Anda di halaman 1dari 51

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Istilah autisme berasal dari kata “Autos” yang berarti diri sendiri dan
“isme” yang berarti suatu aliran, sehingga dapat diartikan sebagai suatu paham
tertarik pada dunianya sendiri (Suryana, 2004). Autisme menurut Rutter 1970
adalah Gangguan yang melibatkan kegagalan untuk mengembangkan hubungan
antar pribadi (umur 30 bulan), hambatan dalam pembicaraan, perkembangan
bahasa, fenomena ritualistik dan konvulsif. Autisme infatil adalah salah satu
kelainan psikosis (istilah umum yang dipakai untuk menjelasakan suatu perilaku
aneh dan tak dapat diprediksi berlanjut) yang berarti penarikan diri dan
kehilangan kontak dengan realitas atau orang lain yang terjadi pada masa usia
anak-anak (M.Sacharin, 1993).
Autisme merupakan istilah untuk sekumpulan gejala/masalah gangguan
perkembangan pervasif pada 3 tahun pertama kehidupan karena adanya
abnormalitas pada pusat otak, sehingga terjadi gangguan dalam interaksi
sosialgangguan komunikasi dan gangguan perilaku.
Autisme Infantil adalah Gangguan kualitatif pada komunikasi verbal dan
non verbal, aktifitas imajinatif dan interaksi sosial timbal balik yang terjadi
sebelum usia 30 bulan. (Behrman, 1999: 120).
Autisme dapat terjadi pada semua kelompok masyarakat baik kaya,
miskin, di desa maupun di kota, berpendidikan maupun tidak serta pada semua
kelompok etnis dan budaya di dunia.
Berdasarkan, hal di atas, maka kami sebagai penulis tertarik untuk lebih
memahami konsep teori dan konsep asuhan keperawatan anak dengan menderita
Autisme, dimana konsep ini saling berkaitan dengan yang lainnya. Semoga dari
makalah ini diharapkan membantu para orang tua, masyarakat umum dan
khususnya kami (mahasiswa keperawatan) dalam memahami anak yang
menderita Autisme, sehingga kami harapkan anak dengan kondisi ini dapat
diperlakukan dengan baik.

1
1.2.Rumusan Masalah
1. Apakah definisi dari autisme?
2. Apa saja penyebab penyakit autisme?
3. Bagaimana patofisiologi penyakit autisme?
4. Apa saja klasifikasi dari penyakit autisme??
5. Bagaimana gejala terjadinya penyakit autisme?
6. Apa saja pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk mendeteksi
penyakit autisme?
7. Apa saja tindakan penanganan penyakit autisme?
8. Apa saja komplikasi dari penyakit autisme?
9. Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada penyakit autisme?
10. Bagaimana contoh asuhan keperawatan pada penyakit autisme?

1.3.Tujuan Tulisan
1. Mengetahui definisi dari autisme.
2. Mengetahui apa saja penyebab penyakit autisme.
3. Mengetahui bagaimana patofisiologi penyakit autisme.
4. Mengetahui apa saja klasifikasi dari penyakit autisme.
5. Mengetahui bagaimana gejala terjadinya penyakit autisme.
6. Mengetahui apa saja pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk
mendeteksi penyakit autisme.
7. Mengetahui apa saja tindakan penanganan penyakit autisme.
8. Mengetahui apa saja komplikasi dari penyakit autisme.
9. Mengetahui bagaimana konsep asuhan keperawatan pada penyakit
autisme.
10. Mengetahui bagaimana contoh asuhan keperawatan pada penyakit
autisme.

2
1.4.Manfaat Tulisan
1. Manfaat Teoretis
Diharapkan mahasiswa mampu memahami apa yang dimaksud dengan
Autisme, apa saja penyebab, dan hal-hal yang berkaitan dengan
Autisme, sehingga dapat menjadi dasar dalam pemberian asuhan
keperawatan pada anak dengan autisme.
2. Manfaat Praktis
Diharapkan mahasiswa dapat memberikan asuhan keperawatan pada
anak dengan autisme dengan benar dan tepat.

3
BAB II
KONSEP TEORI

2.1.Definisi Autisme
Istilah autisme berasal dari kata “Autos” yang berarti diri sendiri dan
“isme” yang berarti suatu aliran, sehingga dapat diartikan sebagai suatu paham
tertarik pada dunianya sendiri (Suryana, 2004). Autisme pertama kali ditemukan
oleh Leo Kanner pada tahun 1943. Kanner mendeskripsikan gangguan ini sebagai
ketidakmampuan untuk berinteraksi dengan orang lain, gangguan berbahasa yang
ditunjukkan dengan penguasaan bahasa yang tertunda, echolalia, mutism,
pembalikan kalimat, adanya aktivitas bermain repetitive dan stereotype, rute
ingatan yang kuat dan keinginan obsesif untuk mempertahankan keteraturan di
dalam lingkungannya. (Dawson & Castelloe dalam Widihastuti, 2007).
Gulo (1982) menyebutkan autisme berarti preokupasi terhadap pikiran
dan khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih banyak berorientasi kepada
pikiran subjektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau realita kehidupan
sehari-hari. Oleh karena itu penderita autisme disebut orang yang hidup di
“alamnya” sendiri. Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala
psikosis pada anak-anak yang unik dan menonjol yang sering disebut sindrom
Kanner yang dicirikan dengan ekspresi wajah yang kosong seolah-olah sedang
melamun, kehilangan pikiran dan sulit sekali bagi orang lain untuk menarik
perhatian mereka atau mengajak mereka berkomunikasi (Budiman, 1998).
Autistik adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut
komunikasi, interaksi sosial dan aktivitas imajinasi. Gejalanya mulai tampak
sebelum anak berusia 3 tahun (Suryana, 2004). Menurut dr. Faisal Yatim
DTM&H, MPH (dalam Suryana, 2004), autisme bukanlah gejala penyakit tetapi
berupa sindroma (kumpulan gejala) dimana terjadi penyimpangan perkembangan
sosial, kemampuan berbahasa dan kepedulian terhadap sekitar, sehingga anak
autisme hidup dalam dunianya sendiri. Autisme tidak termasuk ke dalam
golongan suatu penyakit tetapi suatu kumpulan gejala kelainan perilaku, dengan
kata lain, pada anak Autisme terjadi kelainan emosi, intelektual dan kemauan

4
(gangguan pervasif). Sehingga dapat dikatakan bahwa autisme adalah gangguan
perkembangan yang sifatnya luas dan kompleks, mencakup aspek interaksi
sosial, kognisi, bahasa dan motorik.
Autisme menurut Rutter 1970 adalah Gangguan yang melibatkan
kegagalan untuk mengembangkan hubungan antar pribadi (umur 30 bulan),
hambatan dalam pembicaraan, perkembangan bahasa, fenomena ritualistik dan
konvulsif.
Autisme infatil adalah salah satu kelainan psikosis (istilah umum yang
dipakai untuk menjelasakan suatu perilaku aneh dan tak dapat diprediksi
berlanjut) yang berarti penarikan diri dan kehilangan kontak dengan realitas atau
orang lain yang terjadi pada masa usia anak-anak (M.Sacharin, 1993).
Autisme merupakan istilah untuk sekumpulan gejala/masalah gangguan
perkembangan pervasif pada 3 tahun pertama kehidupan karena adanya
abnormalitas pada pusat otak, sehingga terjadi gangguan dalam interaksi
sosialgangguan komunikasi dan gangguan perilaku.
Autisme Infantil adalah Gangguan kualitatif pada komunikasi verbal dan non
verbal, aktifitas imajinatif dan interaksi sosial timbal balik yang terjadi sebelum
usia 30 bulan. (Behrman, 1999: 120).

2.2.Penyebab Autisme
Autisme mempunyai penyebab neurobiologist yang sangat kompleks.
Gangguan neurobiologist ini dapat disebabkan oleh interaksi faktor genetik dan
lingkungan seperti pengaruh negatif selama masa perkembangan otak. Banyak
faktor yang menyebabkan pengaruh negatif selama masa perkembangan otak,
antara lain; penyakit infeksi yang mengenai susunan saraf pusat, trauma,
keracunan logam berat dan zat kimia lain baik selama masa dalam kandungan
maupun setelah dilahirkan, gangguan imunologis, gangguan absorpsi protein
tertentu akibat kelainan di usus (Suriviana, 2005). Beberapa ahli menyebutkan
autis disebabkan karena multifaktorial. Beberapa peneliti mengungkapkan
terdapat gangguan biokimia, ahli lain berpendapat bahwa autisme disebabkan
oleh gangguan psikiatri/jiwa. Ahli lainnya berpendapat bahwa autisme

5
disebabkan oleh karena kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang
terkontaminasi zat -zat beracun yang mengakibatkan kerusakan pada usus besar
yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autis.
 Penyebab Autisme diantaranya :
a) Genetik (80% untuk kembar monozigot dan 20% untuk kembar
dizigot) terutama pada keluarga anak austik (abnormalitas kognitif dan
kemampuan bicara).
b) Kelainan kromosim (sindrom x yang mudah pecah atau fragil).
c) Neurokimia (katekolamin, serotonin, dopamin belum pasti).
d) Cidera otak, aphasia, defisit pengaktif retikulum, keadaan tidak
menguntungkan antara faktor psikogenik dan perkembangan syaraf,
perubahan struktur serebellum, lesi hipokompus otak depan.
e) Penyakit otak organik dengan adanya gangguan komunikasi dan
gangguan sensori serta kejang epilepsy
f) Lingkungan terutama sikap orang tua, dan kepribadian anak.

