Anda di halaman 1dari 31

xxx yyy

Ind
P

PETUNJUK TEKNIS
PENGAMATAN KARIER TIFOID

Kementerian Kesehatan RI
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit
dan Penyehatan Lingkungan
Direktorat Pengendalian Penyakit Menular Langsung

Tahun 2015
KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji syukur Kehadirat Allah SWT, pada akhirnya


buku Petunjuk Teknis Pengamatan Karier Tifoid pada Penjamah
Makanan ini dapat diselesaikan. Buku ini merupakan edisi pertama,
sehingga memerlukan masukan dari berbagai pihak untuk
penyempurnaan di masa yang akan datang.

Buku ini ditujukan terutama pada petugas B/BTKL, penanggung


jawab/pengelola program/kegiatan pengendalian tifoid di dinas
kesehatan provinsi dan dinas kesehatan kabupaten/kota Dengan
adanya petunjuk teknis ini diharapkan petugas B/BTKL, dinas
kesehatan provinsi dan kabupaten/kota mampu melakukan
pengamatan tifoid pada penjamah makanan, sehingga besaran
masalahnya dapat diketahui sekaligus sebagai bahan penyusunan
perencanaan dalam pengendalian tifoid di Indonesia.

Ucapan terima kasih disampaikan semua pihak yang telah


meluangkan waktu dalam membantu penyusunan petunjuk teknis
ini, semoga Allah SWT meridhoi usaha kita dalam pengendalian
tifpoid di Indonesia.

Jakarta, Juni 2015

Direktur Jenderal PP dan PL,

dr. H.M. Subuh, MMPM


NIP.196201191989021001

i
TIM PENYUSUN

Pengarah : Dr. Sigit Priohutomo, MPH (Direktur P2ML, Ditjen PP dan PL)

Editor : dr. Toni Wandra, M.Kes, Ph.D


dr. Nyoman Kandun, MPH
Naning Nugrahini, SKM, MKM

Kontributor : 1. Naning Nugrahini, SKM, MKM (Kasubdit Diare dan ISP)


2. dr. Yullita Evarini Yuzwar, MARS (Kasi Bimev, Subdit Diare dan ISP)
3. Eli Winardi, SKM, MKM (Kasi Standarisasi, Subdit Diare dan ISP)
4. dr. Nyoman Kandun, MPH (FETP Indonesia)
5. dr. Mulya Rahma Karianti, Sp.A (K) (Ketua Divisi Penyakit Tropik
dan Infeksi, Departemen IKA, FKUI-RSCM)
6. dr. Widayat Djoko Santoso, Sp.PD-KPTI (Divisi Penyakit Tropik
dan Infeksi, Departemen IPD, FKUI-RSCM)
7. dr. Adityo Susilo, Sp.PD (Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi,
Depertemen IPD, FKUI-RSCM)
8. Dr. dr. Julitasari Sundoro, MSC-PH
9. dr. Toni Wandra, M.Kes, Ph.D (Ketua Prodi Magister Ilmu
Kesehatan Masyarakat, Direktorat Pascasarjana, Universitas Sari
Mutiara Indonesia)
10. dr. Endah Kusumowardani, M.Epid (BBTKL Jakarta)
11. drg. Rudi Hendro Putranto, M.Si (Pusat Biomedis dan Teknologi
Dasar Kesehatan)
12. Ananta Rahayu, SKM, MKM
13. dr. Nur Indah Lestari
14. dr. Pratono
15. Emita Azis, SKM, MPH
16. Muh. Purwanto, SKM, MKM
17. Retno Trisari, SKM
18. Windi Oktavina, SKM, M.Epid
19. Yulistin Ismayati, SKM
20. Yusmariami, SKM

