Anda di halaman 1dari 35

KATA PENGANTAR

Sebagai mahasiswa progam studi teknik kimia, desain alat merupakan salah
satu mata kuliah yang wajib diambil. Praktikum ini dimaksudkan untuk
menerapkan teori – teori yang telah ataupun belum diperoleh dalam kuliah sehingga
diharapkan setelah melakukan praktikum mahasiswa dapat memperl uas cakrawala
pandang di bidang teknik kimia. Beberapa tujuan yang ingin dicapai melalui
praktikum ini adalah:
1. Mendapatkan pengalaman praktis dan teknis dalam menggunakan mesin atau
alat yang terdapat di dalam praktikum contohnya alat penukar kalor.
2. Melatih diri melakukan komunikasi secara lisan maupun tulisan melalui
pembuatan laporan praktikum.

Surabaya, 10 Maret 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ............................................................................ i
DAFTAR ISI ........................................................................................... ii
1. TUJUAN ..................................................................................... 1
2. DASAR TEORI .......................................................................... 1
3. ALAT DAN BAHAN ................................................................. 14
4. SPESIFIKASI PERALATAN ..................................................... 16
5. PROSEDUR PRAKTIKUM ....................................................... 18
6. GAMBAR SKEMA PENGUJIAN ............................................. 20
7. PERHITUNGAN ........................................................................ 20
8. JAWABAN PERTANYAAN .................................................... 25
9. KESIMPULAN ........................................................................... 33
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 34

ii
PENUKAR KALOR
(HEAT EXCHANGER TYPE SHELL AND TUBE)

1. TUJUAN PRAKTIKUM
Mengetahui unjuk kerja Alat Penukar Kalor dan mempelajari karakteristik
yang dihasilkan dari perpindahan kalor antara fluida panas dan fluida dingin.

2. DASAR TEORI
Heat exchanger merupakan alat penukar kalor yang sangat penting dalam
proses industri. Prinsip kerja heat exchanger adalah perpindahan panas dari fluida
panas menuju fluida dingin. Heat exchanger dapat digunakan untuk memanaskan
dan mendinginkan fluida. Sebelum fluida masuk ke reaktor, biasanya fluida
dimasukan terlebih dahulu ke dalam alat penukar kalor agar suhu fluida sesuai
dengan spesifikasi jenis reaktor yang digunakan. Di dunia industri, heat exchanger
merupakan unit alat yang berperan dalam berbagai unit operasi, misalnya dalam
industri obat-obatan farmasi, industri perminyakan, industri makanan-minuman
dan lain-lain.
Percobaan dalam skala kecil (skala laboratorium) ini dimaksudkan agar
praktikan lebih memahami tentang kecepatan transfer panas, keefektifan, jenis dan
berbagai macam hal yang menyangkut heat exchanger agar ilmu pengetahuan ini
dapat diterapkan pada skala yang lebih besar, yaitu skala industri.
Dalam industri proses kimia masalah perpindahan energi atau panas adalah
hal yang sangat banyak dilakukan. Sebagaimana diketahui bahwa panas dapat
berlangsung lewat tiga cara, dimana mekanisme perpindahan panas itu sendiri
berlainan adanya. Adapun perpindahan itu dapat dilaksanakan dengan:
1. Secara molekular, yang disebut dengan konduksi
2. Secara aliran yang disebut dengan perpindahan konveksi.
3. Secara gelombang elektromagnetik, yang disebut dengan radiasi.
Pada heat exchanger menyangkut konduksi dan konveksi (Sitompul, 1993).
Heat exchanger yang digunakan oleh teknisi kimia tidak dapat dikarakterisasi
dengan satu rancangan saja, perlu bermacam-macam peralatan yang mendukung.

1
Bagaimanapun satu karakteristik heat exchanger adalah menukar kalor dari fase
panas ke fase dingin dengan dua fase yang dipisahkan oleh solid boundary (Foust,
1980).
Beberapa jenis heat exchanger :
1. Concentric Tube Heat Exchanger (Double Pipe)
Double pipe heat exchanger atau consentric tube heat exchanger yang
ditunjukkan pada gambar 1 di mana suatu aliran fluida dalam pipa seperti pada
gambar 1 mengalir dari titik A ke titik B, dengan space berbentuk U yang mengalir
di dalam pipa. Cairan yang mengalir dapat berupa aliran cocurrent atau
countercurrent. Alat pemanas ini dapat dibuat dari pipa yang panjang dan
dihubungkan satu sama lain hingga membentuk U. Double pipe heat exchanger
merupakan alat yang cocok dikondisikan untuk aliran dengan laju aliran yang kecil
(Geankoplis, 1983).
A Cold fluit in

B A’

Hot fluit out

Cold fluit out B’

Gambar 1. Aliran double pipe heat exchanger

Gambar 2. Hairpin heat exchanger


(source : Kern, “Process Heat Transfer”, 1983)

