Anda di halaman 1dari 14

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/313104035

Analisis Pola Interaksi Serangga - Gulma pada Ekosistem Sawah Surjan dan
Lembaran yang Dikelola secara Oganik dan Konvensional

Article · November 2012

CITATIONS READS

0 412

4 authors, including:

Tien Aminatun Edhi Martono


Universitas Negeri Yogyakarta Universitas Gadjah Mada
6 PUBLICATIONS   1 CITATION    98 PUBLICATIONS   63 CITATIONS   

SEE PROFILE SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

dissertation View project

Pengaruh Visitasi Serangga Polinator terhadap Morfologi Bunga dan Produktivitas Tanaman Cabai View project

All content following this page was uploaded by Edhi Martono on 31 January 2017.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


JOURNAL OF PEOPLE AND ENVIRONMENT
NOVEMBER 2OI2 Volume 19, Nomor 3
Artikel-artikel:
1. Aminatun, T.1 Martono, E.; Suratman Woro S.; dan Tandjung, S.D. Analisis Pola
Interaksi Serangga Gulma pada Ekosistem Sawah Surjan dan Lembaran yang dikelola
Secara Organik dan Konvensional 207 _ 217

2. Aminatun, T.; Martono, E.; Suratman \iloro S.; dan Tandjung, S.D. Adsorpsi Ion
Logam Pb(II), Cd(II) dan Cr(III) oleh Poli 5 allil-kaliks[4] arena Tetraester

3. Nurhadi, A.; Setiawano B.; dan Baiquni Kearifan Lingkungan dalam Perencanaan dan
Pengelolaan Hutan Wonosadi Kecamatan Ngawen Kabupaten Gunungkidul 226 - 237
4. Arianti, F.D.; Suratman; Martono, E.; dan Suprayogi, S. Dampak Pengelolaan Lahan Per-
tanian terhadap Hasil Sedimen di Daerah Aliran Sungai Galeh Kabupaten Semarang 238 - 246

5. Koestiari, T.; Harsini, H.; Prawita, A.; dan Effendy Karakterisasi Bentonit Teknis
sebagai Adsorben Indigo Biru 247 - 254

6. Susilo, B.; Kusumastuti, T.A.; Suranindyah, Y; Suwignyo, B. Kesesuaian Lahan Hijauan


Pakan Kambing di Yogyakarta Menggunakan Pendekatan Sistem Informasi Geografis 255 - 263

7. Buhani; Narsito; Nuryono; dan Kunarti, E.S. Proses Sol-Gel dalam Pembuatan Hibrida
Merkapto-Silika untuk Adsorpsi Ion Cu(II) dalam Larutan 264 - 272

8. Basna, N.; Marsono, D.; Gunawan, T.i dan Irham Model Pengelolaan Lingkungan
Taman Wisata Alam Gunung Meja Manokwari Papua Barat 273 - 284

9. Sarto; Bendiyasa, I.M.; dan Rusnawati, Y. Potensi Pemanfaatan Air Limbah Pemucat
Industri Tenun ATBM untuk Menurunkan Kebutuhan Oksigen Kimiawi (KOK) Air
Limbah Pewarnaan 285 - 293
10. Djohan, T.S. Distribusi dan Kemelimpahan Vegetasi Bakau di Ekosistem Hutan Rusak
Segara Anakan Jawa Tengah 294 - 302

11. Muhdi; Elias; Murdiyarso, D.; Matangaran, J.R.Kerusakan Tegakan Tinggal Akibat
Pemanenan Kayu Reduced Impact Logging dan Konvensional di Hutan Alam Tropika 303 - 3 t I
Diterbitkan oleh:
Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada
(PSLH UGM)
tssN 0854-5510
Terakreditasi Berdasarkan SK Dirjen Dikti No. 66b/DlKTl/Kepl2011
Tanggal 9 September 2011
J. MANUSIA DAN LINGKUNGAN, Vol. 19, No.3, November,20l2,207-217

ANALISIS POLA INTERAKSI SERANGGA-GULMA PADA EKOSISTEM


SAWAH SURJAN DAN LEMBARAN YANG DIKELOLA SECARA ORGANIK
DAN KONVENSIONAL
(Analysis of Insect-Weed fnteraction Pattern in Surjan and Lembaran Rice Farm
Ecosystems under Organic and Conventional Managements)

Tien Aminatur*, Edhi Martono**, Suratman Woro S***, dan S. Djalal


Tandjung****
.'-Tffi#I*H*fl:rTffi*
'l"l' {cFakultas Biologi UGM
e-mail : tienaminatun@yahoo. com

Diterima: 24 Agustus 2012 Disetujui:3 September 2012

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur food web dalam pola interaksi serangga-gulma
pada ekosistem sawah surjan dan lembaran yang dikelola secara organik dan konvensional.
Penelitian dilakukan pada enam petak sawah surjan dan enam petak sawah lembaran di daerah Kulon
Progo dalam dua musim tanam pada bulan Desember 2009 sampai Juli 2010. Baik sawah surjan maupun
sawah lembaran, masing-masing dibedakan dalam dua pengelolaan, yaitu pengelolaan organik dan
konvensional, dengan ulangan masing-masing tiga petak. Lima plot ukuran lxl m ditempatkan pada
masing-masing petak yang tidak diubah posisinya sampai berakhir satu musim tanam. Inti dari penelitian
lapangan ini adalah menghitung jenis dan kelimpahan gulma setiap tiga minggu sekali untuk setiap petak,
demikian juga untuk jenis dan kelimpahan dari serangga herbivora untuk setiap jenis tanaman/gulma pada
setiap plot. Analisis data dilakukan dengan program Bipartite in R statistics 2.12.0, dan dilakukan uji
pengaruh tipe sawah dan cara pengelolaan lahan terhadap struktur dan network level (iumlah jenis trofik
atas, jumlah jenis trofik bawah, keterhubungan, diversitas Shannon, dan kemerataan interaksi) dengan
menggunakan General Linear Model (GLM) dalam program SPSS 17.0. Hasil penelitian sawah surjan
yang dikelola secara organik mempunyai pola interaksi serangga-gulma yang lebih kompleks dengan
lebih banyak link interaksi, jumlah jenis hofik atas dan bawah, indeks diversitas Shannon, dan
kemerataan interaksi yang lebih tinggi, serta keterhubungan (connectance) yang lebih rendah.

