Anda di halaman 1dari 90

BUKU KERJA GURU SEKOLAH MODEL

JENJANG SMA TAHUN 2017

Tim Penyusun SMA

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN (LPMP)
NUSA TENGGARA TIMUR
JULI 2017

1
KATA SAMBUTAN
Buku Kerja Guru Sekolah Model Jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA)
Tahun 2017

Identitas Tim Penyusun:


Ketua : Stefanus Jelau, S.Pd. MM

Anggota
1. Drs. Yulius Seran Bria, MM
2. Drs. Jermias P. Pelle, M.Pd.
3. Dra. Tiwi Sri Utami, M.Hum
4. Marthinus Umbu Warata, S.Pd.
5. Drs. Sukedah Prayitno, MM
6. Arifin, S.Pd.M.Pd.
7. Roswita Ully, S.Pd.

2
PENGESAHAN
Buku Kerja Guru Sekolah Model Jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA)
Tahun 2017

Identitas Tim Penyusun:


Ketua : Stefanus Jelau, S.Pd. MM

Anggota
1. Drs. Yulius Seran Bria, MM
2. Drs. Jermias P. Pelle, M.Pd.
3. Dra. Tiwi Sri Utami, M.Hum
4. Marthinus Umbu Warata, S.Pd.
5. Drs. Sukedah Prayitno, MM
6. Arifin, S.Pd.M.Pd.
7. Roswita Ully, S.Pd.

3
KATA PENGANTAR

4
PRAKATA PENULIS/PENYUSUN

5
DAFTAR ISI

6
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 3.1. Dimensi Standar Kompetensi Lulusan
Tabel 3.2. Aspek Pengetahuan dan Penjelasannya
Tabel 3.3. Kompetensi Inti dan Penjelasannya
Tabel 3.4. Kriteria dan Skala Penilaian
Tabel 3.5. Kriteria dan Penskoran/Point
Tabel 3.6. Contoh Interval Nilai dan Predikatnya
Tabel 3.7. Contoh Predikat untuk Satu KKM
Tabel 3.8. Gradasi Sikap, Pengetahuan, dan Keterampilan
Tabel 3.9. Agenda Harian Guru
Tabel 3.10. Model Hasil Percobaan
Tabel 3.11. Model Hasil Percobaan
Tabel 3.12. Contoh Rubrik Penilaian Laporan Tugas
Tabel 3.13 Contoh Perumusan Indikator (KD 4.3.)
Tabel 3.14. Contoh Indikator Pencapaian Kompetensi (KD 3.3.)
Tabel 3.15. Contoh Indikator Pencapaian Kompetensi (KD 4.3.)
Tebel 3.16. Contoh Predikat dan Desakripsi Sikap Spiritual Peserta Didik
Tabel 3.17. Contoh Predikat dan Desakripsi Sikap Sosial Peserta Didik
Tabel 3.18. Pengolahan Nilai Pengetahuan Tanpa Bobot
Tabel 3.19. Pengolahan Nilai Pengetahuan Menggunakan Bobot
Tabel 3.20. Contoh Analisis Nilai Keterampilan (Mata Pelajaran Seni)
Tabel 3.21 Contoh Analisis Nilai Keterampilan (Mata Pelajaran Bahasa Inggris)
Tabel 3.22. Contoh Format Catatan Kemajuan Peserta Didik
Tabel 3.23. Contoh Jadwal tugas Harian

7
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 3.1. Skema Penilaian Pengetahuan
Gambar 3.2. Skema Penilaian Sikap

8
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman

Lampiran 1 Contoh Format Analisis Keterkaitan SKL, KI, KD dan Indikator


…...
Lampiran 2 Contoh Kalender Pendidikan
Lampiran 3 Contoh Format Perhitungan Alokasi Waktu per Semester
Lampiran 4 Contoh Format Program Tahunan
Lampiran 5 Contoh Format Program Semester
Lampiran 6 Analisis Penentuan KKM
Lampiran 7 Contoh Format Silabus 2017
Lampiran 8 Contoh Format Sistematika RPP dan Contoh RPP
Lampiran 9 LKS dan Contoh LKS
Lampiran 10 Agenda Harian Guru
Lampiran 11 Daftar Hadir Peserta Didik
Lampiran 12 Contoh Format Rekapitulasi Nilai PH, PTS, dan PAS
Lampiran 13 Contoh Format Jurnal Perkembangan Sikap
Lampiran 14 Contoh Format Analsis Butir Soal Secara Kualitatif
Lampiran 15 Contoh Format Analsis Penilaian Sikap
Lampiran 16 Contoh Format Analsis Penilaian Pengetahuan
Lampiran 17 Contoh Format Analsis Penilaian Keterampilan
Lampiran 18 Contoh Format Pembinaan Peserta Didik
Lampiran 19 Contoh Format Leger Nilai untuk Rapor
Lampiran 20 Contoh Format Jadwal Pembagian Petugas Kebersihan Kelas
Lampiran 21 Program Kegiatan Ekstrakurikuler Olahraga
Lampiran 22 Contoh Format Jadwal Piket Harian Kelas
Lampiran 23 Program Kerja Pramuka
Lampiran 24 Program Kerja PMR
Lampiran 25

1. Conoh Format Analisis SKL,KI,dan KD


2. Conoh Format dan Contoh analisis Kalender Pendidikan

9
3. Conoh Format dan Contoh Perhitungan Alokasi Waktu per Semester
4. Conoh Format Prota
5. Conoh Format Promes
6. Conoh Format Analisis KKM
7. Conoh Format Silabus
8. Contoh Format Model Pembelajaran
9. Conoh Format RPP
10. Conoh Format Jurnal Pembelajaran Guru
11. Conoh Format Daftar Hadir Peserta Didik
12. Conoh Format Daftar Nilai PH,PTS, dan PAS
13. Conoh Format Kepribadian Peserta Didik
14. Conoh Format Analisis NPH,NPTS,NPAS
15. Conoh Format Analisis Kualitatif dan Contohnya (Ter masuk perbaikannya)
16. Conoh Format Program Remidial dan Pengayaan ( Materi Pembelajaran, Penilaian
dan Analisisnya)
17. Conoh Format Jadwal Mengajar
18. Conoh Format Daya serap
19. Conoh Format Kisi-kisi Soal
20. Conoh Format LKS
21. Conoh Fortmat Analisis Bahan Ajar
22. Conoh Format dan Contoh Perbaikan Soal

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013 merupakan
perubahan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomo 19 Tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan (SNP), pada pasal 1 ayat (1) Standar Nasional Pendidikan
(SNP) adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selanjutnya Standar Nasional Pendidikan (SNP)

10
terdiri dari Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Isi, Standar Proses, Standar
Pendidik dan tenaga Kependidikan (PTK), Standar Saran dan Prasarana, Standar
Pengelolaan, Standar Pembiayaan, dan Standar Penilaian.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
pada Pasal 1 menyatakan bahwa Tugas Utama Guru adalah merencanakan pembelajaran,
melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, menganalisis serta tindak
lanjut, membimbing dan melatih peserta didik, dan melaksanakan tugas tambahan yang
melekat pada kegiatan pokok sesuai dengan beban kerja Guru.
Berkaitan dengan tugas utama guru tersebut, maka Standar yang diphami oleh
para guru adalah Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isdi, Standar Proses dan Standar
Penilaian.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 63 Tahun
2009 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan pada Pasal 1 ayat (2) mengisyaratkan
bahwa Penjaminan Mutu Pendidikan adalah kegiatan sistemik dan terpadu oleh satuan
atau program pendidikan, penyelenggara satuan atau program pendidikan, pemerintah
daerah, Pemerintah, dan masyarakat untuk menaikkan tingkat kecerdasan kehidupan
bangsa melalui pendidikan.
Selanjutnya pada Pasal 3 ayat (2) mengatakan bahwa Penjaminan mutu
pendidikan dilakukan atas dasar prinsip: keberlanjutan; terencana dan sistematis, dengan
kerangka waktu dan target-target capaian mutu yang jelas dan terukur dalam penjaminan
mutu pendidikan formal dan nonformal; menghormati otonomi satuan pendidikan formal
dan nonformal; memfasilitasi pembelajaran informal masyarakat berkelanjutan dengan
regulasi negara yang seminimal mungkin; dan SPMP merupakan sistem terbuka yang
terus disempurnakan secara berkelanjutan.
Sedangkan pada Pasal 20 ayat (2) bahwa Pengukuran ketercapaian standar mutu
acuan dilakukan melalui: audit kinerja; akreditasi; sertifikasi; atau bentuk lain
pengukuran capaian mutu pendidikan.
Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan pada
Pasal 11 ayat c menyatakan bahwa Pengembangan keprofesian berkelanjutan adalah
pengembangan kompetensi guru yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, secara
bertahap, berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalitas guru, dan PKB dilaksanakan
agar guru dapat memelihara, meningkatkan, dan memperluas pengetahuan dan
keterampilannya untuk melaksanakan proses pembelajaran secara profesional.

11
Pembelajaran yang berkualitas diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan,
keterampilan, dan sikap peserta didik.
Sekolah yang ditetapkan dan dibina oleh Lembaga Penjaminan Mutu
Pendidikan (LPMP) untuk menjadi sekolah acuan bagi sekolah lain di sekitarnya dalam
penerapan penjaminan mutu pendidikan secara mandiri
Merujuk pada regulasi tugas guru dan regulasi pengertian sekolah model, maka
kami menyusun Panduan Buku Kerja guru sekolah model versi Lembaga Penjaminan
Mutu Pendidikan (LPMP) Nusa Tenggara Timur.

B. Tujuan
Adapun tujuan penyusunan buku kerja guru adalah:
1. Sebagai acuan bagi guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalanya.
2. Memberi kemudahan bagi guru dalam mempersiapkan administrasi pembelajaran
yang komprehensif dalam melaksanakan tugas.

C. Manfaat
Adapun manfaat penyusunan buku kerja guru adalah:
1. Panduan kerja yang mengatur guru dalam melaksanakan tugas keprofesiannya.
2. Memudahkan guru dalam mempersiapkan administrasi perangkat pembelajaran
bersama tugas tambahannya.

D. Dasar Hukum
Adapun dasar hukum panduan penyusunan agenda pembelajaran ini adalah:
1. Undang-undang Republik Indonesiaa Nomor 20 Tahun 2003
2. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013
4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005
5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2009
6. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
Nomor 16 Tahun 2009
7. Program Sekolah Model pada Seksi Pemetaan Mutu dan Supervisi (PMS) Lembaga
Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Nusa Tenggara Timur.

E. Ruang Lingkup

12
Ruang lingkup buku kerja guru ini meliputi Latar Belakang, Tujuan, Manfaat,
Dasar Hukum; Landasan teori Guru Profesional yang berintikan Guru sebagai Agen
Pembaharu, Ciri-ciri Guru Profesional, dan Peranan Guru Profesional; selanjutnya
perangkat pembelajaran guru Analisis Standar Kompetensi Lulusan, Kompetensi Inti,
Kompetensi Dasar, Indikator Pencapaian Komptensi, Program Tahunan, Program
Semester, Ketuntasan Belajar Minimal, Silabus, lingkup materi pembelajaran, RPP,
media pembelajaran, Agenda Harian, Daftar Hadir, Perencanaan Penilaian, Analisis
Hasil Ulangan, Program Remedial dan Pengayaan diserta dengan tugas tambahan guru
yang meliputi tugas walikelas, pembimbingan, PTK, PKG, Pengembangan diri dan
Angka Kredit Guru, pentup dan lampiran lampiran yang berisikan format pendukung
tugas guru di sekolah.

BAB II
GURU PROFESIONAL

A. Guru sebagai Agen Pembaharu


Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,
bangsa dan negara. Untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang
bermakna mutu tersebut, dibutuhkan guru sebagai agen pembaharu yang dalam

13
nejalankan tugas keprofesionalannya mampu menciptakan kondisi atau suasana belajar
dan proses pembelajaran yang dikelola secara professional sehingga mampu
memperbaharui suasana pembelajaran itu menjadi bermutu.
Menurut Dr.E.Mulyasa ( 2006: 44) tentang Guru Profesional, bahwa Guru
Profesional sebagai Inovator. Peserta Didik yang belajar sekarang, secara psikolagis
berada jauh dari pengalaman manusia yang harus dipami, dicerna dan diwujudkan dalam
pendidikan. Sehingga guru menjembatani kebutuhan siswa akan Sikap yang baik,
Pengetehuan yang memadai dan Keterampilan yang baik.
Dengan demikian guru sebagai agen pembaharu. Salah satu wujud guru sebagi
agen pembaharu, jika dapat menyelesaikan seluruh kegiatan Bab III berikut ini.

B. Ciri-ciri Guru Profesional


Guru profesional dituntut untuk mempunyai kewenangan mengajar
berdasarkan kualifikasinya sebagai tenaga pengajar. Sebagai tenaga pendidik, setiap guru
harus memiliki kemampuan profesional dalam bidang pembelajaran. Dengan kemampuan
tersebut, guru dapat melaksanakan perannya. Menurut Ali Mudlofir (2012:5)
“profesionalitas adalah suatu sebutan terhadap kualitas sikap para anggota suatu profesi
terhadap profesinya serta derajat pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki untuk
dapat melakukan tugas-tugasnya”. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Guru dan
Dosen pasal 1 Menurut Undang-Undang Nomer 14 tahun 2005, professional adalah
pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan
kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi
standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Selain itu
menurut Kunandar (2007: 46) “Guru professional adalah guru yang memiliki kompetensi
yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. Kompetensi ini
meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan profesional, baik yang bersifat pribadi
sosial, maupun akademis”. Guru yang profesional dituntut untuk harus memliki
kompetensi yang layak untuk mengajar. Guru professional mempunyai tanggung jawab
pribadi sosial, intelektual, moral, dan spiritual.
Ciri – ciri guru yang professional dalam menjalankan tugas
keprofesionalannya diwajikan menguasai 4 (empat) kompetensi sebagaimana
digambarkan:

14
1. Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan Guru dalam pengelolaan
pembelajaran peserta didik yang sekurang kurangnya meliputi:
a. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan;
b. pemahaman terhadap peserta didik;
c. pengembangan kurikulum atau silabus;
d. perancangan pembelajaran;
e. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis;
f. pemanfaatan teknologi pembelajaran;
g. evaluasi hasil belajar; dan
h. pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang
dimilikinya.
2. Kompetensi kepribadian sekurang-kurangnya mencakup kepribadian yang:
a. beriman dan bertakwa;
b. berakhlak mulia;
c. arif dan bijaksana;
d. demokratis;
e. mantap;
f. berwibawa;
g. stabil;
h. dewasa;
i. jujur;
j. sportif;
k. menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat;
l. secara obyektif mengevaluasi kinerja sendiri; dan
m. mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.
3. Kompetensi sosial merupakan kemampuan Guru sebagai bagian dari Masyarakat yang
sekurang-kurangnya meliputi kompetensi untuk:
a. berkomunikasi lisan, tulis, dan/atau isyarat secara santun;
b. menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional;
c. bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan,
pimpinan satuan pendidikan, orang tua atau wali peserta didik;
d. bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma
serta sistem nilai yang berlaku; dan
e. menerapkan prinsip persaudaraan sejati dan semangat kebersamaan.

15
4. Kompetensi profesional merupakan kemampuan Guru dalam menguasai pengetahuan
bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan budaya yang diampunya yang
sekurang-kurangnya meliputi penguasaan:
a. materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai dengan standar isi program
satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang akan
diampu; dan
b. konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang relevan, yang
secara konseptual menaungi atau koheren dengan program satuan pendidikan, mata
pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang akan diampu.
Dengan menguasai kompetensi sebagaimana dijabarkan diatas, seorang guru
professional akan terpancar ahli di bidang teori dan praktik keguruan. Guru professional
adalah guru yang menguasai ilmu pengetahuan yang diajarkan dan ahli yang mampu
membelajarkan siswanya tentang pengetahuan yang dikuasainya dengan baik; Senang
memasuki organisasi profesi keguruan. Suatu pekerjaan dikatakan sebagai jabatan profesi
salah satu syaratnya adalah pekerjaan itu memiliki organisasi profesi dan anggota-
anggotanya senang memasuki organisasi profesi tersebut. Guru sebagai jabatan
professional seharusnya terus meningkatkan peran organisasi profesinya. Fungsi
organisasi profesi selain untuk melindungi kepentingan anggotanya juga sebagai
dinamisator dan motivator anggotanya juga sebagai dinamisator dan motivator anggota
untuk mencapai karier yang lebih baik dan memiliki latar belakang kependidikan
keguruan sesuai dengan yang disyaratkan menjadi seorang guru.

C. Peranan Guru Profesional


Dalam menjalankan tugas profesionalnya, seorang guru yang professional dalam
mengelola proses belajar mengajar di kelas berperan sebagai berikut:
1. Sumber Belajar
Peran guru sebagai sumber belajar merupakan peran yang sangat penting, sebagai
sumber belajar berkaitan erat dengan penggunaan materi pelajaran. Guru harus
memiliki ilmu dan pengalaman yang luas dari peserta didik apa yang tidak di pahami
oleh peserta didik,diharapkan seorang gurulah yang akan membantunya dalam
memecahkan persoalan yang di hadapi.

16
2. Fasilitator
Sebagai fasilitator seorang guru berperan dalam memberikan pelayanan untuk
memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran. Agar dapat melaksanakan
tugas sebagai fasilitator ada beberapa hal yang harus di pahami guru,khususnya hal-
hal yang berhubungan dengan pemanfaatan berbagai media dan sumber pembelajaran
:
a. Memahami berbagai jenis media dan sumber belajar beserta fungsi masing-
masimg media tersebut.
b. Mempunyai ketrampilan dalam merancang suatu media.
c. Mampu mengorganisaikan berbagai jenis media serta dapat memanfaatkannya
sebagai sumber belajar.
d. Mempunyai kemampuan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan peserta
didik.
3. Pengelolah Pembelajaran
Seorang guru sebagai pengelolah pembelajaran berperan dalam menciptakan iklim
belajar yang memungkinkan siswa belajar dengan nyaman.
Sebagai manager,guru memiliki 4 fungsi umum :
a) Merencanakan tujuan belajar.
b) Mengorganisasikan berbagai sumber belajar untuk mewujudkan tujuan belajar.
c) Memimpin,meliputi : memotivasi,mendorong dan menstimulasi peserta didik.
d) Mengawasi segala sesuatu dalam rangka mencapai tujuan.
4. Demonstrator
Peran guru sebagai demonstrator adalah peran untuk mempertunjukan kepada siswa
segala sesuatu yang dapat membuat siswa lebih mengerti dan memahami setiap pesan
yang disampaikan. seorang guru dapat mempertunjukkan kepada peserta didik agar
memahami dan mengerti dari setiap pesan yang di sampaikannya.
5. Pembimbing
Peran guru sebagai pembimbing ialah membimbing siswa agar dapat mememukan
berbagai potensi yang dimilikinya sebagai bekal hidup mereka, membimbing siswa
agar dapat mencapai dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan mereka, sehingga
dengan ketercapaian itu ia dapat tumbuh dan berkembang sebagai manusia ideal yang
menjadi harapan orang tua dan masyarakat. Maka seorang guru berperan dalam
membimbing dan mengarahkannya.

