Anda di halaman 1dari 11

STUDI PERENCANAAN KONSOLIDASI DAM DI SUNGAI

MUJUR DESA PASRUJAMBE KECAMATAN PASRUJAMBE


KABUPATEN LUMAJANG

Yan Ahmad Christy Pambudi1), Very Dermawan2)


1)
Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
2)
Dosen Jurusan Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Teknik Pengairan Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Indonesia
Jalan MT. Haryono 167 Malang 65145 – Telp (0341) 567886
e-mail: yanpambudi@gmail.com

ABSTRAK: Gunung Semeru adalah salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Letusan Gunung
Semeru pada umumnya berlangsung singkat dan relatif kecil, akan tetapi berlangsung 10-20 menit
sekali sepanjang tahun. Sungai Mujur merupakan salah satu sungai yang berada di DAS Mujur yang
membawa aliran material hasil letusan Gunung Semeru. DAS Mujur mempunyai luas DAS 44,904
km2 dengan panjang sungai utama 16,95 km2. Pada musim hujan dengan intensitas tinggi dan durasi
yang lama, terjadi mass movement yang membawa material seperti batu-batuan, kerikil, dan pasir
karena slope sungai yang cukup curam. Kondisi alur dan dasar sungai yang membawa material hasil
letusan harus dilakukan pengaturan, terutama pada bagian tikungan sungai agar proses agradasi dan
degradasi di sungai terkendali. Analisa debit banjir rancangan kala ulang 25 tahun menggunakan
metode Hidrograf Satuan Sintetis Nakayasu sebesar 155,367 m3/dt, sedangkan debit desain untuk
bangunan konsolidasi dam dengan mempertimbangkan konsentrasi aliran sedimen sebesar 204,424
m3/dt. Volume sedimen sekali banjir dengan kala ulang 25 tahun sebesar 199.918,30 m3. Bangunan
konsolidasi dam akan direncanakan dengan jarak ±215 m sebelah hilir tikungan sungai. Detail dimensi
bangunan konsolidasi dam yaitu tinggi main dam 3 m, lebar pelimpah 100 m, tebal mercu main dam
2,5 m, kedalaman pondasi 2 m, tinggi sub dam 0,75 m dan tebal mercu sub dam 2,5 m.

Kata kunci: konsolidasi dam, mass movement, tikungan sungai

ABSTRACT: Mount Semeru is one of the most active volcanoes in Indonesia. The eruption of Mount
Semeru generally takes a short time and is relatively in a small scale, but lasts for 10-20 minutes a
throughout the year. Mujur River is one of rivers located in the Mujur watershed that brings the flow
of materials from the eruption of the Mount Semeru. In addition, the Mujur watershed has a total DAS
area of 44,904 km2 with the main river length of 16.95 km2. During the rainy season with high
intensity and long duration, a mass movement occurs and carries materials such as rocks, gravel, and
sand due to the quite steep river slope. Therefore, the condition of the river channel and riverbed
carrying the eruption materials should be arranged, especially in the bend section of the river so that
the process of agradation and degradation in the river may be controlled. Also, the flood discharge
analysis of 25-year return period design used the Nakayasu Synthetic Unit Hydrograph method is
155.367 m3/dt, while the design debit for consolidation of dam by considering the effect of sediment
concentration is amounted to 204,424 m3/dt. The one-time flooded sediment volume with a 25-year
return period is 199,918.30 m3. Futhermore, the consolidation dam building will be planned in dis-
tance of ± 215 m downstream of the river bend. Moreover, the detailed dimension of the consolidation
dam building are the height of the main dam is 3 m, the width of the main dam weir is 100 m, the
thickness of the main dam is 2,5 m, footing depth is 2 m, the height of the sub dam is 0,75 m and the
thickness of the sub dam is 2.5 m.