Kata kunci: pola interaksi serangga-gulma, ekosistem sawah surjan, ekosistem sawah lembaran,
pengelolaan organik, pengelolaan konvensional

Abstract

The aims of this research was to analyse food web structure of insect-weed interaction in surjan and
lembaran rice field ecosystems under organic and conventional managements. We observed six rice fields
of local farms called "surjan" rice fields, and six rice fields of "lembaren" farms in Kulon Progo
District, central Java, in two planting seasons in December 2009 until July 2010. They were divicled into
two types of managements, i.e. organic and conventionalfarming. Five lxl m plots perfieldwere taken
as sampling units and were not changed until the end of the planting season. The type and abundance oJ
each type of weeds wet'e recorded every tlree weelcs, ancl countedfo, accordingly. In the similar way,
type and abundance of herbivore insects were obserued for each weed in each plot. Data analyses were
conducted in Bipartite program of R Slatistics 2.12.0, and the efeet offarm type and management on
network level of food web structure (number of higher trophic species, number of lower trophic species,
connectane, Shannon diversity index and interaction evenness) was tested per field using General Linear
Model (GLM) with SPSS Statistics I 7.0. The result of this research is that organic sugan rice farm hacl
208 J. MANUSIA DAN LINGKI.'NGAN Vol. 19, No. 3

more much links in food web structure, more number of higher and lower trophic species, Shannon
diversity and interaction evenness, and less connectance.

Keywords; insect-weecl interaction pattern, surjan rice farm ecosystem, lembara n rice farm ecosystem,
organic managem.enL conventional management

PENDAHULUAN Mengingat dampak negatif dari aplikasi


pestisida d,alam kegiatan pertanian terhadap
Serangga dan gulma merupakan lingkungari, maka dewasa ini mulai
komponen penting pada ekosistem sawah. digalakkan pengendalian alami atau hayati
Serangga herbivora dapat menjadi hama dalam pengendalian hama. Oleh karena itu,
bagi tanaman budidaya maupun gulma sawah organik yang menghindari pemakaian
(Kalshoven, 198 1 ; Mangoendihardjo, 1982), bahan-bahan kimia, seperti pestisida untuk
sedangkan gulma, sebagai tumbuhan liar pengendalian hama, mulai banyak
yang tidak dibudidayakan, dapat dikembangkan. Menurut Untung (2006),
berkompetisi dengan tanaman budidaya pengendalian hayati pada ekosistem sawah
untuk memperebutkan cahaya matahari, air pada prinsipnya adalah pengaturan populasi
dan zat hara (Moenandir, 1993). Di sisi lain, organisme oleh mekanisme saling
gulma juga dapat berfungsi sebagai tanaman keterkaitan (interaksi) antar anggota suatu
perangkap, yaitu sebagai inang alternatif komunitas sawah pada jenjang tertentu.
bagi serangga hama, dan penyedia makanan Dari uraian di atas maka diperlukan
bagi serangga musuh alami dewasa karena penelitian yang mendalam tentang pola
gulma tersebut menyediakan polen bagi interaksi serangga-gulma pada ekosistem
parasitoid dewasa (Soegiarto dan Baco, sawah dalam rangka upaya pengendalian
1993). Dengan demikian , ada interaksi hama secara alami atau hayati. Di daerah
serangga-gulma yang berpengaruh pada pesisir Kulon Progo terdapat ekosistem
ekosistem sawah sawah yang khas dan menarik untuk diteliti
Interaksi terjadi pada level komunitas, dengan adanya modifikasi habitat, yaitu
banyak terdapat variasi pada setiap level sawah surjan. Menurut Marwasta dan
organisasi (individu, populasi, spesies) dan Priyono '(2A07), sistem surjan yang
mereka saling berinteraksi dengan banyak diterapkan sepanjang tahun di pesisir Kulon
cara, sehinga interaksi yang terjadi sangat progo merupakan bentuk adaptasi petani
rumit dan kompleks (Verhoef dan Morin, terhadap kondisi geografis wilayah yang
2010). Kegiatan pertanian memporgaruhi bertopografi rendah dan mudah tergenang
kuantitas dan tipe interaksi di antara air. Wilayah pesisir secara geomorfologis
organisme karena kegiatan pertanian tersebut merupakan satuan datarafi fluviomarin yang
pada umurnnya mengurangr komposisi dan terbentuk sebagai hasil kerjasama aktivitas
diversitas spesies (Abrahamson, 1989). Pola sedimentasi, yang dimanfaatkan untuk
interaksi dapat ditunjukkan dengan analisis pertanian lahan basah (sawah). Mengingat
food web. Modifikasi habitat dan aplikasi satuan lahan ini secara genesis bekas laguna
pestisida pada ekosistem pertanian yang dulunya tergenang sepanjang tahun,
berpengaruh terhadap stuktur food web maka drainase permukaannya buruk.
(Schoenly et al. al. 2007;
1996; Tylianahs et Sawah surjan disebut demikian karena
Van Veen et al. 2008; Macfayden et al. morfologi dari lahan sawah ini jika dilihat
2009). Aspek biodiversitas, yaitu richness dari atas tampak bergaris-garis seperti baju
(kekayaan lenis) dan evenness (kemerataan surjan yang biasa dipakai orang Jawa tempo
jenis) dapat digunakan untuk menganalisis dulu. Tampak bergaris-garis karena terdiri
struktur food web. Pertanian organik (tanpa atas alur-alur tinggi dan rendah. Alur yang
aplikasi pestisida dan pupuk kimia) dapat rendah (bagian ' bawah) ditanami padi,
meningkatkan richness dan evenness serta sedangkan bagian alur yang tinggi (guludan)
pengendalian hama secara alami (Crowder et ditanami palawija. Dengan demikian, eko-
a|.,2010).
November 2012 AMINATUN, T., DKK.: ANALISIS POLA 209