17
Hal yang harus di miliki seorang guru antara lain :
a. seorang guru harus memahami peserta didik yang sedang di bimbingnya.
b. Seorang guru harus memahami dan terampil dalam merencanakan tujuan
kompetensi yang akan di capai.
6. Motivator
Peran guru sebagai motivator ialah bagaimana seorang guru dapat menumbuhkan
semangat, mendorong siswa untuk giat dalam belajar. Untuk menghasilkan sistem
belajar yang optimal seorang guru di tuntut kreatif dalam membangkitkan motivati
belajar peserta didiknya dengan cara :
a) Memperjelas tujuan yang ingin di capai.
b) Membangkitkan minat peserta didik dalam belajar.
c) Menciptakan suasana yang menyenangkan.
d) Memberikan pujian terhadap keberhasilan peserta didik.
e) Memberi komentar yang mendidik tentang hasil pekerjaan peserta didik.
7. Evaluator
Peran guru sebagai evaluator ialah guru berperan untuk mengumpulkan data atau
informasi tentang keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan. Dengan adanya
evaluasi seorang guru dapat mengetahui apakah siswanya telah berhasil sehingga
mereka layak untuk diberikan materi yang baru ataukah sebaliknya sehingga mereka
perlu adanya remedial.

BAB III
PERANGKAT PEMBELAJARAN GURU

A. Perangkat Pembelajaran Utama:


1. Dokumen Analisis: SKL,KI,dan KD
a. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) jenjang SMA
Pendikbud Nomor 20 Tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan
bahwa Standar Kompetensi Lulusan (SKL) adalah kriteria mengenai
kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan
keterampilan.

18
Setiap lulusan satuan pendidikan dasar dan menengah memiliki kompetensi
pada tiga dimensi yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Dimensi Sikap:
No Dimensi Sikap Dimensi Dimensi
Pengetahuan
Keterampilan
Memiliki perilaku Memiliki pengetahuan Memiliki keterampilan
yang mencerminkan faktual, konseptual, berpikir dan bertindak:
sikap: prosedural, dan 1. kreatif,
1. beriman dan bertakwa metakognitif pada 2. produktif,
kepada Tuhan YME, tingkat teknis, 3. kritis,
2. berkarakter, jujur, dan spesifik, detil, dan 4. mandiri,
peduli, kompleks berkenaan 5. kolaboratif, dan
3. bertanggungjawab dengan: 6. komunikatif
4. pembelajar sejati 1. ilmu pengetahuan, melalui pendekatan
sepanjang hayat, dan 2. teknologi, ilmiah sebagai
5. sehat jasmani dan 3. seni, pengembangan dari
rohani sesuai dengan 4. budaya, dan yang dipelajari di
perkembangan anak di 5. humaniora. satuan pendidikan dan
lingkungan keluarga, Mampu mengaitkan sumber lain secara
sekolah, masyarakat pengetahuan di atas mandiri
dan lingkungan alam dalam konteks diri
sekitar, bangsa, sendiri, keluarga,
negara, kawasan sekolah, masyarakat
regional, dan dan lingkungan alam
internasional. sekitar, bangsa,
negara, serta kawasan
regional
dan internasional.
Tabel 3.1. Dimensi Standar Kompetensi Lulusan (SKL)

Istilah pengetahuan Faktual, Konseptual, Prosedural, dan Metakognitif pada


jenjang SMA dijelaskan pada tabel 3.2 matriks berikut:
No Aspek Penjelasan
Pengetahuan
1 Faktual Pengetahuan teknis dan spesifik, detail dan kompleks
berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan
budaya terkait dengan masyarakat dan lingkungan alam
sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan
internasional.
2 Konseptual Terminologi/istilah dan klasifikasi, kategori, prinsip,
generalisasi, teori, model, dan struktur yang digunakan

19
terkait dengan pengetahuan teknis dan spesifik, detail
dan kompleks berkenaan dengan ilmu pengetahuan,
teknologi, seni, dan budaya terkait dengan masyarakat
dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan
regional, dan internasional.
3 Prosedural Pengetahuan tentang cara melakukan sesuatu atau
kegiatan yang terkait dengan pengetahuan teknis,
spesifik, algoritma, metode, dan kriteria untuk
menentukan prosedur yang sesuai berkenaan dengan
ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya, terkait
dengan masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa,
negara, kawasan regional, dan internasional.
4 Meta Kognitif Pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan diri
sendiri dan menggunakannya dalam mempelajari
pengetahuan teknis, detail, spesifik, kompleks,
kontekstual dan kondisional berkenaan dengan ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya terkait dengan
masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara,
kawasan regional, dan internasional.
Tabel 3.2. Aspek Pengetahuan dan Penjelasannya
Gradasi untuk dimensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan antar jenjang
pendidikan memperhatikan: perkembangan psikologis anak; lingkup dan
kedalaman; kesinambungan; fungsi satuan pendidikan; dan lingkungan.
b. Kompetensi Inti (KI) jenjang SMA
Merujuk pada Permendikbud Nomor 21 Tahun 2016 tentang Standar Isi, bahwa
Kompetensi yang bersifat generik terdiri atas 4 (empat) dimensi yang
merepresentasikan sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan,
yang selanjutnya disebut Kompetensi Inti (KI).
Setiap Tingkat Kompetensi berimplikasi terhadap tuntutan proses pembelajaran
dan penilaian. Penjabaran lebih lanjut dapat dilihat pada tabel 1.3 berikut ini:

Kompetensi Inti (KI) Deskripsi Kompetensi Inti (KI)


Sikap Spritual 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang
dianutnya

20
Sikap Sosial 2. Menghayati dan mengamalkan perilaku
a. jujur,
b. disiplin,
c. santun,
d. peduli (gotong royong, kerjasama, toleran,
damai),
e. bertanggung jawab,
f. responsif, dan
g. pro-aktif,
Dalam berinteraksi secara efektif sesuai dengan
perkembangan anak di lingkungan, keluarga, sekolah,
masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa,
negara, kawasan regional, dan kawasan internasional.
Pengetahuan 3. Memahami, menerapkan, menganalisis dan
mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural, dan metakognitif pada tingkat teknis,
spesifik, detil, dan kompleks berdasarkan rasa ingin
tahunya tentang
a. ilmu pengetahuan,
b. teknologi,
c. seni,
d. budaya, dan
e. humaniora
Dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan,
kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena
dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan pada
bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan
minatnya untuk memecahkan masalah
Keterampilan 4. Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan
menyaji secara:
a. efektif,
b. kreatif,
c. produktif,

21
d. kritis,
e. mandiri,
f. kolaboratif,
g. komunikatif, dan
h. solutif,
Dalam ranah konkret dan abstrak terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta
mampu menggunakan metoda sesuai dengan kaidah
keilmuan.
Tabel 3.3. Kompetensi Inti dan Penjelasannya
Sedangkan Tingkat Kompetensi, Kompetensi dan Ruang Lingkup Materi
dapat diuraikan setiap jenjang pendidikan, dan termasuk masing-masing mata
pelajaran.
c. Kompetensi Dasar (KD) jenjang SMA
Kompetensi Inti dan Dan Kompetensi Dasar mempunyai keterkaitan satu sama
lain dari masing-masing mata pelajaran.
Sebelum menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dibuatkan
analisis terlebih dahulu.
Komponen – komponen dalam menganalisis Kompetensi Dasar (KD) antara
lain : Kompetensi Dasr (KD), Materi Pembelajaran, Kegiatan Pembelajaran,
dan Jenis maupun Teknik Penilaian.
Contoh Format dan Contoh Pengisian Analisis Kompetensi Dasr (KD) dengan
Materi Pembelajaran (Dapat dilihat pada Lampiran 1)

2. Program Tahunan
Program Tahunan berdasarkan kurikulum 2013 merupakan program
umum terpadu untuk setiap kelas yang dikembangkan oleh guru. Program
Tahunan tersebut sebagai rencana umum pelaksanaan pembelajaran muatan mata
pelajaran setelah diketahui kepastian jumlah jam pelajaran efektif dalam satu
tahun.
Program tahunan perlu dipersiapkan dan dikembangkan oleh guru
sebelum tahun pelajaran, karena merupakan pedoman bagi pengembangan
program-program berikutnya, yakni Program Semester, Silabus, dan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran.

22
Penyusun kalender pendidikan selama satu tahun pelajaran mengacu
pada efisiensi, efektifitas, dan hak-hak peserta didik. Dalam kalender
pembelajaran, termasuk waktu libur, dan lain-lain. Dengan demikian, dalam
menyusun program tahunan perlu memperhatikan kalender pendidikan. Lampiran
2.
Hari belajar efektif dalam satu tahun pelajaran dilaksanakan dengan
menggunakan sistem semester. Dalam membuat Program Tahunan (Prota),
langkah awal yang dibuat adalah penyusunan Perhitungan alokasi waktu tiap
semester.
Dalam penyusunan Perhitungan alokasi waktu tiap semester, Komponen-
komponen Perhitungan alokasi waktu tiap semester adalah Identitas (Nama
sekolah,kelas/semesterdan , tahun ajaran);dan Format isian (banyaknya pekan
sebulan, Banyaknya pekan yang efektif dan tidak efektif, jumlah pekan/ pekan
efektif dan tidak efektif setiap semester, dan keterangan.
Langkah-langkah perancangan Perhitungan alokasi waktu tiap semester adalah:
1. Menentukan banyaknya pekan dalam sebulan untuk semester Gasal atau
Genap
2. Memperhatikan kalender yang dibuat Dinas Pendidikan atau oleh Sekolah
tentang hari libur, hari-hari besar Nasional atau hari-hari kegiatan
Kabupaten/Kota/Provinsi dan Hari kegiatan yang menghentikan aktivitas
sekolah
3. Menentukan banyak pekan yang efektif dan tidak efektif ( lebih dari dua hari
tidak ada pembelajaran, maka pekan itu dalam sebulan dianggap pekan yang
tidak efektif).
4. Menentukan jumlah pekan,jumlah pekan, pekan efektif, dan pekan tidak
efektif dalam satu semester (Semester Gasal atau Semester Genap)
5. Mengisi kolom keterangan alasan Pekan yang tidak efektif

Contoh Format Perhitungan Alokasi Waktu per Semester ((Lampiran 3).


Komponen – komponen Program Tahunan (Prota) adalah Identitas
(Satuan Pendidikan, Kelas/Semester, Tahun Ajaran dan Format Isian (Semester,
Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar KD,Alokasi Waktu, dan Keterangan)..
Langkah-langkah perancangan Program Tahunan (Prota) adalah :
1. Perhatikan tabel Perhitungan waktu setiap semester

23
2. Isi tabel format Program Tahunan sesuai isi komponennya.
3. 1 (satu) minggu efektif berapa banyaknya jam tatap muka untuk satu mata
pelajaran
4. Atas dasar point (3) tersebut diatas,maka Isi kolom alokasi waktu setiap
Kompotensi Dasar berdasaarkan Perhitungan alokasi waktu dan banyaknya
jumlah Kompetensi Dasr setiap semester, dengan cara kepastian waktu
pembelajaran setiap semester.Bacalah buku Guru untuk mengetahui setiap
KD berapa kali pertemuan. Ingat 1 (satu) minggu
5. Menelaah alokasi waktu setiap Kompotensi Dasar berdasarkan keluasan
materi/tingkat kesulitan materi (kompleksitas Materi Pembelajaran).
Dalam perkembangan dan pengkajian penyusunan Program Tahunan ,
terdapat beragam alternatif format program tahunan. Dengan demikian guru
memiliki kebebasan dalam menentukan format program tahunan Format
berikut ini, memberi kemudahan dalam penyusunan program tematik terpadu
yang berorientasi kepada kepraktisan agar guru dapat membagi waktu satu
tahun kegiatan pembelajaran efektif secara sistematis dan terukur, dengan
contoh format sebagai berikut. Contoh Format Prota (lampiran 4)
3. Program Semester
Program semester merupakan penjabaran dari program tahunan sehingga program
tersebut tidak bisa disusun sebelum tersusun program tahunan. Program semester
berisikan garis-garis besar mengenai hal-hal yang hendak dilaksanakan dan
dicapai dalam semester tersebut. Pada umumnya program semester ini berisikan:
a. Identitas (satuan pendidikan, mata pelajaran, kelas/semester, dan tahun
pelajaran)
b. Format Isian (KD, Materi Pembelajaran , Materi Pembelajaran ke, Alokasi
waktu, dan bulan yang terinci per minggu, dan keterangan yang diisi kapan
pelaksanaan pembelajaran berlangsung) dan Contoh Format Program
Semester (Lampiran 5),
4. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
Kriteria Ketuntasan Minimal yang selanjutnya disebut KKM adalah kriteria
ketuntasan belajar yang ditentukan oleh satuan pendidikan dengan mengacu pada
standar kompetensi lulusan, mempertimbangkan karakteristik peserta
didik,karakteristik mata pelajaran, dan kondisi satuan pendidikan. Dalam
menetapkan KKM, satuan pendidikan harus merumuskannya secara bersama

24
antara Kepala Sekolah, pendidik, dan tenaga kependidikan lainnya. KKM
dirumuskan setidaknya dengan memperhatikan 3 (tiga) aspek: karakteristik
peserta didik (intake), karakteristik mata pelajaran (kompleksitas
materi/kompetensi), dan kondisi satuan pendidikan (daya dukung) pada proses
pencapaian kompetensi.
Secara teknis prosedur penentuan KKM mata pelajaran pada Satuan Pendidikan
dapat dilakukan antara lain dengan cara berikut.
a. Menghitung jumlah KD setiap mata pelajaran pada masing-masing tingkat
kelas dalam satu tahun pelajaran.
b. Menentukan nilai aspek karakteristik peserta didik (intake), karakteristik
mata pelajaran (kompleksitas materi/kompetensi), dan kondisi satuan
pendidikan (daya dukung) dengan memperhatikan komponen-komponen
berikut:
1) Karakteristik Peserta Didik (Intake)
Karakteristik Peserta Didik (intake) bagi peserta didik baru (kelas X) antara
lain memperhatikan rata-rata nilai rapor SMP, nilai ujian sekolah SMP,
nilai hasil seleksi masuk peserta didik baru di jenjang SMA.
Bagi peserta didik kelas XI dan XII antara lain memperhatikan ratarata
nilai rapor semester-semester sebelumnya.
2) Karakteristik Mata Pelajaran (Kompleksitas)
Karakteristik Mata Pelajaran (kompleksitas) adalah tingkat kesulitan dari
masing-masing mata pelajaran, yang dapat ditetapkan antara lain melalui
expert judgment guru mata pelajaran melalui forum Musyawarah Guru
Mata Pelajaran (MGMP) tingkat sekolah, dengan memperhatikan hasil
analisis jumlah KD, kedalaman KD, keluasan KD, perlu tidaknya
pengetahuan prasyarat.
3) Kondisi Satuan Pendidikan (Daya Dukung)
Kondisi Satuan Pendidikan (Daya Dukung) meliputi antara lain
(1)kompetensi pendidik (nilai UKG); (2) jumlah peserta didik dalam satu
kelas; (3) predikat akreditasi sekolah; dan (4) kelayakan sarana prasarana
sekolah.
Contoh Kriteria dan skala penilaian penetapan KKM
Untuk memudahkan analisis setiap KD, perlu dibuat skala penilaian yang disepakati
oleh guru mata pelajaran. Tabel 3.4. Kriteria dan Skala Penilaian

25
c. Menentukan KKM setiap KD dengan rumus berikut:

Jumlah Total nilai Setiap aspek


KKM per KD =
Jumlah Total Aspek

Misalkan : Aspek Daya Dukung mendapat Nilai 90


Aspek Kompleksitas mendapat Nilai 70
Aspek Intake mendapat Nilai 65
Jika bobot setiap aspek sama, nilai KKM untuk KD tersebut

Dalam menetapkan nilai KKM KD, pendidik/satuan pendidikan dapat juga


memberikan bobot berbeda untuk masing-masing aspek.
Atau dengan menggunakan poin/skor pada setiap kriteria yang ditetapkan.
Tabel 3.5. Kriteria dan Penskoran/Point

26
Jika KD memiliki kriteria kompleksitas tinggi, daya dukung tinggi dan intake peserta
didik sedang, maka nilai KKM-nya adalah:

Nilai KKM merupakan angka bulat, maka nilai KKM-nya adalah 67.

d. Menentukan KKM setiap mata pelajaran dengan rumus:

Model KKM
Model KKM terdiri atas lebih dari satu KKM dan satu KKM. Satuan pendidikan dapat
memilih salah satu dari model penetapan KKM tersebut. Format Analisis KKM (Lampiran 6)
a. Lebih dari Satu KKM
Satuan pendidikan dapat memilih setiap mata pelajaran memiliki KKM
yangberbeda. Misalnya, KKM IPA (65), Matematika (63), Bahasa Indonesia (70),
dan seterusnya. Di samping itu, KKM juga dapat ditentukan berdasarkan rumpun
mata pelajaran (kelompok mata pelajaran). Misalnya, rumpun MIPA (Matematika
dan IPA) memiliki KKM 70, rumpun bahasa (Bahasa Indonesia dan
BahasaInggris) memiliki KKM 75, rumpun sosial (IPS dan PPKn) memiliki
KKM 80, dan seterusnya.
Satuan pendidikan yang memilih KKM berbeda untuk setiap mata pelajaran,
memiliki konsekuensi munculnya interval nilai dan predikat yang berbedabeda,
diilustrasikan berikut.
Contoh Lebih dari satu KKM
KKM mata pelajaran Bahasa Indonesia 75. Maka nilai C (cukup) dimulai dari 75.
Predikat di atas Cukup adalah Baik dan Sangat Baik, maka panjang interval nilai
untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia dapat ditentukan dengan cara: (Nilai
maksimum – Nilai KKM) : 3 = (100 – 75) : 3 = 8,3.Sehingga panjang interval
untuk setiap predikat 8 atau 9. Karena panjang interval nilainya 8 atau 9, dan

27
terdapat 4 macam predikat, yaitu A (Sangat Baik), B (Baik), C (Cukup), dan D
(Kurang), maka untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia interval nilai dan
predikatnya sebagai berikut.
Contoh Interval Nilai dan Predikatnya untuk KKM 75
Interval Nilai Predikat Keterangan
> 92 – 100 A Sangat Baik
> 83 – 92 B Baik
≥ 75 – 83 C Cukup
< 75 D Kurang
Tabel 3.6.Contoh Interval Nilai dan Predikatnya
Pada contoh di atas, panjang interval untuk predikat C dan B yaitu 9,
sedangkanpredikat A panjang intervalnya 8.