Keywords: consolidation dam, mass movement, river bend

PENDAHULUAN akan mengakibatkan banjir aliran sedimen


Sungai Mujur yang terletak pada DAS atau juga disebut mass movement.
Mujur merupakan salah satu sungai yang ber- Dahsyatnya banjir material hasil letusan
hulu di Gunung Semeru. Seiring dengan akti- Gunung Semeru dapat dilihat di sepanjang
fitas Gunung Semeru yang rajin menghasil- aliran Sungai Mujur, yaitu terdapat banyak
kan material letusan dan terjadi hujan lebat, material hasil letusan, seperti pasir, kerikil,
batu-batuan kecil maupun batu-batuan yang Distribusi Log Pearson III
berukuran besar. Metode distribusi hujan Log Pearson III
Dampak yang diakibatkan oleh banjir memperhitungkan 3 parameter, yaitu:
aliran sedimen yang selama ini terjadi berupa 1. Nilai rerata (mean)
tebing-tebing di sepanjang aliran sungai juga 2. Simpangan baku (standar deviasi)
mengalami kelongsoran akibat terjangan ban- 3. Koefisien kepencengan (skewness)
jir aliran sedimen, alur sungai dan kemiring- Secara garis besar langkah-langkah per-
an dasar sungai yang berubah, serta proses hitungan curah hujan rancangan metode Log
agradasi-degradasi tidak seimbang. Pearson III sebagai berikut (Limantara, 2009,
Dari beberapa permasalahan yang telah p.61):
dijelaskan, perlunya penanganan akan bahaya 1. Mencari log dari data curah hujan se-
banjir aliran sedimen agar kondisi di alur, banyak n buah X1, X2, X3, ..., Xn se-
dasar dan tebing sungai terlindungi dengan hingga menjadi log X1, log X2, log X3,
baik. Salah satu hal yang dapat dilakukan ..., log Xn
yaitu dengan membuat desain perencanaan 2. Hitung nilai rata-rata Log X
bangunan konsolidasi dam yang nantinya jika
terjadi banjir aliran sedimen kondisi sungai log x 
 log x ............................. (3)
dapat dikendalikan dengan baik dan daya ru- n
sak aliran banjir dapat dikurangi. 3. Menghitung nilai standar deviasi dengan
rumus:
n
TINJAUAN PUSTAKA
 (log x  log x)
3
Uji Konsistensi Data
i 1
Data curah hujan tahunan jangka waktu Sd  .......... (4)
tertentu pada stasiun hujan yang diuji harus n 1
dibandingkan dengan komulatif rata-rata cu- 4. Hitung nilai koefisien kepencengannya
rah hujan dari stasiun hujan di daerah sekitar. (skewness) dengan rumus:
Langkah-langkah metode kurva massa ganda n. (log x  log x) 3
sebagai berikut: Cs  ............ (5)
1. Mencari kumulatif rerata curah hujan di (n  1)  (n  2)  Sd 3
1 stasiun dengan stasiun sekitar. 5. Hitung logaritma curah hujan dengan
2. Mencari nilai R2. waktu balik yang dikendaki mengguna-
3. Stasiun hujan dapat dikatakan konsisten kan rumus:
dengan stasiun lain jika nilai R2 men- Log X = Log X + K . Sd .................. (6)
dekati nilai 1. 6. Cari nilai anti log dari log X untuk men-
dapatkan curah hujan rancangan
Curah Hujan Rerata Daerah Metode
Poligon Thiessen Uji Chi Square
Metode poligon Thiessen didasarkan pa- Uji distribusi Chi Square mempunyai
da nilai rerata timbang (weighted average). maksud untuk menentukan metode distribusi
Masing-masing stasiun penakar hujan di- hujan rancangan yang dipilih dapat mewakili
asumsikan dipengaruhi oleh luasan tertentu. dari distribusi statistik sampel data yang akan
(Soemarto, 1987, p.32). dianalisis. Pengambilan keputusan pada uji
A = A1 + A2 + ... + An ................................ (1) Chi Square menggunakan parameter X2, yang
dengan: dapat dihitung dengan menggunakan rumus
A = luas daerah aliran sungai (DAS) (km2) sebagai berikut (Soewarno, 1995, p.194):
ΣA = luas daerah pengaruh stasiun hujan
(Oi  Ei) 2
k
(km2) Xh  
2
..................... (7)
A1 . X 1  A2 . X 2  ..  An . X n i 1 Ei
x .......... (2)
A1  A2  An dengan:
Xh2 = parameter Chi-Square terhitung
dengan: K = jumlah sub-kelompok (kelas)
x = curah hujan rerata daerah Oi = jumlah nilai pengamatan pada sub
