Anda di halaman 1dari 19

BAB II

PENDEKATAN TEKNIS DAN


METODOLOGI

2.1. Persiapan dan Penyusunan Kegiatan


Sebelum melakukan kegiatan untuk mengumpulkan data primer dari lapangan,
konsultan membuat sebuah perencanaan yang akan dituangkan dalam bentuk timeline
agar dapat dikontrol dengan mudah, berikut timeline yang telah dibuat.

JADWAL PELAKSANAAN SURVEI TOPOGRAFI, BATHIMETRI, HIDRO-OSEANOGRAFI DAN PENYELIDIKAN TANAH


DESA PAPUTUNGAN, KECAMATAN LIKUPANG, KABUPATEN MINAHASA UTARA, SULAWESI UTARA TAHUN 2016

MARET APRIL
NO. KEGIATAN HARI
7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
A. Pendahuluan
1 Koordinasi Tim dan Internal 1
2 Pengurusan Izin ke Daerah setempat 1
3 Orientasi Survey 1
4 Persiapan Alat 1
5 Mobilisasi Alat dan Personil 2
6 Demobilisasi Alat dan Personil 1
B. Survey Topo-Bathi-Metocean
1 Pembuatan BM 2
2 Pengukuran GPS Geodetik 2
3 Survey Topografi 25
4 Survey Bathimetri 10
5 Survey Arus 4
6 Survey Pasang Surut 15
7 Pengambilan Sampel Sedimen 1
C. Analisis & Pelaporan
1 Laboratorium 14
2 Pengolahan Data 15
3 Pembuatan Laporan 31
4 Penyerahan Laporan 1

Pelaksanaan pekerjaan Survei Topografi, Bathimetri dan Metocean di Pantai


Paputungan akan mengacu pada timeline diatas.

2.2. Join Survei


Join Survei adalah kegiatan meninjau lapangan bersama antara owner, konsultan dan
konsultan perencana. Kegiatan ini berfungsi untuk menentukan titik – titik survei /
boundary yang akan disurvei. Biasanya ketika di lapangan, owner dan end user data
akan menjelaskan lebih spesifik tentang batas lahan dan permintaan – permintaan
khusus kepada konsultan survey.

Survei Topografi, Bathimetri dan Metocean di Pantai Paputungan


Join survey dalam Pekerjaan ini telah dilakukan pada tanggal 9 – 10 Maret 2016, pihak
yang terlibat dalam join survey tersebut adalah konsultan survey (PT. Citra Segara),
konsultan perencana / end user data (WoW Architect) dan owner (PT. Bhineka
Mancawisata).

2.3. Survei Topografi

2.3.1. Pembuatan Benchmark


Bench Mark (BM) berfungsi sebagai titik referensi yang biasanya direalisasikan dalam
bentuk patok atau tugu yang dibuat secara permanen. Titik-titik referensi berfungsi
untuk menentukan arah atau azimuth awal pengukuran, dimana untuk
memperolehnya diperlukan minimal dua buah titik referensi. Patok BM dipasang pada
tempat yang strategis, mudah dilihat, relatif aman dari aktifitas manusia / pekerjaan
sehingga diperkirakan tidak akan terganggu baik pada saat masih dalam tahap
perencanaan maupun setelah proses pekerjaan fisik.

Spesifikasi Bench Mark (BM) untuk pekerjaan ini terbuat dari beton bertulang dengan
ukuran 30 x 30 cm dan panjang total 75 cm (terlihat 20-30 cm dari permukaan tanah).

Gambar 2. 1 Contoh Benchmark.

Survei Topografi, Bathimetri dan Metocean di Pantai Paputungan


Benchmark dipasang 3 unit berpasangan dengan control point. Semua benchmark
diikatkan dengan menggunakan GPS Geodetik.

2.3.2. Pengukuran Benchmark dengan GPS Geodetik


Metode penentuan posisi yang akan digunakan dalam pengukuran titik-titik referensi tersebut
adalah metode Global Positioning System (GPS). Pada dasarnya penentuan posisi dengan GPS
menggunakan prinsip perpotongan ke belakang (resection) dalam ruang tiga dimensi, yang
dilakukan dengan cara pengamatan terhadap satelit-satelit GPS yang telah diketahui
koordinatnya. Dengan mengetahui jarak dan titik perpotongan dari minimal tiga atau empat
buah satelit, maka koordinat posisi yang diinginkan dapat diketahui.

