Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

ISOLASI, ANALISA KUANTITATIF dan


KUALITATIF FLAVONOID

Dosen Pengampu : Ghani

Disusun Oleh :
Yustina I rahayaan (23175269a)

Moch. Mafi muzaki (23175270A)

Septiani devi saraswati (23175271A)

Lutvi setia pajindra (23175272A)

Atika cahya pratiwi (23175273A)

Eva fitriana (23175274A)

Aprilia shinta dewi (23175275A)

Ulfa lutthfiyyana (23175276A)

Krisna putri ayu s (23175277A)

Laurensia chrisantoso (23175278A)

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SETIA BUDI

SURAKARTA

2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang besar.
Banyak tanaman-tanaman obat yang dapat dijumpai di Indonesia. Tanaman ini telah
digunakan sebagai pengobatan tradisional secara turun temurun oleh berbagai etnis di
Indonesia. Pada tanaman obat tersebut mengandung berbagai senyawa kimia yang dapat
dijadikan sebagai bahan dasar obat baik obat herbal maupun obat semi sintesis.
Salah satu golongan senyawa kimia yang banyak ditemukan dalam jaringan
tumbuhan yaitu senyawa kimia golongan flavonoid. Senyawa ini merupakan salah satu
metabolit sekunder dapat digunakan sebagai anti mikroba, obat infeksi pada luka, anti
jamur, anti virus, anti kanker, dan anti tumor. Selain itu flavonoid juga dapat digunakan
sebagai anti bakteri, anti alergi, sitotoksik, dan anti hipertensi (Sriningsih, 2008).
Flavonoid adalah suatu kelompok senyawa fenol yang terbesar ditemukan di alam.
Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu, dan biru, dan sebagian zat warna
kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan. Flavonoid mempunyai kerangka dasar
karbon yang terdiri dari 15 atom karbon, dimana dua cincin benzene (C6) terikat pada suatu
rantai propan (C3) sehingga membentuk suatu susunan C6-C3-C6.
Flavonoid merupakan senyawa polar karena memiliki sejumlah gugus hidroksil yang
tidak tersubstitusi. Pelarut polar seperti etanol, metanol, etilasetat, atau campuran dari
pelarut tersebut dapat digunakan untuk mengekstrak flavonoid dari jaringan tumbuhan
(Rijke, 2005). Ada beberapa uji kualitatif yang dapat menunjukkan suatu jaringan
tumbuhan mengandung senyawa flavonoid. Oleh karena itu pada makalah ini akan
menjelaskan mengenai isolasi dan analisis kualitatif dan kuantitatif senyawa kimia
golongan flavonoid.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana analisis kualitatif senyawa flavonoid ?
2. Bagaimana analisis kuantitatif senyawa flavonoid ?
3. Contoh mengisolasi senyawa kimia flavonoid dari suatu jaringan tumbuhan
4. Macam-macam senyawa kimia golongan flavonoid
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui analisis kualitatif senyawa flavonoid
2. Untuk mengetahui analisis kuantitatif senyawa flavonoid
3. Untuk mengetahui cara mengisolasi senyawa kimia flavonoid dari suatu jaringan
tumbuhan
4. Untuk mengetahui macam-macam senyawa kimia golongan flavonoid
BAB II
PEMBAHASAN
A. Analisis Kualitatif Senyawa Flavonoid
Untuk mengetahui suatu tanaman mengandung senyawa flavonoid dapat
dilakukan dengan uji kualitatif menggunakan pelarut yang sesuai seperti methanol,
n-heksana, etil asetat dan air. Mulanya tanaman dibuat ekstrak kental dengan
menggunakan pelarut-pelarut tersebut lalu difraksinasi sehingga diperoleh fraksi
ekstrak methanol, fraksi etil asetat, fraksi n-heksan, dan fraksi air yang kemudian
direaksikan dengan beberapa pereaksi antara lain Mg-HCl, H2SO4, dan NaOH.
Pada fraksi methanol yang direaksikan dengan pereaksi Mg-HCl, suatu
tanaman dikatakan mengandung senyawa flavonoid jika terjadi perubahan warna
menjadi berwarna hijau kekuningan atau hijau muda. Jika pereaksi yang digunakan
berupa H2SO4 maka akan terjadi perubahan warna menjadi hijau kekuningan atau
hijau kehitaman. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman tersebut positif mengandung
senyawa flavonoid. Kemudian jika pereaksi yang digunakan berupa larutan NaOH
maka hasil positif menunjukkan perubahan warna menjadi hijau kekuningan hingga
kuning kecoklatan.
Pada fraksi n-heksana fraksi etil asetat yang direaksikan dengan pereaksi Mg-
HCl, suatu tanaman dikatakan mengandung senyawa flavonoid jika terjadi
perubahan warna menjadi berwarna hijau kecoklatan atau hijau muda. Jika pereaksi
yang digunakan berupa H2SO4 maka akan terjadi perubahan warna menjadi hijau
kecoklatan atau hijau kehitaman. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman tersebut
positif mengandung senyawa flavonoid. Kemudian jika pereaksi yang digunakan
berupa larutan NaOH maka hasil positif menunjukkan perubahan warna menjadi
hijau kecoklatan hingga coklat keruh.
Sementara pada fraksi air yang direaksikan dengan pereaksi Mg-HCl, suatu
tanaman dikatakan mengandung senyawa flavonoid jika terjadi perubahan warna
menjadi berwarna kuning muda hingga kuning emas. Jika pereaksi yang digunakan
berupa H2SO4 maka akan terjadi perubahan warna menjadi kuning muda hingga
merah tua. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman tersebut positif mengandung
senyawa flavonoid. Kemudian jika pereaksi yang digunakan berupa larutan NaOH
maka hasil positif menunjukkan perubahan warna menjadi kuning muda hingga
coklat keruh. Perubahan warna ini terjadi karena flavonoid termasuk merupakan
senyawa fenol yang bila direaksikan dengan larutan yang bersifat basa akan
terbentuk warna yang disebabkan terjadinya system konjugasi dari gugus aromatic.
B. Analisis Kuantitatif
Analisis kualitatif dilakukan untuk mengetahui komponen kimia pada tumbuhan
dengan menggunakan reagen besi (III) klorida (FeCl3). Diamati perubahan warna
yang terbentuk yaitu warna hijau (Harborne, J.B 1987).
Analisis kuantitatif senyawa flavonoid total dengan menggunakan spektrofotometri
UV-Vis dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kadar flavonoid total yang
terkandung pada ekstrak etanol tumbuhan yang diuji. Analisa flavonoid dilakukan
dengan menggunakan Spektrofotometri UV-Vis karena flavonoid mengandung
sistem aromatik yang terkonjugasi sehingga menunjukkan pita serapan kuat pada
daerah spektrum sinar ultraviolet dan spektrum sinar tampak (Harborne, J.B 1987).