Sekretariat : Arman Zubair, SAP


Lilis Budiarti, S. Sos

ii
DAFTAR ISI

Halaman

Kata Pengantar …………………………………………………………………..….. i


Daftar Isi ……………………………………………………………………………..…. iii

BAB I. PENDAHULUAN …………………………….………………………….… 1


Latar Belakang ………………………….................................... 1
A. Tujuan …………………………………………………………………… 6
B. Sasaran …………………………………………………………………. 6
C. Dasar Hukum ………………………………………………………… 6

BAB II. PENGAMATAN KARIER TIFOID …………………..……………..… 9


A. Kegiatan Pengamatan Karier Tifoid ……………………….. 9
B. Contoh Kegiatan Pengamatan Karier Tifoid …………… 11
C. Pengolahan dan Analisis Data ……………………………..… 14
D. Penanganan Karier Tifoid …………………………………….… 15
E. Pelaporan ………………………………………………………………. 16

BAB III. WAWANCARA, OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN


LABORATORIUM ………………………………………………………... 17
A. Wawancara ……………………………………………………………. 17
B. Observasi ………………………………………………………………. 18
C. Pemeriksaan Usap Dubur …………………………………….… 18

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………....................... 21

LAMPIRAN
Lampiran 1. Kuesioner/Form Pengamatan Karier Tifoid
Lampiran 2. Form Pelaporan Pengamatan Tifoid

iii
iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Demam tifoid (selanjutnya disebut tifoid saja)


merupakan salah satu infeksi saluran pencernaan yang
memiliki permasalahan tersendiri selain diare. Di
Indonesia, tifoid bersifat endemik dan merupakan
masalah kesehatan masyarakat. Dari hasil telaahan
kasus di rumah sakit besar di Indonesia menunjukkan
adanya kecenderungan peningkatan kasus tersangka
tifoid dari tahun ke tahun dengan rata-rata kesakitan
500/100.000 penduduk dan kematian antara 0,6-5%.
Dewasa ini tifoid perlu mendapat perhatian serius,
karena permasalahannya yang semakin kompleks,
sehingga menyulitkan upaya pengobatan dan pencega-
hannya (Kepmenkes No. 365/2006).
Prevalensi tifoid berdasarkan diagnosis oleh tenaga
kesehatan adalah sebesar 0,79% (Riskesdas, 2007).
Angka kesakitan tifoid di Indonesia yang tercatat dalam
buletin WHO tahun 2008, yaitu 81,7 per 100.000
penduduk, dengan sebaran menurut kelompok umur
0,0/100.000 (0-1 tahun), 148,7/100.000 penduduk (2-4
tahun), 180,3/100.000 (5-15 tahun), dan 51,2/ 100.000

1
(≥16 tahun). Angka ini menunjukkan bahwa penderita
terbanyak adalah pada kelompok usia 2-15 tahun.
Sebesar 20-40% kasus tifoid perlu menjalani perawatan
di rumah sakit, dan biaya yang dikeluarkan negara
diperkirakan mencapai 60 juta dolar Amerika per tahun.

Permasalahan penting terkait tifoid, antara lain: 1)


Penyakit ini merupakan masalah kesehatan masyarakat,
tetapi masih terabaikan dalam penaganannya; 2)
Penyakit ini dapat menurunkan produktifitas kerja, me-
ningkatkan angka ketidakhadiran anak sekolah, karena
masa penyembuhan dan pemulihannya yang cukup
lama; 3) Penyakit ini dapat sembuh sempurna, tetapi
jika tidak ditangani dengan baik, maka dapat menye-
babkan seseorang menjadi karier (sebagai sumber
penularan penyakit), menimbulkan komplikasi dan
kematian: 4) Penyakit ini sangat mudah dicegah dengan
perubahan perilaku masyarakat, namun merubah peri-
laku masyarakat tersebut tidaklah mudah.