Exchanger ini menyediakan true counter current flow dan cocok untuk
extreme temperature crossing, tekanan tinggi dan rendah untuk kebutuhan surface
area yang moderat (range surface area: 1 – 6000 ft2). Hairpin heat exchanger
tersedia dalam :

2
- Single tube (double pipe) atau berbagai tabung dalam suatu hairpin shell
(multitube),
- Bare tubes, finned tube, U-Tubes,
- Straight tubes,
- Fixed tube sheets
Double pipe heat exchanger sangatlah berguna karena ini bisa digunakan dan
dipasang pada pipe-fitting dari bagian standar dan menghasilkan luas permukaan
panas yang besar. Ukuran standar dari tees dan return head diberikan pada tabel 1.
Tabel 1. double Pipe Exchanger fittings
Outer Pipe, IPS Inner Pipe, IPS
3 1¼
2½ 1¼
3 2
4 3
(source : Kern, “Process Heat Transfer”, 1983)

Double pipe exchangers biasanya dipasang dalam 12-, 15- atau 20-ft Panjang
efektif, panjang efektif dapat membuat jarak dalam each leg over di mana terjadi
perpindahan panas dan mengeluarkan inner pipe yang menonjol melewati the
exchanger section. (Kern, 1983).
Susunan dari concentric tube ditunjukan pada gambar di bawah ini. Aliran
dalam type heat exchanger dapat bersifat cocurrent atau counter current dimana
aliran fluida panas ada pada inner pipe dan fluida dingin pada annulus pipe.

3
T2 T1 T1 T2

t1 t2 t2
t1

T T

T1
T1

T2 T2
t2

t1
L L
(a) (b)

T
T

T1

t2
T2
t1

L L
(c) (d)

Gambar 3 Double pipe heat exchanger aliran cocurrent dan counter current

Pada susunan cocurrent maka fluida di dalam tube sebelah dalam (inner
tubes) maupun yang di luar tube (dalam annulus), artinya satu lintasan tanpa
cabang. Sedangkan pada aliran counter current, di dalam tube sebelah dalam dan
fluida di dalam annulus masing-masing mempunyai cabang seperti terlihat pada
gambar 4 dan gambar 5.

Gambar 4. Double-pipe heat exchangers in series

Gambar 5. Double-pipe heat exchangers in series–parallel


Keuntungan dan kerugian penggunaan double pipe heat exchanger:

4
a) Keuntungan
1. Penggunaan longitudinal tinned tubes akan mengakibatkan suatu heat
exchanger untuk shell sides fluids yang mempunyai suatu low heat transfer
coefficient.
2. Counter current flow mengakibatkan penurunan kebutuhan surface area
permukaan untuk service yang mempunyai suatu temperature cross.
3. Potensi kebutuhan untuk ekspansi joint adalah dihapuskan dalam kaitan
dengan konstruksi pipa-U.
4. Konstruksi sederhana dalam penggantian tabung dan pembersihan.

b) Kerugian
1. Bagian hairpin adalah desain khusus yang mana secara normal tidak
dibangun untuk industri standar dimanapun selain ASME code.
2. Bagian multiple hairpin tidaklah selisih secara ekonomis bersaing dengan
single shell dan tube heat exchanger.
3. Desain penutup memerlukan gasket khusus.
(Kern, 1983).

2. Shell And Tube Heat Exchanger


Shell and tube heat exchanger biasanya digunakan dalam kondisi tekanan
relatif tinggi, yang terdiri dari sebuah selongsong yang di dalamnya disusun suatu
annulus dengan rangkaian tertentu (untuk mendapatkan luas permukaan yang
optimal). Fluida mengalir di selongsong maupun di annulus sehingga terjadi
perpindahan panas antara fluida dengan dinding annulus misalnya triangular pitch
dan square pitch (Anonim1, 2009).

(a) (b)

Gambar 6. Shell and Tube, (a) Square pitch dan (b) Triangular pitch

5
Keuntungan square pitch adalah bagian dalam tube-nya mudah dibersihkan dan
pressure drop-nya rendah ketika mengalir di dalamnya (fluida)
(Kern, 1983).

Gambar 7. shell and tube heat exchanger

Keuntungan dari shell and tube:


1. Konfigurasi yang dibuat akan memberikan luas permukaan yang besar
dengan bentuk atau volume yang kecil.
2. Mempunyai lay-out mekanik yang baik, bentuknya cukup baik untuk operasi
bertekanan.
3. Menggunakan teknik fabrikasi yang sudah mapan (well-astablished).
4. Dapat dibuat dengan berbagai jenis material, dimana dapat dipilih jenis
material yang digunakan sesuai dengan temperatur dan tekanan operasi.
5. Mudah membersihkannya.
6. Prosedur perencanaannya sudah mapan (well-astablished).
7. Konstruksinya sederhana, pemakaian ruangan relatif kecil.
8. Pengoperasiannya tidak berbelit-belit, sangat mudah dimengerti (diketahui
oleh para operator yang berlatar belakang pendidikan rendah).
9. Konstruksinya dapat dipisah-pisah satu sama lain, tidak merupakan satu
kesatuan yang utuh, sehingga pengangkutannya relatif gampang
(Sitompul,1993).
Kerugian penggunaan shell and tube heat exchanger adalah semakin besar
jumlah lewatan maka semakin banyak panas yang diserap tetapi semakin sulit
perawatannya

6
(Kern, 1983).

