Anda di halaman 1dari 10

PANDUAN

KREDENSIAL DAN REKREDENSIAL


TENAGA KESEHATAN LAINNYA

Disusun Oleh:
SUB KREDENSIAL KOMITE TENAGA KESEHATAN LAIN

RUMAH SAKIT ADVENT BANDUNG


Jl. Cihampelas No. 161 Bandung
BAB I
DEFINISI

Salah satu upaya rumah sakit dalam menjalankan tugas dan


tanggung jawabnya untuk menjaga keselamatan pasien adalah, dengan
menjaga standar profesi dan kompetensi para staf kesehatannya yang
melakukan tindakan kesehatan terhadap pasien. Walaupun seseorang telah
memiliki kompetensi untuk melakukan tindakan-tindakan yang
berhubungan dengan kesehatan, hal itu harus dibuktikan lagi dengan
pemeriksaan kembali kompetensi seseorang tersebut dalam melakukan
tindakan kesehatan dan tindakan-tindakan yang berhubungan dengan
spesialisasi tersebut.
Proses pembuktian tersebut berpengaruh terhadap pengakuan profesi
yang diberikan kepada individu, yang mempunyai otoritas atau dianggap
kompeten dalam melakukan suatu tindakan tersebut, dan hal itu akan
tercakup dalam proses kredensial.
Kredensial dan rekredensial tenaga kesehatan lainnya merupakan proses
untuk menentukan dan mempertahanan kompetensi tenaga kesehatan
lainnya. Proses kredensial merupakan salah satu cara profesi tenaga
kesehatan lainnya mempertahankan standar praktik dan akuntabilitas
persiapan pendidikan anggotanya. Untuk menentukan dan mempertahakan
kompetensi tenaga kesehatan lainnya di Rumah Sakit Advent Bandung,
maka perlu dilakukan kredensial dan rekredensial dengan mangacu pada
panduan kredensial dan rekredensial yang sudah di tetapkan.

DAFTAR ISTILAH
1. Komite adalah sekumpulan orangyang ditunjuk untuk tujuan dan
maksud tertentu.
2. Kredensial (Credentialing) adalah proses evaluasi oleh suatu rumah
sakit terhadap seseorang untuk menentukan apakah yang
bersangkutan layak diberi kewenangan klinis (clinical privilage)
menjalankan tindakan medis tertentu dalam lingkungan rumah sakit
tersebut untuk suatu periode tertentu.
3. Re-Kredensial (Re-Credentialing) adalah proses re-evaluasi oleh
suatu rumah sakit terhadap dokter yang telah bekerja dan memiliki
kewenangan klinis di rumah tersebut untuk menentukan apakah yang
bersangkutan masih layak diberi kewenangan klinis tersebut untuk
suatu periode tertentu.
4. Kewenangan Klinis (Clinical Privilage) adalah daftar rincian
tindakan klinis yang diberikan oleh kepala bagian, dimana Tenaga
Kesehatan Lain oleh karena profesinya mampu untuk melaksanakan
secara mandiri atau dengan supervisi.
5. Surat Penugasan (Clinical Appoitment) adalah surat yang diterbitkan
oleh Direktur kepada seorang Tenaga Kesehatan Lain untuk
melakukan tindakan sesuai profesi dan kompetensinya, berdasarkan
daftar kewenangan klinis yang telah ditetapkan baginya.
6. Kompetensi adalah kemampuan yang dimiliki seorang tenaga
kesehatan berdasarkan ilmu pengetahuan , keterampilan dan sikap
profesional untuk dapat menjalankan praktik.
7. Uji Kompetensi adalah proses pengukuran pengetahuan,
keterampilan dan perilaku peserta didik pada perguruan tinggi yang
menyelenggarakan pendidikan tinggi di bidang kesehatan.
8. Mitra Bestari adalah sekelompok orang dengan reputasi tinggi yang
memiliki kesamaan profesi, spesialisasi dengan seorang Tenaga
Kesehatan Lain yang sedang menjalani proses kredensial dan atau
dianggap dapat menilai kompetensi untuk melakukan tindakan
Tenaga Kesehatan Lain tertentu.
9. Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam
bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan
melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu
memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
10. Tenaga Kesehatan Lainnya adalah :
a) Tenaga Psikologi Klinis (psikologi klinis)
b) Tenaga Kefarmasian (apoteker dan tenaga teknik kefarmasian)
c) Tenaga Kesehatan Masyarakat (epidemiolog kesehatan, tenaga
promosi kesehatan dan ilmu perilaku, pembimbing kesehatan
kerja, tenaga administasi dan kebijakan kesehatan, tenaga
biostatistik dan kependudukan, serta tenaga kesehatan reproduksi
dan keluarga)
d) Tenaga Kesehatan Lingkungan (sanitasi lingkungan, entomolog
kesehatan, dan mikrobiolog kesehatan)
e) Tenaga Gizi (nutrisionis dan dietisien)
f) Tenaga Keterapian Fisik (fisioterapis, okupasi terapis, terapis
wicara dan akupuntur)
g) Tenaga Keteknisian Medis (perekam medis dan informasi
kesehatan, tenik kardiovaskuler, teknisi pelayanan darah,
refraksionis optisien/optometris, teknisi gigi, penata anastesi,
terapis gigi dan mulut, dan audiologis)
h) Tenaga Teknik Biomedika (radiografer, elektromedis, ahli
teknologi laboratorium medik, fisikawan medik, radioterapis
dan ortotik prostetik)
BAB II
RUANG LINGKUP