 Gambaran Autisme pada masa perkembangan anak dipengaruhi oleh :


a. Pada masa bayi terdapat kegagalan mengemong atau menghibur
anak, anak tidak berespon saat diangkat dan tampak lemah.
b. Tidak adanya kontak mata, memberikan kesan jauh atau tidak
mengenal. Bayi yang lebih tua memperlihatkan rasa ingin tahu atau
minat pada lingkungan, bermainan cenderung tanpa imajinasi dan
komunikasi pra verbal kemungkinan terganggu dan tampak
berteriak-teriak.
c. Pada masa anak-anak dan remaja, anak yang autis memperlihatkan
respon yang abnormal terhadap suara, anak takut pada suara
tertentu, dan tercengggang pada suara lainnya. Bicara dapat
terganggu dan dapat mengalami kebisuan. Mereka yang mampu
berbicara memperlihatkan kelainan ekolialia dan konstruksi
telegramatik. Dengan bertumbuhnya anak pada waktu berbicara

6
cenderung menonjolkan diri dengan kelainan intonasi dan
penentuan waktu.
d. Ditemukan kelainan persepsi visual dan fokus konsentrasi pada
bagian prifer (rincian suatu lukisan secara sebagian bukan
menyeluruh). Tertarik tekstur dan dapat menggunakan secara luas
panca indera penciuman, kecap dan raba ketika mengeksplorais
lingkungannya. Pada usia dini mempunyai pergerakan khusus yang
dapt menyita perhatiannya (berlonjak, memutar, tepuk tangan,
menggerakan jari tangan). Kegiatan ini ritual dan menetap pada
keaadan yang menyenangkan atau stres. Kelainan lainnya adalah
destruktif , marah berlebihan dan kurangnya istirahat. Pada masa
remaja perilaku tidak sesuai dan tanpa inhibisi, anak austik dapat
menyelidiki kontak seksual pada orang asing.

2.3.Patofisiologi Autisme
Sel saraf terbentuk saat usia kandungan tiga sampai tujuh bulan. Pada
trimester ketiga, pembentukan sel saraf berhenti dan dimulai pembentukan akson,
dendrit, dan sinaps yang berlanjut sampai anak berusia sekitar dua tahun. Setelah
anak lahir, terjadi proses pengaturan pertumbuhan otak berupa bertambah dan
berkurangnya struktur akson, dendrit, dan sinaps. Proses ini dipengaruhi secara
genetik melalui sejumlah zat kimia yang dikenal sebagai brain growth factors dan
proses belajar anak.
Makin banyak sinaps terbentuk, anak makin cerdas. Pembentukan akson,
dendrit, dan sinaps sangat tergantung pada stimulasi dari lingkungan. Bagian otak
yang digunakan dalam belajar menunjukkan pertambahan akson, dendrit, dan
sinaps. Sedangkan bagian otak yang tak digunakan menunjukkan kematian sel,
berkurangnya akson, dendrit, dan sinaps. Kelainan genetis, keracunan logam
berat, dan nutrisi yang tidak adekuat dapat menyebabkan terjadinya gangguan
pada proses – proses tersebut. Sehingga akan menyebabkan abnormalitas
pertumbuhan sel saraf.

7
Pada pemeriksaan darah bayi-bayi yang baru lahir, diketahui pertumbuhan
abnormal pada penderita autis dipicu oleh berlebihnya neurotropin dan
neuropeptida otak (brain-derived neurotrophic factor, neurotrophin-4, vasoactive
intestinal peptide, calcitonin-related gene peptide) yang merupakan zat kimia
otak yang bertanggung jawab untuk mengatur penambahan sel saraf, migrasi,
diferensiasi, pertumbuhan, dan perkembangan jalinan sel saraf. Brain growth
factors ini penting bagi pertumbuhan otak.
Peningkatan neurokimia otak secara abnormal menyebabkan
pertumbuhan abnormal pada daerah tertentu. Pada gangguan autistik terjadi
kondisi growth without guidance, di mana bagian-bagian otak tumbuh dan mati
secara tak beraturan. Pertumbuhan abnormal bagian otak tertentu menekan
pertumbuhan sel saraf lain. Hampir semua peneliti melaporkan berkurangnya sel
Purkinye (sel saraf tempat keluar hasil pemrosesan indera dan impuls saraf) di
otak kecil pada autisme. Berkurangnya sel Purkinye diduga merangsang
pertumbuhan akson, glia (jaringan penunjang pada sistem saraf pusat), dan mielin
sehingga terjadi pertumbuhan otak secara abnormal atau sebaliknya,
pertumbuhan akson secara abnormal mematikan sel Purkinye. Yang jelas,
peningkatan brain derived neurotrophic factor dan neurotrophin-4 menyebabkan
kematian sel Purkinye.
Gangguan pada sel Purkinye dapat terjadi secara primer atau sekunder.
Bila autisme disebabkan faktor genetik, gangguan sel Purkinye merupakan
gangguan primer yang terjadi sejak awal masa kehamilan. Degenerasi sekunder
terjadi bila sel Purkinye sudah berkembang, kemudian terjadi gangguan yang
menyebabkan kerusakan sel Purkinye. Kerusakan terjadi jika dalam masa
kehamilan ibu minum alkohol berlebihan atau obat seperti thalidomide.
Penelitian dengan MRI menunjukkan, otak kecil anak normal mengalami
aktivasi selama melakukan gerakan motorik, belajar sensori-motor, atensi, proses
mengingat, serta kegiatan bahasa. Gangguan pada otak kecil menyebabkan reaksi
atensi lebih lambat, kesulitan memproses persepsi atau membedakan target,
overselektivitas, dan kegagalan mengeksplorasi lingkungan.

8
Pembesaran otak secara abnormal juga terjadi pada otak besar bagian
depan yang dikenal sebagai lobus frontalis. Kemper dan Bauman menemukan
berkurangnya ukuran sel neuron di hipokampus (bagian depan otak besar yang
berperan dalam fungsi luhur dan proses memori) dan amigdala (bagian samping
depan otak besar yang berperan dalam proses memori).
Penelitian pada monyet dengan merusak hipokampus dan amigdala
mengakibatkan bayi monyet berusia dua bulan menunjukkan perilaku pasif-
agresif. Mereka tidak memulai kontak sosial, tetapi tidak menolaknya. Namun,
pada usia enam bulan perilaku berubah. Mereka menolak pendekatan sosial
monyet lain, menarik diri, mulai menunjukkan gerakan stereotipik dan
hiperaktivitas mirip penyandang autisme. Selain itu, mereka memperlihatkan
gangguan kognitif.
Faktor lingkungan yang menentukan perkembangan otak antara lain
kecukupan oksigen, protein, energi, serta zat gizi mikro seperti zat besi, seng,
yodium, hormon tiroid, asam lemak esensial, serta asam folat.
Adapun hal yang merusak atau mengganggu perkembangan otak antara lain
alkohol, keracunan timah hitam, aluminium serta metilmerkuri, infeksi yang
diderita ibu pada masa kehamilan, radiasi, serta ko kain.
Diperkirakan bahwa genetik merupakan penyebab utama dari autisme.
Tapi selain itu juga faktor lingkungan misal terinfeksi oleh bahan beracun yang
akan merusak struktur tubuh. Selain itu bahan-bahan kimia juga dapat
menyebabkan autisme, karena kita ketahui bahwa bila bahan tersebut masuk
dalam tubuh akan merusak pencernaan dan radang dinding usus karena alergi.
Bahan racun masuk melalui pembuluh darah yang bila tidak segera diatasi bisa
menuju ke otak kemudian bereaksi dengan endhorphin yang akan mengakibatkan
perubahan perilaku.
Anak dengan autisme mengalami gangguan pada otaknya yang terjadi
karena infeksi yang disebabkan oleh jamur, logam berat, zat aditif, alergi
berat,obat-obatan, kasein dan gluten. Infeksi tersebut terjadi pada saat bayi dalam
kandungan maupun setelah lahir. Kelainan yang dialami anak autisme terjadi pada
otak bagian lobus parietalis, otak kecil (cerebellum) dan pada bagian sistem

9
limbik. Kelainan ini menyebabkan anak mengalami gangguan dalam berpikir,
mengingat dan belajar berbahasa serta dalam proses atensi. Sehingga anak dengan
autisme kurang berespon terhadap berbagai rangsang sensoris dan terjadilah
kesulitan dalam menyimpan informasi baru.
Sel saraf otak (neuron) terdiri atas badan sel dan serabut untuk
mengalirkan impuls listrik (akson) serta serabut untuk menerima impuls listrik
(dendrit). Sel saraf terdapat di lapisan luar otak yang berwarna kelabu (korteks).
Akson dibungkus selaput bernama mielin, terletak di bagian otak berwarna putih.
Sel saraf berhubungan satu sama lain lewat sinaps.

2.4.Klasifikasi Autisme
Jenis autisme berdasarkan waktu munculnya gangguan, kurniasih (2002)
membagi autisme menjadi dua yaitu:
1) Autisme sejak bayi (Autisme Infantil), Anak sudah menunjukkan
perbedaan-perbedaan dibandingkan dengan anak non autistik, dan
biasanya baru bisa terdeteksi sekitar usia bayi 6 bulan.
2) Autisme Regresif, Ditandai dengan regresif (kemudian kembali)
perkembangan kemampuan yang sebelumnya jadi hilang. Yang awalnya
sudah sempat menunjukkan perkembangan ini berhenti. Kontak mata yang
tadinya sudah bagus, lenyap. Dan jika awalnya sudah bisa mulai
mengucapkan beberapa patah kata, hilang kemampuan bicaranya.
(Kurniasih, 2002).
Autisme merupakan suatu gejala yang dilatarbelakangi oleh berbagai
faktor yang berbeda untuk masing-masing anak. Mengingat perbedaan masing-
masing anak tersebut, maka autisme dapat dikelompokkan menjadi beberapa
jenis. Yatim (2002) mengemukakan anak yang mengalami gangguan autis dapat
dikelompokkan menjadi 3 (tiga);
1) Autisme Persepsi
Autisme persepsi dianggap autisme asli karena kelainan sudah timbul
sebelum lahir. Autisme ini terjadi karena berbagai faktor baik itu berupa
pengaruh dari keluarga, maupun pengaruh lingkungan (makanan,

10
rangsangan) maupun faktor lainnya. Ketidakmampuan anak berbahasa
termasuk pada penyimpangan reaksi terhadap rangsangan dari luar, begitu
juga ketidakmampuan anak bekerja sama dengan orang lain, sehingga anak
akan bersikap masa bodoh. Gejala yang dapat diamati antara lain :
 Rangsangan dari luar baik yang kecil maupun yang kuat, akan
menimbulkan kecemasan. Tubuh akan mengadakan mekanisme dan
reaksi pertahanan hingga terlihat timbul pengembangan masalah.
 Banyaknya pengaruh rangsangan dari orang tua, tidak bisa
ditentukan. Orang tua tidak ingin peduli terhadap keinginan dan
kesengsaraan anaknya. Kebingungan anaknya perlahan berubah
menjadi kekecewaan. Lama-kelamaan rangsangan ditolak atau anak
bersikap masa bodoh.
 Pada kondisi seperti ini orang tua mulai peduli atas kelainan
anaknya, sambil terus menciptakan rangsangan-rangsangan yang
memperberat kebingungan anaknya, mulai berusaha mencari
pertolongan.