maksimum (mm) kelompok ke i
X1,X2,Xn = curah hujan di masing-masing Ei = jumlah nilai teoritis pada sub
stasiun hujan (mm) kelompok ke i
Menentukan nilai dari derajat kebebasan dengan menggunakan metode Alternating
dengan rumus: Block Method (ABM). Proses perhitungan
dk = k - 1 - m ................................... (8) kedalaman hujan jam-jaman dengan metode
dengan: Alternating Block Method yaitu sebagai be-
dk = derajat kebebasan rikut (Triatmodjo, 2008, p.264).:
k = banyaknya kelas a. Menghitung kedalaman hujan, perkalian
m = banyaknya parameter untuk antara intensitas hujan yang didapat.
sebaran Chi Square (= 2) b. Menghitung selisih kedalaman curah hu-
Jika nilai X2 hitung lebih kecil dari nilai jan yang berurutan.
X2 kritis (dari tabel Chi Square) maka hipo- c. Menghitung kedalaman curah hujan da-
tesa distribusi hujan rancangan yang diguna- lam persen.
kan dapat diterima. d. Menempatkan nilai persen (%) curah hu-
jan tertinggi pada kolom selanjutnya di
Uji Smirnov-Kolmogorof tengah-tengah durasi hujan, yaitu pada
Uji kecocokan Smirnov-Kolmogorof di- jam ke-3, selanjutnya diletakkan di baris
sebut sebagai uji kecocokan non parametrik keempat, kedua, kelima, kesatu dan ba-
(non parametric test), karena pengujiannya ris keenam.
tidak menggunakan fungsi distribusi tertentu. e. Menghitung hyterograph dalam satuan
Langkah-langkah perhitungan uji keco- mm, yaitu mengalikan % hyterograph
cokan Smirnov Kolmogorof sebagai berikut dengan koefisien pengaliran rata-rata.
(Soewarno, 1995, p.196):
1. Data curah hujan diurutkan dari kecil ke Debit Banjir Rancangan Hidrograf Satuan
besar. Sintetis (HSS) Nakayasu
2. Menghitung nilai peluang. Untuk melakukan perhitungan Hidrograf
3. Menghitung nilai P (x) Satuan Sintetis (HSS) Nakayasu dapat meng-
4. Menghitung selisih Sn (x) dan P(x) gunakan rumus sebagai berikut (Soemarto,
5. Menentukan nilai Δcr dari tabel Smirnov 1987, p.100):
Kolmogorof A  Ro
6. Jika harga Δmaks lebih kecil dari harga Qp  ............ (10)
Δcr, berarti distribusi hujan yang digu- 3,6  (0,3Tp  T0,3 )
nakan secara teoritis sesuai dengan dis- dengan:
tribusi hujan pengamatan. Qp = debit puncak banjir (m3/dt)
A = luas DAS (km2)
Hujan Jam-Jaman Mononobe Ro = hujan satuan (mm)
Intensitas curah hujan jam-jaman yang Tp = waktu dari permulaan hujan
terjadi menurut Mononobe dapat dihitung sampai puncak banjir (jam)
dengan menggunakan rumus sebagai berikut T0,3= waktu penurunan debit dari puncak
(Sosrodarsono, 1980, p.40): sampai 0,3 dari puncak (jam)
R24  t 
2/3 Nilai dari Tp dan T0,3 ditentukan dengan
Rt    ......................... (9) rumus:
t T  Tp = Tg + 0,8 Tr ......................... (11)
dengan: T0,3 = α.Tg .................................... (12)
Rt = intensitas curah hujan dalam T jam Tr = (0,5 ~1).Tg ......................... (13)
(mm/jam) a. Jika panjang sungai > 15 km,
R24 = curah hujan efektif dalam 1 hari maka Tg = 0,4 + 0,058 L ........ (14)
(mm/hari) b. Jika panjang sungai < 15 km,
T = waktu hujan dari awal sampai jam maka Tg = 0,21.L0,7 ................ (15)
ke T (jam) Untuk harga α, Nakayasu memberikan
t = waktu konsentrasi hujan (jam) keleluasaan untuk melakukan verifikasi dan
untuk Indonesia rata-rata 5-7 jam kalibrasi berdasarkan kondisi suatu DAS
α = 2 (pada daerah pengaliran biasa)
Hyterograph Hujan Rancangan Metode α = 1,5 (pada bagian naik hidrograf
Alternating Block Method (ABM) lambat dan turun cepat)
Untuk mendapatkan nilai dari hytero- α = 3 (pada bagian naik hidrograf
graph curah hujan rancangan dapat dihitung cepat dan turun lambat)
i tr dengan :
t tg θ = kemiringan alur (º)
O
0.8 tr tg
Apabila hasil hitung Cd > 0,9 C*, nilai
lengkung naik lengkung turun Cd diambil 0,9 C* dan apabila Cd < 0,3 maka
nilai Cd diambil 0,3.
C
Qs   Cd  Q w ............ (19)
Qp
2