Sanitasi lingkungan dan hiegene perorangan yang


kurang baik, dan masih tingginya angka kemiskinan di
Indonesia sangat mempengaruhi penularan dan
penyebaran tifoid. Bila para penderita tidak berobat
misalnya karena keterbatasan akses ke fasilitas
kesehatan sehingga menjadi karier (tidak

2
memperlihatkan gejala penyakit, tetapi dapat
menularkan agen penyakit), maka bila mereka menjadi
penjamah makanan, akan menjadi sumber penularan
penyakit bagi masyarakat. Tingginya risiko penularan pe-
nyakit melalui penjual makanan di jalanan dengan
tingkat kebersihan yang buruk, berkontribusi terhadap
peningkatan jumlah kasus tifoid di Indonesia. Pada saat
bencana, kejadian tifoid perlu diwaspadai, karena
kondisi sanitasi lingkungan dan higiene perorangan yang
buruk.

Penderita tifoid mempunyai potensi untuk menjadi


karier (carrier) setelah penyakitnya disembuhkan. Era
sebelum antibiotika digunakan, diperkirakan sedikitnya
5% penderita menjadi karier. Hasil studi yang dilakukan
dewasa ini, angka tersebut hanya sedikit mengalami
penurunan. Di India pada tahun 2005 menurun menjadi
sekitar 3%. Dari hasil deteksi dini karier tifoid yang
dilakukan di DKI Jakarta tahun 2013 didapatkan
prevalensi sebesar 2,9%.

Bagi penderita yang tidak diobati dengan adekuat,


insidensi karier dilaporkan 5-10% dan kurang dari 3%
menjadi karier kronik. Karier intestinal kronik biasanya
mempunyai faktor predisposisi penyakit kronik di hati
seperti opisthorchiasis dan kolelitiasis, dan untuk karier

3
urinari kronik mempunyai penyakit kronik di ginjal
seperti urolitiasis.

Satu hal yang juga perlu menjadi perhatian dalam


pengendalian karier tifoid adalah bahwa dengan masih
rendahnya sensitifitas pemeriksaan laboratorium
(biakan tinja) untuk konfirmasi karier tifoid yang ada
saat ini (sekitar 30%), maka prevalensi karier tifoid yang
ditemukan kemungkinan belum mencerminkan situasi
masalah yang sebenarnya di lapangan (iceberg
phenomenon).

Mengingat peran karier tifoid dalam penularan tifoid,


maka perlu dilakukan pengamatan dan penanganan
sesegera mungkin, sehingga kejadian kasus baru tifoid
dapat dicegah dan angka kesakaitan dan kematian tifoid
dapat diturunkan serendah mungkin.

Tujuan jangka pendek pengamatan tifoid adalah: 1)


Terdeteksinya karier tifoid pada penjamah makaan; 2)
Diketahuinya prevalensi karier tifoid pada penjamah
makanan; 3) Diketahuinya distribusi frekuensi karier
tifoid menurut umur; 4) Diketahuinya distribusi
frekuensi karier tifoid menurut jenis kelamin; 5)
Diketahuinya distribusi frekuensi karier tifoid menurut
domisili; 6) Diketahuinya distribusi frekuensi karier tifoid

4
menurut tingkat pendidikan; 7) Diketahuinya distribusi
frekuensi karier tifoid menurut pengetahuan tentang
cara penularan tifoid; 8) Diketahuinya distribusi
frekuensi karier tifoid menurut sikap terhadap upaya
pencegahan tifoid; 9) Diketahuinya distribusi frekuensi
karier tifoid menurut perilaku higiene perorangan; 10)
Diketahuinya distribusi frekuensi karier tifoid menurut
perilaku sanitasi lingkungan; 11) Terlaksananya
penanganan/pengobatan karier tifoid sesegera
mungkin.

Dengan diketahuinya situasi masalah karier tifoid


kemudian dengan melakukan pengendalian seoptimal
mungkin, maka diharapkan tujuan jangka panjang dapat
tercapai, yaitu: 1) Menurunnya jumlah kasus infeksi
baru tifoid; 3) Menurunnya angka kesakitan (prevalensi)
tifoid; dan 4) Menurunnya angka kematian (CFR=Case
Fatality Rate) tifoid.