2) Autisme Reaksi
Timbulnya autisme reaktif karena beberapa permasalahan yang
menimbulkan kecemasan seperti orang tua meninggal, sakit berat, pindah
rumah/ sekolah dan sebagainya. Autisme jenis reaktif akan memunculkan
gerakan-gerakan tertentu berulang-ulang dan kadang-kadang disertai
kejang-kejang. Gejala autisme reaktif mulai terlihat pada usia lebih besar
(6-7) tahun sebelum anak memasuki tahapan berpikir logis, mempunyai
sifat rapuh mudah terkena pengaruh luar yang timbul setelah lahir, baik
karena trauma fisik atau psikis. Gejalanya antara lain :
 Mempunyai sifat rapuh, mudah terkena pengaruh luar yang timbul
setelah lahir, baik karena trauma fisik atau psikis, tetapi bukan
disebabkan karena kehilangan ibu.

11
 Setiap kondisi, bisa saja merupakan trauma pada anak yang berjiwa
rapuh ini, sehingga mempengaruhi perkembangan normal
dikemudian harinya.
Ada beberapa keterangan yang perlu diketahui yang mungkin
merupakan faktor resiko pada kejadian autisme reaktif :
 Anak yang terkena autis reaktif menghadapi kecemasan yang berat
pada masa kanak-kanak, memberikan reaksi terhadap
pengalamannya yang menimbulkan trauma psikis tersebut.
 Trauma kecemasan ini terjadi sebelum anak berada pada
penyimpangan memory di awal kehidupannya tetapi proses
sosialisasi dengan sekitarnya akan terganggu.
 Trauma kecemasan yang terjadi setelah masa penyimpanan memory
akan berpengaruh pada anak usia 2-3 tahun. Karena itu, meskipun
anak masih memperlihatkan emosi yang normal tetapi kemampuan
berbicara dan berbahasanya sudah mulai terganggu. Ini yang
membuat orang tua si anak menjadi khawatir.
Salah satu sebab timbulnya autisme reaktif adalah trauma yang
menyebabkan kecemasan anak. Setelah beberapa waktu yang lama akan
menyisakan kelainan, antara lain, tidak bisa membaca (dyslexia), tidak bisa
bicara (aphasia), serta berbagai masalah yang menghancurkan si anak
yang menjelma dalam bentuk autisme. Kadang-kadang trauma yang
mencemaskan si anak menimbulkan ketakutan, atau gejala sensoris lain
yang terlihat sebagai autisme persepsi.

3) Autisme yang Timbul Kemudian


Autisme jenis ini terjadi setelah anak agak besar, dikarenakan kelainan
jaringan otak yang terjadi setelah anak lahir. Hal ini akan mempersulit
memberikan pelatihan dan pendidikan untuk mengubah perilakunya yang
sudah melekat, ditambah beberapa pengalaman baru dari hasil interaksi
dengan lingkungannya. Untuk itu mendiagnosa dan intervensi awal pada

12
anak autis kelompok ini, merupakan langkah yang harus segera dilakukan
dalam rangka mengembangkan potensinya.

2.5.Gejala Autisme
Perilaku autisme dapat digolongkan dalam 2 jenis:
a. Eksesif (berlebihan) misalnya hiperaktif, tantrum, menjerit, mengepak,
menggigit, mencakar, memukul, sering terjadi self abuse.
b. Defisit (kekurangan) misalnya gangguan bicara, perilaku sosial kurang
sesuai, defisit sensori, emosi tidak tepat (tertawa tanpa sebab, menangis
tanpa sebab dan melamun).
Umumnya penderita autis infantil memperlihatkan pertumbuhan fisik yang
wajar dan normal seperti pada tingkat kemampuan gerak (berjalan, merangkak,
berdiri), kemampuan bercakap-cakap, dan berinteraksi dengan lingkungannya.
Anak dengan autis juga dapat meniru beberapa lagu yang didengarkannya atau
dapat mengunakan panca indranya dengan normal dan luas ketika
mengeksploraesi lingkungannya. Walaupun terdapat kenormalan pada proses
pertumbuhannya, pada anak penderita autis didapati keterbatasan dalam
memfungsikan organnya. Misalnya:
a. Sulit berbicara (Aphasia), pada pertumbuhan anak normal didapati
kelancaran bicara pada usia 12-14 bulan.
b. Sulit menggerakkan badan karena gangguan saraf motorik (Apraxia).
c. Sulit menggerakkan otot (Athaxia)
d. Tangan terus bergerak dan tak terkendali (Athetoid)
e. Mengalami kesulitan membaca (Dyslexia).
f. Mengalami kesulitan dalam mengucapkan kata atau kalimat yang sulit dan
rumit (Dyphasia).
g. Sulit menggerakkan kaki dan tangan (Dyskinesia) karena kekakuan otot
kaki dan tangan (Spastic) atau kelemasan ototkaki dan tangan (hipotonic)
sehingga tak mampu untuk mengembangkan kemampun duduk, berdiri
dan berjalan secara mandiri, pada pertumbuhan anak normal didapati
kemampuan untuk berdiri sendiri dan berjalan pada usia 6-18 bulan.

13
h. Terdapat kegagalan untuk memberikan respon terhadap rangsang nyeri
sehingga anak sering terlihat menyakiti diri sendiri.
i. Mungkin didapatkan adanya kelainan bentuk jari tangan dan kaki yang
nantinya juga dapat mempengaruhi perkembangan mental, kejiwaan, dan
intelektual.

Anak autis dapat menunjukkan pertumbuhan fisik normal hingga sekitar


usia 2 tahun setelah itu didapati penurunan kesehatan yang drastis, kriteria DSM-
IV (Diagnostik dan Stastistikal Manual) autism harus ada sedikitnya 6 gejala dari
1,2 dan 3
a. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik. Minimal 2
gejala:
 Tak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai, kontak
mata kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak gerik kurang
tertuju.
 Tak bisa main dengan teman sebaya.
 Tak dapat merasaka apa yang dirasa orang lain.
 Kurangnya hubungan sosial dan emosional yang timbal balik.
b. Gangguan kualitatif dalam komunikasi
 Bicara terlambat / bahkan sama sekali tak berkembang (dan tak ad
usaha untuk mengimbangi komunikasi dengan cara lain tanpa
bicara).
 Bila bisa bicara tak dipakai untuk komunikasi.
 Cara main kurang variatif, kurang imajinatif, kurang bisa meniru.
 Menggunakan bahasa aneh dan diulang.
c. Suatu pola yang dipertahankan dan diulang dari perilaku, minat dan
kegiatan
 Pertahankan 1 minat atau lebih dengan cara yang khas dan
berlebih.
 Terpaku suatu kegiatan ritualistik/ rutinitas tidak berguna, menolak
suatu perubahan.

14
 Gerakan aneh yang khas dan diulang.
 Sering terpukau pada bagian benda.
d. Sebelum umur 3 tahun tampak adanya keterlambatan / gangguan dalam
bidang:
 Interaksi sosial
 Bicara dan berbahasa
 Cara bermain yang kurang variatif
e. Bukan disebabkan oleh Reff’s Syndrom.

Gejala anak autis antara lain:


1. Interaksi social
 Tidak tertarik untuk bermain bersama teman
 Lebih suka menyendiri
 Tidak ada atau sedikit kontak mata, atau menghindar untuk
bertatapan
 Senang menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang
inginkan
2. Komunikasi
 Perkembangan bahasa lambat
 Senang meniru atau membeo
 Anak tampak seperti tuli, sulit berbicara
 Kadang kata yang digunakan tidak sesuai artinya
 Mengoceh tanpa arti berulang-ulang
 Bicara tidak dipakai untuk alat berkomunikasi
3. Pola Bermain
 Tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya
 Senang akan benda-benda yang berputar
 Tidak bermain sesuai fungsi mainan
 Tidak kreatif, tidak imajinatif
 Dapat sangat lekat dengan benda tertentu

15
4. Gangguan Sensoris
 Bila mendengar suara keras langsung menutup telinga2
 Sering menggunakan indera pencium dan perasanya
 Dapat sangat sensitif terhadap sentuhan
 Tidak sensitif terhadap rasa sakit dan rasa takut
5. Perkembangan Terlambat
 Tidak sesuai seperti anak normal, keterampilan sosial, komunikasi
dan kognisi
 Dapat mempunyai perkembangan yang normal pada awalnya,
kemudian menurun bahkan sirna
6. Gejala Muncul
 Gejala di atas dapat dimulai tampak sejak lahir atau saat masih
kecil
 Pada beberapa anak sekitar umur 5-6 tahun gejala tampak agak
kurang