b. Satu KKM
Satuan pendidikan dapat memilih satu KKM untuk semua mata pelajaran. Setelah
KKM setiap mata pelajaran ditentukan, KKM satuan pendidikan dapat ditetapkan
dengan memilih KKM yang terendah, rata-rata, atau modus dari seluruh KKM
mata pelajaran. Misalnya, SMP Indonesia Pintar berdasarkan hasil analisis
menentukan satu KKM untuk seluruh mata pelajaran (KKM 78).
Untuk satuan pendidikan yang menetapkan hanya satu KKM untuk semua mata
pelajaran, maka interval nilai dan predikat dapat menggunakan satu ukuran.
Misalnya, KKM menggunakan ukuran yang sudah lazim, yaitu 60, berarti
predikat Cukup dimulai dari nilai 60. Interval nilai dan predikat untuk semua
mata pelajaran menggunakan tabel yang sama, misalnya ditunjukkan di bawah
ini.
Contoh Predikat untuk Satu KKM ( KKM 60 )
I

Interval Nilai Predikat Keterangan


> 87 -100 A Sangat Baik
> 73 – 87 B Baik
≥ 60 – 73 C Cukup
< 60 D Kurang
Tabel 3.7. Contoh Predikat untuk Satu KKM
5. Silabus

28
Desain Perencanaan pembelajaran guru dirancang dalam bentuk Silabusdan
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengacupadaStandar Isi. Guru
dalam menyiapkan perencanaan pembelajaran meliputi penyusunan rencana
pelaksanaan pembelajaran dan penyiapan media dan sumberbelajar, perangkat
penilaian pembelajaran, dan skenario pembelajaran. Penyusunan Silabusdan RPP
disesuaikanpendekatanpembelajaran yang digunakan.
1. Silabus merupakan acuan penyusunan kerangka pembelajaran untuk setiap
bahan kajian mata pelajaran. Silabus memuat:
a. Identitas mata pelajaran;
b. Identitas sekolah meliputi nama satuan pendidikan dan kelas serta tahun
pelajaran;
c. Kompetensiinti, merupakan gambaran secara kategorial mengenai
kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang harus
dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan mata
pelajaran;
d. Kompetensi dasar, merupakankemampuanspesifik yang mencakupsikap,
pengetahuan, dan keterampilan yang terkait muatan atau mata pelajaran;
e. materipokok, memuatfakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan,
dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator
pencapaian kompetensi;
f. pembelajaran, yaitu kegiatan yang dilakukan oleh pendidik dan peserta
didik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan;
g. penilaian, merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi
untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik;
h. alokasi waktu sesuai dengan jumlah jam pelajaran dalam struktur
kurikulum untuk satu semester atau satu tahun; dan
sumber belajar dapat ,media cetak dan elektronik, alam sekitar atau
sumber belajar lain yang relevan.
2. Silabusmasing – masing mata pelajaran dikembangkan oleh guru berdasarkan
Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi sesuai Permendikbud 20 dan 21
tahun 2016 untuk satuan pendidikan menengah sesuai dengan pola
pembelajaran pada setiap tahunajaran tertentu. Silabus digunakan sebagai
acuan dalam pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran. Guru
diwajibkan menyiapkan silabus

29
Contoh Format Silabus Mata Pelajaran SMA Bahasa Inggris (lampiran 7 Buku
Kerja Guru).
6. Bahan Pembelajaran
Bahan ajar merupakan isi dari materi pemberlajaran yang mengandung
pengetahuan Fakta, Pengetahuan Konsep, Pengetahuan Prosedural dan
Pengetahuan Meta Kognitif.
Guru menyusun bahan ajar secara runut, logis, kontekstual dan mutakhir:

a) Bahan ajar disusun dari yang sederhana ke kompleks, mudah ke sulit


dan/atau konkrit ke abstrak sesuai dengan tujuan pembelajaran
b) Keluasan dan kedalaman bahan ajar disusun dengan memperhatikan potensi
peserta didik (termasuk yang cepat dan lambat,motivasi tinggi dan rendah)
c) Bahan ajar dirancang sesuai dengan konteks kehidupan dan perkembangan
Ilmu pengetahuan dan teknologi.
d) Bahan ajar dirancang dengan menggunakan sumber yang bervariasi (tidak
hanya buku pegangan peserta didik)

7. Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari
awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru mata pelajaran .Model
pembelajaran merupakan bingkai dari penerapan suatu pendekatan , metode, dan
teknik pembelajaran.
Berdasarkanpermendikbud nomor 65 tentang standar proses Model
pembelajaran yang diutamakan dalam implementasi Kurikulum 2013 adalah
model pembelajaran Inkuiri ( Inquiri based learning ) , Model pembelajaran
Discovery ( discovery learning ) , Model pembelajaran berbasisi proyek( Projet
Based learning ) dan Model pembelajaran berbasis permasalahan .
Untuk menentukan model pembelajaran yang akan dilaksanakan dapat
mempertimbangkan hala-hal sebagai berikut :
1) Kesesuaian model pembelajaran dengan kompotesi sikap pada KI 1 dan KI 2
serta kompotensi pengetahuan dan ketrampilan sesuai dengan KD 3 dan KD 4
2) Kesesuaian model pembelajaran dengan karakteristi KD 1 (jika ada) dan KD
2 yang dapat mengembangkan kompotensi sikap dan kesesuaian materi

30
pembelajaran dengan tuntutan KD 3 dan KD 4 untuk mengembangkan
kompotensi pengetahuaan dan ketrampilan
3) Penggunaan pendekatan saintifik yang mengembangkan pengalaman belajar
peserta didik melalui kegiatan mengamati ( observing), Menanya
(Questioning,),mencoba/mengumpulkan informasi
(experimenting/collectinginformation ) , mengasosiasi / menalar ( associating )
dan mengomunikasikan (Communicating)
Contoh Model Pembelajaran dikaitkan dengan Pendekatan Scietific (5M):
1. Model inqury
Langkah – langkah Model Inkuiri:
1) Obsevasi/Mengamati kegiatan ini memberikan pengalaman belajar kepada
peserta didik bagaiman mengamati berbagai fakta atau fenomena dalam mata
pelajaran tertentu
2) Mengajukan pertanyaan tentang fenomena fenomena yang dihaddapi
3) Mengasosiasi atau melakukan penalaran terhadap kemungkinan jawaban dari
pertanyaan yang diajukan
4) Mengumpulkan data yang berkaitan dengan dugaan atau pertanyaan yang
diajukan
5) Merumuskan kesimpulan berdasarkan data yang telah diolah atau
dianalisis,sehingga peserta didik dapat mempresentasikan atau menyajikan
hasil temuannya
2. Model discovery learning
1) Stimulation pada kegiatan ini guru memberikan stimulant berupa bacaan atau
gambar atau situasi sesuai dengan materi pembelajaran /topic/tema yang akan
dibahas, sehingga peserta didik mendapat pengalaman belajar mengamati
pengetahuan konseptual melalui kegiatan membaca , mengamati situasi atau
mengamati gambar
2) Problem statement atau mengidentifikasi masalah dimana peserta didik
menemukan permasalahan apa saja yang dihadapi dan peserta didik diberikan
pengalaman untuk menanya , mencari informasidan merumuskan masalah
3) Data Collecting ( mengumpulkan data ) peserta didik diberikan pengalaman
mencari dan mengumpulkan data / informasi yang digunakan untuk
menemukan solusi pemecahan masalah

31
4) Data Processing ( Mengolah data ) Peserta didik mengeksplorasi kemampuan
pengetahuan konseptualnya untuk diaplikasikan pada kehidupan nyata
5) Verification ( Memferifikasi ) Peserta didik mengecek kebenaran hasil
pengolahan data melalui berbagai kegiatan misalnya bertanya, berdiskusi,
mencari sumber yang relefan dai buku atau media ,serta mengasosiasikan
menjadi suatu kesimpulan
6) Generalization ( Menyimpulkan ) peserta didik dapat menggeneralisasikan
hasil simpulannya
3. Model Pembelajaran Berbasis Masalah ( Problem Based Learning).
Adapun langkah-langkah Model Pembelajaran Berbasis Masalah adalah:
1) Mengorientasi peserta didik pada masalah dimana peserta didik
memfokuskan mengamati masalah yang menjadi objek pembelajaran
2) Mengorganisasikan kegiatan pembelajaran dimana peserta didik
menyampaikan berbagai pertanyaan ( menanya ) terhadap masalah
3) Membimbing penyelidikan mandiri dan kelompok Dimana peserta didik
melakukan percobaan untuk memperoleh data dalam rangka menyelesaikan
masalah
4) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya peserta didik mengasosiasi
data yang ditemukan dari percobaan dengan berbagai data dari berbagai
sumber
5) Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah dan setelah peserta didik
mendapat jawaban terhadap masalah yang ada selanjutnya dianalisis dan
dievaluasi

4. Model Pembelajaran Berbasis Projek ( Projec Based Learning).


Model pembelajara ini bertujuan untuk pembelajaran untuk pembelajaran yang
memfokuskan pada permasalahan kompleks yang diperlukan peserta didik dalam
melakukan investigasi dalam memahami pembelajaran
Langkah-langkah Model Pembelajaran Berbasis Projek adalah:
1) Menyiapkan pertanyaan atau penugasan proyek agar peserta didik mengamati
lebih dalam terhadap pertanyaan yang muncul dari fenomena yang ada
2) Mendesaian perencanaan proyek sebagai langkah nyata menjawab
pertanyaan yang ada untuk menyusun suatu perencanaan proyek bisa melalui
percobaan

32
3) Menyusun jadwal sebagai langkah nyata dari sebuah proyek , agar proyek
yang dikerjakan sesuai dengan waktu dan target
4) Memonitor kegiatan perkembangan proyek , Guru melakukan monitoring
terhadappelaksanaan dan perkembangan proyek diman peserta didik
mengevaluasi proyek yang sudah dikerjakan
5) Menguji hasil fakta dan data percobaan atau penelitian dihubungkan dengan
berbagai data lain dari berbagai sumber
6) Mengevaluasi kegiatan /pengalaman untuk mengevaluasi kegiatan sebagai
acuan perbaikan untuk tugas proyek pada mata pelajran yang sama atau mata
pelajaran lain
8. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Siswa (LKS)
8.1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang SistemPendidikan
Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Sedangkan Pembelajaran adalah proses terjadinya interaksi antara siswa
dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran
tersebut dirancang untuk mendukung pemerolehan pengalaman belajar yang
bermakna bagi siswa.
Pengertian pembelajaran berdasarkan Permendikbud No. 103 Tahun 2014
tentang Pembelajaran adalah proses interaksi antarsiswa, antara siswa dengan
tenaga guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran
merupakan suatu proses pengembangan potensi dan pembangunan karakter
setiap siswa sebagai hasil dari sinergi antara pendidikan yang berlangsung di
sekolah, keluarga dan masyarakat. Proses tersebut memberikan kesempatan
kepada siswa untuk mengembangkan potensi mereka menjadi kemampuan
yang semakin lama semakin meningkat dalam membangun bertumbuhnya
sikap (spiritual dan sosial), pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan
dirinya untuk hidup dan untuk bermasyarakat, berbangsa, serta berkontribusi
pada kesejahteraan hidup umat manusia. Dengan demikian sekolah

33
bekerjasama dengan keluarga dan masyarakat dalam rangka membangun
karakter bangsa.
Sekolah merupakan tempat kedua pendidikan siswa yang dilakukan melalui
program intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Kegiatan
intrakurikuler dilaksanakan melalui mata pelajaran, sedangkan kokurikuler
dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan di luar sekolah yang terkait langsung
dengan mata pelajaran, misalnya tugas individu, tugas kelompok, dan
pekerjaan rumah berbentuk proyek atau bentuk lainnya. Adapun kegiatan
ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh peserta didik
di luar jam belajar kurikulum standar sebagai perluasan dari kegiatan
kurikulum dan dilakukan di bawah bimbingan sekolah dengan tujuan untuk
mengembangkan kepribadian, bakat, minat, dan kemampuan peserta didik
yang lebih luas atau di luar minat yang dikembangkan oleh kurikulum.
Keluarga merupakan tempat pertama bersemainya bibit sikap (spiritual dan
sosial), pengetahuan, dan keterampilan peserta didik. Oleh karena itu, peran
keluarga tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh sekolah dalam membangun
karakter bangsa. Sedangkan masyarakat merupakan salah satu tempat
berlangsungya pendidikan yang beragam yang perlu diselaraskan antara satu
dengan yang lain, misalnya media massa, bisnis industri, organisasi
kemasyarakatan, dan lembaga keagamaan. Untuk itu para tokoh masyarakat
dapat saling berkoordinasi dan sinkronisasi dalam memainkan perannya guna
mendukung proses pembelajaran yang tengah dijalani siswa.
Siswa adalah subjek yang memiliki kemampuan untuk secara aktif
mencari, mengolah, mengkonstruksi, dan menggunakan pengetahuan. Untuk
itu pembelajaran harus berkenaan dengan kesempatan yang diberikan kepada
siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan dalam proses kognitifnya. Agar
benar- benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, maka siswa
perlu didorong untuk bekerja memecahkan masalah, menemukan segala
sesuatu untuk dirinya, dan berupaya keras mewujudkan ide-idenya.
Pengalaman belajar ini nantinya akan diterapkan ke dalam kehidupan sehari-
hari di masyarakat dan sebaliknya siswa dapat memanfaatkan masyarakat
sebagai sumber belajar. Siswa membangun pengetahuan, keterampilan, dan
sikap serta menerapkannya dalam berbagai situasi kehidupan baik di sekolah,
keluarga, maupun masyarakat. Oleh karena itu, pembelajaran ditujukan untuk

34
mengembangkan potensi siswa agar memiliki kemampuan hidup sebagai
pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovaif, dan
afektif, serta mampu berkontribusi pada kehidupan masyarakat, berbangsa,
bernegara, dan peradaban dunia. Singkatnya, keterjalinan, keterpaduan, dan
konsistensi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat harus diupayakan dan
diperjuangkan secara terus menerus sebagai tripusat pendidikan sekaligus
menjadi sumber belajar yang saling menunjang.
Karakteristik proses pembelajaran di SMA secara keseluruhan
berbasis mata pelajaran. Proses pembelajaran sepenuhnya diarahkan pada
pengembangan tiga ranah, sebagaimana tercantum pada Tabel berikut.
Tabel . Gradasi Sikap, Pengetahuan, dan Keterampilan

Tabel 3.8. Gradasi Sikap,Pengetahuan dan Keterampilan


Kegiatan pembelajaran menggunakan prinsip sebagai berikut.
1. Siswa difasilitasi untuk mencari tahu dan belajar dari berbagai sumber
belajar.
2. Proses pembelajaran menggunakan pendekatan ilmiah, berbasis
kompetensi, berbasis keterampilan aplikatif, dan terpadu.

35
3. Pembelajaran yang menekankan pada jawaban divergen yang memiliki
kebenaran multi dimensi.
4. Peningkatan keseimbangan, kesinambungan, dan keterkaitan antara hard-
skills dan soft-skills.
5. Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan
siswa sebagai pembelajar sepanjang hayat.
6. Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan
(ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan(ing madyo mangun
karso), dan mengembangkan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran
(tutwurihandayani);
7. Pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat.
8. Pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru,
siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas.
9. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan
efisiensi dan efektivitas pembelajaran.
10. Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya siswa.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan
pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dikembangkan dari silabus untuk
mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai
Kompetensi Dasar (KD). Setiap pendidik pada satuan pendidikan
berkewajiban menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) secara
lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif,
inspiratif, menyenangkan, menantang, efisien, memotivasi peserta didik
untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan
fisik serta psikologis peserta didik. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) disusun berdasarkan Kompetensi Dasar (KD) atau subtema yang
dilaksanakan 1 (satu) kali pertemuan atau lebih.
Komponen RPP terdiri atas:
a. Identitas (nama satuan pendidikan; mata pelajaran atau tema/subtema;
kelas/semester; materi pokok; alokasi waktu ditentukan sesuai dengan
keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar dengan

36
mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia dalam silabus
dan KD yang harus dicapai;
b. Tujuan Pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan KD, dengan
menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur,
yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan;
c. Kompetensi Dasar (KD) dan Indikator Pencapaian Kompetensi(IPK);
d. Materi Pembelajaran, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang
relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan
indikator ketercapaian kompetensi;
e. Metode Pembelajaran, digunakan oleh pendidik untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai
KD yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan KD yang
akan dicapai;
f. Media Pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk
menyampaikan materi pelajaran;
g. Sumber Belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam
sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan;
h. Langkah-langkah Pembelajaran dilakukan melalui tahapan pendahuluan,
inti, dan penutup; dan
i. Penilaian Hasil Pembelajaran.
Dengan demikian, maka Format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
dapat dilihat pada Lampiran Lampiran 8.

8.2. Lembar Kerja Siswa (LKS)


Student Work Sheet atau Lembar Kegiatan / Kerja Siswa (LKS)
adalah lembaran-lembaran berisi tugas yg harus dikerjakan oleh siswa.
Lembaran kegiatan yang berisi petunjuk, langkah-langkah untuk
menyelesaikan suatu tugas.
Lembar kegiatan dapat digunakan untuk semua mata pelajaran.
Tugas-tugas yang diberikan kepada siswa dapat berupa teoritis/tugas-tugas
praktis.
Langkah-langkah penulisan Lembar Kegiatan Siswa (LKS):

37
a. Melakukan analisis kurikulum: Kompetensi Inti (KI),Kompetensi
Dasar ( KD), Materi Pokok,Tujuan Pembelajaran, dan Indikato
Pencapaian Kompetensi (IPK)
b. Menyusun peta kebutuhan Lembar Kegiatan Siswa (LKS)
c. Menentukan judul-judul Lembar Kegiatan Siswa (LKS)
d. Menulis Lembar Kegiatan Siswa (LKS)
e. Menentukan alat penilaian
Struktur Lembar Kegiatan Siswa (LKS) secara umum Komponennya,sebagai
berikut:
a. Judul,mapel,semester,tempat
b. Petunjuk belajar
c. Kompetensi yang akan dicapai
d. Indikator
e. Infomasi pendukung/Langkah kerja
f. Tugas-tugas dan langkah-langkah kerja
g. Penilaian (soal)
Format LKS.Lampiran 9.
Struktur Lembar Kegiatan Siswa (LKS),dapat juga seperti berikut ini:
Alternatif (i)
Judul : ……………..
a. KD
b. Indikator
c. Alat dan bahan
d. Prosedur kerja
e. Kesimpulan/rangkuman
Atau:
Alternatif (ii)
Judul : ………………
a. Alat dan Bahan
b. Prosedur Kerja
c. Pertanyaan
d. Kesimpulan/ rangkuman

9. Agenda Harian Guru


38
Fungsi Agenda Harian Guru adalah sebagaimana kita mengartikan kata "agenda" yakni
mengagendakan atau menjadwalkan teknis kegiatan pembelajaran yang akan diajarkan pada
pembelajaran yang akan datang. Didalam format agenda harian guru terdapat kolom seperti
yang tertera dalam Tabel 3.9 di bawah ini.
AGENDA HARIAN GURU
Mata Pelajaran : ………
Kelas/ Semester : ...........