Titik BM tersebut kemudian harus diikatkan pada titik-titik Kerangka Dasar Horizontal Nasional
atau titik eksisting yang sudah diikatkan sebelumnya, yang koordinatnya tersebut akan
dijadikan sebagai koordinat acuan untuk perencanaan selanjutnya. Titik ikat yang digunakan
adalah titik Orde-0 dan Orde-1 Bakosurtanal. Pengikatan titik referensi dilakukan dengan
menggunakan metode statik differential yaitu dengan cara diukur bersamaan dengan titik ikat
tersebut seperti pada Gambar 2.2, dan dengan metode jaring seperti pada Gambar 2.3.

Gambar 2. 2 Pengukuran GPS dengan metode statik differential.

Survei Topografi, Bathimetri dan Metocean di Pantai Paputungan


Gambar 2. 3 Pengukuran GPS dengan metode Jaring.

Bench Mark (BM) yang diukur dengan GPS geodetik adalah BM GPS (primary), sedangkan
interval BM diukur oleh Total Station. Pengukuran BM GPS dilakukan dengan menggunakan
metode jaring yang diikatkan pada titik-titik Kerangka Horizontal Nasional dari Bakosurtanal,
yang merupakan titik kontrol Orde 1, seperti pada Gambar 2.3 diatas. Sehingga BM GPS hasil
pengukuran yang dilakukan memiliki ketelitian setingkat dengan titik kontrol Orde 2. Tabel 2.1
dibawah menunjukkan ketelitian relatif titik kontrol berdasarkan orde-nya.

Tabel 2. 1 Standar ketelitian relatif titik kontrol berdasarkan orde-nya.

Ketelitian relatif koordinat Ketelitian relatif koordinat vertikal


horizontal (mm) (mm)

Orde 0 1 2 3 4 5 0 1 2 3 4 5
0 - -
1 50 - 150 -
2 71 50 - 212 150 -
3 87 71 50 - 260 212 150 -
4 100 87 71 50 - 300 260 212 150 -
5 112 100 87 71 50 - 335 300 260 212 150 -

Karena jalur pengukuran adalah berbentuk koridor maka bentuk jaring yang digunakan juga
adalah berbentuk jaring koridor. Maksud dari jaring GPS itu sendiri adalah untuk menghasilkan
titik-titik kontrol yang saling terikat dan memiliki orde ketelitian yang sama. Dengan metode
jaring, waktu pengukuran GPS tidak perlu terlalu lama, tapi disesuaikan dengan kebutuhan

Survei Topografi, Bathimetri dan Metocean di Pantai Paputungan


data berdasarkan jarak antar titik atau baseline yang diukur. Tabel 2.2 dibawah menunjukkan
lama pengukuran GPS berdasarkan jarak baseline, dengan asumsi satelit yang diamati pada
kondisi minimal yaitu 4 buah satelit. Namun jika posisi BM yang diukur cukup terbuka, satelit
yang diamati banyak, dan kualitas datanya bagus, lama pengamatan dapat disesuaikan.

Tabel 2. 2 Lama pengamatan GPS berdasarkan jarak baseline


Metode Lama Pengamatan Lama Pengamatan
Jarak Baseline
Pengukuran (Single Frequency) (Dual Frequency)
0 km – 5 km Static 45 minutes 30 minutes
5 km – 8 km Static 90 minutes 45 minutes

8 km – 20 km Static 120 minutes 60 minutes

20 km – 50 km Static 180 minutes 120 minutes

Pengikatan titik-titik referensi ini bertujuan agar diperoleh hasil posisi / koordinat relatif titik
BM terhadap titik ikat dalam koordinat Geodetik ( lintang, bujur ) dan koordinat pada bidang
proyeksi UTM ( easting, northing ) yang bereferensi pada Elipsoid WGS 84. Sedangkan
pengikatan tinggi bertujuan untuk memperoleh tinggi orthometrik yaitu tinggi diatas geoid
atau MSL ( H ). Namun apabila didekat lokasi ada salah satu Titik Tinggi Geodesi ( TTG ) akan
lebih baik apabila penentuan kontrol verikal diikatkan ke TTG terdekat tersebut. Untuk
memperoleh tinggi orthometrik, dilakukan dengan cara menghitung koreksi nilai Undulasi ( N )
setempat atau di titik koordinat tersebut, dari tinggi elipsoid hasil pengukuran GPS ( h ),
dengan hubungan seperti pada Gambar 2.4.