Ada beberapa gejala yang harus diwaspadai terlihat sejak bayi atau anak
menurut usia:
1. Usia 0 - 6 bulan
a. Bayi tampak terlalu tenang (jarang menangis)
b. Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik
c. Gerakan tangan dan kaki berlebihan terutama bila mandi
d. Tidak "babbling"
e. Tidak ditemukan senyum sosial diatas 10 minggu
f. Tidak ada kontak mata diatas umur 3 bulang. Perkembangan motor
kasar/halus sering tampak normal
2. Usia 6 - 12 bulan
a. Bayi tampak terlalu tenang (jarang menangis)
b. Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik
c. Gerakan tangan dan kaki berlebihan
d. Sulit bila digendong

16
e. Tidak "babbling"
f. Menggigit tangan dan badan orang lain secara berlebihan
g. Tidak ditemukan senyum social
h. Tidak ada kontak matai. Perkembangan motor kasar/halus sering
tampak normal
3. Usia 6 - 12 bulan
a. Kaku bila digendon
b. Tidak mau bermain permainan sederhana (ciluk ba, da-da)
c. Tidak mengeluarkan kata
d. Tidak tertarik pada boneka
e. Memperhatikan tangannya sendiri
f. Terdapat keterlambatan dalam perkembangan motor kasar/halus
g. Mungkin tidak dapat menerima makanan cair
4. Usia 2 - 3 tahun
a. Tidak tertarik untuk bersosialisasi dengan anak lain
b. Melihat orang sebagai "benda"
c. Kontak mata terbatas
d. Tertarik pada benda tertentu
e. Kaku bila digendong
5. Usia 4 - 5 tahun
a. Sering didapatkan ekolalia (membeo)
b. Mengeluarkan suara yang aneh (nada tinggi atau datar)
c. Marah bila rutinitas yang seharusnya berubah
d. Menyakiti diri sendiri (membenturkan kepala)
e. Temperamen tantrum atau agresi

2.6.Pemeriksaan Penunjang
Tidak ada satupun pemeriksaan medis yang dapat memastikan suatu
diagnosis Autisme pada anak. Jadi pemeriksaan penunjang bukanlah hal penting
dalam menegakkan diagnosis autisme. Tetapi terdapat beberapa pemeriksaan

17
yang dapat menunjang diagnosis yang dapat digunakan sebagai dasar intervensi
dan strategi pengobatan, antara lain:

 Pendengaran: Bila terdapat gangguan pendengaran harus dilakukan


beberapa pemeriksaan Audio gram and Typanogram.
 Elektroensefalogram (EEG): EEG untuk memeriksa gelombang otak
yang mennujukkan gangguan kejang, diindikasikan pada kelainan tumor
dan gangguan otak..
 Skrening Metabolik: Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan
darah dan urine untuk melihat metabolisme makanan di dalam tubuh dan
pengaruhnya pada tumbuh kembang anak. Beberapa spectrum autism
dapat disembuhkan dengan diet khusus.
 Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan Computer Assited Axial
Tomography (CAT SCAN): MRI atau CAT Scans sangat menolong
untuk mendiagnosis kelainan struktur otak, karena dapat melihat struktur
otak secara lebih detail
 Pemeriksaan Genetik: Pemeriksaan darah untuk melihat kelainan genetik,
yang dapat menyebabkan gangguan perkembangan. Beberapa penelitian
menunjukkkan bahwa penderita autism telah dapat ditemukan pola DNA
dalam tubuhnya.

Selain pemeriksaan tersebut, masih ada beberapa instrumen


screening yang saat ini telah berkembang dapat digunakan untuk mendiagnosa
autisme:

 Childhood Autism Rating Scale (CARS): skala peringkat autisme masa


kanak-kanak yang dibuat oleh Eric Schopler di awal tahun 1970 yang
didasarkan pada pengamatan perilaku. Alat menggunakan skala hingga 15;
anak dievaluasi berdasarkan hubungannya dengan orang, penggunaan
gerakan tubuh, adaptasi terhadap perubahan, kemampuan mendengar dan
komunikasi verbal

18
 The Checklis for Autism in Toddlers (CHAT): berupa daftar pemeriksaan
autisme pada masa balita yang digunakan untuk mendeteksi anak berumur
18 bulan, dikembangkan oleh Simon Baron Cohen di awal tahun 1990-an.
 The Autism Screening Questionare: adalah daftar pertanyaan yang terdiri
dari 40 skala item yang digunakan pada anak dia atas usia 4 tahun untuk
mengevaluasi kemampuan komunikasi dan sosial mereka
 The Screening Test for Autism in Two-Years Old: tesscreening autisme
bagi anak usia 2 tahun yang dikembangkan oleh Wendy Stone di
Vanderbilt didasarkan pada 3 bidang kemampuan anak, yaitu; bermain,
imitasi motor dan konsentrasi.

2.7.Tindakan
Autisme merupakan gangguan yang tidak bisa disembuhkan (not curable)
namun bisa diterapi (treatable), maksudnya kelainan yang terjadi pada otak tidak
bisa diperbaiki namun ada gejala-gejala yang dapat dikurangi semaksimal
mungkin sehingga anak tersebut nantinya dapat berbaur dengan anak-anak lain
secara normal. Beberapa terapi yang harus dijalankan antara lain :

1. Terapi Medikamentosa
Terapi ini dilakukan dilakukan dengan obat-obatan yang bertujuan
memperbaiki komunikasi, memperbaiki respon terhadap
lingkungan,menghilangkan perilaku aneh serta diulang-ulang.Obat-obat
yang ada di Indonesia adalah dari jenis anti-depresan selektive serotonin
reuptake inhibitor (SSRI) dan benzodiazepin, seperti fluoxetine
prozac,sertralin,zoloft,dan risperidone rispedal.
2. Terapi Biomedis
Terapi ini bertujuan memperbaiki metabolisme tubuh melalui diet dan
pemberian suplemen. Terapi ini dilakukan berdasarkan banyaknya
gangguan fungsi tubuh, seperti gangguan pencernaan, alergi, daya tahan
tubuh rentan, dan keracunan logam berat.

19
3. Psikoterapi
Terapi khusus bagi anak autisme yang dalam pelaksanaannya harus
melibatkan peran aktif dari orang tua. Psikoterapi menggunakan teknik
bermain kreatif verbal dan non verbal yang memungkinkan orang tua lebih
mendekatkan diri kepada anak autisme dan mengenal kondisi anak secara
mendetail guna membantu proses penyembuhan anak.
4. Terapi Music
Terapi music untuk anak-anak autisme ialah penggunaan bunyi dan musik
dalam memunculkan hubungan antara penderita dengan individu lain,
sekaligus terapi untuk mendukung serta menguatkan secara fisik, mental,
social dan emosional. Penggunaan bunyi dan musik dapat dilakukan
dengan berbagai cara, misalnya bermain music bersama dengan
improvisasi bebas. Hal ini sangat cocok untuk anak-anak autisme yang
notabene sulit dalam berkomunikasi. Melalui musik, anak-anak autisme
dapat mengungkapkan perasaan mereka dengan segala cara, baik
menggunakan anggota tubuh, suara, maupun alat musik yang disediakan.

Selain terapi-terapi tersebut ada beberapa terapi yang biasa digunakan,


yaitu:

a. Terapi perilaku misal dengan Tx. Okupasi, Tx. Wicara, sosialisasi


dengan menghilangkan perilaku yang tidak benar.cTerapi perilaku pada
anak dengan autisme berguna untuk mengurangi perilaku yang tidak
lazim dan menggantinya dengan perilaku yang bisa diterima oleh
masyarakat.
1) Terapi Okupasi
Terapi okupasi pada anak dengan autisme bertujuan untuk
membantu menguatkan, memperbaiki koordinasi dan ketrampilan
ototnya karena kadang anak autisme juga mempunyai
perkembangan motorik yang kurang baik. Terapi okupasi akan
menguatkan, memperbaiki koordinasi, dan keterampilan otot
halus anak

20
2) Terapi Wicara
Speech Therapy merupakan suatu keharusan karena semua
penyandang autisme mempunyai keterlambatan bicara dan
kesulitan berbahasa.
3) Sosialisasi dengan menghilangkan perilaku yang tidak wajar
Terapi ini dimulai dari kepatuhan dan kontak mata, kemudian
diberikan pengenalan konsep atau kognitif melalui bahasa reseptif
dan ekspresif. Setelah itu barulah anak dapat diajarkan hal-hal
yang bersangkutan dengan tata krama.
b. Terapi Biomedik
Obat-obatan untuk autisme sifatnya sangat individual dan perlu berhati-
hati, sebaiknya dosis dan jenisnya diserahkan kepada dokter spesialis
yang memahami autisme. Jenis obat, food suplement dan vitamin yang
sering dipakai saat ini untuk anak autisme adalah risperidone (Risperdal),
ritalin, baloperidol, pyridoksin (vit. B6), DMG (vit. B15), TMG,
magnesium, omega-3 dan omega- 6.
c. Sosialisasi school regular
Anak dengan autisme yang telah mampu bersosialisasi dan
berkomunikasi dengan baik dapat dicoba untuk memasuki
sekolah normal sesuai dengan umurnya.
d. Sekolah Khusus.
Di dalam pendidikan khusus ini biasanya telah diramu terapi perilaku,
terapi wicara dan terapi okupasi dan bila perlu dapat ditambah dengan
terapi obat-obatan, vitamin dan nutrisi yang memadai.

Pada saat ini masih belum terdapat terapi medis maupun psikologis yang
dianggap efektif dalam proses penyembuhan autis ini. Tujuan umum terapi pada
autis ini menurut Sacharin (1995) ialah untuk membantu mengatasi cacatnya dan
mengembangkan ketrampilan sosialnya. Farmakoterapi pada penderita auits hany
bermanfaat untuk menangani masalah penyimpangan perilaku (gelisah, selalu
ribut, dan berusaha untuk melukai diri sendiri) yaitu dengan Tionidazin dan

21
Klorpromazin. Keadaan tidak bisa tidur dapat diatasi dengan Sedatif
(Kloralhidrat), konvulsi dapat diatasi dengan Antikonvulsant, dan hiperkinesis
dapat diatasi dengan diit bebas pengawet. Metode terapi non farmakologis dapat
berupa dukungan Reward-punishment yaitu pemberian haida sebagai dorongan
positif dan dorongan negatif berupa hukuman.