Jam Ki, Kd, Situasi Dan Presentasi


Hari/ Kehadiran Refleksi
No Ke…/ Bahan Kondisi Ketercapaian
Tanggal Siswa Guru
Kelas Ajar KBM Pembelajaran

1
2
3
4
5
6

Mengetahui …………, ………… 2017


Kepala Sekolah, Guru Mata Pelajaran,

………………… …………………
NIP. NIP.
.
Penjelasan Pengisian Kolom pada Agenda Harian Guru.
1. Nomor diisikan nomor urut sesuai urutan yang benar.
2. Hari/Tanggal diisi sesuai dengan hari dan tanggal yang menjadi waktu pelaksanaan
Proses Belajar Mengajar sesuai jadwal yang dimiliki.
3. Jam ke… dan Kelas diisi sesuai dengan waktu/jam pembelajaran yang berlangsung dan
di kelas mana pembelajaran berlangsung sesuai dengan jadwal mengajar dari guru yang
bersangkutan.
4. KI, KD, dan Bahan Ajar diisi sesuai dengan KI, KD dan materi ajar yang tercantum
dalam silabus/RPP dengan merujuk pada SKL, Standar Isi dan Standar Proses.
5. Situasi dan Kondisi KBM diisi dengan scenario pembelajaran seperti metode, strategi,
teknik, pendekatan dan media pembelajaran yang digunakan sesuai dengan RPP yang
dirancang untuk pembelajaran saat itu.
6. Presentasi Ketercapaian Pembelajaran diisi dengan catatan yang berhubungan dengan
pencapaian pembelajaran yang diranang dalam RPP dalam hubungan dengan kognitif,
afektif dan psikomotor siswa.
7. Kehadiran siswa diisi sesuai dengan presentasi kehadiran siswa yang hadir pada saat
pembelajaran berlangsung (sakit, ijin, tanpa berita).

39
8. Refleksi guru diisi dengan keberhasilan dan kegagalan serta langkah-langkah strategis
yang akan dilakukan oleh guru untuk memperbaiki PBM yang akan datang.
Untuk Agenda Harian Guru selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 10 Buku Kerja
Guru.

10. Daftar Hadir Peserta Didik


Pengertian Absensi Kartu Hadir ialah dokumen yang mencatat guru atau juga
siswa di sekolah.
Untuk mencatatakan kehadiran siswa dalam proses belajar mengajar, guru wajib
mengisi daftar hadir pada saat melaksanakan proses pembelajaran di kelas untuk
mengetahui kehadiran siswa dalam kurun waktu tertentu dan setelah selesai bulan
berjalan dihitung kehadiran dan ketidakhadiran siswa untuk dipresentasikan
presentasi kehadiran siswa baik selama satu bulan, atau untuk siklus satu
semester.
Presentasi kehadiran siswa dihitung dari :
1. TE = Tanggal bulan berjalan hari efektif
2. H = Jumlah Kehadiran
3. % = Presentasi Kehadiran
Sebagai Contoh : Untuk bulan Agustus 2017 Hari efektif sebanyak 27 hari, dan
siswa atas nama Jermias Paulus hadir sebanyak 20 hari di sekolah untuk
mengikuti tatap muka dalam kelas, sehingga perhitungannya adalah sebagai
berikut :
Presentasi Kehadiran Jermias Paulus : H = 20/TE = 27*100 = 74,07%
Artinya untuk bulan Agustus presentasi kehadiran Jermias Paulus addalah
74,07%.
Untuk mendapatkan presentasi kehadiran selama satu semester dihitung sebagai
berikut jumlah presentasi kehadiran setiap bulan selama 6 (enam) bulan di bagi
dengan 6 (enam) untuk mendapatkan presentasi kehadiran. Sebagai contoh untuk
Semester I (satu) dari bulan Juli sampai dengan Desember 2017 adalah sebagai
berikut (74,07% + 74,07% + 74,07% + 74,07% + 74,07% + 74,07% = 444,42.
Untuk menghitung presentasi kehadiran Jermias Paulus selama Semester I Tahun
Pelajaran 2017/2018 di dapat dari 444,42/6*100 =74,07.
Daftar hadir dapat dilihat pada lampiran 11 Buku Kerja Guru.

40
11. Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik
Umumnya Penilaian hasil belajar peserta didik meliputi tiga jenis yaitu:
Penilaian Sikap, Penilaian Pengetahuan, dan Penilaian Keterampilan. Uraian
ketiga jenis Penilaian sebagai berikut:
11.1. Penilaian Sikap
a. Sikap Spiritual
Penilaian sikap spiritual dilakukan untuk mengetahui perkembangan
sikap peserta didik dalam menghargai, menghayati, dan mengamalkan ajaran
agama yang dianutnya serta toleransi terhadap agama lain. Indikator sikap
spiritual pada mata pelajaran PABP dan PPKn diturunkan dari KD pada KI-1
dengan memperhatikan butir-butir nilai sikap yang tersurat. Sementara itu,
penilaian sikap spiritual yang dilakukan oleh guru mata pelajaran lain
dirumuskan dalam perilaku beragama secara umum.
Berikut contoh indikator sikap spiritual yang dapat digunakan untuk
semua mata pelajaran dalam penilaian sikap spiritual: (1) berdoa sebelum dan
sesudah melakukan kegiatan. (2) menjalankan ibadah sesuai dengan agama
yang dianut. (3) memberi salam pada saat awal dan akhir kegiatan. (4)
bersyukur atas nikmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa. (5) mensyukuri
kemampuan manusia dalam mengendalikan diri. (6) bersyukur ketika
berhasil mengerjakan sesuatu. (7) berserah diri (tawakal) kepada Tuhan
setelah berikhtiar atau melakukan usaha. (8) menjaga lingkungan hidup di
sekitar satuan pendidikan. (9) memelihara hubungan baik dengan sesama
umat ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. (10) bersyukur kepada Tuhan Yang
Maha Esa sebagai bangsa Indonesia. (11) menghormati orang lain yang
menjalankan ibadah sesuai dengan agama yang dianut.
Dari contoh indikator umum tersebut dapat dikembangkan secara spesifik
melalui mata pelajaran PADB disesuaikan dengan KD pada KI-1. Lampiran
13.Contoh Format Sikap Sosial).
b. Sikap Sosial
Penilaian sikap sosial dilakukan untuk mengetahui perkembangan
sikap sosial peserta didik dalam menghargai, menghayati, dan berperilaku
jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun,
percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan
alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaanya.

41
Indikator untuk KD dari KI-2 mata pelajaran PABP dan PPKn
dirumuskan dalam perilaku spesifik sebagaimana tersurat di dalam rumusan
KD mata pelajaran tersebut. Sementara indikator sikap sosial mata pelajaran
lainnya dirumuskan dalam perilaku sosial secara umum dan dikembangkan
terintegrasi dalam pembelajaran KD dari KI-3 dan KI-4. Berikut contoh
indikator-indikator umum sikap sosial.
1) Jujur, yaitu perilaku dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan
pekerjaan.
Indikator jujur antara lain:
(a) tidak berbohong;
(b) tidak menyontek dalam mengerjakan ujian/ulangan;
(c) tidak menjadi plagiat (mengambil/menyalin karya orang lain tanpa
menyebutkan sumber);
(d) mengungkapkan perasaan apa adanya;
(e) menyerahkan kepada yang berwenang barang yang ditemukan;
(f) membuat laporan berdasarkan data atau informasi apa adanya; dan
(g) mengakui kesalahan atau kekurangan yang dimiliki.
2) Disiplin, yaitu tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh
pada berbagai ketentuan dan peraturan. Indikator disiplin antara lain:
(a) datang tepat waktu;
(b) patuh pada tata tertib atau aturan bersama/satuan pendidikan; dan
(c) mengerjakan/mengumpulkan tugas sesuai dengan waktu yang
ditentukan, mengikuti kaidah berbahasa tulis yang baik dan benar.
3) Tanggung jawab, yaitu sikap dan perilaku seseorang untuk
melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan,
terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya),
negara, dan Tuhan Yang Maha Esa. Indikator tanggung jawab antara
lain:
(a) melaksanakan tugas individu dengan baik;
(b) menerima risiko dari tindakan yang dilakukan;
(c) tidak menyalahkan/menuduh orang lain tanpa bukti akurat;
(d) mengembalikan barang pinjaman;
(e) mengakui dan meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan;
(f) menepati janji;

42
(g) tidak menyalahkan orang lain untuk kesalahan tindakan sendiri; dan
(h) melaksanakan apa yang pernah dikatakan tanpa disuruh/diminta.
4) Toleransi, yaitu sikap dan tindakan yang menghargai keberagaman latar
belakang, pandangan, dan keyakinan. Indikator toleransi antara lain:
(a) tidak mengganggu teman yang berbeda pendapat;
(b) menerima kesepakatan meskipun ada perbedaan pendapat;
(c) dapat menerima kekurangan orang lain;
(d) dapat memaafkan kesalahan orang lain;
(e) mampu dan mau bekerja sama dengan siapa pun yang memiliki
keberagaman
(f) latar belakang, pandangan, dan keyakinan.
(g) tidak memaksakan pendapat atau keyakinan diri pada orang lain.
(h) kesediaan untuk belajar dari (terbuka terhadap) keyakinan dan
gagasan orang lain agar dapat memahami orang lain lebih baik. Dan
terbuka terhadap atau kesediaan untuk menerima sesuatu yang baru.
5) Gotong royong, yaitu bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai
tujuan bersama dengan saling berbagi tugas dan tolong-menolong secara
ikhlas. Indikator gotong royong antara lain:
(a) terlibat aktif dalam kerja bakti membersihkan kelas atau lingkungan
sekolah;
(b) kesediaan melakukan tugas sesuai kesepakatan;
(c) bersedia membantu orang lain tanpa mengharap imbalan; aktif dalam
kerja kelompok;
(d) memusatkan perhatian pada tujuan kelompok;
(e) tidak mendahulukan kepentingan pribadi;
(f) mencari jalan untuk mengatasi perbedaan pendapat/pikiran antara diri
sendiri dengan orang lain; dan
(g) mendorong orang lain untuk bekerja sama demi mencapai tujuan
bersama.
6) Santun atau sopan, yaitu sikap baik dalam pergaulan, baik dalam
berbicara maupun bertingkah laku. Norma kesantunan bersifat relatif,
artinya yang dianggap baik/santun pada tempat dan waktu tertentu bisa
berbeda pada tempat dan waktu yang lain. Indikator santun atau sopan
antara lain:

43
(a) menghormati orang yang lebih tua;
(b) tidak berkata kotor, kasar, dan takabur;
(c) tidak meludah di sembarang tempat;
(d) tidak menyela/memotong pembicaraan pada waktu yang tidak tepat;
(e) mengucapkan terima kasih setelah menerima bantuan orang lain;
(f) memberisalam, senyum, dan menyapa;
(g) meminta izin ketika akan memasuki ruangan orang lain atau
menggunakan barang milik orang lain; dan
(h) memperlakukan orang lain dengan baik sebagaimana diri sendiri
ingin diperlakukan baik.
7) Percaya diri, yaitu suatu keyakinan atas kemampuan sendiri untuk
melakukan kegiatan atau tindakan. Indikator percaya diri antara lain:
(a) berpendapat atau melakukan kegiatan tanpa ragu-ragu;
(b) mampu membuat keputusan dengan cepat;
(c) tidak mudah putus asa;
(d) tidak canggung dalam bertindak;
(e) berani presentasi di depan kelas; dan
(f) berani berpendapat, bertanya, atau menjawab pertanyaan.
Indikator untuk setiap butir sikap dapat dikembangkan sesuai kebutuhan
satuan pendidikan. Indikator-indikator tersebut dapat berlaku untuk semua
mata pelajaran.
Dari contoh indikator umum tersebut dapat dikembangkan secara spesifik
melalui mata pelajaran PPKn disesuaikan dengan KD pada KI-1.
Pelaksanaan Penilaian Sikap sebagai berikut:
Penilaian sikap dilakukan oleh guru mata pelajaran (selama proses
pembelajaran pada jam pelajaran) dan/atau di luar jam pembelajaran, guru
bimbingan konseling (BK), dan wali kelas (selama peserta didik di luar jam
pelajaran), serta warga sekolah (peserta didik). Penilaian sikap spiritual dan
sosial dilakukan secara terus-menerus selama satu semester.
Guru mata pelajaran, guru BK, dan wali kelas mengikuti
perkembangan sikap spiritual dan sosial, serta mencatat perilaku peserta
didik yang sangat baik atau kurang baik dalam jurnal segera setelah
perilaku tersebut teramati atau menerima laporan tentang perilaku peserta
didik. Apabila seorang peserta didik pernah memiliki catatan sikap yang

44
kurang baik, namun pada kesempatan lain peserta didik tersebut telah
menunjukkan perkembangan sikap (menuju atau konsisten) baik, maka di
dalam jurnal harus ditulis bahwa sikap peserta didik tersebut telah baik atau
bahkan sangat baik. Pencatatan pada jurnal tidak hanya sikap yang sangat
baik atau kurang baik saja, tetapi juga perubahan sikap dari kurang baik
menjadi baik atau sangat baik.
Sikap dan perilaku peserta didik yang teramati oleh pendidik ini dan
tercacat dalam jurnal, akan lebih baik jika dikomunikasikan kepada peserta
didik yang bersangkutan dan kepadanya diminta untuk paraf di jurnal,
sebagai bentuk “pengakuan” sekaligus merupakan upaya agar peserta didik
yang bersangkutan segera menyadari sikap dan perilakunya serta berusaha
untuk menjadi lebih baik.
Contoh Format Penilaian Sikap Sosial (Lampiran 14.Contoh Penilaian Sikap
Sosial)

11.2 . Penilaian Pengetahuan


Berbagai teknik penilaian pengetahuan dapat digunakan sesuai dengan
karakteristik masing-masing KD. Teknik yang biasa digunakan adalah tes tertulis,
tes lisan, dan penugasan. Skema penilaian pengetahuan dapat dilihat pada gambar
berikut.

45
Gambar 3.1 : Skema Penilaian Pengetahuan
Berikut penjelasannya:
a. Tes Tertulis
Tes tertulis adalah tes dengan soal dan jawaban disajikan secara tertulis untuk
mengukur atau memperoleh informasi tentang kemampuan peserta tes. Tes tertulis
menuntut respons dari peserta tes yang dapat dijadikan sebagai representasi dari
kemampuan yang dimiliki. Instrumen tes tertulis dapat berupa soal pilihan ganda,
isian, jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan uraian. Pengembangan
instrumen tes tertulis mengikuti langkah-langkah sebagai berikut.
1) Menetapkan tujuan tes, yaitu untuk seleksi, penempatan, diagnostik, formatif,
atau sumatif.
2) Menyusun kisi-kisi, yaitu spesifikasi yang digunakan sebagai acuan menulis soal.
Kisi-kisi memuat rambu-rambu tentang kriteria soal yang akan ditulis, meliputi
KD nyang akan diukur, materi, indikator soal, bentuk soal, dan nomor soal.
Dengan adanya kisi-kisi, penulisan soal lebih terarah sesuai dengan tujuan tes
dan proporsi soal per KD atau materi yang hendak diukur lebih tepat.
3) Menulis soal berdasarkan kisi-kisi dan kaidah penulisan butir soal.
4) Menyusun pedoman penskoran sesuai dengan bentuk soal yang digunakan. Pada
soal pilihan ganda, isian, menjodohkan, dan jawaban singkat disediakan kunci
jawaban karena jawaban dapat diskor dengan objektif. Sedangkan untuk soal
uraian disediakan pedoman penskoran yang berisi alternatif jawaban, kata-kata
kunci (keywords), dan rubrik dengan skornya.
5) Melakukan analisis kualitatif (telaah soal) sebelum soal diujikan.
Format Kisi-kisi dan Contohnya dapat dibaca pada Lampiran 19.
Setelah menyusun kisi–kisi, selanjutnya mengembangkan butir soal dengan
memperhatikan kaidah penulisan butir soal yang meliputi substansi/materi,
konstruksi, dan bahasa.
1) Tes tulis bentuk pilihan ganda
Butir soal pilihan ganda terdiri atas pokok soal (stem) dan pilihan jawaban
(option). Untuk tingkat SMA biasanya digunakan 5 (lima) pilihan
jawaban. Dari kelima pilihan jawaban tersebut, salah satu adalah kunci
(key) yaitu jawaban yang benar atau paling tepat, dan lainnya disebut
pengecoh (distractor).
Kaidah penulisan soal bentuk pilihan ganda sebagai berikut.
(a) Substansi/Materi

46
 Soal sesuai dengan indikator (menuntut tes bentuk PG).
 Tidak bersifat SARA dan PPPK (Suku/Agama/ Ras/Antar
golongan/ Pornografi/Politik/Propaganda/Kekerasan)
 Materi yang diukur sesuai dengan kompetensi (UKRK: urgensi,
keberlanjutan, relevansi, dan keterpakaian).
 Pilihan jawaban homogen dan logis.
 Hanya ada satu kunci jawaban yang tepat.
(b) Konstruksi
 Pokok soal dirumuskan dengan singkat, jelas, dan tegas.
 Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban merupakan pernyataan
yang diperlukan saja.
 Pokok soal tidak memberi petunjuk kunci jawaban.
 Pokok soal tidak menggunakan pernyataan negatif ganda.
 Gambar/grafik/tabel/diagram dan sebagainya jelas dan berfungsi.
 Panjang rumusan pilihan jawaban relatif sama.
 Pilihan jawaban tidak menggunakan pernyataan "semua pilihan
jawaban benar” atau “semua pilihan jawaban salah”.
 Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu disusun
berdasarkan besar kecilnya angka atau kronologis kejadian.
 Butir soal tidak bergantung pada jawaban soal sebelumnya.
(c) Bahasa
 Menggunakan bahasa sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia,
kecuali
 untuk mata pelajaran bahasa Asing dan/atau bahasa daerah.
 Menggunakan bahasa yang komunikatif.
 Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat.
 Pilihan jawaban tidak mengulang kata/kelompok kata yang
sama, kecuali merupakan satu kesatuan pengertian.
 Contoh butir soal pilihan ganda mata pelajaran kimia
berdasarkan contoh kisi-kisi di atas.
Rumusan butir soal:
Perhatikan data percobaan uji larutan berikut!
Tabel Model hasil percobaan

47
Tabel 3.10. Model Hasil Percobaan
Pasangan senyawa yang merupakan larutan elektrolit kuat dan non elektrolit
berturut-turut ditunjukkan oleh larutan nomor ….
A. (1) dan (2)
B. (2) dan (3)
C. (3) dan (5)
D. (4) dan (5)
E. (5) dan (1)
Kunci: E
2) Tes tulis bentuk uraian
Tes tulis bentuk uraian atau esai menuntut peserta didik untuk
mengorganisasikan dan menuliskan jawaban dengan kalimatnya sendiri.
Kaidah penulisan soal bentuk uraian sebagai berikut.
(a) Substansi/materi
 Soal sesuai dengan indikator (menuntut tes bentuk uraian).
 Tidak bersifat SARA dan PPPK (Suku/Agama/Ras/Antargolongan/
 Pornografi/ Politik/Propaganda/Kekerasan).
 Batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan sesuai.
 Materi yang diukur sesuai dengan kompetensi.
 Isi materi yang ditanyakan sesuai dengan jenjang, jenis satuan
pendidikan, dan tingkat kelas.
(b) Konstruksi
 Ada petunjuk yang jelas mengenai cara mengerjakan soal.
 Rumusan kalimat soal/pertanyaan menggunakan kata tanya atau perintah
yang menuntut jawaban terurai.
 Gambar/grafik/tabel/diagram dan sejenisnya harus jelas dan berfungsi.
 Ada pedoman penskoran.