Gambar 2. 4 Penentuan tinggi orthometrik.

Survei Topografi, Bathimetri dan Metocean di Pantai Paputungan


Berikut spesifikasi teknis pengukuran BM dengan GPS Geodetik :
• Alat GPS geodetik Trimble 5700, dual frequency sebanyak 3 buah.
• Pengukuran dilakukan dengan metode statik differential dan metode
jaring.
• Lama pengamatan disesuaikan jarak baseline, yaitu sekitar 30-60 menit.
• Perekaman data setiap 15 detik dan Elevation Mask 15°.
• Pengolahan data dilakukan secara post-processing, dengan
menggunakan software Trimble Geomatics Office.
• Hasil pengolahan baseline harus Fixed dan Ambiguity harus resolved.
• Bereferensi pada datum World Geodetic System 1984 (WGS 84).

Berikut kegiatan pengukuran BM dengan GPS Geodetik yang telah dilakukan


seperti yang diperlihatkan pada Gambar 1.5.

Gambar 2. 5 Kegiatan pengukuran BM dengan GPS Geodetik.

Survey topografi adalah kegiatan pengukuran permukaan bumi, yang bertujuan untuk
memperoleh gambaran atau model permukaan bumi sesuai dengan bentuk yang

Survei Topografi, Bathimetri dan Metocean di Pantai Paputungan


sebenarnya. Dalam hal ini survey topografi bertujuan untuk memperoleh ketinggian
atau elevasi di sekitar lokasi survey hingga dihasilkan kontur. Metodologi pelaksanaan
survey topografi terdiri dari beberapa tahapan yaitu Pengukuran Kerangka Dasar
Horizontal, Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal, dan Pengukuran Detail Situasi.

2.3.3. Pengukuran Kerangka Dasar Horizontal


Kerangka Dasar Horizontal (KDH) adalah sejumlah titik kontrol atau BM dimana
koordinatnya sudah dikoreksi terlebih dahulu dan terikat pada BM dalam suatu sistem
koordinat planimetris. Metode pengukuran yang akan digunakan dalam pengukuran
KDH adalah metode poligon. Poligon adalah suatu metode pengukuran untuk
mereduksi pengaruh perambatan kesalahan yang terdapat dalam kegiatan pengukuran.

Prinsip pengukuran KDH dengan metode polygon, dalam hal ini polygon yang
digunakan adalah polygon tertutup terikat sempurna, adalah pengukuran jarak dan
sudut dengan jalur yang tertutup dan terikat sempurna ke BM GPS yang berpasangan
pada awal dan akhir jalur, seperti pada Gambar 2.6. Pengukuran sudut dilakukan
dengan pembacaan double seri yaitu keadaan biasa dan luar biasa, dimana besar
sudut yang akan dipakai adalah nilai rata – rata, sedangkan jarak antara titik – titik
polygon dikontrol dengan jarak bolak -balik.

Gambar 2. 6 Contoh poligon tertutup terikat sempurna.

Berikut spesifikasi teknis pengukuran poligon :

Survei Topografi, Bathimetri dan Metocean di Pantai Paputungan


 Alat Total Station Topcon GTS 235, dengan ketelitian sudut minimal 5” (lima
detik).
 Metode poligon yang digunakan adalah poligon tertutup terikat sempurna.
 Kesalahan penutup sudut maksimum 10”√n (n = jumlah titik).
 Kesalahan penutup jarak atau linier maksimum 1:10.000.
 Diikatkan pada BM GPS yang bereferensi pada datum WGS 84.