Sasaran pengamatan karier tifoid adalah: 1) Seluruh


(100%) provinsi melaksanakan pengamatan karier tifoid
pada tahun 2019; dan 2) Sebanyak 30% kabupaten/kota
melaksanakan pengamatan karier tifoid pada tahun
2019.

5
B. Tujuan

1. Tujuan umum
Terlaksanakan pengamatan karier tifoid di provinsi
dan kabupaten/kota di Indonesia

2. Tujuan khusus
Petugas B/BTKL, dinas kesehatan provinsi, dan dinas
kesehatan kabupaten/kota mampu melakukan
pengamatan karier tifoid pada penjaja makanan di
wilayah kerja kabupaten/kota.

C. Sasaran

Petugas B/BTKL, penanggung jawab/pengelola program/


kegiatan pengendalian tifoid di dinas kesehatan provinsi
dan dinas kesehatan kabupaten/ kota.

D. Dasar Hukum

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32


Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia

6
Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5063).
3. Undang-Undang Republik ndonesia Nomor 36 Tahun
2014 tentang Tenaga Kesehatan.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996
tentang Tenaga Kesehatan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 49,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3637).
5. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1438/
MENKES/PER/IX/2010 tentang Standar Pelayanan
Kedokteran.
6. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor
1501/MENKES/PER/X/2010 tentang Jenis Penyakit
Menular tertentu yang dapat Menimbulkan Wabah
dan Upaya Penanggulangan.
7. Keputusan Menteri Kesehatan RINomor 1457/
MENKES/SK/X/2003 tentang Standar Pelaya-nan
Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/ Kota.
8. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 206/MENKES/SK/II/2008 tentang Komite Ahli
Pengendalian Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan.
9. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
1144/MENKES/PER/VIII/2010 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Kementerian Kesehatan RI.

7
10. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 021/MENKES/
SK/I/2011 tentang Rencana Strategis Kementerian
Kesehatan Tahun 2015-2019.
11. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 365/Menkes/
SK/V/2006 tentang Pedoman Pengendalian Demam
Tifoid.

8
BAB II
PENGAMATAN KARIER TIFOID

A. Kegiatan Pengamatan Karier Tifoid

1. Pelaksana
 B/BTKL bekerja sama dengan Perguruan Tinggi,
dinas kesehatan provinsi dan dinas kesehatan
kabupaten/kota, dan mitra kerja terkait lainnya.
 Bila provinsi yang tidak ada BTKL-nya, maka
pelaksana adalah Dinkes Provinsi bekerjasama
dengan Perguruan Tinggi dan mitra kerja terkait
lainnya.

2. Lokasi
Wilayah kerja kabupaten/kota.

3. Populasi pengamatan
Seluruh penjamah makanan, seperti penjamah
makan di lingkungan sekolah, tenda/warung
jajanan/ makanan, restoran, katering, hotel, petugas
yang menyajikan makanan (bagian gizi) di fasilitas
kesehatan, pelabuhan, bandara, terminal dan
penjamah makanan di tempat-tempat yang
menyediakan makanan untuk umum lainnya.

9
4. Populasi sampel
Sebagian penjamah makanan, seperti penjamah
makan di lingkungan sekolah, tenda/warung
jajanan/makanan, restoran, katering, hotel, petugas
yang menyajikan makanan (bagian gizi) di fasilitas
kesehatan, pelabuhan, bandara, terminal dan
penjamah makanan di tempat-tempat yang
menyediakan makanan untuk umum lainnya.