Salah satu upaya rumah sakit dalam menjalankan tugas dan


tanggungjawabnya untuk menjaga keselamatan pasiennya adalah dengan
melakukan asuhan profesinya sesuai dengan standar profesi dan kompetensi para
tenaga kesehatan. Upaya ini dilakukan agar setiap tindakan profesional kesehatan
yang dilakukan terhadap pasien hanya dilakukan oleh orang yang kompeten
dibidangnya. Persyaratan kompetensi ini meliputi dua komponen:
a. Komponen kompetensi keprofesian yang terdiri dari pengetahuan, keterampilan
dan perilaku profesional.
b. Komponen kesehatan yang meliputi kesehatan fisik dan mental.
Rumah sakit mematuhi peraturan perundangan yang berlaku yang
menetapkan tingkat pendidikan, keterampilan, atau persyaratan lainnya bagi staf
atau dalam menetapkan jumlah staf atau perpaduan staf bagi rumah sakit.
Pimpinan menggunakan misi rumah sakit dan kebutuhan pasien sebagai
persyaratan tambahan terhadap peraturan perundangan yang berlaku. Sekalipun
seorang profesional kesehatan lain telah mendapatkan pendidikan selama kuliah,
namun rumah sakit wajib melakukan proses verifikasi kembali kompetensi
tersebut. Hal ini dikenal dengan istilah credentialing.
Proses kredensial ini dilakukan dengan dua alasan utama. Yang pertama
adalah karena adanya beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kompetensi
setelah seseorang mendapatkan pendidikan. Perkembangan ilmu di bidang
kesehatan untuk suatu tindakan atau pelayanan berkembang sangat dinamis
seiring dengan perkembangan zaman dan kebutuhan pasien akan jasa pelayanan
kesehatan. Sehingga kompetensi yang diperolah pun dapat berubah.
Alasan yang kedua adalah kesehatan seseorang dapat saja menurun akibat
penyakit tertentu atau bertambahnya usia sehingga mengurangi keamanan
tindakan medis yang dilakukan. Kompetensi fisik dan mental dinilai melalui uji
kelayakan kesehatan baik fisik maupun mental. Tindakan verifikasi kompetensi
profesi tenaga kesehatan tersebut oleh rumah sakit disebut sebagai mekanisme
rekredensial, dan hal ini dilakukan demi keselamatan pasien. Proses kredensial
dan rekredensial Tenaga Kesehatan Lain berlaku untuk semua petugas tenaga
kesehatan lain selain tenaga medis dan keperawatan / bidan yang bersertifikasi,
yaitu petugas bagian radiologi, farmasi, gizi, laboratorium, fisioterapi, dan
perekam medis.
Hasil kredesnial tenaga kesehatan lain dibuktikan dengan pemberian penugasan
klinis (Clinical Appoitment) dari direktur kepada petugas tenaga kesehatan terkait.
Seluruh tenaga kesehatan, medis, perawat dan tenaga kesehatan lainnya dalam
pelaksanaan proses kredensial dan rekredensial akan diawali dengan proses
verifikasi keabsahan ijasah/lulusnya. Proses kredensial dan rekredensial sangat
penting dilaksanakan oleh rumah sakit dengan tujuan sebagai berikut:
1. Mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan
2. Untuk melindungi masyarakat atas tindakan pelayanan kesehatan / medis yang
diberikan.
3. Untuk memberikan perlindungan payung hukum kepada tenaga kesehatan
dalam memberikan pelayanan.
4. Untuk menilai boleh tidaknya dalam melakukan tindakan pelayanan.
5. Untuk melindungi masyarakat dan tenaga kesehatan.
6. Membatasi pemberian kewenangan dalam melaksanakan praktik, hanya untuk
tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi.
Setelah seorang tenaga kesehatan dinyatakan kompeten melalui proses
kredensial dan rekredensial, maka rumah sakit dapat menerbitkan penugasan
klinis atau clinical appoitment berupa surat penugasan kerja klinis (SPKK) bagi
yang bersangkutan untuk melakukan serangkaian tindakan-tindakan medis /
kesehatan tertentu di rumah sakit tersebut, hal ini dikenal sebagai kewenangan
klinis (clinical privilege). Kewenangan klinis itu terperinci dalam suatu rincian
kewenangan klinis (RKK). Tanpa adanya kewengan klinis (clinical privilege)
tersebut seorang tenaga kesehatan tidak diperkenankan untuk melakukan tindakan
medis / kesehatan sekalipun itu telah sesuai dengan standar profesinya.
Kewenangan klinis ini akan dievaluasi oleh sebuah komite yang bertugas
melakukan proses kredensial minimal setiap 3 tahun sekali.