2.3.4. Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal


Kerangka dasar vertikal (KDV) adalah sejumlah titik kontrol atau BM yang diketahui
elevasinya terhadap sistem tinggi tertentu. Sistem tinggi yang digunakan mengacu
terhadap muka air laut rata-rata atau MSL (Mean Sea Level), yang mengacu pada Titik
Tinggi Geodesi (TTG) dari Bakosurtanal jika ada, atau mengacu pada MSL global (tinggi
orthometrik) yang diperoleh dari hasil pengukuran BM dengan GPS geodetik. Metode
pengukuran KDV yang digunakan adalah metode sipat datar atau levelling dengan alat
Autolevel atau Waterpass.

Pengukuran beda tinggi dengan metode waterpass dilakukan dengan cara membagi
jarak antar titik tersebut dengan jumlah yang genap dan berjarak sama. Kemudian alat
berdiri ditengah-tengah dengan jarak yang sama pula seperti pada contoh Gambar 2.7.
Pengukuran dilakukan dengan cara double stand serta pergi dan pulang, sehingga
diperoleh hasil yang baik. Ketelitian beda tinggi yang dapat dihasilkan dengan alat dan
metode yang digunakan yaitu hingga < 2 mm.

Survei Topografi, Bathimetri dan Metocean di Pantai Paputungan


Gambar 2. 7 Metode pengukuran leveling dengan Waterpass.

Berikut spesifikasi teknis pengukuran levelling :

 Alat yang digunakan adalah Auto Level Sokkia B40.


 Jalur pengukuran dibagi menjadi seksi-seksi yang dibagi menjadi slag yang
genap.
 Pengukuran dilakukan double stand serta pergi dan pulang.
 Selisih pembacaan stand 1 dengan stand 2 adalah ≤ 2 mm.
 Jarak rambu ke alat maksimum 75-100 m.
 Toleransi salah penutup beda tinggi (T) ditentukan dengan rumus :

 
T  12 D mm (dimana D = Jarak antara 2 titik dalam satuan km).

2.3.5. Pengukuran Detail Situasi


Pengukuran detail situasi dilakukan terhadap semua objek yang ada di lapangan yang
mempunyai pengaruh dan manfaat pada proses perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan yang akan dilakukan. Pengukuran detail situasi dilakukan dengan cara
mengukur besar sudut dari titik polygon ( titik pengamat situasi ) kearah titik detail
yang diperlukan terhadap arah titik polygon terdekat lainnya dan juga mengukur jarak
optis dari titik detail ke titik polygon ( titik pengamat situasi ). Metode pengukuran
detail situasi yang digunakan adalah metode tachymetri. Metode tachymetri dilakukan
dengan cara mengukur sudut atau arah ( β ) dan jarak ( d ) titik-titik detail dari titik-
titik kerangka dasar secara polar, seperti pada contoh Gambar 2.8.

Survei Topografi, Bathimetri dan Metocean di Pantai Paputungan


d

Gambar 2. 8 Pengukuran sudut dan jarak.

Selain itu secara bersamaan dilakukan juga pengukuran beda tinggi untuk memperoleh
elevasi titik-titik detail tersebut. Metode pengukuran elevasi yang digunakan adalah
metode trigonometris. Untuk menentukan beda tinggi dengan cara trigonometris
diperlukan alat pengukur sudut (total station), untuk dapat mengukur sudut-sudut
tegak. Sudut tegak dibagi menjadi dua jenis, yaitu sudut miring dan sudut zenith. Sudut
miring diukur dari keadaan mendatar, sedangkan sudut zenith diukur dari keadaan
tegak searah titik zenith alam. Ilustrasi pengukuran tinggi secara trigonometris seperti
dapat dilihat pada Gambar 2.9.

Gambar 2. 9 Pengukuran tinggi secara trigonometris.

Survei Topografi, Bathimetri dan Metocean di Pantai Paputungan


2.4. Survei Bathimetri
Pengukuran bathimetri atau biasa disebut dengan pemeruman (sounding), adalah
kegiatan pengukuran kedalaman yang bertujuan untuk memperoleh gambaran atau
model permukaan dasar laut (river-bed surface). Pengukuran bathimetri dibagi menjadi
tahapan-tahapan : penentuan jalur sounding, penentuan posisi perum dan
pengukuran kedalaman.