C   Cd
0.3 Qp
0.3 Q

Tp To.3 1.5 To.3


dengan:
Cd = rapat jenis aliran lahar (t/m3)
Gambar 1. Sketsa hidrograf satuan sintetis Qw = debit aliran sungai (m3/dt)
Nakayasu Qs = debit sedimen (m3/dt)
Sumber: Soemarto (1987, p.100) 2. Aliran Hiperkonsentrasi (Lumpur)
Besarnya nilai konsentrasi aliran sedi-
Karakteristik Sedimen men dipengaruhi oleh kemiringan (slope)
Untuk keperluan penentuan sifat dan dasar sungai (tg θ) yang dapat dihitung
karakteristik pengaliran sedimen dapat meng- menggunakan rumus dari Mizuyama sebagai
gunakan rumus sebagai berikut (Departemen berikut (Departemen Permukiman dan
Permukiman dan Prasarana Wilayah, 2004, Prasarana Wilayah, 2004, p.6):
pp.5-6): 11,85  tg 2
1. Aliran debris (tg θ ≥ tg θd) Cd  .................. (20)
C    s   w   tg
1  11,85  tg 2
tg d  .. (16) Qs = 5,5 x tg2θ x Qw ...................... (21)
 1
C     s   w    w  1   dengan:
 k Qs = debit sedimen (m3/dt)
2. Aliran hiperkonsentrasi (tgθh< tgθ <tgθd) Qw = debit aliran sungai (m3/dt)
C  . s   w .tg
tgh  ....... (17) Volume Aliran Sedimen Sekali Banjir
 ho 
C . s   w    w .1  
 Volume sedimen yang terangkut dalam
 d  sekali banjir aliran debris maupun aliran
3. Aliran muatan dasar (tan θ < tg θh) hiperkonsentrasi dapat diprediksi dengan ru-
dengan: mus pendekatan empiris Mizuyama sebagai
ρs = rapat massa material (ton/m3) berikut (Departemen Permukiman dan Pra-
ρw = rapat massa air (ton/m3) sarana Wilayah, 2004, p.5):
k = nilai koefisien eksperimen (0,85 – 1) R24  A  10 3  Cd 
φ = sudut geser dalam statis (º) Vec      Fr .... (22)
C* = konsentrasi sedimen pada dasar sungai
1   1  Cd 
(0,6 ) dengan:
ho = tinggi aliran (m) λ = void rasio (± 0,40)
d = diameter rata-rata butiran material Fr = koefisien koreksi aliran
dasar sungai (m) jika A < 0,1 km2 maka fr = 0,5,
jika A > 10 km2 maka fr = 0,1,
Volume Angkutan Sedimen jika 0,1 < A < 10 km2 maka
Volume angkutan sedimen yang terjadi fr = 0,05 (log A - 2) . 2 + 0,05
dapat dihitung berdasarkan simulasi antara A = luas DAS (km2)
gaya seret aliran air dengan sedimen. Cd = konsentrasi sedimen
1. Aliran Debris (Lahar) R24 = curah hujan harian maksimum
Konsentrasi sedimen aliran debris dapat (mm)
dihitung menggunakan rumus Takahashi- Vec = volume sedimen yang dapat
Ashida yaitu sebagai berikut (Departemen diangkut oleh aliran (m3)
Permukiman dan Prasarana Wilayah, 2004,
p.6): Konsolidasi Dam
 w  tg Langkah-langkah perencanaan bangunan
Cd  ...... (18) konsolidasi dam di Sungai Mujur sebagai
 s   w   tg  tg  berikut:
1. Dimensi Peluap 6. Panjang Kolam Olak
Berikut persamaan untuk menghitung Berikut persamaan untuk menghitung
dimensi peluap pada konsolidasi dam panjang kolam olak pada konsolidasi dam
(Departemen Permukiman dan Prasarana (Departemen Permukiman dan Prasarana
Wilayah, 2004, p.9): Wilayah, 2004, pp.7-8):
Q  2 / 15.C. 2.g .(3B1  2B2 ).h3 L = Iw + X + b2 .......................... (27)
2/3
.. (23)
Jika C = 0,60 ; m2 = 0,5 maka B2 = B1 + 2  ( H 1  0,5  h3 )
Iw = V0  ...... (28)
h3, sehingga rumus menjadi: g
Q = (0,71 . h3 + 1,77 . B1) . h33/2 ..... (24) V0 = q0 / h3 ................................... (29)
Q = Qp . (1 + α) ............................... (25) X = β . hj ..................................... (30)
dengan:
= h1 / 2   1  8  Fr1  1 ...... (31)
2
Q = debit desain (m3/dt) hj
Qp = debit banjir desain (m3/dt)  
α = konsentrasi sedimen h1 = q1 / V1 .................................. (32)
B1 = lebar peluap bagian bawah (m) V1 = 2  g  H1  h3  ................ (33)
B2 = lebar muka air diatas peluap (m)
m2 = kemiringan tepi peluap Fr1 = V1 / g  h1 ........................... (34)
h3 = tinggi air diatas peluap (m) dengan:
2. Lebar Mercu Peluap Iw = jarak terjunan (m)
Penentuan lebar mercu peluap dapat X = panjang loncatan air (m)
dilihat pada Tabel 2. berikut ini: b2 = lebar mercu sub dam (m)
Tabel 1. Penentuan Lebar Mercu Peluap q0 = debit per meter pada peluap
Lebar mercu (b) 1,5 - 2 m 3-4m (m3/dt/m)
Pasir dan kerikil atau kerikil
h3 = tinggi air diatas peluap bendung
Sedimen Batu - batu besar
dan batu-batu kecil utama (m)
Gerakan massa
Sifat hidraulik aliran gerakan mandiri (lepas)
(debris flow) H1 = tinggi bendung utama dari lantai
Sumber: Departemen Permukiman dan Prasa- kolam olak (m)
rana Wilayah (2004, p.22) β = koefisien (4,5 – 5,0)
3. Kemiringan Dam Bagian Hulu (n) hj = tinggi loncatan air (m)
Kemiringan tubuh bendung utama ba- h1 = tinggi air pada titik terjauh
gian hilir diambil nilai 1:0,20 sebagai stan- terjunan (m)
dar, untuk menghindari batu-batu besar yang q1 = debit aliran tiap meter lebar pada
jatuh dari peluap dan tidak menimbulkan titik jatuh terjunan (m3/dt/m)
gaya abrasi pada permukaan tubuh bendung V1 = kecepatan jatuh pada terjunan
bagian hilirnya. (m/dt)
4. Kemiringan Dam Bagian Hilir (m) Fr1 = angka Froude aliran pada titik
Kemiringan tubuh bendung utama bagi- terjunan
an hulu dihitung menggunakan rumus seba- 7. Tinggi Sub Dam
gai berikut (Departemen Permukiman dan Berikut ini persamaan yang digunakan