sistem sawah surjan memiliki lingkungan sawah lembaran dengan kode NSIB,
pertanian yang ktras. Morfologi sawah NS2B, dan NS3B, yang pengelolaannya
su{an yang demikian itu kemungkinan diserahkan kepada petani (secara
berpengaruh terhadap komposisi serangga konvensional).
dan gulma yang menyusun komunitas
sawah, termasuk juga interaksi serangga- Penelitian ini menggunakan pendekatan
gulma yang te{adi di dalamnya. ekosistem. Objek formal dalam penelitian
Berdasar latat belakang di atas, maka ini adalah komponen-komponen penyusun
permasalahan dal*m penelitian ini adalah ekosistem sawah, yaitu populasi serangga
bagaimanakah pola Qnain pattern) dari dan gulma yang berinteraksi dalam
interaksi serangga-gulma pada ekosistem ekosistem sawah tersebut. Sebagai variabel
sawah surjan dan lembaran yang dikelola bebas dalam penelitian eksperimental ini
secara organik dan konvensional, sehingga adalah tipe sawah dan eara pengelolaan
tujuan dari penelitian ini adalah lahan. Tipe sawah meliputi dua variabel,
menganalisis strulctur food web dalam pola yaitu sawah surjan dan sawah lembaran.
interaksi serangga-gulma pada ekosistem Carc pengelolaan lahan meliputi dua
sawah surjan dan lembaran yang dikelola variabel, yaitu cara organik dan cara
secara organik dan konvensional. konvensional. Variabel tergayut dalam
penelitian ini adalah struktur food web 2
METODE PENELITIAN trofik tanaman-serangga herbivora.
Bahan yang digunakan adalah serangga
Lokasi penelitian adalah pada lahan dan gulma yang diamati secara insitu pada
sawah surjan dan sawah lembaran di Desa petak-petak penelitian, sedangkan alat-alat
Pleret, Kecamatan Panjatan, Kabupaten yang digunakan adalah: tali rafra, patok,
Kulon hogo yang merupakan wilayah buku identifikasi gulma, buku identifikasi
pesisir. Objek 'material dari penelitian serangga, alat fulis dan kamera. Penelitian
meliputi 12 petak sawah dengan luas dilakukan selama dua kali musim tanam
masing-masing * 500 m2, dengan perincian padi. Jadwal penelitian mengikuti musim
sebagai berikut (Gambar 1.): tanam (MT) padi yang dilakukan secara
a. Tiga (3) petak sawah surjan dengan kode serempak di lokasi penelitian, yaitu; MTl
SlA, S2A dan S3A, serta tiga (3) petak bulan Desember 2009 - Maret 2010; dan
sawah lembaran dengan kode NS 1A, MT2 bulan April - Juli 2010.
NS2A, dan NS3A, yang pengelolaannya Lahan sawah dibedakan atas lahan yang
diarahkan oleh peneliti (secara organik) pengelolaannya dilakukan oleh petani lokal
b. Tiga (3) petak sawah surjan dengan kode pada umurmya dan lahan yang
SlB, S2B, dan S3B, serta tiga (3) petak pengelolaannya dilakukan dengan

Gambar 1. Peta lokasi petak-petak penelitian


210 J. MANUSIA DAN LINGKLINGAN Vol. 19, No. 3

pengarahan dari peneliti. Untuk sawah dilakukan secara insitu, jika ada jenis yang
surjan, pada bagian alur ditanami padi baik belum dapat diketahui secara insitu maka
pada musim tanam I (MT I) maupun MT II, diambil sampel dari luar plot pengamatan
sedangkan di bagian guludan ditanami cesim untuk diidentifikasi di Laboratorium
(Brassica rapa) pada MT I dan cabai merah Entomologi Fakultas Pertanian UGM.
(Capsicum annum) pada MT II. Untuk Identifikasi dilakukan sampai tingkat
sawah lembaran semua lahan hanya familia, untuk serangga yang familiar
ditanami padi baik pada MT I maupun MT identifikasi dapat dilakukan sampai tingkat
II. Jenis padi yang ditanam adalah varietas genus atau bahkan sampai tingkat spesies.
IR 64 karena jenis ini yang paling banyak Analisis data dilakukan dari hasil
ditanam oleh petani di lokasi penelitian. pengamatan dan penghitungan populasi
Untuk pengelolaan lahan yang diarahkan serangga dan gulma. Struktur food web
oleh peneliti, cara pengolahan tanah dan dianalisis dengan program bipartite dalam
penyemaian bibit padi dilakukan sama program R-statistics, dengan melihat gambar
dengan yang dilakukan oleh petani di lokasi food web dan network level-nya. Dilakukan
penelitian pada umumnya. Perbedaan uji pengaruh tipe sawah dan cara
terletak pada pemupukan (penggunaan pengelolaan lahan terhadap struktur dan
pupuk organik) serta pengendalian hama dan network level (umlah jenis trofik atas,
gulma (tanpa aplikasi pestisida dan jumlah jenis trofik bawah, keterhubungan,
ini dibiarkan
herbisida). Gulma pada lahan diversitas Shannon, dan kemerataan
tumbuh tanpa gangguan. Jika ada interaksi) dengan menggunakan General
penyiangan yang dilakukan oleh petani, Linear Model (GLM) dalam program SPSS
maka penyiangan dilukukan dengan sangat 17.0.
terbatas, yaitu hanya dengan mencabut
gulma yang tampak tumbuh tinggi saja, dan HASIL DAN PEMBAHASAN
terbatas hanya pada gulma yang berada di
luar plot-plot sampling. Plot-plot sampling Deskripsi Ekosistem Sawah di Daerah
tetap dibiarkan tanpa gangguan sama sekali Penelitian
(undisturbed). Pemupukan tanaman padi Lokasi penelitian terletak di Desa Pleret,
yang dilakukan dengan arahan dari peneliti Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulon
sesuai dengan Andoko (2008). Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, lebih
Langkah selanjutnya setelah ditetapkan tepatnya pada posisi 07o 56' LS dan I l0o
petak-petak penelitian adalah membuat plot 09'BT. Kondisi iklim makro berdasarkan
sampling sebanyak 5 plot di setiap petak kriteria Schmidt dan Ferguson adalah tipe D,
lahan penelitian dengan luas masing-masing sedangkan berdasar kriteria Oldeman adalah
plot adalah lXl m2. Penempatan plot pada tipe E. Secara geomorfologi, daerah
tiap petak lahan dilakukan secara penelitian mempunyai bentuk lahan pesisir
reguler/sistematik (Untung, 2006). yang berupa dataran fluviomarin. Jenis
Pencatatan jenis-jenis dan jumlah gulma tanah daerah iniadalah aluvial, yang
yang terdapat pada setiap plot di setiap petak tersusun atas lempung debu (lanau) dan
penelitian dilakukan secara periodik 3 bahan organik sisa rumput dan tumbuhan
minggu sekali, yaitu pada minggu pertama, rawa, serta sedikit pasir halus yang
ke4, ke-7, ke-10 dan ke-13 setelah tanam merupakan endapan fluviomarin.
padi, dilakukan baik pada MT I maupun MT Keadaan hidrologi daerah penelitian
II, bersamaan dengan pengamatan serangga dicirikan dengan kondisi drainase yang
dilakukan secara insitu pada setiap plot buruk, mudah tergenang air, sehingga sawah
pengamatan. Serangga yang diamati terbatas surjan menjadi bentuk adaptasi petani
untuk serangga yang aktif pada siang hari terhadap kondisi hidrologis ini. Sumber
saja, dibedakan atas serangga hama irigasi untuk mengairi sawah di daerah
(herbivora), serangga predator dan parasitoid penelitian berasal dari Sungai Serang
(musuh alami) dan serangga saprofag (Bendungan Pekik Jamal). Di daerah ini
(netral). Identifikasi jenis serangga juga terdapat Sungai Bugel yang berfungsi
210 J. MANUSIA DAN LINGKLINGAN Vol. 19, No. 3