5. Besar sampel
Besar sampel minimal, yaitu sebanyak 200
penjamah makanan

6. Pemeriksaan (wawancara)
Pengisian form wawancara (form terlampir)

7. Pengamatan
Pengisian form observasi (form terlampir)

8. Pemeriksaan laboratorium
Melakukan rectal swab dan pengiriman sampel ke
laboratorium rujukan.

9. Frekuensi
Satu kali dalam setahun

10
B. Contoh Kegiatan Pengamatan Karier Tifoid

1. Populasi dan Sampel

a. Populasi pengamatan
Semua penjamah makanan di wilayah kerja
Kabupaten NN

b. Populasi sampel
Sebagian penjamah makanan di wilayah kerja
Kabupaten NN yang dipilih secara acak.

c. Besar sampel
Besar sampel minimal, yaitu sebanyak 200
penjamah makanan.

2. Prosedur Pengambilan Sampel


Metode sampling yang digunakan adalah Multistage
Cluster Sampling yang dilakukan dalam beberapa
tahapan dan menggunakan lebih dari satu macam
metode sampling.
a. Pilih salah satu kecamatan di wilayah kerja
Kabupaten NN secara acak (Simple Random
Sampling).
b. Buat daftar (kerangka sampel) seluruh penjaja
makanan yang ada di kecamatan terpilih dengan

11
memberi nomor urut 1 sampai dengan selesai,
kemudian pilih sebanyak 200 penjaja makanan
dengan cara Systematic Random Sampling
dengan cara:
1) Hitung interval dengan rumus: seluruh
penjaja makanan di kecamatan terpilih
dibagi dengan jumlah sampel pengamatan
(200). Misalnya jumlah penjaja makanan=
600 orang, jumlah sampel=200, maka interval
= 600/200=3.
2) Pilih nomor sampel pertama (starting point)
dalam kerangka sampel, dengan cara
memilih angka 1 sampai dengan 3 (dari
angka besarnnya interval:1,2,3) secara acak
(Simple Random Sampling).
3) Misalnya terpilih sampel nomor 2 pada
kerangka sampel, maka sampel berikutnya
yang diambil adalah nomor 5, 8, dan
seterunya (interval 3), sehingga diperoleh
besar sampel sebanyak 200.

3. Pengumpulan Data
a. Sumber data
Dari responden yang diwawancarai (menggu-
nakan form terlampir), pengamatan higiene
penjamah makanan (seperti kebersihan tangan,

12
kuku, cuci tangan, penggunanan sarung tangan
khusus) dan sanitasi seperti tempat jualan, air
cucian peralatan makan/minum, air minum
(form pengamatan terlampir), dan hasil
pemeriksaan laboratorium penjamah makanan
(rectal swab, biakan, dan tes resistensi bila
diperluan).

b. Jenis data
Jenis data adalah data primer yang diperoleh
dari hasil wawancara, pengamatan, dan
pemeriksaan laboratorium.

c. Cara pengumpulan data


Pengisian kuesioner dilakukan oleh petugas
berdasarkan jawaban dari pertanyaan-
pertanyaan yang diajukan kepada responden.

Setelah kuesioner terisi dilanjutkan dengan


pengamatan higiene dan sanitasi. Selanjutnya
melakukan pemeriksaan rectal swab pada waktu
dan tempat yang telah ditentukan sebelumnya.

13
C. Pengolahan dan Analisis Data
Setelah data berhasil dikumpulkan, dilakukan
pengolahan dan analisis data. Analisis data misalnya
menggunakan perangkat lunak EPI INFO atau SPSS.

1. Editing
Pada saat editing harus dilihat kelengkapan dari
pengisian form pertanyaan dan pengamatan, hal ini
sudah dapat dimulai di lapangan pada waktu
pengumpulan data.

2. Program entry data


Memasukkan semua data dari jawaban kuesioner
berdasarkan variabel. Sebelumnya sudah diberi kode
(coding).

3. Program analisis data


Meliputi analisis univariat, dan bila memungkinkan
bivariat, dan multivariat (dengan menggabungkan
data dan bila memungkinkan dengan menambahkan
pertanyaan-pertanyaan yang diperlukan).