2.4.1 Penentuan Jalur Sounding


Jalur sounding adalah jalur perjalanan kapal yang akan melakukan pemeruman,
dimana jalur tersebut telah direncanakan sebelumnya. Jalur sounding dibuat tegak
lurus dengan garis pantai dengan jarak (ray) antar jalur utama yang sudah ditentukan
yaitu 10-20 meter dan jarak antar jalur crossing yang sama dengan jalur utama atau
dengan kata lain menggunakan metode grid. Ilustrasi perjalanan kapal mengikuti jalur
sounding seperti pada Gambar 2.10.

Gambar 2. 10 Ilustrasi pergerakan kapal mengikuti jalur sounding.

Survei Topografi, Bathimetri dan Metocean di Pantai Paputungan


2.4.2 Penentuan Posisi Perum
Penentuan posisi perum harus dilakukan secara bersamaan dengan pengukuran
kedalaman, sehingga kedalaman yang diukur berada tepat pada posisi sebenarnya.
Metode penentuan posisi perum yang akan digunakan adalah Differential GPS dimana
koreksi posisi diperoleh dari base yang berada di darat. Proses koreksi dilakukan
dengan menggunakan system radio komunikasi yang datanya dikirimkan langsung (real
time) ke GPS yang berada pada kapal survey (rover). Data GPS yang diperoleh secara
otomatis tersimpan pada software navigasi yang digunakan yaitu Hydro Pro. Ilustrasi
penentuan posisi fix titik-titik perum seperti pada Gambar 2.11.

Gambar 2. 11 Ilustrasi penentuan posisi fix titik-titik perum yang ditentukan secara
bersamaan dengan pengukuran kedalamannya.

2.4.3 Pengukuran Kedalaman


Pengukuran kedalaman adalah tahapan yang paling utama dalam kegiatan pemeruman.
Metode yang umum digunakan dalam kegiatan pengukuran kedalaman adalah metode
akustik dengan memanfaatkan gelombang suara, sehingga biasa disebut dengan istilah
sounding. Alat yang digunakan adalah alat perum gema yang disebut echosounder,
yang memiliki transducer pengirim dan penerima gelombang. Transducer tersebut
akan menghitung selang waktu antara gelombang dipancarkan dan diterima kembali,

Survei Topografi, Bathimetri dan Metocean di Pantai Paputungan


sehingga kedalaman laut (hasil ukuran) pada tempat yang diperum dapat ditentukan.
Kegiatan pengukuran bathymetry yang dilakukan seperti pada Gambar 2.12. Adapun
perhitungan kedalaman seperti persamaan dibawah ini :

du  1 2  (v  t )

du = kedalaman laut yang terukur pada saat pengukuran


v = kecepatan gelombang akustik pada medium air
∆t = selang waktu antara saat gelombang suara dipancarkan
dengan penerimaan kembali gelombang pantulnya
Terdapat beberapa kesalahan sistematik dalam pengukuran kedalaman. Kesalahan
sistematik adalah jenis kesalahan yang dapat dihilangkan dengan memberikan koreksi.
Adapun kesalahan tersebut antara lain pasut, draft transducer, variasi cepat rambat
gelombang, serta settlement and squat. Metode pemberian koreksi terhadap
kedalaman akibat kesalahan-kesalahan sistematik yang dilakukan sebagai berikut :

 Koreksi Pasut, dengan cara koreksi tinggi muka air sesaat terhadap tinggi
datum vertikal yang diperoleh dari hasil pengamatan pasut.
 Draft transducer, dengan cara mengukur kedudukan (jarak vertical) permukaan
transducer terhadap bidang permukaan air.
 Variasi cepat rambat gelombang, dengan kalibrasi barcheck atau pengambilan
sample suhu, tekanan dan salinitas air.
 Settlement dan squat, dengan membandingkan kedudukan vertical transducer
terhadap permukaan air saat kapal diam dan saat kapal bergerak.
Sketsa definisi besaran-besaran panjang yang terlibat dalam proses koreksi dapat
dilihat pada Gambar 2.12.

Survei Topografi, Bathimetri dan Metocean di Pantai Paputungan


PAPAN DUGA

TAMPAK SAMPING
READER
ANTENA

Permukaan Air Laut


A
EMA

TRANDUSER
0.00

DASAR LAUT

Gambar 2. 12 Sketsa definisi besaran-besaran yang terlibat dalam koreksi kedalaman.