BAB III
TATALAKSANA

A. Proses Kredensial
Proses kredensial adalah dilakukan oleh suatu badan atau organisasi atau
tim. Proses utama kredensial ditujukan untuk mengendalikan kewenangan
melakukan tindakan pelayanan kesehatan yang terinci (delination clincal
privilage) bagi setiap tenaga kesehatan yang bertumpu pada tiga tahap.
Pertama, setiap tenaga kesehatan lain melakukan permohonan untuk
memperoleh kewengan klinis dengan metode self asessment.
Kedua, tim kredensial atau komite penunjang atau komite tenaga
kesehatan lain melalui sub komite kredensial melakukan pengkajian dan akan
memberikan rekomendasi rincian kewenangan klinik yang diajukan oleh
pemohon.
Ketiga, kepala rumah sakit atau direktur menerbitkan surat penugasan
(clinical appoitment) berdasarkan rekomendasidari ketua komite tenaga
kesehatan yang berlaku untuk periode tertentu. Dan akan dievaluasi kembali
pada periode tertentu melalui mekanisme rekredensial. Dan ketiga proses
tersebut dilakukan kembali.
Tahap pertama adalah permohonan untuk memperoleh Kewenangan
Klinis. Setiap tenaga kesehatan mengajukan permohonan kepada kepala rumah
sakit untuk mendapatkan surat penugasan. Tenaga tersebut mengisi beberapa
formulir yang disediakan rumah sakit, daintaranya adalah daftar form aplikasi
kredensial, from proses kredensial dan daftar kewengan klinik yang diajukan
sesuai dengan bidang keahliannya. Selain itu dilampirkan dokumen pendukung
antara lain :
1. Fotocopy dan Aslinya Surat Tanda registrasi (STR)
2. Fotocopy dan Aslinya Surat Izin Kerja atau Surat Izin Praktik (SIK/SIP).
3. Fotocopy dan Aslinya Ijazah.
4. Fotocopy dan Aslinya sertifikat yang dimiliki.
5. FormAplikasi kredensial.
6. Dan lain-lain.
Tahap kedua kajian dari Tim Kredesnial atau Komite Penunjan atau
Komite Tenaga Kesehatan lain melalui sub komite kredensial melakukan
verifikasi dan validasi kepada pihak-pihak terkait yang berkompeten (mitra
bestari) guna membicarakan permohonan kewengan klinik yang diminta oleh
tenaga kesehatan tersebut. Melalui pertemuan intern tersebut nanti akan
diputuskan kewenangan klinik pemohon, ditetapkan juga pengjategorian sesuai
grading yang dibuat senior, medior atau yunior. Pada tahap kedua ini akan
dihasilkan rekomendasi-rekomendasi untuk penerbitan surat penugasan.
Rekomendasi tersebut antara lain:
1. Rekomendasi dari Sub Komite Kredensial bersama mitra bestari
2. Rekomendasi dari Komite penunjang/komite tenaga kesehatan
Tahap ketiga penerbitan surat penugasan. Kepala rumah sakit menerbitkan
surat penugasan kepada tenaga kesehatan yang telah menyelesaikan rangkaian
proses kredensialnya. Sesuai rekomendasi dari komite kepala rumah sakit dapat
saja meminta komite untuk mengkaji ulang rekomendasi tersebut bersama
pihak manajemen rumah sakit bila dianggap perlu. Surat penugasan tersebut
memuat daftar sejunlah kewengan klinis untuk melakukan tindakan sesuai
dengan kompetensi tenaga kesehatan lain.