3. Plate Type Heat Exchanger


Plate type heat exchanger terdiri dari bahan konduktif tinggi seperti stainless
steel atau tembaga. Plate dibuat dengan design khusus dimana tekstur permukaan
plate saling berpotongan satu sama lain dan membentuk ruang sempit antara dua
plate yang berdekatan. Jika menggabungkan plate-plate menjadi seperti berlapis-
lapis, susunan plate-plate tersebut tertekan dan bersama-sama membentuk saluran
alir untuk fluida. Area total untuk perpindahan panas tergantung pada jumlah plate
yang dipasang bersama-sama seperti gambar dibawah

Gambar 8. Plate type heat exchanger dengan aliran countercurrent


(Allan, 1981).

4. Jacketed Vessel With Coil and Stirrer


Unit ini terdiri dari bejana berselubung dengan coil dan pengaduk, tangki air
panas, instrumen untuk pengukuran flowrate dan temperatur. Fluida dingin dalam
vessel dipanaskan dengan mengaliri selubung atau koil dengan fluida panas.
Pengaduk dan baffle disediakan untuk proses pencampuran isi vessel. Volume isi
tangki dapat divariasikan dengan pengaturan tinggi pipa overflow. Temperatur
diukur pada inlet dan outlet fluida panas, vessel inlet dan isi vessel

7
Hot inlet

Hot outlet

Hot outlet Hot inlet

Cold Cold
inlet outlet

Gambar 9. Skema Dari Jacketed Vessel With Coil And Stirrer


(Tim Dosen Teknik Kimia, 2009).

Hal-hal yang mempengaruhi rancangan suatu heat exchanger, yaitu:


1. Panas Konduksi Melalui Dinding Plat
Transfer panas di antara dua fluida melalui sebuah dinding pemisah secara
umum dapat ditulis:
k.A
qk  (T1  T2 )
l
(Tim Dosen PS Teknik Kimia, 2009).

L
T1
qk
T2

Gambar 10. Konduksi Panas Melalui Dinding

8
2. Transfer Panas Konveksi
Kecepatan transfer panas konveksi dari permukaan benda yang bersuhu tinggi
ke fluida yang bersuhu rendah (Gambar 2.10) bisa dihitung dengan persamaan
berikut:

qc  hc . A.Ts  T 

Fluid

T∞
hc qc

Gambar 11. Konveksi dari Permukaan ke Fluida

Kecepatan transfer panas konveksi bisa ditulis sebagai berikut:

Ts  T T
qc  
1 Rc
hc . A

3. Koefisien Transfer Panas Overall, U (Dinding Plat Datar)


Kecepatan transfer panas antara dua fluida melalui dinding pemisah yang
datar, dapat dihitung dengan persamaan:

Q = U . A. (Ta – Tb)

Ta  Tb
U.A.(Ta – Tb) = 1 1
 
hc, a . A k.A hc ,b . A
1 1
U.A = 
1
L
1 R
hc, a . A hc,b . A
1
U=
1 L 1
 
hc , a k hc ,b .

9
(Tim Dosen PS Teknik Kimia, 2009).

4. Fouling Factor (Faktor Pengotor)


Koefisien transfer panas overall heat exchanger sering berkurang akibat
adanya timbunan kotoran pada permukaan transfer panas yang disebabkan oleh
scale, karat, dan sebagainya. Pada umumnya pabrik heat exchanger tidak bisa
menetapkan kecepatan penimbunan kotoran sehingga memperbesar tahanan heat
exchanger. Fouling factor dapat didefinisikan sebagai berikut:

1 1
Rf  
Ud U
(Tim Dosen PS Teknik Kimia, 2009).