Sedangkan pada terapi yang diterapkan oleh Dr. Amdreas Rett


(Peduliautisme.org) didapatkan 3 buah langkah terapi yang disebut dengan
istilah Rehabilitasi:

1. Tahapan yang pertama adalah Rehabilitasi dasar, kegiatan ini ditujukan


untuk meningkatkan kemampuan anak untuk menggerakkan tangan dan
kaki, berbicara dan mengenali suara senormal mungkin.
2. Tahap kedua adalah tahap Rehabilitasi lanjutan atau
tahapfungsiologis yang nantinya diarahkan untuk memulihakan kelemahan
yang tak dapat diatasi pada tahap sebelumnya, berisikan kegiatan pelatihan
fisik lanjutan, pelatihan emosi kejiwaan, dan peningkatan
intelektualitasdasar anak secara padu dalam kelompok bermain.
3. Tahap ketiga adalah tahap Rehabilitasi antisipasi Plateu or Pseudo-
Stationery Stage, yang diarahkan pada terapis dan orang tua anak untuk
terus mengawasi anak dari tahapan makin sulit bergerrak ( Late Motor
Deterioration) walaupun pada tahap 1 dan 2 telah mengalami kemajuan.
Bentuk lain dari terapi autis yang ada pada masa sekarang ini pelatihan
oleh sekolah autis yang bekerja sama dengan organisasi internasional
penanggulangan autis yang salah satu bentuk pengajarannya adalah dengan
melatih anak dengan berbicara sambil menatap wajah lawan bicara dan car
duduk yang tenang. Informasi dalam bidang terapi autis yang sedang trend
saat ini adalah Kasein (susu, keju, yogurth, krim), dan Glutein (terigu,
tepung vanir, bulgur, gandum dan oath). Keduanya adalah semacam
protein enzim yang tak dapat dipecah oleh metabolisme tubuh penderita
autis, kerusakan mukosa kecil akan menyebabkan bahan masuk melalui
pembuluh darah. Bahan beracun dalam sawar darah terbawa ke otak dan

22
kemudian beraksi dengan endhorphin sehingga muncul gangguan perilaku.
Terapi seperti ini disebut terapi biomedis yang tujuannya adalah untuk
memperbaiki sistem pencernaan dan menurunkan jumlah alergen yang
masuk. Prinsip dari kelainan autis adalah kemunculannya disebabkan
karena adanya daya tahan tubuh anak yang menurun, sehingga prinsip
pengobatan ialah untuk meningkatkan kekebalan tubuh klien

2.8. Komplikasi
Komplikasi yang terjadi pada penderita autis biasanya adalah :
1) Gangguan infeksi yang berulang-ulang.
2) Batuk
3) Flu
4) Serta demam berkepanjangan
Ada beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada penderita autisme.
Komplikasi tersebut terutama berimbas pada gangguan tumbuh kembang dari
penderita autisme. Beberapa komplikasi tersebut adalah :
a) Gangguan Nutrisi (Gizi)
Nutrisi yang kurang atau yang lebih dikenal dengan malnutrisi adalah
salah satu komplikasi yang dapat terjadi pada penderita autism. Hal ini
disebabkan karena penderita autis tidak dapat makan makanan tertentu
yang mengandung gluten seperti : biscuit, mie, roti dan segala bentuk
kemasan lain dari terigu. Penderita autis juga tidak dapat memakan
makanan atau minuman dengan kandungan casein seperti : susu sapi, keju,
mozzarella, butter ataupun permen. Anak autis juga cenderung malas
makan sehingga asupan makanan yang masuk tidak adekuat. Untuk itu
diperlukan diet yang tepat bagi penderita autis.
b) Gangguan Metabolisme system pembuangan racun dan logam berat
Gangguan metabolisme khususnya terjadi pada metabolism melationin,
dimana metabolism tersebut berfungsi sebagai detoksifikasi logam berat
yang masuk kedalam tubuh. Adanya kegagalan pada metabolism

23
melationin mengakibatkan system pembuangan racun dan logam berat di
dalam tubuh menjadi terganggu.
c) Gangguan penyerapan dan pencernaan makanan
Gangguan ini dapat terjadi sebagai akibat lanjutan dari ketidak matangan
(imaturitas) usus selama dalam masa kehamilan. Hal ini berkaitan dengan
nutrisi yang dikonsumsi oleh ibu hamil tersebut. Imaturitas usus tersebut
berlanjut hingga mengakibatkan gangguan pada proses mekanik pada
proses peristaltic dan penyerapan di mukosa usus.
d) Gangguan system kekebalan tubuh
Gangguan ini terjadi akibat lanjutan dari system imun tubuh yang menurun
akibat tidak adekuatnya nutrisi pada masa kehamilan dan adanya gangguan
pada system syaraf di otak.
e) Kerusakan Komunikasi Verbal Persisten
Kerusakan komunikasi verbal menetap dapat terjadi apabila gejala klinis
dari gangguan bucara caik verbal amaupun non-verbal tidak dapat
ditanggulangi dengan baik. Penderita akan mengalami kesulitan untuk
berinteraksi dan berbicara dengan orang lain akibat dari keterlambatan
bicara atau tidak bicara sama sekali yang ia alami sejak usia dini dalam
waktu lama.
f) Gangguan sosial
Isolasi sosial merupakan salah satu komplikasi yang terjadi akibat dari
gejala klinis pada gangguan interaksi sosial yang tidak ditindak lanjuti.
Penderita akan mengalami keterbatasan dalam bersosialisasi dengan
lingkungan sekitarnya dan aktualisasi diri.

24
BAB III
PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


3.1.Pengkajian
a. Identitas
1. Identitas Pasien
2. Identitas Keluarga: ayah, ibu
b. Alasan Dirawat
 Keluhan Utama:
keluhan yang biasa terjadi pada anak autis yaitu gangguan
kemampuan sosial, Kesulitan Berempati, Tidak Suka Kontak
Fisik, Tidak Suka Suara Keras, Beberapa Aroma, dan Cahaya
Terang, Gangguan Bicara, Suka Tindakan Berulang,
Perkembangan Tidak Seimbang,
 Riwayat Penyakit:
o Riwayat Penyakit Sekarang
o Riwayat Penyakit Dahulu
o Riwayat gangguan psikiatri/jiwa pada keluarga.
o Riwayat keluarga yang terkena autisme.
o Riwayat kesehatan ketika anak dalam kandungan.
 Sering terpapar zat toksik, seperti timbal.
 Cedera otak

c. Status perkembangan anak


 Bagaimana anak merespon orang lain.
 Bagaimana interaksi anak dengan orang lain
 Bagaimana komunikasi anak dengan orang lain menggunakan
komunikasi verbal dan nonverbal.
 Bagaimana fokus anak pada suatu objek mudah fokus atau
mengalami kesulitan

25
 Apakah anak mengalami kesulitan dalam belajar.
 Apakah anak sulit menggunakan ekspresi non verbal.
 Keterbatasan Kongnitif.

d. Pemeriksaan Fisik:
1. Kesan umum (kebersihan, pergerakan, penampilan/postur/bentuk
tubuh, termasuk status gizi)
2. Warna kulit (pucat, normal, cyanosis, ikterus, kelainan)
3. Tonus otot :
4. Turgor kulit :
5. Udema : ada/tidak,
6. Kepala: bentuk, keaadaan rambut dan kulit kepala, UUB, adanya
kelainan
7. Mata: bentuk bola mata, pergerakannya, keadaan pupil, konjungtiva,
keadaan kornea mata, sclera, bulu mata serta ketajaman penglihatan
8. Hidung: adanya secret, pergerakkan cuping hidung, adanya suara
saat bernafas, gangguan lain
9. Telinga: Kebersihan, keadaan alat pendengaran, kelainan
10. Mulut: Kebersihan daerah sekitar mulut, keadaan selaput lendir,
keadaan tenggorokan, kelainan. Keadaan gigi (berlubang, karang
gigi, kebersihan gigi, gusi, kerusakan lain) keadaan lidah
11. Leher: Pembesaran kelenjar/pembuluh darah, kaku kuduk,
pergerakkan leher
12. Thoraks: Bentuk dada, irama pernafasan, tarikan otot bantu
pernafasan, adanya suara nafas
13. Jantung : (bunyi, pembesaran)
14. Persarafan : (seflek fisiologis, reflek patologis)
15. Abdomen: Bentuk, pembesaran organ, keadaan pusat, teraba skibala,
massa, nyeri pada perabaan, distensia, hernia, peristaltic
16. Ekstremitas : Kelainan bentuk, pergerakan, reflek lutut, adanya
udem, keadaan unjung ekstremitas, hal-hal lain

26
17. Genetalia
18. Antropometri (ukuran pertumbuhan)
 BB (kg)
 TB (cm)
 Lingkar kepala (cm)
 Lingkar dada (cm)
 Lingkar lengan (cm)
19. Gejala kardinal:
 Suhu
 Nadi
 Pernafasan
 Tekanan darah

3.2.Diagnosa Keperawatan
1) Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan keterlambatan dan
gangguan Intelektual
2) Gangguan interaksi sosial berhubungan dengan menarik diri
3) Resiko terjadi trauma berhubungan dengan keinginan untuk bunuh diri
4) Harga diri rendah berhubungan dengan respon negatif teman sebaya,
kesulitan dalam berkomunikasi
5) Ketidakmampuan koping individu berhubungan dengan tidak adekuat
keterampilan pemecahan masalah

3.3.Intervensi Keperawatan
Nursing Nursing Outcome Nursing Interventions
No
Diagnosis Classification (NOC) Classification (NIC)
1 Gangguan NOC NIC
komunikasi - Anxiety self control Communication
verbal - Coping Enhancement: Speech Deficit
berhubungan - Sensory function: 1. Konsultasikan dengan dokter