C. Contoh Isolasi Senyawa Flavonoid


Pada kali ini akan dicontohkan pengambilan isolate senyawa flavonoid dari
rimpang tumbuhan Boesenbergia pandurata (Roxb.) Schlecht. Proses isolasi ini
dapat dilakukan melalui beberapa tahap yaitu proses ekstraksi dengan maserasi
menggunakan pelarut etil asetat. Pelarut etil asetat digunakan karena etil asetat
merupakan pelarut yang baik untuk beberapa jenis flavonoid seperti katekin dan
proantosianidin (Robinson,1995). Selain itu juga etil asetat merupakan pelarut yang
baik untuk mendeteksi flavon dan flavonol (Harborne, 1987).
Kemudian pemisahannya dilakukan dengan menggunakan kromatografi
vakum cair dan kromatografi kolom gravitasi yang kemudian dilanjutkan dengan
proses rekristalisasi dengan pelarut benzene sampai diperoleh senyawa hasil isolasi.
Senyawa hasil isolasi kemudian diidentifikasi menggunakan spektroskopi UV-
Vis,FT-IR,dan GC-MS. Hasil identifikasi menunjukkan jumlah massa permuatan
isolat sebesar 256 m/z pada waktu retensi 22,579. Hasil tersebut menunjukkan
karakteristik bahwa senyawa hasil isolasi merupakan senyawa flavonoid yang
memiliki rumus molekul C15H12O4.

D. Macam-macam Senyawa Flavonoid,Karakteristik dan identifikasi senyawa


Flavonoid
Karakteristik flavonoid dapat didasarkan atas reaksi warna dan kelarutannya. Jika
tidak ada pigmen yang mengganggu, flavonoid dapat dideteksi dengan uap amonia
dan memberikan warna spesifik untuk masing-masing golongan. Reaksi warna
flavonoid dapat dilihat pada tabel II. Penafsiran bercak dari segi struktur flavonoid
dapat dilihat pada tabel III
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

Gafur MA dkk ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA FLAVONOID DARI DAUN

JAMBLANG (Syzygium cumini): Universitas negeri gorontalo

Indarto, UJI KUALITATIF DAN KUANTITATIF GOLONGAN SENYAWA ORGANIC DARI

KULIT DAN KAYU BATANG TUMBUHAN (Artocarpus dadah miq): IAIN raden intan
lampung

Mukhriani 2015, KADAR FLAVONOID TOTAL PADA EKSTRAK DAUN SIRSAK (annona

muricata l.) DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS : Universitas islam


negeri alauddin makassar