Tabel 2. Fouling factors (coefficients), typical values

(source : Coulson, “Chemical Engineering”, vol 6, page : 640)


5. Transfer Panas antara Dua Fluida Melalui Sebuah Dinding

Ta L
T1
q
k fluida b
fluida a
T2 Tb
10
Gambar 12. Transfer Panas dari Fluida a ke b

Jika Ta > Tb , panas akan mengalir dari fluida a ke permukaan dinding sebelah
kiri dengan cara konveksi. Di dalam dinding, panas mengalir secara konduksi dari
permukaan sebelah kiri ke permukaan sebelah kanan.
Heat transfer rate konveksi dari fluida a bersuhu Ta ke permukaan dinding sebelah
kiri Tb.

q  hc.a . A (Ta  T1 )
q
 Ta  T1
h c.a A

Transfer panas konduksi dari permukaan dinding sebelah kiri ke sebelah kanan.
k.A
q (T1  T2 )
L
q
 T1  T2
k.A L

Kecepatan transfer panas konveksi dari permukaan dinding sebelah kanan ke fluida
b.

q  hc.b . A.(T2  Tb )
q
 T2  Tb
hc.b . A

Penjumlahannya adalah:
 
 
Ta  Tb
q  T  T
 1 L 1  a b
   
 hc , a kA hc ,b 

11
Ta  Tb T
q 
1

L

1 R
h c , a kA h c ,b
(Tim Dosen PS Teknik Kimia, 2009).

6. Log Mean Temperature Difference (LMTD)


Sebelum menentukan luas permukaan panas alat penukar kalor, maka
ditentukan dulu nilai dari ΔT . ΔT dihitung berdasarkan temperatur dari fluida yang
masuk dan keluar. Selisih temperatur rata-rata logaritmik (Tlm) (logaritmic mean
overall temperature difference-LMTD) depat dihitung dengan formula berikut :

LMTD 
ΔTa  ΔTb 
ΔTa
ln
ΔTb
(Kern, 1983).

Untuk aliran countercurrent ;


a b
dTh
Th, in
mh
T dTc Th, out

Ta
Tb

mc
Tc, in dA
Tc, out

0 Atotal
Area

Gambar 13. LMTD untuk aliran countercurrent

LMTD 
T1  t2   T2  t1
ln
T1  t2 
T2  t1

Untuk aliran cocurrent;

12
a b

Th, in
mh
dTh
Th, out

Ta T

Tc, out
dTc
mc
Tc, in dA

0 Atotal
Area

Gambar 14. LMTD untuk aliran concurrent

LMTD 
T1  t1  T2  t2 
ln
T1  t1
T2  t2 

7. Keefektifan
Keefektifan heat exchanger adalah ratio/ perbandingan transfer panas aktual
dengan transfer panas maksimum yang mungkin terjadi.
Keefektifan heat exchanger (ε)

q act mcp 1h.Th,in  Th,out 


ε 
q max mcp min Th,in  Tc,in 

q act mcp 1h.Tc,out  Tc,in 


ε 
q max mcp min Th,in  Tc,in 

Karena itu, jika kita mengetahui keefektifan heat exchanger, kita bisa
menentukan kecepatan transfer panas:
q  q act  ε.q max

q  ε.mcp min Th,in  Tc,in 

3. ALAT DAN BAHAN

1. Seperangkat alat penukar kalor jenis shell & tube dan double pipe.

13
Gambar 15. Seperangkat APK jenis shell & tube dan double pipe

14
(a) (b)

(c) (d)

(e) (f)
Gambar 16. Beberapa komponen penyusun rangkaian APK: (a) shell & tube
APK; (b) double pipe APK; (c) radiator; (d) pompa air; (e) system akuisisi data;
(f) pressure gauge

2. Untai uji alat penukar kalor yang terdiri dari sirkulasi fluida (air) panas,
sirkulasi fluida (air) dingin, dan sistem akuisisi data.
3. Fluida (air)
4. Flexible hose

15
Gambar 17. Flexible hose

4. SPESIFIKASI APK DAN PERALATAN PENGUJIAN


Komponen-komponen APK shell and tube :

Shell : Diameter dalam : 110mm


Material : Flexiglass (acrylic)
Tube : Diameter : OD = ½” , BWG 20
Material : Stainless steel
Panjang Nominal : 700mm
Jumlah : 20
Bundle : Pitch : 17,8mm
Layout : 30⁰
Boffle : Jumlah : 10
Jarak : 53mm
Jenis : Single Segmental
Cut : 20%
Orientation : 90%
Kondisi desain : Head load : 1 kW
Sisi tube Sisi shell
Fluida Air Air
Flowrate (kg/jam) 85 85
T inlet (⁰C) 60 40
T outlet (⁰C) 50 50

16
Koefisien Konveksi 535 456
(h)(W/m2K)
Fouling (W/m2K) 5000 4300

Uc : 242 W/m2K ; Ud : 219 W/m2K


Aliran : Countercurrent

Komponen-komponen APK double pipe :

Shell : Diameter : NPS ¾” , schedule 105


Material : Stainless Steel
Tube : Diameter : OD = 3/8”
Material : Tembaga
Panjang total : 1,94 m
Kondisi desain : Head load : 0,48 kW

Sisi tube Sisi shell


Fluida Air Air
Flowrate (kg/jam) 70 70
T inlet (⁰C) 66 39
T outlet (⁰C) 60 45
Koefisien 3266 565
Konveksi(h)(W/m2K)
Fouling (W/m2K) 5600 5600