Prasarana Wilayah, 2004, p.10): untuk menghitung tinggi sub dam pada kon-
solidasi dam menurut rumus percobaan hi-
 b  b2  4  a  c
m ................ (26) draulik (Departemen Permukiman dan Prasa-
2a rana Wilayah, 2004,pp. 8-9):
d/h1 = (1  2  Fr1 )  (1  8  Fr1 )  5  Fr1  1  3 / 2  Fr 3 / 2 (35)
2 2 1/ 2 2
5. Tebal Lantai Kolam Olak
(1  4  Fr1 )  (1  8  Fr1 )1/ 2
2 2 1
Berikut persamaan untuk menghitung
tebal lantai kolam olak pada konsolidasi dam dengan:
(Departemen Permukiman dan Prasarana d = tinggi sub dam (m)
Wilayah, 2004, p.8): h1 = tinggi air pada titik jatuh terjun (m)
t = 0,1 . (0,6 . H1 + 3 . h3 – 1) Fr1 = angka Froude aliran titik terjun
dengan:
t = tebal lantai kolam olak (m) Analisa Stabilitas Konsolidasi Dam
H1 = tinggi bendung utama dari Analisa stabilitas pada bangunan kon-
permukaan lantai kolam olak (m) solidasi dam dilakukan melalui urutan pro-
h3 = tinggi air diatas peluap (m) sedur sebagai berikut:
1. Identifikasi gaya-gaya yang bekerja pa- σ1 = (Pv / D) . (1 + 6 . e / D) ......... (41)
da bangunan konsolidasi dam. σ2 = (Pv / D) . (1 – 6 . e / D) ......... (42)
2. Perhitungan gaya-gaya yang bekerja pa- e = (X – D / 2) .............................. (43)
da bangunan konsolidasi dam. dengan:
3. Perhitungan momen-momen terhadap ti- σ1 = tegangan vertikal pada ujung hilir
tik dasar. bendung (t/m2)
4. Analisa stabilitas σ2 = tegangan vertikal pada ujung hulu
a. Stabilitas terhadap gaya guling. bendung (t/m2)
b. Stabilitas terhadap gaya geser. D = lebar dasar bendung utama (m)
c. Stabilitas terhadap daya dukung ijin e = eksentrisitas resultan gaya yang
tanah pondasi. bekerja
1. Stabilitas Terhadap Guling X = jarak ujung hulu sampai titik
Stabilitas terhadap gaya guling pada tangkap resultan gaya (m)
konsolidasi dam dapat dirumuskan sebagai
berikut: Program Aplikasi (Software) HEC-RAS
X = M / Pv ...................................... (36) HEC-RAS merupakan program aplikasi
e = X – B / 2 .................................. (37) satu dimensi untuk steady flow maupun un-
Pada umumnya besarnya X disyaratkan steady flow. Adanya program aplikasi dalam
sebagai berikut: analisa dan perencanaan persungaian sangat
B/3 < X < 2.B/3 atau e < 1/6 . B .... (38) membantu dalam proses iterasi, karena mem-
MV percepat proses iterasi dan membuat lebih te-
SF = ................................... (39) liti.
MH
Langkah kerja pemodelan HEC-RAS se-
dengan:
bagai berikut:
X = jarak dari tumit bangunan
1. Pembuatan project
bendung tepi (hulu) sampai ke
2. Memasukkan data geometri sungai
titik tangkap resultan gaya (m)
3. Memasukkan data aliran dan kondisi ba-
e = jarak dari as sampai ke titik
tas sungai
tangkap resultan gaya (m)
4. Melakukan analisis hidrolika sungai
MV = jumlah momen yang menahan
5. Menampilkan hasil simulasi
(t.m)
MH = jumlah momen yang
Program Aplikasi (Software) KANAKO2D
menggulingkan (t.m)
Untuk mengetahui proses simulasi aliran
M = momen total
debris di sungai akan menggunakan software
= (MV – MH) (t.m)
KANAKO 2D versi 2.051. Program aplikasi
PV = gaya vertikal total (t)
KANAKO 2D digunakan dengan tujuan agar
B = lebar dasar bendung utama (m)
ketelitian pembacaan dan analisa aliran de-
SF = faktor keamanan terhadap guling
bris menjadi lebih tepat serta mereduksi fak-
2. Stabilitas Terhadap Geser
tor “human error”.
Perhitungan stabilitas terhadap gaya ge-
Langkah-langkah pemodelan KANAKO
ser pada konsolidasi dam dihitung meng-
2D sebagai berikut:
gunakan rumus sebagai berikut:
1. Pengaturan landform 1D dan 2D
SF geser = (f . PV) / PH ................. (40)
2. Pengaturan hidrograf
dengan:
3. Pengaturan jenis sabo dam
PV= gaya vertikal total (t)
4. Simulasi aliran debris
PH= gaya horisontal total (t)
f = koefisien geser antara dasar badan
METODOLOGI PENELITIAN
bendung dan tanah dasar
Lokasi Studi
3. Stabilitas Terhadap Daya Dukung
Lokasi daerah studi yang akan dikaji
Ijin Tanah Pondasi
dalam laporan studi perencanaan ini yaitu
Berikut persamaan untuk menghitung
bagian Sungai Mujur lebih tepatnya terletak
stabilitas terhadap daya dukung ijin tanah pa-
di Desa Pasrujambe Kecamatan Pasrujambe
da bangunan konsolidasi dam (Departemen
Kabupaten Lumajang. Lokasi pekerjaan le-
Permukiman dan Prasarana Wilayah, 2004,
bih tepatnya terletak pada 08°06'44" LS dan
p.12):
113°02'09" BT.
Tabel 2. Uji Konsistensi Data di Stasiun
Wonorenggo Terhadap
Stasiun Sekitar
Curah Hujan Komulatif Tahunan (mm)
Tahun
St. Wonorenggo St. Sekitar
2008 4978 3376
2009 9513 6407
2010 16339 11258
2011 20283 14804
2012 22398 17057
Gambar 2. Lokasi studi 2013 28224 20001
Sumber: Hasil analisa, 2018 2014 33521 22015
Rancangan Analisa Hasil Studi
2015 36005 23716
Langkah-langkah pengerjaan studi dari
awal sampai akhir dapat dilihat pada diagram 2016 39832 26251
alir di bawah ini: 2017 44401 29053
Mulai
Sumber: Hasil perhitungan, 2018
Data Mekanika
Data Curah
Data Tata Data Cross Uji Konsistensi Data Hujan St. Wonorenggo
Tanah dan Guna Lahan Section dan
Hujan
Geologi dan Peta DAS Long Section 50000