48
(c) Bahasa
 Rumusan kalimat soal/pertanyaan komunikatif.
 Butir soal menggunakan bahasa Indonesia yang baku, kecuali untuk mata
pelajaran bahasa asing dan/atau bahasa daerah.
 Tidak mengandung kata-kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda
atau salah pengertian.
 Tidak mengandung kata yang menyinggung perasaan.
 Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat.
Contoh Rumusan butir soal uraian berdasarkan contoh kisi-kisi di atas.
Perhatikan informasi berikut untuk menjawab pertanyaan nomor 31.
Peserta didik kelas X dari SMA P Jakarta secara berkelompok melakukan percobaan
“Uji Kepolaran Senyawa”terhadap berbagai bahan.Setelah melakukan pengamatan
hasil percobaan, merekamencatat data, mengolah, dan menginterpretasikan.
Selanjutnya perwakilan kelompok menyajikan hasil percobaan di depan kelas dan
ditanggapi kelompok lain.
Berikut ini adalah data dan interpretasi hasil percobaan yang disajikan oleh kelompok
3. Tabel 3.11. Model hasil percobaan

Kelompok 1 menanggapi hasil percobaan kelompok 3 yang berbeda dengan


hasil percobaan mereka. Menurut kelompok 1 ada bahan yang perlu diperiksa
ulang karena hasil pengamatan kurang tepat, sehingga kesimpulan meragukan.
Pertanyaan: Tunjukkan data pengamatan yang kurang tepat dan berilah 5
alasan terhadap jawabanmu yang berkaitan dengan kepolaran!
b. Tes Lisan
Tes lisan merupakan pemberian soal/pertanyaan yang menuntut peserta didik
menjawab secara lisan, dan dapat diberikan secara klasikal ketika pembelajaran.
Jawaban pesertadidik dapat berupa kata, frase, kalimat maupun paragraf. Tes lisan
menumbuhkan sikap peserta didik untuk berani berpendapat. Rambu-rambu
pelaksanaan tes lisan sebagai berikut.
(a) Tes lisan dapat digunakan untuk mengambil nilai (assessment of learning) dan
dapat juga digunakan sebagai fungsi diagnostik untuk mengetahui pemahaman

49
peserta didik terhadap kompetensi dan materi pembelajaran (assessment for
learning).
(b) Pertanyaan harus sesuai dengan tingkat kompetensi dan lingkup materi pada
kompetensi dasar yang dinilai.
(c) Pertanyaan diharapkan dapat mendorong peserta didik dalam mengonstruksi
jawaban sendiri.
(d) Pertanyaan disusun dari yang sederhana ke yang lebih komplek.
Contoh pertanyaan untuk tes lisan dalam pembelajaran.
Mata Pelajaran : Biologi
Kelas/Semester : X / 1
Tahun Pelajaran : 2016/2017
Kompetensi Dasar : 3.1 Menjelaskan ruang lingkup biologi (permasalahan
Pada berbagai obyek biologi dan tingkat organisasi
kehidupan),melalui penerapan metode ilmiah dan
prinsip keselamatan kerja.
Indikator Soal : 1. Peserta didik mampu menyebutkan cabang-cabang biologi
yang berhubungan dengan informasi yang diberikan.
2. Peserta didikmampu menjelaskan urutan tingkat organisasi
kehidupan

Pertanyaan :
1.Salah satu penyakit degeneratif pada manusia usia lanjut (manula)
adalah diabetes mellitus yang berkaitan dengan menurunnya fungsi
pankreas untuk menghasilkan insulin.
2.Sebutkan cabang-cabang biologi yang berhubungan denganpenyakit
tersebut.
3.Jelaskan organisasi kehidupan dari tingkat yang paling kecil sampai
tingkat paling besar!
c. Penugasan
Penugasan adalah pemberian tugas kepada peserta didik untuk mengukur
dan/atau meningkatkan pengetahuan. Penugasan yang digunakan untuk
mengukur pengetahuan [(assessment of learning) dapat dilakukan setelah

50
proses pembelajaran sedangkan penugasan yang digunakan untuk
meningkatkan pengetahuan (assessment for learning) diberikan sebelum
dan/atau selama proses pembelajaran. Penugasan dapat berupa proyek
yang dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan
karakteristik tugas.
Penugasan lebih ditekankan pada pemecahan masalah dan tugas produktif
lainnya.
Rambu-rambu penugasan.
1. Tugas mengarah pada pencapaian indikator hasil belajar.
2. Tugas dapat dikerjakan oleh peserta didik, selama proses
pembelajaran atau merupakan bagian dari pembelajaran mandiri.
3. Pemberian tugas disesuaikan dengan taraf perkembangan peserta
didik.
4. Materi penugasan harus sesuai dengan cakupan kurikulum.
5. Penugasan ditujukan untuk memberikan kesempatan kepada peserta
didik menunjukkan kompetensi individualnya meskipun tugas
diberikan secara kelompok.
6. Pada tugas kelompok, perlu dijelaskan rincian tugas setiap anggota
kelompok.
7. Tampilan kualitas hasil tugas yang diharapkan disampaikan secara
jelas.
8. Penugasan harus mencantumkan rentang waktu pengerjaan tugas.
Contoh penugasan
Mata Pelajaran : Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan
Kelas/Semester : XI /1
Tahun Pelajaran : 2016/2017
Kompetensi Dasar:
Menganalisis keterampilan gerak salah satu permainan bola besar serta
menyusun rencana perbaikan.
Indikator:
Menganalisis taktik dan strategi (pola menyerangdan bertahan) permainan
sepakbola.
Rincian tugas:

51
1. Amatilah/tontonlah pertandingan sepak bola di lapangan/televisi/internet, atau
media lain.
2. Perhatikan taktik dan strategi yang muncul, baik pertahanan maupun
penyerangan dalam pertandingan tersebut!
3. Buatlah laporan hasil pengamatanmu dengan tampilan yang menarik dan
menggunakan bahasa Indonesia yang benar sehingga mudah dipahami.
Laporan meliputi pendahuluan (tujuan penyusunan laporan, nama
pertandingan, tempat, waktu, dan tim yang bertanding) dan pelaksanaan (hasil
pengamatan taktik dan strategi permainan).
4. Laporan diserahkan selambat-lambatnya satu minggu setelah pemberian
tugas.

Contoh rubrik penilaian laporan tugas Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan


Kesehatan (Lampiran 17)

Tabel 3.12. Contoh Rubrik Penilaian Laporan Tugas


11.3.Keterampilan

52
Indikator untuk keterampilan diturunkan dari KD pada KI-4 dengan
menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, antara
lain: menggabungkan, mengkontruksi, merancang, membuat sketsa,
memperagakan, menulis laporan, menceritakan kembali, mempraktikkan,
mendemonstrasikan, dan menyajikan.
Berikut ini contoh perumusan indikator dari mata pelajaran Matematika
kelas X Umum.

Tabel 3.13. Contoh Perumusan Indikator KD 4.3.


Pelaksanaan penilaian pengetahuan dilakukan untuk menilai proses
dan hasil belajar peserta didik. Penilaian dilakukan dalam bentuk penilaian
harian dan dapat juga dilakukan penilaian tengah semester melalui tes
tertulis, tes lisan, maupun penugasan. Cakupan penilaian harian meliputi
seluruh indikator dari satu kompetensi dasar atau lebih sedangkan cakupan
penugasan disesuaikan dengan karakteristik kompetensi dasar.
Pelaksanaan penilaian keterampilan dilakukan untuk menilai proses
dan hasil belajar peserta didik. Penilaian proses dilakukan melalui penilaian
praktik selama proses pembelajaran. Sedangkan penilaian hasil dilakukan
melalui penilaian produk, penilaian proyek, dan penilaian portofolio yang
diberikan setelah pembelajaran. Penilaian keterampilan dapat juga
dilakukan melalui penilaian harian sesuai karakteristik kompetensi dasar.
1) Penilaian kinerja
Pelaksanaan penilaian kinerja ditentukan oleh guru berdasarkan
tuntutan KD dan dapat dilakukan untuk satu atau beberapa KD.
Beberapa langkah dalam melaksanakan penilaian kinerja meliputi:
(a) menjelaskan rubrik penilaian kepada peserta didik sebelum
pelaksanaan penilaian;
(b) memberikan tugas secara rinci kepada peserta didik;

53
(c) memastikan ketersediaan dan kelengkapan alat serta bahan yang
digunakan;
(d) melaksanakan penilaian selama rentang waktu yang direncanakan;
(e) membandingkan kinerja peserta didik dengan rubrik penilaian;
(f) melakukan penilaian secara individual;
(g) mencatat hasil penilaian; dan
(h) mendokumentasikan hasil penilaian.
2) Penilaian proyek
Penilaian proyek dilakukan untuk satu atau beberapa KD pada satu
mata pelajaran atau lintas mata pelajaran. Beberapa langkah dalam
melaksanakan penilaian proyek:
(a) menjelaskan rubrik penilaian kepada peserta didik sebelum
pelaksanaan penilaian;
(b) memberikan tugas kepada peserta didik;
(c) memberikan pemahaman yang sama kepada peserta didik tentang
tugas yang harus dikerjakan;
(d) melakukan penilaian selama perencanaan, pelaksanaan, dan
pelaporan proyek;
(e) memonitor pengerjaan proyek peserta didik dan memberikan
umpan balik pada setiap tahapan pengerjaan proyek;
(f) membandingkan kinerja peserta didik dengan rubrik penilaian;
(g) memetakan kemampuan peserta didik terhadap pencapaian
kompetensi minimal;
(h) memberikan umpan balik terhadap laporan yang disusun peserta
didik; dan
(i) mendokumentasikan hasil penilaian.
3) Penilaian portofolio
Penilaian portofolio dilakukan untuk melihat perkembangan
pencapaian kompetensi dan capaian akhir serta dapat digunakan untuk
mendeskripsikan capaian keterampilan dalam satu semester. Beberapa
langkah dalam melaksanakan penilaian portofolio:
(a) melaksanakan proses pembelajaran terkait tugas portofolio dan
menilai pada saat kegiatan tatap muka, tugas terstruktur atau tugas

54
mandiri tidak terstruktur, disesuaikan dengan karakteristik mata
pelajaran;
(b) melakukan penilaian portofolio berdasarkan kriteria penilaian yang
telah ditetapkan atau disepakati bersama dengan peserta didik;
(c) peserta didik mencatat hasil penilaian portofolionya untuk bahan
refleksi diri;
(d) mendokumentasikan hasil penilaian portofolio sesuai format yang
telah ditentukan;
(e) memberi umpan balik terhadap karya peserta didik secara
berkesinambungan dengan cara memberi keterangan kelebihan dan
kekurangan karya tersebut, dan perbaikannya;
(f) memberi identitas (nama dan waktu penyelesaian tugas),
mengumpulkan dan menyimpan portofolio masing-masing peserta
didik dalam satu map atau folder di rumah atau di loker sekolah;
(g) memberi kesempatan peserta didik untuk memperbaiki karya yang
dinilai belum memuaskan dan perlu perbaikan;
(h) membuat “kontrak” atau perjanjian jangka waktu perbaikan dan
penyerahan karya hasil perbaikan kepada guru;
(i) memamerkan dokumentasi kinerja dan atau hasil karya terbaik
portofolio dengan cara menempelkannya di kelas;
(j) mendokumentasikan dan menyimpan semua portofolio ke dalam
map yang telahdiberi identitas masing-masing peserta didik untuk
bahan laporan kepada sekolah danorang tua peserta didik;
(k) mencantumkan tanggal pembuatan pada setiap bahan informasi
perkembangan peserta didik sehingga dapat terlihat perbedaan
kualitas dari waktu ke waktu sebagai bahan laporan kepada
sekolah dan/atau orang tua peserta didik; dan
(l) memberikan nilai akhir portofolio masing-masing peserta didik
disertai umpan balik.

12. Analisis Hasil Belajar Peserta Didik.


Analisis Nilai Penilaian Harian (NPH), Nilai Penilaian Tengah Semester (NPTS),
dan Nilaiai Penilaian Akhir Semester (NPAS) untuk Bentuk PG dan Uraian,

55
Format Daya Serap Peserta Didik ,Program Remedial dan Pengayaan ( Termasuk
Instrumen , Analisis Penilaian Pembelajaran Remidial dan Pengayaan)
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 23 Tahun 2016 tentang
Standar Penilaian, disebutkan bahwa penilaian pendidikan pada pendidikan dasar
dan pendidikan menengah terdiri atas: 1) penilaian hasil belajar oleh Pendidik; 2)
penilaian hasil belajar oleh Satuan Pendidikan; dan; 3) penilaian hasil belajar oleh
Pemerintah. Penilaian hasil belajar oleh pendidikan mencakup, beberapa hal
berikut:
a. Bentuk penilaian berupa penilaian harian dan dapat juga penilaian tengah
semester.
b. Aspek yang dinilai terdiri dari sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
c. Laporan penilaian sikap berupa predikat dan deskripsi.
d. Laporan penilaian pengetahuan berupa angka, predikat, dan deskripsi.
e. Laporan penilaian keterampilan berupa angka, predikat, dan deskripsi.
Penilaian hasil belajar oleh pendidik adalah proses pengumpulan
informasi/data tentang capaian pembelajaran peserta didik dalam aspek sikap,
pengetahuan, dan keterampilan yang dilakukan secara terencana dan sistematis.
Penilaian hasil belajar oleh pendidik di SMA dilaksanakan untuk memenuhi fungsi
formatif dan sumatif dalam bentuk penilaian harian dan dapat juga dilakukan
penilaian tengah semester. Penilaian tengah semester merupakan penilaian yang
dilakukan oleh pendidik yang cakupan materinya terdiri atas beberapa KD dan
pelaksanaannya tidak dikoordinasikan oleh satuan pendidikan. Penilaian harian
dapat berupa ulangan, pengamatan, penugasan, dan/atau bentuk lain yang
diperlukan yang digunakan untuk:
1) mengukur dan mengetahui pencapaian kompetensi peserta didik;
2) menetapkan program perbaikan atau pengayaan berdasarkan tingkat
penguasaan kompetensi;
3) memperbaiki proses pembelajaran; dan
4) menyusun laporan kemajuan hasil belajar.
Ulangan merupakan suatu proses yang dilakukan untuk mengukur
pencapaian kompetensi siswa secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran,
untuk memantau kemajuan, melakukan perbaikan dalam pembelajaran, dan
menentukan keberhasilan siswa.

56
Laporan penilaian sikap oleh pendidik disampaikan dalam bentuk predikat
(sangat baik, baik, cukup, atau kurang) dan dilengkapi dengan deskripsi. Laporan
penilaian pengetahuan dan keterampilan berupa angka (0-100), predikat (A, B, C,
atau D), dan deskripsi. Untuk menentukan tindak lanjut dari hasil penilaian, maka
seorang guru harus melakukan analisis mulai dari analisis butir soal.
Dalam Buku Panduan Analisis Butir Soal yang dikeluarkan oleh
Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan
Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, Tahun 2008,
disebutkan bahwa kegiatan menganalisis butir soal merupakan suatu kegiatan
yang harus dilakukan guru untuk meningkatkan mutu soal yang telah ditulis.
Kegiatan ini merupakan proses pengumpulan, peringkasan, dan penggunaan
informasi dari jawaban siswa untuk membuat keputusan tentang setiap penilaian
(Nitko, 1996: 308). Tujuan penelaahan adalah untuk mengkaji dan menelaah
setiap butir soal agar diperoleh soal yang bermutu sebelum soal digunakan. Di
samping itu, tujuan analisis butir soal juga untuk membantu meningkatkan tes
melalui revisi atau membuang soal yang tidak efektif, serta untuk mengetahui
informasi diagnostik pada siswa apakah mereka sudah/belum memahami materi
yang telah diajarkan (Aiken, 1994: 63). Soal yang bermutu adalah soal yang
dapat memberikan informasi setepat-tepatnya sesuai dengan tujuannya di
antaranya dapat menentukan peserta didik mana yang sudah atau belum
menguasai materi yang diajarkan guru.
1. Analisis Kualitatif
Pada prinsipnya analisis butir soal secara kualitatif dilaksanakan
berdasarkan kaidah penulisan soal (tes tertulis, perbuatan, dan sikap). Penelaahan
ini biasanya dilakukan sebelum soal digunakan/diujikan.
Aspek yang diperhatikan di dalam penelaahan secara kualitatif ini adalah
setiap soal ditelaah dari segi materi, konstruksi, bahasa/budaya, dan kunci
jawaban/pedoman penskorannya. Dalam melakukan penelaahan setiap butir soal,
penelaah perlu mempersiapkan bahan-bahan penunjang seperti: (1) kisi-kisi tes, (2)
kurikulum yang digunakan, (3) buku sumber.
Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk menganalisis butir soal
secara kualitatif, diantaranya adalah teknik moderator dan teknik panel. Teknik
moderator merupakan teknik berdiskusi yang di dalamnya terdapat satu orang
sebagai penengah. Teknik ini sangat baik karena setiap butir soal dilihat secara

57
bersama-sama berdasarkan kaidah penulisannya. Di samping itu, para penelaah
dipersilakan mengomentari/ memperbaiki berdasarkan ilmu yang dimilikinya.
Setiap komentar/masukan dari peserta diskusi dicatat oleh notulis. Setiap butir soal
dapat dituntaskan secara bersama-sama, perbaikannya seperti apa. Namun,
kelemahan teknik ini adalah memerlukan waktu lama untuk rnendiskusikan setiap
satu butir soal.
Teknik panel merupakan suatu teknik menelaah butir soal yang setiap butir
soalnya ditelaah berdasarkan kaidah penulisan butir soal, yaitu ditelaah dari segi
materi, konstruksi, bahasa/budaya, kebenaran kunci jawaban/pedoman
penskorannya yang dilakukan oleh beberapa penelaah. Caranya adalah beberapa
penelaah diberikan: butir-butir soal yang akan ditelaah, format penelaahan, dan
pedoman penilaian/ penelaahannya. Pada tahap awal para penelaah diberikan
pengarahan, kemudian tahap berikutnya para penelaah berkerja sendiri-sendiri di
tempat yang tidak sama. Para penelaah dipersilakan memperbaiki langsung pada
teks soal dan memberikan komentarnya serta memberikan nilai pada setiap butir
soalnya yang kriterianya adalah: baik, diperbaiki, atau diganti.
Secara ideal penelaah butir soal di samping memiliki latar belakang materi
yang diujikan, beberapa penelaah yang diminta untuk menelaah butir soal memiliki
keterampilan, seperti guru yang mengajarkan materi itu, ahli materi, ahli
pengembang kurikulum, ahli penilaian, psikolog, ahli bahasa, ahli kebijakan
pendidikan, atau lainnya.
Dalam menganalisis butir soal secara kualitatif, penggunaan format
penelaahan soal akan sangat membantu dan mempermudah prosedur
pelaksanaannya. Agar penelaah dapat dengan mudah menggunakan format
penelaahan soal, maka para penelaah perlu memperhatikan petunjuk pengisian
formatnya. Petunjuknya adalah seperti berikut ini.
1) Analisislah setiap butir soal berdasarkan semua kriteria yang tertera di dalam
format!
2) Berilah tanda cek (V) pada kolom "Ya" bila soal yang ditelaah sudah sesuai
dengan kriteria!
3) Berilah tanda cek (V) pada kolom "Tidak" bila soal yang ditelaah tidak sesuai
dengan kriteria, kemudian tuliskan alasan pada ruang catatan atau pada
teks soal dan perbaikannya.
Contoh format penelaahan butir soal: uraian, pilihan ganda, tes perbuatan dan