27
dengan hearing & vision mengenai kebutuhan terapi
keterlambatan - Fear self control wicara dan terapi okupasi
dan gangguan Kriteria Hasil: 2. Dorong pasien untuk
Intelektual. 1) Komunikasi: berkomunikasi secara
penerimaan, perlahan dan untuk
interpretasi, dan mengulangi permintaan
ekspresi pesan lisan, 3. Dengarkan dengan penuh
tulisan, dan nonverbal perhatian
meningkat 4. Berdiri di depan pasien ketika
2) Komunikasi ekspresif berbicara
(kesulitan berbicara) : 5. Gunakan kartu baca, kertas,
ekspresi pesan verbal pensil, bahasa tubuh, gambar,
dan nonverbal yang daftar kosakata bahasa asing,
bermakna dan lainnya untuk
3) Gerakan terkoordinas: memfasilitasi komunikasi dua
mampu mengoordinasi arah yang optimal
gerakan dalam 6. Ajarkan bicara dari esofagus
menggunakan isyarat 7. Beri anjuran kepada pasien
4) Pengolahan informasi : dan keluarga tentang
pasien mampu untuk penggunaan alat bantu bicara
memperoleh, mengatur, (mis, prostesi trakeoesofagus
dan menggunakan dan laring buatan)
informasi 8. Berikan pujian positif
5) Mampu mengontrol 9. Anjurkan pada pertemuan
respon ketakutan dan kelompok
kecemasan terhadap 10.Anjurkan kunjungan keluarga
ketidakmampuan secara teratur untuk memberi
berbicara stimulus komunikasi
6) Mampu memanajemen 11.Anjurkan ekspresi diri
kemampuan fisik yang dengan cara lain dalam
dimiliki menyampaikan informasi

28
7) Mampu (bahasa isyarat)
mengomunikasikan
kebutuhan dengan
lingkungan sosial
2 Hambatan NOC NIC
interaksi sosial - Self esteem, Socialization Enhancement :
berhubungan situational 1. Buat interaksi terjadwal
dengan menarik - Communication 2. Dorong pasien ke kelompok
diri impaired verbal atau program ketrampilan
Kriteria Hasil : interpersonal yang membantu
1. Lingkungan suportif meningkatkan pemahaman
yang bercirikan tentang pertukaran informasi
hubungan dan tujuan atau sosialisasi
anggota keluarga 3. Identifikasi perubahan
2. Menggunakan aktivitas perilaku tertentu
yang menenangkan, 4. Berikan umpan balik positif
menarik, dan jika pasien berinteraksi
menyenangan untuk dengan orang lain
meningkatkan 5. Anjurkan bersikap jujur dan
kesejahteraan apa adanya dalam
3. Interaksi sosial dengan berinteraksi dengan orang
orang, kelompok lain
4. Memahami dampak dari 6. Bantu pasien meningkatkan
perilaku diri pada kesadaran tentang kekuatan
interaksi sosial da keterbatasan dalam
5. Mendapatkan/ berkomunikasi dengan orang
meningkatkan lain
ketreampilan interaksi 7. Gunakan teknik bermain
sosial kerja sama, peran untuk meningkatkan
ketulusan dan saling ketrampilan dan teknik
komunikasi

29
memahami
6. Mengungkapkan
keinginan untuk
berhubungan dengan
orang lain
7. Perkembangan fisik,
kognitif, dan psikososial
anak sesuai dengan
usianya
3 Ketidakmampua NOC
n koping Peningkatan Koping 1. Bina hubungan saling
individu Aktivitas percaya dengan klien dan
berhubungan keluarganya.
dengan tidak Kriteria Hasil: 2. Beri kesempatan kepada anak
adekuat 1. Mengidentifikasi pola untuk mengungkapkan
keterampilan koping yang efektif masalahnya.
pemecahan 2. Mencari informasi 3. Beri bimbingan kepada anak
masalah. terkait dengan penyakit untuk dapat mengambil
dan pengobatan keputusan.
3. Menggunakan prilaku 4. Anjurkan kepada orang tua
untuk menurunkan untuk lebih sering bersama
stress anaknya.
4. Mengidentifikasi dan 5. Hadirkan sibling untuk
menggunakan berbagai memberikan motivasi
strategi koping 6. Ciptakan lingkungan yang
5. Melaporkan aman dan nyaman untuk
penurunan mengurangi tingkat stress
perasaan negatif anak

4 Harga diri Harga Diri 1. Beri motivasi pada anak.

30
rendah 2. Beri kesempatan anak
berhubungan Kriteria Hasil: mengungkapkan
dengan respon 1. Mengungkapkan perasaannya.
negatif teman penerimaan diri secara 3. Beri latihan intensif pada
sebaya, verbal anak untuk pemahaman
kesulitan dalam 2. Mempertahankan belajar berkomunikasi.
berkomunikasi postur tubuh tegak 4. Modifikasi cara belajar
3. Mempertahankan sehingga anak lebih
kontak mata tertarik.
4. Mempertahankan 5. Beri reward pada
kerapihan/hygiene keberhasilan anak.
5. Menerima kritikan dari 6. Gunakan alat bantu/peraga
orang lain dalam belajar
berkomunikasi.
7. Berikan suasana yang
nyaman dan tidak
menegangkan.
8. Anjurkan kepada keluarga
untuk mendekatkan anak
pada sibling.

31
B. Contoh Asuhan Keperawatan

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK PADA PASIEN “An. Y”


DENGAN AUTISME DI RUANG ANGGREK BRSU TABANAN

I. Identitas
A. Anak
1. Nama : An. Y
2. Anak yang ke :1
3. Tanggal lahir : 15 September 2013
4. Umur : 6 tahun
5. Jenis kelamin : Laki-laki
6. Agama : Hindu
B. Orang tua
1. Ayah
a. Nama : Tn. M (kandung)
b. Umur : 40 tahun
c. Pekerjaan : Swasta
d. Pendidikan : SMA
e. Agama : Hindu
f. Alamat : Br. Penarukan Tengah Kaja, Kerambitan, Tabanan
2. Ibu
a. Nama : Ny. T (kandung)
b. Umur : 38 tahun
c. Pekerjaan : Guru
d. Pendidikan : S1
e. Agama : Hindu
f. Alamat : Br. Penarukan Tengah Kaja, Kerambitan, Tabanan

32
II. Alasan Dirawat
a) Keluhan Utama:
Keluarga pasien mengeluh anak Y susah berbicara dan suaranya kurang
jelas, serta anak Y pasif dalam berinteraksi dengan temannya.

b) Riwayat Penyakit:
Kelainan pada Anak Y ini mulai nampak ketika ia berusia dua tahun. Di
usia itu Anak Y belum bisa bicara dengan jelas. Cara bicara Anak Yyang
lambat dan tidak jelas sebelumnya dianggap hanyalah masalah
keterlambatan pertumbuhan saja. Dan Anak Y pun sempat mengikuti
sekolah playgroup dengan sesama anak normal lainnya. Namun hingga
enam bulan kemudian, Anak Y belum menampakkan perubahan.

III. Kebutuhan Bio-Psiko-Sosial-Spiritual Dalam Kehidupan Sehari-Hari


A. Bernafas
1. Kesulitan bernafas : tidak
2. Kesulitan dirasakan : -
3. Keluhan yang dirasa : -
4. Suara nafas : vesikuler
B. Makan dan minum
Ibu pasien mengatakan sejak berumur 2 tahun hingga sekarang nafsu
makan pasien tidak menentu, dan selalu disuapi oleh ibu sebanyak 3 kali
sehari, pasien biasa makan bubur dengan sayuran dan lauk seperti ayam
dan terkadang ikan. Ibu pasien selalu menyajikan makanannya dengan di
hias agar makanannya menarik.
C. Eliminasi (BAB/BAK)
Ibu pasien mengatakan pasien biasa memberitahukan keinginan untuk
BAB/BAK, pasien tidak pernah kesulitan dalam BAB/BAK. Dengan
BAB => frekuensi 2 kali sehari , warna kuning khas feses, bau khas feses,
konsistensi lembek.

33
BAK => frekuensi lebih dari 3 kali sehari, warna kuning khas, bau khas
urine.
D. Aktifitas
Ibu pasien mengatakan pasien sangat suka bermain tetapi terkadang pasien
sering mengamuk dan melemparkankan mainannya, permainan yang
disukai yaitu robot mainan kesukaannya. Mainan yang dimiliki
kebanyakan permainan rbot dan benda padat lainnya, pasien hanya
bermain sendiri karena pasien tidak mau bergaul dengan anak lainnya.
E. Rekreasi
Ibu pasien mengatakan kadang – kadang mengajaknya bersama keluarga
untuk jalan – jalan di taman agar dapat bergaul dengan anak lainnya, tetapi
karena keterbatasan dalam bicara dan fisik pasien hanya mau bermain
sendiri.
F. Istirahat dan tidur
Ibu pasien mengatakan mengajarkan pasien untuk kencing sebelum tidur,
sikat gigi. Biasanya pasien selalu mengigau dan selalu menggerak-
menggerakan tangannya saat tidur terutama tidur di malam hari. Pasien
tidur malam mulai pukul 20.30, dan bangun pikul 06.00 dengan tidur yang
masih ditemani orang tua. Pasien terkadang suka tidur siang dengan lama
sekitar 1 jam.
G. Kebersihan diri
Pasien mandi dibantu oleh ibu pasien, karena pasien sering melakukan hal-
hal aneh jika mandi sendiri, seperti menyiramkan air ke seluruh bagian
kamar mandi, pasien mandi menggunakan sabun mandi, pasien
menggosok giginya menggunakan pasta gigi di bantu oleh ibunya dan
ibunya selalu menyikat gigi pasien setiap 2 kali sehari yaitu pagi setelah
sarapan dan malam sebelum tidur, serta ibu pasien mengeringkan tubuh
pasien menggunakan handuk.
H. Pengaturan suhu
Suhu tubuh pasien normal, baik sebelum maupun sesudah dirawat yaitu
36oC.