pengarahan dari peneliti. Untuk sawah dilakukan secara insitu, jika ada jenis yang
surjan, pada bagian alur ditanami padi baik belum dapat diketahui secara insitu maka
pada musim tanam I (MT I) maupun MT II, diambil sampel dari luar plot pengamatan
sedangkan di bagian guludan ditanami cesim untuk diidentifikasi di Laboratorium
(Brassica rapa) pada MT I dan cabai merah Entomologi Fakultas Pertanian UGM.
(Capsicum annum) pada MT II. Untuk Identifikasi dilakukan sampai tingkat
sawah lembaran semua lahan hanya familia, untuk serangga yang familiar
ditanami padi baik pada MT I maupun MT identifikasi dapat dilakukan sampai tingkat
II. Jenis padi yang ditanam adalah varietas genus atau bahkan sampai tingkat spesies.
IR 64 karena jenis ini yang paling banyak Analisis data dilakukan dari hasil
ditanam oleh petani di lokasi penelitian. pengamatan dan penghitungan populasi
Untuk pengelolaan lahan yang diarahkan serangga dan gulma. Struktur food web
oleh peneliti, cara pengolahan tanah dan dianalisis dengan program bipartite dalam
penyemaian bibit padi dilakukan sama program R-statistics, dengan melihat gambar
dengan yang dilakukan oleh petani di lokasi food web dan network level-nya. Dilakukan
penelitian pada umumnya. Perbedaan uji pengaruh tipe sawah dan cara
terletak pada pemupukan (penggunaan pengelolaan lahan terhadap struktur dan
pupuk organik) serta pengendalian hama dan network level (umlah jenis trofik atas,
gulma (tanpa aplikasi pestisida dan jumlah jenis trofik bawah, keterhubungan,
herbisida). Gulma pada lahan ini dibiarkan diversitas Shannon, dan kemerataan
tumbuh tanpa gangguan. Jika ada interaksi) dengan menggunakan General
penyiangan yang dilakukan oleh petani, Linear Model (GLM) dalam program SPSS
maka penyiangan dilukukan dengan sangat 17.0.
terbatas, yaitu hanya dengan mencabut
gulma yang tampak tumbuh tinggi saja, dan HASIL DAN PEMBAHASAN
terbatas hanya pada gulma yang berada di
luar plot-plot sampling. Plot-plot sampling Deskripsi Ekosistem Sawah di Daerah
tetap dibiarkan tanpa gangguan sama sekali Penelitian
(undisturbed). Pemupukan tanaman padi Lokasi penelitian terletak di Desa Pleret,
yang dilakukan dengan arahan dari peneliti Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulon
sesuai dengan Andoko (2008). Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, lebih
Langkah selanjutnya setelah ditetapkan tepatnya pada posisi 07o 56' LS dan 1l0o
petak-petak penelitian adalah membuat plot 09'BT. Kondisi iklim makro berdasarkan
sampling sebanyak 5 plot di setiap petak kriteria Schmidt dan Ferguson adalah tipe D,
lahan penelitian dengan luas masing-masing sedangkan berdasar kriteria Oldeman adalah
plot adalah lXl m2. Penempatan plot pada tipe E. Secara geomorfologi, daerah
tiap petak lahan dilakukan secara penelitian mempunyai bentuk lahan pesisir
reguler/sistematik (Untung, 2006). yang berupa dataran fluviomarin. Jenis
Pencatatan jenis-jenis dan jumlah gulma tanah daerah ini
adalah aluvial, yang
yang terdapat pada setiap plot di setiap petak tersusun atas lempung debu (lanau) dan
penelitian dilakukan secara periodik 3 bahan organik sisa rumput dan tumbuhan
minggu sekali, yaitu pada minggu pertama, tawa, serta sedikit pasir halus yang
ke-4, ke-7, ke-10 dan ke-13 setelah tanam merupakan endapan fluviomarin.
padi, dilakukan baik pada MT I maupun MT Keadaan hidrologi daerah penelitian
II, bersamaan dengan pengamatan serangga dicirikan dengan kondisi drainase yang
dilakukan secara insitu pada setiap plot buruk, mudah tergenang air, sehingga sawah
pengamatan. Serangga yang diamati terbatas surjan menjadi bentuk adaptasi petani
untuk serangga yang aktif pada siang hari terhadap kondisi hidrologis ini. Sumber
saja, dibedakan atas serangga hama irigasi untuk mengairi sawah di daerah
(herbivora), serangga predator dan parasitoid penelitian berasal dari Sungai Serang
(musuh alami) dan serangga saprofag (Bendungan Pekik Jamal). Di daerah ini
(netral). Identifikasi jenis serangga juga terdapat Sungai Bugel yang berfungsi
November 2012 AMINATI-IN, T., DKK.: ANALISIS POLA 2ll