58
instrumen non-tes dapat dilihat pada Lampiran 13.
1) Analisis Penilaian Sikap
Pelaksanaan penilaian diawali dengan kegiatan pendidik melakukan analisis
kompetensi pada aspek pengetahuan dan keterampilan yang diturunkan dari
Standar Kompetensi Lulusan (SKL) kedalam Kompetensi Inti (KI) dan
Kompetensi Dasar (KD) kemudian dirumuskan menjadi indikator pencapaian
kompetensi (IPK) pada setiap mata pelajaran. IPK untuk KD pada KI-3 dan
KI-4 dirumuskan dalam bentuk perilaku spesifik yang terukur dan/atau dapat
diobservasi. Pada mata pelajaran PABP dan PPKn termasuk perumusan
indikator sikap dari KD-KD pada KI-1 dan KI-2. IPK dikembangkan menjadi
indicator soal yang diperlukan untuk penyusunan instrumen penilaian.
Indikator soal merupakan rambu-rambu dalam penyusunan butir soal atau
tugas.
IPK untuk aspek pengetahuan dan keterampilan merupakan ukuran,
karakteristik, atau ciriciri yang menunjukkan ketercapaian suatu KD tertentu
dan menjadi acuan dalam penilaian KD mata pelajaran. Setiap IPK dapat
dikembangkan menjadi satu atau lebih indikator soal. Sedangkan untuk
mengukur pencapaian sikap digunakan indikator penilaian sikap yang dapat
diobservasi atau diamati. Berikut akan dipaparkan pelaksanaan penilaian pada
aspek sikap baik spiritual maupun sosial, pengetahuan dan keterampilan.
a. Sikap Spiritual
Penilaian sikap spiritual dilakukan untuk mengetahui perkembangan
sikap peserta didik dalam menghargai, menghayati, dan mengamalkan ajaran
agama yang dianutnya serta toleransi terhadap agama lain. Indikator sikap
spiritual pada mata pelajaran PABP dan PPKn diturunkan dari KD pada KI-1
dengan memperhatikan butir-butir nilai sikap yang tersurat. Sementara itu,
penilaian sikap spiritual yang dilakukan oleh guru mata pelajaran lain
dirumuskan dalam perilaku beragama secara umum.
Berikut contoh indikator sikap spiritual yang dapat digunakan untuk
semua mata pelajaran dalam penilaian sikap spiritual: (1) berdoa sebelum dan
sesudah melakukan kegiatan. (2) menjalankan ibadah sesuai dengan agama
yang dianut. (3) memberi salam pada saat awal dan akhir kegiatan. (4)
bersyukur atas nikmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa. (5) mensyukuri
kemampuan manusia dalam mengendalikan diri. (6) bersyukur ketika berhasil

59
mengerjakan sesuatu. (7) berserah diri (tawakal) kepada Tuhan setelah
berikhtiar atau melakukan usaha. (8) menjaga lingkungan hidup di sekitar
satuan pendidikan. (9) memelihara hubungan baik dengan sesama umat
ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. (10) bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa
sebagai bangsa Indonesia. (11) menghormati orang lain yang menjalankan
ibadah sesuai dengan agama yang dianut.
Dari contoh indikator umum tersebut dapat dikembangkan secara spesifik
melalui mata pelajaran PADB disesuaikan dengan KD pada KI-1.
b. Sikap Sosial
Penilaian sikap sosial dilakukan untuk mengetahui perkembangan
sikap sosial peserta didik dalam menghargai, menghayati, dan berperilaku
jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun,
percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan
alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaanya.
Indikator untuk KD dari KI-2 mata pelajaran PABP dan PPKn
dirumuskan dalam perilaku spesifik sebagaimana tersurat di dalam rumusan
KD mata pelajaran tersebut. Sementara indikator sikap sosial mata pelajaran
lainnya dirumuskan dalam perilaku sosial secara umum dan dikembangkan
terintegrasi dalam pembelajaran KD dari KI-3 dan KI-4. Berikut contoh
indikator-indikator umum sikap sosial.
1) Jujur, yaitu perilaku dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan
pekerjaan.
Indikator jujur antara lain:
(a) tidak berbohong;
(b) tidak menyontek dalam mengerjakan ujian/ulangan;
(c) tidak menjadi plagiat (mengambil/menyalin karya orang lain tanpa
menyebutkan sumber);
(d) mengungkapkan perasaan apa adanya;
(e) menyerahkan kepada yang berwenang barang yang ditemukan;
(f) membuat laporan berdasarkan data atau informasi apa adanya; dan
(g) mengakui kesalahan atau kekurangan yang dimiliki.
2) Disiplin, yaitu tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada
berbagai ketentuan dan peraturan. Indikator disiplin antara lain:
(a) datang tepat waktu;

60
(b) patuh pada tata tertib atau aturan bersama/satuan pendidikan; dan
(c) mengerjakan/mengumpulkan tugas sesuai dengan waktu yang
ditentukan, mengikuti kaidah berbahasa tulis yang baik dan benar.
3) Tanggung jawab, yaitu sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan
tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri
sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara, dan
Tuhan Yang Maha Esa. Indikator tanggung jawab antara lain:
(a) melaksanakan tugas individu dengan baik;
(b) menerima risiko dari tindakan yang dilakukan;
(c) tidak menyalahkan/menuduh orang lain tanpa bukti akurat;
(d) mengembalikan barang pinjaman;
(e) mengakui dan meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan;
(f) menepati janji;
(g) tidak menyalahkan orang lain untuk kesalahan tindakan sendiri; dan
(h) melaksanakan apa yang pernah dikatakan tanpa disuruh/diminta.
4) Toleransi, yaitu sikap dan tindakan yang menghargai keberagaman latar
belakang, pandangan, dan keyakinan. Indikator toleransi antara lain:
(a) tidak mengganggu teman yang berbeda pendapat;
(b) menerima kesepakatan meskipun ada perbedaan pendapat;
(c) dapat menerima kekurangan orang lain;
(d) dapat memaafkan kesalahan orang lain;
(e) mampu dan mau bekerja sama dengan siapa pun yang memiliki
keberagaman
(f) latar belakang, pandangan, dan keyakinan.
(g) tidak memaksakan pendapat atau keyakinan diri pada orang lain.
(h) kesediaan untuk belajar dari (terbuka terhadap) keyakinan dan
gagasan orang lain agar dapat memahami orang lain lebih baik. Dan
terbuka terhadap atau kesediaan untuk menerima sesuatu yang baru.
5) Gotong royong, yaitu bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai
tujuan bersama dengan saling berbagi tugas dan tolong-menolong secara
ikhlas. Indikator gotong royong antara lain:
(a) terlibat aktif dalam kerja bakti membersihkan kelas atau lingkungan
sekolah;
(b) kesediaan melakukan tugas sesuai kesepakatan;

61
(c) bersedia membantu orang lain tanpa mengharap imbalan; aktif dalam
kerja kelompok;
(d) memusatkan perhatian pada tujuan kelompok;
(e) tidak mendahulukan kepentingan pribadi;
(f) mencari jalan untuk mengatasi perbedaan pendapat/pikiran antara diri
sendiri dengan orang lain; dan
(g) mendorong orang lain untuk bekerja sama demi mencapai tujuan
bersama.
6) Santun atau sopan, yaitu sikap baik dalam pergaulan, baik dalam berbicara
maupun bertingkah laku. Norma kesantunan bersifat relatif, artinya yang
dianggap baik/santun pada tempat dan waktu tertentu bisa berbeda pada
tempat dan waktu yang lain. Indikator santun atau sopan antara lain:
(i) menghormati orang yang lebih tua;
(j) tidak berkata kotor, kasar, dan takabur;
(k) tidak meludah di sembarang tempat;
(l) tidak menyela/memotong pembicaraan pada waktu yang tidak tepat;
(m) mengucapkan terima kasih setelah menerima bantuan orang lain;
(n) memberisalam, senyum, dan menyapa;
(o) meminta izin ketika akan memasuki ruangan orang lain atau
menggunakan barang milik orang lain; dan
(p) memperlakukan orang lain dengan baik sebagaimana diri sendiri ingin
diperlakukan baik.
7) Percaya diri, yaitu suatu keyakinan atas kemampuan sendiri untuk
melakukan kegiatan atau tindakan. Indikator percaya diri antara lain:
(a) berpendapat atau melakukan kegiatan tanpa ragu-ragu;
(b) mampu membuat keputusan dengan cepat;
(c) tidak mudah putus asa;
(d) tidak canggung dalam bertindak;
(e) berani presentasi di depan kelas; dan
(f) berani berpendapat, bertanya, atau menjawab pertanyaan.
Indikator untuk setiap butir sikap dapat dikembangkan sesuai kebutuhan
satuan pendidikan. Indikator-indikator tersebut dapat berlaku untuk semua
mata pelajaran.

62
Dari contoh indikator umum tersebut dapat dikembangkan secara spesifik
melalui mata pelajaran PPKn disesuaikan dengan KD pada KI-1.

2) Analisis Penilaian Pengetahuan


Indikator untuk pengetahuan diturunkan dari KD pada KI-3 dengan
menggunakan kata kerja operasional. Beberapa kata kerja operasional sesuai
tingkat proses berpikir yang dapat digunakan antara lain:
1) mengingat: menyebutkan, memberi label, mencocokkan, memberi nama,
member contoh, meniru, dan memasangkan.
2) memahami: menggolongkan, menggambarkan, membuat ulasan,
menjelaskan, mengekspresikan, mengidentifikasi, menunjukkan,
menemukan, membuat laporan, mengemukakan, membuat tinjauan,
memilih, dan menceritakan.
3) menerapkan: mendemonstrasikan, memperagakan, menuliskan penjelasan,
membuatkan penafsiran, mengoperasikan, mempraktikkan, merancang
persiapan, menyusun jadwal, membuat sketsa, menyelesaikan masalah,
dan menggunakan.
4) menganalisis: menilai, menghitung, mengelompokkan, menentukan,
membandingkan, membedakan, membuat diagram, menginventarisasi,
memeriksa, dan menguji.
5) mengevaluasi: membuat penilaian, menyusun argumentasi atau alasan,
menjelaskan apa alasan memilih, membuat perbandingan, menjelaskan
alasan pembelaan, memperkirakan, dan memprediksi.dan
6) mencipta/mengkreasi: mengumpulkan, menyusun, merancang,
merumuskan, mengelola, mengatur, merencanakan, mempersiapkan,
mengusulkan, dan mengulas.
Berikut contoh indikator pencapaian kompetensi yang dikembangkan
berdasarkan kompetensi dasar Matematika Umum kelas X.

Tabel 3.14. Contoh Indikator Pencapaian Kompetensi (KD 3.3.).

63
Contoh Format Analisis Pengetahuan ( Lampiran 14)
3. Analisis Penilaian Keterampilan
Indikator untuk keterampilan diturunkan dari KD pada KI-4 dengan
menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, antara lain:
menggabungkan, mengkontruksi, merancang, membuat sketsa, memperagakan,
menulis laporan, menceritakan kembali, mempraktikkan, mendemonstrasikan, dan
menyajikan.
Berikut ini contoh perumusan indikator dari mata pelajaran Matematika kelas X
Umum.

Tabel 3.15. Contoh Indikator Pencapaian Kompetensi (KD 4.3)

1. Analisis Hasil Penilaian Sikap


a. Analisis Nilai Sikap Spiritual dan Sikap Sosial
Langkah-langkah menyusun rekapitulasi penilaian sikap untuk satu semester.
1) Semua guru mata pelajaran, wali kelas, dan guru BK memberi informasi
berdasarkan jurnal yang dibuat mengenai sikap/perilaku yang sangat baik
dan/atau kurang baik dari peserta didik.
2) Wali kelas merangkum dan menyimpulkan (memberi predikat dan
merumuskan deskripsi) capaian sikap spiritual dan sosial setiap peserta didik
berdasarkan hasil kesepakatan rapat dewan guru. Predikat terdiri atas Sangat
Baik, Baik, Cukup, atau Kurang, dan deskripsi sikap ditulis dengan kalimat
positif.
3) Deskripsi yang ditulis pada sikap spiritual dan sikap sosial adalah perilaku
yang sangat baik, sedangkan sikap spiritual dan sikap sosial yang kurang baik
dideskripsikan sebagai perilaku yang perlu pembimbingan.
4) Dalam hal peserta didik yang tidak ada informasi tambahan dari semua guru
sikap peserta didik tersebut diasumsikan berperilaku baik.
5) Rekapitulasi hasil penilaian sikap spritual dan sikap sosial yang dibuat oleh
wali kelas berupa predikat dan deskripsi diisikan dalam rapor.
Berikut skema pengolahan nilai sikap.

64
Gambar 3.2. Skema Penilaian Sikap
Rambu-rambu deskripsi pencapaian sikap:
1) Sikap yang ditulis adalah sikap spritual dan sikap sosial yang
merepresentasikan ketercapaian sikap pada KI-1 dan KI-2.
2) Substansi sikap spiritual adalah hal-hal yang berkaitan dengan menghayati dan
mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
3) Substansi sikap sosial adalah hal-hal yang berkaitan dengan menghayati dan
mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, responsif
dan pro-aktif. Sikap tersebut menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi
atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan social dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan
bangsa dalam pergaulan dunia.
4) Hasil penilaian pencapaian sikap dalam bentuk predikat dan deskripsi.
5) Predikat dalam penilaian sikap bersifat kualitatif, yakni: Sangat Baik, Baik,
Cukup, dan Kurang.
6) Predikat tersebut ditentukan berdasarkan judgement isi deskripsi oleh
pendidik.
7) Apabila peserta didik tidak ada catatan apapun dalam jurnal, sikap peserta
didik tersebut diasumsikan BAIK.
8) Deskripsi sikap terdiri atas sikap yang sangat baik dan/atau sikap kurang baik
yang memerlukan pembinaan dan pembimbingan.
9) Deskripsi sikap menggunakan kalimat yang bersifat memotivasi dengan
pilihan kata/frasa yang bernada positif. Hindari frasa yang bermakna kontras,
misalnya: ... tetapi masih perlu peningkatan dalam ... atau ... namun masih
perlu bimbingan dalam hal ...

65
10) Deskripsi sikap menyebutkan perkembangan sikap/perilaku peserta didik yang
sangat baik dan/atau baik dan yang mulai/sedang berkembang.
11) Deskripsi sikap spiritual “dijiwai” oleh deskripsi pada mata pelajaran PABP,
sedangkan deskripsi mata pelajaran lainnya menjadi penguat.
12) Deskripsi sikap sosial “dijiwai” oleh deskripsi pada mata pelajaran PPKn,
sedangkan deskripsi mata pelajaran lainnya menjadi penguat.
13) Sikap dikembangkan selama satu semester, deskripsi nilai/perkembangan
sikap peserta didik didasarkan pada sikap peserta didik pada masa akhir
semester. Oleh karena itu, sebelum deskripsi sikap akhir semester dirumuskan,
guru mata pelajaran, guru BK, dan wali kelas harus memeriksa jurnal secara
keseluruhan hingga akhir semester untuk melihat apakah telah ada catatan
yang menunjukkan bahwa sikap peserta didik tersebut telah menjadi sangat
baik, baik, atau mulai berkembang.
14) Apabila peserta didik memiliki catatan sikap KURANG baik dalam jurnal dan
peserta didik tersebut belum menunjukkan adanya perkembangan positif,
deskripsi sikap peserta didik tersebut dirapatkan dalam rapat dewan guru pada
akhir semester. Rapat dewan guru menentukan kesepakatan tentang predikat
dan deskripsi sikap KURANG yang harus dituliskan, dan juga kesepakatan
tindak lanjut pembinaan peserta didik tersebut. Tindak lanjut pembinaan sikap
KURANG pada peserta didik angat bergantung pada kondisi sekolah, guru dan
keterlibatan orang tua/wali murid
Berikut contoh predikat dan deskripsi sikap spiritual peserta didik.

Contoh predikat dan deskripsi sikap sosial peserta didik

Tabel 3.16. Contoh predikat dan deskripsi sikap Spiritual peserta didik
Contoh predikat dan deskripsi sikap sosial peserta didik

66
Tabel 3.17. Contoh predikat dan deskripsi sikap Sosial peserta didik

Catatan:
Kriteria penilaian sikap dibuat oleh sekolah disesuaikan dengan peraturan dan
karakteristik satuan pendidikan sebagai rujukan untuk menentukan nilai akhir
predikat dan deskripsi sikap peserta didik pada rapor.

2. Analisis Nilai Pengetahuan


Nilai pengetahuan diperoleh dari hasil penilaian harian dan penilaian akhir
selama satu semester untuk mengetahui pencapaian kompetensi pada setiap KD
pada KI-3. Penilaian harian dapat dilakukan melalui tes tertulis dan/atau
penugasan, tes lisan sesuai dengan karakteristik masing-masing KD. Pelaksanaan
penilaian harian dapat dilakukan setelah pembelajaran satu KD atau lebih.
Penilaian harian dapat dilakukan lebih dari satu kali untuk KD dengan cakupan
materi luas dan komplek sehingga penilaian harian tidak perlu menunggu
pembelajaran KD tersebut selesai. Hasil penilaian pengetahuan yang dilakukan
oleh pendidik dengan berbagai teknik penilaian dalam satu semester direkap dan
didokumentasikan pada tabel pengolahan nilai sesuai dengan KD yang dinilai. Jika
dalam satu KD dilakukan penilaian lebih dari satu kali maka nilai akhir KD
tersebut merupakan nilai rata-rata. Nilai akhir pencapaian pengetahuan
matapelajaran tersebut diperoleh dengan cara merata-ratakan hasil pencapaian
kompetensi setiap KD selama satu semester. Nilai akhir selama satu semester pada
rapor ditulis dalam bentuk angka pada skala 0 – 100 dan predikat, serta dilengkapi
dengan deskripsi singkat kompetensi yang menonjol berdasarkan pencapaian KD
selama satu semester.
Contoh alternatif 1:
Pengolahan nilai pengetahuan tanpa bobot mata pelajaran Matematika Wajib kelas
X semester I.