Keterangan gambar :

EMA = Elevasi muka air diukur dari nol palem.


Z = Kedalaman air hasil sounding (jarak dasar perairan ke tranducer).
A = Jarak tranducer ke muka air.

Dari definisi-definisi di atas maka elevasi dasar laut terhadap nol palem adalah (ED) :

ED  Z  A  EMA

Dengan mempertimbangkan kesalahan-kesalahan yang terjadi maka model persamaan


kedalaman yang sebenarnya adalah:

d  du  kbj  kt  kss  kp

dimana :

Survei Topografi, Bathimetri dan Metocean di Pantai Paputungan


d = kedalaman ukuran
kbj = selisih terhadap bacaan kedalaman j sebenarnya dari interpolasi
tentang kedalaman cacah sebelum j dan setelah j
kt = koreksi draft transducer
kss = koreksi settlement dan squat
kp = koreksi pasut

2.4.4 Barcheck
Bar check berfungsi sebagai koreksi, dilakukan sebagai pembanding antara kedalaman
actual dengan kedalaman bacaan echosounder. Proses barcheck dilakukan dengan
cara menenggelamkan sebuah plat baja/besi di bawah transducer dengan
menggunakan kabel baja yang diberi tanda setiap 1 meter. Plat baja dengan
kedalaman yang sudah ditentukan kemudian menjadi pembanding bacaan echosunder.
Untuk melakukan kalibrasi/barcheck ini akan dipilih lokasi/tempat yang permukaan
airnya cukup tenang.

2.5. Survei Hidrooseanografi

2.5.1 Pengamatan Pasang Surut


Pasut laut (ocean tide) didefinisikan sebagai fenomena naik dan turunnya permukaan
air laut yang terjadi secara periodik yang disebabkan oleh pengaruh gravitasi benda-
benda langit terutama bulan dan matahari. Pengamatan pasut laut bertujuan untuk
memperoleh model tinggi muka air laut yang mewakili lokasi survei dan sekitarnya,
dengan cara mengambil sampel data tinggi muka air laut dengan periode waktu
tertentu atau minimal 15 hari. Tujuan pengamatan pasang surut adalah untuk koreksi
kedalaman survey bathimetri, untuk keperluan analisis pemodelan pasang surut, dan
peramalan muka air tertinggi dan terendah.

Pengolahan data pasut dilakukan dengan menggunakan metode Least Square.


Pengolahan data pasut dimaksudkan untuk memperoleh konstanta komponen

Survei Topografi, Bathimetri dan Metocean di Pantai Paputungan


harmonik pasut di daerah pengamatan. Hasilnya tersebut kemudian digunakan untuk
peramalan pasang surut muka air untuk memperoleh datum vertikal, yang digunakan
baik untuk koreksi pasut pada pengukuran kedalaman laut maupun untuk penentuan
elevasi BM. Prinsip peramalan pasut menggunakan penjumlahan trigonometrik dari
masing-masing harga amplitudo dan beda fase dari masing-masing komponen pasang
surut yang telah didapatkan.

2.5.2 Pengolahan Data Pasut


Pengolahan data pasut dimaksudkan untuk memperoleh konstanta komponen
harmonik pasut di daerah pengamatan. Perhitungan konstanta pasut dilakukan dengan
menggunakan metode Least Square. Hasilnya tersebut kemudian digunakan untuk
peramalan pasang surut muka air laut selama satu periode siklus pasut yaitu selama
18,6 tahun, untuk memperoleh chart datum sebagai datum vertikal, yang digunakan
baik untuk koreksi pasut pada pengukuran kedalaman laut maupun untuk penentuan
elevasi BM dalam pengukuran topografi. Prinsip peramalan pasut menggunakan
penjumlahan trigonometrik dari masing-masing harga amplitudo dan beda fase dari
masing-masing komponen pasang surut yang telah didapatkan.

2.5.2.1 Least Square


Metode ini menjelaskan bahwa kesalahan peramalan harus sekecil-kecilnya, yakni
selisih kuadrat antara peramalan dengan pengamatan harus sekecil mungkin.