sebagai saluran drainase yang bermuara ke stnrktur food web, sehingga memerlukan
Sungai Progo. analisis richness dan evenness yang
Di lokasi penelitian, lahan sawah merupakan unsur biodiversitas, sedangkan
dibedakan menjadi sawah sudan dan sawah kegiatan pertanian organik dapat
lembaran. Sawah surjan terdiri atas alur dan meningkatkan richness dan evenness serta
guludan yang ditanami dengan jenis pengendalian hama secara alamr/ hayati
tanaman budidaya bermacam sayuran dan (Schoenly et al., 1996; Gibson et al., 2007;
palawija yang ditanam secara tumpangsari Tylianakis et a|.2007; Van Veen et a1.,2008;
dan tumpanggilir, sedangkan sawah Macfayden et al., 2009; Crowder et a1.,2010).
lembaran seperti sawah pada umunmya yang Hasil penelitian di dataran fluviomarine Kulon
hanya ditanami padi tanpa ada bagian Progo ini menunjukkan bahwa ekosistem
guludan yang kering (Gambar 2.). sawah surjan dengan pengelolaan organik
Cara budidaya petani di daerah penelitian menghasilkan pola interaksi serangga-gulma
pada umumnya adalah cara konvensional yang paling kompleks dengan banyak link
(ada aplikasi pestisida dan pupuk kimia), interaksi, yang berarti mempunyai richness
tetapi sebagian petani khususnya petani dan evenness yang paling tinggr.
sawah surjan biasa menambahkan pupuk Dalam peneltian ini food web distruktur
organik (kompos dan pupuk kandang) untuk menggambarkan interaksi bipartite
sebagai pupuk dasar di bagian guludan. dua trofik antara serangga herbivora dan
Khusus untuk penelitian ini maka diadakan tanamanlgulma. Dalam menggambar web
budidaya cara organik (tanpa aplikasi digunakan konvensi yang sama seperti Van
pestisida dan pupuk kimia) untuk Veen et al. (2008). Tanaman/gulma sebagai
membandingkan antara ekosistem sawah /losr disusun sebagai suatu seri pada bar di
organik dan konvensional, dengan cara bagian bawah. Lebar bar tergantung pada
pengolahan tanah yang sama dengan yang kemelimpahan kumulatif dalam satu musim
biasa dilakukan oleh petani lokal pada tanam. Serangga herbivora disusun di
umumnya. bagian atas sebagai suatu seri pada bar yang
Perbedaan terletak pada macam, dosis lebarnya proporsional dengan kemelimpahan
dan frekuensi pemberian pupuk, sedangkan kumulatif. Lebar bar serangga herbivora
pada pertanian organik populasi serangga akan bertambah sesuai dengan
hama tidak dikendalikan secara kimia bertambahnya frekuensi kehadiran serangga
dengan pestisida tetapi dibiarkan tersebut pada suatu jenis tanaman/gulma.
undisturbed agar mekanisme pengendalian Struktur "food web digambarkan untuk
alami dapat te{adi. setiap petak penelitian pada setiap musim
tanam. Jadi, dalam hal ini terdapat 12
Analisis Pota Interaksi Serangga-Gulma gambar visual untuk setiap musim tanam.
Berbagai hasil kajian menyatakan bahwa Gambar 3 dan 4 mewakili gambaran visual
pola interaksi dapat dilihat dengan analisis struktur food web dafi interaksi serangga-

Gambar 2. Sawah lernbaran (kiri) dan sawah surjan (kanan)


212 J. MANUSIA DAN LINGKI-INGAN Vol. 19, No. 3

_.-?$.*..*-.. ", **
*_; __
-::

Gambar 3. Stnrktur foodweb dan interaksi serangga-gulma pada MT II pada sawah surjan
organik petak S1A (atas) dan pada sawah surjan konvensional petak S18 (bawah).