67
Hasil Penilaian Harian Penilaian
Rerata
No Nama KD Akhir
1 2 3 4 … (dibulatkan)
Semester
3.1 75 68 70 71
3.2 60 66 70 65
1 Anton 3.3 86 80 90 80 86
3.4 80 95 88
3.5 88 80 84
Nilai Rapor 78
Tabel 3. 18. Pengolahan nilai pengetahuan tanpa bobot
Keterangan:
1. Jumlah KD dalam satu semester pada tabel tsb terdiri atas 5 KD
2. KKM pada MP terssebut adalah 65
3. Penilaian harian dilakukan oleh pendidik dengan cakupan meliputi seluruh
indikator dari kompetensi dasar
4. Penilaian KD 3.1 dan 3.2 masing-masing dilakukan sebanyak 3 kali,
penilaian KD 3.3 sebanyak 4 kali, penilaian KD 3.4 dan 3.5 masing-masing
dilakukan sebanyak 2.
5. Penialaian akhir KD dengan cara merata-ratakan nilai pada KD yang sama,
contoh:
Nilai akhir KD 3.1 = 75 + 68 + 70 = 71
3

Nilai akhir KD 3.3 = 86 + 80 + 90 + 80 = 84


4
6. Nilai rapor menggunakan rata-rata dari seluruh nilai KD dalam satu semester
dengan perhitungan sebagai berikut:
71 + 65 + 84 + 88 + 84 = 78
5
7. Deskripsi berisi kompetensi yang sangat baik dikuasai oleh peserta didik
dan/atau kompetensi yang masih perlu ditingkatkan. Pada nilai diatas yang
paling dikuasai Ani adalah KD 3.4 dan yang perlu ditingkatkan pada KD 3.2.
Contoh deskripsi: “Memiliki kemampuan dalam menentukan penyelesaian
sistem pertidaksamaan dua variabel (linear-kuadrat dan kuadrat-kuadrat),
namun perlu peningkatan pemahaman masalah penyelesaian pertidaksamaan
rasional dan irasional satu variabel”.
Pada pengolahan penilaian pengetahuan tersebut sesuai dengan konsep tujuan
penilaian yaitu untuk mengetahui tingkat kompetensi hasil belajar yang

68
merujuk pada KD. Sehingga ketercapaian KD dalam satu semester tergambar
sangat jelas. Namun pada laporan hasil belajar melalui Penilaian Akhir
Semester secara administratif menjadi tantangan dalam pelaporannya karena
harus dipilah berdasarkan hasil setiap KD.
Contoh alternatif 2:
Pengolahan nilai pengetahuan menggunakan bobot, mata pelajaran Matematika
Wajib kelas X semester I.

Hasil Penilaian Harian Rata- Penilaian


N Nilai
Nama KD rata Akhir
o 1 2 3 4 … Rapor
Semester
3.1 75 68 72
3.2 60 66 63
1 Anton 3.3 86 80 90 83
80 78
3.4 80 80
3.5 88 88
Rata-Rata Penilaian Harian (PH) 77,20
Tabel 3.19.Pengolahan nilai pengetahuan menggunakan bobot
Keterangan:
1. Jumlah KD dalam satu semester pada tabel tsb terdiri atas 5 KD
2. KKM pada MP terssebut adalah 65
3. Penilaian harian dilakukan oleh pendidik dengan cakupan meliputi seluruh
indikator dari kompetensi dasar.
4. KD 3.1 dilakukan penilaian sebanyak 2 kali, penilaian KD 3.2 sebanyak 2 kali,
penilaian KD 3.3 dilakukan 3 kali, penlaian 3.4 dan 3.5 masing-masing satu kalai.
5. Penialain akhir KD pengetahuan dilakukan dengan cara merata-ratakan nilai pada
KD yang sama , contoh:
KD 3.1 = 75 + 68 = 72
2
KD 3.3 = 86 + 80 + 90 = 83
3
6. Nilai rapor menggunakan pembobotan dengan perbandingan 60% rata-rata PH dan
40% PAS sehingga didapat sbb.

69
Nilai Rapor = 60%.( 77,20) + 40%.( 80) = 78,32 (dibulatkan menjadi 78)
7. Deskripsi berisi kompetensi yang sangat baik dikuasai oleh peserta didik dan/atau
kompetensi yang masih perlu ditingkatkan diambil dari history penilaian harian.
Pada nilai diatas yang paling dikuasai Ani adalah KD 3.5 dan yang perlu
ditingkatkan pada KD 3.2.
Contoh deskripsi: “Memiliki kemampuan menjelaskan dan menentukan fungsi
secara formal ekspresi simbolik, serta sketsa grafiknya, namun perlu peningkatan
pemahaman masalah penyelesaian pertidaksamaan rasional dan irasional satu
variabel”.
Pada pengolahan penilaian pengetahuan tersebut menggunakan bobot
antara rerata seluruh KD dalam satu semester dan nilai PAS secara administratif
lebih sederhana. Namun kurang jelas ketercapaian KD pada penilaian PAS karena
nilainya masih bulat dan tidak teridentifikasi KD mana yang sudah tercapai atau
belum. Dengan demikian akan berdampak pada ketercapaian KD mana yang
menonjol sebagai bahan deskripsi capaian hasil belajar pada rapor. Melalui
perbandingan dengan dua cara tersebut, pada alternatif 1 KD yang menonjol
tertinggi terdapat pada KD 3.4 namun pada alterfnatif 2 yang menonjol tertinggi
didapatkan pada KD 3.5. Hal ini tidak konsisten.

3. Analisis Nilai Keterampilan


Nilai keterampilan diperoleh dari hasil penilaian unjuk
kerja/kinerja/praktik, proyek, produk, portofolio, dan bentuk lain sesuai
karakteristik KD mata pelajaran. Hasil penilaian setiap KD pada KI-4 berdasarkan
nilai optimal jika penilaian dilakukan dengan teknik yang sama pada KD yang
sama yang dilakukan beberapa kali penilaian. Jika penilaian KD yang sama
dilakukan dengan teknik yang berbeda, misalnya proyek dan produk atau praktik
dan produk, maka hasil akhir penilaian KD tersebut dirata-ratakan. Untuk
memperoleh nilai akhir keterampilan pada setiap mata pelajaran adalah dengan
cara merata-ratakan dari semua nilai KD pada KI-4 dalam satu semester.
Selanjutnya, penulisan capaian keterampilan pada rapor menggunakan angka pada
skala 0 – 100 dan predikat, serta dilengkapi deskripsi singkat capaian kompetensi.
Berikut ini beberapa contoh analisis nilai keterampilan.
Contoh 1:
Mata pelajaran : Seni Tari

70
Kelas :X

Tabel 3.20. contoh analisis nilai keterampilan (Mata Pelajaran Seni).


Keterangan:
1. Praktik pada KD 4.1 sebanyak 1 kali dan KD 4.2 sebanyak 2 kali. KD 4.3 dan KD
4.4 dinilai melalui satu proyek. Selain itu KD 4.4 juga dinilai melalui satu kali
produk.
2. Pada KD 4.1, 4.2, dan 4.3 Nilai Akhir KD diperoleh berdasarkan nilai optimum,
karena materi dan teknik penilaian yang digunakan sama serta dilakukan beberapa
kali. Sedangkan untuk 4.4 diperoleh berdasarkan rata-rata karena menggunakan
proyek dan produk.
3. Nilai akhir semester (Rapor) didapat dengan cara merata-ratakan nilai akhir pada
setiap KD pada KI-4.
4. Nilai rapor keterampilan dihitung berdasarkan rerata dari seluruh nilai KD dalam
satu semester dengan perhitungan sbb.

5. Nilai rapor keterampilan dilengkapi deskripsi singkat kompetensi yang sangat baik
dan kurang baik berdasarkan pencapaian KD pada KI-4 selama satu semester.
6. Deskripsi nilai keterampilan berdasarkan nilai KD yang menonjol. Pada tabel
tersebut yang tertinggi adalah KD 4.3, sehingga deskripsi singkatnya sbb: “Sangat
terampil meragakan ragam gerak tari tradisional sesuai dengan iringan”
Contoh 2:
Mata Pelajaran : Bahasa Inggris
Kelas/Semester : X/1

71
Tabel 3.21. Contoh analisis nilai keterampilan (Mata Pelajaran Bahasa Inggris).
Keterangan:
1. Praktik pada KD 4.7 dinilai melalui aspek menangkap makna, menyunting dan
menyusun teks masing-masing dilakukan sebanyak 3 kali.
2. Penilaian ketiga aspek tersebut berdasarkan nilai optimum karena materi dan
teknik penilaian yang digunakan sama serta dilakukan beberapa kali, sehingga
menangkap makna optimumnya 98, menyunting optimumnya 86 dan menyusun
teks optimumnya 74.
3. Nilai KD 4.7 didapat dengan cara merata-ratakan nilai optimum pada setiap aspek
KD tersebut dengan perhitungan sbb.

13. Catatan Kemajuan Peserta Didik


Sebagai seorang pendidik atau guru tentunya harus mempersiapkan segala sesuatu
yang berhubungan dengan administrasi untuk mengajar, salah satunya jurnal kelas
atau agenda guru.
1.) Format Buku Catatan Kemajuan Peserta Didik
No Hari/Ta Nama Kelas/Ja Peristiwa/Kejad Tindakan Feed Back Ket.
. nggal Siswa m ke- ian Siswa

72
Tabel 3.22. Contoh Format Catatan kemajuan Peserta Didik
Adapun Deskripsi atau cara pengisian format tersebut sebagai berikut:
1. Nomor diisi sesuai dengan urutan nomor peristiwa atau kejadian
2. Hari dan Tanggaldisi sesuai dengan saat terjadinya peristiwa di dalam proses
kegiatan belajar mengajar
3. Nama Siswa/Peserta Didik
Nama siswa/pelaku peristiwa atau kejadian dituliskan dalam format tersebut.
4. Kelas/Jam ke-
Dituliskan saat terjadi pengamatan kejadian atau peristiwa di kelas berapa dan jam
ke berapa saat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.
5. Peristiwa/Kejadian
Kejadian atau peristiwa apa yang dilakukan siswa atau peserta didik saat kegiatan
belajar mengajar berlangsung
6. Tindakan
Tindakan apa yang diberikan oleh pendidik atau guru saat melihat peristiwa/
kejadian yang dilakukan oleh peserta didik/siswa tersebut.
7. Feed Back Siswa
Siswa/peserta didik menerima baik nasihat dan teguran dari guru
8. Keterangan
Dapat berisi penjelasan yang berhubungan dengan peristiwa atau kejadian tersebut.
Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada contoh Format Catatan Kemajuan Peserta
Didik lampiran 12a.

14. Rekapitulasi Nilai Peserta Didik


Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur
pencapaian hasil belajar peserta didik. Penilaian hasil belajar oleh pendidik
bertujuan untuk memantau dan mengevaluasi proses, kemajuan belajar, dan
perbaikan hasil belajar peserta didik secara bersinambungan. Penilaian hasil
belajar oleh satuan pendidikan bertujuan untuk menilai pencapaian Standar
Kompetensi Lulusan untuk semua mata pelajaran.
Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan dalam bentuk ulangan,
pengamatan, penugasan, dan/atau bentuk lain yang diperlukan. Penilaian hasil
belajar oleh satuan pendidikan dilakukan dalam bentuk penilaian akhir, ujian
sekolah, dan ujian sekolah berstandar nasional.

73
Berkaitan dengan penilaian terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan antara
lain sebagai berikut:
1. Penilaian yang dilakukan oleh guru hendaknya tidak hanya penilaian atas
pembelajaran (assesment of learning), melainkan juga penilaian untuk
pembelajaran (assesment for learning) dan penilaian sebagai pembelajaran
(assesment as learning)
2. Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi dasar (KD)
pada kompetensi Inti (KI) yaitu KI-1, KI-2, KI-3, KI-4
3. Penilaian menggunakan acuan kriteria, yaitu penilaian yang membandingkan
capaian peserta didik denngan kriteria kompetensi yang ditetapkan. Hasil
penilaian baik formatif maupun sumatif seorang peserta didik menjadi acuan
akan penguasaan kompetensi yang ditetapkan.
4. Penilaian dilakukan secara terencana dan berkelanjutan, artinya semua
indikator diukur kemudian hasilnya dianalisisuntuk menentukan KD yang
telah dan belum dikuasai oleh peserta didik.
5. Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut, berupa program
remedial bagi peserta didik dengan pencapaian kompetensi.

74
B. Perangkat Penunjang
1. Program Kerja Wali Kelas
Guru yang diberi tugas sebagai wali kelas biasanya ditunjuk oleh kepala
sekolah dan dilegalkan dalam surat keputusan (SK) pembagian tugas oleh Kepala
Sekolah karena tugas sebagai wali kelas merupakan tugas tambahan yang diemban
selain tugas pokok sebagai guru mata pelajaran bertanggungjawab dalam
peningkatkan ketaqwaan siswa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, membantu
pengembangan potensi/ prestasi yang dimiliki oleh siswa, membantu pengembangan
keterampilan, bakat, dan minat baik dibidang akademik maupun non akademik
siswa. meningkatkan dan membina budi pekerti dan kepribadian siswa, agar menjadi
insan yang berakhlak mulia.
Untuk melaksanakan segala tugas tersebut seorang wali kelas haruslah membuat
berbagai strategi dan perencanaan. pengenalan data aprofil siswa mulai dari latar
belakang keluarga hingga segala sifat siswa dan perencanaan yang akan dilakukan
seorang wali kelas dijelaskan dalam sebuah program kerja yang menjadi salah satu
file administrasi sebagai seorang guru yang harus dibuat dan diserahkan kepala
kepala sekolah.
Pembuatan program kerja wali kelas dibutuhkan sebagai panduan seorang
wali kelas untuk mengelola kelas menjadi kondusif dan terarah sebagai penunjang
peningkatan keberhasilan siswa dalam menempuh pendidikan.
Berikut adalah kerangka dari sebuah program kerja wali kelas:
1. Halaman cover depan
2. Halaman/lembaran pengesahan
3. Kata Pengantar
4. Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Dasar Hukum
C. Maksud danTujuan
D. Sistematika Penulisan
BAB II PENGORGANISASIAN KELAS
A. Susunan pengurus
B. Struktur dan tugas pokok
C. Rincian tugas

75
BAB III PROGRAM WALI KELAS
A. Program wali kelas
B. Kegiatan pembelajaran kelas
C. Kegiatan kelas berdasar kalender
BAB IV PENUTUP
Daftar Pustaka
Lampiran

1.1 Tugas Wali Kelas


Adapun tugas pokok dan tanggung jawab Wali Kelas adalah membantu
Kepala Sekolah/Madrasah dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
1. Mengelola kelas
2. Menyelenggarakan administrasi kelas yang meliputi : denah tempat duduk
siswa, jadwal pelajaran, daftar piket kelas, jurnal kelas, dan tata tertib
kelas
3. Mengetahui identitas dan kepribadian anak didik
4. Mengetahui tingkat kemampuan, status sosial/ekonomi anak didik
5. Merekapitulasi kehadiran siswa (Penyusunan dan pembuatan statistic
bulanan anak didik)
6. Pengisian daftar kumpulan nilai siswa (legger)
7. Pembuatan catatan khusus tentang siswa
8. Pencatatan mutasi siswa
9. Pengisian buku laporan hasil belajar siswa
10.Pembagian buku laporan hasil belajar siswa.

1.2 Guru yang mendapatkan tugas tambahan sebagai wali kelas memiliki
fungsi tambahan sebagai berikut ;
1. Manajer
Seorang wali kelas harus mampu menjadi manajer yang baik karena ia
harus mengedepankan fungsi manajerialnya disaat siswa harus memenuhi
goal-goal yang telah ditetapkan.
2. Pimpinan

76
Bisa jadi dalam hubungan yang sempit hanya ada guru dan murid, namun
walikelas harus mengedepankan fungsi kepemimpinan dalam upaya
mengejar target, problem solving maupun keorganisasian.
3. Motivator
Wali kelas harusnya adalah seorang motivator hebat, ia harus mengetahui
kelemahan sekaligus kelebihan masing-masing siswanya sehingga walikelas
mampu mengarahkan siswa sesuai dengan kemampuannya atau bahkan bisa
mengoptimalkan semua potensi-potensisiswanya.
4. Owner
Wali kelas harus menumbuhkembangkan sense of belonging dan dengan
demikian akan tumbuh rasa tanggungjawab memiliki akan kelas yang
dikelolanya, dengan demikian sangat disayangkan jika seorang walikelas
tidak menguasai seluk beluk siswanya.
5. Desainer
Wali kelas harus memiliki blue print dari kelas yang dikelolanya, ia memiliki
rencana-rencana yang mungkin dicapai dan bagaimana cara-cara
pencapaiannya dengan melibatkan seluruh potensi kelas yang dimilikinya.
6. Administrator
Walikelas harus mampu menjadi administrator yang hebat sebab nilai siswa
yang menjadi taruhannya, jika walikelasnya tak memiliki keahlian dalam
bidang administrasi tentu akan menghambat dan merugikan siswa.
7. Personalia
Sebagai seorang wali kelas maka ia wajib menempatkan siswa sesuai dengan
kemampuannya, the rightman on the right place and job dan menetapkan
kerjasama tim sebagai bagian integral dari proses pendidikan
8. Evaluator
Evaluasi sangat penting untuk melihat dan mengukur pencapaian target dan
kinerja, seorang wali kelas harus mampu melihat hal-hal detail secara adil
dan bijaksana.
9. Konsultan
Walikelas harus berfungsi sebagai sahabat yang baik bagi siswanya, mampu
memberikan solusi dan juga memberikan arahan arahan untuk kemajuan
siswa.
10. Psikolog

77
Walikelas mampu membaca situasi dan kondisi yang sedang ia hadapi, ia bisa
merasakan apa yang siswa rasakan dan kemudian memberikan nasehat dan
solusi yang jitu dalam menghadapi masalah siswa.
11. Penulis
Wali kelas harus menjadi penulis yang baik, ia harus membuat laporan rutin
berupa raport narasi ataupun buku penghubung antara orang tua siswa dan
dirinya, mampu menuliskan motivasi, mampu memberikan kritik dengan
bahasa yang baik.
12. Single parent
Walau dalam keterbatasan, seoarang walikelas harus memiliki sifat dan
kekuatan selayaknya mereka yang menjadi single parent, wali kelas hanya
satu (kecuali yang punya asisten) dan harus menghadapi semua masalah
sendirian, wali kelas menjadi gerbang pertama bagi orang tua dan sekaligus
menjadi pihak pertama yang harus bertanggungjawab atas semua kejadian
dikelasnya.
Lampiran (Penunjang). Contoh Format Jadwal Pembagian Tugas
Kebersihan Kelas.

Dalam membuat Jadwal Piket Kebersihan Kelas bisa menggunakan berbagai


media yang anda suka, tapi jika menggunakan kertas biasa tentu harus
memberi kelebihan dari segi desain yang menarik.

Tabel 3.23. Contoh jadwal tugas harian

JADWAL PIKET HARIAN KELAS


KELAS : ….
TAHUN PELAJARAN : …

SENIN SELASA RABU KAMIS JUMAT SABTU


1 1 1 1 1 1
2 2 2 2 2 2
3 3 3 3 3 3
4 4 4 4 4 4
5 5 5 5 5 5
6 6 6 6 6 6
…….., ……………. 20…
Wali Kelas ….. Ketua Kelas …

………………. …………………….