Uc : 241 W/m2K
Ud : 125 W/m2K
Aliran : Countercurrent

17
5. PROSEDUR PRAKTIKUM
Tahap pengujian alat penukar kalor adalah sebagai berikut :
1. Pasang sambungan selang silikon dengan terminal-terminal alat penukaran
kalor yang akan diuji (shell & tube atau double pipe).
2. Pasang termokopel pada posisi-posisi yang telah ditentukan untuk masing-
masing termokopel.
3. Periksa ketinggian air dalam tangki pemanas, apakah telah mencapai batas
yang telah ditentukan.
4. Masukkan fluida (air) kedalam tangki masing-masing sirkuit, biarkan air
memenuhi seluruh rangkaian sistem baik untuk sirkuit fluida panas maupun
sirkuit fluida dingin.
5. Periksa temperatur yang akan diukur pada termometer dan catat selisih antara
sisi masuk dan sisi keluar untuk fluida panas maupun fluida dingin.
6. Nyalakan komputer dan data logger dengan terlebih dahulu meng-ON-kan
tombol switch pada panel kontrol untuk komputer.
7. Log-in ke computer dan buka file akusisi dengan melakukan double klik pada
file.
8. Nyalakan pompa sirkulasi masing-masing sirkuit dengan menekan tombol
ON (hijau) pada switch pompa di panel kontrol.
9. Atur laju aliran fluida masing-masing sirkuit sesuai tugas yang diberikan
dengan cara mengatur pembukaan katup-katup.
10. Nyalakan pemanas dengan menekan tombol ON pada switch pemanas di
panel kontrol.
11. Atur regulator pemanas sampai temperatur fluida masuk APK sesuai dengan
tugas yang diberikan.
12. Atur seluruh peralatan kontrol sehingga sistem beroperasi pada kondisi yang
telah sesuai dengan kondisi yang ditugaskan.
13. Pengambilan data dilakukan setelah kondisi operasi stabil (stedy) selama 5
menit. Lakukan perekaman data selama 5 menit berikutnya.
14. Setelah pengujian selesai, matikan pemanas dengan menekan tombol OFF
untuk pemanas di panel kontrol.
15. Salin data-data pengujian dari computer ke lembaran tugas.

18
16. Shut-down komputer dan data logger.
17. Putuskan arus listrik ke kontrol panel dengan memutar switch utama ke posisi
OFF dan turunkan MCB.

TUGAS
1. Jelaskan mengenai alat penukar kalor jenis tubular (tubular heat exchanger)
dan sebutkan contoh-contoh jenisnya!
2. Jelaskan tentang APK jenis shell and tube!
- Proses perpindahan kalor dengan rumus-rumus dasar yang dipergunakan
- Jenis-jenis front end stationary head, shell, dan rear end head masing-masing
minimum 3 tipe.
- Sebutkan 3 bagian utama dari APK jenis double pipe!
3. Sebutkan jenis-jenis APK yang lain dengan contoh atau fungsinya
4. Lakukan praktikum sesuai dengan kondisi disain dan minimal pada satu titik lain
di luar kondisi disain.
5. Jelaskan cara menghitung NTU dan 

6. GAMBAR SKEMA PENGUJIAN

19
Gambar 18. Proses penukaran kalor

7. PERHITUNGAN
Data hasil percobaan pertama
Shell & Tube / Double Pipe Heat Exchange
Waktu Tube Side (L/min) Shell Side (L/min)
F Ti To ΔT ΔP Q F Ti To ΔT ΔP Q ΔQ
(menit) Kg/min 0C 0
C 0C Pa W Kg/min 0C 0
C 0C Pa W %
2 7,336 29 29 0 1211,3 - 4,195 28 29 1 1397,6 - -
4 7,143 30 29 1 1194,0 - 4,191 28 29 1 1382,6 - -
6 7,122 30 29 1 1184,0 - 4,195 29 29 0 1389,9 - -
8 7,343 30 29 1 1185,3 - 4,171 29 29 0 1394,4 - -
10 7,287 30 30 0 1171,3 - 4,173 29 30 1 1386,7 - -
Rata 2 7,2642 29,8 29,2 0,6 1189,18 - 4,185 28,6 29,2 0,6 1390,24 - -

20
1. Temperatur rata-rata logaritmik TLM
Berdasarkan temperatur rata-rata data percobaan pertama:
Th1 = Ti tube side = 29,8 oC
Th2 = To tube side = 29,2 oC
Tc1 = To shell side = 29,2 oC
Tc2 = Ti shell side = 28,6 oC
sehingga T1 = Th1- Tc1= 0,6 oC, dan T2 = Th2- Tc2= 0,6oC.
Temperatur rata-rata logaritmiknya:

(Th 2  t c 2 )  (Th1  t c1 )
TLM 
T t
ln h 2 c 2
Th1  t c1

T1 - T2 0,6  0,6


   0C
 T1   0,6 
ln   ln  
 T2   0,6 

2. Perhitungan R, Nu, dan h


 Tube side
7,2462kg
F = 7,2462 kg/menit =  0,12077 kg / s
60s
Ti = 29,8 oC
To= 29,2 oC
𝑇𝑖 + 𝑇𝑜
𝑇𝑓 =
2
29,8  29,2
  29,5 0 C
2

- Nilai μ pada Tf = 29,5oC


32,22  29,5 7,65  10 4   kg
    8,12  10 4
32,22  26,67 (7,65  8,6)  10 4 ms

- Nilai ρ saat Tf = 29,5oC


32,22  29,5 994,9   kg
    995,34 3
32,22  26,67 994,9  995,8 m

21
- Nilai Pr pada Tf = 29,5oC
32,22  29,5 5,12  Pr
  Pr  5,48
32,22  26,67 5,12  5,85

- Nilai k pada Tf = 29,5oC


32,22  29,5 0,623  k W o C
  k  0,619
32,22  26,67 0,623  0,614 m

- Kecepatan aliran air


Diketahui : di = 0,0127 m
 2
A  .d i .20  2,533.10 3 m 2
4
3
F 0,12077 m m
V  s  0,048
A 2,533 10 x995,34m
3 2
s

- Bilangan Reynolds
.di.V
Re   747,241

(Bilangan di atas menunjukkan aliran laminar)

- Bilangan Nusselt
𝑑
3,66+0.0668( 𝑖⁄𝐿)𝑅𝑒 𝑃𝑟
𝑁𝑢 = 𝑑 2 = 5,052
1+0.04[( 𝑖⁄𝐿)𝑅𝑒 𝑃𝑟 ]3

- htube (hi)
k
hi  Nu.
di
 246,235 W / m 2 0C

 Shell side
4,185
F = 4,185 kg/menit =  0,06975kg / s
60
Ti = 28,6oC
To= 29,2oC

22
28,6  29,2
Tf =  28,9 0 C
2

- Nilai μ pada Tf = 28,9oC


32,22  28,9 7,65  10 4   kg
    8,21  10 4
32,22  26,67 (7,65  8,6)  10 4 ms

- ρ pada saat Tf = 28,9oC


32,22  28,9 994,9   kg
    995,44 3
32,22  26,67 994,9  995,8 m

- Nilai Pr pada Tf = 28,9oC


32,22  28,9 5,12  Pr
  Pr  5,56
32,22  26,67 5,12  5,85

- Nilai k pada Tf = 28,9oC


32,22  28,9 0,623  k W o C
  k  0,618
32,22  26,67 0,623  0,614 m

- Kecepatan aliran air


Diketahui : di = 0,11 m

A .d i .20  0,19m 2
2

4
3
F 0,06975 m
V  s  3,688 x10 4 m / s
A 0,19m x995,44
2

- Bilangan Reynolds
 .di.V
Re   49,188

(Bilangan di atas menunjukkan aliran laminar)

- Bilangan Nusselt
𝑑
3,66 + 0.0668 ( 𝑖⁄𝐿) 𝑅𝑒 𝑃𝑟
𝑁𝑢 = 2 = 4,439
𝑑
1 + 0.04[( 𝑖⁄𝐿) 𝑅𝑒 𝑃𝑟 ]3

23
hshell = (ho)
k 0,618
ho  Nu.  4,439.  24,939 W / m 2 0C
d0 0,11

- Nilai U
Dengan data dari spesifikasi APK shell & tube, maka:
Luas Ai  2 ri  2 .0,00635  0,04

Luas Ao  2 ro  2 .0,055  0,35

1
Uo   8,613 W/ 0C.m
Ao 1 Ao ln( ro / ri ) 1
 
Ai hi 2kL ho

- Nilai Q
A o   .OD1 .L(Nt - Ntp) Q  U o . A.TLM
 3,14.0,0127.0,7.20 Maka,  3,30.0,56.0
 0,56 m 2  0 Watt

8. JAWABAN PERTANYAAN

1. Alat penukar kalor jenis tubular (Tubular Heat Exchanger), adalah alat penukar
kalor yang bertujuan untuk memanfaatkan panas suatu aliran fluida yang lain.
Maka akan terjadi dua fungsi sekaligus, yaitu :
• Memanaskan fluida
• Mendinginkan fluida yang panas
Suhu yang masuk dan keluar kedua jenis fluida diatur sesuai dengan
kebutuhannya. Pada gambar diperlihatkan sebuah heat exchanger, dimana fluida
yang berada didalam tube adalah air, disebelah luar dari tube fluida yang
mengalir adalah kerosene yang semuanya berada didalam shell.

Contoh jenis-jenis dari tubular heat exchanger antara lain: jenis shell and tube,
double pipe, u-tube, straight tube.