34
I. Rasa nyaman
Pasien terlihat tidak merasa nyaman dengan kondisinya dilihat dari pasien
terus menangis, dan terkadang mengamuk dengan membanting barang-
barang di rumah.
J. Rasa aman
Ibu pasien merasa tidak aman dengan kondisi pasien karena kebiasaan
pasien yang sering melemparkan barang-barang di rumah dan tidak mau
bergaul.
K. Belajar (anak dan orangtua)
Pasien pernah bersekolah di playgroup, tetapi karena penyakit yang
diderita pasien, pasien sulit untuk berkonsentrasi. Tetapi Ibu pasien
mengatakan akan selalu mengajarkan tentang personal hygiene kepada
anaknya, memantau tumbuh kemang anak, memberi penjelasan tentang
pendidikan seks.
L. Prestasi
Kepandaian anak sekarang yaitu pasien sudah cukup mampu dalam
aktivitas sehari-harinya seperti, makan dan menggambar lukisan.
M. Hubungan sosial anak
Ibu pasien mengatakan hanya dirinyalah yang paling dekat dengan pasien,
komunikasi anak dan orang tua maupun keluaraga yang lain cukup
terganggu karena keterbatasan dalam bicara yang dialami pasien. Kadang
ibu kesulitan berkomunikasi secara verbal kepada anak dan ibu biasanya
menambahkan untuk menggunakan bahasa tubuh saat berkomunikasi
dengan anak.
N. Melaksanakan ibadah
ibu pasien mengatakan anaknya jarang bersembahyang, tetapi anaknya
sering mengikutinya kalau akan sembahyang di rumah, dan ia bisa
melakukan persembahyangan, tetapi masih dengan bimbingan orang
tuanya.

35
IV. Pemeriksaan Fisik
1. Kesan Umum : Kebersihan cukup, pergerakan kuat, bentuk tubuh tegap,
status gizi baik
2. Warna kulit pucat, cyanosis (-), kelainan, (-)
3. Suara waktu menangis : kuat dan keras
4. Tonus otot normal
5. Turgor kulit elastic
6. Udema (-)
7. Kepala : bentuk simetris, keadaan rambut baik dan tersebar merata, kulit
kepala baik, tidak ada kelainan serius
8. Mata : betuk bola mata simetris, pergerakan normal, keadaan pupil baik,
konjungtiva baik, keadaan kornea mata baik, bulu mata serta ketajaman
penglihatan baik.
9. Hidung : tidak ada secret, pergerakan cuping hidung baik
10. Telinga : kebersihan cukup, pendengaran baik, tidak ada kelainan
11. Mulut : kebersihan cukup, selaput lendir baik, tenggorokan tidak terdapat
radang, mukosa mulut lembab, karies gigi (-).
12. Leher : pembesaran kelenjar (-), kaku kuduk (-), pergerakan leher normal
13. Thorak : bentuk dada simetris, tarikan otot bantu pernapasan baik, adanya
suara nafas (+)
14. Jantung : pembesaran (-)
15. Persarafan : reflek fisiologis baik, reflek patologis (-)
16. Abdomen : kebersihan cukup, bentuk simetris (+), umbilicus tepat di
tengah, massa (-), nyeri (-)
17. Ekstremitas : kelainan bentuk (-), pergerakan normal, reflek lutuk baik,
udem (-), keadaan ujung ekstremitas baik.
18. Alat kelamin : kebersihan cukup
19. Anus : kebersihan cukup
20. Antropometri :
BB = 18 kg
TB = 110 cm

36
Lingkar Kepala = 50 cm
Lingkar Dada = 55 cm
Lingkar Lengan = 25 cm
21. Gejala Kardinal :
Suhu = 36oC
Nadi = 90x/menit
Respirasi = 24x/menit
Tekanan Darah = 100/60 mmHg

V. Pemeriksaan Penunjang
1) Pendengaran: pemeriksaan Audio gram and Typanogram.
2) Elektroensefalogram (EEG)
3) Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan Computer Assited Axial
Tomography (Cat Scan)
4) Pemeriksaan Genetik

VI. Analisa Data

TGL/J INTERPRETASI/PE
DATA FOKUS MASALAH
AM NYEBAB

Senin, DO: Ketidakmampuan - Gangguan komunikasi


10 - Anak tidak dapat mengungkapkan verbal berhubungan
Januari berbicara lancar perasaan dan dengan keterlambatan
2016 - Suara anak tidak keterbatasan mental/ dan gangguan
jelas retardasi mental yang Intelektual.
07.00
- Anak saat dipanggil dialami pasien sejak - Hambatan interaksi
Wita
tidak dapat lahir yang merupakan sosial berhubungan
menyebutkan faktor genetika/ dengan menarik diri.
namanya sendiri, keturunan dari nenek

37
tetapi kadang anak pasien.
tersebut melamun
dan tangannya tidak
bisa diam
DS:
- Keluarga pasien
mengeluh anak B
susah berbicara dan
suaranya kurang
jelas, serta anak B
pasif dalam
berinteraksi dengan
temannya.

VII. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan Prioritas

Tanggal
No Diagnosa Keperawatan Tanggal teratasi TTD
muncul

1 Senin, 10 Gangguan komunikasi verbal Senin, 15 Januari


Januari berhubungan dengan 2016
2016 keterlambatan dan gangguan
Intelektual.
07.00
Wita

2 Senin, 10 Hambatan interaksi sosial Senin, 15 Januari


Januari berhubungan dengan menarik 2016
2016 diri.

07.00
Wita

38
XV. Rencana Keperawatan

Diagnosa Tujuan & Nama/


No Tgl Intervensi Rasional
Keperawatan Kriteria Hasil ttd

1 Selasa, Gangguan Setelah diberikan NIC


11 komunikasi asuhan Communication
Januari verbal keperawatan Enhancement:
2016 berhubungan 5x24 jam Speech Deficit
dengan diharapkan 1. Konsultasika 1. Terapi
07.00
keterlambatan pasien dapat: n dengan okupasi
Wita
dan gangguan NOC dokter bertujuan
Intelektual. - Anxiety self mengenai untuk
control kebutuhan membantu
- Coping terapi wicara menguatkan,
- Sensory dan terapi memperbaik
function: okupasi i koordinasi
hearing & dan
vision ketrampilan
- Fear self ototnya. Dan
control terapi
Kriteria Hasil: wicara
membantu
- Komunikasi:
dalam
penerimaan,
keterlambata
interpretasi,
n bicara dan
dan ekspresi
kesulitan
pesan lisan,
berbahasa
tulisan, dan
2. Membantu
nonverbal
2. Dorong dalam
meningkat

39
- Komunikasi pasien untuk memperban
ekspresif berkomunika yak kosa
(kesulitan si secara kata dalam
berbicara) : perlahan dan berkomuni
ekspresi untuk kasi
pesan verbal mengulangi
dan permintaan 3. Interaksi
nonverbal 3. Dengarkan staf dengan
yang dengan pasien yang
bermakna penuh konsisten
- Gerakan perhatian meningkatk
terkoordinas: an
mampu pembentuk
mengoordina an
si gerakan kepercayaa
dalam n
menggunaka 4. Sebagai
n isyarat 4. Berdiri di awal dalam
- Pengolahan depan pasien membangu
informasi : ketika n hubungan
pasien berbicara saling
mampu percaya
untuk 5. Menggunak
memperoleh, 5. Gunakan an alat
mengatur, kartu baca, peraga
dan kertas, pensil, dapat
menggunaka bahasa tubuh, meningkatk
n informasi gambar, an minat
- Mampu daftar pasien
mengontrol kosakata dalam
bahasa asing, melakukan

40
respon dan lainnya kegiatan
ketakutan untuk
dan memfasilitasi
kecemasan komunikasi
terhadap dua arah
ketidakmamp yang optimal 6. Melatih
uan berbicara 6. Ajarkan kemampua
- Mampu bicara dari n bicara
memanajeme esofagus pasien
n 7. Sebagai
kemampuan 7. Beri anjuran refrensi
fisik yang kepada keluarga
dimiliki pasien dan pasien
- Mampu keluarga
mengomunik tentang
asikan penggunaan
kebutuhan alat bantu
dengan bicara (mis,
lingkungan prostesi
sosial trakeoesofag
us dan laring
buatan) 8. Meningkat
8. Berikan kan rasa
pujian percaya diri
positif pasien
9. Dapat
9. Anjurkan meningka
pada tkan
pertemuan sikap
kelompok sosial
pasien

41
10. Dapat
meningka
10. Anjurkan tkan
kunjungan sikap
keluarga sosial
secara pasien
teratur untuk
memberi
stimulus
komunikasi
11. Agar
dapat
11. Anjurkan
menarik
ekspresi diri
minat
dengan cara
pasien
lain dalam
menyampaik
an informasi

12. (bahasa
isyarat)
2 Rabu, Hambatan Setelah diberikan NIC
12 interaksi asuhan Socialization
Januari sosial keperawatan Enhancement :
2016 berhubungan 5x24 jam 1. Buat 1. Membant
dengan diharapkan interaksi u dalam
07.00
menarik diri. pasien dapat: terjadwal membina
Wita
NOC hubungan
- Self esteem, saling
situational percaya
- Communica 2. Dorong 2. Dapat
tion pasien ke meningka