78
2. Program Kerja Pembimbingan Kegiatan Ekstrakurikuler
Ekstrakurikuler adalah merupakan kegiatan di luar jam pelajaran biasa di
sekolah yang bertujuan untuk memperluas pengetahuan, menyalurkan bakat
danminat siswa.
Prinsip-Prinsip Pengembangan Kegiatan Ekstrakurikuler di sekolah adalah
sebagai berikut.
1. Segala kegiatan sekolah harus diarahkan kepada pembentukan pribadi anak.
2. Harus ada keseuaian antara program dengan kebutuhan anak.
3. Harus sesuai dengan karakteristik anak.
4. Harus selalu mengikuti arah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan
seni dan budaya.
Tujuan dilaksanakannya kegiatan ekstrakurikuler di sekolah adalah:
1. Meningkatkan kemampuan peserta didik sebagai anggota masyarakat dalam
mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan
alam semesta.
2. Menyalurkan dan mengembangkan potensi dan bakat peserta didik agar
dapat menjadi manusia yang berkreativitas tinggi dan penuh dengan karya.
3. Melatih sikap disiplin, kejujuran, kepercayaan, dan tanggung jawab
menjalankan tugas.
4. Mengembangkan etika dan akhlak yang mengintegrasikan hubungan dengan
Tuhan, Rasul, manusia, alam semesta, bahkan diri sendiri.
5. Mengembangkan sensitivitas peserta didik dalam melihat persoalan-
persoalan sosial-keagamaan sehingga menjadi insan yang proaktif terhadap
permasalahan sosial keagamaan.
6. Memberikan bimbingan dan arahan serta pelatihan kepada peserta didik agar
memiliki fisik yang sehat, bugar, kuat, cekatan dan terampil.
7. Memberi peluang peserta didik agar memiliki kemampuan untuk komunikasi
(human relation) dengan baik; secara verbal dan nonverbal.
Kegiatan esktrakurikuler di sekolah ditujukan agar siswa dapat
mengembangkan kepribadian,bakat dan kemampuannya di berbagai bidang
diluar akademik. Manfaat kegiatan ini untuk wadah penyaluran hobi, minat,
dan bakat para siswa secara positif yang dapat mengasah kemampuan, daya
kreativitas, jiwa sportivitas, dan meningkatkan rasa percaya diri. Akan lebih

79
baik bila mampu memberikan prestasi gemilang di luar sekolah sehingga
dapat mengharumkan nama sekolah.
Sekolah dapat melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah sesuai
dengan minat dan bakat perserta didik dan daya dukung sarana prasarana
sekolah dan ketersediaan tenaga Pembina untuk membimbing peserta didik
dalam kegiatan ekstrakurikuler.
Berikut adalah contoh kegiatan ekstrakurikuler yang dapat dipilih di sekolah.
1) ektrakurikuler pramuka
2) ektrakurikuler palang merah remaja
3) ektrakuriler olah raga
4) ektrakurikuler seni musik
5) ektrakurikulerseni tari dan peran
6) ektrakurikuler seni media dan lainnya..
Sekolah diwajibkan untuk melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler yang
dilegalkan dengan Surat Keputusan Kepala Sekolah tentang pembagian tugas
guru pada tahun pelajaran berlangsung dan setiap pelatih/pembimbing
diharapkan menyiapkan program kerja, rencana anggaran biaya dan jadwal
pelatihan untuk melaksanakan setiap kegiatan ekstrakurikuler yang telah
ditetapkan oleh sekolah dan dilakukan evaluasi secara berkala untuk
meningkatkan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
Unuk masing – masing program kegiatan ekstrakurkuler dapat dilihat pada
lampiran.

3. Penelitian Tindakan Kelas


3.1 Konsep Dasar PTK.
Salah satu ciri guru yang berhasil bersifat reflektif , Guru yang demikian
selalu belajar dari pengalaman , sehingga dari hari ke hari kinerjanya menjadi
semakin baik ( Arends 2002 ) Didalam melakukan refleksi guru harus
memilki kemandirian dan kemampuan menafsirkan dan memanfaatkan hasil-
hasil pengalaman membelajarkan kemajuan belajar mengajar dan informasi
lainnya bagi penyempurnaan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan belajar
mengajar secara berkesinambungan
3.2 Pengertan PTK

80
Berdasarkan berbagai sumber seperti Mettetal ( 2003 ) Penelitian Tindakan
Kelas adalah sebagai penelitian yang dilaksanakan oleh guru didalam kelasnya
sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaikikinerjanya
sebagai guru , sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat .dalam
penelitian ini si peneliti ( Guru 0 bertindak sebagai pengamat ( observer )
sekaligus sebagai patisipan.
Dengan demikian PTK tidaklah sekedar penyelesaian masalah , melainkan
terdapat pula misi perubahan dan peningkatakan , PTK bukanlah semata-mata
menerapkan metode ilmiah did lam pembelajaran atau sekedar menguji
hipotesis , melaikan lebih memusatkan perhatian pda poerubahan baik pada
peneliti ( guru ) maupun pada situasi dimana mereka bekerja.
Dengan mengikuti alur berpikir itu PTK menjadi penting karena membantu
mereka dalam hal : memahami lebih baik tentang pembelajarannya ,
mengembangkan ketrampilan dan pengetahuan , sekaligus dapat melakukan
tindakan untuk meningkatakan belajar siswanya .
Pada saat guru melakukan PTK berarti guru telah menjalaknan misinya
sebagai guru professional yaitu :
1. Membelajarkan
2. Melakukan pengembangan profesi berupa penulisan karya ilmiah dari
hasil PTK
3. Melakukan ikhtiar untuk meningkatkan mutu proses dan hasil
pembelajaran sebagai bagian tanggung jawabnya.
3.3 Prinsip – Prinsip PTK
Adapun prinsip – prinsip PTK adalah :
1. PTK merupakan kegiatan nyata yang dilakukan dalam situasi rutin
2. PTK dilakukan sebagai kesadaran diri untuk memperbaiki kinerja (Guru )
3. Pelaksanaan PTK tidak boleh mengganggu komitmennya sebaga
pengajar
4. PTK dapat dimulai dengan melakukan analisis SWOT yang dilakukan
dengan menganalisis kekuatan ( S =strength ) , kelemahan ( W =
weaknesses ) yang dimiliki dan faktor eksternal dari luar yaitu peluang
atau kesempata yang dapat diraih ( O = Opportunity ) , maupun ancaman
( T = treath ) empat hal tersebut dapat dipandang dai sudut guru yang
melaksanakan , maupun siswa yang dikenai tindakan

81
5. Metode pengumpulan data yang digunakan tidak mengganggu proses
pembelajaran
6. Metode yang digunakan harus cukup reliable ,sehingga memungkinkan
guru mengidentifikasi dan merumuskan hipotesis secara baik dan dapat
mengembangkan strategi pada situasi kelasnya dan dapat memperoleh
data muntuk menguji hipotesis yang dikemukakannya.
7. Masalah penelitian yang dipilih dapat memberikan layanan terbaik
kepada siswa
8. Dalam pelaksanaan PTK Guru harus selalu bersikap konsistendengan
pekerjaannya
3.4 Karakteristik PTK
1. PTK merupakan penelitian reflektif , karena dimulai dari refleksi diri
yang dilakukan oleh guru , untuk melakukan refleksi guru berusaha
bertanya pada diri sendiri misalnya ;
a. Apakah penjelasan saya terlampau cepat
b. Apakah saya sudah member i contoh yang memadai
c. Apakah saya sudah member kesempatan bertanya kepada siswa
d. Apakah saya sudah memberi latihan yang memadai
e. Apakah hasil latihan siswa sudah saya beri balikan
f. Pakah bahasa yang saya gunakan dapat dipahami oleh siswa
Dari pertanyaan tersebut guru dapat memperkirakan penyebab dari
masalah yang dihadapi dan akan mencoba mencari jalankeluar untuk
memperbaiki atau meningkatkan hasil belajar siswa.
4. PTK berujuan untuk memperbaiki proses dan hasil pembelajaran secara
bertahap dan bersiklus dengan polasiklusnya adalah perencanaan-
pelaksanaan- observasi – refleksi – revisi yang dilanjutkan dengan siklus
berikutnya dan seterusnya secara berulang.
Langkah mengidentifikasi Masalah adalah:
1. Mengamati pembelajaran
2. Menuliskan hasil pengamatan
3. Memilih masalah esensial
4. Memilih cara mengatasinya
5. Masukan data pengamatan dalam tabel pengamatan pembelajaran (
Lihat Lampiran. Contoh Format Pengamatan Pembelajaran)

82
3.5 Sistimatika PTK
Sistimatika PTK adalah:
BAB I Pendahuluan

A. Latar belakang Masalah


menggambarkan permasalahan pembelajaran yang dihadapi guru
dan siswa sampai pada hasil yang dicapai
B. Identifikasi masalah
Berdasarkan kondisi dan situasi yang dihadapi guru dalam
pembelajaran , bagaimana partisipasi dan aktifitas siswa dan
bagaimana hasil yang dicapai
C. Perumusan masalah
Berdasarkan identifikas masalah maka masalah dapat dirumuska
dengan menggunakan kata tanya yaitu Bagaimana , Apakah... dan lain
sebagainya
D. Hipotesis Tindakan

Menggambarkan penelitian ini direncanakan dalam beberapa siklus


dimana setiap siklus mengikuti prosedur perencanaan , tindakan ,
pengamatan, dan refleksi

E. Tujuan PTK Yaitu Menjawab permasalahan yang dihadapi Guru dan


siswa
F. Manfaat penelitian Dapat dimanfaatkan bagi Penulis, Guru, Siswa,
dan bagi sekolah

Bab II Kajian Teori

Menyajikan pemikiran secara teoritis berdasarkan Judul dan


permasalahan yang dihadapi

Bab III Metodelogi penelitian

A. Setting Penelitian Menggambarkan


1. Tempat peenelitian
2. Waktu penelitian
B. Subyek penelitian
C. Prosedur penelitian menggambarkan siklus penelitian mulai dari
perencanaan, tindakan.evaluasi dan refleksi
D. Tiknik pengumpulan data n melalui observasi, tes,
E. Analisa data dari hasil tes,hasil observasi,

83
Bab IV. Hasil dan Pembahasan

A. Hasil penelitian menganalisis


B. hasil siklus baik hasil observasi maupun hasil tes dan hasil refleksi
C. Pembahasan Memberikan gambaran brerdasarkan hasil observasi,
hasil tes dan hasil reflejsi

Bab V. Penutup

A. Kesimpulan memberikan gambaran tentang hasil penelitianyang telah


dilaksanakan
B. Saran dimana peneliti saran yang berkaitan dengan hasil penelitian

Daftar pustaka Menggambarkan pendapat para ahli berdasarkan kajian


teori

Lampiran- lampiran antara lain

1. Rencana pelaksanaan pembelajaran


2. Lembar kerja siswa
3. Lembar observasi
4. Alat evaluasi/tes

4. Penilaian Kinerja Guru (PKG) dan Pengembangan Keprofesian


Berkelanjutan (PKB) Guru
4.1 Penilaian Kinerja Guru (PKG)
Penilaian Kinerja guru adalah merupakan penilaian dari setiap butir
kegiatan tugas utama guru dalam rangka pembinaan karier kepangkatan
dan jabatannya ( PermenegPan @RB nomor 16 tahun 2009 dan Penilaian
Kerja Guru menjamin bahwa guru melaksanakan pekerjaannya secara
professional disamping itu bahwa PKG juga menjamin layanan
pendidikan yang diberikan oleh guru berkualitas.
a. Manfaat Penilaian Kinerja Guru (PKG):
a) Merupakan bahan evaluasi diri bagi guru untuk mengembangkan
potensi dan karirnya
b) Sebagai acuan bagi sekolah untuk merencanakan pengembngan
keprofesian berkelanjutan ( PKB Guru )
c) Merupakan dasar untuk memberikan nilai prestasi kerja guru
dalam rangka mengembangkan karier guru sesuai permenegPan
dan RB nomor 16 tahun 2009.

84
b. Pelaksanaan Penilaian Kinerja Guru di Sekolah :
a) Penilaian dilakukan oleh kepala sekolah atau guru senior yang
kompoten yang telah mengikuti pelatihan penilaian dan ditunjuk
oleh Kepala sekolah
b) Penilaian kinerja ditekankan pada pelaksanaan tugas utama guru
yang terkait penguasaan kompotensi yang harus dimilki oleh
guru.
c. Hasil Pelaksanaan PKG di Sekolah:
a) Evaluasi diri pada awal semester digunakan sebagai dasar untuk
penyusunan PKB tahunan bagi guru
b) Hasil penilaian kinerja guru pada akhir semester digunakan untuk
melihat peningkatan kompotensi dan memberikan kinerja guru (
menghitung perolehan angka kredit guru pada tahun tersebut ).

4.2 Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) Guru


Pengembangan Keprofisia berkelanjutan adalah Pengembangan
kompotensi guru yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan secara
bertahap, berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalitas guru.
PKB dilaksanakan agar guru memelihara , meningkatkan dan memperluas
pengetahuaan dan ketrampilannya untuk melaksanakan proses
pembelajaran secara professional . Pembelajaran yang berkualitas
diharapkan mampu meningkatakan pengetahuan , ketrampilan dan sikap
peserta didik
a. Tugas PKB Guru
a) Tujuan umum
Untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan disekolah
dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan
b) Tujuan Khusus
i. Meningkatkan kompotensi guru untuk mencapai standar
kompotensi yang ditetapkan sesuai dengan undang-undang
yang berlaku
ii. Memuthakirkan kompotensi guru untuk memenuhi
kebutuhan guru dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi untuk memfasilitasi proses pembelajaran

85
iii. Meningkatkan komitmen guru dalam melaksanakan tugas
pokok dan fungsinya sebagai tenaga profeional
iv. Menu mbuhkan rasa cinta dan bangga sebagai guru
v. Menunjang pengembangan karier guru
b. Proses Pelaksanaan PKB Guru
a) Perencanaan
b) Implementasi
c) Evaluasi
d) Refleksi
Secara keseluruhan perangkat yang disiapkan oleh guru yang dinilai
kinerjanya oleh asesor adalah minimal perangkat utama dan perangkat
penunjang.

5. Penilaian Angka Kerja Guru


Data Angka Kredit dari masing – masing guru dapat didata dengan baik dengan
memperhatikan rujukan-rujukan dan faktor penunjangnya. Unsur yang dinilai
dalam penetapan angka kredit jabatan guru adalah :
I`. Unsur utama terdiri dari
1. Pendidikan
2. Pendidikan dan pelatihan kedinasan
II. Proses belajar mengajar atau bimbingan terdiri dari
1. Proses belajar mengajar antara lain :
a. Melaksanakan penyusunan program pengajaran atau praktik
b. Melaksanakan penyajian program pengajaran atau praktik
c. Melaksanakan evaluasi belajar
d. Melaksanakan analisis hasil belajar
e. Melaksanakan program perbaikan dan pengayaan
f. Membimbing siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler
g. Melaksanakan dengan dengan bimbingan dalam mengikuti
kegiatan ujian sekolah dan ujian nasional ( menyusun kisi-kisi,
menusun soal dan mengawasi )
2. Melaksanakan tugas tertentu disekolah
3. Melaksanakan tugas tertentu didaerah terpencil

86
III. Pengembangan profesi
1. Laporan hasil penelitian
2. Makalah hasil penelitian
3. Makalah dalam pertemuan ilmiah
4. Karya ilmiah popular melalui media masa
IV. Penunjang proses belajar mengajar atau bimbingan
1. Pengabdian pada masyarakat
2. Pendukung pendidikan antara lain
a. Mengikuti seminara atau loka karya sebagai pemakalah,
moderator dan menjadi peserta
b. Keanggotaan dalam organisasi profesi sebagai pengurus, dan
menjadi anggota
c. Menjadi panitia dalam kegiatan disekolah sebagai pengurus dan
anggota
d. Mendapat tugas tertentu disekolah sebagai wali kelas, Pembina
osis ,kepala urusan, dan piket

Catatan: Format Rekap Nilai PAK Guru yang sudah dilakukasn Guru (Lihat
Lampiran .....)

87
BAB IV
PENUTUP

Buku Kerja Guru ini merupakan upaya untuk memberikan petunjuk teknis
kepada guru dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi tugas dan
fungsinya sebagai guru secara sistematis, dan terarah. Dalam buku Kerja ini, Guru
dibekali dengan petunjuk teknis secara prosedural, rambu-rambu, dan contoh dalam
pelaksanaan tugasnya secara terarah sehingga diharapkan semua program dan
kegiatan yang dilakukan dilaksanakan secara efektif dan efisien. Keterlaksanaan
berbagai petunjuk teknis dalam Buku Kerja Guru ini sangat tergantung kepada guru
terhadap tugas pokok dan fungsi, komitmen pembaharuan tugas dan kerja yang
profesioal. Guru dila dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya memanfaatkan
buku kerja guru ini secara maksimal dan berday guna maka akan dapat diwujudkan
proses pembelajaran yang bermutu tinggi dan kompetitif menuju pencapaian tujuan
belajar yang komprehensif holistic sehingga dengan demikian dapat menjadi wahana
pendukung yang komprehensif dalam upaya pencapaian visi dan misi sekolah.
Diharapkan guru dapat melaksanakan tugas dan fungsinya secara lebih efektif dan
efisien, sistematis, dan terarah. Buku kerja guru ini juga dapat dijadikan pedoman
baik oleh kepala sekolah bahkan pengawas sekolah binaan dalam melaksanakan
proses pembinaan dan penilaian yang berkelanjutan terhadap guru di sekolah menuju
guru yang professional dalam menjalankan tugas keprofesionalannya.

88
DAFTAR PUSTAKA

89
LAMPIRAN
23. Conoh Format Analisis SKL,KI,dan KD
24. Conoh Format dan Contoh analisis Kalender Pendidikan
25. Conoh Format dan Contoh Perhitungan Alokasi Waktu per Semester
26. Conoh Format Prota
27. Conoh Format Promes
28. Conoh Format Analisis KKM
29. Conoh Format Silabus
30. Contoh Format Model Pembelajaran
31. Conoh Format RPP
32. Conoh Format Jurnal Pembelajaran Guru
33. Conoh Format Daftar Hadir Peserta Didik
34. Conoh Format Daftar Nilai PH,PTS, dan PAS
35. Conoh Format Kepribadian Peserta Didik
36. Conoh Format Analisis NPH,NPTS,NPAS
37. Conoh Format Analisis Kualitatif dan Contohnya (Ter masuk perbaikannya)
38. Conoh Format Program Remidial dan Pengayaan ( Materi Pembelajaran, Penilaian
dan Analisisnya)
39. Conoh Format Jadwal Mengajar
40. Conoh Format Daya serap
41. Conoh Format Kisi-kisi Soal
42. Conoh Format LKS
43. Conoh Fortmat Analisis Bahan Ajar
44. Conoh Format dan Contoh Perbaikan Soal

90