ingin jalan-jalan kebali” Timpalku berusaha menarik perhatiannya

“Iya kah kapan, emang kamu mau pulang dari Australia” Jawab nana

“Iya aku dapat libur” Jawabku

Begitulah hari-hariku saat itu yang mencoba berkomunikasi dengan manusial lainnya yang
beruntungnya aku, aku bisa mengenal manusia yang memiliki tingkat kesamaan yang tinggi
denganku.

“Prof, Saya akan pulang ke Indonesia lusa depan” Jelasku pada Prof Hans

“Iya, Semoga berhasil, sebaiknya kamu juga mengatakannya langsung pada chloe” Jelas prof Hans
Aku mencari di sudut ruangan tak kutemui Chloe disana, Kemana saja dia hari ini tidak terlihat
batang hidungnya. Aku berjalan mengitari seisi rumah sakit mencari keberadaanya yang seakan
menghilang namun dari ujung lorong aku melihat seorang wanit mungil sedang memberikan balon
pada anak kecil, ternyata itulah dia wanita yang sedang aku cari

“Hai, aku pulang ke Indonesia besok lusa” Berusaha mengatakan dengan menatap mata Chloe

“Secepat itukah,, Bawakan aku oleh-oleh !!” Timpalnya sambil menatapku dengan senyumannya
yang menyebalkan

“Chloe, Bisakah kau buatkan aku teh hari ini” Jawabku sambil berusaha menghindari tatapan
wajahnya

“hahahaha” Tertawa

Aku melihat kearahnya dan dia tertawa sambil mengajakku pergi ke ruangan tempat kita biasa
bekerja

Hari itu aku habiskan dengan kegiatan seperti biasanya yaitu berusaha menolong orang lain yang
sedang tertimpa masalah kesehatan sampai malam menjelang

“Prof saya pamit pulang, Jangan terlalu banyak gula” Perkataanku menegaskan agar Prof hans
memperhatikan kesehatannya yang akan semakin memburuk kalau dia terlalu banyak
mengkonsumsi gula

“Hati-hati ya, semoga berhasil” Prof Hans tersenyum ke arahku

Aku berjalan mendekati Chloe yang sedang berdiri membereskan alat-alat kembali ke tempatnya
semula, Aku berdiri tepat disampingnya.

“Tehmu enak kok, Terimakasih ya” bisikku pada Chloe

“hihihihi, Aku tahu kalau kamu menyukainya, wajahmu tidak bisa bohong” tersenyum ke arahku

“Jangan lupa oleh-oleh untukku ya, bunga yang banyak” timpalnya mengingatkan apa yang akan
menjadi bebanku ketika pulang ke Indonesia

“Terserah kamu aja, bye Chloe, Bye Prof” Aku pergi meninggalkan ruangan konseling
EPISODE 8