Koreksi
Analisa Profil Aliran 45000
Uji Konsistensi
Sungai dengan HEC-RAS R² = 0,990
Tidak Data
40000
Ya
Komulatif Stasiun Wonorenggo (mm)

Kondisi Sungai Eksisting


Curah Hujan Rerata 35000
Daerah Poligon Thiessen

Analisa Frekuensi 30000


1

Uji Distribusi 25000


Koreksi
Frekuensi Tidak

Ya
20000
Curah Hujan
Rancangan

15000
Curah Hujan Jam-
Jaman

Analisa Debit Banjir 10000


Rancangan HSS
Nakayasu

5000
Debit Banjir
Rancangan
2
0
0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 40000 45000 50000
Desain Perencanaan
Konsolidasi Dam
Komulatif Stasiun Sekitar (mm)
3
Kondisi Alur dan
Uji Konsistensi Data Hujan St. Wonorenggo Linear (Uji Konsistensi Data Hujan St. Wonorenggo)
Profil Sungai Setelah
Keterangan:
Gambar 4. Grafik uji konsistensi data hujan
Ada Bangunan
1: Jawaban Rumusan Masalah Pertama 4

2: Jawaban Rumusan Masalah Kedua


Kesimpulan dan
Saran stasiun Wonorenggo
3: Jawaban Rumusan Masalah Ketiga

Selesai
Sumber: Hasil perhitungan, 2018
4: Jawaban Rumusan Masalah Keempat

Gambar 3. Diagram alir pengerjaan studi Curah Hujan Rerata Daerah Poligon
Sumber: Hasil analisa, 2018 Thiessen
Untuk laporan studi ini menggunakan
HASIL DAN PEMBAHASAN metode poligon Thiessen. Metode poligon
Uji Konsistensi Data Hujan Thiessen didasarkan pada rerata timbang
Uji konsistensi hujan dilakukan dengan (weighted average). Masing-masing stasiun
membandingkan curah hujan komulatif ta- penakar curah hujan diasumsikan dipenga-
hunan stasiun yang diuji dengan curah hujan ruhi oleh luasan tertentu. Dibentuk dengan
komulatif rata-rata tahunan stasiun sekitar menggambarkan sumbu tegak lurus terhadap
dengan metode kurva massa ganda. Contoh garis penghubung antara dua stasiun curah
perhitungan uji konsistensi data hujan stasiun hujan yang berdekatan.
hujan yang berada di DAS Mujur dapat Hasil analisa curah hujan rerata daerah
dilihat pada Tabel 2 dan Gambar 4 di bawah maksimum tahunan metode poligon Thiessen
ini: dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini:
Tabel 3. Rekapitulasi Curah Hujan Rerata Hyterograph Metode ABM
Daerah Metode Poligon Thiessen Grafik hyterograph kala ulang 25 tahun
No Tahun CH. Rerata Daerah (mm) metode ABM dapat dilihat pada Gambar 5
berikut ini:
1 2008 82,6
Distribusi Curah Hujan Efektif Tr 25 Tahun
2 2009 193,9 50,0
44,0

3 2010 139,7 40,0

4 2011 90,4

Hujan Jam-Jaman (mm)


30,0
5 2012 71,1
6 2013 88,0 20,0

11,4
7 2014 109,7 10,0
5,4
8,0
6,4
4,7

8 2015 67,4 0,0

9 2016 54,3 0 1 2 3 4 5 6 7
Ja m ke-

10 2017 56,4 Gambar 5. Grafik distribusi curah hujan


Sumber: Hasil perhitungan, 2018 efektif kala ulang 25 tahun
Sumber: Hasil perhitungan, 2018
Curah Hujan Rancangan
Hasil analisa curah hujan rancangan da- Analisa HEC-RAS Sebelum Ada
pat dilihat pada Tabel 4 berikut ini: Bangunan
Tabel 4. Rekapitulasi Hujan Rancangan Analisa profil aliran sungai sepanjang
Tr
Metode Distribusi Hujan Rancangan (mm) 950 m di Sungai Mujur dengan interval patok
No
(Tahun)
Normal Log Normal Gumbel Log Pearson III 50 m menggunakan software HEC-RAS.
19
20
18 17
1 2 95,3 88,3 89,5 83,8
15
16

2 5 131,5 123,5 140,9 120,6 14

13
9
Su ng 12 8
ai
Mu 11
j ur 10
Hulu-Hilir 7

3 10 150,5 147,2 175,0 150,5 6

4 25 170,7 177,6 218,0 195,4


3

5 50 183,6 200,3 249,9 234,6 2

Sumber: Hasil perhitungan, 2018

Uji Chi Square dan Smirnov Kolmogorof NoneGeo-Ref


of Geo-Ref
the XS's
Non
user
Non
Geo-Ref
are
interpolated
entered
Geo-Ref
Geo-Referenced
user
XSinterpolated
XS
entered(XSXS)

Gambar 6. Skema sistem Sungai Mujur


Hasil analisa uji kesesuaian distribusi Sumber: Analisa HEC-RAS, 2018
hujan dapat dilihat pada Tabel 5. berikut ini: 680
Konsolidasi Dam Pasrujambe
Sungai Mujur Hulu-Hilir
Plan: S. Mujur Steady Flow

Legend

Tabel 5. Uji Kesesuaian Distribusi Hujan 675

670
WS Q 25 Tahun
Ground
LOB
ROB

Uji Chi Square 665

660

655

Nilai D hitung
650

α X2 kritis
Elevation (m)

645

Normal Log Normal Gumbel Log Pearson III 640

635

5% 5,991 5,000 1,000 1,000 1,000 630

625

620

Kesimpulan Diterima Diterima Diterima Diterima


615

610
0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500 550 600 650 700 750 800 850 900 950 1000

1% 9,21 1,000 1,000 1,000 1,000 Main Channel Distance (m)