4. Penyajian data
Dalam bentuk tabel dan grafik, dan narasi.

14
D. Penanganan Karier Tifoid

1. Penanganan
a. Untuk karier tifoid dirujuk untuk mendapatkan
penanganan lebih lanjut.
b. Evaluasi dan atasi bila ada faktor predisposisi
karier (batu empedu dan batu ginjal).
c. Untuk yang bukan karier tifoid dianjurkan
vaksinasi tifoid.

2. Penyuluhan (KIE)
Penyuluhan (KIE) kepada responden atau
masyarakat di sekitarnya (perorangan/ kelompok)
tentang tifoid, faktor risiko, dan cara pencegahan
penyakit agar tidak tertular dan menularkan kepada
orang lain. Bila memungkinkan disetai pemberian
media KIE seperti leaflet dan selebaran.

Materi KIE antara lain meliputi:


 Penularan tifoid terutama melalui makanan dan
air minum, sehingga makanan dan minuman yang
terjamin higienisnya merupakan hal yang utama
dalam pencegahan tifoid.
 Lindungi makanan dari serangga, binatang
pengerat dan binatang lainnya.
 Gunakan air bersih atau air yang dibersihkan

15
 Mencuci tangan dengan air mengalir dan
menggunakan sabun
 Pengolahan dan penyajian makanan secara cermat
dan bersih.
 Perlu juga disampaikan bahwa penularan tifoid
juga bisa dari sayur-sayuran, maka jangan
menyiram sayuran dengan air got/air kotor, karena
apabila sayuran sudah terkontaminasi dengan
Salmonella sp, maka biarpun direbus sampai
mendidih maka kuman akan mati tapi toksinnya
tidak hilang.

E. Pelaporan
Secara berjenjang mulai dari BTK, dinas kesehatan
kabupaten/kota, dinas kesehatan provinsi dan Ditjen PP
dan PL (cq. Subdit Diare dan ISP).

16
BAB III
WAWANCARA, OBSERVASI, DAN PEMERIKSAAN
LABORATORIUM

A. Wawancara

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ke target sasaran


(responden) antara lain meliputi:
1. Sumber informasi tentang tifoid (radio, TV, suratkabar,
majalah, tabloid, selebaran, poster, spanduk, billboard,
baliho, teman, keluarga, orang tua, atau petugas
kesehatan)
2. Cara penularan tifoid
3. Riwayat sakit tifus, apakah berulang, dan kapan terakhir
kali
4. Riwayat imunisasi tifoid, frekuensi, dan kapan terakhir kali
5. Pertanyaan terkait sikap terhadap pencegahan penyakit
6. Riwayat pekerjaan, dan sudah berapa lama, misalnya
sebagai penjamah makanan
7. Riwayat keluarga dan sekitarnya (tetangga) apakah ada
yang pernah atau sedang menderita tifoid

17
B. Observasi

1. Apakah cuci tangan sebelum penyajian makanan


2. Kebersihan kuku
3. Apakah menggunakan sarung tangan khusus pada saat
penyajian makanan
4. Kebersihan tempat jualan
5. Air cucian peralatan makan/minum, apakah tersedia air
mengalir (air keran) dan sabun
6. Sumber air minum.

C. Pemeriksaan Usap Dubur (Rectal Swab)

1. Bahan dan alat


 Media transport cairan Cary and Blair atau Pepton
dalam botol MC Cartney. Media transport berisi
cairan ½-¾ botol dalam keadaan steril.
 Kapas lidi steril (lidi water), yaitu lidi yang pada
ujungnya dililit kapas.
 Sarung tangan bersih/steril.
 Spidol huruf kecil
 Formulir pengambilan untuk pemeriksaan labora-
torium
 Gunting kecil.
 Kertas cellotipe.
 Lampu bunsen