24
(a) (b)

(c) (d)
Gambar 19. (a) shell and tube, (b) double pipe, (c) u-tube, (d) straight tube.

2. Penjelasan perpindahan kalor APK jenis shell dan tube. Shell sangat ditentukan
oleh keadaan tube yang akan ditempat kan didaIamnya. Shell dapat dibuat dari sebuah
pipa yang berdiameter besar atau dapat juga dibuat pada sebuah pelat logam yang
diroll. Shell merupakan badan penukar kalor dimana didalamnya terdapat tube
bundle (berkas pipa). Kedua ujung shell ini akan diberi penutup yang
dipasangkan dengan flens. Kadang - kadang permukaan dalam shell dilengkapi
dengan alur untuk menempatkan berkas pipa pada posisi yang baik di dalam
shell . Untuk temperatur operasi yang sangat tinggi, kadang-kadang shell dibagi
dua dan disambungkan dengan sambungan ekspansi.
Tubes atau pipa-pipa memegang peranan yang sangat penting di dalam penukar
kalor. Dinding pipa merupakan bidang pemisah kedua jenis fluida yang mengalir
di dalamnya dan sekaligus berfungsi sebagai bidang perpindahan panas. Bahan dan
ketebalan dnding pipa harus dipilih agar diperoleh penghantaran panas yang baik
dan juga harus mampu bekerja pada tekanan operasi fluida kerjanya. Susunan tubes
biasanya dipasang menurut konfigurasi segitiga atau segi empat

25
- Proses perpindahan kalor APK jenis shell and tube, dengan rumus-rumus dasar
telah dijelaskan pada bagian perhitungan.
- Jenis-jenis front end stationary head antara lain: channel and removable cover,
bonnet (integral cover), channel integral with tube sheet and removable cover,
special high pressure closure.

(a) (b)

(c) (d)

26
Gambar 20. (a) Channel and removable cover, (b) bonnet (integral
cover), (c) channel integral with tube sheet and removable cover, (d)
special high pressure clossure.

- Jenis shell: one pass shell, two pass shell with longitudinal baffle, split flow,
double split flow, divided flow, cross flow, kettle type reboiler.

(a) (b)

(c) (d)

(d) (e)

27
(f)
Gambar 21. (a) one pass shell, (b) two pass shell with logitude baffle, (c) split flow,
(d) double split flow, (e) divided flow, (f) kettle type reboiler,(g) cross flow.

- Jenis rear end : fixed tube sheet, outside packed floating head, floating head with
backing device, pull through floating, u-tube bundle, packed floating tube sheet
with lantern ring.

(a)
(b) (c)

(d) (e) (f)

(g) (h)

Gambar 22. (a) fixed tube sheet, (b) outside packed floating head, (c) packed
floating tube sheet with lantern ring,(d) outside packed floating head, (e)
floating head with backing device, (f) ) pull through floating head, (g) u-tube
bundle, (h )externally sealed floating tube sheet.

28
- 3 bagian utama double pipe heat exchanger yaitu elbow pipe, internal pipe, dan
external pipe. Elbow pipe berfungsi sebagai penyambung pipa untuk
meneruskan aliran fluida, sementara internal dan external pipe berfungsi sebagai
wadah bagi fluida untuk melakukan perpindahan panas.

Gambar 23. Struktur penyusun double pipe heat exhanger

3. Jenis APK lain:


- Tipe pipa bersirip (Fins and tube )
Salah satu contoh penukar kalor tipe pipa bersirip ini diperlihatkan pada
gambar Contoh yang lain banyak kita jumpai di lapangan antara lain radiator
mobil, kondensor dan evaporator mesin pendingin dan masih banyak lagi yang
lain. Pada umumnya penukar kalor jenis pipa bersirip ini dipergunakan untuk
fluida cair dan gas dimana fluida gas dilalukan diluar pipa, yaitu bagian yang
bersirip. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan efektivitas transfer energi
karena biasanya pada sisi gas koefisien perpindahan panas memiliki nilai yang
kecil sehingga untuk kompensasi agar laju transfer energinya meningkat
diperlukan luas permukaan perpindahan panas yang relatif tinggi. Namun
demikian pada kenyataannya dengan peningkatan luas permukaan sirip bukan
berarti laju transfer energi meningkat secara proporsional terhadap peningkatan
luas tersebut karena adanya efektivitas penggunaan sirip. Secara umum tentunya
di dalam sirip juga terjadi mekanisme perpindahan panas, sementara itu sirip juga
memiliki tahanan termal sehingga temperatur sirip akan bervariasi dengan nilai
yang selalu berbeda dengan temperatur fluida yang berada di dalampipa.