B. Proses Rekredensial
Daftar kewenangan klinis seorang tenaga kesehatan dapat dimodifikasi
setiap saat. Seorang tenaga kesehatan dapat saja mengajukan tambahan
kewenangan klinis yang dimiliki sebelumnya dengan mengajukan permohonan
kepada kepala rumah sakit. Selanjutnya komite akan melakukan proses
kredensial khusus untuk tindakan tersebut, dan akan memberikan
rekomendasinya kepada kepala rumah sakit. Namun sebaliknya, kewenangan
klinis tertentu dapat saja dicabut, baik untuk sementara atau seterusnya karena
alasan tertentu.
Kewenangan klinis akan berakhir bila surat penugasan (clinical
appoitment) habis masa berlakunya atau dicabut oleh kepala rumah sakit. Surat
penugasan untuk setiap tenaga kesehatan memiliki masa berlaku untuk periode
tertentu, misalnya tiga tahun. Pada akhir masa berlakunya surat penugasan
tersebut rumah sakit harus melakukan rekredensial ini lebih sederhana
dibandingkan dengan proses kredensial awal sebagaimana diuraikan diatas
karena rumah sakit telah memiliki informasi setiap tenaga kesehatan lain yang
mealkukan tindakan kompetensi tenaga kesehatan lain di rumah sakit.
Penerbitan ulang surat penugasan (reappoitment).
Surat penugasan dapat berakhir setiap saat bil tenaga kesehatan tersebut
dinyatakan tidak kompeten untuk melakukan tindakan pelayanan profesi
tertentu. Walaupun seorang tenaga kesehatan tersebut pada awalnya telah
memperoleh kewenangan klinis untuk melakukan tindakan profesi, namun
kewenangan itu dapat dicabut oleh rumah sakit berdasarkan pertimbangan
komite. Pertimbangan pencabutan kewenangan klinis tertentu tersebut
didasarkan pada kinerja profesi dilapangan, misal tenaga kesehatan yang
bersangkutan terganggu kesehatannya, baik fisik maupun mental. Selain itu,
pencabutan kewenangan klinis juga dapat dilakukan bila terjadi kecelakaan
medis yang diduga karena inkompetensi atau karena tindakan disiplin dari
komite.
Namun demikian, kewenangan klinis yang dicabut tersebut dapat
diberikan kembali bila tenaga kesehatan tersebut dianggap telah pulih
kompetensinya. Dalam hal kewenangan klinis tertentu seorang tenaga
kesehatan diakhiri komite akan meminta sub komite peningkatan mutu profesi
untuk melakukan berbagai upaya pembinaan agar merekomendasikan kepada
kepala rumah sakit pemberian kembali kewenangan klinis tertentu setelah
melalui proses pembinaan.
Pada dasarnya kredensial dan rekredensial tetap ditujukan untuk menjaga
keselamatan pasien, sambil tetap membina kompetensi seluruh tenaga
kesehatan di rumah sakit. Dengan demikian jelaslah bahwa komite dan staf
kesehatan memegang peranan penting dalam proses kredensial dan pemberian
kewenagan klinis untuk setiap tenaga kesehatan lain.