Persamaan gerak harmonik :

k
(t )  So   Ak cos( k t   k )
k 1 ...(3.1)

dengan : ηt = Elevasi Muka Air

Ak = Amplitudo

So = Muka air rata-rata

ωk = kecepatan sudut

Survei Topografi, Bathimetri dan Metocean di Pantai Paputungan


Φk = Fasa
Persamaan (3.1) dapat ditulis sebagai persamaan sudut untuk 1 konstituen :

(t )  So  Al cost  B sin t ...(3.2)

B
dengan   arctan 
 A

Dengan metode kuadrat terkecil persamaan (3.2) menjadi :

2
J   2    y t (i )  y(i )   0
^

 
^
y(i )  So  Al cost  B sin t

Untuk mendapatkan error terkecil maka syarat yang harus dipenuhi :

J
0
( parameter)

Dalam hal ini parameternya yaitu : So, Al, dan B, maka :

J  y t (i )  So  Al cost (i )  B sin t (i )


m
2
...(3.3)
i 1

Dengan syarat yang harus dipenuhi :

J
 0    2y t (i )  So  Al cost (i )  B sin t (i )
m
1.
So i 1

J
 2 cost(i)yt (i)  So  Al cost(i)  B sin t(i)
m
2.
Al
 0  
i 1

J
 0    2 sin t (i )y t (i )  So  Al cost (i )  B sin t (i )
m
3.
B i 1

Jika ketiga persamaan diatas dibuat dalam bentuk matriks maka :

Survei Topografi, Bathimetri dan Metocean di Pantai Paputungan


m m
 m

m  cost (i )  sin t (i )   y t (i ) 
i 1 i 1 So  m i 1 
m m m
 l  
 cos t (i )  cos 2
t (i )  sin  t (i ) cos t (i )    t
A  y (i ) cos  t (i ) 
i 1 i 1 i 1    i 1 
B  m
y t (i ) sin t (i ) 
m m m


i 1
sin t (i )  cost (i ) sin t (i )
i 1

i 1
sin t (i )
2
 
 i 1 

atau

 So
x Al   y
B
 
 So
 l
 A   x y
1

B
 

sehingga harga So, Al, dan B dapat ditentukan.

2.5.2.2 Karakteristik Pasut


Komponen pasang surut yang dihasilkan adalah M2, S2, N2, K2, K1, O1, P1, M4, MS4,
dimana :

M2 : komponen utama bulan (Semi Diurnal)

S2 : komponen utama matahari (Semi Diurnal)

N2 : komponen eliptis bulan.

K2 : komponen bulan.

K1 : komponen bulan.

O1 : komponen utama bulan (diurnal).

P1 : komponen utama matahari.

M4 : komponen utama bulan (kuarter diurnal).

MS4 : komponen matahari bulan.

Survei Topografi, Bathimetri dan Metocean di Pantai Paputungan


Tipe pasang surut ditentukan berdasarkan pada perbandingan antara jumlah
amplitudo konstanta diurnal (K1 dan O1) dengan jumlah amplitudo konstanta
konstanta diurnal (M2 dan S2). Perbandingan tersebut dituliskan dalam formula
Formzahll (F) :

AK1 + AO1
F=
AM2 + AS2

Dari nilai Formzahll tersebut, dibagi menjadi empat tipe pasang surut seperti pada
Tabel 2.3 berikut :

Tabel 2. 3 Bilangan Formzhall.


NILAI BENTUK JENIS PASUT FENOMENA

2 x pasang sehari dengan tinggi yang relatif


0<F<0,25 Harian ganda murni sama

2 x pasang sehari dengan perbedaan tinggi


0,25 < F <1.5 Campuran Berganda dan interval yang berbeda

1 x atau 2 x pasang sehari dengan interval


1,5 < F ,3 Campuran Tunggal yang berbeda

1 x pasang sehari, saat spring dapat terjadi 2


F>3 Tunggal Murni x pasang surut sehari

2.5.2.3 Pengamatan Arus


Survey Kecepatan arus dilakukan pada titik yang telah ditentukan yaitu 0.2 d, 0.6 d,
dan 0.8 d, dimana d adalah kedalaman.

Survei Topografi, Bathimetri dan Metocean di Pantai Paputungan