gulma. Dari Gambar 3 tampak sekali jenis (species richness) yang lebih tinggi
perbedaan antara sawah surjan organik dan pada semua level trofik (Macfayden et al.
konvensional, yaitu sawah surjan organik 2009). Tabel I menunjukkan bahwa jumlah
mempunyai jumlah link (interaksi) lebih jenis trofik bawah (kekayaan jenis
banyak daripada sawah surjan konvensional, tanaman/gulma) pada sawah yang dikelola
tetapi antara sawah lembaran organik dan secara organik lebih tinggi daripada sawah
konvensional (Gambar 4.) tidak tampak yang dikelola secara konvensional (cr - 0,05;
perbedaan yang berarti. Perbedaan tampak sig. :0,035), dan jumlah jenis trofik atas
jelas juga antara sawah surjan dan sawah (kekayaan jenis serangga herbivora) juga
lembaran, yaitu sawah surjan mempunyai cenderung lebih tinggi meskipun secara
link (interaksi) lebih rumit dibandingkan statistik tidak signifikan (a : 0,05; sig. =
sawah lembaran. 0,351). Selain itu, sawah surjan mempunyai
Untuk melihat tingkat interaksi (network kekayaan serangga herbivora dan
leve[), dilakukan analisis statistik dengan tanaman/gulma secara signifikan lebih tinggi
program bipartite in R statistics. Tabel l. daripada sawah lembaran (a = 0,05; sig. :
menampilkan statistik dari network level 0,002 untuk kekayaan jenis serangga
yang meliputi jumlah jenis trofik atas herbivora dan sig. 0,000 untuk kekayaan
(number of higher trophic species), jumlah jenis tanaman/gulma). Perbedaan musim
jenis hofik bawah (number of lower trophic tanam juga menunjukkan perbedaan yang
species), keterhubungan (connectance), signifikan dari kekayaan jenis serangga
diversitas Shannon (shannon diversrty), dan herbivora, tetapi perbedaan kekayaan jenis
i (interaction evennes s).
kemerataan interaks tanaman/gulma tidak signifikan antara MT I
Dalam hal ini, number of higher trophic dan MT II. Pada MT II kekayaan jenis
species menunjukkan kekayaan jenis serangga herbivora secara signifikan lebih
serangga herbivora yang berinteraksi dengan rendah daripada MT I (a _ 0,05; sig. =
tanaman/gulma, sedangkan number of lower 0,001), karena ada dominasi oleh hama padi
trophic species menunjukkan kekayaan jenis Scotinophora coarcata Fab. (kepinding
tanaman/gulma yang berinteraksi dengan tanah).
serangga herbivora. Dalam food web dari S spesies,
Pertanian organik mempunyai kekayaan keterhubungan (connectance) adalah jumlah
November 2012 AMTNATTII\i, T., DKK.: ANALISIS POLA 2t3

Gambar 4. Struktur foodweb dan interaksi serangga-gulma pada MT IIpada sawah lembaran
organik petak NSlA (atas) pada sawah lembaran konvensional petak NS2B (bawah)

link yang riil (L) dibagi dengan jumlah link diversity adalah yang paling sering digunakan
yang mungkin (St atau S(S-1) jika tidak dalam ekologi komunitas. Nilai ini akan naik
memasukkan link kanibalistik), yaitu jika dengan naiknya jumlah spesies dan distribusi
semua spesies berinteraksi. Connectance individu dari setiap spesies lebih merata
mempunyai efek yang kuat terhadap (Ludwig dan Reynolds, 1988). Kirwan et al.
gambaran struktural, seperti distribusi (2009) menunjukkan diversitas berpengaruh
frekuensi dari jumlah link per spesies, dan terhadap interaksi interspesifik dalam arah dan
sudah lama diketahui mempengaruhi besarannya. Hasil uji statistik dari Tabel I
stabilitas food web. Connectance alcan turun menunjukkan adanya perbedaan diversitas
dengan naiknya kekayaan spesies (Verhoef Shannon yang signifikan antara sawah dengan
dan Morin, 2010). Macfayden et al. (2009) pengelolaan organik dan konvensional (a -
menemukan perbedaan connectance yang 0,05; sig. : 0,003), antara sawah su{an dan
signifikan antara pertanian organik dan lembaran (u,: 0,05; sig. = 0,000), dan antara
konvensional. Tabel I menunjukkan bahwa MT I dan MT tr (a : 0,05; sig. : 0,000).
connectance pada sawah dengan Diversitas Shannon pada sawah dengan
pengelolaan organik cenderung lebih rendah pengelolaan organilg sawah suq'an dan MT I
daripada sawah dengan pengelolaan lebih tinggr daripada sawah dengan
konvensional, meskipun perbedaannya pengelolaan konvensional, sawah lembaran
secara statistik tidak signifikan (a : 0,05; dan MT tr.
sig. = 0,652), tetapi ada perbedaan yang Kemerataan interaksi (interaction
signifikan antara sawah surjan dan lembaran evenness) adalah ukuran keseragaman aliran
(cr = 0,05; sig. : 0,001) dan antara MT I dan energi dari banyak jalan interaksi yang
MT II (a : 0,05; sig. = 0,003). Sawah berbeda-beda. Modifikasi habitat
lembaran mempunyai connectance yang menyebabkan perbedaan besar dalam
lebih tinggi daripada sawah surjan, dan MT kemerataan interaksi (Tylianakis et al.
II lebih tinggi daripada MT I. 2007). Hasil uji statistik dari Tabel I
Indels Shannon (H') atav Shannon menunjukkan adanya perbedaan kemerataan
2t4 J. MANUSIA DAN LINGKUNGAN Vol. 19, No. 3

Tabel l. Hasil analisis network level dengan program bipartite in R statistics

Petak Parameter dari network level


Jumlah Jumlah Keterhubungan Diversitas Kemerataan
jenis jenis Shannon interaksi
trofik atas frofik
bawah
MT MT MT MT MTI MT II MTI MT II MTI MT II
IUIII
slA 23 16 t7 l8 0.1509 0.2153 2.5355 2.59n 0.6218 0.6278
S2A 22 16 ll ll 0.t694 0.2273 2.2840 2.3373 0.6150 0.6336
53A t7 20 13 t2 0.1493 0.1625 2.390t t.6997 0.6836 0.4639
SIB r7 17 9 11 0.1765 0.2085 2.6230 1.3676 0.79s9 0.3733
S2B 18 l8 9 13 0.2037 0.179s 2.8406 1.2550 0.8120 0.3358
s3B 16 14 l0 8 0.1750 0.2500 2.3301 0.6438 0.6993 0.1932
NSIA t7 12 5 2 0.2941 0.54t7 L9875 0.1358 0.6t75 0.0s29
NS2A 2t ll 7 I 0.1905 I 2.2778 0.1676 0.6836 0.0699
NS3A 167 5 I 0.2625 I 2.3926 0.0846 0.7859 0.0435
NSIB t4 13 6 I 0.28s7 I I .4130 0. 1960 0.M46 0.0764
NS2B t6 ll 5 2 0.3375 0.5454 t.892t 0.t243 0.574t 0.0500
NS3B 19 t4 4 2 0.3421 0.5357 I .21 50 0.2015 0.3729 0.07M