18
 Termos es.
 Tas pembawa contoh.
 Buku harian pengambilan contoh
 Sabun desinfektan.

2. Teknik Pengambilan:
 Persiapkan segala sesuatu untuk pemeriksaan usap
dubur termasuk persiapan botol media transpor,
kertas lidi dan lampu Bunsen.
 Persiapkan catatan pada formulir pemeriksaan
tentang nama yang di periksa, umur dan tanggal
pemeriksaan serta tempat kerjanya.
 Persiapkan sarung tangan dan dipakai dengan rapi.
 Perintahkan dengan cara sopan kepada orang yang
akan diambil usap duburnya dengan posisi
menungging. Kedua belah tangannya memegang
masing-masing pinggulnya atau secara telungkup.
 Pemeriksa berdiri di samping kiri (bagi yang kidal
sebaliknya).
 Tangan kiri pemeriksa memegang dan melebarkan
lubang anus ke arah samping kiri kanan dengan
cara merenggangkan dengan jari tangan kiri dan
kapas harus masuk sedalam ±3cm.
 Selama memasukkan lidi kapas di putar searah
jarum jam.

19
 Setelah lidi kapas di luar, segera ambil botol
pembawa. Buka sekrupnya dan tenggelamkan
kedalamnya. Kemudiankan panaskan di atas api
Bunsen sekitar bibir botol. Tutup rapat.
 Tempelkan kertas cellotape dan tulis: nama,
nomor kode serta tempat kerja sesuai formulir.
 Kirimkan segera ke laboratorium untuk diperiksa.
 Bila tidak dapat dikirim segera, simpan pada suhu
kamar ditempat yang gelap.

20
DAFTAR PUSTAKA

Beig FK, Ahmadz F, Ekram M, Shukla I. Typhidot M and


Diazo test vis-à-vis blood culture and Widal test in
the early diagnosis of Tifoid fever in children in a
resource poor setting. Braz J Infect Dis. 2010;14:589-
93.
CDC. Tifoid fever. 2005. www.cdc.gov/ncidod/ dbmd/
diseaseinfo/Tifoidfever_g.htm
Feigin RD, Demmler GJ, Cherry JD, Kaplan SL. Textbook
of pediatric infectious diseases. 5th ed. Philadelphia:
WB Saunders; 2004.
Gershon AA, Hotez PJ, Katz SL. Krugman’s infectious
disease of children. 11th ed. Philadelphia: Mosby;
2004.
http://www.who.int/bulletin/volumes/86/4/06-039818/
en/
Kalra SP, Naithani N, Mehta SR, Swamy AJ. Current
trends in the management of Tifoid fever. MJAFI.
2003;59:130-5.
Long SS, Pickering LK, Prober CG.Principles and practice
of pediatric infectious diseases. 2nd ed. Philadelphia:
Churchill & Livingstone; 2003
Pomerans AJ, Busey SL, Sabnis S. Pediatric decision
making strategies. WB Saunders: Philadelphia; 2002.

21
Summaries of infectious diseases. Dalam: Red Book
Online 2009. Section 3.http://aapredbook. Aappubli
cations.org/cgi/content/full/2009/1/3.117
Tam FCH, King TKW, Wong KT, Leung DTM, Chan RCY,
Lim PL. The TUBEX test detects not only Tifoid-
specific antibodies but also soluble antigens and
whole bacteria. Journal of Medical Microbiology.
2008;57:316-23.

22
Lampiran 1

Kuesioner/Form Pengamatan Karier Tifoid

No.: ……………..
Tanggal: …..../....………/20…

Usia : ………tahun,
JenisKelamin : Laki-laki/Perempuan*
Pendidikan : ....................................
Alamat : ……....………………………..
Desa/Kelurahan* : …...………………………….…
Kecamatan : ....……………………………...
Kabupaten/Kota* :……………………………….....
Provinsi : ………....….…………………..