29
Oleh karena laju transfer energi sangat tergantung pada beda temperatur
antara kedua fluida sedangkan dengan adanya sirip akan menambah tahanan
termal proses dan bagisuatu tempat di sirip yang lokasinya jauh dari fluida yang
berada di dalam pipa akan bertemperatur sedemikian rupa sehingga bedanya
dengan fluida yang berada di luar pipaakan mengecil, maka efektivitas laju
transfer energi akan mengecil. Penukar kalor tipe pipa bersirip juga bermacam-
macam konstruksinya, antara lain penampang pipanya tidak selalu lingkaran,
artinya banyak sekali pipa jenis pipih, oval, dan persegi yang dilengkapi dengan
sirip. Penukar kalor pipa bersirip ini termasuk golongan penukar kalor kompak
karena kebanyakan memiliki luas permukaan perpindahan panas per volume lebih
besar dari 700 m2 /m3.

Gambar 24. Tipe pipa bersirip (Fins and tube )

- Tipe pelat (plate Heat Exchanger )


Penukar kalor tipe pelat merupakan penukar kalor yang sangat kompak karena
memiliki kekompakan yang sangat tinggi. Penukar kalor jenis ini terdiri dari
pelat-pelat yang sudah dibentuk dan ditumpuk-tumpuk sedemikian rupa sehingga
alur aliran untuk suatu fluida akan terpisahkan oleh pelat itu sendiri terhadap
aliran fluida satunya serta dipisahkan dengan gasket. Jadi kedua fluida yang saling
dipertukarkan energinya tidak saling bercampur.

30
Gambar 25. Tipe pelat (plate Heat Exchanger )

- Tipe spiral (spiral heat exchanger )


Penukar kalor tipe spiral diperlihatkan pada gambar di bawah. Arah aliran
fluida menelusuri pipa spiral dari luar menuju pusat spiral atau sebaliknya dari
pusat sepiral menuju ke luar. Permukaan perpindahan panas efektif adalah sama
dengan dinding spiral sehingga sangat tergantung pada lebar spiral dan diameter
serta berapa jumlah spiral yang ada dari pusat hingga diameter terluar.

Gambar 26. Tipe spiral (spiral heat exchanger)

5. Perjabaran rumus NTU dan ε


𝑈.𝐴
 𝑁𝑇𝑈 = 𝐶
𝑚𝑖𝑛

1
U
1 A1 ln( ro / ri ) Ai 1
 
ht 2kL Ao ho
A   .d i .L
𝐶𝑚𝑖𝑛 = 𝑚̇. 𝐶

31
1
1⁄ 1+exp(−𝑁𝑇𝑈(1+𝐶 2 ) ⁄2
 𝜀 = 2 {1 + 𝐶 + (1 + 𝐶 2 ) 2 × 1 }
1+𝑒𝑥𝑝(−𝑁𝑇𝑈(1+𝐶 2 ) ⁄2

𝐶𝑚𝑖𝑛
𝐶=
𝐶𝑚𝑎𝑥
𝐶𝑚𝑎𝑥 > 𝐶𝑚𝑖𝑛

KESIMPULAN

a. Semakin besar nilai Q, semakin besar pula efisiensi APK. Hal ini terjadi karena
nilai koefisien perpindahan kalor konveksi (h) semakin besar, yang
mengakibatkan kalor yang dihantarkan juga semakin besar.
b. Bilangan Reynold yang didapat dalam perhitungan menunjukkan bahwa aliran
yang terjadi dalam heat exchanger adalah aliran laminar.
c. Besarnya debit aliran menentukan besarnya nilai koefisien perpindahan
konveksi.
d. Waktu mempengaruhi peningkatan suhu pada tube side dan shell side, waktu
berbanding lurus dengan peningkatan suhu.
e. Adanya berbagai kesalahan dan penyimpangan disebabkan faktor pengotor
yang tinggi serta karena aliran flowrate yang tidak stabil yang akan
mengganggu keefektifan heat exchanger.

32
DAFTAR PUSTAKA

Allan, D. Kraus, 1981, Heat Transfer Fundamental, University of Akren, Ohio

Coulson, J.M., 1983, Chemical Engineering Volume 6, Pergamon Press, New York.

Foust, 1980, Principles of Unit Operation, 2edJohn Willey and Sons, New York.

Geankoplis, J. C, 1983, Transport and Unit Operation, 2nd edition, Allyn and
Brown, Ind Massachusset.

Hambali, Desnata dan Harto Tanujaya. 2006. Buku Panduan Praktikum Prestasi
Mesin. Jakarta: Universitas Tarumanagara.

Kern, D.Q, 1983,Process Heat Transfer, McGraw Hill Book Company, New York.

Sitompul, T.M, 1993, Alat Penukar Kalor, Citra Niaga Rajawali, Jakarta.

Tim Dosen Teknik PS Kimia, 2009, Penuntun Praktikum Operasi Teknik Kimia 2,
Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Lambumg
Mangkurat, Banjarbaru.

33