interaksi yang signifikan antara sawah menyebabkan sawah surjan mempunyai


dengan pengelolaan organik dan kekayaan spesies yang lebih tinggi pada
konvensional (o = 0,05; sig, = 0,014), antara semua level trofik. Beets (1982) telah
sawah surjan dan lembaran (o = 0,05; sig. = menjelaskan bahwa pola tanam polilultur
0,000), dan antara MT I dan MT II (a = meningkatkan biodiversitas dan kesempatan
0,05; sig. = 0,000). Kemerataan interaksi interalcsi spesies.
pada sawah dengan pengelolaan organik, Selain hal di atas, ekosistem sawah surjan
sawah surjan dan MT I lebih tinggi daripada juga terdiri dari dua subsistem yang berbeda,
sawah dengan pengelolaan konvensional, yaitu terestrial pada bagian guludan dan
sawah lembaran dan MT II. akuatik pada bagian alur. Hal itu dapat
Dari hasil analisis pada Tabel I di atas menyebabkan perbedaan kekayaan jenis
dapat dinyatakan bahwa terdapat perbedaan antara sawah surjan dan sawah lembaran
yang signifikan antara sawah suq'an dan yang hanya mempunyai sistem akuatik saja.
sawah lembaran yang menyebabkan Tylianakis et al. (2007) telah menemukan
perbedaan struktur food web antara kedua bahwa modifikasi habitat dapat mengubah
tipe sawah tersebut, yaifu sawah surjan struktur/ood web.
mempunyai level biodiversitas yang lebih Dalam hal perbandingan antara
tinggi dalam hal kekayaan spesies maupun pengelolaan organik dan konvensional,
interaksi spesies, baik pada MT I maupun Macfayden et al. (2009) menemukan bahwa
MT II. Perbedaan strukturpod web tersebut pertanian organik meningkatkan level
dihurjukkan dengan perbedaan jumlah jenis biodiversitas dalam hal kekayaan dan
hofik bawah, jumlah jenis trofik atas, interaksi spesies. Gibson et al. (2007) juga
keterhubungan (connectance), diversitas menemukan bahwa lahan pertanian organik
shannon dan kemerataan interaksi. Belum mempunyai kekayaan jenis tumbuhan lebih
ada referensi atau penelitian terdahulu yang tinggi daripada lahan pertanian
membandingkan struktur food web antara konvensional. Pada Tabel t hasil penelitian
sawah sudan dan lembaran, tetapi dapat ini juga menunjukl<an bahwa kekayaan jenis
dijelaskan bahwa pola tanam polikultur yang tumbuhan (gulma) pada sawah organik
November 2012 AMINATLI{, T., DKK.: ANALISIS POLA 215

secara signifikan lebih tinggi daripada sawah Pada MT II, khususnya pada sawah
konvensional. Hal ini dikarena pada sawah lembaran, hama padi Scotinophora
organik tidak dilakukan penyiangan dan coarctata Fab. (kepinding tanah) sangat
aplikasi herbisida seperti yang dilakukan dominan dan berinteraksi baik dengan
pada sawah konvensional. tanaman padi maupun gulma, dan terdapat 3
Sawah organik cenderung mempunyai petak sawah penelitian (petak NS2A, NS3A
kekayaan serangga herbivora lebih tinggi dan NS3B) yang tidak dapat divisualisasikan
daripada sawah konvensional, meskipun struktur/ood web-nya karena hanya terdapat
secara statistik tidak signifikan. Demikian satu jenis yang berinteraksi pada trofik
juga halnya dengan connectance, sawah bawah, yaitu tanaman padi, yang
organik cenderung mempunyai connectance berinteraksi dengan serangga herbivora
yang lebih rendah daripada sawah dengan jenis Scotinophora coarctata Fab.
konvensional, meskipun perbedaan tersebut yang dominan. Pada MT II ini, kedalaman
tidak signifikan secara statistik. genangan air yang tinggi pada awal musim
Connectance yang lebih rendah ini tanam dan cenderung kering pada
menunjukkan kekayaan spesies yang lebih pertengahan sampai akhir musim tanam
tinggi dan lebih banyak link atau spesies menyebabkan hanya sedikit jenis gulma saja
yang berinteraksi (Verhoef dan Morin, yang dapat hidup. Hal ini dapat
2010). Diperkirakan bahwa perbedaan dibandingkan dengan penelitian disertasi
kekayaan spesies serangga herbivora dan Tindall (2004) bahwa perendaman lahan
connectance antara sawah organik dan sawah lebih awal (pada saat tanaman padi
konvensional akan signifikan dengan waktu tahap 2-3 daun) dapat mengontrol gulma
pengamatan yang lebih lama (lebih dart 2 padt red rice (Oryza sativa L), tetapi dapat
musim tanam), mengingat bahwa praktek mempercepat pertumbuhan populasi
pertanian organik ini baru dilakukan selama serangga hama rice water weevil
dua musim tanam (sekitar 6 bulan). Seperti (Lissoroptus oryzophilus Kuschel), karena
halnya yang dilakukan oleh Van Veen et al. serangga tersebut dapat lebih mudah
(2008) yang melakukan analisis struktur meletakftan telurnya pada daun tanaman
food web pada interaksi serangga herbivora padi yang terendam air.
dan musuh alaminya yang membutuhkan Kepinding tanah (Scotinophora
waktu pengamatan 1 tahun. Akan tetapi, coarctata) betina juga meletakkan telurnya
hasil uji statistik dari Tabel I menunjukkan pada bagian bawah daun atau bagian bawah
bahwa secara signifikan diversitas Shannon tanaman dekat permukaan air.
dan kemerataan interaksi pada sawah Perkembangan nimfa menjadi dewasa lebih
organik lebih tinggi daripada sawah lama pada musim kering atau kemarau
MT I maupun MT
konvensional, baik pada sehingga menyebabkan serangan terhadap
It tanaman padi lebih parah (Cuaterno, 2006),
Struktur/ood web antara MT I dan MT II sedangkan kondisi lingkungan pada MT II
berbeda secara signifikan pada semua (musim kemarau) mendukung untuk
parameter, yaitu kekayaan jenis serangga perkembangbiakan hama kepinding tanah
herbivora yang terlibat interaksi, tersebut.
connectance, Shannon diversity, dan
interaction evenness, kecuali pada kekayaan KESIMPULAN
jenis tanaman/gulma yang terlibat interaksi.
Hal ini karena jenis-jenis gulma yang Sawah surjan yang dikelola secara
berinteraksi dengan serangga herbivora organik mempunyai pola interaksi serangga-
antara MT I dan MT II tidak berbeda, gulma yang paling kompleks dengan lebih
artinya jenis-jenis gulma itulah yang selalu banyak link tnteraksi, jumlah jenis trofik atas
eksis pada setiap musim tanam dan selalu dan bawah, diversitas Shannon, dan
berinteraksi dengan serangga herbivora. kemerataan interaksi yang lebih tinggi, serta
2t6 J. MANUSIA DAN LINGKUNGAN Vol. 19, No. 3