Kesimpulan Diterima Diterima Diterima Diterima


Gambar 7. Profil muka air Sungai Mujur
Q banjir 25 tahun
Uji Smirnov Kolmogorof
Sumber: Analisa HEC-RAS, 2018
Nilai D maks Perencanaan Konsolidasi Dam
α D kritis
Normal Log Normal Gumbel Log Pearson III
Berdasarkan analisa perhitungan yang
telah dilakukan, didapatkan detail dimensi
5% 0,409 0,182 0,112 0,131 0,074
bangunan konsolidasi dam sebagai berikut:
Kesimpulan Diterima Diterima Diterima Diterima a. Tinggi konsolidasi dam =3m
1% 0,486 0,182 0,112 0,131 0,074 b. Lebar peluap = 100 m
Kesimpulan Diterima Diterima Diterima Diterima
c. Tinggi air diatas peluap = 1,35 m
d. Tinggi jagaan = 1,2 m
Sumber: Hasil perhitungan, 2018
e. Lebar mercu peluap = 2,5 m Untuk rekapitulasi perhitungan stabilitas
f. Kemiringan hulu main dam = 0,4 dapat dilihat pada Tabel 6 berikut ini:
g. Kemiringan hilir main dam = 0,2 Tabel 6. Rekapitulasi Perhitungan Stabilitas
h. Tebal lantai kolam olak = 0,458 m SF Hitung Daya Dukung Tanah

i. Panjang kolam olak = 12,67 m Kondisi Keterangan


Guling Geser σ1 σ2
j. Tinggi loncatan air = 1,79 m
k. Tinggi sub dam = 0,72 m Air Penuh 7,257 4,440 7,017 4,691 aman

l. Lebar mercu sub dam = 2,5 m Air Penuh & Gempa 4,349 2,395 8,770 2,939 aman
m. Kedalaman pondasi =2m
Kosong 30,966 4,658 5,564 5,062 aman

Kosong & Gempa 15,900 50,591 6,060 4,566 aman

Banjir 4,213 3,367 12,168 1,076 aman

Banjir & Gempa 2,963 2,238 7,803 5,441 aman

Sumber: Hasil perhitungan, 2018

Analisa HEC-RAS Setelah Ada Bangunan


Gambar 8. Potongan memanjang bangunan
Bangunan konsolidasi dam di Sungai
konsolidasi dam
Sumber: Hasil perhitungan, 2018
Mujur terletak pada cross section 13.7 atau
Stabilitas Bangunan Konsolidasi Dam 15 meter sebelah hilir stasiun 14.
Konsolidasi Dam Pasrujambe Plan: S. Mujur Steady Flow
Sungai Mujur Hulu-Hilir

Bangunan konsolidasi dam harus aman 680

675
Legend

WS Q 25 Tahun
Ground

terhadap gaya guling, gaya geser dan daya 670


LOB
ROB

665

dukung tanah pondasi. Berikut ini disajikan 660

contoh perhitungan stabilitas pada bangunan 655

650
Elevation (m)

konsolidasi dam kondisi penuh: 645

640

1. Stabilitas Terhadap Guling 635

Sf = Σ MV / Σ MH ≥ 1,5 630

= 117,955 / 16,253 ≥
625

1,5 620

= 7,257 ≥ 1,5 (aman) 615

610
0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500 550 600 650 700 750 800 850 900 950 1000

X = (Σ MV - Σ MH) / PV Main Channel Distance (m)

= (117,955 – 16,253) / 35,710 Gambar 9. Profil muka air Sungai Mujur


= 2,848 m Q banjir 25 tahun
Sumber: Analisa HEC-RAS, 2018
1/3 B = 1 / 3 . 6,1 Konsolidasi Dam Pasrujambe Plan: S. Mujur Steady Flow

= 2,033 m 660
.04 .04 .04
Legend

WS Q 5 Tahun

2/3 B = 2 / 3 . 6,1 659


Ground
Bank Sta

= 4,067 m 658

1/3B < X < 2/3B 657

= 2,033 < 2,848 < 4,067 (aman)


Elevation (m)

656

e = |X – B / 2| 655

= |2,848 – 6,1 / 2| 654

= 0,202 653

2. Stabilitas Terhadap Geser 652


0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 220 240

Sf = (f . ƩV) / ƩH ≥ 1,5 Station (m)