No. Pertanyaan Kode Kategori


1 Dari mana bapak/ibu mengetahui demam Ya Tidak Tidak
tifoid/tifoid/penyakit tifus? [Isi/Lingkari pilihan jawaban] tahu
a. Radio 1 2 3
b. Televisi 1 2 3
c. Suratkabar/majalah/tabloid 1 2 3
d. Selebaran/poster 1 2 3
e. Spanduk/billboard/baliho 1 2 3
f. Teman 1 2 3
g. Keluarga/Orang Tua 1 2 3
h. Petugas kesehatan 1 2 3
2. Penyakit tifus ditularkan melalui makanan atau minuman 1 2 3
3. Penyakit tifus ditularkan melalui udara 1 2 3
4. Penyakit tifus ditularkan melalui makanan kulit 1 2 3
5. Pernah sakit tifus 1 2 3
6. Bila pernah, berapa kali …….. kali

23
No. Pertanyaan Kode Kategori
7. Pernah imunisasi tifus 1 2 3
8. Bila pernah, berapa kali …….. kali
9. Bila pernah, kapan terakhir kali …….. bulan/tahun yang lalu
10. Bila dikatakan cara untuk mencegah penyakit tifus 1 2 3 4
adalah dengan menghindari makanan atau minuman Sa- Se- Tidak Sangat
tercemar bibit (kuman) penyakit tifus. ngat tuju setuju tidak
setuju setuju
11. Sudah berapa lama bekerja sebagai penjaja makanan ……. bln/th*
12. Riwayat tifoid berulang (lebih dari 1 kali menderita tifoid) 1 2 3
13. Riwayat keluarga, apakah pernah atau sedang menderita 1 2 3
tifoid tifoid
14. Riwayat sekitarnya (tetangga) apakah ada yang pernah 1 2 3
atau sedang menderita tifoid

Pengamatan [Lingkari Sesuai Hasil Pengamatan]


1. Cuci Tangan sebelum penyajian 1. Ya 2. Tidak
makanan
2. Kebersihan kuku 1. Pedek bersih 2. Lainnya
3. Penggunaan sarung tangan 1. Ya 2. Tidak
khusus pada saat penyajian
makanan
4. Kebersihan tempat jualan 1. Memenuhi persyaratan kesehatan
2. Tidak memenuhi persyaratan kesehatan
5. Air cucian peralatan 1. Mengalir dan tersedia sabun
makan/minum 2. Tidak mengalir dan tidak tersedia sabun
6. Sumber Air minum 1. Air Sumur 2. Air Kran
3. Air Kemasan 4. Lainnya
*Coret yang tidak perlu

24
Lampiran 2
Form Pelaporan Pengamatan Tifoid Kabupaten/Kota

Kabupaten/Kota* :
Target sasaran : Penjamah Makanan si Sekolah SD/Instalasi Gizi/Pekerja Sanitarian/………………………..*
No. Nama Umur Alamat Jenis Status Gejala Hasil Pemeriksaan Tindak Lanjut
L P Tempat Imunisasi Laboratorium Tifoid (+) Dirujuk Tidak
Pekerjaan Salmonela sp Dirujuk
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Dst…

....................., ………/………../…………..

Kepala BBTKL/Dinkes Provinsi*………………….…..

………………........................

25
Form Pelaporan Pengamatan Tifoid Provinsi

Propinsi:
No. Kabu- Jumlah Kelompok Umur Jml yang Jml yang Jml yang Jml Jml yang
paten/ yang Diamati (Tahun) Sudah Punya Positif yang Sudah
Kota Diimunisa- Riwayat Ditemu- Diru- Melaku-
si Imunisasi kan juk kan
Penjamah Penjamah Pekerja 10-14 Th 15-19 Th 20-44 Th 45-54 Th ≥35 Th 1 X 2 X Sebe- Salmo- Kegiatan
makanan Makanan di Sanitarian/ lumnya nela sp Pengama-
di sekolah Instalasi Gizi Dan lain- tan Tifoid
SD RS lain*
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

....................., ………/………../…………..

Kepala Dinkes Provinsi ………………….…..

………………........................

26