keterhubungan (connectance) yang lebih in Indonesia. P.T. Ichtiar Baru-Van


rendah. Hoeve. Jakarta. Indonesia
Kirwan, L., Connolly, J., Finn, J.A., Brophy,
SARAN C., Luscher, A., Nyfeler, D., Sebastia,
M.T. 2009. Diversity-interaction
Untuk mendapatkan signifikansi dari modeling: estimating contributions of
keunggulan pola interaksi serangga-gulma species identities and interactions to
pada sawah yang dikelola secara organik ecosystem function. Ecology 90(8):
untuk mendukung pengendalian hayati, 2032-2038
perlu dilakukan observasi yang lebih Ludwig, J.A. and Reynolds, J.F. 1988.
panjang, seperti halnya yang dilakukan oleh Statistical ecology, a primer on methods
Van Veen et al. (2010) yang memerlukan and computing. John Wiley & Sons, New
waktu lebih dari satu tahun untuk York, USA. pp. 89-95
menganalisis struktvr food web dari proses Macfayden, S., Gibson, R., Polaszek, A.,
pemangsaan serangga herbivora oleh Morris, R.J., Craze, P.G., Plangue, R.,
serangga predator (karnivora). Selain itu, Symondson, W.O.C., Memmott, J. 2009.
perlu dilakukan penelitian juga pada Do differences in food web structure
bermacam tipe sawah dengan kondisi between organic and conventional farms
lingkungan fisik yang berbeda tetapi sama- affect the ecosystem servise of pest
sama dikelola secara organik. conffol? Ecologt Letters (2009) 12: 229-
238
DAFTAR PUSTAKA Mangoendihardjo. S. 1982. Serangga
Pemakan Tumbuhan pada Beberapa
Abrahamson, W.G. 1989. Plant-Animal Jenis Gulma Air di Indonesia. Disertasi.
Interaction. McGraw-Hill Book Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta
Company. Toronto . pp: l-22 Marwasta, D. dan Priyono, K.D. 2007.
Andoko, A. 2008. Budidaya Padi Secara Analisis Karakteristik Desa-desa Pesisir
Organik. Penebar Swadaya. Depok di Kabupaten Kulon Progo. Forum
Beets, W.C. 1982. Multiple Cropping and Geografi, Vol 2l No. 1, Juli 2007: 57-68
Tropical Farming System. Gower Publ Moenandir, J. 1993. Persaingan Tanaman
Co. Ltd. Hampshire. Budidaya dengan Gulma (Ilmu Gulma-
Crowder, D.W., Northfield, T.D., Stand, Buku III). PT Raja Grafindo Persada.
M.R., Snyder, W.E. 2010. Organic Jakarta.
agriculture promotes evenness and Schoenly, K., Cohen, J.E., Heong, K.L.,
natural pest control. Nature. Letters.Yol. Litsinger, J.A., Aquino, G.B, Barrion,
466/l July A.T., Arida, G. 1996. Food web
20 I 0/doi: 1 0. I 038/natureO9 I 83 dynamics of irrigated rice fields at five
Cuaterno, W.R. 2006. Management of elevations in Luzon, Philippines. Bulletin
Malayan Rice Blackbug (Scotinophora of Entomological Research (1996) 86,
coarctata) Using Biological Control 451466
Agent in The Island Provinces of The Soegiarto dan Baco. 1993. Shategi dan
Philippines. Crop Protection Division Program Penelitian Hama-hama
Bureau of Plant Indusfiy. Department of Tanaman Pangan pada PJP II dalam
Agriculture. Philippines. Pemantapan Penelitian Hama Tanaman
Gibson, R.H., Pearce, S., Morris, R.J., Pangan. Risalah Loknkarya. Balai
Symondsons, W.O.C., Memmott, J. Penelitian Tanaman Pengan. Sukarami.
2007. Plant diversity and land use under Sumatra Barat.
organic and ccnventional agriculture: a Tindall, K.V. 2004. Investigation of Insect-
whole-farm approach. Journal of Applied Weed Interaction in The Rice
Ecology (2007) doi: 10.l1ll/j.1365- Agroecosystem. A Dissertation. The
2664.01292.x Department of Entomology. Louisiana
Kalshoven, L.G.E. 1981 . The pests of crops State University.
November 2012 AMINATUN, T., DKK.: ANALISIS POLA 2t7

Tylianakis, J.M., Tscharntke, T., Lewis, Van Veen, F.J.F, Muller, C.B., Pell, J.K.,
O.T. 2007. Habitat modification alters Godfray, H.C.J. 2008. Food web
the sfructure of topical host-parasitoid structure of three guilds of nattral
food webs. Nature. Letters. Vol 445lll enemies: predators, parasitoids and
January 2007 ldoi: 10.1038 /nafixe05429. pathogens of aphids. Journal
of Animal
pp.202-205 Ecology 2008, 77, l9I-200
Untung, K. 2006. Pengantar Pengelolaan Verhoef, H.A dan Morin, P.J. 2010.
Hama Terpadu. Edisi ke dua. Gadjah Community Ecologt, Processes, Models,
Mada University Press. Yogyakarta. and Applications. Oxford University
Press

View publication stats