Gambar 10. Profil muka air Q 25 tahun


= (0,7.35,71)/ 5,63 ≥ 1,5
cross section 13.7 (konsolidasi
= 4,440 ≥ 1,5 (aman)
dam)
3. Stabilitas Terhadap Daya Dukung Sumber: Analisa HEC-RAS, 2018
Tanah Pondasi
Nilai daya dukung tanah pondasi yang Analisa Software KANAKO 2D
diijinkan (qijin) sebesar 26,178 t/m2 Pemodelan 1D menampilkan topografi,
σ 1= (PV / B).(1 + (6 . e / B)) lebar sungai, ketebalan movable bed layer,
= (35,710 / 6,1) . (1 + (6 . 0,202 / 6,1)) suplai hidrograf dari hulu sungai, sabo dam,
= 7,017 t/m2 ≥ 26,178 t/m2 (aman) serta titik observasi hidrograf. Sedangkan
σ 2= (PV / B).(1 - (6 . e / B)) pemodelan 2D menampilkan bentuk lahan
= (35,710 / 6,1) . (1 - (6 . 0,202 / 6,1)) areal kipas aluvial, serta ketebalan movable
= 4,691 t/m2 ≥ 26,178 t/m2 (aman) bed layer.
3. Berdasarkan besarnya debit desain kala
ulang banjir 25 tahun dan kondisi di su-
ngai, maka desain bangunan konsolidasi
dam direncanakan dengan data-data tek-
nis sebagai berikut:
a. Tinggi konsolidasi dam = 3 m
b. Lebar pelimpah = 100 m
c. Lebar mercu = 2,5 m
d. Tinggi jagaan = 1,2 m
e. Kedalaman pondasi =2m
f. Tebal lantai kolam olak = 0,458 m
Gambar 11. Hasil simulasi Q 25 tahun pada g. Panjang kolam olak = 12,67 m
1790,99 dt h. Tinggi sub dam = 0,72 m
Sumber: Analisa KANAKO 2D, 2018 i. Tinggi tembok tepi = 3,5 m
4. Berdasarkan hasil analisa profil aliran
dengan program aplikasi HEC-RAS di
sebelah hulu bangunan lebih tepatnya
river station 19 dan river station 18 ter-
jadi banjir di sisi kanan sungai yang
merupakan sisi dalam tikungan sungai.
Sedangkan kondisi tebing sungai se-
belah hilir bangunan aman dari limpasan
air. Dengan adanya bangunan konsoli-
dasi dam diharapkan mampu mengatur
serta membentuk alur dan dasar sungai
baru, sehingga proses agradasi dan de-
Gambar 12. Hasil simulasi di kipas alluvial gradasi sungai lebih seimbang dan keda-
Q 25 tahun pada 1799,99 dt laman alur sungai menjadi seragam.
Sumber: Analisa KANAKO 2D, 2018
SARAN
KESIMPULAN Dari hasil studi perencanaan yang telah
Dari hasil analisa data dan perhitungan dilakukan, ada beberapa saran yang dapat
yang telah dilakukan, dapat disimpulkan be- diberikan antara lain sebagai berikut:
berapa hal sebagai berikut: 1. Pengaturan alur dan dasar sungai dengan
1. Berdasarkan kondisi eksisting Sungai bangunan konsolidasi dam sangat di-
Mujur yang telah ditinjau, penempatan perlukan jika terdapat tikungan sungai
posisi bangunan konsolidasi dam dengan yang dapat mengakibatkan proses agra-
mempertimbangkan jarak bangunan de- dasi dan degradasi menjadi tidak seim-
ngan lokasi tikungan sungai dan bentang bang di sisi kanan kiri sungai. Oleh ka-
sungai terletak di river station 13.7. Ja- rena itu perlu dilakukan operasi pemeli-
rak bangunan konsolidasi dam kurang haraan berkala yang rutin agar bangunan
lebih 215 m sebelah hilir tikungan su- konsolidasi dam dapat berfungsi optimal
ngai dengan bentang sungai 173 m. serta membangun perkuatan tebing (re-
2. Berdasarkan analisa perhitungan debit vetment di tanggul sungai.
banjir rancangan HSS Nakayasu dengan 2. Perlunya tindakan tegas dari pihak pe-
kala ulang ulang 25 tahun didapatkan merintah terkait dengan adanya tinda-
debit banjir rancangan dengan nilai se- kan-tindakan yang dapat menimbulkan
besar 155,37 m3/dt. Kemudian nilai de- dampak negatif yang bisa mengganggu
bit banjir rancangan dengan mempertim- kinerja dan fungsi bangunan konsolidasi
bangkan nilai pengaruh konsentrasi se- dam. Peran serta masyarakat dan instan-
dimen aliran hiperkonsentrasi di Sungai si terkait juga diperlukan untuk mence-
Mujur sebesar 0,32 didapatkan nilai de- gah terjadinya tindakan yang dapat me-
bit desain bangunan konsolidasi dam de- rugikan kelangsungan fungsi bangunan
ngan nilai sebesar 204,42 m3/dt. konsolidasi dam.
DAFTAR PUSTAKA Nakatani, K., Wada, T., Satofuka, Y., &
Kementerian Pekerjaan Umum. 2012. Desain Mizuyama, T. (2008). Development of
Bangunan Pengendali Sedimen (Desain Kanako 2D (Ver.2.00) a user friendly
Sabo). Jakarta: Kementerian Pekerjaan one and two dimensional debris flow
Umum. simulator equipped with a graphical user
Departemen Permukiman dan Prasarana Wi- interface. International Journal of Ero-
layah. 2004. Pd T-12-2004-A Perenca- sion Control Engineering. 1 (2):1-11.
naan Teknis Bendung Pengendali Dasar Priyantoro, D. 1987. Teknik Pengangkutan
Sungai. Jakarta: Departemen Permuki- Sedimen. Malang: Jurusan Pengairan
man dan Prasarana Wilayah. Fakultas Teknik Universitas Brawijaya.
Departemen Permukiman dan Prasarana Wi- Soemarto, C.D. 1987. Hidrologi Teknik Edisi
layah. 2004. Pd T-18-2004-A Pembu- ke-2. Jakarta: Erlangga.
atan Peta Bahaya Akibat Aliran Debris. Soewarno. 1995. Hidrologi Aplikasi Metode
Jakarta: Departemen Permukiman dan Statistik Untuk Analisa Data Jilid 1.
Prasarana Wilayah. Bandung: Nova
Asdak, Chay. 2010. Hidrologi dan Penge- Sosrodarsono, S dan Takeda, K. 1980.
lolaan Daerah Aliran Sungai. Yogya- Hidrologi untuk Pengairan. Jakarta: PT.
karta: Gadjah Mada University Press. Pradnya Paramita.
Montarcih, L. 2009. Hidrologi Teknik Te- Triadmodjo, B. 2008. Hidrologi Terapan.
rapan. Malang: CV Asrori. Yogyakarta: Beta Offset.