42
impaired kelompok tkan sikap
verbal atau program sosial
Kriteria Hasil: ketrampilan pasien
interpersonal
1. Lingkungan
yang
suportif yang
membantu
bercirikan
meningkatka
hubungan dan
n
tujuan anggota
pemahaman
keluarga
tentang
2. Menggunakan
pertukaran
aktivitas yang
informasi
menenangkan,
atau
menarik, dan
sosialisasi
menyenangan
3. Identifikasi 3. Untuk
untuk
perubahan melihat
meningkatkan
perilaku perkemba
kesejahteraan
tertentu ngan
3. Interaksi
kondisi
sosial dengan
pasien
orang, 4. Berikan 4. Untuk
kelompok umpan balik meningka
4. Memahami positif jika tkankan
dampak dari pasien rasa
perilaku diri berinteraksi percaya
pada interaksi dengan diri
sosial orang lain pasien
5. Mendapatkan/ 5. Anjurkan 5. Membina
meningkatkan bersikap hubungan
ketreampilan jujur dan apa saling
interaksi adanya percaya

43
sosial kerja dalam dengan
sama, berinteraksi pasien
ketulusan dan dengan
saling orang lain
memahami 6. Bantu pasien 6. Dapat
6. Mengungkapk meningkatka memberik
an keinginan n kesadaran an
untuk tentang gambaran
berhubungan kekuatan da tentang
dengan orang keterbatasan bentuk
lain dalam tubuh dan
7. Perkembanga berkomunika gambaran
n fisik, si dengan diri pada
kognitif, dan orang lain anak
psikososial secara
anak sesuai tepat
dengan 7. Gunakan 7. Dapat
usianya teknik menamba
bermain h
peran untuk pengetahu
meningkatka an/
n kognitif
ketrampilan pasien
dan teknik
komunikasi

VIII. PELAKSANAAN KEPERAWATAN

No. Nama/
No Tanggal Jam Implementasi Evaluasi
Dx ttd

44
1 Selasa, 1 08.00 - Mengajarkan pasien - Pasien mau
11 Wita untuk berkomunikasi mengikuti perintah
Januari secara perlahan dan perawat tetapi masih
2016 untuk mengulangi selalu menggerak-
permintaan gerakan tangannya

1 09.00 - Mendengarkan dengan - Pasien berbicara


Wita penuh perhatian dengan tidak jelas

2 09.30
- Mengidentifikasi - Pasien susah
Wita
perubahan perilaku berbicara dan
tertentu suaranya kurang
jelas, serta pasien
pasif dalam
berinteraksi dengan
10.00 temannya
1 - Melakukan terapi
Wita - Pasien mau
wicara mengikuti terapi
11.00 - Berdiri di depan - Pasien mulai terbiasa
Wita pasien ketika berbicara dengan perawat
15.00 - Mengajarkan pasien
1 - Pasien aktif dalam
Wita menggunakan kertas menggunakan kertas
dan pensil untuk dan pensil tersebut
1 mengekspresikan
perasaan dan untuk
memfasilitasi
komunikasi dua arah
yang optimal

17.00 - Memberi anjuran - Ibu pasien mengerti


1 kepada pasien dan

45
Wita keluarga tentang
penggunaan alat bantu
bicara
1 - Memberikan pujian
20.00 positif - Pasien mulai
Wita tersenyum
2 Rabu , 08.00 - Buat interaksi - Ibu pasien
2
12 Wita terjadwal menyetujui
Januari 2 09.00 - Mengajarkan - Pasien tampak
2016 Wita ketrampilan gelisah
interpersonal
10.00 - Melakukan terapi - Pasien antusias
1 Wita okupasi menikuti terapi

2 15.00 - Mengidentifikasi - Pasien selalu


Wita perubahan perilaku menggerak-gerakan

tertentu tangannya dan tidak


jelas dalam berbicara

- Memberikan umpan - Pasien mulai terbiasa


2 18.00 balik positif jika berinteraksi dengan
Wita pasien berinteraksi perawat

dengan orang lain


2
19.00
- Mengajarkan teknik - Pasien sangat
Wita
bermain peran untuk antusias dan mulai
meningkatkan percaya dengan
ketrampilan dan perawat
teknik komunikasi
3 Kamis , 1 08.00 - Mengajarkan pasien - Pasien mau
13 Wita untuk berkomunikasi mengikuti perintah

46
Januari secara perlahan dan perawat dan mulai
2016 untuk mengulangi bisa mengontrol
permintaan pergerakan tangannya
10.00 - Mendengarkan dengan - Pasien berbicara
1 Wita penuh perhatian dengan tidak jelas
-
10.30 - Mengidentifikasi - Pasien sering
2
Wita perubahan perilaku menggerak-gerakan
tertentu tangannya dan masih
sulit bicara
1
11.00 - Melakukan terapi - Pasien mau
Wita wicara mengikutinya

1 15.00
- Berdiri di depan - Pasien mulai terbiasa
Wita
pasien ketika berbicara dengan perawat

1 - Mengajarkan pasien
17.00 - Pasien aktif dalam
menggunakan kertas
Wita menggunakan kertas
dan pensil untuk
dan pensil tersebut
mengekspresikan
perasaan dan untuk
memfasilitasi
komunikasi dua arah
yang optimal
- Memberikan pujian
1 20.00 - Pasien tampak
positif
Wita tersenyum dan
berbicara

4 Jumat, 2 08.00 - Mengajarkan - Pasien tampak mulai


14 Wita ketrampilan dapat bermain dengan
Januari interpersonal teman sebayanya

47
2016
- Mengidentifikasi - Pasien bisa
10.00
2 perubahan perilaku mengontrol
Wita
tertentu pergerakan tangannya
dan mulai sering
berbicara

- Melakukan terapi - Pasien dengan


11.00 antusias
1 okupasi
Wita mengikutinya

- Memberikan umpan - Pasien mulai terbiasa


2 15.00
balik positif jika berinteraksi dengan
Wita
pasien berinteraksi perawat

dengan orang lain

- Mengajarkan teknik - Pasien sangat


19.00
bermain peran untuk antusias dan mulai
2 Wita
meningkatkan percaya dengan

ketrampilan dan perawat

teknik komunikasi
5 Sabtu, 1 08.00 - Mengajarkan pasien - Pasien mau
15 Wita untuk berkomunikasi mengikuti perintah
Januari secara perlahan dan perawat dan jarang
2016 untuk mengulangi menggerakan
permintaan tangannya
- Mendengarkan dengan - Pasien berbicara
10.00
1 penuh perhatian dengan tidak jelas
Wita

- Mengidentifikasi - Pasien sudah bisa


10.30
2 perubahan perilaku tersenyum,
Wita

48
tertentu pergerakan tangan
pasien tidak terlalu
aktif/sering
1 11.00 - Pasien mau
- Melakukan terapi
Wita mengikutinya
wicara dan okupasi
15.00
1 - Pasien tersenyum
Wita - Berdiri di depan
dengan perawat
pasien ketika berbicara

17.00
- Mengajarkan pasien - Pasien aktif dalam
1 Wita
menggunakan dadu menyusun puzzel dan
dan mulai merangkai dadu dan setelah
puzzle untuk tersusun, pasien
mengekspresikan membongkarnya dan
perasaan dan untuk mengulainya
memfasilitasi
komunikasi dua arah
yang optimal
- Memberikan pujian - Pasien tampak
20.00
positif tersenyum dan
Wita
1 bicaranya mulai jelas

IX. Evaluasi Keperawatan

No. Nama/
Tanggal Evaluasi
Dx TTD

Sabtu , 15 1 S: Ibu Pasien mengatakan, pasien sudah

49
Januari 2016 tidak menggerak-gerakan tangannya dengan
sering, pasien sering tersenyum, dan bicara
pasien sudah jelas

O: pasien tidak menggerak-gerakan


tangannya dengan sering, pasien mulai
tampak tersenyum, dan bicara pasien jelas
meskipun masih jarang berbicara

A: Masalah teratasi sebagian, tingkatkan


kondisi pasien

P: Lanjutkan intervensi

Sabtu , 15 2 S: Ibu Pasien mengatakan, pasien bisa


Januari 2016 berinteraksi hanya dengan orang yang dia
percaya, pasien sering tersenyum terhadap
orang sekitarnya

O: Pasien mulai bisa berinteraksi dengan


orang tertentu yang bisa pasien percaya,
pasien sering tersenyum terhadap orang
sekitarnya

A: Masalah teratasi sebagian, tingkatkan


kondisi pasien

P: Lanjutkan intervensi

50
BAB IV
PENUTUP

4.1.Kesimpulan
Istilah autisme berasal dari kata “Autos” yang berarti diri sendiri dan
“isme” yang berarti suatu aliran, sehingga dapat diartikan sebagai suatu
paham tertarik pada dunianya sendiri (Suryana, 2004).
Kanner mendeskripsikan gangguan ini sebagai ketidakmampuan
untuk berinteraksi dengan orang lain, gangguan berbahasa yang ditunjukkan
dengan penguasaan bahasa yang tertunda, echolalia, mutism, pembalikan
kalimat, adanya aktivitas bermain repetitive dan stereotype, rute ingatan yang
kuat dan keinginan obsesif untuk mempertahankan keteraturan di dalam
lingkungannya. (Dawson & Castelloe dalam Widihastuti, 2007). Autisme
mempunyai penyebab neurobiologist yang sangat kompleks. Gangguan
neurobiologist ini dapat disebabkan oleh interaksi faktor genetik dan
lingkungan seperti pengaruh negatif selama masa perkembangan otak.
Perilaku autisme dapat digolongkan dalam 2 jenis: ekspensif dan defisit. Jenis
autisme berdasarkan waktu munculnya gangguan, kurniasih (2002) membagi
autisme menjadi dua yaitu: Autisme sejak bayi (Autisme Infantil) dan
Autisme Regresif.

4.2.Saran
Dengan penyusunan makalah ini, semoga bermanfaat bagi para
pembaca khususnya bagi mahasiswa keperawatan. Penyusun berharap agar
para pembaca dapat lebih memahami mengenai Konsep Asuhan Keperawatan
pada Anak Sakit dengan Autisme yang sangat penting diketahui demi
memperdalam wawasan dalam mata kuliah Keperawatan Anak sehingga ilmu
yang didapatkan dapat bermanfaat di masa yang akan datang.

51